Thursday, July 16, 2020

Donat Labu Kuning ala Yuli Nugrahani

Donat labu kuning

Kayaknya sekarang ini sedang musim labu kuning di beberapa daerah di Lampung. Mudah sekali menemukan labu jenis ini bahkan di tukang sayur sekalipun, dengan ukuran kecil, besar, potongan atau bentuk olahan. Beberapa waktu lalu aku dapat kirim dari Bu Tiwi yang konon mendapat kiriman dari orang lain lagi.

Baru kemarin malam labu itu akhirnya kupotong dan kukukus. Sudah sejak memotongnya itu aku sudah ndak yakin bakal bisa menghabiskan seluruh potongan labu kuning kukus, maka saat Putra datang ke rumah, kutitipkan setengah dari potongan-potongan labu kukus itu untuk Utinya.

Tak ada satu pun orang yang menowelnya dalam bentuk kukusan seperti itu. Aku memakannya sebagai pengganti nasi untuk makan malam, lalu untuk sarapan. Dan kok ya masih banyak banget itu labu ya.

Maka jadilah ini, donat labu kuning ala akuuu...

Gini cara mengolahnya:

250 gram tepung terigu serbaguna
1 sendok teh ragi
6 sendok teh gula pasir atau sesuai selera
setengah sendok teh bread improver kalau ada
Aduk semua bahan kering ini sampai merata lalu masukkan 125 gram labu kuning kukus yang sudah dihaluskan.

Uleni seluruh bahan ini hingga kalis. Lalu tambahkan sekitar 2 sendok teh mentega dan setengah sendok teh garam. Uleni sampai elastis.

Timbang seluruh adonan lalu bagi sesuai selera. Bentuk bulatan, letakkan dalam loyang yang sudah taburi terigu. Pipihkan dan beri lubang tengahnya dengan jari telunjuk. Lakukan begitu hingga semua adonan habis.

Diamkan adonan kurang lebih 45 menit. Bisa ditutup plastik, serbet bersih atau masukkan ke oven tertutup.

Udah deh, siap goreng. Pakai api kecil saja yaaa.... N jangan dibolak balik. Cukup sekali balik saat satu sisi sudah kecoklatan. Gunakan bantuan sumpit untuk mengangkat dan meniriskan donat.

Udah jadi dahhhh... Bisa dimakan begitu saja, ditaburi gula halus atau diberi topping sesuai selera. Kalau aku, cukup begitu saja. Langsung santap saat hangattt...

Labu kuning utuh

Labu kuning potong

Labu kuning kukus

Tuesday, July 14, 2020

Resep Pizza ala Yuli Nugrahani

Pizza bukan termasuk makanan favoritku. Tapi sesekali aku akan sangat ingin menyantapnya yaitu saat beramai-ramai dengan sesiapa gitu. Harganya aku tak suka dan sontan bisa kubandingkan dengan nasi padang. Harga yang sama untuk pizza hanya bisa untuk 1 orang, tapi kalau dibelikan nasi padang bisa 3 - 4 orang. Belum lagi kalau aku berharap topping-topping tambahan yang kusukai. Bisa lebih banyak lagi orang yang bisa ditraktir nasi padang ayam goreng pop yang gurih yahud itu. Nasi padangnya di Puti Minang Hajimena dunkkk...Itu termasuk warung nasi padang yang paling kusuka.

Nah, untuk mengurangi biaya, aku akan memilih membuat pizza sendiri. Asalkan dalam kondisi waras sehat walafiat secara apa pun. Untuk bahan-bahan aku gunakan yang paling minimal saja.

Bahan kering, aduk rata :
375 gram tepung terigu cakra kembar
6 gram ragi instan
30 susu bubuk
15 gram gula pasir.
Air matang: 175 ml, tambahkan sedikit-sedikit sambil diuleni.

Jika sudah kalis, tambahkan 50 mentega dan sesendok teh peres, uleni sampai elastis. Tandanya, kalau ditarik tidak mudah putus, dan tidak lengket di tangan.

Diamkan adonan dalam wadah tertutup sekitar 30 menit.

Kempiskan dan bagi adonan dalam 3 bagian. Diamkan lagi sekitar 10 menit.

Siapkan loyang. Tak usah diolesi mentega. Pipihkan adonan di loyang itu. Biasanya bentuk lingkaran tipis. Tusuk-tusuk dengan garpu. Tutup dengan serbet bersih dan diamkan kurang lebih 30 menit.

Beri toping. Aku biasanya memberi toping:
Pertama, olesi dengan saus bolognese yang biasa untuk spageti tipis-tipis.
Kedua, beri irisan daging ham atau sosis.
Ketiga, taburi dengan irisan bawang bombay dan paprika kalau suka.
Bisa ditambah lain-lain seperti jamur, kacang polong, dll.

Terakhir beri taburan keju mozarella sebanyak-banyaknya. Hehehe....
Udah, panggang kurang lebih 30 menit. Aku selalu meletakkan secangkir air di salah satu pojok oven biar adonan tidak telalu kering. Pakai cangkir tahan panas lho yaaa....

Udahhhh jadiiii.... Nikmati dengan saus tomat dan cabe. N kalau suka mayones aneka rasa. 

Saturday, July 11, 2020

Puisi Sabtu 20: PESAN BIJI GAYAM karya Yuli Nugrahani

PESAN BIJI GAYAM

 

Iman menyematkan sebisik pesan pada biji gayam

mengikat takdir perjanjian tak terbantahkan.

Dikirimnya cuaca menyertai persiapan-persiapan

hingga matang bakal buahnya dan tunai calon tunasnya.

Kitab yang sama menyebut juga pengharapan.

 

Tersimpanlah kekayaan itu dalam tubuh

dirapikan oleh kemarau penisik cangkang

dan hujan sang penghibur tak terabaikan:

Kita bisa mengatakan:

                Biji yang hidup, biji yang menghidupkan.

