Wednesday, June 17, 2009

Malam Menyata

Pernah malam mewujud menjadi gumpalan benda padat yang bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Tentu saja aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memenuhi keegoisan yang sudah mengaumkan hasrat. Aku menikamnya hingga tidak lagi berjalan, dan memaksanya berbaring telanjang. Angin masuk lewat pori-porinya hingga badannya membengkak. Aku memakainya menjadi tilam mimpi dan menindih memaksanya tetap diam. Jangan berlalu.

Tapi tidak berdaya.

Malam punya kekuatannya sendiri yang justru pada maya. Tidak bisa dipaksa kekal karena seberkas cahaya pun membuatnya mencair dan kemudian menyublim lenyap tak lagi bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Justru karena tidak nyata, maka aku menyebutnya malam. Justru karena kemayaannya maka malam dapat memelihara dunia.

Semoga tetap menjadi malam, yang maya.

Malam menyata, cukup.

Friday, June 12, 2009

Jatuh Cinta Lagi Pada Letto


Sampai nanti sampai mati

kalau kau pernah takut mati, sama
kalau kau pernah patah hati, aku juga iya
dan seringkali sial datang dan pergi
tanpa permisi kepadamu
suasana hati tak perduli

kalau kau kejar mimpimu, kau slalu
kalau kau ingin berhenti ingat dimulai lagi
tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati

kadang memang cinta yang terbagi
kadang memang
seringkali mimpi tak terpenuhi
seringkali

tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti
tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati

sampai mati

Tuesday, June 09, 2009

Brown and Browny

Tanggal 8 Juni 2001, delapan tahun yang lalu aku melahirkan Albert. Pengalaman pertama yang excited bagi ibu muda seperti aku. Dia lahir dalam suasana sangat sibuk karena aku sedang dalam proyek pembuatan buku. Di puncak klimaks kesibukan. Aku ingat dengan perut membuncit masih memelototi komputer 6 - 7 jam tiap hari. Mengkoreksi setumpuk naskah, pontang-panting pinjem printer berwarna dan menggarap foto-foto. Untungnya aku 'ngebo', tidak pake ngidam, mabuk, muntah dll. Pokoke tak terasa susah. Cuma mungkin kurang gizi, kebanyakan pikiran, dalam masa kehamilan itu dua kali aku pingsan, hah memalukan pokoknya. Perut sangat besar dan digotong entah siapa dan berapa orang.
Saat proses melahirkan sangat mendebarkan, menyeramkan. Dan laammmaaaa...lebih dari yang dijadwalkan. Selain umur janin sudah lebih dari waktunya (sudah diancam Dr. Idris kalau seminggu lagi gak keluar akan dioperasi) juga saat melahirkannya, bayinya nyantol, hehehe...tidak mau keluar. Aku kurang tenaga, kurang energi.
"Ngantuk, suster. Aku mau tidur." Gitu aku bilang beberapa di sela-sela proses melahirkan. Rasanya capek, ngantuk, malas, hanya ingin tidur. Hasilnya aku digebukin eh ditamparin dicubitin para suster, dibikinin teh dan diinfus. Diteriakin beramai-ramai gak boleh tidur. "Kalau kamu tidur tadi pasti gak bangun lagi," gitu kata suster Irma. "Kamu ini pasti gak pernah kerja pas hamil." Tentu saja aku protes, la kemarin aja aku masih ngantor. "Maksudnya bergerak, tidak kerja duduk saja." Ooo, ya memang.
Albert adalah bayi paling cantik sedunia. Kulitnya bersih putih, berat 3,35 kg dan panjang 49 cim. Kepalanya panjang akibat aku berhenti mengejan, tapi pulih setelah 24 jam tanpa diangkat. Aku tertawa berlinangan air mata saat badannya yang mungil ditaruh diatas dadaku sembari dipotong tali pusarnya. Segala sakit hilang blas.
Nah, bayi cantik itu sekarang sudah 8 tahun.
"Aku 9 tahun, ibu. Tidak mungkin sebesar aku masih 8 tahun. Teman-temanku saja yang kecil sudah 9 tahun." Sepanjang hari kami berdebat soal itu sampai akhirnya aku menyerah. Ya sudah, selamat ulang tahun ke 9. Tapi buktikan kalau memang sudah sebesar itu. Gak papa umur 9 tahun berlaku untuk 2 tahun.
Brown dan Browny? Ohya, hampir lupa. Mereka berdua adalah kado ultah untuk Albert. Sepasang burung merpati. Anakku ini memang...entahlah, yang diminta selalu yang aneh-aneh. Tahun lalu minta ayam,"Gak usah dirayain, bu. Uangnya untuk beli ayam saja, dipelihara." Tahun ini dia minta sepasang merpati yang bisa di'klepek'. Sesorean aku dan dia keliling Bandarlampung mencari merpati. Dapat di pojok Pasar Bawah dengan harga 85 ribu sepasang, berwarna coklat, kehitaman. Dia beri nama Brown dan Browny.

