Tuesday, December 20, 2011

End of Year

Menjelang akhir tahun, aku menutup edisi tahun 2011 dengan beberapa ingatan dan kenangan. Tahun 2011 ini menawarkan buanyak hal luar biasa bagiku. Aku akan membawanya pada perjalanan akhir tahunku ini, sembari mempersiapkan tahun 2012 yang akan segera datang. Evaluasi untuk diriku harus lebih kencang kulakukan. Jika mengingat awal tahun 2011 aku punya misi di tahun ini untuk SERIUS, aku harus benar-benar serius melakukan evaluasi akhir tahun ini.
Teman, silakan kirimi aku hasil penilaianmu tentang aku selama perjumpaan tahun 2011 ini. Juga kalau ada usulan, masukan, kritikan, uneg-uneg. Apa saja komentar silakan beri padaku. Itu akan bermanfaat bagiku. Aku menunggunya sebagai bagian dari bumbu yang akan kumasukkan pada racikanku awal tahun nanti. Aku membungkukkan badan padamu dengan ucapan tulus hati : Terimakasih!

Monday, December 19, 2011

Almost

Melayang di antara awan. Kadang tidak jelas, ada di mana berada. Aku menirukan bahasa Albert yang mengatakan,"Aku ingin terbang. Tanpa mengepakkan sayap. Sambil tiduran. Entah di mana, tidak usah dipikir."
Albert, anakku, kau bisa melakukannya? Hingga terwujud mimpimu itu? Ajari ibumu ini. Ibu yang semakin hari tidak semakin peka pada tanda-tanda yang kau suarakan.
Kemarin aku mengatakan padanya.
"Orang hidup itu ada maksudnya. Kalau masih hidup, berarti maksudnya masih ada. Seperti Abah yang masih hidup hingga kini, pasti ada maksud."
"Seperti untuk mengajar ngaji anak-anak. Begitu kan, bu?" Selanya.
"Iya. Untuk mengajar ngaji mereka. Juga untuk mengajar kita. Mengaji itu kan untuk dekat dengan Tuhan. Juga mengajar kita untuk dekat pada Tuhan."
"Hmmm...." Dia diam di sebelahku.
"Ingat siapa itu yang Sun Go Kong, yang tangannya besar, bisa menggapai saja. Kalau mau tinggal dipindah saja orang dari satu tempat ke tempat lain."
"Budharulai."
"Ah, masak? Yang tangannya besar itu. Raja Langit atau Kaisar Langit itu, lo."
"Iya."
"Tuhan hampir seperti itu. Tapi Dia tidak memakai tangan-tangan besar seperti itu, tapi bisa mengunakan Abah atau kita sebagai tanganNya untuk memindahkan apa saja. Untuk maksudNya."
"Ya. Hampir seperti itu. Makanya Abah masih hidup ya."
"Itu juga mengapa kita masih hidup. Tuhan butuh tangan, sesekali kita adalah tanganNya. Bagus kalau kita sering menjadi tanganNya."
Albert diam-diam saja. Sedang aku mengunyah-ngunyah sendiri kata-kata itu. Kata-kata itu untuk aku, bukan untuk dia. Aku belum memahaminya juga.

Monday, December 12, 2011

Favourite Place


Aku punya banyak tempat kesukaan. Jadi sebenarnya menceritakan satu tempat ini juga tidak terlalu istimewa. Tapi, berhubung kemarin sore baru kudatangi, aku ingin menceritakannya. Tempat itu adalah lapangan SPMA. Lapangan ini letaknya di luar atau samping perumahan tempat aku tinggal. Jadi aku harus keluar perumahan untuk menjangkaunya. Biasanya aku datangi bersama anak-anak plus bapaknya. Lapangan cukup luas, dengan dua gawang untuk bermain bola. Di sekelilingnya adalah tanah kosong. Sisi barat ada lahan singkong punya warga. Sisi barat adalah tanah kosong punya SPMA. Sebelah timur adalah gedung punya SPMA yang sekarang menjadi balai latihan milik Propinsi Lampung. Sebelah selatan adalah tanah kosong punya SPMA. Biasanya tiap sore tempat ini dipakai oleh anak-anak, dan remaja untuk beberapa kepentingan. Main bola di lapangan. Latihan motor atau mobil di jalanan sekitarnya. Ini jalan-jalan untuk kepentingan balai latihan. Cukup bagus, halus, aspal. Cukup sepi jadi aman untuk berlatih. Nah, jika ke sini aku selalu sempatin untuk berlari seputar dua putar. Lalu jalan kaki kesana kemari. Atau sekedar kejar-kejaran dengan anak-anak dengan bawa bola.
Satu hal yang cukup asyik namun cuma satu kali kulakukan adalah lempar buah palem. Di sekitar situ tumbuh pohon-pohon palem cukup banyak. Jika sedang berbuah, aduh, warnanya kayaknya segar sekali. Tapi karena tak bisa dimakan, cuma dipandangi. Eh, ternyata ketika buah itu warnanya sudah merah, mereka gampang sekali rontok. Lempar dengan satu buah yang satu jatuh, berhamburanlah buah-buah itu. Asyik banget apalagi buahnya memang sangat banyak. Nuansanya seperti main petasan. Lempar lalu, brukkksss, belasan buah rontok. Begitu lihat bisa seperti itu, semangatlah jiwa anak-anak. Ambil, raup yang banyak, lempar! Sampai gundul semua jatuh yang warna merah. Yang tidak kusadar, ternyata getah buah-buah ini membuat kulitku gatal. Semuanya, di tangan, kaki, leher, kepala, perut, punggung. Aduh. Menyebar ke seluruh tubuh. Ini terasa setelah sekitar 1 jam bermain lempar buah ini. Aku cari kran air, cuci, wouuuwww, malah gatalnya tambah nylekit sakit. Ampun! Setelah itu, tak kusentuh lagi buah ini. Cukup sudah.
Langsung pulang,mandi, gosok dengan minyak tawon, dan bertobat. Moga tidak lupa, karena setiap kali lihat buah palem, selalu ingin meraupnya kembali. Harus menahan diri. Hehehe...

