Baru pulang kerja, Albert mengingatkan bahwa dia akan beli HP dengan uangnya dan kekurangan uangnya akan meminjam padaku. Spontan aku melotot.
"Tunggulah sebentar. Ibu baru sampai rumah. Belum makan, belum istirahat. Kau juga belum makan, belum ganti baju."
Wajahnya yang cemberut akan memprotes, tapi aku yakin mataku sudah semakin membesar sehingga dengan terpaksa, sambil menggerutu kukira, dia masuk kamar, dan keluar dengan baju bermain. Mengambil nasi 'pura-pura' makan, dia ambil hanya seporsi kecil yang bahkan dimakan seekor kucing pun tak akan kenyang.
Sekarang wajahku pasti sudah tertekuk. Dan lebih-lebih lagi ketika dia datang dengan pertanyaan tunjebpoin.
"Gimana, bu? Boleh?"
"Ibu masih memikirkannya. Nanti dulu."
Bapaknya memelototi aku. Ya, aku tahu nadaku terlalu tinggi untuk menjawab hal sepele itu.
Jadi aku menghaluskannya.
"Kalau Albert tanya sekarang, jawaban itu sudah pasti : TIDAK. Tapi sabarlah. Biar ibu mikir dulu. Mas Albert bagian menyenangkan hati ibu. Melakukan apa kek."
"Apa yang bisa membuat ibu senang?"
"Entah. Apa kek. Beliin bakso atau apa."
"Aku ndak punya uang."
Hehehe... ya. Ibu tahu. Jadi aku makan dengan santai lalu membuka laptop, mencari-cari jenis dan harga HP. Bapaknya menemaniku sambil ngelus-elus tangan seperti bilang,"Sabar, bu. Sabar." Hehehe... Kuserahkan ke bapaknya aja. "Cari deh, yang seperti apa."
Aku masuk kamar, sampai kemudian Albert teriak-teriak lagi.
"Bert, ini duit tabungan Albert. Yang ini sumbangan ibu. Terus yang di amplop ni, ini ibu utangin. Pergi sama bapak sana. Jika tak mendapatkan yang seharga uang ini, ndak usah beli. Pakai saja HP ibu atau beli HP bapak."
Ahhh, wajahnya sudah sebulat bulan purnama yang merekah. Mengambil uangnya dan menciumku beberapa kali. Aku tidur.
(Tadi pagi aku tanya : Mana HPnya? Dia jawab : Belum jadi beli.)
Ealah.
Friday, January 29, 2016
Thursday, January 28, 2016
Apakah Kafe Memang Bisa Dinikmati untuk Sastra? Seni?
Sabtu lalu (23 Januari 2016) aku ikut dalam acara yang digelar Udo untuk buku Lampung Tumbai, yang ditulis oleh Frieda Amran. Kebetulan Frieda datang ke Lampung, jadi acara itu menjadi ajang bagi 'Frieda lover' untuk ngobrolin Lampung. Aku mengira kalau yang menyebut Frieda Lover itu adalah mereka yang menyukai tulisan-tulisan Frieda di Lampung Post sejak 2014.
Tulisan-tulisan tentang Lampung di masa lalu ditulis ulang oleh Frieda dari dokumen-dokumen yang ada di Belanda. Dan memang tepat sekali hal itu ditulis oleh Frieda, seorang antropolog yang penyuka sejarah, dan penulis sastra. Tepat. Sehingga tulisan yang dihasilkan untuk Lampung Tumbai bukanlah tulisan terjemahan semata, tapi menjadi ramuan yang menarik dan unik.
Nah, acara 'ngobrol' ini dilakukan di kafe Dawiels, jl Kartini. Ini nih yang tiba-tiba muncul di otakku pagi hari ini. Cocok ndak sih ngobrolin tulisan di kafe? Kubilang cocok. Karena tempat ini memang disetting supaya pengunjungnya bisa santai, lalu ngobrol 'ngalor ngidul', dan jika cocok menjadi obrolan mendalam. Seperti sepasang entah yang melakukan PDKT, mereka bisa gunakan kafe untuk melakukan penjajakan. Aku juga sering menggunakan tempat seperti kafe ini untuk melakukan perbicangan kasak kusuk awal soal sastra, seni atau juga tentang diri sendiri. Waktu Daun-daun Hitamku diluncurkan, beberapa tempat yang menerimanya juga kafe, warung kopi.
Nah, benarkah kafe memang bisa dinikmati untuk sastra, dan seni? Uhuk. Tidak untuk pertemuan lanjutannya. Jika arahnya adalah perbincangan yang lebih 'ketahuan arah'nya, maka kusaranin jangan kafe deh. Rame, terlalu bermusik, dan ...ehmmm mahal. Lebih baik jika menyeduh kopi sendiri dari dapurku lalu menyajikannya untuk anda sekalian di halaman belakang rumahku jika memang ada ruang lain yang bisa dipinjam. Mungkin ruang redaksi sebuah media. Aula kosong yang bolah dipakai gratis. Salah satu ruang kampus. Emperan Taman Budaya. Ya, tempat macam tuh lebih tepat untuk pertemuan selanjutnya.
Tulisan-tulisan tentang Lampung di masa lalu ditulis ulang oleh Frieda dari dokumen-dokumen yang ada di Belanda. Dan memang tepat sekali hal itu ditulis oleh Frieda, seorang antropolog yang penyuka sejarah, dan penulis sastra. Tepat. Sehingga tulisan yang dihasilkan untuk Lampung Tumbai bukanlah tulisan terjemahan semata, tapi menjadi ramuan yang menarik dan unik.
![]() |
| Kafe Dawiels, foto oleh...hmmm ini ngambil dari fb. |
Nah, acara 'ngobrol' ini dilakukan di kafe Dawiels, jl Kartini. Ini nih yang tiba-tiba muncul di otakku pagi hari ini. Cocok ndak sih ngobrolin tulisan di kafe? Kubilang cocok. Karena tempat ini memang disetting supaya pengunjungnya bisa santai, lalu ngobrol 'ngalor ngidul', dan jika cocok menjadi obrolan mendalam. Seperti sepasang entah yang melakukan PDKT, mereka bisa gunakan kafe untuk melakukan penjajakan. Aku juga sering menggunakan tempat seperti kafe ini untuk melakukan perbicangan kasak kusuk awal soal sastra, seni atau juga tentang diri sendiri. Waktu Daun-daun Hitamku diluncurkan, beberapa tempat yang menerimanya juga kafe, warung kopi.
Nah, benarkah kafe memang bisa dinikmati untuk sastra, dan seni? Uhuk. Tidak untuk pertemuan lanjutannya. Jika arahnya adalah perbincangan yang lebih 'ketahuan arah'nya, maka kusaranin jangan kafe deh. Rame, terlalu bermusik, dan ...ehmmm mahal. Lebih baik jika menyeduh kopi sendiri dari dapurku lalu menyajikannya untuk anda sekalian di halaman belakang rumahku jika memang ada ruang lain yang bisa dipinjam. Mungkin ruang redaksi sebuah media. Aula kosong yang bolah dipakai gratis. Salah satu ruang kampus. Emperan Taman Budaya. Ya, tempat macam tuh lebih tepat untuk pertemuan selanjutnya.
Tuesday, January 26, 2016
Rumah Sabtu
Kukira bayangannya mendekati gambar inilah Rumah Sabtu itu. (Gambar dari hasil browsing internet.)
Sunday, January 24, 2016
Mencari Jejak Masa Lalu Lampung di Antara Jemariku
Judul buku : Mencari Jejak Masa Lalu Lampung : Lampung Tumbai 2014
Penulis : Frieda Amran
Editor : Udo Z. Karzi
Foto sampul : Arman AZ
Desain Sampul : Dara Dharmaperwira
Tata letak : Tri Purna Jaya
Isi : xviii + 208 hlm, 14 X 21 cm
Penerbit : Pustaka LaBRAK
Cetakan 1 : Januari 2016
ISBN : 978-602-96731-4-2
Aku senang mendapatkan buku ini, terlebih dilengkapi tanda tangan dan kesempatan untuk berbincang dengan penulisnya (walau sebentar banget) saat penulisnya Frieda Amran berkunjung ke Lampung, Sabtu 23 Januari 2015. Apakah buku ini membuat penasaran? Tidak. Bahkan aku sudah membaca nyaris semua isinya karena tulisan-tulisan dalam buku ini sudah diterbitkan lewat koran Lampung Post tiap hari Minggu.
Namun bukan berarti buku ini patut dilewatkan begitu saja. Buku ini adalah inspirasi bagi banyak gerakan lain di Lampung. Aku tak perlu membuktikan hal itu. Tapi simaklah dengan cermat yang terkandung dalam tulisan-tulisan ini. Apa yang sudah tertimbun oleh waktu dicuatkan kembali. Diingatkan kembali. Digali kembali. Maka kita akan mengulang peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, detail-detail budaya, tradisi, dan sebagainya.
Kenapa ini berbeda dengan buku sejarah? Frieda mengambil sumber dari tulisan-tulisan para ilmuwan, pegawai pemerintah Hindia Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda di abad 19 tentang Lampung. Lalu dituliskan bukan bentuk terjemahan yang bisa dibayangkan bakal membosankan jika memakai struktur dan gaya bahasa Belanda kuno yang panjang berbelit-belit, tapi Frieda menuliskannya dalam kalimat-kalimat yang mengalir sederhana mudah dipahami tanpa menghilangkan data dan fakta yang perlu diungkapkan. Jadinya? Tulisan keren yang asyik. Hehehe... Selebihnya, silakan baca sendiri. Ini cuplikan untuk ngintip sedikit :
Halaman 119. ... Sebaliknya, pulau-pulau lain seperti Krakatau dan Sebuku, dihindari. Konon, orang yang tinggal lebih dari dua minggu di pulau-pulau itu akan terserang demam tinggi. Mungkinkah banyak nyamuk malaria di sana? Walahhuallam. Yang jelas penyakit malaria baru dikenal puluhan tahun setelah FG Steck (sumber tulisan) meninggalkan Lampung. Nama jelek kedua pulau itu membuat orang Lampung menggunakannya sebagai tempat pembuangan dan pengucilan.
