Wednesday, May 30, 2012

Kaki

Kakiku, jepretan iseng sahabat.


Ini bagian tubuh yang penting bagi gerak hidup. Aku pernah nulis, kaki-kaki inilah yang membuat jarak gerakku semakin panjang, lebar, luas... Aku bisa membuat lompatan-lompatan yang tak terbayangkan sebelumnya dengan kakiku. Namun seringkali bagian tubuh paling bawah ini terlupakan. Soalnya letaknya di bawaaahhhh sana. Sering luput dari perhatian. Maka, ketika melihat foto ini di antara file kamera seorang sahabat, aku langsung ingin mengeksposnya. Ingin mengingat ada kaki yang melengkapiku. Mensyukurinya. Aku ingat ketika di Siam Reap, Kamboja, aku menemui bukan hanya seratus dua ratus tapi ribuan orang tanpa kaki akibat ranjau darat. Sebagian yang pernah kutemui Tun Channareth, seorang aktivis dari Kamboja eks tentara dan diamputasi kedua kakinya karena terkena ranjau darat, menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Desember 1997 atas nama Kampanye Internasional Anti Ranjau Darat. Juga ada Song Kosal, seorang gadis cantik yang ceria dengan satu kaki. Itu tuh foto keduanya. Mestinya aku punya foto hasil jepretan sendiri, tapi lagi gak sabar mencarinya. Nanti aku susulkan. Mereka menggulati kehilangan kaki-kaki dengan dinamika yang luar biasa. Tidak setiap orang berhasil dalam pergulatan itu. Jadi, ayo syukuri kaki-kaki kita sekarang ini.
Reth dan Kosal

Monday, May 28, 2012

Menarikan Kehidupan

Tari Jawa di pameran dunia di Paris 1889.
Kadang kerjaanku cuma menari saja. Menggerakkan kaki tanganku dengan kekuatan dan kelembutan yang kupunya. Tentu seluruh tubuhku harus selaras. Kaki memberi jarak gerak. Tangan memberi detail yang kelihatan. Mata membuat ekspresi hidup. Bibir menajamkan semuanya.
Ada musik-musik yang mengalun senantiasa untuk diikuti menjadi ritme tarian. Sesekali keras menghentak. Di waktu lain halus mendayu. Berganti dari satu masa ke masa lain. Rentang yang tak tentu setiap masa.


Friday, May 25, 2012

Metropool - Megaria - Metropole

Katanya ini bioskop tertua di Jakarta. Menurut Wikipedia dibangun pada tahun 1932 dengan nama Bioscoop Metropool. Terletak di sudut Jalan Pegangsaan dan Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.

Pada 1960, namanya diubah menjadi Bioskop Megaria, sesuai seruan Soekarno untuk menghilangkan nama-nama asing. Pada 1989, gedung bioskop ini disewakan oleh PT Bioskop Metropole, pemiliknya, kepada jaringan 21 Cineplex. Gedung ini diisi dengan 6 bioskop mini.  Namanya sempat berubah menjadi Megaria 21. Namun kini namanya adalah Metropole XXI.
Selasa lalu (22/5) aku nonton di situ untuk pertama kalinya bareng Dhenok. Sayang, film yang kami pilih, Bel Ami, cuma cocok untuk dicela-cela. Sebenarnya aku suka settingnya, idenya (diambil dari sebuah novel dengan judul sama karangan Guy de Maupassant terbitan tahun 1885), tapi jadinya katrok banget. Entar kalau pas ingin mencela atau nonjok orang, aku ceritakan film ini. Tapi gak janji ya. Aku gak minat untuk mencela atau nonjok orang dalam waktu dekat ini.

Friday, May 18, 2012

Bola Dimana-mana

Ada bola di mana-mana. Ini bukan soal Liga Champions, Turnamen Al Nakba, Euro 12, ISL, atau apapun. Tapi ini soal bola-bola yang kutemukan saat menyapu halaman rumah kemarin sore (yang tidak jadi kuteruskan menyapu tapi kutukar sapu dengan kamera untuk melongoknya).
Bola tenis di dekat mobil kayu.
Bola basket di samping rumah.
Kock bulutangkis di rumpun anggrek tanah.
Bola volley di belakang rumah, dekat pagar.
Dua boa plastik di bawah pohon jambu dekat pagar depan rumah.
Bola sepak yang bocor terjepit sepeda dan segala barang.
Dan, ini dia pemilik bola-bola itu, Albert, yang sudah diomeli panjang lebar tidak merasa bersalah sudah menebarkan bola-bola itu di segala penjuru. Dan masih menarikku ke sana kemari untuk menunjukkan bahwa ada bola-bola lain selain yang sudah dipotret. "Ada lagi, bu. Ada lagi." Ya ampun.

Wednesday, May 16, 2012

Si Boy Mati!

Sayang sekali. Si Boy tidak berumur panjang. Tahu si Boy? Ini anak ayam imut yang diadopsi oleh sepasang burung daranya Albert. Jika tidak ingat lihat di adoption dan aduh... Si Boy ini sangat lincah sehari sebelumnya, nah, pagi-pagi dia ditemukan tenggelam di kolam ikan lele belakang rumah.
Beberapa versi tentang kematiannya pun muncul :
Bernard bilang,"Dia pasti sedang menyanyi sambil loncat-loncat di pinggir kolam, lalu mundur-mundur nggak lihat kolam, lalu jatuh!" Ujarnya sambil memekik lebay.
Albert bilang,"Pasti ngikut-ngikut bapaknya. Bapaknya kan suka minum di kolam. Tapi karena gak nyampe tetep memaksa, ya jatuh. Lagian airnya dalam dan dia tidak bisa berenang..." Ujarnya sambil menerawang lebay.
Aku ikut sedih bersama mereka. Dan aku biarkan mereka membuat penguburan yang pantas dan lebay untuk si Boy. Mereka bungkus dengan kain bekas kaos Den Hendro, dikubur, dipasang kertas dengan tulisan Si Boy, wafat Minggu, 13 Mei 2012, dan ditaburi bunga anggrek dan bugenville (Aku menahan nafas ketika mereka mencabuti kuntum-kuntum anggrek, tapi gak bisa protes.)
Yang aku protes,"Memang dia anak ayam jantan? Kok diberi nama Boy? Kalian kan belum tahu suaranya kukuruyuk atau petok-petok. Cuma ciap-ciap begitu." Mereka gak mau menjawab. Cuma melihatku sambil monyong. "Memang ini saatnya membahas begituan? Ibu ini lebay deh." Hehehe...aku bayangkan mereka membatin begitu.

