Tuesday, February 25, 2014

Pemilihan Gubernur Lampung

Rapat pleno undian nomor urut pasangan calon (24/2) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung menetapkan nomor urut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung.

1. Berlian Tihang-Mukhlis Basri


2. Ridho Ficardo-Bakhtiar


3. Herman HN-Zainuddin Hasan


4. Alzier Dianis Tabrani-Lukman Hakim.


Masa kampanye dari tanggal 16 Maret sampai 6 April 2014 sedang pelaksanaan pemilihan bersamaan dengan pemilihan legislatif 9 April 2014.

Terus mana yang bisa dipiliha? Hmmm... nanti dulu.  

(Foto dari berbagai sumber di jaringan internet)

Monday, February 24, 2014

Udara

Udara menumpang angin
sibuk mengikuti arah
padahal dia hanyalah
hampa
dan dingin.

Friday, February 21, 2014

Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional, tepat pada hari ini, 21 Pebruari. Peringatan ini sudah ditetapkan oleh Unesco sejak 17 Nopember 1999, tapi siapa yang tahu? Peringatan ini tidak begitu familier padahal tujuannya adalah untuk menghormati keragaman bahasa yang ada di dunia, dan sekaligus keprihatinan akan musnahnya banyak bahasa di dunia karena tidak lagi digunakan.

Lihat saja di Indonesia, ada berapa bahasa yang ada pada ratusan suku yang ada? Tak terhitung. Di Jawa saja, pulau asalku ada banyak bahasa yang digunakan mulai dari Osing di Banyuwangi ujung Timur hingga Betawi juga Sunda di bagian Barat. Di Lampung tempatku tinggal sekarang juga punya bahasa suku yang baru kukenali beberapa katanya saja.

Bahasa Indonesia baik sebagai pemersatu, tapi bahasa-bahasa asli, bahasa ibu, akan mati jika tak digunakan. Mengingatnya di hari ini membuatku ingin memakai bahasa yang dulu pertama kali dikenalkan padaku. Minimal sedikit di sini ya :

GURIT PANGELING

"Ora ono lakon dadi kongkon
yen bisa, kowe sing kudu rumongso
mlakuo, terus mlaku, aku
ora mung neng mburimu, nanging aku
ugo ing iringanmu, nggondeli lengenmu.
Sepisan-pisan aku bakal mlayu,
ora pengin ninggalake kowe
nanging aku pengin methik kembang kanthil
kae, neng ngarep kae
kanggo wewangen, ugo pangeling,
yen mlako bareng kowe
bakal dadi wektu kang langgeng
mung iso dililing, ugo dideleng,
nganggo dekik esem kang marem."

Pahoman, 21 Pebruari 2014
(Dino kanggo Boso Ibu Sadonya)

Thursday, February 20, 2014

Hariri, oh, Hariri.

Coba buka Youtube sekarang. Wajah Hariri muncul di antara gambar-gambar yang ada. Karena aku pelanggan Youtube dan aku tidak suka cara Hariri bertindak plus caranya membenar-benarkan tindakannya, ini sungguh bikin eneg. (Silakan buka sendiri di Youtube tentang hal ini, pasti ketemu.)
Mataku tidak buta, juga mata siapapun yang melihatnya, entah yang dipasang di Youtube itu hanya seiris atau sekilas, semua orang bisa menilai bagaimana Hariri memandang manusia lain. Dia tidak menghormati martabat manusia bahkan martabatnya sendiri. Jika dia tidak menghargai martabat manusia, how dia bilang dia menghormati Penciptanya? Omong kosong.
Lalu ada pembenaran-pembenaran. Ah, otak itu bisa punya teori apapun. Alasan-alasan bisa diciptakan. Bahkan ekspresi muka bisa dipahat kerut-kerutnya. Tapi perasaan dan nurani setiap orang yang melihat wajah dan tindakan seseorang tidak mungkin bohong. Apakah Hariri patut menjadi panutan? Jika dia tak patut dicontoh, apakah omongannya sungguhan? Bisakah dia dipercaya? Tidak.
Baik kalau Hariri diam saja dulu untuk beberapa saat, belajar lagi menjadi manusia sejati yang semata ciptaan supaya dia bisa menghormati ciptaan yang lain dan kemudian menghormati Sang Pencipta.
(Hmmm... hal yang sama kulakukan untuk diriku sendiri. Ini nasehat untukku sendiri juga.)

Wednesday, February 19, 2014

Gurindam Duabelas dari Raja Ali Haji

Foto diambil dari Wikipedia.
Ini gurindam pasal ke dua belas :

Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Raja Ali Haji, pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat. (1847)

Saturday, February 15, 2014

SAATNYA PULANG

Tahun belum berganti sejak terakhir aku memegang wajahmu. Kini rambutmu meriap hingga lekuk kuping, membisikkan rajangan batu-batu serpih. Air matamu berubah menjadi debu.

"Aku ini si pengikut takdir. Kutumpangkan suaraku pada angin. Dan kau, Barat, padamulah aku hendak mendarat."

Aku tidak kuatir murka dan duka tertenun di gaunku. Lenganmu sudah meraih jauh sebelum bibir berpekik. Kini menari saja, ayo menari. Di atas kanopi mangga dan kepala kedasih engkau putih begitu cantik.

"Mestinya kau berkemas. Pesanku sudah diseret para kelinci dan burung elang hingga ke teras rumahmu. Kau tak harus menanti."

Tapi aku bukan kekasih yang meletakkan tangan di atas cemas. Aku menunggu tekuk kakimu, dan kini, menari saja, ayo menari. Bulan yang tersembur dari laharmu, akan menghias jari manisku.

Pada suatu nanti
edelweis-edelweis akan mekar hingga di telapak kaki.

(Catatan untuk Kelud, Malam Jumat Wage, 13 Pebruari 23.00)

Thursday, February 13, 2014

Kejadian Tidak Menyenangkan di Toilet XXI TIM

Aku tak pernah membayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi di sebuah toilet bioskop, yang rapi wangi bersih di XXI Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini. Huft.

Persisnya, usai berburu buku di toko buku pojok gedung di kompleks TIM beberapa hari lalu, aku tak sabar ingin menuntaskan kebutuhan biologis, kebelet pipis. Karena tempat terdekat toilet bioskop dan kutahu itu tempat yang bersih aku jalan cepat setengah lari ke situ. Tak berpikir untuk memilih toilet yang mana, pokoke yang terbuka dan aku menuntaskan hasrat hingga tuntas tas tas.

Tak disangka, pas mau keluar, handle pintu kuputar, dan macet. Pintu tak bisa dibuka! Aku mencoba memutar kembali, mendorong, menggedor, pintu tak beringsut. Huft, mesti teriak. Dan aku mesti berteriak beberapa kali, bermenit-menit hingga ada orang yang mendengar. Waktu aku masuk memang suasana lengang karena bukan jam pergantian jadwal pemutaran film. Tapi aku tahu para petugas kebersihan sedang ada di bagian luar sedang ngobrol ketika aku masuk.

Setelah cukup berkeringat baru ada suara.

"Kenapa, bu?"

"Aku tidak bisa membuka pintu."

Suara perempuan di luar meminta aku sabar, dia akan mengambil kunci. Ya, ya, aku tak ada pilihan lain selain sabar. Dia datang mencoba membuka pintu. Namun hanya handle pintu yang bergerak, sedang slot pintu tetap tertutup. Petugas itu memanggil teman-temannya, mencoba membuka, namun tak bisa. Lalu mereka memanggil beberapa orang lain lagi, sembari meminta aku untuk sabar. Ya, ya, aku tak ada pilihan lain selain sabar dan berkeringat.

Alhasil, setelah waktu berlalu, seseorang mencongkel slot pintu dengan obeng, dan pintu terbuka. Huft. Begitu aku keluar, pintu tertutup dan terkunci lagi, tak bisa dibuka walau dengan kunci. Kesimpulannya, pintu itu memang rusak.

Huft. (Untuk kesekian kalinya, huft.) Aku mengabaikan pintu itu, mengabaikan para petugas itu, yang penting aku sudah di luar, bernafas panjang, mencuci muka, dan keluar. Astaga, aku tak pernah menyangka bahwa suatu waktu aku mengalami hal seperti ini di TIM.

Tuesday, February 11, 2014

Tunisia

Tunisia bukan perjumpaan
dia penari debu di antara angin,
di bawah matahari, melipat air-air
menggembung di punuk onta sahara.

Di duri kaktus yang keras menjaga diri
kau tumbuhkan bulu mata sebagai pucuk palem
atau pagar ladang sorghum, tempat ciuman pasir
hangat terpanggang di tiap jemarinya.

Sudahkah kau temui pemiliknya?
Tunisia hanyalah wajah di ventilasi bioskop tua
mengerling mengajakmu melewati petang
semata jelujur selendang imajinasi.

Nanti, kau sadar ketika waktu lenyap
tersandera rumah batu tanpa lampu
dan kau tak akan pernah menemukan tanda
kecuali keriput pipi perempuan tua.

(After film screening "Living Desert", at Tunisian Cultural Days at TIM, today)

Solitary

Kalau kau sempat, berjalanlah di lorong itu
temui dia sebagai waktu terlipat
dengan sudut lancip yang terpotong.

Berharaplah dia tersenyum,
walau terkulum kikir
tanpa dekik mengikut.

Dia akan memberi tanda
andai kabut-kabut sudah siap
dan sihir angin ke arah tepat.