Friday, December 09, 2011

Joseph Adi Wardoyo, SJ


Tanggal 8 Desember 2011, hari Kamis, pukul 17.30, ada bendera kuning tertancap di hatiku. Kabar meninggalnya simbah Adi mengiris hatiku. Kemarin, aku baru saja gegap gempita menceritakan gerakan aktif tanpa kekerasan di Lampung. Itu energi yang aku dapat darimu, Simbah. Masih tidak tetap hatiku, tapi aku terbantu dengan ingatan semangat yang kau tularkan mulai dari 1996 dulu itu. Kau harus pergi, memang harus pergi. Tapi sekaligus berpikir rumit, bagaimana kami? Bisakah kami mengambil energi dari kematianmu? Cukup dewasakah kami menyebarkan nilai aktif tanpa kekerasan padahal hati kami pun masih keras?
Aku masih akan menancapkan bendera kuning ini, dan menyebarkannya di lorong-lorong hatiku. Namun jangan kuatir, Mbah, pasti akan aku cabuti semua jika semua sudah lewat. Doakan dan berkati kami dari surga.

Thursday, December 08, 2011

Conspiracy (9)

 (Kisah sebelumnya)
Aku memandang Heart dan Brain bergantian. Mereka masih bersitegang dengan anggapan bahwa masing-masing paling benar. Aku tidak bisa menentukan mana yang paling benar, karena harusnya keduanya memang benar. Jika salah satu dari mereka aku anggap benar, aku pun tidak bisa menyalahkan yang lain.
"Kalian akan terus bertengkar?"
Aku bertanya lirih.
Jelas suara mereka lebih keras dari suaraku. Tapi mereka kemudian diam. Memandangku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku seperti sedang mengibaskan rasa sakit.
"Aku akan mengerjakan kembali hal ini dengan rapi, Putri. Dengan syarat..."
Brain, yang berani dan kuat mengeluarkan suara.
"Apa?"
"Heart tidak ikut campur. Dia harus diam, tidak nyinyir bersuara maupun tidak bergerak, sedikitpun."
Heart langsung berang dengan mata melotot.
"Kamu! Lihat, Putri! Dengan enak dia bisa mengatakan hal itu seolah aku tidak punya posisi apa-apa di sini. Seolah dia yang paling penting dan bisa mengatasi ini."
"Terserah pada Putri. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan bentuk tak jelas seperti yang dilakukan Heart."
"Kali ini kau meremehkanku? Huh, tidak ingat saat-saat kau sandarkan kepala di dadaku!"
Aku lebih menggelengkan lagi kepalaku. Kupejamkan mata.
"Kalian akan menyiksaku dengan pertengkaran kalian?" *
(Bersambung)

Wednesday, December 07, 2011

Active non Violence

Bagaimana memaknai aktif tanpa kekerasan? Menolak kekerasan, sudah pasti. Tidak sebagai korban, pelaku maupun saksi mata kekerasan. Tapi aktif, tidak pasif. Bagaimana? Aku sudah memulainya sejak tahun 1996, tapi hingga sekarang aku masih sering menjadi pelaku. Menjadi korban. Paling sering menjadi saksi mata kekerasan, yang pasif.
Maafkan aku.

