Saturday, August 24, 2013

Hanya Pekerja

Kita tak dapat melakukan segala sesuatu,
dan ada perasaan yang memerdekakan kala kita memahaminya.
Hal itu memampukan kita melakukan sesuatu,
dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Mungkin tidak lengkap, namun itulah suatu awal,
sebuah langkah sepanjang perjalanan,
suatu peluang supaya rahmat Allah bisa merasuk,
dan melakukan selebihnya.
Kita mungkin tak akan melihat hasil akhirnya,
tetapi itulah perbedaan antara
Pencipta dan pekerja.
Kita adalah pekerja, bukan Pencipta,
pelayan bukan Mesias.


† Uskup Agung San Salvador Oscar Romero-

Friday, August 23, 2013

Bulan Duduk

andai aku tidak pernah dicemari
aku yakin bahwa bulan sedang duduk di pohon pisang
dengan senyum bulat memutar pedal
membuat arum manis
yang ditawarkan padaku
juga ditawarkan padamu
andai saja kita mau memandang
ke atas, ke langit malam ini.

Tuesday, August 20, 2013

Melihat Aku

dalam embun setitik
bergayut di ujung daun
gemetar menatap tanah kering
yang siap menyerap.

Wednesday, August 14, 2013

Mimpi Bau Kemuning

Dari jendela kamar ini tanah berembun di bawah sana tak terjangkau.
Kegelisahan dimulai saat helai kemuning pertama rontok oleh angin berayun.
Jika aku bisa membuka jendela, loncatan pasti membuat kakiku patah,
sebelum menyeret tubuh menangkap helai kedua atau mungkin kesejuta.

Aku memastikan dompet sudah di saku dan kerudung menutup kepala.
Gerendel jendela hanya setinggi hidung dengan lumas yang menetes.
Tak ada derit, hanya angin awal musim penghujan masuk menyertai sibakan.

Seseorang di seberang jalan melambai dan menunjuk pada kemuning.
Dia sahabat pertama yang tersenyum tanpa janji menopang tubuhku.

Jika aku tidak jatuh saat ini, yang kudapat hanya ruang mati
dan diriku sebagai orang asing.

Wednesday, August 07, 2013

Ketupat

aku merangkai kenangan lewat anyaman janur
aku masukkan kerinduan dan beras yang lebur
embah yang sudah mengajarku menarikan jari-jari
kembali hidup dalam ketupat hari ini

Tuesday, July 30, 2013

Ndre, selamat jalan.


Andreas Soejanto 

Aku baru bisa menulis tentang kabar duka ini sekarang, setelah beberapa minggu berita duka itu kuterima. Tepatnya tanggal 13 Juli 2013, sahabatku, Andreas Soejanto, alias Andre sudah berpulang pada Sang Penciptanya di Rumah Sakit Lavalette, Malang dan dimakamkan di kampung kelahirannya Blitar. 
Mendengar kabar itu pertama kali sungguh tidak percaya. Setahun setengah yang lalu aku bersama suami dan anak-anak mampir ke rumahnya di Blitar dan dia sungguh ceria sehat dan segar menyambut kami. Ah, kematian selalu tak terduga.
Tapi Andre, alias Bondet, tak mungkin begitu saja bisa dilupakan. Dia sahabat yang baik saat aku mengalami masa-masa sulit di jaman tertentu di tahun 94 - 96, atau mungkin juga sebelum dan sesudahnya. Ndak, dia gak melakukan apa-apa. Malah mungkin dia hanya pengganggu karena datang ke kostanku dengan maksud ini itu, minta dibantu ini itu dan sebagainya. Jangan curiga, kami benar-benar hanya teman atawa sahabat. Tapi selama dua tahunan itu aku, Andre, Aat dan Dina menikmati persahabatan yang menyenangkan, yang mungkin tidak disangka oleh orang lain.
Bisa jadi kami sering dianggap double couple date atau apalah. Atau juga persahabatan itu malah tidak terendus oleh siapapun. Setiap dari kami ulang tahun kami pasti menyempatkan berempat nonton film dan makan. Bisa jadi aku sedang dimanfaatkan dua cowok dan 1 cewek ini, tapi really it's fun. Mereka bertiga dengan kompleksitasnya (hehehe) masing-masing sangat menghiburku. Saat itu aku jomblo dan sedang ndlosor karena patah hati yang kubuat sendiri. Patah hati karena kebodohan sendiri. (Huh, sebel kalau ingat.) Dan mereka bertiga menawarkan persabahatan yang manis. Aku menampung kisah dari curhatan masing-masing orang dan aku mendapatkan banyak inspirasi dari situ.
Setelah satu persatu dari kami mendapat tumburan atau gandengan atau kegalauan atau pilihan melangkah lebih maju, kami semakin renggang. Kadang aku jalan sendiri dengan Dina, kadang dengan Andre saja atau dengan Aat sendiri. Tapi jelas kami tidak bisa lagi jalan berempat begitu masuk tahun-tahun kami menjelang kelulusan kuliah. Hingga kemudian kami lepas kontak sama sekali. Aku sibuk dengan pekerjaan baruku dan pacar baruku (yang kemudian jadi suamiku), Dina masih berkutat di kampus lalu sibuk dengan dunianya, Andre gak ketahuan kabarnya hingga kutahu kemudian dia menikah dan tinggal di Blitar, dan Aat hilang seperti ditelan bumi setelah mengirim kartu entah lupa untuk moment apa.
Kami tersambung lagi walaupun tidak bertemu fisik dalam suasana yang jauh berbeda. Masing-masing dari kami terpisah jauh ke pulau-pulau berbeda, dengan dinamika yang luar biasa. Aku merasa tidak ada satu pun dari moment persabahatan kami yang patut disesalkan. Semuanya indah. Lalu kabar meninggalnya Andre menjadi penguat memori itu.
Terimakasih, Andre. Hidupmu sama sekali tidak sia-sia. Dalam porsi yang cukup kau berikan juga untukku.  Salam dan doaku dari peziarahanku yang belum selesai. Damailah kau di sisi Penciptamu. Selamat jalan, sahabat.

