![]() |
| Donat labu kuning |
![]() |
| Labu kuning utuh |
![]() |
| Labu kuning potong |
![]() |
| Labu kuning kukus |
![]() |
| Donat labu kuning |
![]() |
| Labu kuning utuh |
![]() |
| Labu kuning potong |
![]() |
| Labu kuning kukus |

PESAN BIJI
GAYAM
Iman menyematkan sebisik pesan pada biji gayam
mengikat takdir perjanjian tak terbantahkan.
Dikirimnya cuaca menyertai persiapan-persiapan
hingga matang bakal buahnya dan tunai calon tunasnya.
Kitab yang sama menyebut juga pengharapan.
Tersimpanlah kekayaan itu dalam tubuh
dirapikan oleh kemarau penisik cangkang
dan hujan sang penghibur tak terabaikan:
Kita bisa mengatakan:
Biji yang
hidup, biji yang menghidupkan.
Angin mengiringnya menancap tanah sendang
menghela nafas pertama ketika kulitnya retak.
Saat itu, sepasal demi sepasal mulai terurai
geliat keabadian, sendirian sekaligus serentak
menyatu harmoni dalam kalimat semesta.
Pada pasal yang kesekian, pesan itu tumbuh mekar
menjalari sepasang kekasih yang sepakat:
Dari fajar hingga petang selalu
bersama
menyesap segala cahaya tak peduli nama
tak melihat angka, tak mendengar beda,
tak merasa kurang, tak pongah
berlimpah.
Tak ada lagi kisah perempuan kesepian
memeram senyum sendirian di bawah bantal.
Tak lagi juga laki-laki menutupi tawa
merana di teras mengibas debu lahan gersang.
Iman menyiramkan ingatan pada pangkal tunas gayam
membocorkan cerita masa depan, mendesakkan pesan.
Laki-laki dan perempuan memupuk pengharapan,
berdandan dengan cucuran keringat dan air mata.
Ketika ada waktu senggang mereka berdendang.
Melantunkan pangkur sembari meniupi putik gayam
menerjemahkan mantra dari pasal selanjutnya:
Walafiatlah
seluruh semesta:
Air, air,
air, air, …
Di Utara, di Selatan, di Timur, di
Barat
Dalam rangkulan manusia, akar gayam bekerja
menarik air dan memenuhi sendang
merejang waktu bagi generasi mendatang.
Demikianlah para kekasih berlaku
bukan lagi dua, melainkan satu.
Puncak segala adalah cinta
meledak berdaya sepenuh purnama.
Dari sudut itulah gayam mengingat keseluruhan
hingga lunas sampai arah yang paling renta.
Saat mulai terlihat halaman paripurna
dia kibas segala warna pada keturunannya.
Mengamanatkan keringat untuk menyeka bumi
dan ruh penghiburan turun menjadikan suci.
Bahasa lain lebih lugas member perintah:
Segarlah perempuan dan laki-laki oleh
airmu
biarkan tawa mekar meredam keluh
tergumam.
Gayam menjalankan pesan kelahirannya
terus berbisik:
Menjaga air, menjaga bumi, alam.
Tanjungkarang,
11 September 2019
![]() |
| Lukisan oleh Seno |
Tindak pemerkosaan terhadap gadis berusia 14 tahun, yang diduga dilakukan oleh oknum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lampung Timur bukan hanya menunjukkan ketimpangan relasi gender di Provinsi Lampung, namun juga memperlihatkan rendahnya kesiapan aparat pemerintahan dalam perlindungan terhadap korban kekerasan, dalam pembentukan lembaga perlindungan, maupun dalam pengawasan operasionalnya.
Kasus dugaan pemerkosaan dan perdagangan manusia yang sekarang sudah beredar luas lewat media itu menggugah kemarahan banyak orang. P2TP2A yang mestinya menjadi tempat perlindungan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban malah menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap korban. Tugas utama mereka adalah sebagai tempat pengaduan, menindaklanjuti laporan tindak kekerasan, rehabitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pelayanan bantuan hukum, pemulangan bahkan upaya reintegrasi sosial saat korban sudah kembali ke masyarakat.
Tugas-tugas itu tidak dijalankan dengan benar, malah menambah penderitaan korban.
