Tuesday, August 04, 2026

ALUR CERITA DALAM PAGELARAN WAYANG KULIT

Seperti diketahui khalayak, aku ni suka nonton atau ndengerin wayang kulit. Setelah idolaku Ki Seno
Nugroho meninggal, aku sempat berhenti, tidak mau menonton, sampai akhirnya menikmatinya lagi saat Ki Gadhing Pawukir mulai aktif mendalang.

Ada bagian-bagian yang sudah standart dalam pagelaran wayang, atau kusebut alur cerita dalam pagelaran wayang kulit. Kayak polanya gitulah. Ini kutulis sesuai pengalaman yang kutonton. Akan kukoreksi setiap kali mendapatkan referensi nantinya. 

1. Jejer 

Jejer ini menjadi adegan pembuka. Biasanya settingnya ada di sebuah 'pertemuan', ada ratu atau pemimpin, dihadap oleh sejumlah orang. Ini juga menjadi pengenalan atau pengantar untuk cerita yang akan dilakonkan. Jejer ini selain mengenalkan masing-masing karakter tokoh yang berkumpul, juga mengenalkan persoalan/masalah yang akan diangkat dalam kisah yang dilakonkan.

2. Limbukan

Limbukan ini babak suka-suka, yang diisi dua tokoh dayang Limbuk dan Cangik. Isinya dialog tidak serius, humor, bisa menampilkan bintang tamu, lagu-lagu. Menjadi semacam selingan dalam pagelaran. Masa kini penonton bisa nyawer minta lagu di bagian ini.

3. Budhalan

Budhalan ini menjadi saat bagi para ksatria keluar dari istana, berangkat untuk maju dalam 'konflik'. Jika dalam jejer sudah dikenalkan dengan masalah yang muncul, konflik itu diperkuat dalam babak ini. Siapa yang saling berhadapan akan 'berperang' secara langsung.

4. Goro-goro

Merupakan perbincangan ringan para punakawan terdiri dari Petruk, Gareng, Bagong, ditemani Ki Romo Semar. Mereka akan berdialog humor. Dalam pagelaran, saat goro-goro ini biasanya berada di jam usai tengah malam, saatnya super mengantuk bagi yang menonton semalam suntuk. Maka obrolan humor ini bisa menyemangati kembali para penonton.

5. Perang

Setelah goro-goro, konflik yang sudah dibangun dalam budhalan tadi menjadi 'geger', mengadu antara jahat dan baik, antara hitam dan putih. Setelah goro-goro, konflik ini mencapai puncak atau klimaks. Gending menjadi lebih tegang, kuat, dengan strategi yang dibangun 'kuat-kuatan' antar dua pihak yang beradu.

6. Tancep kayon

Bagian terakhir dari pagelaran akan menjadi saat antiklimaks. Musuh sudah gugur, masalah selesai, suasana kembali adem ayom tata tentrem. Gunungan akan ditancapkan menandakan selesainya kisah yang digelar. Biasanya Ki Dalang akan menyertakan doa-doa di bagian akhir ini. Saat tancep kayon ini kebanyakan dilakukan persis sebelum subuh menjelang. 

No comments:

Post a Comment