Saturday, May 24, 2014

Melunasi Pembatas Buku

Aku mesti menuliskan ini sebagai kenangan yang tak ingin kulupakan. Saat nanti angin membuat ingatanku kacau, aku ingin tetap mampu mengingat rentetan peristiwa ini sebagai bagian dari kehidupanku. Jadi aku akan mencatatnya dengan detail-detailnya yang kusukai.

Isbedy Stiawan, membaca Advent.
Kumpulan puisiku terbit Mei 2014 setelah kuaduk dalam proses editing yang berurai keringat, air mata dan darah. Keringat, ya, ini adalah kerja keras. Bagi buku pertama yang sudah kubayangkan dari tahun lalu, tertunda oleh lecutan guru-guruku. Air mata, tentu saja, karena buku ini berisi puisi-puisi. Siapakah yang bisa memisahkan puisi dari hati penulisnya? Seluruh emosiku terlebur dalam puisi-puisi itu. Dan emosiku adalah air mataku. Darah, ini luka, ini duka. Bagaimana aku bisa menyebutnya, tapi darah mengalir, sebagian muncrat dari sekujur tubuhku. (Terserahlah kalian menyebut lebay, tapi ini memang terjadi.)

Lalu berkat melimpah lewat sebuah SMS GB, salah satu sahabat hatiku : "Mbak Yuli, gimana kalau tanggal 22 Mei bukumu dan punya Fitri launching di Unila, di UKMBS?" Aku tidak tahu siapa yang punya ide ini dari teman-teman Komunitas Berkat Yakin (KoBER) yang kutahu memakai tanggal itu sebagai rangkaian ulang tahunnya yang ke 12. Tapi spontan hatiku melonjak dalam kegembiraan. Mau sekali. Ini akan melunasi kerjaku untuk Pembatas Buku. Aku akan mendapat kesempatan menyampaikan pertanggungjawabanku terhadap buku ini. "Aku mau, sangat gembira. Terimakasih." Apalagi yang bisa kukatakan selain hal itu?
Edi Samudra Kertagama,  Tertembak Malam dan Menuju Rumahmu


Dekat hari H aku tak bisa menahan kegelisahan. Terus terang aku cemas. Ini pengalaman pertamaku. Beberapa peristiwa membuatku cukup hangat seperti nongkrong tanpa maksud beberapa kali di rumah KoBER, teman-teman jurnalis yang meminta release buku itu, perjumpaan dengan KD yang lalu menghantar pada perjumpaan dengan Pak Edi Samudra, peristiwa kecil ini itu, obrolan dengan Ari, chatting dengan Fitri, dan sebagainya. Ada sisi-sisi yang rumpang, setengah kosong setengah isi, tanpa bisa kuidentifikasi perasaanku. Ada kerinduan tanpa tahu rindu pada apa atau siapa, ada kemarahan, ada kesedihan, spontan juga ada kegembiraan, antusias, ... tak bisa dijelaskan.

Hari itu tiba dengan nyata. Den Hendro meyakinkan aku berkali-kali bahwa semua sip, terkendali, dan dia menemaniku di Gedung Graha Kemahasiswaan Universitas Lampung, tempat acara berlangsung, 22 Mei 2014 pukul 19.00. Telat setengah jam mulainya, dan itu menguntungkan aku sehingga aku bisa bercakap santai dengan Isbedy Stiawan, salah satu inspiratorku, Edi Samudra Kertagama yang meneguhkan aku lewat perbincangan santai, dengan beberapa teman yang hadir.

Yang paling ingin kuingat adalah saat beberapa teman termasuk dua tokoh penyair senior Lampung itu membaca puisi-puisiku. Titik-titik embun di mataku meleleh, mengalir. Aku tak menyangka tulian-tulisan dalam puisi itu begitu dalam menusuk hatiku, mengungkit perasaanku. Puisi-puisi itu adalah aku sendiri yang berkeringat, berair mata dan berdarah. Saat Jarwo, sang MC membaca biodataku yang singkat aku nyaris tak mendengarnya, dan tergagap ketika dia memanggilku untuk membaca salah satu atau dua puisi. Aku tidak menyiapkan diri untuk membaca puisi, dan aku sudah bilang berkali-kali pada teman-teman KoBER aku tak usah membaca puisi.

Berjalan ke mike dengan kosong, aku buka halaman 54, puisi ke 35 : PEREMPUAN. Ini salah satu puisi yang akan menguatkan hatiku untuk tidak menitikkan air mata saat membacanya. Ini salah satu puisi yang 'marah', sehingga aku tak akan sempat merasakan melankoli sekaligus menghapusnya. Ini adalah puisi keteguhan niat sekaligus geram menuntut dengan sadar diri. Aku membacanya juga dengan kemarahan. Jarwo mengatakan aku membaca dengan lugas, tapi aku bilang aku membacanya dengan tandas. Jika bukan puisi ini, bisa jadi aku akan tersedu-sedu saat membacanya, dan apa kata dunia?

Yuli Nugrahani, Fitri Yani dan Ari Pahala Hutabarat.
Aku mesti bercerita tentang asal muasal buku puisi ini dalam diskusi. Ari Pahala Hutabarat, mesti kutunduk hormat padanya, yang sudah memberiku apresiasi dan juga sugesti dan juga energi untuk hal ini. Aku beruntung ada Fitri Yani di sebelahku dengan buku puisi Suluh, sehingga aku tak harus merasa sendirian. Dia jauh lebih muda usia dariku, tapi dalam puisi dia juga guruku. Langkahnya yang sudah jauh juga inspirasiku. Di ujung diskusi aku merasakan ketakutan yang terus menyeruak hingga malam, tak bisa tidur, hingga subuh. Mungkinkah aku menuliskan lagi puisi-puisi selanjutnya di masa mendatang? Mampukah aku mengurai kembali hatiku yang penuh dinamika semesta ini secara netral dalam bentuk puisi? Aku begitu gentar, gemetar.

Sekarang Pembatas Buku sudah lunas. Sudah kuupayakan segala sesuatu yang diperlukan untuk puisi-puisi dalam buku itu. Sekarang lunas. Biarlah dia menentukan sendiri nasibnya. Aku akan melanjutkan hidupku. Terimakasih Den Hendro, Albert, Bernard, juga bapak ibu Sam, bapak Soeliham, juga terimakasih Oki dan teman-teman Indepth Publishing, Ari, GB dan teman-teman KoBER, Reza dan Devin, para guruku, para pendukungku. Aku bergembira karena kesempatan manis bekerja bersama kalian semua untuk Pembatas Buku ini. Berkat.

Friday, May 23, 2014

Ulasan Pembatas Buku dari Sahabat di Moncek

PEMBATAS BUKU
KUMPULAN PUISI YULI NUGRAHANI
Oleh : Fendi Kachonk

Kemarin, setelah seharian bekerja dan baru sampai rumah, seperti biasa saya istirahat dan masuk ke ruang bacaku, yaitu Taman Baca Arena Pon Nyonar. Di atas meja telah ada bungkusan rapi, aku lihat-lihat dan ternyata buku Yuli Nugrahani telah sampai, satu buku antologi puisinya yang berjudul “Pembatas Buku”. Dari tema atau judul buku ini, aku merasakan ada goresan kata, yang sengaja dialirkan dengan liris “pembatas buku” . Saya masih saja mengeyam kata-kata itu, pembatas buku, sambil menerka-nerka apa maksud dari tujuan Yuli melekatkan “pembatas buku” di kumpulan puisi pertamanya. Saya menerka-nerka mungkin buku kumpulan puisi ini seperti pembatas buku dan tulisan Yuli, yang biasanya lebih mendalami cerpen, atau tulisan yang lain, kini Yuli juga menulis buku, atau bisa jadi juga ini adalah pembatas keadaan. Ah sudahlah, intinya saya dengan pemilihan tema atau judul ini telah merasakan keunikan dan kecerdasan seorang Yuli dalam merangkai kata menjadi luar biasa.

Dalam Kumpulan Puisi Pembatas Buku ini, ada 40 puisi yang ditulis Yuli, dan mungkin sekedarnya saja aku mengenal Yuli di dunia maya, tetapi yang saya ketahui Yuli dengan produktifitasnya mampu melahirkan tulisan-tulisan yang senyap, seolah hampa dan seolah tanpa ada emosi yang menggerogoti  anak-anak kata dan kalimat yang dibungkus dengan kedewasaan bahasanya yang lugas, bercerita dan seolah ini cerpen dalam bentuk puisi, tetapi ini adalah puisi bukan cerpen. Namun pencitraan dan pembangunan suasananya, dialektika yang terbangun, seolah itu adalah khas seorang Penyair Perempuan Lampung yang kaya dengan tema, oleh juga dirinya adalah pegiat dan pemerhati sosial yang masih aktif sampai sekarang.

