Wednesday, March 05, 2014

Buletin Insan, Maret 2014, KSP Kopdit Mekar Sai



Gerakan Buruh Mandiri dan Tak Terbeli
Ch. Dwi Yuli Nugrahani*

 Perjuangan buruh terus bergerak dinamis sejak muncul kesadaran akan kekuatan massal yang dimilikinya. Salah satu tanda yang dapat dilihat oleh masyarakat luas adalah aksi-aksi setiap 1 Mei (hari Buruh Internasional). Satu dekade terakhir ini gaungnya berkisar pada tuntutan penghapusan sistem kerja outsourcing dan buruh kontrak. Point ini merupakan bagian dari tuntutan akan adanya regulasi yang berpihak pada mereka.
Bukan hanya pada 1 Mei, aksi-aksi terus digodok oleh serikat buruh/pekerja sesuai dengan situasi dan kondisi tempat mereka bekerja. Gerakan ini masih akan terus berkembang karena secara umum bisa dikatakan bahwa buruh Indonesia masih jauh dari hidup layak yang dapat menunjukkan martabat hidup sebagai manusia.
Contoh kecil dapat dilihat dari sekelompok buruh yang bekerja di salah satu perusahaan di Lampung. Mereka digaji Rp. 637.000,- tiap bulan. Gaji pokok ini ditambah dengan tunjangan kehadiran, makan dan transportasi hingga mencapai Rp. 1 juta rupiah. Dengan tanggungan seorang istri dan seorang anak, penghasilan ini jauh dari mencukupi. Masih ditambah lagi, ketika pekerja ini adalah pekerja outsourcing, sewaktu-waktu bisa dipecat jika perusahaan outsourcingnya tidak lagi membutuhkannya. Sampai dia mendapat pekerjaan lagi, bagaimana dia hidup jika mendapat gaji seperti itu, tanpa pesangon dan boro-boro punya tabungan?.

Akrobat Para Buruh
Mulai tahun 2014, upah minimum propinsi (UMP) Lampung adalah Rp 1.399.037,- (Ditetapkan pada Sabtu 7/12/2013). Angka ini diberlakukan untuk pekerja lajang pada tahun pertama bekerja. Dibandingkan dengan tahun-tahun lalu yang UMP selalu di bawah angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL), tahun ini angka itu setara KHL yang sudah didapatkan Dewan Pengupahan Propinsi dari hasil survey.
Angka KHL menjadi acuan bagi kelayakan hidup pekerja. Di dalamnya ada komponen-komponen kebutuhan hidup sehari-hari yang kemudian nilainya diambil dari survey pasar untuk waktu tertentu. Komponen dari KHL merujuk pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Komponen Dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.
Salah satu komponen KHL yang tidak memungkinkan buruh/pekerja bertahan kalau tidak lagi mendapatkan gaji bulanannya adalah komponen tabungan. Disebutkan bahwa komponen tabungan adalah 2 % dari seluruh total kebutuhan yang sudah didapat dari hasil survey, mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal, transportasi, dan sebagainya. Dengan angka KHL seperti itu, maka tabungan yang bisa disisihkan oleh para buruh tidak akan melebihi angka Rp. 30.000,- tiap bulan (dengan melihat angka KHL yang sudah ditetapkan). Dengan tidak adanya komponen social cost (biaya-biaya untuk kebutuhan hidup sosial seperti kondangan, melayat, mengunjungi orang sakit dan sebagainya), angka 30 ribu rupiah itu tak mungkin disisihkan karena sudah terpakai untuk biaya sosial.
Maka, yang muncul dan biasa terjadi pada buruh atau keluarga buruh adalah akrobat hutang. Gali lubang, tutup lubang. Kalau ini yang terjadi, keluarga itu tidak akan bisa tahan lebih lama dalam keluarga sejahtera seperti yang diharapkan. Maka, kalau pada akhirnya juga tidak memunculkan para penggerak buruh militan yang bisa berjuang pada ranah lebih tinggi lain misalnya soal kebijakan yang tidak adil, politik dan sebagainya, hal ini bisa dimaklumi karena para buruh masih berkutat pada urusan perut. Atau, kalaupun muncul, mereka masih rentan dimainkan oleh pihak lain, bahkan bisa dibeli oleh kepentingan politik tertentu.

Pemberdayaan Keluarga Buruh
Mau tak mau mereka, para buruh dan keluarganya terkenai dampak yang secara langsung dirasakan saat masalah-masalah perburuhan terjadi. Misalnya karena kebijakan upah murah, perselisihan hubungan kerja, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya. Para buruh dan keluarga banyak yang tidak siap menghadapi masalah-masalah itu sehingga kehidupan mereka dalam keluarga menjadi timpang. Ada yang tertimbun hutang, keputusasaan, bahkan perceraian.
Buruh dan keluarganya masih belum aman dalam pengelolaan finansial/ekonominya. Selain itu mereka juga minim pengetahuan, keahlian dan jaringan. Aktifitas perburuhan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka seringkali berakibat yang sebaliknya pada keluarga masing-masing. Jangankan mendapat dukungan keluarga (istri, suami atau anak), bahkan keluarga bisa jadi menjadi teror bagi aktifis perjuangan buruh karena tidak hasil yang langsung bisa dirasakan oleh keluarga.
Kondisi idealnya, keluarga harusnya memberikan dukungan dan penguatan pada pasangannya yang menjadi aktifis buruh. Mereka juga harus dibantu untuk menemukan kondisi yang aman secara ekonomi dalam keluarga. Tidak hanya mengandalkan upah yang masih sangat tergantung pada kebijakan perusahaan dan pemerintah tapi juga mulai memikirkan alternatif penghasilan lain melalui sumber lain.

Katalisator bagi Gerakan Buruh yang Mandiri
Pelatihan kewirausahaan bagi para pekerja menjadi salah satu alternatif yang bisa mendorong para buruh/pekerja dan keluarganya mempunyai pilihan lain. Mereka akan mempunyai wawasan tentang dunia lain di luar tempat kerjanya selama ini, dan potensi itu bisa digali kembangkan untuk kepentingan finansial mereka.
Anggapan awal bahwa gerakan buruh itu semata ketika vokal dalam aksi di jalan, harus ditambah dengan melihat dalam konteks yang lebih kecil dan konkret, yaitu tentang jaring pengaman ekonomi untuk keluarga masing-masing. Penguatan ekonomi keluarga harus mulai dipikirkan sebagai pendorong bagi gerakan buruh atau perjuangan buruh. Dan ini sangat mungkin untuk dilakukan. Usaha ekonomi mandiri bisa dimulai dari hal yang kecil, tidak harus menunggu modal yang besar.
Dari pengalaman mengadakan pelatihan semacam ini para penggiat serikat buruh dalam lingkaran jaringan yang dimiliki oleh Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL) di wilayah Lampung, Palembang, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah (Wisma Albertus, 1- 3 Nopember 23 menunjukkan hal itu. Dampak yang tak terduga kelihatan dari peserta yang antusias membuat proyeksi usaha, dan langsung menerapkannya untuk diri sendiri, keluarga atau kelompoknya dan juga kesepakatan untuk bertemu lagi untuk mengevaluasinya. Dalam perbincangan selanjutnya dapat dilihat bahwa pelatihan menjadi inspirasi bagi kemajuan ekonomi keluarga mereka.
Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah solidaritas dalam gerakan buruh. Untuk point ini diperlukan kesadaran untuk tetap hidup dalam komunitas. Jika ini berjalan, kekuatiran atau kecenderungan bahwa seorang yang mulai mapan ekonominya lupa pada perjuangan, tidak perlu terjadi. Dalam pelatihan seperti disebut di atas, salah satu cara untuk terus membangun solidaritas adalah melalui credit union atau koperasi dengan konsep yang benar dalam prinsip dari, oleh dan untuk.