Tuesday, May 15, 2012

Jaring-jaring Anak-anakku

Awalnya aku kira aku yang akan menjaring anak-anakku. Menjaganya dalam simpul-simpul yang kuat lewat kekuatiranku. Memastikan bahwa mereka baik-baik saja dan terlindung dari segala ancaman.
Rupanya tidak. Aku yang terbungkus jaring-jaring mereka. Aku ada dalam jaring-jaring longgar yang membuatku masih leluasa memandang, memeluk, mencium mereka. Tapi  jaring-jaring juga membatasi otak hati kaki tanganku untuk tidak lebih lagi mengekang mereka dalam cara pikirku. Mereka bebas bergerak dalam cara hidupnya, dan mereka akan bertumbuh lebih dari perkiraanku. Jaring-jaring ini mengajariku banyak hal tentang kesabaran, kebijaksanaan, pemurnian diri, motivasi, dan jelas membantuku untuk tahu diri. Aku bukan pemilik mereka. Sama sekali bukan.

Monday, May 14, 2012

Bedah Buku : Bangga dalam Keprihatinan, Kisah Karya para Katekis



Jumat, 4 Mei lalu aku diundang untuk memandu bedah buku di Sahid Hotel, sebagai sesi awal dalam sebuah pertemuan. Judul buku adalah Bangga dalam Keprihatinan, Kisah Karya Para Katekis, editor : Nurhadi Pujoko. Di luar kebiasaan sebuah bedah buku yang mengundang banyak orang, yang hadir kali ini adalah para penulis buku itu sendiri plus beberapa orang tambahan dalam lingkup mereka. Para 'tua' dengan umur yang paling muda 56 tahun! Dan semuanya 'bapak', tidak ada ibu.

Tentang buku ini silakan membaca Majalah Nuntius edisi Juni 2012, terbit awal bulan nanti. Tapi soal para penulisnya, (ada 21 penulis dengan 21 judul tulisan yang terkumpul dalam buku ini) aku mesti katakan,"Wow!" Mereka punya semangat yang luar biasa di usia itu. Tidak bisa aku bilang usia senja karena mereka masih produktif bergerak ke sana kemari dan gerakan itu mereka tuangkan dalam tulisan. Bukan tulisan yang luar biasa tapi gerak mereka adalah gerak yang luar biasa. Aku angkat topi untuk mereka semua, juga untuk rencana buku kedua yang akan mereka buat. "Nebeng semangat ya, bapak-bapak. Aku ingin ditulari semangat itu. Terimakasih."

Saturday, May 12, 2012

Cooking for My Kids

Menyiapkan bekal alias bontot untuk makan siang anak-anak adalah satu dari banyak pekerjaan ibu yang menyenangkan. Lihat contoh menu bontotan anak-anakku hari Kamis minggu lalu.
1. Nasi (Nasi tidak putih karena berasnya beras pecah kulit organik yang hanya digiling satu kali. Yang kali ini aku masak adalah jenis rojolele produksi Petani Organik Alam Lestari, Bangunrejo, yang dipelopori Mas Edy dan kelompoknya, Pulih. Beras ini dijual Rp. 10.000,- per kg. Pecah-pecah kusam kecampur beras merah, tapi harumnya...)
2. Sayur terik kuning campuran tempe, tahu dan telur puyuh. Mestinya ada potongan labu siam, tapi Bernard gak mau diselipin di menunya. Pengganti sayurnya? Kagak ada. Harusnya ada buah, pisang muli yang mungil manis.
3. Naget ayam goreng tiga potong. Cukup begitu. Plus air putih masing-masing satu botol n kadang-kadang bonus satu kotak susu.
Praktis kan? Dan jelas disukai anak-anak. Kali-kali tertentu aku harus ngakali supaya ada sayuran yang masuk di menu mereka. Lumpia sayur, tumis tahu kol bumbu kecap, bakwan sayur, tumis kangkung, sambel kentang buncis wortel, opor labu siam, dll.

Thursday, May 10, 2012

Adoption

Kakak beradik beda jenis.

Dirawat sayang oleh keduanya.
Awalnya adalah saat Albert menemukan sebutir telur entah di mana. Dia bawa pulang dan ditaruh di sarang burung dara yang kebetulan memang sedang bertelur. Telur dari antah berantah itu pun dierami bersama dua telur burung dara yang lain. Beberapa hari yang lalu anak mungil burung dara keluar. Selang sehari, bunyi ciap-ciap muncul dari sarang dan anak ayam hitam sedang sangat cerewet berteriak. Telur yang satunya lagi pecah tapi tidak tampak anak burung lain. Jadi dua anak beranak itu tinggal di satu sarang. Dua hari setelahnya, anak ayam itu sudah lincah ke sana kemari di seputar sarang, sedang anak dara masih merem walau badannya lebih besar. Dan bapak ibu dara telaten merawat mereka berdua.
Hari berikutnya, si anak ayam sudah tidak betah di dalam sarang dan mengikuti bapak ibunya, pluk! Tak bisa mengepak maka dia menciap-ciap di tanah sembari mengikuti kemana bapak dan ibu angkatnya pergi. Jika ditinggal terbang, suaranya kencang kemana-mana. Anak yang cerewet.
Wah, lucu membayangkan bagaimana hidup mereka. Kadang bapak dan ibu dara tidak mau berdekatan kelihatan seperti saling berdebat. Kali saling curiga,"Dari mana nih anak? Kok beda? Selingkuh dengan ayam?"
Kadang mereka juga kelihatan risih ketika si anak ayam ndusel di bawah badan mereka seperti kebiasaan anak ayam yang berlindung di bawah induknya. Kali burung-burung gak biasa diduseli begitu sepanjang waktu.
Wah, bagaimana nanti ketika anak dara sudah waktunya terbang ya? Apa anak ayam akan frustrasi mengikutinya? Mereka saling iri gak ya? Wah, wah, ... moga mereka baik-baik berempat. Incaran bahaya muncul setiap waktu dari anak-anak, kucing, ...

Tuesday, May 08, 2012

RIP : Stefanie Celiana

Selamat jalan, teman.
Senin, 7 Mei 2012 menjadi saat bahagia bagimu
untuk bersatu lagi dengan Sang Pencipta.
Engkau sudah memberi warna pada dunia
dalam putaran waktu dari lahirmu.
Harum wangi bunga menyertaimu
bunga-bunga yang dipetik
dari kebun yang kau tanam.
Doaku, Celi.
Untukmu.