Tuesday, December 06, 2011

Scare

Semalam aku merasakan ketakutan. Tidak banyak hal yang bisa membuatku takut, tapi bisa banyak hal juga membuatku ketakutan.
1. Ketakutan pertama adalah pada kemampuanku mendidik anak-anak. Mungkin bukan takut, tapi kuatir. Tapi dua hal ini menjadi hal yang mirip ketika terjadi. Rupanya memang besar sekali konsekwensi ketika anak-anak sudah hadir dan menjadi tanggung jawab.
2. Ketakutan pada perpisahan. Ini tidak mungkin dihindari untuk banyak situasi, dengan banyak orang, makluk, benda. Membayangkannya saja bisa menurunkan air mata apalagi jika benar-benar terjadi. Aku sudah mengalami banyak perpisahan, tapi tak pernah menjadi biasa karena itu.
3. Ketakutan tidak bisa mengendalikan diri. Aku berusaha keras melakukannya, namun sering sekali kemudian terjadi lepas kendali. Aku takut ini terjadi setiap kali karena aku sudah mengalami akibat dari hal ini, setiap kali. Huh.
4. Ketakutan remeh temeh. Aku hitung-hitung dulu ya.
Aku sering bilang aku takut gelap. Tapi ada saat-saat benar-benar gelap tak ada lampu juga menjadi nyaman.
Aku bilang aku takut ulat. Tapi berapa kali pernah juga aku bisa melewati gerombolan ulat bulu di hutan Semeru, atau tempat lain.
Aku bilang aku takut sendiri. Tapi ternyata, beberapa kali aku memilih sendirian, menyepi. Tidak mendengarkan apa-apa, tidak bersuara apa-apa.
Aku bilang aku takut berada di lalu lintas. Tapi setiap hari aku menyetir Mioku dengan nikmat. Juga membonceng nyaman siapa saja.
Aku bilang aku ketakutan. Tapi mungkin tidak ketakutan.

(Aku ingin mengolah ini. Aku ingin tidak gelisah atau panik. Aku ingin bijaksana pada semua situasi.)

Monday, December 05, 2011

Conspiracy (8)

(Kisah sebelumnya.)
"Jadi, apa yang kalian bisa kerjakan?"
Aku menantang masing-masing dari mereka. Heart gelisah di sudut mataku. Brain mendekat, mencoba memasang tubuhnya dengan angkuh. Dia mendehem sekali sebelum memulai kata-katanya.
"Kami sudah bekerja keras. Sudah beberapa putaran purnama kami mencoba melakukan beberapa strategi untuk menemukan kemauan Putri. Kami melakukannya dengan hati-hati supaya ini terjadi tanpa menyakiti Putri."
Aku menatap wajahnya yang serius.
"Jadi, apa hasil yang kalian dapat?"
Kembali Brain berdehem.
"Kami sudah menemukan titik terang. Bahkan kemudian kami sudah melangkah lebih jauh lagi untuk mendapatkan hasil yang optimal, seperti yang dimaui Putri. Putri tahu kalau kami sangat menyayangi Putri. Tidak ingin Putri terpuruk, celaka, dan mendapatkan malu. Kami tidak ingin Putri runtuh hancur oleh apapun juga."
"Lalu?"
Brain tidak mendehem tapi melirik ke arah Heart. Beberapa detik kemudian dia baru melanjutkan.
"Dia, tidak sabar. Melakukan tindakan gegabah yang merugikan semua. Kami sudah coba mengingatkan dia, tapi..."
"Tidak! Itu tidak betul!"
Heart berdiri dengan marah. Ingin membela diri dengan wajahnya yang merah padam.
"Diam, Heart! Memang kau mengacaukan rencana kita!"
"Tidak! Mereka yang berkianat dan mengacaukan semua, Lady. Mereka tidak mendengarkan kata-katamu, malah memberikan tafsiran sendiri terhadap keinginanmu."
"Kamu! Tidak ada pembicaraan yang pasti. Kita sudah sepakat, tapi kau! Apa yang kau kerjakan?!!"
"Aku hanya ingin menyelamatkan Putri dari pikiran logismu yang bodoh itu!"
"Kamu harus lebih mengendalikan diri, kalau tidak ingin Putri terjerumus dalam gerakmu yang ngawur melankolis itu!"
"Tapi kalian membuat tafsiran yang terlalu jauh dari kemauan Putri!"
"Kita tidak hanya mengikuti kemauan Putri! Heart, kau harus ikut terlibat juga untuk memberi keselamatan pada Putri. Keselamatannya lebih penting!"
Brain membelalak membentak terus bersuara.
Heart dengan wajah tak mau kalah tetap bersuara.

