Monday, September 30, 2013

The Temptation

Hanya langit.
langit sudah menyediakan waktu
satu perjanjian disodorkan padaku
"tidak ada makan, tidak ada minum
tidak ada tidur, tidak ada cium"

pilihanku adalah setuju
mengangkat palang pintu
menarik suaramu syahdu

beberapa menit berlalu
aku tahu aku mengapung

sesaat dalam rayu

Monday, September 23, 2013

Wally Lamb : I Know This Much is True

Judul asli      : I Know This Much is True
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul :Sang Penebus
Penulis         : Wally Lamb
Alih Bahasa : Esti A. Budihabsari
Isi               : 951 hlm.
Cetakan      : I, November 2007
Penerbit      : Qanita, Bandung
ISBN         : 979-3269-66-5



Setelah bekerja keras untuk penyuntingan Majalah Nuntius edisi bulan ini, rasanya aku berhak mendapatkan hadiah. Hadiah itu dibeli sendiri di Toko Buku Bandung (hehehe...) minggu lalu dengan harga Rp. 78.000,- setelah diskon dan dapat bonus sampul plastik (Salah satu keuntungan beli buku di toko ini buku bisa langsung disampul. Kalau mengerjakan sendiri bisa-bisa nunggu setahun baru selesai sampulnya. Hehehe...)

Hingga sekarang, aku baru sampai pada halaman 184 dari 951 halaman yang ada. Buku ini sangat tebal, nyaris 5 cm tebalnya. Okey, jadi aku memang belum tahu alur ceritanya secara lengkap. Tapi sejauh ini, aku melihat betapa Wally bercerita dengan sangat kompleks dan sangat 'tega' pada tokoh-tokohnya.

Lihat saja. Tokoh sentral adalah Thomas dan Dominick, pasangan kembar identik yang lahir tepat pergantian tahun. Yang pertama lahir di tahun yang lama, dan yang lain lahir di tahun yang baru. Ibunya seorang sumping, hingga pada halaman ini belum ketahuan siapa ayah kandung mereka tapi mereka punya bapak angkat bernama Ray, yang sangat keras dan ringan tangan.

Thomas harus dimasukkan dalam rumah sakit jiwa karena tindakannya yang tidak biasa. Dia kecanduan Yesus dengan cara yang membahayakan. Matius 5 : 29 - 30 "Dan jika matamu yang kanan menyesatkanmu, cungkillah dan buanglah itu... Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu daru anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu secara utuh dicampakkan dalam neraka."

Maka Thomas mengiris tangan kanannya hingga putus dan dilemparkannya di lantai perpustakaan, dan karenanya dia mendapat penanganan khusus di rumah sakit hingga akhirnya harus masuk dalam rehabilitasi sakit jiwa.

Dominick malah cenderung tidak percaya Tuhan dan mengolok-olok keberadaan Yesus. Namun dia bertanggungjawab penuh atas kakak kembarnya terlebih sejak ibunya meninggal. Salah satu warisan ibunya adalah kisah kakeknya yang ditulis dalam bahasa Italia. Kakeknya selalu menjadi orang paling top bagi ibunya.

Aku belum tahu kelanjutannya, tapi aku kira kisah sang kakek ini akan menjadi pembuka banyak kisah lain dalam cerita Wally ini. Dengan berbagai kesibukanku akhir-akhir ini entah berapa lama hampir 1000 halaman ini bisa kuselesaikan. Tapi santai saja, aku pasti bisa mengambil waktu-waktu di sela-sela itu. Wally akan jadi temannu hingga beberapa hari mendatang, pasti menyenangkan. ***

Friday, September 20, 2013

A part of Sri Lanka 7 : Here Now

(Kisah sebelumnya)

Bandaranaike International Airport
Perjalanan 8 hari sudah selesai. Aku lelah dengan berbagai dinamika naik turunnya perasaanku selama di Sri Lanka. Di hari terakhir aku sungguh berharap ingin segera sampai rumah dan tidur nyenyak. Tidur nyenyak hanya bisa terjadi di rumah (Hmmm..., lain waktu mesti mbahas soal 'rumah'.).  Tapi mana bisa? Enak saja pergi gratis semata grace dibayari orang lain kok kemudian mau enak-enak tidur nyenyak.

Lihat saja. Begitu tiba di Bandaranaike subuh buta (Malam sebelumnya tidur di salah satu hotel dekat bandara karena penerbangan balik Jakarta sangat pagi, jam 07.15. Jam 04.00 mobil hotel sudah menunggu di depan hotel untuk ngantar.) setelah urusan boarding pass dan imigrasi beres, duduk manis di ruang tunggu. Masih ada waktu sekitar 2 jam. Beberapa ribu rupee Sri Lanka aku habiskan di gerai Odel yang ada di bandara untuk tiga kaos hitam buat para kekasihku, beberapa batang pensil (hehehe) dan sebuah hiasan dinding. Rupee Sri Lanka gak akan laku di Indonesia, jadi lebih baik tidak dibawa pulang kecuali beberapa recehan untuk kenang-kenangan.

Segera aku dapat mengenali rombongan-rombongan dari Indonesia atau menuju Indonesia. Dan jika mereka berada dalam rombongan seperti itu, bisa dipastikan mereka adalah tenaga-tenaga kerja dari Indonesia yang sedang transit. Dalam pesawat ada lebih 20 perempuan dari Indonesia yang sedang pulang kampung dari berbagai negara di daerah Arab.

