Dewa Kolonshewang kehilangan tahtanya. Dia berjalan ke sana ke mari di seluruh penjuru langit.
"Aku lupa meletakkan kursi itu di mana." Keluhnya.
Rombongan angin yang sedang ditunggangi oleh para dong menggeleng-gelengkan kepala, sedang para dong dengan pecut di tangannya terheran-heran.
"Dewa, kursi...itu bukan kursi. Dan bagaimana Dewa bisa menghilangkannya? Tahta dengan berat seperti pasak-pasak Semeru dan hiasan berkilo-kilogram bebatuan? Dewa membawanya kemana?"
Dewa Kolonshewang tertunduk murung. Dikibas-kibaskannya tangan. Diusirnya angin-angin. Para dong menggerutu berkasak kusuk.
"Mestinya aku meletakkanya di suatu tempat. Tapi aku lupa. Di mana?"
Para dewi yang berjinjit dengan selendang-selendang pelangi tak bisa menghiburnya. Guntur dan petir dan membuatnya berjingkat kembali ke istananya. Dewa Kolonshewang terus berjalan hilir mudik mencari tahtanya.
...
Nun jauh di bawah sana, bumi guncang oleh prahara. Sebuah desa tertimpa kotoran lembu sebesar gunung. Lekukan di bagian atas berbentuk cekung, dan jejak seperti sepasang tapak kaki menghias bagian bawahnya. Seratus orang meninggal karenanya dan baunya terus menyebar ke seluruh bumi. Segerombol ilmuwan sedang mengambil contoh dari kotoran itu dan para filsuf mulai mendiskusikan mengapa dan bagaimana kotoran sebesar itu bisa runtuh ke bumi. "Sebesar apakah lembu yang sudah mengeluarkan benda ini? Di manakah dia yang sangat besar itu berpijak?"
Saturday, July 25, 2015
Friday, July 24, 2015
Lukisan-lukisan Yuli Nugrahani
Aku melukis dari usia yang masih sangat dini. Tak ingat persisnya. Tapi mulai SD aku sudah ikut lomba melukis bahkan hingga menjadi utusan Kabupaten Kediri di tingkat propinsi Jawa Timur. Lukisan-lukisan itu tersimpan, hilang dan tersebar. Kebanyakan dari mereka adalah lukisan yang belum jadi. Ini dua di antaranya :
Adakah yang berminat? Silakan inbox di fb yuli nugrahani.
![]() |
| Perempuan-perempuan |
![]() |
| Penari Banyuwangi |
Adakah yang berminat? Silakan inbox di fb yuli nugrahani.
Thursday, July 09, 2015
41 Tahun yang Belum Cukup
Hari yang istimewa ini seperti biasa. Yang luar biasa adalah aku bertemu rahim perawatku, ibu, pada jam pertama aku membuka mata di hari ini, sama seperti 41 tahun yang lalu. Pada jam yang hampir sama, sekitar pukul 7 pagi. Aku tak memberikan kado apa-apa, hanya pelukan, yang dibalas lebih erat oleh ibu."Terimakasih, ibu. Terimakasih sudah melahirkan dan merawatku." Bisikku dalam peluknya.
Udah. Usai itu hari ini berlangsung biasa seperti biasa aku merayakannya. Mengambil beberapa waktu untuk sendirian. Melihat beberapa tumpukan dokumen lama di lemariku di Kediri membuatku lebih masuk ke dalam kesendirian. Satu map tak sengaja kutemukan. Berisi dokumen-dokumen saat aku ikut pelatihan jurnalistik pertama kali di Jakarta, bersama Ignatius Hariyanto (penulis, editor, juga direktur LSPP beberapa tahun terakhir) dengan pembicara-pembicara dari Kompas, Tempo, Intisari dan sebagainya. Juga tumpukan lain saat aku aktif bersama teman-teman KANVI Malang dan di VCI.
Seperti kejutan membaca kembali dokumen-dokumen itu setelah 20 tahun lewat (kalau tidak salah pelatihan itu kuikuti pada tahun 1994). Pelatihan itu kuikuti jauh sebelum aku menjadi wartawan Malang Pos. Bahkan jauh sebelum aku berpikir menjadi jurnalis. Atau bahkan sebelum terlibat di berbagai lembaga puluhan tahun silam.
Apakah aku seorang jurnalis? Ya, suatu waktu yang cukup lama di Malang Pos dan kemudian di Majalah Nuntius dan beberapa media lain. Apakah aku seorang aktifis? Tidak. Orang-orang menyebutnya begitu untuk meledekku. Juga untuk menyerangku. Aku dengan kegembiraan dan kesedihan hari ini, menyebut diriku sendiri pembohong dengan jutaan topeng dalam rak penyimpanan yang seluruh eksistensinya patut dipertanyakan.
Aku ingin mencatat satu hal untuk mensyukuri hari ini. Aku seorang manusia yang menandai hidupku dengan gerakan kaki, loncatan pikiran dan dinamika perasaan. Hari ini sama dengan hari-hari yang lain, tapi aku ingin mengingatnya suatu ketika nanti sebagai hari yang istimewa, saat merasakan pelukan sang rahim, pada hari dan jam yang sama seperti saat aku pertama kali merasakan udara semesta.
Udah. Usai itu hari ini berlangsung biasa seperti biasa aku merayakannya. Mengambil beberapa waktu untuk sendirian. Melihat beberapa tumpukan dokumen lama di lemariku di Kediri membuatku lebih masuk ke dalam kesendirian. Satu map tak sengaja kutemukan. Berisi dokumen-dokumen saat aku ikut pelatihan jurnalistik pertama kali di Jakarta, bersama Ignatius Hariyanto (penulis, editor, juga direktur LSPP beberapa tahun terakhir) dengan pembicara-pembicara dari Kompas, Tempo, Intisari dan sebagainya. Juga tumpukan lain saat aku aktif bersama teman-teman KANVI Malang dan di VCI.
Seperti kejutan membaca kembali dokumen-dokumen itu setelah 20 tahun lewat (kalau tidak salah pelatihan itu kuikuti pada tahun 1994). Pelatihan itu kuikuti jauh sebelum aku menjadi wartawan Malang Pos. Bahkan jauh sebelum aku berpikir menjadi jurnalis. Atau bahkan sebelum terlibat di berbagai lembaga puluhan tahun silam.
Apakah aku seorang jurnalis? Ya, suatu waktu yang cukup lama di Malang Pos dan kemudian di Majalah Nuntius dan beberapa media lain. Apakah aku seorang aktifis? Tidak. Orang-orang menyebutnya begitu untuk meledekku. Juga untuk menyerangku. Aku dengan kegembiraan dan kesedihan hari ini, menyebut diriku sendiri pembohong dengan jutaan topeng dalam rak penyimpanan yang seluruh eksistensinya patut dipertanyakan.
Aku ingin mencatat satu hal untuk mensyukuri hari ini. Aku seorang manusia yang menandai hidupku dengan gerakan kaki, loncatan pikiran dan dinamika perasaan. Hari ini sama dengan hari-hari yang lain, tapi aku ingin mengingatnya suatu ketika nanti sebagai hari yang istimewa, saat merasakan pelukan sang rahim, pada hari dan jam yang sama seperti saat aku pertama kali merasakan udara semesta.
Thursday, May 21, 2015
OTAK PASIR
Bernard duduk di sebelahku. Melihat ke atas dan bertanya,"Bu, bagaimana
cara menyambung kabel-kabel lampu seperti itu ya?" Aku melihat arah
pandangnya. Kabel yang menghubungkan lampu belakang rumah dengan listrik
tampak menjuntai. "Ibu tidak tahu. Tapi pasti ada caranya. Bernard
tanya bapak saja nanti. Bapak kan ahlinya."
Bernard diam sebentar lalu berkata,"Nanti kalau aku sudah besar, aku akan jadi bapak juga. Jadi harus tahu cara menyambung kabel."
Oh. Aku melihat wajahnya tampak serius, jadi aku tak berani tertawa. "Ya, nanti kalau bapak pulang, tanyalah. Tapi ndak usah buru-buru lah jadi bapaknya. Jadi anak saja sekarang."