Pendidikan, Swadaya, Solidaritas
Untuk bagian penutup tulisan ini, penulis ingin mengambil saripati dari bahan yang pernah dipaparkan oleh FX. Siman, Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Caraka Propinsi Lampung dalam sebuah pelatihan. Ada tiga hal yang bisa mendorong masyarakat, dalam hal ini masyarakat pekerja/buruh, untuk sampai pada kesejahteraan yang hakiki.
Pertama adalah pendidikan. Pendidikan ini penting karena bisa secara bertahap bisa mengubah pola pikir baik bagi penggerak maupun yang digerakkan. Misalnya pendidikan tentang membangun usaha bersama dalam bidang keuangan dengan sistem menabung sesuai kemampuan. Secara bersama baik penggerak maupun yang digerakkan gotong royong membangun permodalan. Pendidikan akan membangun manusia untuk membuka jendela pikiran, melihat bahwa masih banyak hal yang bisa diperbuat di luar hal-hal rutin yang biasa dikerjakan.
Kedua adalah swadaya. Setiap orang bahkan yang kecil dan dianggap tidak mampu pun bisa berswadaya atau mandiri. Hal ini sangat bisa terwujud, tetapi harus dilakukan bersama-sama. Pendapatan sekecil apapun harus diusahakan untuk tidak dihabiskan dalam keadaan apapun. Harus ada yang ditabung.
Ketiga adalah solidaritas. Kesetiakawanan atau solidaritas harus terbangun untuk mendapatkan komunitas gerakan yang kuat. Saling menjaga kepercayaan menjadi salah satu bagian yang tidak bisa ditinggalkan dalam hal ini. Untuk komunitas buruh/pekerja, hal ini sangat krusial dilakukan sebagai proses dalam penyatuan seluruh kekuatan untuk perubahan seperti yang dicita-citakan. Dengan demikian, slogan yang biasa diserukan oleh para buruh bukanlah slogan belaka. Buruh bersatu tak bisa dikalahkan!

*(Penulis adalah Dewan Penasehat Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL) dan koordinator Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang)

Saturday, March 01, 2014

Arranged Marriage

Judul : Arranged Marriage (Perjodohan)
Penulis : Chitra Banerjee Divakaruni
Penerjemah ke Bahasa Indonesia : Gita Yuliani
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Isi : 376 hlm; 20 cm
ISBN : 978-602-03-0135-8

Ini buku ketiga dari Chitra Banerjee Divakaruni yang aku baca. Yang pertama kumpulan cerpen "The Unknown Errors of Our Lives", lalu novel "Queen of Dreams" dan yang ketiga ini kumpulan cerpen "Arranged Marriage".

Aku jatuh hati pada Divakaruni. Karena, pertama, tulisannya selalu (so far) menyangkut kaitan kehidupan modern (Amerika) dan tradisional (India). Kehidupan yang sederhana menjadi rumit, dan yang rumit bisa menjadi begitu sederhana dalam tarik menarik India - Amerika ini. Hal ini juga muncul dalam 12 kumpulan cerpen Arranged Married ini. Semuanya memakai setting India - Amerika, migrasi orang-orang India ke Amerika yang kemudian bergulat dalam dua dunia, modern dan tradisional yang sama-sama kuat.

Kedua, Divakaruni menulisnya dengan cara yang sangat biasa namun menjadi penuh gaya. Lihat saja satu paragraf dalam cerpen Kata Cinta. "Ibumu bercerita tentang bagaimana radang sendi Bibi Arati tidak sembuh meskipun dia sudah memakai tapal kunyit. Tahun ini hawa dingin sekali di Calcuta, bunga-bunga shiuli semuanya mati. Kau mendengarkan, berpegang pada bunyi o yang bulat, bunyi e yang panjang dan cair, bunyi s yang menyapu wajahmu selembut ciuman malam. Ibumu sedang mencoba mengatur pernikahan untuk sepupu Leela yang akan lulus universitas tahun depan, ingat? Dia rindu padamu. ... Suaranya kecil dan jauh, seperti kaleng karena penuh berisik statis. ... Kau ingin bercerita padanya, tetapi jantungmu berlarian dalam dadamu seperti burung yang terjaring, dan kata-kata yang sudah kaulatih demikian lama, lenyap sudah."

Keren. Itu satu kata yang bisa mewakili buku kumpulan cerpen ini. Kau membayangkan paragraf tadi ingin bercerita apa? Dalam cerita Kata Cinta, tokoh 'kamu' dipaksa untuk mewakili satu generasi India yang tinggal di Amerika, menjalin cinta dengan seorang pria Amerika, Richard. Kamu dan Richard tinggal bersama, dan kemudian diketahui ibunya lewat telepon tak disangka di pagi hari karena pria itu yang mengangkat telepon. Ibu menolak anak perempuan yang tidak punya moral India. Lalu pergulatan 'kamu' pun menukik, naik, turun, hingga di bagian akhir Divakaruni menggantungnya di dua paragraf terakhir. Kalimat terakhir cerpen ini adalah : "Cinta itu seperti hujan, dan ketika kau mengangkat wajahmu kepadanya, seperti hujan dia mencuci hal-hal tidak penting, membuatmu kosong, bersih, siap untuk memulai."

Sederhana. Itu kalimat kedua yang aku suka untuk menilai cerita-cerita fiksi Divakaruni. Dan karena kesederhanaannya itu, dia bisa memunculkan banyak detail yang mendorong setiap pembaca untuk lebih paham tentang tradisi, budaya orang-orang India, khususnya orang-orang India yang sudah bermigrasi ke jaman modern. Dan penulis perempuan ini sangat paham pergulatan para tokoh utamanya, yang memang hampir semuanya adalah perempuan.

Tuesday, February 25, 2014

Pemilihan Gubernur Lampung

Rapat pleno undian nomor urut pasangan calon (24/2) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung menetapkan nomor urut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung.

1. Berlian Tihang-Mukhlis Basri


2. Ridho Ficardo-Bakhtiar


3. Herman HN-Zainuddin Hasan


4. Alzier Dianis Tabrani-Lukman Hakim.


Masa kampanye dari tanggal 16 Maret sampai 6 April 2014 sedang pelaksanaan pemilihan bersamaan dengan pemilihan legislatif 9 April 2014.

Terus mana yang bisa dipiliha? Hmmm... nanti dulu.  

(Foto dari berbagai sumber di jaringan internet)

Monday, February 24, 2014

Udara

Udara menumpang angin
sibuk mengikuti arah
padahal dia hanyalah
hampa
dan dingin.

Friday, February 21, 2014

Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional, tepat pada hari ini, 21 Pebruari. Peringatan ini sudah ditetapkan oleh Unesco sejak 17 Nopember 1999, tapi siapa yang tahu? Peringatan ini tidak begitu familier padahal tujuannya adalah untuk menghormati keragaman bahasa yang ada di dunia, dan sekaligus keprihatinan akan musnahnya banyak bahasa di dunia karena tidak lagi digunakan.

Lihat saja di Indonesia, ada berapa bahasa yang ada pada ratusan suku yang ada? Tak terhitung. Di Jawa saja, pulau asalku ada banyak bahasa yang digunakan mulai dari Osing di Banyuwangi ujung Timur hingga Betawi juga Sunda di bagian Barat. Di Lampung tempatku tinggal sekarang juga punya bahasa suku yang baru kukenali beberapa katanya saja.

Bahasa Indonesia baik sebagai pemersatu, tapi bahasa-bahasa asli, bahasa ibu, akan mati jika tak digunakan. Mengingatnya di hari ini membuatku ingin memakai bahasa yang dulu pertama kali dikenalkan padaku. Minimal sedikit di sini ya :

GURIT PANGELING

"Ora ono lakon dadi kongkon
yen bisa, kowe sing kudu rumongso
mlakuo, terus mlaku, aku
ora mung neng mburimu, nanging aku
ugo ing iringanmu, nggondeli lengenmu.
Sepisan-pisan aku bakal mlayu,
ora pengin ninggalake kowe
nanging aku pengin methik kembang kanthil
kae, neng ngarep kae
kanggo wewangen, ugo pangeling,
yen mlako bareng kowe
bakal dadi wektu kang langgeng
mung iso dililing, ugo dideleng,
nganggo dekik esem kang marem."

Pahoman, 21 Pebruari 2014
(Dino kanggo Boso Ibu Sadonya)

Thursday, February 20, 2014

Hariri, oh, Hariri.

Coba buka Youtube sekarang. Wajah Hariri muncul di antara gambar-gambar yang ada. Karena aku pelanggan Youtube dan aku tidak suka cara Hariri bertindak plus caranya membenar-benarkan tindakannya, ini sungguh bikin eneg. (Silakan buka sendiri di Youtube tentang hal ini, pasti ketemu.)
Mataku tidak buta, juga mata siapapun yang melihatnya, entah yang dipasang di Youtube itu hanya seiris atau sekilas, semua orang bisa menilai bagaimana Hariri memandang manusia lain. Dia tidak menghormati martabat manusia bahkan martabatnya sendiri. Jika dia tidak menghargai martabat manusia, how dia bilang dia menghormati Penciptanya? Omong kosong.
Lalu ada pembenaran-pembenaran. Ah, otak itu bisa punya teori apapun. Alasan-alasan bisa diciptakan. Bahkan ekspresi muka bisa dipahat kerut-kerutnya. Tapi perasaan dan nurani setiap orang yang melihat wajah dan tindakan seseorang tidak mungkin bohong. Apakah Hariri patut menjadi panutan? Jika dia tak patut dicontoh, apakah omongannya sungguhan? Bisakah dia dipercaya? Tidak.
Baik kalau Hariri diam saja dulu untuk beberapa saat, belajar lagi menjadi manusia sejati yang semata ciptaan supaya dia bisa menghormati ciptaan yang lain dan kemudian menghormati Sang Pencipta.
(Hmmm... hal yang sama kulakukan untuk diriku sendiri. Ini nasehat untukku sendiri juga.)