"Belum habis kontrak, bu. Tapi mau pulang saja," ujar seseorang yang mengaku dari Indramayu. Dia bekerja di Abu Dabi sekitar 6 bulan, dan ternyata gaji yang dia terima tidak cocok dengan yang dijanjikan. "Katanya digaji 800, ternyata hanya diberi 60 sama majikan. Tidak kerasan."

Seorang lain dari Kerawang, masih muda sekitar 20-an tahun sudah 2 tahun bekerja di Oman (Oman tuh mana ya? Entar aku cek di peta.) Dia kelihatan segar dan gembira. "Kangen rumah, bu. Ini baru habis kontrak dan pengin pulang dulu. Nanti mau pergi lagi, tapi penginnya ke Taiwan atau Hongkong saja. Katanya di sana gaji lebih besar dan enak."

Kebanyakan para tenaga kerja ini perempuan walau aku melihat ada beberapa bapak atau pemuda yang berada dalam rombongan. Beberapa di antara mereka kelihatan tegak percaya diri tapi sebagian dengan wajah kuyu capek. Kita bisa menduga cerita di belakangnya dari wajah-wajah mereka itu.

Begitu tiba di Indonesia, berita-berita baru mulai masuk telinga. Anak si Dani yang menabrak hingga menewaskan orang, Vickinisasi yang tengah heboh, Wilfrida yang sedang menunggu hukuman gantung di Malaysia, pilgub Lampung yang entah, dll dll, dll. Jadi, tak ada waktu untuk tidur nyenyak. Berjuang! Jaringan termasuk jaringan Asia - Pasifik akan mempunyai peran nanti entah seberapa besar.

Ohya, tentu saja aku punya lebih banyak oleh-oleh selain yang sudah aku tulis di blog ini. Sebagian akan aku sebar dalam puisi-puisi romantis melankolis sok dalam, sebagian akan muncul di cerpen-cerpen tertentu, sebagian lagi jadi bahan cerewet untuk orang-orang kasihan yang kebetulan ada di sekitarku, dan sebagainya. Jika ada yang ingin aku bagi lagi, tentu juga akan muncul di blog ini lagi suatu ketika nanti. Aku akan merindukan Sri Lanka bahkan juga dengan kari-karinya. Sungguh. *** (Selesai)

A part of Sri Lanka 6 : Gaudium et Spes

(Kisah sebelumnya)

Bulan lalu dalam pertemuan Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) ke 15 di Semarang, dalam salah satu sesi ada study tentang Konsili Vatikan II. Dari sana yang nyantel di hatiku tentang Rerum Novarum. Dokumen tua milik Gereja Katolik ini tak sudah juga menjadi kekayaan yang konkret. Sebagian besar masih disimpan saja dalam peti emas pemikiran para pakar Gereja. Juga dokumen-dokumen turunannya, baru sedikit sekali diketahui, dipelajari apalagi dihayati, dihidupi, dikonkretkan.

Dalam JP Workers Asia Pasific Forum ke 9 kali ini di Sri Lanka, ada kesempatan setengah hari belajar tentang Konsili Vatikan II. Kali ini yang nyantol di hatiku adalah Gaudium et Spes, sesuai dengan tema yang diangkat dalam berbagai perbincangan. "KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga." (GS 1)
Salah satu slide yang ditampilkan Ruki.


Fr. Reid Shelton Fernando membantuku melihat beberapa hal menarik yang sekaligus menusuk hati. Betapa mimpi dari Konsili Vatikan II sangat tepat dirumuskan dan diteruskan dalam banyak dokumen Gereja. Jika orang-orang yang ada di dalamnya punya waktu sedikit saja untuk mencermatinya, tidak melulu berada di dekat altar di dalam gereja yang indah itu, kita semua akan mendapatkan pencerahan bagi dunia yang lebih indah. Sehingga sugesti dari "di atas bumi seperti di dalam surga" bisa lebih cepat terpenuhi.

Sayang sekali tidak banyak yang percaya pada dokumen-dokumen ini selain sebagai kebanggaan akan kekayaan pemikiran. Tentu saja! Tuntutan dari Konsili Vatikan II ini berat, bro! Tuntutannya adalah terlibat bersama orang miskin dan tertindas. Emang enak bersahabat dengan mereka? Orang miskin itu repot dan merepotkan, kotor dan bau! Hooo, lebih enak bersahabat dengan orang punya duit punya mobil, ndak repot. 

Tuntutan-tuntutan lain banyak. Jika mau mulai tahu, baca dulu dokumennya. Yang awal baik juga dengan membaca Gaudium et Spes ini. Ini salah satu link yang bisa diklik untuk bahasa Indonesia. Dan yang ini in English.  *** (Bersambung)

Thursday, September 19, 2013

A part of Sri Lanka 5 : The Remaining Victims

(Kisah sebelumnya)


Perang selalu memunculkan korban. Tidak hanya saat peristiwa itu terjadi tapi juga lama setelahnya. Peristiwa konflik suku Tamil terjadi 3 atau 4 yang lalu. Saat itu tak terhitung orang yang meninggal atau hilang.