Wednesday, July 17, 2013

Menunggu Rumah Baru

Hujan merobohkan rumahku                                                                  
menyisakan bongkah pondasi
cerangah ceringih seperti gigi susu
tinggal digoyangkan kanan kiri

lalu tak ada lagi yang sisa.
Sementara aku tidur di semesta
menyewa sejumput tanah
sementara aku perlu berpijak.

Monday, June 24, 2013

Tape ketan dari koperasi

Tiga hari kemarin aku ikut kursus dasar koperasi kredit (kopdit) yang diselenggarakan oleh Kopdit Mekar Sai Lampung, 21 - 23 Juni 2013 di aula atas kantor kopdit tersebut. Acara yang sederhana dan sangat mendasar, namun bisa kukatakan dikemas dengan metode yang menarik dan hasilnya, ... aku tambah pinter. Hehehe...
Aku mengenal kata koperasi dari jaman kecil dulu. Bapak ibuku sebagai guru menjadi anggota aktif koperasi pegawai negeri (KPN) Kecamatan Grogol Kediri Jawa Timur. Bisa disebut aktif karena soal simpan pinjam tak akan abai, terus simpan dan terus pinjam, dan selalu rajin ikut rapat anggota tahunan (RAT). Awalnya sih aku tidak bisa mengaitkan itu dengan ekonomi keluarga kami waktu itu. Setahuku, kalau bapak atau ibu rapat koperasi artinya aku akan dapat oleh-oleh tape ketan. Rapat koperasi itu sama dengan tape ketan. Itu aja.
Kenapa tape ketan? Karena aku memang suka tape ketan dan segala turunannya (macam madumongso, badeg, hingga arak. Hehehe...) Dan ada jenis tape ketan tertentu yang hanya bisa didapatkan di kota kecamatan jaman itu, yaitu tape ketan yang 'modern'. Kalau di sekitar rumah, orang menjual tape ketan dalam bungkus daun pisang, nah di Gringging, atau kota kecamatan tape ketan itu dibungkus gelas plastik yang besar dilengkapi dengan sendok plastik. Porsi jelas lebih banyak dari tape yang dibungkus daun, dan seusai itu, gelas dan sendoknya jadi hadiah untuk main 'pasaran'.
Lalu semasa aku sudah SMA dan kuliah, aku semakin paham pengertian koperasi dan teorinya. Tapi tidak pernah sekalipun aku terlibat di dalamnya. Bagiku sama sekali tidak penting dan tidak ada hubungannya bagi kehidupanku.
Nah, mulai di Lampung tahun 2000, seorang bapak (sekarang almarhum) pak Mukani, yang berkantor di sebelah ruanganku di Keuskupan Tanjungkarang, setiap istirahat beliau datang ke ruanganku atau aku ke ruangannya, dan obrolannya selalu ujung-ujungnya tentang koperasi karena beliau ini bendahara di koperasi simpan pinjam Mekar Sai.
Tahun 2001 atau 2002, entah, aku lupa, aku mulai masuk jadi anggota koperasi ini hanya karena nggak enak sama pak Mukani. Tapi aku termasuk anggota baik lho, artinya aku selalu menyetor simpanan wajib dan jika ada lebih memasukkan juga ke simpanan sukarela.
Lalu, aku diajari pak Mukani untuk pinjam. "Kalau gak butuh duit, ya hasil pinjaman masukin lagi jadi tabungan." Haaa, rupanya inilah yang kemudian menjadi cara menarik. Pinjam, uang tidak diambil jadi simpanan dan aku bisa menabung dengan paksaan angsuran tagihan hutang. Itu yang kemudian kukerjakan.
Dan kemudian karena ajaran meminjam ini berhasil, maka aku pun memakai fasilitas ini untuk keperluan mendesak atau tidak mendesak.
Dan dalam kursus dasar baru lalu, aku terteguhkan. Ketika aku pinjam uang, artinya aku berkontribusi bagi kelangsungan hidup koperasi dan seluruh anggota yang lain. Jadi, aku tidak boleh macet mengangsur karena ini menjadi bagian kontribusi yang penting atas kepercayaan mereka menggunakan uang mereka.
Ssst, untuk angka tertentu sampai puluhan juta aku tidak perlu agunan lho, karena tabungan yang kupunya di koperasi adalah agunan yang paling mujarab. Ini semacam meminjam uang sendiri tanpa kehilangan uang. Jadi, mulai saat ini, aku bukan lagi anggota yang mengharapkan 'tape ketan' dari koperasi, tapi aku akan menawarkan 'tape ketan' itu untuk orang lain dan mengajak untuk ikut menikmatinya. Kalian mau?