Nah, dengan gaya tulisan seperti itu aku yakin Frieda eh Lampung Tumbai (sebenarnya sih keduanya tak bisa dipisahkan) sudah memiliki banyak penggemar. Maka saat kencan di Dawiels pada malam minggu itu, beberapa orang menyebut diri,"Kami ini Frieda lover." Nah.
Begitu. Jika kemudian buku ini membutuhkan tindak lanjut semacam Pusat Dokumentasi Lampung, ya, itulah yang seharusnya dilakukan. Kini langkah-langkah awal sudah dibuat. Jemari membuka-buka lembaran jejak masa lalu, kaki harus digerakkan ke Lampung masa depan. Semangat.
Penulis : Frieda Amran
Editor : Udo Z. Karzi
Foto sampul : Arman AZ
Desain Sampul : Dara Dharmaperwira
Tata letak : Tri Purna Jaya
Isi : xviii + 208 hlm, 14 X 21 cm
Penerbit : Pustaka LaBRAK
Cetakan 1 : Januari 2016
ISBN : 978-602-96731-4-2
Aku senang mendapatkan buku ini, terlebih dilengkapi tanda tangan dan kesempatan untuk berbincang dengan penulisnya (walau sebentar banget) saat penulisnya Frieda Amran berkunjung ke Lampung, Sabtu 23 Januari 2015. Apakah buku ini membuat penasaran? Tidak. Bahkan aku sudah membaca nyaris semua isinya karena tulisan-tulisan dalam buku ini sudah diterbitkan lewat koran Lampung Post tiap hari Minggu.
Namun bukan berarti buku ini patut dilewatkan begitu saja. Buku ini adalah inspirasi bagi banyak gerakan lain di Lampung. Aku tak perlu membuktikan hal itu. Tapi simaklah dengan cermat yang terkandung dalam tulisan-tulisan ini. Apa yang sudah tertimbun oleh waktu dicuatkan kembali. Diingatkan kembali. Digali kembali. Maka kita akan mengulang peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, detail-detail budaya, tradisi, dan sebagainya.
Kenapa ini berbeda dengan buku sejarah? Frieda mengambil sumber dari tulisan-tulisan para ilmuwan, pegawai pemerintah Hindia Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda di abad 19 tentang Lampung. Lalu dituliskan bukan bentuk terjemahan yang bisa dibayangkan bakal membosankan jika memakai struktur dan gaya bahasa Belanda kuno yang panjang berbelit-belit, tapi Frieda menuliskannya dalam kalimat-kalimat yang mengalir sederhana mudah dipahami tanpa menghilangkan data dan fakta yang perlu diungkapkan. Jadinya? Tulisan keren yang asyik. Hehehe... Selebihnya, silakan baca sendiri. Ini cuplikan untuk ngintip sedikit :
Halaman 119. ... Sebaliknya, pulau-pulau lain seperti Krakatau dan Sebuku, dihindari. Konon, orang yang tinggal lebih dari dua minggu di pulau-pulau itu akan terserang demam tinggi. Mungkinkah banyak nyamuk malaria di sana? Walahhuallam. Yang jelas penyakit malaria baru dikenal puluhan tahun setelah FG Steck (sumber tulisan) meninggalkan Lampung. Nama jelek kedua pulau itu membuat orang Lampung menggunakannya sebagai tempat pembuangan dan pengucilan.
Nah, dengan gaya tulisan seperti itu aku yakin Frieda eh Lampung Tumbai (sebenarnya sih keduanya tak bisa dipisahkan) sudah memiliki banyak penggemar. Maka saat kencan di Dawiels pada malam minggu itu, beberapa orang menyebut diri,"Kami ini Frieda lover." Nah.
Begitu. Jika kemudian buku ini membutuhkan tindak lanjut semacam Pusat Dokumentasi Lampung, ya, itulah yang seharusnya dilakukan. Kini langkah-langkah awal sudah dibuat. Jemari membuka-buka lembaran jejak masa lalu, kaki harus digerakkan ke Lampung masa depan. Semangat.
Friday, January 22, 2016
Tiba-tiba Ingat Si Palinten
Nah, memang lama tak memikirkannya. Tiba-tiba pagi ini aku ingat si Palinten. Gadis malang ini sungguh-sungguh ngenes nasibnya. Ah, agak susah juga dibilang gadis. Tapi juga repot kalau dikatakan bukan gadis. Dia gadis karena dia memang seorang yang bebas. Dia bukan gadis karena memang dia tak perawan lagi. Tubuhnya sudah menerima banyak perlakuan yang sepantasnya dia terima dengan kegembiraan pada awal mulanya tapi kemudian menjadi kesedihan-kesedihan yang beruntun.
Oalah, bagaimana nasibmu sekarang, Nduk? Terakhir aku mendengar kau melakukan perjalanan panjang untuk mengawali asal muasal kegembiraan dan kesedihanmu itu. Menurut banyak versi, ya itulah caramu, perempuan (ini sebutan yang sepadan untuk Palinten) yang berani menghadapi situasi yang paling rumit yang sudah membelit hati.
Maka perjalanan panjang itu kauusahakan sekuat tenaga, kau rekayasa supaya seluruh titiknya mengembalikanmu pada kegembiraan awal. Kau telusuri jalan yang sama setahun silam, kau hilangkan perlakuan-perlakuan, perkataan-perkataan, dan segala hal yang sebenarnya sudah menyumbat hatimu. Bahkan kau kembali meletakkan tubuh terlentang untuk dimasuki laki-laki yang sama untuk kembali merasakan hasrat yang dulu pernah berkobar. Kau merasakan kesakitan ketika hal itu tidak sejalan dengan hatinya, tapi kau lirih berkata,"Tidak sakit."
Oh, Palinten genduk ayu. Aku mendengar kau pulang dengan kaki pincang. Darah mengucur dari tubuhmu dan air mata yang sudah merembes dari awal menjadi banjir bandang tak terbendung. Aku tak bisa memaklumi seluruh tindakanmu tapi jadilah bahagia ketika sudah memutuskan hal sulit itu. Terlebih kupingmu yang peka itu selalu tak terima menerima makian, menerima kenyataan bahwa hal paling berharga yang sudah kau berikan itu hanyalah dihargai sebagai pelacur.
Nduk, sekarang dimana kau meletakkan kepalamu? Di antara remah jagung bakar yang mulai dipatuk anak-anak ayam pagi ini? Di antara ampas kopi sisa semalam? Palinten, bahagialah, nak. Jagalah hatimu. Kau sudah memutuskan, jadi berjalanlah pada kebenaranmu. Suami dan anak-anak akan disediakan bagimu, di dalam rumahmu.
Oalah, bagaimana nasibmu sekarang, Nduk? Terakhir aku mendengar kau melakukan perjalanan panjang untuk mengawali asal muasal kegembiraan dan kesedihanmu itu. Menurut banyak versi, ya itulah caramu, perempuan (ini sebutan yang sepadan untuk Palinten) yang berani menghadapi situasi yang paling rumit yang sudah membelit hati.
Maka perjalanan panjang itu kauusahakan sekuat tenaga, kau rekayasa supaya seluruh titiknya mengembalikanmu pada kegembiraan awal. Kau telusuri jalan yang sama setahun silam, kau hilangkan perlakuan-perlakuan, perkataan-perkataan, dan segala hal yang sebenarnya sudah menyumbat hatimu. Bahkan kau kembali meletakkan tubuh terlentang untuk dimasuki laki-laki yang sama untuk kembali merasakan hasrat yang dulu pernah berkobar. Kau merasakan kesakitan ketika hal itu tidak sejalan dengan hatinya, tapi kau lirih berkata,"Tidak sakit."
Oh, Palinten genduk ayu. Aku mendengar kau pulang dengan kaki pincang. Darah mengucur dari tubuhmu dan air mata yang sudah merembes dari awal menjadi banjir bandang tak terbendung. Aku tak bisa memaklumi seluruh tindakanmu tapi jadilah bahagia ketika sudah memutuskan hal sulit itu. Terlebih kupingmu yang peka itu selalu tak terima menerima makian, menerima kenyataan bahwa hal paling berharga yang sudah kau berikan itu hanyalah dihargai sebagai pelacur.
Nduk, sekarang dimana kau meletakkan kepalamu? Di antara remah jagung bakar yang mulai dipatuk anak-anak ayam pagi ini? Di antara ampas kopi sisa semalam? Palinten, bahagialah, nak. Jagalah hatimu. Kau sudah memutuskan, jadi berjalanlah pada kebenaranmu. Suami dan anak-anak akan disediakan bagimu, di dalam rumahmu.
Tuesday, January 19, 2016
Marines Eco Park
Minggu, 10 Januari 2016. Mengunjungi Marines Eco Park (MEP) di Piabung, Pesawaran, Propinsi Lampung, aku mendapatkan beberapa hal yang menarik.
Pertama, pantai. Ya, pantai selalu kusebut sebagai ibu sejak aku tahu betapa baiknya pantai padaku, hmmm...mungkin sejak tahun 1994, saat aku merasakan dilahirkan kembali di sebuah pesisir selatan di antara pasir putih yang membentang. Nah, MEP dibangun di Pantai Lembing, dalam wilayah Brigadir Infanteri 3 Marinir TNI Angkatan Laut Indonesia. Indah. Pulang pada ibu. Selalu indah.
