Tuesday, February 09, 2021

LHHH (11) : Tanjung Selaki yang Santaiiii... plus Bonus-bonus...


Hash Minggu 7 Februari 2021 ini kondisi tubuhku tidak terlalu ok. Tubuhku masih berjuang menyembuhkan vertigo yang kambuh parah dari akhir bulan Januari. Jadi kubilang ke Mas Hen: Aku ikut tapi aku akan menikmati pantai saja, jalan di sekitar situ.

Tentu saja aku akan menikmati karena kebetulan rute hari itu hash dilakukan dengan start Pantai Tanjung Selaki di Lampung Selatan. Ini tak boleh dilewati begitu saja. Jadi aku ikut berangkat pagi-pagi sekali, butuh sekitar 1 jam perjalanan dari rumah menuju tempat parkir untuk memulai rute.

Kupersilakan mas Hen untuk jalan bersama para master, daripada tidak sabar nanti menghadapi aku yang lelet. Aku memilih mepet ke Pak Amir yang tahu rute dan mbisiki: Pak, rekomendasikan aku jalur tanpa tanjakan.

Yes, pak Amir pun memberikan petunjuk-petunjuk, malah bisa kuikuti, bersama dengan beberapa bapak lain yang memang mau santai. Inilah asyiknya LHHH, kita bisa memilih rute berdasar kondisi fisik yang sedang berlaku. Jadi saat ada tanjakan ke arah bukit, pak Amir menunjuk jalan ke kiri yang datar.

Eh, ternyata pilihan jalan setapak yang datar itu sangat tepat. Kami berlima yang memilih jalur itu mendapatkan bonus: 2 buah durian runtuh kelas dewa. Enak pollll... 

Foto-foto tidak banyak ambil karena biasanya kan yang motret mas Hendro. Hehehe. Foto hanya beberapa titik saja dan foto bareng mas Hen saat masih di pantai.

Di persimpangan lain, pak Amir menunjukkan lagi jalan ke kiri, kebun pisang. Ada beberapa pisang matang sisa panen yang ditinggal tercecer oleh pemiliknya. Bonus kedua, pisang matang pohon yang legitttt....

Di jalur ini nyaris tak ada tanjakan dan turunan yang cukup berarti. Jadi aku bisa menyelesaikan dengan baik. Cukup jauh juga sih, mungkin ada sekitar 1,5 jam atau nyaris 2 jam. Tapi sungguh sangat tepat pemilihan jalur ini pas sesuai dengan tubuhku.

Aku dan rombongan kecil ini sampai finish kukira paling awal, tapi ternyata ada banyak juga yang memilih rute santai suka-suka walau tidak satu jalur dengan yang kami pilih. Sebagian dari mereka sudah nongkrong duluan di pantai saat kami sampai. Sedang rombongan mas Hen paling akhirrrr dong. Mereka selalu ambil jalur lengkap yang terjauh. 

Tuesday, January 19, 2021

Wisata Lampung Barat dan Pesisir Barat (2): Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Kebun Raya Liwa


Untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Pagi-pagi 26 Desember 2020 kami sudah nyaris siap ketika sopir travel bilang sudah dekat dengan rumah. Weih, tepat waktu bener si sopir. Pas pukul 08.00 dia menjemput sesuai janjinya. Mobil itu sudah berisi satu penumpang seorang bapak duduk di posisi paling belakang. Kami berlima itulah penumpangnya, sehingga mobil cukup longgar dan nyaman. Mobil hanya berhenti 3 kali: isi bensin, makan siang di daerah Sumberjaya dan saat menurunkan si bapak tak terlalu jauh dari tempat makan. Setelah itu hanya kami berempat plus sopir yang ada dalam mobil.

Sampai di Homestay Piknik Liwa pukul 13.00. Dan hujaannnn.... Deras pula. Waduh. Si Komenk sudah menunggi di tempat penginapan dengan wajah sedikit cemas. Kalau tetap hujan alamat kami semua tak mungkin pergi ke destinasi yang sudah direncanakan karena tempat-tempat itu wisata alam terbuka. Pasti basah kuyup dan licin.

"Kami istirahat saja dulu. Nanti jam 14.00 kita lihat cuacanya lalu kita rencanakan enaknya bagaimana."

Itulah yang kami lakukan. Sampai jam 2 siang hujan masih lebat. Aku dan mas Hendro membuat kopi. Nah wajib ini. Liwa itu daerah kopi jadi kudu ngopi. Dan cangkirnya batok-batok kelapa yang keren. Wah.

Kami membawa cangkir kopi ke bawah bertemu Komenk dan Eka Fendi pemilik homestay di ruang tamu untuk atur rencana. Hujan masih turun deras. Diselingi obrolan segala macam mulai dari wisata Liwa, budaya dan seni, makanan-makanan menarik di Lambar dan seterusnya, aku juga menyerahkan beberapa bukuku untuk ditaruh di perpustakaan mini yang mereka punyai.

Jam 15 lewat hujan mereda. Kami pun sepakat untuk segera memulai perjalanan di seputaran Liwa. Yang pertama dikunjungi adalah  Kubu Perahu, yaitu kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Perjalanan sekitar 30 menit ke arah Krui, macet beberapa menit karena ada tanah longsor yang sedang dirapikan kembali dengan alat berat.


Sampai di gapura Kubu Perahu, Komenk menawari kami jika berminat untuk pesan makanan di salah satu warung sebelah loket untuk di makan dekat sungai. Pas banget memang aku mulai kerasa lapar karena siang hanya diisi roti dan telur rebus serta beberapa suap ngincip makanan-makanan cowok-cowokku. Jadi kami pesan di Dapur Sepapah, nasi liwet, ayam goreng, lalapan lengkap. Itu menu terakhir yang mereka miliki. 

Setelah membayar biaya masuk di loket kami mengitari lokasi Kubu Perahu, sekitar sungai lalu masuk sebentar ke hutan. Sayang sekali sudah sangat sore dan usai hujan sehingga kami tak mungkin melanjutkan perjalanan hingga ke air terjun. Kami jalan masuk menanjak sampai jalan semen habis lalu balik badan. Konon untuk sampai ke air terjun membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam lewat jalan setapak tersebut. Ada dua air terjun di situ, disebut sebagai Sepapah Kiri dan Sepapah Kanan. Mas Hendro langsung mencatat: itu destinasi untuk kali berikut.

Saat kami turun, langit semakin gelap karena sudah semakin sore dan mendung. Makanan dari Dapur Sepapah sudah siap santap di salah satu pondok dekat sungai. Setelah ke toilet sebentar, berempat langsung menyerbu makanan yang tersedia. Suerrr... enak banget. Serba pas. Pas lapar, pas hujan, pas anget, .... nasi liwet yang harum, ayam goreng yang gurih masih bonus tempe tahu goreng dan sambel yang tidak terlalu pedas. Mantap pokoknya. Puas banget....