 

Angin mengiringnya menancap tanah sendang

menghela nafas pertama ketika kulitnya retak.

Saat itu, sepasal demi sepasal mulai terurai

geliat keabadian, sendirian sekaligus serentak

menyatu harmoni dalam kalimat semesta.

 

Pada pasal yang kesekian, pesan itu tumbuh mekar

menjalari sepasang kekasih yang sepakat:

Dari fajar hingga petang selalu bersama

menyesap segala cahaya tak peduli nama

tak melihat angka, tak mendengar beda,

tak merasa kurang, tak pongah berlimpah.

 

Tak ada lagi kisah perempuan kesepian

memeram senyum sendirian di bawah bantal.

Tak lagi juga laki-laki menutupi tawa

merana di teras mengibas debu lahan gersang.

 

Iman menyiramkan ingatan pada pangkal tunas gayam

membocorkan cerita masa depan, mendesakkan pesan.

Laki-laki dan perempuan memupuk pengharapan,

berdandan dengan cucuran keringat dan air mata.

 

Ketika ada waktu senggang mereka berdendang.

Melantunkan pangkur sembari meniupi putik gayam

menerjemahkan mantra dari pasal selanjutnya:

Walafiatlah seluruh semesta:

Air, air, air, air, …

          Di Utara, di Selatan, di Timur, di Barat

 

Dalam rangkulan manusia, akar gayam bekerja

menarik air dan memenuhi sendang   

merejang waktu bagi generasi mendatang.

 

Demikianlah para kekasih berlaku

bukan lagi dua, melainkan satu.

Puncak segala adalah cinta  

meledak berdaya sepenuh purnama.

 

Dari sudut itulah gayam mengingat keseluruhan

hingga lunas sampai arah yang paling renta.

Saat mulai terlihat halaman paripurna

dia kibas segala warna pada keturunannya.

Mengamanatkan keringat untuk menyeka bumi

dan ruh penghiburan turun menjadikan suci.

Bahasa lain lebih lugas member perintah:

Segarlah perempuan dan laki-laki oleh airmu

biarkan tawa mekar meredam keluh tergumam.

 

Gayam menjalankan pesan kelahirannya

terus berbisik:

Menjaga air, menjaga bumi, alam.

 

Tanjungkarang, 11 September 2019

Lukisan oleh Seno





Yuli Nugrahani, penulis dari Lampung. Buku-buku fiksi yang ditulisnya antara lain: Kumpulan Puisi Pembatas Buku (Indepth Publishing 2014), Kumpulan Cerpen Daun-daun Hitam (Indepth Publishing 2014),  Kumpulan Cerpen Salah Satu Cabang Cemara (Komunitas Kampoeng Jerami, 2016), Kumpulan Puisi Sampai Aku Lupa (Komunitas Kampoeng Jerami, 2017) dan Cerita Rakyat Lampung Sultan Domas, Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati (Kantor Bahasa Provinsi Lampung 2017). Buku antologi bersama yang terakhir dilibati adalah buku 'Negeri Para Penyair: Antologi Puisi Mutakhir Lampung' dan 'Negeri yang Terapung: Antologi Cerpen Mutakhir Lampung yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung 

Thursday, July 09, 2020

STOP KEKERASAN SEKSUAL DAN PERDAGANGAN MANUSIA

Tindak pemerkosaan terhadap gadis berusia 14 tahun, yang diduga dilakukan oleh oknum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lampung Timur  bukan hanya menunjukkan ketimpangan relasi gender di  Provinsi Lampung, namun juga memperlihatkan rendahnya kesiapan aparat pemerintahan dalam perlindungan terhadap korban kekerasan, dalam pembentukan lembaga perlindungan, maupun dalam pengawasan operasionalnya.  

Kasus dugaan pemerkosaan dan perdagangan manusia yang sekarang sudah beredar luas lewat media itu menggugah kemarahan banyak orang. P2TP2A yang mestinya menjadi tempat perlindungan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban malah menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap korban. Tugas utama mereka adalah sebagai tempat pengaduan, menindaklanjuti laporan tindak kekerasan, rehabitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pelayanan bantuan hukum, pemulangan bahkan upaya reintegrasi sosial saat korban sudah kembali ke masyarakat.

Tugas-tugas itu tidak dijalankan dengan benar, malah menambah penderitaan korban.

1.       1. Usut tuntas kasus ini dengan memberikan perlindungan dan keamanan bagi korban dan keluarganya, termasuk keamanan emosional dan sosial.

2.     2.  Mengevaluasi kerja P2TP2A di Kabupaten Lampung Timur dan juga daerah lain, dan memastikan prosedur pembentukan dan rekruitmen karyawan/pekerja yang memenuhi kapasitas yang dibutuhkan dalam pendampingan terhadap perempuan dan anak.

3.    3. Tidak menoleransi tindakan apa pun untuk membenarkan peristiwa kekerasan dan perdagangan manusia.

Dalam glossary perlindungan perempuan pada website Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak disebutkan bahwa:

“Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, yang selanjutnya disebut P2TP2A adalah pusat pelayanan yang terintegrasi dalam upaya pemberdayaan perempuan di berbagai bidang pembangunan, serta perlindungan perempuan dan anak dari berbagai jenis diskriminasi dan tindak kekerasan, termasuk perdagangan orang, yang dibentuk oleh pemerintah atau berbasis masyarakat, dan dapat berupa: pusat rujukan, pusat konsultasi usaha, pusat konsultasi kesehatan reproduksi, pusat konsultasi hukum, pusat krisis terpadu (PKT), pusat pelayanan terpadu (PPT), pusat pemulihan trauma (trauma center), pusat penanganan krisis perempuan (women crisis center), pusat pelatihan, pusat informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (PIPTEK), rumah aman (shelter), rumah singgah, atau bentuk lainnya.”