Kedua, lukisan-lukisan Dana E. Rachmat, sahabatku. Tanggal ini roadshow pertama bagi karya pelukis Lampung ini juga diresmikan bersamaan dengan peresmian Monumen Marinir dan Nelayan oleh KSAL. Tentu saja aku bergembira karenanya.
Ketiga, kafe kopi Jon Jaeger Cafe. Bersama dengan Hendarto dan istrinya aku menyelami kopi tidak hanya harum dan nikmat tapi juga indah. Disajikan langsung oleh Werijo, Danbrig yang humanis, kopi arabica level 86,2 dari Solok ini terasa pahit legit nikmat. Cangkir kedua ditambah dengan es krim yang manis dan lumer di mulut, membuat tak bisa menolak cangkir ketiga dan keempat. Wuah...
Keempat, Ahmad Albar. Bayangpun, ketemu penyanyi legendaris ini persis di depan mata, menemaninya makan siang yang intim dan ...hmmm... tak terkata deh.
Pertama, pantai. Ya, pantai selalu kusebut sebagai ibu sejak aku tahu betapa baiknya pantai padaku, hmmm...mungkin sejak tahun 1994, saat aku merasakan dilahirkan kembali di sebuah pesisir selatan di antara pasir putih yang membentang. Nah, MEP dibangun di Pantai Lembing, dalam wilayah Brigadir Infanteri 3 Marinir TNI Angkatan Laut Indonesia. Indah. Pulang pada ibu. Selalu indah.
Kedua, lukisan-lukisan Dana E. Rachmat, sahabatku. Tanggal ini roadshow pertama bagi karya pelukis Lampung ini juga diresmikan bersamaan dengan peresmian Monumen Marinir dan Nelayan oleh KSAL. Tentu saja aku bergembira karenanya.
Ketiga, kafe kopi Jon Jaeger Cafe. Bersama dengan Hendarto dan istrinya aku menyelami kopi tidak hanya harum dan nikmat tapi juga indah. Disajikan langsung oleh Werijo, Danbrig yang humanis, kopi arabica level 86,2 dari Solok ini terasa pahit legit nikmat. Cangkir kedua ditambah dengan es krim yang manis dan lumer di mulut, membuat tak bisa menolak cangkir ketiga dan keempat. Wuah...
Keempat, Ahmad Albar. Bayangpun, ketemu penyanyi legendaris ini persis di depan mata, menemaninya makan siang yang intim dan ...hmmm... tak terkata deh.
Saturday, January 02, 2016
Akhir Tahun 2015 dan Awal Tahun 2016
Mengakhiri tahun 2015, aku tidak seperti biasanya. Tidak ada evaluasi dalam meditasi dan refleksi. Yang ada adalah gerakan. Aku ingin mencatat akhir dari tarianku di tahun 2015 walau tak ada pencapaian yang berarti. Minimal, aku mengakhirinya dengan kegembiraan seperti ketika aku mengawalinya di awal tahun. Baik juga jika mengingat bagaimana niatku waktu itu, seperti di sini.
Ya, teman, menari. Harusnya aku menari. Tapi rupanya aku belum menari dalam harmoni. Jadi lebih baik kata itu kembali kucuatkan dalam tahun 2016 ini. Harmoni. Dalam harmoni. Aku belum tahu bagaimana mengartikannya, jadi aku akan mencari pengertian pada kata ini sepanjang tahun ini. Harmoni dengan start dari kamus :
Ya, teman, menari. Harusnya aku menari. Tapi rupanya aku belum menari dalam harmoni. Jadi lebih baik kata itu kembali kucuatkan dalam tahun 2016 ini. Harmoni. Dalam harmoni. Aku belum tahu bagaimana mengartikannya, jadi aku akan mencari pengertian pada kata ini sepanjang tahun ini. Harmoni dengan start dari kamus :
harmoni (n) : pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/harmoni
KamusBahasaIndonesia.org
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/harmoni
KamusBahasaIndonesia.org
Bagaimana ini dibangun? Kita lihat, kita lihat. Aku belum tahu. Minimal, resiko-resiko 'gempa' mesti kuatasi saat terjadi. Dalam keselarasan semesta, gempa-gempa memang harus terjadi karena pergeseran, gerakan dan sebagainya. Doakan aku. (Aku, Yuli Nugrahani kekasih Allah, adalah vibrasi harmoni untuk seluruh harmoni yang ada seturut dengan kehendakMu, Sang Ilahi, Sumber dan Arah.)
Monday, November 09, 2015
Pentas Seni IX C SMP Fransiskus Tanjungkarang
![]() |
| Jadi pengawal. |
Albert sudah memberikan 'kisi-kisi' apa yang boleh diomong atau tidak. Jadi aman dah. Yang aku sangat salut adalah seluruh acara yang digarap sendiri oleh mereka itu bisa berjalan dengan keren. Untuk anak usia SMP itu luar biasa.
Albert sendiri terlibat dalam beberapa pentas : flash mob, main cethik, jadi pengawal, jadi tukang perahu dan peran-peran kecil lain. Itu sangat keren. Proficiat ya, Bert dan kawan-kawan.
Friday, October 23, 2015
Tanah Silam
Di antara perjalanan kerja, aku seringkali 'nakal' memanfaatkannya untuk sastra. Kali ini setelah urusan dengan tim modul kaderisasi Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) selesai digarap di Yogyakarta, aku meluncur ke Sumenep, 22 Oktober 2015. Kali ini untuk buku puisi Tanah Silam, karya Fendi Kachonk.
Rasanya ini menjadi bukuku juga karena aku gembira untuk peluncurannya. Bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah (STITA) Usymuni, Terate, Sumenep, acara dihadiri beberapa orang yang sudah kukenal, beberapa lain yang lebih banyak yang tidak kukenal. Beberapa tokoh senior Sumenep maupun para muda hadir di aula STITA yang bersamaan dengan Hari Santri Nasional ini.
Musikalisasi puisi, pembacaan puisi, orasi budaya oleh Syaf Anton dan bedah buku dialirkan dalam suasana santai. Aku sebagai orang 'jauh' tidak merasa sebagai tamu di sini. Ardy Raditya, dosen dari Surabaya yang ternyata orang Madura juga menjadi narasumber lain yang membedah buku ini selain diriku.
Kesempatan paling asyik ketika aku boleh membacakan satu puisi Fendi, berjudul Orang Tua Benih.
Diiringi teman-teman muda dari Komunitas Kampoeng Jerami yang keren aku membaca puisi ini. Mengapa puisi ini? Mengapa bukan puisi yang lain? Karena aku menyukainya. Dalam bahan diskusiku aku mengatakannya begini :
Itu sebagian yang kukatakan untuk menanggapi puisi ini. Yach, sedikit sendu, dan mungkin berbeda juga dengan tangkapan orang lain. Tapi menghadiri kegiatan ini untuk Tanah Silam, sangatlah luar biasa bagiku. Aku menunggu saat-saat lain di masa mendatang untuk mengulanginya pada buku Fendi yang lain atau pada buku-buku teman-teman lain di Sumenep. Mungkin untuk Pak Syaf Anton, Kyai Miming, Kak Fauzi, atau dari teman-teman muda Denny, Ferly dan lain-lainnya. Semangat ya teman-teman!!!!
Rasanya ini menjadi bukuku juga karena aku gembira untuk peluncurannya. Bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah (STITA) Usymuni, Terate, Sumenep, acara dihadiri beberapa orang yang sudah kukenal, beberapa lain yang lebih banyak yang tidak kukenal. Beberapa tokoh senior Sumenep maupun para muda hadir di aula STITA yang bersamaan dengan Hari Santri Nasional ini.
Musikalisasi puisi, pembacaan puisi, orasi budaya oleh Syaf Anton dan bedah buku dialirkan dalam suasana santai. Aku sebagai orang 'jauh' tidak merasa sebagai tamu di sini. Ardy Raditya, dosen dari Surabaya yang ternyata orang Madura juga menjadi narasumber lain yang membedah buku ini selain diriku.
Kesempatan paling asyik ketika aku boleh membacakan satu puisi Fendi, berjudul Orang Tua Benih.
Diiringi teman-teman muda dari Komunitas Kampoeng Jerami yang keren aku membaca puisi ini. Mengapa puisi ini? Mengapa bukan puisi yang lain? Karena aku menyukainya. Dalam bahan diskusiku aku mengatakannya begini :
"Air
menetes menjadi hujan. Setiap pagi ia ceritakan
tembang-tembang lama, mocopat dan dongeng dari negeri 1001 malam untuk memberi
hidangan pada mulut kecilnya.
"Kecerdasan itu hanya
kemampuan mengendalikan tangisan, Anakku!"
Fendi memberikan nasihat. "Kecerdasan
itu hanya kemampuan mengendalikan tangisan, Anakku!" Apakah ini hasil dari
pengalaman-pengalamannya secara personal konkret? Bisa jadi. Apakah mata
seorang Fendi sudah katam oleh tangisan-tangisan? Bisa ya bisa tidak. Apakah
pengolahan otaknya kemudian berangkat dari tangisan-tangisan itu? Hanya oleh
pengalaman entah oleh dirinya sendiri atau yang dia tangkap dari hidupnya yang
bisa membuatnya yakin seperti itu. "Kecerdasan itu hanya kemampuan
mengendalikan tangisan." Kita bisa tanya nanti pada penulisnya, apakah
orang-orang yang tak mampu mengendalikan tangisnya berarti bukan orang-orang
yang cerdas.