"Iya." Wajahnya begitu serius. Lalu dia diam lagi, sebelum kemudian nyeletuk,"Belajar pada masa anak-anak itu seperti mengukir batu, sedang belajar pada saat sudah tua itu sama seperti mengukir air."
Eits. "Mengukir air kan ndak bisa, Nard." Protesku sambil mikir, nih anak sedang berpikir apa ya?
"Karena itulah, bu. Makanya belajar pada saat masih anak-anak. Seperti aku. Jadi seperti ukiran di batu. Tidak akan hilang."
"Ah, iya juga. Tapi setua ibu juga masih belajar."
"Tapi susah kan, bu? Buktinya ibu sering lupa."
"Hmmm.... ya. Mungkin sebenarnya itu bukan mengukir air, tapi pasir. Bisa, tapi mudah hilang."
Bernard manggut-manggut. "Iya kali. Pasir. Kena hujan, hilang deh."
Dia berdiri. Memutar badan menuju sepedanya. Sebelum dia pergi aku tanya dengan sedikit berteriak,"Nard, memang tahu dari mana itu soal mengukir batu dan air."
"Ada ditulis di kelasku. Aku sudah membacanya di dinding sejak naik kelas 5."
Ohhh.... baiklah. Dia hilang dengan sepedanya. Aku melanjutkan merenung, berpikir soal otak airku... eh... otak pasirku. Duh.
Bernard diam sebentar lalu berkata,"Nanti kalau aku sudah besar, aku akan jadi bapak juga. Jadi harus tahu cara menyambung kabel."
Oh. Aku melihat wajahnya tampak serius, jadi aku tak berani tertawa. "Ya, nanti kalau bapak pulang, tanyalah. Tapi ndak usah buru-buru lah jadi bapaknya. Jadi anak saja sekarang."
"Iya." Wajahnya begitu serius. Lalu dia diam lagi, sebelum kemudian nyeletuk,"Belajar pada masa anak-anak itu seperti mengukir batu, sedang belajar pada saat sudah tua itu sama seperti mengukir air."
Eits. "Mengukir air kan ndak bisa, Nard." Protesku sambil mikir, nih anak sedang berpikir apa ya?
"Karena itulah, bu. Makanya belajar pada saat masih anak-anak. Seperti aku. Jadi seperti ukiran di batu. Tidak akan hilang."
"Ah, iya juga. Tapi setua ibu juga masih belajar."
"Tapi susah kan, bu? Buktinya ibu sering lupa."
"Hmmm.... ya. Mungkin sebenarnya itu bukan mengukir air, tapi pasir. Bisa, tapi mudah hilang."
Bernard manggut-manggut. "Iya kali. Pasir. Kena hujan, hilang deh."
Dia berdiri. Memutar badan menuju sepedanya. Sebelum dia pergi aku tanya dengan sedikit berteriak,"Nard, memang tahu dari mana itu soal mengukir batu dan air."
"Ada ditulis di kelasku. Aku sudah membacanya di dinding sejak naik kelas 5."
Ohhh.... baiklah. Dia hilang dengan sepedanya. Aku melanjutkan merenung, berpikir soal otak airku... eh... otak pasirku. Duh.
Wednesday, May 20, 2015
Kireji pada Haiku Denok Indriyati
Selain syarat 5 – 7 – 5 ketukan pada baitnya, adanya
kigo/penanda musim, dan syarat-syarat lain, salah satu syarat yang penting dalam haiku Jepang adalah keberadaan
kireji. Kireji dalam bahasa Inggris adalah cutting word atau diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia sebagai kata pemotong. Menurutku ini adalah bagian yang sulit
dipahami. Aku tak tahu kata pemotong dalam bahasa Indonesia itu yang seperti apa ya?
Dalam satu tulisanku tentang hal ini lewat haiku
Hikmat Gumelar aku menuliskan “Syarat berikutnya adalah adanya kireji, atau
pemotongan. Ini agak susah dibayangkan. Di banyak contoh haiku, misalnya haiku
Basho, dimanakah kirejinya? Pemotongan ini kalau kubayangkan dalam pantun
seperti pemotongan antara sampiran dan isi. Sesuatu yang tak ada hubungannya
tapi toh terkait juga.”
Rupanya hal itu tidak sesuai betul dengan arti yang
sebenarnya tentang kireji. Dalam bahasa Jepang memang ada kata-kata pemotong
yang kemudian dipakai dalam haiku untuk memberikan ruang keterlibatan bagi para
pembaca. Kata pemotong itu menjadi pemisah ada dua tema yang disandingkan
(jukstaposisi) dan pada gilirannya saat dibaca akan menjadi ruang bagi pembaca
untuk bertanya, merenung dan mengambil inspirasi yang lebih dari haiku yang
sudah dibuat.
Dari banyak sumber, dalam bahasa Inggris tidak ada
padanan yang tepat untuk hal ini. Dan karena aku tak bisa memahami bahasa
Jepang, aku juga tidak tahu apa padanan yang sesuai untuk hal ini dalam bahasa
Indonesia. Jika dalam tulisan atau pemahamanku dahulu membandingkan keberadaan ‘pemotong’
atau pemotongan ini seperti antara sampiran dan isi dalam pantun, aku masih
akan tetap menggunakannya dalam pemahaman yang tidak persis seperti itu. Aku akan
memahaminya seperti ini :
Pertama, pemotongan ini aku setarakan dengan
penyandingan dua tema yang berlainan itu dapat terlihat dalam haiku Denok
Indriyati ini.
Malam yang
redup
bulan dililit
mega
angin gelisah.
(Diposting di Haiku Nusantara pada 20 Mei 2015)
Pada baris pertama dan kedua, kita bisa melihat adanya
satu tema/ide, malam yang redup karena bulan dililit mega. Tak ada cahaya yang
tampak karena mega menutupi bulan. Itu jelasnya. Lalu masuk tema kedua pada
baris ketiga, angin gelisah. Andai tidak dipotong, antara dua baris pertama dan
baris ketiga, seharusnya ada keterangan yang panjang sebagai penghubung
keduanya. Inilah ruang yang disediakan bagi pembaca haiku Denok. Apakah yang
terjadi sehingga pada malam yang redup bulan dililit mega, membuat angin
menjadi gelisah. Mengapa terjadi begitu? Hal itu menimbulkan banyak imajinasi
tergantung dari pembacanya pernah mengalami apa, sedang mengalami apa atau
tengah membayangkan apa. Karena itulah, baris-baris dalam haiku tidak bisa
dijadikan satu kalimat, tapi selalu berupa penggalan-penggalan.
Kedua, ini tidak lepas dari keberadaan haiku sendiri
yang sangat singkat. Ruangnya yang terbatas hanya 5 – 7 – 5 ketukan, tidak
memberi keleluasaan bagi penulisnya untuk berboros kata menjelaskan secara
rinci tentang segala idenya. Pada akhirnya, justru di sinilah kekuatan haiku
itu muncul. Lukisan yang tak terbatas bisa tersampaikan dari deretan kata yang
sangat minim.
Jika kembali melihat haiku Denok, aku akan langsung
ditarik oleh kata-kata yang disusunnya dalam imajinasi yang begitu luas. Di
mana? Pada malam yang redup. Apa? Bulan dililit mega. Kapan? Saat angin
gelisah. Ketiganya adalah sumber imajinasi yang tak terhingga.
Ketiga, dugaanku ini juga ada kaitannya dengan sejarah
haiku. Konon haiku (klasik disebut hokku) awalnya dipakai sebagai pembuka atau pengantar
rangkaian sajak panjang. Sebagai pembuka atau pengantar, kubayangkan ini
sesuatu yang pendek, semacam lead dalam
tulisan jurnalistik, yang memberi ‘senyuman’ selamat datang untuk menarik
pembaca meneruskan membaca seluruh sajak.
