Tuesday, January 24, 2012

Very Hot Beach

Pantai Klara, kependekan dari Kelapa Rapet, terletak di Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. Pantai yang dikelola oleh TNI-AL ini memanjang di pinggir jalan. Tidak usah repot mencari karena dari jalan sudah terlihat. Hanya sekitar 1 jam dari Bandarlampung, ke arah Lempasing, lewat Mutun, Hanura, terus saja. Jalan akan berkelok-kelok seksi, tapi cukup bagus beraspal. Bis dan mobil besar pun bisa menembusnya.
Nah, menjelang Imlek lalu kami ke sana, serombongan, sekeluarga. Indah. Dan ternikmati dari pagi sampai sore dengan 'nganyut'. Berenang atau diseret sampai ke batas aman yang ditandai dengan bola-bola pelampung. Lalu diam-diam saja ngambang menghanyut ngikuti ombak, hingga ke arah Barat agak ke tepi. Kalau sudah lumayan dekat bibir pantai, berusaha ke tengah lagi, lalu menghanyutkan diri lagi. Begitu berulang-ulang. Airnya begitu hangat dan enak. Matahari panas karena memang tengah hari, tidak terlalu terasa kalau berendam. Tapi begitu keluar, aduh, seperti dipanggang.
Diselingi makan siang yang rakus bekal dari rumah di bawah pohon kelapa yang memang rapat tumbuh di sepanjang pantai, minum air vitamin dan kembali ke tengah dan menghanyutkan diri lagi. Berulang-ulang, hingga sore memanggil pulang. Hingga gosong seluruh badan. Saat membilas diri sudah terasa perih di bagian-bagian muka, pundak, lengan dan kaki bawah. Anak-anak perih di bagian punggung karena mereka tidak pakai kaos. Kini sudah dua hari gosong masih terlihat dengan pekat dan rupanya masih perih juga. Tapi aku kira walau tidak enak terasa, menghanyut di pantai tidak akan berhenti. Tidak kapok. Pasti akan diulang lagi. Apalagi di Lampung masih buanyak pantai yang harus didatangi. Yang sudah dikunjungi baru Pasir Putih, Mutun, Kalianda Resort, Blebuk, Hanura, Ringgung, Klara, ...

Wednesday, January 18, 2012

All Dreams

Aku rutin mimpi dalam beberapa malam belakangan ini. Mimpi yang hampir mirip. Mimpi yang bikin capek. Mimpi yang menggambarkan aku dalam perjalanan. Aku kira pasti ada artinya. Tapi aku baru menduga-duganya. Sebagian mimpi sudah hilang, lupa. Tapi mimpi yang semalam jelas sekali tergambar. Wajah-wajah yang muncul, percakapan, kegelisahan,... semua teringat hingga percakapan detail, kota, dan semua.

Friday, January 13, 2012

Unidentified Message

Dari dua bulan lalu, hingga kini aku kerepotan dengan pesan-pesan tanpa identitas yang masuk ke HPku. Banyak jenis pesan/SMS macam begitu.

1. Pesan yang memang harus-harus-harus dicuekin begitu saja karena pesan itu sama sekali memang berniat jahat. Macam minta pulsa, minta uang dikirim ke rekening tertentu, bilang dalam posisi darurat, dikatakan aku memenangkan uang atau rumah atau mobil jutaan rupiah, pesan berantai (kadang ini dari orang yang dikenal juga) dll. Pesan-pesan macam gini otomatis kuhapus. Tidak masuk ke otak.

2. Pesan yang salah alamat. Pesan begitu serius, urusan bisnis, keluarga, dll, beberapa kali, dan karena tidak kutanggapi biasanya mereka akhirnya nelpon, karena memang untuk urusan serius, dan berakhirnya ternyata,"Maaf, salah sambung, bu." Jika tidak cukup sopan, seringnya ya langsung ditutup saja lalu sudah, tidak pernah ada SMS lagi.

3. Pesan yang salah paham. Pesan ini mulai muncul pada akhir Nopember, gara-gara no HPku dipasang di Nuntius untuk kepentingan iklan, dan dikira banyak orang aku adalah penyampai pesan. Sehingga muncul SMS : "Salam dari Keluarga Sugito di Metro untuk kerabat di Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Bandarlampung. Spesial untuk Aak, jangan lupa dibagi kue tahun barunya ya." Ini cukup merepotkan karena banyak sekali, dan awalnya aku gak mudeng apa maksudnya. Setelah ada satu dua ada yang telpon, baru aku ngeh dan membuka kembali kalimat yang ada di Nuntius. Jadi dikiranya aku menyediakan jasa untuk menyampaikan pesan. Hehehe. Asem.