Wednesday, February 19, 2014

Gurindam Duabelas dari Raja Ali Haji

Foto diambil dari Wikipedia.
Ini gurindam pasal ke dua belas :

Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Raja Ali Haji, pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat. (1847)

Saturday, February 15, 2014

SAATNYA PULANG

Tahun belum berganti sejak terakhir aku memegang wajahmu. Kini rambutmu meriap hingga lekuk kuping, membisikkan rajangan batu-batu serpih. Air matamu berubah menjadi debu.

"Aku ini si pengikut takdir. Kutumpangkan suaraku pada angin. Dan kau, Barat, padamulah aku hendak mendarat."

Aku tidak kuatir murka dan duka tertenun di gaunku. Lenganmu sudah meraih jauh sebelum bibir berpekik. Kini menari saja, ayo menari. Di atas kanopi mangga dan kepala kedasih engkau putih begitu cantik.

"Mestinya kau berkemas. Pesanku sudah diseret para kelinci dan burung elang hingga ke teras rumahmu. Kau tak harus menanti."

Tapi aku bukan kekasih yang meletakkan tangan di atas cemas. Aku menunggu tekuk kakimu, dan kini, menari saja, ayo menari. Bulan yang tersembur dari laharmu, akan menghias jari manisku.

Pada suatu nanti
edelweis-edelweis akan mekar hingga di telapak kaki.

(Catatan untuk Kelud, Malam Jumat Wage, 13 Pebruari 23.00)

Thursday, February 13, 2014

Kejadian Tidak Menyenangkan di Toilet XXI TIM

Aku tak pernah membayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi di sebuah toilet bioskop, yang rapi wangi bersih di XXI Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini. Huft.

Persisnya, usai berburu buku di toko buku pojok gedung di kompleks TIM beberapa hari lalu, aku tak sabar ingin menuntaskan kebutuhan biologis, kebelet pipis. Karena tempat terdekat toilet bioskop dan kutahu itu tempat yang bersih aku jalan cepat setengah lari ke situ. Tak berpikir untuk memilih toilet yang mana, pokoke yang terbuka dan aku menuntaskan hasrat hingga tuntas tas tas.

Tak disangka, pas mau keluar, handle pintu kuputar, dan macet. Pintu tak bisa dibuka! Aku mencoba memutar kembali, mendorong, menggedor, pintu tak beringsut. Huft, mesti teriak. Dan aku mesti berteriak beberapa kali, bermenit-menit hingga ada orang yang mendengar. Waktu aku masuk memang suasana lengang karena bukan jam pergantian jadwal pemutaran film. Tapi aku tahu para petugas kebersihan sedang ada di bagian luar sedang ngobrol ketika aku masuk.

Setelah cukup berkeringat baru ada suara.

"Kenapa, bu?"

"Aku tidak bisa membuka pintu."

Suara perempuan di luar meminta aku sabar, dia akan mengambil kunci. Ya, ya, aku tak ada pilihan lain selain sabar. Dia datang mencoba membuka pintu. Namun hanya handle pintu yang bergerak, sedang slot pintu tetap tertutup. Petugas itu memanggil teman-temannya, mencoba membuka, namun tak bisa. Lalu mereka memanggil beberapa orang lain lagi, sembari meminta aku untuk sabar. Ya, ya, aku tak ada pilihan lain selain sabar dan berkeringat.

Alhasil, setelah waktu berlalu, seseorang mencongkel slot pintu dengan obeng, dan pintu terbuka. Huft. Begitu aku keluar, pintu tertutup dan terkunci lagi, tak bisa dibuka walau dengan kunci. Kesimpulannya, pintu itu memang rusak.

Huft. (Untuk kesekian kalinya, huft.) Aku mengabaikan pintu itu, mengabaikan para petugas itu, yang penting aku sudah di luar, bernafas panjang, mencuci muka, dan keluar. Astaga, aku tak pernah menyangka bahwa suatu waktu aku mengalami hal seperti ini di TIM.

Tuesday, February 11, 2014

Tunisia

Tunisia bukan perjumpaan
dia penari debu di antara angin,
di bawah matahari, melipat air-air
menggembung di punuk onta sahara.

Di duri kaktus yang keras menjaga diri
kau tumbuhkan bulu mata sebagai pucuk palem
atau pagar ladang sorghum, tempat ciuman pasir
hangat terpanggang di tiap jemarinya.

Sudahkah kau temui pemiliknya?
Tunisia hanyalah wajah di ventilasi bioskop tua
mengerling mengajakmu melewati petang
semata jelujur selendang imajinasi.

Nanti, kau sadar ketika waktu lenyap
tersandera rumah batu tanpa lampu
dan kau tak akan pernah menemukan tanda
kecuali keriput pipi perempuan tua.

(After film screening "Living Desert", at Tunisian Cultural Days at TIM, today)

Solitary

Kalau kau sempat, berjalanlah di lorong itu
temui dia sebagai waktu terlipat
dengan sudut lancip yang terpotong.

Berharaplah dia tersenyum,
walau terkulum kikir
tanpa dekik mengikut.

Dia akan memberi tanda
andai kabut-kabut sudah siap
dan sihir angin ke arah tepat.

Keberuntungan akan menyertaimu
karena pelaminan menunggumu
ditemani selaksa pengantin sunyi.

Saturday, February 08, 2014

Pantun Nasehat dan Pantun Jenaka

Aku sedang buru-buru akan keluar rumah kemarin malam ketika Bernard menahanku dengan bukunya.
"Bu, bantu sebentar. Aku ada PR yang bagiannya ibu."
Hmmm, tentu. Jadi aku duduk di sebelahnya. "PR apa?"
"Bahasa Indonesia. Membuat pantun."
Hmmm, aku tak ada ide. "Adik pakai saja pantunnya Sule."
"Nggak bisa. Ini pantun nasehat."
Aku melirik jam. "Ambil kertas dan pena. Cepat adik. Nih, ibu ada ide."
Dia menarik kertas di bawah keypad komputer, mencari-cari pena di dalam tasnya, dan memandangku.

Bunga melati bunga mawar
tumbuh dua batang di halaman
teman mari kita belajar
sungguh berguna di masa depan

"Ah. Sip, ibu. Sekarang pantun kedua, pantun jenaka."
"Hah? Memang PRnya membuat berapa pantun?"
"Dua itu saja. Habis itu ibu boleh pergi, lainnya aku kerjakan sendiri."
Dia menciumku lalu duduk lagi. Memandangku dan menunggu. Yach, kalau sudah kena cium tentu saja aku akan menyerah. Tapi pantun jenaka? Bagaimana buatnya?
"Pokoknya pantun yang bisa membuat orang hahaha hihihi, ibu. Bikin orang tertawa." Bernard menjelaskan.
Hmmm, tak ada ide.
"Jadi pakai hahahaha, hihihihi, ya? Apa ya, Nard? Kenapa tidak cari saja di internet?" Tawarku.
"Kelamaan, ibu. Ayo, cepetan."
Ih, yang buru-buru mau pergi kan aku, la kok dia yang lebih kebelet. Hmmm... pantun jenaka. Let see.

Burung dara burung merpati       (Aku berhenti sambil mikir. Bernard sudah menggigit penanya.)
diberi makan dalam peti              (Aku diam, lamaaaaa sekali. Bernard berdiri, mengambil minum.)
hahahaha hihihihi                         (Kok gitu? Protes Bernard. "Sudah tulis saja."
mari tertawa menghibur hati         (Kayak gitu? Bernard masih protes.)

"Kurang jenaka, ibu."
"Coba deh baca."
Bernard membacanya. Di bagian hahahaha hihihihi dia tertawa ditimpali tawa kakak dan bapaknya. Dan masih terus tertawa hingga bagian akhir.
"Tuh, kan. Lucu kan Nard. Semua tertawa."
Bernard tidak puas tapi dia tetap menyalinnya. "Tetep aja kurang jenaka. Tapi ya apa boleh buat."
Ih, aku cium kupingnya. "Nanti kita cari ilham lagi. Sekarang ibu pergi ya."
Tanganku diciumnya dan aku beri berkat di dahinya.