Kalau dihubungkan dengan hal ini, kubayangkan haiku
Denok ini akan membawa kita pada pada kisah yang sangat panjang. Segala kisah
yang mungkin terjadi pada sebuah malam yang redup, bulan dililit mega, angin
gelisah. Ini adalah imajinasiku. *** (Yuli Nugrahani)
Wednesday, April 29, 2015
Pertama adalah Mata
Aku sudah pernah menjadi juri untuk beberapa bidang dalam penulisan atau di luar penulisan. Salah satu kesempatan kudapatkan baru saja dengan menjadi juri cipta puisi tingkat sekolah dasar (SD) untuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Propinsi Lampung, di Hotel Nusantara, Bandarlampung 24 - 27 April 2015. Ada 15 peserta yang ikut lomba dari 15 kota dan kabupaten yang ada di Lampung. Kisaran peserta dari kelas 3 sampai 5 SD.
Tema umum yang disodorkan dalam lomba ini adalah kebudayaan Indonesia, spesifik karena ini lomba tingkat propinsi Lampung maka yang harus ditulis oleh peserta adalah kebudayaan Lampung. Dengan waktu kurang lebih 3 jam, apa yang bisa diharapkan dari para peserta siswa siswi SD itu? Hmmm, ya dari banyak pengalaman untuk tingkat umur SD, puisi-puisi yang dihasilkan adalah puisi deskriptif, melukiskan apa yang menjadi tema.
Misal anak SD diminta menulis puisi tentang tarian Lampung. Mereka akan mengurai kata-kata yang melukiskan tarian Lampung, berdasarkan apa yang mereka pernah lihat. Puisi mengandalkan kata-kata yang muncul dari perasaan, yang didasari dari apa yang ditangkap oleh pancaindera. Tapi untuk para muda, anak-anak SD ini, penggunaan mata atau indera penglihatan secara optimal, adalah awal yang sangat baik dan tepat.
Dan ini memang sungguh awal yang baik bagi seorang penyair. Indera yang pertama dan paling optimal bisa digunakan oleh penyair untuk menjaring perasaan-perasaan puitik adalah mata, indera penglihatan. Lewat mata kita bisa melihat bentuk, letak, gerakan, warna dan sebagainya. Jika dituangkan dalam kata-kata, apa yang tertangkap oleh mata ini sangatlah banyak, luar biasa.
Kalau dalam FLS2N tingkat SD mereka melukiskan budaya Lampung, mulai dari tarian, alam, adat, dan sebagainya, kita bisa memakai sekitar kita sebagai latihan menggunakan mata. Mempertajam apa yang bisa ditangkap oleh mata kita sangatlah besar maknanya. Coba lihat di mejaku sekarang ini. Ada gelas nyaris kosong persis di depanku. Apa kata-kata yang bisa kuungkap dari gelas ini? Misalnya : bening, mengkilat, air, gelas, jernih, udara, kosong, pantulan, wajahku, bias, lengkung, lurus,cahaya, dll. dll. Dari kata-kata itu aku bisa merangkainya jadi puisi. Misal puisi pendek seperti ini :
Bening depanku
gelas mendamba air
wajah memantul.
Nah, mataku menangkapnya, dan jadilah puisi pendek. Jika aku menyimpannya, lalu mengeditnya, ini akan jadi salah satu bait dari puisi yang utuh nanti. Jadi, sungguh menyenangkan melihat anak-anak SD sudah memulai dari yang paling menyenangkan yang mereka tangkap lewat mata mereka, untuk dijadikan puisi. Salut.
Tema umum yang disodorkan dalam lomba ini adalah kebudayaan Indonesia, spesifik karena ini lomba tingkat propinsi Lampung maka yang harus ditulis oleh peserta adalah kebudayaan Lampung. Dengan waktu kurang lebih 3 jam, apa yang bisa diharapkan dari para peserta siswa siswi SD itu? Hmmm, ya dari banyak pengalaman untuk tingkat umur SD, puisi-puisi yang dihasilkan adalah puisi deskriptif, melukiskan apa yang menjadi tema.
Misal anak SD diminta menulis puisi tentang tarian Lampung. Mereka akan mengurai kata-kata yang melukiskan tarian Lampung, berdasarkan apa yang mereka pernah lihat. Puisi mengandalkan kata-kata yang muncul dari perasaan, yang didasari dari apa yang ditangkap oleh pancaindera. Tapi untuk para muda, anak-anak SD ini, penggunaan mata atau indera penglihatan secara optimal, adalah awal yang sangat baik dan tepat.
Dan ini memang sungguh awal yang baik bagi seorang penyair. Indera yang pertama dan paling optimal bisa digunakan oleh penyair untuk menjaring perasaan-perasaan puitik adalah mata, indera penglihatan. Lewat mata kita bisa melihat bentuk, letak, gerakan, warna dan sebagainya. Jika dituangkan dalam kata-kata, apa yang tertangkap oleh mata ini sangatlah banyak, luar biasa.
Kalau dalam FLS2N tingkat SD mereka melukiskan budaya Lampung, mulai dari tarian, alam, adat, dan sebagainya, kita bisa memakai sekitar kita sebagai latihan menggunakan mata. Mempertajam apa yang bisa ditangkap oleh mata kita sangatlah besar maknanya. Coba lihat di mejaku sekarang ini. Ada gelas nyaris kosong persis di depanku. Apa kata-kata yang bisa kuungkap dari gelas ini? Misalnya : bening, mengkilat, air, gelas, jernih, udara, kosong, pantulan, wajahku, bias, lengkung, lurus,cahaya, dll. dll. Dari kata-kata itu aku bisa merangkainya jadi puisi. Misal puisi pendek seperti ini :
Bening depanku
gelas mendamba air
wajah memantul.
Nah, mataku menangkapnya, dan jadilah puisi pendek. Jika aku menyimpannya, lalu mengeditnya, ini akan jadi salah satu bait dari puisi yang utuh nanti. Jadi, sungguh menyenangkan melihat anak-anak SD sudah memulai dari yang paling menyenangkan yang mereka tangkap lewat mata mereka, untuk dijadikan puisi. Salut.
Tuesday, April 28, 2015
TERCIPTA DARI TANAH YANG SAMA
![]() |
| Titik Temu bersama Dewi Nova |
(Dimuat dalam
Swara Gender edisi 69/TahunXX/Januari-Maret 2015
Akhir tahun lalu
saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk memperingati Hari Hak Asasi Manusia
(HAM) Internasional, 10 Desember 2014, dengan menjadi editor bagi sebuah buku
antologi puisi bertema HAM dengan judul Titik Temu. Buku ini diterbitkan oleh
Komunitas Kampoeng Jerami tepat pada hari HAM dengan melibatkan 60 penulis dari
seluruh Indonesia dan dari beragam kalangan. Buku ini telah diluncurkan dan
dibahas di Radio Republik Indonesia (RRI) Sumenep Jawa Timur oleh Komunitas
Kampoeng Jerami pada bulan Januari 2015. Selain itu juga dibedah dalam kegiatan
rutin Komunitas Sastra Reboan, Bulungan, Jakarta pada Pebruari lalu. Menyusul
kegiatan-kegiatan itu, dalam tahun ini beberapa agenda komunitas lain akan
menyertakan Titik Temu sebagai bahan perbincangan seperti di Tangerang, Bandung
dan Bengkulu.
Karena kebetulan
saya terlibat di dalamnya, saya hendak memakai buku ini sebagai sumber
inspirasi bagaimana martabat perempuan dimuliakan melalui tulisan-tulisan.
Memang, puisi-puisi yang ada di sana tidak semata berbicara tentang perempuan,
tapi hampir separuh dari seluruh penulisnya adalah perempuan. Sebut saja Ariany
Isnamurti, (direktur PDS HB. Jassin, Jakarta), Siti Noor Laila (anggota
komisioner Komnas HAM), Bunda Umy, Umirah Ramata, Chamelia dan beberapa teman
pekerja perempuan di Taiwan (buruh migran dari Indonesia), juga ada beberapa
aktifis sosial perempuan seperti Dewi Nova, Mariana Amirudin, Masita Riany dan
sebagainya. Selain itu ada penyair-penyair perempuan lain yang terlibat
meramaikan buku ini.