1. 1. Usut tuntas kasus ini dengan memberikan perlindungan dan keamanan bagi korban dan keluarganya, termasuk keamanan emosional dan sosial.
2. 2. Mengevaluasi kerja P2TP2A di Kabupaten Lampung Timur dan juga daerah lain, dan memastikan prosedur pembentukan dan rekruitmen karyawan/pekerja yang memenuhi kapasitas yang dibutuhkan dalam pendampingan terhadap perempuan dan anak.
3. 3. Tidak menoleransi tindakan apa pun untuk membenarkan peristiwa kekerasan dan perdagangan manusia.
Dalam glossary perlindungan perempuan pada website Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak disebutkan bahwa:
“Pusat
Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, yang selanjutnya disebut
P2TP2A adalah pusat pelayanan yang terintegrasi dalam upaya pemberdayaan
perempuan di berbagai bidang pembangunan, serta perlindungan perempuan dan anak
dari berbagai jenis diskriminasi dan tindak kekerasan, termasuk perdagangan
orang, yang dibentuk oleh pemerintah atau berbasis masyarakat, dan dapat
berupa: pusat rujukan, pusat konsultasi usaha, pusat konsultasi kesehatan
reproduksi, pusat konsultasi hukum, pusat krisis terpadu (PKT), pusat pelayanan
terpadu (PPT), pusat pemulihan trauma (trauma center), pusat penanganan krisis
perempuan (women crisis center),
pusat pelatihan, pusat informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (PIPTEK), rumah
aman (shelter), rumah singgah, atau
bentuk lainnya.”
Keterbatasan sarana prasarana serta sumberdaya manusia tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk menoleransi tindakan kekerasan khususnya terhadap kelompok rentan termasuk perempuan dan anak. Pemberdayaan kepada perempuan dan anak harus dilakukan supaya tidak ada seorang pun dari perempuan dan anak Lampung ketakutan oleh ancaman dan iming-iming orang lain dan membuat mereka menjadi korban kekerasan dan perdagangan manusia. Masyarakat harus terus menerus berjuang untuk mewujudkan relasi yang adil dan setara gender, tidak takut menolak kekerasan dan ketidakadilan karena memandang ada kuasa atau uang.
Dalam proses hukum, jangan sampai prinsip kehati-hatian dan kerahasiaan disalahgunakan untuk menghindarkan pelaku kekerasan dari hukuman yang setimpal dan menyebabkan peristiwa serupa dapat terulang atau terjadi lagi.
Ch. Dwi Yuli Nugrahani
Ketua
Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau
(KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang
Selain kain-kain perca atau sisa, ada juga kain-kain bekas. Biasanya kiriman baju yang koyak, yang tidak lagi bisa digunakan oleh pemiliknya tapi sebagian besar kainnya masih kuat dan warnanya tidak luntur akan aku ambili kancing dan resletingnya. Juga kupotong-potong dengan membuang bagian yang sudah aus, bagian ketiak dan krah baju, juga yang jahitannya bertumpuk-tumpuk. Kain-kain yang sudah bebas dari 'pengganggu' itu siap digunakan sebagai bahan masker. Dan ketika sudah jadi masker semuanya jadi cantik. R E S E S I
Kita
akhirnya sama seperti orang-orang lain
memelihara belati-belati pada carang terserak
melesatkannya secara acak sebagai
penanda
mengoyak lembar-lembar daun waru, kelopak-kelopak alamanda
dan batang-batang petai cina tersebar memecah :
Lupa pada kegembiraan janda
dari Nain
yang bersorak dipenuhi airmata
melihat anaknya
sembuh dari kematian.
Sebelumnya, kalian telah melihat perempuan itu tak henti berjalan
mengitari rumahnya meratap membungkus angin di dada :
Oh, bagaimana hidup nanti bisa
disiasati
tanpa anakku?
Aku membayangkan serupa :
Gadis-gadis yang beriktiyar dengan tangan mencengkeram
merontokkan daun ketapang merah
dalam mulut garang cupang-cupang kecil penuh girah.
Dan anak-anak yang setia duduk dekat tungku dapur
dengan mata setengah terpejam
menanti lipatan senyum ibunya dalam semangkuk
bubur.
