Nyedaki dina riyaya, aku nyempetne blanja kanggo keperluan lebaran. Kepentingane akeh. Kapisan, kudu blanja kanggo wong-wong kinasih. Masiyo ora akeh yo icak-icake ana THR sithik, khususe kanggo Wawak. Kapindho, yen nyedaki lebaran ki warung-warung cedhak omah podho tutup. Akeh sing mudik, dadi kudu ana persiapan barang-barang kebutuhan sadina-dina.
Katelu, masiyo aku ora nganakake open house, aku tetep nyiapne cemilan. Paling ora ya kanggo aku dhewe, anak-anak lan bapake. Yen ana tamu sing ndayoh ben ra kakehan wirange, tetep ana kopi teh karo kanca-kancane.
Dina iki aku blanja dikancani bojoku lan anak wedokku. Iya, pancen dudu anak kandung tapi dheweke ki yo tetep anakku. Dheweke nyeluk aku nganggo panggilan mesra :"Ibuk." Iku wis pakulinane kawit biyen soko jaman dheweke isih blajar ngomong.
Sing blaik ki, cah ayu iki yen nyeluk bojoku nganggo sebutan: "Oom." Lha, pernah pas biyen takjak metu wong telu, mangan nasi goreng neng daerah Way Halim, dheweki ki ndusel aku nyeluki ibuk, mari ngono lha kok malah bengak-bengok ganti nyeluki bojoku sing isih neng parkiran:"Oom, oom!"
Wong-wong sing neng sekitarku podho nyawang. Mungkin pikire ibuke cah ethes iki lagi mangan bareng karo oom-oom. Halahhh...
Lha blaen tenan, iki mau yo kelakon. Pisan-pisan dheweke nggeret aku karo nyeluk: "Ibuk, ibuk..." Terus lanjut tuding-tuding rono-rene nyeluk bojoku: "Oom, omm..."
Jan tenan kok. Takpites irunge: "Ojo kenceng-kenceng hoii..." Mas Hendro cengar-cengir malah ngguyoni aku:"Ibuke lagi blanja karo oom-oom. Hihihi..."
Sunday, May 26, 2019
Saturday, May 25, 2019
Puisi Yuli Nugrahani: MENGUJIMU 2
MENGUJIMU 2
Ujian telah selesai.
Aku menambahkan beberapa hal ini:
Kau bukan suamiku lagi
saat penghinaan tumbuh dalam kata-kata
saat kau menyimpan kesalahan-kesalahan
saat tak ada pembenaran selain anggapan.
Aku menambahkan ini supaya dimengerti:
Kau bukan suamiku lagi
ketika jelatang kau tumbuhkan pada telapak tangan
ketika kau sepuh kepala dengan ingatan salah
ketika tak ada penerimaan tetapi tuntutan.
Aku menambahkan kekuatan niatku:
Kau bukan suami lagi
dan aku tak akan membela diri.
Kau bukan suami lagi
maka aku menjadi aku lagi,
bukan istri, bukan duri,
bukan seperti yang kau pikir
atau kau hakimi.
Ujian telah selesai.
Aku menambahkan beberapa hal ini:
Kau bukan suamiku lagi
saat penghinaan tumbuh dalam kata-kata
saat kau menyimpan kesalahan-kesalahan
saat tak ada pembenaran selain anggapan.
Aku menambahkan ini supaya dimengerti:
Kau bukan suamiku lagi
ketika jelatang kau tumbuhkan pada telapak tangan
ketika kau sepuh kepala dengan ingatan salah
ketika tak ada penerimaan tetapi tuntutan.
Aku menambahkan kekuatan niatku:
Kau bukan suami lagi
dan aku tak akan membela diri.
Kau bukan suami lagi
maka aku menjadi aku lagi,
bukan istri, bukan duri,
bukan seperti yang kau pikir
atau kau hakimi.
Friday, May 24, 2019
Bapakku Ndak Galak
Saat aku ke ruang atas kantorku ketemu Rm. Bambang dan Sr. Fidelis, entah gimana ujung pangkalnya ngobrol ngalor ngidul, eh kok nyandak cerito tentang bapak Sam, dan aku spontan menggambarkan pak Sam yang galak pada saat aku masih kecil. Disiplin tinggi bahkan pernah nyabet pakai gagang kemocing.
Hmmm, begitu sampe di ruanganku sendiri aku mikir lagi tentang bapakku ini. Pak Sam, apakah segalak yang sudah kuceritakan itu? Bahwa dulu aku termasuk paling takut sama bapak di banding orang-orang lain ya memang iya. Tapi aku inget aku juga dimanja. Dulu aku suka tidur di belakang pantat bapak kalau bapak masih kerja di ruang tamu. Lalu pura-pura tidur biar digendong masuk kamar. Aku juga suka aroma bapak yang kental bau asap rokok. Malah dulu aku sering nglelesi bekas rokok bapak untuk kusimpan, kucium-cium, kuhisap-hisap. Kalau bapak tak ada di rumah ya nyari-nyari di tempat bapak biasa duduk, atau biasa bekerja.
Jadi kemudian aku harus mengoreksi yang sudah kukatakan pada obrolan parikeno tadi. Bapakku ndak galak. Malah sangat baik. Dan sejak aku lulus SMA, bapaklah teman diskusi tentang segala hal. Pelindung nomor satu. Bahwa sekarang sudah tidak banyak ngobrol, aku tetap mengingat beberapa prinsip yang sudah bapak tanamkan dengan segala cara.
Soal disiplin ya, itulah Pak Sam. Orang sosial super sosial, ya memang itulah bapak. Soal tampil di depan umum, bapaklah guruku yang pertama. Juga tentang seni apa pun, bapaklah yang menyemai keberanian dalam diriku untuk kukembangkan.
Tadi pagi ibu mengirim pesan lewat WA sedang berada di rumah sakit Baptis Kediri, kontrol rutin bersama bapak dan mereka mendapat nomor antrian berurutan ke dokter jantung. Aku tahu situasi rumah sakit itu dan bagaimana mereka akan menjalani hari ini di rumah sakit itu. Hatiku ikut bersama mereka. Jadi kangen Kediri, kangen pak Sam juga ibu Titik, juga segalanya yang ada di sekitarnya.
Hmmm, begitu sampe di ruanganku sendiri aku mikir lagi tentang bapakku ini. Pak Sam, apakah segalak yang sudah kuceritakan itu? Bahwa dulu aku termasuk paling takut sama bapak di banding orang-orang lain ya memang iya. Tapi aku inget aku juga dimanja. Dulu aku suka tidur di belakang pantat bapak kalau bapak masih kerja di ruang tamu. Lalu pura-pura tidur biar digendong masuk kamar. Aku juga suka aroma bapak yang kental bau asap rokok. Malah dulu aku sering nglelesi bekas rokok bapak untuk kusimpan, kucium-cium, kuhisap-hisap. Kalau bapak tak ada di rumah ya nyari-nyari di tempat bapak biasa duduk, atau biasa bekerja.
Jadi kemudian aku harus mengoreksi yang sudah kukatakan pada obrolan parikeno tadi. Bapakku ndak galak. Malah sangat baik. Dan sejak aku lulus SMA, bapaklah teman diskusi tentang segala hal. Pelindung nomor satu. Bahwa sekarang sudah tidak banyak ngobrol, aku tetap mengingat beberapa prinsip yang sudah bapak tanamkan dengan segala cara.
Soal disiplin ya, itulah Pak Sam. Orang sosial super sosial, ya memang itulah bapak. Soal tampil di depan umum, bapaklah guruku yang pertama. Juga tentang seni apa pun, bapaklah yang menyemai keberanian dalam diriku untuk kukembangkan.
Tadi pagi ibu mengirim pesan lewat WA sedang berada di rumah sakit Baptis Kediri, kontrol rutin bersama bapak dan mereka mendapat nomor antrian berurutan ke dokter jantung. Aku tahu situasi rumah sakit itu dan bagaimana mereka akan menjalani hari ini di rumah sakit itu. Hatiku ikut bersama mereka. Jadi kangen Kediri, kangen pak Sam juga ibu Titik, juga segalanya yang ada di sekitarnya.
Jawaban Yuli Nugrahani (9): Bagaimana Pendapatmu tentang Hasil Pemilu 2019?
Aku senang Jokowi menang, walau menang tipis dibandingkan Prabowo. Salah satu alasan adalah dibandingkan dengan Prabowo dan para pendukungnya, aku menganggap Jokowi dan para mendukungnya memberi peluang lebih besar untuk memberikan ruang kebebasan (penghormatan) pada orang minoritas. Yeahhh, aku tahu keduanya punya dosa-dosa salah dan noda, tapi dalam satu point tadi, aku lebih percaya pada Jokowi dan pendukungnya. Kelompok minoritas lebih merasa nyaman berada di kubu itu.
Siapa kelompok minoritas di Indonesia yang kumaksud dalam konteks ini? Minoritas agama, itu salah satunya. Minoritas ras, itu juga termasuk. Hmmm, bukan berarti Jokowi bersih soal itu, tidak. Banyak salahnya juga, tapi dengan agenda tersembunyi para pendukung Prabowo, itu jelas mengkuatirkan bagi kelompok minoritas agama dan ras.
Jadi aku senang Jokowi yang muncul mendapat suara terbesar tahun ini. Semoga Jokowi memegang kepercayaan ini dengan baik dan kuat selama lima tahun mendatang, termasuk mengoreksi kesalahan dari periode masa sebelumnya.
Dalam beberapa waktu mendatang, pasti masih akan muncul kericuhan soal ketidak puasan hasil pemilu. Bagiku wajar saja. Kalau memang nanti ada pelanggaran atau kecurangan, pasti akan ada solusi penyelesaiannya sesuai yang seharusnya. Yang membuatku cukup puas, apa yang sudah kulihat dan kualami mulai dari saat undangan pemilihan hingga penghitungan suara di TPSku, yang awalnya sempat kucurigai karena kok panitianya orang-orang yang itu-itu saja (yang kutahu mereka bukan pendukung Jokowi, dan pemilu yang lalu Jokowi kalah di tempatku ini).
Undangan diterima keluargaku beberapa hari sebelum pemilu, aku sendiri yang menerimanya. Anakku sebagai pemilih pemula sudah tercatat dan mendapatkan undangan. Sip. Lalu saat pemilihan, beberapa saksi dari calon sudah hadir pagi-pagi banget, dan kami dilayani dengan ok. Saat penghitungan masyarakat juga ikut hadir menjadi saksi hasilnya dipublish ke grup RT sehingga aku juga bisa mendapatkan rekapitulasinya utuh. Nah. Ini proses yang sangat ok. Aku bisa mengecek di portal KPU hasil yang sama seperti yang kulihat di TPS. Jadi semua aman.
Aku berharap gesekan-gesekan yang tersisa usai pengumuman hasil akhir pemilu segera selesai dengan proses yang baik. Semoga semua makluk berbahagia juga dengan seluruh proses yang sedang berlangsung ini.
Siapa kelompok minoritas di Indonesia yang kumaksud dalam konteks ini? Minoritas agama, itu salah satunya. Minoritas ras, itu juga termasuk. Hmmm, bukan berarti Jokowi bersih soal itu, tidak. Banyak salahnya juga, tapi dengan agenda tersembunyi para pendukung Prabowo, itu jelas mengkuatirkan bagi kelompok minoritas agama dan ras.
Jadi aku senang Jokowi yang muncul mendapat suara terbesar tahun ini. Semoga Jokowi memegang kepercayaan ini dengan baik dan kuat selama lima tahun mendatang, termasuk mengoreksi kesalahan dari periode masa sebelumnya.
Dalam beberapa waktu mendatang, pasti masih akan muncul kericuhan soal ketidak puasan hasil pemilu. Bagiku wajar saja. Kalau memang nanti ada pelanggaran atau kecurangan, pasti akan ada solusi penyelesaiannya sesuai yang seharusnya. Yang membuatku cukup puas, apa yang sudah kulihat dan kualami mulai dari saat undangan pemilihan hingga penghitungan suara di TPSku, yang awalnya sempat kucurigai karena kok panitianya orang-orang yang itu-itu saja (yang kutahu mereka bukan pendukung Jokowi, dan pemilu yang lalu Jokowi kalah di tempatku ini).
Undangan diterima keluargaku beberapa hari sebelum pemilu, aku sendiri yang menerimanya. Anakku sebagai pemilih pemula sudah tercatat dan mendapatkan undangan. Sip. Lalu saat pemilihan, beberapa saksi dari calon sudah hadir pagi-pagi banget, dan kami dilayani dengan ok. Saat penghitungan masyarakat juga ikut hadir menjadi saksi hasilnya dipublish ke grup RT sehingga aku juga bisa mendapatkan rekapitulasinya utuh. Nah. Ini proses yang sangat ok. Aku bisa mengecek di portal KPU hasil yang sama seperti yang kulihat di TPS. Jadi semua aman.