Kepalaku berdenyut-denyut mendengarkan debat kusir antara mereka. *
(Bersambung)

Friday, December 02, 2011

Conspiracy (7)

(Kisah sebelumnya. )
"Jadi, apa mau kalian?"
Hening. Mereka memandangku. Heart beringsut mendekat. Namun, Eyes dengan tamengnya menahannya sehingga jaraknya tidak lebih dekat padaku. Brain salah tingkah dengan wajah kekanakan, yang jarang sekali muncul dalam usia dewasaku ini.
Ketika aku berganti memandang mereka satu-persatu, mereka mengerjap-ngerjap, dalam hening.

Princes of Eyes. Badannya ramping indah. Sesekali dia bisa membulat untuk menggoda, namun seringkali dia adalah yang paling tanggap cepat ketika sesuatu terjadi. Dia mudah tertawa, semudah dia menangis. Dia sangat bebas leluasa bergerak kemanapun yang dia inginkan, terlebih jika melihat sesuatu yang indah, yang bening, yang bercahaya. Kemanapun dia pergi, dia membawa kantong-kantong air mata yang dia taburkan kemanapun dia suka. Maka, dimanapun dia berada, tanah-tanahnya akan basah, subur dan indah. Yang paling menyebalkan jika dia sudah merasa capek, hanya merasa, tidak betulan capek. Dia akan mengunci diri di kamarnya. Sekian lama.

Princes of Noses. Dia ini mudah sekali mengikuti Heart. Dia paling dekat dengan Heart. Dia punya tas paling besar di antara seluruh panglimaku. Dia menyimpan segala kenangan lewat radar yang mampu mencium, apapun yang dikatakan oleh Heart. Walau sesekali dia menolak, tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetap menaati Heart. Bahkan jika dia harus membongkar seluruh penyimpanannya hingga berhamburan. Lalu dengan teliti dia simpan lagi rapi, sehingga saat sesuatu muncul lagi, dia akan berjingkat mengenali. Ini bau yang pernah tercium! Itulah dia. Aku sangat terbantu olehnya, namun juga paling sering repot karenanya.

Princes of Mouths. Aku sering mengabaikan panglimaku yang ini. Maka dia paling sering tidak terkendali dari semuanya. Dia bisa mengeluarkan kata-kata paling manis yang tidak terbayangkan oleh siapa saja. Namun dia juga bisa mengeluarkan suara paling mengerikan yang pernah ada. Dia mengenakan mahkota indah yang ranum, yang cukup aku banggakan. Dan dia mempunyai titik-titik rasa yang sangat sensitif di sekitar mahkotanya itu. Aku lihat akhir-akhir ini dia cukup menahan diri, namun itu tidak bisa dilakukannya kalau dia bertemu hanya berdua dengan orang-orang yang sangat disukainya, atau justru yang sangat tidak disukainya. Yang aku suka, dia mampu menampilkan dirinya sesuai citra yang aku inginkan, maka dialah yang paling sering aku utus untuk pergi mewakili istanaku, kemana saja.

Princes of Ears. Dialah yang paling tenang diantara semua. Agak kasihan, akhir-akhir ini dia tidak terlalu sehat. Mungkin sudah semakin usur, sehingga seringkali dia hanya ingin berbaring saja, tidak melakukan apa-apa. Atau mungkin dia sudah semakin malas, karena yang didengarnya ya seperti itu-itu saja. Namun dia akan bangkit semangat kalau ada suara-suara tembang cinta. Cinta pada siapa saja. Dia akan cepat-cepat merangkul Eyes, dan juga Heart, untuk bersama-sama mendengarkan. Kemudian, ketika lagu itu berlalu, dia kembali tidak peduli, mendengarkan namun tidak mendengarkan.

Princes of Skins. Ini yang paling berbahaya dari semuanya. Pasukannya paling banyak dibanding semua. Bahkan berkali lipat. Tidak banyak gerakan yang dilakukannya, namun sekali dia bergerak, seluruh panglima lain akan terpengaruh olehnya. Kadang-kadang aku takut juga pada matanya yang galak dan keras itu. Apalagi jika dia sudah memekarkan seluruh bulu-bulunya. Aku tidak bisa tidak, mengkerut membayangkannya. Namun aku juga menyukainya, karena dari semuanya, hanya dia yang tahan terhadap luka.

Brain. Ah, Brain. Apa yang bisa kukatakan tentang dia. Dialah tumpuanku selama ini. Badannya yang tegap siap merangkulku, memelukku sehingga merasa tenang. Namun, dia ini juga yang paling berani mengacak-acak naluri maupun nuraniku. Membuatku tidak bisa tidur bermalam-malam. Tapi, untunglah ada dia.