Tapi saya mau
mengatakannya begini. Tangisan adalah wujud emosi yang mudah muncul karena
situasi yang tidak diinginkan. Bentuk lain saat hal yang diinginkan tidak
terjadi adalah kemarahan. Kemarahan bisa dimunculkan dalam kata-kata, tapi
tangisan adalah kata-kata yang tidak beraturan. Isakan. Raungan. Siapa yang
mampu menafsirkan tangisan jika sang penangis tidak menerjemahkan dengan
kata-kata yang mudah dipahami?
Itu rupanya
yang ingin dikatakan Fendi. Menangis itu sah dilakukan. Boleh dilakukan oleh
anak-anaknya (atau pembacanya) tapi menangis akan membantu orang lain dan orang
yang menangis itu maju dalam hidupnya jika dia mampu mengendalikannya sebagai
bahasa yang dimengerti orang lain. Dengan demikian siapapun yang melihat
tangisan tidak akan salah tafsir terhadap tangisan itu. Sedih, haru atau justru
gembira? Berguna, merugikan atau mencelakakan? Akan diteruskan atau dihentikan."
Itu sebagian yang kukatakan untuk menanggapi puisi ini. Yach, sedikit sendu, dan mungkin berbeda juga dengan tangkapan orang lain. Tapi menghadiri kegiatan ini untuk Tanah Silam, sangatlah luar biasa bagiku. Aku menunggu saat-saat lain di masa mendatang untuk mengulanginya pada buku Fendi yang lain atau pada buku-buku teman-teman lain di Sumenep. Mungkin untuk Pak Syaf Anton, Kyai Miming, Kak Fauzi, atau dari teman-teman muda Denny, Ferly dan lain-lainnya. Semangat ya teman-teman!!!!
Wednesday, October 21, 2015
Di Antara Kebun Salak untuk Modul Perburuhan
Kali ini kami menemukan tempat luar biasa untuk rapat Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) khususnya tim modul, yaitu di Tlatar, Turi, Sleman, Yogyakarta. Rapat kebut dua hari ( 20 - 21 Oktober 2015) tidak terasa capek karena kebun salak di sekitar kami seperti biola yang terus bergesek menghibur. Jiaahhhh... hehehe...
Cukup menarik, tapi aku menuliskan soal modul itu :
1. Keprihatinan terhadap situasi perburuhan Indonesia di tengah kuatnya korporasi dan ketidakpedulian banyak pihak.
2. Pentingnya semakin banyak orang yang terlibat dalam dunia ini dalam peran apapun.
3. Banyak anak muda yang harus diberi peluang untuk melihat gerakan buruh ini sebagai gerakan yang menghidupkan masyarakat untuk semakin maju berkembang.
4. Perlu tindakan-tindakan yang dapat membantu para muda untuk punya hati dan minat terjun di wilayah gerakan ini berikut dengan inovasi-inovasi yang mungkin mereka bawa nanti.
5. Aku optimis kegiatan untuk mengkonkretkan modul ini dapat terlaksana pada semester awal di tahun 2016, kemungkinan di wilayah Ungaran atau kalau tidak di Sidoarjo.
6. Yang mempunyai sumberdaya yang bisa disambungkan dalam gagasan ini, mari merapatlah.
Nah, pekerjaan rumah kami menyelesaikan modul itu. Semoga nanti dapat kami sebar bukan hanya untuk kami lakukan tapi juga dilakukan oleh banyak orang atau pihak lain. Lalu hubungannya dengan kebun salak di kaki Merapi? Hehehe... ya begitu deh. Yukkk.... selalu ada keindahan dalam setiap situasi.
Cukup menarik, tapi aku menuliskan soal modul itu :
1. Keprihatinan terhadap situasi perburuhan Indonesia di tengah kuatnya korporasi dan ketidakpedulian banyak pihak.
2. Pentingnya semakin banyak orang yang terlibat dalam dunia ini dalam peran apapun.
3. Banyak anak muda yang harus diberi peluang untuk melihat gerakan buruh ini sebagai gerakan yang menghidupkan masyarakat untuk semakin maju berkembang.
4. Perlu tindakan-tindakan yang dapat membantu para muda untuk punya hati dan minat terjun di wilayah gerakan ini berikut dengan inovasi-inovasi yang mungkin mereka bawa nanti.
5. Aku optimis kegiatan untuk mengkonkretkan modul ini dapat terlaksana pada semester awal di tahun 2016, kemungkinan di wilayah Ungaran atau kalau tidak di Sidoarjo.
6. Yang mempunyai sumberdaya yang bisa disambungkan dalam gagasan ini, mari merapatlah.
Nah, pekerjaan rumah kami menyelesaikan modul itu. Semoga nanti dapat kami sebar bukan hanya untuk kami lakukan tapi juga dilakukan oleh banyak orang atau pihak lain. Lalu hubungannya dengan kebun salak di kaki Merapi? Hehehe... ya begitu deh. Yukkk.... selalu ada keindahan dalam setiap situasi.
Friday, October 02, 2015
Lintasan Lari Stadion Pahoman Dan Lain-lain Dekat Kantorku
![]() |
| Foto dari Antara Lampung |
Sekarang, jarak itu tak terlalu jauh lagi rasanya. Dan beruntungnya, kantor ini dekat dengan fasilitas-fasilitas umum yang kubutuhkan :
1. Dekat dengan tempat makan. Iyalah, secara aku suka makan. Di dekat kantorku ini ada pusat jajanan yang cukup terkenal karena ragam jajanan yang dijual dan murah meriah. Bakso, siomay, soto, ketoprak, nasi uduk, lontong sayur, es doger, dan lain-lain.
2. Dekat dengan stadion Pahoman, lengkap dengan kolam renang, lapangan sepak bola dan lintasan lari. Dengan panjang 435 m keliling lapangan sepak bola, lintasan ini menyenangkan untuk digunakan setiap pagi. Gratis dan bersih. Cukuplah 5 atau 6 putaran jalan cepat dan lari secara bergantian.
3. Dekat dengan kantor pos. Ini lokasi yang sering kukunjungi karena aku ini termasuk pelanggan setia layanan pos. Untuk mengirim apa ajah.
4. Dekat dengan kantor-kantor lain seperti Koperasi Mekar Sai, pusat perkantoran kodya Bandarlampung, dan juga dekat dengan toko-toko perbelanjaan. Selain itu juga dekat akses kesehatan seperti Puskesmas negeri maupun Panti Sari.
Udah deh, pokoknya lengkap. Semua ada dekat sekitar sini.
Tuesday, September 29, 2015
Reinkarnasi
Sore-sore kemarin Albert dan Benard heboh setelah sepanjang siang mereka tenang dengan buku-bukunya masing-masing. Bernard asyik dengan komik Naruto sedang Albert menikmati buku lelucon. Bernard dengan menjelaskan sesuatu pada Albert tentang kisah Naruto yang sedang dibacanya. Aku tak tahu persis yang dibahas karena aku tidak familier dengan tokoh-tokoh komik itu, tapi lamat-lamat aku mendengar Bernard menjelaskan,"Ini adalah reinkarnasi dari ini, si itu reinkarnasi dari itu dst..."
Dari kamar yang terbuka aku berteriak,"Dik, reinkarnasi itu apa sih?" Dia tanpa mikir menjawab ngawur,"Entah." Ih.
Albert yang sigap menjawab setelahnya,"Reinkarnasi itu hidup setelah kematian, bu. Jadi kayak hidup kembali tapi dalam bentuk yang berbeda." Oooo... okey. Itu tepat.
"Memang Naruto itu reinkarnasi dari siapa?" Tanyaku. Bernard kembali menjawab ngawur,"Entah." Aku tahu kalau dia tahu tapi dia tak mau menjawab. Tetap Albert yang menjawab,"Naruto itu reikarnasi dari Ashura, eh apa Indra ya?" Halah...
"Tapi perasaan aku dulu juga pernah hidup, bu, sebelum jadi Albert. Sepertinya aku dulu seorang prajurit, mati karena ditusuk. Aku seperti masih merasakan sesak nafas karena ditusuk bagian perut." Nah, nah, cerita itu pernah kudengar dulu. Dia pernah cerita kalau dia dulu pernah mati ditombak.
Bernard menyahut juga,"Aku sepertinya juga pernah hidup sebelum jadi Bernard. Tapi lupa dulu sebagai apa."
"Dik, diinget-inget dunk. Siapa tahu berguna." Bernard cuma angkat bahu.
Aku menjelaskan sembari lalu,"Konon orang mesti reinkarnasi atau hidup kembali dalam wujud berbeda karena tugasnya yang dulu belum beres. Dia harus menyelesaikannya sekarang ini. Jadi kalau bisa diingat kita bisa lebih hati-hati dalam hidup, supaya lebih baik dari kehidupan sebelumnya."
Mereka berdua cuma nyengir saja, seperti aku. "Iya, mungkin saja dulu Bernard itu bosnya Albert atau siapa gitu," kataku.
"Kalau ibu, dulu pernah hidup sebagai apa?"
"Sepertinya ibu dulu pernah hidup sebagai putri cantik anak raja. Yang suka nyuruh-nyuruh. Hehehe..."
"Kalau bapak? Dulu sebagai apa?"
"Bapak itu reinkarnasi dari panda." Kata Albert menggoda bapaknya yang dari tadi diem antara ingin membantah dengan malas ikut dalam perbincangan. Hehehe...
Dari kamar yang terbuka aku berteriak,"Dik, reinkarnasi itu apa sih?" Dia tanpa mikir menjawab ngawur,"Entah." Ih.
Albert yang sigap menjawab setelahnya,"Reinkarnasi itu hidup setelah kematian, bu. Jadi kayak hidup kembali tapi dalam bentuk yang berbeda." Oooo... okey. Itu tepat.