Thursday, June 20, 2013

Episode Il Passetto

Omong kosong cinta ditabuh,
hanya ada gigi menancap,
dalam kabut seusai subuh,
terjaring balon perut rayap.

Sakitku adalah pelangi pagi,
di putaran muda matahari,
hanya perlu luap air mata,
dan ruang melesatkan kata.

Jangan pernah menjemput,
aku masih di tengah Il Passetto,
jongkok menguatkan kasut,
sendiri bermain kerucut tornado.

Tunggu perjumpaan di corridori,
saat cawan-cawan sudah terisi,
mungkin mukjijat akan terulang,
membagikan roti bukan belulang.

Monday, June 17, 2013

13 Tahun Lalu

Selembar inilah yang kami sebarkan waktu itu. Memakai kertas coklat daur ulang, dilipat dua kali, memakai amplop dengan jenis kertas yang sama, dan dicetak 250 untuk handai tolan, para sahabat dan saudara. (Harganya hanya sekitar Rp. 350,- per ekslemparnya.)
Segalanya model adat Jawa dengan peran dari banyak orang. Paklik Tar (alm) dan Kung Sodi (alm) yang mengedit bahasa Jawa untuk undangan dan buku upacara, pak Pur yang melatih gamelan dan paduan suara dalam bahasa Jawa, bu Lurah sepuh yang merias wajah kami dan menata upacara adat perkawinan Jawa, Romo Harjanto yang memberi berkat sakramen, bapak ibu Samiran yang menjadi ketua penyelenggara (sehingga semua indah), bapak Suliham yang memberikan dukungan total, pak puh No (alm) yang membuat semuanya menjadi lebih meriah plus kelompok campur sarinya, bulik Sih, bulik Nik, bulik Sri dan bu puh Rin yang menjadi seksi-seksi dari dapur sampai tarub. Mbak Lis yang menjahit berminggu-minggu ratusan souvenir berbentuk tempat tisu, Heng yang memberikan rangkaian bunga pengantin mawar orange, Mas Pris (alm), Ninik, dan Atik yang memberikan perhatian penuh beberapa hari, seorang sahabat di Malang Post yang membuat karikatur di undangan (siapa ya namanya. Aduh, maaf teman, aku lali), keluarga besar Kediri, keluarga besar Senduro, para ibu yang berhari-hari setia memenuhi dapur dengan celoteh hingga akhirnya seluruh rawon, rames, puding, dan segala kue-kue siap untuk hantaran dan sajian, para bapak yang 7 hari full berjaga malam, angkat, angkut, plus main kartu biar melek, dan juga banyak orang lain lagi.
Hari ini 17 Juni 2013, sudah berlalu 13 tahun peristiwa itu. Aku ingin mengenangnya secara khusus untuk mensyukurinya dan untuk mengembangkan cinta dalam keluarga kami yang sudah berjalan 13 tahun. Terimakasih untuk Sang Pencipta, semua orang dan alam semesta yang sudah membantu kami hidup hingga sekarang ini.