Usai makan, menyelesaikan semua tagihan di Dapur Sepapah plus beberapa obrolan pendek kami lanjut ke tujuan kedua, Kebun Raya Liwa. Tapi jelas tak mungkin masuk kebun raya karena jam sudah lewat dari jadwal kunjung. Dalam gerimis tipis kami foto-foto saja di tempat parkir, minimal kami tahu di situlah Kebun Raya Liwa. Catatan kedua Mas Hen: dikunjungi di lain kesempatan..

Usai itu kami kembali ke homestay, hawa Liwa yang sejuk mulai berubah menjadi lebih dingin. Komenk tanya apakah kami masih ingin keliling Liwa saat malam, aku sudah ndak ada niat sama sekali, Sudah pengin mandi dan berbaring. 

Malam menjelang jam 21.00 saat kami semua sudah bersih dan berbaring, si Albert yang punya ide untuk keluar cari makan. Untung si Eka Fendi punya motor yang boleh dipinjam sehingga Albert dan bapaknya bisa keluar mencari makan sekaligus mengintip suasana Liwa di waktu malam. 

Gerimis masih berlanjut, dan makan sangat malam itu terasa nikmat dengan menu nasgor dan bandrek anget. Yup, hari pertama dipenuhi rinai hujan tapi toh tetep asyik.

LHHH (10) : Perbukitan Batu Putuk Bonus Air Terjun


 Minggu 17 Januari 2021 menjadi hash pertama di tahun ini dalam komunitas Lampung Hash House Harriers (LHHH). Tidak terlalu banyak yang ikut, tapi cukup seru dengan tantangan rute yang menawan. Tim hare yang menentukan rute menentukan start dari halaman villa ko Okta di daerah Batu Putuk Bandarlampung. Villa ini masuk sekitar 300 meter dari jalan besar. Semangat tahun baru masih berkobar sehingga kegembiraanlah yang membungkus kegiatan hash pertama ini.

Tidak ada bocoran berapa panjang rute yang akan dilalui, tapi aku sudah membayangkan seperti apa yang bakal di lalui karena pernah juga jalan di sekitar lokasi ini. Namun ternyata kenyataan tak seindah bayangan. Eh memang sih rutenya melewati alam yang super indah, yang masih membuatku terkagum-kagum bahwa di daerah Kota Bandarlampung pun ada tempat seperti ini. Tapi tak menyangka bahwa rute bakal melewati tanjakan dan turunan yang terjal, keluar masuk sungai.


Tanjakan pertama sudah bikin tersengal-sengal di menit-menit awal. Lalu segera lega dengan turunan, tapi kemudian turunan begitu terjal sehingga terpeleset-peleset di jalan setapak. Lalu masuk ke sungai, yang walau tak terlalu jernih sangatlah sejuk. Sungai yang sama ini kami lewati dan susuri empat kali dalam rute ini. Sebenarnya aku sudah bersiap-siap dengan membawa sandal jepit yang biasanya akan kupakai sebagai ganti sepatu kalau melewati sungai. Aku tak suka berjalan dengan sepatu basah kuyup, kaki jadi berat dan salah-salah kedinginan membuat kram. Masalahnya, jalanan becek. Kalau aku melepas sepatu beberapa kali pasti sepatuku akan kotor luar dalam. Itu lebih tak nyaman. Kalau perjalanan dilanjutkan dengan sandal jepit pasti itu tak aman bagiku. Jadi dengan rela kulewati dan susuri sungai dengan sepatu. 


Di beberapa tempat mesti melewati lumpur sehingga akhirnya juga sepatu kotor sampai bagian dalam karena kaki terbenam ke lumpur. Usai itu jalan pasti lebih lambat dan berat.

Beberapa kali aku merasa putus asa dan ingin mencari jalan termudah ke jalan aspal lalu naik ojek atau apa pun, tapi apa asyiknya jal, lebih-lebih dikasih tahu peta lokasi itu oleh Mas Hen, jika keluar ke jalan aspal pasti harus menempuh jarak lebih jauh untuk sampai ke garis start tempat parkir kendaraan. Jadi ya sudah, menikmati jalan setapak pelan-pelan, hati-hati. Beruntung ada pak Leo bersama kami, dan mas Hen sangat sabar menemani kami yang jalan dengan pelan-pelan. Aku yakin sih mas Hen bisa 3 kali lebih cepat kalau jalan sendiri tanpa harus menemani kami yang jalan kayak siput, kalau nanjak mudah ngos-ngosan, kalau turun takut kepeleset. Haiyaaa...

Di satu titik setelah tiga perempat jalan kami sampai ke Air Terjun Batu Putuk. Tempat ini biasa jadi tempat nongkrong anak-anak muda. Minggu itu sih tak terlalu banyak yang berkunjung, hanya ada 4 orang muda berfoto-foto di situ. Kami juga ambil kesempatan untuk istirahat sambil foto-foto sebentar. Pilihan yang tepat karena setelah itu kami melewati tangga-tangga yang terjal entah berapa ratus anak tangga yang dibuat oleh pengelola air terjun untuk memudahkan pengunjung datang ke lokasi wisata itu.

Masalahnya anak tangganya dibuat sebagian besar sangat tinggi, huiiih, kukira ini rute terberat deh. Tapi juga paling semangat karena membayangkan bahwa sebentar lagi sudah sampai finish. 


"Usai ini ambil jalan yang pasti aja." Tekadku dalam hati, berniat untuk nyimpang ke jalan aspal untuk sampai ke tempat parkir.

Tenyata saudara-saudara, itu salah. Kalau nyimpang ke jalan aspal, rute akan sangat jauh dan tidak selalu bisa beruntung ketemu ojek. Jadi aku manut mas Hen dan pak Leo untuk menuruni lembah lagi dan naik bukit untuk sampai ke villa ko Okta. "Itu, villanya juga kelihatan dari sini." Gitu kata mereka.

Kami membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk turun dan naik di bagian akhir ini. Masih berlicin-licin dan ngos-ngosan, sampai kemudian kebun-kebun sayur di kompleks villa kelihatan. Yeeeee.... berhasillll.... Pukul 11 kurang sedikit kami bisa mencuci tangan dan tertawa-tawa di base lupa tanjakan dan turunan yang sudah dilalui. Dan aku lupa sama sekali kalau dalam rute aku blas ndak bikin foto dari kameraku sendiri. Oalahhhh.... jadi begitu sampai rumah langsung ngopyak HP mas Hen untuk mencuri foto-foto dari kameranya. Hhehehe.... on on....

Tuesday, January 12, 2021

Wisata Lampung Barat dan Pesisir Barat (1): Perencanaan yang Keren untuk Libur Akhir Tahun

Pemandangan pertama di Liwa: kebun wortel.