Satu persatu saya membaca puisi Yuli, dan saya semakin mengenal karekter bahasanya, mengalun, sederhana dan perhitungan pemilihan diksi yang sangat ketat. Saya mendapati tak ada yang longgar semuanya berbobot nilai estetika. Tetapi bagi saya, oleh pandangan saya dan cara saya menggauli puisi, jiwa saya akan mencari jiwa dalam beberapa puisi yang ditulis, dan sampai juga pada penyisiran tiga puisi yang saya amat kagumi. Dalam tiga puisi ini Yuli tak menggunakan dialektikanya, tetapi ia langsung menuju suasana mistik yang terbangun dan saya amat tertegun. Kekuasaan tiga puisi ini membuat saya tak berhenti untuk mengulang membacanya, membacanya dan lagi. Sepertinya secara tersirat Yuli Nugrahani mengisyaratkan bahwa “Pembatas Buku” itu dalam tiga puisi ini. Mari saya hadirkan tiga puisi tersebut di sidang pembaca.

MUSIM BAGI TRENGGULI

Di rumah lain aku bisa menemuimu,
kenari kecil yang penuh rinai.

Trengguli sudah sampai di musim bertabur
mencipta harum sebagai beranda
di sana, kita bercengkerema.

Nopember, 2013

Saya menikmati dengan pemilihan diksi dan suasana yang terbangun, oleh rima dengan kesederhanaan yang mengalir mengantarkan kepada ruang imajinasi kita, di suatu musim  bagi trengguli. Dan kita juga mesti menyadarinya, bahwa Yuli Nugrahani di puisi-puisi ini tak semata menghadirkan kesayuan dan kesahduan semata-mata, tetapi dia mampu memotret lingkungannya dengan indah dan ciamik. Mari saya bawa kepengangkatan tema “trengguli” yang adalah :

Trengguli (Cassia fistula) atau biasa disebut dengan bak buraktha, papa pauno,tengguli, klohor, kalabur, kayu raja, biraksa, bubundelan ini mempunyai kandungan kimia seperti saponin, tanin, gom, gula, hidroksimetil, asam sitrat, asam hidrisianik, pektin. Sementara kulitnya mengandung zat samak. Anggota famili Leguminosae ini bersifat rasa manis, antringen, pencahar dan penurun demam.

Saya baru menyadari, bahwa suasana yang romantis ini tak semata-mata sederhana secara kebermaknaan dari teks tersebut, Yuli Nugrahani mengajak kita semakin mencintai alam, kembali ke lingkungan dan dia juga memberitakan hal yang terdalam, bahwa alam ini telah banyak menyediakan imun bagi tubuh kita. Lihatlah bagaimana trengguli itu juga berfungsi sebagai penurun demam, silahkan bisa dilanjutkan pencaritahuan pada tema trengguli dan pesan yang secara samar Yuli sampaikan, kembalilah ke lingkungan dan “di sana kita bercengkerama” bait penutup yang romantis, romantisme sebuah ajakan yang terbangun dan sengaja diendapkan dalam puisi “ Musim Bagi Trengguli”.

Maka dari puisi tersebut kembali saya mengimani, bahwa puisi memang tak akan jauh dari realitas sosial pengarangnya, dan saya merekatkan puisi tersebut, hadir dan lahir dari pergulatan Yuli dalam kegiatan-kegiatannya, amatannya dan menjadi puisi yang manis menyampaikan pesan secara romantis dan samar.

Bagaimana jiwa bahasa Yuli dan cara Yuli mengantarkan pembaca pada tempat yang sejuk? Setelah puisi di atas, saya juga sangat tertarik menghadirkan puisi kedua yang juga membuat saya merasakan suasananya. Kemampuan Yuli, memainkan kata sederhana dan meneguhkan ruh tulisan pada pesan yang akan disampaikan tetapi begitulah Yuli juga tak serta merta meninggalkan keindahan-keindahan dalam memberi busana yang pantas dalam puisi-puisinya.

Yuli Nugrahani ini, memang kaya dengan tema, dan semuanya sama dengan apa yang telah saya sampaikan di atas, semuanya hasil dari pengamatan dan kejeliannya. Tetapi kadang Yuli bermain dengan senyap sekali, sehingga saya membaca puisi ini juga hanyut, pada perbedaan angin laut di sebuah pagi, yang sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengatur keseimbangan alam. Jika pun tidak ada pengrusakan, angin juga tak akan mengantarkan sebuah kemelut di laut, mencintai lingkungan dan membangun tema sosial serta mengalurkan dalam bentuk puisi adalah cara yang sangat unik dan menarik dalam puisi-puisi Yuli Nugrahani. Mari kita simak.

PESAN ANGIN LAUT PADA PAGI

Takdirku
adalah pantai siang hari,
mengantarkan nelayan
pulang ke bilik istrinya.

Tapi kau,
Pagi, kekasihku abadi
tempat kuhamparkan
pasang sepenuh daya.

Januari 2014

Membaca puisi ini, serasa senyap, ada luka yang diam dan sublim di dalam, perasaan saya seolah merasakan hal itu, bagaimana takdir alam dan waktu kadang mampu menghadirkan kesenduan. Sedang dalam tulisan ini Yuli Nugrahani tetap menggugah pembaca untuk kembali membaca alam, waktu, keadaan serta fungsi masing-masing sebagai alam, itulah warna dan jiwa bahasa Yuli. Senyap terasa dengan kata “Takdir” itu yang mesti mengantarkan nelayan pada bilik istrinya, dan hanyut kembali dengan bait-bait selanjutnya, tapi kau, pagi, kekasihku abadi. Dan saya sambungkan dengan puisi yang sangat dan bagus sekali oleh perasaanku merasakan pertempuran di medan senyap dan sepi dan di medan kuasa tanpa kuasa di puisi terakhir yang ingin saya hadirkan dan saya bersepakat pada jiwa saya, inti, ruh dan kata pembatas buku ini, ada di puisi ini. Menurut pandangan saya.

MENUJU RUMAHMU

Satu kali, satu kali saja aku berhenti
di sisi genangan air sisa hujan semalam.

Lalu kembali aku bergegas, walau tahu
aku tak akan pernah sampai di rumahmu.

2014

Saya ingin belajar dan mencoba bermain-main dengan puisi ini, dari kemarin saya tertarik dan saya mencoba memasuki ruangnya, menjadi saya di medan konflik itu aku lirik itu, yang mencoba melangkah satu kali, lalu berhenti lagi langkahku, satu kali lagi, aku mencoba berjalan di sisi genangan air sisa hujan, aih kulihat kak Yuli menjinjing sepatunya, takut kotor dan melangkah lagi, satu kali, artinya hati-hati dulu, lalu melangkah dan terus satu kali. Itulah ruang imajinasi dalam puisi ini sangat bagus, tak mesti puisi hadir dengan pemilihan diksi yang berat-berat, yang sok-sok puitis tapi tak mengena ke jiwa, atau tak pernah ada jiwanya, di sini puisi Yuli Nugrahani, kata klise menjadi menarik dan diolah dengan matang, oleh karena Yuli Nugrahani tak hanya mampu berimajinasi, tetapi dia ada di medan  konflik itu.

Begitupun bait kedua dari puisi “menuju rumahmu” judulnya saja telah mampu membangun suasana, dan lihat, “lalu kembali aku bergegas” di bait pertama ada kata berhenti, satu kali saja, tetapi selalu ada spirit perjuangan dan tak mau mengalah untuk sampai pada rumahmu, rumahmu itu bisa apa saja, harapan, impian dan atau rumah kekekasih yang di atas singgasana, yaitu Tuhan, kenapa Yuli sangat berhasil melahirkan semuanya di puisi ini? mari kita coba rekatkan pada hubungan, aku lirik yang menjadi hamba menuju rumah Tuhannya, seolah di sana, aku lirik berkata, ada genangan air sisa hujan, seperti mengabarkan, ada yang becek, kotor dan si aku lirik telah mencoba berusaha melewatinya, berusaha berhenti dari kotor genangan air sisa hujan yang jadi lambang sebuah renungan jiwa aku lirik atau bisa jadi aku Yuli sebagai penulis puisi ini. Betapa kotor aku lirik menujumu, tetapi tak ada kata putus asa, satu kali lagi melangkah memperbaiki diri, terus seperti itu aku lirik meski juga tak akan sampai, karena mungkin rumahMu terlalu suci tetapi aku lirik mencobanya terus. Satu kali, satu kali berhenti dan aku bergegas melangkah lagi, menuju rumahmu tuhan, walau aku tahu tak akan pernah sampai.

Demikian kepada kak Yuli Nugrahani, semoga tetap menulis, semakin semangat dan bagi para kawan-kawan tak ada ruginya memiliki buku ini, oleh sebab kedewasaan berbahasanya yang kuat, bisa jadi buku “Pembatas Buku” ini menjadi pembatas dari buku-buku yang kurang menarik. Salam.