Namun korban dari peristiwa kekerasan itu bukan hanya mereka yang hilang atau meninggal. Hingga kini korban-korban yang selanjutnya terus ada. Para perempuan di Mannar, di bagian Utara Sri Lanka, menunjukkan hal itu padaku. Kunjungan di sana terasa sangat mencekam di hatiku, ah tidak, juga di jiwaku. Setiap kali mereka berbicara tentang orang-orang yang dikasihinya, yang tidak ketahuan bagaimana nasibnya, aku semakin terpaut pada mereka. Pelukanku tak akan pernah mencukupi bagi mereka.

"Anakku pergi ke warung untuk membeli sesuatu pada hari itu. Dan dia tak pernah kembali hingga kini." Kisah seorang ibu. Tampak keras wajahnya menahan air mata sambil memegang erat foto anaknya itu. Itulah salah satu tanda bahwa anaknya pernah dilahirkannya dan pernah hidup sebagai anaknya. Dan dekat kami berbincang, di situlah peristiwa itu terjadi.

Perempuan yang lain tidak bisa menahan air mata. Duduk di pojok agak tersembunyi di sebelah Fr. Nehru, dia berkisah dengan suara pelan. Aku mendengar sekilas Fr. Nehru mengatakan lembut,"Silakan datang ke pasturan jika ada masalah." Aku yakin suara lembut pastur itu cukup meredakan air matanya. Perempuan itu kehilangan suami dan dia bersama anak-anaknya tinggal di keluarga suaminya. Keluarganya sendiri jauh dari tempat tinggalnya itu.

Itu situasi yang sulit. Bagaimana mereka hidup dengan kuat dalam ketidakpastian itu? Mereka masih punya pengharapan bahwa suatu ketika akan ada berita tentang keluarganya yang hilang, entah mati atau hidup. Sejauh ini mereka berjuang keras mengolah air mata dan bertahan hidup dengan tenaga yang tersisa.

Lihat! Perang hanya akan memunculkan korban, dan dendam, dan kemarahan, dan kesedihan, dan terus menerus. Sangat mahal harga untuk penyembuhannya. Kunjunganku, telingaku, pelukanku, empatiku, sama sekali tidak cukup. Tangisan mereka minta kepedulian yang lebih, tindakan yang lebih. *** (Bersambung)

A part of Sri Lanka 4 : Transportation

(Kisah sebelumnya)

Aku berangkat ke Sri Lanka dengan memakai maskapai mereka. Pesawat Mihin Lanka ini terbang langsung dari Jakarta dan Medan. Tapi aku agak serem ngomongin pesawatnya. Bagiku pesawat selalu masih menjadi alat transportasi yang mahal entah seperti apapun bentuknya. Naik maskapai mana saja ya okey saja asal harganya yang paling murah, jadi aku tidak punya pilihan soal pesawat yang nyaman atau tidak.

Yang menjengkelkan dari pesawat Jakarta ke Colombo ini adalah penumpangnya yang tidak tahu keamanan penerbangan. Lah, aku setiap naik pesawat terus menerus doa tak henti-henti, dan hati-hati berlaku apapun, mereka ini (Sebagian adalah para tenaga kerja asal Indonesia dengan tujuan Kuwait, Dubay, Oman, Abu Dabi dan sebagainya. Sebagian yang lain wajah-wajah Sri Lanka dan India. Sisanya orang-orang macam aku.) Sudah diingatkan berkali-kali oleh pramugari soal HP, penutup jendela, sandaran kursi dan sebagainya sebelum take off, tetap saja mereka kekeh. Begitu pramugari pergi tulat tulit lagi padahal pesawat sudah nyaris terbang. Payah.
Super driver...

Okey deh, berikutnya bicara soal alat transportasi darat saja.

Pertama, bis umum. Yang banyak terlihat bis 'kotak-kotak' kayak bis yang sudah tua. Dari Bandaranaike International Airport, bis bisa jadi pilihan untuk menuju kota Colombo, tapi tidak untuk yang baru tiba di bandara petang dan malam. Bis semacam ini juga menghubungkan kota-kota yang ada di Sri Lanka, menjadi alat transportasi murah meriah bagi umum. Ohya, sopir di negara ini hebat-hebat. Gas pol, rem pol. Pertama kali naik aku pegangan erat, merem dan doa. Ngebut nian.

Pilihan kedua untuk menjangkau kota-kota di Sri Lanka adalah kereta api. Aku lihat rel-rel kereta api menjadi sarana untuk ini dan terus di bangun oleh pemerintah setempat hingga daerah pelosok. Misalnya waktu jalan ke Madhu dan Mannar, di beberapa tempat sedang disiapkan atau tengah dibangun rel kereta api ini.

Pilihan ketiga untukjarak pendek adalah three wheels alias bajaj. Di jalanan manapun kendaraan roda tiga ini aku lihat sedang jalan atau parkir. Aku curiga kendaraan ini bukan hanya untuk umum tapi sebagai kendaraan pribadi karena aku lihat banyak parkir juga di tempat-tempat yang bukan umum. Sayang aku lupa tanya.