Aku berharap gesekan-gesekan yang tersisa usai pengumuman hasil akhir pemilu segera selesai dengan proses yang baik. Semoga semua makluk berbahagia juga dengan seluruh proses yang sedang berlangsung ini.
Tuesday, May 21, 2019
KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang Peringati Harkitnas 2019 dengan Bicara Gender
![]() |
| Maria Torra Pratiwi memaparkan hasil pernas SGPP KWI |
Tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Keluarga sebagai Citra Allah dihadiri oleh 20 orang dari berbagai kelompok dan kongregasi yang ada di sekitar Bandarlampung, Lampung Selatan dan Pringsewu. Diskusi diawali dengan pemaparan hasil pertemuan nasional penggiat gender dan pemberdayaan perempuan KWI yang sudah digelar bulan lalu oleh utusan dari Lampung, Maria Torra Pratiwi dari Margoagung.
Secara umum Torra menceritakan proses yang terjadi dalam pernas disertai dengan hasil-hasil yang didapat dalam pernas melalui diskusi kelompok, pleno, perjumpaan dengan narasumber maupun dengan peserta lain dari seluruh Indonesia. Dinyatakan bahwa masalah-masalah ketidakadilan gender masih saja terjadi dalam masyarakat Indonesia dan muncul dalam berbagai bentuk. Walau berbeda sesuai dengan situasi daerah masing-masing, ada kemiripan masalah yang muncul dari berbagai keuskupan yang hadir dalam pertemuan ini.
![]() |
| Sebagian peserta diskusi. |
Melalui beberapa rekomendasi yang sudah disuarakan dalam pernas, diskusi selanjutnya yang dipandu oleh Yuli Nugrahani penanggungjawab KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang memunculkan situasi khas yang ada di Lampung, termasuk geliat yang sudah dilakukan oleh kelompok-kelompok yang ada. Semuanya sepakat masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk sampai pada keadilan dan kesetaraan gender.
Diskusi singkat ini akan dilanjutkan lagi dalam perjumpaan yang berikutnya dengan mendalami Surat Gembala KWI 2004 tentang Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah. Walau belum ada rencana konkrit, tawaran ini disikapi dengan positif oleh para peserta.
Friday, May 17, 2019
Sepanjang Sore di Studio Joni SKA
Sore kemarin kami lewati dengan tidak biasa. Untuk kepentingan buku kenangan sekolah, kami bikin janji dengan Om Joni SKA, di studionya. Janji yang kami buat beberapa hari sebelumnya itu kami tepati dengan datang persis pada pukul 19.00 sampai di studionya yang imut di Jalan Sam Ratulangi, Gang Gelatik, dekat RSU Abdul Muluk, Bandarlampung.
Aku sudah menyiapkan baju batik seragaman untuk kami berempat. Baju batik dari Aqordia Batik khas batik Pekalongan bermotif daun-daun. Toko batik ini terkenal dengan baju-baju batik yang murah meriah. Boleh pesan juga untuk jumlah banyak dengan potongan harga yang lumayan. Yaaa, memang kualitas yang sedang-sedang saja, tapi untuk kepentingan foto, lumayan juga nih batik.
Sesi foto ini utamanya untuk membuat foto keluarga, tapi kami minta juga untuk membuatkan kami foto close up masing-masing. Agak-agak kaku karena kami ndak biasa pose dengan sengaja begitu tapi untung Om Joni sangat sabar memandu gaya kami masing-masing hingga ketemu juga model yang oke keren.
Om Joni, selain punya studio foto dan video juga aktif dalam seni budaya. Setahuku menjadi ketua TCM, Turangga Cipta Manunggal, untuk reog dan jaranan. Selain itu juga mimpin paguyupan reog dan jatilan se Lampung, lupa namanya apa. Dari cerita-ceritanya, itu aktifitas keren lintas budaya lintas agama dan bermanfaat bagi masyarakat Lampung yang beragam. Selain menggeluti seni budaya, kelompok itu juga terlibat dalam masalah-masalah sosial Indonesia seperti membuat baksos untuk korban bencana dan sebagainya.
Hmmm... aku tak sabar nunggu hasil foto studio ini. Entar kushare deh hasilnya kalau sudah selesai edit dan cetak. Sementara kusertakan disini proses pemotretan yang sudah kami lalui. Makasih banyak ya, Om Joni. Kayaknya suatu ketika nanti mau lagi difoto-foto model begini untuk kostum yang berbeda event yang berbeda.
Aku sudah menyiapkan baju batik seragaman untuk kami berempat. Baju batik dari Aqordia Batik khas batik Pekalongan bermotif daun-daun. Toko batik ini terkenal dengan baju-baju batik yang murah meriah. Boleh pesan juga untuk jumlah banyak dengan potongan harga yang lumayan. Yaaa, memang kualitas yang sedang-sedang saja, tapi untuk kepentingan foto, lumayan juga nih batik.
Sesi foto ini utamanya untuk membuat foto keluarga, tapi kami minta juga untuk membuatkan kami foto close up masing-masing. Agak-agak kaku karena kami ndak biasa pose dengan sengaja begitu tapi untung Om Joni sangat sabar memandu gaya kami masing-masing hingga ketemu juga model yang oke keren.
Om Joni, selain punya studio foto dan video juga aktif dalam seni budaya. Setahuku menjadi ketua TCM, Turangga Cipta Manunggal, untuk reog dan jaranan. Selain itu juga mimpin paguyupan reog dan jatilan se Lampung, lupa namanya apa. Dari cerita-ceritanya, itu aktifitas keren lintas budaya lintas agama dan bermanfaat bagi masyarakat Lampung yang beragam. Selain menggeluti seni budaya, kelompok itu juga terlibat dalam masalah-masalah sosial Indonesia seperti membuat baksos untuk korban bencana dan sebagainya.
Hmmm... aku tak sabar nunggu hasil foto studio ini. Entar kushare deh hasilnya kalau sudah selesai edit dan cetak. Sementara kusertakan disini proses pemotretan yang sudah kami lalui. Makasih banyak ya, Om Joni. Kayaknya suatu ketika nanti mau lagi difoto-foto model begini untuk kostum yang berbeda event yang berbeda.
Thursday, May 16, 2019
Kopi Pahit Legit Menggigit
Sekarang aku punya cara ngopi yang aman bagi tubuhku. Bagaimana itu kulakukan? Ini beberapa pointnya:
1. Ngopi cukup secangkir kecil tiap harinya. Satu kali saja. Cukup.
2. Ngopinya tanpa gula. Pahitan saja. Kopi hitam pahit, terasa legit menggigit.
3. Pilih kopi bubuk, bukan kopi instan. Itu kucermati khusus kalau beli kopi saset.
4. Ngopinya sebisa mungkin pada jam yang sama. Kalau senin - jumat pada jam 10.00, rutin. Nah kalau sabtu - minggu bolehlah pada malam hari atau pagi hari.
Gituhhh... Dari situlah aku mendapat manfaat yang terasa banget di tubuh. Tekanan darah ndak melonjak, kolesterol stabil, gula darah aman, vertigo tidak kambuh, badan jadi seger, otak buger. Begitulah.
Nah dari browsing aku nemu beberapa manfaat kopi pahit tanpa gula. Cocok untuk menguatkan cara ngopiku ini. Ini sebagian manfaatnya:
1. Ngopi cukup secangkir kecil tiap harinya. Satu kali saja. Cukup.
2. Ngopinya tanpa gula. Pahitan saja. Kopi hitam pahit, terasa legit menggigit.
3. Pilih kopi bubuk, bukan kopi instan. Itu kucermati khusus kalau beli kopi saset.
4. Ngopinya sebisa mungkin pada jam yang sama. Kalau senin - jumat pada jam 10.00, rutin. Nah kalau sabtu - minggu bolehlah pada malam hari atau pagi hari.
Gituhhh... Dari situlah aku mendapat manfaat yang terasa banget di tubuh. Tekanan darah ndak melonjak, kolesterol stabil, gula darah aman, vertigo tidak kambuh, badan jadi seger, otak buger. Begitulah.
Nah dari browsing aku nemu beberapa manfaat kopi pahit tanpa gula. Cocok untuk menguatkan cara ngopiku ini. Ini sebagian manfaatnya:
1. Sumber Antioksidan dan Memenuhi Nutrisi Tubuh
Kopi mengandung antioksidan dan berbagai nutrisi seperti kalium, niasin, kromium, magnesium dan vitamin E. Kromium memang sangat baik untuk tubuh karena bisa mengendalikan kadar gula dalam darah. Selain itu magnesium dan kromium juga bisa menurunkan potensi kolesterol buruk dalam darah. Konsumsi minuman kopi tanpa gula secara rutin juga bisa menurunkan resiko terkena penyakit akut karena kandungan flavonoid yang tinggi dalam kopi.
2. Kopi Mengurangi Kerusakan Fungsi Kognitif pada Lansia
Minum kopi pahit tanpa gula juga bisa mempertahankan fungsi syaraf motorik dan sensorik yang biasanya terjadi pada orang tua. Minum kopi hitam secara teratur telah terbukti mengurangi semua jenis resiko penuaan yang berhubungan dengan syaraf.
3. Mengurangi Potensi Diabetes
Kopi pahit tanpa gula jelas mengurangi potensi kenaikan kadar gula dalam darah. Kopi juga berfungsi untuk melancarkan proses metabolisme sehingga membuat produksi hormon insulin bisa dilakukan sesuai kebutuhan tubuh. Orang yang bisa mengkonsumsi kopi hitam secara rutin bisa meningkatkan produksi insulin dan menyeimbangkan hormon yang mengatur produksi insulin.
4. Mengurangi Resiko Kanker
Katanya kopi hitam bisa melindungi dari serangan kanker prostat, kanker usus besar, kanker hati dan kanker payudara. Minum kopi hitam tanpa campuran gula dan zat lain bisa meningkatkan zat aktif yang bisa memerangi semua potensi atau bahan asing pembentuk kanker.
5. Kopi Membuat Tubuh Lebih Bugar
Katanya minum kopi dengan cara yang benar bisa membuat tubuh menjadi lebih bugar. Minum kopi secara rutin akan membuat kesehatan otot menjadi lebih kuat.
6. Bisa Mendukung Diet
Kopi hitam tanpa gula akan menjadi minuman yang rendah kalori. Nah, cocok kan.
7. Mendukung Kesehatan Tulang
Kalsium yang terkandung dalam kopi bisa meningkatkan kesehatan tulang dan mencegah semua jenis keluhan pada tulang baik untuk wanita dan pria.
8. Menjaga Kesehatan Jantung
Kopi mengandung kalium yang berfungsi untuk menguatkan otot-otot jantung dan menjaga agar detak jantung cepat normal.
9. Kopi Membuat Anda tetap Aktif
Kafein akan memicu sistem kerja otak sehingga Anda tidak akan merasa mengantuk atau lelah.
10. Kopi Meningkatkan Produktifitas
Kopi memang bahan yang sangat baik untuk membantu proses pembakaran lemak dalam tubuh dan bisa meningkatkan produktifitas. Kafein juga bisa mengirimkan efek stimulan pada syaraf pusat sehingga bisa meningkatkan proses oksidasi lemak dan melancarkan proses metabolisme.
Namun, tentu saja ada efek buruknya juga, ini perlu dicatat juga ya, seperti :
1. Kopi bisa menyebabkan gangguan fungsi kelenjar adrenal terutama bagi orang yang sudah memiliki masalah dengan kelenjar adrenal.
2. Kopi bisa menyebabkan masalah atau efek diuretik jadi orang yang sudah memiliki masalah dengan keseimbangan elektrolit dalam tubuh tidak disarankan untuk minum kopi.
3. Konsumsi kopi yang dicampur gula secara berlebihan bisa menyebabkan masalah kesehatan yang ditandai dengan sakit perut, detak jantung tidak teratur, kepala pusing dan berbagai gejala yang membuat tubuh lemah.
4. Konsumsi kopi lebih dari 5 cangkir dalam sehari bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti kurang peka lingkungan, sakit perut, gelisah, detak jantung dan menyebabkan gangguan kecemasan.
