Friday, March 30, 2012

Bersimpuh di Kakimu, Kekasih

Aku di kakimu, kekasih
membasuh dengan air mata
mencoba mencuci dengan tangisanku
dan kutumpahkan wewangian.

Aku di kakimu, kekasih
mengusap dengan rambut panjangku
mengeringkannya dengan helaiannya

Kurundukkan punggungku
mencium kakimu

Menghindari usapan tanganmu

yang membuatku malu.

(Hujan, dan aku disalibkan, di kakimu.)

Who are?

Hari ini akan ditentukan. BBM akan naik atau tidak. Yang menentukan adalah para pemain politik. Dan ini melibatkan rakyat, bumi, uang...
Siapa yang paling diuntungkan dengan kenaikan harga BBM ini?
Bumi akan tetap menangis karena minyak yang terus dikeruk.
Rakyat akan semakin melarat, mati raga, banyak hemat, hingga sekarat.
Uang akan mengalir. Dari mana kemana? Untuk siapa?
Bapak Presiden SBY, kau dapat apa dari kenaikan harga BBM?
Dapat ancaman? Bukan uang? Jadi, kenapa kau ngotot memutuskan seperti itu? Untuk menyebarkan ancaman kematian ke seluruh rakyat? Kau mestinya menawarkan kesejukan.
Jadi, siapa yang diuntungkan dengan kenaikan harga BBM hari ini?

Thursday, March 29, 2012

Kissing

Setiap hari ada puluhan mungkin ratusan, mungkin ribuan atau jutaan ciuman yang kualami. Setiap pagi hingga malam. Dengan para kekasihku yang puluhan mungkin ratusan ribuan jutaan.
Ada satu ciuman yang spesial dalam rumah kami. Hehehe...awalnya adalah Den Hendro yang memunculkannya ketika anak-anak masih di perut. Dia kebiasaan mencium perutku. Ketika anak-anak lahir, ganti dia ciumin perut anak-anak. Nah, rupanya kebiasaan ini menular ke Bernard. Dia, kalau sedang gemes, sedang iseng, pasti nyium di segala tempat khususnya perut. Aku pernah bolak-balik sampai repot gara-gara dia menyusup gitu aja ke kaos, di tengah keramaian. Nah, kalau dia menyusupkan kepala ke perut kan kaosku terangkat. Piye to...kelihatan kemana-mana perut pinggang pantat.
"Cuma mau cium perut, ibu."
"Iya, tapi kan jadi kelihatan nih perut ibu."
"Ndak apa-apalah."
Ih, nggak apa-apa gimana. Lagian kan geli.
Lain waktu dia akan ciumi perut bapaknya. Den Hendro paling gak tahan dipegang perutnya, jadi pasti marah teriak-teriak. Padahal dia kan biang keroknya.
"Adik, apa-apa sih. Niru siapa kau ini?"
"Kan bapak yang ajarin."
Nah, kapok lu. Aku ketawa saja.
Lain kali lagi, saat tenang-tenang di kamar Bernard ciumi perutku lalu membenamkannya di situ. Aku pura-pura gak kerasa apa-apa, padahal ya geli.
"Kenapa sih dik, suka banget cium perut. Mau balik ke dalam perut?"
"Lagi latihan, ibu."
"Latihan apa?"
"Ya latihan cium perut."
"Kok?"
"Iya, kan nanti kalau aku sudah punya anak-anak aku harus cium perut-perut mereka."
Ya ampun. Den Hendro mesti diingatkan nih. Sebagai bapak, dia harus hati-hati memperlakukan anak-anak, karena mereka akan contoh. Seumur ini aja Bernard sudah memikirkan tindakan tertentu pada anak-anaknya yang puluhan tahun lagi baru ada. Akur abang sayang? Hehehe...
Di luar itu, sejujurnya aku suka banget dicium, juga suka mencium. Merasakan kulit bibir yang lembut menempel di kulitku, entah bagian manapun, membuatku nyaman. Juga menempelkan bibirku di kulit manapun membuahkan sensasi nyaman yang sama. Harusnya memang semua orang sering-sering saling mencium. Dengan cinta rela...

(Aku tidak sedang ngomong soal moral, etika, dan teori-teori lain. I'm just saying about kissing.)

Wednesday, March 28, 2012

Active Non Violence

Kekerasan muncul ketika kita tidak bisa mengelola konflik secara damai. Dan kekerasan, apapun itu, selalu membuat tangis. Bagi yang menjadi korban, yang melakukan maupun yang melihat. Jadi ada pilihan lain yang bisa dilakukan : aktif tanpa kekerasan. Kekerasan saja tidak cukup, harus aktif!
Sabtu - Minggu, 24 - 25 Maret 2012, La Verna, hanya bagian kecil dari sarana penyebaran. Harus ada yang lain, terus menerus, dimanapun!

