Judul : Les Miserables 2 : Cosette
Penulis : Victor Hugo
Penterjemah ke bahasa Indonesia : Fahmy Yamani
Penyunting : Muthia Esfand
Cetakan pertama : Maret 2013
Penerbit : Visimedia Jakarta
Isi : xiv + 442 halaman
Ukuran : 140 X 210 mm
ISBN : 979-065-170-8
Aku tak sengaja mendapat buku ini di Gramedia Mall Ambassador Jakarta saat mengantar ibu cari buku resep masakan beberapa waktu lalu. Di awal aku menimbang-nimbang antara beli atau tidak beli. Pertimbangan pertama, di tas bawaanku sudah terjejal beberapa buku yang cukup berat untuk ditenteng. Kedua, lumayan mahal harga buku ini untuk kantong yang sedang bokek. Ketiga, aku sudah berjanji membelikan Bernard beberapa Lucky Luke untuk menyambung bacaannya yang sudah tuntas. Keempat, aku sebenarnya ingin beli beberapa buku tentang fotografi untuk seorang sahabat. Kelima, daftar buku yang ingin kubeli masih banyak banget, sedang Les Miserables 2 berada di luar daftar.
Keenam, aku ingat di Les Miserables yang pertama aku membutuhkan energi luar biasa besar saat membacanya. Di tubuh yang sedang malas, rasanya lebih pengin ambil buku katalog masakan tradisional daripada buku ini. Tapi, saat aku melangkah ke kasir, buku ini tidak lepas dari genggaman. Hehehe...aman. Aku akan membawanya di tas cangklong untuk dibaca di jalan, sehingga tidak menambah berat bawaan, aku akan nebeng shamponya anak-anak selama 3 bulan sehingga uang beli shampo itu yang aku pakai, Bernard cukup dibelikan satu Lucky Luke, berikutnya nyusul pas gajian ... hehehe... semua bisa diatur.
Nah, aku baru mulai membaca buku ini tiga hari yang lalu dan pembatas buku terseok-seok sampai di halaman 324 pada hari ini. Ada yang unik dalam buku ini. Hugo memisahkan cerita-cerita dalam 8 buku dengan judul-judul di tiap bukunya. Jadi semacam kumpulan buku dengan judul-judul : Waterloo yang berisi 19 bab, Kapal Orion 3 bab, Menunaikan Janji kepada Perempuan yang Sudah Meninggal 11 bab, Pondok Gorbeau 5 bab, Segerombolan Orang Membisu untuk Perburuan Hitam 10 bab, Le Petit Picpus 11 bab, Sisipan 8 bab dan Pemakaman yang Dikhususkan untuk Mereka 9 bab.
Terlihat Hugo memainkan perannya sebagai penulis secara bebas di tiap buku. Dia berlompatan dari satu tempat dan waktu, ke tempat dan waktu yang lain, kadang maju kadang mundur. Macam penjahit yang sesuka-suka hati mengerjakan jahitannya. Suatu kali dia membuat bagian lengan baju hingga detil kancing dan sulamannya, lalu berikutnya dia memotong bakal saku dan merapikannya, lalu dia menggeletakkannya begitu saja untuk kemudian membuat pola kerah.
Dalam novel ini, potongan-potongan itu oleh Hugo dijahit dalam percakapan yang hangat, hmmm, seolah dia hadir di depan pembaca, bercerita dan berkisah sesuka hatinya. Misal di halaman 16 dia menyapa : "Mari kita kembali - ini merupakan salah satu hak pendongeng - dan menempatkan diri sekali lagi pada tahun 1815 dan bahkan sedikit lebih awal daripada epos saat perisitiwa yang dikisahkan dalam bagian pertama buku ini terjadi."
Atau di bab terakhir yang baru selesai aku baca, pada bab ke 8 dari buku ke 6 yang berjudul Le Petit-Picpus halaman 320 : "Selain semua itu, kami persilakan pembaca menambahkan gambaran sebuah halaman, berbagai macam sudut dibentuk oleh bangunan interior, tembok penjara, atap hitam panjang yang berbatasan dengan sisi lain dari Rue Polonceau, untuk perspektif dan lingkungannya sendiri, dan pembaca akan mampu membentuk sebuah gambaran lengkap seperti apa rumah ordo Bernardinus dari Petit-Picpus sekitar empat puluh tahun yang lalu."
Sapaan-sapaannya itu membuatku senang, membuatku merasa lebih dekat pada penulis luar biasa ini. Dan tentu saja hal itu membuatku menjadi lebih rilex santai saat membaca buku ini dibanding buku yang pertama.
Buku ini masih kelanjutan dari buku yang lalu, menceritakan tentang Jean Valjean yang bisa meloloskan diri dari hukuman kerja paksa seumur hidup setelah jatuh dari kapal Orion tempatnya bekerja. Jean masih ingat janjinya pada seorang perempuan yang sudah meninggal, Fantine, untuk membawa anak perempuannya yang ditinggalkan di Montfermeil kembali kepadanya. Cosette, anak perempuan itu telah menjalani kehidupan menyedihan di keluarga Thenardier. Jean membawa Cosette pergi dari cengkeraman keluarga tamak ini. Walau, keputusan ini bukan berarti mengeluarkan Cosette dari masalah-masalah.