5. Minum kopi yang mengandung latte atau gula bisa menyebabkan peningkatkan kolesterol.
Wednesday, May 15, 2019
Hiburan Baru itu ya Seno Nugroho
![]() |
| Foto dari internet. |
Seno Nugroho itu siapa hayooo... Orang ini bikin aku termehek-mehek tiap malam. Kalau malam sudah menyelimuti Hajimena, secangkir kopi hitam sudah tersaji, dia ini yang menemaniku dengan setia hingga aku ngakak-ngakak. Hehehe....
Seno Nugroho kalau sudah nyabetke wayang, wis lah. Dunia seakan terhenti terfokus ke dia saja. Tapi ya aku senengnya ambil bagian-bagian tertentu dari pertunjukannya, misal pas goro-goro, atau pas perang (yang seringkali diselewengkan jadi bukan perang malah lucu), atau pas Limbukan.
Dari hasil browsingku, Seno Nugroho lahir di Yogyakarta, pada 23 Agustus 1972, lulus dari sekolah Menengah Kesenian Indonesia, Yogyakarta, pada 1991. Seno dikaruniai seorang anak putri, tinggal di Jl. Mangunsarkoro No. 52, Yogyakarta. Sudah mendalang sejak umur 10 tahun karena ayahnya dalang. Kelompok karawitannya bernama “Wargo Laras”.
Nah, Seno ini yang paling menarik kalau sudah pentas bersama sinden-sinden lucu sepertia April, Mimin, atau Elisha. Tapi aku juga tetap seneng kalau dia bersama sinden lain seperti Tatin, Orisha dan lain-lainnya. Dari hiburan baru inilah aku jadi diingatkan pada kisah-kisah wayang yang dulu pernah familier dalam hidupku di masa kecil. Jadi sadar bahwa aku suka nonton wayang, lebih-lebih yang tidak terlalu ngikuti pakem.
Tuesday, May 14, 2019
Febrilia Ekawati: Mengubah Hal Negatif Menjadi Positif
![]() |
Nah, siapa contoh perempuan hebat yang seperti itu? Aku suka hati merujuk pada si pemilik komentar itu, Febrilia Ekawati, perempuan hebat yang sekarang ini menjadi Direktur Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS). Untuk dialah tulisan ini kubuat seperti janjiku duluuu, untuk menulis satu per satu orang yang ada dalam Jaringan Perempuan Padmarini (JPP). Untuk ingatan, yang pernah kutulis di blog ini adalah Rinda Gusvita dan Holaspica. Masih belasan orang lain yang satu per satu akan kutulis. Nah, Febri sayang disayang ini yang sekarang harus kuulik.
Aku mengenal Febri pertama kali sejak lima atau enam tahun yang lalu. Gara-garanya sedikit rumit, yaitu seorang temannya si Julie dari Pontianak kebetulan juga temanku, dan entah bagaimana muncullah komunikasi yang membuat Febri datang ke rumah pada suatu malam. Dia sampai rumah setelah nyasar entah ke mana-mana, lalu kami ngobrol ngalor ngidul. Tukeran buku. Aku memberinya buku cerpen Daun-daun Hitam dan dia memberiku buku-buku tentang air (?), lupa judulnya apa saja. Entar kucek di rakku.
Usai perjumpaan itu, obrolan bersambung lewat SMS, FB dan sebagainya. Lalu tiba-tiba (hihihi) ada ajakan-ajakan bertemu juga dengan beberapa orang lain yang kemudian memunculkan Jaringan Perempuan Padmarini sebagai salah satu sarana paling kuat yang membuat kami mesti lebih sering bertemu untuk urusan apapun.
Dari awal aku mengenalnya, aku sudah mendapat kesan yang kuat tentangnya, yaitu bahwa orang ini pemberani dalam sikap dan ucap, punya cara komunikasi yang sangat ok untuk merangkul siapapun, dan otak serta hatinya punya isi. Aku sering berandai-andai orang macam dialah yang cocok menjadi Gubernur Lampung. Serius ini. Tiga hal itu sangat penting untuk figur gubernur Lampung dalam mengatasi masalah-masalah penting mendesak yang melingkupi masyarakat dan wilayah Lampung. Jadi kalau dia mau nyalon gubernur Lampung aku akan jadi timsesnya. Serius.
Semakin lama kenal dia semakin aku paham dia memberikan dedikasinya yang tinggi untuk pekerjaannya. Ketika aku diundang dalam acara buka bersama YKWS kemarin, Senin 13 Mei 2019 di kantor YKWS, puluhan orang hadir memenuhi undangannya. Banyak ragam orang dari berbagai instansi, komunitas dan kelompok. Beraneka ragam orang. Dan 'warna' Febri yang serius dan santai itu benar-benar muncul dalam acara bukber itu. Sehingga kultum buka puasanya bukan petikan ceramah dari awang-awang tapi rentetan diskusi tentang iman yang mendarat di bumi Lampung, tentang masalah sanitasi dan bagaimana masalah-masalah itu mestinya ditanggapi. Hmmm, mungkin banyak orang tak setuju model seperti itu, tapi aku menganggap inilah yang tepat sehingga setelah bukber ini, setiap orang semakin diajak untuk menyatakan puasanya bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi bagi banyak orang secara konkret.
Nah, di bagian terakhir aku mau kembali pada pernyataan di atas tadi. Febri telah menjadi perempuan hebat karena dia entah disadari atau tidak telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, orang muda, orang tua, bahkan anak-anak (aku tahu dia mudah dekat dengan anak-anak kalau dia mau) di manapun yang telah mengenalnya.
Love you, dear Febri. Tetap gembira menjalani hidup ya. Abaikan beruk-beruk, yuk makan jeruk-jeruk. Semua telah tersedia untuk kita reguk. Untuk melibati hidup yang semakin sejuk. Cemunguttt....
Saturday, May 11, 2019
Puisi Yuli Nugrahani: MENGUJIMU 1
MENGUJIMU 1
Sebuah kotak menggeletak antara aku dan dirimu, suamiku.
Setiap senyum muncul dari bibirmu, kotak itu terbuka
aku meraup senyummu, menyimpannya dalam kotak
dan memantrainya dengan senandung sajian.
(Istri melemparkan pandangan pada pucuk turi yang melambai
mengingat getah jelatang dan duri mawar yang berbelit
dalam setiap senyum suaminya. Dia mengusap dadanya yang iri
memuji-muji kebahagiaan bunga-bunga turi tanpa berkelit.)
Banyak pertanyaan yang kau luapkan walau tanpa suara
aku juga tak hendak menjawabnya selain terus duduk
di samping kotak, di sampingmu, menjaga kotak, menjagamu.
(Istri memandang wajah suaminya dengan tanpa rela
mengingat segala duga yang mengerdilkan sukma merdeka
yang mengikat hatinya sekecil seperjuta biji kemangi.)
Dalam kesadaran aku menunda kehadiran anak-anak keabadian
pangkuanku menjadi kekecewaan sepanjang abad
mengulang perbincangan tentang harga diri, kebohongan, ujian
dan aku memutuskan kelahiran tak harus secepatnya kuejan.
Ya, suamiku, aku telah sedang mengujimu.
Setengah merintih kukatakan, kau tak mampu melewatinya.
Yang kukatakan gagal adalah kau dan aku duduk berdampingan,
dengan sebuah kotak selalu ada antara kita.
(Istri merapikan kain sidomukti melilit kaki
memperbaiki goresan alis matanya, mempertahankan kotak itu
di sampingnya, di samping suaminya, antara mereka.
Lalu dia membasahi tenggorokannya bersiap untuk berteriak.)
Aku telah mengujimu, suamiku, dan kau gagal meriakkan hati
Aku memilih menyelesaikan tanggungjawab fanaku
kini menyiapkan pemakaman bagi tali temali gemuk kakiku.
(Istri menyeka bibirnya mendaraskan lelagu
yang dulu menemaninya setiap malam
dibiarkannya terbang.)
Sebuah kotak menggeletak antara aku dan dirimu, suamiku.
Setiap senyum muncul dari bibirmu, kotak itu terbuka
aku meraup senyummu, menyimpannya dalam kotak
dan memantrainya dengan senandung sajian.
(Istri melemparkan pandangan pada pucuk turi yang melambai
mengingat getah jelatang dan duri mawar yang berbelit
dalam setiap senyum suaminya. Dia mengusap dadanya yang iri
memuji-muji kebahagiaan bunga-bunga turi tanpa berkelit.)
Banyak pertanyaan yang kau luapkan walau tanpa suara
aku juga tak hendak menjawabnya selain terus duduk
di samping kotak, di sampingmu, menjaga kotak, menjagamu.
(Istri memandang wajah suaminya dengan tanpa rela
mengingat segala duga yang mengerdilkan sukma merdeka
yang mengikat hatinya sekecil seperjuta biji kemangi.)
Dalam kesadaran aku menunda kehadiran anak-anak keabadian
pangkuanku menjadi kekecewaan sepanjang abad
mengulang perbincangan tentang harga diri, kebohongan, ujian
dan aku memutuskan kelahiran tak harus secepatnya kuejan.
Ya, suamiku, aku telah sedang mengujimu.
Setengah merintih kukatakan, kau tak mampu melewatinya.
Yang kukatakan gagal adalah kau dan aku duduk berdampingan,
dengan sebuah kotak selalu ada antara kita.
(Istri merapikan kain sidomukti melilit kaki
memperbaiki goresan alis matanya, mempertahankan kotak itu
di sampingnya, di samping suaminya, antara mereka.
Lalu dia membasahi tenggorokannya bersiap untuk berteriak.)
Aku telah mengujimu, suamiku, dan kau gagal meriakkan hati
Aku memilih menyelesaikan tanggungjawab fanaku
kini menyiapkan pemakaman bagi tali temali gemuk kakiku.
(Istri menyeka bibirnya mendaraskan lelagu
yang dulu menemaninya setiap malam
dibiarkannya terbang.)
Friday, May 10, 2019
Masih Tentang Buku
Sehari kemarin setelah beberapa urusan yang salah satunya menulis blog tentang buku (klik sini) aku dan Mommy Retha mengunjungi Paul MEP di kediamannya di Hanura, sekitar 30 menit perjalanan by car. Pertama, aku memang sudah berjanji untuk datang dari beberapa saat lalu untuk melihat warisan Romo Jo. Romo Jo meninggalkan banyak buku dan Romo Paul menganggap mungkin aku tertarik pada buku-buku itu. Kedua, ini kesempatan untuk kencan dengan Mommy Retha yang pas banget dilakukan di sela-sela kesibukan kami berdua. Waktu yang pas. Ketiga, yaaaa, perjalanan ke Hanura memang mengasyikkan dengan siapa pun orang yang menemaniku. Melihat pantai sekilas-sekilas, mencium aromanya dan rumah Romo Paul yang sejuk mah selalu menyenangkan.
Dan inilah yang kudapatkan setelah sejam lebih ngobrol berpindah-pindah dari ruang tamu, teras, halaman. Buku-buku Romo Jo sangat mirip dengan bacaanku, itu yang kusadari kemudian. Memang sebelum meninggalnya, aku pernah juga masuk kamar Romo Jo dan meminjam beberapa bukunya. Dan ketika melihat-lihat lagi buku-buku itu, aku setengah terharu mengenang Romo Jo Gourdon, si tua yang baik itu. Jadi rindu ngobrol lagi dengannya, termasuk mengingat satu surat pendek terakhirnya sebelum dia sakit parah. Surat pendek yang kubalas pendek juga, yang kemungkinan jawabanku mengecewakannya. Maafkan aku yang lemah ini, Romo Jo. Baik-baik di surga bersama Penciptamu ya.
Setumpuk buku kupilih. Apa koment Romo Paul? Mau tahu? "Wah, banyak juga yang kau sukai." Aku tertawa. Beberapa buku yang sudah kumiliki tak kuambil. Beberapa buku yang lain aku tak ambil demi prioritas, hehehe, malu hati juga kalau kemaruk, padahal memang sungguh aku harus akui kalau ditawari buku, aku akan mengambil seluruh buku yang ditawarkan itu. Dalam hati aku sih berharap masih boleh mengambil buku-buku lain sisanya yang Romo Paul tak mau membacanya lagi. Huhuhu...
Pulang dari Hanura beberapa saat setelah magrip, aku dan Mommy Retha masih membawa beberapa bonus, termasuk kain dan baju Vietnam, juga berkat melimpah serta harapan bertemu lagi secepatnya setelah Romo Paul pulang dari cutinya ke Perancis tiga bulan lagi. Dan sepanjang jalan, obrolan kami menjadi lebih hangat dengan segala hal yang terkait dengan relasi-relasi dengan para romo yang baik itu.
Nah, aku menunggu saat untuk mulai membacanya satu per satu. Huaaahhhhh.....