Friday, May 16, 2014

Gemuruh Ingatan, 8 Tahun Korban Lumpur Lapindo

Aku tengah diliputi kegembiraan penerbitan bukuku yang akan launching tanggal 22 Mei 2014 bersama teman-teman Komunitas Berkat Yakin (KoBer) yang pas merayakan 12 tahun dinamikanya sebagai komunitas seni dan sastra. Beritanya silakan klik Teras Lampung atau Lampung Today. Untuk keterangan buku bisa lihat di postinganku sebelumnya seperti di sini atau di sini atau di sini dan mungkin di facebookku Yuli Nugrahani.

Di tengah kegembiraan itu, sebuah panitia untuk 8 tahun Lumpur Lapindo mengontakku mengatakan kalau salah satu puisiku masuk dalam antologi yang mereka buat berjudul Gemuruh Ingatan, berisi puluhan puisi menolak lupa ketidakadilan yang terjadi selama 8 tahun pada korban-korban lumpur Lapindo di Sidoarjo. Mereka akan mengajak para penulis yang terdiri dari berbagai kalangan untuk membaca puisi-puisi dalam buku itu dalam aksi tanggal 28 Mei mendatang di sekitar tanggul lumpur.

Ini bakal menjadi peristiwa penuh tekad selain juga penuh air mata. Adakah hati yang terketuk? Aburizal Bakrie harusnya menaruh hati dan otak lebih banyak pada mereka daripada sibuk mencalonkan diri jadi presiden yang tak bakal jadi. Harusnya para korban di genangan belum berhenti mendapatkan perhatian, tidak dilupakan. Mereka sudah kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan sejarah. Bahkan kuburan leluhurnya pun tak tampak lagi. Bahkan setiap hari kerugian masih terus bertambah. Bahkan...

Thursday, May 15, 2014

Purwokerto, Kota Asyik yang Sering Terabaikan

Jika merancang perjalanan, kota Purwokerto, Jawa Tengah, jarang sekali masuk dalam hitungan. Pertama, tak ada keluarga atau kerabat yang bisa dikunjungi di kota itu. Kedua, apa sih yang asyik dari kota itu? Sepertinya itu kota kecil yang membosankan. Maka, setelah sekian lama Purwokerto hanya jadi kota atau stasiun atau terminal yang dilewati. Bukan kota yang dikunjungi.

Kesempatan datang sebagai 'nglulu', diberi tak tanggung-tanggung. Dua acara dilakukan di Purwokerto dalam waktu yang hampir beruntun. Hanya terselip dua hari di tengah-tengahnya, 6 - 8 Mei untuk rapat KKPPMP-KWI, lalu 10 - 11 Mei untuk FPBN wilayah Barat. Haa, ini tak bisa dilewatkan walaupun harus cari trik and tips bagaimana meninggalkan rumah selama 1 minggu tanpa mengabaikan semua kewajiban.

Nah, kemudian terbukti, Purwokerto adalah kota yang asyik. Lihat saja yang bisa kukunjungi di sela-sela dua acara serius itu. Pertama, terminal atas Baturraden. Daerah di kaki gunung Slamet ini begitu indah. Pada satu malam sempat nongkrong di terminal atas itu. Warung-warung susu jahe, mendoan, jagung bakar, sate kelinci dan makanan minuman penghangat badan siap disaji dengan harga murah meriah. Di waktu siang terminal ini menjadi tujuan paling akhir angkutan dari Purwokerto menuju Baturraden.

Kedua, Telaga Sunyi. Tempat ini langsung mengingatkanku pada lagu Koes Plus dengan judul yang sama. Air terjun, air yang bening, pemandangan indah, dan... betul, memang sunyi. Ini betul-betul telaga sunyi terlebih jika dikunjungi pada hari biasa sebelum 8 pagi.

Telaga Sunyi
Ketiga, Pancuran Pitu. Ini sisi lain yang masih satu kawasan dengan Telaga Sunyi di Kawasan Taman Hutan Raya Baturraden. Ada 7 pancuran air panas belerang di tempat ini, gua dan pemandangan luar biasa. Bonusnya, pijat lumpur belerang di dekat pancuran. Ada belasan orang siap memijat yang berminat dengan harga 10 - 40 ribu tergantung bagian mana saja yang mau dipijat dan dilulur.

Keempat, agak ke pinggir, bisa berkunjung ke Cilacap. Benteng Pendem siap dijelajah. Bisa diakhiri dengan kuliner laut sepanjang pesisir Cilacap dan membeli ikan asin dari segala jenis. Ohya, untuk sampai di Cilacap bisa menikmati Sungai Serayu yang kukuh, coklat dan selalu melimpah airnya.

Kelima, bagi yang Katolik atau mungkin juga selain Katolik kalau minat ada Gua Maria Kaliori. Ini tempat sejuk dengan Maria manis di dalamnya. Ada 7 pancuran juga yang mengalirkan rahmat lewat kaki-kaki Maria segala rupa.

Keenam, perjalanan di Purwokerto bisa ditutup dengan membeli oleh-oleh khas Purwokerto. Getuk goreng, kacang ngumpet, mendoan, dan batik.

Sunday, May 11, 2014

Tanah Makam

Dalam perjumpaan dengan ibu dan bapak di Kediri beberapa waktu yang lalu, aku baru tahu kalau mereka berdua sudah membeli tanah dua petak di pemakaman Sembak, Gringging, Kediri. Tanah itu kemudian disiapkan untuk menjadi rapi, dibuat dua lubang berdampingan, disemen sisi-sisinya dan dibuat penutup yang siap dibuka jika dibutuhkan suatu saat nanti.

Ibu menceritakan itu dengan detail, dengan wajah berseri-seri gembira.

"Beberapa orang protes, kenapa sudah membeli tanah itu. Tapi ibu bilang, jiwaku tidak membutuhkannya karena sudah tahu kemana dia akan pergi. Tapi tubuh yang tidak lagi dibutuhkan nanti saat kematian itu tiba, perlu diurus. Jadi biar saja kami siap-siap dari sekarang sehingga nanti tidak repot lagi. Ini kan sudah pasti, tidak mungkin tidak. Soal waktu saja."

Huft. Embun mengental di ujung mataku. Aku ingin memeluknya, tapi tidak kulakukan karena hmmm... keluarga kami baru akhir-akhir ini kurasakan mulai memakai sentuhan sebagai bentuk kasih sayang. (Dulu sama sekali tidak biasa kami saling peluk cium.) Tapi jiwaku memeluknya. Itu cara pikir yang hebat, membuatku salut dan karena ibu dan bapak gembira karena hal itu, aku juga ikut bergembira.

Wednesday, May 07, 2014

Dari Imaji Menjadi Sastra

Salah satu sahabatku, Edi Laksito atau biasa dipanggil Nanglik, berkenan memberikan kata untuk Kumpulan Puisi PEMBATAS BUKU. Dia ini seorang penyair walau dia tak mau disebut begitu tetap saja aku menyebutnya begitu. Berikut ini sedikit cuplikan yang sudah dia tulis untuk bukuku itu :

...
Bertukar lagi cerita. Mimpi-mimpi orang sastra. Menerbitkan puisi. Kumpulan cerpen. Menulis novel.
Yang membuat hal ini mungkin terlaksana pada Yuli saya kira adalah imajinya yang tak berhenti. Belantara luas angan-angan yang terus berproduksi dan terpelihara. Ia berani masuki, berlama-lama di dalamnya. Dalam hal ini, saya kira, ia dikaruniai bakat alam. Termasuk untuk menikmatinya.
Selanjutnya hasrat-stamina fit untuk melahirkan dan menikmati : kata demi kata - dari imaji menjadi sastra - yang ditulis tidak dengan tinta kering. Yang dikerjakan di kesibukan perempuan berumah tangga, bekerja dan terlibat di masyarakatnya. Hal ini, saya kira, bukan lagi bakat.
Lalu apa? Jawaban yang tak mudah diduga.
Mengapa puisi-puisinya, yang kedalamannya sukar dibaca arahnya secara akal saja, mampu menampilkan kilap rohani, nafas rindu, gerak emosi, getar jiwa dan hasrat akan kemerdekaan - hal-hal yang umumnya membeku di hati manusia?
Bagaimana ia menjelma matang pengungkapannya dalam hal-hal yang dituntut oleh sastra?
Barangkali jawabannya ada di seputar kata yang berpadanan ini: dedikasi, ketekunan, misteri, cinta.
Itu kesan saya. Diamini oleh puisi-puisi di Pembatas Buku ini. Sampai pada penutup, ke-40.
...

Ini ditulis olehnya di Kota Manila, tempatnya belajar sementara, pada tahun 2014. 
Terimakasih, Rm. Nanglik. Terimakasih atas segalanya.