Selebihnya, kendaraan pribadi berupa mobil cukup banyak di daerah perkotaan, tapi di pedesaan jarang banget kelihatan. Juga sepeda motor. Sangat jarang. Sepeda ontel atau jalan kaki masih sangat biasa dilakukan khususnya di pelosok-pelosok, dan ini sangat menyenangkan dilihat. Jalanan yang sempit tidak terasa menyulitkan karena memang masih sepi. Semoga mereka tidak berkembang seperti Indonesia yang komsumtif dan egois. Semoga mereka tetap fokus pada kendaraan massal macam bis dan kereta api sehingga tidak perlu macet dan banyak polusi. *** (Bersambung)

Tuesday, September 17, 2013

A part of Sri Lanka 3 : Hoppers and curry

2 ps hoppers with fried rice noodle, spicy chicken, etc.
 (Kisah sebelumnya.)

Apa makanan yang paling aku suka di Sri Lanka? Jawabannya : hoppers atau appa. Ini kalau di Jawa semacam apem atau serabi. Dibuat dari tepung beras dengan ragi, dipanggang di atas arang. Rasanya agak gurih sedikit, sangat enak dimakan dengan spicy chicken, fried rice noodle and sayuran macam salad atau acar. Kalau pun hanya ditemani telur ceplok atau sosis goreng pun mantap. Bahkan tanpa tambahan apa-apa pun sangat okey. Hmmm, sedap.

Apa makanan yang paling tidak aku suka? Tidak ada. Seperti biasanya aku suka makan apa pun yang tersedia, yang memang bisa dimakan. Tapi sejujurnya aku agak bermasalah setelah beberapa hari ada di Sri Lanka soal spicy curry yang muncul di semua menu. Tentu saja aku suka kari. Makanan dengan bumbu kari itu nendang banget deh. Kental, kaya akan rempah, sangat berasa n bau yang sangat kuat tajam. Tapi kalau setiap kali kecium bau kari, rupanya dampaknya tidak terlalu bagus buat perut. Hehehe...

Bahan makanan di Sri Lanka sangat variatif. Karena letaknya di garis equator, sama seperti di Indonesia, banyak nian variasi tanaman yang bisa disantap. Sayuran dan buah bisa ditemukan dengan mudah. Mereka sangat suka rasa pedas. Ini bisa terasa di hampir semua masakan. Setelah beberapa hari, jenis tumis pedas inilah yang jadi pilihan untuk ambil dengan menyisihkan kari. Jika tidak ada dan hidung sudah dijejali bau kari, yang paling ok adalah makan buah sebanyak-banyaknya dan kalau untung bisa mengambil roti tawar jika tersedia. Untuk menjaga stamina, sarapan segelas susu wajib hukumnya. Ini membuatku bugar terus selama perjalanan.

Beberapa jenis snack dari umbi atau tepung sangat mirip dengan di Indonesia. Tapi lagi-lagi, mereka suka sekali dengan rasa pedas dan rempah-rempah. Sehingga donat pun aku sebut rasa kari karena irisan bawang, cabe dan kumpulan bumbu rempah di dalamnya. Huft...

Harga makanan? Aku kira sebanding dengan harga di Indonesia. Tidak lebih murah tidak lebih mahal. Jika memang harus lama di Sri Lanka, aku kira aku masih bisa makan nasi gorengnya, nasi briyani, terung pedas, ayam goreng pedas selain segala jenis buah yang bisa ditemukan dengan mudah. Pilihan lain : bawa mi instan dari Indonesia untuk dimakan kalau sudah bosan dengan kari. Hehehe... (Bersambung)

A part of Sri Lanka 2 : Saree

Kisah sebelumnya

Masuk ke pesawat Airbus A321 milik Mihin Lanka airlines, anak perusahaan Srilankan Airlines serasa sudah masuk ke Negara Republik Sosialis Demokratik Srilanka sendiri. Pesawat ini sudah menyodorkan Sri Lanka dengan penampilan para pramugarinya. Mereka memakai baju model sari (saree) warna biru, rambut digelung cepol, dan senyuman yang Srilankan banget deh.


Begitu masuk Bandaranaike International Airport di Colombo sari menjadi pemandangan khas di sana sini. Begitupun di sepanjang jalan mulai dari bandara hingga Kandy. Para gadis dan ibu mengenakannya dalam berbagai model. Di jalanan mereka mengenakannya dengan santai banget, ndak kelihatan ribet. Namun apapun warnanya dan siapapun yang mengenakannya, aku selalu menganggap sari membuat anggun pemakainya.

Di kesempatan pertama besok harinya di Kandy City, aku pun hunting sari. Pengin banget punya dan memakainya. Acara masih akan dimulai petang hari, jadi ada cukup waktu untuk mendapatkan minimal satu sari untuk diriku sendiri. Di sebuah toko aku mendapatkan sari dengan warna yang kusuka dan harga yang sangat murah, sekitar LKR 1.000 untuk selembar sari dan sepotong baju atasannya. Jika dikurskan ke rupiah tidak sampai 100 ribu RP. 1 LKR = 130 RP.

Pelayan toko dengan senang hati mengajariku cara memakai sari.
Mula-mula pakai dulu baju atasan dan jangan lupa memakai rok dalam, legging atau celana pendek. Atasan biasanya shirt ketat yang pendek hanya menutup dada dan pundak. Jelas akan kelihatan bagian perut dan punggung. Tapi baju atasan ini bisa juga menggunakan macam-macam model. Aku lihat perempuan-perempuan menggunakan banyak variasi untuk ini. Di bagian ujung lembaran sari yang dibeli biasanya ada sekitar 1 meter kain yang bisa dipotong untuk membuat atasannya  sehingga dapat serasi dengan sarinya.