"Memang Naruto itu reinkarnasi dari siapa?" Tanyaku. Bernard kembali menjawab ngawur,"Entah." Aku tahu kalau dia tahu tapi dia tak mau menjawab. Tetap Albert yang menjawab,"Naruto itu reikarnasi dari Ashura, eh apa Indra ya?" Halah...
"Tapi perasaan aku dulu juga pernah hidup, bu, sebelum jadi Albert. Sepertinya aku dulu seorang prajurit, mati karena ditusuk. Aku seperti masih merasakan sesak nafas karena ditusuk bagian perut." Nah, nah, cerita itu pernah kudengar dulu. Dia pernah cerita kalau dia dulu pernah mati ditombak.
Bernard menyahut juga,"Aku sepertinya juga pernah hidup sebelum jadi Bernard. Tapi lupa dulu sebagai apa."
"Dik, diinget-inget dunk. Siapa tahu berguna." Bernard cuma angkat bahu.
Aku menjelaskan sembari lalu,"Konon orang mesti reinkarnasi atau hidup kembali dalam wujud berbeda karena tugasnya yang dulu belum beres. Dia harus menyelesaikannya sekarang ini. Jadi kalau bisa diingat kita bisa lebih hati-hati dalam hidup, supaya lebih baik dari kehidupan sebelumnya."
Mereka berdua cuma nyengir saja, seperti aku. "Iya, mungkin saja dulu Bernard itu bosnya Albert atau siapa gitu," kataku.
"Kalau ibu, dulu pernah hidup sebagai apa?"
"Sepertinya ibu dulu pernah hidup sebagai putri cantik anak raja. Yang suka nyuruh-nyuruh. Hehehe..."
"Kalau bapak? Dulu sebagai apa?"
"Bapak itu reinkarnasi dari panda." Kata Albert menggoda bapaknya yang dari tadi diem antara ingin membantah dengan malas ikut dalam perbincangan. Hehehe...
Saturday, September 26, 2015
Cinta
Seseorang mengatakan kepadamu,"Aku cinta kamu." Hmmm... so sweet... Iyalah, mendapatkan cinta itu manis rasanya. Dicintai itu rasanya manis banget. Dan tak seorangpun ingin menolak cinta.
Yang tak enak, jika seseorang yang bilang cinta itu mulai mendesak. "Karena aku cinta kamu, kamu harus cinta aku juga dong." atau,"Karena aku cinta kamu, kamu harus jadi pacarku." lebih-lebih,"Karena aku cinta kamu, kamu harus ...begini, begitu, ini, ini... itu, itu...."
Yeee, siapa yang nyuruh kamu punya cinta? Cinta ya cinta saja. Beruntung kalau yang dicintai juga punya cinta sepadan, maka klop, pas. Atau justru cari saja cinta seperti itu sebelum mengatakan cinta, yaitu mencintai orang yang mencintai balik. Jika tidak cinta padaku, aku pun tak kan mungkin cinta padanya. Jika tidak, hmmm.... mari lihat. Untuk titik sekarang ini lebih baik aku menyimpulkan orang yang seperti itu, sebenarnya dia sama sekali tidak mencintai, tapi dia hanya mengingini. Atau mungkin bukan mengingini, tapi membutuhkan. Pun jika aku merasakan hal yang sama, aku akan berpikir dalam hatiku sebenarnya bukan cinta, tapi hanya keinginan, kebutuhan,... hmmm, macam itu.
Lalu cinta itu seperti apa? Menurut Banerjee dalam novelnya, cinta sejati itu hanya mungkin jika orang yang mengaku mencintai tidak membutuhkan orang yang dicintainya. Huahhh... mampus kita. Jika hanya ecek-ecek menuntut meminta mengharap, cinta yang diaku itu belum cinta sejati. Belum mencintai, baru mengingini saja.
Ada lagi yang bilang, cinta itu tak punya alasan. Uhuk. Tak peduli dia jelek, bau, bodoh, miskin,... kalau cinta, ya cinta. Mata jadi buta, telinga jadi tuli, hidung jadi pesek...
Tapi ada yang bilang lain, bahwa cinta itu itu justru punya banyak alasan. Matanya berlipat ganda, telinganya berkali-kali lebih peka. Apa yang tak dilihat oleh orang lain, bisa dilihat oleh mata cinta.
Bukti cinta itu adalah pemberian, persembahan. Cinta itu kata kerja, melulu satu arah kecuali jika karena keberuntungan muncul kata saling di depannya, sehingga tercipta saling cinta.
Jadi piye sekarang ini? Orang yang saling cinta untuk harapan sebuah perkawinan tak kan mungkin masuk dalam deretan cinta sejati macam ini dong. Atau, aku akan membaliknya begini : seharusnya perkawinan tidak perlu dilakukan jika belum sampai pada tataran ini. Hmmm... tidak, tidak. Lebih baik aku bilang : perkawinan adalah salah satu cara untuk memproses supaya cinta sampai pada tataran ini. Dengan begitu aku tak perlu menahan orang yang sudah kebelet menikah untuk sampai pelaminan.
Intinya memang tak perlu sampai sempurna untuk mulai mencintai. Mulai saja dari level paling buncit sekalipun. Lalu disadari, diproses semakin sempurna, sampai pada kesejatian, sampai pada saling memerdekakan, pada saling bantu untuk sampai ke Sang Sumber Cinta itu sendiri. Hyang Ilahi.
Huahhh... cinta....
Yang tak enak, jika seseorang yang bilang cinta itu mulai mendesak. "Karena aku cinta kamu, kamu harus cinta aku juga dong." atau,"Karena aku cinta kamu, kamu harus jadi pacarku." lebih-lebih,"Karena aku cinta kamu, kamu harus ...begini, begitu, ini, ini... itu, itu...."
Yeee, siapa yang nyuruh kamu punya cinta? Cinta ya cinta saja. Beruntung kalau yang dicintai juga punya cinta sepadan, maka klop, pas. Atau justru cari saja cinta seperti itu sebelum mengatakan cinta, yaitu mencintai orang yang mencintai balik. Jika tidak cinta padaku, aku pun tak kan mungkin cinta padanya. Jika tidak, hmmm.... mari lihat. Untuk titik sekarang ini lebih baik aku menyimpulkan orang yang seperti itu, sebenarnya dia sama sekali tidak mencintai, tapi dia hanya mengingini. Atau mungkin bukan mengingini, tapi membutuhkan. Pun jika aku merasakan hal yang sama, aku akan berpikir dalam hatiku sebenarnya bukan cinta, tapi hanya keinginan, kebutuhan,... hmmm, macam itu.
Lalu cinta itu seperti apa? Menurut Banerjee dalam novelnya, cinta sejati itu hanya mungkin jika orang yang mengaku mencintai tidak membutuhkan orang yang dicintainya. Huahhh... mampus kita. Jika hanya ecek-ecek menuntut meminta mengharap, cinta yang diaku itu belum cinta sejati. Belum mencintai, baru mengingini saja.
Ada lagi yang bilang, cinta itu tak punya alasan. Uhuk. Tak peduli dia jelek, bau, bodoh, miskin,... kalau cinta, ya cinta. Mata jadi buta, telinga jadi tuli, hidung jadi pesek...
Tapi ada yang bilang lain, bahwa cinta itu itu justru punya banyak alasan. Matanya berlipat ganda, telinganya berkali-kali lebih peka. Apa yang tak dilihat oleh orang lain, bisa dilihat oleh mata cinta.
Bukti cinta itu adalah pemberian, persembahan. Cinta itu kata kerja, melulu satu arah kecuali jika karena keberuntungan muncul kata saling di depannya, sehingga tercipta saling cinta.
Jadi piye sekarang ini? Orang yang saling cinta untuk harapan sebuah perkawinan tak kan mungkin masuk dalam deretan cinta sejati macam ini dong. Atau, aku akan membaliknya begini : seharusnya perkawinan tidak perlu dilakukan jika belum sampai pada tataran ini. Hmmm... tidak, tidak. Lebih baik aku bilang : perkawinan adalah salah satu cara untuk memproses supaya cinta sampai pada tataran ini. Dengan begitu aku tak perlu menahan orang yang sudah kebelet menikah untuk sampai pelaminan.
Intinya memang tak perlu sampai sempurna untuk mulai mencintai. Mulai saja dari level paling buncit sekalipun. Lalu disadari, diproses semakin sempurna, sampai pada kesejatian, sampai pada saling memerdekakan, pada saling bantu untuk sampai ke Sang Sumber Cinta itu sendiri. Hyang Ilahi.
Huahhh... cinta....
Friday, September 25, 2015
Olah Raga, Olah Tubuh
Jika seseorang bertanya,"Apa kebutuhanmu, Yul?" Aku bisa menjawabnya dengan tegas. "Bergerak. Olah raga. Olah tubuh." Mungkin bukan yang kuinginkan tapi ini yang kubutuhkan.
Yeah, bisa dikatakan, dari dulu aku bukan penggila olah raga. Saat-saat olah raga hanya kulakukan karena kewajiban : jam pelajaran olah raga di sekolah, senam setiap Jumat di sekolah, persiapan fisik saat akan naik gunung, olah raga saat ada pelatihan atau kegiatan di luar rumah, dan ... sudah. Bisa dikatakan soal gerakan tubuh aku sama sekali tidak luwes. Beberapa tahun aku sempat rutin jalan kaki keliling stadion Pahoman dan sekitarnya, minimal 30 menit, tapi itu sudah lama tak kulakukan. Juga jalan kaki di sekitar rumah yang dulu sering kulakukan malam hari.
Satu-satunya olah raga yang masih sering kulakukan adalah senam kaki sebelum tidur. Posisi berbaring, menggerakkan kaki seperti mengayuh sepeda, atau bergerak bersama, aku masih lakukan sampai hitungan ke 50. Atau sesekali aku melakukan peregangan dengan beberapa gerakan yoga yang kuingat saat aku di dapur pagi hari.