Kebebasan Hugo bukan hanya dari setting yang berloncatan, tapi juga keberaniannya mempertanyakan banyak hal dalam politik, negara, Tuhan dan Gereja. Aku intip di buku 7 pada bab pertama di tulis sebagai judul : Biara sebagai Gagasan Absrak. Ini adalah pernyataan yang berani dari orang yang lahir dan hidup di Perancis yang jelas kental warna Katoliknya. Kalau di masa sekarang, pendapat macam itu biasa saja, dan aku pun bisa setuju, tapi jaman itu, aku membayangkannya sebagai pendapat yang luar biasa apalagi ditambah uraian-uraian yang begitu detail.
Nah ya, soal detail. Inilah yang membuatku bisa membolak-balik satu halaman novel Hugo ini belasan atau puluhan kali. Sayang aku belum terlalu nyambung jika membaca tulisan-tulisan panjang dalam bahasa Inggris, namun dalam bahasa terjemahan pun aku menangkap ketelitian Hugo dalam menulis. Lihat saja halaman 320 : "Taman, yang agak melengkung itu, memiliki pohon cemara runcing di atas sebuah bukit yang terletak di tengah taman, dengan empat jalan besar dan delapan jalan kecil bersilangan, sehingga jika taman itu berbentuk bulat, denah geometris jalanan itu akan menyerupai salib yang dikelilingi oleh sebuah roda." Hmmm, dari kalimatnya sudah terlukis macam apa yang dimaksudkannya.
Friday, May 31, 2013
Thursday, May 30, 2013
Tanggulangin
Lumpur mengenangi kuburan ketika aku datang.
Ujung nisan berganti celepuk didih cairan belerang.
Jalanan memeluk batu berselimut keranjang kawat.
Lasakku menyeret kaki mencari celah paksa untuk lewat
Di ujung liang mata membuka petunjuk setapak.
Mereka tengah mengembalikan meja – meja lapak!
Palu pertama diketukkan pada sol-sol sepatu.
Benang-benang dikaitkan pada saku-saku baju.
Mereka sembunyikan air mata bukan untuk lupa!
Darah dialirkan bukan semata menghias luka!
“Tangan kami bukan mengatung, kau lihat!
Tangan kami mengepal! Tanda seru di akhir kalimat!”
Aku sengaja tarik tali busur menghujam dada.
Jantungku teriris kata yang mengucap : Saudara.
Ujung nisan berganti celepuk didih cairan belerang.
Jalanan memeluk batu berselimut keranjang kawat.
Lasakku menyeret kaki mencari celah paksa untuk lewat
Di ujung liang mata membuka petunjuk setapak.
Mereka tengah mengembalikan meja – meja lapak!
Palu pertama diketukkan pada sol-sol sepatu.
Benang-benang dikaitkan pada saku-saku baju.
Mereka sembunyikan air mata bukan untuk lupa!
Darah dialirkan bukan semata menghias luka!
“Tangan kami bukan mengatung, kau lihat!
Tangan kami mengepal! Tanda seru di akhir kalimat!”
Aku sengaja tarik tali busur menghujam dada.
Jantungku teriris kata yang mengucap : Saudara.
Tuesday, May 28, 2013
Menikmati Gelombang
Adakah rasa yang bisa kupilih?
Masih perlukah rasa bagi hatiku?
Gelombang adalah mainan,
bagi anak-anak.
Walaupun mungkin bisa jadi petaka
bagi seluruh tradisi.
Haruskah aku gembira?
Masih perlukah aku sedih?
Setiap manusia sudah memilih,
dan menikmati resikonya.
Walaupun mungkin aku hanya imbas
yang tidak penting.
Mestikah menikmati gelombang
seperti anak-anak?
Masih perlukah rasa bagi hatiku?
Gelombang adalah mainan,
bagi anak-anak.
Walaupun mungkin bisa jadi petaka
bagi seluruh tradisi.
Haruskah aku gembira?
Masih perlukah aku sedih?
Setiap manusia sudah memilih,
dan menikmati resikonya.
Walaupun mungkin aku hanya imbas
yang tidak penting.
Mestikah menikmati gelombang
seperti anak-anak?
Thursday, May 23, 2013
Nagagini
Di usia nafas hampir 40 putaran bumi pada matahari
aku harus mengaku jujur pada kalian para dokter
dengan demikian kalian akan berhenti membedahku.
Bukan otakku miring letaknya menelorkan kekacauan
pikir selaksa Limbuk memakai topeng Azar Nafisi
menyamar rabiah tanpa cadar tanpa terompah.
Bukan mataku juling pura-pura tidak memandang
ada gunung dan pasir di kanan kiri tubuhku yang tambun
merem malas menangkap pantulan cahaya kenyataan.
Hanya teleskopku sendiri yang bisa menampakkan
rupa Nagagini dalam rongga perut di bawah pusar
tengah memperluas jaringan meristem di titik tumbuh.
Pinjami aku waktu untuk menggunakan pisau-pisau itu
Nagagini akan terus bergerak mencari Ulo Tamparnya.
kecuali aku memotong ranting pohon lambang sari.
Demikian aku akan mencegah kutuk pada kesetiaan
jangan sampai kisah pasangan cecak dan domba terulang
hingga jaman harus menyalakan kembali api bakar diri.
aku harus mengaku jujur pada kalian para dokter
dengan demikian kalian akan berhenti membedahku.
Bukan otakku miring letaknya menelorkan kekacauan
pikir selaksa Limbuk memakai topeng Azar Nafisi
menyamar rabiah tanpa cadar tanpa terompah.
Bukan mataku juling pura-pura tidak memandang
ada gunung dan pasir di kanan kiri tubuhku yang tambun
merem malas menangkap pantulan cahaya kenyataan.