Keterbatasan sarana prasarana serta sumberdaya manusia tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk menoleransi tindakan kekerasan khususnya terhadap kelompok rentan termasuk perempuan dan anak. Pemberdayaan kepada perempuan dan anak harus dilakukan supaya tidak ada seorang pun dari perempuan dan anak Lampung ketakutan oleh ancaman dan iming-iming orang lain dan membuat mereka menjadi korban kekerasan dan perdagangan manusia. Masyarakat harus terus menerus berjuang untuk mewujudkan relasi yang adil dan setara gender, tidak takut menolak kekerasan dan ketidakadilan karena memandang ada kuasa atau uang.

Dalam proses hukum, jangan sampai prinsip kehati-hatian dan kerahasiaan disalahgunakan untuk menghindarkan pelaku kekerasan dari hukuman yang setimpal dan menyebabkan peristiwa serupa dapat terulang atau terjadi lagi.

 

Ch. Dwi Yuli Nugrahani

Ketua

Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau

(KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang


Tuesday, July 07, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (4): Panen untuk Keluarga

Dari Gerakan Pangan dari Pekarangan, aku terhubung ke banyak mitra jaringan. Beberapa minggu ini kabar yang masuk adalah kabar-kabar menggembirakan. Benih-benih itu sudah berubah menjadi makanan. Kangkung dapat dipanen setelah 4 - 5 minggu. Cepat banget. Dari antara semua benih, kayaknya kangkung inilah yang paling bandel dan cepat. Tanpa disemai pun kangkung bisa tumbuh bagus, asal tanahnya cukup lembab dan terkena sinar matahari yang cukup.

Sawi dan bayam juga begitu. Bayam pun tidak perlu disemai dulu. Langsung cabut saat panen. Sedang sawi, ya kalau malas langsung sebar juga pasti tumbuh. Tapi daunnya tak sebagus kalau disemai dulu dan ditanam dengan jarak yang tepat. Tiga sayur ini cukup bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan akan daun hijau sehari-hari. Sebelum wabah pun kami sudah melakukan hal itu dan menyenangkan karena bisa panen sesuai kebutuhan saja. Rumah kami tak memiliki kulkas, jadi tanahlah yang menjadi penyimpan alami untuk keluarga kami. Sehat dan segar.

Tanaman lain yang bandel adalah cabai. Dari dulu kusebut cabai itu tanaman anti miskin. Asal ada cabai (dan nasi) sudah amanlah periuk dapur. Kasarnya begitulah. Dan cabai bisa panen berkali-kali. Tanaman cabai yang ada di depan dan belakang rumah kami sudah berumur 4 - 5 bulan, dan cabainya masih bisa kuambil kalau membutuhkan. Tapi kata suamiku, itu cabai setan yang sudah bertobat. "Ndak pedas lagi." Entah level lidah kami yang sudah meningkat atau karena memang cabainya tidak lagi pedas, setiap memasak dadar telur yang dulu cukup dengan 2 atau 3 cabai saja, sekarang butuh 10 cabai. Hehehe....

Buncis menjadi kesukaanku juga. Memanennya butuh waktu yang agak lama sekitar 6 - 8 minggu sejak ditanam. Dan karena tanah di rumah kami tidak terlalu bagus, buahnya tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk membuat tumis atau campuran sop atau campuran sayur apa pun. Dengan demikian, aku tidak lagi pernah membuang kelebihan buncis yang lupa dimasak karena hanya ambil di pohon sesuai kebutuhan.

Yang sekarang ini jadi favoritku (tapi bukan anak-anak dan suami) adalah telang. Bunganya menjadi sumber minuman sehat tiap pagi, dan daunnya bisa kulalap setiap ingin. Cowok-cowokku hanya geleng-geleng saja kalau ditawari.

Tanaman lain yang juga bergantian panennya adalah daun kelor. Karena hanya ada 2 batang di depan rumah, maka beberapa minggu sekali baru bisa mengambilnya untuk campuran sayur bening labu siam. Yang sedang menunggu panen adalah terong, rampai dan pare. Hehehe... memang berapa hektar tanahku? Ndaakkkk, hanya seucrit itulah. Hasilnya juga tidak optimal karena nafsu menanam apa pun di situ. 

Tapi senenggg.... lebih lagi menerima kabar dari teman-teman, bukan hanya foto, kadang juga hasil panen yang konkret. Bayam merah, sawi dan sebagainya... Senenggg.... 

Sejuta Masker untuk Lampung (5): Kain-kain dari Berbagai Tempat

Sejak berjalan pada bulan Maret 2020, Gerakan Sejuta Masker untuk Lampung mendapatkan kiriman bahan-bahan dari banyak tempat. Agak susah menyebutnya satu per satu karena memang banyak nian. Misalnya bu Emmy yang satu lingkungan denganku mengirimkan 6 meter kain yang sedianya untuk baju seragam keluarganya. Tidak jadi baju, kain itu terpotong kecil-kecil dan menjelma menjadi masker-masker indah.

Pak Enggar lewat Rm. Greg memberikan berkarung-karung kain sisa atau perca beberapa kali. Kain-kain segala jenis itu sudah disortir di awal dan semuanya terpakai.

Bu Susan dan grupnya mengirimkan kain berkotak berkarung beberapa kali dari Jakarta. Beberapa diantaranya kain gulungan entah berapa meter pada tiap gulungnya itu.

Mbak Lusi juga mengirimkan kain cantik banyak meter. Bu Yudanto merelakan kain-kain sisa sprei sekaligus memotongnya. Pak Luke langsung sigap begitu aku mengeluh stok kain menipis. Mbak Rina, Bu Sartini, Suster2 CB, FSGM dan HK. Bu Eni yang baik hati. Beberapa nama yang tak mau disebut juga memberikan kain-kain. Banyak lagi yang ndak keinget saking banyaknya. 

