Semangat pelayanan kasih bagi warga binaan kembali dikobarkan oleh para relawan Pemerhati Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di bawah naungan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari perwakilan paroki, kongregasi, kelompok devosional, hingga perwakilan Kemenag Lampung Selatan berkumpul dalam kegiatan Misa Kudus dan rekoleksi yang berlangsung di Pendopo Asilo Hermelink, Gedung Meneng, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Mengusung tema "...Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan" (Ratapan 2:19), kegiatan ini menjadi wadah penyegaran spiritual bagi para relawan yang setiap harinya berkecimpung dalam pendampingan rohani di balik jeruji besi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD Antonius Suhendri bersama RD Christoforus Susanto. Dalam homilinya, Romo Suhendri menekankan cara menghadapi tantangan dalam pelayanan.
"Tidak semua solusi bisa diselesaikan dengan uang. Solusi bisa diselesaikan juga dengan iman. Menyelesaikan masalah tidak harus dengan emosi, tetapi bisa didapat dengan datang pada Tuhan Yesus dengan rendah hati," ujar Romo Suhendri di hadapan para peserta.
Senada dengan itu, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, Ch. Dwi Yuli Nugrahani, mengajak para peserta untuk terus mengembangkan diri, baik secara pribadi maupun kelompok. Ia menekankan pentingnya ketulusan dalam pelayanan agar semakin "kudus" dalam menjalankan tugas perutusan.
Yuli juga menyoroti masih adanya celah pelayanan yang perlu dijangkau, seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Masgar, Tegineneng, yang belum sempat tersentuh secara maksimal oleh karya pastoral keuskupan.
Sejarah Panjang dan Cakupan Pelayanan
Dalam kesempatan terpisah, Yuli menjelaskan bahwa pelayanan pemerhati Lapas merupakan agenda rutin KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Fokus utama adalah memberikan pendampingan rohani bagi warga binaan Kristen dan Katolik di Lapas yang telah menjalin kerja sama (MoU) dengan keuskupan.
"Saat ini, kami rutin melayani di empat Lapas di Bandar Lampung, satu di Lampung Selatan, dan satu di Metro. Pelayanan dilakukan melalui kunjungan rutin mingguan atau sesuai jadwal yang telah disepakati," jelas Yuli.
Karya ini bukanlah hal baru. Pelayanan ini telah dirintis sejak tahun 2000-an, bermula dari inisiatif Sr. Mathea HK yang saat itu hanya melibatkan satu atau dua relawan. Kini, pelayanan tersebut telah berkembang pesat dengan melibatkan ratusan relawan dari berbagai komunitas.
Mewujudkan Ajakan Kasih Yesus
Menurut Yuli, pelayanan ini berakar pada semangat Injil Matius 25 tentang Penghakiman Terakhir, di mana Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai orang yang miskin dan tersingkir.
"Bidang ini tidak sedang menyetujui tindakan kriminal atau pelanggaran hukum. Ini adalah harapan bahwa setiap manusia selalu dipanggil untuk bertobat dan kembali pada hakikatnya yang bermartabat. Dalam jiwa manusia yang utuh, selalu ada kejahatan dan kebaikan yang bisa dikelola untuk menjadi kudus," tegasnya.
Tantangan dan Inspirasi
Yuli mengakui bahwa tantangan terbesar bukanlah pada teknis pelayanan, melainkan pada kemurnian motivasi. "Hadir bukan untuk unjuk diri, tetapi untuk belajar lebih rendah hati. Tantangan lain adalah ketika warga binaan yang sudah keluar, namun kembali masuk karena kejatuhan yang sama. Inilah yang harus menjadi perhatian bagi para relawan," ungkapnya.
Baginya, pelayanan di Lapas memiliki keunikan tersendiri dibandingkan bidang kesehatan atau pendidikan. "Pelayanan di Lapas berbeda, namun justru di situlah menjadi pengalaman yang asyik jika dihayati dalam sukacita iman," tambahnya.
Ketika ditanya mengenai motivasi terbesarnya, Yuli menunjuk sosok pendahulunya, Sr. Mathea HK. "Beliau adalah sosok yang rendah hati, sederhana, namun penuh cinta. Beliau tidak pernah dendam, bahkan kepada orang yang telah menipu atau memanfaatkannya. Suster Mathea HK inilah yang menjadi penyemangat konkret bagi saya," pungkas Yuli.
Yulius Urip Prasojo selaku Ketua Bidang Pelayanan Pemerhati Lapas Keuskupan Tanjungkarang, beserta seluruh tim kerja dalam bidang ini berkomitmen menggarap kegiatan rekoleksi ini tiap tahun. Tahun lalu, kelompok ini melakukan kegiatan serupa bersama Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo di daerah Batuputuk. Sedangkan dua tahun lalu, rekoleksi bersama Vikjen Keuskupan Tanjungkarang, RD. A. Satu Manggo di Pantai Sebalang. Selalu dilibati oleh lebih dari 150 relawan dari berbagai kelompok yang rutin melayani Lapas. ***(Tjia)

No comments:
Post a Comment