Hanya teleskopku sendiri yang bisa menampakkan
rupa Nagagini dalam rongga perut di bawah pusar
tengah memperluas jaringan meristem di titik tumbuh.
Pinjami aku waktu untuk menggunakan pisau-pisau itu
Nagagini akan terus bergerak mencari Ulo Tamparnya.
kecuali aku memotong ranting pohon lambang sari.
Demikian aku akan mencegah kutuk pada kesetiaan
jangan sampai kisah pasangan cecak dan domba terulang
hingga jaman harus menyalakan kembali api bakar diri.
Monday, May 20, 2013
Malang
1.
Jalanan sekarang berbeda
saat aku hendak membelok
beberapa detik lampu merah
menghadang, dulu tidak ada.
Kanan kiri jalan tumbuh tiang
pada salah satu aku bersandar
dengan cara tidak lagi sama
karena kabel yang terpasang
mengelupas di bagian atas
membocorkan percikan.
Dulu kau pernah memanjatnya
melekatkan balon-balon hias
di sepanjang Dinoyo
di selusur Watu Gong
meneriakkan tawa
dengan janji lepas
"Aku akan kembali."
lalu kau melangkah cepat
wajah dalam topi Stetson
padahal cuma ingin berpaling.
Sekarang jalanan berbeda
namun kita tak akan lupa
dan kau jangan pura-pura
tak pernah ada di sana.
2.
Waktu itu
dari gapura hingga kamar mandimu
aku pernah berlari
hanya untuk menumpahkan
hujan yang tiba-tiba menggenang
di sudut mata berpelangi.
Waktu itu
tidak ada yang bisa menghibur
bahkan Putri Tidur dengan Pandermannya
hanya tegak kaku tanpa pelukan
sinis menjulurkan lidah
menampar dugaan lamur.
Waktu itu
telah kukubur percik bau
dalam peti tanpa warna
kau tak akan mengira
sihir itu tetap berjalan
dan mencipta cerminan.
Waktu itu.
3.
Buku itu tertinggal di bangku
bangku tua yang jatuh satu paku
paku tersisa mencuat seperti gigi taring
taring tersangkut rokmu saat bertandang.
Itulah alasan mengapa bangku bergoyang
bergoyang saat kau bangkit berbumbu sempoyongan
sempoyongan tubuhmu adalah deritan manja bangku tua.
Di situlah buku itu tertinggal
tertinggal bersama sebait puisi pembatas.
Ini penyebab aku datang.
4.
Hati tidak bisa didaur ulang
yang pernah terjadi adalah
wajahmu menjadi gerbang
aku telah memasukinya
menegak habis isi cawan
yang kau tawarkan lewat tarian
kemudian aku menyalakan dian
mengabaikan pinset di kulit rasa
maka aku tidak sakit di hari pengusiran.
5.
Jalan tak sepanjang yang kubayangkan
bisa kulipat rentangannya
dan kurekat ujung-ujungnya
bahkan jembatan-jembatan dapat kuremas
lumat dalam genggaman.
Kenangan telah jadi gita
yang semakin dewasa.
Sunday, May 19, 2013
Bandar Jakarta
Sayang, naiklah perahu
air laut akan jadi kasur
berdua kita mencicip tabuh
yang tercatat tanpa sentuh.
Sayang, lihatlah ke barat
langit tersenyum ini malam
lewat lekuk yang sama
tersampir di daun kelapa.
Sayang, sebentar lagi lampu mati
matamu akan mendapat santapan seri
jangan melawan jangan alergi
teluk akan memberi gerbang pasti.
Sayang, pantai, bulan sabit,
mimpi.
15 Mei 2013 — at Bandar Djakarta.
air laut akan jadi kasur
berdua kita mencicip tabuh
yang tercatat tanpa sentuh.
Sayang, lihatlah ke barat
langit tersenyum ini malam
lewat lekuk yang sama
tersampir di daun kelapa.
Sayang, sebentar lagi lampu mati
matamu akan mendapat santapan seri
jangan melawan jangan alergi
teluk akan memberi gerbang pasti.
Sayang, pantai, bulan sabit,
mimpi.
15 Mei 2013 — at Bandar Djakarta.
Thursday, May 09, 2013
Sampar
Sejak tikus-tikus itu menyerbu rumah
ketiak dan selangkangku membusuk bernanah
pun nyeri panas sakitku hanya dianggap latah
jika kau tidak melihatnya, apakah
sampar hanya entah?
Yang digerogoti bukan hanya buku
dia tegak sombong merampok pasak paku
sebentar lagi rumah tinggal sebangku
jika tak ada juga anjak, lalu
biarkah mati lampu?
Malam sebelum tidur hari ini
kau mendongeng tentang mati
ada kisah syahid dalam lembing tirani
jika aku tetap tidak percaya, adakah lagi
teorimu basmi mimpi?
Sampar menjadi akar-akar gejala
berkembang dalam hijau buah tanya
hanya kau perlu mengingat rasa
sakitku memutus darah aku dan dia
kami musuh selamanya.
ketiak dan selangkangku membusuk bernanah
pun nyeri panas sakitku hanya dianggap latah
jika kau tidak melihatnya, apakah
sampar hanya entah?
Yang digerogoti bukan hanya buku
dia tegak sombong merampok pasak paku
sebentar lagi rumah tinggal sebangku
jika tak ada juga anjak, lalu
biarkah mati lampu?
Malam sebelum tidur hari ini
kau mendongeng tentang mati
ada kisah syahid dalam lembing tirani
jika aku tetap tidak percaya, adakah lagi
teorimu basmi mimpi?