Kain-kain cantik berbagai jenis itu tak boleh menumpuk di rumahku. Kalau pun tumpukan mulai banyak dan tidak ada permintaan dari relawan jahit, aku akan menawarkan ke komunitas-komunitas jahit itu. Juga jika ada stok karet atau benang. Hehehe, semuanya mengalirrr, terus mengalir. Tapi ya jangan membayangkan selalu ada stok berkarung-karung. Pernah terjadi sama sekali kain itu habis, tinggal beberapa kain yang tak bisa dijadikan masker karena kelewat tipis atau kelewat tebal. Pernah juga sih terpaksa kain tebal itu dijahit hanya satu lapis atau yang kelewat tipis dijahit juga tapi hanya untuk lapisan pemanis. Seringnya aku hunting di rak bajuku untuk melihat mana lagi yang bisa kugunting-gunting. Hehehe

Selain kain-kain perca atau sisa, ada juga kain-kain bekas. Biasanya kiriman baju yang koyak, yang tidak lagi bisa digunakan oleh pemiliknya tapi sebagian besar kainnya masih kuat dan warnanya tidak luntur akan aku ambili kancing dan resletingnya. Juga kupotong-potong dengan membuang bagian yang sudah aus, bagian ketiak dan krah baju, juga yang jahitannya bertumpuk-tumpuk. Kain-kain yang sudah bebas dari 'pengganggu' itu siap digunakan sebagai bahan masker. Dan ketika sudah jadi masker semuanya jadi cantik. 

Karena itulah para relawan cuci di tiga posko itu sangat berjasa. Dengan sabun cuci yang dikirim oleh Caritas Tanjungkarang sejak awal, masker-masker kain yang kami bagikan itu sudah siap pakai. Bersih, steril. Sudah melalui proses perendaman, pengucekan, pembilasan, penjemuran dan penyeterikaan yang disertai cinta yang besar. Hehehe...

Saturday, July 04, 2020

Puisi Sabtu 19 : RESESI Karya Yuli Nugrahani

R E S E S I

 

Kita

akhirnya sama seperti orang-orang lain
memelihara belati-belati pada carang terserak
melesatkannya secara acak
sebagai penanda
mengoyak lembar-lembar daun waru, kelopak-kelopak alamanda
dan
batang-batang petai cina tersebar memecah :

Lupa pada kegembiraan janda dari Nain

yang bersorak dipenuhi airmata melihat anaknya

sembuh dari kematian.

 

Sebelumnya, kalian telah melihat perempuan itu tak henti berjalan
mengitari rumahnya meratap membungkus angin di dada :

Oh, bagaimana hidup nanti bisa disiasati

tanpa anakku?

 

Aku membayangkan serupa :

 

Gadis-gadis yang beriktiyar dengan tangan mencengkeram
merontokkan daun ketapang merah
dalam mulut garang cupang-cupang kecil penuh girah.

 

Dan anak-anak yang setia duduk dekat tungku dapur
dengan mata setengah terpejam

menanti lipatan senyum ibunya dalam semangkuk bubur.

Lalu harapan sebentuk lembaran kitab

menyembuhkan bisu tuli, menggandakan roti :

Anakku hidup lagi!

(Janda Nain bergembira!)

 

Tapi  kini

Saat cerobong asap di timur dan barat semakin menderu

berbaur bau mulut memaki.

Semua lupa perihal sederhana itu.

 

2015-2017

 ---------

Yuli Nugrahani, cerpenis dan penyair, Lampung. 


Friday, July 03, 2020

Resep Roti ala Yuli Nugrahani

Roti ubi jalar.
Separuh tepung terigu diganti dengan ubi kukus yang dihaluskan.
Mbayangin bikin roti itu ribet banget. Yang paling serem itu soal bahan dan nguleni. Bahan yang lengkap dan ndak selalu ada stoknya di rumah. Nguleni itu butuh waktu dan tenaga ekstra kuat supaya kalis dan elastis. Masa WFH kemarin lumayan baik bagiku untuk eksperimen membuat roti (sampai cowok-cowokku ampun-ampun karena kebagian kudu ngincip dan ngabisin. hihihi.)

Nah, sekarang aku sudah merasa enteng. Bikin roti itu semudah membuat jenis sarapan lain. Bisa kubuat pagi-pagi sehingga sarapan dengan roti segar hangat fresh from oven bisa kulakukan. Beberapa trik yang ingin kubagikan adalah sebagai berikut:

1. Kenali bahannya, termasuk karakteristik dan fungsinya. Termasuk juga sifat masing-masing bahan. Ini menentukan banget keberhasilan roti yang kita buat. Misal:
a. Tepung itu ada beberapa jenis, bisa digantikan dengan apapun bahan yang mengandung 'tepung' seperti kentang, ubi dan sebagainya. 
b. Ragi dengan gula itu berkawan. Ragi dengan garam bermusuhan. Ini nantinya berguna untuk menentukan saat memasukkannya dalam adonan. Biasanya aku akan membagi ke 3 jenis bahan: bahan kering yang berkawan dengan ragi bisa dijadikan satu, bahan cair yang berkawan dengan ragi bisa dijadikan satu, dan bahan lain yang bermusuhan dengan ragi dimasukkan terakhir. Yang masuk dalam jenis terakhit ini adalah garam dan mentega. 
c. Komposisi itu penting tapi ternyata aku bisa mengenali setelah beberapa kali membuat roti. Air tidak harus sesuai takaran ketika kita ganti tepung terigu dengan ubi kukus. Telur tidak harus memakai 2 butir walau di resep ditulis begitu. Kalau mau lebih lembut kuning telur ditambahi. Susu bisa digantikan dengan santan atau air.
d. Penggunaan cairan bisa dirasakan saat nguleni. Suhunya pun sesuka hati. Aku pernah menggunakan cairan suhu ruang, air es atau air hangat. Ketiganya bisa digunakan.