Tema-tema tentang
perempuan mau tak mau menjadi warna dalam puisi-puisi HAM sebagai sarana
penghormatan terhadap perempuan. Beberapa jelas terlihat dari judul puisinya
seperti Hak Sepatu dan Riuh (Cici Mulia Sary, penulis dan dosen di Bengkulu),
Mei-Mei : Umurnya 16 (Dewi Nova, penulis dan aktifis perempuan Tangerang
Selatan), Iyem juga Manusia (Dita Ipul, penyair dan ibu rumah tangga dari
Cilacap), Sajak Nyai Rossina dan Perempuan di Cakrawala (Edy Samudra Kertagama,
penyair senior dari Lampung), Perempuan di Ladang Jagung (Fendi Kachonk,
pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami dan penyair Madura), Gadis Kecil (Lilis Amd,
penyair dan guru di Bandung), dan sebagainya.
Bagaimana
perempuan bisa mengembang dan berkembang dalam tulisan-tulisan? Kita bisa
mengambil satu contoh puisi menarik dari buku ini. Saya memilih satu puisi yang
bersubjudul Pahala, ditulis oleh Dewi Nova, hal. 44 buku Titik Temu. Walau subjudulnya
Pahala, tapi isi puisi ini bisa dipinjam untuk memberi makna kesadaran tentang
perempuan.
Puisi tersebut
secara lengkap adalah :
Saat kau
memandangnya
ia bersinar
merasakan kasihmu
Saat kau
mendengarkannya
ia sempurna sebagai
ciptaan
Saat kau berbuat
ia tergerak
untuk saling menghidupkan
Saat perjumpaan
kita merasa
tercipta dari tanah yang sama
(Cirendeu, 19
Juli 2011)
Mudah
sekali mengaitkan puisi ini dengan perempuan apalagi mengingat penulisnya juga
seorang aktifis perempuan yang giat memberdayakan perempuan dan menyebarkan
semangat untuk kemajuan perempuan. Kita dapat memakai imajinasi untuk
melihatnya ketika mulai masuk dalam bait-baitnya yang jernih memberikan
pemahaman.
Dewi menulis di
bait pertama : Saat kau memandangnya, ia
bersinar merasakan kasihmu. Jika saya ganti ‘nya’ dengan perempuan, maka
yang muncul adalah saat kau memandang perempuan, ia bersinar merasakan kasihmu.
Bagaimana seharusnya
kita memandang perempuan? Itu dijelaskan dalam bait-bait yang berikutnya. Saat kau mendengarkannya, ia sempurna
sebagai ciptaan. Perempuan harus didengarkan, dan dia sempurna sebagai ciptaan.
Ini tidak mudah, karena sering kali perempuan dianggap sebagai ‘ciptaan level
kedua’ yang diabaikan keberadaannya. Sering tak dipandang, atau jika dipandang
akan dipandang sebelah mata saja.
Lalu di bait
ketiga, muncul gerakan yang saling melengkapi, antara pria dan perempuan. Saat kau berbuat, ia tergerak untuk saling
menghidupkan. Ini bukan sebuah simbol yang pasif, tapi gerakan itu akan
menjadi saling menghidupkan. Bukan hanya salah satu pihak saja, tapi saling
dalam perjumpaan yang sejajar. Dan di bagian akhir itulah yang menjadi ajakan
kita untuk sampai pada pemahaman bahwa memang harusnya seperti itulah, karena
semua manusia entah pria atau perempuan diciptakan dari tanah yang sama.
Bisa jadi apa
yang dimaksudkan oleh Dewi Nova saat menuliskan puisi Pahala ini berbeda dengan
cara saya memandang dan menafsirnya. Tapi puisi ini memberikan inspirasi yang
penuh akan penghormatan terhadap martabat manusia tanpa melihat jenis
kelaminnya. Walau, tentu saja, dengan keterpihakan pada perempuan.
Dalam
keseluruhan buku Titik Temu, tulisan Dewi Nova hanyalah puisi yang pendek, namun
maknanya bisa tertangkap begitu dalam dan luas untuk merangkai 164 puisi yang
ada dalam buku ini. Kita tercipta dari
tanah yang sama. Begitu dikatakan Dewi. Dan saya ingin melanjutkan dalam
pemaknaannya, bahwa kita akan kembali ke tanah yang sama pula.
Jika dikaitkan
dengan situasi masa kini, kemajuan perempuan seharusnya diikat dalam penumbuhan
kesadaran-kesadaran. Bukan hanya kesadaran para perempuan yang setahap-tahap
maju dalam berbagai aspek, namun juga kesadaran pihak-pihak lain. Saya menyebutnya
pihak-pihak lain, bukan hanya satu pihak pria, melainkan juga kelompok-kelompok
masyarakat yang memberi pengaruh pada pandangan terhadap perempuan. Di dalamnya
ada kelompok pemerintah, agamawan, organisasi masyarakat, partai politik dan
sebagainya.
Kesadaran yang
paling dasar bisa diambil dari kalimat Dewi, kita tercipta dari tanah yang sama, sebagai dasar dari penghormatan
terhadap manusia tanpa terkecuali. Kesadaran itu yang akan diikuti oleh
kesadaran-kesadaran lain seiring perkembangan kehidupan. Mungkin akan berbeda
pada setiap orang tergantung pengalaman hidupnya masing-masing. Secara umum, kesadaran
akan kesamaan martabat manusia yang memang diciptakan dari dan oleh bahan yang
sama, bisa menghilangkan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak
serta merta, tapi saya yakin akan terus berjalan jika gerakan-gerakan
selanjutnya dilakukan dan diwujudkan dengan sadar oleh perempuan-perempuan dan
juga bersama pihak-pihak lain.
Begitu pun, buku
Titik Temu ini adalah salah satu bagian kecil dalam proses penyebaran kesadaran
itu. Seperti dikatakan oleh Siti Noor Laila, Komnas HAM dalam kata sambutannya
dalam buku ini,”Berbagai peraturan tidaklah cukup, diperlukan pendekatan
melalui budaya, nilai-nilai anti kekerasan dan dialog hati untuk membangun
bangsa yang bermartabat.”
Atau seperti
yang diungkap Fendi Kachonk, pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami di bagian awal
kata pengantarnya untuk buku ini,”Bahwa setiap orang memiliki keunikan dan
perbedaan yang patut dijunjung sebagai warna beragam seperti keindahan
pelangi.” Kesadaran itulah yang sedang dipupuk sekarang ini. Keunikan dan
perbedaan yang dimiliki oleh manusia pria dan perempuan akan menjadi kesempurnaan
yang indah dan saling melengkapi. *** (Penulis, Yuli Nugrahani
adalah pelaksana harian Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang,
Editor Buku Titik Temu yang diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami,
komunitas yang fokus pada penulisan dan pelatihan penulisan di Indonesia.)
Tuesday, April 21, 2015
Titik Temu dalam Belungguk Sastra di Bengkulu
Kali ini giliran Bengkulu menyediakan ruang bagi Titik Temu. Kegiatan menarik telah dikemas oleh Kedai Sastra bekerja sama dengan Komunitas Kampoeng Jerami dan banyak pihak. Aku merasa beruntung bisa menghadirinya dan bertemu dengan banyak komunitas seni di Bengkulu bahkan juga dengan Vebri Al Lintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang yang hadir sebagai salah satu penulis Titik Temu.
"Tak ada puisi yang jelek dalam buku ini," Ujarku, sang editor Titik Temu dengan ngeyel. "Kalau editor yang jelek, mungkin saja ya. Karena seluruh tulisan itu sekarang telah dirangkai dalam sebuah buku, dan editor mempunyai tanggung jawab di situ. Tapi itu pun harus diperbincangkan karena editor selalu mempunyai alasan mengapa puisi tertentu dimasukkan atau ditolak. Editor juga mempunyai proses bersama para penulis dalam buku itu sehingga alasan itu menjadi lebih kuat lagi." Kali ini aku mengatakannya sambil tersenyum. Iyalah, mana aku tahan untuk tidak tersenyum apalagi di hadapan mereka semua yang memberikan apresianya untuk Titik Temu. Ya, mau apa lagi. Memang ngeyel adalah nama keduaku. Jadi, aku akan tetap ngeyel. Hehehe...
