Wednesday, September 26, 2012

Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial



ISBN                   : 9789792125054
Author                 : J. Sudrijanta SJ
Language             : INDONESIA
Date Published    : NOPEMBER 2009
Published             : Kanisius
Type                    : SOFT COVER
No. of Pages        : 304
Dimensions (cm) : 13 x 18

            Ada 50 judul tulisan buku ini. Tulisan-tulisan yang tidak dimaksudkan untuk menyajikan gagasan teologis, filosofis atau bahkan menafsir Kitab Suci atau ide spiritualitas tertentu. Penulis dalam pengantarnya mengatakan ingin mengajak pembaca untuk berjalan melampaui itu semua, melampaui semua doktrin, melakukan penyelidikan bersama atas berbagai pertanyaan tentang kematian dan kehidupan, manusia dan dunia, Allah dan kebenaran yang tidak pernah ada jawaban pastinya.
            Tentu saja pembaca yang harus membuktikan ajakan itu sendiri. Maka tidak heran dalam tiap judul tulisan pasti ada pertanyaan-pertanyaan yang mengajak pembaca, maupun penulisnya sendiri mungkin, untuk terus bergulat dalam jawaban-jawaban dan tentu menelurkan pertanyaan lagi selanjutnya. Penulis telah menyajikan banyak sekali kemungkinan yang tidak ada kepastian.
            Misal pada halaman 63, penulis menulis pertanyaan : Bagaimana menjadi kaya secara duniawi sekaligus kaya secara rohani menjadi mungkin? Pertanyaan itu diungkapkan setelah penulis menyajikan paradoks antara kemiskinan dan kebenaran, juga tentang kekayaan para koruptor maupun penguasa negara. Penulis sudah menyatakan upaya-upaya manipulasi hal-hal rohani untuk tujuan keuntungan materi dan kenyamanan duniawi. Ada banyak ‘jalan penebusan’ atas kesalahan melalui proyek sosial. Sungguhkah ‘keseimbangan’ macam itu membawa pada kekayaan rohani?
            Penulis menunjukkan pilihan untuk menjadi merdeka. Memiliki batin yang lepas bebas adalah batin yang kaya, yang memampukan untuk berjuang dengan damai dalam dunia yang tamak dan serakah. Kekayaan tidak lebih bernilai dari kemiskinan, kesuksesan tidak lebih bernilai dan kegagalan, sehat tidak lebih bernilai daripada sakit.
            Pun judul-judul yang lain menawarkan ajakan untuk melihat kekonkretan manusia. Bisa dilihat dari judul-judulnya seperti Jejak Langkah menuju Allah, Memahami Rasa Sedih, Tinggal di Rumah Abadi, Seni Beristirahat, Bebas dari Belenggu Keterikatan, dan sebagainya. Dan semuanya mengaitkan gerakan batin dengan gerakan sosial. Revolusi batin adalah revolusi sosial. Keduanya tidak terpisahkan.
            Dan penulis mengambil contoh aksi revolusioner seorang aktifis 2000 tahun lalu. Ia, Aktifis itu, telah dikobarkan bukan oleh ideologi atau kepercayaan, kebencian maupun kemarahan, namun Dia dikobarkan oleh api cinta. Maka aktifis ini membersihkan Bait Allah dari penyalahgunaan kekuasaan politik dan agama.
            “Menggerakkan roda revolusi yang sejati itu seperti membangun rumah di atas wadas. Wadas yang tidak lain adalah nyala api cinta atau keindahan, energi vital tindakan murni, atau energi vital revolusi sejati.” Hal. 404. *** (dimuat dalam Nuntius edisi Oktober 2012)

Tuesday, September 25, 2012

Taman Nasional Way Kambas

Gerbang masuk, 7 km jalan raya lintas timur.
Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan salah satu tempat khas Lampung yang cukup populer di Indonesia maupun dunia. Setelah hampir 13 tahun tinggal di Lampung, kesempatan untuk mengunjungi taman konservasi gajah Sumatera ini pun kesampaian (Minggu, 23 September 2012).
Letaknya ada di Lampung Timur, dengan beberapa alternatif jalan untuk menuju ke sana. Bandarlampung - Metro - Way Jepara (112 Km), menggunakan mobil + 2 jam. Bandara Raden Inten 2 (Branti) - Metro - Way Jepara (100 Km), menggunakan mobil + 1.30 jam. Pelabuhan Bakauheni - Panjang - Sribawono - Way Jepara (170 Km), menggunakan mobil + 3 jam. Dermaga Labuan Meringgai (kapal motor) dilanjutkan dengan kendaraan darat ke Way Jepara + 45 menit.
Gerbang berikutnya, masuk ke pusat konservasi gajah.
Kami memilih Metro karena jalan lumayan bagus walau agak memutar. Lewat Tanjungbintang- Sribawono tidak recommended karena jalanan sedang rusak parah walau sebenarnya lebih pendek jaraknya.
Sekitar 1,5 jam kami tiba di pertigaan dengan penunjuk arah TNWK ke kiri. Dari jalan lintas timur itu, sekitar 7 km akan menemui pintu gerbang TNWK. Ada petugas di loket, bisa ditanya-tanya seperlunya. Ongkos masuk hanya Rp. 2.500 per orang, Rp. 6.000 / mobil dan ditambah sumbangan Rp. 5.000 untuk satu kali parkir. Harga yang kelewat murah untuk masuk cagar alam yang luasnya 125.621,3 hektar ini. (Selengkapnya tentang TNWK silakan masuk ke web resmi mereka, bisa klik di sini dan di sini.)
Ada percabangan jalan di gerbang ini. Yang ke kanan untuk pusat pelatihan gajah, sedang ke kiri ke Way Kanan (Aku ingin agendakan suatu waktu nanti ke sini. Way Kanan ini punya alam yang yahud seturut dokumentasi yang pernah kulihat, juga ada konservasi badak. Baru beberapa waktu lalu ada badak yang lahiran di sana). Tujuan utama kami melihat gajah, maka kami memilih jalan ke kanan, sekitar 9 km sampai di tempat para gajah sekolah.
Usai parkir, kami celingak-celinguk, belum tahu lokasi, sedangkan informasi sangat-sangat minim. Beberapa petugas yang ada tidak proaktif memberikan penjelasan. Yang pertama mereka sodorkan bukan pengetahuan tentang TNWK tapi menawarkan naik gajah.
Naik gajah.
"Paket pertama jalan keliling halaman ini Rp. 10.000, atau paket yang lebih lama jalan sekitar 30 menit keliling lokasi Rp. 75.000, per orang. Ini harga turis lokal." Berarti ada harga lain untuk turis manca. Karena memang tidak tahu harus bagaimana dulu, ya aku memilih naik gajah. Jarak pendek saja ditemani Albert lalu Albert, Den Hendro dan bapak melanjutkan ikut paket keliling. (Ohya, aku jalan ke TNWK bersama Albert, Bernard, Den Hendro, Bapak Soeliham, Denmas Bejo, dan Pak David.)
Mana ya yang bisa dipih untuk oleh-oleh?
Sembari menunggu tiga orang itu keliling, kami yang tersisa juga keliling di sekitar lokasi. Ada kantor perhutani, ngobrol dengan polisi hutan yang kesanku kurang tahu tentang tempat tugas. Tidak ada brosur atau famlet yang bisa diminta. Minim informasi sugnguh. Ada beberapa kolam tempat mandi dan minum gajah. Ada barak para petugas, dekat calon bangunan rumah sakit gajah. Lalu lapangan luas tempat tidur gajah. Kalau malam, gajah-gajah itu akan digiring ke lapangan ini. Dirantai pada tonggak-tonggak dengan setumpuk dedaunan di dekatnya.
Kemudian juga para penjaja souvenir di satu sisi. Kami memborong boneka gajah harga Rp. 20.000 dengan tulisan di sisi badannya. Juga ada kaos, gantungan kunci dan stiker. Tidak banyak variasi, tapi cukuplah untuk kenang-kenangan pernah mengunjungi tempat ini.
Berpose di rumah gajah. Ada 66 gajah besar kecil tinggal.
Ohya, kami sempat melihat atraksi gajah. Ini tidak terjadi tiap minggu, maka kami termasuk beruntung bisa melihatnya di salah satu lokasi yang memang diperuntukkan bagi atraksi gajah. Tidak lama, hanya sekitar 30 - 45 menit, dengan membayar Rp. 10.000 per orang.
Dan tentu saja kami foto bersama gajah sangat-sangat banyak. Bisa foto sangat dekat karena sudah jinak dan terlatih bersahabat dengan manusia. Para petugas sangat ramah, jadi bisa minta tolong untuk diambilkan gambar.
Perjalanan pulang jam 16.30-an, kami mendapat bonus melihat monyet dan babi hutan yang ternyata masih sangat banyak di hutan-hutan lindung itu. Sesekali mereka merapat berkeliaran di jalanan, membuat kami heboh menuding dan melemparkan pisang-pisang muli yang kami beli di gerbang TNWK saat masuk lokasi ini. Sebagian kecil sih pisang yang dilempar ke mereka karena kebanyakan sudah kami makan sepanjang jalan. Hehehe.


Saturday, September 22, 2012

Hulu Penyedia Tak Terhingga

Saat bertemu air, Bernard akan mendekat. Seperti waktu di Gunung Betung beberapa waktu yang lalu, dia langsung berjongkok di sisi air pada kesempatan tercepat. Tangannya menyendok air, memainkannya, dan menciptakan keriap-keriap di air. Jika ada sesuatu di dalamnya, seperti kecebong, atau siput atau anggang-anggang, permainannya akan lebih menarik. Dan dia akan betah lamaaa sekali di sana.
Aku pun begitu. Hanya saja, aku punya ilusi yang lebih kompleks dibandingkan anak-anakku, dibanding Bernard, sehingga aku bisa mengaku kalau air tidak harus air. Bisa apa saja ku sebut air, kusebut sungai, kusebut sumur, kusebut laut, pada peristiwa, pada orang, pada benda, pada perjumpaan, pada apa saja.
Kini aku pun sedang jongkok di sisi airku, memainkannya dengan kedua tanganku, menyendoknya dan membuat gelombang atau percikan. Tentu saja ini sangat asyik. Dan kau tahu, teman, selalu ada hulu yang menyediakan air-air semacam itu untukku. Tak terhingga.