2. Sebisa mungkin siapkan bahan dasar yang memang harus ada setiap membuat roti. (Tepung, ragi dan air. Tiga bahan ini yang paling mutlak.)

3. Alat-alat yang ada di rumah tidak harus lengkap. Tak ada oven kita bisa pakai baking pan, atau panci biasa atau magic com, dll. Aku menggunakan mixer yang tangkainya khusus untuk roti saat nguleni, tapi sangat mungkin hanya menggunakan tangan saja. Baskom yang agak lebar bisa menggantikan meja masak saat nguleni adonan.

4. Masukkan air dalam wadah tahan panas saat memanggangnya. Ini akan membuat roti menjadi lembut tidak kering keras. Dan memasukkan adonan saat oven sudah panas.

5. Proofing adonan bisa dilakukan beberapa kali. Tapi itu ribet. Jadi aku melakukannya 1 kali saja. Bisa disambi kerjaan lain selama 1 jam.

Nah, ini resep yang paling praktis :
Kurangi gula untuk roti tawar sebagai sarapan.

Bahan:
A
250 gram tepung terigu protein tinggi atau sedang atau campuran keduanya
50 gram gula pasir atau sesuai selera
2 sendok teh ragi instan
1 sendok teh bread improver (abaikan kalau tidak ada)
B
125 gram cairan (santan, susu atau air biasa) sedikit hangat. kalau malas ya suhu ruang saja.
1 kuning telur
C
15 gram mentega (atau minyak goreng atau butter)
0,5 sendrok teh

Cara membuat:
Aduk bahan A sampai rata. Pakai mixer yang tangkainya untuk roti ya.
Masukkan B sedikit demi sedikit sampai kalis. Matikan mixer.
Masukkan bahan C. Sebagian mentega taruh di pinggiran wadah, gunakan kalau tangan lengket.
Uleni sampai kalis dan elastis. Tandanya, kalau ditarik tidak gampang putus.
Kalau sedikit lengket tak usah panik. Gunakan saja sedikit tepung untuk pelapis tangan saat megang adonan. Jangan nambahin tepung ke adonan ya. 
Bentuk adonan sesuai selera, beri toping atau isian yang disukai. Letakkan di loyang yang sudah diolesi mentega dan tepung atau dilapisi kertas roti.
Diamkan adonan dalam tempat tertutup sekitar 1 jam. (Bisa ditungguin sambil nyuci alat-alat yang tadi digunakan atau mandi dulu biar seger pas ngincip roti matang)
Panggang dengan api sedang/besar kurang lebih 30 menit. Begitu keluar dari oven, olesi permukaan roti dengan mentega.
Siap disantap.

Wednesday, July 01, 2020

Merumuskan Keinginan

Kemarin saat berangkat ke kantor, dekat tikungan Kotaraja, aku berada persis di belakang angkot hmmm... entah Teluk atau Sukarame atau Pahoman, lupa, dengan tulisan besar di kaca belakang: Keinginan adalah Sumber Penderitaan. Wihhh... 

Beberapa pengalaman membuatku mengamini kalimat itu. Kapan keinginan membuatku menderita? Pertama, ketika keinginan itu tidak kesampaian. Bahkan kemudian disadari sampai mati pun keinginan itu tidak akan tercapai. Derita tiada akhir mesti dialami.

Kedua, ketika keinginan itu ternyata berakibat keburukan. Apalagi kemudian peristiwa tragislah yang terjadi sebagai buahnya.

Tapi kemudian aku juga serta merta protes dengan kalimat itu. Banyak pengalaman hidupku memunculkan peristiwa-peristiwa baik yang diawali dengan keinginan. Aku menggunakan istilah : visi. Ini bentuk lain dari keinginan-keinginan yang kukuatkan dengan detail imajinasi yang mestinya terjadi pada suatu masa. Ketika visi ini menguat, pelan-pelan dia akan menjadi kenyataan.

Lalu bagaimana keinginan tidak menjadi sumber penderitaan? Aku berpikir tentang rumusan yang mesti digunakan saat mempunyai keinginan. Ini salah satu caranya. Merumuskan keinginan tidak sebagai kata benda, tapi sebagai kata kerja, kata yang mendorong kita bekerja, atau melakukan sesuatu.

Misal, aku tidak akan mengatakan: "Aku ingin masker yang cukup bagi sejuta orang Lampung." Tapi akan mengatakan: "Aku ingin menjahit masker yang cukup untuk sejuta orang Lampung." Maka keinginan itu sudah terpenuhi saat aku mulai mengambil kain, jarum, benang dan gunting. Iyaaa.... belum cukup untuk sejuta orang Lampung yang membutuhkan karena memang baru satu masker itu pun diri sendiri, tapi itu langkah pertama untuk memenuhinya. Kalau yang berikutnya lagi mulai dibuat, satu persatu dibuat, seluruh sejuta itu akan terpenuhi. Dan aku tak perlu menderita karena keinginan itu tak pernuhi. Sudah kok, sudah terpenuhi.

Contoh lain? Banyakkkk... Wis. Itu trik yang pertama ya, supaya keinginan tidak menjadi sumber penderitaan. Mari terus berbahagia dengan keinginan-keinginan.

Sejuta Masker untuk Lampung (4): Laporan Terkini 30 Juni 2020

Gerakan Sejuta Masker untuk Lampung terus berjalan sampai sekarang. Per 30 Juni 2020 total masker yang disebarkan adalah 62.085 masker dengan aneka bentuk dan jenis kain. Dari sejumlah itu sebagian besar tersebar di Kota Bandarlampung, yaitu 37,49%, atau setara ... masker. Sisanya tersebar di semua kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Lampung.