Lalu harapan sebentuk lembaran
kitab
menyembuhkan bisu tuli,
menggandakan roti :
Anakku hidup lagi!
(Janda Nain bergembira!)
Tapi kini
Saat cerobong asap di timur
dan barat semakin menderu
berbaur bau mulut memaki.
Semua lupa perihal sederhana itu.
2015-2017
![]() |
| Roti ubi jalar. Separuh tepung terigu diganti dengan ubi kukus yang dihaluskan. |
![]() |
| Hasil pelatihan sehari. Abon ikan, roti, telur asin dan teh bunga telang. |
“Gerakan
Masyarakat Mandiri Pangan”
Oleh: Ch. Dwi
Yuli Nugrahani, STP.
Komisi Keadilan,
Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP)
Keuskupan
Tanjungkarang
Disampaikan dalam Diskusi bersama Gerakan Perempuan
Lampung “Kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung dalam Menjamin Ketersediaan Pangan
untuk Masyarakat Miskin terdampak Covid 19”, Rabu, 10 Juni 2020 melalui Google
Meet oleh Lembaga Advokasi Damar. Narasumber lain: Ir. Ida Rachmawati MSI,
Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan
dan Hortikultura Provinsi Lampung dan Siti Noor Laila, Komisioner Komnas HAM
Periode 2012 - 2017
#solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19
#sejutamaskeruntuklampung
#pangandaripekarangan
Masyarakat harus
mulai menerima, memahami, menyadari bahwa Covid ini telah menjadi bagian dari
ekosistem dunia, dan akan terus ada. Wabahnya akan berhenti, tapi virus ini tak
mungkin hilang. Dampaknya masih akan terus berjalan.
Bukan hanya soal
kesehatan, wabah Virus covid 19 memberikan dampak pada semua bidang, dan dampak
secara ekonomi yang tidak sedikit. Banyak pekerja terpaksa dirumahkan, diPHK,
dipotong gajinya, terpaksa menutup tempat usaha, tidak bisa menjalankan usaha
dengan normal, kerugian terus terjadi dan sebagainya. Susah mencari data
akurat, misal sumber KADIN bidang UMKM, sampai April lalu ada 15 juta lebih
korban PHK (cnnindonesia.com, 01/05).
Posko Satgas Gugus Tugas Covid 19 Prov Lampung mencatat 3.475 orang menjadi
pengangguran terdampak Covid (lampost.co,
05/05). Data yang sebenarnya pasti lebih banyak apalagi jika bicara tentang
pekerja informal, pedagang kecil, industri rumah tangga dan sebagainya. Dalam
situasi seperti itu, keluarga-keluarga harus bertahan hidup dengan pemenuhan
kebutuhan pokok/primer yang tak mungkin ditunda.
Menyiapkan diri
supaya ekonomi tidak morat-marit akibat covid harus dilakukan secepat mungkin,
sedini mungkin, paling tidak untuk pemenuhan pangan sehari-hari, yang cukup,
bergizi dan memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga tanpa kecuali sesuai
kondisi masing-masing untuk jangka waktu yang tak bisa diprediksi. Perempuan
hamil, menyusui, anak-anak, lansia harus selalu mendapatkan perhatian khusus.
Setiap keluarga mesti mandiri dalam pangan.
AKSI MANDIRI
A.
Perencanaan
keuangan.
Pertama-tama,
mesti mulai dari yang ada. Merencanakan pengeluaran dan pemasukan keuangan
keluarga sesuai prioritas. Irit, yang tidak perlu tidak usah dibeli. Dan
menyisihkan sebagian untuk tabungan. Orang yang tak punya tabungan itu orang
yang tak punya masa depan.
Berlatih
merencanakan keuangan, bisa mengambil cara kuno. Saat masak ambil secangkir
kecil beras, sesendok gula, sedikit minyak, sisihkan di wadah lain. Saat wadah
penuh, tukar dengan bahan baru, dan yang disisihkan itu yang dipakai sedangkan
yang baru disimpan.
B.
Pangan dari
pekarangan.
Menanami sekitar
rumah dengan tanaman konsumsi menggunakan media tanah, pasir, pot, hidroponik
dan sebagainya sebagai sumber pangan.