4. Pesan yang ingin mengganggu secara SARA. Aku mencurigai pesan-pesan ini muncul karena no HPku yang disebar secara umum di halaman belakang Nuntius. Gangguan itu muncul dengan menyertakan ayat-ayat KS, menggugat keyakinan, mempertanyakan ajaran agama, bahkan memintaku bertobat dengan cara si pemberi pesan dengan ditekankan ayat-ayat KS tertentu. Dan mereka ini ngotot, mengirim SMS saban hari. Bahkan sehari bisa berkali-kali.

5. Pesan bodoh. Ini aku katakan karena pengirimnya adalah orang bodoh. Sudah tidak pasang identitas, tidak bisa paham kata-kata balasanku lagi. Biasanya jika ternyata si pengirim pesan tahu namaku aku agak kelimpungan untuk membalas, dengan sedikit ragu terlebih kalau mereka sudah mengatakan nama tapi tetap tak kuingat siapa dia ini. Nah kasus terakhir, beberapa hari lalu, pesan macam itu aku balas,"Maaf, ini siapa? Tks."
Eh, dia ini telepon. Aku angkat, belum apa-apa sudah mendamprat,"Apa maksudnya sms seperti? Beraninya ngatain aku tikus. Bangs**, anj*** kowe!!!" Aku sampai gemeteran mendengarnya.
"Maaf, ini siapa?"
"Widodo."
"Mau bicara dengan siapa?"
"Mbak Yuli, siapa lagi?!!"
"Maaf, Pak Widodo, kapan saya ngatain tikus?"
"Itu, sms bilang tks. Tikus!"
Gedubrak!!! Hampir semaput aku. Aku jelasin dengan emosi yang ditekan,"Tks itu thanks, artinya terimakasih." Dia masih pakai ngancam akan ke rumah. Ya monggo. Tapi ternyata tidak datang.
Hingga sekarang aku tetap tidak ingat itu Widodo yang mana dan sejak itu dia juga tidak sms lagi. Syukur! Karena smsnya sangat-sangat ngawur, gak mencerminkan mengenal diriku.

6. Pesan yang sok misterius. Ini pasti dari orang-orang yang kenal aku tapi sok misterius menyembunyikan identitas. Lalu berlagak memberi perhatian. "Sudah sembuh jeng Yuli?"
Haik, sampai berkali-kali pun ya sulit ramah dengan orang tanpa identitas walau dia kasih perhatian, sok kasih perhatian. Hehehe, tapi asal masih ramah ya aku masih rela nanggapi, dengan standar biasa asal santun saja. Ya, karena tak tahu siapa. Aku ini kan ular berkepala 1000, bertindak tergantung alasan yang melekat pada siapa aku harus bertindak. Hehehe... Ngoten.

Wednesday, January 11, 2012

Start to Grow


Mulai segar kembali setelah beberapa hari lemas, mriyang, tidak bisa menjadi normal. Aku lawan dengan tetap beraktifitas. Tetap makan. Tetap bergerak. Tetap berpikir. Tetap berolahraga. Minum vitamin C berbotol-botol. Air oksigen berliter-liter. Tidur berjam-jam. Hehehe. (Jagoan lebay!) Aku lawan rasa sakit dengan sekuat tenaga.
Hari ini sudah mulai segar. Ada sedikit ingus di hidung. Ada sedikit dahak di tenggorokan. Ada sedikit berat di kepala. Ada kelebihan suhu dikit di ketiak, tengkuk, dan mulut.
Tapi semuanya okey. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Siap untuk tumbuh di tahun ini, lebih baik, lebih menyenangkan. Lebih tulus. Siap menerima kunjungan siapapun yang merasa spesial di hatiku. Kau!

Saturday, January 07, 2012

My Sons

Bicara tentang anak-anak tidak pernah membosankan. Mereka memiliki dinamika luar biasa yang tidak habis-habisnya mengalirkan emosi. Lihat foto ini. Mereka sudah besar, semakin menjadi remaja dan terus dewasa. Sedang aku semakin uzur, tua, dan renta.