Thursday, June 04, 2009

Panggung Pertunjukan

Aku ingat dari kecil aku suka melihat pertunjukan. Di lapangan dekat rumah Kediri, setiap ada ludruk atau ketoprak pasti aku akan merengek minta nonton. Apalagi kalau yang main Wijayakusuma, Siswobudoyo, Kartolo dll. Harus minimal satu atau dua kali nonton. Tidak bisa tiap hari, karena harus belajar, jatah duit terbatas, gak ada yang bisa menemani dan berbagai alasan dari bapak ibu. Maka bapak dan ibu akan memilihkan kira-kira hari apa bisa menonton bersama. Judul yang mana yang akan main seperti Jaka Tarub, Anglingdarma, Sam Pek - Ing Tay, Lutung Kasarung, Tuyul dan Mbak Yul eh bukan ya...
Nah intinya aku akan terpesona berat memandang panggung pertunjukan. Aku suka yang terang gemerlap bercahaya. Jadi ingat kalau bapak ibu sering cerita kalau aku suka melihat pelaminan kalau diajak kondangan pernikahan. Ada fotoku usia 2 atau 3 tahun digendong bapak yang membuktikan cerita itu. Dalam gendongan bapak, dengan mata sembabku habis nangis karena kata ibu sebenarnya mereka malu mengantar aku dekat pelaminan yang didatangi ratusan tamu apalagi tamu terhormat, namun berbinar melihat yang gemerlap. Karena aku maksa nangis gak berhenti-henti maka bapak menggendong aku untuk maju dekat pelaminan melihat janur, bunga, lampu dll, dan seorang teman bapak mengabadikan peristiwa itu.
Hingga remaja saat aku yang introvert pendiam, pun bisa terpana berjam-jam melihat panggung gemerlap. Ludruk dan ketoprak sudah semakin jarang, tapi ada panggung-panggung lain. Semakin banyak jenisnya dengan bertambahnya usia dan pengalamanku.
Saat ini pun aku masih suka melihat panggung pertunjukan. Tempat yang lampunya kelap-kelip kadang menyala kadang gelap dengan frekwensi dan jeda yang tidak tentu. Dengan benda-benda penghias di situ dan juga orang-orang yang bergerak kesana kemari dengan irama dan suara yang sudah ditata. Sesekali terwakili pada film-film, drama, teater, konser dsb.

Ada satu panggung yang sekarang ini sedang aku lihat. Panggung kelabu tak ketahuan warnanya karena cahaya sedang diredupkan. Beberapa benda mati kaku gagu di beberapa sudut. Dan tokoh yang di tengah panggung adalah...diriku sendiri. Hilir mudik memenuhi panggung dengan segala suara. Dan satu-satunya penonton adalah...diriku sendiri. Duduk terpaku diam menahan kecewa karena sangat buruknya pertunjukan.

Friday, May 15, 2009

Kelabu

Banyak kali aku merasakan kelabu, karena aku memang manusia kelabu. Tapi setiap kali sedang mengalaminya aku benar-benar...kelabu. Tanpa tangis di pelupuk terlihat tapi perih di dada, tepat di inti hatiku. Kelabu.

Conspiracy (5)

(Kisah sebelumnya.)
Aku adalah seorang putri. Seorang lady. Seorang ratu. Yang berkuasa atas tanah-tanah mimpi, pulau-pulau puisi, dan samudera seni. Aku berkuasa atas kaki langit dan puncak gunung. Dalam gaun perak aku bisa bergerak ke segala arah dengan kereta tujuh kuda. Kuda-kuda yang bersayap. Yang berwarna-warni.
Istanaku adalah segala manik perhiasan pecahan bintang yang diambil dari kantong-kantong bidadari. Hangat tanpa punya musim dingin beku. Bahkan hujan adalah keindahan.
Aku mempunyai laskar berlaksa berjuta yang mengabdi penuh dengan kepala tunduk hanya padaku. Mengurut jemariku mencipta nyanyian asmaradana, membimbing bibirku berteriak kegairahan, dan menyiram rambutku dengan minyak rindu.
Akulah penguasa seluruh alam dengan bala tentara air, tanah, api dan udara. Aku penguasa segala itu. Dan kini permintaanku cuma satu : Aku mau Dew!
...
Entah berapa kali Brain memimpin rapat-rapat itu. Aku sengaja menyisih di pojok tamanku, tidak mau bergabung dengan mereka. Laporan Brain aku tanggapi dengan kemarahan tidak sabar. Senyuman Heart aku masukkan ke keranjang sampah. Aku tidak butuh segala remahan itu. Aku mau kaki yang melangkah dan tangan yang bekerja.
"Putri, mereka berkianat..." Suara bisikan seperti siul di telinga. Itu angin, yang jutaan anak-anaknya diberi makan dan tidur di istanaku.
"Putri, mereka berkianat..." Siulan yang sama. Aku mengibaskan tanganku menyuruh mereka pergi. Mereka tidak punya telinga, tidak mungkin aku ajak bicara. Dan darimana bisa menuduh para panglimaku berkianat kalau mereka tidak punya telinga.
"Putri, mereka berkianat..." .... (Bersambung)

Wednesday, May 13, 2009

Gunung tanpa puisi

Gunung tanpa puisi? Itu tidak mungkin. Kaki-kaki gunung pun berpijak pada jutaan puisi, apalagi lereng dan puncaknya. Gunung selalu penuh puisi. Pasti!