Lalu beberapa peserta diskusi ikut membaca puisi-puisi dalam Titik Temu. Aku (yang sebenarnya selalu merasa grogi kalau membaca puisi) mengambil Perempuan di Ladang Jagung, salah satu dari puisi Fendi Kachonk yang selalu 'mengandung musik' untuk kubacakan. Ssstt... ini adalah kesempatan ketigaku membaca puisi dalam dua tahun terakhir ini. Terus terang aku lebih suka membaca cerpen daripada puisi, sehingga aku memilih membaca cerpen jika ada pilihan. Tapi kali ini aku sangat beruntung, khususnya karena puisi Fendi ini secara spontan telah membantuku, sehingga aku tak merasa harus susah payah saat membacanya. Dia mengalir begitu saja sesuai musik yang memang sudah dipunyainya.
Ya, peluncuran buku di Bengkulu ini terasa menarik. Selain untuk pertama kalinya aku datang ke kota ini, Kedai Proses telah mengemas kegiatan ini dalam belungguk (hmmm... dalam bahasa Bengkulu artinya kumpul-kumpul.) sastra yang dihadiri oleh komunitas-komunitas di Bengkulu entah yunior maupun senior. Kedai Proses merangkainya dalam kegiatan rutin tahunan mereka Tribute Chairil Anwar yang dijejer dengan lomba baca puisi, seminar nasional untuk penciptaan karya, dan penganugrahan penghargaan sastra.
Dalam seminar yang diadakan keesokan harinya, aku bersama Dr. Elyusra, M. Pd, dari FKIP Univ. Muhammadiyah Bengkulu mendorong peserta untuk mulai menulis puisi. Menulis saja, tapi kemudian melanjutkannya dengan belajar teori-teori untuk membuatnya semakin bermutu. Aku membuktikan bahwa mereka semua mampu menulis puisi dalam workshop di bagian akhir seminar. Mereka semua bisa menulis puisi tentang perempuan dalam waktu yang sangat singkat.
Malamnya, di hari Sabtu itu semacam pesta bagiku. Walau tak ada makanan dan minum, kegembiraan melihat geliat sastra di Bengkulu adalan kegembiraan yang luar biasa. Para muda dengan karya-karya luar biasa mendapatkan penghargaan sastra. Selamat dan sukses selalu. Semangat itu kubawa kembali untuk perkembanganku, juga perkembangan Komunitas Kampoeng Jerami melalui Titik Temu. Aku mesti sebut nama-nama khusus, Edy Ahmad, Fendi Kachonk, Dedi Suryadi, Cici Mulia Sary, dan juga teman-teman Bengkulu, terimakasih.
"Tak ada puisi yang jelek dalam buku ini," Ujarku, sang editor Titik Temu dengan ngeyel. "Kalau editor yang jelek, mungkin saja ya. Karena seluruh tulisan itu sekarang telah dirangkai dalam sebuah buku, dan editor mempunyai tanggung jawab di situ. Tapi itu pun harus diperbincangkan karena editor selalu mempunyai alasan mengapa puisi tertentu dimasukkan atau ditolak. Editor juga mempunyai proses bersama para penulis dalam buku itu sehingga alasan itu menjadi lebih kuat lagi." Kali ini aku mengatakannya sambil tersenyum. Iyalah, mana aku tahan untuk tidak tersenyum apalagi di hadapan mereka semua yang memberikan apresianya untuk Titik Temu. Ya, mau apa lagi. Memang ngeyel adalah nama keduaku. Jadi, aku akan tetap ngeyel. Hehehe...
Lalu beberapa peserta diskusi ikut membaca puisi-puisi dalam Titik Temu. Aku (yang sebenarnya selalu merasa grogi kalau membaca puisi) mengambil Perempuan di Ladang Jagung, salah satu dari puisi Fendi Kachonk yang selalu 'mengandung musik' untuk kubacakan. Ssstt... ini adalah kesempatan ketigaku membaca puisi dalam dua tahun terakhir ini. Terus terang aku lebih suka membaca cerpen daripada puisi, sehingga aku memilih membaca cerpen jika ada pilihan. Tapi kali ini aku sangat beruntung, khususnya karena puisi Fendi ini secara spontan telah membantuku, sehingga aku tak merasa harus susah payah saat membacanya. Dia mengalir begitu saja sesuai musik yang memang sudah dipunyainya.
Ya, peluncuran buku di Bengkulu ini terasa menarik. Selain untuk pertama kalinya aku datang ke kota ini, Kedai Proses telah mengemas kegiatan ini dalam belungguk (hmmm... dalam bahasa Bengkulu artinya kumpul-kumpul.) sastra yang dihadiri oleh komunitas-komunitas di Bengkulu entah yunior maupun senior. Kedai Proses merangkainya dalam kegiatan rutin tahunan mereka Tribute Chairil Anwar yang dijejer dengan lomba baca puisi, seminar nasional untuk penciptaan karya, dan penganugrahan penghargaan sastra.
Dalam seminar yang diadakan keesokan harinya, aku bersama Dr. Elyusra, M. Pd, dari FKIP Univ. Muhammadiyah Bengkulu mendorong peserta untuk mulai menulis puisi. Menulis saja, tapi kemudian melanjutkannya dengan belajar teori-teori untuk membuatnya semakin bermutu. Aku membuktikan bahwa mereka semua mampu menulis puisi dalam workshop di bagian akhir seminar. Mereka semua bisa menulis puisi tentang perempuan dalam waktu yang sangat singkat.
Malamnya, di hari Sabtu itu semacam pesta bagiku. Walau tak ada makanan dan minum, kegembiraan melihat geliat sastra di Bengkulu adalan kegembiraan yang luar biasa. Para muda dengan karya-karya luar biasa mendapatkan penghargaan sastra. Selamat dan sukses selalu. Semangat itu kubawa kembali untuk perkembanganku, juga perkembangan Komunitas Kampoeng Jerami melalui Titik Temu. Aku mesti sebut nama-nama khusus, Edy Ahmad, Fendi Kachonk, Dedi Suryadi, Cici Mulia Sary, dan juga teman-teman Bengkulu, terimakasih.
Thursday, April 16, 2015
Pendidikan adalah ...
Menjadi salah satu dosen untuk mata kuliah Character Building selalu menarik. Bahkan untuk segala tema. Ini dia contohnya ketika aku masuk untuk sesi character building di kelas gabungan Akuntansi dan Manajemen semester 4 STIE Gentiaras, Kamis lalu, 16 April 2015. Tema yang diangkat sesuai buku panduan adalah Lanjutkan Pendidikanmu. Aku mengajak para mahasiswa untuk diskusi dalam kelompok yang mereka pilih sendiri. Salah satu tema yang harus diperbincangkan dalam diskusi itu adalah menyepakati sebuah gambar yang dapat mewakili pandangan mereka semua tentang pendidikan.
Lima kelompok terbentuk dan inilah hasil kerja mereka.
1. Saringan
Kelompok satu menganggap bahwa pendidikan itu seperti saringan. Ketika orang mendapatkan pendidikan, dia akan mempunyai alat saring yang dapat digunakan untuk menentukan mana yang baik mana yang buruk. Mana yang bisa dikembangkan, disimpan atau dibuang.
2. Uang
Kelompok dua menganggap bahwa pendidikan adalah uang. Membutuhkan uang atau pengorbanan yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Di sisi lain, juga pendidikan suatu saat juga akan berguna untuk mencari uang. Orang yang berpendidikan akan mempunyai pilihan untuk mendapatkan uang.
3. Gunung
Kelompok tiga menganggap pendidikan sebagai gunung. Yang harus didaki dengan segala cara. Dan juga digali. Di dalamnya orang akan menemukan banyak hal. Bebatuan, mineral, dan kekayaan yang terpendam.
4. Sumur
Kelompok empat menganggap bahwa pendidikan adalah sumur air. Di dalamnya ada sumber air yang terus-terus memancar. Orang harus menimba dari dalamnya dengan kerekan yang sudah tersedia, dan air itu tak akan pernah habis. Apalagi ada juga tambahan-tambahan air dari resapan tanah di sekitarnya.
