Monday, August 25, 2014

Daun-daun Hitam di antara Semarak Halal Bihalal KSI Tangsel

Sebuah kesempatan manis kudapat pada Minggu, 24 Agustus 2015. Aku membaca salah satu cerpenku dalam Daun-daun Hitam yang berjudul "Pada Hari Pemakaman" dalam Halal Bihalal Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang Selatan. Kebetulan acara KSI ini mengambil tema Kemerdekaan dalam Perspektif Sastra dengan mengundang komunitas-komunitas seni dan budaya yang ada di Tangerang Selatan dan sekitarnya. Mereka menampilkan puisi, musik dan juga hadir pembicara, Abah Yoyok dan Ahmadun Yosi Herfanda.

Aku memilih cerpen ini karena cerpen ini kuanggap bisa mewakili satu semangat dasar dalam pengerjaan buku ini, yaitu : cinta. Cinta yang kekal, yang bahkan membuat gila.

Malamnya, diskusi berlanjut di kediaman Tika D. Pangastuti bersama KSI. Aku bisa cerita sedikit tentang prosesku dalam penulisan cerpen, khususnya dalam buku Daun-daun Hitam.

Seluruhnya, aku menikmati perjumpaan dengan teman-teman di KSI Tangsel ini. Terimakasih banyak atas penerimaan dan keterbukaan yang sudah diberikan padaku.

Saturday, August 09, 2014

Kumpulan Cerpen Yuli Nugrahani dan Sketsa Dana E. Rachmat : Daun-daun Hitam

Berisi 12 cerpen Yuli Nugrahani dan 12 sketsa Dana E. Rachmat. Ditulis pada halaman v bahwa buku ini diterbitkan untuk menghormati kesejatian manusia yang memiliki keragaman cara pandang, budaya, etnis dan keyakinan dalam keutuhan Indonesia dan semesta.

Tentu saja ajakan-ajakan tidak dikatakan secara langsung, karena "Daun-daun Hitam" sebenarnya hanyalah sisa pembakaran. Abu yang tertabur di bumi, yang bagi kebanyakan orang layak untuk diinjak dan dilupakan.

Mengapa Yuli Nugrahani dan Dana E. Rachmat mengumpulkannya dalam buku ini? Karena kesederhanaannya yang memikat. Karena begitu sepelenya sehingga orang tak akan mungkin meliriknya. Karena begitu kecilnya sehingga orang tak mau mendengarkannya.

Buku ini adalah cara kecil untuk mengabadikannya.

Wednesday, August 06, 2014

KESAL

Pagi-pagi kau minta puisi.

"Tidak! Tidak ada puisi untukmu hari ini.
Aku kelewat kesal!"

Monday, August 04, 2014

Cemburu

Cangkir terbuka di atas meja
seekor kecoak laron dan laba-laba
menuangkan bau
warna menjijikkan dan racun mematikan.

Hati cemburu tak akan mampu melihatnya
bahkan tak juga benderang membantu
untuk mencegah mulut meminumnya.

Thursday, July 31, 2014

Bolu Bertabur Keju


Bolu bisa dibuat dengan banyak variasi. Ini salah satu yang cukup mudah, tapi lezat, mantap.

Bahan :
1 cangkir tepung terigu
4 butir telur
keju parut secukupnya
150 gram mentega
100 gram gula halus
2 sendok munjung tepung tapioka
2 sendok munjung bubuk susu coklat
1/2 sendok teh SP
1/2 sendok teh baking powder
sedikit garam

Cara mengolah :
Cairkan mentega, biarkan dingin. Siapkan loyang, olesi mentega dan taburi tepung terigu. Kocok telur, gula dan SP hingga mengembang dengan kecepatan tinggi. Jika sudah mengembang, turunkan kecepatan, masukkan tepung terigu, tepung tapioka, baking powder, dan garam secara pelahan. Jika sudah tercampur semua, hentikan mixer, masukkan mentega cair, aduk dengan sendok pelahan. Panggang dengan api kecil kurang lebih 30 menit. Taburkan keju ketika bolu setengah matang.
Bolu bertabur keju pun siap dihidangkan.