"Katresnan dan kasetyan muga aja ninggal kowe, iku kalungna ing gulumu, catheten ana ing papaning atimu, temah kowe bakal oleh sih lan dadi kajen ing ngarsaning Allah lan ana ing ngarep menungsa." (Wulang bebasan, 3 : 3 - 4)

Tuesday, June 11, 2013

Super Sad True Love Story

Judul : Super Sad True Love Story
Penulis : Gary Shteyngart
Penerjemah ke bahasa Indonesia : Dewi Wulansari
Editor : Errena Ike Hendraini
Penerbit : Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan I : Nopember 2011
Ukuran : 13 X 20 cm
Isi : 520 halaman
ISBN : 978-602-9193-114


Sebelum membaca buku ini, aku menganggap buku-buku klasiklah yang paling cocok dijadikan referensi dalam tema maupun cara penulisan cerita. Aku sulit sekali tersentuh oleh kisah-kisah modern apalagi futuristik. Tapi rupanya aku salah. Gary Shteyngart, - yang mungkin juga mempunyai idola penulis klasik-, mampu menyodorkan cerita yang membuatku bilang  : Wow! Dan koprol berkali-kali saat membaca Super Sad True Love Story.

Jangan bayangkan Gary menulis kecengengan atau dengan gaya cengeng. Blas! Dia berkisah tentang satu masa yang 'menyedihkan' dengan sangat lucu, - hanya orang cerdas yang bisa membuat kelucuan model seperti dalam novel ini -, dan "Ada banyak mesiu satir yang dikemas dalam setiap kalimat ..." Demikian dikatakan Time di bagian sampul sebagai apresiasi (promosi?) terhadap buku ini.

Novel ini menceritakan Leonard Abramov, biasa dipanggil Lenny, anak pasangan Rusia yang tinggal di Amerika di masa negeri ini sedang mengalami kehancuran di bawah pengaruh China. Lenny jatuh cinta pada Eunice Park, gadis yang jauh lebih muda darinya, berdarah Korea - Amerika. Dia merasa beruntung dapat hidup dengan gadis tercintanya ini sebelum direbut oleh bosnya di Post-Human Servise di Staatling-Wapachung Corporation, perusahaan yang melayani pelanggan untuk 'hidup abadi".

Lucunya, Gary menulis setting kisah ini secara konsisten dan 'mengerikan' di mana masyarakat dunia hidup hanya dengan 'klik' pada 'aparat', sebuah perangkat yang aku bayangkan sebagai perkembangan HP di masa mendatang, dimana bisa dipakai untuk komunikasi, memindai, mendeteksi, dan berbagai macam fungsi dalam kesehatan, relasi, ekonomi dan sebagainya. Misalnya di halaman 136, perangkat ini bisa untuk mendeteksi data personal seseorang.

"Lenny Abramov kode ZIP 10002, New York, New York. .... Tekanan darah saat ini 120/70. ....Ayah : .... Jumlah kekayaan : ... Kemampuan berbelanja : .... " Bahkan juga profil," ... tidak religius, pilihan seksual, indikator kepercayaan diri..." Dsb. Atau dengan fitur tertentu juga bisa menghitung kehebatan kelaki-lakian, kepribadian, kemapanan, dsb.

Hahaha, aku ngakak habis membayangkan khayalan Gary yang detail semacam itu. Dan uniknya, seluruh novel ini ditulis semodel memoar, dengan banyak sekali kalimat-kalimat panjang yang bertingkat-tingkat. Mereka disusun berdasarkan buku harian Lenny yang disambung dirangkai dengan catatan Eunice di GlobalTeens. Seolah-olah kisah ini kisah nyata yang kemudian dipublikasikan sebagai buku bahkan kemudian diangkat dalam film. "Aku tidak tahu akan ada orang atau kelompok orang yang melanggar privasiku dan privasi Eunice, membajak akun GlobalTeens kami kemudian menyatukan naskah yang sekarang Anda baca pada layar komputer anda." Demikian cuplikan tulisan Lenny dalam diarynya (hal. 502).