Kalau dalam diagram ditulis penyebaran ke mitra jaringan atau paroki dalam jumlah yang besar, sasaran utamanya tetap orang-orang yang tak mampu akses masker dan rentan. Mitra jaringan dan paroki ini sangat membantu penyebaran masker yang lebih luas dalam tingkat resiko yang rendah. Yang saya maksud resiko adalah penyebaran secara ngawur ke sasaran yang tidak tepat, tidak dikenali dan sebagainya. Sangat mungkin dua bagian ini sebenarnya juga menyasar kelompok-kelompok lain seperti dalam irisan diagram tapi saya tak mampu mendeteksi karena memang tidak meminta laporan detail. Foto-foto saja yang saya minta sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Saya sebenarnya ingin juga mendata jumlah para relawan jahit, tapi ini agak sulit. Catatanku tentang nama-nama relawan jahit sama sekali tidak valid. Juga bentuk-bentuk donasi yang memberi support untuk gerakan ini seperti kain, benang, karet dan mesin jahit. Sangat banyak yang terlibat.

Masuk bulan Juni ini, gerak agak lambat. Pertama karena stok bahan menipis. Baju-baju tua yang dikirimkan kepada kami menjadi sangat berguna. Saya mengambil kancing-kancing dan selerekan yang masih bisa digunakan. Juga membuang bagian-bagian baju yang sudah koyak atau rapuh, maka traddaaaa.... kain pun siap untuk dijahit menjadi masker. Beberapa kiriman bahan layak pakai juga tak bisa dijadikan masker karena terlalu tebal atau tipis. Sedangkan sprei, selimut dan handuk yang juga dikirimkan ke kami, tak mungkin kami ubah menjadi masker. Barang-barang itu sangat berguna untuk korban banjir di Bandarlampung. Kota ini sekarang menjadi langgaran banjir walau hanya hujan sebentar saja. Dan yang terjadi banjir parah.

Kedua, karena para relawan jahit sudah berkurang. Beberapa di antaranya mungkin sudah bosan atau capai, dan yang lain harus mulai akrobat dengan dampak ekonomi yang sudah terasa berat. Harus mulai kerja juga karena masuk era new normal.

Dari awal saya selalu berharap virus ini segera bisa dikendalikan. Tidak mungkin hilang 100% tapi kalau dipahami, diterima dan diakui, kita semua bisa bersama-sama mengendalikannya dan juga dampaknya. Ayolah, jangan abai. 

Tuesday, June 30, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (3): Usaha yukkk... usaha apa pun.

Banyak keluhan tentang PHK, gaji yang dipotong dan sebagainya. Ini masa pageblug, serba susah. Tapi lebih baik terus bergerak daripada hanya berkeluh kesah saja. Namanya situasi susah, maka seluruh upaya harus dibuat biar tidak mati konyol. 

Salah satu yang kami bikin adalah pelatihan membuat produksi rumahan yang bisa dijual. Pelatihan membuat abon ikan kami lakukan pada 16 Juni 2020 bersama karyawan susteran CB Tanjungsenang, Lampung. Sebenarnya sudah beberapa saat rencana tentang ini akan dibuat dibuat oleh KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, tapi baru bisa diselenggarakan, diikuti oleh para karyawan dan beberapa orang yang berminat.

Ikan patin dipilih karena harganya lumayan murah, Rp. 20 ribu per kilo. Untuk resep cek di sini. Kami membuat rasa pedas dan rasa orisinil. Lalu sebagian dari hasilnya kami isikan dalam roti. Jadi ada dua produk yang bisa jadi dalam pelatihan ini, abon dan roti isi abon.

Namun bukan hanya itu. Mereka juga sudah membuat kripik tempe dan telur asin model rendam dengan rempah-rempah. Masih juga membuat teh telang romantis yang melihat warnanya saja sudah bikin seger. Hmmm...

Bagian terakhir bikin hitung-hitungan sedikit tentang penjualan dan harganya. Lalu mesti latihan lagi supaya lebih ahli donggg... Yang mau lihat hebohnya bisa buka chanel Komsos Tanjungkarang. Klik sini. 



Hasil pelatihan sehari. Abon ikan, roti, telur asin dan teh bunga telang.


Harapan tentang usaha-usaha penopang masyarakat mandiri pangan ini mesti terus ditambah dengan alternatif-alternatif apapun berangkat dari apa yang ada, apa yang dimiliki oleh masyarakat. Kritikan dan usulan untuk menggunakan pangan lokal merupakan hal yang sangat penting. Dalam banyak kesempatan saya juga bilang untuk mengurangi tepung terigu terkait dengan ketahanan pangan dan juga kesehatan. Semangat mengurangi sampah khususnya sampah plastik juga harus dikuatkan. Pokoknya semua usaha baik harus terus dilakukan.

Kemaring ketika beberapa ibu bertanya tentang alat press abon yang saya gunakan, selain saya sebutkan bisa membeli di mana, saya juga sarankan untuk menggunakan alat-alat yang ada di dapur saja. Dengan demikian, usaha-usaha mandiri ini bisa diduplikasi oleh siapa pun. 

Mulai dari yang ada dan kreatif dalam usaha. Tidak morat-marit karena covid, dan terus iris karena covid.


Friday, June 19, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (2) : Pangan dari Pekarangan


“Gerakan Masyarakat Mandiri Pangan”

 

Oleh: Ch. Dwi Yuli Nugrahani, STP.

Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP)

Keuskupan Tanjungkarang

 

Disampaikan dalam Diskusi bersama Gerakan Perempuan Lampung “Kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung dalam Menjamin Ketersediaan Pangan untuk Masyarakat Miskin terdampak Covid 19”, Rabu, 10 Juni 2020 melalui Google Meet oleh Lembaga Advokasi Damar. Narasumber lain: Ir. Ida Rachmawati MSI, Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung dan Siti Noor Laila, Komisioner Komnas HAM Periode 2012 - 2017

 

#solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19

#sejutamaskeruntuklampung

#pangandaripekarangan

 

Masyarakat harus mulai menerima, memahami, menyadari bahwa Covid ini telah menjadi bagian dari ekosistem dunia, dan akan terus ada. Wabahnya akan berhenti, tapi virus ini tak mungkin hilang. Dampaknya masih akan terus berjalan.