Monday, May 05, 2014

Semacam Upaya Melintasi Batas di Pembatas Buku

Judul buku : PEMBATAS BUKU
Penulis : Yuli Nugrahani
Desain sampul : Devin Nodestyo
Tata letak : M. Reza
Cetakan pertama : Mei 2014
Penerbit : Indepth Publishing
Isi : 62 hlm + xii
Ukuran : 14 X 21 cm
ISBN : 978-602-1534-31-1



Puisi-puisi Yuli Nugrahani, sama seperti prosa-prosanya, sama-sama beranjak dari persoalan yang hadir dan akrab dalam pergaulan hidupnya. Yang membedakan adalah intensitas tingkat penghayatan terhadap objek tersebut. Jika pada prosa-prosanya ia secara sadar seakan mengambil jarak terhadap apa yang biasa kita sebut sebagai objek,  pada puisi-puisinya ini ia justru meleburkan diri habis-habisan terhadap objek tersebut.  
Yuli menjadikan yang universal menjadi sangat personal dalam puisi-puisinya. Dunia fiksi yang dalam hal ini diwakili tokoh-tokoh tertentu, baik yang berasal dari dunia pewayangan maupun dari khasanah tradisi Katolik berubah menjadi begitu ”faktual”—setidaknya bagi dirinya sendiri. Tokoh-tokoh tersebut seakan ditarik, diajak berbincang, dan direnggut dari mitos-mitos dan kesakralan yang melingkupinya. Seperti secara seketika mereka, para sosok tersebut menjadi teman berbagi, cermin, sekaligus wakil dari perasaan dan pemikiran si penyair. 
Ada proses yang lebih dalam dari sekadar apresiasi terhadap tokoh dan mitos-mitos tertentu di sini. Ia telah berubah menjadi identifikasi. Tokoh dan mitos bermetamorfosa menjadi semacam individu yang biasa belaka; yang juga bisa merasa bimbang, kesepian, merasa sia-sia, kangen, dan penuh cita-cita. Namun, pada saat yang sama, kita tetap bisa melihat mereka sebagai sebentuk idealisasi—yang khusus pada puisi-puisi Yuli—yang ideal tersebut tak hendak berhenti di langit, mereka juga turun dan berkeringat di tanah. Mereka menjadi Yang Riil.
Lebih lanjut, tokoh-tokoh dan mitos dalam sajak-sajaknya pada konteks tertentu kembali ke sifat intrinsiknya yang asli, sebagai manusia belaka, seperti saya dan para pembaca semua. Tentu di sinilah kita mendapat manfaat dari membaca buku ini. Tokoh dan mitos tersebut tidak lagi menjadi sekadar tekstual, tapi telah berubah menjadi kontekstual. Mereka berubah menjadi Yuli Nugrahani, namun pada saat yang sama, mereka juga adalah diri setiap pembaca.
Transposisi yang terjadi pada objek puisi kemudian bergerak tidak hanya pada tokoh-tokoh atau mitos-mitos tertentu. Dalam puisi-puisi yang termaktub dalam buku ini kita juga akan menemukan yang biologis seperti yang terdapat pada dunia tetumbuhan dan hewan diubah menjadi yang eksistensial. Tanaman atau hewan tertentu seperti digemparkan medan pemaknaannya. Tanaman tertentu kemudian menjadi media bagi aku lirik untuk menyuarakan biografi perasaannya atau sebaliknya—ia meminjam hati dan kognisi penyair dan bersuara melaluinya..
Yang “biasa” kemudian menjadi “luar biasa” di dalam proses transposisi objek dalam sebagian puisi dalam buku ini. Yang jauh menjadi terasa begitu dekat. Pada beberapa puisi - Yuli berhasil mengubah perasaan-perasaan domestiknya menjadi perasaan-perasaan publik,  menyisipkan yang sakral terhadap peristiwa-peristiwa yang banal. *** (Dicuplik dari Catatan Pembuka Kumpulan Puisi Pembatas Buku, Ari Pahala Hutabarat, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung)

Tuesday, April 29, 2014

KUMPULAN PUISI YULI NUGRAHANI : PEMBATAS BUKU


Aku sudah mulai menulis berbagai bentuk tulisan pada tahun 1992 sampai sekarang di berbagai buletin, majalah, koran dan jurnal. Sebut saja Buletin Terlibat, Lembur, Majalah Hidup, Ucanews, Femina, koran Malang Post (aku pernah jadi wartawannya di tahun 1999 - 2000), Lampung Post, Suara Karya, Sinar Harapan, Jurnal Perburuhan, Bulettin ACPP Hongkong dan sebagainya. Juga di media online seperti blog yang kukelola ini (sejak tahun 2006).

Aku menjadi editor dan penyusun buku : Eritis Mihi Testes (2002), Suster-suster Klaris Kapusines Sekincau (2003), Samudera Peziarahan (2010) dan Goro-goro, Kucing Gering Bagong Leong (2013).

Tulisan reflektif masuk dalam buku : Mengais Makna di Tepi Kehidupan (2005), Varia Geliat Hati, sebuah Refleksi Pemerhati Buruh Keuskupan Tanjungkarang (2008) dan Pastoral Lembaga Pemasyarakatan, Refleksi Para Pemerhati Narapidana (2013).

Sedang cerpenku masuk dalam buku : Antologi Cerpen Kawin Massal (2011) dan Antologi Puisi dan Cerpen Hilang Silsilah (2013).
 
Kini waktunya, segera, awal Mei, buku kumpulan puisiku akan terbit menjadi warna bagi dunia puisi Indonesia. Diterbitkan oleh Indepth Publishing dengan kata pengantar Edi Laksito, seorang teman yang menemaniku mengawali cinta pada puisi di tahun 1994-an dan sebuah catatan pembuka dari Ari Pahala Hutabarat, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung. Sampul didesain oleh Devin dan tata letak oleh Reza. Tentu saja yang kebagian repot adalah Oki, siapa lagi. Terimakasih banyak ya teman-teman. Aku menunggu buku ini dengan gembira, sama dengan saat aku mengerjakannya.

Thursday, April 24, 2014

Muara Sungai Karang

letakkan aku di sisi tangkaimu
karang pasir debu lintah di rongga-rongganya
leburkan raga serupa stupa
tanpa bibir tanpa gerak tanpa hasrat
melumat mimpi dalam senyap nestapa
semesta tegang mengeras di genggaman
melesat rindu tanpa balasan


mengalir di sungai karang
jiwa kerontang berbuih berandai
turunlah hujan embun segala cairan
runtuhkan aku dalam kuburmu
biarkan aku menjelma belulang
biarkan aku hilang tertimbun bebatuan
menjadi senyawa senyap tanpa padanan

aku akan berjalan menyanggahmu
menyangkal hingga lebur menghablur
dalam karang dalam pasir dalam debu
aku akan memastikannya di peziarahan
perjumpaan tanpa bekal
semata benci tertinggal

Wednesday, April 23, 2014

Tips Menulis Puisi

Aku pernah menulis Tips Menulis Cerpen pada tahun 2008 untuk para penulis pemula di Unila. Aku ramu tulisan ini dari berbagai sumber yang aku temukan di internet. Cara yang paling mudah, sederhana dan tidak usah dulu melihat teori-teori ndakik-ndakik tentang sastra. Tentu saja jika sudah beberapa kali mencoba menulis, orang harus meningkatkan kapasitas dengan teori-teori itu. Tapi biarlah saja itu nanti, jika hasrat menulis sudah kuat membara pasti otomatis orang juga tak lagi puas dan mulai melihat, menggali, membandingkan dan sebagainya.

Nah, kali ini aku ingin menulis dikit tentang menulis puisi untuk para pemula. Kali ini aku buat awalnya khusus untuk anakku Albert (SMP kelas 1) yang lagi ketularan ibunya menulis puisi. Dia sudah menulis satu puisi lengkap beberapa waktu lalu tentang cintanya pada Indonesia, lalu dia sedang berpikir untuk menulis puisi tentang keindahan air terjun karena tugas guru bahasa Indonesianya.

"Tidak boleh ditulis di rumah, ibu. Puisi ini harus dibuat di sekolah."

"Okey, ibu akan beri pelajaran privat jadi nanti bisa lebih mudah saat di sekolah. Gratis untuk Mas Albert."

Dia cengir-cengir saja, lalu mendekat serius di dekatku. Aku sudah pegang laptop, jadi kubuka program word.

"Ini kalau untuk orang lain mahal lho. Jadi serius. Albert mau menulis puisi tentang apa?"

"Air terjun. Itu, yang pernah kita datangi di Gunung Betung itu."

"Sip. Yuk kumpulin kata-kata apa saja yang ada kaitannya dengan air terjun. Apa saja kata itu."