Thursday, May 03, 2012

And Friends

Ini Bernard, anakku. Yang makannya super tapi gak gemuk-gemuk juga. Beberapa hari ini dia terbawa kakaknya, ikut latihan sepak bola di lapangan SPMA. Setiap sore mereka ganti kostum, pake sepatu dan pergi kesana.
"Lewat mana?" Tanyaku kemarin ketika mereka bukannya ke kiri, jalan yang seharusnya. Tapi malah ke kanan.
"Lewat jalan pintas, bu. Tembok pagar SPMA di atas roboh." Albert yang jawab teriak sambil lari.
Oooo.
Kebiasaan baru itu membuat mereka jadi cepat mengantuk. Beranjak ke 20.30 mereka sudah terkapar tak berdaya. Lihat tidur Bernard. Nyaman dengan mimpi bersama para temannya yang semakin banyak akhir-akhir ini. Aku yakin itu karena dia semakin 'mensosial'. Lepas dari rumah. Bergaul dengan teman-teman sebayanya. Aku sempat kuatir ketika dia dulu tidak punya keinginan untuk keluar rumah. Dia suka di dalam rumah, bermain sendiri, nonton tivi, membuat sesuatu,... Aku sering memintanya untuk keluar rumah, tapi dia tidak akan tahan lama. Sebentar juga sudah kembali. Beda dengan Albert yang memang suka keluyuran, banyak teman. Radius berapa blog juga dia masih dikenal saking supelnya.
Nah, yang belum bisa dilepas dari Bernard adalah 'teman-teman' kesayangan yang diajaknya bicara, main dan tidur. Tuh, yang di foto. Mereka adalah sebagian dari teman-teman kesayangannya, yaitu Kinclong Turtle dan Dolpino Hasan (hehehe, nama yang aneh kan? Selain itu masih ada Pinguin Pinguin, Snopy...) Aku protes waktu si lumba-lumba biru itu dipanggil Hasan.
"Ih, ibu. Ya memang itu namanya. Dolpino Hasan."
Hehehe. Kayaknya kok gak imut. Nama yang tidak lazim. Tapi itulah...

Tuesday, May 01, 2012

Garuda

Garudaku
kapan kau datang menyelamatkan aku?
Aku telah jatuh dengan seluruh sayapku
mayday, mayday, mayday...
Aku percaya padamu
perkasamu
warna warnimu
Bijaksanamu harusnya menyelamatkan aku
aku mimpi kau menyelamatkan aku
sebelum aku sampai di tanah.
Mayday, mayday, mayday...

Friday, April 27, 2012

Way of Life

Sekali waktu dalam putaran perjalanan di Jawa Timur, aku naik bis ekonomi dari Lumajang ke Probolinggo. Sekitar 1 jam dengan ongkos 7000 rupiah. Tempat duduk paling belakang sehingga aku bisa melihat apapun kejadian yang ada di dalam bis. Di sebelah kiriku ada seorang bapak dengan gitar di pangkuannya. Di sebelah kananku ada seorang ibu, membawa tas plastik dengan baju atasan batik lengan panjang dan bawahan celana kombor warna oranye. Di depanku sepasang bapak dan ibu bersama 3 anaknya berdesakan di tiga kursi. Depannya lagi seorang ibu yang baru saja naik dengan 3 karung besar entah isi apa dan sebuah bungkusan dalam taplak yang besar (sebelum duduk, benda itu dia jinjing di atas kepala.)
Seluruh bis itu penuh terisi, bahkan ada penumpang yang berdiri. Tidak panas walau tanpa AC karena pintu dan jendela-jendela bis dibuka. Terlebih karena aku duduk dekat pintu. Sepanjang 1 jam perjalanan, bis itu dimasuki oleh para pedagang makanan, peminta-minta dan pengamen yang tidak henti-hentinya. Buanyak. Hebatnya, transaksi terjadi. Para penumpang rela hati berbagi dengan para pedagang kecil penjual tahu, keripik, minuman, mainan, tisu,...dan segala macam. Para penumpang juga memberi para pengamen, peminta-minta tanpa protes bahwa kehadiran mereka membuat bis semakin berjubel.
Ibu di sebelahku memberi siapapun yang mengatungkan tangan padanya. Minimal dua receh lima ratusan dia berikan. Setiap kali! (Aku cuma memberi senyum, mengangguk. Bandingkan!) Sepanjang satu jam aku terjaga, waspada mengamati, dan sangat antusias melihat apapun.

Lain waktu, di putaran yang berbeda, aku naik bis AC untuk jurusan yang sama. Ongkosnya 23 ribu rupiah (tiga kali ongkos bis ekonomi masih tambah dua ribu.) Tentu nyaman, karena tidak berdesakan. Ada AC. Pintu tertutup. Tidak ada penjual makanan, pengamen, peminta-minta. Sepi tidak ada percakapan antar penumpang yang sangat berarti. Semua sendiri-sendiri, dan tidak ada transaksi apapun di sini. Semua tidak peduli. Aku pun tertidur pulas. Terbuai dalam mimpi, dan gak tahu apapun yang terjadi.

Andai kata hidup seperti naik bis, mana yang tepat untuk dipilih? BIS EKONOMI atau BIS AC?
 


Thursday, April 26, 2012

Memegang Misteri Ilahi


Tubuh jiwaku ikut luruh mendengar prasetya mereka :

Setia sebagai gembala
merayakan misteri iman
melayani Ilahi dengan pantas
menjadi kurban murni
dalam taat


Tubuh jiwaku ikut dalam suka duka cita pengharapan menatap mereka :

Jadi pelayan
penuh kuasa
"Barangsiapa kauampuni dosanya, dosanya itu diampuni;
dan barangsiapa kautahan dosanya, dosanya itu ditahan padanya."

(Rm. Andre, Rm, Anjar, Rm. Wiwid, proficiat! Aku ikut dalam doa-doa kalian. Ini awal dinamika jatuh bangun, menuju Kalvari. Tak bisa dielak karena kalian hanyalah anak-anak bumi yang terpilih dan dikasihi.)

Tuesday, April 24, 2012

Tuesday With Morrie

Ini adalah kuliah yang berikutnya bagi hidup Mitch. Mantan dosennya, profesor tua Morrie menemani tiap hari Selasanya dengan kuliah yang sarat dengan pelajaran hidup.
Morrie tua adalah orang sekarat yang menunggu saat meninggalnya karena vonis dokter. Dia yang suka menari mengikuti ritme lagu apapun, menderita ALS (amyotrophic lateral sclerosis), yaitu penyakit yang menyerang neuron-neuron (sel-sel syaraf) motorik pada tulang belakang dan batang otak sehingga mengakibatkan kelumpuhan secara bertahap keseluruh organ tubuh bahkan kelumpuhan dalam mengfungsikan paru-paru untuk bernafas. Walaupun ALS melumpuhkan semua organ namun penderita ALS masih dapat menggunkan semua panca inderanya karena penyakit ini tidak merusak pikiran, kepribadian, kecerdasan, atau daya ingat sang pasien.
Di atas kursi rodanya, lalu di ranjang tidurnya, dalam sisa umurnya, Morrie menunjukkan pada Mitch bagaimana hidup harus dijalani. "Begitu orang tahu akan mati, dia akan belajar bagaimana harus hidup." Itu dikatakan Morrie. Dan semua orang akan mati, cepat atau lambat. Kapan harus mulai belajar hidup? Sekarang. Jangan lewatkan kesempatan. Untuk menunjukkan rasa cinta, rasa penyesalan, dan sungguh-sungguh menikmati hidup.
(Buku ini hadiah ultahku tahun 2009, dari S. Indriyati Caturiani. Menjadi salah satu dari sedikit buku berbahasa Inggris yang kupunya. Aku baru mulai membacanya bulan ini. Belum juga separohnya kubaca, dan sudah kurasa...luar biasa.)