KKPPMP Keuskupan
Tanjungkarang memulai dengan mengumpulkan dan membagikan biji benih sayuran
sejak April 2020. Sampai sekarang ini (10 Juni 2020) menerima 22 jenis tanaman
sayur dari berbagai pihak yang sudah dibagikan ke 28 komunitas atau kelompok,
sekitar 800an KK di 7 kabupaten/kota, kebanyakan di daerah Bandarlampung dan
sekitarnya. Selain itu juga menerima dan membagikan box untuk kolam ikan dan
polibag berbagai ukuran.
C.
Usaha kreatif.
Memulai atau
meneruskan usaha-usaha kreatif, dengan berbagai model sesuai kebutuhan
masyarakat sekarang. Beberapa teman mulai menggunakan dapur sebagai sarana
produksi, bikin kue kering atau basah, lauk matang dan sebagainya lalu
ditawarkan ke grup-grup atau medsos yang diikuti.
Misal para guru Growing Hope membuat aneka kue, ayam
frozen, minuman sehat dan sebagainya di sela jam mengajar online untuk siswa berkebutuhan
khusus. Beberapa penjahit kami libatkan ketika ada jaringan yang ingin
berdonasi dan terlibat dalam gerakan sejuta masker untuk Lampung tapi ndak bisa
menjahit sendiri. Mereka mengirimkan dana ke penjahit-penjahit itu sesuai harga
yang disepakati dan masker yang jadi dikirim ke KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang.
Komunitas Berkat Yakin oleh Gebe, mengambil kopi dan gula aren semut dari
Ulubelu ditawarkan secara online di medsos. Seno seniman muda Metro menerima
pesanan lukis wajah dengan berbagai harga variatif, termasuk pemesanan
bingkainya. Iin Komunitas Dakocan menawarkan beras dan telur herbal dari
pertanian diantar sendiri ke konsumen yang pesan tanpa tambahan ongkir. Komeng
Liwa berkeliling door to door
menawarkan kerajinan dari batok kelapa. Dan banyak contoh lain. Mungkin mereka
sudah melakukannya sebelum wabah tapi mereka terus melakukannya dengan gigih di
masa sekarang ini dengan berbagai cara kreatif.
D.
Komunal
Aksi mandiri
tidak dilakukan tidak sendirian, tapi dalam komunitas, secara komunal. Mesti
dalam semangat sosial, solidaritas, “saling…” Karena, tidak mungkin memenuhi
semua kebutuhan itu sendirian. Memilih membeli di warung tetangga daripada di
mall itu juga menjadi aksi. Yang tidak bisa dipenuhi oleh warung sebelah baru
ke toko besar.
Membangun
solidaritas. Baksos sembako sangat baik, tapi kenapa tak diselipi kepedulian
terhadap petani dan pelaku UKM sehingga bukan mi instan yang dibagi, tapi paket
sayuran. Bukan membagikan tepung terigu tapi memasukkan pengganti beras dari
lokal (ubi, singkong dsb), paket bumbu, makanan olahan rumah tangga dsb. Repot
iya, tapi itulah kekuatan gerakan.
E.
Merawat Sumber
Hidup
Masa pandemi ini
adalah masa untuk latihan mawas diri. Kita berada dalam aliran deras
kapitalisme juga konsumerisme yang semakin menjauhkan kita dari ‘sumber’.
Misalnya sumber air, orang ndak tahu lagi sumur sebagai sumber air minum, cara
merawatnya dan sebagainya karena selama ini langsung terima gallon. Gallon tak
ada teriak-teriak. Ndak tahu sumber protein ikan, asal buang sampah saja di
sungai dan laut sehingga sampah itu tak diketahui masuk perut sendiri. Atau tak
ngerti banyaknya obat yang masuk tambak atau tanah, yang seharusnya tak perlu. Wabah
ini mesti jadi latihan kita untuk mawas diri, mulai sadar mendekat mengenali
sumber-sumber hidup, dan merawatnya demi kita sendiri.
F.
Menyebarkan
semangat itu ke semua orang.
Jangan menyimpan
semangat sendiri untuk diri sendiri. KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang membuka
diri bekerjasama dengan banyak lembaga media untuk menyebarkan semangat ini,
seperti bincang santai di chanel Komsos Keuskupan Tanjungkarang, menyebarkan
informasi kepada para jurnalis berbagai media, menggunakan medsos dan
sebagainya.