Sampar menjadi akar-akar gejala
berkembang dalam hijau buah tanya
hanya kau perlu mengingat rasa
sakitku memutus darah aku dan dia
kami musuh selamanya.
Sunday, May 05, 2013
TOT 4 Pilar
MPR RI melatih para calon pelatih untuk sosialisasi Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Kali ini Lampung digarap bersama dengan Kementrian Agama Propinsi Lampung diadakan di Sheraton Hotel Bandarlampung, 2 - 6 Mei 2013 diikuti oleh 100 peserta dari berbagai kalangan guru, dosen dan lembaga / organsisasi masyarakat / agama. Fasilitasi diberikan sepenuhnya oleh anggota MPR RI dengan koordinator tim kerja, Agun Gunandjar.
Saturday, May 04, 2013
Menggalah Bulan di Ranting Perpustakaan
Piring keramik di atas, buku
burung-burung rantau, berlapis
manis apple pie, memadu
mangunwijaya dan ibu, setipis
jeda suara dari bibir, setuju.
burung-burung rantau, berlapis
manis apple pie, memadu
mangunwijaya dan ibu, setipis
jeda suara dari bibir, setuju.
Tuesday, April 30, 2013
Menu Kangen
Kalau lagi gak enak badan, tubuhku ini sunggu njelehi. Begitu rewel dan merepotkan. Bagaimana tidak. Kalau mau makan, yang kebayang tuh mesti makanan-makanan masa kecil atau makanan-makanan yang adanya di Kediri sana. Rawon, nasi tumpang, pecel pincuk, rujak cingur, tepo sayur, dll. Kalau gak itu semua ya makanan yang biasanya disediakan ibuk kalau aku lagi sakit di jaman kecil dulu. Nasi lembek, sayur bening bayem dicampur oyong/gambas, tahu goreng setengah mateng dan telur rebus. Dulu membayangkannya saja aku bisa muntah, tapi sekarang... Ibuk, aku pengin dimasakin seperti itu. Duh, baunya bisa kecium hidungku. Tidak mau makan yang lain! Tidak mau!
Friday, April 26, 2013
Padang Penuh Bulan
Ketika aku datang pintu rumah terkunci dari dalam
aku melihat bayangannya tengah mengepel lantai
pasti ketukan di kaca jendela mengagetkannya
setergesa dia seret selop mengintip dan melambai.
Bibirnya membentuk pinggiran sumur mengucap : tunggu
matanya gelisah mencari di mana kunci bisa ditancap
dan selot dibuka dengan gegas rindu tanpa ragu
mengucap selamat datang dengan wajah terlukis pana.
Sejenak dia menjadi manusia ingin memeluk atau menolak
kedatanganku bukan diundang malah mungkin gangguan
tapi segera bulan-bulan disodorkan dalam nampan senyuman
setumpuk berlimpah bagiku bahkan disajikan juga padamu.
Kau akan mengingatnya ketika metamorfosa tubuhnya terjadi
aku sudah melihatnya beberapa kali namun ini sangat cepat
bukan dalam bayangan seperti saat aku membaca kertasnya
bukan dalam khayalan seperti saat aku melirik zikirnya.
Adalah tari tubuh manusia melengkung meliuk mendendang
menjadi semar senyata berkata penuh mata dan hembusan
berkisah tentang bulan-bulan yang ditanam dalam padangnya
semacam agora para kekasih sunyi pengabdi tenang.
Kau protes ketika aku cepat berdiri pamit padanya
tapi mestinya kau akan paham kalau aku katakan
semar akan hidup bahagia dengan keyakinan
kekasih-kekasihnya setia entah terlihat atau tidak.
Kau akan tahu bahwa aku sangat mencintainya
di pintu dia mengantarku mencari-cari alasan segera
menutup pintu dan melanjutkan tariannya dalam rumah
tapi kau tidak tahu dia telah menciumku tadi sekejab.
Padangbulan, 26 April 2013
aku melihat bayangannya tengah mengepel lantai
pasti ketukan di kaca jendela mengagetkannya
setergesa dia seret selop mengintip dan melambai.
Bibirnya membentuk pinggiran sumur mengucap : tunggu
matanya gelisah mencari di mana kunci bisa ditancap
dan selot dibuka dengan gegas rindu tanpa ragu
mengucap selamat datang dengan wajah terlukis pana.
Sejenak dia menjadi manusia ingin memeluk atau menolak
kedatanganku bukan diundang malah mungkin gangguan
tapi segera bulan-bulan disodorkan dalam nampan senyuman
setumpuk berlimpah bagiku bahkan disajikan juga padamu.
Kau akan mengingatnya ketika metamorfosa tubuhnya terjadi
aku sudah melihatnya beberapa kali namun ini sangat cepat
bukan dalam bayangan seperti saat aku membaca kertasnya
bukan dalam khayalan seperti saat aku melirik zikirnya.
Adalah tari tubuh manusia melengkung meliuk mendendang
menjadi semar senyata berkata penuh mata dan hembusan
berkisah tentang bulan-bulan yang ditanam dalam padangnya
semacam agora para kekasih sunyi pengabdi tenang.
Kau protes ketika aku cepat berdiri pamit padanya
tapi mestinya kau akan paham kalau aku katakan
semar akan hidup bahagia dengan keyakinan
kekasih-kekasihnya setia entah terlihat atau tidak.