5. Kuku
Kelompok lima menganggap pendidikan itu adalah kuku. Seolah kecil, mempunyai banyak fungsi dan terus menerus tumbuh. Walau dipotong ujungnya, pangkalnya akan selalu tumbuh kembali.
Nah, keren kan? Mereka bisa menemukan hal yang menarik dari pendidikan. Gambar-gambar yang mereka buat ini sengaja kuupload supaya mereka dan diriku tak pernah lupa akan pendidikan.
Lima kelompok terbentuk dan inilah hasil kerja mereka.
1. Saringan
Kelompok satu menganggap bahwa pendidikan itu seperti saringan. Ketika orang mendapatkan pendidikan, dia akan mempunyai alat saring yang dapat digunakan untuk menentukan mana yang baik mana yang buruk. Mana yang bisa dikembangkan, disimpan atau dibuang.
2. Uang
Kelompok dua menganggap bahwa pendidikan adalah uang. Membutuhkan uang atau pengorbanan yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Di sisi lain, juga pendidikan suatu saat juga akan berguna untuk mencari uang. Orang yang berpendidikan akan mempunyai pilihan untuk mendapatkan uang.
3. Gunung
Kelompok tiga menganggap pendidikan sebagai gunung. Yang harus didaki dengan segala cara. Dan juga digali. Di dalamnya orang akan menemukan banyak hal. Bebatuan, mineral, dan kekayaan yang terpendam.
4. Sumur
Kelompok empat menganggap bahwa pendidikan adalah sumur air. Di dalamnya ada sumber air yang terus-terus memancar. Orang harus menimba dari dalamnya dengan kerekan yang sudah tersedia, dan air itu tak akan pernah habis. Apalagi ada juga tambahan-tambahan air dari resapan tanah di sekitarnya.
5. Kuku
Kelompok lima menganggap pendidikan itu adalah kuku. Seolah kecil, mempunyai banyak fungsi dan terus menerus tumbuh. Walau dipotong ujungnya, pangkalnya akan selalu tumbuh kembali.
Nah, keren kan? Mereka bisa menemukan hal yang menarik dari pendidikan. Gambar-gambar yang mereka buat ini sengaja kuupload supaya mereka dan diriku tak pernah lupa akan pendidikan.
Saturday, April 11, 2015
Menari Bersama Anak-anak Kebutuhan Khusus di Lat Krabang
Tahun ini aku mendapat kesempatan untuk menghadiri pertemuan Consultation of Peace and Reconsiliation in Asia Today di Lat Krabang, Bangkok, 6 - 12 April 2015. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan negara-negara se Asia dan diselenggarakan oleh Office of Human Development (OHD) FABC. Pertemuan yang menarik, tapi kali ini aku ingin cerita hal yang paling menarik dari tempat penyelenggaraan acara. Cammilian Pastoral Care Center.
Aku sudah dua kali datang ke tempat ini. Ini tidaklah asing. Detail-detail dari tempat ini cepat sekali menarik perhatian. Misalnya rancangan bangunan yang begitu manusiawi khususnya untuk anak-anak diffable (diferent of able), anak-anak kebutuhan khusus. Seluruh bangunan dirancang untuk ramah pada mereka. Lift yang dilengkapi huruf braille, suara, sehingga mereka mudah menemukan lantai mana yang dituju. Ruangan-ruangan yang luas yang memudahkan mereka bergerak dalam kursi roda. Juga jalan-jalan yang landai bersanding di sebelah tangga. Setiap kamar mandi juga dilengkapi kursi plastik bagi mereka.
Pada hari terakhir pertemuan, mereka hadir bergabung dengan 40 peserta pertemuan. Mereka rupanya sudah berlatih keras untuk menampilkan pentas yang menarik. Tarian, lagu dan juga melukis dalam iringan musik. Aduh, anak-anak yang luar biasa. Tarian yang indah. Yang berbeda dengan gerak dan ekspresi biasa dari orang kebanyakan. Aku tahu mereka telah bekerja sangat keras untuk gerakan-gerakan itu. Gerakan-gerakan yang mengajak semua orang untuk ikut menari. Hatiku, otakku, dan tubuhku ikut menari bersama mereka.
Pada hari terakhir pertemuan, mereka hadir bergabung dengan 40 peserta pertemuan. Mereka rupanya sudah berlatih keras untuk menampilkan pentas yang menarik. Tarian, lagu dan juga melukis dalam iringan musik. Aduh, anak-anak yang luar biasa. Tarian yang indah. Yang berbeda dengan gerak dan ekspresi biasa dari orang kebanyakan. Aku tahu mereka telah bekerja sangat keras untuk gerakan-gerakan itu. Gerakan-gerakan yang mengajak semua orang untuk ikut menari. Hatiku, otakku, dan tubuhku ikut menari bersama mereka.
Saturday, March 28, 2015
Perjalanan Titik Temu yang Berikutnya
Pada bulan ke 4 dari peluncuran Buku Antologi Puisi TITIK TEMU, sudah ada beberapa tapak yang dijejakkan. Mulai dari Sumenep (Januari 2015) lalu Jakarta (Pebruari 2015) dan kali ini giliran Bandung yang menjadi ruang Titik Temu. Bagiku ini kesempatan pertamaku untuk mengikuti kegiatannya secara langsung. Digarap oleh Majelis Sastra Bandung (MSB) yang dipandegani Kang Matdon bersama kawan-kawan Bandung, bertempat di Studio Jeihan, Padasuka, Bandung, 22 Maret 2015.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 15.00 ini berlangsung hangat. Walau diwarnai dengan gerimis dan hawa yang dingin, suasana hangat terus terasa dalam acara di lantai satu studio yang dihiasi lukisan-lukisan Jeihan di sepanjang dindingnya. Ratna menjadi moderator untuk perbincangan buku Titik Temu. Pungkit Widjaja, Fendi Kachonk dan Dewi Nova menjadi pembahas utama untuk buku ini. Apalagi ada sejumlah peserta yang secara antusias membaca puisi secara bergantian.
Tanggapan menarik muncul dari para hadirin. Sangat berwarna. Persis seperti bayanganku ketika memulai bekerja untuk editing buku ini. Buku ini bukan hanya buku sastra walau berisi puisi-puisi dari 60 penyair yang terlibat. Tapi keragaman tema yang dirangkai dalam tema utama Hak Asasi Manusia, menjadikan buku ini tidak hanya dibicarakan dalam konteks kepenulisan tapi juga untuk mengulik situasi kemanusiaan yang ada di Indonesia atau secara khusus diwakili situasi-situasi tertentu yang menjadi warna dalam puisi-puisi itu.
"Kami mengerjakan buku ini dengan gembira. Maka kami berharap kegembiraan itu juga menyebar bagi para pembaca buku ini." Itu bagian akhir yang aku ungkapkan dalam satu kesempatan diundang bicara oleh moderator.
Bagiku, bisa hadir di tengah komunitas sastra di Bandung ini sangatlah menyenangkan. Beberapa jam dalam perbincangan santai tapi serius memberiku banyak harapan untuk langkah Titik Temu. Juga kesempatan untuk bicara di luar kegiatan itu dengan para sahabat yang sudah kenal entah di dunia nyata maupun facebook, maupun yang belum pernah kenal, adalah harapan untuk kemajuanku maupun kemajuan Komunitas Kampoeng Jerami.
Ohya, satu hal lagi yang menyenangkan adalah melihat lukisan-lukisan Jeihan. Manusia-manusia dalam lukisan Jeihan selalu menarikku pada kedalaman. Dan seharusnya Titik Temu juga mulai diarahkan semakin dalam, semakin mendalam, sebagai sastra sebagai tema.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 15.00 ini berlangsung hangat. Walau diwarnai dengan gerimis dan hawa yang dingin, suasana hangat terus terasa dalam acara di lantai satu studio yang dihiasi lukisan-lukisan Jeihan di sepanjang dindingnya. Ratna menjadi moderator untuk perbincangan buku Titik Temu. Pungkit Widjaja, Fendi Kachonk dan Dewi Nova menjadi pembahas utama untuk buku ini. Apalagi ada sejumlah peserta yang secara antusias membaca puisi secara bergantian.