Heart. Ah, Heart. Aku hidup karena ada dia. Maka aku paling sering mengundangnya datang untuk berbincang, sambil makan apapun camilan, dan juga menikmati cangkir-cangkir hangat maupun sejuk. Maka dibandingkan yang lain, tubuhnya paling tambun subur. Aku sering memintanya untuk menjauh, namun aku juga yang paling sering melanggarnya, kembali mengundangnya untuk datang, makan bersama, tidur bersama. *
(Bersambung)

Thursday, December 01, 2011

Conspiracy (6)

(Kisah sebelumnya.)
Istana menjadi dingin, beku dengan perkelahian antara Princes of Heart dengan para panglimaku yang lain. Brain yang aku harap bisa menjadi penengah, kali ini pura-pura sabar, ikut beku. Tidak ada tindakan apapun pada moment seperti ini. Seolah-olah dia membiarkan semua menjadi beku, membiarkan berlalu, berlaku begitu.
Hari ini memanggil mereka semua menghadap, tanpa pasukan. Masing-masing dirinya datang. Sikap kaku resmi menggelanyuti mereka semua. Kelihatan bahwa Heart berusaha menjauh. Matanya tertunduk pada kakinya sendiri, namun lihatlah kekerasan maksudnya. Aku tersenyum melihatnya. Sedikit geli karena kejanggalan posisi tubuhnya. Prince of Eyes, Noses, Mouths, Ears, dan Skins membawa tamengnya masing-masing. Mata mereka galak seolah ingin mengadili My Heart.
Brain mendehem berkali-kali. Aku melihatnya.
"Jadi, bagaimana perkembangannya?"
"Kami belum menemukan tanda-tanda, Putri."
"Tentu saja!"
Aku memberang dengan bentakan. Semua, kecuali Brain berjingkat kaget.
"Karena kalian sibuk dengan perkelahian kalian sendiri. Bahkan kalian bawa-bawa pasukan-pasukan kalian untuk ikut dalam persekongkolan ini!"
"Ampuni kami, Putri."
"Aku tarik mandatku!"
Mereka beringsut mendekatiku dengan sekali jingkatan kaget yang berikutnya.
"Aku yang akan melakukan sendiri pencarian ini. Aku yang akan mencari Dew. Sendiri!"
"Jangan!!!"
Mereka serempak dalam satu kata.
Brain mendekatiku dengan wajah, yang jelas dibuat kelihatan sabar.
"Putri, jangan lakukan itu."
"Kalian! Hanya! Mengawalku!! Aku! Akan mencarinya! Sendiri!"
Aku memberi tekanan pada tiap kataku.
"Jangan!!!"
Kembali mereka serempak menahanku. Kali ini dengan seluruh tubuh mereka, mencekal aku.* (Bersambung)

Wednesday, November 30, 2011

The Snake

Aku adalah ular
dengan kepala seribu
mengatakan ini dan itu
kepada ini dan itu

Bahkan ini dan itu
yang berlawanan
yang berkubu

Aku adalah ular
dengan kepala seribu

Aku

Tuesday, November 29, 2011

Jacket

Aku biasa pakai jaket kemanapun pergi, apalagi kalau bersama Mio-ku. Aku punya beberapa jaket, ehmm, mungkin ada 7 jaket. Mestinya lebih, tapi sebagian sudah tidak muat. (Hehehe...badanku agak melar akhir-akhir ini.) Satu jaket hilang saat aku tinggal di tempat parkir (padahal itu termasuk jaket kesayangan dan jaket termahalku). Sebagian lagi sudah dilempar ke pemilik baru. Jaket menjadi pelindung hangat ketika jalan kemanapun.
Nah, kemarin, aku mengalami sesuatu peristiwa gara-gara jaket. Gara-gara jaket aku menyarangkan dua pukulan ke dua pria. Hehehe...dua pukulan tak sengaja. Ceritanya, usai parkir di depan Kantor Pegadaian Kedaton, aku mengunci gembok roda depan motor, lalu berdiri di depannya. Tangan kananku aku rentangkan spontan untuk melepas jaket.
"Plak!"
"Aduh!"
Wah. Aku langsung menoleh ke belakang. Seorang pria memegang ulu hatinya terkena sabetan tangan kananku.
"Aduh, maaf. Tidak sengaja. Sungguh, maaf."
"Tidak apa-apa." Sambil meringis dia berlalu.
Maka aku jadi hati-hati. Aku melepas jaket tidak lagi merentangkan tangan. Aku tekuk siku.
"Dug!"
"Uff!"
Aaa... Aku toleh ke belakang, seorang pria terbungkuk memegang perutnya. Persis terkena sikutku, agak keras, karena dia berjalan agak cepat.
"Ya, ampun. Maaf!" Spontan aku teriak. Pria yang pertama tertawa ngakak, dan aku salah tingkah habis.
"Aduh, maaf, maaf, maaf..." Sampai aku gak ngerti lagi harus ngomong apa.
Dua pria berseragam sama itu meyakinkan aku bahwa semua okey, dan mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama sembari senyum-senyum nyengir. Mungkin tidak sakit, tapi mereka pasti membicarakan peristiwa itu dan, apa ya yang dikatakan oleh mereka tentang aku? Wah.