Sudah, tak ada lagi. Dan tubuhku sekarang rupanya tidak cukup dengan gerakan-gerakan seperti itu. Aku bisa mendeteksinya dengan cara ini : Tiga minggu lalu aku ikut senam massal gratis. Usai ikut senam sekitar 1 jam, tubuh rasanya jauh lebih sehat. Atau juga saat aku melakukan sendiri gerakan-gerakan menguras keringat agak lama, aku merasa lebih sehat. Dari situlah aku mengira tubuhku memang membutuhkan gerakan-gerakan ritmis yang rutin.
Jadi, kapan harusnya ini kulakukan? Sekarang. Aku ingin dan telah memulainya sekarang. Sembari cari sanggar atau kelompok senam yang bisa kuikuti, aku mengusahakan bergerak lebih rutin di pagi dan sore dengan gerakan-gerakan senam yang kuingat. Dan, ...aku sudah beli sepatu olah raga yang cocok untuk kepentingan ini. Hehehe... Niat, niat, niat... semangat! Sehat!
Yeah, bisa dikatakan, dari dulu aku bukan penggila olah raga. Saat-saat olah raga hanya kulakukan karena kewajiban : jam pelajaran olah raga di sekolah, senam setiap Jumat di sekolah, persiapan fisik saat akan naik gunung, olah raga saat ada pelatihan atau kegiatan di luar rumah, dan ... sudah. Bisa dikatakan soal gerakan tubuh aku sama sekali tidak luwes. Beberapa tahun aku sempat rutin jalan kaki keliling stadion Pahoman dan sekitarnya, minimal 30 menit, tapi itu sudah lama tak kulakukan. Juga jalan kaki di sekitar rumah yang dulu sering kulakukan malam hari.
Satu-satunya olah raga yang masih sering kulakukan adalah senam kaki sebelum tidur. Posisi berbaring, menggerakkan kaki seperti mengayuh sepeda, atau bergerak bersama, aku masih lakukan sampai hitungan ke 50. Atau sesekali aku melakukan peregangan dengan beberapa gerakan yoga yang kuingat saat aku di dapur pagi hari.
Sudah, tak ada lagi. Dan tubuhku sekarang rupanya tidak cukup dengan gerakan-gerakan seperti itu. Aku bisa mendeteksinya dengan cara ini : Tiga minggu lalu aku ikut senam massal gratis. Usai ikut senam sekitar 1 jam, tubuh rasanya jauh lebih sehat. Atau juga saat aku melakukan sendiri gerakan-gerakan menguras keringat agak lama, aku merasa lebih sehat. Dari situlah aku mengira tubuhku memang membutuhkan gerakan-gerakan ritmis yang rutin.
Jadi, kapan harusnya ini kulakukan? Sekarang. Aku ingin dan telah memulainya sekarang. Sembari cari sanggar atau kelompok senam yang bisa kuikuti, aku mengusahakan bergerak lebih rutin di pagi dan sore dengan gerakan-gerakan senam yang kuingat. Dan, ...aku sudah beli sepatu olah raga yang cocok untuk kepentingan ini. Hehehe... Niat, niat, niat... semangat! Sehat!
Wednesday, September 23, 2015
Calon Penulis
Sepanjang pagi ada beberapa panggilan yang tidak kudengar. Maafkanlah, akhir-akhir ini memang hp sering kujauhkan dari badanku, jadi yang tertinggal hanyalah miss call. Kali ini dari nomor yang tak dikenal, beberapa kali, hingga kemudian sebuah pesan pendek masuk : "Mbak, bisakah minta alamat emailnya? Saya mendapat nomor ini dari Majalah Nuntius karena saya ingin mengirimkan puisi."
Nah, memang, sejak bulan ini saya menjadi pengasuh rubrik sastra untuk Majalah Nuntius, majalah yang sejak setahun lalu kutinggalkan dalam rasa sayang yang membuncah. Iyalah ya, 9 tahun merawat Nuntius seperti bayi, tentu tak tega juga ditinggalkan jauh-jauh walau tangan sudah tidak lagi menjangkaunya.
Nah, (untuk kedua kalinya) rubrik sastra ini justru rubrik yang tak berani aku bangun saat aku masih menjadi Pemimpin Redaksi Nuntius. Kali ini aku menyanggupinya dengan alasan-alasan personal yang menggembirakan. Jadi, sms itu kutanggapi dengan riang. Memberikan salam kenal dan alamat email serta harapan-harapan.
Si calon penulis ini seorang ibu, usia 56 tahun, mengenalkan diri sebagai Bu Endang. "Ibu, jangan kuatir. Kirim saja 2 atau 3 puisi, nanti kita lihat bersama bagaimana puisi-puisi itu." Jawabku, ketika ada nada kuatir dalam percakapannya soal puisi-puisi yang sudah ditulisnya. Dia tidak yakin apakah puisi-puisinya bagus, apakah layak. "Saya baru belajar menulis." Katanya.
Dia bilang sudah membuat tulisan panjang juga, sudah 100 halaman lebih tentang kisah-kisah keseharian yang dia pernah jumpai. Nah, (tiga kali nah. hehehe.) ini bakal menarik. Jadi kutawarkan kantorku,"Ibu, datanglah. Kantorku terbuka untuk pembelajaran kita. Marilah datang untuk belajar sastra bersama." Wuah, 100 halaman yang sudah ditulis katanya. Aku, 40 halaman belum beranjak juga ke halaman selanjutnya.
Nah, nah, nah... ini satu dari calon penulis. Calon-calon penulis berikutnya akan kutunggu. Mungkin tidak selalu kutanggapi dengan seriang hari ini, tapi aku yakin aku selalu punya cadangan senyum, apapun yang terjadi. Dan kembali terlibat dengan Majalah Nuntius dalam bentuk yang berbeda seperti ini tentu akan memberikan hal yang berbeda sebagai pengalaman dan suatu ketika akan menjadi kenangan yang luar biasa menyanding pengalaman 9 tahun sebagai pemegang Pemimpin Redaksinya.
Nah, memang, sejak bulan ini saya menjadi pengasuh rubrik sastra untuk Majalah Nuntius, majalah yang sejak setahun lalu kutinggalkan dalam rasa sayang yang membuncah. Iyalah ya, 9 tahun merawat Nuntius seperti bayi, tentu tak tega juga ditinggalkan jauh-jauh walau tangan sudah tidak lagi menjangkaunya.
Nah, (untuk kedua kalinya) rubrik sastra ini justru rubrik yang tak berani aku bangun saat aku masih menjadi Pemimpin Redaksi Nuntius. Kali ini aku menyanggupinya dengan alasan-alasan personal yang menggembirakan. Jadi, sms itu kutanggapi dengan riang. Memberikan salam kenal dan alamat email serta harapan-harapan.
Si calon penulis ini seorang ibu, usia 56 tahun, mengenalkan diri sebagai Bu Endang. "Ibu, jangan kuatir. Kirim saja 2 atau 3 puisi, nanti kita lihat bersama bagaimana puisi-puisi itu." Jawabku, ketika ada nada kuatir dalam percakapannya soal puisi-puisi yang sudah ditulisnya. Dia tidak yakin apakah puisi-puisinya bagus, apakah layak. "Saya baru belajar menulis." Katanya.
Dia bilang sudah membuat tulisan panjang juga, sudah 100 halaman lebih tentang kisah-kisah keseharian yang dia pernah jumpai. Nah, (tiga kali nah. hehehe.) ini bakal menarik. Jadi kutawarkan kantorku,"Ibu, datanglah. Kantorku terbuka untuk pembelajaran kita. Marilah datang untuk belajar sastra bersama." Wuah, 100 halaman yang sudah ditulis katanya. Aku, 40 halaman belum beranjak juga ke halaman selanjutnya.
Nah, nah, nah... ini satu dari calon penulis. Calon-calon penulis berikutnya akan kutunggu. Mungkin tidak selalu kutanggapi dengan seriang hari ini, tapi aku yakin aku selalu punya cadangan senyum, apapun yang terjadi. Dan kembali terlibat dengan Majalah Nuntius dalam bentuk yang berbeda seperti ini tentu akan memberikan hal yang berbeda sebagai pengalaman dan suatu ketika akan menjadi kenangan yang luar biasa menyanding pengalaman 9 tahun sebagai pemegang Pemimpin Redaksinya.
Saturday, September 19, 2015
Rumah Kucing Cikoneng
Pernah satu malam aku berkunjung ke rumah Denok di Cikoneng, kabupaten Bandung, nun jauh di sana. Apa kurasakan saat tiba di gerbang rumahnya?
"Ini bener-bener rumah kucing, deh." Kataku pelan.
"Iya, aku cuma numpang." Jawab Denok lebih lembut lagi. Hehehe, itu jelas kelihatan
Bayangpun, di halamannya yang rindang aku 3 kotak pasir dengan bau menguar yang khas kucing. Ada dua bantal yang pasti bekas tidur kucing dan karpet yang sedang dijemur dengan bau pesing kucing yang kuat. Indera penciumanku yang sangat sensitif sedikit shock, tapi aku melangkah masuk. Ada empat atau lima kucing menyambut kami. Di dalam rumah, bau makanan kucing yang mengering juga tercium. Juga bulu-bulu yang menempel di semua benda yang ada di rumah itu. Pokoke ini benar-benar rumah kucing.
