Pengalaman menarik seperti ingin aku ingat dengan lebih akurat suatu saat nanti. Kemarin Sabtu, 4 Juli 2026, aku diminta menjadi ketua dewan juri lomba menulis cerpen untuk Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Provinsi Lampung untuk tangkai lomba menulis cerpen. Seingetku duluuu sekali aku pernah menjadi juri lomba serupa bertempat di Universitas Lampung. Kali ini tiga tangkai lomba diadakan di Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Bandarlampung, yaitu penulisan cerpen, puisi dan naskah lakon.
Untuk cerpen kami tiga juri yaitu aku, Yohana Shera dan Fadilla Hanum sudah merancang tema yang umum tapi khas Lampung, yaitu Menulis Lampung: Alam, Budaya dan Masyarakatnya. Kami ingin melihat sejauh mana mahasiswa dari berbagai kampus di Lampung ini mengenali Lampung, mencintainya dan menggalinya sebagai ide cerita pendek. Terserah kekayaan alam, budaya dan masyarakat Lampung ini diletakkan dalam cerita, mau ditaruh dalam tokoh, alur, latar tempat/waktu dan sebagainya.
Ada 12 peserta yang ikut dalam lomba ini. Mereka baru mendapatkan rumusan tema saat lomba akan dimulai, dan cerpen harus ditulis di tempat lomba selama tiga jam.
Bagiku, dan juga diacc oleh juri lain, mahasiswa Lampung punya potensi besar untuk mengembangkan kemampuannya. Maka kami mengapresiasi kerja mereka, yang dalam waktu sangat singkat hanya tiga jam mampu menyusun cerita pendek yang sebagian di antaranya sangat indah dan utuh.
| Saat lomba berlangsung |
Aku sendiri membuat beberapa catatan khusus:
1. Cerpen yang aku nilai, apa pun yang harus diminta oleh panitia untuk dinilai akan kulihat unsur-unsur berikut, yaitu tokoh yang detil dengan protogonis dan antagonis, alur yang dimulai dengan pengenalan, konflik dan penyelesaian, latar waktu dan tempat yang menampakkan kejelasan, pengolahan tema yang kreatif, dan terakhir sudut pandang yang digunakan.
2. Dari 5 unsur di nomor satu tadi, aku akan melihat bungkusnya. Karena ini adalah cerpen bahasa Indonesia maka peserta harus menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Kaidah-kaidah umum dalam bahasa Indonesia harus mereka kuasai terlebih lomba ini dilakukan dengan fasilitas alat ketik komputer yang memungkinkan mereka melakukan editing. Dalam suatu masa dulu, lomba cerpen dilakukan dengan tulis tangan yang pasti akan lebih rumit dan lama untuk proses editingnya.
3. Karena lomba ini akan memilih pemenang untuk dikirimkan ke tingkat nasional, latihan atau pembekalan lanjut mutlak dilakukan. Persiapan yang cukup perlu diberikan kepada peserta sehingga mereka menjadi lebih siap untuk beradu dengan peserta dari daerah lain. Latihan, latihan, latihan... Membaca, membaca, membaca...
| Juri menulis cerpen bersama panitia |
| Juri menulis cerpen dan puisi bersama panitia UTI |
| Juri dan juara lomba menulis cerpen |
No comments:
Post a Comment