Monday, November 28, 2011

Growth in Community

Sabtu - Minggu lalu aku menemani belasan mahasiswa STIE Gentiaras dalam pelatihan dasar jurnalistik. Dari awal aku udah bilang, ini adalah pelatihan. Intinya bukan aku yang bicara tapi mereka yang berlatih menulis. Maka urusannya menulis, menulis, menulis, dan menulis. Tulisan pertama, yeach, amburadul. Tapi aku bilang itu modal awal yang luar biasa. Dalam waktu 10 menit bisa menghasilkan sebuah tulisan. Hebat itu. Lalu tulisan yang kedua, lumayan, bisa dibaca. Tulisan ketiga, cukup okey. Rangkuman kesalahan seperti ejaan, tanda baca, huruf kapital, penulisan singkatan, nama, pemisahan paragraf dll, aku ingatkan lagi-lagi-lagi.
Tulisan terakhir mereka semua adalah sebuah feature tentang apapun, yang harus mereka cari di sekitar kampus. Hasilnya menarik. Ada yang bercerita tentang kehidupan seorang satpam, kostan sebagai rumah kedua, jualan sekitar kampus, dll. Penekananku di bagian akhir adalah bagaimana mereka semua bisa berkembang dalam komunitas yang mereka sudah bentuk itu. Menulis, membagikan tulisan dalam pertemuan periodik untuk saling koreksi dan edit, sebar lewat media yang mereka punya. Wah, itu dapat menjadi ajang luar biasa untuk banyak hal. Secara personal maupun kelompok.

Thursday, November 24, 2011

Lazy Morning

Pagi ini begitu muram, buram. Juga dingin dan malas. Bahkan matahari saja enggan bangun, apalagi aku. Lagu-lagu sendu mengalun di otakku. "Kusanggup walau ku tak mau..." Ritual pagi kulakukan semua, tak ada yang terlewat. Tapi sulit mengembangkan semangat yang penuh. Masak sayur bening bayam (tidak cocok untuk hari yang dingin dan basah, tapi cuma bayam yang tersisa hijau di kulkas), lalu bikin sambel ikan kembung, menggoreng tempe dan tahu. Bernard minta bonus telur dadar untuk sarapan. Okey, semua kulakukan. Tapi, entah, ... rasanya tidak pengin kulakukan.
Saat mulai keluar pagar rumah, dengan Albert di boncengan, dia menyenandungkan lagu yang tak kedengaran syairnya. Aku tahu itu lagunya Sule. Dan biasana jika Albert yang nyanyi seperti itu pasti tangan dan badannya goyang ngikuti gerakan Sule juga. Tapi karena di motor, entah dia goyangin apa. Lalu tiba-tiba dia nyeletuk :
"Wow! Ww..wow..."
"Apa, Bert? Dingin?"
"Aku lagi membayangkan sesuatu yang enak, bu!"
Astaga! Dia ini kadang-kadang memang persis ibunya, kalau lagi lebay, ya minta ampun, lebay semuanya. Dan khayalannya, lebay juga. Jadi aku pengin mendengarkan juga.
"Ya?"
"Pagi kayak gini enaknya tiduran di dalam tenda, di halaman atau di mana gitu. Sambil makan apa gitu...enaknya."
Aaaa, aku setuju, Albert. Andai dia tidak harus ke sekolah dan aku harus ke kantor, pasti kami pergi ke tempat seperti itu...wow.