Thursday, February 06, 2014

Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski

Judul : Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski, sebuah pengantar
Penulis : Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat
Penerbit : Dewan Kesenian Lampung
Cetakan 1 : Desember 2012
Isi : 164 + xvi halaman
ISBN : 978-602-17839-0-0

"Selama fisikmu dalam keadaan tegang kau tidak bisa menemukan perasaan halus atau kehidupan spiritual perananmu. Oleh karena itu, sebelum kita mulai menciptakan sesuatu kita harus mengusahakan supaya urat-urat kita berada dalam keadaan seharusnya, hingga tidak mengganggu gerakan-gerakan kita." Stanislavski. (Hal. 95)

Cuplikan itu aku tulis untuk mencuatkan satu dari tiga panggung yang disarikan penulisnya dari sistem Stanislavki untuk pengantar akting (Dalam kamus besar bahasa Indonesia, akting = seni/profesi di atas pentas/tv/film, gambaran perwatakan dramatik baik bersifat emosional maupun intelektual yang dinnyatakan dengan suara dan laku, berakting = bermain drama. Makna lain akting adalah pemangku jabatan untuk sementara), yaitu laku fisik. Tiga panggung itu adalah kerja pikiran, kerja emosi dan laku fisik.

Kenapa aku mengambil 'panggung' laku fisik ini sebagai bagian awal tulisan ini? Apakah dua hal sebelumnya yaitu pikiran dan emosi tidak penting? Justru sebaliknya. 

Pertama karena aku menganggap bahwa pikiran dan emosi adalah dua hal 'terdalam' yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh manusia lain kalau tidak ada laku fisik (gerakan tubuh, ekspresi muka, dan suara.) Kedua karena aku melihat muara dari akting adalah laku fisik yang dilihat oleh penonton. Dari laku fisik itulah para penonton bisa menangkap pikiran dan emosi para aktor. Dengan begitu, pikiran dan emosi adalah dua aspek yang harus menjadi perhatian dan penekanan utama dalam kerja kreatif seorang aktor. Jika dua hal ini sudah 'selesai' (minimal disadari untuk terus diolah), maka fase-fase laku fisik bisa dilakukan dan dikembangkan.

Latihan, adalah sarana seorang aktor untuk melepaskan ketegangan dalam dirinya dan menjadikan tubuh bergerak secara wajar, sadar dan alami. Stanislavski mempunyai metode-metode latihan untuk persiapan gerak tubuh dan suara, sehingga aktor tidak menjadi robot atau zombi belaka, yang berakting tidak wajar, palsu dan dipaksakan. Stanislavski percaya bahwa perasaan sejati manusia adalah bagian yang paling pokok dari akting bagus seorang aktor.

"Jadikan yang sulit itu menjadi kebiasaan, karena terbiasa akan menjadi mudah, dan yang mudah menjadi indah." Itu dikatakan Stanislavski soal sangat pentingnya latihan-latihan. (Hal. 124)

Di bagian akhir buku ini, penulis buku mengingatkan apa yang dipesankan oleh Stanislavki untuk tidak sekali-kali membawa persoalan pribadi ke atas panggung. Mereka harus masuk panggung dengan khusuk dalam sikap mental yang sama dengan para pendeta saat menyiapkan altar. Keheningan ini akan membawa harmoni dalam nyanyian pikiran, hati dan daya kehendak. Maka ketika mereka mulai bergerak dan bersuara, penonton akan melihat laku fisikal yang jujur, benar dan wajar, selaras dengan pikiran dan emosionalnya.

Dan karena keseluruhan hal itu, aku bilang, buku ini bukan hanya baik untuk calon aktor atau aktor, tapi juga baik dibaca oleh manusia yang memang sungguh ingin menjadi manusia. Bukan menjadi manusia robot atau zombi. Buku ini mengajak manusia untuk bertindak secara sadar, wajar, jujur dan benar. Bukan hanya di atas panggung sebagai akting tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Wednesday, February 05, 2014

UNCHANGED

Mengambang di Atas Kembang
Mata cintamu masih memandang aneh.

"Siapakah kau, peri dari sungai Melawi,
atau cenggeret pohon jati?"

Belasan putaran matahari pada bumi,
dan kau masih mengira lenganku
sayap-sayap licin berkeriapan.

"Bagaimana kau bisa melakukan,
sehari menyisir riak pantai,
sehari memeluk gunung,
dan kini kau masuki gua-gua
dengan sayap-sayap, kaki-kaki
mengambang di udara sepi?"

Aku selalu kembali, di kamar kita
karena di situlah aku bisa nyenyak
tidur tanpa mimpi, dengan wajahmu
berpeluh lasak di telingaku.

"Sampai kapan kau akan rentang
sayap-sayap membentang, berkelepak
melintas musim, menjauhi lintang?"

Sayang, aku ulang bahwa lengan,
ini lengan, bukan sayap-sayap
hanya sepasang bukan berlaksa,
dan aku akan selalu pulang.

Mata cintamu masih tak percaya.

Tuesday, February 04, 2014

PEREMPUAN


Photo: PEREMPUAN

Ini perempuan kelewat batu

Kurusetra bukan hanya tempat ksatriya
karena ke sanalah perempuan itu pergi
menangisi setiap huruf yang terhapus

"Kau sudah butakan inderawiku
lalu kau buka jendela. Jadi, di mana dunia,
Tuan, supaya kulanjutkan penciptaan?"

ini perempuan terlanjur gagu

kamus menjadi lembaran hancur
dibukanya halaman per halaman
andai satu saja masih tersisa

itulah kata yang akan diucapkannya.Ini perempuan kelewat batu

Kurusetra bukan hanya tempat ksatriya
karena ke sanalah perempuan itu pergi
menangisi setiap huruf yang terhapus

"Kau sudah butakan inderawiku
lalu kau buka jendela. Jadi, di mana dunia,
Tuan, supaya kulanjutkan penciptaan?"

ini perempuan terlanjur gagu

kamus menjadi lembaran hancur
dibukanya halaman per halaman
andai satu saja masih tersisa

itulah kata yang akan diucapkannya.

Monday, February 03, 2014

Sajak untuk Song

Song,

jemarimu kelopak kenanga mekar
di pundaknya mengumbar aroma
hangat getah eukaliptus samar
mirip seikat mimpi tanpa jendela.

Song,
karna matanya sudah mengalir
dan hatinya batang ulir si pandai besi
bolehkah aku yang memintanya?

Lepaskan dia.

Friday, January 31, 2014

Ke Hatimu

Bernard membuat gara-gara dalam beberapa saat terakhir ini. Kalau ditanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan letak, dia akan menjawab tanpa pikir panjang.
Kejadian terakhir saja yang kuceritakan ya. Kemarin saat dia mengikuti wisata kota bersama teman-teman di sekolah, pulangnya aku tanya,"Nard, jadi kemana saja hari ini?"
Dengan matanya yang nakal dia menjawab,"Ke hatimu."
"Nggak jadi ke musium? Ke PTPN?"
"Ndak. Ke hatimu."
Dia mendekatkan wajah hingga nyaris menyentuh hidungku, habis itu lari mengambil lap top dan sudahlah, walau kugelitik berkali-kali dia tak mau cerita. Dengan gondok aku berbaring di sebelahnya, diam-diam, dan dia asyik bermain GTA.
"Bu, tadi itu gak asyik jalan-jalannya. Tempatnya jelek."
"Hmmm..." Aku pura-pura cuek. Gak butuh.
"Gak enak. Ke musium transmigrasi, kayak gitu saja. Lalu ke PTPN 7. Sudah hanya dua tempat saja. Ndak bagus."
"Hmmm, rugi dong ibu. Sudah membayar 100 ribu. Lain kali gak usah ikut saja kalau ada wisata kota lagi."
"Ndak dong. Harus ikut. Siapa tahu nanti wisata kotanya ke tempat yang bagus. Rugi kalau gak ikut. Dan lagi dapat makan enak, ayam goreng tepung. Dua bis kami semua. Enak lah bisa jalan-jalan, gak belajar di kelas."
"Memang mau kemana lagi kalau wisata kota?"
"Ke hatimu!"
Dia memelukku dan membenamkan mukanya ke perut, sengaja membuat gerakan yang menggelitik hingga aku harus diem saja menahan geli supaya dia segera berhenti. Kalau aku menjerit-jerit dan minta ampun, dia pasti akan terus melakukannya. "Huh, ibu ini gak enak kalau dicium perutnya, gak geli." Dia pun kembali ke lap topnya.
Hehehe.... dia tidak tahu kalau aku menahan geli setengah mati. Bernard, ibu juga selalu berjalan... ke hatimu.

Sunday, January 26, 2014

Terompah Usang yang Tak Sudah Dijahit

Tiba-tiba ingat buku tua ini. Aku membacanya dulu waktu SD. Buku yang ditulis oleh A. Damhoeri ini aku baca berulang kali tak terhitung. Entah dimana sekarang, apakah masih ada di lemari di kamarku Kediri sana atau sudah raib, aku tak yakin.