Thursday, January 05, 2012

New Year

Aku melintasi tahun dengan perjalanan panjang mulai 21 Desember. Beberapa post perhentian adalah Borobudur, Muntilan, Jogjakarta, Malioboro, Surabaya, Lumajang, Kediri, Pohsarang, Sedudo, Nganjuk, Kulonprogo, Bandung dan Lampung terakhir, di sinilah aku akhirnya.
Sebuah refleksi panjang sudah kubuat, tapi tak akan aku taruh di blog ini. Karena panjang dan belum selesai. Susah untuk diselesaikan.
Tahun 2011 aku menetapkan untuk jadi SERIUS. Aku berusaha keras untuk serius. Jadinya, ya sungguh-sungguh serius, tapi sekaligus jadi terlalu cerewet menggali dalam terlalu dalam.
Nah, untuk tahun 2012 aku sudah tentukan, tapi sedikit ragu. Sedang kumantapkan sambil menulis blog ini. Yang jadi kata kunci untuk aku pakai sebagai misi di tahun 2012 ini agak susah diputuskan. Sejujurnya terus terngiang-ngiang kata : KUDUS. KUDUS. KUDUS.
Karena kubayangkan itu sangat susah kucapai dan kulakukan jadi aku tidak dulu mengupayakan ini. Kutunda dulu. Sekarang aku mulai dengan TULUS. Tulus. Menjadi tulus. Mulai dari sekarang. Ini pertama-tama untuk mengurangi cerewetku pada hal-hal yang gak perlu dan yang utama untuk memurnikan motivasiku. Begitu. Detail aku tulis di laptopku, untuk kuingat sepanjang tahun.

Tuesday, December 20, 2011

End of Year

Menjelang akhir tahun, aku menutup edisi tahun 2011 dengan beberapa ingatan dan kenangan. Tahun 2011 ini menawarkan buanyak hal luar biasa bagiku. Aku akan membawanya pada perjalanan akhir tahunku ini, sembari mempersiapkan tahun 2012 yang akan segera datang. Evaluasi untuk diriku harus lebih kencang kulakukan. Jika mengingat awal tahun 2011 aku punya misi di tahun ini untuk SERIUS, aku harus benar-benar serius melakukan evaluasi akhir tahun ini.
Teman, silakan kirimi aku hasil penilaianmu tentang aku selama perjumpaan tahun 2011 ini. Juga kalau ada usulan, masukan, kritikan, uneg-uneg. Apa saja komentar silakan beri padaku. Itu akan bermanfaat bagiku. Aku menunggunya sebagai bagian dari bumbu yang akan kumasukkan pada racikanku awal tahun nanti. Aku membungkukkan badan padamu dengan ucapan tulus hati : Terimakasih!

Monday, December 19, 2011

Almost

Melayang di antara awan. Kadang tidak jelas, ada di mana berada. Aku menirukan bahasa Albert yang mengatakan,"Aku ingin terbang. Tanpa mengepakkan sayap. Sambil tiduran. Entah di mana, tidak usah dipikir."
Albert, anakku, kau bisa melakukannya? Hingga terwujud mimpimu itu? Ajari ibumu ini. Ibu yang semakin hari tidak semakin peka pada tanda-tanda yang kau suarakan.
Kemarin aku mengatakan padanya.
"Orang hidup itu ada maksudnya. Kalau masih hidup, berarti maksudnya masih ada. Seperti Abah yang masih hidup hingga kini, pasti ada maksud."
"Seperti untuk mengajar ngaji anak-anak. Begitu kan, bu?" Selanya.
"Iya. Untuk mengajar ngaji mereka. Juga untuk mengajar kita. Mengaji itu kan untuk dekat dengan Tuhan. Juga mengajar kita untuk dekat pada Tuhan."
"Hmmm...." Dia diam di sebelahku.
"Ingat siapa itu yang Sun Go Kong, yang tangannya besar, bisa menggapai saja. Kalau mau tinggal dipindah saja orang dari satu tempat ke tempat lain."
"Budharulai."
"Ah, masak? Yang tangannya besar itu. Raja Langit atau Kaisar Langit itu, lo."
"Iya."
"Tuhan hampir seperti itu. Tapi Dia tidak memakai tangan-tangan besar seperti itu, tapi bisa mengunakan Abah atau kita sebagai tanganNya untuk memindahkan apa saja. Untuk maksudNya."
"Ya. Hampir seperti itu. Makanya Abah masih hidup ya."
"Itu juga mengapa kita masih hidup. Tuhan butuh tangan, sesekali kita adalah tanganNya. Bagus kalau kita sering menjadi tanganNya."
Albert diam-diam saja. Sedang aku mengunyah-ngunyah sendiri kata-kata itu. Kata-kata itu untuk aku, bukan untuk dia. Aku belum memahaminya juga.