 Sebenarnya agak keterlaluan kalau tahun 2020 ini mengambil cuti tahunan 12 hari kerja. Sejak akhir Maret 2020 sampai akhir Nopember, jam kerja sungguh berantakan. Beberapa bulan malah kerja dari rumah, rencana kerja yang berubah nyaris semuanya terfokus ke Covid dan dampaknya. Beberapa kali malah harus menahan diri untuk tidak ke kantor ketika tubuh sedang tidak fit. Bukan hanya ngeri terkena paparan virus tapi juga takut membawa virus dan menyebarkannya pada orang lain yang kujumpai. Rencana untuk pulang kampung sudah gagal total dengan pertimbangan penyebaran covid ini. 

Namun aku memutuskan untuk mengambil hak cutiku dengan pertimbangan aku butuh diam saja di rumah, beberapa kali merasakan stamina naik turun, masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai tapi aku yakin bisa kukerjakan di atau dari rumah dan seterusnya. Jadi aku mengambil tanggal 8 Desember untuk memulai cuti dan akan berakhir pada 23 Desember. Persis 12 hari kerja, lalu dilanjutkan libur Natal dari kantor, biasanya akan berakhir pada tahun baru.

Dari mulai tanggal 8 itulah aku atur supaya aku cukup relax, eh tetap bekerja sebenarnya karena ada beberapa agenda yang sudah kubuat misalnya diskusi2 lewat zoom, pertemuan dengan satu atau dua orang dan seterusnya. Tapi karena aku tak harus ke Pahoman (Rumah - Pahoman itu sekitar 15 km, membutuhkan waktu minimal 30 menit dengan caraku membawa motor secara santai.) Sesekali aku masih ke kantor jika membutuhkan suatu bahan atau kalau janjian dengan orang yang tak mau kuterima di rumah. 

Liburan yang sesungguhnya baru mulai pada tanggal 23 Desember setelah menerima gaji. Hehehe... telat banget ya. Jadi di tanggal itulah kami mulai bebenah, membersihkan rumah, memasang gua natal dan merencanakan ini itu termasuk sedikit kue untuk menandai natal, menyiapkan sedikit angpao untuk anak-anak yang mungkin saja akan datang ke rumah, termasuk mengagendakan ikut misa natal yang pas, makan bersama keluarga.

Sembari menyiapkan natal, aku juga merayu suami dan anak-anak untuk pergi beberapa saat meninggalkan rumah. Terserah tujuannya, pokoke nginep beberapa saat tidak di rumah. Pilihannya ada tiga: Tegal Mas, Pahawang dan Liwa. Beberapa nomor kontak kami hubungi, membandingkan harga dan ongkos yang mesti kami keluarkan. Juga menimbang suasana yang mungkin di dapat dari tempat-tempat itu.

Pilihannya ke Liwa, bonus Krui. Dengan pertimbangan: tempatnya yang paling sunyi, ada banyak destinasi, biayanya murah, dan sudah lama nian tidak ke sana. Selain itu ada beberapa tempat yang belum pernah kami kunjungi di sekitaran Liwa.

Dibantu Komenk, guide tour dari Liwa yang sudah sering kontak-kontakan, kami membuat catatan rencana perjalanan:

Hari 1 kami tiba di Liwa, menginap di Homestay Piknik Liwa, sekitar jam 14.00 setelah istirahat sebentar kami akan langsung ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kebun Raya Liwa dan malam bisa wisata kuliner.

Hari 2 pagi-pagi akan menikmati alam di Negeri Kahyangan lalu otw Suoh ke Danau Asam, Kawah-kawah yang ada di sana, dan Danau Lebar. Perjalanan ini akan membutuhkan waktu sampai sore dan malam bisa nongkrong lagi di suatu tempat.

Hari 3 perjalanan ke Krui, menikmati beberapa pantai, siang kembali ke Liwa dan sore kami balik ke Bandarlampung.

Rencana ini kami sepakati, aku mulai menghitung biaya-biaya yang diperlukan, memangkas sana-sini. Begitu beres, aku kontak Komenk lagi untuk meminta dia booking penginapan, minta no mobil travel yang bisa kami pesan, juga memastikan ada mobil yang bisa kami sewa selama di Liwa. Semuanya beres, tanggal 26 Desember kami akan memulai liburan akhir tahun 2020 di daerah yang sepi, mulai bersiap termasuk perlengkapan penangkap virus yang wajib kami bawa.

Mari berliburrrr....

Thursday, December 10, 2020

LHHH (9): Bukit Camang, Keindahan Alam yang Terselip di Bandarlampung

Lampng Hash House Harriers (LHHH) biasanya mendapatkan rutenya pada hari Jumat sebelum jadwal hash hari Minggu. Sekelompok senior akan mencari rute dan menaburkan potongan kertas dan tanda-tanda pada hari Jumat tersebut. Selain potongan kertas, tanda lain yang memudahkan untuk mengikut rute hash adalah tanda panah dengan cat warna merah disertai tiga titik merah, bisa di pohon, batu atau benda permanen yang ada di rute tersebut.

Untuk kelompok yang sudah puluhan tahun melakukan hash tiap hari minggu, tentu saja LHHH mesti mengulang rute yang sama beberapa kali. Artinya kalau sekarang ini aku baru ikut dan baru tahu ada rute tertentu, bisa jadi para senior sudah pernah mengikuti atau melalui rute tersebut beberapa kali. Bahkan bisa jadi tidak hanya dalam kelompok minggu, tapi mungkin di hari lain mereka jalan atau lari sendiri menggunakan rute tersebut.

Minggu 6 Desember 2020, rute hash di daerah perbukitan dalam kota. Bukit Camang, itu mereka sebut. Parkirnya menggunakan area parkir Perumahan Bukit Alam Surya di daerah Tanjunggading, Kedamaian. Ini untuk kali pertama saya masuk area itu dan sungguh  underestimed awalnya.

1. Nampaknya gersang

2. Tak ada pemandangan bagus.

Saat masuk area untuk parkir, pikiran itu masih melekat di otak. Tapi tak lama. Segera setelah aku meletakkan helm, lalu tengak tengok di sekitar sambil menyapa teman-teman hash yang sudah hadir, pikiran itu segera berubah. Di menit pertama saja aku menarik Mas Hendro untuk foto di salah satu sudut.

Dan setelah usai senam bersama, start jalan lewat jalan setapak wahhh... aku sudah langsung berkobar-kobar. Udah langsung nanjak, lalu turun dengan curam, landai masing mengikuti jalan setapak, memutari bukit, lalu nanjak lagi, sesekali cukup ekstrem, lalu turun lagi, masuk ke bukit selanjutnya, nanjak lagi, turun lagi, begitu seterusnya. Lewat tanjakan-tanjakan yang membuat ngos-ngosan tapi asyik banget karena begitu sejuk. Masih banyak pepohonan dan semak, panas matahari tidak terlalu terik.

