Ketika kembali
pada obrolan tentang mata kelinci.
Aku harus sabar mendengarkan Maria dan Martha
berdebat pertama-tama tentang letak.
"Mata
kelinci ada di dekat jempol kakimu.
Kau bisa melihatnya saat duduk diam.
Pakailah jemarimu meraba untuk memastikan."
Sendok beradu dengan bibir panci.
"Di dapur, Maria.
Di sanalah sepasang mata kelinci.
Tercampur bawang dan kemiri."
Lalu mereka saling bersaing meneriakkan mata kelinci
yang pertama di dekat lututku
yang lainnya di celah bibirku.
Kaki kursi beradu dengan lantai.
Jika sudah jenuh,
diam-diam
mereka mendekat pada piring yang sama.
Lagi-lagi aku harus sabar mendengar mereka bersilang lidah.
Kali ini tentang peri yang mereka ciptakan sendiri.
Di dinding sinagoga. Di bumi.
Di harum bunga jasmin. Di langit.
Tapi aku tahu
tangan mereka saling suap.
Sesekali, sekejab memandangku
dengan cinta yang sama.
21Okt 2017
No comments:
Post a Comment