Tuesday, May 12, 2009

Gunung Tanggamus


Kerinduan akan gunung terobati pada Gunung Tanggamus. Gunung setinggi 2.400-an m dpl ini terletak di Kabupaten Tanggamus, sekitar 80 km dari Kota Bandarlampung. Sebelum berangkat sudah ada beberapa cerita dari gunung ini. Selain merupakan gunung tertinggi kedua di Lampung, juga menjadi peternakan 'pacet', hiii...
Tapi okey saja, siap untuk jalan. Naik bis dari Jl. Pramuka, siap berdesak-desakan dalam bis ekonomi. Pilihan ini (dibandingkan naik bis ac yang nyaman) tetap merupakan pilihan yang asyik untuk sebuah rombongan. Sekitar 2 jam, turun di Pasar Gisting. Jalan ke pos dadakan pertama, yaitu rumah Pak Yakup, bapak dari seorang rekan. Pak Yakup terbengong sekilas melihat rombongan tanpa kabar ini tapi kemudian menyuguhkan tahu goreng dan teh hangat. Uah, tepat nian untuk perut yang lapar.
Istirahat sebentar lalu lanjut. Rencana akan berkemah di base camp Sonokeling, sekitar 1 jam perjalanan dari ujung jalan aspal. Jalan langsung mendaki, kanan kiri kebun sayur, kol, kopi, ketela, dan juga suara sapi atau kambing. Beberapa menit sempat terpaku karena suara gemuruh disertai segala bunyi binatang dari segala penjuru. Ada apa? Petani yang melintas mengatakan ada angin puyuh yang sedang lewat. "Mboten udan, kok. Namung angin niku." (Tidak hujan kok. Hanya angin itu.) Tapi ya serem.
Base camp merupakan lereng yang keren, dekat mata air pula. Di ketinggian 700 m dpl ini, pemandangan cantik nian. Terasa nyaman. Dingin sih, tapi rasanya aku akan betah di tempat ini hingga beberapa minggu, atau bulan... Dan, ada gubuh Mbah Di di dekat situ. Mbah Di ini merupakan bapak dan mbah para pendaki Tanggamus. Setiap pendaki pasti mampir. (Tuh, fotoku di atas itu saat ngelesot di sofa lincak depan rumah mbah Di yang semilir usai pendakian. Yang samping ini seluruh rombongan ditambah yang motret usai sarapan di base camp.)
Sebagian barang dititip pada mbah Di yang memberi pesan,"Berapa orang yang ndaki? Dua belas? Agamamu apa? Agama apapun doa dulu sebelum dan selama perjalanan. Nanti jika sedang jalan ada yang merasa dipanggil cek jumlah rombongan, jika lengkap jangan menjawab. Sering ada kejadian orang kesasar kalau menjawab panggilan seperti itu. Ya, hati-hati."
Hemm, harus diikuti. Terimakasih, mbah.
Jalanan menanjak dengan kemiringan antara 20 - 45 derajat (beberapa tempat bahkan bisa 70 derajat), membuat nafas cepat tersengal. Hutan rimbun, tapi alamak...betul, peternakan pacet. Habis kaki diserap binatang pengisap darah ini. Geli, jijik, ilang dah... karena gak ada pilihan. Sekitar 3 jam perjalanan tiba di shelter, sekitar 1.900 m dpl. Agak landai dengan dua jalur air yang sejuk sedikit berlumut. Ah, ya sekitar situ memang biasa disebut hutan lumut, yang lembab dan berlumut tebal di pohon dan tanah. Bisa beristirahat, makan, ngisi cadangan air dan mesti siap-siap pada jalur sesudahnya yang semakin miring terjal. Diperkirakan sekitar 30-45 menit lagi sampai puncak.
Ah, mendadak cuaca sangat buruk hujan angin gelap, waduh. Jalan semakin merambat, dan akhirnya menyerah pada satu titik (Kata Titis tinggal 10 - 15 menit lagi puncaknya. Tapi dalam cuaca seperti itu sangat berbahaya jika pun berada di puncak. Tidak mungkin juga berkemah di situ.). Maka menahan kecewa, kami pun turun dengan sangat hati-hati karena licin dan sesekali membungkuk melepas pacet yang menempel di kaki, hingga berdarah-darah. Apalagi kalau tidak sengaja mencari pegangan pada rotan-rotan yang berderet sepanjang jalan, salah-salah kena durinya.
Tapi sungguh, gunung ini sangat keren. Suatu saat pasti datang lagi kesana. "Demi puncak!!!" Gitu kata Albert. Oh ya aku mendaki dengan Den Hendro dan anak-anak. Albert dan Bernard, menjadi kesayangan seluruh tim dan pemacu semangat mereka. Ya, mereka yang 6 dan 8 tahun itu bisa berjalan dengan riang gembira, bertanya ini itu, bernyanyi tanpa capek, sedang yang tua-tua sudah tersengal bahkan Wati turun lagi setelah satu tanjakan. Andi yang sudah pucat pun turun di tengah jalan didampingi Sinto. "Anak-anakmu jan potensial pendaki, mbak." Gitu Keling berkomentar. Titis dan Tri pun yang biasa mendaki gunung memberi aplus pada dua anak ini karena bisa mengikuti gerak langkah dengan kecepatan yang sama dengan mereka tanpa mengeluh. "Bernard ae bisa. Jadi aku pasti bisa," tandas Matea dalam jatuh bangun. Dan Bernard di depan terus berteriak,"Ayo terus, usaha. Tetap semangat." Dan mereka melaju terus sambil tengok kanan kirim kagum melihat alam, serta menikmati kebebasan semesta. Ya iya, boleh kotor, boleh teriak, boleh hujan-hujanan,...
Pasti, suatu saat kami akan merencanakan lagi pendakian seperti ini. Mungkin ke Gunung Tanggamus lagi, ke puncaknya. Atau Gunung Pesagi, Betung, Rajabasa,... ah masih banyak gunung di Lampung yang harus didaki. Pasti...