Tahap kedua, lilitkan kain sari, ikat kuat di pinggang, buat lipatan-lipatan (bisa 7 atau 9 lipatan kata si pelayan toko) lalu selipkan di bagian perut. Sisanya lilit sekali ke belakang lalu disampirkan ke bahu seperti selendang. Bisa dirapikan tertumpuk di pundak, atau dibiarkan lebar atau bisa juga dipakai sebagai kerudung.

Lihat hasilnya. Walau kurang rapi, kelihatan anggun kan? Hehehe...maksa. (Bersambung)

Saturday, September 14, 2013

A part of Sri Lanka 1 : Preparation

Aku mesti menulisnya karena ini akan jadi kenangan penting dalam hidupku (ceile). Jadi aku memulainya hari ini. Akan aku bagi dalam beberapa bagian dengan menampilkan detil-detil. Of course pertama-tama bukan untuk kepentingan orang lain tapi untuk diriku sendiri. Seperti yang kukatakan, perjalanan ini adalah kenangan penting dalam hidupku.

Munculnya kemungkinan adanya perjalanan ini adalah undangan dari ACPP Hongkong pada bulan Juli lalu lewat emailku. Mereka berharap kehadiranku atau wakil dari organisasiku atau wakil dari jaringanku untuk kegiatan mereka di Sri Lanka. Jadi sebetulnya kesempatan ini bukan semata-mata untuk diriku sendiri. Tapi dari awal aku sudah memilih untuk mengambilnya bagi diriku sendiri walau aku belum memastikannya lebih dari 50 % karena hal-hal teknis yang menyertai.

Yup! Sri Lanka! Ini tujuan yang tidak biasa. Sangat jarang orang menyebutnya sebagai tujuan wisata atau rekreasi. Aku sendiri sangat terobsesi India karena Rm. Mangun, Mdr. Teresa, Shah Rukh Khan dan Arundati Roy dan aku berpikir Sri Lanka sangat dekat dengan India dari sisi apapun. Jadi ini langkah pertama untuk mendekati India.

Persiapan pertama adalah lobbying ke banyak pihak. Lembagaku tidak punya dana untuk ini dan aku paham aku tidak akan mendapat support. Jadi aku jujur pada ACPP tentang situasi ini. Saat aku kirim ke mereka juga aku sertakan perkiraan dana yang dibutuhkan untuk perjalanan semacam itu PP Lampung - Jakarta - Colombo. Kejutannya, jawaban ACPP sangat positif. Mereka tidak memintaku untuk membayar akomodasi sedikitpun, dan seluruh tiket PP Jakarta - Kolombo akan mereka cover. Ini menambah peluangku untuk pergi.

Kedua, aku mulai lobbying pihak-pihak lain untuk mengatasi biaya-biaya lain seperti visa, airport tax, penerbangan domestik, transport lokal, kemungkinan menginap tambahan di Colombo jika diperlukan dan sebagainya. Aku lagi bokek berat dan tidak mungkin memakai uang keluarga untuk kepergian sendiri semacam ini. Bersamaan dengan itu aku mulai browsing segala hal tentang Sri Lanka. Mungkin ini akan jadi perjalanan sendirian yang bisa jadi menyesatkan. (Terimakasih untuk Sister Aquina yang amat sangat mendukungku. Thank you very much, sister.)

Ketiga, mulai booking tiket Jakarta - Colombo PP, konsultasi dengan ACPP karena mereka gak akan biayai lebih dari 700 USD sembari ngurus visa. Sejak tahun ini WNI mesti apply visa di Indonesia jika mau ke Sri Lanka (dulu bisa visa on arrival). Urusan ini ternyata sangat mudah. Mihin Lanka anak penerbangan Srilankan Airlines menyediakan penerbangan budget rendah seharga 669 USD untuk Jakarta - Colombo PP. Jadi masuk dalam anggaran ACPP dan mereka ok. Raptim membantuku untuk urusan ticketing ini dengan sangat rapi. Sedang pengurusan visa aku bisa lakukan dengan masuk ke www.eta.gov.lk secara online dan untungnya pembayaran bisa dilakukan dengan debit card yang kupunya (awalnya aku kuatir karena aku tidak punya kartu kredit).

Keempat, mulai persiapan tiket Lampung - Jakarta PP, browsing detil-detil yang diperlukan, dan yang paling utama menyiapkan makalah dua halaman tentang hak asasi manusia berdasarkan ASG dan realitanya. Hanya sharing pendek yang mereka harapkan bisa aku presentasikan saat di Sri Lanka. Bahasa Inggrisku yang kacau kampungan mesti kupamerkan dengan rendah hati. (Saat kukirim, kusertai catatan pendek meminta panitia untuk mengeditnya. Tapi mereka menjawab tidak ada masalah apapun, semua bisa dipahami walau grammarnya berantakan. Hehehe...)