Kalau Gary memilih judul Super Sad True Love Story, aku menduga karena dia ingin 'mengejek' generasi masa kini yang 'sungguh sangat menyedihkan' di masa mendatang kalau tidak segera dikoreksi. Soal percintaan yang sangat permisif pada seks, ekonomi yang jadi penguasa negara, dll.

Salah satu kepiluan yang diangkat oleh Gary adalah jaman 'klik' ini tidak memberi ruang bagi penerbitan buku, penulis buku maupun pembaca buku. Menyimpan buku saja sudah dianggap sebagai kuno dan kolot. Orang-orang masa itu digambarkan hanya memindai, bukan membaca. Maka, di halaman 52 ditulis,"Aku perhatikan beberapa penumpang kelas satu menatapku karena membuka sebuah buku,"Pak, bau benda itu seperti kaos kaki basah," ujar seorang muda yang duduk di sebelahku, pejabat senior Kredit ..." Huft...
 

Monday, June 10, 2013

8 Juni 2013

Anakku,
12 tahun lalu tangismu mengoyak rahimku
aku menerima nasib menua dengan panggilan : ibu.

Jejak kedewasaanmu bisa kau temukan di keriputku
pertama terukir saat aku melempar mainanmu
yang kau sorongkan dalam raungan tangis
tanpa aku pahami karena,"Lihat, ibu sedang memasak bubur!
Untukmu!" Dalihku.

Matamu menuntut menjadi pedang di hatiku
terus bergulir menjadi jutaan goresan di wajahku.

Anakku,
kau akan menemukan sejarahmu dalam sejarahku
abadi merambah logika antar generasi anak dan ibu.

Seringkali aku memastikan pengetahuanmu akan cinta
lewat kornea yang terbuka dalam pantulan cahaya.
"Lihatlah! Di mata ibu ada wajahmu. Wajahmu di situ selamanya."
Setiap kau ragu, kau akan menarik wajahku
berkaca pada mataku dan akan selalu menemukan
dirimu sendiri memang ada di situ.

Anakku,
kau akan berlari melalui gerbang yang sudah dihias
menembus jaman dengan pondasi tanpa keraguan.

Untuk itulah aku hati-hati menancapkan kata-kata
HP, facebook, twitter, blog, email, surat, post, kertas, apa saja
menyimpan cerita yang kususun pelan-pelan dengan matang
jaman ini mungkin sudah kau cicip, akan kau kunyah
suatu ketika akan menjadi kerikil Hansel dan Gretel
yang tertebar, untuk mengembalikanmu padaku
pada rumah.

(Untuk anakku Abet Ardyatma, di ultah ke 12. Pelan-pelan saja menuju dewasa, ibu masih ingin memeluk dan menciumimu sebagai bayi. Tapi, itu urusanmu, bukan urusan ibu. Di tahun kau sudah merdeka nanti, ibu ingin kau tetap merasakan kesungguhan setiap ibu mengatakan : I love you, Albert.)

Tuesday, June 04, 2013

Janji

Saat rangsang otak tidak menemukan jalan
aku membiarkan keringat menembus dermis,
menyertai kerjaku merapikan setiap kamar.

Aku ingat pertanyaanmu tentang rasa
saat pagi tadi aku menabrak burung dara.
Kejanggalan yang hanya didapat oleh kecepatan

menjadi tanda kemudaan yang tak akan hilang
bahkan oleh uban atau gumpalan osteoporosis.

Aku masih menyirami senyum hingga siang ini,
kau bisa menontonku menari nanti malam.

Anakku, aku janji akan tetap hidup.

Dalam segala turunan teori kebijaksanaanmu.