Friday, September 21, 2012

Otak Vs Hati

Ini PR yang tidak juga selesai kukerjakan. Bagaimana mengharmoniskan otak dan hati? Keduanya selalu menjadi kutub yang berlawanan. Jika sesekali ada persinggungan, maka yang ada adalah pertengkaran dan kemudian salah satu diantaranya akan merajuk tidak lagi mau bekerja. Apakah memang dua hal ini tidak akan pernah bisa akur dalam diri seorang Yuli? Orang yang mengenalku pasti akan mencap pernyatan ini lebay. Sedang yang tidak mengenalku akan memvonis omong kosong.
Hatiku termasuk bagian yang paling kuat dalam diriku. Dia dengan mudah menyetir kaki tanganku juga mata telinga bibirku dan bahkan otakku. Sangat mungkin melogikakan apa yang sudah dimaui oleh hati. Aku sangat pakar dalam hal ini. Otakku akan jadi hamba bagi hati yang sudah berkobar, entah karena marah, sedih, cinta, kecewa, gembira, dan sebagainya. Namun hatiku sangat mudah tergoda. Oleh keindahan, oleh perhatian, oleh kekosongan, oleh kecintaan, oleh apapun yang tersentuh oleh pancainderaku. Mudah sekali aku jatuh dalam percabangan karena hati.
Otakku seharusnya adalah bagian yang cemerlang  jika ditilik dari SD - SMA aku tidak pernah bergeser dari 3 rangking teratas di sekolah. Atau dengan melihat percikan pikiran cerdas sesekali di waktu yang tepat saat ada masalah. Tapi otakku juga bagian yang paling malas bekerja. Maka tak ayal aku pernah dapat E untuk matematika terapan, bidang pelajaran yang paling aku suka, saat aku kuliah (Setahun kemudian aku ulang dan aku dapat A!) Juga aku harus memaksa diri sangat keras beberapa kali hanya karena satu istilah dalam satu bab di buku yang kubaca. Bahkan aku sering tidak nyambung saat berbincang dalam sebuah diskusi.
So! Bagaimana mengharmoniskan hati yang kuat dan otak yang cemerlang, atau hati yang mudah tergoda dan otak yang malas dalam diriku? Aku menyadarinya sudah bertahun lewat, lalu menggelutinya dengan berbagai macam pertanyaan dan tindakan, juga tulisan berbagai versi. Kamu akan mudah menemukan tulisan tentang pergumulan otak dan hati dalam diriku lewat blog ini. Coba cek mulai dari yang terbaru sampai yang lama, misal di sini, serial Conspiracy 1 - 9 yang belum selesai di sini yang terakhir dan di sini yang pertama, masih bersambung mungkin tak pernah tamat, lalu tulisan-tulisan lain seperti di sini, di sini, di sini atau di sini. Atau bahkan semua tulisanku adalah gambaran tentang hal itu.
Namun belum juga selesai. Apakah urusan seperti ini memang tidak akan pernah selesai?

Thursday, September 20, 2012

Ketika Hati Menerima Dendam Sebagai Sahabatnya

“Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu…. Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu….” (Soe Hok Gie)

Jelas sekali aku mengingat kata-kata Soe di bagian awal buku harian yang kemudian diterbitkan sebagai : Catatan Seorang Demonstran. Kali ini kalimat itu aku ingat secara kuat. Semata-mata karena dendam sedang menggerus hatiku dengan kuku-kukunya yang tajam.
Awalnya marah yang mendahului, lalu dendam menyelinap masuk seolah hatiku adalah rumahnya. Dengan pongahnya dia duduk jigang memerintahkanku untuk mengangkat telunjuk menuding sembarang. Dia mengambil kendali pada mataku sehingga aku tidak bisa menyurutkan api dari sana. Jengkerut alis dan kelopak mata, yang biasanya meredam api itu, kini malah mengecilkan pupil hingga titik api tercipta menyedot jiwaku pada fokus yang sama.
Yang dibakar adalah diriku! Aku berteriak membentaknya supaya keluar. Tapi kekuatannya tak bisa kubendung. Tangan-tangannya yang berjuta menarik segala urat darahku. Kaki-kakinya tak terhitung kokoh menjejak segala sel tubuhku. Tanpa ampun, walau dia merasai basah air mataku telah bercampur darah. Bahkan lihat tertawa hatiku, dia sudah mulai bersahabat dengan dendam.
Tanganku mengepal mencoba menahannya agar tidak memagut aku lebih dalam. Kubuka telinga lebar-lebar untuk memasukkan jejal volume terkeras dari Slank. Aku berteriak bersama suara Kaka yang biasanya mampu melembutkan hati. Gagal!
Aku mematung di sudut ruang. Menata kakiku bersila, mendaraskan segala puji untuk Ilahi. Hanya bibirku yang bergerak. Hati, berpelukan dengan dendam, terbahak-bahak meleceh menyindir kemunafikanku.
Dendam mulai mengerahkan dayanya, membekukan hati, dan sebentar lagi akan mengeras menjadi batu.
Dan, aku melihat segala sekitarku hanya mencibir menertawai kepanikanku.

Wednesday, September 19, 2012

Nengok Kalkun Mitra Alam

Kalkun indukan, untuk menghasilkan telur-telur yang akan ditetaskan.
Sudah kepikir untuk nulis tentang kalkun sejak berkunjung ke lokasi peternakan Mitra Alam, di Sukoharjo Pringsewu, Lampung, hari Sabtu (15/9) lalu. Tertunda beberapa hari karena aku kehilangan catatan dan terlebih, kehilangan mood.
Tempatnya tidak terlalu jauh dari perempatan lampu merah Pringsewu, belok ke arah kanan kira-kira 3 atau 4 km, persis setelah melintasi Way Sekampung (way = sungai, dlm bahasa Lampung), belok ke kiri. Kira-kira 3 km juga, lalu belok ke kiri lagi ada jalan tak beraspal yang berujung di Mitra Alam.
Masuk ke sana langsung disambut bunyi,"Kluk, kluk, kluk,..." Ratusan kalkun. Pak Bambang, yang mengelola peternakan ini sudah menyiapkan hidangan kalkun yang sehat. Dipanggang, digoreng tepung dan disayur sop. Konon, daging kalkun yang lembut padat itu mengandung kolesterol sangat rendah, hampir 0%. Selain itu juga juga mengandung beberapa gizi lain yang dapat menyehatkan, mencegah beberapa penyakit dan untuk Mitra Alam, mereka promosikan : alami! 
Salah satu efek setelah makan kalkun adalah dapat tidur nyenyak. Ini terbukti saat perjalanan pulang, kami satu mobil kecuali sopir, pulas tidur. Hehehe... Tapi memang di dalam daging kalkun mengandung Tryptofan yang membuat orang dapat tidur nyenyak, dan alhasil dapat memulihkan kesehatan dan vitalitas. Hanya dengan mengkonsumsi 100 gram saja daging kalkun. Nah, aku kira kami makan lebih dari itu deh, makanya langsung molor begitu masuk mobil.

Ini dia kandungan gizi daging kalkun Mitra Alam
Dalam 100 gram daging kalkun segar, umur 4 - 5 bulan, hasil uji Lab Unila dan Balai Pengkajian Pangan dan Gizi UGM, Jogjakarta, 2010.

Sayang aku gak tahan untuk ikut rombongan mengelilingi peternakan. Bau pakan dan kotoran ternak jenis unggas selalu membuatku mual. Dari pada muntah, jadinya cuma ngintip-ngintip dikit di dekat kandang lalu ngacir ngobrol sama Bu Bambang dan kemudian mewawancarai Mbak Ratna di rumah Mitra Alam.
Ada beberapa kandang, mulai dari penetasan hingga penggemukan siap panen. Juga rumah potong dan dapur pengolahan. Semuanya dengan standar yang sudah ditetapkan. Mitra Alam ini menjadi pelopor untuk pembudidayaan kalkun di Pringsewu, bahkan sudah membuat MoU dengan Unila dan pemda setempat untuk menjadikan Pringsewu sebagai sentra kalkun. Tak heran kalau di beberapa kesempatan di lokasi ini diadakan pelatihan untuk para petani dari daerah sekitar untuk semakin menyebarkan kalkun di Sukoharjo maupun Pringsewu. Jika mau keterangan lebih lanjut klik saja blog mereka, di sini. Lalu datanglah ke mereka. Ada banyak teknologi sederhana ramah lingkungan yang diterapkan di sana, tidak sempat kucatat detail tapi moga-moga nanti ada yang menuliskannya secara lengkap.

Monday, September 17, 2012

Pasrah dalam Marah

Aku sedang marah. Hati yang marah sebaiknya tidak mengatakan apapun lewat media apapun, terlebih lewat media tulisan yang akan abadi setelah dibaca oleh banyak orang. Tapi aku tidak bisa menahan diri kali ini. Hanya mungkin tenang setelah melampiaskan kemarahan ini dengan cara yang sepantasnya. Lukisan perempuan sudah kehilangan satu mata, judul-judul cerpen sudah tertulis, curhat ngomel ngoceh sudah kulakukan, berteriak bersama Bon Jovi sedang kulakukan, tapi aku semakin terpuruk dalam kemarahanku.
Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah memelototi monitor, menulis sedikit tentang hal ini, dan menelusuri musik dan bacaanku di dunia maya yang sekarang ini menjadi favoritku seperti gudang video musik, blognya Dhenok, tulisan Urip, tulisan para lesbian hebat, berita-berita di Yahoo.
Tapi ini tak akan lama aku lakukan. Pada saat yang tepat beberapa menit lagi, aku akan memejamkan mata di kursiku. Mematikan segala lagu. Menutup semua buku. Biar hanya nafasku yang mengalir dari semesta hingga aku bisa merosot mencium kaki energi. Merasai hakekat hamba dan merajai kemerdekaan hamba sahaja yang tak mungkin mendongak karena kemuliaan Penciptanya.