Tuesday, July 29, 2014

Gelang Kaki

Sekian lama hanya tersuruk di kotak, gelang kaki ini tiba-tiba mencuat saat aku mencari peniti kemarin. Gelang kaki yang kudapat dari seorang perempuan India di halaman Batu Cave, Kuala Lumpur. Perempuan dengan dandanan menor, membawa dagangan di dua tangannya, perhiasan-perhiasan khas India. Dia tak bosan mengikuti kami yang baru turun dari gua untuk menawarkan dagangannya itu. Melihat kegigihannya, aku pun memegang perhiasan-perhiasan yang dia tawarkan hingga aku mendapatkan gelang kaki yang mungil dan manis dengan hiasan batu-batu kecil warna merah. Aku lupa berapa ringgit dulu kudapatkan gelang kaki ini, tapi yang pasti aku ingat, aku mendapatkannya dengan harga yang sangat murah lewat tawar menawar. Aku membeli beberapa gelang sehingga aku mendapatkannya lebih murah lagi. Bahkan perempuan itu membantuku memakaikannya di kakiku ketika dia melihat aku kesulitan memakainya. "It's beautiful." Dia memujiku, memuji kakiku, memuji gelang itu.
Kemarin ketika aku memakainya kembali, hingga kini tak aku lepas, aku merasa memang pantas kalau aku juga memuji diriku, memuji kakiku dan tentu saja memuji gelang kaki itu. Ini sangat tepat di kakiku. Perasaan yang ditimbulkan dengan memakai gelang kaki, membuatku terus gembira dengan sensasi yang terus menerus menguarkan rasa syukur karena aku menyadari aku memiliki kaki yang sempurna. "You are very beautiful." Lonceng-lonceng kecil yang menghiasi gelang kaki ini tidak kedengaran bunyinya, tapi setiap gesekan yang ditimbulkannya membuatku selalu sadar akan keberadaan gelang kaki yang cantik ini dan karenanya, membuatku terus sadar akan keberadaan kakiku yang cantik. Terimakasih, kau selalu menopang tubuhku menjangkau tempat-tempat impianku. Terimakasih.

Monday, July 28, 2014

Membuat Ketupat untuk Keluarga Sendiri

Lebaran tidak bisa mengandalkan kiriman ketupat dari tetangga dan kerabat kan? Jika tidak berminat mengirimkan pada para sahabat, minimal kita bisa menyiapkan ketupat untuk keluarga sendiri. Ternyata mudah kok.

Bahan :
750 gram beras yang pulen
sedikit garam
10 ketupat janur siap pakai

Cara membuat :
Rendam beras yang sudah bersih selama sekitar 1 jam. Tiriskan, lalu masukkan ke dalam ketupat melalui bagian ujungnya yang ditarik sedikit hingga terbuka cukup untuk memasukkan beras dengan sendok kecil. Isi kurang lebih 3/4 dari besarnya ketupat. Masak dalam panci terendam air seluruhnya, supaya matangnya merata, kurang lebih 4 - 5 jam. Jika air mulai habis, tambahkan air ke dalam panci. Jika sudah matang, tiriskan ketupat dan gantung supaya tidak ada lagi air dalam ketupat sehingga tidak mudah basi. Ketupat siap disajikan dengan opor atau rendang atau sambel goreng kentang atau lain-lain sesuai selera.

Saturday, July 26, 2014

Dadar Gulung Warna-warni

Lagi, jajanan pasar yang murah meriah enak. Membuatnya digulung-gulung, maka disebut dadar gulung.

Bahan :
250 gram tepung terigu
2 sendok tepung beras
1 butir telur
2 sendok makan mentega cair 
sedikit baking powder
pewarna makanan
1 butir kelapa muda
100 gram gula kelapa
sedikit garam
selembar daun pandan
air secukupnya

Cara mengolah :
Buat dulu isinya. Rebus sepertiga gelas air dengan daun pandan dan gula kelapa. Beri sedikit garam. Jika gula sudah larut, masukkan kelapa muda yang sudah diparut. Aduk hingga matang. Sisihkan.
Kocok telur dengan kocokan telur atau garpu, sebentar saja, lalu masukkan tepung terigu, tepung terigu, pewarna makanan, mentega cair, baking powder dan garam. Campur dan aduk rata dengan air hingga encer. Jika perlu coba di penggorengan seberapa encer yang dibutuhkan. Encer kentalnya adonan berpengaruh pada tebal tipisnya kulit dadar.

Buat kulit dadar satu per satu. Jika sudah matang, masukkan isinya dan lipat. Dadar gulung siap disantap. Untuk variasi, buat kulit dadar aneka warna dengan memisahkannya saat memberi warna. Untuk dadar gulung warna warni lebih baik jika memakai ukuran penggorengan yang kecil, yang diameternya 15-an cm. Dengan demikian setiap orang bisa mengambil dua, tiga atau lebih tanpa merasa nek.

Friday, July 25, 2014

Cenil, Jajanan Pasar yang Manis Gurih Kenyal

Ada sisa sagu di persediaan bahan makanan? Yukk, coba membuat jajanan pasar yang satu ini. Cenil. Sangat mudah membuatnya.

Bahan :
250 gram sagu tani
1/3 gelas air
sejumput garam
kelapa muda
100 gram gula kelapa
selembar daun pandan
pewarna makanan

Cara mengolah :
Ambil dua sendok tepung sagu dan garam, campur lalu larutkan dalam sepertiga gelas air. Panaskan dengan api kecil sambil terus diaduk sehingga menjadi seperti lem kanji. Matikan kompor. Selagi panas, masukkan tepung sagu sisanya, aduk, lalu uleni hingga bisa dibentuk. Pisahkan menjadi dua bagian. Satu bagian beri pewarna makanan hingga rata. Bentuk dulu yang putih dengan cara diplintir memanjang atau berbentuk bulat. Masukkan dalam air mendidih hingga semua mengapung matang. Ulang untuk bahan yang berwarna lain. Jika semua sudah matang, tiriskan dan biarkan dingin. Kelapa muda kupas kulit arinnya dan diparut. Gula kelapa direbus dengan sedikit air dan selembar daun pandan hingga semua larut dan kental. Cenil yang sudah matang disajikan dengan dicampur parutan kelapa muda dan dikucuri air gula kelapa.