Keberuntungan akan menyertaimu
karena pelaminan menunggumu
ditemani selaksa pengantin sunyi.

Saturday, February 08, 2014

Pantun Nasehat dan Pantun Jenaka

Aku sedang buru-buru akan keluar rumah kemarin malam ketika Bernard menahanku dengan bukunya.
"Bu, bantu sebentar. Aku ada PR yang bagiannya ibu."
Hmmm, tentu. Jadi aku duduk di sebelahnya. "PR apa?"
"Bahasa Indonesia. Membuat pantun."
Hmmm, aku tak ada ide. "Adik pakai saja pantunnya Sule."
"Nggak bisa. Ini pantun nasehat."
Aku melirik jam. "Ambil kertas dan pena. Cepat adik. Nih, ibu ada ide."
Dia menarik kertas di bawah keypad komputer, mencari-cari pena di dalam tasnya, dan memandangku.

Bunga melati bunga mawar
tumbuh dua batang di halaman
teman mari kita belajar
sungguh berguna di masa depan

"Ah. Sip, ibu. Sekarang pantun kedua, pantun jenaka."
"Hah? Memang PRnya membuat berapa pantun?"
"Dua itu saja. Habis itu ibu boleh pergi, lainnya aku kerjakan sendiri."
Dia menciumku lalu duduk lagi. Memandangku dan menunggu. Yach, kalau sudah kena cium tentu saja aku akan menyerah. Tapi pantun jenaka? Bagaimana buatnya?
"Pokoknya pantun yang bisa membuat orang hahaha hihihi, ibu. Bikin orang tertawa." Bernard menjelaskan.
Hmmm, tak ada ide.
"Jadi pakai hahahaha, hihihihi, ya? Apa ya, Nard? Kenapa tidak cari saja di internet?" Tawarku.
"Kelamaan, ibu. Ayo, cepetan."
Ih, yang buru-buru mau pergi kan aku, la kok dia yang lebih kebelet. Hmmm... pantun jenaka. Let see.

Burung dara burung merpati       (Aku berhenti sambil mikir. Bernard sudah menggigit penanya.)
diberi makan dalam peti              (Aku diam, lamaaaaa sekali. Bernard berdiri, mengambil minum.)
hahahaha hihihihi                         (Kok gitu? Protes Bernard. "Sudah tulis saja."
mari tertawa menghibur hati         (Kayak gitu? Bernard masih protes.)

"Kurang jenaka, ibu."
"Coba deh baca."
Bernard membacanya. Di bagian hahahaha hihihihi dia tertawa ditimpali tawa kakak dan bapaknya. Dan masih terus tertawa hingga bagian akhir.
"Tuh, kan. Lucu kan Nard. Semua tertawa."
Bernard tidak puas tapi dia tetap menyalinnya. "Tetep aja kurang jenaka. Tapi ya apa boleh buat."
Ih, aku cium kupingnya. "Nanti kita cari ilham lagi. Sekarang ibu pergi ya."
Tanganku diciumnya dan aku beri berkat di dahinya.

Thursday, February 06, 2014

Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski

Judul : Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski, sebuah pengantar
Penulis : Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat
Penerbit : Dewan Kesenian Lampung
Cetakan 1 : Desember 2012
Isi : 164 + xvi halaman
ISBN : 978-602-17839-0-0

"Selama fisikmu dalam keadaan tegang kau tidak bisa menemukan perasaan halus atau kehidupan spiritual perananmu. Oleh karena itu, sebelum kita mulai menciptakan sesuatu kita harus mengusahakan supaya urat-urat kita berada dalam keadaan seharusnya, hingga tidak mengganggu gerakan-gerakan kita." Stanislavski. (Hal. 95)

Cuplikan itu aku tulis untuk mencuatkan satu dari tiga panggung yang disarikan penulisnya dari sistem Stanislavki untuk pengantar akting (Dalam kamus besar bahasa Indonesia, akting = seni/profesi di atas pentas/tv/film, gambaran perwatakan dramatik baik bersifat emosional maupun intelektual yang dinnyatakan dengan suara dan laku, berakting = bermain drama. Makna lain akting adalah pemangku jabatan untuk sementara), yaitu laku fisik. Tiga panggung itu adalah kerja pikiran, kerja emosi dan laku fisik.

Kenapa aku mengambil 'panggung' laku fisik ini sebagai bagian awal tulisan ini? Apakah dua hal sebelumnya yaitu pikiran dan emosi tidak penting? Justru sebaliknya. 

Pertama karena aku menganggap bahwa pikiran dan emosi adalah dua hal 'terdalam' yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh manusia lain kalau tidak ada laku fisik (gerakan tubuh, ekspresi muka, dan suara.) Kedua karena aku melihat muara dari akting adalah laku fisik yang dilihat oleh penonton. Dari laku fisik itulah para penonton bisa menangkap pikiran dan emosi para aktor. Dengan begitu, pikiran dan emosi adalah dua aspek yang harus menjadi perhatian dan penekanan utama dalam kerja kreatif seorang aktor. Jika dua hal ini sudah 'selesai' (minimal disadari untuk terus diolah), maka fase-fase laku fisik bisa dilakukan dan dikembangkan.

Latihan, adalah sarana seorang aktor untuk melepaskan ketegangan dalam dirinya dan menjadikan tubuh bergerak secara wajar, sadar dan alami. Stanislavski mempunyai metode-metode latihan untuk persiapan gerak tubuh dan suara, sehingga aktor tidak menjadi robot atau zombi belaka, yang berakting tidak wajar, palsu dan dipaksakan. Stanislavski percaya bahwa perasaan sejati manusia adalah bagian yang paling pokok dari akting bagus seorang aktor.

"Jadikan yang sulit itu menjadi kebiasaan, karena terbiasa akan menjadi mudah, dan yang mudah menjadi indah." Itu dikatakan Stanislavski soal sangat pentingnya latihan-latihan. (Hal. 124)

Di bagian akhir buku ini, penulis buku mengingatkan apa yang dipesankan oleh Stanislavki untuk tidak sekali-kali membawa persoalan pribadi ke atas panggung. Mereka harus masuk panggung dengan khusuk dalam sikap mental yang sama dengan para pendeta saat menyiapkan altar. Keheningan ini akan membawa harmoni dalam nyanyian pikiran, hati dan daya kehendak. Maka ketika mereka mulai bergerak dan bersuara, penonton akan melihat laku fisikal yang jujur, benar dan wajar, selaras dengan pikiran dan emosionalnya.

Dan karena keseluruhan hal itu, aku bilang, buku ini bukan hanya baik untuk calon aktor atau aktor, tapi juga baik dibaca oleh manusia yang memang sungguh ingin menjadi manusia. Bukan menjadi manusia robot atau zombi. Buku ini mengajak manusia untuk bertindak secara sadar, wajar, jujur dan benar. Bukan hanya di atas panggung sebagai akting tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Wednesday, February 05, 2014

UNCHANGED

Mengambang di Atas Kembang
Mata cintamu masih memandang aneh.

"Siapakah kau, peri dari sungai Melawi,
atau cenggeret pohon jati?"

Belasan putaran matahari pada bumi,
dan kau masih mengira lenganku
sayap-sayap licin berkeriapan.

"Bagaimana kau bisa melakukan,
sehari menyisir riak pantai,
sehari memeluk gunung,
dan kini kau masuki gua-gua
dengan sayap-sayap, kaki-kaki
mengambang di udara sepi?"

Aku selalu kembali, di kamar kita
karena di situlah aku bisa nyenyak
tidur tanpa mimpi, dengan wajahmu
berpeluh lasak di telingaku.

"Sampai kapan kau akan rentang
sayap-sayap membentang, berkelepak
melintas musim, menjauhi lintang?"

Sayang, aku ulang bahwa lengan,
ini lengan, bukan sayap-sayap
hanya sepasang bukan berlaksa,
dan aku akan selalu pulang.

Mata cintamu masih tak percaya.

Tuesday, February 04, 2014

PEREMPUAN


Photo: PEREMPUAN

Ini perempuan kelewat batu

Kurusetra bukan hanya tempat ksatriya
karena ke sanalah perempuan itu pergi
menangisi setiap huruf yang terhapus

"Kau sudah butakan inderawiku
lalu kau buka jendela. Jadi, di mana dunia,
Tuan, supaya kulanjutkan penciptaan?"

ini perempuan terlanjur gagu

kamus menjadi lembaran hancur
dibukanya halaman per halaman
andai satu saja masih tersisa

itulah kata yang akan diucapkannya.Ini perempuan kelewat batu

Kurusetra bukan hanya tempat ksatriya
karena ke sanalah perempuan itu pergi
menangisi setiap huruf yang terhapus

"Kau sudah butakan inderawiku
lalu kau buka jendela. Jadi, di mana dunia,
Tuan, supaya kulanjutkan penciptaan?"

ini perempuan terlanjur gagu

kamus menjadi lembaran hancur
dibukanya halaman per halaman
andai satu saja masih tersisa

itulah kata yang akan diucapkannya.

Monday, February 03, 2014

Sajak untuk Song

Song,

jemarimu kelopak kenanga mekar
di pundaknya mengumbar aroma
hangat getah eukaliptus samar
mirip seikat mimpi tanpa jendela.

Song,
karna matanya sudah mengalir
dan hatinya batang ulir si pandai besi
bolehkah aku yang memintanya?

Lepaskan dia.