Wednesday, September 12, 2012

Monyet-monyet di Sidodadi, Kedaton, Bandarlampung

Di habitat para monyet.
Waktu ke Gunung Betung ketemu dengan monyet-monyet, tentu itu hal wajar. Di sana habitat monyet masih terjaga, kita ketemu karena kita yang nyatroni, alias bertamu pada mereka. Nah, kali ini, saat sedang di dalam Gereja St. Yohanes Rasul Kedaton, yang berada di dalam kota Bandarlampung, segerombol monyet muncul dan ikut menyelinap di atap, pepohonan bahkan masuk ke dalam gereja. Itu yang terjadi pada Minggu (2/9) lalu saat misa pagi.
Memang, beberapa minggu yang lalu anak-anakku sempat heboh berisik saat misa mengatakan melihat monyet, bayangan monyet, dll, sembari celingak-celinguk di jendela. Jadinya mengganggu banget. Dan aku tidak percaya, memaksa mereka duduk anteng sembari memvonis,"Berkhayal kalian itu. Mana ada monyet di gereja." Mereka protes dan ngotot memang melihat monyet. Aku lebih ngotot dan menarik mereka kembali duduk,"Tidak ada monyet dalam gereja!"
Nah kali ini benar-benar syok ketika aku melihat di kaca jendela bayangan monyet, satu, dua, eh tiga, monyet di antara pohon pinus, lalu di atap! Dan bahkan kemudian mereka melongok hingga terlihat bukan hanya bayangan tapi betul-betul monyet. Wah, dikunjungi monyet-monyet yang kasihan sekali, sangat kurus. Mereka mengunyah pucuk-pucuk pinus, jelas kelaparan.
Siangnya aku bertemu beberapa ibu yang minta air di halaman gereja mengatakan memang monyet-monyet itu turun dari bukit di Sidodadi Kedaton itu. Seringkali mereka masuk ke dapur atau rumah mengambil makanan.
Monyet ekor panjang yang cantik.
"Tahu mau digoreng hilang. Mereka yang ambil."
Tentu kekeringan melanda bukit itu sehingga tidak ada pasokan makanan di atas. Pohon-pohon tidak menyediakan buah untuk mereka makan. Dan mereka pun turun.
"Tidak boleh ada yang mengganggu mereka. Siapapun yang mengganggu nanti mendapat balasannya, celaka. Jadi biar saja mereka butuh makanan."
Mereka menyebut beberapa contoh. Intinya, pokoknya, warga tidak boleh membunuh monyet-monyet itu dan juga segala binatang yang turun dari bukit itu.
Aku langsung berpikir untuk menebarkan bibit-bibit pohon buah di bukit itu. Mungkin kersen/ceri, mangga, pisang, rambutan dll, sehingga pohon-pohon buah berkembang lagi di atas dan tidak perlu kuatir mendengar resiko yang dihadapi para monyet ini. Menghadapi manusia tentu menyeramkan bagi mereka. Bagaimana melakukannya ya? Siapa yang mereksa bukit itu ya? Siapa yang punya minat tentang hal ini ya?

Tuesday, September 11, 2012

Lukisan Tak Pernah Selesai

Lukisan perempuan.
Beberapa waktu lalu ibu di Kediri telepon. Di sela obrolan lain-lain, ibu mengatakan baru saja membereskan beberapa kanvas milikku yang tertimbun di kamarku di rumah Sembak, Grogol, Kediri, Jawa Timur sana. Kanvas-kanvas itu dipenuhi coretan, dan tidak satupun yang bisa dikatakan sudah jadi. Sehingga ibu bingung, kanvas-kanvas itu harusnya diapain. Dipasang di dinding tidak mungkin karena belum selesai, teronggok begitu saja juga merusak pemandangan, dibuang dibakar kok sayang.
Hmmm, itulah kebiasaan burukku. Di kantorku sekarang ini aku pun menyimpan dua kanvas, sekotak cat minyak dan kuas-kuasnya. Gambar pertama sudah kubuat mulai beberapa tahun lalu berupa lukisan seorang perempuan. Aku menorehkan cat sesekali di kanvas itu dalam hitungan jarang, sangat jarang, dan sekejab, hanya beberapa menit setiap kalinya. Kanvas kedua lebih kecil, tapi masih kosong. Bagiku, melukis adalah sarana terapi luar biasa bagi kegalauan atau ketidakkonsentrasian. Mencoret sebentar saja berefek luar biasa. Menjadi lebih tenang, menjadi lebih fokus.
Tidak adilnya, aku tidak memberikan kesudahan bagi lukisan-lukisanku. Aku tidak cukup fair untuk bertahan hingga lukisan itu selesai. Tidak pernah selesai (Aku pernah menjadikan tema ini sebagai bagian dari cerpenku dalam rangka memahaminya. Tapi tidak juga bertobat.). Aku mendapatkan energi dari lukisan-lukisanku, tapi aku tidak memberikan energiku bagi lukisan-lukisan itu. Sekarang belum bisa melakukannya, mungkin nanti, suatu saat nanti, aku akan lakukan. Mungkin.

Monday, September 10, 2012

Sentuhan Kekasih

seperti tabib,
sakit lukaku sembuh ketika tubuhku menghambur
pada lengan-lengan riaknya yang ritmis
keluhan melenyap berganti hanya desahan
menikmati siulnya memburai badan

apa adanya,
kekasihku membasahiku berlaksa ombak
selalu jadi ruang nyaman untuk penyembuhan

pun kali ini,
aku datang tidur di pangkuan permukaan
tanpa kata gerak hanya membiarkannya membelai menyentuh menyentak
untuk aku sembuh

(Mutun 9 September 2012, di atas rakit apung, tidur.)

Thursday, September 06, 2012

Bayi Perempuan, Lagi di Tahun ini

"Bu Yuli, jangan pulang dulu. Aku mau pamer sesuatu."
Aku yang sudah hendak beranjak seusai menghabiskan gelas minumku, kembali duduk. Menarik kata pamitku untuk si bapak, dan meladeni si ibu. Dia masuk ke dalam rumah, lalu beberapa detik kemudian sudah berdiri di depanku dengan seorang bayi di gendongan.
"Ini dia!"
Wajah ibu usia 53 tahun itu berapi-api.
"Aku dapat anak lagi. Perempuan. Cantik. Lihat."
Wah. Aku melihatnya sebentar bengong, tapi kemudian menyambut bayi usia 2,5 bulan itu di dadaku. Ringan. Kelihatan tubuhnya sedang mulai penuh gembung, sedang full dengan daya tumbuh. Dia menggeliat sebentar begitu di tanganku, tapi kemudian meneruskan lelap di dadaku.
"Ini anakku." Si ibu berujar bangga.
Tanpa peduli apapun, dia mencintainya. Jelas tergambar di wajahnya. Mungkin bukan dari rahimnya, mungkin tidak dikenal asal usulnya, mungkin berharu berpilu kisahnya, tapi ibu itu merengkuhnya jadi anak, menambah empat anak yang sudah dirawatnya terdahulu. Anak-anak dari rahim maupun bukan dari rahimnya sendiri.
"Dia anteng sekali, bu. Cantik." Aku memujinya dengan kobar yang sama. Terlihat bayi itu nyaman dalam pelukanku. Sesekali pembuluh-pembuluh susu dan rahimku bergelenyar. Rasa keibuan mengental spontan dalam keriaan tak berujung, tak beralasan, tak terperikan. Perasaan yang selalu muncul kalau aku menggendong bayi.
"Tapi jangan dibawa pulang ya." Gurau si ibu meledekku. Mungkin melihat wajahku penuh hasrat.
Aku mengelus rambut dan kepala bayi perempuan itu sembari mendengarkan si ibu bercerita tentang segala hal. Namanya Asa. Aku bersihkan belek di ujung-ujung matanya. Ada senyum samar mengambang di sela tidurnya.
"Asa, semesta alam memberkatimu." Ujarku dalam hati. Masih mendengarkan kisahnya, hingga bermenit-menit lama kemudian, dengan bayi di dadaku dan si ibu di sampingku, dan si bapak di ujung sana tersenyum mengamati kami, sesekali menimpali singkat.
"Ibu sungguh luar biasa." Ujarku dengan setulus hati pada si ibu.
Aku melupakan beberapa janji yang harusnya aku penuhi siang itu. Ah, ini bayi perempuan yang kesekian kalinya kutemui dalam tahun ini. Bayi-bayi hasil panen kehidupan. Akan hidup dan menghidupi kehidupan.
Aku beruntung pernah menggendong dan masih bisa menemuinya hingga nanti. Bahkan mungkin saat tidak lagi menjadi bayi.