Friday, May 31, 2013

Les Miserables 2 : Cosette

Judul                                            : Les Miserables 2 : Cosette
Penulis                                         : Victor Hugo
Penterjemah ke bahasa Indonesia : Fahmy Yamani
Penyunting                                   : Muthia Esfand
Cetakan pertama                         : Maret 2013
Penerbit                                      : Visimedia Jakarta
Isi                                               : xiv + 442 halaman
Ukuran                                       : 140 X 210 mm
ISBN                                         : 979-065-170-8


Aku tak sengaja mendapat buku ini di Gramedia Mall Ambassador Jakarta saat mengantar ibu cari buku resep masakan beberapa waktu lalu. Di awal aku menimbang-nimbang antara beli atau tidak beli. Pertimbangan pertama, di tas bawaanku sudah terjejal beberapa buku yang cukup berat untuk ditenteng. Kedua, lumayan mahal harga buku ini untuk kantong yang sedang bokek. Ketiga, aku sudah berjanji membelikan Bernard beberapa Lucky Luke untuk menyambung bacaannya yang sudah tuntas. Keempat, aku sebenarnya ingin beli beberapa buku tentang fotografi untuk seorang sahabat. Kelima, daftar buku yang ingin kubeli masih banyak banget, sedang Les Miserables 2 berada di luar daftar.

Keenam, aku ingat di Les Miserables yang pertama aku membutuhkan energi luar biasa besar saat membacanya. Di tubuh yang sedang malas, rasanya lebih pengin ambil buku katalog masakan tradisional daripada buku ini. Tapi, saat aku melangkah ke kasir, buku ini tidak lepas dari genggaman. Hehehe...aman. Aku akan membawanya di tas cangklong untuk dibaca di jalan, sehingga tidak menambah berat bawaan, aku akan nebeng shamponya anak-anak selama 3 bulan sehingga uang beli shampo itu yang aku pakai, Bernard cukup dibelikan satu Lucky Luke, berikutnya nyusul pas gajian ... hehehe... semua bisa diatur.

Nah, aku baru mulai membaca buku ini tiga hari yang lalu dan pembatas buku terseok-seok sampai di halaman 324 pada hari ini. Ada yang unik dalam buku ini. Hugo memisahkan cerita-cerita dalam 8 buku dengan judul-judul di tiap bukunya. Jadi semacam kumpulan buku dengan judul-judul : Waterloo yang berisi 19 bab, Kapal Orion 3 bab, Menunaikan Janji kepada Perempuan yang Sudah Meninggal 11 bab, Pondok Gorbeau 5 bab, Segerombolan Orang Membisu untuk Perburuan Hitam 10 bab, Le Petit Picpus 11 bab, Sisipan 8 bab dan Pemakaman yang Dikhususkan untuk Mereka 9 bab.

Terlihat Hugo memainkan perannya sebagai penulis secara bebas di tiap buku. Dia berlompatan dari satu tempat dan waktu, ke tempat dan waktu yang lain, kadang maju kadang mundur. Macam penjahit yang sesuka-suka hati mengerjakan jahitannya. Suatu kali dia membuat bagian lengan baju hingga detil kancing dan sulamannya, lalu berikutnya dia memotong bakal saku dan merapikannya, lalu dia menggeletakkannya begitu saja untuk kemudian membuat pola kerah.

Dalam novel ini, potongan-potongan itu oleh Hugo dijahit dalam percakapan yang hangat, hmmm, seolah dia hadir di depan pembaca, bercerita dan berkisah sesuka hatinya. Misal di halaman 16 dia menyapa : "Mari kita kembali - ini merupakan salah satu hak pendongeng - dan menempatkan diri sekali lagi pada tahun 1815 dan bahkan sedikit lebih awal daripada epos saat perisitiwa yang dikisahkan dalam bagian pertama buku ini terjadi."

Atau di bab terakhir yang baru selesai aku baca, pada bab ke 8 dari buku ke 6 yang berjudul Le Petit-Picpus halaman 320 : "Selain semua itu, kami persilakan pembaca menambahkan gambaran sebuah halaman, berbagai macam sudut dibentuk oleh bangunan interior, tembok penjara, atap hitam panjang yang berbatasan dengan sisi lain dari Rue Polonceau, untuk perspektif dan lingkungannya sendiri, dan pembaca akan mampu membentuk sebuah gambaran lengkap seperti apa rumah ordo Bernardinus dari Petit-Picpus sekitar empat puluh tahun yang lalu."

Sapaan-sapaannya itu membuatku senang, membuatku merasa lebih dekat pada penulis luar biasa ini. Dan tentu saja hal itu membuatku menjadi lebih rilex santai saat membaca buku ini dibanding buku yang pertama.