Monday, December 12, 2011

Favourite Place


Aku punya banyak tempat kesukaan. Jadi sebenarnya menceritakan satu tempat ini juga tidak terlalu istimewa. Tapi, berhubung kemarin sore baru kudatangi, aku ingin menceritakannya. Tempat itu adalah lapangan SPMA. Lapangan ini letaknya di luar atau samping perumahan tempat aku tinggal. Jadi aku harus keluar perumahan untuk menjangkaunya. Biasanya aku datangi bersama anak-anak plus bapaknya. Lapangan cukup luas, dengan dua gawang untuk bermain bola. Di sekelilingnya adalah tanah kosong. Sisi barat ada lahan singkong punya warga. Sisi barat adalah tanah kosong punya SPMA. Sebelah timur adalah gedung punya SPMA yang sekarang menjadi balai latihan milik Propinsi Lampung. Sebelah selatan adalah tanah kosong punya SPMA. Biasanya tiap sore tempat ini dipakai oleh anak-anak, dan remaja untuk beberapa kepentingan. Main bola di lapangan. Latihan motor atau mobil di jalanan sekitarnya. Ini jalan-jalan untuk kepentingan balai latihan. Cukup bagus, halus, aspal. Cukup sepi jadi aman untuk berlatih. Nah, jika ke sini aku selalu sempatin untuk berlari seputar dua putar. Lalu jalan kaki kesana kemari. Atau sekedar kejar-kejaran dengan anak-anak dengan bawa bola.
Satu hal yang cukup asyik namun cuma satu kali kulakukan adalah lempar buah palem. Di sekitar situ tumbuh pohon-pohon palem cukup banyak. Jika sedang berbuah, aduh, warnanya kayaknya segar sekali. Tapi karena tak bisa dimakan, cuma dipandangi. Eh, ternyata ketika buah itu warnanya sudah merah, mereka gampang sekali rontok. Lempar dengan satu buah yang satu jatuh, berhamburanlah buah-buah itu. Asyik banget apalagi buahnya memang sangat banyak. Nuansanya seperti main petasan. Lempar lalu, brukkksss, belasan buah rontok. Begitu lihat bisa seperti itu, semangatlah jiwa anak-anak. Ambil, raup yang banyak, lempar! Sampai gundul semua jatuh yang warna merah. Yang tidak kusadar, ternyata getah buah-buah ini membuat kulitku gatal. Semuanya, di tangan, kaki, leher, kepala, perut, punggung. Aduh. Menyebar ke seluruh tubuh. Ini terasa setelah sekitar 1 jam bermain lempar buah ini. Aku cari kran air, cuci, wouuuwww, malah gatalnya tambah nylekit sakit. Ampun! Setelah itu, tak kusentuh lagi buah ini. Cukup sudah.
Langsung pulang,mandi, gosok dengan minyak tawon, dan bertobat. Moga tidak lupa, karena setiap kali lihat buah palem, selalu ingin meraupnya kembali. Harus menahan diri. Hehehe...

Friday, December 09, 2011

Joseph Adi Wardoyo, SJ


Tanggal 8 Desember 2011, hari Kamis, pukul 17.30, ada bendera kuning tertancap di hatiku. Kabar meninggalnya simbah Adi mengiris hatiku. Kemarin, aku baru saja gegap gempita menceritakan gerakan aktif tanpa kekerasan di Lampung. Itu energi yang aku dapat darimu, Simbah. Masih tidak tetap hatiku, tapi aku terbantu dengan ingatan semangat yang kau tularkan mulai dari 1996 dulu itu. Kau harus pergi, memang harus pergi. Tapi sekaligus berpikir rumit, bagaimana kami? Bisakah kami mengambil energi dari kematianmu? Cukup dewasakah kami menyebarkan nilai aktif tanpa kekerasan padahal hati kami pun masih keras?
Aku masih akan menancapkan bendera kuning ini, dan menyebarkannya di lorong-lorong hatiku. Namun jangan kuatir, Mbah, pasti akan aku cabuti semua jika semua sudah lewat. Doakan dan berkati kami dari surga.

Thursday, December 08, 2011

Conspiracy (9)

 (Kisah sebelumnya)
Aku memandang Heart dan Brain bergantian. Mereka masih bersitegang dengan anggapan bahwa masing-masing paling benar. Aku tidak bisa menentukan mana yang paling benar, karena harusnya keduanya memang benar. Jika salah satu dari mereka aku anggap benar, aku pun tidak bisa menyalahkan yang lain.
"Kalian akan terus bertengkar?"
Aku bertanya lirih.
Jelas suara mereka lebih keras dari suaraku. Tapi mereka kemudian diam. Memandangku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku seperti sedang mengibaskan rasa sakit.
"Aku akan mengerjakan kembali hal ini dengan rapi, Putri. Dengan syarat..."
Brain, yang berani dan kuat mengeluarkan suara.
"Apa?"
"Heart tidak ikut campur. Dia harus diam, tidak nyinyir bersuara maupun tidak bergerak, sedikitpun."
Heart langsung berang dengan mata melotot.
"Kamu! Lihat, Putri! Dengan enak dia bisa mengatakan hal itu seolah aku tidak punya posisi apa-apa di sini. Seolah dia yang paling penting dan bisa mengatasi ini."
"Terserah pada Putri. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan bentuk tak jelas seperti yang dilakukan Heart."
"Kali ini kau meremehkanku? Huh, tidak ingat saat-saat kau sandarkan kepala di dadaku!"
Aku lebih menggelengkan lagi kepalaku. Kupejamkan mata.
"Kalian akan menyiksaku dengan pertengkaran kalian?" *
(Bersambung)