Friday, May 08, 2009

Menjelma Bidadari

Aku bisa menjelma menjadi bidadari. Sungguh. Seseorang telah memasangkan sepasang sayap kecil yang selalu berkilauan ketika digerakkan. Sayap yang sangat kecil, dan indah. Desisnya ketika aku kepakkan adalah nyanyian penyejuk. Dan sangat kuat! Heran juga ya, bagaimana sayap sekecil itu bisa mengangkat tubuh setengah kuintalku hingga melayang. Membawaku pada petualangan rasa. Aduhai... Dan membuatku melihat sisi-sisi keajaiban mimpi. Astaga...

Hari Menyenangkan

"Dua hari ini Albert senang sekali, bu."
"Oh, kenapa?" Aku melihat dia sekilas.
"Tidak tahu. Kenapa ya?"
"Lha kok malah tanya."
"Ya, pokoknya senang."
Aku memang lihat mood dia sangat bagus. Seolah-olah aku sudah mempunyai anak yang dewasa. Dia bertindak dengan sabar, sok mengerti dan itu tadi, dewasa.
Aku bisa menduga sikap ini muncul sejak hari Rabu kemarin, ketika aku mendapat surat panggilan untuk menghadap guru wali kelasnya. Tentu aku sangat kaget, apa yang sudah dibuat Albert sehingga aku mesti datang ke sekolahnya di ruang BP. Malam itu juga aku, bapake dan Albert duduk melingkar, serius. Surat itu aku pegang dan aku tanya ke dia, kira-kira kenapa aku harus datang ke sekolah. Dia mengatakan beberapa alasan yaitu satu karena tulisannya jelek. Dua, karena menulisnya lambat. Tiga, karena beberapa kali tidak mengumpulkan tugas. Empat,...
"Mungkin...karena nilai Albert yang terakhir jelek."
Aku berkerut mendengar itu. Lalu kami bertiga membahas bersama hal itu. Albert mengemukakan beberapa alasan dan kemudian juga menawarkan solusi sendiri. Itu yang sekarang ini kami kerjakan.
Albert anak cerdas, aku tahu itu. Bu Ety, gurunya pun mengakui. Nilainya bagus. Soal tulisan aku cukup maklum deh, dia memang minatnya berlari, main bola, naik sepeda...ketimbang duduk di meja belajar. Tapi dia punya jawaban yang cerdas dan juga alasan yang orisiinil...asli, kadang lebih dewasa ketimbang aku.
Besoknya aku bertemu Bu Ety, dan syukurlah kami bisa ngobrol secara santai. Beberapa hal yang kemukakan Albert itu sebagian betul, dan Bu Ety bersedia membantu. Dia juga menjanjikan untuk bicara serius juga dengan Albert empat mata.
Aku kira ketika anak diperlakukan secara dewasa, dia juga akan berbuat secara dewasa. Dan itu membuatnya senang.

Jadi Cover Majalah


Apa yang harus dirasa kalau wajah 'menceng' kayak gitu dimuat untuk sampul sebuah majalah? Seorang sahabat mengirim softcopy ini setelah majalahnya sendiri sudah aku simpan di satu pojok sejak beberapa bulan yang lalu. Kiriman ini mengingatkan aku kalau pernah jadi 'covergirl' dadakan. Ini salah satu dari koleksi topengku. Mau apa...

Saturday, May 02, 2009

Ibu Palsu

Hari buruh.
Setelah berhari-hari berbusa-busa menjadi provakator di banyak tempat banyak orang, hari ini aku tafakur, tunduk terdiam mengabadikan simbol.
Hari Buruh Internasional hanyalah moment menyematkan simbol.
Perjuangan buruh bukan pada hari ini.
Hari ini hanyalah lengkingan sekarat : mayday, mayday, mayday...
Semakin sayup, namun sempat aku abadikan : dalam doa jumatku dalam tulisanku dalam kameraku dalam ragaku dalam hatiku.