Buku ini terbit tahun 1975 (cetakan ke sekian) oleh Balai Pustaka. Aku masih ingat persis cerita dalam novel ini. Berkisah tentang terompah dari lahir hingga tersuruk butuh jahitan tapi tak pernah selesai dijahit. Terompah itu seolah-olah hidup dan menceritakan kisahnya itu dari sudut pandang orang pertama, tentang perasaannya, tentang yang dilihat dan sebagainya. Bahkan aku ingat dia bercerita bagaimana pengalamannya saat pertama kali dipakai oleh pemiliknya, ketika dicuri dari masjid saat pemiliknya sholat dan sebagainya.

Aih, siapa yang punya buku ini ya? Pinjami aku untuk fotokopi sebentar. Please.

Saturday, January 25, 2014

Queen of Dream

Penulis              : Chitra Banerjee Divakaruni
Judul                : QUEEN OF DREAM, Ratu Mimpi
Alih bahasa       : Gita Yuliani K.
Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978-979-22-7395-3
Isi                    : 400 hlm

"Perjalanan itu maksudnya untuk menambah pendidikan kami. Calcutta  penuh mimpi. Bukan hanya yang diimpikan penduduknya yang sekarang, tetapi mimpi-mimpi lama, yang terputus, yang menggantung diam di atas Sungai Gangga yang coklat berlumpur, dan mewarnai malam hari dengan kebingungan. Kemampuan kami akan diuji, kami akan disuruh memetik mimpi-mimpi yang sudah tak bertubuh itu dari udara dan menafsirkannya." (Hal. 195)

Satu paragraf yang aku cuplik dari buku ini bisa memberi gambaran pada ide Divakaruni mengenai salah satu tokohnya yang disebut Ratu Mimpi. Dia adalah gadis yang mempunyai bakat untuk menafsirkan mimpi, lalu tergabung dalam kelompok para penafsir mimpi. Mereka tidak bisa begitu saja hidup, karena mereka unik, khas dan istimewa. Ada pendidikan-pendidikan yang harus mereka tempuh dalam gua, tersekat dari dunia luar, dimana mereka semakin meningkatkan kemampuan mereka menafsirkan mimpi.

Kehidupan dalam komunitas penafsir mimpi penuh dengan aturan. Mereka tidak bisa seenaknya menghirup udara bebas seperti orang-orang biasa. Maka perjalanan rekreasi, seperti digambarkan di paragraf itu, mereka 'rekreasi' ke Calcutta, hmmm sebenarnya juga untuk pendidikan, menjadi perjalanan yang asyik.

Tapi si ratu mimpi mendapatkan salah satu kenyataan yang menggairahkan dalam perjalanan itu. Dia jatuh cinta, pada seorang pemusik yang ditemuinya di jalan. Dan dia mau lari dengan laki-laki itu, bercinta, dan meninggalkan komunitas para penafsir mimpi.

Melalui sebuah pengadilan, dia boleh tetap memiliki bakatnya, dengan syarat dia tak pernah terikat pada cintanya itu. Dia harus tetap terpisah dengan cintanya walau dia hidup bersama. Maka, ratu mimpi tetap menafsir mimpi, tapi suaminya tidur di kamar menguasai pagi, siang dan sorenya, sedang malam, ratu mimpi di ruang jahit bekerja menafsir mimpi-mimpi. Membantu orang-orang yang gelisah dalam mimpinya, dan menemani mereka untuk sembuh.

Hmmm, Divakaruni menarik cerita 'khayal' ini dalam dunia modern lewat kehidupan anak dari si penafsir mimpi. Sebagai migran India yang tinggal di Amerika, -yang khas dari cerita Divakaruni selalu mengangkat dunia migrasi ini-, dalam kehidupan antara adat Hindi dan juga hidup gaya modern.

Divakaruni selalu berhasil membawaku dalam lingkungan kehidupan para Hindi modern yang lepas ratusan kilometer dari negeri asalnya itu. Mereka selalu asyik untuk dilihat. Tarik menarik antara tradisional dan modern... Ya, ini novel yang menarik.

Monday, January 20, 2014

Jagal/The Act of Killing

Sakit. Sakit banget nonton film dokumenter garapan sutradara Joshua Oppenheimer. Aku telat banget menontonnya secara lengkap, tapi sungguh, aku jadi ... aku tak sanggup menceritakannya. Ini secuplik dari Wikipedia tentang film dokumenter, dengan 'aktor' Anwar Congo dan kawan-kawannya :

Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.
Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.
Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.
Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral.

Untung Joshua bukan orang Indonesia, sehingga dia bisa pergi, lepas, walau di banyak media dia menceritakan rasa sakitnya ketika membuat film ini. Dia menerima pujian, dan banyak penghargaan. Bahkan sekarang masuk nominasi Academy Award.
Tapi aku, yang orang Indonesia... apa yang akan kulakukan? Aku berterimakasih padanya karena dia telah mengorek korengku. Huks, uhuks, aku berterimakasih karena dia sudah memberikan lampu pada cermin untuk memandang kenyataan. Kini...biar saja aku menangis dulu. Sakit...

Sunday, January 19, 2014

Masa Kecil

Waktu aku pulang kampung di pergantian tahun lalu, aku menyempatkan diri membongkar album, map, kerdus, rak dan segala macam tumpukan. Hasilnya : catatan-catatan dalam berbagai bentuk, gambar-gambar, dan yang paling membuatku lama terpekur adalah foto-foto.

Satu tahun.
Yang aku mau pasang di sini bukan yang membuatku terdiam lama-lama tapi yang membuatku teringat, sadar, yakin, bahwa aku pernah lahir dan kemudian bertahap hidup pelan-pelan dalam evolusi pasti hingga menjadi sekarang ini seperti ini. Kata-kata aku simpan dulu, tapi lihat tiga foto ini.

Pertama adalah foto saat umur kurang dari satu tahun, digendong Pakpuh Joko, kakaknya bapak, di dapurnya Mbah Kari di Brebek Nganjuk, juga bersama Mbah Kari. Seumur itu, aku blas gak tahu apakah aku punya kesadaran sebagai manusia.

Dua tahun.
Kedua adalah foto saat berumur kurang lebih dua tahun, digendong bapak di dekat pelaminan. Lamat-lamat aku masih bisa mengingat peristiwa ini. Saat itu aku ikut bapak ibu menghadiri undangan perkawinan, seperti biasa aku akan mendekat pada yang kelihatan 'blink-blink' gemerlap. Ibu melarangku pergi jauh-jauh dari sisinya, tapi aku menangis, lalu digendong bapak maju ke dekat pelaminan. Aku diam, dan bapak - kayaknya yang membuat dekorasi manten itu - minta tukang foto memotret kami.

Ketiga adalah foto saat aku berumur sekitar tiga tahun. Ibu akan berangkat ke sekolah dengan motornya. Aku mengambil topi dan sepatu, ingin ikut, tapi tidak boleh. Seseorang, mungkin Pakpuh No, memotret kami untuk menghiburku.

Tiga tahun.
Hmmm... beberapa peristiwa masa kecil lain aku juga masih ingat. Seperti saat ikut lomba baca puisi saat 'pura-pura' sekolah di nol kecil. Judul puisinya "Pahlawan". Hmmm, sebagian cerita itu aku ingat, karena memang aku mengingatnya dan masih bisa kurasakan perasaanku waktu itu saat mengenangnya. Sebagian lain juga karena ibu, bulik, dan kerabat beberapa kali mengulang cerita-cerita 'memalukan' yang pernah kulakukan dulu, di masa kecil. Hmmm... bisakah aku kembali? Masa itu aku sungguh aman di dalam cangkang telurku yang belum pecah. Di mana sekarang cangkang telur itu? Hmmm....

Saturday, January 18, 2014

Dalam Persembunyian

berlari tanpa alas kaki, perempuan
kesakitan, berterimakasih
pada hujan, menyembunyikannya
dalam derai rinai, menurunkan
panas suhu badan, memompakan
hidup buluh raga.

selamanya dia bersembunyi
dalam hutan hujan
sampai harga dirinya kembali
dan mengajaknya
menari.