Wednesday, November 23, 2011

Dangerously Way


Ternyata lalulintas di Indonesia memang sangat mengerikan. Kesadaran-kesadaran memunculkan kenyataan ini. Awalnya aku tidak terlalu serius memikirkannya. Ya, ada kecelakaan ini. Kecelakaan itu. Satu meninggal, beberapa meninggal. Semua luka, parah dan ringan. Ada angka-angka. Juga aku masih belum serius memikirkan walau sering merasa marah dan sedih ketika di jalanan. Tidak serius juga ketika Nadet bilang gak berani naik motor lagi ketika pulang di Indonesia. Sekali-sekalinya naik motor malah membuahkan luka di kakinya. Belum serius juga ketika aku nyungsep bareng Bernard dengan luka panjang di kaki kiri dan tangan kiriku sampai berjalan terpincang-pincang. Masih biasa juga ketika Bang Tigor bicara tentang lalulintas Jakarta. Namun tiga hari terakhir ini aku memikirkan serius hal ini dan memutuskan dengan segala pertimbangan bahwa jalanan/lalulintas di Indonesia adalah cara yang membahayakan bagi semua makluk yang ada di jalur-jalurnya untuk melakukan perjalanan.
Tidak banyak lagi yang ingat apa makna rambu-rambu lalu lintas, bahkan yang paling sederhana seperti lampu merah, kuning, hijau. Apalagi rambu-rambu lain seperti S dicoret, tanda panah dicoret, dll.
Tidak banyak yang tahu cara berkendara yang benar seperti kapan mestinya mengerem, kapan gas, kapan lampu dinyalakan, lampu tanda belok dinyalakan dan sebagainya. Apalagi soal knalpot, asap, suara, warna lampu dll.
Tidak banyak yang ingat bahwa nyawa hanya satu, sehingga berani mati (konyol) menerjang jalan, belok semaunya, merokok sambil menyetir, kirim/buka sms dan teleponan sambil nyetir. Ampun.
Tidak banyak yang tahu bahwa ada fasilitas yang sudah tersedia untuk kenyamanan seperti trotoar untuk pejalan kaki, jembatan penyeberang untuk menyeberang jalan, dll.
Tidak banyak yang santun tahu bahwa jalan bukan hanya punyanya sendiri. Tapi ada pejalan kaki, pengendara sepeda ontel, becak, gerobak, ambulance, dll.
Parahnya, bahkan kebanyakan polisi lalulintas pun tidak merasa punya tanggungjawab untuk mengingatkan pelanggaran-pelanggaran seperti itu karena mereka pun melakukan. Para pemakai seragam lain juga sama saja, kebanyakan tidak mengerti point-point di atas. Malah seringkali itu ditambah dengan hal-hal menjijikkan lain seperti menganggap jalanan sebagai tempat sampah sehingga tisu, plastik, kertas bisa diterbangkan saja di situ. Atau meludah sambil mengendara. Atau...lain-lain. Coba saja lihat di jalan-jalan kota dan pinggiran kota di seluruh Indonesia! Lihatlah juga caramu sendiri berkendara.

Tuesday, November 22, 2011

Look the soccer!

Di menit ke 5, Indonesia menyarangkan satu gol manis lewat Gunawan. Usai itu Lampung hujan, dan aku yang sudah merasa menang, tidur bergelung dengan dengan Bernard. Lebih sejam kemudian, aku terbangun. Masih hujan, dan kehebohan terjadi antara Indonesia dan Malaysia dengan adu pinalti. Wah, pasti kalah nih! Aku membatin begitu walau skor masih sama 3 - 3. Melihat tendangan terakhir yang tidak masuk, wah, Malaysia sudah menang 3,5 tuh. Dan melihat power yang dimiliki si kapten, tamat sudah harapan untuk periode ini mendapatkan emas dari sepak bola.
Lihat itu. Indonesia punya potensi yang besar, lebih dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Namun bukan hanya soal potensi maka kemenangan bisa diraih. Ada hal-hal lain yang harus digali :
1. Harga diri, kepercayaan diri (tidak sekedar narsis, naif, tidak tahu malu, PD walau berbuat salah)
2. Manajemen kepemimpinan (tidak sekedar ada presiden, protokoler, plus kepentingan mempertahankan citra) Berbagi peran, bukan hanya rebutan lahan.
3. Perhatian yang lebih pada kelompok paling ujung, paling bawah, paling tidak punya kekuatan.

Jadi, lihat bagaimana pertama Tim U-23 telah unggul karena memang potensi yang luar biasa di dalamnya. Salut, juga untuk Pak Rahmad! Tim yang asyik. Walau 3 - 4, tidak mendapat medali, aku menganggap tim ini sudah menang. Coba bisa dilihat juga oleh tim-tim penting lain yang ada di Indonesia. Tidak takut jatuh untuk meraih bola, biarpun pasti sakit, belepotan lumpur, benturan keras! Sportif! Luar biasa.

Monday, November 21, 2011

The Woman in the Sand

Kantorku sedang beku di suatu siang.

Seorang perempuan datang
dengan senyum mengembang

berlawanan dengan matanya yang sembab
kebanyakan minum? menangis?

jelas ada duka
jelas kesakitan
di dalam tubuhnya

aku hanya menatapnya
mencoba menangkap cerita
yang meluncur dari hatinya

"Kemarin tes darah di kantor
aku pasti diPHK,
karena darahku
sudah tercemar HIV.
Pacarku, dulu
kurang ajar menularkan padaku.
Bagaimana aku sekarang?"

Mulutnya terkunci dalam senyum mengembang
namun hati dan tubuhnya remuk dalam sakit.