Friday, August 31, 2012

Gunung Betung 4 : PR bagi Semesta

G. Betung, warisan bagi Albert dan Bernard serta anak cucu mereka.
Gunung Betung hanyalah salah satu dari kekayaan semesta yang sudah diberikan cuma-cuma oleh Pencipta bagi manusia. Bukan hanya satu manusia, tapi seluruh manusia. Ada beberapa catatan yang mesti diperhatikan untuk kelangsungan abadinya warisan ini.
1. Alam selalu berkaitan antara manusia, tumbuhan, binatang dan segala semesta. Menyapa mereka merupakan bagian paling awal dan remeh yang dapat dilakukan. Gunung Betung punya itu semua untuk disapa, mulai dari desa-desa yang dilewati di bawah hingga sampai puncak. Dan masyarakat sekitar gunung selalu merupakan orang paling ramah sedunia. Senyumku selalu terbalas.
2.  Gunung Betung punya kekayaan material yang luar biasa. Bebatuan, air berkualitas dan tanah yang subur. Semuanya mesti dijaga dalam keseimbangan aslinya. Air tidak berlimpah. Ini peringatan. Aku tidak tahu dulunya bagaimana, tapi air terjun pun hanya diisi oleh gemercik air, bukan gemuruh air yang tercurah. Jika tidak diperhatikan, air bisa habis juga.
3. Gunung Betung termasuk gunung yang cukup populer di Lampung di antara muda atau pecinta alam. Selain dekat dengan kota, gunung ini mudah terjangkau dan tidak terlalu tinggi. Banyak orang datang, boleh dan sah, tapi jangan menggunakannya secara salah. Maksiat, mabuk, mentang-mentang, dan merusak jangan pernah ditolelir.
4. Gunung Betung masih menyimpan kekayaan hewani yang luar biasa. Beruk atau si amang, burung elang rangkong dll, babi hutan, tupai, dsb, masih bisa ditemui. Aku belum punya prinsip soal berburu, tapi kebijaksanaan manusiawi mutlak digunakan supaya keseimbangan ekosistem ini terjaga. Yang wabah boleh diburu, yang langka jangan. Sementara itu saja, moga dapat pencerahan di proses hidup mendatang. Di air aku tidak menemukan ikan karena sungai sangat kecil beriak. Anak-anak menemukan kecebong ukuran raksasa, sejempol-jempol, tapi belum melihat kataknya. Mestinya ada karena lamat-lamat suaranya ada.
Teks kode etik di gubuk Mbah.
5. Pepohonan di Gunung Betung masih diwarnai pohon-pohon kayu besar. Namun sebagian besar juga berbentuk perdu semacam rotan, salak-salakan, dll. Masyarakat sekitar terlihat mencari ranting cabang untuk kayu bakar. Moga tidak merambah yang lebih besar. Perkebunan karet dan kopi di kaki gunung menjadi penyokong hijaunya hutan ini juga.

Bagusnya, gubuk Mbah Sum terpasang teks Kode Etik Pencinta Alam Indonesia di terasnya. Lihat kembali apa isinya!


Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa
Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan :
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
  3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
  7. Selesai
Disyahkan bersama dalam Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974

(Akhir, akan berlanjut ke pendakian selanjutnya. Cerita lain yang teringat kemudian akan ditulis menyusul.) 

Thursday, August 30, 2012

Gunung Betung 3 : Puncak jadi Bonus Rahmat

Terhalang pohon tumbang, di awal pendakian.
Ketika merancang perjalanan ke Gunung Betung, kami sama sekali tidak berpikiran soal naik hingga puncak. Mengingat waktu, dan tenaga. Pagi hari usai sarapan, celetukan Bejo soal puncak, yang diulangnya beberapa kali dari kemarin sore, membuat yang lain ikut bersemangat.
Aku menghitung logistik yang sisa. Roti tawar, susu coklat, sebungkus mi, beberapa saset kopi dan beberapa bungkus cemilan. Masih cukup untuk makan siang seusai dari puncak. Yoyok bilang butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai di puncak. Jadi cukup okey, tidak perlu buru-buru turun. Godril dan Mai memilih tinggal di tenda. Dan memang diperlukan orang yang menunggu di situ karena tenda dan barang-barang tidak mungkin dibawa naik.
Mendaki, memanjat, merangkak.
Maka berenam kami naik. Dua botol air dan sebungkus biskuit cukup untuk bekal. Dan jangan lupa kamera serta baterainya! Baru sepuluh menit pertama aku sudah nyaris putus asa. Aku tidak membayangkan kalau gunung ini sangat terjal. Kemiringan 30 - 60 derajat, sangat minim lokasi landai. Kalau pun istirahat pasti dapat tempat yang miring, bergelanyut pada akar atau pohon supaya tidak jatuh.
Untungnya cuaca sedang kering sehingga tidak licin dan tidak ada pacet. Aku ingat Gunung Tanggamus yang kami daki tahun 2009 lalu. Hutan tropis yang basah, penuh pacet dan hujan! Kami kurang beberapa menit saja sampai puncak terpaksa mengurungkan niat demi selamat. Kali ini hatiku membara, harus sampai puncak. Betung cukup terjal. Kami mendaki setengah memanjat.
Dan puncak setinggi 1.523 Mdpl (meter dari permukaan laut itu) baru tercapai setelah 1 jam 30 menit, plus istirahat tiga kali untuk tiga teguk air. Setengah jam lebih lama dari perkiraan. Aku kira akulah penghambat utama perjalanan ini karena mengatur nafas bagi seorang ibu hampir kepala 4 ini agak susah dilakukan pada tanah yang terlalu miring hampir tegak. Apalagi olah fisik nyaris diabaikan beberapa tahun terakhir ini. Albert dan Bernard di umur 11 dan 8 tahun sama sekali tak perlu dikuatirkan. Mereka masih bisa mendaki sambil bercerita, bertanya, menyanyi seperti biasa, sedang ibunya sudah ngos-ngosan.
"How are you, ibu? I'm fine." Setiap saat Bernard berteriak padaku.
Puncak Betung, 1523 Mdpl.
Mencapai puncak adalah bonus rahmat yang luar biasa! Sang Pencipta memberi kesempatan istimewa bagi kami. Jika selama ini aku berjalan dari rumah ke kantor atau kota-kota lain pun dipenuhi anugrah lewat panca indera dan perjumpaan dengan orang lain, mencapai puncak gunung adalah bonus rahmat.
Serumpun bambu.
Di atas ada 4 orang remaja dari SMK Gadingrejo dan alumni. Tentu bentang umur yang jauh, tapi ada Albert dan Bernard yang juga sangat belia. Maka kami pun masuk dalam perbincangan yang seru tentang alam, pengalaman diri, dll. Dan tentu saja foto beberapa kali di dekat pohon dengan tulisan Puncak Betung 1523 Mdpl Arpala.
Ohya, di jalan kami menemukan serumpun bambu, aku menduganya sebagai bambu betung, yang batannya besar-besar. Aku berkhayal mungkin itulah cikal bakal nama Gunung Betung. Nanti aku coba cari kebenarannya. Bambu ini bernama latin Dendrocalamus asper Backer, di beberapa daerah dikenal sebagai Bambu betung (Indonesia), awi bitung (Sunda), pring petung (Jawa), awo petung (Bugis), bambu swanggi (Papua). (bersambung)

Wednesday, August 29, 2012

Gunung Betung 2 : Basecamp yang Indah

Memulai perjalanan ke basecamp.
Di tulisan sebelumnya aku telah menunjukkan sekilas di mana kami memasang tenda sebagai basecamp kami selama di Gunung Betung. Ini tempat yang aman, nyaman dan indah. Tentu saja dengan mengingat segala pesan Mbah Sum dan tanda hati-hati yang terpasang di sana. Salah satunya tidak membiarkan anak-anak atau siapa saja pergi sendiri atau melongok melihat aliran air yang menjuntai jadi air terjun di bawah saja. Lokasi itu sangat curam dan penuh batuan. Jadi ingat selalu! Jangan terlalu dekat dengan ujung atas air terjun dan melongok ke situ walaupun ada godaan pemandangan yang indah dari atas! Ingat!
Lokasi camp kami persis di bawah pohon rindang di bagian atas, yang menjadi titik awal andai kita mau mendaki ke puncak Gunung Betung. Tempat ini cukup luas untuk memuat tiga tenda yang kami dirikan, plus api unggun besar dengan tumpukan kayu cadangan di sebelahnya. Kayu kering sangat mudah dicari. Banyak kayu lapuk di sekitar basecamp yang bisa dipakai. Jika awalnya aku kuatir karena tidak mendapatkan parafin saat mau berangkat, begitu tiba di basecamp itu kekuatiran hilang. (Kebanyakan toko masih tutup, sehingga tidak ada parafin yang bisa dibeli. Toko langganan malah habis persediaan parafinnya.) Kami masih bisa memasak tanpa parafin. Hehehe, tentu saja kami membawa spirtus sebagai gantinya selain mengandalkan kayu-kayu dari sekitar.
Menunggu penampakan dekat api.
Sore sejuk terasa ketika matahari mulai undur di barat. Agak meremang bulu kuduk di jam-jam dekat magrip. Aku tidak tahu kenapa padahal aku tidak sedsang merasa takut. Tapi hanya sebentar, kemudian berganti dengan suasana lengang indah. Terlebih ketika melihat cahaya bulan setengah cukup membuat malam setengah terang. Wah.
Batu besar depan tenda, favorit untuk nampang jadi model.
Malam tidak terlalu dingin beku. Bernard dan Albert menyusup tidur setelah menghabiskan jatah makan malam. Beberapa sendok nasi sisa siang, mi goreng dan mi rebus yang lengkap dengan sawi dan kol serta suwiran ayam goreng, plus tumis tahu tempe (Hehehe, mewah. Itu sisa makan siang yang memang kami bawa dari rumah.) Lalu tambah dengan kapucino hangat serta beberapa cemilan.
Yang lain masih sempat ngobrol di sekitar api, sembari menahan diri tidak cerita yang horor. Hehehe. Malam sempat ada tamu tiga orang yang kemudian pergi lagi. Bejo mengira mereka orang mabuk. Aku tidak mau mengira begitu. Hanya tiga orang yang agak aneh. Gitu saja. Sesekali terdengar gitar dari arah air terjun. Di sana ada 6 orang yang sedang ngecamp juga.
Sarapan pagi di basecamp Gunung Betung.
Lokasi pancuran air di atas, 50-an m dari basecamp.
Tukang ronda Den Hendro dan Yoyok tidak tidur semalaman. Mereka krusekan saja sepanjang malam entah mengerjakan apa saja. Yang lainnya memilih masuk tenda. Tapi aku pun tidak bisa tidur malam itu. Aku lebih melamun sepanjang malam, mendengar suara alam, mereka-reka calon beberapa cerpenku, memeluk Albert dan Bernard yang pulas, dan pagi-pagi sekali cepat beranjak keluar tenda, untuk...beol! Hehehe, ini salah satu yang boleh ditinggalkan di gunung selain jejak. Yang lainnya tidak seperti sampah, barang, tidak boleh ditinggal. Dan untungnya diriku, jadwal biologisku ini tak pernah berubah di manapun aku berada dalam kondisi apapun. Hehehe...
Enaknya, camp kami ini dekat dengan air di sebelah atas. Air pancuran yang jernih dan sejuk itu sangat cukup untuk memenuhi segala kebutuhan minum, makan dan cuci badan. Bahkan tidak perlu dimasak pun secara kasat mata air ini sangat layak. Jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa... Dan lebih bagus lagi karena semakin atas letak air semakin minim kontaminasi. Yang perlu diingat, tidak boleh kencing dan beol di air. (bersambung)