Thursday, January 16, 2014

Suatu Sore

menjelang sore, sebelum matahari merapat kaki langit
aku membayangkan kita duduk berdua
dengan secangkir kopi di depan kita
memulai lagi perjumpaan-perjumpaan
merangkul dan minta maaf pada mereka
karena pernah kita tinggalkan di pinggir kota

kali ini kita akan memesrai kenangan
penuh rindu tapi tanpa cemburu
berbincang tentang anak-anak yang telah kita biarkan
tumbuh berpinak di segala puisi dan prosa
mereka, telah dipijahkan dari waktu yang singkat
namun bukan untuk mangkat

lalu kita akan saling tertawa
menarik kulit kita yang pernah bersenggama
di suatu musim yang kita sebut cinta
walau hanya untuk sementara
kini pun aku tetap bersikeras
itu memang cinta

Kerling Pagi

suatu saat ketika genangan hujan belum kering
aku duduk di tepi pagi, membenahi kantung-kantung bekal
sayang, aku tidak bisa membawamu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
di kerling pagi aku akan menyimpanmu
rapat tak untuk siapa juga
sesekali aku akan menengokmu
sayang, jangan merasa kesepian
kita punya matahari sama
yang pernah mekar dalam sebuah perjalanan
di atas senyumku, di atas senyummu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
sesekali aku akan menengokmu
memastikan bahwa kau aman, di kerling pagi
dalam rumah kita.

Wednesday, January 08, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (5) : Gunung Kelud

Cerita sebelumnya.

Keterangan tentang gunung Kelud.
Ini bagian akhir liburan yang mengasyikkan. Di hari terakhir sebelum meluncur kembali ke Lampung, kami 'mendaki' Gunung Kelud, di Kabupaten Kediri. Gunung ini gunung yang masih aktif dan kuingat meletus terakhir pada tahun 1990 saat aku masih SMA. Aku ingat saat letusan terjadi aku ada di kelas, langsung lari ke menara Gereja yang ada di samping sekolah untuk melihat ke arah Gunung Kelud. Semburan warna oranye dan merah bisa kulihat dengan puas dari menara itu sampai disuruh turun oleh petugas Gereja dan diusir pulang.

Ini kedua kalinya ke gunung ini. Dua tahun lalu aku pernah juga ke sana berdua dengan den Hendro dan sangat beruntung karena cuaca yang sangat sempurna. Kali ini cuaca mendung, sedikit gerimis sehingga foto-foto kurang cerah. Tapi tetap bagus, tetap indah.
Jarak Kelud dengan gunung lain.

Kenapa di paragraf awal kata mendaki itu aku beri tanda kutip? Karena ini berbeda dengan mendaki gunung-gunung lain. Pemda setempat sudah memfasilitasi para pengunjung dengan sangat rapi sehingga mereka menyediakan anak tangga (500 anak tangga!) untuk menuju atas puncak, dan 150 anak tangga untuk ke bawah ke anak Gunung Kelud yang masih bertumbuh.

Anak Gunung Kelud.
Tangga-tangga ini bikin kaki gempor, tapi tak rugi karena pemandangannya luar biasa. Selain itu pasti merasa nyaman sekali melewati tangga-tangga ini karena sesekali kita bisa berhenti untuk mengamati perbukitan, kabut yang bergerak turun, dan jangan lupa untuk memicingkan mata melihat kanan kiri. Banyak edelweis tumbuh di lereng-lereng Kelud. Cantik buanget.

Masuk terowongan.
Selain puncak dan anak Gunung Kelud, beberapa lokasi wajib dinikmati. Terowongan lahar yang gelap tapi romantis dingin, lokasi camping yang berdinding tebing, permandian air panas, flying fox yang menyuguhkan pemandangan indah, batu prasasti yang bisa untuk background foto, musim dan teater, warung-warung makan yang enak dan murah, serta jangan abaikan perjalanan menuju lokasi atau saat pulang. Kebun durian, nanas dan sebagainya ada di kanan dan kiri jalan berkelok.
Permandian air panas.

Bahkan di perjalanan pulang kami dapat bonus. Sebotol madu asli dari penangkaran lebah. Itu salah satu oleh-oleh kami dari Kediri. Oleh-oleh lain? Hmmm... tulisan-tulisan ini sudah cukup untuk oleh-oleh kan? Atau kurang? Jika ada yang mau tanya lebih lengkap komplet jelas, silakan tanya. Aku siap menjawabnya. *** (Selesai)

Tuesday, January 07, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (4) : Bendungan Selorejo

(Cerita sebelumnya)

Semilir di pinggir danau.
Tempat lain yang kami kunjungi adalah Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Dulu aku tak pernah tertarik mengunjungi tempat ini saking biasanya aku lewat di dekatnya. Kemarin pun ketika semua semangat untuk mampir aku tidak begitu semangat.

Tapi rupanya cukup menarik juga tempat ini. Yang pertama-tama bisa dinikmati adalah kulinernya! Beberapa macam makanan dari ikan air tawar bisa ditemukan di sini. Ikan dan udang kecil-kecil yang digoreng kriuk, lalapan, atau ikan yang agak besar ada nila atau mujair.
Urusan utama, belanja.

Yang paling enak? Mujair bakar. Hmmm... sedap nian. Ikannya kecil, tak sampai seukuran telapak tangan. Masih segar, dibakar cukup pas tidak terlalu gosong tapi juga tidak mentah, lalu disiram bumbu kacang dan kecap. Wuah, satu porsi bisa habis sendirian.

Harga tidak terlalu mahal. Satu porsi ikan mujair bakar itu terdiri dari dua ikan yang dibelah sehingga matangnya merata, dengan satu bakul kecil nasi plus lalapan dan sambel seharga 30 ribu rupiah. Atau pilih paket makan untuk 10 orang seharga 165 ribu rupiah, lengkap, kecuali minum. Teh, kopi dan minuman lain bisa dipesan terpisah.

Ikan dan udang goreng tepung yang kriuk.
Selanjutnya bisa shoping beberapa barang kecil macam baju, kaos, celana batik, gantungan kunci, tulisan-tulisan I love Malang, dan sebagainya. Juga makanan-makanan khas Malang dan sekitarnya.

Pemandangannya? Hmmm, bagus. Danau kecil, jembatan, bangku, batu, pohon, air, rumput, kabut,...macam setting sebuah puisi atau cerpen saja. Hehehe... *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (3) : Pantai Papuma

(Cerita sebelumnya)

Menjelang senja. So romantic.
Aku sangat beruntung bisa datang lagi ke pantai ini, dan kali ini bersama dengan salah satu yang merintis keberadaannya sebagai tempat wisata andalan di desa Lojejer, kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Nama pantai itu Papuma. "Asalnya dari kata pasir putih malikan. Pasirnya memang putih, dan di sebelah sana ada lempeng-lempeng batu yang akan malik (terbalik) kalau terkena ombak," jelas VJ. Suliham, salah seorang perintis pantai ini saat masih bekerja di Perhutani Wuluhan, dan kebetulan sekali bapak ini adalah mertuaku, hehehe...

Pantai ini terletak sekitar 45 km dari kota Jember ke arah selatan. Awalnya yang lebih populer adalah pantai Watu Ulo. Tempat ini mudah terjangkau. Tapi kemudian Perhutani melihat peluang pantai ini yang mempunyai potensi keindahan yang jauh lebih alami dan erotis. Memang, bukan waktu yang sedikit untuk mewujudkan Papuma sebagai tempat wisata yang mudah terjangkau dan lengkap fasilitasnya. Tapi sekarang kalau bertandang kesana, semua hal itu, keindahan dan kemudahan bisa didapatkan.

Untuk keindahannya, sudahlah, lihat foto-fotoku, atau browsing di banyak alamat internet. Sungguh tak tertandingi. Belum lagi keragaman flora dan fauna, bikin kerasan boo... Nah soal kemudahan, jalan ke tempat ini sudah bagus. Dulu ketika tahun 1996 aku ke sana tidak sebagus ini. Juga ada tempat penginapan yang murah meriah.
Tempat bermain, berfoto, bersantai, melamun, ...dll.

Pertama bisa memilih cottages punya perhutani yang disewakan dari harga 200 ribu rupiah hingga 750 ribu rupiah. Kalau ini terlalu mahal, bisa pilih menginap di tenda. Harganya lebih terjangkau. Klik sini untuk keterangan yang lebih lengkap.

Waktu kami liburan kemarin, kami memakai penginapan Jati 1, 2 dan 3. Tiga ruang / rumah karena memang rombongan besar. Harganya super karena pas libur yaitu 550 ribu rupiah per malam (hari biasa 400 ribu rupiah) dengan fasilitas kamar mandi, tivi, ac, kulkas, tempat tidur besar, teras yang cantik menghadap ke laut.

Makanan tidak perlu kuatir karena banyak warung makan di sepanjang pantai yang menyediakan ikan bakar, lalapan, mi, rawon dan sebagainya. Juga banyak penjual sovenir yang murah meriah. *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (2) : Pura Mandara Giri Semeru Agung

(Cerita sebelumnya.)