Rambutku aku babat cepak. Aku katakan pada semua orang,"Sebagai simbol penggundulan hak buruh!!" Pemanfaatan moment.
Di rumah anak-anakku protes.
"Ibu aneh deh." Kata Albert. Dia menatapku sambil melotot.
"Ini pasti ibu palsu." Kata Bernard sambil mengamat-amati wajahku. "Coba buka mulut, Bu. Coba bilang : aaaa... Nah, kan, beda. Ini ibu palsu, Mas!!! Pasti dia menyembunyikan ibu kita yang asli. Ayo kita lawan, Mas!!!" Dikeroyok dua cowok ini mana tahan.
Ampun deh.
Malam sebelum tidur, Bernard berkomentar lagi : "Bagus sih, Bu, tapi tidak cantik." Sambil mengelus-elus rambutku. Lalu lelap tak mau melihat cemberutku.
Pagi bangun tidur dia komentar lagi :"Cantik sih, Bu, tapi tidak bagus." Aduh...
Setelah aku suapi, dan aku bantu membereskan tasnya, aku laporkan komentar itu ke bapaknya buru-buru dia beri tanggapan baru. "Nggak, ah. Ibu salah dengar. Cantik, bagus." Terpaksa aku harus membenamkan bibirku ke seluruh wajahnya.
Aku tahu mereka sayang aku apapun bentuk rambutku. Tapi memang aku harus berusaha untuk menjadi 'ibu asli' bagi mereka berdua.

Wednesday, April 29, 2009

Conspiracy (4)

(Kisah sebelumnya.)
...
Aku berada di dalam hutan hujan. Sangat lebat dengan jarum-jarum air, yang sejuk persis mengenai permukaan kulit. Sungguh menyenangkan berada di tempat seperti ini. Semuanya terlihat basah, segar.
Sayang, rupanya tirai dari langit ini sering kali menutup pandangan mata sehingga tampak semua berselimutkan keabuan. Warna aslinya tertutup oleh garis-garis air yang kelewat lebat.
Sesekali aku berjalan meneduh. Di gubuk-gubuk buatanku sendiri ini tetap saja ada percik air, tapi dalam jarak pandangku menipis, hanya di sekitar dekat saja terlihat jelas. Kejauhan menjadid kegelapan yang tak ketahuan sedikitpun detailnya.
Aku tertawa lepas ketika aku mengenali sesosok rupawan di situ. Rupanya ada Dew di salah satu gubuk. Aku segera menghambur ke sana, ke dalam pelukannya yang kokoh. Hilang sudah basah kuyupku, berganti dengan cemerlang embun malam. Aku merasakan manis ketika lidahku menjilat seluruh tubuhnya. Membawaku pada sayap-sayap raksasa yang menerbangkanku pada nikmat candu yang luar biasa.
Kelegaan ini...tidak lama. Tiba-tiba sepasang tangan gelap menyergap Dew, membawanya pergi menembus langit gelap. Tak kelihatan apa-apa. Aku panik menjerit dan mencoba menggapainya. Tak ada Dew, yang ada hanya hujan, hutan hujan. Dan kegelapan!
...
Aku terbangun dengan badan basah kuyup berkeringat. Para dayang di sekitarku tertidur pulas. Di sekitar kaki mereka berserakan gelembung-gelembung mimpi yang masih mentah. Dan di seputar matanya bertebaran peri-peri tidur yang pekat. Sangat pulas. Hehm...kenapa para peri itu tidak melingkupi aku? Hehmm...
Mimpi yang barusan aku makan dari talam para dayang itu hasil ramuan tanganku sendiri. Persis seperti bagaimana otakku bekerja. Aku tidak suka situasi ini. Bagaimana aku tidak boleh mengeluh pada situasi seperti ini? Tidak satupun yang terjadi sesuai dengan yang aku inginkan. Tak ada satupun yang terjadi sesuai dengan harapanku. Aku tidak bisa memaksakan satu senyumpun ke udara.
Tak berniat bangun, namun aku berjingkat melewati para dayang itu. Silakan mereka bercinta dengan para peri tidur. Satu hal yang bisa aku lakukan adalah menyendiri. Dan pojok taman itu menjadi tempat yang tepat.
Memang tempat yang tepat... (bersambung)

Friday, April 24, 2009

Conspiracy (3)