Tuesday, August 28, 2012

Gunung Betung 1 : Offroad dengan Mio

Rencana naik gunung sudah tertunda sekian lama. Ketika sudah merancang ke Gunung Betung saat libur lebaran pun masih tertunda. Tapi kemudian tibalah hari menjadi nyata, 25 Agustus 2012, cabut berempat disertai Bejo dan partner setianya, Mai. Dua orang lagi akan menyusul malam. Tiga motor pun melaju saat matahari di atas kepala.
Lewat Gedongtataan, belok ke kiri (Ada plang yang menandai arah ke Gunung Betung.), jalanan sekitar 1 km halus beraspal. Jika ingin, di dekat tikungan ini ada posko bagi para pendaki gunung. Silakan saja mampir. Aku lupa kontak personnya, kalau tidak salah namanya Imam. Tapi pas perjalanan kemarin tidak mampir karena kelihatan posko lengang.
Gubuk Mbah Sum, tempat menitipkan motor.
Usai itu, jalanan akan heboh berbatu. Mio-ku mesti meraung terpental-pental dengan jalan menanjak. Bukan kendaraan yang tepat untuk medan ini. Cukup membuat pegal pinggang dan lengan rontok semua. Jalanan berbatu ini akan berakhir di sebuah gubuk dimana kita bisa istirahat sejenak. Di depan gubuk ini ada start bagi pencinta downhill dengan naik sepeda. Ada jalur yang sudah dibuat disela-sela coklat. Aku melihat beberapa rombongan dengan pick up dimuati sepeda untuk kenikmatan ini.
Lalu jalan anjing lah yang akan kita temui. Mio-ku lebih meraung lagi, dengan super hati-hati. Menanjak dan kadang-kadang berpapasan dengan motor para pengais rejeki alam dari atas yang membawa hasil kebun, buah, ranting atau daun. Jalan setapak sampai di rumah Mbah Sum (aku tidak tahu persis namanya, tapi kami memanggilnya begitu). Di sinilah kami akan menitipkan motor sebelum kami jalan kaki ke basecamp.
Ada beberapa lokasi yang bisa dipakai untuk kemah, pertama dekat rumah Mbah Sum ini. Tapi kok ya aneh kalau veteran macam kami ngecamp di situ. Hehehe, maka kami pun pilih di atas. Mbah Sum sama sekali tidak merekomendasikan. Kekuatiran tampak dalam larangannya. Tentu saja. Dia pasti paling tahu dan ingat bahwa beberapa orang sudah jadi korban di atas. Dan dia pasti juga paling repot kalau ada kejadian macam itu lagi.
Maka kami meyakinkan dia bahwa kami, termasuk anak-anak, Albert dan Bernard, cukup paham dengan segala resiko dan akan super hati-hati.
Tanda bahaya, tanda hati-hati.
"Nanti masih ada teman kami yang lain akan menyusul, mbah. Kami akan hati-hati."
Jadilah kami ngecamp di atas. Lokasi ini dekat dengan mata air, dan berada persis di atas air terjun. Tentu kami pilih lokasi paling jauh dari air terjun, tempat beberapa orang pernah jatuh itu. Jadi cukup aman dan nyaman.
Istirahat usai memasang tenda.
Huff, baru ingat terpal-terpal tertinggal di rumah Mbah Sum, membuat Den Hendro dan Albert mesti balik lagi usai membuat tenda. Mungkin butuh 15 menit perjalanan, atau 30 menit pp. Sembari menunggu mereka, Bejo mencari kayu bakar dan yang lainnya...hehehe...tiduran.
Basecamp yang indah. Suara beruk bersahutan dengan burung rangkong. Dan saat malam tiba, berbaring di luar, bulan setengah menari di antara ranting dengan dendang alam... Berapa lamapun aku akan betah di tempat ini. (bersambung)

Thursday, August 23, 2012

Lebaran Bersama Pram

Buku fotokopian.
Mulai aku berniat hanya di rumah, malam takbiran, aku mengundang Pram, Pramoedya Ananta Toer, lewat Jejak Langkah-nya untuk menemaniku. Buku tebal fotokopi-an pemberian seorang sahabat hatiku itu setia di dekatku. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Juga saat pesta Idul Fitri bersama para tetangga yang tidak mudik dengan ketupat, opor, rendang tak habis-habisnya. Aku tidak masak selama 3 hari karena kiriman rahmat itu.
Jejak Langkah Pram sudah kubaca lebih dari tiga kali. Dan setiap kali aku menemukan hal yang baru bagi hatiku. Kali ini aku lebih mengerti bagaimana organisasi dan media massa menjadi alat kuat bagi cita-cita kemerdekaan. Dan itulah yang diusahakan oleh Minke setelah perjalanan hidupnya dari romantis menjadi politis sesuai pengaruh yang dialaminya. Bersama Annelies, Mei dan juga Gadis Jepara, dokter tua Jawa, Ter Haar, mama, dll.
"Berorganisasi, sahabat, berserikat, banyak orang, puluhan, ratusan, malah puluhan ribu, menjadi satu raksasa gaib, dengan kekuatan lebih besar dan lebih banyak daripada jumlah semua anggota di dalamnya." Itu jawaban Mei, gadis Tiongkok, yang kecerdasannya dalam tubuh singkek sipit pucat kurus pun membangkitkan birahi Minke.
Dan virus tidak mengenal bangsa. Lawannya adalah siapa saja yang tidak menguntungkan. Minke mau menggulatinya dengan sadar. Tombak-tombak dilemparkannya. Kadang membanting balik tubuhnya, hingga rancah luka terkorban.
Kedekatannya dengan pendidikan Eropa memberinya cara pikir dan keberanian yang tidak biasa. Dalam masa penjajahan, orang semacam ini selamanya tanggung. Bukan Belanda, bukan Jawa. Dicurigai Belanda, juga tidak diterima Jawa.
Aku belum menyelesaikan putaran kali ini hingga lebaran sudah usai. 464 halaman, dengan tinta fotokopian yang nyaris kabur, konsentrasi yang penuh, membuat mata mudah capek saat membacanya. Tapi aku yakin sekali ini pun aku mendapat lebih banyak lagi dari Pram. Bahan yang membuatku menjadi semakin manusia. Amalnya masih berjalan walau dia sudah istirahat damai. Taqabbalallahu minna wa minkum! Selamat mereguk tuntas anugerah fitri.

Friday, August 17, 2012

17-an Makan Mi Instan?

Sasangka Jati dengan mi instan? Aduh.
Merdeka!
Pekik para pejuang kuulang di hari ini. Merah putih aku kibarkan dengan sadar di halaman rumah, di stir Mio dan di hatiku. Aku sangat mengingat hari ini.
Pun dengan sadar juga aku niat mengisi hari ini dengan gerak tubuhku. Membereskan rumah yang cukup melelahkan karena ditinggal cuti Wawak. Juga menyiapkan makan siang untuk para cowokku.
Jam 10.00, ketika 67 tahun lalu Soekarno membaca teks proklamasi di Jalan Penggangsaan Timur, aku sedang di atas Trans Bandar Lampung menuju kantor. Sengaja motor ditinggal karena aku tidak mau menyetir di jalan yang ruwet padet berdebu macam sekarang ini. Tapi rupanya imbalan jalan sehat harus aku terima karena Trans Bandar Lampung tidak masuk ke gang-gang seperti mikrolet Pahoman.
Di detik ini, tinggal 30 % terberat dari pekerjaan editanku yang tersisa. Yaitu bagian fokus Nuntius. Otakku berat diajak mengerjakan bagian ini. Dan tidak ada pilihan lain untuk disantap selain mi rebus instan ngembat punya Tio (Makasih ya Tio. Dimana kau? Saat aku ambil mi, kau gak ada. Tapi aku sudah bilang kok tadi keras-keras,"Minta mi ya Tio.")
Saat hendak menyantapnya, tak sengaja mangkuk mi bersanding dengan Buku Sasangka Jati yang sudah beberapa bulan ini tergeletak di meja kerjaku. Menunda makan aku buka tepat di pembatas buku yang kusematkan di situ. Baru halaman 10. "Janganlah engkau meremehkan tugas yang kecil-kecil itu, sebab apabila belum terbiasa mengerjakan tugas yang mudah, bagaimana engkau akan dapat mengerjakan tugas yang sukar. Oleh karena itu, segala sesuatu yang sudah ada di tanganmu, laksanakanlah dengan kesungguhan hati yang suci, niatkan atas karsa Tuhan, sebab tidak ada tugas di dunia ini, yang tidak atas karsa Tuhan, meski yang tampak remeh sekalipun."
Wuh, ini buku yang berat, yang belum tentu aku setujui seluruhnya (hmm, tidak harus aku setujui seluruhnya). Tapi melihat ada mi di sebelahnya, aku kembali mengingat 17 Agustus bagi kemerdekaan Indonesia. Berapa orang di Indonesia yang sekarang ini makan siang dengan mi instan sumbangan? Atau, berapa orang di Indonesia yang sekarang ini menyimpan mi instan sumbangan sebagai satu-satunya pilihan untuk buka puasa nanti?
Huff, aku salah memilih pikiran untuk istirahat siangku ini. Jadinya otakku lebih berat sekarang. Dan denyut di bagian belakang kepalaku yang kemarin aku rasakan kembali mendera.
Merdeka!!!