Thursday, July 24, 2014

Stik Keju, Mudah Dibuat, Enak Disantap

Ingin camilan enak buatan sendiri? Stik keju menjadi salah satu jajanan yang bisa dipilih jika punya waktu yang cukup longgar.

Bahan :
250 gram sagu tani
100 gram keju chedar
2 butir telur
50 gram mentega
sedikit garam
minyak goreng

Cara mengolah :
Campur keju, mentega dan telur dengan mixer atau blender hingga tercampur rata. Gabungkan adonan ini dengan sagu dan garam, uleni hingga kalis dan bisa dibentuk. Plintir kecil-kecil dengan dua tangan, langsung masukkan ke wajan dengan minyak dingin. Jika sudah cukup, goreng dalam api sedang hingga matang. Ulangi hingga seluruh adonan habis, selalu dengan minyak dingin. Jangan mengaduk/membalik stik di penggorengan jika masih lembek.

Thursday, July 10, 2014

Lewat

Di dekatku kau lewat
tidak dengan langkahmu sendiri

tapi bibir sahabat
diam terpatri

pada waktu di mana nama
Mu lengang.

Wednesday, July 09, 2014

40 Tahun yang Muda

Hari ini, 9 Juli 2014, pada pukul 07.00 pagi, aku tepat berumur 40 tahun. Aku sudah membayangkan tahun ini dari tahun lalu. Aku berusaha menyiapkan segala sesuatunya untuk masuk pada putaran 40 tahun, masuk pada umur kepala 4.

Ada beberapa hal yang kusiapkan.

1. Menjauh dari kesibukan Majalah Nuntius. Hal ini terwujud berkat Mgr. Yuwono yang memberikan surat keputusan baru untuk orang baru bagi Nuntius. Aku tak perlu mengkuatirkan kelangsungan Nuntius karena dia pasti akan terus berjalan. Aku sudah 9 tahun berada di dalamnya, menjadi pengasuh, melayaninya sebagai bayi yang menghabiskan seluruh waktuku. Tahun ini cukup sudah. 108 edisi cukup untuk Nuntius dari tanganku, jiwaku. Bukan urusan mudah, karena gempuran pun masih muncul di tahun terakhirku ini. Tuduhan ini itu masih terus muncul. Aku tidak akan menjelaskan apa-apa soal itu, tapi aku ingin mengatakan satu hal, biarlah aku terus memurnikan diriku dengan seluruh prosesnya. Nuntius tetaplah cintaku dan kenikmatanku. Begitu saja.

2. Aku membuat simbol. Dan aku membuatnya dalam bentuk buku. Dua buku yang orisinil Yuli. Yang pertama sudah terbit, buku puisi Pembatas Buku, terbit awal Mei 2014. Sebentar lagi akan terbit kumpulan cerpen Yuli Nugrahani dan sketsa Dana E. Rachmat "Daun-daun Hitam", mungkin akhir Juli 2014. Mungkin satu buku lagi, sebuah novel yang sekarang sedang dalam proses penulisan. Ketiganya, atau keduanya menjadi tanda bagiku di tahun ini, tahun ketika aku melewati usia 40 tahun.

3. Aku masuk dalam dunia versi lain. Seperti apakah itu? Aku belum bisa banyak cerita, tapi aku merasakan bahwa pelan-pelan aku menyadari keberadaanku yang jauh lebih besar dari badan wadag ini. Aku terus berpendar, bergetar bersama dengan makluk lain dan seluruh semesta dalam keutuhan. Dan aku terus bergerak mendekat pada Cahaya Suci dengan layak. Ini sesuatu yang membuatku berdebar, dipenuhi rasa cinta. Aku menjadi manusia merdeka dalam dunia versi lain ini. Dan manusia merdeka hanya bisa merasakan kebahagiaan, apapun yang dialaminya.

Jadi sekarang, masih perlukah ucapan selamat ulang tahun? Tidak. Ucapan itu hanya bonus saja. Yang lebih penting aku mengucapkan terimakasih pada ibu yang sudah mengandung, melahirkan dan mengasuh aku sebagai Yuli, juga para ibu lain yang pernah mengandung, melahirkan dan mengasuh aku dulu, dalam kehidupan yang lain, dan nanti pada saat mendatang. Terimakasih. Aku tahu aku semakin sempurna.

Friday, June 20, 2014

Usai Menyentuhmu

Lengang aroma kentang
selang hujan tanpa perhitungan

aku mengikatnya
sepegang-sepegang.

Monday, June 09, 2014

PILIHAN



...
Bulan mengambang di ranting pinus
melenggang matang dalam serius.

"Aku tak akan duduk di sisimu
yang menghilangkan nyawa sahabat
membasuh mata para ibu dengan debu
yang menenggelamkan makam nenek moyang
melepas tanda sambung menjadi karat
yang mengkafirkan pencinta aneka lagu
seolah benar seluruh kata dikalang."

Bulan kehilangan bibirnya
memandang tanpa dendang.