Sebuah
keyakinan menjadi dasar atas aksi-aksi ini. Bahwa pandemi kali ini memberi
kesempatan kepada kita untuk mengelola alam lingkungan dengan baik. Bukan hanya
terlibat menjaga kelangsungan hidup setiap manusia, tapi juga mewujudkan tanggung
jawab manusia untuk mengelola alam semesta supaya bisa dimanfaatkan oleh
seluruh umat manusia tanpa kecuali (bdk. Laudato Si art. 93). Cakupan tanggung
jawab bukan hanya kepada sesama yang hidup sekarang ini, bahkan meliputi generasi
manusia yang akan datang. Tanggung jawab ini mengandaikan terbangunnya
solidaritas dari mereka yang telah tercukupi hidupnya untuk mau berkorban atau
repot sedikit/banyak bagi kelayakan hidup orang-orang lain yang kekurangan,
yang membutuhkan bantuan.
Suara yang baik
harus diperdengarkan supaya suara yang jelek atau jahat tidak mendominasi.
“Bila yang baik, tak mau bicara, yang buruk tertawa…” (Holaspica, lagu Naik ke Laut).
PENUTUP
Negara
tidak punya sistem yang memadai untuk mengatasi Covid 19 maupun menangani semua
dampaknya dalam bidang apapun. Saya memilih tidak mati konyol karena
tidaksiapan sistem Negara kita, demikian juga jangan sampai ada orang yang
terpuruk menjadi korban karena Covid19, ketidaksiapan semua pihak, tak adanya
kebijakan yang mengakomodir semua maupun seluruh kelalaian yang muncul karena
ketidaktahuan. Masyarakat mesti mandiri, tidak mungkin mengandalkan diri pada
bantuan sosial dari manapun. Mengumpulkan benih dan membagikannya hanyalah
contoh kecil tidak menggantungkan diri pada nasi kotak atau paket sembako atau
bantuan dana tunai.
Jadi,
mari melakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri, bersama dengan keluarga,
komunitas, dan terus menyebarkan lingkar pengaruh ini hingga ke masyarakat
luas. Negara harus mendukung usaha-usaha baik semacam ini walau kita tak
berteriak di parlemen maupun jalanan, karena aksi-aksi ini berdampak konkret
bagi kita, bagi masyarakat. Salah satu bentuk perlindungan Negara adalah
membuat kebijakan yang menjamin keamanan seluruh rakyat termasuk keamanan
pangan.
*
Ch.
Dwi Yuli Nugrahani, Ketua KKPPMP Keuskupan
Tanjungkarang
Badan Pengurus Sekretariat Gender
dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI
Pembina Jaringan Perempuan
Padmarini (JPP) Lampung
Pembina Forum Komunikasi Serikat
Pekerja Lampung (FKSPL)
Wakil Ketua Forum Partisipasi
Publik untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Provinsi
Lampung
Koordinator Gerakan Sejuta Masker
untuk Lampung
- 1. Menanami sekitar rumah dengan tanaman konsumsi menggunakan media tanah, pot, hidroponik dan sebagainya.
- 2. Memulai usaha kreatif, online, dengan berbagai model.
Tahap pertama, sembari di rumah saja, pilihan yang pertama bisa dibuat. Mulai mengumpulkan wadah-wadah yang bisa dipakai untuk media tanam, mencari tanah yang subur dan pupuk organik, mencari benih-benih yang bisa panen dengan cepat.
Untuk ini mesti saling bantu, saling berbagi kebutuhan-kebutuhan:
1. 1. Polibag atau wadah-wadah bekas
2. 2. Pupuk kandang atau pupuk jenis apa pun
3. 3. Benih-benih sayuran yang cepat panen: kangkung, bayam, sawi, cabai, terong, tomat, kacang panjang, buncis dan sebagainya.
4. 4. Bibit untuk karbohidrat yang cepat panen: ubi jalar, singkong dsb (ini untuk yang punya lahan lebih luas)
5. 5. Benih ikan atau anakan ayam.
Dan menyebarkan semangat ini ke banyak orang. Ini yang kemudian kami lakukan. Mengumpulkan benih-benih dan membagikannya ke orang-orang yang membutuhkannya.