![]() |
| Aku, Fendi dan Matdon, sebelum acara dimulai. Foto oleh Geusan. |
Tanggapan menarik muncul dari para hadirin. Sangat berwarna. Persis seperti bayanganku ketika memulai bekerja untuk editing buku ini. Buku ini bukan hanya buku sastra walau berisi puisi-puisi dari 60 penyair yang terlibat. Tapi keragaman tema yang dirangkai dalam tema utama Hak Asasi Manusia, menjadikan buku ini tidak hanya dibicarakan dalam konteks kepenulisan tapi juga untuk mengulik situasi kemanusiaan yang ada di Indonesia atau secara khusus diwakili situasi-situasi tertentu yang menjadi warna dalam puisi-puisi itu.
"Kami mengerjakan buku ini dengan gembira. Maka kami berharap kegembiraan itu juga menyebar bagi para pembaca buku ini." Itu bagian akhir yang aku ungkapkan dalam satu kesempatan diundang bicara oleh moderator.
Bagiku, bisa hadir di tengah komunitas sastra di Bandung ini sangatlah menyenangkan. Beberapa jam dalam perbincangan santai tapi serius memberiku banyak harapan untuk langkah Titik Temu. Juga kesempatan untuk bicara di luar kegiatan itu dengan para sahabat yang sudah kenal entah di dunia nyata maupun facebook, maupun yang belum pernah kenal, adalah harapan untuk kemajuanku maupun kemajuan Komunitas Kampoeng Jerami.
Ohya, satu hal lagi yang menyenangkan adalah melihat lukisan-lukisan Jeihan. Manusia-manusia dalam lukisan Jeihan selalu menarikku pada kedalaman. Dan seharusnya Titik Temu juga mulai diarahkan semakin dalam, semakin mendalam, sebagai sastra sebagai tema.
Wednesday, March 18, 2015
Akik Anggur Motif Ranting Kaktus
Lampung dan banyak daerah di Indonesia sedang booming trend batu akik. Sejak awal booming itu, rumahku juga bertebaran batu-batu karena Albert mengumpulkan entah dari mana saja. Yang sudah digosok, yang sudah diemban, atau yang masih bongkahan. Bahkan dia perjual belikan juga.Aku, dan orang lain lain selain Albert menanggapi booming batu akik dengan biasa saja. Tapi toh setiap kali pembicaraan keseharian sampai juga pada batu akik.
Nah, booming ini memang luar biasa terasa. Bukan hanya bapak-bapak saja yang menaruh minat, tapi waktu arisan RT beberapa minggu lalu, beberapa ibu memamerkan batu-batu yang mereka pakai.
"Ini bungur muda dari Tanjungbintang. Bagus kan?" ujar seorang ibu. Ibu yang lain menunjukkan batu merah delima, warna merah dengan motif di dalamnya. Huah, aku ingat aku masih punya dua bongkah kecil batu bungur Kalimantan dan kecubung teh yang masih tercampur kotak Albert. Juga ada gelang batu berhias puluhan batu dari Medan. Atau kalung batu pemberian teman yang sungguh berat kalau dikenakan.
Ketular juga memakai batu akik ketika seorang teman memberikan batu mungil warna putih.
"Ini batu akik anggur. Bagus ini."
Masa sih. Kayak biasa saja. Aku balik-balik batu itu. Warna putih keruh dengan motif garis-garis yang membentuk ranting kaktus.
"Ini bagus, Yuli. Cari embannya. Lihat, ini batu akik anggur motif burung."
Huah, burung dari mana? Aku lihat berulang-ulang tak kutemukan burung itu. Bentuk belalang kayaknya. Hehehe...
"Udah, cari saja ikatnya. Pasti bagus. Aku tak pernah nyimpen batu yang tidak bagus."
Hehehe...ok. Dikasih gratis juga. Jadi aku nelpon Om Paulus. Aku tahu beliaunya ini jual berbagai jenis emban akik. Beliau bilang ada beberapa emban dari titanium untuk cewek. Jadi aku mampir ke tempatnya, minta dipasang sekalian. Dan, wah, memang jadinya keren. Batu itu kelihatan bagus di tanganku. Betul juga. Ini bagus dan indah.
Nah, booming ini memang luar biasa terasa. Bukan hanya bapak-bapak saja yang menaruh minat, tapi waktu arisan RT beberapa minggu lalu, beberapa ibu memamerkan batu-batu yang mereka pakai.
"Ini bungur muda dari Tanjungbintang. Bagus kan?" ujar seorang ibu. Ibu yang lain menunjukkan batu merah delima, warna merah dengan motif di dalamnya. Huah, aku ingat aku masih punya dua bongkah kecil batu bungur Kalimantan dan kecubung teh yang masih tercampur kotak Albert. Juga ada gelang batu berhias puluhan batu dari Medan. Atau kalung batu pemberian teman yang sungguh berat kalau dikenakan.
Ketular juga memakai batu akik ketika seorang teman memberikan batu mungil warna putih.
"Ini batu akik anggur. Bagus ini."
Masa sih. Kayak biasa saja. Aku balik-balik batu itu. Warna putih keruh dengan motif garis-garis yang membentuk ranting kaktus.
"Ini bagus, Yuli. Cari embannya. Lihat, ini batu akik anggur motif burung."
Huah, burung dari mana? Aku lihat berulang-ulang tak kutemukan burung itu. Bentuk belalang kayaknya. Hehehe...
"Udah, cari saja ikatnya. Pasti bagus. Aku tak pernah nyimpen batu yang tidak bagus."
Hehehe...ok. Dikasih gratis juga. Jadi aku nelpon Om Paulus. Aku tahu beliaunya ini jual berbagai jenis emban akik. Beliau bilang ada beberapa emban dari titanium untuk cewek. Jadi aku mampir ke tempatnya, minta dipasang sekalian. Dan, wah, memang jadinya keren. Batu itu kelihatan bagus di tanganku. Betul juga. Ini bagus dan indah.
Saturday, March 14, 2015
Kedua Kalinya untuk RAT Kopdit Mekar Sai
Agak telat dikit tapi baik juga kalau aku tetap mencatatnya supaya aku ingat bahwa tahun ini untuk kedua kalinya aku terlibat dalam kepanitiaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Mekar Sai Lampung. Tahun lalu, aku juga ada di dalamnya sebagai wakil ketua panitia dan pemimpin sidang I. Untuk tahun ini dalam RAT yang diadakan di GSG Gentiaras kompleks sekolah Way Halim, aku kembali menjadi wakil ketua dan menjadi pemimpin sidang II.
Tahun lalu yang menjadi ketua adalah R. Sumarno, dan tahun ini yang menjadi ketua adalah A. Totok Haryadi. Walau dalam kegiatan yang sama tentu saja dinamikanya berbeda, sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam kopdit ini. Dan yang lebih menarik, tahun ini sebagai pemimpin sidang II aku merasakan pengalaman yang luar biasa yang pasti jarang didapat oleh orang lain.
Dalam RAT, sidang I berisi tentang pengesahan tata tertib, pelaporan dari pengurus dan pengawas. Sedang sidang II, di situlah inti dari seluruh RAT. Anggota kopdit melakukan hak dan kewajibannya secara aktif untuk mencermati laporan dan rencana kerja yang sudah dibuat oleh pengurus dan pengawas dengan tanggapan, pertanyaan, kritikan, usulan dan sebagainya.
Banyak hal tak terduga yang bisa muncul dari peserta RAT yang berjumlah 400-an orang dari ratusan unit yang ada di propinsi Lampung ini. Aku mesti menyediakan 4 termin untuk sesi tanggapan ini dan banyak diantaranya adalah tanggapan-tanggapan yang kritis yang menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus di masa mendatang. Menarik, bagiku sendiri lebih-lebih.