Wednesday, April 18, 2012

Nghiêm Trọng


aku menyimpannya di sebuah kotak
belum dikunci, hanya ditutup
pun pelan-pelan
supaya tak ada bunyi
yang bisa mengagetkanku
mengagetkanmu
kau ingin aku taruh di mana?
di kubur?

lagi pula memang harusnya begitu
karena aku begitu
cintaimu pada jiwamu
sayangimu pada badanmu
sehingga harus awetkanmu
di kuburmu!
dengan begitu murni aku
murni kamu

di kuburmu
kutabur
wangi cinta jiwamu
bunga sayang ragamu.

Saturday, April 14, 2012

Busy in Weekend

Tumpukan kesibukan di hari Sabtu, akhir pekan, tak pernah kukehendaki. Namun juga tak terelakkan jika harus terjadi. Ya, harus diakrabi tidak dimusuhi. Minggu ini setumpuk itu di meja kerjaku, di hari Sabtu! Belum lagi yang di luar ruang kerja. Kelompok para janda menunggu dikunjungi walau cuma sebentar. Mesti aku sertai dengan additional foods, untuk menjaga mata jernih pikiran jernih tubuh jernih. Berbotol-botol vitamin, bergelas-gelas kopi, beralbum-album Bon Jovi, Slank, Boyz II Men, Agnes Monica, ...
Aku ingin segera selesai supaya kencan akhir pekanku tak terganggu. Para kekasihku menunggu.
Sabar ya...

Friday, April 13, 2012

Traffic Light

Banyak percakapan dengan Den Hendro atau siapapun aku selalu menyiratkan diri ingin jadi "Aktifis lalulintas". Berkendara aman, menggunakan jalan sebagai lalulintas yang aman, bagi setiap makluk.
Pagi ini reputasiku tercoreng gara-gara tidak melihat lampu menyala merah di Pasirgintung. Aku hanya melihat mobil biru di depanku melaju dan aku ngikut di belakangnya. Tahu-tahu di depanku ada polisi (untung gak ketabrak, karena aku siap ngegas. Sudah buru-buru, Albert bisa telat masuk sekolah!)
Wajahku yang bengong dibalas dengan pelototan tak ramah seorang polisi yang cukup senior.
"Tidak lihat lampu merah?!"
Aku menggeleng-gelengkan kepala, membuat dia kelihatan semakin murka.
"Lampu merah diterjang. Bagaimana?! Minggir!"
Dia mengarahkan aku ke sebelah kanan.
"Tidak melihat. Sungguh. Mobil biru tadi..."
"Tidak lihat bagaimana? Itu lampu merah!"
Aku tidak punya waktu lama. Jadi aku mengambil dompet, menunjukkan SIM dan STNK sembari sekilas melihat tanda namanya.
"Pak Herman, maaf..."
Wajahnya agak melunak. Dicermatinya SIM dan STNKku.
"Kerja dimana?"
Wajahnya lebih ramah.
"Tinggal di Polri? Dekat Cokro?"
Jelas ada senyum di wajahnya.
"Ya, Pak Herman. Maaf, sungguh aku gak lihat tadi."
"Ya sudah. Hati-hati. Silakan. Jangan lagi!"
Disodorkan dokumenku dan mempersilahkan aku pergi. Huff, thanks God! Albert protes berat karna dia sudah telat. Tapi dia pun heran bagaimana aku bisa lepas dengan mudah. Terlewati. Tapi reputasiku sebagai pengendara dan pengguna jalan raya, serta calon aktifis lalulintas tercoreng parah. Ahhh...

Thursday, April 12, 2012

The God of Small Things

Membaca ulang The God of Small Things di tengah pikiran yang maju mundur bolak balik masa lalu sekarang nanti sangat pas. Ceritanya persis mekanisme otak dan hatiku sekarang ini. Buku yang ditulis oleh Arundhati Roy ini rumit, serumit aku dalam pemahamanku, sekarang ini.

Arundhati Roy (gambar di atas) adalah seorang penulis sekaligus aktivis kemanusiaan berdarah India. Dia memenangkan penghargaan bergengsi Booker Prize pada 1997, berkat novel pertamanya berjudul 'The God of Small Things.'


Friday, March 30, 2012

Bersimpuh di Kakimu, Kekasih

Aku di kakimu, kekasih
membasuh dengan air mata
mencoba mencuci dengan tangisanku
dan kutumpahkan wewangian.

Aku di kakimu, kekasih
mengusap dengan rambut panjangku
mengeringkannya dengan helaiannya

Kurundukkan punggungku
mencium kakimu

Menghindari usapan tanganmu

yang membuatku malu.

(Hujan, dan aku disalibkan, di kakimu.)

Who are?

Hari ini akan ditentukan. BBM akan naik atau tidak. Yang menentukan adalah para pemain politik. Dan ini melibatkan rakyat, bumi, uang...
Siapa yang paling diuntungkan dengan kenaikan harga BBM ini?
Bumi akan tetap menangis karena minyak yang terus dikeruk.
Rakyat akan semakin melarat, mati raga, banyak hemat, hingga sekarat.
Uang akan mengalir. Dari mana kemana? Untuk siapa?
Bapak Presiden SBY, kau dapat apa dari kenaikan harga BBM?
Dapat ancaman? Bukan uang? Jadi, kenapa kau ngotot memutuskan seperti itu? Untuk menyebarkan ancaman kematian ke seluruh rakyat? Kau mestinya menawarkan kesejukan.
Jadi, siapa yang diuntungkan dengan kenaikan harga BBM hari ini?