Aku tidak bisa bersuara untuknya.
Seorang laki-laki sahabatnya
aku desak.
"Temani dia, dengarkan dia, dengan baik."

Anggukan kepalanya melegakanku,
tanpa melepaskan tanggungjawabku,
karena sudah tahu kisah yang menimpa,
perempuan muda itu.

Bantulah aku menjadi lebih lega lagi.
Teman-teman, please, tunjukkan ruang yang nyaman,
yang bisa kutawarkan pada perempuan muda itu.

Wednesday, November 16, 2011

What's next?

Setiap bulan, aku mengalami siklus ini. Siklus bulanan, katakanlah begitu. Atau tepatnya salah satu siklus bulanan, karena aku rupanya punya siklus-siklus lain yang terus berputar. Siklus yang ini aku dapatkan sejak 2005, sudah cukup matang untuk dinikmati hingga kini. Di salah satu fasenya, ada rasa lega luar biasa kalau mampu kulewati.
Hehehe, gak jelas ya? Begini, ini tentang pekerjaanku di majalah. Sebagai pemimpin redaksi (yang sekaligus kuli angkut, pencari data, penulis, editor, distributor, manajer dsb) aku harus melakukan editing semua naskah sebelum masuk ke bagian lay out. Pada tanggal 15 tiap bulannya, pekerjaannya ini harus kelar. Harus! Walau hujan badai atau apapun yang terjadi, harus selesai! Kadang, saat garis mati (deadline) ini muncul, naskah pun belum terkumpul. Aku harus bekerja sangat-sangat-sangat keras untuk mewujudkan minimal 25 naskah panjang pendek menjadi tulisan siap saji, siap ditata jadi majalah. Dan ini terjadi tiap bulan.
Fase lega itu adalah hari dinama semua naskah itu sudah selesai edit, selesai susun, selesai rapi, dalam folder, plus foto-foto yang menyertai. Kelegaan yang tak terbayangkan oleh orang yang di luar pekerjaan ini. Seperti apa ya rasanya? Dulu aku pernah mengandaikannya seperti selesainya satu bundel benang kusut yang dirapikan. Sulit dikatakan dengan kalimat. Nanti aku cari padanan lain deh.
Tapi ya itu tadi, karena ini adalah siklus, maka fase berikutnya sudah menunggu. Saat lega ini hanya berlangsung beberapa menit, paling lama beberapa jam. Kalau pun dipaksakan tidak akan lebih dari berhari-hari.

Tuesday, November 15, 2011

Free for Hugs

Seseorang yang membaca postingku yang terakhir bertanya :
"Mbak, sampeyan sungguh bisa menawarkan pelukan kepada semua orang?"
"Apa maksudnya?"
"Tuh, di kiriman itu, dikatakan ingin menawarkan pelukan."
"O. Bisa. Kenapa? Bukan hanya menawarkan, tapi sungguh-sungguh memeluk."
"Ah, yang benar? Kalau orang itu tidak dikenal juga mau?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Tidak pas."
"Tidak pas dengan apa, siapa?"
"Entahlah."
Aku kira dia ini memang mau memprotes. Tapi aku tidak mempunyai masalah apa-apa tentang hal ini. Pelukanku gratis untuk siapa saja.

Saturday, November 12, 2011

Mama...

Tadi pagi, baru saja, dalam perjalanan dari sekolah Albert ke kantor, aku jalan pelan santai dengan Mio-ku, setengah melamun. Tak sadar aku mengikuti bebek biru yang berjalan pelan hanya beberapa centi di depanku. Isengku yang kambuh membuatku hanya mengikuti saja, dia ini belok kemana kuikuti. Aku kaget ketika lewat kaca spion motor itu, wajah yang luar biasa sedih tergambar. Apa yang dia alami? Sejurus kemudian wajah itu memerah, menahan sesuatu yang kemudian keluar dengan derai air matanya. Aduh, menangis sambil naik motor. Semakin pelan jalannya, aku masih mengikuti. Jelas kelihatan guncangan badannya bukan karena motor tapi karena tangisan. Bibirnya membuka menutup dengan satu kata yang aku yakini diucapkan oleh perempuan itu.
"Mamaa..."
Usapan tangan kirinya menutup sekilas. Tapi kemudian satu kata itu terulang-ulang diungkap oleh bibirnya dalam isak yang ritmis, khas orang yang menangis.
"Mama, mama, mama..."
Aku tidak berani menyetopnya, untuk menanyakan apa yang terjadi atau apakah bisa menawarkan sebuah pelukan. Atau sekedar mengingatkan bahaya menangis sambil berkendara.
Beberapa pikiran terlintas, mungkin ibunya sedang sakit, atau baru saja meninggal, atau dia diusir oleh ibunya karena suatu hal, atau, ...apa ya?