"Tak kan kuserahkan kemenangan
tak kan kuserahkan kebebasan.
Aku tak akan menjadi pihakmu dan
memberi keuntungan.

Bulan bertahan di ketinggian
membiarkan putih dan hitam
dalam keutuhan.

"Telah kujatuhkan pilihan."
...

Wednesday, June 04, 2014

Memilih Presiden Indonesia : Prabowo atau Jokowi?

Awalnya aku gak puas dengan hal ini itu menyangkut tanggal pemilihan presiden Indonesia yang pas 9 Juli nanti. Itu hari ulang tahunku, saudara-saudari, kalau sampai hari itu dibikin ontran-ontran, akan kutuntut mereka yang telah merusak hari ultah itu. Lalu soal pasangan-pasangan calon presiden, lalu soal tim suksesnya, dan lain-lain, dan lain-lain. Aku tidak puas soal-soal itu.

Tapi oleh satu dan lain hal, aku memutuskan untuk tidak jadi golongan putih (golput), aku akan memilih. Siapa yang akan kupilih nanti? Jokowi, itu pasti. Mengapa? Satu, aku tidak bisa menerima rekam jejak Prabowo. Dua, aku tidak bisa menerima kecenderungan karakter Prabowo. Tiga, aku tidak mau memberi keuntungan pada Abu Rizal Bahrie, pendukung Prabowo, dengan memberi kemenangan pada kubu ini. ARB tak boleh mendapat kemudahan atau keuntungan apapun selama dia belum sadar kewajibannya. Empat, aku ingin menggunakan kebebasan suara hatiku, Joko Widodo alias Jokowi yang akan jadi presiden RI periode nanti.

Tuesday, May 27, 2014

Menanam Benih Kata

Judul buku : Menanam Benih Kata
Penulis : Ari Pahala Hutabarat
Cetakan pertama : Desember 2010
Penerbit : Dewan Kesenian Lampung
Isi : 284 halaman

Hari libur, 27 Mei 2014, perayaan Isra Miraj, rencana-rencana kuhilangkan dan aku menikmati kamar. Nyaris tidak beranjak dari dalam rumah. Hanya ada anak-anak, karena Den Hendro sedang ke Jakarta. Bangun tidurku yang terlalu awal, jam 4 aku sudah mulai masak, jam 6 semua beres dan aku kembali tidur. Jadi saat bangun yang siang, tinggal makan. Sip kan?

Ketika tak ada lagi yang harus kukerjakan, aku membuka microsoft word, merapikan Buku Puisi 2, yang entah kapan akan bisa diterbitkan, tak masalah. Sesekali aku buka facebook, hingga aku ingat dalam minggu ini aku mendapat dua buku baru, salah satunya Menanam Benih Kata, karya Ari Pahala Hutabarat, yang aku dapat sangat terlambat, hampir 4 tahun setelah penerbitannya.

Maka aku meninggalkan Buku Puisi 2 dan mulai mengacak buku ini. Ada tokoh sentral di situ, mbah Bob, lalu Budi dan teman-temannya, yang nyantrik, meguru sama mbah Bob untuk belajar puisi. Wah. Aku langsung tak bisa berpaling. Hingga petang ini pembatas bukuku ada di halaman 139. Ari menyodorkan semangat dan cara menulis dengan cara yang sangat santai, seolah puisi memang diperuntukkan bagi semua orang. Lewat dialog Mbah Bob dengan murid-muridnya itu, Ari mendorong pembaca untuk menyakini bahwa menulis puisi itu 'mudah, ringan dan menyenangkan'. Cara pikir bahwa menulis puisi itu susah, harus dibalik dengan mantra itu, 'menulis puisi itu mudah, ringan dan menyenangkan'.

Dalam perjumpaan dan perbincangan mbah Bob dan murid-muridnya inilah ilmu-ilmu tentang puisi mengalir, mengalun, mengajar para pembaca. Aku sedikit menyesal kenapa buku ini kudapatkan justru setelah buku puisiku jadi dan beredar. Andai lebih awal kudapatkan, andai aku tidak terlalu kuper, tentulah aku mendapat banyak petunjuk untuk mempermudah kerjaku membuat buku puisi "Pembatas Buku" kemarin itu.

Tapi ya, biar saja telat, tapi aku tetap mendapat berkat. Jadi aku masih akan melanjutkan buku ini dan menyerap seluruh ilmu dan semangat dari buku ini. Ohya, salah satu yang menarik dari buku ini adalah sisipan perikop atau paragraf atau kalimat dari tokoh-tokoh atau dari kitab-kitab luar biasa. Misal hal. 20, TS. Elliot,"Puisi yang baik harus memenuhi estetika puisi. Puisi yang besar memberikan pengaruh atau dampak yang besar terhadap dunia di luar puisi." atau hal. 72, dari Konfusius,"Tidak masalah seberapa pelannya kamu berjalan, selama kamu tidak berhenti atau hal. 84, Ari mencuplik Eudora Welty, "Jika kamu tidak mampu menjadi jenius, tirulah orang-orang yang nekad."