Kau akan tahu bahwa aku sangat mencintainya
di pintu dia mengantarku mencari-cari alasan segera
menutup pintu dan melanjutkan tariannya dalam rumah
tapi kau tidak tahu dia telah menciumku tadi sekejab.
Padangbulan, 26 April 2013
Wednesday, April 24, 2013
Hari Dimana Kesadaran Mati
...
Kau telah tahu rasanya
ular-ular kecil menyusup pori-pori
mengibaskan ekornya yang dingin
hingga kau terus gemetar.
Mereka tidak akan diam
sampai telur-telur mendapat tempat
dibuahi sperma dan dieram
hingga menetas berkali lipat.
Mereka di dalam tubuhmu
seperti yang kau duga
ketika kau padamkan lampu
mereka telah tuntas berjaga.
Kalau kau bertanya bagaimana
mengeluarkan mereka dari kedaulatanmu
nasehat cuma menyoal keberanian
untuk memotong kepala angkuh.
Dan itu adalah hakmu!
Kau telah tahu rasanya
ular-ular kecil menyusup pori-pori
mengibaskan ekornya yang dingin
hingga kau terus gemetar.
Mereka tidak akan diam
sampai telur-telur mendapat tempat
dibuahi sperma dan dieram
hingga menetas berkali lipat.
Mereka di dalam tubuhmu
seperti yang kau duga
ketika kau padamkan lampu
mereka telah tuntas berjaga.
Kalau kau bertanya bagaimana
mengeluarkan mereka dari kedaulatanmu
nasehat cuma menyoal keberanian
untuk memotong kepala angkuh.
Dan itu adalah hakmu!
Wednesday, April 17, 2013
Melempar Bola
Melempar bola bisa dilakukan oleh siapa pun. Jika dia sendirian melakukan permainan melempar bola ini, permainan akan selesai pada detik dimana dia melempar bolanya. Sekali melempar, bola itu akan hilang dan tidak akan bisa membuat lemparan yang kedua.
Minimal dua orang dibutuhkan jika ingin permainan ini menjadi lebih asyik. Melempar, ditangkap oleh yang lain, dilempar balik, maka kita bisa melempar lagi bola itu untuk kali yang kedua.
Yang paling aman, bola tidak dilempar tapi dipegang saja. Tapi apa asyiknya jika bola hanya untuk dipegang? Atau hanya untuk pajangan?
Minimal dua orang dibutuhkan jika ingin permainan ini menjadi lebih asyik. Melempar, ditangkap oleh yang lain, dilempar balik, maka kita bisa melempar lagi bola itu untuk kali yang kedua.
Yang paling aman, bola tidak dilempar tapi dipegang saja. Tapi apa asyiknya jika bola hanya untuk dipegang? Atau hanya untuk pajangan?
Friday, April 12, 2013
Conspiracy (11)
Kisah sebelumnya
Aku terkantuk-kantuk dalam pijitan Heart. Dia belum mengeluarkan suara sedari tadi. Aku tidak berusaha mengawali perbincangan juga. Keheningan ini aku nikmati. Anak-anak angin yang biasanya ribut di taman, kai tidak kelihatan. Mungkin Heart sudah mengusirnya. Dayang-dayang menjaga jarak dari kami. Nampan-nampan tidur di pelukan masing-masing, ditutup rapat-rapat dengan taplak-taplak berenda. Sebagian yang tercecer menguap sampai tempat duduknya, segera disapu oleh salah seorang dayang dengan cekatan.
"Lady, apakah kau masih ingat senyuman Dew?"
"Tentu saja."
Aku membayang Dew pernah duduk di tempatku berbaring ini. Dia mempunyai bibir-bibir yang sangat murah tersenyum. Walau senyumnya tidak selalu tulus, tapi lekuk kedua ujung bibirnya sangat sering terangkat. Gigi-giginya akan kelihatan saat senyum tanpa suara seperti itu. Terlebih jika geli mulai menggelitik perutnya, seluruh rongga mulutnya akan kelihatan tanpa ditutupi.
Saat tersenyum, kantung mata bagian bawahnya akan menggembung menutupi sebagian mata sehingga kelihatan sipit. Ujung mata akan tertarik ke atas dengan beberapa kerutan. Matanya seperti embun saat tersenyum, itulah mengapa dia bernama Dew.
Aku tahu tangan-tangan Heart sedang merekam ingatanku lewat pijatannya. Maka aku membayangkan setiap detil Dew yang kuingat.
Wajah Dew tidak mungkin kulupakan saat tersenyum. Bibir, pipi, mata dan dagunya adalah bagian yang paling dominan bergerak saat tersenyum. Namun bagian-bagian yang lain tidak mungkin hanya berdiam diri. Bahkan rambut-rambut Dew di kening ikut berkeriapan bersama dengan keceriaannya.
"Apakah dia pernah menangis?"
"Tidak."
Dew tidak pernah menangis. Saat kesedihan menguasainya, dia akan meringkuk menyembunyikan diri. Ah, mungkin juga dia pernah menangis, tapi aku tidak pernah melihatnya. Ah, Dew, tiba-tiba aku semakin rindu padanya.
"Heart sayang, mungkinkah Dew bisa kita temukan?"
"Pasti. Aku berjanji, Lady."
Ah, aku menguap lebar. Pasti dayang-dayang itu lalai menyapu tepung-tepung tidur yang tercecer. Aku sangat mengantuk dan ingin tidur.
Bersambung.