(Kisah sebelumnya.)
"Para Gopi adalah sahabat kita. Mereka teman-teman terbaik yang kita punyai, Lady. Bagaimana bunga-bunga bisa mekar ketika mereka datang, Lady ingat? Bagaimana kupu-kupu menari di mata putri ketika mereka berdendang, Lady ingat? Bagaimana air menjadi sejuk dengan sentuhan tangan mereka, Lady ingat?"
Suara Princes of Heart seperti lagu sayup-sayup di telingaku. Aku merosot lemah.
"Hei, hei. Tegakkan badan Lady." Bisiknya kembali. Aku melirik pada Brain yang juga tengah melotot padaku. Aku tahu dia paling tidak suka jika aku hilang kendali, tapi memang betul, sekarang aku sedang hilang kendali. Aku mau Dew, aku mau dia. Aku menutup mata. Ketika aku membuka mata, Brain sudah ada di depanku, berlutut dengan mata yang tajam persis pada mataku.
"Hei, putri. Dengarlah. Terus terang, bagi kami tidak penting Dew atau apapun yang lain. Bagi kami yang penting adalah dirimu. Kamulah yang harus kami jaga supaya tetap hidup dalam keseimbangan, karena ketika kamu hidup kami juga akan hidup. Jadi mulailah kembali sebagai putri dengan akal sehat."
Hah, aku sangat marah. Bagaimana mungkin dia bicara begitu padaku? Jika aku yang dia anggap penting itu sangat memandang penting pada sesuatu, maka sesuatu itu juga harus penting baginya. Bagaimana mungkin dia bisa bicara begitu?
Aku tidak sudi melihat wajah Brain yang kaku di depanku. Princes of Heart membisikkan sesuatu ke Brain, lalu memandangku dengan senyumnya yang lembut.
"Istirahatlah, Lady. Biarkan kami membahas ini untukmu. Kali ini, percayalah penuh pada kami. Tidurlah..."
Bagaimana mungkin aku tidur? Brain ternyata tidak bisa dipercaya untuk tugas ini. Dan tidak ada yang bisa menghiburku, satupun.
"Sudahlah, Lady. Tidurlah. Aku akan minta para dayang menyiapkan mimpi-mimpi dalam talam. Mimpi yang digoreng renyah, dengan taburan segala rasa di atasnya, seperti kesukaanmu. Ketika kamu bangun nanti, semua akan baik-baik saja. Ayolah..." Tangannya membimbingku meninggalkan rapat dengan para panglima itu. Brain terlihat menahan diri, tapi satu sikunya mencoba menopangku supaya aku cepat berdiri. Namun aku tidak mau menoleh padanya. Sikapnya yang tidak bersahabat itu sulit aku terima.
"Kau akan menemani ku?" Bisikku.
"Iya, jangan kuatir. Tapi begitu kau terlelap dalam mimpi, biarlah aku digantikan para dayang itu. Mereka lebih pintar meramu mimpi. Lady tinggal menggumamkan aku saja lewat tidur, pasti mereka sudah paham apa yang harus mereka hidangkan padamu."
"Tapi mereka kadang usil."
"Itu karena Lady sendiri usil menggumam yang aneh-aneh."
Princes of Heart menemaniku hingga tempat tidur, mengipas badanku dengan tubuhnya yang subur hangat, dan mengusap-ngusap mataku hingga terlelap. Aku siap bermimpi... (bersambung)

Thursday, April 23, 2009

Conspiracy (2)

(Kisah sebelumnya.)
Nafas panjang membawaku pada kenangan beberapa lingkaran purnama yang pernah menghiasi mahkotaku. Sungguh, aku rindu Dew. Dia memiliki cawan-cawan yang ranum, ditawarkan padaku, untuk ku hirup. Menjadi penyegar bagi dahaga sepanjang pagi, siang dan malam. Dia memiliki wajah rupawan yang rela hati dipajang di pigura malamku.
"Hanya malam?" Pernah dia bertanya begitu. Aku tahu bahwa dia tahu persis tak akan mungkin hidup di siang istana dan taman sariku. Dia hanya bisa bertahan pada malam. Aku terjingkat mengingat hal itu. Apakah dia mungkin sakit hati karena tidak pernah aku junjung pada siang atau aku sapa pada pagi hari? Karena itu dia pergi?
Aku ingat pada suaranya, yang merayu mendayu minta dipuja. Dan aku memujanya.
"Tapi tak akan membasahimu, hem?" Dia merajuk. Ya, tentu. Hanya setetes kerling, tapi keindahannya mematri seluruh tubuhku. Ah, dia tidak percaya. Apa mungkin dia sudah bosan tidak percaya sehingga dia pergi?
Aku kibaskan dua pemikiran itu. Aku lebih suka membayangkan dia diculik. Iya! Pada satu malam yang lalai, ia telah diculik oleh rombongan Gopi, yang memang sering mampir di istanaku. Iya! Kenapa aku tidak berpikir itu dari tadi.
"Ini pekerjaan para Gopi!" Aku berteriak nyata di tengah lamunan. Brain dan para panglima yang sedang rapat itu menoleh cepat padaku.
"Ini pekerjaan para Gopi!" Aku berteriak lagi. Brain tidak menggeleng dan tidak mengangguk. Menoleh pada panglimaku yang paling lembut, Princes of Heart, yang langsung meludahkan senyum dan berjalan padaku.
"Betul! Ayolah, kalian harus percaya! Para Gopi yang telah menculik Dew. Kasihan dia!" Princes of Heart memegang kedua mataku, hingga mengalir gerimis di ujung-ujungnya.
"Kasihan dia. Kalian harus selamatkan dia. Selamatkan dari para Gopi..." Kini aku benar-benar menangis.
"Lady, tenanglah..." Katanya yang lembut malah membuatku semakin kencang menangis. Aku merasakan penderitaan yang teramat dalam. Dew, kau tidak apa-apa kan? Aku tidak tahan membayangkan Dew tidak selamat di tangan para Gopi.
"Lady, tenanglah..." Kali ini aku sudah dalam pelukan Princes of Heart, menekanku hingga aku tidak bisa lagi bicara. Aku tahu, saat seperti ini biasanya memberikan kelegaan yang rumit, ah, mungkin bukan lega, karena aku juga merasakan sakit... sangat sakit.
Tapi, baiklah, aku pasrah pada rangkulan ini. Tangan Heart menggerus, meremas seluruh wajahku, melumatkanku dalam air mata... (bersambung)