Buku ini masih kelanjutan dari buku yang lalu, menceritakan tentang Jean Valjean yang bisa meloloskan diri dari hukuman kerja paksa seumur hidup setelah jatuh dari kapal Orion tempatnya bekerja. Jean masih ingat janjinya pada seorang perempuan yang sudah meninggal, Fantine, untuk membawa anak perempuannya yang ditinggalkan di Montfermeil kembali kepadanya. Cosette, anak perempuan itu telah menjalani kehidupan menyedihan di keluarga Thenardier. Jean membawa Cosette pergi dari cengkeraman keluarga tamak ini. Walau, keputusan ini bukan berarti mengeluarkan Cosette dari masalah-masalah.

Kebebasan Hugo bukan hanya dari setting yang berloncatan, tapi juga keberaniannya mempertanyakan banyak hal dalam politik, negara, Tuhan dan Gereja. Aku intip di buku 7 pada bab pertama di tulis sebagai judul : Biara sebagai Gagasan Absrak. Ini adalah pernyataan yang berani dari orang yang lahir dan hidup di Perancis yang jelas kental warna Katoliknya. Kalau di masa sekarang, pendapat macam itu biasa saja, dan aku pun bisa setuju, tapi jaman itu, aku membayangkannya sebagai pendapat yang luar biasa apalagi ditambah uraian-uraian yang begitu detail.

Nah ya, soal detail. Inilah yang membuatku bisa membolak-balik satu halaman novel Hugo ini belasan atau puluhan kali. Sayang aku belum terlalu nyambung jika membaca tulisan-tulisan panjang dalam bahasa Inggris, namun dalam bahasa terjemahan pun aku menangkap ketelitian Hugo dalam menulis. Lihat saja halaman 320 : "Taman, yang agak melengkung itu, memiliki pohon cemara runcing di atas sebuah bukit yang terletak di tengah taman, dengan empat jalan besar dan delapan jalan kecil bersilangan, sehingga jika taman itu berbentuk bulat, denah geometris jalanan itu akan menyerupai salib yang dikelilingi oleh sebuah roda." Hmmm, dari kalimatnya sudah terlukis macam apa yang dimaksudkannya.

Thursday, May 30, 2013

Tanggulangin

Lumpur mengenangi kuburan ketika aku datang.
Ujung nisan berganti celepuk didih cairan belerang.

Jalanan memeluk batu berselimut keranjang kawat.
Lasakku menyeret kaki mencari celah paksa untuk lewat

Di ujung liang mata membuka petunjuk setapak.
Mereka tengah mengembalikan meja – meja lapak!

Palu pertama diketukkan pada sol-sol sepatu.
Benang-benang dikaitkan pada saku-saku baju.

Mereka sembunyikan air mata bukan untuk lupa!
Darah dialirkan bukan semata menghias luka!

“Tangan kami bukan mengatung, kau lihat!
Tangan kami mengepal! Tanda seru di akhir kalimat!”

Aku sengaja tarik tali busur menghujam dada.
Jantungku teriris kata yang mengucap : Saudara.

Tuesday, May 28, 2013

Menikmati Gelombang

Adakah rasa yang bisa kupilih?
Masih perlukah rasa bagi hatiku?
Gelombang adalah mainan,
bagi anak-anak.
Walaupun mungkin bisa jadi petaka
bagi seluruh tradisi.

Haruskah aku gembira?
Masih perlukah aku sedih?
Setiap manusia sudah memilih,
dan menikmati resikonya.
Walaupun mungkin aku hanya imbas
yang tidak penting.

Mestikah menikmati gelombang
seperti anak-anak?

Thursday, May 23, 2013

Nagagini

Di usia nafas hampir 40 putaran bumi pada matahari
aku harus mengaku jujur pada kalian para dokter
dengan demikian kalian akan berhenti membedahku.

Bukan otakku miring letaknya menelorkan kekacauan
pikir selaksa Limbuk memakai topeng Azar Nafisi
menyamar rabiah tanpa cadar tanpa terompah.

Bukan mataku juling pura-pura tidak memandang
ada gunung dan pasir di kanan kiri tubuhku yang tambun
merem malas menangkap pantulan cahaya kenyataan.

Hanya teleskopku sendiri yang bisa menampakkan
rupa Nagagini dalam rongga perut di bawah pusar
tengah memperluas jaringan meristem di titik tumbuh.