Gerbang utama difoto dari dalam.
Pura ini terletak persis di depan Puri Dewi Rengganis. Jadi tinggal menyeberang jalan, sampailah di situ. Maka, jika kita menginap di Puri Dewi Rengganis, tempat ini bisa setiap saat dikunjungi. Dan, sungguh, pura ini sangat indah dan besar. Rasanya setiap ke Senduro aku pasti ke pura ini. Kadang datang untuk sembahyang, menyepi, tapi juga kadang khusus untuk berfoto-foto. Segala sudutnya tempat ini indah.

Mulai dari depan, kita akan disambut gerbang utama yang megah. Lalu di bagian depannya ada pendopo dimana kita masih bebas masuk. Ornamen-ornamen membuat kita serasa di Bali.

Konon, Pura Mandara Giri  adalah pura tertua di Indonesia. Bukan soal pendiriannya karena baru dibangun pada tahun 1988 dan pada 1992 pura ini dianggap resmi berdiri. Walau begitu, kegiatan keagamaan memang sudah dimulai jauh sebelumnya. Ritual nuur tirta (permohonan air suci) sudah pernah dilakukan sejak tahun 1963 di Patirtaan Watu Kelosot oleh para pemeluk Hindu dari Bali maupun dari warga setempat.

Air dari lambung gunung Semeru bukanlah air biasa dan sembarangan. Ada konsep kuat melatarinya, dan ini sangat terkait dengan sumber-sumber susastra-agama yang ada. Antara lain disuratkan, ketika tanah Jawa masih menggang-menggung, belum stabil, Batara Guru menitahkan para Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India) ke Jawa. Maka, puncak Gunung Mahameru dipenggal, diterbangkan ke tanah Jawa. Jatuh di sisi barat, tanah Jawa berguncang. Bagian timur berjungkat, sedangkan bagian barat justru tenggelam.
Serasa di Bali.


Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun digotong lagi ke arah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu berjatuhan dan kemudian menjadi enam gunung kecil masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 m di atas permukaan laut), Gunung Wilis (2.169 m), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 m), Gunung Kawi (2.631 m), Gunung Arjuna (3.339 m), Gunung Kemukus (3.156 m).

Adapun puncak Mahameru itu kemudian menjadi Gunung Sumeru (3.876 m). Inilah puncak tertinggi Pegunungan Tengger sekarang dan gunung tertinggi yang membentuk poros dengan Gunung Bromo atau Gunung Brahma. Sejak itu tanah Jawa menjadi stabil, tak lagi goyang.



Puncak Semeru dari Senduro.
Di hulu tertinggi inilah manusia-manusia yang percaya mengambil sumber energi dari Hyang Widhi Wasa, untuk dialirkan ke banyak tempat. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menetapkan nama pura adalah Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa. Ke sanalah umat Hindu berdatangan. Tidak hanya pada hari raya dan ulang tahun pura (Juni - Juli merupakan waktu yang paling ramai dengan banyak ritual dan festival.), tapi juga pada hari-hari biasa. Bukan hanya dari Jawa dan Bali tapi dari berbagai tempat di Indonesia. *** (Bersambung)

Monday, January 06, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (1) : Puri Dewi Rengganis

Liburan kali ini begitu heboh. Melibatkan keluarga besar Samiran dan Suliham. Aku kurang tertarik menuliskan tentang dua keluarga ini, jadi aku memilih menuliskan tempat-tempat mana saja yang telah kami kunjungi selama rentang liburan itu.

Puri Dewi Rengganis tampak depan.
Pertama adalah Puri Dewi Rengganis. Ini bukan tempat wisata, tapi ini tempat yang merangkul kami semua dalam dinginnya Semeru. Awalnya rumah di jalan raya Senduro, desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ini adalah rumah tinggal keluarga Suliham. Hanya untuk tempat tinggal yang bahkan tidak selalu ditinggali, karena Pak Suliham bekerja di Perhutani dengan tugas berpindah ke beberapa kota.

Setelah pensiun, rumah ini kembali dihuni tapi situasi sudah berbeda. Lokasinya yang persis berada di depan Pura Mandara Giri Semeru Agung, membuatnya sering diminta orang-orang yang datang dari jauh untuk transit sebentar, numpang istirahat, numpang mandi dan sebagainya. Maka Pak Suliham merombaknya dengan serius. Kamar mandi dibikin beberapa di bagian luar, dan kamar-kamar dibuat standar. Ada 15 kamar dilengkapi double bed, meja kecil dan kursi di tiap kamarnya.

Maka, jadilah Puri ini sebagai tempat singgah yang nyaman. Saat kami datang (rombongan dua mobil keluarga Pak Samiran), kami sudah booking jauh-jauh hari, supaya dapat kamar. Di hari libur, tak ada kata pokoknya walau anak sendiri bisa gak kebagian tempat. (Aku pernah datang pada bulan-bulan ramai hanya untuk semalam, akhirnya menggeser kamar bapak untuk tidur karena semua kamar penuh. Dan dalam semalam itu aku menjadi 'host seksi' yang hilir mudik karena permintaan bergelas-gelas kopi, teh atau air panas untuk mandi.) Apalagi dalam jumlah besar macam kami, booking kamar mesti dilakukan 6 bulan sebelumnya!

Nah, perlu diingat, Senduro adalah dataran tinggi yang super dingin. Jadi sediakan jaket atau apapun penangkal dingin jika datang ke tempat ini. Memang sih tiap kamar disediakan juga selimut, tapi pasti kurang hangat. Fasilitas lain? Aih, ini ya rumah biasa. Maka jangan berharap ini macam villa atau hotel. Bersih, rapi dan indah. Cukuplah itu. Makanan bisa pesan untuk jumlah berapapun dengan harga terjangkau sesuai menu yang diminta. Ini recomended banget deh. Makanan di sini enak buanget. Pakai sangat, sekali, amat, very...

Rutenya, dari terminal Wonorejo Lumajang naik bis jurusan Kencong/Ambulu turun di Klojen, sekitar 15 menit. Dari Klojen naik angkutan desa ke Senduro. Ini mesti sabar karena kalau naik angkutan desa ini akan nunggu penumpang penuh baru jalan dan lelet banget. Bilang saja ke sopir turun depan Pura atau langsung sebut Dewi Rengganis, persis di depan rumah. Ada plang nama terpasang.

Pemandangan dari teras samping. Halaman luas, parkir mudah.
Atau kontak Pak Suliham di nomor 0334-610650, nanti akan diatur penjemputan di Terminal Wonorejo. Soal pembayaran, pakai cash saja, dan bisa nego. Harga keluarga, karena siapapun yang bertandang ke puri ini akan dianggap sebagai keluarga. Terakhir-terakhir ini rata-rata biaya menginap Rp. 50.000,- semalam per kamar. Teh, kopi, air panas, penjemputan dan guide bisa ditambahkan saat akan check out. Lebih okey jika bawa oleh-oleh juga pas datang karena kan anda akan jadi keluarga di puri ini.

Nah, jadi kalau sedang ada agenda ke arah Semeru, Bromo, Pura Mandara Giri dan sekitarnya, atau cuma ingin melihat puncak Semeru dari kejauhan, datanglah, silakan datang ke Puri Dewi Rengganis. Anda akan diterima selayaknya keluarga.*** (Bersambung)