Thursday, March 29, 2012

Kissing

Setiap hari ada puluhan mungkin ratusan, mungkin ribuan atau jutaan ciuman yang kualami. Setiap pagi hingga malam. Dengan para kekasihku yang puluhan mungkin ratusan ribuan jutaan.
Ada satu ciuman yang spesial dalam rumah kami. Hehehe...awalnya adalah Den Hendro yang memunculkannya ketika anak-anak masih di perut. Dia kebiasaan mencium perutku. Ketika anak-anak lahir, ganti dia ciumin perut anak-anak. Nah, rupanya kebiasaan ini menular ke Bernard. Dia, kalau sedang gemes, sedang iseng, pasti nyium di segala tempat khususnya perut. Aku pernah bolak-balik sampai repot gara-gara dia menyusup gitu aja ke kaos, di tengah keramaian. Nah, kalau dia menyusupkan kepala ke perut kan kaosku terangkat. Piye to...kelihatan kemana-mana perut pinggang pantat.
"Cuma mau cium perut, ibu."
"Iya, tapi kan jadi kelihatan nih perut ibu."
"Ndak apa-apalah."
Ih, nggak apa-apa gimana. Lagian kan geli.
Lain waktu dia akan ciumi perut bapaknya. Den Hendro paling gak tahan dipegang perutnya, jadi pasti marah teriak-teriak. Padahal dia kan biang keroknya.
"Adik, apa-apa sih. Niru siapa kau ini?"
"Kan bapak yang ajarin."
Nah, kapok lu. Aku ketawa saja.
Lain kali lagi, saat tenang-tenang di kamar Bernard ciumi perutku lalu membenamkannya di situ. Aku pura-pura gak kerasa apa-apa, padahal ya geli.
"Kenapa sih dik, suka banget cium perut. Mau balik ke dalam perut?"
"Lagi latihan, ibu."
"Latihan apa?"
"Ya latihan cium perut."
"Kok?"
"Iya, kan nanti kalau aku sudah punya anak-anak aku harus cium perut-perut mereka."
Ya ampun. Den Hendro mesti diingatkan nih. Sebagai bapak, dia harus hati-hati memperlakukan anak-anak, karena mereka akan contoh. Seumur ini aja Bernard sudah memikirkan tindakan tertentu pada anak-anaknya yang puluhan tahun lagi baru ada. Akur abang sayang? Hehehe...
Di luar itu, sejujurnya aku suka banget dicium, juga suka mencium. Merasakan kulit bibir yang lembut menempel di kulitku, entah bagian manapun, membuatku nyaman. Juga menempelkan bibirku di kulit manapun membuahkan sensasi nyaman yang sama. Harusnya memang semua orang sering-sering saling mencium. Dengan cinta rela...

(Aku tidak sedang ngomong soal moral, etika, dan teori-teori lain. I'm just saying about kissing.)

Wednesday, March 28, 2012

Active Non Violence

Kekerasan muncul ketika kita tidak bisa mengelola konflik secara damai. Dan kekerasan, apapun itu, selalu membuat tangis. Bagi yang menjadi korban, yang melakukan maupun yang melihat. Jadi ada pilihan lain yang bisa dilakukan : aktif tanpa kekerasan. Kekerasan saja tidak cukup, harus aktif!
Sabtu - Minggu, 24 - 25 Maret 2012, La Verna, hanya bagian kecil dari sarana penyebaran. Harus ada yang lain, terus menerus, dimanapun!

Letter for You, Dear Dee.

Dear Dee,

Melihatmu adalah bayangan diriku.
Mencintaimu pun sudah luka.

Ditambah dengan pedang palu berulang,
dari cerita
dari suara
dari mata
dari dilema
tidak ada masalah bagiku.
Aku bertahan dalam merdekaku.

Tapi, tak semua makluk mencintaimu
seperti cintaku yang sangat perempuan.
Tapi, tak semua orang bisa memaklumi
manusiamu yang penuh nafsu.
Tapi, tak semua semesta akan menahan
tidak menyerang dan melawanmu.

Hati-hati.
Jaga diri.
Aku tak akan pernah bisa melindungimu.
Aku, hanya cinta bulat penuh berlubang
yang terbagi tak rata untuk para kekasihku.
Sesuai bagian yang telah kau ambil,
aku membaginya untukmu.
Hanya itu.

Sungguh,
hati-hati jaga diri.


Salamku,
Yo

Tuesday, March 27, 2012

What is lemari in English?

Menemani anak-anak belajar adalah pekerjaan yang paling melelahkan. Paling utama karena aku juga mesti ikut belajar. Kelas 5 sudah harus tahu tentang apa sih berbuat adil itu? Kami perang konsep dulu sebelum baca buku. Iyalah. Si Albert kan tidak mau kalah, seperti ibunya juga. Di buku tertulis : Adil adalah memberikan pada seseorang sesuai dengan haknya. Kelas 5 pun tahu ini.
Kelas 2 SD harus tahu mengapa tiga orang itu tidak mendengarkan Lulu. Nah Lulu siapa nih? Mana bisa dijawab pertanyaan kayak gini. Hehehe, usut punya usut pertanyaan itu hanya bisa dijawab jika sudah membaca buku tematik 2 F pada halaman 76 yang berjudul Tiga Orang yang Sok Pintar. Ehhh, ya ibunya harus baca dulu dunk sebelum berdebat dengan Bernard yang cerdik.
Begitu selesai menjawab soal-soal, Bernard memegang ballpoint.
"Ni tintanya keluar atau di dalam, bu?" Dia pegang ujungnya sehingga tidak kelihatan terbuka atau tertutup.
"Pasti ada."
Dia tunjukkan dan benar.
"Kok ibu tahu sih?"
"Ya iyalah. Kan ibu ini superwoman. Serba tahu segala hal."
"Ah, mana mungkin. Bahasa Inggrisnya lemari saja tidak tahu."
Eh! Kok nyangkut bahasa Inggrisnya lemari?
"Tuh, gak tahu kan? Apa coba?"
"Apa ya Nard? Kok lupa ya. Apa sih bahasa Inggrisnya lemari?"
"Tuh, berarti ibu tuh bukan superwoman. Tidak segala hal tahu."
Kurang asem. Dia langsung mengangkat tasnya, dibawa ke ruang depan supaya siap dibawa besok pagi untuk sekolah.
"Good night, ibu. Selamat tidur. Mimpi indah. Bangun pagi-pagi sekali."
Dan dia ninggalin aku gitu aja.

Friday, March 16, 2012

My Sons Angels

Anak-anakku bukan anak-anak paling manis sedunia. Aku tahu itu. Mereka sering membuatku olah raga jantung, penuh adrenalin, berdebar-debar, cemas, bahkan sangat cemas. Membuka tas ransel mereka masing-masing saat mereka tidur saja membuatku kena serangan jantung berulang-ulang dalam satu detik hitungan.
Misal semalam, aku cek tas adik Bernard. Ada setumpuk buku ulangan yang baru saja dibagi. Belum ditandatangani orang tua. Ada 1 nilai 100. Matematika. Ok. Lalu IPA, bagus. Bahasa Indonesia ok. Lalu hah, agama 60, di bawah KKM, harus remid. Lalu Bahasa Inggris, cuma betul 2, tidak diberi nilai sama gurunya. (Esok hari Bernard membela diri dengan mengatakan,"Bu Gurunya itu. Dibilang Selasa ulangannya, tapi ternyata Senin ulangan. Jadi belum belajar." Dan aku tidak bisa tidak mesti maklum karena hal itu.)
Lalu membongkar ransel mas Albert. Aduh, jariku langsung nancap di sesuatu yang tajam. Ada potongan lidi berserakan di dasar tas. Jadi aku keluarkan semua bukunya. Ya, ampun anakku. Kenapa banyak nian buku yang kena lepra semacam ini. Darahku naik ke ubun-ubun, tapi gak bisa marah, lha anaknya sudah tidur. Potongan-potongan kertas dengan nama-nama : Ivan, Bambang, Becham, dst. Lalu beberapa kertas yang dikunyel-kunyel jadi bulat-bulat. Pasti itu untuk main bola kertas. Ampun. Aduh. Aku sudah bilang berkali-kali tak terhitung untuk memakai kertas yang tidak dipakai, bukannya pakai kertas dari buku pelajaran. Dan lihat tulisannya, aku tidak bisa baca. Bagaimana gurunya bisa sabar menghadapimu, anakku?
Tapi aku yakin anak-anakku adalah anak-anak terberkati. Mereka dikelilingi para malaikat yang melindunginya senantiasa. Aku tidak bisa melihatnya dengan mata tapi aku merasakannya bahwa mereka hadir untuk membantu anak-anakku itu tumbuh dan melindunginya dari berbagai bahaya yang mengancam. Aku ingat tingkah Albert yang sering berantakan gerudak-geruduk, tapi dia begitu aman. Lalu Bernard, berapa kali jatuh. Bahkan jatuh dengan motor bersamaku, aku luka parah dia tidak lecet sedikitpun. Aku percaya malaikat-malaikat bekerja keras untuk merawat anakku. Terimakasih. Aku selalu butuh bantuanMu untuk pertumbuhan mereka. Lindungi mereka senantiasa.