Friday, January 31, 2014

Ke Hatimu

Bernard membuat gara-gara dalam beberapa saat terakhir ini. Kalau ditanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan letak, dia akan menjawab tanpa pikir panjang.
Kejadian terakhir saja yang kuceritakan ya. Kemarin saat dia mengikuti wisata kota bersama teman-teman di sekolah, pulangnya aku tanya,"Nard, jadi kemana saja hari ini?"
Dengan matanya yang nakal dia menjawab,"Ke hatimu."
"Nggak jadi ke musium? Ke PTPN?"
"Ndak. Ke hatimu."
Dia mendekatkan wajah hingga nyaris menyentuh hidungku, habis itu lari mengambil lap top dan sudahlah, walau kugelitik berkali-kali dia tak mau cerita. Dengan gondok aku berbaring di sebelahnya, diam-diam, dan dia asyik bermain GTA.
"Bu, tadi itu gak asyik jalan-jalannya. Tempatnya jelek."
"Hmmm..." Aku pura-pura cuek. Gak butuh.
"Gak enak. Ke musium transmigrasi, kayak gitu saja. Lalu ke PTPN 7. Sudah hanya dua tempat saja. Ndak bagus."
"Hmmm, rugi dong ibu. Sudah membayar 100 ribu. Lain kali gak usah ikut saja kalau ada wisata kota lagi."
"Ndak dong. Harus ikut. Siapa tahu nanti wisata kotanya ke tempat yang bagus. Rugi kalau gak ikut. Dan lagi dapat makan enak, ayam goreng tepung. Dua bis kami semua. Enak lah bisa jalan-jalan, gak belajar di kelas."
"Memang mau kemana lagi kalau wisata kota?"
"Ke hatimu!"
Dia memelukku dan membenamkan mukanya ke perut, sengaja membuat gerakan yang menggelitik hingga aku harus diem saja menahan geli supaya dia segera berhenti. Kalau aku menjerit-jerit dan minta ampun, dia pasti akan terus melakukannya. "Huh, ibu ini gak enak kalau dicium perutnya, gak geli." Dia pun kembali ke lap topnya.
Hehehe.... dia tidak tahu kalau aku menahan geli setengah mati. Bernard, ibu juga selalu berjalan... ke hatimu.

Sunday, January 26, 2014

Terompah Usang yang Tak Sudah Dijahit

Tiba-tiba ingat buku tua ini. Aku membacanya dulu waktu SD. Buku yang ditulis oleh A. Damhoeri ini aku baca berulang kali tak terhitung. Entah dimana sekarang, apakah masih ada di lemari di kamarku Kediri sana atau sudah raib, aku tak yakin.

Buku ini terbit tahun 1975 (cetakan ke sekian) oleh Balai Pustaka. Aku masih ingat persis cerita dalam novel ini. Berkisah tentang terompah dari lahir hingga tersuruk butuh jahitan tapi tak pernah selesai dijahit. Terompah itu seolah-olah hidup dan menceritakan kisahnya itu dari sudut pandang orang pertama, tentang perasaannya, tentang yang dilihat dan sebagainya. Bahkan aku ingat dia bercerita bagaimana pengalamannya saat pertama kali dipakai oleh pemiliknya, ketika dicuri dari masjid saat pemiliknya sholat dan sebagainya.

Aih, siapa yang punya buku ini ya? Pinjami aku untuk fotokopi sebentar. Please.

Saturday, January 25, 2014

Queen of Dream

Penulis              : Chitra Banerjee Divakaruni
Judul                : QUEEN OF DREAM, Ratu Mimpi
Alih bahasa       : Gita Yuliani K.
Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978-979-22-7395-3
Isi                    : 400 hlm

"Perjalanan itu maksudnya untuk menambah pendidikan kami. Calcutta  penuh mimpi. Bukan hanya yang diimpikan penduduknya yang sekarang, tetapi mimpi-mimpi lama, yang terputus, yang menggantung diam di atas Sungai Gangga yang coklat berlumpur, dan mewarnai malam hari dengan kebingungan. Kemampuan kami akan diuji, kami akan disuruh memetik mimpi-mimpi yang sudah tak bertubuh itu dari udara dan menafsirkannya." (Hal. 195)

Satu paragraf yang aku cuplik dari buku ini bisa memberi gambaran pada ide Divakaruni mengenai salah satu tokohnya yang disebut Ratu Mimpi. Dia adalah gadis yang mempunyai bakat untuk menafsirkan mimpi, lalu tergabung dalam kelompok para penafsir mimpi. Mereka tidak bisa begitu saja hidup, karena mereka unik, khas dan istimewa. Ada pendidikan-pendidikan yang harus mereka tempuh dalam gua, tersekat dari dunia luar, dimana mereka semakin meningkatkan kemampuan mereka menafsirkan mimpi.

Kehidupan dalam komunitas penafsir mimpi penuh dengan aturan. Mereka tidak bisa seenaknya menghirup udara bebas seperti orang-orang biasa. Maka perjalanan rekreasi, seperti digambarkan di paragraf itu, mereka 'rekreasi' ke Calcutta, hmmm sebenarnya juga untuk pendidikan, menjadi perjalanan yang asyik.

Tapi si ratu mimpi mendapatkan salah satu kenyataan yang menggairahkan dalam perjalanan itu. Dia jatuh cinta, pada seorang pemusik yang ditemuinya di jalan. Dan dia mau lari dengan laki-laki itu, bercinta, dan meninggalkan komunitas para penafsir mimpi.

Melalui sebuah pengadilan, dia boleh tetap memiliki bakatnya, dengan syarat dia tak pernah terikat pada cintanya itu. Dia harus tetap terpisah dengan cintanya walau dia hidup bersama. Maka, ratu mimpi tetap menafsir mimpi, tapi suaminya tidur di kamar menguasai pagi, siang dan sorenya, sedang malam, ratu mimpi di ruang jahit bekerja menafsir mimpi-mimpi. Membantu orang-orang yang gelisah dalam mimpinya, dan menemani mereka untuk sembuh.

Hmmm, Divakaruni menarik cerita 'khayal' ini dalam dunia modern lewat kehidupan anak dari si penafsir mimpi. Sebagai migran India yang tinggal di Amerika, -yang khas dari cerita Divakaruni selalu mengangkat dunia migrasi ini-, dalam kehidupan antara adat Hindi dan juga hidup gaya modern.

Divakaruni selalu berhasil membawaku dalam lingkungan kehidupan para Hindi modern yang lepas ratusan kilometer dari negeri asalnya itu. Mereka selalu asyik untuk dilihat. Tarik menarik antara tradisional dan modern... Ya, ini novel yang menarik.

Monday, January 20, 2014

Jagal/The Act of Killing

Sakit. Sakit banget nonton film dokumenter garapan sutradara Joshua Oppenheimer. Aku telat banget menontonnya secara lengkap, tapi sungguh, aku jadi ... aku tak sanggup menceritakannya. Ini secuplik dari Wikipedia tentang film dokumenter, dengan 'aktor' Anwar Congo dan kawan-kawannya :

Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.
Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.
Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.
Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral.

Untung Joshua bukan orang Indonesia, sehingga dia bisa pergi, lepas, walau di banyak media dia menceritakan rasa sakitnya ketika membuat film ini. Dia menerima pujian, dan banyak penghargaan. Bahkan sekarang masuk nominasi Academy Award.
Tapi aku, yang orang Indonesia... apa yang akan kulakukan? Aku berterimakasih padanya karena dia telah mengorek korengku. Huks, uhuks, aku berterimakasih karena dia sudah memberikan lampu pada cermin untuk memandang kenyataan. Kini...biar saja aku menangis dulu. Sakit...

Sunday, January 19, 2014

Masa Kecil

Waktu aku pulang kampung di pergantian tahun lalu, aku menyempatkan diri membongkar album, map, kerdus, rak dan segala macam tumpukan. Hasilnya : catatan-catatan dalam berbagai bentuk, gambar-gambar, dan yang paling membuatku lama terpekur adalah foto-foto.

Satu tahun.
Yang aku mau pasang di sini bukan yang membuatku terdiam lama-lama tapi yang membuatku teringat, sadar, yakin, bahwa aku pernah lahir dan kemudian bertahap hidup pelan-pelan dalam evolusi pasti hingga menjadi sekarang ini seperti ini. Kata-kata aku simpan dulu, tapi lihat tiga foto ini.

Pertama adalah foto saat umur kurang dari satu tahun, digendong Pakpuh Joko, kakaknya bapak, di dapurnya Mbah Kari di Brebek Nganjuk, juga bersama Mbah Kari. Seumur itu, aku blas gak tahu apakah aku punya kesadaran sebagai manusia.

Dua tahun.
Kedua adalah foto saat berumur kurang lebih dua tahun, digendong bapak di dekat pelaminan. Lamat-lamat aku masih bisa mengingat peristiwa ini. Saat itu aku ikut bapak ibu menghadiri undangan perkawinan, seperti biasa aku akan mendekat pada yang kelihatan 'blink-blink' gemerlap. Ibu melarangku pergi jauh-jauh dari sisinya, tapi aku menangis, lalu digendong bapak maju ke dekat pelaminan. Aku diam, dan bapak - kayaknya yang membuat dekorasi manten itu - minta tukang foto memotret kami.

Ketiga adalah foto saat aku berumur sekitar tiga tahun. Ibu akan berangkat ke sekolah dengan motornya. Aku mengambil topi dan sepatu, ingin ikut, tapi tidak boleh. Seseorang, mungkin Pakpuh No, memotret kami untuk menghiburku.