Wuah, Denok, aduh, aku masuk rumahmu seperti mengambang, tak percaya. Lalu mencoba mencari-cari cara untuk meletakkan tubuh dengan hati-hati supaya tidak mengusik para kucing itu. Siapa coba kuingat namanya : Aa' Naga, Tante Jov, Mimi, Batik, Kuro, Momo, Kuro, Sayu, hmmm... tak tahu aku. Tak ingat nama-nama mereka yang bersepuluh itu, eh atau sembilan ya? Atau lebih? Hehehe... Lupa.
Denok mencarikan kasur lipat untukku, tapi aku belum duduk pun, seekor kucing sudah duluan tidur di situ. Dalam hati aku sudah meniatkan bahwa sehari itu aku hanya santai saja di rumah Denok, jadi aku menjelmakan diriku sebagai seekor kucing juga, yang tiduran dengan gerak santai, pelan, tanpa keinginan apa-apa.
"Kau santai aja, Nok. Aku hanya ingin tiduran saja di rumahmu ini. Ndak usah kemana-mana."
Dia tentu saja setuju, karena sepertinya niat kami sama, hanya bermalas-malasan saja di rumah. Hehehe...
Aku sempat pulas beberapa lama sebelum sore. Saat aku bangun, ealah, rupanya ada yang menemani. Satu dekat kakiku, dan satu lagi dekat bahuku, merasakan aku menggeliat, si manis yang dekat bahuku menoleh, matanya sayu memandangku seolah bertanya,"Kenapa bangun, dah, tidur lagi yukkk..." Iya deh. Aku pun tidur lagi, merasakan badan hangat yang menempel di badanku, dan seekor lagi, entah, sedang menjilati tanganku. Hmmm... maaf ya, walau aku mencintai binatang-binatang manis ini, aku tak bisa ramah memeluk mencium atau berbicara dengan para kucing. Tapi membiarkan mereka menggelendot di badanku sungguh aku tak masalah. Huah, pengalaman tinggal di rumah kucing ini jelas tak kan terlupakan...
"Ini bener-bener rumah kucing, deh." Kataku pelan.
"Iya, aku cuma numpang." Jawab Denok lebih lembut lagi. Hehehe, itu jelas kelihatan
Bayangpun, di halamannya yang rindang aku 3 kotak pasir dengan bau menguar yang khas kucing. Ada dua bantal yang pasti bekas tidur kucing dan karpet yang sedang dijemur dengan bau pesing kucing yang kuat. Indera penciumanku yang sangat sensitif sedikit shock, tapi aku melangkah masuk. Ada empat atau lima kucing menyambut kami. Di dalam rumah, bau makanan kucing yang mengering juga tercium. Juga bulu-bulu yang menempel di semua benda yang ada di rumah itu. Pokoke ini benar-benar rumah kucing.
Wuah, Denok, aduh, aku masuk rumahmu seperti mengambang, tak percaya. Lalu mencoba mencari-cari cara untuk meletakkan tubuh dengan hati-hati supaya tidak mengusik para kucing itu. Siapa coba kuingat namanya : Aa' Naga, Tante Jov, Mimi, Batik, Kuro, Momo, Kuro, Sayu, hmmm... tak tahu aku. Tak ingat nama-nama mereka yang bersepuluh itu, eh atau sembilan ya? Atau lebih? Hehehe... Lupa.
Denok mencarikan kasur lipat untukku, tapi aku belum duduk pun, seekor kucing sudah duluan tidur di situ. Dalam hati aku sudah meniatkan bahwa sehari itu aku hanya santai saja di rumah Denok, jadi aku menjelmakan diriku sebagai seekor kucing juga, yang tiduran dengan gerak santai, pelan, tanpa keinginan apa-apa.
"Kau santai aja, Nok. Aku hanya ingin tiduran saja di rumahmu ini. Ndak usah kemana-mana."
Dia tentu saja setuju, karena sepertinya niat kami sama, hanya bermalas-malasan saja di rumah. Hehehe...
Aku sempat pulas beberapa lama sebelum sore. Saat aku bangun, ealah, rupanya ada yang menemani. Satu dekat kakiku, dan satu lagi dekat bahuku, merasakan aku menggeliat, si manis yang dekat bahuku menoleh, matanya sayu memandangku seolah bertanya,"Kenapa bangun, dah, tidur lagi yukkk..." Iya deh. Aku pun tidur lagi, merasakan badan hangat yang menempel di badanku, dan seekor lagi, entah, sedang menjilati tanganku. Hmmm... maaf ya, walau aku mencintai binatang-binatang manis ini, aku tak bisa ramah memeluk mencium atau berbicara dengan para kucing. Tapi membiarkan mereka menggelendot di badanku sungguh aku tak masalah. Huah, pengalaman tinggal di rumah kucing ini jelas tak kan terlupakan...
Monday, September 14, 2015
Kapan Aku Bisa Menulis?
Seorang guruku, Ahmad Yulden Erwin, bilang berkali-kali, bahkan menandaskan,"Jangan menulis kalau sedang marah." Dulu aku membantah hal itu. Aku tetap menulis saat marah. Sekarang aku setuju, tapi aku gunakan nasehat itu pada saat sedang mengedit tulisan. Aku tidak akan mengedit apapun pada saat sedang marah.
Ernest Hemingway, guruku yang lain mengatakan,“Kita dapat menulis kapan saja bila orang meninggalkan kita sendirian dan tidak menggangu. Atau kita dapat menulis bila kita cukup kejam tentang soal ini. Tetapi jelas tulisan terbaik bila kita sedang jatuh cinta." Aku setuju tiga perempatnya, tidak setuju seperempatnya. Aku seringkali malah butuh orang lain yang bisa mengganggu supaya menulis.
Aku sendiri beberapa kali bilang ke kelompok-kelompok yang sedang belajar menulis,"Jika memang mudah menulis saat jatuh cinta, jatuh cintalah setiap kali. Jika lebih mudah menulis saat patah hati, patah hatilah terus." Biasanya aku akan melanjutkan dengan keterangan-keterangan misalnya jatuh cinta pada sepucuk daun, pada ujung gunting kuku, pada patahan dahan cemara, dan sebagainya. Atau patah hati pada pemerintahan Jokowi, patah hati karena putus listrik, kesandung batu, dan sebagainya. Kadang aku tak meneruskan dengan penjelasan apapun. Biarin saja dirasain sendiri oleh mereka, macam mana jatuh cinta dan patah hati yang mampu menggerakkan inspirasi menulis.
Lalu, kapan aku menulis? Kapanpun aku ingin. Seperti kata Ari Pahala Hutabarat, guruku yang lain lagi, pada suatu kesempatan mengatakan,"Menulis itu kayak mau berak." Kebelet, sampai tak tahan, dan memang harus menulis. Ya, bagiku menulis itu kebutuhan. Jika tak menulis aku bisa mati. Dan biar aku kebelet terus menerus, aku harus makan terus-terusan, makan campur-campur, biar mules. Membaca segala hal, mengembangkan panca indera untuk menangkap segala hal, terjaga sepanjang waktu, .... terus-terusan. Biar terus menerus menulis juga... terus... terus...
Ernest Hemingway, guruku yang lain mengatakan,“Kita dapat menulis kapan saja bila orang meninggalkan kita sendirian dan tidak menggangu. Atau kita dapat menulis bila kita cukup kejam tentang soal ini. Tetapi jelas tulisan terbaik bila kita sedang jatuh cinta." Aku setuju tiga perempatnya, tidak setuju seperempatnya. Aku seringkali malah butuh orang lain yang bisa mengganggu supaya menulis.
Aku sendiri beberapa kali bilang ke kelompok-kelompok yang sedang belajar menulis,"Jika memang mudah menulis saat jatuh cinta, jatuh cintalah setiap kali. Jika lebih mudah menulis saat patah hati, patah hatilah terus." Biasanya aku akan melanjutkan dengan keterangan-keterangan misalnya jatuh cinta pada sepucuk daun, pada ujung gunting kuku, pada patahan dahan cemara, dan sebagainya. Atau patah hati pada pemerintahan Jokowi, patah hati karena putus listrik, kesandung batu, dan sebagainya. Kadang aku tak meneruskan dengan penjelasan apapun. Biarin saja dirasain sendiri oleh mereka, macam mana jatuh cinta dan patah hati yang mampu menggerakkan inspirasi menulis.
Lalu, kapan aku menulis? Kapanpun aku ingin. Seperti kata Ari Pahala Hutabarat, guruku yang lain lagi, pada suatu kesempatan mengatakan,"Menulis itu kayak mau berak." Kebelet, sampai tak tahan, dan memang harus menulis. Ya, bagiku menulis itu kebutuhan. Jika tak menulis aku bisa mati. Dan biar aku kebelet terus menerus, aku harus makan terus-terusan, makan campur-campur, biar mules. Membaca segala hal, mengembangkan panca indera untuk menangkap segala hal, terjaga sepanjang waktu, .... terus-terusan. Biar terus menerus menulis juga... terus... terus...
Sunday, September 13, 2015
Menyelesaikan Emma dari Jane Austen
Mestinya baca dulu tulisan ini yaitu tulisan yang kubuat saat aku memulai membaca novel karya Jane Austen, berjudul Emma pada 4 hari yang lalu. Hari ini hampir tengah malam aku menyelesaikan buku ini. Buku super tebal yang sangat-sangat lambat alurnya. Aku ingin buru-buru menuliskannya karena aku takut lupa point-point yang kudapat setelah menyelesaikannya.
Ya, membaca Jane Austen selalu begitu. Seperti dilempar ke abad 18-an, di mana kelas-kelas dalam masyarakat Eropa masih sangat terasa. Walau membaca setebal hampir 800 halaman, aku tak merasa capek sama sekali. Jane menuliskan detail-detail rumit dengan cara sederhana sehingga seolah-olah kita sang pembaca tinggal tak jauh dari tokoh yang diceritakan. Kalau dalam novel ini tokohnya bernama Emma, yang, seolah-olah kita adalah salah seorang tetangga Emma yang tahu persis gerak gerik gadis ini kesehariannya.