Thursday, August 16, 2012

Dia Bukan Bayi

ada saat aku menerimanya gembira
membopongnya dengan dua tangan
menimang memeluknya menyusuinya

aku kidungkan Jalan Pengharapan Nguyen Van Thuan
aku lantunkan Mazmur Daud bagi Salomo
padanya, aku senandungkan keceriaan

aku adakan pesta setiap putaran bulan
mengundang para muda penuh gairah
yang menyumbang tarian dan semangat
membuatkan bubur dan sup hangat baginya
ikut menimang memeluknya

aku berdiri bagai benteng baginya
menjadi tameng menahan angin
badai luka hujan air mata
aku berdiri membelanya bagai ibu
dengan seluruh kecintaan

ketika kini kerentaan aku rasa
aku melihat kedua tanganku
tak bisa lagi rela menimang memeluknya
tak mau direpotkan oleh rengeknya
tak ingin mempedulikan

tubuhku telah bungkuk
dan dia bukan bayi lagi
bahkan ternyata
dia sama sekali bukan bayi

aku telah salah dari awal cara mencintainya

(bolehkah aku pergi dan meninggalkan dia di gerbang rumahmu?
maukah engkau mengasuhnya?)

Wednesday, August 15, 2012

Sarapan Pagi bersama Mgr. Henri

Roti gandum berserat tinggi.
Aku seringkali datang ke kediaman Mgr. Henri (Uskup Emeritus Keuskupan Tanjungkarang) pada jam tidak biasa. Misal pada pagi jam 07.00, yaitu jam yang aku tahu persis belum membuat janji dengan siapa pun kecuali jika harus pergi dari rumah. Jam 7 pagi adalah jam sarapan, maka aku pasti bisa ketemu. Bukan apa-apa, aku memang tidak suka membuat janji bertemu, main tembak saja. Resikonya ya paling tidak bisa berjumpa karena tidak di tempat atau diusir karena memang tidak mau ditemui. Kalau beruntung ya duduk saja di sebelahnya sembari menemaninya makan sembari bicara tentang banyak hal, sambil nonton Metro TV. Jarang aku ikut makan kecuali jika ingin secangkir teh atau kopi. Malu melihat porsi makan di atas meja makannya. Hehehe. Begitu sedikit, sepertinya cukup pas hanya untuk seorang saja.
Pagi ini (15/8) aku datang (ketiga kalinya berkunjung sejak pengumuman emeritus) tanpa niat apapun. Tidak ada rencana, hanya tertarik untuk belok masuk halaman rumah Mgr. Henri begitu lewat di depannya. Tepat pukul 07.05 saat aku memencet bel rumah. Sr. Tatiana mempersilahkan aku masuk, dan aku nyelonong saja ke ruang makan.
"Ingin ikut sarapan, Mgr."
"Haa, rupanya kamu sudah kangen juga."
Aku tertawa. Mgr. Henri menyilahkan aku mengambil cangkir dan piring di laci. Aku mengambil kopi gula plus cream dan duduk di sebelahnya.
"Ambillah dulu. Saya masih lama."
Aku mengambil sepotong roti gandum yang disorongkan Mgr. Henri dan melapisinya dengan selembar keju, dan langsung melahap dengan mencengkeramnya pake tangan kananku. Tangan kiri memegang cangkir sembari sesekali menyeruputnya.
Lihat, apa yang dikerjakan Mgr. Henri? Lihat, apa yang ada di piringnya? Ada beberapa tangkai sawi rebus, sepotong timun dan seiris tomat. Mgr. Henri memotongnya, tepatnya mencincangnya, hingga lembut. Tangan kirinya memegang garpu, dan tangan kanan memegang pisau. Serbet diselipkan di bajunya, dan posisi duduk sempurna. Lalu diambilnya sepotong roti gandum, diolesi mentega. Di bagian atas diolesnya lagi campuran sayuran yang sudah halus itu. Dan dimakan dengan pelan, tenang.
"Kok wajahmu begitu? Ini makanan yang menguatkan. Jangan pikir soal rasa enak atau tidak enak."
Aku tersipu mengingat cara makanku.
Usai makan, Mgr. Henri menggeser piringnya dan mengambil cangkir. Kopi cream yang lebih hitam dari punyaku. Isi cangkirku lebih putih, karena lebih banyak cream ketimbang kopinya. Beberapa komentar pun muncul menimpali Metro TV yang pagi ini mengulas tentang parcel bagi para pejabat.
Ritual sarapan dilanjutkan di dekat kandang burung, dengan membawa satu lembar roti gandum. Dicuil-cuil dan dilemparkan ke para burung yang berkicau ramai menyambutnya. Lalu aku pamit.
"Sudah kenyang, Mgr. Mau melanjutkan hidup."
Wajahnya tak percaya. Biasanya kan ada omongan tentang pekerjaan ini itu, curhat ini itu, dll.
"Tidak ada yang ingin disampaikan?"
"Saya memikirkan sesuatu, tapi tidak yakin. Jadi kapan-kapan saya mampir lagi."
Hehehe, sebetulnya kasihan melihat wajah Mgr. Henri yang bengong sesaat sebelum mengantarku ke pintu. Tapi aku betul-betul memilih untuk pamit dan melanjutkan hidup hari ini di kantor Nuntius. Pukul 08.05.

Monday, August 13, 2012

The Unknown Errors of Our Lives

Aku sedang membaca buku ini. Ditulis oleh Chitra Banerjee Divakaruni. Siapa penulis ini silakan klik di sini . Aku tidak ingat apakah aku pernah membaca tulisan lain yang dibuat olehnya. Lamat-lamat mungkin aku pernah membaca sebuah cerita anak yang yang ditulis Chitra, tapi tidak yakin. Mungkin aku harus bongkar rak-rak bukuku dulu untuk memastikan.
Buku ini berisi 9 cerpen Chitra dengan tokoh-tokoh perempuan India muda atau tua yang migrasi atau pernah migrasi ke Amerika. (Aku jadi ingat film My Name is Khan. Pernah aku tulis sekilas di shah-rukh-khan, atau di tempat lain juga. Lupa.) Dari awal, melihat sampulnya pun aku sudah terpikat. Lihat bunga-bunga kamboja itu? Lihat warna tanah yang membingkainya?
Nah, Chitra menyodorkan kisah-kisah perempuan yang masih India namun juga sudah Amerika. Dinamika perempuan.
"Dari waktu ke waktu mereka melemparkan lirikan ke arahku dan pakaian Indiaku. aku tahu mereka pasti belum banyak melihat orang India. aku mencengkeram pagar kapal, sambil menggigil, ingin sekali berada di Sacramento lagi, di mana tidak ada yang memandangiku bila aku berjalan ke toko memakai salwar kameez." (hal. 51)
Chitra menunjukkan ranah aman yang dinikmati oleh perempuan. Maka, tokoh-tokoh perempuan India pun disandingkan dengan laki-laki India (bukan bule atau negro), walau perjalanan sudah sejauh itu dilakukan. Tetap dalam ikatan sari atau salwar kameez.
Namun di sisi lain, Chitra juga jujur mengisahkan hasrat perempuan yang liar penuh mimpi. Kadang di luar tradisi.
"Aku menggetarkan bahuku dan mendongakkan kepalaku, dengan berdansa mendobrak ke dalam hidup baru yang sudah kumulai sebagai impian - rasanya sudah begitu lama berlalu - di atas bus Greyhound. Ketika Ajit memutarku sehingga aku tersandar ke dadanya, aku tidak menarik mundur diriku seperti yang akan dilakukan Mira yang lama, Mira yang rambutnya dipenuhi bercak karat dari tangki air, yang mengering seperti kerak darah." (Hal. 197)
Maka ada cinta, ada gairah, ada petualangan. Dan tentu saja ada kesalahan-kesalahan, yang sebagian besar di antaranya tak pernah bisa diketahui di mana ujung atau pangkalnya. Apa penyebab dan solusinya. Tak pernah bisa diketahui.

Thursday, August 09, 2012

Menjadi Artis seperti Agnes Monica


Sekali-sekali aku pernah mimpi untuk menjadi artis. Tentu saja enak membayangkannya. Terkenal. Mau senyum atau nungging disorot media. Bisa dijual senyuman atau tunggingannya. Tentu saja aku pilih-pilih jika jadi artis akan menjadi artis yang mana. Dan pilihanku : Agnes Monica. Gadis kelahiran Jakarta 1 Juli 1986 itu berpaut belasan tahun lebih muda dariku. Tapi aku menyukainya. Lihat cara dia tampil di depan umum. Menarik. Wajahnya, badannya, gerakannya, bajunya, gaya rambutnya, dll. Kadang kontroversial. Tidak lazim, nyleneh, berani. Tapi gak mbosenin dalam kaca mataku.
Yang terlihat seperti itu. Dan dia punya citra kerja keras. Itu bisa terlihat dari otot-otot tubuhnya dan cara bicaranya. Sekali lagi, yang terlihat! Dan aku tentu saja tidak bisa melihatnya sepanjang waktu. Aku gak tahu pas dia tidur, mandi, jatuh cinta, patah hati, berbuat salah, marah, sedih, dsb.
Dan tentu saja jadi artis harus siap dengan citra. Orang akan melahap citra itu lewat media. Habis-habisan.
Jika aku sekali-sekali mimpi menjadi artis, maka aku juga sekali-sekali berlatih untuk memakai citra. Orang banyak akan melihat citraku itu. Mereka tidak melihatku saat aku sedang tidur, mandi, berbuat salah, marah, atau sedih. Dan penilaian hanya berdasarkan citra adalah kesalahan besar. Ada banyak hal tak kelihatan di balik citra.
Lalu, bagaimana jika para aktor negara memakai citra dalam bertindak? Harus! Harus ada citra karena kita gak lihat yang tidak kelihatan. Yang harus diingat, mereka ini bukan artis. Maka citra yang harus mereka tampilkan juga bukan citra keartisan. Tapi citra aktor ( = pelaku, bukan aktris atau artis) negara. Aku menunggu melihat citra itu.