Letter for You, Dear Dee.

Dear Dee,

Melihatmu adalah bayangan diriku.
Mencintaimu pun sudah luka.

Ditambah dengan pedang palu berulang,
dari cerita
dari suara
dari mata
dari dilema
tidak ada masalah bagiku.
Aku bertahan dalam merdekaku.

Tapi, tak semua makluk mencintaimu
seperti cintaku yang sangat perempuan.
Tapi, tak semua orang bisa memaklumi
manusiamu yang penuh nafsu.
Tapi, tak semua semesta akan menahan
tidak menyerang dan melawanmu.

Hati-hati.
Jaga diri.
Aku tak akan pernah bisa melindungimu.
Aku, hanya cinta bulat penuh berlubang
yang terbagi tak rata untuk para kekasihku.
Sesuai bagian yang telah kau ambil,
aku membaginya untukmu.
Hanya itu.

Sungguh,
hati-hati jaga diri.


Salamku,
Yo

Tuesday, March 27, 2012

What is lemari in English?

Menemani anak-anak belajar adalah pekerjaan yang paling melelahkan. Paling utama karena aku juga mesti ikut belajar. Kelas 5 sudah harus tahu tentang apa sih berbuat adil itu? Kami perang konsep dulu sebelum baca buku. Iyalah. Si Albert kan tidak mau kalah, seperti ibunya juga. Di buku tertulis : Adil adalah memberikan pada seseorang sesuai dengan haknya. Kelas 5 pun tahu ini.
Kelas 2 SD harus tahu mengapa tiga orang itu tidak mendengarkan Lulu. Nah Lulu siapa nih? Mana bisa dijawab pertanyaan kayak gini. Hehehe, usut punya usut pertanyaan itu hanya bisa dijawab jika sudah membaca buku tematik 2 F pada halaman 76 yang berjudul Tiga Orang yang Sok Pintar. Ehhh, ya ibunya harus baca dulu dunk sebelum berdebat dengan Bernard yang cerdik.
Begitu selesai menjawab soal-soal, Bernard memegang ballpoint.
"Ni tintanya keluar atau di dalam, bu?" Dia pegang ujungnya sehingga tidak kelihatan terbuka atau tertutup.
"Pasti ada."
Dia tunjukkan dan benar.
"Kok ibu tahu sih?"
"Ya iyalah. Kan ibu ini superwoman. Serba tahu segala hal."
"Ah, mana mungkin. Bahasa Inggrisnya lemari saja tidak tahu."
Eh! Kok nyangkut bahasa Inggrisnya lemari?
"Tuh, gak tahu kan? Apa coba?"
"Apa ya Nard? Kok lupa ya. Apa sih bahasa Inggrisnya lemari?"
"Tuh, berarti ibu tuh bukan superwoman. Tidak segala hal tahu."
Kurang asem. Dia langsung mengangkat tasnya, dibawa ke ruang depan supaya siap dibawa besok pagi untuk sekolah.
"Good night, ibu. Selamat tidur. Mimpi indah. Bangun pagi-pagi sekali."
Dan dia ninggalin aku gitu aja.