Bukan hanya soal kesehatan, wabah Virus covid 19 memberikan dampak pada semua bidang, dan dampak secara ekonomi yang tidak sedikit. Banyak pekerja terpaksa dirumahkan, diPHK, dipotong gajinya, terpaksa menutup tempat usaha, tidak bisa menjalankan usaha dengan normal, kerugian terus terjadi dan sebagainya. Susah mencari data akurat, misal sumber KADIN bidang UMKM, sampai April lalu ada 15 juta lebih korban PHK (cnnindonesia.com, 01/05). Posko Satgas Gugus Tugas Covid 19 Prov Lampung mencatat 3.475 orang menjadi pengangguran terdampak Covid (lampost.co, 05/05). Data yang sebenarnya pasti lebih banyak apalagi jika bicara tentang pekerja informal, pedagang kecil, industri rumah tangga dan sebagainya. Dalam situasi seperti itu, keluarga-keluarga harus bertahan hidup dengan pemenuhan kebutuhan pokok/primer yang tak mungkin ditunda.

Menyiapkan diri supaya ekonomi tidak morat-marit akibat covid harus dilakukan secepat mungkin, sedini mungkin, paling tidak untuk pemenuhan pangan sehari-hari, yang cukup, bergizi dan memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga tanpa kecuali sesuai kondisi masing-masing untuk jangka waktu yang tak bisa diprediksi. Perempuan hamil, menyusui, anak-anak, lansia harus selalu mendapatkan perhatian khusus. Setiap keluarga mesti mandiri dalam pangan.

 

AKSI MANDIRI

A.    Perencanaan keuangan.

Pertama-tama, mesti mulai dari yang ada. Merencanakan pengeluaran dan pemasukan keuangan keluarga sesuai prioritas. Irit, yang tidak perlu tidak usah dibeli. Dan menyisihkan sebagian untuk tabungan. Orang yang tak punya tabungan itu orang yang tak punya masa depan.

Berlatih merencanakan keuangan, bisa mengambil cara kuno. Saat masak ambil secangkir kecil beras, sesendok gula, sedikit minyak, sisihkan di wadah lain. Saat wadah penuh, tukar dengan bahan baru, dan yang disisihkan itu yang dipakai sedangkan yang baru disimpan.

B.     Pangan dari pekarangan.

Menanami sekitar rumah dengan tanaman konsumsi menggunakan media tanah, pasir, pot, hidroponik dan sebagainya sebagai sumber pangan.

  • 1.      Sumber vitamin dan mineral. Benih-benih sayuran yang cepat panen: kangkung, bayam, sawi, cabai, terong, tomat, kacang panjang, buncis dan sebagainya.
  • 2.      Sumber karbohidrat yang cepat panen: ubi jalar, singkong dsb (ini untuk yang punya lahan lebih luas)
  • 3.      Sumber protein bisa diambil dari ikan atau ayam atau ternak yang bisa dipelihara di sekitar rumah.

KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang memulai dengan mengumpulkan dan membagikan biji benih sayuran sejak April 2020. Sampai sekarang ini (10 Juni 2020) menerima 22 jenis tanaman sayur dari berbagai pihak yang sudah dibagikan ke 28 komunitas atau kelompok, sekitar 800an KK di 7 kabupaten/kota, kebanyakan di daerah Bandarlampung dan sekitarnya. Selain itu juga menerima dan membagikan box untuk kolam ikan dan polibag berbagai ukuran.

C.     Usaha kreatif.

Memulai atau meneruskan usaha-usaha kreatif, dengan berbagai model sesuai kebutuhan masyarakat sekarang. Beberapa teman mulai menggunakan dapur sebagai sarana produksi, bikin kue kering atau basah, lauk matang dan sebagainya lalu ditawarkan ke grup-grup atau medsos yang diikuti.

Misal para guru Growing Hope membuat aneka kue, ayam frozen, minuman sehat dan sebagainya di sela jam mengajar online untuk siswa berkebutuhan khusus. Beberapa penjahit kami libatkan ketika ada jaringan yang ingin berdonasi dan terlibat dalam gerakan sejuta masker untuk Lampung tapi ndak bisa menjahit sendiri. Mereka mengirimkan dana ke penjahit-penjahit itu sesuai harga yang disepakati dan masker yang jadi dikirim ke KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Komunitas Berkat Yakin oleh Gebe, mengambil kopi dan gula aren semut dari Ulubelu ditawarkan secara online di medsos. Seno seniman muda Metro menerima pesanan lukis wajah dengan berbagai harga variatif, termasuk pemesanan bingkainya. Iin Komunitas Dakocan menawarkan beras dan telur herbal dari pertanian diantar sendiri ke konsumen yang pesan tanpa tambahan ongkir. Komeng Liwa berkeliling door to door menawarkan kerajinan dari batok kelapa. Dan banyak contoh lain. Mungkin mereka sudah melakukannya sebelum wabah tapi mereka terus melakukannya dengan gigih di masa sekarang ini dengan berbagai cara kreatif.

D.    Komunal

Aksi mandiri tidak dilakukan tidak sendirian, tapi dalam komunitas, secara komunal. Mesti dalam semangat sosial, solidaritas, “saling…” Karena, tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan itu sendirian. Memilih membeli di warung tetangga daripada di mall itu juga menjadi aksi. Yang tidak bisa dipenuhi oleh warung sebelah baru ke toko besar.

Membangun solidaritas. Baksos sembako sangat baik, tapi kenapa tak diselipi kepedulian terhadap petani dan pelaku UKM sehingga bukan mi instan yang dibagi, tapi paket sayuran. Bukan membagikan tepung terigu tapi memasukkan pengganti beras dari lokal (ubi, singkong dsb), paket bumbu, makanan olahan rumah tangga dsb. Repot iya, tapi itulah kekuatan gerakan.