Maka kata-kata pun berhamburan. Air, mengalir, batu, rumput... Aku menuliskannya di laptop sambil sesekali bertanya untuk membuat kata lebih spesifik : Ya, batu, kalau kecil? Kerikil. Lebih kecil? Pasir. Mengalir, memercik, beriak, dst. Seluruh kata-itu aku ketik dengan huruf yang bisa terbaca jelas dengan kolom-kolom. Tentang benda-benda mati, hidup, warna, suasana, dan sebagainya.

Lalu aku bertanya kepadanya,"Mau menulis puisi tentang apanya air terjun? Keindahannya? Kekuatannya? Kesedihannya? Atau sesuatu yang lain di luar air terjun yang seperti air terjun?"

Hehehe... dia mikir lamaaa sekali. Hingga akhirnya dia memilih yang paling mudah,"Keindahan air terjun."

"Okey, tulislah, Bert. Buat beberapa kalimat dulu." Dia pun memulainya. Aku membantu dengan bertanya, terus bertanya. Misal,"Di sini sudah ditulis indah, di situ indah lagi, lalu di situ indah lagi. Apa kata yang sama artinya dengan indah?"

"Bagus. Cantik. Menawan. Mempesona."

"Nah, kata-kata yang indah bisa diganti dengan kata-kata itu."

Demikian juga kata-kata lain aku pertanyakan. Juga keberadaan kata-kata sambung, kata tak perlu.

"Apakah memang harus memakai yang? Jika dihapus apakah artinya berubah? Jika tak berubah hapus saja."

Lalu aku mengajaknya melihat kumpulan kalimat-kalimat itu. "Yang ini tentang tanaman, yang itu tentang pelangi. Apakah baik kalau dipisah ke bait yang berbeda?"

Nah, kini dia punya bayangan tentang puisi itu. Ketika kehabisan ide, dia lihat lagi daftar kata yang sudah disusun. "Ah, ada kata sore, kemah, anggang-anggang. Aku mau pakai juga."

"Iya, dan jangan lupa ada suatu pesan. Mas Albert mau berpesan apa pada pembaca? Mengunjungi air terjun itu? Atau Mas Albert mau datang lagi ke sana? Atau ajakan untuk merawat? Memelihara keindahan? Menjaga kebersihannya? Masukin di bagian terakhir itu kalau belum ada di bagian atas."

"Ya. Aku ingin keindahan air terjun tidak hilang."

"Sip. Lalu judulnya. Kau mau pilih apa? Air terjun begitu saja? Baiklah. Tapi baik juga kalau memang mau menonjolkan Lampung kau tulis lanjutannya, air terjun mana yang kau maksud itu."

"Air terjun Gunung Betung. Aku pakai judul ini saja."

"Sip. Kau baca ulang-ulang. Kalau masih ada yang mau diubah, ubah saja. Di sini ada kata indah, lalu di baris ini berakhiran kata lembah. Enak kan dibacanya? Coba lihat di atas itu, siapa tahu ada akhiran yang bisa disamakan lagi. Tak harus sama seperti pantun, tapi kalau dibaca enak, puisi akan semakin indah."

Okey. Dia akan belajar merapikannya nanti. Untuk anak SMP kelas 7 atau kelas 1 seperti Albert, cara membuat puisi seperti ini cukup. Sudah cukup. Dia akan mengembangkannya nanti setelah dia banyak membaca puisi. Dan Albert sudah bertanya-tanya terus tak sabar menunggu buku puisiku yang akan terbit. Aku yakin dia akan belajar untuk hal-hal yang disukainya ini.

Monday, April 21, 2014

KARTINI

Kartini sama saja dengan semua perempuan-perempuan lain. Memakai kain kebaya, memasak, menikah dalam perjodohan, menangis, merawat anak dan suami, serba terkekang, bergelut di kasur, dapur dan sumur, terbatas ruang geraknya. 

Apa yang membuatnya unggul, dikenang dan diteladan? Dia menulis! 

Dia merawat pikiran-pikiran dengan membaca. Dia menulis! 

Dia punya hati peduli pada perkembangan manusia dalam pendidikan. Dia menulis!

Sunday, April 20, 2014

MINGGU PASKAH

...
Di depanku, kau berjalan
tunjukkan palu sidang yang akan kau lempar.

"Lakukan untukku!"
Kau menuntut hakmu
lewat wajah di jalan-jalan yang kutemui.

"Berikan padaku!"
Kau menuntut kewajibanku
lewat kaki-kaki teladan di Kalvari.

Selalu, selamanya.
...

Saturday, April 19, 2014

SABTU CAHAYA

...
Daun-daun palma terurai kayu-kayu melandai
lereng Kalvari merosot dalam catatan kain mori
lengang tanpa jasad terserap tanah bebatuan.

Batu makam terguling oleh tanda-tanda chandra
bertengger di sayap malaikat merentang cahaya.

Kutinggalkan botol-botol minyak wangi
terserak jejak pencarian berpeluh rindu
berlari mendapatkanmu jiwa tak tertandingi
mencucukkan jari-jari ke liang luka-lukamu.

Rabuni, roti dan anggur di meja saji, 
wajahmu kucuplik untuk lilinku hari ini
memercik dalam cium seorang kekasih.

Aku mencintaimu.
...

Friday, April 18, 2014

JUMAT AGUNG

...
Secarik beledu tanpa corak
tercelup cawan cuka
hilang warna tersisa
perih tercabik langkah
menuju Golgota.

Eli, Eli, lama sabachthani?
Mengapa kau tinggalkan aku?
...

Wednesday, April 16, 2014

KAMIS PUTIH

...
Serangkai petikan sitermu sampai kertasku
mengalun dalam gesekan melodi kenanga
rebus, rebus saja dalam belanga kesediaan
kayu pinus yang terbakar kering dahana.

Mengucur minyak manis ke kakimu dan aku
menyiapkan rambut basah oleh air mata
bersimpuh meramu perjamuan Paskah, Kamis
cawan-cawan bersanding dengan piala-piala.

Aku rindu padamu.
...

Saturday, April 12, 2014

Hamster, Bromo dan Ibu yang Tidak Nakal

Hujan sangat manis sore ini. Aku sudah membuat dua cerpen sepanjang siang, dan sekarang sedang mengedit satu di antaranya. Yang satunya sudah kulempar ke salah satu media. Tinggal menunggu dimuat atau tidak. Maka kulempar pertanyaan ke para cowok yang ada di kanan kiriku.

"Beri ide pada ibu harusnya menulis apa sekarang?"

"Tulis tentang hamster." Kata Albert yang duduk di sebelah kananku.

"Bromo." Ujar Den Hendro yang ada di sebelah kiriku.

"Tentang ibu yang tidak nakal." Kata Bernard di ujung sana. Dia memang sedang marah padaku gara-gara semalam aku angkat dia dari depan tivi karena kuanggap dia sudah tidur. Aku tidak kuat mengangkatnya, maka dia melek, dan dia marah. Hingga hari ini dia masih ingat aku sebagai si pengganggu.

"Hmmm, baiklah. Ibu akan menulis tentang hamster, Bromo dan ibu yang tidak nakal."

Mereka bertiga senyum-senyum dengan aktifitasnya masing-masing. Albert sedang makan ikan goreng tepung, Den Hendro sedang mainan puzzle di laptopnya, dan Bernard sedang nonton Metro TV Penantang Terakhir. Aku tahu otak mereka. "Coba saja buktikan bisa nulis tentang semua itu." Dan aku tertantang untuk mewujudkannya. Lihat saja ya apa yang bisa kubuat. Lihat saja.

Friday, April 11, 2014

PUISI-PUISIKU

Untuk kali kesekian tak terhitung orang bertanya,"Jadi, kamu tuh sebenarnya cerpenis atau penyair? Mau cerpen atau puisi?" Selalu aku jawab dengan mantap,"Aku ini cerpenis. Tentu saja aku akan menulis cerpen selamanya." Lalu puisi-puisi itu? Okey, baiklah, aku akan tulis sedikit tentang hal ini. Mungkin tidak menjawab seluruh pertanyaan tapi minimal aku bisa menceritakan sedikit tentang puisi-puisiku ini.

Aku mengenal puisi pertama kali ketika aku sekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Tentang sekolah TK ini aku mesti jujur bahwa aku tidak lulus dan tidak punya ijazahnya lantaran jarang masuk. Waktu itu aku diajak oleh guruku yang manis, Bu Pipit untuk ikut lomba deklamasi. Judul puisinya : Pahlawan. Entah karangan siapa. Bu Pipit tidak memberitahu aku akan ikut lomba atau mungkin memberitahu tapi aku belum mengerti lomba itu apa. Yang jelas aku senang membaca puisi pertamaku ini. Aku cepat menghafalnya karena aku termasuk cerdas (heheehe, iyalah, IQku selalu di atas rata-rata pada test beberapa kali saat sekolah dulu) dan aku suka meneriakkan puisi pertama ini kuat-kuat di setiap waktu sehingga hampir semua bulikku pun ikut hafal, sampai sekarang. "Pahlawan. Darahmu membasahi bumi persada..." Soal seluruh bulikku jadi hafal puisi ini karena peristiwa lomba itu akhirnya menjadi peristiwa paling memalukan yang pernah terjadi dalam sejarah pembacaan puisi sepanjang hidupku dan mesti kualami saat masih sangat dini di usia 4 tahun. Hehehe...