Wednesday, August 08, 2012

Arah dan Tujuan Hidup Hingga Akhir Tahun

Jalan masuk.
Di OVJ, kalau salah satu pemain sudah kelewat ngong, membuat alur cerita berantakan, salah satu dari mereka yang masih sedikit waras akan mendekati.
"Mau tanya, sebenarnya apa dan kemana sih arah hidupmu?"
Sekarang ini mungkin saja aku juga sudah kelewat ngong, lebih dari berantakan, lebih dari merusak alur cerita. Dan kalau ada yang bertanya,"Yuli, sebenarnya kemana sih arah hidupmu?", jangan berasumsi jangan menilai. Segini ngongnya aku, aku masih punya arah dan tujuan hidup. Memang kali ini aku gak bisa menentukan arah dan tujuan hidup selama hidup. Itu terlalu panjang dan lama untuk dipikirkan sekarang bagi otakku yang sedang sempit karena ngong. Tapi aku bisa jawab dengan gembira bahagia bahwa aku punya arah dan tujuan hidup hingga akhir tahun. Karenanya, aku tidak punya alasan untuk merasa sedih, gagal, putus asa, atau apapun yang negatif. Bahwa aku memang lagi ngong ya biar saja begitu dulu.
"Jadi apa arah dan tujuan hidupmu hingga akhir tahun?"
"Ada deh. Yang jelas aku gak akan pasang program jangka panjang sekarang ini. Aku mau yang jangka-jangka pendek saja. Ini akan membuat hidup lebih mudah, tidak repot. Seperti kredit motor, nyicil dikit-dikit. Kan akhirnya lunas juga."
"Iya, tapi kemana arah hidupmu?"
"Pokoknya menarik deh. Aku ceritain nanti saja usai evaluasi ya. Sekarang kan baru planning, beberapa langkah tindakan awal, dan akan mau kedepan. Gak asyik kalau diceritain duluan."
Haa, pasti kemudian curiga,"Halah, lagi ruwet saja. Pasti memang lagi gak jelas arah hidupmu tuh."
Yeee, kata-kata mah tidak harus menggambarkan niat dan tindakan. Biarin saja omong gak jelas. Memang lagi ngong. Lagi ngong kan gak harus mikir dulu kalau mau ngomong. (Ngong = gila, tapi tidak sekedar gila. Ada unsur sadar. Mungkin bisa dikatakan gila yang sadar, begitulah. Hehehe. Orang lagi ngong tidak bisa disalahkan, karena disalahkan seperti apapun ya akan tetap ngong.)

Tuesday, August 07, 2012

Dibangunkan Kewajiban

Tidur lelap dengan garis-garis mimpi, terjemahanku untuk Starry Night-nya Van Gogh
Tidur itu adalah saat paling enak. Ndak usah mikir, mengendalikan diri, sadar, atau apapun. Pun masih dapat bonus mimpi-mimpi. Maka, untuk bangun tuh pasti rasanya malas sekali. (Dan itu aku banget!) Aku sangat suka bangun siang-siang, santai, ndak perlu buru-buru loncat dari kasur, bisa berguling-guling dulu. Lebih nikmat kalau masih boleh melanjutkan bacaan sebelum tidur yang nyelip di bawah bantal, lalu ada yang nganteri sarapan!
Tapi manusia harus bangun. Ini ndak enaknya. Kalau tidur terus belum bisa disebut manusia. Dan manusia dicipta bukan hanya untuk tidur. Maka pagi-pagi manusia pun bangun oleh kewajibannya masing-masing. Kewajiban menjadi manusia. Dibangunkan oleh kewajiban sholat subuh, misa pagi, atau meditasi. Itu menjadi awal untuk hidup selanjutnya dalam sehari itu.
Aku? Aku pun dibangunkan oleh kewajiban pagiku. Belum sholat subuh, misa pagi atau meditasi. Kewajiban pagiku ada di dapur. Jam 5 atau paling telat 5.30 harus sudah di dapur. Sementara itu yang bisa membangunkan tidur lelapku untuk beberapa masa kemarin hingga kedepan. Minimal aku memasak dalam hening. Itulah ibadatku.
Sehingga aku bisa menikmati lintasan pikiran dan rasa tentang apa saja. Ibu yang sedang di rumah sakit, anak-anak yang semakin remaja, Ahmad Jayani yang lama tak berkabar di Jatiagung sana, kantor yang sedang sangat membosankan, janji untuk pertemuan orang muda nanti sore, mas Hen yang lagi sibuk dengan cangkang sawitnya, buka puasa bersama FKSPL, setumpuk cerpen-cerpen yang sedang kubuat, nasib Buku Goro-goro-nya Rm. Dwijo yang belum ketahuan, kekasih-kekasih gelapku, rencana liburan akhir tahun, keinginan kemping di dekat air terjun Gunung Betung, rindu Yeni, kuatir gak jelas tentang Mbak Lis, bapak, atau bahkan tentang pikiran dan rasa yang lagi kosong, dll. dll. dll. ...
Pikiran dan rasa tumpleg bleg seperti itu mulai membakar bahkan di awal hari. Untungnya masih boleh tidur nanti malam. Maka aku akan menunggu malam. Selalu ada saat aku ndak usah memikirkan semua itu. Tapi juga untungnya masih boleh bangun sehingga aku bisa merubah pikiran dan rasa segala hal itu. Merubahnya bersama pergerakan tubuh jiwaku sepanjang hari.
Susahnya, aku bisa bilang, ada banyak orang yang masih suka tidur lelap saja. Walau kewajiban sudah memanggil membangunkan, tetap tak terusik. Dan lebih susah lagi, aku sering juga kepikiran orang-orang macam itu. Menduga-duga mereka bisa dibangunkan atau tidak. Kedelai sudah langka, kok masih tidur. Harga bahan pangan melangit, kok masih tidur. Kasus polisi berulang, kok masih tidur. Korupsi semakin parah, kok masih tidur. Orang teriak-teriak demonstrasi, kok masih tidur. Hoi!!! Ini bukan lagi pagi, sudah siang, bahkan akan sore. Cepat bangunnn!!!
Satu-satunya keuntungan punya pikiran yang gelisah seperti ini adalah susah tidur! Maka aku punya waktu yang lebih panjang untuk bergerak.

Monday, August 06, 2012

Ibu Masuk Rumah Sakit, Lagi.

Ibu masuk rumah sakit lagi. Ini sudah kesekian kalinya sejak dipasang cincin di jantung pada akhir tahun lalu di RS Harapan Kita dan harus suntik insulin untuk mengatasi gula tiap hari mulai beberapa bulan lalu.
Sabtu, 4 Agustus 2012 malam gejala sesak dan sakit di dada dan lengan bagian kiri membuat bapak Sam langsung mengantar ke RS. Baptis di Kediri. Pagi-pagi aku terima kabar itu lewat SMS. Cemas, dan langsung melantunkan doa-doa.
"Seperti yang lalu. Sekarang masih di UGD. Doakan saja, Yo. Kalian di Lampung apik?"
Ah, suara sabar Pak Sam membuatku tenang. Aku coba telepon ibu sorenya, tapi tidak diangkat. Memang harus istirahat, aku paham. Tapi mendengar suara ibu pasti akan membuatku lebih tenang lagi.

Ini aku dapatkan dari Yayasan Jantung Indonesia. Ada detail-detail lain, tapi minimal ini bisa menjadi pengetahuan awal sebelum browsing yang lebih lagi. Mohon doa untuk Ibu Titik-ku.

Sayangilah Jantung Anda

Penyakit jantung koroner adalah salah satu penyakit penyebab utama kematian di Indonesia. Dengan bertambahnya usia, semakin meningkatnya, gaya hidup mewah, dan naiknya tingkat stres, risiko berjangkitnya penyakit jantung koroner semakin tinggi. Namun demikian, penyakit jantung koroner ini dapat dicegah atau diobati. Ilmu kedokteran telah mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang bisa kita ubah untuk menghindari penyakit tersebut.
Karena itu, sayangilah jantung Anda dan kenalilah berbagai fakta tentang penyakit jantung koroner ini. Dengan demikian, Anda dapat menyelamatkan hidup Anda sendiri!

APAKAH JANTUNG SEHAT ITU?
Jantung adalah organ tubuh yang terdiri dari otot-otot yang kuat dan memompa darah yang membawa oksigen dan bahan makanan ke seluruh bagianian tubuh. Untuk dapat berfungsi secara baik, jantung membutuhkan darah yang cukup untuk memberinya oksigen dan bahan makanan yang memadai, agar dapat menunjang kegiatan sehari-hari seperti berjalan atau makan. Jantung memiliki dua arteri koroner utama, yang selanjutnya bercabang-cabang.

JANTUNG TAK SEHAT
Penyakit Jantung Koroner
Ketika arteri koroner menyempit atau tersumbat, suplai darah ke jantung berkurang, sehingga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan otot-otot jantung. Keadaan inilah yang disebut dengan penyakit jantung koroner. Penyebab utama penyakit ini adalah aterosklerosis.
Aterosklerosis
Aterosklerosis adalah keadaan di mana unsur lemak bertumpuk di dinding dalam arteri dan menyebabkan menyempitnya arteri, dan jika terus berlanjut, menyumbat arus darah. Ini biasanya terjadi jika kita kelebihan lemak atau kolesterol dalam darah kita.