Tiga tahun.
Hmmm... beberapa peristiwa masa kecil lain aku juga masih ingat. Seperti saat ikut lomba baca puisi saat 'pura-pura' sekolah di nol kecil. Judul puisinya "Pahlawan". Hmmm, sebagian cerita itu aku ingat, karena memang aku mengingatnya dan masih bisa kurasakan perasaanku waktu itu saat mengenangnya. Sebagian lain juga karena ibu, bulik, dan kerabat beberapa kali mengulang cerita-cerita 'memalukan' yang pernah kulakukan dulu, di masa kecil. Hmmm... bisakah aku kembali? Masa itu aku sungguh aman di dalam cangkang telurku yang belum pecah. Di mana sekarang cangkang telur itu? Hmmm....

Saturday, January 18, 2014

Dalam Persembunyian

berlari tanpa alas kaki, perempuan
kesakitan, berterimakasih
pada hujan, menyembunyikannya
dalam derai rinai, menurunkan
panas suhu badan, memompakan
hidup buluh raga.

selamanya dia bersembunyi
dalam hutan hujan
sampai harga dirinya kembali
dan mengajaknya
menari.

Thursday, January 16, 2014

Suatu Sore

menjelang sore, sebelum matahari merapat kaki langit
aku membayangkan kita duduk berdua
dengan secangkir kopi di depan kita
memulai lagi perjumpaan-perjumpaan
merangkul dan minta maaf pada mereka
karena pernah kita tinggalkan di pinggir kota

kali ini kita akan memesrai kenangan
penuh rindu tapi tanpa cemburu
berbincang tentang anak-anak yang telah kita biarkan
tumbuh berpinak di segala puisi dan prosa
mereka, telah dipijahkan dari waktu yang singkat
namun bukan untuk mangkat

lalu kita akan saling tertawa
menarik kulit kita yang pernah bersenggama
di suatu musim yang kita sebut cinta
walau hanya untuk sementara
kini pun aku tetap bersikeras
itu memang cinta

Kerling Pagi

suatu saat ketika genangan hujan belum kering
aku duduk di tepi pagi, membenahi kantung-kantung bekal
sayang, aku tidak bisa membawamu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
di kerling pagi aku akan menyimpanmu
rapat tak untuk siapa juga
sesekali aku akan menengokmu
sayang, jangan merasa kesepian
kita punya matahari sama
yang pernah mekar dalam sebuah perjalanan
di atas senyumku, di atas senyummu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
sesekali aku akan menengokmu
memastikan bahwa kau aman, di kerling pagi
dalam rumah kita.

Wednesday, January 08, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (5) : Gunung Kelud

Cerita sebelumnya.

Keterangan tentang gunung Kelud.
Ini bagian akhir liburan yang mengasyikkan. Di hari terakhir sebelum meluncur kembali ke Lampung, kami 'mendaki' Gunung Kelud, di Kabupaten Kediri. Gunung ini gunung yang masih aktif dan kuingat meletus terakhir pada tahun 1990 saat aku masih SMA. Aku ingat saat letusan terjadi aku ada di kelas, langsung lari ke menara Gereja yang ada di samping sekolah untuk melihat ke arah Gunung Kelud. Semburan warna oranye dan merah bisa kulihat dengan puas dari menara itu sampai disuruh turun oleh petugas Gereja dan diusir pulang.

Ini kedua kalinya ke gunung ini. Dua tahun lalu aku pernah juga ke sana berdua dengan den Hendro dan sangat beruntung karena cuaca yang sangat sempurna. Kali ini cuaca mendung, sedikit gerimis sehingga foto-foto kurang cerah. Tapi tetap bagus, tetap indah.
Jarak Kelud dengan gunung lain.

Kenapa di paragraf awal kata mendaki itu aku beri tanda kutip? Karena ini berbeda dengan mendaki gunung-gunung lain. Pemda setempat sudah memfasilitasi para pengunjung dengan sangat rapi sehingga mereka menyediakan anak tangga (500 anak tangga!) untuk menuju atas puncak, dan 150 anak tangga untuk ke bawah ke anak Gunung Kelud yang masih bertumbuh.

Anak Gunung Kelud.
Tangga-tangga ini bikin kaki gempor, tapi tak rugi karena pemandangannya luar biasa. Selain itu pasti merasa nyaman sekali melewati tangga-tangga ini karena sesekali kita bisa berhenti untuk mengamati perbukitan, kabut yang bergerak turun, dan jangan lupa untuk memicingkan mata melihat kanan kiri. Banyak edelweis tumbuh di lereng-lereng Kelud. Cantik buanget.

Masuk terowongan.
Selain puncak dan anak Gunung Kelud, beberapa lokasi wajib dinikmati. Terowongan lahar yang gelap tapi romantis dingin, lokasi camping yang berdinding tebing, permandian air panas, flying fox yang menyuguhkan pemandangan indah, batu prasasti yang bisa untuk background foto, musim dan teater, warung-warung makan yang enak dan murah, serta jangan abaikan perjalanan menuju lokasi atau saat pulang. Kebun durian, nanas dan sebagainya ada di kanan dan kiri jalan berkelok.
Permandian air panas.

Bahkan di perjalanan pulang kami dapat bonus. Sebotol madu asli dari penangkaran lebah. Itu salah satu oleh-oleh kami dari Kediri. Oleh-oleh lain? Hmmm... tulisan-tulisan ini sudah cukup untuk oleh-oleh kan? Atau kurang? Jika ada yang mau tanya lebih lengkap komplet jelas, silakan tanya. Aku siap menjawabnya. *** (Selesai)

Tuesday, January 07, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (4) : Bendungan Selorejo

(Cerita sebelumnya)

Semilir di pinggir danau.
Tempat lain yang kami kunjungi adalah Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Dulu aku tak pernah tertarik mengunjungi tempat ini saking biasanya aku lewat di dekatnya. Kemarin pun ketika semua semangat untuk mampir aku tidak begitu semangat.

Tapi rupanya cukup menarik juga tempat ini. Yang pertama-tama bisa dinikmati adalah kulinernya! Beberapa macam makanan dari ikan air tawar bisa ditemukan di sini. Ikan dan udang kecil-kecil yang digoreng kriuk, lalapan, atau ikan yang agak besar ada nila atau mujair.
Urusan utama, belanja.

Yang paling enak? Mujair bakar. Hmmm... sedap nian. Ikannya kecil, tak sampai seukuran telapak tangan. Masih segar, dibakar cukup pas tidak terlalu gosong tapi juga tidak mentah, lalu disiram bumbu kacang dan kecap. Wuah, satu porsi bisa habis sendirian.

Harga tidak terlalu mahal. Satu porsi ikan mujair bakar itu terdiri dari dua ikan yang dibelah sehingga matangnya merata, dengan satu bakul kecil nasi plus lalapan dan sambel seharga 30 ribu rupiah. Atau pilih paket makan untuk 10 orang seharga 165 ribu rupiah, lengkap, kecuali minum. Teh, kopi dan minuman lain bisa dipesan terpisah.

Ikan dan udang goreng tepung yang kriuk.
Selanjutnya bisa shoping beberapa barang kecil macam baju, kaos, celana batik, gantungan kunci, tulisan-tulisan I love Malang, dan sebagainya. Juga makanan-makanan khas Malang dan sekitarnya.

Pemandangannya? Hmmm, bagus. Danau kecil, jembatan, bangku, batu, pohon, air, rumput, kabut,...macam setting sebuah puisi atau cerpen saja. Hehehe... *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (3) : Pantai Papuma

(Cerita sebelumnya)

Menjelang senja. So romantic.
Aku sangat beruntung bisa datang lagi ke pantai ini, dan kali ini bersama dengan salah satu yang merintis keberadaannya sebagai tempat wisata andalan di desa Lojejer, kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Nama pantai itu Papuma. "Asalnya dari kata pasir putih malikan. Pasirnya memang putih, dan di sebelah sana ada lempeng-lempeng batu yang akan malik (terbalik) kalau terkena ombak," jelas VJ. Suliham, salah seorang perintis pantai ini saat masih bekerja di Perhutani Wuluhan, dan kebetulan sekali bapak ini adalah mertuaku, hehehe...

Pantai ini terletak sekitar 45 km dari kota Jember ke arah selatan. Awalnya yang lebih populer adalah pantai Watu Ulo. Tempat ini mudah terjangkau. Tapi kemudian Perhutani melihat peluang pantai ini yang mempunyai potensi keindahan yang jauh lebih alami dan erotis. Memang, bukan waktu yang sedikit untuk mewujudkan Papuma sebagai tempat wisata yang mudah terjangkau dan lengkap fasilitasnya. Tapi sekarang kalau bertandang kesana, semua hal itu, keindahan dan kemudahan bisa didapatkan.

Untuk keindahannya, sudahlah, lihat foto-fotoku, atau browsing di banyak alamat internet. Sungguh tak tertandingi. Belum lagi keragaman flora dan fauna, bikin kerasan boo... Nah soal kemudahan, jalan ke tempat ini sudah bagus. Dulu ketika tahun 1996 aku ke sana tidak sebagus ini. Juga ada tempat penginapan yang murah meriah.
Tempat bermain, berfoto, bersantai, melamun, ...dll.