Kelima, bagian akhir persiapan adalah nyiapin rumah bersama Den Hendro, Albert dan Bernard tentang makanan dan ini itu selama aku pergi. Juga menukar rupiah ke dolar Amerika yang sedang melambung tinggi (1 USD = Rp. 11.600,-). Bangkrut pokoke. Aku hanya membawa 300 USD. Itu cukup untuk pegangan dan tidak niat untuk dibelanjakan. Juga menulis alamat-alamat penting yang mungkin dibutuhkan. Ini wajib dikerjakan karena di sana nanti aku akan mandiri sendiri gak bisa bergantung pada orang lain. Dan bagian terakhir, packing. Hanya perlu 1 ransel yang biasa menemaniku. 8 baju atasan untuk 8 hari, 1 celana panjang, 1 celana selutut, 1 rok, satu stel baju tidur, handuk, dan baju dalam 16 stel. Plus 1 pak pembalut, 2 pak tisu kering, 2 pak tisu basah dan alat kebersihan lengkap. Karena panitia sudah mengatakan tidak ada acara resmi aku hanya membawa kostum santai, dan sepatu gunung.

Okey, ini harus menjadi perjalanan nyaman. Dan sebelum Sriwijaya Air menerbangkanku dari Raden Inten II, aku sungguh merasa nyaman. ***(bersambung)

Monday, September 09, 2013

Play No Game

hujan pagi hanya mendatangkan rindu
pada sebentuk kulum rayu di kamar sebelah
beberapa menit untuk membuktikan
bukan permainan tapi asyik dimainkan
pada tanganmu, pada tubuhmu, pada wajahmu
pada bibirmu, pada bukan hatimu

bisa jadi akan datang gerimis lain
di kemudian hari siapa bisa sangka
ini bukan permainan
hanya asyik dimainkan
di letihnya perjalanan

(Kandy, 9 September 2013, untuk seseorang di kamar sebelah)

Saturday, August 24, 2013

Hanya Pekerja

Kita tak dapat melakukan segala sesuatu,
dan ada perasaan yang memerdekakan kala kita memahaminya.
Hal itu memampukan kita melakukan sesuatu,
dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Mungkin tidak lengkap, namun itulah suatu awal,
sebuah langkah sepanjang perjalanan,
suatu peluang supaya rahmat Allah bisa merasuk,
dan melakukan selebihnya.
Kita mungkin tak akan melihat hasil akhirnya,
tetapi itulah perbedaan antara
Pencipta dan pekerja.
Kita adalah pekerja, bukan Pencipta,
pelayan bukan Mesias.


† Uskup Agung San Salvador Oscar Romero-

Friday, August 23, 2013

Bulan Duduk

andai aku tidak pernah dicemari
aku yakin bahwa bulan sedang duduk di pohon pisang
dengan senyum bulat memutar pedal
membuat arum manis
yang ditawarkan padaku
juga ditawarkan padamu
andai saja kita mau memandang
ke atas, ke langit malam ini.

Tuesday, August 20, 2013

Melihat Aku

dalam embun setitik
bergayut di ujung daun
gemetar menatap tanah kering
yang siap menyerap.

Wednesday, August 14, 2013

Mimpi Bau Kemuning

Dari jendela kamar ini tanah berembun di bawah sana tak terjangkau.
Kegelisahan dimulai saat helai kemuning pertama rontok oleh angin berayun.
Jika aku bisa membuka jendela, loncatan pasti membuat kakiku patah,
sebelum menyeret tubuh menangkap helai kedua atau mungkin kesejuta.

Aku memastikan dompet sudah di saku dan kerudung menutup kepala.
Gerendel jendela hanya setinggi hidung dengan lumas yang menetes.
Tak ada derit, hanya angin awal musim penghujan masuk menyertai sibakan.

Seseorang di seberang jalan melambai dan menunjuk pada kemuning.
Dia sahabat pertama yang tersenyum tanpa janji menopang tubuhku.

Jika aku tidak jatuh saat ini, yang kudapat hanya ruang mati
dan diriku sebagai orang asing.

Wednesday, August 07, 2013

Ketupat

aku merangkai kenangan lewat anyaman janur
aku masukkan kerinduan dan beras yang lebur
embah yang sudah mengajarku menarikan jari-jari
kembali hidup dalam ketupat hari ini

Tuesday, July 30, 2013

Ndre, selamat jalan.