Sisipan kata-kata dari tokoh puisi atau bukan puisi ini hadir di sepanjang buku. Aku membalik-balik hingga halaman terakhir, kata-kata itu menyertai kisah mbah Bob dan para muridnya sebagai penguat semangat yang coba disuntikkan Ari bagi pembacanya. Di bagian prakata, Ari berharap buku ini menjadi sebentuk provokasi terutama untuk para siswa SMA, mahasiswa dan para guru bahasa dan sastra Indonesia SMP dan SMA di Lampung untuk lebih nekad dan berani mencintai dunia kepenulisan, khususnya puisi. Tapi menurutku, buku juga baik dibaca oleh penulis-penulis otodidak yang sudah mulai/lama menulis, supaya mereka lebih paham apa yang sedang mereka geluti.

Okeylah, aku memilih melanjutkan membaca buku itu kembali daripada melanjutkan tulisan ini. Itu lebih mengasyikkan. Yukk...

Saturday, May 24, 2014

Melunasi Pembatas Buku

Aku mesti menuliskan ini sebagai kenangan yang tak ingin kulupakan. Saat nanti angin membuat ingatanku kacau, aku ingin tetap mampu mengingat rentetan peristiwa ini sebagai bagian dari kehidupanku. Jadi aku akan mencatatnya dengan detail-detailnya yang kusukai.

Isbedy Stiawan, membaca Advent.
Kumpulan puisiku terbit Mei 2014 setelah kuaduk dalam proses editing yang berurai keringat, air mata dan darah. Keringat, ya, ini adalah kerja keras. Bagi buku pertama yang sudah kubayangkan dari tahun lalu, tertunda oleh lecutan guru-guruku. Air mata, tentu saja, karena buku ini berisi puisi-puisi. Siapakah yang bisa memisahkan puisi dari hati penulisnya? Seluruh emosiku terlebur dalam puisi-puisi itu. Dan emosiku adalah air mataku. Darah, ini luka, ini duka. Bagaimana aku bisa menyebutnya, tapi darah mengalir, sebagian muncrat dari sekujur tubuhku. (Terserahlah kalian menyebut lebay, tapi ini memang terjadi.)

Lalu berkat melimpah lewat sebuah SMS GB, salah satu sahabat hatiku : "Mbak Yuli, gimana kalau tanggal 22 Mei bukumu dan punya Fitri launching di Unila, di UKMBS?" Aku tidak tahu siapa yang punya ide ini dari teman-teman Komunitas Berkat Yakin (KoBER) yang kutahu memakai tanggal itu sebagai rangkaian ulang tahunnya yang ke 12. Tapi spontan hatiku melonjak dalam kegembiraan. Mau sekali. Ini akan melunasi kerjaku untuk Pembatas Buku. Aku akan mendapat kesempatan menyampaikan pertanggungjawabanku terhadap buku ini. "Aku mau, sangat gembira. Terimakasih." Apalagi yang bisa kukatakan selain hal itu?
Edi Samudra Kertagama,  Tertembak Malam dan Menuju Rumahmu


Dekat hari H aku tak bisa menahan kegelisahan. Terus terang aku cemas. Ini pengalaman pertamaku. Beberapa peristiwa membuatku cukup hangat seperti nongkrong tanpa maksud beberapa kali di rumah KoBER, teman-teman jurnalis yang meminta release buku itu, perjumpaan dengan KD yang lalu menghantar pada perjumpaan dengan Pak Edi Samudra, peristiwa kecil ini itu, obrolan dengan Ari, chatting dengan Fitri, dan sebagainya. Ada sisi-sisi yang rumpang, setengah kosong setengah isi, tanpa bisa kuidentifikasi perasaanku. Ada kerinduan tanpa tahu rindu pada apa atau siapa, ada kemarahan, ada kesedihan, spontan juga ada kegembiraan, antusias, ... tak bisa dijelaskan.

Hari itu tiba dengan nyata. Den Hendro meyakinkan aku berkali-kali bahwa semua sip, terkendali, dan dia menemaniku di Gedung Graha Kemahasiswaan Universitas Lampung, tempat acara berlangsung, 22 Mei 2014 pukul 19.00. Telat setengah jam mulainya, dan itu menguntungkan aku sehingga aku bisa bercakap santai dengan Isbedy Stiawan, salah satu inspiratorku, Edi Samudra Kertagama yang meneguhkan aku lewat perbincangan santai, dengan beberapa teman yang hadir.

Yang paling ingin kuingat adalah saat beberapa teman termasuk dua tokoh penyair senior Lampung itu membaca puisi-puisiku. Titik-titik embun di mataku meleleh, mengalir. Aku tak menyangka tulian-tulisan dalam puisi itu begitu dalam menusuk hatiku, mengungkit perasaanku. Puisi-puisi itu adalah aku sendiri yang berkeringat, berair mata dan berdarah. Saat Jarwo, sang MC membaca biodataku yang singkat aku nyaris tak mendengarnya, dan tergagap ketika dia memanggilku untuk membaca salah satu atau dua puisi. Aku tidak menyiapkan diri untuk membaca puisi, dan aku sudah bilang berkali-kali pada teman-teman KoBER aku tak usah membaca puisi.