Friday, March 16, 2012

My Sons Angels

Anak-anakku bukan anak-anak paling manis sedunia. Aku tahu itu. Mereka sering membuatku olah raga jantung, penuh adrenalin, berdebar-debar, cemas, bahkan sangat cemas. Membuka tas ransel mereka masing-masing saat mereka tidur saja membuatku kena serangan jantung berulang-ulang dalam satu detik hitungan.
Misal semalam, aku cek tas adik Bernard. Ada setumpuk buku ulangan yang baru saja dibagi. Belum ditandatangani orang tua. Ada 1 nilai 100. Matematika. Ok. Lalu IPA, bagus. Bahasa Indonesia ok. Lalu hah, agama 60, di bawah KKM, harus remid. Lalu Bahasa Inggris, cuma betul 2, tidak diberi nilai sama gurunya. (Esok hari Bernard membela diri dengan mengatakan,"Bu Gurunya itu. Dibilang Selasa ulangannya, tapi ternyata Senin ulangan. Jadi belum belajar." Dan aku tidak bisa tidak mesti maklum karena hal itu.)
Lalu membongkar ransel mas Albert. Aduh, jariku langsung nancap di sesuatu yang tajam. Ada potongan lidi berserakan di dasar tas. Jadi aku keluarkan semua bukunya. Ya, ampun anakku. Kenapa banyak nian buku yang kena lepra semacam ini. Darahku naik ke ubun-ubun, tapi gak bisa marah, lha anaknya sudah tidur. Potongan-potongan kertas dengan nama-nama : Ivan, Bambang, Becham, dst. Lalu beberapa kertas yang dikunyel-kunyel jadi bulat-bulat. Pasti itu untuk main bola kertas. Ampun. Aduh. Aku sudah bilang berkali-kali tak terhitung untuk memakai kertas yang tidak dipakai, bukannya pakai kertas dari buku pelajaran. Dan lihat tulisannya, aku tidak bisa baca. Bagaimana gurunya bisa sabar menghadapimu, anakku?
Tapi aku yakin anak-anakku adalah anak-anak terberkati. Mereka dikelilingi para malaikat yang melindunginya senantiasa. Aku tidak bisa melihatnya dengan mata tapi aku merasakannya bahwa mereka hadir untuk membantu anak-anakku itu tumbuh dan melindunginya dari berbagai bahaya yang mengancam. Aku ingat tingkah Albert yang sering berantakan gerudak-geruduk, tapi dia begitu aman. Lalu Bernard, berapa kali jatuh. Bahkan jatuh dengan motor bersamaku, aku luka parah dia tidak lecet sedikitpun. Aku percaya malaikat-malaikat bekerja keras untuk merawat anakku. Terimakasih. Aku selalu butuh bantuanMu untuk pertumbuhan mereka. Lindungi mereka senantiasa.

Wednesday, March 14, 2012

The Blue Sick

Aku mempunyai beberapa rencana yang sangat kuat untuk tahun ini.
Pertama untuk mengolah otak, dengan sekolah lagi. Ini rencana dari tahun lalu yang belum ketahuan jalannya.
Kedua untuk mengolah hati, dengan membuat beberapa proyek sepanjang tahun. Nulis puisi, cerpen, nyebarin GATK dan sering jalan-jalan.
Ketiga untuk mengolah tubuh, dengan melibati anak-anak dan bapaknya sepenuh diri. Bergerak dari ujung rumah ke ujung lain, ruang satu ruang satunya lagi. Bersama mereka.

Tapi sekarang ini aku sedang biru. Seluruh tubuh dan jiwaku biru. Mungkin baik juga tidak punya keinginan, tidak punya rencana, tidak punya kepentingan, tidak punya hasrat, ... Diam, sendiri saja. Tanpa suara, tanpa gerak.

Wednesday, March 07, 2012

Regina Anindya Putri

Bayi kecil itu bernama : Regina Anindya Putri. Dari lahirnya aku sudah terpikat padanya. Semalam akulah yang mendapat kesempatan pertama menumpangkan tangan di atas kepalanya karena aku yang memimpin ibadat syukur pemberian nama. Kemudian aku meminta semua orang yang hadir ikut menumpangkan tangan di atasnya, memberkatinya.

Regina,
engkau telah diberi mulut untuk berbicara
mata untuk melihat
telinga untuk mendengar
tangan untuk menolong sesama
dan kaki untuk berjalan pada Pencipta

Para malaikat telah diutus untuk melindungimu
dan kami semua hadir untuk mendukungmu
Regina, berkat Tuhan melimpah bagimu.

Super Woman

Aku perempuan kuat, pura-pura
membentangkan sayap, pura-pura
meninju seluruh permukaan, pura-pura
menusuk segala kedalaman, pura-pura

Sejatinya
aku hanya menari
melayang
entah di antara
permukaan
dan kedalaman

Friday, March 02, 2012

Asymmetric

asimetrisnya pergulatan


aku menuding,
"Jahat!"

setiap ingat
aku menuding
"Jahat!"

tidak pantas
dipuja didamba

orang jahat
yang tak perlu diingat

semakin diingat
semakin jahat

semakin jahat
semakin diingat

teringat
bahkan
terus teringat

Thursday, March 01, 2012

Learning from a Baby

Hai, sayang...
apa kabar?
Dua hari di dunia
apa yang sudah kautemui?

Gerak bibirmu tak bisa kuterjemahkan
aku terlalu tua di dunia
sehingga lupa bahasamu
bahasa asli yang kubawa waktu datang
dulu, puluhan tahun lalu,
sepertimu.