Wednesday, March 14, 2012

The Blue Sick

Aku mempunyai beberapa rencana yang sangat kuat untuk tahun ini.
Pertama untuk mengolah otak, dengan sekolah lagi. Ini rencana dari tahun lalu yang belum ketahuan jalannya.
Kedua untuk mengolah hati, dengan membuat beberapa proyek sepanjang tahun. Nulis puisi, cerpen, nyebarin GATK dan sering jalan-jalan.
Ketiga untuk mengolah tubuh, dengan melibati anak-anak dan bapaknya sepenuh diri. Bergerak dari ujung rumah ke ujung lain, ruang satu ruang satunya lagi. Bersama mereka.

Tapi sekarang ini aku sedang biru. Seluruh tubuh dan jiwaku biru. Mungkin baik juga tidak punya keinginan, tidak punya rencana, tidak punya kepentingan, tidak punya hasrat, ... Diam, sendiri saja. Tanpa suara, tanpa gerak.

Wednesday, March 07, 2012

Regina Anindya Putri

Bayi kecil itu bernama : Regina Anindya Putri. Dari lahirnya aku sudah terpikat padanya. Semalam akulah yang mendapat kesempatan pertama menumpangkan tangan di atas kepalanya karena aku yang memimpin ibadat syukur pemberian nama. Kemudian aku meminta semua orang yang hadir ikut menumpangkan tangan di atasnya, memberkatinya.

Regina,
engkau telah diberi mulut untuk berbicara
mata untuk melihat
telinga untuk mendengar
tangan untuk menolong sesama
dan kaki untuk berjalan pada Pencipta

Para malaikat telah diutus untuk melindungimu
dan kami semua hadir untuk mendukungmu
Regina, berkat Tuhan melimpah bagimu.

Super Woman

Aku perempuan kuat, pura-pura
membentangkan sayap, pura-pura
meninju seluruh permukaan, pura-pura
menusuk segala kedalaman, pura-pura

Sejatinya
aku hanya menari
melayang
entah di antara
permukaan
dan kedalaman

Friday, March 02, 2012

Asymmetric

asimetrisnya pergulatan


aku menuding,
"Jahat!"

setiap ingat
aku menuding
"Jahat!"

tidak pantas
dipuja didamba

orang jahat
yang tak perlu diingat

semakin diingat
semakin jahat

semakin jahat
semakin diingat

teringat
bahkan
terus teringat

Thursday, March 01, 2012

Learning from a Baby

Hai, sayang...
apa kabar?
Dua hari di dunia
apa yang sudah kautemui?

Gerak bibirmu tak bisa kuterjemahkan
aku terlalu tua di dunia
sehingga lupa bahasamu
bahasa asli yang kubawa waktu datang
dulu, puluhan tahun lalu,
sepertimu.

Hai, sayang...
antusiaskah kau
bertemu aku?
Aku tak bisa mengecupmu
sebagai mainan kesayangan
aku sedang kotor setelah bermain debu
Aku tak bisa membawamu
sebagai lembar buku pelajaran
aku sedang mengisi lembar tak juga seru

Hai, sayang...
aku bawa gambarmu
sebagai cermin hidupku

(Si kecil cantik, belum bernama, lahir di Jl. P. Batam tempat Bidan Enni, tanggal 28 Pebruari 2012, pukul 06.10. Tak bisa kubawa pulang. Ihiks...)

Wednesday, February 29, 2012

Choice

memilih menjadi perempuan
dalam perjalanan
tak pernah jadi pakar
selalu setengah-setengah
tapi semua kudapat

aku juga perempuan
dalam mimpi
tanpa mengabdi
hanya untuk diri

kali ini
aku akan bergegas
berjalan mencapai mimpi

sebelum mati

Tuesday, February 28, 2012

New Student at Drawing Class

Bernard penuh semangat. Awalnya aku kuatir dia akan malas atau tidak antusias. Tapi ternyata dia menikmati hari pertama ikut ekskul melukis. Keputusan yang sangat-sangat telat baginya, dan membutuhkanku merayu 1,5 tahun dari kelas satu. Berhasil juga bukan karena rayuanku, tapi karena ada catatan dari Bu Warti, wali kelasnya.
"Untuk orang tua Bernard Sandyatma, mohon didorong untuk ikut salah satu ekstra kurikuler karena hingga semester dua sudah berjalan dia belum ikut satupun."
Dia memang tidak ikut apapun selama ini. Hanya komputer saja yang dia tekuni. Nah, tiap hari aku ngrepoti dia dengan pertanyaan.
"Nard, sudah ambil keputusan?"
Hingga minggu malam dia baru bilang.
"Besok pagi aku berangkat sekolah bareng Mas Albert."
"Kenapa?"
"Mau ikut melukis."
"O. Ok. Buku sudah ibu belikan tuh. Di kamar ibu."
Dia surprise melihat buku gambar besar yang sudah aku belikan beberapa hari lalu. Pasti pikirnya, ibu bisa saja deh. Hehehe...
Kemarin malam, ketika dia menyiapkan buku-buku aku tanya bagaimana melukisnya.
"Aku jadi murid baru. Tapi Pak Guru tidak tahu aku ada di situ. Tidak ada absen. Tidak ditanyain. Malah aku diajarin bikin piring."
Dia menunjukkan padaku gambar yang sudah dibuatnya. Teko, dengan gelas-gelas di sekitarnya, piring dengan setumpuk kue di atasnya.
"Bagus."
"Iya, tapi akhirnya piring ini Pak Guru yang buat. Mungkin karena dilihat aku terus menghapus, mengulang, menghapus lagi,... Lihat, bu, penghapusku jadi kecil kan? Besok beli lagi ya."
"Ok. Banyak teman yang ikut?"
"Banyak. Sekelasku ada ...."
Dia menyebut nama-nama. Tidak ingat, siapa saja.
Tapi dia gembira. Aku menjadi semakin gembira. Malam itu dia ikut aku dan bapaknya jalan malam, kebiasaan yang sudah beberapa minggu ini kami lakukan. Jalan puter kompleks, sambil ngobrol tentang apa saja.
Sembari berjalan, aku mengajaknya berbincang sembari belajar bahasa Inggris. Pelajaran yang menurutnya paling tidak dia suka.
"Today is Monday. Tomorrow is... Yesterday is... What's your favourite day?" Dan seterusnya. Dan dia, murid baru di kelas melukis itu menjawabnya dengan semangat.