Wednesday, December 07, 2011

Active non Violence

Bagaimana memaknai aktif tanpa kekerasan? Menolak kekerasan, sudah pasti. Tidak sebagai korban, pelaku maupun saksi mata kekerasan. Tapi aktif, tidak pasif. Bagaimana? Aku sudah memulainya sejak tahun 1996, tapi hingga sekarang aku masih sering menjadi pelaku. Menjadi korban. Paling sering menjadi saksi mata kekerasan, yang pasif.
Maafkan aku.

Tuesday, December 06, 2011

Scare

Semalam aku merasakan ketakutan. Tidak banyak hal yang bisa membuatku takut, tapi bisa banyak hal juga membuatku ketakutan.
1. Ketakutan pertama adalah pada kemampuanku mendidik anak-anak. Mungkin bukan takut, tapi kuatir. Tapi dua hal ini menjadi hal yang mirip ketika terjadi. Rupanya memang besar sekali konsekwensi ketika anak-anak sudah hadir dan menjadi tanggung jawab.
2. Ketakutan pada perpisahan. Ini tidak mungkin dihindari untuk banyak situasi, dengan banyak orang, makluk, benda. Membayangkannya saja bisa menurunkan air mata apalagi jika benar-benar terjadi. Aku sudah mengalami banyak perpisahan, tapi tak pernah menjadi biasa karena itu.
3. Ketakutan tidak bisa mengendalikan diri. Aku berusaha keras melakukannya, namun sering sekali kemudian terjadi lepas kendali. Aku takut ini terjadi setiap kali karena aku sudah mengalami akibat dari hal ini, setiap kali. Huh.
4. Ketakutan remeh temeh. Aku hitung-hitung dulu ya.
Aku sering bilang aku takut gelap. Tapi ada saat-saat benar-benar gelap tak ada lampu juga menjadi nyaman.
Aku bilang aku takut ulat. Tapi berapa kali pernah juga aku bisa melewati gerombolan ulat bulu di hutan Semeru, atau tempat lain.
Aku bilang aku takut sendiri. Tapi ternyata, beberapa kali aku memilih sendirian, menyepi. Tidak mendengarkan apa-apa, tidak bersuara apa-apa.
Aku bilang aku takut berada di lalu lintas. Tapi setiap hari aku menyetir Mioku dengan nikmat. Juga membonceng nyaman siapa saja.
Aku bilang aku ketakutan. Tapi mungkin tidak ketakutan.

(Aku ingin mengolah ini. Aku ingin tidak gelisah atau panik. Aku ingin bijaksana pada semua situasi.)

Monday, December 05, 2011

Conspiracy (8)

(Kisah sebelumnya.)
"Jadi, apa yang kalian bisa kerjakan?"
Aku menantang masing-masing dari mereka. Heart gelisah di sudut mataku. Brain mendekat, mencoba memasang tubuhnya dengan angkuh. Dia mendehem sekali sebelum memulai kata-katanya.
"Kami sudah bekerja keras. Sudah beberapa putaran purnama kami mencoba melakukan beberapa strategi untuk menemukan kemauan Putri. Kami melakukannya dengan hati-hati supaya ini terjadi tanpa menyakiti Putri."
Aku menatap wajahnya yang serius.
"Jadi, apa hasil yang kalian dapat?"
Kembali Brain berdehem.
"Kami sudah menemukan titik terang. Bahkan kemudian kami sudah melangkah lebih jauh lagi untuk mendapatkan hasil yang optimal, seperti yang dimaui Putri. Putri tahu kalau kami sangat menyayangi Putri. Tidak ingin Putri terpuruk, celaka, dan mendapatkan malu. Kami tidak ingin Putri runtuh hancur oleh apapun juga."
"Lalu?"
Brain tidak mendehem tapi melirik ke arah Heart. Beberapa detik kemudian dia baru melanjutkan.
"Dia, tidak sabar. Melakukan tindakan gegabah yang merugikan semua. Kami sudah coba mengingatkan dia, tapi..."
"Tidak! Itu tidak betul!"
Heart berdiri dengan marah. Ingin membela diri dengan wajahnya yang merah padam.
"Diam, Heart! Memang kau mengacaukan rencana kita!"
"Tidak! Mereka yang berkianat dan mengacaukan semua, Lady. Mereka tidak mendengarkan kata-katamu, malah memberikan tafsiran sendiri terhadap keinginanmu."
"Kamu! Tidak ada pembicaraan yang pasti. Kita sudah sepakat, tapi kau! Apa yang kau kerjakan?!!"
"Aku hanya ingin menyelamatkan Putri dari pikiran logismu yang bodoh itu!"
"Kamu harus lebih mengendalikan diri, kalau tidak ingin Putri terjerumus dalam gerakmu yang ngawur melankolis itu!"
"Tapi kalian membuat tafsiran yang terlalu jauh dari kemauan Putri!"
"Kita tidak hanya mengikuti kemauan Putri! Heart, kau harus ikut terlibat juga untuk memberi keselamatan pada Putri. Keselamatannya lebih penting!"
Brain membelalak membentak terus bersuara.
Heart dengan wajah tak mau kalah tetap bersuara.