Pertama bisa memilih cottages punya perhutani yang disewakan dari harga 200 ribu rupiah hingga 750 ribu rupiah. Kalau ini terlalu mahal, bisa pilih menginap di tenda. Harganya lebih terjangkau. Klik sini untuk keterangan yang lebih lengkap.

Waktu kami liburan kemarin, kami memakai penginapan Jati 1, 2 dan 3. Tiga ruang / rumah karena memang rombongan besar. Harganya super karena pas libur yaitu 550 ribu rupiah per malam (hari biasa 400 ribu rupiah) dengan fasilitas kamar mandi, tivi, ac, kulkas, tempat tidur besar, teras yang cantik menghadap ke laut.

Makanan tidak perlu kuatir karena banyak warung makan di sepanjang pantai yang menyediakan ikan bakar, lalapan, mi, rawon dan sebagainya. Juga banyak penjual sovenir yang murah meriah. *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (2) : Pura Mandara Giri Semeru Agung

(Cerita sebelumnya.)

Gerbang utama difoto dari dalam.
Pura ini terletak persis di depan Puri Dewi Rengganis. Jadi tinggal menyeberang jalan, sampailah di situ. Maka, jika kita menginap di Puri Dewi Rengganis, tempat ini bisa setiap saat dikunjungi. Dan, sungguh, pura ini sangat indah dan besar. Rasanya setiap ke Senduro aku pasti ke pura ini. Kadang datang untuk sembahyang, menyepi, tapi juga kadang khusus untuk berfoto-foto. Segala sudutnya tempat ini indah.

Mulai dari depan, kita akan disambut gerbang utama yang megah. Lalu di bagian depannya ada pendopo dimana kita masih bebas masuk. Ornamen-ornamen membuat kita serasa di Bali.

Konon, Pura Mandara Giri  adalah pura tertua di Indonesia. Bukan soal pendiriannya karena baru dibangun pada tahun 1988 dan pada 1992 pura ini dianggap resmi berdiri. Walau begitu, kegiatan keagamaan memang sudah dimulai jauh sebelumnya. Ritual nuur tirta (permohonan air suci) sudah pernah dilakukan sejak tahun 1963 di Patirtaan Watu Kelosot oleh para pemeluk Hindu dari Bali maupun dari warga setempat.

Air dari lambung gunung Semeru bukanlah air biasa dan sembarangan. Ada konsep kuat melatarinya, dan ini sangat terkait dengan sumber-sumber susastra-agama yang ada. Antara lain disuratkan, ketika tanah Jawa masih menggang-menggung, belum stabil, Batara Guru menitahkan para Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India) ke Jawa. Maka, puncak Gunung Mahameru dipenggal, diterbangkan ke tanah Jawa. Jatuh di sisi barat, tanah Jawa berguncang. Bagian timur berjungkat, sedangkan bagian barat justru tenggelam.
Serasa di Bali.


Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun digotong lagi ke arah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu berjatuhan dan kemudian menjadi enam gunung kecil masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 m di atas permukaan laut), Gunung Wilis (2.169 m), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 m), Gunung Kawi (2.631 m), Gunung Arjuna (3.339 m), Gunung Kemukus (3.156 m).

Adapun puncak Mahameru itu kemudian menjadi Gunung Sumeru (3.876 m). Inilah puncak tertinggi Pegunungan Tengger sekarang dan gunung tertinggi yang membentuk poros dengan Gunung Bromo atau Gunung Brahma. Sejak itu tanah Jawa menjadi stabil, tak lagi goyang.



Puncak Semeru dari Senduro.
Di hulu tertinggi inilah manusia-manusia yang percaya mengambil sumber energi dari Hyang Widhi Wasa, untuk dialirkan ke banyak tempat. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menetapkan nama pura adalah Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa. Ke sanalah umat Hindu berdatangan. Tidak hanya pada hari raya dan ulang tahun pura (Juni - Juli merupakan waktu yang paling ramai dengan banyak ritual dan festival.), tapi juga pada hari-hari biasa. Bukan hanya dari Jawa dan Bali tapi dari berbagai tempat di Indonesia. *** (Bersambung)

Monday, January 06, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (1) : Puri Dewi Rengganis

Liburan kali ini begitu heboh. Melibatkan keluarga besar Samiran dan Suliham. Aku kurang tertarik menuliskan tentang dua keluarga ini, jadi aku memilih menuliskan tempat-tempat mana saja yang telah kami kunjungi selama rentang liburan itu.

Puri Dewi Rengganis tampak depan.
Pertama adalah Puri Dewi Rengganis. Ini bukan tempat wisata, tapi ini tempat yang merangkul kami semua dalam dinginnya Semeru. Awalnya rumah di jalan raya Senduro, desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ini adalah rumah tinggal keluarga Suliham. Hanya untuk tempat tinggal yang bahkan tidak selalu ditinggali, karena Pak Suliham bekerja di Perhutani dengan tugas berpindah ke beberapa kota.

Setelah pensiun, rumah ini kembali dihuni tapi situasi sudah berbeda. Lokasinya yang persis berada di depan Pura Mandara Giri Semeru Agung, membuatnya sering diminta orang-orang yang datang dari jauh untuk transit sebentar, numpang istirahat, numpang mandi dan sebagainya. Maka Pak Suliham merombaknya dengan serius. Kamar mandi dibikin beberapa di bagian luar, dan kamar-kamar dibuat standar. Ada 15 kamar dilengkapi double bed, meja kecil dan kursi di tiap kamarnya.

Maka, jadilah Puri ini sebagai tempat singgah yang nyaman. Saat kami datang (rombongan dua mobil keluarga Pak Samiran), kami sudah booking jauh-jauh hari, supaya dapat kamar. Di hari libur, tak ada kata pokoknya walau anak sendiri bisa gak kebagian tempat. (Aku pernah datang pada bulan-bulan ramai hanya untuk semalam, akhirnya menggeser kamar bapak untuk tidur karena semua kamar penuh. Dan dalam semalam itu aku menjadi 'host seksi' yang hilir mudik karena permintaan bergelas-gelas kopi, teh atau air panas untuk mandi.) Apalagi dalam jumlah besar macam kami, booking kamar mesti dilakukan 6 bulan sebelumnya!

Nah, perlu diingat, Senduro adalah dataran tinggi yang super dingin. Jadi sediakan jaket atau apapun penangkal dingin jika datang ke tempat ini. Memang sih tiap kamar disediakan juga selimut, tapi pasti kurang hangat. Fasilitas lain? Aih, ini ya rumah biasa. Maka jangan berharap ini macam villa atau hotel. Bersih, rapi dan indah. Cukuplah itu. Makanan bisa pesan untuk jumlah berapapun dengan harga terjangkau sesuai menu yang diminta. Ini recomended banget deh. Makanan di sini enak buanget. Pakai sangat, sekali, amat, very...

Rutenya, dari terminal Wonorejo Lumajang naik bis jurusan Kencong/Ambulu turun di Klojen, sekitar 15 menit. Dari Klojen naik angkutan desa ke Senduro. Ini mesti sabar karena kalau naik angkutan desa ini akan nunggu penumpang penuh baru jalan dan lelet banget. Bilang saja ke sopir turun depan Pura atau langsung sebut Dewi Rengganis, persis di depan rumah. Ada plang nama terpasang.

Pemandangan dari teras samping. Halaman luas, parkir mudah.
Atau kontak Pak Suliham di nomor 0334-610650, nanti akan diatur penjemputan di Terminal Wonorejo. Soal pembayaran, pakai cash saja, dan bisa nego. Harga keluarga, karena siapapun yang bertandang ke puri ini akan dianggap sebagai keluarga. Terakhir-terakhir ini rata-rata biaya menginap Rp. 50.000,- semalam per kamar. Teh, kopi, air panas, penjemputan dan guide bisa ditambahkan saat akan check out. Lebih okey jika bawa oleh-oleh juga pas datang karena kan anda akan jadi keluarga di puri ini.

Nah, jadi kalau sedang ada agenda ke arah Semeru, Bromo, Pura Mandara Giri dan sekitarnya, atau cuma ingin melihat puncak Semeru dari kejauhan, datanglah, silakan datang ke Puri Dewi Rengganis. Anda akan diterima selayaknya keluarga.*** (Bersambung)