Alkisah, aku sudah ada di atas panggung lomba deklamasi untuk siswa-siswi TK tingkat kecamatan. Aku tidak menyangka kalau aku mesti membaca puisi itu di hadapan buanyak orang yang sebagian besar tak kukenal. Sebagian kecil kukenal justru duduk di bagian depan yaitu Pak Puh No (kakak ibuku) menjadi juri, lalu bupuh dan bulik-bulikku yang ikut nonton, juga ibuku. Aku mulai meneriakkan judulnya. Mikenya kurang pas di mulutku maka seseorang maju untuk menurunkan letak pengeras suara itu. Maka di baris awal, suaraku pun menggelegar keras karena memang aku berteriak bukan bersuara, dan inilah kali pertama aku mendengar suaraku dengan pengeras suara maka... shock. Kaget oleh suaraku sendiri. Aku lupa baris berikutnya, hafalanku porak poranda, aku terdiam, menarik-narik rokku sendiri, mulai akan menangis... hingga Bu Pipit menyelamatkanku, menurunkan aku dari panggung. Huh, penampilan pertamaku gagal total. Aku masih menyimpan foto bersama seluruh peserta aku ngumpet di bagian belakang dengan wajah nyaris menangis.

Lalu aku tak pernah lagi berurusan dengan puisi. Aku lebih banyak sendirian (aku nyaris tidak punya sahabat saat SD dan SMP), mencoret, mewarna, melukis, membaca, menulis... hingga suatu waktu saat SMP aku menulis gurit, puisi bahasa Jawa, kukirim ke Majalah Panyebar Semangat (majalah bahasa Jawa langganan mbahku), dan dimuat. Aku lupa puisi itu tentang apa dan bagaimana tapi aku dapat pujian dan dorongan dari Bu Purnami, guru bahasa Indonesiaku yang mengenalkan aku pada penulis-penulis Chairil Anwar, NH Dini, STA dsb. Lalu pada saat kelas 3 SMP aku gak mau lagi melukis dan aku 'merayu' bapakku, Pak Sam, yang kebetulan guruku saat SMP untuk ikut lomba baca puisi mewakili sekolah. Aku ingat aku dapat juara dua dikalahkan oleh Yuli yang lain, salah satu siswa lain sekolah.

Saat SMA aku mulai menulis-nulis buku harian tak teratur, sebagian bentuknya puisi. Curhat-curhat menye-menye. Ini berlanjut hingga kuliah. Tak sekalipun aku menganggap puisi sebagai bentuk tulisan yang serius. Aku menggunakannya sebagai curahan hati, curhat, karena di dalamnya aku bisa sembunyi dengan enak tanpa harus memendam perasaan. Ini cocok dengan karakterku yang introvert waktu itu (sekarang aku lebih membuka diri. Asli.) Saat kuliah ini pula aku mulai bicara tentang puisi dengan salah satu sahabatku, Fr, Nanglik (sekarang pastur, Rm. Edi Laksito) Aku suka puisi-puisi yang dia buat dan aku terpacu membuat puisi serupa untuk kutunjukkan padanya.

Kemudian puisi-puisi tak lagi terjamah saat saat aku mulai bekerja, menikah hingga kemudian pada tahun 2005 aku mulai membuat blog dan mengelola Nuntius. Aku mulai bersentuhan lagi dengan puisi. Membaca dan menulis puisi serta belajar puisi. Isbedy Stiawan pernah aku undang untuk membantu teman-teman relawan Nuntius pada 2007-an untuk belajar puisi. Tentu saja aku ikut juga dalam sesi belajar puisi itu. Dan itu sangat menyenangkan. Aku melanjutkannya dengan koresponden lewat email beberapa kali, namun bapak Paus Puisi dari Lampung ini selalu menyebut,"Puisimu masih curhat banget." Jadi aku mulai pasrah, ya sudah, biar saja puisiku untuk curhat saja. Lalu ketika tahun 2008 aku mulai memublikasikan cerpen, puisi-puisi tetap aku buat, tentu saja sebagai curhat.

Tahun 2013 adalah tahun puisi bagiku. Aku menulis puisi buanyak banget justru saat aku sedang getol serius belajar cerpen. Cerpenku sudah beredar banyak di media, juga masuk dalam antologi Dewan Kesenian Lampung, tapi aku belum puas. Kebetulan sekali aku bersama Dina Amalia Susamto terjaring tak sengaja dalam perbincangan dengan Ahmad Yulden Erwin dalam sebuah grup sastra di Facebook untuk belajar nulis cerpen. Masa ini bisa dikatakan sebagai masa pencerahan, namun cerpen-cerpen justru mengalami kebuntuan. Tak ada cerpen yang bisa kuselesaikan walau aku punya bakal cerpen yang super banyak.

Puisi-puisi menjadi penyalur bagi ide-ide di otak. Mereka mengalir mendahului cerpen. Berhamburan setiap hari. Kesempatan bertemu penyair-penyair lain di Lampung walau bukan pertemuan intensif turut memberikan dorongan bagi puisi-puisi ini. Kesempatan datang ke Taman Budaya dan terlibat perbincangan-perbincangan singkat turut menjadi pemantik ide. Buku-buku puisi dari siapa saja mulai kulahap. Kamus, thesaurus, dan catatan-catatan siapapun menjadi guru bagiku. Buahnya, puisi menjadi sarana belajar juga dalam perkembangan cerpenku, khususnya dalam pengetahuan Bahasa Indonesia, diksi dan penyampaian imaji.

Lebih dari seratus puisi kubuat hingga kini. Mungkin ratusan. Sebagian besar diantaranya curhat belaka. Sebagian dari antaranya kubuat serius dengan pengeditan berkali-kali. Dalam beberapa kesempatan, Ari Pahala Hutabarat (yang kukenal sejak 2007 atau 2008 saat bengkel penulisan cerpen) mesti kusebut sebagai pendorong dengan cara yang kadang tak kumengerti, lewat perbincangan tak sengaja tanpa ujung pangkal di teras Taman Budaya, teras IAIN, teras... hmmm, teras manapun. "Mana warna Katolikmu?" Aku seorang Katolik, tapi memang aku tak pernah menggarap tema Katolik secara serius di cerpen yang kupublikasi. Mana Katolikku? Mereka muncul di puisi, tapi aku lebih suka menyebutnya 'kedalaman hatiku' bukan 'katolisitasku'. Memang aku seorang Katolik yang dibaptis, tapi apakah aku sungguh-sungguh Katolik? Memang aku mengidolakan Yesus sebagai panutan manusia radikal, tapi apakah aku sungguh-sungguh pengikutNya? Pencarian, mungkin itulah faseku di ranah ini. Ari mengusikku dengan pertanyaan-pertanyaan (sebagian diantaranya di kuping dan hatiku terasa sebagai tuntutan), dan aku belum bisa menjawabnya dengan cerpen atau novel (yang menjadi bagian dari obsesiku). Tapi aku bisa mengalirkannya melalui puisi.

Sekarang aku menganggap puisi adalah proses pembelajaranku. Dan aku serius dengannya. Masih curhat, bisa jadi. Tapi saat mengeditnya, aku tak mungkin lagi mengabaikan seluruh pelajaran bahasa Indonesia dan juga contoh-contoh puisi bermutu karangan sastrawan luar maupun dalam negeri yang penuh mutu yang pernah kubaca. Aku beruntung mendapatkan banyak guru dalam hal ini. Aku sangat beruntung juga mengalami peristiwa-peristiwa yang membuatku menjadi 'kaya' dengan percikan-percikan ide dan ilmu.

Tapi aku akan selalu bilang aku ini cerpenis, yang mungkin suatu ketika akan menjadi novelis. Walau aku mengeluarkan banyak puisi atau buku puisi, aku ingin tetap dikenal sebagai cerpenis atau mungkin suatu ketika novelis. Aku serius dalam hal ini.

Wednesday, April 09, 2014

PEMILU INDONESIA

Hari ini pemilihan umum (Pemilu) Indonesia untuk memilih anggota DPD, DPR-RI, DPRD 1 dan DPRD 2. Di Lampung masih ditambah memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur. Inilah gawe terbesar politik Indonesia yang akan memberi pengaruh terhadap Indonesia selama 5 tahun mendatang.