Aku terkantuk-kantuk dalam pijitan Heart. Dia belum mengeluarkan suara sedari tadi. Aku tidak berusaha mengawali perbincangan juga. Keheningan ini aku nikmati. Anak-anak angin yang biasanya ribut di taman, kai tidak kelihatan. Mungkin Heart sudah mengusirnya. Dayang-dayang menjaga jarak dari kami. Nampan-nampan tidur di pelukan masing-masing, ditutup rapat-rapat dengan taplak-taplak berenda. Sebagian yang tercecer menguap sampai tempat duduknya, segera disapu oleh salah seorang dayang dengan cekatan.
"Lady, apakah kau masih ingat senyuman Dew?"
"Tentu saja."
Aku membayang Dew pernah duduk di tempatku berbaring ini. Dia mempunyai bibir-bibir yang sangat murah tersenyum. Walau senyumnya tidak selalu tulus, tapi lekuk kedua ujung bibirnya sangat sering terangkat. Gigi-giginya akan kelihatan saat senyum tanpa suara seperti itu. Terlebih jika geli mulai menggelitik perutnya, seluruh rongga mulutnya akan kelihatan tanpa ditutupi.
Saat tersenyum, kantung mata bagian bawahnya akan menggembung menutupi sebagian mata sehingga kelihatan sipit. Ujung mata akan tertarik ke atas dengan beberapa kerutan. Matanya seperti embun saat tersenyum, itulah mengapa dia bernama Dew.
Aku tahu tangan-tangan Heart sedang merekam ingatanku lewat pijatannya. Maka aku membayangkan setiap detil Dew yang kuingat.
Wajah Dew tidak mungkin kulupakan saat tersenyum. Bibir, pipi, mata dan dagunya adalah bagian yang paling dominan bergerak saat tersenyum. Namun bagian-bagian yang lain tidak mungkin hanya berdiam diri. Bahkan rambut-rambut Dew di kening ikut berkeriapan bersama dengan keceriaannya.
"Apakah dia pernah menangis?"
"Tidak."
Dew tidak pernah menangis. Saat kesedihan menguasainya, dia akan meringkuk menyembunyikan diri. Ah, mungkin juga dia pernah menangis, tapi aku tidak pernah melihatnya. Ah, Dew, tiba-tiba aku semakin rindu padanya.
"Heart sayang, mungkinkah Dew bisa kita temukan?"
"Pasti. Aku berjanji, Lady."
Ah, aku menguap lebar. Pasti dayang-dayang itu lalai menyapu tepung-tepung tidur yang tercecer. Aku sangat mengantuk dan ingin tidur.
Bersambung.
Tuesday, April 09, 2013
Bunuh Diri? Astaga!
Aku pernah menulis tentang bunuh diri pada 28 Maret 2011 (klik sini). Tulisan bisa kuselesaikan dalam hitungan menit, tapi pengolahan batinku belum selesai juga hingga kini. Aku masih menyesalinya sampai terjadi pada orang yang kukenal.
Kemarin aku mendengar lagi seorang teman melakukan hal bodoh ini. Aduh. Spontan kepalaku berdenyut-denyut. Aku berharap kabar itu salah, tapi tidak, kabar itu benar.
Baiklah, semua orang pasti akan mati. Tidak ada seorang pun yang bisa luput dari peristiwa ini kecuali jiwa-jiwa yang belum dilahirkan. Tapi, please, jangan pernah menentukan sendiri hari kematian itu termasuk caranya. Untuk urusan ini, sudahlah, manut saja pada Yang Pencipta. Dia punya cara untuk memutus hubungan jiwa dan raga seseorang yang sudah diciptakan.
Kehidupan adalah kesempatan berada dalam kelas-kelas belajar. Kalaupun mau ngendog, tidak naik kelas berkali-kali, ya biar saja. Sang Guru akan tetap hadir di kelas manapun. Jadi, nikmati kesempatan pembelajaran ini. Biarlah jiwa kita digosok hingga suci dan benar-benar pantas bersatu lagi dengan Sumber Cahaya ya Maha Jiwa. Oh, jangan pernah memutus hubungan denganNya.
Tak lagi ada yang bisa dilakukan ketika kita tak bisa menggerakkan badan, memutar otak atau memakai hati seperti saat kematian itu tiba. Saat hidup singkat ini, pilihan yang bisa diambil adalah menggunakannya sepenuh daya. Mari menghargai kehidupan.
(Dalam sedih aku berdoa untuk Ipung. "Sang Kasih, maklumilah jiwanya, kasihanilah dia, terimalah dia dalam kerahimanMu."
Kemarin aku mendengar lagi seorang teman melakukan hal bodoh ini. Aduh. Spontan kepalaku berdenyut-denyut. Aku berharap kabar itu salah, tapi tidak, kabar itu benar.
Baiklah, semua orang pasti akan mati. Tidak ada seorang pun yang bisa luput dari peristiwa ini kecuali jiwa-jiwa yang belum dilahirkan. Tapi, please, jangan pernah menentukan sendiri hari kematian itu termasuk caranya. Untuk urusan ini, sudahlah, manut saja pada Yang Pencipta. Dia punya cara untuk memutus hubungan jiwa dan raga seseorang yang sudah diciptakan.
Kehidupan adalah kesempatan berada dalam kelas-kelas belajar. Kalaupun mau ngendog, tidak naik kelas berkali-kali, ya biar saja. Sang Guru akan tetap hadir di kelas manapun. Jadi, nikmati kesempatan pembelajaran ini. Biarlah jiwa kita digosok hingga suci dan benar-benar pantas bersatu lagi dengan Sumber Cahaya ya Maha Jiwa. Oh, jangan pernah memutus hubungan denganNya.