Kepalaku berdenyut-denyut mendengarkan debat kusir antara mereka. *
(Bersambung)

Friday, December 02, 2011

Conspiracy (7)

(Kisah sebelumnya. )
"Jadi, apa mau kalian?"
Hening. Mereka memandangku. Heart beringsut mendekat. Namun, Eyes dengan tamengnya menahannya sehingga jaraknya tidak lebih dekat padaku. Brain salah tingkah dengan wajah kekanakan, yang jarang sekali muncul dalam usia dewasaku ini.
Ketika aku berganti memandang mereka satu-persatu, mereka mengerjap-ngerjap, dalam hening.

Princes of Eyes. Badannya ramping indah. Sesekali dia bisa membulat untuk menggoda, namun seringkali dia adalah yang paling tanggap cepat ketika sesuatu terjadi. Dia mudah tertawa, semudah dia menangis. Dia sangat bebas leluasa bergerak kemanapun yang dia inginkan, terlebih jika melihat sesuatu yang indah, yang bening, yang bercahaya. Kemanapun dia pergi, dia membawa kantong-kantong air mata yang dia taburkan kemanapun dia suka. Maka, dimanapun dia berada, tanah-tanahnya akan basah, subur dan indah. Yang paling menyebalkan jika dia sudah merasa capek, hanya merasa, tidak betulan capek. Dia akan mengunci diri di kamarnya. Sekian lama.

Princes of Noses. Dia ini mudah sekali mengikuti Heart. Dia paling dekat dengan Heart. Dia punya tas paling besar di antara seluruh panglimaku. Dia menyimpan segala kenangan lewat radar yang mampu mencium, apapun yang dikatakan oleh Heart. Walau sesekali dia menolak, tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetap menaati Heart. Bahkan jika dia harus membongkar seluruh penyimpanannya hingga berhamburan. Lalu dengan teliti dia simpan lagi rapi, sehingga saat sesuatu muncul lagi, dia akan berjingkat mengenali. Ini bau yang pernah tercium! Itulah dia. Aku sangat terbantu olehnya, namun juga paling sering repot karenanya.

Princes of Mouths. Aku sering mengabaikan panglimaku yang ini. Maka dia paling sering tidak terkendali dari semuanya. Dia bisa mengeluarkan kata-kata paling manis yang tidak terbayangkan oleh siapa saja. Namun dia juga bisa mengeluarkan suara paling mengerikan yang pernah ada. Dia mengenakan mahkota indah yang ranum, yang cukup aku banggakan. Dan dia mempunyai titik-titik rasa yang sangat sensitif di sekitar mahkotanya itu. Aku lihat akhir-akhir ini dia cukup menahan diri, namun itu tidak bisa dilakukannya kalau dia bertemu hanya berdua dengan orang-orang yang sangat disukainya, atau justru yang sangat tidak disukainya. Yang aku suka, dia mampu menampilkan dirinya sesuai citra yang aku inginkan, maka dialah yang paling sering aku utus untuk pergi mewakili istanaku, kemana saja.

Princes of Ears. Dialah yang paling tenang diantara semua. Agak kasihan, akhir-akhir ini dia tidak terlalu sehat. Mungkin sudah semakin usur, sehingga seringkali dia hanya ingin berbaring saja, tidak melakukan apa-apa. Atau mungkin dia sudah semakin malas, karena yang didengarnya ya seperti itu-itu saja. Namun dia akan bangkit semangat kalau ada suara-suara tembang cinta. Cinta pada siapa saja. Dia akan cepat-cepat merangkul Eyes, dan juga Heart, untuk bersama-sama mendengarkan. Kemudian, ketika lagu itu berlalu, dia kembali tidak peduli, mendengarkan namun tidak mendengarkan.