Dan inilah yang kudapatkan setelah sejam lebih ngobrol berpindah-pindah dari ruang tamu, teras, halaman. Buku-buku Romo Jo sangat mirip dengan bacaanku, itu yang kusadari kemudian. Memang sebelum meninggalnya, aku pernah juga masuk kamar Romo Jo dan meminjam beberapa bukunya. Dan ketika melihat-lihat lagi buku-buku itu, aku setengah terharu mengenang Romo Jo Gourdon, si tua yang baik itu. Jadi rindu ngobrol lagi dengannya, termasuk mengingat satu surat pendek terakhirnya sebelum dia sakit parah. Surat pendek yang kubalas pendek juga, yang kemungkinan jawabanku mengecewakannya. Maafkan aku yang lemah ini, Romo Jo. Baik-baik di surga bersama Penciptamu ya.
Setumpuk buku kupilih. Apa koment Romo Paul? Mau tahu? "Wah, banyak juga yang kau sukai." Aku tertawa. Beberapa buku yang sudah kumiliki tak kuambil. Beberapa buku yang lain aku tak ambil demi prioritas, hehehe, malu hati juga kalau kemaruk, padahal memang sungguh aku harus akui kalau ditawari buku, aku akan mengambil seluruh buku yang ditawarkan itu. Dalam hati aku sih berharap masih boleh mengambil buku-buku lain sisanya yang Romo Paul tak mau membacanya lagi. Huhuhu...
Pulang dari Hanura beberapa saat setelah magrip, aku dan Mommy Retha masih membawa beberapa bonus, termasuk kain dan baju Vietnam, juga berkat melimpah serta harapan bertemu lagi secepatnya setelah Romo Paul pulang dari cutinya ke Perancis tiga bulan lagi. Dan sepanjang jalan, obrolan kami menjadi lebih hangat dengan segala hal yang terkait dengan relasi-relasi dengan para romo yang baik itu.
Nah, aku menunggu saat untuk mulai membacanya satu per satu. Huaaahhhhh.....
Thursday, May 09, 2019
Buku, Pokoke Buku!
Sampai di kantor setelah mengunjungi beberapa tempat di pagi ini, termasuk mengunjungi tersayang Sely ibu dir Damar yang lagi mau tiduran saja di DKT, aku duduk di kursi kantor langsung melihat tumpukan buku di meja kerjaku. Ini kenapa buku-buku macam gitu yang numpuk di mejaku ini ya?
Coba aku cek dulu, buku paling bawah adalah Kompendium Ajaran Sosial Gereja, terjemahan dari Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian terbitan Ledalero. Buku ini kayak kitab suciku yang kedua, jadi referensi untuk banyak hal dalam hidup dan kerjaanku, hmmm.... kukira sejak tahun 2009 atau 2010 sejak aku menjadi badan pengurus di KKPPMP KWI. Hadiah spesial dari orang spesial yang ternyata sangat berguna bagiku.
Buku kedua, kuning, itu masih sama urusan dengan buku sebelumnya. Ringkasan ASG juga dari Komisi PSE KWI. Lalu buku ketiga adalah Jurnal Perempuan pas ngambil tema Politik dan Keterwakilan Perempuan. Jurnal tua tapi kuambil sejak beberapa bulan lalu saat kampanye pemilu sedang hangat-hangatnya.
Buku keempat yang item itu fotokopian buku tua, Terompah Usang yang Tak Sudah Dijahit. Buku yang secara beruntung kudapat dari seorang pembaca blog karena aku teriak-teriak mengeluh pengin baca buku itu lagi sedang bukuku sendiri sudah lenyap entah kemana.
Buku kelima, adalah panduan untuk pendamping perempuan korban kekerasan. Aku membolak-balik lagi buku ini gegara beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan yang sempat mampir di panca inderaku. Buku tipis keenam adalah nota pastoral KWI 2018 tentang panggilan Gereja dalam hidup berbangsa. Iyalah, aku mesti baca-baca ini selama masa kampanye kemarin, biar dapat pegangan.
Buku ketujuh adalah buku garapanku bersama Tim Penjaga Obor GATKI tentang budaya hidup damai. Buku yang diluncurkan tahun lalu ini masih menyisahkan PR untuk dikerjakan. Tapi sementara tersuruk begitu saja di meja.
Nah buku paling atas ya buku yang paling akhir kudapatkan dari Klasika Lampung, tulisan-tulisan tentang pemikiran Gus Dur. Nah, nah, nah.
Buku-buku ini sedang jadi bacaanku akhir-akhir ini dan beruntung banget aku memilikinya sebagai referensi dan bahanku. Buku baruku memang langka karena aku sedang takut masuk toko buku. Taku tergoda menghabiskan ratusan ribu untuk buku sedang kebutuhan lain sedang mendesak. Huhuhu... Yang penting masih ada buku-buku di sekitarku. Buku, pokoke buku!
Coba aku cek dulu, buku paling bawah adalah Kompendium Ajaran Sosial Gereja, terjemahan dari Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian terbitan Ledalero. Buku ini kayak kitab suciku yang kedua, jadi referensi untuk banyak hal dalam hidup dan kerjaanku, hmmm.... kukira sejak tahun 2009 atau 2010 sejak aku menjadi badan pengurus di KKPPMP KWI. Hadiah spesial dari orang spesial yang ternyata sangat berguna bagiku.
Buku kedua, kuning, itu masih sama urusan dengan buku sebelumnya. Ringkasan ASG juga dari Komisi PSE KWI. Lalu buku ketiga adalah Jurnal Perempuan pas ngambil tema Politik dan Keterwakilan Perempuan. Jurnal tua tapi kuambil sejak beberapa bulan lalu saat kampanye pemilu sedang hangat-hangatnya.
Buku keempat yang item itu fotokopian buku tua, Terompah Usang yang Tak Sudah Dijahit. Buku yang secara beruntung kudapat dari seorang pembaca blog karena aku teriak-teriak mengeluh pengin baca buku itu lagi sedang bukuku sendiri sudah lenyap entah kemana.
Buku kelima, adalah panduan untuk pendamping perempuan korban kekerasan. Aku membolak-balik lagi buku ini gegara beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan yang sempat mampir di panca inderaku. Buku tipis keenam adalah nota pastoral KWI 2018 tentang panggilan Gereja dalam hidup berbangsa. Iyalah, aku mesti baca-baca ini selama masa kampanye kemarin, biar dapat pegangan.
Buku ketujuh adalah buku garapanku bersama Tim Penjaga Obor GATKI tentang budaya hidup damai. Buku yang diluncurkan tahun lalu ini masih menyisahkan PR untuk dikerjakan. Tapi sementara tersuruk begitu saja di meja.
Nah buku paling atas ya buku yang paling akhir kudapatkan dari Klasika Lampung, tulisan-tulisan tentang pemikiran Gus Dur. Nah, nah, nah.
Buku-buku ini sedang jadi bacaanku akhir-akhir ini dan beruntung banget aku memilikinya sebagai referensi dan bahanku. Buku baruku memang langka karena aku sedang takut masuk toko buku. Taku tergoda menghabiskan ratusan ribu untuk buku sedang kebutuhan lain sedang mendesak. Huhuhu... Yang penting masih ada buku-buku di sekitarku. Buku, pokoke buku!
Tuesday, May 07, 2019
Avengers: Endgame, Hidup Kesetaraan!
Udah beberapa minggu sejak film ini terdengar, aku dan Bernard janjian untuk nonton pada kesempatan tercepat. Apa daya, kesibukan terus menerus kualami. Bernard sendiri juga mesti nyelesaiin tugas-tugasnya di akhir tahun pelajaran SMP. Albert udah nonton duluan bersama teman-temannya udah menahan diri untuk tidak mengumbar spoiler tapi toh tetap membuat kami berdua penasaran (seperti biasa bapaknya mah anteng-anteng aja kalau kami ngobrolin film, yang penting ada lovebird. hehehe)
Jadinya di tengah kesibukan hari Selasa lalu aku mampir MBK, cek ketersediaan tiket. Pas banget ada tempat sekitar 1 jam lagi, di posisi no 3 dari depan. Tak apa deh agak tengadah. Langsung kubeli tanpa konfirmasi Bernard, baru usai itu aku telpon dia. Ladalah, kok ndak diangkat. Telpon rumah juga tak diangkat. Telpon Albert juga tak diangkat. Mulai panik dah, jangan sampai tuh tiket yang udah kebeli hangus.
Setelah telpon yang kesekian kali, barulah si die ngangkat dengan suara parau: Baru bangun tidur, ibu. Ladalah, double panik. Cepat-cepat kubilang: Suruh mas Albert anterin ke MBK sekarang juga, ndak usah mandi. Cepet.
Huft. Aku menunggu dengan semangkuk bakso Malang di dekat bioskop. Bernard datang tepat waktu. Segera masuk ke bioskop, tapi nyempetin cari makan, hotdog yang mahal dan paket popcorn, soalnya Bernard bilang: Aku belum makan, ibu. Hedeh.
Filmnya sendiri, wuaahhhh lama nian. Tiga jam persis. Dan alurnya sangat cepat. Susah nyeritainnya, pokoknya aku nangkap:
1. Tokoh-tokoh avengers bisa hidup lagi. Hihihi, alamat beberapa saat lagi bakal bikin janji dengan Bernard untuk seri yang berikutnya.
2. Kesetaraan gender ada. Tokoh laki dan perempuan berbagi peran dalam perjuangan kemanusiaan. Cieee....asyiklah.
3. Kesetaraan ras muncul, paling kuat di bagian akhir ketika tameng Capten America diserahkan dari si tokoh lama ke tokoh baru. Dari manusia kulit putih ke kulit hitam. Dua tokoh yang setara, sama-sama kuat dan terhormat.
4. Aku tak ingat satu kalimatpun yang menyentuh hatiku. Huhuuuuu.... parah banget diriku ini. Tapi kalau Bernard suka, aku pun suka deh.
Bagian terakhir dari nonton bareng Bernard adalah belanja sambil kontak Albert supaya nyusul untuk makan bareng di MBK.
Jadinya di tengah kesibukan hari Selasa lalu aku mampir MBK, cek ketersediaan tiket. Pas banget ada tempat sekitar 1 jam lagi, di posisi no 3 dari depan. Tak apa deh agak tengadah. Langsung kubeli tanpa konfirmasi Bernard, baru usai itu aku telpon dia. Ladalah, kok ndak diangkat. Telpon rumah juga tak diangkat. Telpon Albert juga tak diangkat. Mulai panik dah, jangan sampai tuh tiket yang udah kebeli hangus.
Setelah telpon yang kesekian kali, barulah si die ngangkat dengan suara parau: Baru bangun tidur, ibu. Ladalah, double panik. Cepat-cepat kubilang: Suruh mas Albert anterin ke MBK sekarang juga, ndak usah mandi. Cepet.
Huft. Aku menunggu dengan semangkuk bakso Malang di dekat bioskop. Bernard datang tepat waktu. Segera masuk ke bioskop, tapi nyempetin cari makan, hotdog yang mahal dan paket popcorn, soalnya Bernard bilang: Aku belum makan, ibu. Hedeh.
![]() |
| Dua cowokku, teman kencanku usai nonton. |
1. Tokoh-tokoh avengers bisa hidup lagi. Hihihi, alamat beberapa saat lagi bakal bikin janji dengan Bernard untuk seri yang berikutnya.
2. Kesetaraan gender ada. Tokoh laki dan perempuan berbagi peran dalam perjuangan kemanusiaan. Cieee....asyiklah.
3. Kesetaraan ras muncul, paling kuat di bagian akhir ketika tameng Capten America diserahkan dari si tokoh lama ke tokoh baru. Dari manusia kulit putih ke kulit hitam. Dua tokoh yang setara, sama-sama kuat dan terhormat.
4. Aku tak ingat satu kalimatpun yang menyentuh hatiku. Huhuuuuu.... parah banget diriku ini. Tapi kalau Bernard suka, aku pun suka deh.
Bagian terakhir dari nonton bareng Bernard adalah belanja sambil kontak Albert supaya nyusul untuk makan bareng di MBK.
Monday, May 06, 2019
Selamat Memasuki Masa Puasa, Teman-teman.
![]() |
| Foto saat finalisasi hasil Pernas SGPP KWI Jakarta 26 April 2019 Foto taken by Bram, edited by Yuli. |
Saya pun ikut menikmati bulan penuh berkah ini bersama para sahabat dan saudara saya yang merasai bulan puasa. Saya pun ikut mati raga dalam bulan ini dan ingin juga mereguk kegembiraan saat Idul Fitri tiba nanti.