Monday, February 27, 2012

Need Your Smell

Sekali waktu,
aku tidur di atas aromamu,
kekasih.

Tenggelam
menjumput sisa dirimu
di udara

Berandai
merangkulmu
dalam percakapan
tanpa sungkan.

Saturday, February 25, 2012

Mandalawangi - Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu.

Aku datang kembali ke ribaanmu, dalam sepimu, dan dalam dinginmu.


Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna.

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan.

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku.


Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi.

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.

Hutanmu adalah misteri segala cintamu.

Dan cintaku adalah kebisuan semesta.


Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi.

Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua.


“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa

kita bisa menawar.

Terimalah dan hadapilah.”


Dan antara ransel-ransel yang kosong dan api unggun yang membara, aku terima semua itu.

Melampaui batas-batas hutanmu.

Melampaui batas-batas jurangmu.


Aku cinta padamu Pangrango.

Karena aku cinta pada keberanian hidup.



Soe Hok-gie

Jakarta, 19 Juli 1966

Friday, February 24, 2012

Yogyakarta, I love you.

Aku punya kota kesukaan untuk dikunjungi. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Yogyakarta!!! Dipikir-pikir sih kunjungan pertama ke kota ini sejak aku masih SD, bersama rombongan besar beberapa bis anak sekolah. Lalu SMP ke sana, SMA ke sana lagi dan saat kuliah ke sana lagi. Seingatku, aku tidak bisa anteng ikut rombongan kalau pergi ke sana walau perginya dengan rombongan besar atau kecil. Aku ingat saat semester awal kuliah aku melarikan diri dari rombongan sehingga pembimbingnya, Rm. Sad Budi, CM., marah, melarang, tegas. Maaf, mo. Saat itu aku tetep ngotot dan pergi. Mana mungkin ke Yogyakarta tidak menggelandang? (Saat itu aku keluyuran, lalu ketemu seorang teman, menginap satu malam dan pulang Malang sendiri, dengan puas.)
Pergi dengan rombongan kecil, satu atau dua sahabat pun berkali-kali aku lakukan. Berganti orang, berganti tempat yang dikunjungi. Dengan keluarga pun pernah kulakukan. Terakhir dengan suami dan anak-anak pas pergantian tahun terakhir itu. Waktu itu aku ingin mengenalkan Borobudur, Malioboro dan Yogyakarta ke anak-anak. Perjalanan terakhir ke sana baru saja, beberapa hari lalu. Perjalanan mampir satu hari satu malam dengan banyak rencana, lalu yang terjadi juga banyak agenda.
Yogyakarta menawarkan keramahan, kenyamanan, kesukaan,... sepanjang jam dalam sehari. Dinikmati dengan cara apapun, kota ini menyenangkan. Para sababat di dalam kota banyak, para kerabat di agak pinggiran kota, penginapan murah, makanan meriah, dan jalanan yang ramah. Memang sih, akhir-akhir ini (tahun lalu aku 3 kali mampir Yogya, tahun ini baru 1 kali hingga bulan ini) aku agak takut kalau menyeberang jalanan di Yogya, terlalu ramai dengan sepeda motor. Tapi sejauh ini masih asyik, moga Pemda setempat mulai memikirkan keriuahan yang akan bertambah jika motor tak terbendung masuk Yogya. Masih asyik karena ada Malioboro (foto atas kiri), kraton, alun-alun dan sekitarnya. Ohya, ada juga House of Raminten (foto yang bawah kanan). Ini salah satu yang kusuka juga jika sempat ke Yogya. Dengan siapapun, Yogyakarta selalu menawarkan romantisme. Yogyakarta, I love you.

Wednesday, February 22, 2012

Just Dust

Lagi pula apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku hanya debu, yang digenggam pun susah, menempel pun tak kelihatan. Apalagi jika sudah tertabur.
Namun, aku adalah debu yang diiringi angin senantiasa. Maka aku masih akan punya daya. Untuk pergi, untuk datang, untuk membutakan mata orang.
Aku hanya debu, di kaki Ilahi. Tidak dikibaskan, namun diberi pengiring selaksa sejuta kuasa angin.
Kini aku tinggal mematri niat, tetap bersahabat dengan angin, rahmat yang sudah tercurah bagiku.

Tuesday, February 21, 2012

Destruction of Imaginations

Khayalan punya kekuatan. Penuh rekayasa yang didorong oleh keinginan tak terkendali oleh pikiran dan hati. Terlebih jika tubuh sudah mengingat suatu kenangan yang ingin diulang. Rekayasa bisa menjadi sangat kuat. Mendorong manusia melakukan perjalanan jauh, kemana saja dengan keberanian yang degil. Melambungkan angan jauh melebihi takdir. Mendorong indera untuk menerimanya sebagai sesuatu yang berharga walau sebenarnya hanya pura-pura.

Namun ternyata ada lagi kekuatan manusia yang bisa mengalahkan hal itu. Kekuatan doa. Doa yang hanya setengah hati pun lebih kuat dari seluruh rekayasa hati. Hingga tidak ada lagi yang harus disesali walau air mata mengalir, sedih kecewa membuncah. Seluruh keinginan dan rekayasa dihancurkan. Marah, sedih, kecewa, tapi tak ada penyesalan. Yang ada adalah syukur karena Sang Ilahi menitahkan keselamatan. Lewat doa yang hanya setengah hati diucapkan.