Berjalan ke mike dengan kosong, aku buka halaman 54, puisi ke 35 : PEREMPUAN. Ini salah satu puisi yang akan menguatkan hatiku untuk tidak menitikkan air mata saat membacanya. Ini salah satu puisi yang 'marah', sehingga aku tak akan sempat merasakan melankoli sekaligus menghapusnya. Ini adalah puisi keteguhan niat sekaligus geram menuntut dengan sadar diri. Aku membacanya juga dengan kemarahan. Jarwo mengatakan aku membaca dengan lugas, tapi aku bilang aku membacanya dengan tandas. Jika bukan puisi ini, bisa jadi aku akan tersedu-sedu saat membacanya, dan apa kata dunia?

Yuli Nugrahani, Fitri Yani dan Ari Pahala Hutabarat.
Aku mesti bercerita tentang asal muasal buku puisi ini dalam diskusi. Ari Pahala Hutabarat, mesti kutunduk hormat padanya, yang sudah memberiku apresiasi dan juga sugesti dan juga energi untuk hal ini. Aku beruntung ada Fitri Yani di sebelahku dengan buku puisi Suluh, sehingga aku tak harus merasa sendirian. Dia jauh lebih muda usia dariku, tapi dalam puisi dia juga guruku. Langkahnya yang sudah jauh juga inspirasiku. Di ujung diskusi aku merasakan ketakutan yang terus menyeruak hingga malam, tak bisa tidur, hingga subuh. Mungkinkah aku menuliskan lagi puisi-puisi selanjutnya di masa mendatang? Mampukah aku mengurai kembali hatiku yang penuh dinamika semesta ini secara netral dalam bentuk puisi? Aku begitu gentar, gemetar.

Sekarang Pembatas Buku sudah lunas. Sudah kuupayakan segala sesuatu yang diperlukan untuk puisi-puisi dalam buku itu. Sekarang lunas. Biarlah dia menentukan sendiri nasibnya. Aku akan melanjutkan hidupku. Terimakasih Den Hendro, Albert, Bernard, juga bapak ibu Sam, bapak Soeliham, juga terimakasih Oki dan teman-teman Indepth Publishing, Ari, GB dan teman-teman KoBER, Reza dan Devin, para guruku, para pendukungku. Aku bergembira karena kesempatan manis bekerja bersama kalian semua untuk Pembatas Buku ini. Berkat.

Friday, May 23, 2014

Ulasan Pembatas Buku dari Sahabat di Moncek

PEMBATAS BUKU
KUMPULAN PUISI YULI NUGRAHANI
Oleh : Fendi Kachonk

Kemarin, setelah seharian bekerja dan baru sampai rumah, seperti biasa saya istirahat dan masuk ke ruang bacaku, yaitu Taman Baca Arena Pon Nyonar. Di atas meja telah ada bungkusan rapi, aku lihat-lihat dan ternyata buku Yuli Nugrahani telah sampai, satu buku antologi puisinya yang berjudul “Pembatas Buku”. Dari tema atau judul buku ini, aku merasakan ada goresan kata, yang sengaja dialirkan dengan liris “pembatas buku” . Saya masih saja mengeyam kata-kata itu, pembatas buku, sambil menerka-nerka apa maksud dari tujuan Yuli melekatkan “pembatas buku” di kumpulan puisi pertamanya. Saya menerka-nerka mungkin buku kumpulan puisi ini seperti pembatas buku dan tulisan Yuli, yang biasanya lebih mendalami cerpen, atau tulisan yang lain, kini Yuli juga menulis buku, atau bisa jadi juga ini adalah pembatas keadaan. Ah sudahlah, intinya saya dengan pemilihan tema atau judul ini telah merasakan keunikan dan kecerdasan seorang Yuli dalam merangkai kata menjadi luar biasa.

Dalam Kumpulan Puisi Pembatas Buku ini, ada 40 puisi yang ditulis Yuli, dan mungkin sekedarnya saja aku mengenal Yuli di dunia maya, tetapi yang saya ketahui Yuli dengan produktifitasnya mampu melahirkan tulisan-tulisan yang senyap, seolah hampa dan seolah tanpa ada emosi yang menggerogoti  anak-anak kata dan kalimat yang dibungkus dengan kedewasaan bahasanya yang lugas, bercerita dan seolah ini cerpen dalam bentuk puisi, tetapi ini adalah puisi bukan cerpen. Namun pencitraan dan pembangunan suasananya, dialektika yang terbangun, seolah itu adalah khas seorang Penyair Perempuan Lampung yang kaya dengan tema, oleh juga dirinya adalah pegiat dan pemerhati sosial yang masih aktif sampai sekarang.

Satu persatu saya membaca puisi Yuli, dan saya semakin mengenal karekter bahasanya, mengalun, sederhana dan perhitungan pemilihan diksi yang sangat ketat. Saya mendapati tak ada yang longgar semuanya berbobot nilai estetika. Tetapi bagi saya, oleh pandangan saya dan cara saya menggauli puisi, jiwa saya akan mencari jiwa dalam beberapa puisi yang ditulis, dan sampai juga pada penyisiran tiga puisi yang saya amat kagumi. Dalam tiga puisi ini Yuli tak menggunakan dialektikanya, tetapi ia langsung menuju suasana mistik yang terbangun dan saya amat tertegun. Kekuasaan tiga puisi ini membuat saya tak berhenti untuk mengulang membacanya, membacanya dan lagi. Sepertinya secara tersirat Yuli Nugrahani mengisyaratkan bahwa “Pembatas Buku” itu dalam tiga puisi ini. Mari saya hadirkan tiga puisi tersebut di sidang pembaca.