Beberapa tempat ada penambangan yang menggerus bukit-bukit. Tampaknya kalau difoto itu sangat indah. Tapi itu bagian sedihnya. Tempat yang begitu indah, sangat dekat dengan kota, eh malah dalam kota, jangan sampai hancur oleh kepentingan bisnis ekonomi. Jangan sampai rusak karena menggerus kekayaan alam itu.

Tidak jauh rute kali ini, dengan segala  pikiran, perasaan, juga pegel kaki karena tanjakan dan turunan, aku didominasi oleh rasa syukur. Bahkan di turunan terakhir aku terguling, setelah terpeleset, aku tetap dipenuhi rasa syukur.

Wednesday, December 02, 2020

LHHH (8): Bumi Kedaton Resort dan Seluruh Kesegaran

Hash kali ini tiba-tiba menjadi rahmat bagiku. Awalnya aku udah pesimis untuk ikut karena melihat jadwal di buku agendaku yang sudah full dengan aktifitas sampai menjelang Natal. Tiba-tiba Sabtu sebelumnya ada WA masuk yang membatalkan kegiatan hari minggu. Maka, Minggu 29 Nopember 2020, pagi-pagi sekali aku dengan gembira mandi dan bersiap otw ke Bumi Kedaton Resort untuk ikut hash. Sangat gembira dan segar. 

Hash kali ini agak berbeda karena ada komunitas lain yang hadir juga di basecamp, diawali dengan senam bersama yang sudah membuat mandi keringat. Sudah banyak kalori yang dibakar oleh senam. Rute jalan hanya ada rute pendek di sekitaran Bumi Kedaton. Bagi banyak orang ini tak istimewa, tapi bagiku ini sangat menyenangkan. Setelah beberapa minggu tak bisa ikut hash, walau hanya jarak pendek dengan pemandangan kebun dan rumah tetep saja menyenangkan dan membuat segar.

Jam 10an semua sudah beres. Di taman bermain Bumi Kedaton dengan diem-diem saja bersama Mas Hendro yang sarapan heboh dengan mi goreng, sambil lihat kanan-kiri menambah kesegaran itu. Aku benar-benar merasa fresh, terlingkupi oleh kegembiraan tanpa alasan.







Tuesday, December 01, 2020

Ayu Permata Sari (2): X antara Tanah dan Langit

Seperti niatku awal, tulisan ini kugunakan untuk mengingat percikan-percikan inspirasi yang muncul lewat pementasan X oleh Ayu Permata Sari, Teater Satu, 28 Nopember 2020. Aku ndak mau lupa akan kekayaan yang sudah kudapat lewat kesempatan ini. 

Saat aku membayangkan pentas ini di ruang privat, aku mengandaikan si penari melakukannya dengan kostum telanjang, menunjukkan tubuhnya secara utuh dengan kekuatan gerak hidup yang dimilikinya. Pak Iwan Nurdaya yang duduk di sebelahku saat diskusi usai pentas langsung mengingatkan soal estetika Islam yang tidak memungkinkan hal itu dilakukan dalam pentas, walau kemudian semerta ingat kalau yang kuucapkan adalah di ruang privat.

Tapi sebenarnya aku juga berpikir kalau ruang privat itu bisa juga diambil untuk pentas. Misalnya seperti yang pernah dilakukan oleh Marina Abramovic dengan tubuhnya. Aku merespon pak Iwan: "Tergantung kesiapan penontonnya. Kalau penontonnya siap, itu tak apa-apa." Kukira pak Iwan tak sependapat dengan pikiranku itu. Itu bisa didiskusikan lanjut entar oleh siapa pun. Tapi yo mikir soal penonton yang siap itu kan bukan perkara mudah. Hehehe. Wong diminta untuk fokus saat nonton teater, tari atau musik saja juga susah kok. 

Ayu mengambil satu gerakan dari Sigeh Penguten yang disebut gerak Samber Melayang. Aku tak paham tari ini dan mendapatkan dari pencarian Google bahwa gerak samber melayang adalah gerak penghubung dari satu gerak ke gerak lainnya yang tidak mempunyai makna tertentu. Tapi toh gerak 'hampa makna' ini harus ada karena kalau tidak ada maka seluruh tarian Sigeh Penguten tidak akan terbentuk.

Ayu mewujudkannya dalam gerak gesekan-gesekan, yang berulang, dari yang paling lembut nyaris tak terlihat hingga sampai pada gerak gesekan yang berbunyi, menghasilkan bunyi dari telapak tangannya, yang beradu dengan telapak tangan yang lain, atau bagian tubuh yang lain. Bunyi itu semakin kuat dibarengi dengan bunyi nafas, yang ritmis terulang. Andai aku tidak fokus, 'gerak hampa' ini bakal membuatku bosan. Ah tidak, aku memang bosan di beberapa bagian karena inderaku sudah terbiasa menuntut gerakan 'luarbiasa' yang memungkinkan bibir bersuara untuk berdecak kagum. Aku tidak sabar menunggu untuk berdecak, berkomentar atas gerak 'hampa' ini. Kalau aku tidak sabar menyelesaikannya bisa jadi yang muncul adalah decak melecehkan: "Tari kok kayak gitu."

Setelah gerak monoton yang sangat panjang, akhirnya Ayu menggerakkan kakinya, tubuhnya, dan gaun yang awalnya kusebut sebagai pengganggu akhirnya membantuku untuk memahami jati dirinya. Awalnya gerak gaunnya itu menutup gerak asli otot-otot kakinya, tapi kemudian lambaian gaunnya itu memperindah otot-ototnya yang bergerak. Dan kubilang ini bukan soal estetika Islam, Katolik atau pagar agama, budaya, dll manapun. Inilah manusia. Manusia yang beruntung dipinjemi tubuh yang mampu bergerak seumur hidupnya lewat hasrat yang terus-menerus ingin berkembang menjadi indah.

Aku terpaku saat Ayu semakin mendekat pada lantai, pada tanah, pada bumi. Sayang gerak ini tidak dieksplore lebih lama sehingga tubuhnya menyatu dengan bumi. Hal itu dilakukan pada bagian-bagian akhir sebelum kembali tegak ingin menyentuh langit dengan jari-jarinya. Kukira kalau gerak 'melekat' pada bumi ini diperkuat, aku pun akan sampai pada klimaksku dibantu oleh pentas ini. Tapi yo ra popo sih. Justru inilah realitas manusia yang diwakili oleh Ayu. Realitas manusia yang selalu pongah padahal lemah, merasa di atas walau terbatas. 