Wednesday, January 01, 2014

Gerimis dan Tekad Awal Tahun

Awal tahun 2013 silakan diklik untuk melihat niatku. Kalau sekarang aku punya waktu diam dan hening persis di tanggal pertama tahun 2014, bukan berarti aku lebih beruntung dari tahun lalu. Tahun ini diakhiri dengan gerimis yang tak henti-hentinya membayang di pelupuk mataku. Kerutannya jelas mengejang setiap kali aku membuka mata. Aku punya banyak alasan untuk tidak bisa menghentikannya, dan aku memang tidak bisa menghentikannya. Jadi, sementara waktu hingga awal tahun baru ini, aku biarkan gerimis-gerimis itu menjadi sahabatku. Merangkulnya dalam hati pedih, dan tidak kutolak.
Temans, mohon maaf atas situasi ini dan mohon maaf aku tidak bisa mengucapkan happy new year atau ucapan apapun yang sejenis untuk tahun baru ini. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengucapkannya kepada siapapun. Bagi yang sudah mengucapkannya untukku, lewat SMS, email atau langsung, mohon maaf aku tidak bisa membalas kegembiraan yang sama untuk kalian.
Apakah situasi ini begitu buruknya? Tidak. Jangan pernah kuatir akan hal itu. Aku tahu ini hanya sementara, dan rasanya memang aku membutuhkannya. Gerimis tidak sama dengan embun kan? Gerimis bisa membasuh banyak hal, meluruhkannya, dan semua akan terlihat berbeda nanti. Hanya butuh kesabaran saja mengikuti waktu. Jadi, temans, tidak usah mengkuatirkan aku.
Kalian masih ingin tanya hasil evaluasiku di akhir tahun lalu? Ini bagian yang sulit, tapi aku bisa bercerita beberapa point. Pertama, omong kosong soal memurnikan motivasi. Justru aku terpuruk dalam hasrat egois yang parah. Kedua, untuk pertama kalinya aku merasakan penyesalan-penyesalan atas tindakanku yang kusengaja. Aku tak pernah berada dalam perasaan seperti ini. Ketiga, aku menandai diriku sendiri dalam labirin yang menyesatkan walau terus terang memang aku nikmati. (Ehm, apa sih yang tak dinikmati oleh seorang Yuli?) Keempat, ada buku Hilang Silsilah yang memuat cerpenku. Urusan ini selalu membuatku antusias dibanding apapun juga. (Thanks Dewan Kesenian Lampung). Dan kelima, aku punya harapan yang besar terlebih aku mendapatkan teman luar biasa di akhir tahun ini (walau juga sekaligus aku telah kehilangan banyak hal di akhir tahun.) Temanku adalah Divakaruni.
Tapak liman tanpa batang yang hanya untuk diinjak.
Siapa Divakaruni? Dia lewat Queen of Dreams telah menguatkan aku untuk meneruskan hidup dalam misi khusus tahunan. Okey, aku setujui dia untuk menghilangkan misi yang sok suci. Misi-misiku di beberapa tahun terakhir akan aku simpan di kotak penyimpananku. Aku melangkah di tahun 2014 ini dengan hasrat baru untuk menghadapi banyak tantangan. Pesannya sangat jelas :"Jangan pernah turunkan targetmu, tapi tingkatkan kemampuanmu untuk mencapai target tertinggimu." (Thanks, batang tapak liman kesayanganku. Apapun situasinya, indah atau buruk, aku tak akan melepas cinta, pada dirimu yang sebentar dan kecil di antara seluruh keabadian semesta raya ini. Ini semangat yang mengalahkan segala yoga, meditasi ataupun segala peristiwa.)
Jadi aku menulis tentang misiku di tahun 2014 ini dalam bayangan gerimis (yang toh aku syukuri karena gerimis ini muncul karena cinta) yaitu : novel! Aku telah memulainya di hari yang dini ini. Dan lihat akhir tahun 2014 nanti, kalian, para kekasihku, akan memelukku kembali sebagai ucapan terimakasih karena kado yang kuberikan untuk kalian. Sebuah novel! Kali ini tak usah bertepuk tangan untukku. Lihat saja akhir tahun nanti. Dan selama hari-hari hingga akhir tahun nanti, aku tak peduli andai kau palingkan pandangan dariku. Lihat saja nanti.

Friday, December 20, 2013

Pamit

Hai, hai, jangan menangis dulu. Ini pamit tahunan seperti biasa. Menjelang libur akhir tahun aku akan mengambil waktu untuk pamit, menikmati tepukan tangan dari anda sekalian atau kalau bukan tepukan, aku akan tetap membungkuk takzim untuk anda sekalian.
Ini hari terakhir aku menulis di blog untuk tahun 2013 ini. Hari pertama aku menulis di tanggal 3 Januari lalu, aku menulis tentang misi pribadiku sepanjang tahun yaitu : memurnikan motivasi. Misi inilah yang akan aku bawa untuk aku renungkan sepanjang perjalanan akhir tahun hingga pergantian tahun nanti.
Jadi jangan sedih. Secepat mungkin, pada kesempatan pertama di awal tahun aku terakses internet, aku akan segera menulis untuk blog ini lagi. Mau tahu perjalananku akan sejauh apa? Aku pasang clue saja ya : Lampung - Jakarta - Kediri - Lumajang - Jember. Mungkin akan tambah beberapa kota lain yang berdekatan misal Surabaya - Malang - Jogjakarta - Bandung. Tapi itu hanya bonus saja. Kisahnya aku akan tulis nanti, seperti biasa.

Thursday, December 19, 2013

Kehilangan Pagi

Ini sudah dimulai dari kemarin, bahkan kemarin lagi, dan lagi. Saat siang lalu senja, boleh saja kuterima. Suaranya tersamar dengan seluruh hiruk pikuk jalanan dan juga teriakan anak-anakku. Tapi ketika jalanan mulai terlelap dan anak-anakku mulai masuk ke alam mimpi, suaranya yang  tak berhenti itu sungguh menjengkelkan. Aku sama sekali tak bisa memejamkan mata, terseret gelombangnya.

Awalnya aku mengira suara itu adalah alunan keluhan. Seperti sayup-sayup berdendang di sela-sela gerimis yang tak ada sela. Kadang-kadang aku malah bisa menganggapnya sebagai lagu ninabobo yang tak tahu waktu. Mengalun, mengayun, mengalir tiada henti, kadang dalam suara rendah, kadang bernada tinggi.

Namun suaranya sama sekali bukan lagu. Suatu saat berubah menjadi lengkingan, lalu raungan, dan di malam yang senyap, suara itu bukan lagi alunan, tapi menjadi sentakan, hentakan. Jadi aku memutuskan untuk mendatanginya, memastikan apa yang dia tangisi berhari-hari, tanpa henti di seluruh putaran waktu, di dalam rumahnya sendiri.

Saat aku datang, rumahnya terkunci. Bunga kemuning samping rumahnya sudah merontokkan seluruh kelopaknya, dan bibit-bibit mawar di halaman depan seperti tonggak-tonggak penuh duri-duri, tanpa daun tanpa bunga. Aku sudah hendak mengetuk pintunya, ketika perempuan itu, ternyata perempuanlah suara itu, sedang mengencangkan raungannya. Suaranya serak dan basah. Ah, hentikan sebentar, perempuan. Hentikan sebentar tangismu itu. Hatiku berbicara, tapi suaraku tak muncul, termangu di depan pintunya, ikut dalam tangisannya yang pilu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Aku sama sekali tak menduga dia akan membuka pintu, dan berdiri persis di depanku. Suaranya saat berbicara sama sekali bukan suara manusia, walau dia tetaplah perempuan. Mungkin sama sekali bukan suara, tapi semacam erangan dalam nada bariton, yang sangat dalam dan sangat basah.

Matanya adalah mata tercekung yang pernah kulihat. Begitu basah tapi tanpa kilat. Lampu jalanan membantuku melihat titik-titik air di seluruh wajahnya, juga lengannya, juga jemarinya. Matanya, ya, matanya, adalah sumur tergelap dengan aliran yang tak habis-habisnya. Lihat, bahkan saat kemarahan membungkus, pun sudut-sudut matanya mengalirkan kedukaan.

Aku hendak mengatakan kalau aku terganggu oleh suara tangisannya, tapi matanya tak mengijinkan aku bersuara. Tubuhku gemetar merasakan kehadirannya di depanku dengan rongga-rongga seluruh tubuhnya yang rapuh. Dia memandangku dengan tangisan. "Aku kehilangan seluruh pagi yang harusnya kumiliki! Kau pikir aku tak boleh menangisinya?"
Perempuan itu membalikkan badan. Pundaknya lapuk dalam lengkung, dan sepasang betisnya yang timpang menyeret tubuhnya kembali ke balik pintu. "Kau pun akan kekal dalam duka kalau kau kehilangan pagimu!" Telunjuknya menudingku sebelum dia membanting pintu, kembali terkunci.

Lalu sedu sedan itu kembali melagu. Sesekali ada lengkingan dan raungan. Oh, perempuan, betapa besar hatimu terkoyak. Kemana perginya pagimu? Aku basah kuyup di terasnya, dalam gerimis yang tiba-tiba menjadi hujan lebat.

Wednesday, December 18, 2013

Hanya Gerimis

Ini lebih berat dari yang kusangka, sahabat.
Aku tak mengira gerimis datang terus-menerus.

Kertasku basah, tintaku basah, bajuku basah,
dingin dan luntur. Rambutku basah, dadaku basah,
rotiku basah, pasi dan melumpur. Langkahku basah,
nyanyiku basah, hatiku basah, lesi dan hancur.

Ini terlalu berat dari seharusnya, sahabat.
Aku tak mengira gerimis bisa bertahan berjam-jam.

Sulit mengikuti langkah panjang kesatria
di jalanan licin tanpa pegangan. Mata buta
oleh gumpalan hasrat di pojok ruang.
Tak akan sempat, tak akan ada saat.

Ini terlalu berat. Tak ada pilihan. Hanya gerimis.
Terus menerus. Berjam-jam. Terlalu berat.

Tuesday, December 17, 2013

Conspiracy (12) Tamat

Kisah sebelumnya.