Thursday, April 16, 2009

Conspiracy (1)

Rapat akbar kali ini aku tidak sabar menunggu para panglimaku mengumpulkan pasukannya masing-masing. Aku sangat heran pada kelambanan mereka.
"Maafkan, putri. Kami justru lebih cepat dari biasanya datang menghadapmu." Bisik Princes of Eyes, di pelipisku. Aku cemberut melotot padanya. Dia mundur dalam kedipan kelopakku.
Butuh beberapa menit hingga aku bisa menata nafas dan mereka menata barisannya dengan sadar. Protokol Brain melangkah pelan, rapi seperti biasanya, tepat di depan pandangan mataku. Membuka manuskrip hasil coretanku semalam. Aku meyakinkan diri bahwa semua sudah aku ungkap padanya, dan aku berharap dia merapikannya seperti biasa dengan bahasa yang mampu dipahami oleh semua pasukan dari panglima dan kroconya, yang aku maklumi ketika sering salah.
"Kali ini aku tidak mau salah!" Teriakku tanpa komando. Brain menatapku tidak senang. Memandang belatinya aku berupaya sekuat tenaga untuk tenang. Bagi Brain, walau aku seorang putri, justru aku seorang putri, aku harus menjaga sikap, apalagi di depan para pasukan ini. Aku mengeraskan tapak kakiku dan menarik tafas panjang, menahan diri.
Brain mendehem sedikit, batuk tanpa sakit yang sudah aku kenal sedari aku bayi. Deheman yang mengajar aku mulai dari dini.
"Putri mengucapkan terimakasih karena kehadiran semua. Selamat datang dalam kelengkapan rapat akbar ini." Kali ini aku benci basa basi ini. Cepatlah, Brain, langsung saja.
Sekilas Brain menatap cemberutku. Saat itu manuskrip sudah terbuka sempurna.
"Ada satu rencana yang harus kita bagi dalam tugas-tugas. Masing-masing panglima akan mendapat detailnya usai saya jabarkan rencana ini." Ini sangat serius Brain, jangan terlalu lama!
"Mengambil kembali Knight of Night Dew." Huh, aku menarik nafas membuang rasa sebalku. Bagaimana aku bisa dikelilingi makluk-makluk seperti ini. Aku tidak sabar.
Terompet berbunyi dengan kode khusus dari Brain yang sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya. Sekejab lima panglima berjalan tegap ke hadapan Brain, dan satu panglima lagi berjalan dengan kelembutannya. Ah, untuk yang satu ini aku hanya bisa tersenyum. Selalu tersenyum padanya. Tapi, oh, mau tidak mau aku harus percaya pada lima eh enam panglima ini.
Brain memimpin rapat kecil itu, dengan bisik yang bahkan aku tidak mendengarnya. Aku tidak punya energi lebih untuk berjalan ke arah mereka, jadi aku mempercayakannya saja pada mereka bertujuh. Sudah banyak yang mereka lakukan untukku, kali juga akan begitu. Aku menarik nafas panjang kembali... (Bersambung)

Salah Satu Saja

Hari Kamis seperti biasa adalah hari yang sibuk. Makanan empat sehat lima sempurna mesti siap untuk bekal anak-anak ke sekolah. Dan setiap hari selalu seperti biasa, bangun pagi pukul 5.30 atau 6.00 sudah menjadi prestasi bagiku. Masak bobor pakis, goreng tahu. Rencana bikin dadar jagung dibatalkan. Gak keburu, jadi Mas Hendro pun turun tangan bikin telur dadar (telur dadar bikinan Den Hendro ni paten, tiada bandingnya). Masih ada sisa rawon kemarin sedikit, cukup untuk sarapan, plus kerupuk. Nah udah buru-buru begitu, si Bernard bikin perkara.
"Tidak mau makan kalau tidak pake mi!"
"Nard, ibu sudah masak. Nanti siapa yang makan?"
"Ibu saja yang makan!"
Wah, tandukku langsung keluar.
"Ya sudah kalau kalau gak mau makan. Mas Albert saja yang ibu suapi."
Dengan manis si abang duduk di depanku, dan manut makan dengan suapan besar. Sepiring penuh. Bapaknya berangkat duluan, dan aku masih mesti membereskan anak-anak ini. Urusan mandi pun mesti 'diskusi' dulu beberapa lama. Padahal, aduh anak-anakku, lihatlah jam itu. Sudah mepet.
Udah beres semua, mau berangkat, malah si Bernard nyletuk,"Kan aku belum makan, bu. Makan dulu." Nah, terpaksa aku jitak (tidak keras, tenang aja) dulu anak ini. Tapi kali ini dia manut, makan sepiring pake rawon dan telur. "Kan kalau terlalu sering makan mi bisa keriting kan, bu?" Hehm...aku tak mau menjawab. Albert yang menjawab,"Keriting otaknya, dik. Jadi gak pinter. Iya kan, bu?" Hehmm...aku tak mau menjawab juga.
"Ibu ini kok hehm, hehm terus. Ngomong dong bu."
"Hehmm..."
Mereka berdua pun sekongkol menggoyang kepalaku dan membuka mulutku.
"Sampe ngomong dik, goyang terus."
"Hehmmm..."
"Cium aja, mas. Lehernya. Biar geli."
Dan mereka berdua mengeroyok leherku hingga aku teriak-teriak kegelian. Ah, mereka ini...
Pura-pura marah aku berkacak pinggang.
"Cepat matiin tivi, ambil tas, dan keluar!" Berebut mereka baris dekat motor dengan wajah secerah bintang kejora. Tanpa dosa. Bertiga kami bikin tanda salib, dan ngebut...