Jane seperti novel lain yang sudah kubaca menempatkan konflik-konflik yang mungkin memang dia alami di kalangannya waktu itu. Konflik yang itu-itu saja, soal cinta, perjodohan, relasi dalam keluarga besar dan masyarakat kecil suatu desa. Asyik dan santai walau di seratusan halaman pertama aku selalu merasa sangat bosan, tidak sabar karena hal-hal remeh temeh yang diketengahkan oleh Jane.
Yang menarik adalah, aku selalu berpikir, bagaimana Jane bisa menyelesaikan ratusan halaman seperti itu di jamannya? Dia pasti seorang penyabar yang tekun yang bekerja sangat telaten untuk novel-novelnya.
Kedua, Jane pastilah seorang penulis perempuan yang berani. Dia mengemukakan pendapat-pendapatnya dengan jelas lewat tokoh-tokohnya. Aku yakin dia pasti mendapat banyak tentangan pada masanya. Tapi aku salut luar biasa pada dia. Pendapatnya tak relevan lagi untuk masa kini, tapi pasti itu sangat luar biasa di masa hidupnya.
Ketiga, Jane pastilah seorang yang punya mimpi dan imajinasi yang besar. Dia membangun tokoh-tokoh novelnya sebagai bayangan dari mimpinya sendiri. Yang menarik lagi, nama Jane dipakai juga dalam cerita-ceritanya walau bukan sebagai tokoh utama. Tapi tokoh Jane selalu ditempatkan sebagai bagian yang penting dengan karakter tokoh yang nyaris sempurna. Mungkin itulah sebagian dari mimpi atau cita-cita Jane.
Yang jelas, novel Jane bukan novel yang rumit. Aku bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan beberapa hari. Andai aku tidak terkukung kerjaan lain-lain aku yakin tak sampai satu hari bisa kuselesaikan novel ini. Sebali koleksi, novel Jane bisa dilirik deh. Untuk membangun daya khayal masa silam, tentang romantisme klasik yang kadang klise, ini sangat menarik.
Ya, membaca Jane Austen selalu begitu. Seperti dilempar ke abad 18-an, di mana kelas-kelas dalam masyarakat Eropa masih sangat terasa. Walau membaca setebal hampir 800 halaman, aku tak merasa capek sama sekali. Jane menuliskan detail-detail rumit dengan cara sederhana sehingga seolah-olah kita sang pembaca tinggal tak jauh dari tokoh yang diceritakan. Kalau dalam novel ini tokohnya bernama Emma, yang, seolah-olah kita adalah salah seorang tetangga Emma yang tahu persis gerak gerik gadis ini kesehariannya.
Jane seperti novel lain yang sudah kubaca menempatkan konflik-konflik yang mungkin memang dia alami di kalangannya waktu itu. Konflik yang itu-itu saja, soal cinta, perjodohan, relasi dalam keluarga besar dan masyarakat kecil suatu desa. Asyik dan santai walau di seratusan halaman pertama aku selalu merasa sangat bosan, tidak sabar karena hal-hal remeh temeh yang diketengahkan oleh Jane.
Yang menarik adalah, aku selalu berpikir, bagaimana Jane bisa menyelesaikan ratusan halaman seperti itu di jamannya? Dia pasti seorang penyabar yang tekun yang bekerja sangat telaten untuk novel-novelnya.
Kedua, Jane pastilah seorang penulis perempuan yang berani. Dia mengemukakan pendapat-pendapatnya dengan jelas lewat tokoh-tokohnya. Aku yakin dia pasti mendapat banyak tentangan pada masanya. Tapi aku salut luar biasa pada dia. Pendapatnya tak relevan lagi untuk masa kini, tapi pasti itu sangat luar biasa di masa hidupnya.
Ketiga, Jane pastilah seorang yang punya mimpi dan imajinasi yang besar. Dia membangun tokoh-tokoh novelnya sebagai bayangan dari mimpinya sendiri. Yang menarik lagi, nama Jane dipakai juga dalam cerita-ceritanya walau bukan sebagai tokoh utama. Tapi tokoh Jane selalu ditempatkan sebagai bagian yang penting dengan karakter tokoh yang nyaris sempurna. Mungkin itulah sebagian dari mimpi atau cita-cita Jane.
Yang jelas, novel Jane bukan novel yang rumit. Aku bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan beberapa hari. Andai aku tidak terkukung kerjaan lain-lain aku yakin tak sampai satu hari bisa kuselesaikan novel ini. Sebali koleksi, novel Jane bisa dilirik deh. Untuk membangun daya khayal masa silam, tentang romantisme klasik yang kadang klise, ini sangat menarik.
Saturday, September 12, 2015
Gagasan-gagasan Aneh, Idealis dan Kompromis
Tak diragukan, aku ini seorang pengkhayal. Hobi melamun dan mudah tenggelam dalam pikiran-pikiran tak terhingga. Dari sana bisa muncul gagasan-gagasan aneh yang bahkan saking anehnya sering membuatku takut untuk menuliskannya. Misal tentang tas plastik yang dibuang di tengah jalan, aku bisa berpikir di dalamnya ada seorang bayi, maka remku mendecit menghindarinya, dan spontan berpikir kuatir kalau-kalau ada kendaraan lain yang menabraknya dan tubuh bayi itu akan porak poranda, berhamburan. Duh, aku membayangkannya dalam detil yang membuatku bergidik ngeri, dan bisa keterlaluan membuatku menangis tak ada ujung pangkal. Pikiran lain bisa menyanggahnya, mengatakan itu plastik biasa saja, tapi kemudian melihat banyaknya plastik yang ada di jalanan, aku bisa berpikir, bisa saja satu dari plastik-plastik itu berisi bayi. Ini mengerikan apalagi aku sudah melihat banyak sekali luka di jalan raya, tikus-tikus yang gepeng, kucing berdarah dan sebagainya. (Karenanya aku anti membuang sampah di jalanan. Plastik atau benda apapun.)
Pikiran-pikiran tertentu bisa muncul sangat idealis. Aku bisa sangat patah hati jika membaca undangan yang dikirim lengkap dengan TOR, dengan susunan panitia dan siapa yang diundang. Aku selalu berpikir, jika ada kejanggalan kecil saja, pikiranku sudah terusik. Misal, mengapa bukan si Anu yang diundang, kenapa malah si Ini. Bukankah itu tidak strategis? Bukankah itu menjadi batu sandungan bagi proses yang seharusnya begini dan begitu. Wuahhh... dalam sebulan aku bisa mendapatkan beberapa undangan, betapa aku mesti stress setiap kali karena hal di luar jangkauanku ini. Itu baru soal undangan. Soal lain-lain, ini itu... duh. Aku bisa sungguh terganggu oleh hal-hal sepele semacam itu, bahkan untuk waktu yang lama.
Suatu titik di masa lalu, salah satu guruku, mengatakan : "Kompromi, Yuli. Kompromi. Tak semua yang kau pikiran bisa menjadi realita. Tapi hidupmu itu pun realita. Kompromilah." Hmmm... aku tak paham waktu itu. Belum sepenuhnya paham juga hingga sekarang. Tapi aku melakukannya. Di titik tertentu aku tidak sehat, proses kompromis yang kumaksud jatuh pada kecuekan atau ketidak pedulian. Benar-benar tidak peduli, dan tidak rugi apa-apa karena ketidakpedulian itu. Sementara waktu kubilang : Tidak apa-apa. Hal itu pun membuatku sehat. Hmmm. Hmmm.
Pikiran-pikiran tertentu bisa muncul sangat idealis. Aku bisa sangat patah hati jika membaca undangan yang dikirim lengkap dengan TOR, dengan susunan panitia dan siapa yang diundang. Aku selalu berpikir, jika ada kejanggalan kecil saja, pikiranku sudah terusik. Misal, mengapa bukan si Anu yang diundang, kenapa malah si Ini. Bukankah itu tidak strategis? Bukankah itu menjadi batu sandungan bagi proses yang seharusnya begini dan begitu. Wuahhh... dalam sebulan aku bisa mendapatkan beberapa undangan, betapa aku mesti stress setiap kali karena hal di luar jangkauanku ini. Itu baru soal undangan. Soal lain-lain, ini itu... duh. Aku bisa sungguh terganggu oleh hal-hal sepele semacam itu, bahkan untuk waktu yang lama.
Suatu titik di masa lalu, salah satu guruku, mengatakan : "Kompromi, Yuli. Kompromi. Tak semua yang kau pikiran bisa menjadi realita. Tapi hidupmu itu pun realita. Kompromilah." Hmmm... aku tak paham waktu itu. Belum sepenuhnya paham juga hingga sekarang. Tapi aku melakukannya. Di titik tertentu aku tidak sehat, proses kompromis yang kumaksud jatuh pada kecuekan atau ketidak pedulian. Benar-benar tidak peduli, dan tidak rugi apa-apa karena ketidakpedulian itu. Sementara waktu kubilang : Tidak apa-apa. Hal itu pun membuatku sehat. Hmmm. Hmmm.
Thursday, September 10, 2015
Menyepi
![]() |
| Foto oleh Afrilia Utami. Thanks ya, non. |
manusia menyepi
di perkumpulan
di perjalanan
di perhentian.
Yang meriak pada kesadaran
menarik raga pada diam
mengolah suara
sebagai adonan
di telinga.
Bukan disumbat
bukan dibabat
hanya menunggu waktu tepat
untuk kembali mengucap.
Berharap bibir seirama dengan langkah
juga liuk pundak
impian
dan
harapan.
Subscribe to:
Posts (Atom)