Baik sekali pentas ini ditutup dengan perbincangan santai. Mendengarkan banyak pendapat yang muncul dalam perbincangan membuatku semakin kaya dengan energi. Aku merasa sangat penuh sekaligus sangat kosong di bagian ini. Merasa senang bersyukur bisa mendapatkan kesempatan hadir di tempat itu. Itu yang kuungkap ke pengundang, Desi dan teman-teman Teater Satu, juga ke Ayu dan kawan-kawan. Walau ada beberapa titik yang kurasa tidak sesuai dengan ekspektasiku sebelum nonton, tapi aku sama sekali tidak merasakan kekecewaan. Semua terjadi secara tepat, dan membuatku bersukacita.

Dalam kesempatan lain, mungkin bukan Ayu yang akan menolongku untuk memahami yang belum terpahami dalam pentas ini. Atau bisa jadi aku akan bertemu Ayu lagi dalam bentuk pentas yang lain. 

Karena itulah aku tak mau lupa tentang pentas kali ini, sebagai tambahan pengalamanku sebagai bagian pembelajaranku. (End)

Monday, November 30, 2020

Ayu Permata Sari (1): X dan Diriku

Tidak ada tubuh hidup yang tinggal dalam diam. Gerak yang paling kecil dan sederhana pun sudah menandai hidup, yaitu nafas. Tidak semua orang mengingatnya, dan tidak semua orang berkesempatan membicarakannya. Aku beruntung mendapatkan kesempatan diingatkan terus-terusan tentang hal ini lewat berbagai peristiwa, dan kali ini lebih diingatkan lagi lewat pementasan X, karya Ayu Permata Sari, Sabtu, 28 Nopember 2020 di Teater Satu.

Aku mau mengawalinya dengan memberi pengantar bagaimana aku dipersiapkan untuk nonton X ini secara intensif lewat dua event yang terjadi sebelumnya. Andai kata aku tidak melewati dua event ini, mungkin aku akan menangkap X dengan cara yang berbeda. Secara keseluruhan, minggu lalu itu menjadi minggu yang menarik bagiku.

Event pertama yang menyiapkanku adalah pementasan Pilgrim dari Komunitas Berkat Yakin (Kober) dalam Festival Teater Sumatera. Kober, Kamis 26 Nopember 2020 yang kuikuti lewat chanel Instagram Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat. Kali ketiga aku nonton Pilgrim dan selalu saja ada catatan-catatan yang otomatis kubuat tentangnya. Dalam pentas kali ini aku melihat Pilgrim sebagai bagian yang penting untuk melihat sebuah gambaran holistik tentang kehidupan. Ada jalan yang sangat panjang yang sedang kulalui dan cuplikannya adalah hidupku saat ini di sini dalam rentang satu detik saja dalam tubuh yang saat ini bernama Yuli. Dengan cuplikan yang pendek ini aku menyadari kesempurnaan sekaligus keterbatasan yang melingkupiku yaitu tubuh dan waktu. Tubuhku sempurna sebagai Yuli, namun semerta juga terbatas. Waktuku juga sempurna pada cuplikan detik ini namun juga sangat terbatas. Rentang seluruh cuplikan dulu dan nanti menjadi blue print yang bisa kubentang atau kulipat kapanpun, tapi yang terpenting adalah saat ini dan di sini.

Ini diperkuat oleh event kedua yang kulibati, yaitu diskusi virtual bersama Bu Elly Luthan dalam gawe Komite Tari Dewan Kesenian Lampung pada Jumat 27 Nopember 2020. Bu Elly dengan sederhana mengangkat nafas sebagai gerak paling sederhana yang sering dilupakan. Nafas pun menjadi bagian dari gerak tari, tapi tak sering disadari. Bu Elly seperti menghasutku untuk mengingat latihan nafas, latihan menyadari, dari ini bukan soal pentas tari, tapi tari sebagai bagian dari pengembangan pribadi yang semata-mata manusia ciptaan. Tidak galau di tengah kegaduhan. Tidak gaduh di tengah kegalauan. Sadar nafas bisa membantu untuk tenang, membantu untuk bersyukur, membantu untuk sadar.

Lalu dua event virtual itu dilengkapi dengan satu event yang menuntutku untuk bergerak mendatanginya di rumah Teater Satu. Desi mengundangku sejak seminggu sebelumnya dan aku mesti bergerak untuk sampai di Teater Satu jika memang ingin menggapainya. Jika dua event sebelumnya aku mampu mencapainya hanya dengan klik di hp, Sabtu 28 Nopember 2020 harus kualami dengan berjalan sekitar 3 km untuk mampu mencicip sebuah contoh dari pergulatan tubuh Ayu Permata Sari, X. Seluruh tubuhku harus hadir berpindah tempat, bukan hanya lewat satu klik di hp.

Menonton pentas ini membutuhkan kesabaran. Yes, proses mana yang tidak membutuhkan kesabaran. Jadi hanya menambah kesabaran selama beberapa jam aku bisa menikmati pementasan ini. Bukan soal menunggu pentas, tapi kesabaran ini kubutuhkan saat menikmati pentas. Ayu dalam X bukan sedang pentas untuk menghiburku, namun ia sedang menunjukkan satu contoh kecil tentang praktik konkret dari apa yang sudah kudapatkan dalam Pilgrim maupun dari Bu Elly dua hari berturut-turut sebelumnya.

Adalah keberanian. Ayu tak kan mampu menyampaikan pesan dalam pentasnya itu kalau dia tidak berani. Dia menyodorkan hal yang sangat biasa dan dekat dengan hidup kita eh aku dalam keseharian. Tak ada gerak luar biasa akrobatik yang mengundang decak kagum. Setiap potongan geraknya adalah gerakku sehari-hari. Dan dari pertengahan pentasnya, yang mendominasi adalah gerak nafas. Tak ada hingar bingar musik diperlukan dalam gerak nafas karena nafas itu sendirilah yang paling penting. Dan keberanian yang berikutnya adalah keberaniannya menampilkan diri apa adanya. Aku menyebutnya telanjang, tapi bukan keseluruhan. Yaah, siapa yang bisa benar-benar telanjang jika otak masih menjadi pagar? Orang lain masih menjadi penyebab gegar? Dan tubuh masih belum 100 persen sadar?

Aku membuat beberapa catatan pendek begitu keluar dari ruang pentas. Hehehe... ini pentas yang tak biasa. Pentas X bukan di atas panggung, tapi dalam sebuah ruang. Gerak tarinya pertama-tama untuk diri sendiri. Aku yakin Ayu sudah mendapatkan banyak dari pergulatannya dengan X, karena dari 48 menit yang kulahap itu pun aku mendapatkan sangat banyak. Dan gerak tari Ayu memang untuk pentas karena ada banyak pesan yang tersampaikan lewat gerak tarinya. Ajakan yang paling utama: Yuk kenali tubuhmu yuk sadari tubuhmu.