Wednesday, April 15, 2009

Melayat

Ketika pagi datang dengan sebuah kabar duka, aku menanggapinya biasa saja.
"Pak Supri meninggal."
Guru SD yang tidak aku kenal itu meninggal. Imbasnya adalah anak-anak libur sekolah karena pasti semua guru di sekolah itu melayat. Maka satu tugasku untuk mengantar anak-anak ke sekolah akan terlewatkan.
Tiba di kantor tepat ketika Radio Suara Wajar menyiarkan berita duka itu. Aku ditanya oleh Pak Jaka hanya menjawab :"Gak kenal, Pak. Tapi dia guru di SD tempat anak-anak."
Dan aku nyelonong ke ruangan, membuka komputer. Berita duka itu muncul lagi di email dengan catatan lebih detail. "Telah meninggal Pak Agustinus Supriyanto, suami dari Bu Erni WKRI." Aku menyambar telepon kantor, menelepon Putri untuk memastikan dan ternyata memang benar. Pak Supri tidak sakit sama sekali, bahkan kemarin pun masih main badminton sebelum meninggal. Misteri kematian.
Ya, tentu saja aku kenal Bu Erni, ketua WKRI Daerah Lampung. Berapa kali aku pernah merepotkannya. Berapa kali pula aku pernah mengobrol dengannya. Dan banyak kali aku bersentuhan dengannya.
Maka aku geret Bejo untuk mengantar melayat, dan ikut berdesak-desakan dengan ratusan orang di rumah duka itu. Berdoa untuk Pak Supri, memeluk dan mencium Bu Erni.
"Aku turut dalam doa, Ibu." Bisikku pada wajah sembab itu dan kemudian langsung kembali ke kantor.
Ini berita duka yang kedua dalam minggu ini. Yang pertama Sr. Stefani, FSGM yang meninggal Jumat lalu. Lalu kedua Pak Supri hari Selasa malam. Mereka berada di yayasan yang sama. Kata seseorang kalau orang meninggal pada hari Jumat atau Selasa, mereka pasti akan ajak orang lain. Aku tidak percaya, dan sekarang ini, mungkinkah kebetulan?

Kasihan!

Marahku membukit pagi ini. Bagaimana mungkin seorang dirimu, yang perutnya sudah membuncit dan kacamata menebal, melempar seorang anak kecil dengan nasi basi? Aku sudah menaruh benteng itu ketika memutuskan untuk menapak jalan, tepat di sampingmu. Aku tahu dari mula kalau aku tidak akan dapat merubahmu menjadi kelinci atau kupu-kupu, dan aku tidak pernah berniat untuk itu.

Hari ini seorang anak menangis karena pedasnya katamu. Kemarin seorang bapak marah karena kakunya hatimu. Dulu seorang ibu mati karena tanpa ada senyummu. Bagaimana seorang dirimu bisa memperlakukan orang lain dengan kejahatan yang seperti itu? Apakah kamu tahu bahwa engkau sudah membunuh banyak jiwa?

Marahku membukit pagi ini. Aku bertahan menyebutmu teman. Uh, sangat manis rupanya diriku dengan senyumku pada tiap bulan padamu. Baik sekali aku dengan segala pembelaanku untukmu. Beriman sungguh aku membayangkan suatu saat aku melihatmu bisa menggandeng tanganku, tangannya, tangan mereka. Uh!

Dua hari ini sudah keterlaluan. Jika aku mau, aku sudah menamparmu beberapa masa yang lalu. Aku sanggup membunuhmu seperti mereka semua bisa menguburmu. Siapa kau dengan kepongahan seperti itu? Apa isi otak dan hatimu itu yang membuatmu hidup? Tidak, teman! Kasihan sungguh dirimu tidak tahu bahwa engkau hidup dariku, darinya, dari mereka. Yang sudah kau bunuh setiap kali.

Kasihan sekali dirimu!

Monday, April 13, 2009

Puisiku

puisiku adalah benang kata yang tersulam sebentuk jaring
rentetan bulir lem berlendir menggantung di setiap simpulnya
ada seruling penghias dengan nada-nada rayuan
mengajakku untuk membujukmu
memintaku untuk menggodamu
"wahai teman, marilah jatuh cinta"

maka deretan kerling mulai berantakan barisnya
berpendar tidak lagi pada aturan logika

ah, jangan salah teman!
aku pun hanya memompa kelenjar-kelenjar
sedang lendir-lendir itu,
yang kemudian menjadi benang kata
yang lalu lahir menjadi puisiku
bukan lagi urusanku
bahkan ketika mangsa-mangsa gemuk bergelantungan
bukan pula masalahku

"mari jatuh cinta"
itulah bahasa puisiku