Bagaimana dengan urusan Jokowi - Prabowo? Ah, ada masanya toh. Tunggu para pekerja KPU menyelesaikannya, kawal seluruh proses, desak Bawaslu melakukan tugasnya, dan saya menolak perang walau banyak titik berseberangan.
Beberapa kegelisahan ingin saya endapkan pada masa puasa Ramadhan ini bersama teman-teman sekalian. Dengan demikian kita semua selalu menemukan harapan dalam setiap gerak kita.
Bagian akhir, hmmm.... hehehe... ini kayaknya postingan yang terbawa foto, kayak memberikan sambutan saja. Hehehe... Ra popo ya.... Pokoke, selamat menjalani puasa. Mari reguk berkah lewat bulan penuh ibadah ini. Selamat mempersiapkan diri untuk sampai pada 'fitri'.
Friday, May 03, 2019
Jawaban Yuli Nugrahani (8): Di mana letak Gus Dur sekarang ini?
Di mana letak Gus Dur? Jawabanku : di dalam cangkir kopi. Itulah letaknya Gus Dur untuk sekarang ini saat nama Gus Dur masih wangi dalam hati, bukan hanya sekadar ejaan yang terbentuk dari huruf-huruf untuk sampai pada namanya, tapi menjadi roh yang menghidupi gerak orang-orang NU dan juga orang-orang yang dicintainya atau mencintainya.
Karena itu, buku yang ditulis oleh Chepry C. Hutabarat dan kawan-kawannya ini sangatlah tepat. Secangkir kopi itu menjadi aroma yang mendekatkan tubuh pada semangat dan niat untuk bergerak.
Ada 10 tulisan dalam buku yang berjudul Gus Dur & Catatan yang Hilang Makna, diterbitkan oleh Lampung Literature tahun 2019 ini. Penulisnya adalah: Chepry C. Hutabarat, Dedy Indra Prayoga, Een Riansah AS, Umar Robani, Sandika Wijaya, Ahmad Mufid, Yogi Prazani, Asep Sugiarto, M. Muhammad Putra dan Lukman Pidada.
Mereka menulis Gus Dur dari berbagai sudut pandang, yang walau tidak lengkap, tidak bikin kencang, toh membuat mata melek. Seperti secangkir kopi itulah. Persis. Tanpa aneka rasa, tapi pas untuk dihirup pelan-pelan dalam waktu yang tidak buru-buru.
Masa tidak ada posisi lain untuk Gus Dur selain dalam cangkir kopi? Lha ya terserah kalian saja. Orang yang sudah mati memang hanya bisa diperbincangkan. Jika dulu banyak orang merasa beruntung karena bisa bercakap-cakap langsung dengan Gus Dur maka sekarang 'aroma' itulah yang bisa dicecap ulang.
Kemarin ketika buku ini dilaunching di Wood Stairs Cafe, 2 Mei 2019 pas dengan hari Pendidikan Nasional, buku ini sudah mendesak Iswadi dan Inaya bicara dengan pancingan moderator M. Yunus. Orang-orang yang hadir dari berbagai kalangan itu seakan menjadi penguat apa yang sudah disampaikan oleh Iswadi dan Inaya. Lalu acara itu selesai.
Tapi 'aroma' Gus Dur selesaikah? Tidak. Kalau secangkir kopi sudah tandas, cangkir itu toh masih bisa terus diisi dan disuguhkan kembali untuk dihirup kembali oleh siapapun. Dan selayaknya zat hara yang masuk dalam tubuh, Gus Dur memberi pengaruh bukan hanya pada satu unsur tubuh tapi seluruh hati, pikiran dan tubuh.
Selebihnya apa? Ya bergeraklah. Bergerak tak hanya ke jamban membuang ampas-ampas tapi terus menjalankan kehidupan yang penuh cinta, menghayati kesetaraan martabat manusia yang sama sebagai 'hanya ciptaan'. Apa jal yang bisa disombongin dari seorang ciptaan? Ra ono.
Wis kono, ngopi.
Karena itu, buku yang ditulis oleh Chepry C. Hutabarat dan kawan-kawannya ini sangatlah tepat. Secangkir kopi itu menjadi aroma yang mendekatkan tubuh pada semangat dan niat untuk bergerak.
Ada 10 tulisan dalam buku yang berjudul Gus Dur & Catatan yang Hilang Makna, diterbitkan oleh Lampung Literature tahun 2019 ini. Penulisnya adalah: Chepry C. Hutabarat, Dedy Indra Prayoga, Een Riansah AS, Umar Robani, Sandika Wijaya, Ahmad Mufid, Yogi Prazani, Asep Sugiarto, M. Muhammad Putra dan Lukman Pidada.
Mereka menulis Gus Dur dari berbagai sudut pandang, yang walau tidak lengkap, tidak bikin kencang, toh membuat mata melek. Seperti secangkir kopi itulah. Persis. Tanpa aneka rasa, tapi pas untuk dihirup pelan-pelan dalam waktu yang tidak buru-buru.
Masa tidak ada posisi lain untuk Gus Dur selain dalam cangkir kopi? Lha ya terserah kalian saja. Orang yang sudah mati memang hanya bisa diperbincangkan. Jika dulu banyak orang merasa beruntung karena bisa bercakap-cakap langsung dengan Gus Dur maka sekarang 'aroma' itulah yang bisa dicecap ulang.
Kemarin ketika buku ini dilaunching di Wood Stairs Cafe, 2 Mei 2019 pas dengan hari Pendidikan Nasional, buku ini sudah mendesak Iswadi dan Inaya bicara dengan pancingan moderator M. Yunus. Orang-orang yang hadir dari berbagai kalangan itu seakan menjadi penguat apa yang sudah disampaikan oleh Iswadi dan Inaya. Lalu acara itu selesai.
Tapi 'aroma' Gus Dur selesaikah? Tidak. Kalau secangkir kopi sudah tandas, cangkir itu toh masih bisa terus diisi dan disuguhkan kembali untuk dihirup kembali oleh siapapun. Dan selayaknya zat hara yang masuk dalam tubuh, Gus Dur memberi pengaruh bukan hanya pada satu unsur tubuh tapi seluruh hati, pikiran dan tubuh.
Selebihnya apa? Ya bergeraklah. Bergerak tak hanya ke jamban membuang ampas-ampas tapi terus menjalankan kehidupan yang penuh cinta, menghayati kesetaraan martabat manusia yang sama sebagai 'hanya ciptaan'. Apa jal yang bisa disombongin dari seorang ciptaan? Ra ono.
Wis kono, ngopi.
Thursday, May 02, 2019
Ratda Puskopdit Caraka Utama Lampung: Jenjang Karier dan Teknologi Finansial
Pembukaaan RAT dihadiri oleh undangan-undangan dari dinas terkait juga dari Inkopdit. Sidangnya sendiri mulai sekitar pukul 11.00 (atau lebih?) hingga pukul 13.30 dengan agenda laporan pengurus dan pengawas, pemaparan rencana kerja tahun 2019, pembahasan, pemilihan panitia nominasi (untuk pemilihan tahun 2020) dan pengesahan-pengesahan.
Yang menarik bagiku sangat banyak karena ini adalah moment pertama kali aku terlibat dalam RAT Puskopdit dan aku langsung menjadi pimpinan sidang.
1. Banyak pengetahuan baru kudapatkan dari acara ini lewat perbincangan formal dan informal dalam rangkaian acara.
2. Tema yang diangkat oleh puskopdit ini harusnya ditindaklanjuti dalam aksi konkrit di tingkat primer. Dengan demikian anggota kopdit yang masuk dalam puskopdit ini bisa merasakan pelayanan yang lebih ok di masa mendatang.
3. Banyak tenaga muda penuh semangat yang bergerak dalam perkoperasian dengan perjuangan luar biasa untuk kepentingan masyarakat umum.
4. Ada banyak peluang yang belum dioptimalkan oleh penggerak kopdit di titik sekarang ini. Maka, kemajuan Caraka Utama masih bisa ditingkatkan dengan adanya gerak seluruh komponen yang terlibat.
5. Aku semakin yakin dengan langkahku untuk berkarya lewat jalan ini. Bukan untuk diriku sendiri tapi untuk orang banyak.
6. Yahhhh.... pasti ada kesempatan berikutnya yang dapat diraih oleh orang-orang yang mau bekerja. Maka proficiat Caraka Utama, yukkk terus bergerak.
Pertemuan Nasional Para Penggerak Gender dan Pemberdayaan Perempuan, SGPP KWI 2019
Pertemuan nasional para penggerak gender dan pemberdayaan perempuan yang diadakan oleh Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sudah diselenggarakan di Wisma Samadi Gender Jakarta, 23 - 26 April 2019.
Yang hadir adalah wakil-wakil dari keuskupan di Indonesia dengan beberapa narasumber yang memberikan gambaran umum sesuai dengan tema Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Keluarga sebagai Citra Allah. Pendalaman dilakukan oleh para peserta melalui diskusi dan pleno yang masuk dalam rangkaian pertemuan.
Saya sebagai bagian dari tim SC merasa lega setelah kegiatan ini selesai. Apa yang terjadi dalam pernas itu sangat menarik. Semua terjadi tepat memang harus terjadi. Bahkan hujan setelah acara malam keakraban adalah tepat memang harus begitulah.
Dalam postingan ini saya pasang hasil singkat dari pertemuan itu yang sudah ditandatangani oleh Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC, Moderator SGPP KWI dan Sr. M. Natalia OP, sekretaris SGPP KWI.
Dokumen ini dirumuskan berdasar proses yang terjadi dalam pernas. Dimulai dari pembukaan di hari pertama yang sudah memunculkan masalah-masalah ketidakadilan gender di Indonesia. Sharing dari peserta dalam kelompok-kelompok memunculkan data-data yang terjadi di tiap keuskupan.
Hari kedua adalah hari belajar dengan bantuan para narasumber. Terus terang hari kedua dalam pernas itu paling membuat capek para peserta. Banyak keluhan yang muncul karena jam yang sangat padat dengan agenda yang tak mungkin lagi digeser. Fulllll.... bahkan malam pun masih ada pr yaitu membuat refleksi hasil pengendapan dari hari itu.
Hari ketiga dan keempat adalah saatnya untuk bekerja. Prosesnya adalah diskusi, pleno, diskusi, pleno hingga kemudian didapatkan catatan akhir yang memasukkan rekomendasi dari pertemuan tersebut.
Yang hadir adalah wakil-wakil dari keuskupan di Indonesia dengan beberapa narasumber yang memberikan gambaran umum sesuai dengan tema Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Keluarga sebagai Citra Allah. Pendalaman dilakukan oleh para peserta melalui diskusi dan pleno yang masuk dalam rangkaian pertemuan.
Saya sebagai bagian dari tim SC merasa lega setelah kegiatan ini selesai. Apa yang terjadi dalam pernas itu sangat menarik. Semua terjadi tepat memang harus terjadi. Bahkan hujan setelah acara malam keakraban adalah tepat memang harus begitulah.
Dalam postingan ini saya pasang hasil singkat dari pertemuan itu yang sudah ditandatangani oleh Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC, Moderator SGPP KWI dan Sr. M. Natalia OP, sekretaris SGPP KWI.
Dokumen ini dirumuskan berdasar proses yang terjadi dalam pernas. Dimulai dari pembukaan di hari pertama yang sudah memunculkan masalah-masalah ketidakadilan gender di Indonesia. Sharing dari peserta dalam kelompok-kelompok memunculkan data-data yang terjadi di tiap keuskupan.
Hari kedua adalah hari belajar dengan bantuan para narasumber. Terus terang hari kedua dalam pernas itu paling membuat capek para peserta. Banyak keluhan yang muncul karena jam yang sangat padat dengan agenda yang tak mungkin lagi digeser. Fulllll.... bahkan malam pun masih ada pr yaitu membuat refleksi hasil pengendapan dari hari itu.
Hari ketiga dan keempat adalah saatnya untuk bekerja. Prosesnya adalah diskusi, pleno, diskusi, pleno hingga kemudian didapatkan catatan akhir yang memasukkan rekomendasi dari pertemuan tersebut.
Thursday, April 18, 2019
TPS 024 Hajimena Natar Lampung Selatan: SERI!
Rabu, 17 April 2019, aku nyoblos dalam Pemilu 2019 ini di TPS 024 Hajimena Natar Lampung Selatan. Lokasinya di rumah pak RT blok C di Perumahan POLRI, Hajimena, Lampung Selatan.