Tak lagi ada yang bisa dilakukan ketika kita tak bisa menggerakkan badan, memutar otak atau memakai hati seperti saat kematian itu tiba. Saat hidup singkat ini, pilihan yang bisa diambil adalah menggunakannya sepenuh daya. Mari menghargai kehidupan.
(Dalam sedih aku berdoa untuk Ipung. "Sang Kasih, maklumilah jiwanya, kasihanilah dia, terimalah dia dalam kerahimanMu."
Saturday, April 06, 2013
Banjir di Belakang Rumah
tangis tertanam pada hujan
akarnya tumbuh di tiap rintik
helai daunnya bertunas duka
setia menolak ikatan kaca
memilih tetap jadi tampias
di kusen mata ibu muda
dendangnya jerit tidak terima
berkabar kehilangan atap dapur
"saat kumasak makan malam
api padam terselimuti basah
dan perut masih mendamba bubur"
mengurangi air merendam tungkai
dengan gayung dia membuang sawan
dijejalkan puting pada bayi kesayangan
raungan laju tak berhenti kelaparan
bukan susu tapi air mata dan keluhan
yang tersaji dari tubuh terkulai
tangannya gemetar menahan air
mengkhayal kisah bernada gembira
biar saja kembali dilanda banjir
ibu muda berharap mimpi tajir
dan mengganti atap rumahnya
malam sabar mengunyah pekat
biarpun dia sudah bosan
pada hujan penumbuh tangisan
"tapi aku tak mau mengungsi"
pipinya menempel di kaca
mengumpulkan tampias hujan
yang terus disesali
dia telah menyusukan duka
pada bayi-bayinya
akarnya tumbuh di tiap rintik
helai daunnya bertunas duka
setia menolak ikatan kaca
memilih tetap jadi tampias
di kusen mata ibu muda
dendangnya jerit tidak terima
berkabar kehilangan atap dapur
"saat kumasak makan malam
api padam terselimuti basah
dan perut masih mendamba bubur"
mengurangi air merendam tungkai
dengan gayung dia membuang sawan
dijejalkan puting pada bayi kesayangan
raungan laju tak berhenti kelaparan
bukan susu tapi air mata dan keluhan
yang tersaji dari tubuh terkulai
tangannya gemetar menahan air
mengkhayal kisah bernada gembira
biar saja kembali dilanda banjir
ibu muda berharap mimpi tajir
dan mengganti atap rumahnya
malam sabar mengunyah pekat
biarpun dia sudah bosan
pada hujan penumbuh tangisan
"tapi aku tak mau mengungsi"
pipinya menempel di kaca
mengumpulkan tampias hujan
yang terus disesali
dia telah menyusukan duka
pada bayi-bayinya
Wednesday, April 03, 2013
Sisa Di Halaman Pembantaian
saat malam memejamkan mata
tak ada yang sadar waktu berkayuh
ingatan pergi bersama kenangan tua
menganggap sepi udara yang tertabuh
bukankah getar kekosongan adalah suara?
hanya kaki tak lagi ada untuk dilipat
hanya lengan tak lagi ada untuk mengatung
dan aku yang menatapnya melihat tanda sayat
ujung halaman kota itu pernah terantai bengisKosal, engkau berjalan dengan senyummu
Tun, engkau berlari dengan hatimu
aku telah menerima tawaran kotamu
mengelilingi jaman meringkas pembantaian
bukankah gerak ketunaan adalah harga?
serakan tulang menjadi stasi
bukan mati
Monday, April 01, 2013
PESAN “URBI ET ORBI” PAUS FRANSISKUS PADA HARI RAYA PASKAH 31 Maret 2013
Saudara dan saudari
terkasih di Roma dan di seluruh dunia, Selamat Paskah!
Sungguh suatu sukacita bagi saya untuk mengumumkan pesan ini : Kristus telah bangkit! Saya ingin pergi ke setiap rumah dan setiap keluarga, terutama di mana ada penderitaan terbesar, di rumah sakit, di penjara ...
Terlebih, saya ingin masuk ke dalam setiap hati, karena di sanalah Allah ingin menabur Kabar Baik : Yesus telah bangkit, ada harapan untuk Anda, Anda tidak lagi dalam kuasa dosa, dalam kuasa kejahatan! Kasih telah menang, rahmat telah menang!
Kita juga, seperti para perempuan yang adalah murid-murid Yesus, yang pergi ke kubur dan mendapatinya kosong, mungkin bertanya-tanya apa arti peristiwa ini (bdk. Luk 24:4). Apa artinya bahwa Yesus telah bangkit? Ini berarti bahwa kasih Allah lebih kuat dari kejahatan dan kematian itu sendiri; itu artinya kasih Allah bisa mengubah hidup kita dan membiarkan gurun yang menempati hati kita itu berkembang.
Kasih yang sama ini, yang karenanya Putra Allah menjadi manusia dan mengikuti jalan kerendahan hati dan pemberian diri sampai mati, turun ke neraka - ke jurang keterpisahan dari Allah – kemurahan kasih yang sama ini telah membanjiri dengan cahaya jenazah Yesus dan mengubahnya, telah menjadikannya masuk ke dalam hidup yang kekal. Yesus tidak kembali kepada kehidupan sebelumnya, kehidupan duniawi, tetapi masuk ke dalam kehidupan Allah yang mulia dan Ia masuk ke sana dengan kemanusiaan kita, membukakan kita kepada masa depan harapan.