Princes of Skins. Ini yang paling berbahaya dari semuanya. Pasukannya paling banyak dibanding semua. Bahkan berkali lipat. Tidak banyak gerakan yang dilakukannya, namun sekali dia bergerak, seluruh panglima lain akan terpengaruh olehnya. Kadang-kadang aku takut juga pada matanya yang galak dan keras itu. Apalagi jika dia sudah memekarkan seluruh bulu-bulunya. Aku tidak bisa tidak, mengkerut membayangkannya. Namun aku juga menyukainya, karena dari semuanya, hanya dia yang tahan terhadap luka.

Brain. Ah, Brain. Apa yang bisa kukatakan tentang dia. Dialah tumpuanku selama ini. Badannya yang tegap siap merangkulku, memelukku sehingga merasa tenang. Namun, dia ini juga yang paling berani mengacak-acak naluri maupun nuraniku. Membuatku tidak bisa tidur bermalam-malam. Tapi, untunglah ada dia.

Heart. Ah, Heart. Aku hidup karena ada dia. Maka aku paling sering mengundangnya datang untuk berbincang, sambil makan apapun camilan, dan juga menikmati cangkir-cangkir hangat maupun sejuk. Maka dibandingkan yang lain, tubuhnya paling tambun subur. Aku sering memintanya untuk menjauh, namun aku juga yang paling sering melanggarnya, kembali mengundangnya untuk datang, makan bersama, tidur bersama. *
(Bersambung)

Thursday, December 01, 2011

Conspiracy (6)

(Kisah sebelumnya.)
Istana menjadi dingin, beku dengan perkelahian antara Princes of Heart dengan para panglimaku yang lain. Brain yang aku harap bisa menjadi penengah, kali ini pura-pura sabar, ikut beku. Tidak ada tindakan apapun pada moment seperti ini. Seolah-olah dia membiarkan semua menjadi beku, membiarkan berlalu, berlaku begitu.
Hari ini memanggil mereka semua menghadap, tanpa pasukan. Masing-masing dirinya datang. Sikap kaku resmi menggelanyuti mereka semua. Kelihatan bahwa Heart berusaha menjauh. Matanya tertunduk pada kakinya sendiri, namun lihatlah kekerasan maksudnya. Aku tersenyum melihatnya. Sedikit geli karena kejanggalan posisi tubuhnya. Prince of Eyes, Noses, Mouths, Ears, dan Skins membawa tamengnya masing-masing. Mata mereka galak seolah ingin mengadili My Heart.
Brain mendehem berkali-kali. Aku melihatnya.
"Jadi, bagaimana perkembangannya?"
"Kami belum menemukan tanda-tanda, Putri."
"Tentu saja!"
Aku memberang dengan bentakan. Semua, kecuali Brain berjingkat kaget.
"Karena kalian sibuk dengan perkelahian kalian sendiri. Bahkan kalian bawa-bawa pasukan-pasukan kalian untuk ikut dalam persekongkolan ini!"
"Ampuni kami, Putri."
"Aku tarik mandatku!"
Mereka beringsut mendekatiku dengan sekali jingkatan kaget yang berikutnya.
"Aku yang akan melakukan sendiri pencarian ini. Aku yang akan mencari Dew. Sendiri!"
"Jangan!!!"
Mereka serempak dalam satu kata.
Brain mendekatiku dengan wajah, yang jelas dibuat kelihatan sabar.
"Putri, jangan lakukan itu."
"Kalian! Hanya! Mengawalku!! Aku! Akan mencarinya! Sendiri!"
Aku memberi tekanan pada tiap kataku.
"Jangan!!!"
Kembali mereka serempak menahanku. Kali ini dengan seluruh tubuh mereka, mencekal aku.* (Bersambung)