Mas Hen semangat banget ngajak aku pagi-pagi berangkat sehingga baru kali inilah aku bisa mengikuti proses dari awal sebelum nyoblos. Mulai dari membuka paket-paket kertas suara, memastikan jumlahnya, kertasnya ada robek atau tidak, dan sebagainya. Setelah setengah jam duduk mengamati kerja awal panitia pemilihan, sekitar jam 08.00 barulah proses pendaftaran, dan nyoblos.
Bersama denganku ada belasan orang yang datang awal dengan semangat. Yang ibu-ibu beralasan biar beres dulu menyelesaikan coblosan, barus beberes rumah.
"Belum masak, nanti pulang nyoblos baru masak. Biar bisa konsentrasi ndak kepikiran lagi soal pemilu."
Yang bapak-bapak sebagian datang pagi karena memang antusias, lalu ikut mengamati jalannya pemilihan. Ada juga yang karena harus tetap kerja di hari pemilihan itu.
Nah, secara umum, jalannya coblosan di TPS 024 berjalan dengan baik. Ada beberapa warga di sekitarku yang protes karena mereka mendapat TPS di lokasi lain yang jauh padahal kami sebelahan rumah. Ada juga yang tidak mendapatkan surat panggilan sehingga mereka menggunakan hak pilih setelah jam 12 siang. Tapi secara umum, semua berjalan baik dan lancar.
Penghitungan suara dimulai pada sekitar pukul 13.00, dan untuk pemilihan presiden hasilnya seri. Masing-masing mendapat angka 102 suara dari 204 suara yang sah. Jokowi mendapatkan 102 suara, Prabowo mendapatkan 102 suara. Persis sis sis sama jumlahnya. Hehehe bisa juga ya.
Yang lain-lain aku belum mendapatkan hasilnya. Konon sih jam 03.00 dini hari penghitungan baru selesai semuanya dan direkap oleh panitia.
Mas Hen semangat banget ngajak aku pagi-pagi berangkat sehingga baru kali inilah aku bisa mengikuti proses dari awal sebelum nyoblos. Mulai dari membuka paket-paket kertas suara, memastikan jumlahnya, kertasnya ada robek atau tidak, dan sebagainya. Setelah setengah jam duduk mengamati kerja awal panitia pemilihan, sekitar jam 08.00 barulah proses pendaftaran, dan nyoblos.
Bersama denganku ada belasan orang yang datang awal dengan semangat. Yang ibu-ibu beralasan biar beres dulu menyelesaikan coblosan, barus beberes rumah.
"Belum masak, nanti pulang nyoblos baru masak. Biar bisa konsentrasi ndak kepikiran lagi soal pemilu."
Yang bapak-bapak sebagian datang pagi karena memang antusias, lalu ikut mengamati jalannya pemilihan. Ada juga yang karena harus tetap kerja di hari pemilihan itu.
Nah, secara umum, jalannya coblosan di TPS 024 berjalan dengan baik. Ada beberapa warga di sekitarku yang protes karena mereka mendapat TPS di lokasi lain yang jauh padahal kami sebelahan rumah. Ada juga yang tidak mendapatkan surat panggilan sehingga mereka menggunakan hak pilih setelah jam 12 siang. Tapi secara umum, semua berjalan baik dan lancar.
Penghitungan suara dimulai pada sekitar pukul 13.00, dan untuk pemilihan presiden hasilnya seri. Masing-masing mendapat angka 102 suara dari 204 suara yang sah. Jokowi mendapatkan 102 suara, Prabowo mendapatkan 102 suara. Persis sis sis sama jumlahnya. Hehehe bisa juga ya.
Yang lain-lain aku belum mendapatkan hasilnya. Konon sih jam 03.00 dini hari penghitungan baru selesai semuanya dan direkap oleh panitia.
Tuesday, April 16, 2019
Jawaban Yuli Nugrahani (7): Kok kamu terus kepikiran Prabowo sih?
Iya, aku kepikiran Prabowo terus menjelang Pemilihan Umum besok nih. Aku sudah punya pilihan yang pasti untuk presiden, DPD, DPR RI, DPRD I dan DPRD II. Tapi aku risau karena Prabowo. Haish. Karena ditanya hal itu aku mau jawab terus terang pangkal kegelisahanku.
1. Prabowo tuh jelas banget ndak logis kalau melihat apa yang dia munculkan dalam kata maupun bahasa tubuh. Jelas kalau dia emosional, temperamental, ndak punya visi dan mudah ngomong ngaco. Tapi kenapa orang macam begitu diangkat oleh sekelompok orang sebagai calon presiden? Betul katamu. Karena dia adalah orang yang mudah dijatuhkan. Dia akan dijatuhkan saat menjadi presiden nanti, itulah skenarionya. Siapa yang akan menjatuhkannya? Nah ini yang mengerikan. Kebayang banget orang-orang yang sekarang ini ada di sekitarnya entah kelihatan atau tak kelihatan. Kepentingan apa mereka itu? Mengapa memilih seseorang sebagai presiden untuk kemudian mau dijatuhkan.
2. Prabowo tuh modal apa untuk jadi presiden kali ini? Dia bolak-balik menyebut diri sebagai patriotik nasionalis. Tapi dia akan menyerang siapa saja selama ada kesempatan. Serangannya pun dalam bentuk beragam. Secara fisik, lihatlah cara dia menggebrak, memukul, ... (lihat di youtube, banyak contohnya). Secara kata-kata, lihatlah cara dia berkata-kata. Otaknya berisi perang, pertahanan diri, dst. Selalu merasa terancam walau dialah yang akhirnya mengancam. Rasanya sama sekali tak nyaman memandang ekspresi wajahnya. Sama sekali tak pernah ada keteduhan khas karisma pemimpin. Itu yang tampak memang seperti boneka. Bayi dan anak-anak akan menangis kalau dekat dengan aura macam gitu. Aura yang memunculkan kegelisahan.
3. Aku tahu kalau Jokowi bukan presiden ideal harapanku mengingat banyak hal yang tak juga mampu dia perbuat seperti tentang keadilan, HAM dll. Tapi aku sama sekali tak mau berada terus menerus dalam kegelisahan karena melihat Prabowo yang tak juga berubah tabiatnya walau dia paham kalau sedang dalam sorotan rakyat. Aku tak akan mau orang macam Prabowo menjadi presiden Indonesia, dan golput tak akan kuat untuk menahannya. Maka aku akan memilih Jokowi besok, minimal beberapa kali aku merasai keteduhannya, caranya berkomunikasi yang pas dengan pangrasaku, caranya membangun keluarga yang ingin kucontoh, dan sebagainya.
1. Prabowo tuh jelas banget ndak logis kalau melihat apa yang dia munculkan dalam kata maupun bahasa tubuh. Jelas kalau dia emosional, temperamental, ndak punya visi dan mudah ngomong ngaco. Tapi kenapa orang macam begitu diangkat oleh sekelompok orang sebagai calon presiden? Betul katamu. Karena dia adalah orang yang mudah dijatuhkan. Dia akan dijatuhkan saat menjadi presiden nanti, itulah skenarionya. Siapa yang akan menjatuhkannya? Nah ini yang mengerikan. Kebayang banget orang-orang yang sekarang ini ada di sekitarnya entah kelihatan atau tak kelihatan. Kepentingan apa mereka itu? Mengapa memilih seseorang sebagai presiden untuk kemudian mau dijatuhkan.
2. Prabowo tuh modal apa untuk jadi presiden kali ini? Dia bolak-balik menyebut diri sebagai patriotik nasionalis. Tapi dia akan menyerang siapa saja selama ada kesempatan. Serangannya pun dalam bentuk beragam. Secara fisik, lihatlah cara dia menggebrak, memukul, ... (lihat di youtube, banyak contohnya). Secara kata-kata, lihatlah cara dia berkata-kata. Otaknya berisi perang, pertahanan diri, dst. Selalu merasa terancam walau dialah yang akhirnya mengancam. Rasanya sama sekali tak nyaman memandang ekspresi wajahnya. Sama sekali tak pernah ada keteduhan khas karisma pemimpin. Itu yang tampak memang seperti boneka. Bayi dan anak-anak akan menangis kalau dekat dengan aura macam gitu. Aura yang memunculkan kegelisahan.
3. Aku tahu kalau Jokowi bukan presiden ideal harapanku mengingat banyak hal yang tak juga mampu dia perbuat seperti tentang keadilan, HAM dll. Tapi aku sama sekali tak mau berada terus menerus dalam kegelisahan karena melihat Prabowo yang tak juga berubah tabiatnya walau dia paham kalau sedang dalam sorotan rakyat. Aku tak akan mau orang macam Prabowo menjadi presiden Indonesia, dan golput tak akan kuat untuk menahannya. Maka aku akan memilih Jokowi besok, minimal beberapa kali aku merasai keteduhannya, caranya berkomunikasi yang pas dengan pangrasaku, caranya membangun keluarga yang ingin kucontoh, dan sebagainya.
Francis Award 2019 SMA Fransiskus Bandarlampung
![]() |
| Aku bersama Albert Ardyatma usai acara |
Pun konsep yang diusung sekolah ini untuk melepas muridnya juga unik. Judulnya Francis Award, merujuk pada nama sekolah dan pemberian penghargaan-penghargaan.
Aku sudah beberapa kali ikut dalam acara Francis Award tahun-tahun dulu saat aku masih di Nuntius untuk peliputan. Tapi hadir dalam acara ini untuk anakku kok ya rasanya tetap spesial.
Beberapa hal selain unik aku juga merasakan konsepnya agak tak pas di hatiku. Kujelaskan nanti kalau aku mau dimana letak tak pasnya. Huhuhu.
Sunday, April 07, 2019
Jawaban Yuli Nugrahani (6): Apakah kau memasak babi di rumahmu?
Ini pertanyaan yang tak kusukai, karena apa urusanmu tahu apa yang kumasak atau tidak di rumahku? Tapi karena pertanyaan ini seringkali muncul dalam benak orang tanpa diungkapkan padaku (Terus dari mana aku tahu? Hehehe.) maka aku akan menjawabnya. Aku hanya satu kali pernah memasak babi, babi hutan, sekitar tahun 2001, tahun pertama aku ada di Lampung. Babi hutan pemberian itu aku goreng kering dan aku sajikan ke Mas Hen tanpa bilang kalau itu babi.
Alhasil, Mas Hendro sangat-sangat-sangat marah saat tahu, langsung muntah-muntah. Dan sejak itu aku tak pernah lagi masak babi di rumah. Mas Hendro tidak doyan blas blas blas. Boro-boro babi, daging kambing pun haram bagi Mas Hen. Daging merah yang dimaui hanya sapi yang dimasak rendang atau rawon. Selain itu, tak ada daging merah untuk Mas Hen. (Yang bisa dilahap oleh Mas Hen itu ayam, ikan jenis tertentu, tahu tempe dan telor. Nah.)
Aku sendiri suka segala hal asal itu disebut sebagai makanan. Jadi aku harus ngaku kalau aku makan apa pun daging termasuk babi. Tentu saja karena Mas Hendro tak mau babi ya aku tak memakannya di rumah kecuali kalau dikirimi atau dihadiahi orang. Aku tak pernah beli sendiri makanan macam gitu. Dan sekarang ini aku sangat mengurangi jenis daging merah apa pun asal binatangnya.
Karena itulah, aku sangat sangat tak suka kalau ada yang enggan makan di rumahku dan kemudian bergosip bahwa aku menyajikan makanan haram untuk tamu-tamuku. Halah. Wong bojoku sendiri aja tak mau makanan kayak gitu kok boro-boro aku menyajikan untuk orang lain. Setiap ada yang kelihatan ragu makan sesuatu di rumahku aku biasa ngomong terus terang soal ini dan menunjukkan isi kulkasku.
Eh setahun ini tak ada kulkas ding di rumahku. Kami sekeluarga tak lagi menggunakan kulkas, jadi makanan yang tersaji pasti bukan masakan yang sudah dibekukan atau disimpan di kulkas.
Jadi, aku bisa memastikan pada kalian, kalau aku tak pernah memasak babi atau makanan haram lainnya di rumahku karena suamiku mengharamkan makanan-makanan lebih banyak dari aturan agama manapun. Atau, kalau memang kalian mau makan di rumahku, bawalah makanan sendiri, yukkk kita makan bareng-bareng. Aku tak pernah menolak makan apapun apalagi pemberian yang diselimuti cinta kasih. Hehehe...
Alhasil, Mas Hendro sangat-sangat-sangat marah saat tahu, langsung muntah-muntah. Dan sejak itu aku tak pernah lagi masak babi di rumah. Mas Hendro tidak doyan blas blas blas. Boro-boro babi, daging kambing pun haram bagi Mas Hen. Daging merah yang dimaui hanya sapi yang dimasak rendang atau rawon. Selain itu, tak ada daging merah untuk Mas Hen. (Yang bisa dilahap oleh Mas Hen itu ayam, ikan jenis tertentu, tahu tempe dan telor. Nah.)