Andreas Soejanto 

Aku baru bisa menulis tentang kabar duka ini sekarang, setelah beberapa minggu berita duka itu kuterima. Tepatnya tanggal 13 Juli 2013, sahabatku, Andreas Soejanto, alias Andre sudah berpulang pada Sang Penciptanya di Rumah Sakit Lavalette, Malang dan dimakamkan di kampung kelahirannya Blitar. 
Mendengar kabar itu pertama kali sungguh tidak percaya. Setahun setengah yang lalu aku bersama suami dan anak-anak mampir ke rumahnya di Blitar dan dia sungguh ceria sehat dan segar menyambut kami. Ah, kematian selalu tak terduga.
Tapi Andre, alias Bondet, tak mungkin begitu saja bisa dilupakan. Dia sahabat yang baik saat aku mengalami masa-masa sulit di jaman tertentu di tahun 94 - 96, atau mungkin juga sebelum dan sesudahnya. Ndak, dia gak melakukan apa-apa. Malah mungkin dia hanya pengganggu karena datang ke kostanku dengan maksud ini itu, minta dibantu ini itu dan sebagainya. Jangan curiga, kami benar-benar hanya teman atawa sahabat. Tapi selama dua tahunan itu aku, Andre, Aat dan Dina menikmati persahabatan yang menyenangkan, yang mungkin tidak disangka oleh orang lain.
Bisa jadi kami sering dianggap double couple date atau apalah. Atau juga persahabatan itu malah tidak terendus oleh siapapun. Setiap dari kami ulang tahun kami pasti menyempatkan berempat nonton film dan makan. Bisa jadi aku sedang dimanfaatkan dua cowok dan 1 cewek ini, tapi really it's fun. Mereka bertiga dengan kompleksitasnya (hehehe) masing-masing sangat menghiburku. Saat itu aku jomblo dan sedang ndlosor karena patah hati yang kubuat sendiri. Patah hati karena kebodohan sendiri. (Huh, sebel kalau ingat.) Dan mereka bertiga menawarkan persabahatan yang manis. Aku menampung kisah dari curhatan masing-masing orang dan aku mendapatkan banyak inspirasi dari situ.
Setelah satu persatu dari kami mendapat tumburan atau gandengan atau kegalauan atau pilihan melangkah lebih maju, kami semakin renggang. Kadang aku jalan sendiri dengan Dina, kadang dengan Andre saja atau dengan Aat sendiri. Tapi jelas kami tidak bisa lagi jalan berempat begitu masuk tahun-tahun kami menjelang kelulusan kuliah. Hingga kemudian kami lepas kontak sama sekali. Aku sibuk dengan pekerjaan baruku dan pacar baruku (yang kemudian jadi suamiku), Dina masih berkutat di kampus lalu sibuk dengan dunianya, Andre gak ketahuan kabarnya hingga kutahu kemudian dia menikah dan tinggal di Blitar, dan Aat hilang seperti ditelan bumi setelah mengirim kartu entah lupa untuk moment apa.
Kami tersambung lagi walaupun tidak bertemu fisik dalam suasana yang jauh berbeda. Masing-masing dari kami terpisah jauh ke pulau-pulau berbeda, dengan dinamika yang luar biasa. Aku merasa tidak ada satu pun dari moment persabahatan kami yang patut disesalkan. Semuanya indah. Lalu kabar meninggalnya Andre menjadi penguat memori itu.
Terimakasih, Andre. Hidupmu sama sekali tidak sia-sia. Dalam porsi yang cukup kau berikan juga untukku.  Salam dan doaku dari peziarahanku yang belum selesai. Damailah kau di sisi Penciptamu. Selamat jalan, sahabat.

Wednesday, July 17, 2013

Menunggu Rumah Baru

Hujan merobohkan rumahku                                                                  
menyisakan bongkah pondasi
cerangah ceringih seperti gigi susu
tinggal digoyangkan kanan kiri

lalu tak ada lagi yang sisa.
Sementara aku tidur di semesta
menyewa sejumput tanah
sementara aku perlu berpijak.

Monday, June 24, 2013

Tape ketan dari koperasi

Tiga hari kemarin aku ikut kursus dasar koperasi kredit (kopdit) yang diselenggarakan oleh Kopdit Mekar Sai Lampung, 21 - 23 Juni 2013 di aula atas kantor kopdit tersebut. Acara yang sederhana dan sangat mendasar, namun bisa kukatakan dikemas dengan metode yang menarik dan hasilnya, ... aku tambah pinter. Hehehe...
Aku mengenal kata koperasi dari jaman kecil dulu. Bapak ibuku sebagai guru menjadi anggota aktif koperasi pegawai negeri (KPN) Kecamatan Grogol Kediri Jawa Timur. Bisa disebut aktif karena soal simpan pinjam tak akan abai, terus simpan dan terus pinjam, dan selalu rajin ikut rapat anggota tahunan (RAT). Awalnya sih aku tidak bisa mengaitkan itu dengan ekonomi keluarga kami waktu itu. Setahuku, kalau bapak atau ibu rapat koperasi artinya aku akan dapat oleh-oleh tape ketan. Rapat koperasi itu sama dengan tape ketan. Itu aja.
Kenapa tape ketan? Karena aku memang suka tape ketan dan segala turunannya (macam madumongso, badeg, hingga arak. Hehehe...) Dan ada jenis tape ketan tertentu yang hanya bisa didapatkan di kota kecamatan jaman itu, yaitu tape ketan yang 'modern'. Kalau di sekitar rumah, orang menjual tape ketan dalam bungkus daun pisang, nah di Gringging, atau kota kecamatan tape ketan itu dibungkus gelas plastik yang besar dilengkapi dengan sendok plastik. Porsi jelas lebih banyak dari tape yang dibungkus daun, dan seusai itu, gelas dan sendoknya jadi hadiah untuk main 'pasaran'.
Lalu semasa aku sudah SMA dan kuliah, aku semakin paham pengertian koperasi dan teorinya. Tapi tidak pernah sekalipun aku terlibat di dalamnya. Bagiku sama sekali tidak penting dan tidak ada hubungannya bagi kehidupanku.
Nah, mulai di Lampung tahun 2000, seorang bapak (sekarang almarhum) pak Mukani, yang berkantor di sebelah ruanganku di Keuskupan Tanjungkarang, setiap istirahat beliau datang ke ruanganku atau aku ke ruangannya, dan obrolannya selalu ujung-ujungnya tentang koperasi karena beliau ini bendahara di koperasi simpan pinjam Mekar Sai.
Tahun 2001 atau 2002, entah, aku lupa, aku mulai masuk jadi anggota koperasi ini hanya karena nggak enak sama pak Mukani. Tapi aku termasuk anggota baik lho, artinya aku selalu menyetor simpanan wajib dan jika ada lebih memasukkan juga ke simpanan sukarela.
Lalu, aku diajari pak Mukani untuk pinjam. "Kalau gak butuh duit, ya hasil pinjaman masukin lagi jadi tabungan." Haaa, rupanya inilah yang kemudian menjadi cara menarik. Pinjam, uang tidak diambil jadi simpanan dan aku bisa menabung dengan paksaan angsuran tagihan hutang. Itu yang kemudian kukerjakan.
Dan kemudian karena ajaran meminjam ini berhasil, maka aku pun memakai fasilitas ini untuk keperluan mendesak atau tidak mendesak.
Dan dalam kursus dasar baru lalu, aku terteguhkan. Ketika aku pinjam uang, artinya aku berkontribusi bagi kelangsungan hidup koperasi dan seluruh anggota yang lain. Jadi, aku tidak boleh macet mengangsur karena ini menjadi bagian kontribusi yang penting atas kepercayaan mereka menggunakan uang mereka.
Ssst, untuk angka tertentu sampai puluhan juta aku tidak perlu agunan lho, karena tabungan yang kupunya di koperasi adalah agunan yang paling mujarab. Ini semacam meminjam uang sendiri tanpa kehilangan uang. Jadi, mulai saat ini, aku bukan lagi anggota yang mengharapkan 'tape ketan' dari koperasi, tapi aku akan menawarkan 'tape ketan' itu untuk orang lain dan mengajak untuk ikut menikmatinya. Kalian mau?