Monday, February 13, 2012

Deceiver

Di Indonesia, di dunia, hidup jutaan penipu. Yang benar-benar jahat hari ini melakukannya padaku. Dia, mengatasnamakan diri : TU Sekolah. No HPnya : 085255443453. Dia telepon ke no telepon rumah. Ada Wawak di rumah.
Mengatakan : "Albert jatuh di sekolah, pendarahan, dibawa ke rumah sakit."
Nah, kontan Wawak panik. Minta tetangga sebelah, Mama Dita untuk terima telepon itu. Ya, tentu saja Mama Dita ikut panik. Mencatat no itu lalu telepon aku.
"Tante, Albert jatuh di sekolah. Dibawa ke rumah sakit!"
Ha, langsung gemeteran n lemes badanku. Mencatat no HP itu dengan panik. Untung otakku masih waras. Sehingga bukan nomor itu yang aku pencet, tapi no telepon guru kelasnya. Logikanya, Bu Yoga kan tahu nomor teleponku. Ada hal kecil kenakalan Albert ini itu, beliau langsung kontak aku kok. Kalau ini sesuatu yang gawat, apalagi. Juga Sr. Emma kepala sekolahnya dengan mudah mengakses aku. Juga banyak orang di sekolah itu yang kenal aku, tahu dimana aku pada jam-jam seperti ini.
Dan benar saja.
"Albert? Albert Ardyatma? Ini, lagi di kelas. Sedang belajar. Tidak ada apa-apa."
Oalah, penipu. Teganya. Pasti sekarang dia hunting korban lain. Mungkin dengan nomor yang lain pula.

Saturday, February 11, 2012

36 Episcopal Uskup Andreas Henrisoesanta

Proficiat, Mgr. Henri!
Menjalani 36 tahun episcopal di Keuskupan Tanjungkarang, Lampung, dari 11 Pebruari 1976, tentu bukan urusan yang mudah. Pasti ada suka duka, jatuh bangun, pujian celaan, dll.
Pagi ini aku menyapamu, dengan doa tulus. Apapun yang sudah kau lakukan, kau alami, semoga menjadi rahmat yang bisa diterima dengan penuh sukacita oleh dirimu, oleh semua orang, khususnya yang punya kaitan denganmu.
Mungkin tidak selalu terpahami, tapi aku yakin, bahkan yang paling sulit diterima oleh akal pun bisa menjadi rahmat.

Salam dan doa.

Friday, February 10, 2012

Angelina Sondakh

Perempuan, ibu, janda, politisi, selebrity,...
Lengkap sudah titelnya.
Melihat senyumnya masih mengembang aku salut.
Melihat tindaknya masih berjuang aku salut.
Melihat bicaranya masih disebar aku salut.

Jika melewati semua ini dengan buram
dengan niatan yang suram
dengan mengingat hanya pada kepentingan
dengan kesadaran hanya menyelamatkan diri.

Dia akan kalah.

Jika melewati semua ini dengan terang
dengan niatan yang benderang
dengan mengingat Indonesia yang sudah banyak korban
dengan langkah yang mantap pada Pencipta.

Dia akan menang.

(Aku berdoa untukmu, Angie. Supaya memilih jadi pejuang bagi kehidupan Indonesia. Bukan hanya untuk diri, atau hanya untuk Demokrat, atau hanya untuk semua kesenangan. Aku sungguh-sungguh mendoakanmu.)

Thursday, February 09, 2012

My Mother

Ibuku hari ini ulang tahun. 60 tahun. Umur yang sudah cukup untuk menikmati hidup. Segala suka duka. Selamat ulang tahun, ibu. Terimakasih sudah menjadi ibuku. Merawatku, mencintaiku, hingga kini. Terimakasih. Ampuni juga segala salahku, dari bayi hingga setua ini, aku masih menyusu, pada kasih sayangmu.

Wednesday, February 08, 2012

No Talk Again

Rasanya sudah berabad tahun aku bicara. Bicara terus tentang segala hal. Perasaan, pikiran, tubuh,... Apapun! Dengan keras, lembut, biasa,... Bagaimanapun! Juga dengan alasan ini, itu, ...

Kali ini, cukup sudah! Tak perlu lagi bicara. Aku akan mogok bicara.

Hanya merasa, memikir, melaku. Tanpa bicara lagi.

Monday, February 06, 2012

Waiting the moment

Aku sedang menunggu saat
bisa memegang pelangi liat
merentangnya dari tangan ke tangan
mengeriutkan hingga bulat di kepalan

Melamunkan rasa sedapnya
dalam kuluman mulut
sesuap, sesuap lagi

Aku ingin memegang pelangi
dan memakannya

dalam segala rupa

Friday, February 03, 2012

Rain in the Morning

Tidak ada embun pagi ini. Yang ada adalah hujan deras basah dingin gelap. Aktifitas tetap berjalan seperti biasa, tapi disertai mood yang sangat-sangat rendah. Bangun, minum air putih, membuka seluruh pintu dan jendela, ke kamar mandi dengan ogah (seminim mungkin menyentuh air), masak nasi, menggoreng tahu tempe, membuat sambel pecel, merebus bayam, merebus air lalu mandi. Menyiapkan sarapan, makan dengan setengah lari, peluk cium pipi kanan kiri semua orang di rumah kecuali Albert, lalu naik motor. Menunggu Albert beberapa saat sembari doa singkat untuk semua orang yang kusayangi dan melaju pelan dengan Mioku. Hampir sama tiap pagi seperti itu. Kali ini mendapat bonus rinai hujan. Juga angin dingin.
Aku mencintai hujan, tapi sesekali seperti pagi ini, aku rindu embun. Embunku.

Thursday, February 02, 2012

Rm. Sugondo, SJ

Beberapa hari atau minggu yang lalu kabar duka datang lewat sms dan email. "Rm. Gondo meninggal, Mbak Yuli." Aku tidak terlalu kaget. Aku tahu Rm. Gondo memang sakit dalam beberapa bulan atau tahun belakangan. Tidak terlalu merasa kehilangan karena aku memang biasa saja mengenal romo ini. Malah dalam beberapa kali kesempatan bertemu aku selalu secara sadar menghindari perbincangan dengan romo. Hanya menyapa, nglirik dikit dan bercakap ala kadarnya. Aku menganggap chemistry antara kami tidak ada. Dari pada malah berantem lebih baik aku tidak terlibat jauh dalam perbincangan dengannya. Itu pendapatku. Ketika rapat di FPBN pas dia hadir, di pojokan lalu tertidur, aduh, aku sengit banget. Kalau pas dia gak hadir, ya wis, dirasani lebih enak dari pada dirindukan. Kayaknya gak ada yang serius bisa kuingat dari romo ini.
Pagi ini ketika membaca tulisan berdasar kotbah Rm. Sindhu saat pemakamannya yang dimuat di Sesawi, aku menitikkan air mata. Aku sama sekali tidak mengenal Rm. Gondo tapi sudah memvonisnya. Menutup segala peluang terhadap persahabatan dengannya, padahal kami berdua pada satu masa, sama-sama mengatakan 'pendamping buruh'. Aku menitikkan air mata bukan karena menyesali aku sudah mengabaikan seluruh perjumpaan dan perkataannya, tapi aku merasakan rahmat tercurah dari pemahaman baru ini. Rm. Gondo telah memberiku pengajaran ketika dia sudah beberapa hari meninggal. Lewat cara yang aneh telah ada pemahaman baru dalam hidupku, melalui Rm. Gondo. Terimakasih, Romo. Selamat jalan.