Aku sendiri suka segala hal asal itu disebut sebagai makanan. Jadi aku harus ngaku kalau aku makan apa pun daging termasuk babi. Tentu saja karena Mas Hendro tak mau babi ya aku tak memakannya di rumah kecuali kalau dikirimi atau dihadiahi orang. Aku tak pernah beli sendiri makanan macam gitu. Dan sekarang ini aku sangat mengurangi jenis daging merah apa pun asal binatangnya.
Karena itulah, aku sangat sangat tak suka kalau ada yang enggan makan di rumahku dan kemudian bergosip bahwa aku menyajikan makanan haram untuk tamu-tamuku. Halah. Wong bojoku sendiri aja tak mau makanan kayak gitu kok boro-boro aku menyajikan untuk orang lain. Setiap ada yang kelihatan ragu makan sesuatu di rumahku aku biasa ngomong terus terang soal ini dan menunjukkan isi kulkasku.
Eh setahun ini tak ada kulkas ding di rumahku. Kami sekeluarga tak lagi menggunakan kulkas, jadi makanan yang tersaji pasti bukan masakan yang sudah dibekukan atau disimpan di kulkas.
Jadi, aku bisa memastikan pada kalian, kalau aku tak pernah memasak babi atau makanan haram lainnya di rumahku karena suamiku mengharamkan makanan-makanan lebih banyak dari aturan agama manapun. Atau, kalau memang kalian mau makan di rumahku, bawalah makanan sendiri, yukkk kita makan bareng-bareng. Aku tak pernah menolak makan apapun apalagi pemberian yang diselimuti cinta kasih. Hehehe...
Friday, April 05, 2019
Postingan ke 1.000, Pengunjung ke 90.000
Aku ingin nandai postingan kali ini. Ini adalah postingan ke 1.000 dalam blog ini, dan pada pukul 12.09 tadi, pengunjung untuk blog ini adalah 90.000 sejak pertama kali blog yulinugrahani.blogspot.com ini kubuka. Postingan pertamaku kubuat pada tanggal 20 Juli 2006 pukul 13.17, sebuah postingan pendek eksperimen gambar lilin menyala dengan tulisan: Hidup bersama untuk adil dan damai.
Jadi sampai sekarang sudah hampir 13 tahun usia blog ini. Jumlah postingan 1.000 dengan aneka topik sesuka hati sesuai dengan kehendak hatiku. Tentang penulisan, perjalanan, anak-anak, cinta, puisi, cerpen, pikiran-pikiran liar atau tidak liar, dan sebagainya. Jumlah pengunjung hanya 90.000 itu ya artinya rata-rata satu tulisan dilihat oleh 10 orang dari berbagai daerah yang rata-rata dari Indonesia. Iyalah, kan aku nulis dalam bahasa Indonesia.
Nah, semoga tahun ini aku semakin produktif menulis untuk blog ini dengan isi yang semakin mendalam dan bisa memberikan kesegaran untuk para pembaca. Aku selalu ingin bekerjasama dengan siapa pun, jadi silakan rekan-rekan yang ingin ikut terlibat dalam blog ini, mari, silakan kirim artikel dan atau foto ke yulinugrahani@yahoo.com. Boleh puisi, cerpen, artikel atau apa pun, asal orisinil siap aku publikasikan.
Terimakasih atas dukungan teman-teman semua.
Jadi sampai sekarang sudah hampir 13 tahun usia blog ini. Jumlah postingan 1.000 dengan aneka topik sesuka hati sesuai dengan kehendak hatiku. Tentang penulisan, perjalanan, anak-anak, cinta, puisi, cerpen, pikiran-pikiran liar atau tidak liar, dan sebagainya. Jumlah pengunjung hanya 90.000 itu ya artinya rata-rata satu tulisan dilihat oleh 10 orang dari berbagai daerah yang rata-rata dari Indonesia. Iyalah, kan aku nulis dalam bahasa Indonesia.
Nah, semoga tahun ini aku semakin produktif menulis untuk blog ini dengan isi yang semakin mendalam dan bisa memberikan kesegaran untuk para pembaca. Aku selalu ingin bekerjasama dengan siapa pun, jadi silakan rekan-rekan yang ingin ikut terlibat dalam blog ini, mari, silakan kirim artikel dan atau foto ke yulinugrahani@yahoo.com. Boleh puisi, cerpen, artikel atau apa pun, asal orisinil siap aku publikasikan.
Terimakasih atas dukungan teman-teman semua.
GOOD IS NOT GOOD ENOUGH
Dari beberapa buku yang kubaca akhir-akhir ini aku punya beberapa pemikiran yang ingin kucatat supaya aku tidak lupa, minimal point-point yang kudapat:
1. Yang aku percaya adalah A God in Action. Atau istilah yang lain Allah yang Manusiawi, Allah yang hadir lewat banyak manusia. Aku mendapatkan banyak tak terhingga pertolongan Allah yang dikerjakanNya lewat manusia-manusia lain, entah yang ada di sekitarku atau bahkan yang tak kukenal sekalipun.
2. Kalau aku bisa menjumpai Allah dalam manusia tentulah aku juga harus menghadirkan Allah bagi orang lain. Saat mereka bertemu denganku, mereka harus juga merasakan bahwa mereka bertemu Allah. Bagaimana aku bisa melakukannya? Ini yang menjadi pertanyaanku terus-terusan, sampai sekarang. Sebuah alat sederhana biasa aku pakai, yaitu analisis SWOT pribadi, untuk mengetahui posisiku pada suatu waktu pada suatu tempat. Dari sana aku bisa menemukan alternatif strategi (wuih) apa yang akan kukerjakan atau kulakukan untuk suatu waktu. Alat yang lain adalah rasa pangrasa. Iyalah, aku ini kan orang yang sangat moody, orang yang ngikuti mood. Lebih dalam lagi ini sebenarnya adalah passion. Aku akan selalu berkobar-kobar kalau diundang untuk kegiatan literasi, atau yang ada urusannya dengan seni. Itu misalnya.
3. Bagus itu belum cukup bagus. Dasarnya, aku ini orang yang minimalis. Ya wis lah, segini pun cukup. Ini mungkin karena sifatku yang pemalas, lumuh. Tapi dasarku yang seperti itu tidak hanya berhenti di situ. Seturut perjalanan hidupku ternyata itu tidak cukup. Selain sifat dasarku yang minimalis dan pemalas, ternyata aku butuh untuk melakukan lebih, lebih dan lebih. Tidak cukup hanya menjadi bagus, tapi harus jadi terbagus, tak biasa atau luar biasa. Ketika satu hal sudah tercapai, yang berikutnya akan menyusul, lagi dan lagi.
4. Slogan itu diperlukan, tapi tak cukup jika hanya slogan. Tahun ini aku membuat slogan untuk merumuskan misiku tahun ini: Waktunya untuk kesaksian. Setiap kali aku akan kembali pada slogan ini supaya aku ingat bahwa aku punya gairah untuk satu misi itu pada awal tahun dan aku ingin menyadari setiap moment, perjumpaan atau apa pun untuk kepentingan itu. Sekali lagi, ini hanya sebagian contohnya.
5. Proses itu seperti biji yang jatuh ke tanah, disiram, merekah, tumbuh menjadi pohon yang rindang dan membuahkan ribuan bahkan jutaan biji yang siap untuk jatuh ke berbagai tempat di seluruh dunia. Itu proses yang biasa sekaligus luar biasa. Bisa ditemui di mana-mana tapi sekaligus sangat bermakna, kalau disadari. Kalau tak disadari ya akan lewat begitu saja, dianggap biasa saja.
1. Yang aku percaya adalah A God in Action. Atau istilah yang lain Allah yang Manusiawi, Allah yang hadir lewat banyak manusia. Aku mendapatkan banyak tak terhingga pertolongan Allah yang dikerjakanNya lewat manusia-manusia lain, entah yang ada di sekitarku atau bahkan yang tak kukenal sekalipun.
2. Kalau aku bisa menjumpai Allah dalam manusia tentulah aku juga harus menghadirkan Allah bagi orang lain. Saat mereka bertemu denganku, mereka harus juga merasakan bahwa mereka bertemu Allah. Bagaimana aku bisa melakukannya? Ini yang menjadi pertanyaanku terus-terusan, sampai sekarang. Sebuah alat sederhana biasa aku pakai, yaitu analisis SWOT pribadi, untuk mengetahui posisiku pada suatu waktu pada suatu tempat. Dari sana aku bisa menemukan alternatif strategi (wuih) apa yang akan kukerjakan atau kulakukan untuk suatu waktu. Alat yang lain adalah rasa pangrasa. Iyalah, aku ini kan orang yang sangat moody, orang yang ngikuti mood. Lebih dalam lagi ini sebenarnya adalah passion. Aku akan selalu berkobar-kobar kalau diundang untuk kegiatan literasi, atau yang ada urusannya dengan seni. Itu misalnya.
3. Bagus itu belum cukup bagus. Dasarnya, aku ini orang yang minimalis. Ya wis lah, segini pun cukup. Ini mungkin karena sifatku yang pemalas, lumuh. Tapi dasarku yang seperti itu tidak hanya berhenti di situ. Seturut perjalanan hidupku ternyata itu tidak cukup. Selain sifat dasarku yang minimalis dan pemalas, ternyata aku butuh untuk melakukan lebih, lebih dan lebih. Tidak cukup hanya menjadi bagus, tapi harus jadi terbagus, tak biasa atau luar biasa. Ketika satu hal sudah tercapai, yang berikutnya akan menyusul, lagi dan lagi.
4. Slogan itu diperlukan, tapi tak cukup jika hanya slogan. Tahun ini aku membuat slogan untuk merumuskan misiku tahun ini: Waktunya untuk kesaksian. Setiap kali aku akan kembali pada slogan ini supaya aku ingat bahwa aku punya gairah untuk satu misi itu pada awal tahun dan aku ingin menyadari setiap moment, perjumpaan atau apa pun untuk kepentingan itu. Sekali lagi, ini hanya sebagian contohnya.
5. Proses itu seperti biji yang jatuh ke tanah, disiram, merekah, tumbuh menjadi pohon yang rindang dan membuahkan ribuan bahkan jutaan biji yang siap untuk jatuh ke berbagai tempat di seluruh dunia. Itu proses yang biasa sekaligus luar biasa. Bisa ditemui di mana-mana tapi sekaligus sangat bermakna, kalau disadari. Kalau tak disadari ya akan lewat begitu saja, dianggap biasa saja.
Tuesday, April 02, 2019
MELETAKKAN PESAN DALAM PENULISAN CERITA RAKYAT
![]() |
| Foto by Alfa |
Disampaikan dalam Bedah Buku Cerita Rakyat Lampung
Kantor Bahasa Indonesia Lampung, 2 April 2019
Oleh: Yuli Nugrahani*
Empat buku
cerita rakyat Lampung diterbitkan lagi oleh Kantor Bahasa Lampung pada tahun
2018 berjudul Legenda Kelekup Gangsa (Izzah Anissa), Legenda Mahat Menggala
(Novita Sari Idham), Putri Rincing Manis (Sustin Nunik) dan Raden Mas
Mangkudirija dan Bidadari (Fauzie Purnomo Sidi). Empat buku ini menambah
kekayaan literasi Provinsi Lampung, setelah beberapa buku yang sudah
diterbitkan sebelumnya.
Tahun 2001 ketika saya melahirkan anak
pertama, saya mengalami kesulitan ketika berburu dongeng atau cerita rakyat
yang berasal dari Lampung. Saya menemukan cerita-cerita pendek serupa ringkasan
dengan jumlah yang tidak banyak. Kalau saya ditanya oleh seseorang apa cerita
yang berasal dari Lampung, saya seringkali menjawab tidak tahu, dan ini sangat
memalukan.
Dari kecil saya
sudah sangat terbiasa mendengarkan kisah tentang Anglingdarma dari Malawapati
(konon lokasi kerajaannya tidak jauh dari rumah orang tua saya di Kediri),
bahkan hingga detail-detailnya. Saya
tahu tokoh-tokohnya mulai dari Setyowati, Nagagini, Nagasasra, Mliwis Putih,
dan sebagainya. Saya berharap anak saya pun punya ingatan akan kisah / legenda
/ dongeng yang berasal dari tempatnya lahir.