E.     Merawat Sumber Hidup

Masa pandemi ini adalah masa untuk latihan mawas diri. Kita berada dalam aliran deras kapitalisme juga konsumerisme yang semakin menjauhkan kita dari ‘sumber’. Misalnya sumber air, orang ndak tahu lagi sumur sebagai sumber air minum, cara merawatnya dan sebagainya karena selama ini langsung terima gallon. Gallon tak ada teriak-teriak. Ndak tahu sumber protein ikan, asal buang sampah saja di sungai dan laut sehingga sampah itu tak diketahui masuk perut sendiri. Atau tak ngerti banyaknya obat yang masuk tambak atau tanah, yang seharusnya tak perlu. Wabah ini mesti jadi latihan kita untuk mawas diri, mulai sadar mendekat mengenali sumber-sumber hidup, dan merawatnya demi kita sendiri.

F.     Menyebarkan semangat itu ke semua orang.

Jangan menyimpan semangat sendiri untuk diri sendiri. KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang membuka diri bekerjasama dengan banyak lembaga media untuk menyebarkan semangat ini, seperti bincang santai di chanel Komsos Keuskupan Tanjungkarang, menyebarkan informasi kepada para jurnalis berbagai media, menggunakan medsos dan sebagainya.

Sebuah keyakinan menjadi dasar atas aksi-aksi ini. Bahwa pandemi kali ini memberi kesempatan kepada kita untuk mengelola alam lingkungan dengan baik. Bukan hanya terlibat menjaga kelangsungan hidup setiap manusia, tapi juga mewujudkan tanggung jawab manusia untuk mengelola alam semesta supaya bisa dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia tanpa kecuali (bdk. Laudato Si art. 93). Cakupan tanggung jawab bukan hanya kepada sesama yang hidup sekarang ini, bahkan meliputi generasi manusia yang akan datang. Tanggung jawab ini mengandaikan terbangunnya solidaritas dari mereka yang telah tercukupi hidupnya untuk mau berkorban atau repot sedikit/banyak bagi kelayakan hidup orang-orang lain yang kekurangan, yang membutuhkan bantuan.

Suara yang baik harus diperdengarkan supaya suara yang jelek atau jahat tidak mendominasi. “Bila yang baik, tak mau bicara, yang buruk tertawa…” (Holaspica, lagu Naik ke Laut).

 

PENUTUP

Negara tidak punya sistem yang memadai untuk mengatasi Covid 19 maupun menangani semua dampaknya dalam bidang apapun. Saya memilih tidak mati konyol karena tidaksiapan sistem Negara kita, demikian juga jangan sampai ada orang yang terpuruk menjadi korban karena Covid19, ketidaksiapan semua pihak, tak adanya kebijakan yang mengakomodir semua maupun seluruh kelalaian yang muncul karena ketidaktahuan. Masyarakat mesti mandiri, tidak mungkin mengandalkan diri pada bantuan sosial dari manapun. Mengumpulkan benih dan membagikannya hanyalah contoh kecil tidak menggantungkan diri pada nasi kotak atau paket sembako atau bantuan dana tunai.

Jadi, mari melakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri, bersama dengan keluarga, komunitas, dan terus menyebarkan lingkar pengaruh ini hingga ke masyarakat luas. Negara harus mendukung usaha-usaha baik semacam ini walau kita tak berteriak di parlemen maupun jalanan, karena aksi-aksi ini berdampak konkret bagi kita, bagi masyarakat. Salah satu bentuk perlindungan Negara adalah membuat kebijakan yang menjamin keamanan seluruh rakyat termasuk keamanan pangan.

*

 

Ch. Dwi Yuli Nugrahani, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang

Badan Pengurus Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI

Pembina Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) Lampung

Pembina Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL)

Wakil Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Provinsi Lampung

Koordinator Gerakan Sejuta Masker untuk Lampung

 



Thursday, June 18, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (1): Mengumpulkan dan Membagikan benih

Masuk bulan April 2020, keluhan dampak pandemi Covid19 semakin banyak. Bukan hanya tentang minimnya sarana perlindungan diri tapi dalam bidang-bidang yang lain. Virus covid 19 memberikan dampak ekonomi yang tidak sedikit. Banyak pekerja terpaksa dirumahkan, diPHK, dipotong gajinya, terpaksa menutup tempat usaha, tidak bisa menjalankan usaha dengan normal, kerugian terus terjadi dan sebagainya. Dalam situasi seperti itu, keluarga-keluarga harus bertahan hidup dengan pemenuhan kebutuhan pokok primer yang tak mungkin ditunda.

Alternatif
yang bisa dilakukan:

-        1. Menanami sekitar rumah dengan tanaman konsumsi menggunakan media tanah, pot, hidroponik dan sebagainya.

-         2. Memulai usaha kreatif, online, dengan berbagai model.

Tahap pertama, sembari di rumah saja, pilihan yang pertama bisa dibuat. Mulai mengumpulkan wadah-wadah yang bisa dipakai untuk media tanam, mencari tanah yang subur dan pupuk organik, mencari benih-benih yang bisa panen dengan cepat.

Untuk ini mesti saling bantu, saling berbagi kebutuhan-kebutuhan:

1.       1. Polibag atau wadah-wadah bekas

2.       2. Pupuk kandang atau pupuk jenis apa pun

3.       3. Benih-benih sayuran yang cepat panen: kangkung, bayam, sawi, cabai, terong, tomat, kacang panjang, buncis dan sebagainya.

4.       4. Bibit untuk karbohidrat yang cepat panen: ubi jalar, singkong dsb (ini untuk yang punya lahan lebih luas)

5.       5. Benih ikan atau anakan ayam.

Dan menyebarkan semangat ini ke banyak orang. Ini yang kemudian kami lakukan. Mengumpulkan benih-benih dan membagikannya ke orang-orang yang membutuhkannya.