MUSIM BAGI TRENGGULI

Di rumah lain aku bisa menemuimu,
kenari kecil yang penuh rinai.

Trengguli sudah sampai di musim bertabur
mencipta harum sebagai beranda
di sana, kita bercengkerema.

Nopember, 2013

Saya menikmati dengan pemilihan diksi dan suasana yang terbangun, oleh rima dengan kesederhanaan yang mengalir mengantarkan kepada ruang imajinasi kita, di suatu musim  bagi trengguli. Dan kita juga mesti menyadarinya, bahwa Yuli Nugrahani di puisi-puisi ini tak semata menghadirkan kesayuan dan kesahduan semata-mata, tetapi dia mampu memotret lingkungannya dengan indah dan ciamik. Mari saya bawa kepengangkatan tema “trengguli” yang adalah :

Trengguli (Cassia fistula) atau biasa disebut dengan bak buraktha, papa pauno,tengguli, klohor, kalabur, kayu raja, biraksa, bubundelan ini mempunyai kandungan kimia seperti saponin, tanin, gom, gula, hidroksimetil, asam sitrat, asam hidrisianik, pektin. Sementara kulitnya mengandung zat samak. Anggota famili Leguminosae ini bersifat rasa manis, antringen, pencahar dan penurun demam.

Saya baru menyadari, bahwa suasana yang romantis ini tak semata-mata sederhana secara kebermaknaan dari teks tersebut, Yuli Nugrahani mengajak kita semakin mencintai alam, kembali ke lingkungan dan dia juga memberitakan hal yang terdalam, bahwa alam ini telah banyak menyediakan imun bagi tubuh kita. Lihatlah bagaimana trengguli itu juga berfungsi sebagai penurun demam, silahkan bisa dilanjutkan pencaritahuan pada tema trengguli dan pesan yang secara samar Yuli sampaikan, kembalilah ke lingkungan dan “di sana kita bercengkerama” bait penutup yang romantis, romantisme sebuah ajakan yang terbangun dan sengaja diendapkan dalam puisi “ Musim Bagi Trengguli”.

Maka dari puisi tersebut kembali saya mengimani, bahwa puisi memang tak akan jauh dari realitas sosial pengarangnya, dan saya merekatkan puisi tersebut, hadir dan lahir dari pergulatan Yuli dalam kegiatan-kegiatannya, amatannya dan menjadi puisi yang manis menyampaikan pesan secara romantis dan samar.

Bagaimana jiwa bahasa Yuli dan cara Yuli mengantarkan pembaca pada tempat yang sejuk? Setelah puisi di atas, saya juga sangat tertarik menghadirkan puisi kedua yang juga membuat saya merasakan suasananya. Kemampuan Yuli, memainkan kata sederhana dan meneguhkan ruh tulisan pada pesan yang akan disampaikan tetapi begitulah Yuli juga tak serta merta meninggalkan keindahan-keindahan dalam memberi busana yang pantas dalam puisi-puisinya.

Yuli Nugrahani ini, memang kaya dengan tema, dan semuanya sama dengan apa yang telah saya sampaikan di atas, semuanya hasil dari pengamatan dan kejeliannya. Tetapi kadang Yuli bermain dengan senyap sekali, sehingga saya membaca puisi ini juga hanyut, pada perbedaan angin laut di sebuah pagi, yang sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengatur keseimbangan alam. Jika pun tidak ada pengrusakan, angin juga tak akan mengantarkan sebuah kemelut di laut, mencintai lingkungan dan membangun tema sosial serta mengalurkan dalam bentuk puisi adalah cara yang sangat unik dan menarik dalam puisi-puisi Yuli Nugrahani. Mari kita simak.

PESAN ANGIN LAUT PADA PAGI

Takdirku
adalah pantai siang hari,
mengantarkan nelayan
pulang ke bilik istrinya.

Tapi kau,
Pagi, kekasihku abadi
tempat kuhamparkan
pasang sepenuh daya.

Januari 2014

Membaca puisi ini, serasa senyap, ada luka yang diam dan sublim di dalam, perasaan saya seolah merasakan hal itu, bagaimana takdir alam dan waktu kadang mampu menghadirkan kesenduan. Sedang dalam tulisan ini Yuli Nugrahani tetap menggugah pembaca untuk kembali membaca alam, waktu, keadaan serta fungsi masing-masing sebagai alam, itulah warna dan jiwa bahasa Yuli. Senyap terasa dengan kata “Takdir” itu yang mesti mengantarkan nelayan pada bilik istrinya, dan hanyut kembali dengan bait-bait selanjutnya, tapi kau, pagi, kekasihku abadi. Dan saya sambungkan dengan puisi yang sangat dan bagus sekali oleh perasaanku merasakan pertempuran di medan senyap dan sepi dan di medan kuasa tanpa kuasa di puisi terakhir yang ingin saya hadirkan dan saya bersepakat pada jiwa saya, inti, ruh dan kata pembatas buku ini, ada di puisi ini. Menurut pandangan saya.