Pencarian saya
tidak berbuah banyak. Sebuah naskah yang dipentaskan di Taman Budaya Lampung,
Dayang Rindu, menjadi salah satu pentas yang menggembirakan. Sebelumnya saat
SD, anak saya diberi tugas mementaskan drama Si Pahit Lidah. Kisah-kisah itu
tersebar Sumatera Bagian Selatan, termasuk Lampung dengan variasi cerita. Lalu
anak saya mendapatkan cerita-cerita tambahan dari sekolah atau guru atau
teman-temannya yang kemudian ditularkan ke saya.
Salah satu yang
kemudian menarik minat saya adalah Kisah Sultan Domas yang saya tulis dalam beberapa jenis tulisan
(puisi, cerpen, cerita anak). Cerita anak tersebut termasuk dalam terbitan Kantor Bahasa Lampung tahun 2017.
Upaya-upaya
Kantor Bahasa Lampung ini patut diapresiasi. Melihat buku-buku ini terbit
membuat saya menaruh harapan yang besar untuk perkembangan literasi Lampung
khususnya tentang cerita rakyat asli daerah Lampung. Dan lihat saja, buku ini
tidak dibuat ala kadarnya, tapi dengan penyaringan ketat lewat sayembara,
diedit serius, dilengkapi dengan ilustrasi berwarna, dan dicetak menjadi buku
yang membanggakan si penulis maupun pembaca yang menerima dan menggunakannya.
Menulis Cerita
Rakyat sebagai Cara Komunikasi
Komunikasi terjadi
kalau ada pemberi pesan, penerima pesan, dan mutlak harus ada pesan yang
disampaikan. Cerita rakyat sebagai salah satu jenis cerita yang diteruskan
secara tertulis atau lisan juga merupakan bentuk komunikasi. Karena itulah tiga
unsur komunikasi itu mutlak harus ada. Dalam terbitan empat buku ini, pemberi
pesan adalah penulis (dibantu oleh editor, ilustrator, penerbit, dan sebagainya,
penerima pesan adalah pembaca atau pendengar, dan pesannya sendiri adalah apa
yang dimunculkan dalam kisah-kisahnya.
Setiap cerita
rakyat adalah sarana komunikasi yang mewajibkan ketiga unsur tersebut ada.
Kalau tak ada pemberi pesan, cerita-cerita ini akan terhenti dan tidak
berlanjut. Kalau tidak ada penerima pesan, buku-buku ini akan teronggok di rak,
perpustakaan atau gudang. Jika tak ada pesan yang disampaikan, kertas-kertas
ini tidak ada gunanya, dianggap sampah dijadikan pembungkus kacang dan akhirnya
dibuang atau didaur ulang.
Ketiga unsur
itulah yang memungkinkan kisah-kisah itu masih berlanjut sampai sekarang dan
terus menjadi sumber inspirasi generasi yang akan datang. Jika dulu dilakukan
secara lisan, lalu ditulis secara sederhana, dan sekarang menjadi buku yang
menarik. Mungkin nanti akan dilisankan lagi dalam pementasan, ditulis lagi
dalam bentuk lain dan seterusnya.
Mengolah Pesan
Pesan atau amanat
merupakan salah satu unsur yang harus ada dalam cerita rakyat. Dalam cerita
rakyat, pesan ini bisa dimasukkan dalam:
1.
Karakter
tokoh.
Alur cerita rakyat sudah tetap, tidak
berubah, walau memungkinkan ada banyak versi yang berkembang sesuai dengan si
penutur. Salah satu ruang bebas yang bisa digunakan penulis adalah ‘biodata
tokoh’. Saya biasa membuat apa yang saya sebut ‘biodata tokoh’ ini dengan
menuliskan rinci ciri-ciri fisik dan non fisik masing-masing tokoh termasuk
kebiasaan, kecenderungan, dan sebagainya. Biodata tokoh inilah yang nantinya
saya pakai sebagai acuan saat menampilkan tokoh dalam cerita. Di sinilah pesan
itu muncul. Misal seorang tokoh digambarkan sebagai anak baik, artinya: ramah,
mudah membantu orang lain, membuang sampah di tempatnya, merawat tanaman, dan
sebagainya.
2.
Peristiwa.
Peristiwa bisa memberi pesan tentang
akibat-akibat perbuatan baik atau tidak baik. Jika sebuah perbuatan baik tidak
dilakukan, maka akan terjadi sesuatu yang buruk. Atau sebaliknya. Memberikan
penekanan pada peristiwa-peristiwa tersebut bisa menguatkan pesan yang akan
diberikan oleh sebuah cerita.
3.
Kesimpulan.
Beberapa cerita menambahkan kesimpulan
pada akhir cerita untuk menajamkan pesan yang ingin disampaikan. Bisa
diletakkan dalam satu bagian tersendiri, entah dalam kalimat, paragraf atau
bab.
Catatan
Beberapa
kesalahan teknis dalam penerbitan buku-buku sebelumnya sudah diperbaiki dalam
penerbitan kali ini. Yang tampak dalam empat buku ini adalah buku yang indah,
rapi dan berkualitas disertai informasi-informasi penting seperti nama
ilustrator, glosarium, dan sebagainya. Tata letak, ilustrasi dan warna pun
kelihatan lebih matang apalagi menggunakan kertas yang lebih tebal dibandingkan
dengan penerbitan sebelumnya. Pun nuansa Lampung sangat kental dengan
meletakkan beberapa istilah dari Bahasa Lampung. Ini sangat berguna untuk
mengenalkan istilah-istilah Lampung yang sangat biasa dari daerah Lampung.
Beberapa yang
masih harus diperketat adalah:
-
Pengetikan
tanda baca (ada yang tidak perlu (tanda seru dan koma/titik digabung), kurang
tanda kutip di awal atau belakang kutipan, dan sebagainya).
-
Huruf
miring digunakan tidak konsisten dan pada bagian yang tidak diperlukan.
-
Huruf
yang diketik berlebihan (cukup 3 huruf saja, atau konsisten). Ini biasanya
muncul dalam teriakan, suara yang keras atau diperpanjang.
-
Pemenggalan
yang tidak tepat (titik akhir kalimat di baris berikutnya).
-
Huruf
besar di awal kalimat ada yang ilang.
-
Tidak
ada sumber cerita.
Kesalahan-kesalahan
seperti yang saya sebut di atas tidak banyak namun cukup mengganggu saat
ditemui. Sebagian kesalahan itu mungkin terjadi pada saat proses lay out dan bisa diatasi dengan koreksi
akhir sebelum cetak. Dengan demikian, buku ini bukan hanya membawa pembaca
(siswa SD dan SMP atau guru-guru/orang tuanya) pada cerita rakyat Lampung, tapi
juga mengajak mereka untuk belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan secara menyeluruh sebagai sarana
pengajaran etika, budi pekerti dan perilaku baik sebagai personal, sosial
maupun makluk ciptaan. ***
*Yuli Nugrahani, penulis Sultan Domas
Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati,
(Kegiatan ini dihadiri oleh para guru SD dan SMP utusan dari berbagai sekolah di Prov. Lampung, siswa-siswi SMP dari beberapa daerah di Lampung, penulis, editor dan peserta pelatihan instruktur literasi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Prov. Lampung. Saya hadir dalam satu sesi sebagai pembahas buku yang baru diterbitkan, bersama dengan Isbedy Stiawan ZS, dimoderatori oleh Dr. Ganjar Harimansyah dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud)
Monday, April 01, 2019
Kopdit Mekar Sai pada Unit SKM Metro
Ini pertama kalinya aku sebagai bagian dari pengawas Kopdit Mekar Sai melihat bagaimana kunjungan unit dilakukan oleh pengurus dan manajemen Kopdit Mekar Sai. Pekerjaan dan tradisi rutin Mekar Sai ini sudah berjalan lama. Pengurus dibantu manajemen berkunjung ke unit-unit (ada 300an unit sekarang ini) yang tersebar di berbagai daerah di Provinsi Lampung sesuai permintaan dari unit yang bersangkutan atau jadwal yang sudah ditentukan oleh pengurus.
Sasaran kunjungan kali ini adalah Unit SKM Metro, bertempat di aula SMK Kristen 1 Metro, pada Minggu 31 Maret 2019. Ini adalah program kunjungan yang pertama setelah Rapat Anggota Tahunan (RAT) bulan Februari lalu dan pertama juga dilakukan oleh pengurus baru. Hadir dalam kunjungan ini 100 anggota unit (seluruh anggota unit SKM berjumlah lebih dari 200 orang).
Tujuan utama dari kunjungan pengurus kali ini adalah mensosialisasikan hasil RAT, memperkenalkan kepengurusan yang baru itu salah satunya, plus program-program yang lain. Dan mengenalkan aplikasi Sakti.Link yang mulai digunakan oleh Mekar Sai pada tahun ini kepada anggota dan mengajak mereka mulai menggunakannya sebagai sarana kemudahan pelayanan Mekar Sai kepada anggota.
Aku senang bisa melihat antusiasme anggota yang hadir dalam kunjungan kali ini. Pak Dar, koordinator unitnya ternyata orang yang sangat peduli pada literasi dan punya program kepustakaan untuk pelajar. Masuk ke perpustakaan yang dikelolanya membuatku berkobar-kobar apalagi ditunjukin hasil karya tulis para pelajar yang dipandunya berbentuk kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan resensi buku/film, dan sebagainya. Itu mah bonus setelah melihat bagaimana unit ini sudah berjalan sejak lama dengan anggotanya yang aktif dan terus berkembang.
Sebelum dan sesudah acara, juga di sela-sela acara, staf manajemen yang ikut (Pak Kiman dan Mbak Susan) memberikan pelayanan kepada anggota yang membutuhkan, entah simpanan, pinjaman atau konsultasi.
Beberapa orang muda dan anak-anak yang hadir juga membuat kegiatan ini meriah, apalagi pada bagian akhir Mekar Sai juga membagi-bagikan sovenir untuk para anggota.
Aku sendiri mesti terus menarik diriku supaya tetap pada posisi pengawas, yaitu mata anggota untuk mengawasi pengelolaan koperasi secara keseluruhan. Maka saat ada kesempatan bicara, aku menyampaikan hal itu kepada hadirin dan berharap mereka tidak segan memanfaatkan keberadaan pengurus dan pengawas supaya seluruhnya berjalan dengan baik dan terus berkembang.
Sasaran kunjungan kali ini adalah Unit SKM Metro, bertempat di aula SMK Kristen 1 Metro, pada Minggu 31 Maret 2019. Ini adalah program kunjungan yang pertama setelah Rapat Anggota Tahunan (RAT) bulan Februari lalu dan pertama juga dilakukan oleh pengurus baru. Hadir dalam kunjungan ini 100 anggota unit (seluruh anggota unit SKM berjumlah lebih dari 200 orang).
Tujuan utama dari kunjungan pengurus kali ini adalah mensosialisasikan hasil RAT, memperkenalkan kepengurusan yang baru itu salah satunya, plus program-program yang lain. Dan mengenalkan aplikasi Sakti.Link yang mulai digunakan oleh Mekar Sai pada tahun ini kepada anggota dan mengajak mereka mulai menggunakannya sebagai sarana kemudahan pelayanan Mekar Sai kepada anggota.
Aku senang bisa melihat antusiasme anggota yang hadir dalam kunjungan kali ini. Pak Dar, koordinator unitnya ternyata orang yang sangat peduli pada literasi dan punya program kepustakaan untuk pelajar. Masuk ke perpustakaan yang dikelolanya membuatku berkobar-kobar apalagi ditunjukin hasil karya tulis para pelajar yang dipandunya berbentuk kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan resensi buku/film, dan sebagainya. Itu mah bonus setelah melihat bagaimana unit ini sudah berjalan sejak lama dengan anggotanya yang aktif dan terus berkembang.
Sebelum dan sesudah acara, juga di sela-sela acara, staf manajemen yang ikut (Pak Kiman dan Mbak Susan) memberikan pelayanan kepada anggota yang membutuhkan, entah simpanan, pinjaman atau konsultasi.
Beberapa orang muda dan anak-anak yang hadir juga membuat kegiatan ini meriah, apalagi pada bagian akhir Mekar Sai juga membagi-bagikan sovenir untuk para anggota.
Aku sendiri mesti terus menarik diriku supaya tetap pada posisi pengawas, yaitu mata anggota untuk mengawasi pengelolaan koperasi secara keseluruhan. Maka saat ada kesempatan bicara, aku menyampaikan hal itu kepada hadirin dan berharap mereka tidak segan memanfaatkan keberadaan pengurus dan pengawas supaya seluruhnya berjalan dengan baik dan terus berkembang.
Subscribe to:
Posts (Atom)






