Karena keplentingan eh kepentingan itu, seluruh hari ini pun tak terkecuali aku diperioritaskan untuk mencoblos. Ya, sebenarnya sih istimewa karena libur kerja sehingga tak perlu masak pagi dengan buru-buru, lalu tak harus melakukan apapun secara bergegas.

Begitu semua beres datang ke tempat pemungutan suara dengan santai pula. Aku sudah mempunyai pilihan, sehingga tak butuh waktu lama saat ada di bilik eh kotak suara. Tapi aku menyempatkan diri duduk agak lama di kursi antrian tak ingin buru-buru untuk melihat apa yang terjadi di tps. Ya, para pemilih kelihatan antusias datang, tapi tak banyak yang sudah mantap yakin punya pilihan sehingga mereka bergerombol di depan kertas yang dibentang di pagar berisi para calon yang akan dipilih, lalu ngobrol ini itu tentang mereka, saling tanya dan saling ajak.

Para panitia terdiri dari pengurus rt dari beberapa rt sehingga mereka sudah biasa banget menggelar hal ini. Tak sulit. Dan seluruh aktifitas hari ini diwarnai oleh hal-hal Pemilu. Kita lihat nanti hasilnya. PR sebagai warga negara belum selesai begitu Pemilu usai. Semangat!

Tuesday, April 08, 2014

Tanaman, Binatang dan Orang dalam Puisi-Puisiku

Dari 40 puisi yang sudah kusisihkan, kupilah dari lebih seratus puisi yang kupunya, aku menemukan nama-nama tanaman, binatang dan orang berhamburan dalam bait-baitnya. Sambil mengeditnya aku iseng mendata tanaman, binatang dan orang yang ada. Hasilnya, 43 jenis tanaman, 24 jenis binatang dan 26 nama orang.

Tanaman : tapak liman, trengguli, gulma, lambang sari, walikukun, rumput, kepala, bungur, mawar, ephorbia, albasia, sonokeling, palem, kaktus, anyelir, aren, wijaya kusuma, mangga, sirih, pinang, ilalang, saliara, gandaria, beringin, pinus, kapuk, jati, bakung, teratai, palinten, salam, jamur, cendawan, bunga sepatu, euchalyptus, daffodil, kecubung, gaharu, sorghum, luntas, tali putri, kenanga, dan edelweis.

Binatang : sapi, naga, ulo tampar, cecak, domba, burung kenari, burung gagak, kaki seribu, kelelawar, burung kolibri, burung murai batu, serangga, ngengat, rusa, manyar, lipas, kuda, kupu-kupu, kutilang, burung pleci, onta, burung kedasih, kelinci, dan elang.

Nama orang : Uskup Myriel, Limbuk, Azar Nafisi, Charlos Hathcock, Damar Wulan, Loh Gender, Menak Jinggo, Anjasmara, Waita, Puyengan, Dayu, Wira, Empusa, Putri Andalusia, Rabindranath Tagore, Father Carlosa, John, Aktaion, Diana, Artemis, Dewi Gandari, Gibran, Ziadah, Kresna, Arjuna dan Kariyem.

Ini belum termasuk nama-nama yang ada di puisi yang belum terpilih. Bagiku pun sudah luar biasa, apalagi jika bisa kutambah nama-nama lain, di puisiku yang berikutnya, di bukuku yang berikutnya yang bisa kurancang. Wah. Ini bisa menjadi daftar yang panjang.

Sunday, April 06, 2014

Air Minum

Kalau anda semua bertandang ke rumahku, anda tak akan menemukan galon air minum atau dispenser. Yang ada adalah tempat air minum biasa plus ceret. Tiap hari aku merebus air minum dari sumur yang ada di belakang rumah. Sumur ini dalamnya sekitar 4 meter, selalu menyediakan air di musim apapun. Tidak pernah kering. Hanya saja kalau hujan sangat deras dan lama, air sumur menjadi keruh dan ini membuatku mesti menyiapkan tandon air yang cukup minimal untuk dua hari kebutuhan masak-memasak.

Karena aku punya sumber air sendiri yang terhubung secara langsung, maka aku sangat peduli pada kelangsungannya dan juga mutunya. Maka di sekitar rumah kecil kami, full dengan tanaman-tanaman peneduh yang sekaligus berfungsi sebagai penahan air.

Aku tidak mau kehilangan kemerdekaan mendapatkan air gratis yang bermutu. Pabrik-pabrik air minum kemasan sudah menjadi salah satu pemisah manusia terhadap sumber air. Karena tidak ada hubungan langsung dengan sumber air (minum), manusia menjadi tak tahu bagaimana kondisi sumber air dan apa yang terjadi padanya pada akhir-akhir ini. Mereka tak tahu bagaimana kualitas air, perlakuan kimia apa yang sudah dipaksakan untuk mendapatkan mutu air yang mendekati layak, perlakuan apa saja yang merusak sumber air itu dan sebagainya.

Hmmm, padahal sayang sekali. Air mestinya seperti sinar matahari dan udara yang tersedia gratis. Kini air minum dijual sekian ribu per liter. Hampir sama atau beberapa merk malah lebih mahal dari pada harga bensin atau bahan bakar yang jelas semakin langka dan butuh proses lebih lama untuk membuatnya. Siapa yang diuntungkan?

Saturday, April 05, 2014

Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Aku Mengarang

Aku punya empat buku Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, editor Panusuk Eneste. Jilid 1 - 4 itu aku dapatkan secara tidak sengaja. Dua jilid pertama aku dapatkan saat aku membongkar gudang tak tersentuh punya kantor. Yang jilid 3 aku dapat sebagai kado dari Indri. Dan jilid 4 aku dapatkan dari suamiku saat dia ngubeg bazar murahnya Gramedia.

Beberapa hari terakhir ini aku sedang mengulang-ulang beberapa tulisan dalam buku itu. Aku acak saja sesuka hati. Keempatnya ada di depanku, aku lihat deretan penulisnya yang terpampang di sampul depan. Misal dalam jilid 4, aku suka sekali membaca proses kreatif Ahmad Tohari, juga Motinggo Busye. Di jilid 3 ada YB. Mangunwijaya. Di jilid 2 aku baca ulang Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang. Di jilid 1 ada NH. Dini, AA. Navis. Sebagian lain aku baca sepenggal-sepenggal.

Tulisan-tulisan itu membuatku berkhayal-khayal bahwa suatu ketika Panusuk akan menghubungiku dan memintaku untuk menuliskan proses kreatifku, mengapa dan bagaimana aku mengarang. Hehehe...jadi kemudian aku mulai berdebar-debar, sedikit panik. Ah, ya, menulis hal seserius itu tentu butuh waktu yang lama bagiku. Dan pasti lebih menguras energi dari pada menulis puisi-puisiku atau cerpen-cerpenku.

Lalu aku jadi berpikir, apa tidak lebih baik aku mulai menyiapkan tulisan yang diminta Panusuk itu dari sekarang? Jauh sebelum dia benar-benar memintaku disertai tenggat waktu yang tak mungkin dilanggar? Sepertinya memang harus mulai kusiapkan dari sekarang, sehingga saat Panusuk nanti menyuratiku, menghubungiku lewat email atau telepon, aku benar-benar sudah siap.

Ya! Aku akan mempersiapkannya mulai dari sekarang. Aku kira ini ide yang baik. Sangat baik. Hmmm... aku semakin berdebar-debar.

Friday, April 04, 2014

Logis Oon Ala Cak Lontong ILK

Beberapa kali aku ngikuti acara ILK di Trans7 gara-gara di rumah ada penggemar berat Cak Lontong (hehehe...). Spesifik aja aku pun ingin menuliskan tentang logika oon ala Cak Lontong ini. Sebagai contoh episode hari ini (Jumat, 4 - 4 - 14), yang mengambil tema Taman Menghilang, Mall Berkembang.


Ini tema yang serius, tak ada yang bisa menyanggahnya, iya kan? Nah, apa komentar Cak Lontong?

"Pertama harus ditandaskan bahwa taman kota harus berada di kota."

Tentu saja yang menjadi pemandu acara sok nyolot. Karena kan memang harus lucu. Dan nyolot-nyolotnya itu yang ditawarkan sebagai kelucuan ILK (moga gak berlanjut di kehidupan sehari-hari deh). Cak Lontong melanjutkan.

"Iya kan? Kalau tidak di kota, namanya bukan taman kota. Jadi apa yang salah?"

Nah ya tidak ada yang salah kan? Logikanya betul. Tapi oon. Itu masih berlanjut.

"Dan saya peringatkan, jangan sekali-kali membuat taman kota Jakarta di tepi sungai Musi. Kalau dibuatnya di tepi sungai musi, itu tidak bisa disebut lagi sebagai taman kota Jakarta tapi taman kota Palembang."