Tapi tubuh kan ndak semata tubuh. Karena kalau semata tubuh, dia bukan disebut tubuh melainkan mayat, jasad, jenasah. Tubuh itu masih tubuh karena ada nafas, yang menjadi sarana rasa syukur jiwa yang diberi kesempatan untuk menggunakannya. Ayolah, tidak mungkin meninggalkan nafas tergeletak begitu saja. Memang waktunya kembali ke nafas, menyadarinya dan mensyukurinya.

Salah satu catatanku menyebut X sebagai gerak alami perempuan. Seluruhnya. Tanpa Ayu membuka bajunya pun aku tetap bisa mengatakan bahwa X adalah perempuan. Kromosom perempuan, mengalir dalam gerak perempuan, dalam seluruh detik yang dilaluinya.

Aku sempat mempertanyakan mengapa Ayu memilih kostum dengan bentuk dan warna seperti yang digunakannya dalam X. Rok lebar dengan warna kulit cream dan bagian dalam berkilat (aku melihatnya di kesempatan pertama melihatnya saat masuk ruang pentas dan aku memilih duduk di jarak yang paling dekat dengannya yang sedang bersiap), dengan rok lebar jenis kain yang jatuh. Kubilang untuk ruang privat X harusnya ditarikan tanpa kostum, tapi telanjang. (Nah kalimat ini akan kubahas nanti.) Sedang untuk ruang publik mungkin aku akan memilih warna yang sama dengan warna wajah Ayu saat dia sampai pada klimaks X yaitu merah. Tapi ini kan pertanyaan usil. Aku paham darah yang semburat di wajah itu tak bisa direkayasa, tak mungkin juga dicapai pada detik pertama gerakan yang serupa gesekan ringan di telapak tangan walau saat lahir pun manusia bersamaan dengan darah. Jadi merah itu hanya alternatif usil yang bisa dipakai nanti saat Ayu sudah berumur 80 tahun saat menarikan X di sebuah pentas ruang semesta, bukan di ruang tertutup yang sempit. Dan saat itu Ayu tak perlu lagi menjahit kainnya menjadi gaun, cukup selembar kain yang bisa dia belit atau dia lepas dengan cepat sesuai versi X yang muncul saat itu. 

Mungkinkah aku menonton pentas ini dengan Ayu berumur 80 tahun mengenakan kain warna merah? Aku akan melanjutkannya di tulisan selanjutnya, aku tak mau lupa apa yang sudah kupikirkan tentang X. (Bersambung)

Tuesday, November 24, 2020

Jawaban Yuli Nugrahani (11): Mengapa aku tidak menggunakan kulkas?

 Dalam tiga tahun terakhir ini rumah kami tidak lagi mengunakan kulkas atau lemari es. Mengapa aku mempertahankan kondisi tanpa kulkas ini?

1. Awalnya, karena rumah kami akan direhap, kulkas kami titipkan ke tetangga. Kami pindah ke rumah kosong di belakang rumah kami, tanpa menggunakan kulkas itu. Setelah rumah beres, kulkas tua itu tidak berfungsi dengan baik, maka kami tidak menggunakannya. Mas Hendro niat mau memperbaiki itu, tapi saat ada tukang rongsok mengambil beberapa barang yang tidak lagi kami gunakan, spontan kusuruh dia untuk membawanya sekalian. Dibayar Rp. 70.000,- Hehehe. (Mas Hen ngamuk ketika tahu. Maafff)

2. Dengan pengalaman beberapa bulan tanpa kulkas itu, aku melanjutkan kebiasaan itu untuk seterusnya. Ternyata aman saja tuh sampai sekarang. Beberapa efek baiknya:

- Tubuh jadi aman, sehat, karena makanan yang kami santap adalah makanan segar yang tidak masuk kulkas.

- Tidak ada stok bahan pangan yang terbuang karena belanja secukupnya untuk hari tertentu. Kalau pun stok banyak itu adalah bahan yang awet seperti telur, kentang, wortel, labu dan sebagainya.

- Tidak lagi banyak makanan olahan siap saji seperti sosis, naget atau makanan beku lainnya. Kalaupun beli atau makan ya secukupnya untuk makan sekali itu langsung habis.

- Irit energi listrik dong, karena tak ada kabel tercolok terus-terusan seperti kalau mengoperasikan kulkas.

- Tidak lagi minum air dingin terlalu sering. Ya sesekali beli es juga, secara kami semua suka es degan, es buah dan segala hal yang dingin seperti. Tapi tidak ada lagi es menginap di kulkas jadi beli secukupnya untuk konsumsi saja.

- Tidak ada godaan untuk belanja banyak numpuk dan membuat kerajinan kompos yang super bau. Hehehe. Jadi irit duit juga dong ya.

3. Nah, tentu saja ada efek sampingan yang merepotkan, walau tak banyak:

- Tak punya stok makanan berlimpah yang bisa sewaktu-waktu ada pas dibutuhkan. Apalagi kalau aku sedang ada banyak kegiatan di luar rumah, ya sedikit repot. Sedikit saja.

- Hmmm... apalagi ya. Kayaknya biasa saja tak ada kulkas.

4. Penyimpanan alami itu adalah: pekarangan, dimana aku bisa panen sawi, kangkung, buncis, timun dan sebagainya hasil dari pekarangan sempit. Diambil saat dibutuhkan saja. Yang tak diambil jadi benih untuk generasi selanjutnya.


Wednesday, November 11, 2020

Puspa Lampung: Bandarlampung Inklusi Untuk Semua Orang Tanpa Kecuali



 Pada Selasa 10 Nopember 2020, bersamaan dengan Hari Pahlawan, aku mendapatkan kesempatan menarik untuk hadir bersama puluhan lembaga masyarakat di salah satu ruang Pemkot Bandarlampung dalam rangka mendorong pembentukan Forum Komunikasi Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Kota Bandarlampung.

Aku hadir mewakili Forkom PUSPA Provinsi Lampung. Bu Ari Darmastuti, ketua, berhalangan hadir sehingga aku sebagai wakil ketua II mewakili beliau sebagai utusan Puspa Provinsi untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman atau praktik-praktik baik yang sudah kami lakukan dalam Forum Puspa Provinsi Lampung dalam menjalankan mandat.

Dalam waktu yang sangat terbatas aku menyampaikan beberapa hal:

1. Sejarah Puspa

2. Visi Misi

3. Lembaga-lembaga yang sudah tergabung dalam Puspa Provinsi

4. Kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan dan dirancang untuk dilakukan

5. Dan terakhir, aku menyampaikan semangat yang mestinya ada dalam gerakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Kutekankan pada bagian akhir ini bahwa manusia itu laki-laki dan perempuan, dua-duanya, bukan salah satu saja, dan tak ada kelas 2 manusia. Semua, laki-laki dan perempuan dengan segala hal yang melingkupinya memiliki martabat dan hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia.