Wednesday, November 30, 2011

The Snake

Aku adalah ular
dengan kepala seribu
mengatakan ini dan itu
kepada ini dan itu

Bahkan ini dan itu
yang berlawanan
yang berkubu

Aku adalah ular
dengan kepala seribu

Aku

Tuesday, November 29, 2011

Jacket

Aku biasa pakai jaket kemanapun pergi, apalagi kalau bersama Mio-ku. Aku punya beberapa jaket, ehmm, mungkin ada 7 jaket. Mestinya lebih, tapi sebagian sudah tidak muat. (Hehehe...badanku agak melar akhir-akhir ini.) Satu jaket hilang saat aku tinggal di tempat parkir (padahal itu termasuk jaket kesayangan dan jaket termahalku). Sebagian lagi sudah dilempar ke pemilik baru. Jaket menjadi pelindung hangat ketika jalan kemanapun.
Nah, kemarin, aku mengalami sesuatu peristiwa gara-gara jaket. Gara-gara jaket aku menyarangkan dua pukulan ke dua pria. Hehehe...dua pukulan tak sengaja. Ceritanya, usai parkir di depan Kantor Pegadaian Kedaton, aku mengunci gembok roda depan motor, lalu berdiri di depannya. Tangan kananku aku rentangkan spontan untuk melepas jaket.
"Plak!"
"Aduh!"
Wah. Aku langsung menoleh ke belakang. Seorang pria memegang ulu hatinya terkena sabetan tangan kananku.
"Aduh, maaf. Tidak sengaja. Sungguh, maaf."
"Tidak apa-apa." Sambil meringis dia berlalu.
Maka aku jadi hati-hati. Aku melepas jaket tidak lagi merentangkan tangan. Aku tekuk siku.
"Dug!"
"Uff!"
Aaa... Aku toleh ke belakang, seorang pria terbungkuk memegang perutnya. Persis terkena sikutku, agak keras, karena dia berjalan agak cepat.
"Ya, ampun. Maaf!" Spontan aku teriak. Pria yang pertama tertawa ngakak, dan aku salah tingkah habis.
"Aduh, maaf, maaf, maaf..." Sampai aku gak ngerti lagi harus ngomong apa.
Dua pria berseragam sama itu meyakinkan aku bahwa semua okey, dan mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama sembari senyum-senyum nyengir. Mungkin tidak sakit, tapi mereka pasti membicarakan peristiwa itu dan, apa ya yang dikatakan oleh mereka tentang aku? Wah.

Monday, November 28, 2011

Growth in Community

Sabtu - Minggu lalu aku menemani belasan mahasiswa STIE Gentiaras dalam pelatihan dasar jurnalistik. Dari awal aku udah bilang, ini adalah pelatihan. Intinya bukan aku yang bicara tapi mereka yang berlatih menulis. Maka urusannya menulis, menulis, menulis, dan menulis. Tulisan pertama, yeach, amburadul. Tapi aku bilang itu modal awal yang luar biasa. Dalam waktu 10 menit bisa menghasilkan sebuah tulisan. Hebat itu. Lalu tulisan yang kedua, lumayan, bisa dibaca. Tulisan ketiga, cukup okey. Rangkuman kesalahan seperti ejaan, tanda baca, huruf kapital, penulisan singkatan, nama, pemisahan paragraf dll, aku ingatkan lagi-lagi-lagi.
Tulisan terakhir mereka semua adalah sebuah feature tentang apapun, yang harus mereka cari di sekitar kampus. Hasilnya menarik. Ada yang bercerita tentang kehidupan seorang satpam, kostan sebagai rumah kedua, jualan sekitar kampus, dll. Penekananku di bagian akhir adalah bagaimana mereka semua bisa berkembang dalam komunitas yang mereka sudah bentuk itu. Menulis, membagikan tulisan dalam pertemuan periodik untuk saling koreksi dan edit, sebar lewat media yang mereka punya. Wah, itu dapat menjadi ajang luar biasa untuk banyak hal. Secara personal maupun kelompok.

Thursday, November 24, 2011

Lazy Morning

Pagi ini begitu muram, buram. Juga dingin dan malas. Bahkan matahari saja enggan bangun, apalagi aku. Lagu-lagu sendu mengalun di otakku. "Kusanggup walau ku tak mau..." Ritual pagi kulakukan semua, tak ada yang terlewat. Tapi sulit mengembangkan semangat yang penuh. Masak sayur bening bayam (tidak cocok untuk hari yang dingin dan basah, tapi cuma bayam yang tersisa hijau di kulkas), lalu bikin sambel ikan kembung, menggoreng tempe dan tahu. Bernard minta bonus telur dadar untuk sarapan. Okey, semua kulakukan. Tapi, entah, ... rasanya tidak pengin kulakukan.
Saat mulai keluar pagar rumah, dengan Albert di boncengan, dia menyenandungkan lagu yang tak kedengaran syairnya. Aku tahu itu lagunya Sule. Dan biasana jika Albert yang nyanyi seperti itu pasti tangan dan badannya goyang ngikuti gerakan Sule juga. Tapi karena di motor, entah dia goyangin apa. Lalu tiba-tiba dia nyeletuk :
"Wow! Ww..wow..."
"Apa, Bert? Dingin?"
"Aku lagi membayangkan sesuatu yang enak, bu!"
Astaga! Dia ini kadang-kadang memang persis ibunya, kalau lagi lebay, ya minta ampun, lebay semuanya. Dan khayalannya, lebay juga. Jadi aku pengin mendengarkan juga.
"Ya?"
"Pagi kayak gini enaknya tiduran di dalam tenda, di halaman atau di mana gitu. Sambil makan apa gitu...enaknya."
Aaaa, aku setuju, Albert. Andai dia tidak harus ke sekolah dan aku harus ke kantor, pasti kami pergi ke tempat seperti itu...wow.