Baru saja berbaring, buka HP, mencoba meluruskan pinggang yang sudah sejak pagi belum berbaring karena jadwal pengawasan koperasi dan lanjut mengisi materi kursus dasar koperasi di Mekar Sai, suami menanyakan di mana power bank kusimpan. Power bank termasuk benda yang krusial bagi kami yang suka perjalanan bahkan ke tempat yang tak ada akses listrik misalnya saat hiking atau mendaki gunung. Maka, power bank harus selalu siap sedia. Kami punya tiga power bank, hijau, putih dan hitam. Yang hijau udah agak soak karena lama. Yang putih dibawa si sulung sejak dia kembali ke Lampung. Yang hitam ini jadi andalan untuk harian yang membutuhkan. Kalau jalan agak lama dari rumah, ketiganya masih kami bawa.
"Power bank item ke mana?"
Aku mendongak dikit, tanpa bergerak dari kasur. "Kan dari dua minggu lalu kucari ndak nemuin. Inget kan saat aku tanya power bank pas mau seharian kerja usai lapah jiarah sabtu itu."
Dia langsung mbongkar tas, laci, seisi kamar. Ndak nemuin. Iyalah, dua minggu lalu aku sempat nyari juga ndak nemu. Wajah bete suami bertambah setelah dia nyari di meja kerjanya, di ruang tamu, tas-tas lain tetap ndak nemuin itu barang.
Saking bunyi brak brek brok si suami yang lagi nyari, aku akhirnya bangun lagi dengan sedikit jengkel. Kemarin saat aku nyari power bank, hanya njawab ndak tahu, ndak ikut nyari. Padahal itu aku jelas butuh banget menggunakan power bank. Ini malah gedubrak gedubruk.
Aku mengulang menyari di semua tas, laci, kamar, tapi begitulah saudara-saudari, power bank itu ndak ketemu juga.
Udah menjelang jam 23.00, suami udah menyerah. Sambil sedikit menggerutu, dia mulai berbaring. Saat kami berdua berbaring, aku bilang dengan lembut.
"Kayaknya waktu itu aku sempat membawa power bank itu di kamar baju, pas mau seterika. Apa terselip di antara baju-baju yang di keranjang ya?"
Mendengar itu, suami bangun lagi. Hehehe... rupanya masih penasaran dia. Maka dia ke kamar belakang, sambil kuteriakin: "Minta bantuan santo Antonius!" Aku pun ikut berdoa sambil berbaring, "Santo Antonius, doakan kami. Bantu menemukan power bank."
Butuh waktu lama suami di kamar belakang. Pasti dia memindahkan baju yang belum diseterika satu per satu dengan harapan power bank itu terselip di sana. Tapi sampai beberapa menit kemudian dia kembali ke kamar dengan wajah lebih putus asa. Tanpa suara.
Di dekat pintu sambil menutup pintu pelan-pelan tangannya iseng meraih dompet merah hati yang ada dekat kotak alat dandan. Dan, itulahhh... power bank itu ada di sana! Huaaa.... Padahal dompet itu ada di situ sejak dua minggu lalu, tak ditutup, bahkan aku memindahkan beberapa kali saat kerja di meja yang sama. Kok ndak ngecek, kok ndak nglihat, kenapa lhooo, ndak krasa beratnya power bank. Oalahhh... Untunglah, terimakasih Tuhan, terimakasih Santo Antonius. Aku pun dikucel-kucel dengan sukses.
"Iya juga, dompet itu aku bawa saat ke warung Paula Geprek saat itu sambil ngecas. Jadi kuambil hp dan kabelnya aja tapi power bank tertinggl di situ."
Untunglah, malam itu semua bisa tidur pulas. Besok paginya suami bisa ke Lubuk Helau dengan tak perlu kuatir kehabisan baterai hp. Aku pun pulas tak lagi merasa bersalah karena memang aku yang terakhir membawa power bank itu ke mana-mana.

No comments:
Post a Comment