Kutandaskan bahwa semua orang entah laki-laki atau perempuan adalah sempurna dengan kebutuhan masing-masing yang khas. Ya, setiap manusia memiliki kebutuhan khusus, maka seluruh kebutuhan itu harus masuk dalam program pembangunan masyarakat atau negara.

"Kalau saya punya hak untuk bicara disini, maka siapa pun juga punya hak yang sama. Tapi bagaimana teman-teman yang punya kebutuhan khusus bisa sampai di lantai 3 jika tak disediakan fasilitias yang bisa memenuhi kebutuhan mereka karena mereka menggunakan kursi roda.?

Aku mau bilang bilang bahwa gedung di pemkot Bandarlampung ini terlalu ekslusif, tak bisa dijangkau oleh kelompok berkebutuhan khusus. Dan itu hanyalah satu contoh karena kita masih bisa melihat di seluruh kota bahwa kota ini tak ramah dengan semua orang berkebutuhan khusus. Jalur kuning di trotoar hanya icak-icak, sehingga orang yang tak mampu melihat bisa tiba-tiba menabrak tiang listrik atau masuk got. Jembatan penyeberangan berlubang-lubang sehingga perempuan pakai rok pasti tak nyaman melaluinya. Dan sebagainya.

Aku tidak marah dengan situasi ini, tapi ini sangat serius harus dipikirkan oleh para pengambil kebijakan karena merekalah yang bertanggungjawab atas terbentuknya Bandarlampung inklusi, untuk semua manusia tanpa diskriminasi, tanpa kecuali.

Monday, November 09, 2020

LHHH (7): Sebalang Sehat Berbagi Buku

Ketua LHHH menyerahkan buku-buku untuk
taman baca Beddu

Kegiatan Lampung Hash House Harriers (LHHH) bukan hanya kegiatan olahraga lintas alam dengan maksud sehat, rekreasi dan persahabatan. Dalam banyak aktifitasnya, LHHH juga membangun kepedulian sosial. Salah satu contoh yang dilakukan saat hash Minggu 8 Nopember 2020 di daerah Sebalang, Lampung Selatan.

Untuk menuju lokasi parkir sebelum start jalan, kita masuk ke daerah pesisir Lampung Selatan setelah Tarahan. Aku langsung semangat melihat laut. Agak ruwet jalan masuknya tapi akhirnya kami sampai di lokasi, di sebuah kampung yang kalau melihat rumah-rumah penduduknya lumayan bagus.

"Ibu melihat rumah-rumahnya bagus, tapi ada keprihatinan paling besar di sini. Pendidikan sangat minim." Ujar Beddu, salah satu pemuda setempat yang mengelola rumah baca di daerah itu. Beddu merasa bersyukur karena dia mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Bandarlampung. Dia ingin mengangkat martabat anak-anak di daerahnya dengan mengelola taman baca dan menemani anak-anak belajar di taman baca tersebut.

LHHH sudah menyiapkan buku-buku bacaan dan pelajaran dari stok yang dimiliki masing-masing. Buku-buku itu diserahkan kepada Beddu sebelum acara jalan dan lari berlangsung. Semua peserta mengunjungi taman baca Beddu yang terletak di depan rumahnya. Taman baca itu sederhana, terdiri sebuah pendopo beratapp dengan dinding setengah tertutup.

"Du, kau mesti tutup taman baca itu biar buku-buku tidak rusak oleh angin, panas dan hujan." Kataku pada Beddu usai hash sambil makan di bawah pohon.

Beddu setuju dengan usulku karena dia pun sudah memikirkannya. Hanya saja dia tak punya biaya cukup untuk memperbaiki taman baca itu. "Untuk sementara sih mungkin akan saya tutup dengan terpal bekas banner."

Aku langsung neriakin beberapa orang yang ada di sekitar situ siapa yang membaca banner bekas dan bisa direlakan untuk taman baca Beddu. Beberapa orang yang memilikinya langsung menurunkan banner-banner bekas dan diserahkan ke Beddu.

Aku menjanjikan ke Beddu untuk datang pada kesempatan lain. Tidak untuk jalan hash tapi untuk mengajar anak-anak di taman bacanya. "Aku mau latih siapa yang mau menulis puisi dan cerita." Beddu menanggapinya dengan antusias. Sip.


Friday, November 06, 2020

Isolasi Mandiri Karena Rapid Test Reaktif?

Hari ini hari ke-11 aku menjalani isolasi mandiri di rumah. Gara-garanya: Rapid Test Reaktif. Hohohoooo... Sebenar-benarnya aku memahami beberapa hal terkait hal ini:

1. Bahwa hasil rapid test reaktif belum menunjukkan apakah positif atau negatif Covid. Tingkat akurasinya rendah. Apalagi aku tak menunjukkan gejala apa pun. Aku merasa sehat walafiat tak ada keluhan apa pun di tubuhku.

2. Kalau rapid test hasilnya reaktif, maka harus diikuti dengan tes swab PCR untuk memastikan apakah terpapar Covid atau tidak.

3. Entah terpapar atau tidak, kalau rapid test reaktif maka harus isolasi mandiri 10 - 14 hari.

Sebegitu pun aku panik juga menerima kabar hasil test reaktif itu. Maka beberapa hal kulakukan dengan setengah shock:

1. Langsung cari info untuk menjadwalkan rapid test bagi semua warga rumah. Tak ada protes pokoke secepat mungkin para cowok di rumah langsung rapid test keesokan harinya. Semuanya non reaktif, puji Tuhan, nyicil lega. 

2.Pun demikian langsung memisahkan diri mengambil jarak dari semua warga rumah. Kamar mandi terpisah, alat dan tempat makan terpisah, selalu pakai masker walau di dalam rumah.

3. Meminta suami dengan paksa untuk membeli beberapa alat penopang, yaitu: termometer (cek suhu setiap hari, hasilnya normal 35 - 36 derajat celcius.), multivitamin, susu, buah, roti dan makanan-makanan enak.

4. Cari info tentang tes swab. Payahnya, tes ini baru bisa dilakukan seminggu setelah rapid test. Ampun. 

Apa yang dilakukan setelah swab dijadwalkan? Aku langsung browsing tentang prosedur swab. Ngeri mbayangin hidung dan mulut dicolok benda asing. Tips supaya hal itu tidak menyakitkan: tengadah sehingga petugas mudah menjangkau bagian dalam hidung dan mulut, menutup mata, dan menahan nafas saat hal itu dilakukan. Paling hanya  maksimal 5 detik kok dalam setiap korek hidung dan mulut.

Kata orang-orang prosesnya sakit. Ahhh, tidak. Hanya tidak nyaman, geli dan kayak pengin muntah. Usai itu udah, diam sebentar untuk netralin diri. Jangan lupa kalau pas swab bawa saputangan atau tisu karena pasti mata langsung berair apalagi pas dicolok hidungnya. Ya kayak kalau kecolok aroma cabai atau bawang itu kan kita juga langsung nangis to.