Thursday, June 20, 2013

Episode Il Passetto

Omong kosong cinta ditabuh,
hanya ada gigi menancap,
dalam kabut seusai subuh,
terjaring balon perut rayap.

Sakitku adalah pelangi pagi,
di putaran muda matahari,
hanya perlu luap air mata,
dan ruang melesatkan kata.

Jangan pernah menjemput,
aku masih di tengah Il Passetto,
jongkok menguatkan kasut,
sendiri bermain kerucut tornado.

Tunggu perjumpaan di corridori,
saat cawan-cawan sudah terisi,
mungkin mukjijat akan terulang,
membagikan roti bukan belulang.

Monday, June 17, 2013

13 Tahun Lalu

Selembar inilah yang kami sebarkan waktu itu. Memakai kertas coklat daur ulang, dilipat dua kali, memakai amplop dengan jenis kertas yang sama, dan dicetak 250 untuk handai tolan, para sahabat dan saudara. (Harganya hanya sekitar Rp. 350,- per ekslemparnya.)
Segalanya model adat Jawa dengan peran dari banyak orang. Paklik Tar (alm) dan Kung Sodi (alm) yang mengedit bahasa Jawa untuk undangan dan buku upacara, pak Pur yang melatih gamelan dan paduan suara dalam bahasa Jawa, bu Lurah sepuh yang merias wajah kami dan menata upacara adat perkawinan Jawa, Romo Harjanto yang memberi berkat sakramen, bapak ibu Samiran yang menjadi ketua penyelenggara (sehingga semua indah), bapak Suliham yang memberikan dukungan total, pak puh No (alm) yang membuat semuanya menjadi lebih meriah plus kelompok campur sarinya, bulik Sih, bulik Nik, bulik Sri dan bu puh Rin yang menjadi seksi-seksi dari dapur sampai tarub. Mbak Lis yang menjahit berminggu-minggu ratusan souvenir berbentuk tempat tisu, Heng yang memberikan rangkaian bunga pengantin mawar orange, Mas Pris (alm), Ninik, dan Atik yang memberikan perhatian penuh beberapa hari, seorang sahabat di Malang Post yang membuat karikatur di undangan (siapa ya namanya. Aduh, maaf teman, aku lali), keluarga besar Kediri, keluarga besar Senduro, para ibu yang berhari-hari setia memenuhi dapur dengan celoteh hingga akhirnya seluruh rawon, rames, puding, dan segala kue-kue siap untuk hantaran dan sajian, para bapak yang 7 hari full berjaga malam, angkat, angkut, plus main kartu biar melek, dan juga banyak orang lain lagi.
Hari ini 17 Juni 2013, sudah berlalu 13 tahun peristiwa itu. Aku ingin mengenangnya secara khusus untuk mensyukurinya dan untuk mengembangkan cinta dalam keluarga kami yang sudah berjalan 13 tahun. Terimakasih untuk Sang Pencipta, semua orang dan alam semesta yang sudah membantu kami hidup hingga sekarang ini.

"Katresnan dan kasetyan muga aja ninggal kowe, iku kalungna ing gulumu, catheten ana ing papaning atimu, temah kowe bakal oleh sih lan dadi kajen ing ngarsaning Allah lan ana ing ngarep menungsa." (Wulang bebasan, 3 : 3 - 4)