MENUJU RUMAHMU

Satu kali, satu kali saja aku berhenti
di sisi genangan air sisa hujan semalam.

Lalu kembali aku bergegas, walau tahu
aku tak akan pernah sampai di rumahmu.

2014

Saya ingin belajar dan mencoba bermain-main dengan puisi ini, dari kemarin saya tertarik dan saya mencoba memasuki ruangnya, menjadi saya di medan konflik itu aku lirik itu, yang mencoba melangkah satu kali, lalu berhenti lagi langkahku, satu kali lagi, aku mencoba berjalan di sisi genangan air sisa hujan, aih kulihat kak Yuli menjinjing sepatunya, takut kotor dan melangkah lagi, satu kali, artinya hati-hati dulu, lalu melangkah dan terus satu kali. Itulah ruang imajinasi dalam puisi ini sangat bagus, tak mesti puisi hadir dengan pemilihan diksi yang berat-berat, yang sok-sok puitis tapi tak mengena ke jiwa, atau tak pernah ada jiwanya, di sini puisi Yuli Nugrahani, kata klise menjadi menarik dan diolah dengan matang, oleh karena Yuli Nugrahani tak hanya mampu berimajinasi, tetapi dia ada di medan  konflik itu.

Begitupun bait kedua dari puisi “menuju rumahmu” judulnya saja telah mampu membangun suasana, dan lihat, “lalu kembali aku bergegas” di bait pertama ada kata berhenti, satu kali saja, tetapi selalu ada spirit perjuangan dan tak mau mengalah untuk sampai pada rumahmu, rumahmu itu bisa apa saja, harapan, impian dan atau rumah kekekasih yang di atas singgasana, yaitu Tuhan, kenapa Yuli sangat berhasil melahirkan semuanya di puisi ini? mari kita coba rekatkan pada hubungan, aku lirik yang menjadi hamba menuju rumah Tuhannya, seolah di sana, aku lirik berkata, ada genangan air sisa hujan, seperti mengabarkan, ada yang becek, kotor dan si aku lirik telah mencoba berusaha melewatinya, berusaha berhenti dari kotor genangan air sisa hujan yang jadi lambang sebuah renungan jiwa aku lirik atau bisa jadi aku Yuli sebagai penulis puisi ini. Betapa kotor aku lirik menujumu, tetapi tak ada kata putus asa, satu kali lagi melangkah memperbaiki diri, terus seperti itu aku lirik meski juga tak akan sampai, karena mungkin rumahMu terlalu suci tetapi aku lirik mencobanya terus. Satu kali, satu kali berhenti dan aku bergegas melangkah lagi, menuju rumahmu tuhan, walau aku tahu tak akan pernah sampai.

Demikian kepada kak Yuli Nugrahani, semoga tetap menulis, semakin semangat dan bagi para kawan-kawan tak ada ruginya memiliki buku ini, oleh sebab kedewasaan berbahasanya yang kuat, bisa jadi buku “Pembatas Buku” ini menjadi pembatas dari buku-buku yang kurang menarik. Salam.

Friday, May 16, 2014

Gemuruh Ingatan, 8 Tahun Korban Lumpur Lapindo

Aku tengah diliputi kegembiraan penerbitan bukuku yang akan launching tanggal 22 Mei 2014 bersama teman-teman Komunitas Berkat Yakin (KoBer) yang pas merayakan 12 tahun dinamikanya sebagai komunitas seni dan sastra. Beritanya silakan klik Teras Lampung atau Lampung Today. Untuk keterangan buku bisa lihat di postinganku sebelumnya seperti di sini atau di sini atau di sini dan mungkin di facebookku Yuli Nugrahani.

Di tengah kegembiraan itu, sebuah panitia untuk 8 tahun Lumpur Lapindo mengontakku mengatakan kalau salah satu puisiku masuk dalam antologi yang mereka buat berjudul Gemuruh Ingatan, berisi puluhan puisi menolak lupa ketidakadilan yang terjadi selama 8 tahun pada korban-korban lumpur Lapindo di Sidoarjo. Mereka akan mengajak para penulis yang terdiri dari berbagai kalangan untuk membaca puisi-puisi dalam buku itu dalam aksi tanggal 28 Mei mendatang di sekitar tanggul lumpur.

Ini bakal menjadi peristiwa penuh tekad selain juga penuh air mata. Adakah hati yang terketuk? Aburizal Bakrie harusnya menaruh hati dan otak lebih banyak pada mereka daripada sibuk mencalonkan diri jadi presiden yang tak bakal jadi. Harusnya para korban di genangan belum berhenti mendapatkan perhatian, tidak dilupakan. Mereka sudah kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan sejarah. Bahkan kuburan leluhurnya pun tak tampak lagi. Bahkan setiap hari kerugian masih terus bertambah. Bahkan...