Swab kulakukan di RSU Abdul Muluk, sebanyak 2 kali. Kali pertama negatif, lalu diulang swab kedua untuk meyakinkan, dan hasilnya negatif juga. Oleh suster yang menjadi tempat konsultasiku, aku masih diminta untuk melanjutkan isolasi mandiri sampai 14 hari, tapi semua terasa lebih enteng. Kayak keluar dari penjara, legaaa... Dan wanti-wanti utama: Tetap melakukan protokol kesehatan Covid walau sudah dinyatakan negatif. Nah, gitu.


Obrolan Virtual Komite Sastra DKL: MAJU TERUS SASTRA LAMPUNG

 Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang besar bagi masyarakat dunia, tak terkecuali Lampung dengan seluruh elemennya. Dalam sastra, dampak tersebut muncul dalam proses karya, juga dalam tema karya mau pun dalam kehidupan para sastrawan. Dampak tersebut telah disiasati secara positif oleh banyak pihak sehingga dapat bertahan, bahkan berjuang secara kreatif.

Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) memandang saling berbagi ide di tengah situasi tersebut, akan menjadi inspirasi untuk terus memajukan mengembangkan sastra Lampung, entah sastra berbahasa Indonesia atau sastra bahasa Lampung. “Segala hal baik yang telah dan bisa dilakukan bagi sastra Lampung itulah yang akan diperbincangkan dalam obrolan virtual yang digelar oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) dengan tema Maju Terus Sastra Lampung,” ujar Ketua Komite Sastra DKL Udo Z Karzi.

Udo mengatakan, webinar ini akan menghadirkan narasumber Rilda. A. Oe. Taneko, sastrawan Lampung yang bermukim di Inggris, dilakukan melaluiZoom Meeting (Meeting ID: 784 148 4445 dengan passcode: 123456789) pada Sabtu,7Nopember 2020, pukul 15.00 – 17.00 WIB, dan disiarkan secara langsung di chanelYoutube DKL, Mejeng Jejamo. Menurut rencana kegiatan ini akan dihadiri oleh Ketua DKL dan jajarannya, penggiat sastra Lampung di dalam dan luar Lampung, peminat sastra Lampung dan masyarakat umum dengan moderator Yuli Nugrahani, Sekretaris Komite Sastra DKL.

Menurut Udo, kegiatan Komite Sastra DKL yang pertama digelar dalam periode ini diharapkan dapat membangun semangat sastrawan Lampung walau tengah atau telah menghadapi dampak pandemi Covid-19.

“Kami ingin menghimpun saran dan masukan positif bagi pengembangan sastra Indonesia, baik sastra berbahasa Indonesia maupun sastra berbahasa Lampung. Maju terus dalam situasi apa pun.” Tandas Udo. Dengan demikian ada hal-hal yang baik yang bisa ditindaklanjuti untuk melecut kontribusi Lampung bagi kemajuan sastra Indonesia.

Obrolan virtual ini merupakan kegiatan kedua dalam rangkaian acara DKL menjelang akhir tahun 2020 yang diselenggarakan oleh seluruh komite dengan tema besar Kesenian Lampung Pascapandemi. Kegiatan pertama sudah dilakukan oleh Komite Tradisi DKL dengan tema Urgensi Peran Pemuda terhadap Seni dan Budaya, menghadirkan narasumber budayawan Lampung, Seem R. Canggu, SE.MM. Selasa, 3 Nopember 2020.

 CP. Yuli Nugrahani (Sekretaris Komite Sastra DKL)

Telp.08127925222/yulinugrahani@yahoo.com

Thursday, November 05, 2020

LHHH (6): Campang Raya untuk Olah Raga

Hash kali ini ke daerah  perbukitan Campang Raya, Minggu 18 Oktober 2020. Bayanganku tentang daerah Campang adalah kering, gersang, tak ada yang menarik, penambangan pasir dan batu. Kayaknya kok tak ada indah-indahnya tempat ini. Hehehe... tapi jangan salah. Setelah kami sampai di tempat parkir, salah satu villa penggiat LHHH, pandangan itu sudah langsung berubah. Area yang luas ditanami dengan aneka pohon buah, dan tampak hijau.

Perjalanan dimulai setelah foto bersama secepat kilat. Protokol kesehatan mesti tetep diterapkan. Jangan sampai berdekatan terlalu lama, tapi foto bersama itu berguna untuk para sponsor yang mendukung kegiatan ini dan juga untuk catatan ingatan tentang kegiatan rutin ini. Usai itu langsung ... on... on...


Aku dan Mas Hen jalan dengan cepat mengikuti jejak eh tidak ding, mengikuti orang yang sudah berjalan duluan. Sesekali diselingi dengan lari kecil. Namun tak lama, energiku sungguh beda dengan master-master hash seperti ko Heri dkk, jadi segera saja aku tertinggal.

Di satu persimpangan, setelah tanjakan pertama yang cukup membuat tubuh memeras keringat, aku ambil rute pintas.

"Nanti akan ketemu di tempat yang sama, kalau terus tanjakan terjal tapi pemandangan indah dari atas. Kalau lewat ke kiri sini lebih landai." Jelas Pak Taslim.

Mas Hen memutuskan mengikuti jalur nanjak, aku ikut Pak Taslim jalan yang landai. Jalan dengan santai sambil menikmati udara Campang yang rupanya ada juga yang segitu segar dan indahnya. Di ujung jalan, ada persimpangan lain.

"Kalau mau langsung balik ke base awal, bisa lurus sini. Sudah dekat. Kalau mau mengikuti jalur lewat ke kiri."


Aku lihat ke kiri rute itu menaiki bukit kedua. Aku pilih situ tapi menunggu Mas Hen dulu dan memastikan kami bersama lagi.

Jalan nanjak dan sampai di puncak yang ada rumah pondok dengan pohon kelapa yang siap dipanen degannya. Hehehe... Entah ide siapa yang pertama, pokoknya aku menikmat satu degan yang segar sebelum melanjutkan langkah.

Kukira kami akan melalui jalan yang turun dan landai saja setelah itu. Dan memang demikian, tapi banyak sekali yang terlalu curam sehingga di beberapa tempat aku mesti ngesot karena nggak percaya diri kalau jalan biasa. Untung saja Mas Hen cukup sabar menemani jadi aku terus menikmati hingga finis.


Di bagian akhir selalu menarik, mendengarkan cerita dari para senior, belajar banyak hal, sambil menikmati santapan ringan atau berat yang disediakan. Keringat yang mengucur menjadi bagian dari olah raga yang menarik ini, tapi pengalaman yang mengalir dari perbincangan adalah hal yang paling mengasyikkan.