Pinjami aku waktu untuk menggunakan pisau-pisau itu

Nagagini akan terus bergerak mencari Ulo Tamparnya.
kecuali aku memotong ranting pohon lambang sari.

Demikian aku akan mencegah kutuk pada kesetiaan
jangan sampai kisah pasangan cecak dan domba terulang
hingga jaman harus menyalakan kembali api bakar diri.

Monday, May 20, 2013

Malang


1.
Jalanan sekarang berbeda
saat aku hendak membelok
beberapa detik lampu merah
menghadang, dulu tidak ada.

Kanan kiri jalan tumbuh tiang
pada salah satu aku bersandar
dengan cara tidak lagi sama
karena kabel yang terpasang
mengelupas di bagian atas
membocorkan percikan.

Dulu kau pernah memanjatnya
melekatkan balon-balon hias
di sepanjang Dinoyo
di selusur Watu Gong
meneriakkan tawa
dengan janji lepas
"Aku akan kembali."
lalu kau melangkah cepat
wajah dalam topi Stetson
padahal cuma ingin berpaling.

Sekarang jalanan berbeda
namun kita tak akan lupa
dan kau jangan pura-pura
tak pernah ada di sana.

 
2.
Waktu itu
dari gapura hingga kamar mandimu
aku pernah berlari
hanya untuk menumpahkan
hujan yang tiba-tiba menggenang
di sudut mata berpelangi.

Waktu itu
tidak ada yang bisa menghibur
bahkan Putri Tidur dengan Pandermannya
hanya tegak kaku tanpa pelukan
sinis menjulurkan lidah
menampar dugaan lamur.

Waktu itu
telah kukubur percik bau
dalam peti tanpa warna
kau tak akan mengira
sihir itu tetap berjalan
dan mencipta cerminan.

Waktu itu.


3.
Buku itu tertinggal di bangku
bangku tua yang jatuh satu paku
paku tersisa mencuat seperti gigi taring
taring tersangkut rokmu saat bertandang.

Itulah alasan mengapa bangku bergoyang
bergoyang saat kau bangkit berbumbu sempoyongan
sempoyongan tubuhmu adalah deritan manja bangku tua.

Di situlah buku itu tertinggal
tertinggal bersama sebait puisi pembatas.

Ini penyebab aku datang.


4.
Hati tidak bisa didaur ulang
yang pernah terjadi adalah
wajahmu menjadi gerbang

aku telah memasukinya
menegak habis isi cawan
yang kau tawarkan lewat tarian

kemudian aku menyalakan dian
mengabaikan pinset di kulit rasa
maka aku tidak sakit di hari pengusiran.


5.
Jalan tak sepanjang yang kubayangkan
bisa kulipat rentangannya
dan kurekat ujung-ujungnya
bahkan jembatan-jembatan dapat kuremas
lumat dalam genggaman.

Kenangan telah jadi gita
yang semakin dewasa.

Sunday, May 19, 2013

Bandar Jakarta

Sayang, naiklah perahu
air laut akan jadi kasur
berdua kita mencicip tabuh
yang tercatat tanpa sentuh.

Sayang, lihatlah ke barat
langit tersenyum ini malam
lewat lekuk yang sama
tersampir di daun kelapa.

Sayang, sebentar lagi lampu mati
matamu akan mendapat santapan seri
jangan melawan jangan alergi
teluk akan memberi gerbang pasti.

Sayang, pantai, bulan sabit,
mimpi.

15 Mei 2013
— at Bandar Djakarta.

Thursday, May 09, 2013

Sampar

Sejak tikus-tikus itu menyerbu rumah
ketiak dan selangkangku membusuk bernanah
pun nyeri panas sakitku hanya dianggap latah
jika kau tidak melihatnya, apakah
sampar hanya entah?

Yang digerogoti bukan hanya buku
dia tegak sombong merampok pasak paku
sebentar lagi rumah tinggal sebangku
jika tak ada juga anjak, lalu
biarkah mati lampu?

Malam sebelum tidur hari ini
kau mendongeng tentang mati
ada kisah syahid dalam lembing tirani
jika aku tetap tidak percaya, adakah lagi
teorimu basmi mimpi?

Sampar menjadi akar-akar gejala
berkembang dalam hijau buah tanya
hanya kau perlu mengingat rasa
sakitku memutus darah aku dan dia
kami musuh selamanya.