Bonus yang kudapat dari RAT tahun ini adalah dilantik menjadi Panitia Nominasi untuk pemilihan pengurus dan pengawas yang akan bekerja sepanjang tahun 2015 untuk pemilihan pengurus dan pengawas di tahun 2016, bersamaan dengan RAT tahun depan. Huah, bonus yang bakal melelahkan.
Tahun lalu yang menjadi ketua adalah R. Sumarno, dan tahun ini yang menjadi ketua adalah A. Totok Haryadi. Walau dalam kegiatan yang sama tentu saja dinamikanya berbeda, sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam kopdit ini. Dan yang lebih menarik, tahun ini sebagai pemimpin sidang II aku merasakan pengalaman yang luar biasa yang pasti jarang didapat oleh orang lain.
Dalam RAT, sidang I berisi tentang pengesahan tata tertib, pelaporan dari pengurus dan pengawas. Sedang sidang II, di situlah inti dari seluruh RAT. Anggota kopdit melakukan hak dan kewajibannya secara aktif untuk mencermati laporan dan rencana kerja yang sudah dibuat oleh pengurus dan pengawas dengan tanggapan, pertanyaan, kritikan, usulan dan sebagainya.
Banyak hal tak terduga yang bisa muncul dari peserta RAT yang berjumlah 400-an orang dari ratusan unit yang ada di propinsi Lampung ini. Aku mesti menyediakan 4 termin untuk sesi tanggapan ini dan banyak diantaranya adalah tanggapan-tanggapan yang kritis yang menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus di masa mendatang. Menarik, bagiku sendiri lebih-lebih.
Bonus yang kudapat dari RAT tahun ini adalah dilantik menjadi Panitia Nominasi untuk pemilihan pengurus dan pengawas yang akan bekerja sepanjang tahun 2015 untuk pemilihan pengurus dan pengawas di tahun 2016, bersamaan dengan RAT tahun depan. Huah, bonus yang bakal melelahkan.
Thursday, March 12, 2015
Membaca Haiku Hikmat Gumelar
Walau suka menulis haiku dan ikut dalam grup haiku,
aku jarang sekali menemukan haiku yang kusuka. Selain itu, aku juga jarang
(malas) mengomentari haiku entah yang kubuat sendiri atau dibuat oleh orang
lain. Tapi haiku yang satu ini membuatku berdebar :
bayang reranting
membatik pantai senja
ombak mendekat
Ditulis
oleh Hikmat Gumelar dipublikasikan lewat facebook pada 11 Maret 2015. Dalam
postingannya, Hikmat memasang gambar bayangan ranting di atas pasir pantai,
sedang ombak tengah berjalan mendekati bayangan itu. Jelas gambar itu diambil
pada sore hari karena cahayanya redup, abu-abu, menandakan matahari sudah mulai
terbenam.
Sebagai
haiku, kita bisa mencermati apakah syarat-syaratnya terpenuhi. Terdiri dari
tiga baris, baris pertama 5 suku kata, baris kedua 7 suku kata dan baris ketiga 5 suku kata. Haiku
Hikmat ini sudah memenuhi syarat baris dan suku kata (Sebenarnya aku lebih suka
menggunakan istilah pattern atau ketukan. Terdiri dari 3 baris, 5 – 7 – 5
ketuk.).
Syarat
lain, haiku juga harus memiliki kigo atau penanda musim dan kireji atau
pemotongan. Walau syarat ini sering diabaikan oleh para penulis haiku modern,
aku secara pribadi lebih menyukai mempertahankan syarat-syarat haiku tradisional
ini. Kigo atau penanda musim sangat mudah ditemukan di Jepang yang memiliki 4
musim. Tapi di negara tropis seperti Indonesia, penanda musim pun sangat banyak
(walau untuk sekarang ini agak kacau karena pemanasan global). Misal bunga
bungur mekar bisa menjadi kigo karena itulah tanda musim kemarau akan segera
berakhir. Kodok bernyanyi dalam paduan adalah kigo karena itulah saat musim
penghujan. Atau ketika capung mulai muncul bergerombol, laron keluar dari
sarang dan sebagainya.
Kigo dalam
haiku Hikmat ini tidak secara jelas terlihat. Tapi imajinasi pembaca bisa
membantu untuk melihatnya. Imajinasi itu juga yang membantuku untuk
mengamatinya lebih dalam. Kita lihat – membatik
pantai senja – ombak mendekat. Aku membayangkan sebuah senja dengan air laut
mulai pasang. Air pasang dan surut akan terjadi setiap hari. Tapi bulan purnama
akan membuatnya lebih signifikan karena gaya gravitasi bulan. Dan itu tidak
terjadi pada seluruh waktu dalam setahun pada negeri tropis. Walau kita tidak
bisa menunjuk secara pasti musim apakah yang melatarbelakangi haiku Hikmat,
tapi kita bisa membayangkan masa seperti apa haiku Hikmat ini ingin
menggambarkan. Aku membayangkan, itulah
senja saat purnama bisa kita lihat pada malam harinya. Dan itulah kigo dalam
haiku Hikmat.
Syarat
berikutnya adalah adanya kireji, atau pemotongan. Ini agak susah dibayangkan.
Di banyak contoh haiku, misalnya haiku Basho, dimanakah kirejinya? Pemotongan
ini kalau kubayangkan dalam pantun seperti pemotongan antara sampiran dan isi.
Sesuatu yang tak ada hubungannya tapi toh terkait juga.
Untuk haiku
Hikmat ini aku kembali menggunakan imajinasi saat membacanya. Ah, tidak, lebih
tepat aku membacanya sebagai susunan kalimat. Aku memotong saja haiku ini
menjadi dua kalimat : bayang reranting membatik
pantai senja - ombak mendekat. Ombak mendekat tak ada hubungannya dengan
bayang reranting yang membatik pantai senja. Dan kalimat pendek itu – ombak mendekat – itulah debar dari haiku
ini. Itulah inti gerak halus yang membuat pembaca sepertiku berdebar. Ini
semacam penantian. Akan terjadi apa nanti? Apakah bayangan reranting yang sudah
terbatik itu akan hilang? Atau bayangan itu akan tetap abadi walau ombak menyapunya?
Wuah, membacanyapun ikut membuatku merasa keren. Membuatku terus berdebar.
Mengapa
haiku begitu populer di Jepang dan kemudian menyebar ke berbagai negara? Karena
haiku sangat sederhana sebagai puisi. Pendek, ringkas, padat. Dan haiku yang
berhasil, dia pasti indah mencerminkan sebuah kejadian, atau sebuah tempat,
dalam lukisan yang jernih dan mendebarkan.
Lalu apa
makna haiku ini? Ah, ketika haiku sudah berhasil menampilkan lukisan, hanya
dengan kata-kata singkat tapi sudah membentuk lukisan, makna itu akan spontan
memercik pada pembacanya. Apakah aku sudah mendapatkan lukisan itu? Tentu saja.
Sudah cukup bahwa aku bilang haiku ini membuatku berdebar. Atau mau masuk lebih
dalam lagi? Haiku ini mengajak khayalanku masuk dalam permenungan tentang hidup
manusia. Hidup manusia adalah bayangan reranting yang terbatik di pasir pantai
saat sore hari. Bayangannya akan semakin redup karena cahaya akan hilang. Apakah
ombak yang mendekat dan menyapu pasir pantai akan menghilangkan bayangan itu? Tidak.
Bayangan akan tetap ada seperti Citra Sang Pencipta yang selalu dibawa oleh
manusia, si ciptaan. Tapi bentun bayangan yang terbatik di pasir dan di air
jelas berbeda. Seperti apa bentuknya yang baru? Kita sedang menantinya, dengan
berdebar, karena hanya misteri saja yang kita ketahui.
Nah, nah,
itu bagiku. Bagi pembaca lain, haiku ini tentu menorehkan hal yang berbeda
pula. Dan itu sah. Apapun, ini adalah haiku yang indah. Trimakasih untuk Hikmat
Gumelar yang sudah membawa keindahan itu dalam haiku. Takzim, Hikmat Gumelar.
Salamku. *** (Yuli Nugrahani)
Subscribe to:
Posts (Atom)