Sebisa mungkin aku menahan kantukku. Heart berayun-ayun dalam tubuhnya yang tambun. Tangannya kini tak lagi memijitku, tapi mengurai rambutku, memainkannya, sembari matanya terpejam.
"Heart, bisakah aku melupakan Dew? Apakah menurutmu aku bisa melakukannya?"
Prince of Heart yang biasa lentur berayun luwes gemulai, spontan tegak dalam gerak kaku. Tangannya ditarik dengan cepat dari rambutku sehingga aku terpekik karena beberapa rambutku tercabut olehnya. Tapi aku segera melupakannya dan tak peduli ketika Heart menunduk hormat beberapa kali untuk meminta maaf.
"Bisakah, Heart sayang?"
Heart memandangku tak percaya.
"Lady, apakah Lady akan menyerah?"
"Tidak."
Aku menggeleng-geleng sembari mencoba merangkul badannya yang mulai hangat. "Heart, kau tahu aku bukan orang yang mudah menyerah."
Sekarang dia yang menggeleng-geleng, dengan wajah yang sulit diduga antara gembira atau berduka.
"Kau tak akan berhasil, Lady. Dew telah merasuk seluruh tubuhmu, mana mungkin kau berniat melupakannya. Kau tak akan berhasil."
"Minimal, Heart, kalian akan kembali dalam harmoni. Aku capek melihat kalian selalu bertengkar. Brain semakin tua akhir-akhir ini, dan kau terus mengoloknya. Juga lihat Eyes yang sudah bengkak matanya, Noses yang tak henti-hentinya kena flu, Mouth yang semakin tajam suaranya, Ears yang semakin menjuntai dan Skins, ah Skins sungguh kasihan selalu menjadi tumbal, merana."
Heart terdiam. Pandangannya menjauh dari istana, menangkap dua pasang kutilang di pohon Gayam, dekat mata air taman.
"Memang, Lady. Kami pun capek."
"Sekarang bergegaslah, Heart. Panggil Brain segera, apapun yang dia lakukan, suruh berhenti dan kesini. Aku akan mengatakan supaya upaya pencarian Dew dihentikan. Kalau dia kembali, aku akan mendapatkan kegembiraanku yang utuh. Jika dia memang akan terus pergi, paling tidak kalian bala tentaraku, hidup damai dalam harmoni."
Heart beranjak dari sisiku, berjalan pergi. Air mataku menitik dalam rintik yang tak terukur. Aku memandang kepergian Heart dengan kedukaan dan kesepian. Tapi tak ada gerak yang kuperlukan.
Lamat-lamat dalam pendengaran semu, dan khayalan maya datang berwarna, aku merasakan langkah Dew di halaman luar, selangkah-selangkah menuju pintuku, terus...tanpa batas waktu, entah, ...kapan dia akan sampai. (Tamat)

Imajiner

Persamaan dari senja adalah kepastian yang
diturunkan dari rumus kompleks matematika.
Tak ada yang bisa mengembangkannya
tanpa mengacu sumbu gelombang pasang.
Lucunya saat dia berdiri seorang saja
antara jaman purba dan kekinian yang nisbi
kakinya membengkok dalam angka imajiner
hanya bisa dihitung oleh akar pangkat negatif
tanpa hasil yang memuaskan hati, terlebih
saat matahari tanpa senyum masuk dalam
selimut dingin, mengabaikan tangan melambai.

Kalah


Bagaimana kembali pada kemenangan
sedang aku tersuruk dalam tudingan
yang mengikat hatiku di kursi sudut
bahkan tak bisa menggerakkan sehelai rambut
secara merdeka?

Aku meletakkan bibir di dalam kenangan
yang masih akan kuulang andai
kesempatan menjadi lantai landai
bagi tubuh berselancar tanpa penghalang.

Saturday, December 07, 2013

LEKAT

Ini terlalu mudah, sayang.
(Aku mengatakan untuk menghiburmu,
juga untuk menghiburku.)
Tak perlu dicatat,
tak perlu dikerat.

"Aku mau semangkuk kaldu." Suaramu mirip rayu.
(Kau telah memintaku menggeser pintu,
menyodorkan mangkuk porselen Tiongkok berhias biru kobalt,
mangkuk kuat, dalam denting renyah yang separoh berisi kuah.)

Tunggu sebentar, sayang.
(Terpaksa kukatakan ketika tanganmu terlalu cekatan,
menarik grendel hingga menguakkan udara pejal
serba tergesa.)

Tunggu, pakai kasutmu!
Tak usah diikat,
tak usah dibebat.

"Aku mau tanpa cendawan." Kali ini suaramu tanpa tawa.
(Tanganmu di atas tanganku mencabut benih-benih jamur tiram putih,
serupa batang liat, dengan akar kenyal bertumpu petang,
yang selalu rawan.)

Air telah mendidihkan belulang, sayang.
Pilihannya adalah mendekat,
melangkah tanpa syarat.

"Aku mau..." Hanya bisikan yang nyaris tak terdengar.
(Tapi tak seorangpun akan menolaknya sebagai puisi atau prosa
sesaat, untuk tanpa ragu di sepanjang hayat.)

Sunday, December 01, 2013

Kasus

Pulang sekolah sore, dua cowokku berderap hingar bingar hingga depan pintu rumah, lalu tak ada suaranya. Aku diam juga sedang mengaduk ayam pada bumbu, sembari menunggu wajan panas. Aku tahu mereka mengendap-ngendap di belakangku.
"Bu, Bernard kena kasus di sekolah." Albert berbisik dekat kuping.
Weih. Aku taruh mangkok ayam. Bernardnya sendiri santai-santai saja membuka kulkas tanpa melihat padaku. "Kenapa, dik?"
"Hush, pelan, bu. Ini rahasia. Di kamar saja. Biar bapak gak dengar." Albert lagi yang bicara. Bernard asyik mencongkel freezer.
Wah, serius nih.
"Tapi ibu masukin ayam dulu ya. Sambil nggoreng."
"Iya, aku juga masih ngambil es." Bernard yang bersuara.
"Iya, aku juga mau pipis dulu." Albert ikut menambah.
Okey, lalu kami masuk kamar setelah aku mengedip pada bapaknya yang mau protes.
Lalu pintu ditutup. Albert rupanya sudah diangkat jadi juru bicara sehingga Bernard hanya mondar-mandir mencecap es balon, sedangkan Albert duduk di depanku, bicara.
"Tadi sore, habis aku les, aku ke kantin. Makan nasi goreng sisa, dikasih sama mbak kantin. Mereka kan selalu bagi-bagi nasi goreng yang gak kejual." Huft, sabar-sabar. Aku melihat tanpa komentar. Sabar.
"Lalu adik datang. Aku tawari nasi goreng gak mau. Padahal nasi gorengnya enak, pedes." Astaga, Albert, jadi kasusnya apa? Kok malah tentang nasi goreng lho.
"Dia cerita habis mecahin pot." Oh, itu. Aku melihat Bernard.
"Iya, Nard? Pot yang mana? Di lantai atas? Kena orang? Dimarah bu Yohana?"
"Ndak. Tenang saja sih, bu." Bernard menjawab masih dengan esnya.
Albert lagi yang menjelaskan,"Bu Yohana sudah tahu. Tapi Bernard gak dimarahin. Tapi waktu aku dulu jadi saksi saat temanku mecahin layar monitor, ibu dipanggil kan sama guru? Disuruh ngganti juga kan? Nah, dik, bisa jadi besok ibu dipanggil bu guru."
Oalah. Aku mulai tahu duduk soalnya. "Jadi pot mana, Nard?"
"Pot depan kantor. Bukan di lantai atas. Gak kena orang juga kok. Aku lari-lari pas istirahat, gak sengaja. Tapi bu Yohana melihat kok. Ndak marah."
"Okey, lihat besok ya. Kalau memang bu Yohana mau ketemu orang tua, kasih tahu ibu. Kalau memang harus diganti, ya diganti." Saat aku keluar kamar, mereka memastikan aku janji tidak mengatakannya pada bapak. "Ini rahasia, kasus rahasia." Okeylah. Hehehe...

Wednesday, November 20, 2013

Takut Tai Ayam

Yo, aku, di umur 3 tahunan.
Salah satu yang kuingat dari masa kecilku adalah aku takut pada tai ayam. Jika aku sedang berjalan, aku kira di usia 1 - 4 tahun, lalu tiba-tiba di depanku ada telek lencung, tai ayam, aku akan mendadak terpaku. Diam, lalu berteriak sekuat-kuatnya,"Ana teyek!!!" (Ada tai!!!) Lalu ibu, atau bulik atau mbah, atau mak, akan datang, membersihkannya, baru aku bisa bergerak. Biasanya siapa saja yang membersihkan tai ayam itu sambil ngoceh. "Mbok diloncati, opo lewat kono, belok sitik. Yo, yo,..." (Kan bisa diloncati, atau lewat sana, belok dikit kan bisa. Yo, Yo..." Yo adalah panggilan sayang untukku di masa aku masih kecil. (Sekarang hanya beberapa yang memanggilku demikian.) Kalau diinget-inget kok ya aneh lucu to, masak takut sama tai ayam. Hmmm, kenapa ya?

Tuesday, November 12, 2013

Lampost, 10 Nopember 2013

Kisah yang Rapi dari Pencerita yang Baik

Data buku
Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi
Kuntowijoyo
Kompas, Jakarta
I, September 2013
xviii + 150 hlm.


CERITA pendek ang termaktub dalam kumpulan cerpen ini merupakan cara komunikasi Kuntowijoyo yang mudah sekali menggelitik perasaan para pembacanya. Bahasa yang digunakan sangat lugas, mengalir dengan terus terang apa adanya. Sebelum sampai pada kedalamannya, orang yang membaca dengan mudah dapat terkecoh menyangka tulisan ini semacam kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, terlebih di beberapa tulisan, Kuntowijoyo, sang penulis, mengungkapkan jati dirinya.