Inilah Paskah : Paskah adalah pembebasan, perjalanan umat manusia dari perbudakan dosa dan kejahatan menuju kebebasan kasih dan kebaikan. Karena Allah adalah hidup, hidup itu sendiri, dan kemuliaan-Nya adalah orang yang hidup (bdk. Irenaeus, Adversus Haereses, 4,20,5-7).
Saudara dan saudari terkasih, Kristus telah mati dan bangkit sekali untuk selamanya, dan untuk semua orang, tapi kuasa kebangkitan, pembebasan dari perbudakan terhadap kejahatan kepada kebebasan kebaikan ini, harus dilakukan dalam setiap zaman, dalam keberadaan nyata kita, dalam kehidupan kita sehari-hari. Berapa banyak gurun, bahkan hari ini, yang perlu diseberangi umat manusia! Terlebih, gurun dalam pikiran, ketika kita tidak memiliki kasih kepada Allah atau sesama, ketika kita gagal untuk menyadari bahwa kita adalah penjaga dari semua yang telah diberikan Sang Pencipta kepada kita dan terus memberi kita. Kemurahan Tuhan dapat membuat bahkan tanah paling gersang menjadi taman, dapat memulihkan kehidupan tulang-tulang kering (bdk. Yeh 37:1-14).
Jadi ini adalah undangan yang saya alamatkan bagi semua orang: Mari kita menerima rahmat kebangkitan Kristus! Marilah kita diperbarui oleh kemurahan Allah, mari kita dikasihi oleh Yesus, mari kita memampukan kekuatan kasih-Nya untuk mengubah hidup kita juga, dan marilah kita menjadi alat rahmat ini, saluran yang melaluinya Allah dapat mengairi bumi, melindungi semua ciptaan dan membuat keadilan dan perdamaian berkembang.
Dan oleh sebab itu kita mohon Yesus yang bangkit, yang mengubah maut ke dalam hidup, untuk mengubah kebencian menjadi kasih, dendam menjadi pengampunan, perang menjadi kedamaian. Ya, Kristus adalah damai sejahtera kita, dan melalui Dia kita mohon perdamaian bagi seluruh dunia.
Perdamaian bagi Timur Tengah, dan terutama antara Israel dan Palestina, yang berjuang untuk menemukan jalan perjanjian, sehingga mereka memungkinkan sudi dan berani melanjutkan negosiasi untuk mengakhiri seluruh konflik yang telah berlangsung terlalu lama. Perdamaian di Irak, sehingga setiap tindakan kekerasan boleh berakhir, dan terlebih-lebih bagi Suriah yang terkasih, bagi orang-orang yang tercabik-cabik oleh konflik dan bagi banyak pengungsi yang menunggu bantuan dan kenyamanan. Berapa banyak darah yang telah ditumpahkan! Dan berapa banyak penderitaan masih harus ada sebelum penyelesaian politik bagi krisis akan ditemukan?
Perdamaian bagi Afrika, masih menjadi ajang konflik kekerasan. Di Mali, semoga persatuan dan stabilitas dipulihkan, di Nigeria, di mana serangan secara menyedihkan berlanjut, secara serius mengancam kehidupan banyak orang tak berdosa, dan di mana sejumlah besar orang, termasuk anak-anak, disandera oleh kelompok teroris. Perdamaian di sebelah Timur Republik Demokratik Kongo, dan di Republik Afrika Tengah, di mana banyak orang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka dan terus hidup dalam ketakutan.
Perdamaian di Asia, terutama di semenanjung Korea: semoga perbedaan pendapat dapat diatasi dan semangat pembaruan rekonsiliasi tumbuh.
Perdamaian di seluruh dunia, yang masih terpecah oleh keserakahan mencari keuntungan mudah, yang terluka oleh keegoisan yang mengancam kehidupan manusia dan keluarga, keegoisan yang terus berlanjut dalam perdagangan manusia, bentuk paling luas dari perbudakan di abad kedua puluh satu. Perdamaian bagi seluruh dunia, terkoyak oleh kekerasan terkait dengan perdagangan narkoba dan oleh bengisnya eksploitasi sumber daya alam! Perdamaian bagi bumi kita ini! Menjadikan Yesus yang bangkit membawa kenyamanan kepada para korban bencana alam dan menjadikan kita penjaga ciptaan yang bertanggung jawab.
Saudara dan saudari terkasih, kepada Anda semua yang mendengarkan saya, dari Roma dan dari seluruh dunia, saya menyampaikan pesan undangan Pemazmur: "Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (Mzm 118:1-2).
Saudara dan saudari terkasih, yang datang dari seluruh dunia ke lapangan ini, jantung kekristenan, dan kalian semua yang bergabung dengan kita melalui media komunikasi, saya sekali lagi mengucapkan Selamat Paskah! Bawalah kepada keluarga Anda dan bangsa Anda warta sukacita harapan dan kedamaian yang setiap tahun diperbaharui dengan kuat pada hari ini. Semoga Tuhan yang Bangkit, yang mengalahkan dosa dan maut, mendukung kita semua terutama yang paling lemah dan mereka yang paling membutuhkan. Terima kasih atas kehadiran Anda dan kesaksian iman Anda. Sebuah pemikiran dan terima kasih khusus untuk pemberian bunga-bunga yang indah dari Belanda ini.
Saya mengulangi dengan penuh kasih sayang kepada Anda semua: Semoga Kristus yang Bangkit membimbing Anda dan seluruh umat manusia pada jalan keadilan, kasih dan kedamaian!
Subscribe to:
Posts (Atom)