Hehehe... jadi nangkep kan logis oon ala Cak Lontong? Nah itu juga yang terjadi pada banyak 'iklan' partai untuk Pemilu sekarang ini. Persis. Logis tapi oon. Mau disebutin contohnya? Aih, aku tak mau membeberkan hal-hal yang sudah terbeber. Lihat saja sendiri bagaimana logika oon itu dipelihara demi kepentingan pribadi dan kelompok. Ah, moga-moga virus Cak Lontong ini tidak menyebar luas di dunia selain hiburan. Kacau.

Binatang-binatang di Sekitarku

Rumahku bukan kebun binatang. Tapi rupanya ada banyak nian binatang yang hidup di dalam maupun luar rumah, dan ini karena ... Albert! Ya, siapa lagi si pengerah binatang-binatang ini kalau bukan dia. Aku bukan peminat binatang walau bisa disebut penyayang binatang. Bernard tak punya waktu untuk mengurus binatang-binatang karena pikirannya yang detail terus berputar. Bapaknya apalagi, jelas tak ada minat sama sekali.

Nah, Albertlah biangnya. Dari kecil ketrampilannya menangkap binatang sudah terlihat. Dia bisa menangkap kadal, kodok, dan jenis-jenis binatang lain yang bahkan tak terbayang untuk ditangkap dengan tangan seperti biawak, ular, huft. Aku sering sport jantung gara-gara kelakuannya yang tak kenal takut.

Baiklah, aku tak akan mendata binatang-binatang yang sudah dilepasnya, tapi sekarang lihat apa yang ada di sekitar rumah (sayang aku masih bermasalah dengan pembacaan memory card, jadi sementara tanpa foto ya.) yang berada dalam reksa Albert ya. Pertama, sepasang hamster yang manis tapi bau pesing setiap pagi. Dua, seekor tokek yang didapatnya dari rumah tetangga. Ketiga, beberapa ekor burung. Aku tak tahu lagi jenis apa saja yang ada tapi aku menikmati juga kicaunya setiap hari. Keempat, jangkrik-jangkrik. Mereka ini dibeli untuk makan burung dan tokek. Aih, kasihan betul nasibnya. Kelima, beberapa ekor ayam kampung dan bangkok yang setiap kali aku rayu untuk dibeli buat lauk. Dia tak rela kalau hanya disembelih tanpa penggantian. Hehehe... payah. Keenam, beberapa ekor ikan di kolam belakang yang diklaim punya dia, padalah bapaknya yang urus. Ketujuh, seekor kura-kura sehat di kolam itu juga.

Kedelapan, ini yang paling terakhir kulihat. Saat aku bangun tidur tadi tiba-tiba sepasang mata lucu muncul dari balik motor. Anak kucing! Pasti diselundupkan oleh Albert semalam. Anak kucing hitam dengan bulu putih di tiap telapak kaki, dan di bagian lehernya. Di lehernya sudah terpasang gelangnya si Albert dan pasti sudah dikasih tahu Albert supaya tidak bersuara karena dia tak mengeong sedikit pun. Huwah, bentar lagi kalau bapaknya bangun pasti heboh. Hehehe... aku akan diam-diam sajalah kalau Albert dan bapaknya berdebat soal kucing dalam rumah ini. Hihihi... sini kucing, kau makan dulu sebelum ikut dengar perdebatan mereka. Albert pasti ngotot, dan bapaknya pasti akan lebih ngotot. Tapi kau harus hidup. Hehehe...

Thursday, April 03, 2014

Not a Coffee Geek

Aku bukan seorang coffee geek. Bertemu secangkir kopi itu ya biasa saja seperti saat menghadapi benda-benda lain. Kalau ada aku nikmati, kalau tak ada pas sedang pengin ya dicari, kalau tidak ingin ya biasa saja, tak harus ada.

Tapi aku punya kopi favourite coffee jika aku boleh memilih. Dan ini bukan sesuatu yang tetap sepanjang masa. Artinya, bisa berubah kapanpun sesuka hatiku. Dulu aku menganggap kopi hitam terlalu kuat untukku, maka aku lebih suka memilih kopi susu, atau kopi coklat, atau kopi krem, yang manis, yang tidak pahit, dan cukup secangkir kecil saja.

Beberapa tahun terakhir, aku sering eksperimen, sembari nongkrong pura-pura berpikir, merasakan berbagai jenis minuman kopi entah di rumah, warung kopi, kafe, atau manapun. Mulai dari cappuccino yang gurih, espresso yang pahit dengan air perasan jeruk nipis yang segar, latte yang pahit gurih, kopi tubruk yang kental dengan ampas kasar, kopi instan yang ringan di mulut berat di lambung dan sebagainya. Aku juga mencoba banyak merk kopi yang beredar di Indonesia, maupun beberapa merk lain saat berkunjung di negara lain.

Sekarang aku katakan aku bisa menikmati semua jenis minuman kopi yang panas (aku tidak suka jenis es kopi atau kopi dingin). Tapi jika aku ditawari di suatu tempat oleh seseorang yang ingin mengajakku ngobrol, bukan mengajakku ngopi, aku akan memesan minuman kopi tubruk (terserah mau robusta atau arabica) yang ampasnya lembut tak ada yang mengambang di permukaan, dengan komposisi kopi : gula : air = 2 : 1 : 10, diseduh memakai air panas mendidih memakai cangkir porselin dengan cawan warna senada.

Sudah, begitu saja. Tak usah pakai camilan, duduk di manapun. Tak pake kursi atau tikar atau sofa juga tak masalah. Di dalam ruangan atau di pinggir jalan juga okey. Wis. Siap ngobrol tentang apapun hingga kopi tandas. Bahkan berjam-jam setelah kopi habis aku juga masih bisa bertahan ngobrol.

Tuesday, April 01, 2014

Siddartha, Sebuah Novel : Berpuasa, Menunggu dan Berpikir

Judul buku : Siddartha
Penulis : Hermann Hesse
Penerbit : Jejak, Yogyakarta
Cetakan 4 : Oktober 2007
Alih Bahasa : Sovia VP.
Isi : 224 halaman.
ISBN : 978-979-16341-11-3

Novel Siddartha ditulis tahun 1922 oleh Herman Hesse, peraih nobel sastra tahun 1946. Hesse lahir di Jerman pada tahun1877, meninggal pada tahun 1962. Bukunya antara lain Peter Camenzind (1904), Beneath the Wheel (1910), Getrud (1910) dan Rhoshadle (1914). Dalam perang dunia I dia menyuarakan perdamaian dan anti perang, dan sesudahnya beberapa karyanya lahir seperti Demian, Siddartha, Steppenwolf, Nascissus and Goldmund, Jurney to the East dan The Glass Bead Game.

Novel ini menceritakan perjalanan Siddarta putra seorang brahmin yang menyadari dan mengakui bahwa keahliannya adalah berpuasa, menunggu dan berpikir. Maka dia menjadi seorang gigih yang terus menerus mencari jawaban-jawaban atas 'Om', kesempurnaan yang harus ditujunya. Dia mengawali perjalanan dengan 'sabar menunggu' restu ayahnya untuk menjadi seorang samana, berjalan tanpa menjadi pemilik.

Perjalanan tiga tahun sebagai samana melatih banyak hal tentang hidup. Govinda, sahabat yang menyertainya mengatakan kalau Siddartha mau tinggal lebih lama bersama para samana, dia yakin sahabatnya itu akan segera bisa berjalan di atas air. Tapi Siddartha yang sedang memikirkan pencarian yang sejati mengatakan,"Aku tidak punya keinginan berjalan di atas air. Biar saja si samana tua menyenangkan diri dengan keahlian semacam itu."

Mereka meninggalkan kelompok samana dan memulai pencarian menuju Gotama, si Budda suci yang menjadi perbincangan banyak orang. Cara hidup Guru ini menarik hati Siddartha, tapi dia tak mau mengikuti doktrin. Dia mau menjadi seperti sang Gotama, mendapatkannya lewat pencarian, tidak lewat dogma, doktrin, ajaran. Maka dia meninggalkan Govinda yang sudah memilih untuk menjadi pengikut Budha, sedangkan Siddartha sendiri melanjutkan perjalanan.

Dia meninggalkan dirinya yang samana dan mulai mengenali pelajaran lain yang lebih duniawi. Belajar bahwa cinta itu seni dari seorang pelacur, Kamala, kekasihnya. Juga belajar memainkan uang dari seorang pedagang, Kamaswami. Hingga dia merasa mati, hancur, harus pergi, meninggalkan semuanya termasuk meninggalkan benih di rahim Kamala.

Kali ini dia bertemu lagi dengan Govinda, yang tak mengenalinya tapi sangat dikenalnya. Untuk kemudian dia menjadi 'murid' Vasudewa, si juru sampan, belajar mendengarkan sungai, belajar mengenali emosinya, juga lewat anaknya yang kemudian ditemuinya.  Dia sampai pada kehampaan, juga kepenuhan. Seorang yang penuh cinta, yang dalam dan beragam.