Monday, May 05, 2014

Semacam Upaya Melintasi Batas di Pembatas Buku

Judul buku : PEMBATAS BUKU
Penulis : Yuli Nugrahani
Desain sampul : Devin Nodestyo
Tata letak : M. Reza
Cetakan pertama : Mei 2014
Penerbit : Indepth Publishing
Isi : 62 hlm + xii
Ukuran : 14 X 21 cm
ISBN : 978-602-1534-31-1



Puisi-puisi Yuli Nugrahani, sama seperti prosa-prosanya, sama-sama beranjak dari persoalan yang hadir dan akrab dalam pergaulan hidupnya. Yang membedakan adalah intensitas tingkat penghayatan terhadap objek tersebut. Jika pada prosa-prosanya ia secara sadar seakan mengambil jarak terhadap apa yang biasa kita sebut sebagai objek,  pada puisi-puisinya ini ia justru meleburkan diri habis-habisan terhadap objek tersebut.  
Yuli menjadikan yang universal menjadi sangat personal dalam puisi-puisinya. Dunia fiksi yang dalam hal ini diwakili tokoh-tokoh tertentu, baik yang berasal dari dunia pewayangan maupun dari khasanah tradisi Katolik berubah menjadi begitu ”faktual”—setidaknya bagi dirinya sendiri. Tokoh-tokoh tersebut seakan ditarik, diajak berbincang, dan direnggut dari mitos-mitos dan kesakralan yang melingkupinya. Seperti secara seketika mereka, para sosok tersebut menjadi teman berbagi, cermin, sekaligus wakil dari perasaan dan pemikiran si penyair. 
Ada proses yang lebih dalam dari sekadar apresiasi terhadap tokoh dan mitos-mitos tertentu di sini. Ia telah berubah menjadi identifikasi. Tokoh dan mitos bermetamorfosa menjadi semacam individu yang biasa belaka; yang juga bisa merasa bimbang, kesepian, merasa sia-sia, kangen, dan penuh cita-cita. Namun, pada saat yang sama, kita tetap bisa melihat mereka sebagai sebentuk idealisasi—yang khusus pada puisi-puisi Yuli—yang ideal tersebut tak hendak berhenti di langit, mereka juga turun dan berkeringat di tanah. Mereka menjadi Yang Riil.
Lebih lanjut, tokoh-tokoh dan mitos dalam sajak-sajaknya pada konteks tertentu kembali ke sifat intrinsiknya yang asli, sebagai manusia belaka, seperti saya dan para pembaca semua. Tentu di sinilah kita mendapat manfaat dari membaca buku ini. Tokoh dan mitos tersebut tidak lagi menjadi sekadar tekstual, tapi telah berubah menjadi kontekstual. Mereka berubah menjadi Yuli Nugrahani, namun pada saat yang sama, mereka juga adalah diri setiap pembaca.
Transposisi yang terjadi pada objek puisi kemudian bergerak tidak hanya pada tokoh-tokoh atau mitos-mitos tertentu. Dalam puisi-puisi yang termaktub dalam buku ini kita juga akan menemukan yang biologis seperti yang terdapat pada dunia tetumbuhan dan hewan diubah menjadi yang eksistensial. Tanaman atau hewan tertentu seperti digemparkan medan pemaknaannya. Tanaman tertentu kemudian menjadi media bagi aku lirik untuk menyuarakan biografi perasaannya atau sebaliknya—ia meminjam hati dan kognisi penyair dan bersuara melaluinya..
Yang “biasa” kemudian menjadi “luar biasa” di dalam proses transposisi objek dalam sebagian puisi dalam buku ini. Yang jauh menjadi terasa begitu dekat. Pada beberapa puisi - Yuli berhasil mengubah perasaan-perasaan domestiknya menjadi perasaan-perasaan publik,  menyisipkan yang sakral terhadap peristiwa-peristiwa yang banal. *** (Dicuplik dari Catatan Pembuka Kumpulan Puisi Pembatas Buku, Ari Pahala Hutabarat, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung)

No comments:

Post a Comment