Perjalanan, tepatnya jalan kaki, merupakan gerak yang paling sederhana yang bisa dilakukan oleh tubuh. Dalam Lapah Jiarah, gerak ini menjadi konkret sebagai sarana untuk 'sadar', untuk 'ingat' dan untuk 'semangat'. Aku menyebutnya demikian khususnya dalam perjalanan Lapah Jiarah ke 4 di Bulan Juni 2026, Sabtu, 27 Juni 2026 lalu.
Sadar, aku awali dengan lebih nyata saat Bu Pieri, sahabat hatiku ini, menyebut namaku untuk memimpin pemanasa sebelum Lapah Jiarah dimulai. Aku sudah sepakat untuk melakukannya maksimal 5 menit gerakan peregangan minimal melibatkan otot-otot kaki, pinggul, pinggang, tangan, bahu dan kepala. Saat melakukannya, rasa syukur membuncah dalam dada. Aku melakukannya sungguh-sungguh untuk 'mengumpulkan nyawa'. Bangun pagi sama sekali bukan hal yang menarik bagi pemalas sepertiku, apalagi dulu saat masih hidup sendiri. Sejak menikah, memiliki kewajiban-kewajiban bersama suami dan anak, aku dipaksa untuk rutin bangun pagi. Tapi tetaplah, jika ada pilihan aku akan memilih agak lama bermalas-malasan di kasur sebelum sungguh-sungguh bangun.
Pun Sabtu itu aku bangun dengan 'terpaksa'. Jam 4.30 sudah start berangkat dari rumah menuju Asilo, setengah merem walau tubuh sudah disiram air. Kesanggupan untuk memimpin pemanasan menjadi cara tepat untuk benar-benar bangun. Tak hanya bangun tapi sampai pada kesadaran, sadar bahwa aku, jiwaku, masih diberi rahmat tubuh yang luar biasa. Maka gerakan peregangan sederhana yang kupilih, selain ditujukan bagi para peserta yang ikut, menjadi caraku untuk 'sadar', bergerak dengan sadar, dan membangkitkan sukacita.
Point kedua tentang 'ingat', ini menyangkut kerutinan yang semacam ini yang pernah kulalui. Dalam 4 kali lapah jiarah, aku ikut pada tiga tripnya. Selalu ada saat seperti dejavu, sepertinya ini pernah kulakukan, atau seperti sudah biasa. Ingat pada Sang Pemberi hidup, Sang Pemberi Rahmat, Sang Sumber dan juga Sang Tujuan menjadi bagian yang menguatkan aku. Menjadi selalu ingat ini sangat menarik untuk didalami dalam Lapah Jiarah. Jika saat berdoa, banyak orang memilih tunduk diam, hening, maka Lapah Jiarah ini menjadi pilihan wujud doa juga. Terhubung pada Sang Pencipta lewat doa yang dinamis, lewat gerakan tubuh yang ritmis, sekitar 2 jam melipat jarak sekitar 8 - 9 km. Ini cara yang asyik bagiku untuk 'ingat'.
Semangat menjadi point ketiga yang nyata. Bertemu dengan banyak orang pasti tak bisa dianggap hal yang biasa. Bertemu dengan banyak orang dalam perjalanan yang sama artinya kesempatan untuk memperoleh kekayaan pengalaman lahir maupun batin dalam perbincangan yang akrap. Bibir yang ditarik jadi senyum pun membuahkan sukacita dalam diri.
Tentu saja bukan hanya lewat perjumpaan orang seperjalanan. Selalu ada banyak orang lain yang berpapasan di jalan yang sama. Itu pun kekayaan yang bisa direguk.
Lalu bagaimana kesederhanaan semacam ini bisa dilewatkan? Hmmm... abaikan saja yang rumit-rumit. Pikiran yang sederhana akan membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah. Lapah Ziarah adalah jalan, adalah doa, adalah latihan. Termasuk latihan sampai titik nadir untuk menjadi rendah hati.
.jpeg)


No comments:
Post a Comment