Dalam cerpen Pistol Perdamaian, Kuntowijoyo memakai gaya bertutur dari sudut pandang orang pertama: saya. Di salah satu paragraf bagian terakhirnya tokoh saya ini diungkap sebagai seorang ahli sejarah, seperti si Kuntowijoyo sendiri yang memang seorang ahli sejarah, pengajar sejarah dan menelurkan banyak buku ilmu sejarah.

“Dalam rapat kelurahan, setelah soal KTP dan PBB selesai dibicarakan, Pak Lurah membuka kertas koran dan berkata tanpa interupsi. ‘Sebaiknya barang ini saya serahkan pada teman kita yang ahli sejarah.’ Dia memberikan bungkusan itu pada saya, sebuah pistol, masya Allah. Jadi, pistol yang saya buang ke kelurahan juga jatuhnya.” (hlm. 24)

Hal yang sama juga muncul di cerpen-cerpen lain seperti di cerpen paling akhir dalam buku ini, RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana. Di paragraf kedua halaman 140, ditulis identitas Kuntowijoyo sendiri, walau hanya sedikit. “Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya ketua RT berijazah S-3 dari universitas papan atas di Amerika.”

Tentu saja ungkapan-ungkapan itu tidak bisa dianggap sebagai fakta karena memang ke-15 tulisan itu dibuat sebagai cerpen, fiksi. Jadi semuanya memang karangan semata dan bukan kisah nyata, walau sang penulis memang merupakan ahli sejarah, doktor sejarah lulusan universitas terkenal di Amerika Serikat dan mengajar di universitas terkemuka di Indonesia.

Namun, ketika kita mulai mengulik sedikit kehidupannya melalui sumber-sumber di berbagai tempat mau tidak mau pembaca akan mengaitkan Kuntowijoyo dengan peran lain yang dimilikinya di dalam kampus, masyarakat khususnya Islam, dan negara. Pembaca tidak bisa lagi mendirikannya hanya semata cerpenis atau novelis. Di pengantar buku ini, Bakdi Soemanto menulis soal apakah Profesor Doktor Kuntowijoyo ini seorang sejarawan yang menulis fiksi, atau dia adalah penulis fiksi yang suka sejarah.

Dia memang seorang akademisi, pakar sejarah, sangat lazim Kuntowijoyo berpikir dan bertutur secara ilmiah. Dia telah membuktikan itu dengan menulis banyak sekali dan tulisan sejarah, misalnya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985) atau Pengantar Ilmu Sejarah (1995).

Buku ini berisi 15 judul cerpen yang pernah muncul di Kompas pada 1990—2000-an. Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi yang menjadi judul buku ini merupakan judul cerpen yang ke-14 dalam buku terpasang di halaman 125. Namun, bisa dikatakan judul ini membingkai seluruh tema cerpen yang ada dalam dalam buku ini. Dan baik juga jika judul ini menjadi ajakan atau anjuran bagi para calon politisi. Sederhananya, baca dulu buku ini sebelum menjadi calon politisi untuk kemudian menjadi politisi.

Bagaimana pembaca dapat menangkap pesan yang disampaikan Kuntowijoyo lewat cerpen-cerpennya? Inilah keunikan yang berikutnya. Judul pertama yang dipasang dalam buku ini, Laki-laki yang Kawin dengan Peri, menyodorkan paragraf pertama dengan sebuah pertanyaan setengah meledek, ”Mau jadi anggota DPR? Boleh, asal dengarkan cerita ini.” Paragraf pendek, dengan dua kalimat pendek.

Setelah itu, Kuntowijoyo sama sekali tidak menyinggung tokoh tentang anggota DPR atau calon anggota DPR, tetapi kisah tentang Kromo, seorang laki-laki berbau busuk, yang tinggal di sebuah desa, yang terusir dari kampungnya karena bau busuknya itu, lalu konon menikah dengan peri, dan saat mati berbau harum. Baru kemudian di bagian akhir kisah ini, Kuntowijoyo kembali menarik pembaca supaya merenung untuk menangkap pesannya dalam satu paragraf pendek, lagi. “Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun.”

Kuntowijoyo menawarkan kaca pembesar untuk melihat detail kemanusiaan dalam sekup yang sangat kecil, kadang dianggap remeh. Mudah disetujui bahwa seorang pemimpin harus menyiapkan syarat itu sebelum menjadi pemimpin. Mereka dituntut untuk jeli, peka terhadap situasi orang-orang biasa, sederhana, yang dianggap lemah dan seluruh dinamika yang melingkupinya. Mata dan hati Kuntowijoyo mampu menangkap hal-hal remeh temeh yang terjadi di keseharian, khususnya di lingkungannya sendiri, entah di Jawa atau saat dia tinggal di Amerika Serikat, untuk kemudian mengolahnya menjadi cerpen.

Kuntowijoyo memang salah satu penulis terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara.

Yuli Nugrahani, cerpenis.

Friday, November 08, 2013

Keinginan yang Tidak Merugikan Dunia

Hari ini aku menjemput Albert pulang sekolah. Dia sudah menunggu satu jam lebih karena seharusnya dia pulang jam 11.00 sedang aku jam 12.00 dari kantor di hari Jumat ini. Begitu bertemu di gerbang sekolah dia cerita kalau pisang goreng yang dia jual masih sisa separo. Hari ini dia memang jualan pisang goreng, seharga Rp. 500,- yang aku buatkan pagi-pagi, sesuai ajakan guru IPSnya, bu Atun. (Konon, Albert bercerita, pada pelajaran IPS, guru tercintanya ini mengajak murid-murid untuk membawa bekal makanan yang lebih, yang bisa dijual untuk teman-temannya. Hasil penjualan bisa untuk menambah tabungan. Aku sangat mendukung ide ini. Dan untuk jualan pertama, Albert membawa 14 biji pisang goreng. Kalau laku separo, berarti dapat Rp. 3.500,-. Hehehe...)
Nah, di jalan yang mendung, dia mengatakan ingin melihat hujan salju sekarang ini.
"Pasti asyik kalau ada hujan salju di Indonesia. Bukan hanya sesekali tapi sering. Seperti memang musimnya gitu, tidak hanya musim penghujan dan kemarau."
Aku mengingatkan kalau Indonesia itu ada di garis katulistiwa. Tidak ada salju, kecuali di tempat yang sangat tinggi.
"Namanya kan keinginan, bu. Jadi kan asyik bisa lihat salju."
"Tapi tanaman di Indonesia tidak akan tahan pada salju, Bet. Bisa mati semua. Juga hewan dan orang-orangnya."
"Hmmm, masak sih."
"Dan lagi kalau di Indonesia yang tropis ada hujan salju, gimana nanti yang negara-negara subtropis atau di dekat-dekat kutub sana. Tambah dingin dong."
"Tapi kan ini keinginan, bu. Boleh saja kan."
"Boleh sih, tapi itu akan mengubah dunia. Mungkin malah merusak dunia. Ganti keinginan saja deh, Bet."
"Yaaa, penginnya lihat salju kok."
"Diubah kan bisa. Pengin lihat salju di Jepang, atau mana gitu. Kan mungkin saja Mas Albert sekolah atau kerja di sana suatu ketika."
"Iya deh."
"Dan itu tidak merugikan siapa-siapa. Tidak merusak dunia dan semesta."
"Iya, deh, bu. Iya."
Hehehe, nadanya sudah agak jengkel. Hmmm, jangan merasa aku membatasi mimpimu. Aku hanya ingin kau melihat orang lain jika punya keinginan. Dan jangan merugikan mereka semua. Ya?

Sebentar Sempurna

Duduk santai, di tengah kehijauan, segar, indah, merasa gembira, itulah sempurna, sebentar sempurna.
Tapi aku juga tak bisa menghilangkan pagi ini. Saat pagi sibuk dengan gerakan, teriakan, bergegas, penuh marah, tidak sabar dan hasrat. Ini juga sebentar sempurna, ketidak sempurnaan sebentar yang sempurna.
Tapi aku juga tak bisa melupakan, kekacauan sekitarku di lalulintas berantakan, yang berhasil kulalui dengan sumpah serapah, pada asap, ketidaktaatan, penipuan, basa basi resmi, mobil polisi, dan inilah sempurna.
Sebentar yang sering, kekacauan yang sempurna,
di negeri ini.

Sunday, November 03, 2013

Benang Laba-laba

Rajutan yang kau buat begitu remeh menjuntai
hanya benang tipis terlempar dari mulut seri.
Mudah terayun angin atau gerakan ranting 
bahkan bisa dikoyak tanpa perkosa.

Kaki yang kurang ajar menjadikannya mainan,
tak disangka kekuatannya berjuta lipat ketika berbeban,
menempel semakin erat di setiap gerak badan.

Getaran mungkin sudah kau sangka,
lama kau intai dari balik daun palma,
matamu telah memilin dari kejauhan,
bibirmu telah meremas dalam semburan,

jika bergerak, benang laba-labamu semakin menjerat
jika bergerak, kau melangkah semakin dekat,
jika bergerak, ludahmu membuncah siap melumat.

Pemimpi ingin masuk ke mulut pemangsanya,
merasakan bukan gigitan tapi enzimnya yang pelan,
akan menghancurkan daging dan tulang,
hingga hanya ada kenangan.

Pemimpi memilih bergerak,
mengundang pemangsa berderak,
mendekat,
lekat.