Thursday, August 02, 2012

Baju Kotak-kotak

Jokowi bersama kotak-kotaknya, eh pendukungnya.
Dari dulu aku suka baju kotak-kotak. Dalam setiap masa aku selalu punya baju dengan motif ini. (Walau sekarang ketika aku bongkar lemari, bukan hanya kotak-kotak tapi sudah lebih variasi bentuk dan warna baju yang kupunya, dan kebanyakan malah hampir semua adalah baju gratisan! Hehehe...)
Tapi aku tetap suka baju motif kotak-kotak. Rasanya motif kotak-kotak itu begitu sederhana mencerminkan diriku yang memang sederhana. Cieee... Dan baju kotak-kotak tuh fleksibel. Mau ke kantor atau ke gunung tetep cocok. Menurutku begitu!
Tapi gara-gara Jokowi - Ahok memakainya untuk kampanye gubernur Jakarta aku jadi malas memakai kotak-kotakku. Bukan apa-apa, cuma kok jadi banyak kembarannya ya? Motif kotak-kotak kan selamanya selalu sama. Yang beda cuma ukuran dan warnanya. Juga bukan karena takut dikira pendukung mereka. Toh aku di Lampung, tidak pengaruh apa-apa suaraku bagi mereka.
Memang sih, siapa pun gubernur Jakarta yang terpilih mau tidak mau dia akan memberi pengaruh pada siapa saja orang Indonesia khususnya yang sering mondar-mandir ke Jakarta untuk segala macam urusan. Dan semua pasti setuju bahwa Jakartalah tempat segala macam urusan itu. Maka banyak nian yang datang ke Jakarta dan terpengaruhi oleh transportasi, sarana publik lain, urusan administrasi tetek bengek, dan sebagainya yang diterapkan di Jakarta.
Jadi siapapun yang terpilih nanti, plis, buat wajah Jakarta menjadi lebih baik dan nyaman. Buat benar-benar sebagai ibu kota negara bagi seluruh Indonesia. Ibu yang ramah bagi semua...

Wednesday, August 01, 2012

Negara Tempe tanpa Kedelai

Tempe kedelai
Nun alkisah di sebuah negara di cincin bumi yang jelita, hiduplah sekelompok rakyat jelata. Mereka seperti kebanyakan orang di manapun kalau ditilik dari tubuh, wajah dan rambutnya. Mereka ini bekerja dan makan serta tidur seperti kebanyakan orang lain. Yang sedikit unik adalah mereka mempunyai makanan sakti yang harus mereka santap sehari-hari. Jika sehari saja mereka tidak makan makanan ini, bukan hanya perut mereka yang akan melilit, tapi akan ada penyakit akut yang menyerang mereka. Penyakit itu disebabkan putusnya hubungan otak dengan segala organ dan indera pada tubuh mereka. Maka omongan tidak nyambung, pendengaran tidak beres, penciuman gagal, dan gerakan tangan kaki jadi ngaco. Tidak ada obat untuk penyakit ini. Cukup makan secuil tempe, mereka akan sembuh.
Mereka harusnya dipandu oleh raja dan para pamong praja menjaga supaya tempe selalu ada dalam menu mereka sehari-hari. Tapi saking remehnya urusan tempe ini, ketersediaan tempe sering kali tidak masuk hitungan dibanding urusan-urusan besar lainnya. Ya, tentu saja mereka juga makan makanan yang lain. Tapi tempe bukan suatu pilihan. Tempe adalah keharusan dan kewajiban tiap orang bagi tubuh mereka sendiri.
Ada juga beberapa orang, yang sudah mendapatkan penetralan terhadap tempe karena suatu usaha, mereka tidak lagi tergantung pada tempe. Tapi ini jumlah yang sangat kecil. Dan proses penetralan ini membutuhkan biaya yang sangat mahal, konon hingga di atas 1 milyar kepeng. Siapa rakyat jelata yang mampu mencari kepeng sebanyak itu? Dan kebanyakan negeri ini dihuni rakyat jelata dengan penghasilan hanya 8 - 10 kepeng saja seharinya. Cukup untuk membeli tempe seharga 1 kepeng dan tentu saja beras, gas, dll kebutuhan sehari-hari. Jangan kata soal menabung. Itu sangat sulit dilakukan.
Bertahun-tahun mereka hidup dengan tempe sebagai penopang hidup. Syahdan, suatu waktu tiba-tiba tempe menjadi barang langka. Kalau pun ada sudah menjadi rebutan. Satu hari saja, dan orang-orang pun menjadi kalap. Ya bayangkan, sehari tidak makan tempe penyakit putusnya hubungan otak itu langsung bereaksi. Hampir seluruh rakyat mengidap itu. Kalau ada yang masih punya tempe, mereka menyimpannya diam-diam.
Raja dan seluruh pamong praja pun panik. Mereka menemukan ternyata, mereka tidak punya stok kedelai lagi di lumbung-lumbungnya.
"Kenapa sampai kedelai tidak ada?" Murka sang raja.
"Harga kedelai dari luar sangat mahal," jawab pamong urusan ekonomi. "Saya usulkan bea masuk kedelai dihapuskan."
Hal itu pun disetujui. Dan setiap orang boleh membeli kedelai di luar negara itu tanpa biaya untuk negara.
"Apakah kita tidak punya kedelai sendiri?" Tanya sang raja lagi.
"Ada. Tapi panen masih 7 minggu lagi, raja." Angguk pamong urusan petani. "Dan hanya ada beberapa petak yang tersisa. Kita harus usaha lebih untuk para petani kedelai. Mungkin subsidi untuk mereka?"
Murka sang raja masih belum berhenti. Dan bergantian pamong-pamong yang lain mengusulkan ini itu. Mereka lupa bahwa mereka pun belum makan tempe hari itu, sehingga penyakit putusnya hubungan otak itu pun merasuk mereka. Mereka kan belum melakukan vaksinasi penetralan terhadap tempe. Omongan semakin tidak jelas. Tangisan rakyat di berbagai pelosok karena tidak tahan terhadap penyakit itu pun semakin mengharu biru. Mereka mengais kedelai dari pelosok-pelosok. Namun sebagian besar dari mereka sudah terjangkit parah penyakit putusnya hubungan otak, tak terkendali. Negara tempe seolah dihuni oleh para zombie yang butuh tempe sekarang ini juga! Saling bunuh hanya untuk tempe. Tidak ingat anak istri ibu bapak lagi... Karena tempe.
...
"Hoi, bangun, sudah siang!"
Ups, teriakan suamiku membuat aku terloncat dari tempat tidur.
"Ya ampun. Aku mimpi buruk. Itu bukan Indonesia kan?"
"Apaan sih?"
"Aku mimpi negara tempe tanpa kedelai. Mengerikan."
"Hussy. Sudah cuci muka sana. Dan cepat goreng tempe untuk sarapan."
Sebelum ke kamar mandi aku sempatkan melongok kulkas. Di sana ada seiris tempe yang cukup untuk sarapan. Syukurlah masih ada tempe. Tapi aku harus diingatkan untuk mampir pasar nanti siang pulang kerja, untuk membeli tempe.

Wednesday, July 25, 2012

Ariel yang Manusia

Ariel
Sebenarnya gak ngefans sama Ariel, dan gak kepikiran tentang dia bahkan ketika hiruk pikuk diberitakan ditangkap, diadili, dihukum. Bahwa pernah bahkan sampai sekarang masih menikmati lagu-lagunya bersama Peterpan, ya! Pernah suka melihat dia menyanyi tanpa baju, ya! Hehehe, lagian dia seksi banget waktu itu. Lupa, waktu lagu mana ya dia nyanyi tanpa baju? Keren dan patut dikagumi otot-otot dada dan lengannya yang langsing berisi.
Jadi, dari dulu sampai sekarang ya biasa saja kalau mendengar nama Ariel atau Nazril Irham disebut media atau rombongan orang muda tua ibu bapak. Mau dipuji atau dihujat habis ya biasa saja. Tetep mendengarkan lagunya, tetep nyebik gak komentar, ... Lha mau apa? Dia laki-laki dewasa asal Pangkalan Brandan yang sudah dewasa. Seperti laki-laki kelahiran manapun yang dewasa. Tahun ini umurnya sudah 31 tahun. Di usia itu suamiku sudah punya 1 anak dan aku tahu ritme hidupnya sebagai laki-laki. Ya sama seperti itulah. Ariel pasti juga punya ritme hidup sebagai laki-laki. Dia duda, punya anak, dan punya hasrat-hasrat manusiawi. Bahwa dia tak sadar melakukan ini itu sehingga mendapatkan pembelajaran hidup yang begitu besar dan berharga, ya, dia yang akan eh sudah lalui resiko atau dampaknya. Dia hanya tak sadar dalam satu waktu. Hanya itu. Dan dia dapat 'sekolah'nya. Soal lulus atau tidak pun urusan Ariel sendiri. Hehehe...memang aku tak punya hubungan apapun dengannya kok. Kenal aja kagak. Kalau dia anakku, ya mungkin lain. Atau dia salah satu sahabatku, wah pasti jeweran akan kulakukan. Bahkan akan kuketok kepalanya pake batu, di awal-awal, sebelum kemudian, ...hmmm ya, sahabat atau anak kudu tetep dipeluk cium. Apapun yang mereka lakukan.
Ah, soal kelakuan mah sama juga seperti aku. Malah aku tak sadar berkali-kali. Aku terlalu memaklumi diriku sebagai manusia terbatas. Ya, sedikit selingkuh tak apa-apa, kan manusia. Ya, sedikit korupsi tak apa-apa, kan manusia. Ya, nyakiti orang lain dikit tak apa-apa, kan manusia. Ya, salah dikit-dikit, tak apa-apa. Sering-sering salah ya tak apa-apa... Terlalu maklum. Harusnya aku lebih keras dikit pada diriku dan tak kompromi untuk hal-hal tertentu. Dan kadang-kadang bisa tuh. Tapi mungkin jatuh itu nikmat! Hahh!!! Susahnya jadi manusia. Susahnya punya pikiran. Susahnya punya hati. Hmmm....