Wednesday, January 01, 2014

Gerimis dan Tekad Awal Tahun

Awal tahun 2013 silakan diklik untuk melihat niatku. Kalau sekarang aku punya waktu diam dan hening persis di tanggal pertama tahun 2014, bukan berarti aku lebih beruntung dari tahun lalu. Tahun ini diakhiri dengan gerimis yang tak henti-hentinya membayang di pelupuk mataku. Kerutannya jelas mengejang setiap kali aku membuka mata. Aku punya banyak alasan untuk tidak bisa menghentikannya, dan aku memang tidak bisa menghentikannya. Jadi, sementara waktu hingga awal tahun baru ini, aku biarkan gerimis-gerimis itu menjadi sahabatku. Merangkulnya dalam hati pedih, dan tidak kutolak.
Temans, mohon maaf atas situasi ini dan mohon maaf aku tidak bisa mengucapkan happy new year atau ucapan apapun yang sejenis untuk tahun baru ini. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengucapkannya kepada siapapun. Bagi yang sudah mengucapkannya untukku, lewat SMS, email atau langsung, mohon maaf aku tidak bisa membalas kegembiraan yang sama untuk kalian.
Apakah situasi ini begitu buruknya? Tidak. Jangan pernah kuatir akan hal itu. Aku tahu ini hanya sementara, dan rasanya memang aku membutuhkannya. Gerimis tidak sama dengan embun kan? Gerimis bisa membasuh banyak hal, meluruhkannya, dan semua akan terlihat berbeda nanti. Hanya butuh kesabaran saja mengikuti waktu. Jadi, temans, tidak usah mengkuatirkan aku.
Kalian masih ingin tanya hasil evaluasiku di akhir tahun lalu? Ini bagian yang sulit, tapi aku bisa bercerita beberapa point. Pertama, omong kosong soal memurnikan motivasi. Justru aku terpuruk dalam hasrat egois yang parah. Kedua, untuk pertama kalinya aku merasakan penyesalan-penyesalan atas tindakanku yang kusengaja. Aku tak pernah berada dalam perasaan seperti ini. Ketiga, aku menandai diriku sendiri dalam labirin yang menyesatkan walau terus terang memang aku nikmati. (Ehm, apa sih yang tak dinikmati oleh seorang Yuli?) Keempat, ada buku Hilang Silsilah yang memuat cerpenku. Urusan ini selalu membuatku antusias dibanding apapun juga. (Thanks Dewan Kesenian Lampung). Dan kelima, aku punya harapan yang besar terlebih aku mendapatkan teman luar biasa di akhir tahun ini (walau juga sekaligus aku telah kehilangan banyak hal di akhir tahun.) Temanku adalah Divakaruni.
Tapak liman tanpa batang yang hanya untuk diinjak.
Siapa Divakaruni? Dia lewat Queen of Dreams telah menguatkan aku untuk meneruskan hidup dalam misi khusus tahunan. Okey, aku setujui dia untuk menghilangkan misi yang sok suci. Misi-misiku di beberapa tahun terakhir akan aku simpan di kotak penyimpananku. Aku melangkah di tahun 2014 ini dengan hasrat baru untuk menghadapi banyak tantangan. Pesannya sangat jelas :"Jangan pernah turunkan targetmu, tapi tingkatkan kemampuanmu untuk mencapai target tertinggimu." (Thanks, batang tapak liman kesayanganku. Apapun situasinya, indah atau buruk, aku tak akan melepas cinta, pada dirimu yang sebentar dan kecil di antara seluruh keabadian semesta raya ini. Ini semangat yang mengalahkan segala yoga, meditasi ataupun segala peristiwa.)
Jadi aku menulis tentang misiku di tahun 2014 ini dalam bayangan gerimis (yang toh aku syukuri karena gerimis ini muncul karena cinta) yaitu : novel! Aku telah memulainya di hari yang dini ini. Dan lihat akhir tahun 2014 nanti, kalian, para kekasihku, akan memelukku kembali sebagai ucapan terimakasih karena kado yang kuberikan untuk kalian. Sebuah novel! Kali ini tak usah bertepuk tangan untukku. Lihat saja akhir tahun nanti. Dan selama hari-hari hingga akhir tahun nanti, aku tak peduli andai kau palingkan pandangan dariku. Lihat saja nanti.

Friday, December 20, 2013

Pamit

Hai, hai, jangan menangis dulu. Ini pamit tahunan seperti biasa. Menjelang libur akhir tahun aku akan mengambil waktu untuk pamit, menikmati tepukan tangan dari anda sekalian atau kalau bukan tepukan, aku akan tetap membungkuk takzim untuk anda sekalian.
Ini hari terakhir aku menulis di blog untuk tahun 2013 ini. Hari pertama aku menulis di tanggal 3 Januari lalu, aku menulis tentang misi pribadiku sepanjang tahun yaitu : memurnikan motivasi. Misi inilah yang akan aku bawa untuk aku renungkan sepanjang perjalanan akhir tahun hingga pergantian tahun nanti.
Jadi jangan sedih. Secepat mungkin, pada kesempatan pertama di awal tahun aku terakses internet, aku akan segera menulis untuk blog ini lagi. Mau tahu perjalananku akan sejauh apa? Aku pasang clue saja ya : Lampung - Jakarta - Kediri - Lumajang - Jember. Mungkin akan tambah beberapa kota lain yang berdekatan misal Surabaya - Malang - Jogjakarta - Bandung. Tapi itu hanya bonus saja. Kisahnya aku akan tulis nanti, seperti biasa.

Thursday, December 19, 2013

Kehilangan Pagi

Ini sudah dimulai dari kemarin, bahkan kemarin lagi, dan lagi. Saat siang lalu senja, boleh saja kuterima. Suaranya tersamar dengan seluruh hiruk pikuk jalanan dan juga teriakan anak-anakku. Tapi ketika jalanan mulai terlelap dan anak-anakku mulai masuk ke alam mimpi, suaranya yang  tak berhenti itu sungguh menjengkelkan. Aku sama sekali tak bisa memejamkan mata, terseret gelombangnya.

Awalnya aku mengira suara itu adalah alunan keluhan. Seperti sayup-sayup berdendang di sela-sela gerimis yang tak ada sela. Kadang-kadang aku malah bisa menganggapnya sebagai lagu ninabobo yang tak tahu waktu. Mengalun, mengayun, mengalir tiada henti, kadang dalam suara rendah, kadang bernada tinggi.

Namun suaranya sama sekali bukan lagu. Suatu saat berubah menjadi lengkingan, lalu raungan, dan di malam yang senyap, suara itu bukan lagi alunan, tapi menjadi sentakan, hentakan. Jadi aku memutuskan untuk mendatanginya, memastikan apa yang dia tangisi berhari-hari, tanpa henti di seluruh putaran waktu, di dalam rumahnya sendiri.

Saat aku datang, rumahnya terkunci. Bunga kemuning samping rumahnya sudah merontokkan seluruh kelopaknya, dan bibit-bibit mawar di halaman depan seperti tonggak-tonggak penuh duri-duri, tanpa daun tanpa bunga. Aku sudah hendak mengetuk pintunya, ketika perempuan itu, ternyata perempuanlah suara itu, sedang mengencangkan raungannya. Suaranya serak dan basah. Ah, hentikan sebentar, perempuan. Hentikan sebentar tangismu itu. Hatiku berbicara, tapi suaraku tak muncul, termangu di depan pintunya, ikut dalam tangisannya yang pilu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Aku sama sekali tak menduga dia akan membuka pintu, dan berdiri persis di depanku. Suaranya saat berbicara sama sekali bukan suara manusia, walau dia tetaplah perempuan. Mungkin sama sekali bukan suara, tapi semacam erangan dalam nada bariton, yang sangat dalam dan sangat basah.

Matanya adalah mata tercekung yang pernah kulihat. Begitu basah tapi tanpa kilat. Lampu jalanan membantuku melihat titik-titik air di seluruh wajahnya, juga lengannya, juga jemarinya. Matanya, ya, matanya, adalah sumur tergelap dengan aliran yang tak habis-habisnya. Lihat, bahkan saat kemarahan membungkus, pun sudut-sudut matanya mengalirkan kedukaan.

Aku hendak mengatakan kalau aku terganggu oleh suara tangisannya, tapi matanya tak mengijinkan aku bersuara. Tubuhku gemetar merasakan kehadirannya di depanku dengan rongga-rongga seluruh tubuhnya yang rapuh. Dia memandangku dengan tangisan. "Aku kehilangan seluruh pagi yang harusnya kumiliki! Kau pikir aku tak boleh menangisinya?"
Perempuan itu membalikkan badan. Pundaknya lapuk dalam lengkung, dan sepasang betisnya yang timpang menyeret tubuhnya kembali ke balik pintu. "Kau pun akan kekal dalam duka kalau kau kehilangan pagimu!" Telunjuknya menudingku sebelum dia membanting pintu, kembali terkunci.

Lalu sedu sedan itu kembali melagu. Sesekali ada lengkingan dan raungan. Oh, perempuan, betapa besar hatimu terkoyak. Kemana perginya pagimu? Aku basah kuyup di terasnya, dalam gerimis yang tiba-tiba menjadi hujan lebat.

Wednesday, December 18, 2013

Hanya Gerimis

Ini lebih berat dari yang kusangka, sahabat.
Aku tak mengira gerimis datang terus-menerus.

Kertasku basah, tintaku basah, bajuku basah,
dingin dan luntur. Rambutku basah, dadaku basah,
rotiku basah, pasi dan melumpur. Langkahku basah,
nyanyiku basah, hatiku basah, lesi dan hancur.

Ini terlalu berat dari seharusnya, sahabat.
Aku tak mengira gerimis bisa bertahan berjam-jam.

Sulit mengikuti langkah panjang kesatria
di jalanan licin tanpa pegangan. Mata buta
oleh gumpalan hasrat di pojok ruang.
Tak akan sempat, tak akan ada saat.

Ini terlalu berat. Tak ada pilihan. Hanya gerimis.
Terus menerus. Berjam-jam. Terlalu berat.