Hai, sayang...
antusiaskah kau
bertemu aku?
Aku tak bisa mengecupmu
sebagai mainan kesayangan
aku sedang kotor setelah bermain debu
Aku tak bisa membawamu
sebagai lembar buku pelajaran
aku sedang mengisi lembar tak juga seru

Hai, sayang...
aku bawa gambarmu
sebagai cermin hidupku

(Si kecil cantik, belum bernama, lahir di Jl. P. Batam tempat Bidan Enni, tanggal 28 Pebruari 2012, pukul 06.10. Tak bisa kubawa pulang. Ihiks...)

Wednesday, February 29, 2012

Choice

memilih menjadi perempuan
dalam perjalanan
tak pernah jadi pakar
selalu setengah-setengah
tapi semua kudapat

aku juga perempuan
dalam mimpi
tanpa mengabdi
hanya untuk diri

kali ini
aku akan bergegas
berjalan mencapai mimpi

sebelum mati

Tuesday, February 28, 2012

New Student at Drawing Class

Bernard penuh semangat. Awalnya aku kuatir dia akan malas atau tidak antusias. Tapi ternyata dia menikmati hari pertama ikut ekskul melukis. Keputusan yang sangat-sangat telat baginya, dan membutuhkanku merayu 1,5 tahun dari kelas satu. Berhasil juga bukan karena rayuanku, tapi karena ada catatan dari Bu Warti, wali kelasnya.
"Untuk orang tua Bernard Sandyatma, mohon didorong untuk ikut salah satu ekstra kurikuler karena hingga semester dua sudah berjalan dia belum ikut satupun."
Dia memang tidak ikut apapun selama ini. Hanya komputer saja yang dia tekuni. Nah, tiap hari aku ngrepoti dia dengan pertanyaan.
"Nard, sudah ambil keputusan?"
Hingga minggu malam dia baru bilang.
"Besok pagi aku berangkat sekolah bareng Mas Albert."
"Kenapa?"
"Mau ikut melukis."
"O. Ok. Buku sudah ibu belikan tuh. Di kamar ibu."
Dia surprise melihat buku gambar besar yang sudah aku belikan beberapa hari lalu. Pasti pikirnya, ibu bisa saja deh. Hehehe...
Kemarin malam, ketika dia menyiapkan buku-buku aku tanya bagaimana melukisnya.
"Aku jadi murid baru. Tapi Pak Guru tidak tahu aku ada di situ. Tidak ada absen. Tidak ditanyain. Malah aku diajarin bikin piring."
Dia menunjukkan padaku gambar yang sudah dibuatnya. Teko, dengan gelas-gelas di sekitarnya, piring dengan setumpuk kue di atasnya.
"Bagus."
"Iya, tapi akhirnya piring ini Pak Guru yang buat. Mungkin karena dilihat aku terus menghapus, mengulang, menghapus lagi,... Lihat, bu, penghapusku jadi kecil kan? Besok beli lagi ya."
"Ok. Banyak teman yang ikut?"
"Banyak. Sekelasku ada ...."
Dia menyebut nama-nama. Tidak ingat, siapa saja.
Tapi dia gembira. Aku menjadi semakin gembira. Malam itu dia ikut aku dan bapaknya jalan malam, kebiasaan yang sudah beberapa minggu ini kami lakukan. Jalan puter kompleks, sambil ngobrol tentang apa saja.
Sembari berjalan, aku mengajaknya berbincang sembari belajar bahasa Inggris. Pelajaran yang menurutnya paling tidak dia suka.
"Today is Monday. Tomorrow is... Yesterday is... What's your favourite day?" Dan seterusnya. Dan dia, murid baru di kelas melukis itu menjawabnya dengan semangat.

Monday, February 27, 2012

Need Your Smell

Sekali waktu,
aku tidur di atas aromamu,
kekasih.

Tenggelam
menjumput sisa dirimu
di udara

Berandai
merangkulmu
dalam percakapan
tanpa sungkan.

Saturday, February 25, 2012

Mandalawangi - Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu.

Aku datang kembali ke ribaanmu, dalam sepimu, dan dalam dinginmu.


Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna.

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan.

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku.


Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi.

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.

Hutanmu adalah misteri segala cintamu.

Dan cintaku adalah kebisuan semesta.


Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi.

Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua.


“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa

kita bisa menawar.

Terimalah dan hadapilah.”


Dan antara ransel-ransel yang kosong dan api unggun yang membara, aku terima semua itu.

Melampaui batas-batas hutanmu.

Melampaui batas-batas jurangmu.


Aku cinta padamu Pangrango.

Karena aku cinta pada keberanian hidup.



Soe Hok-gie

Jakarta, 19 Juli 1966

Friday, February 24, 2012

Yogyakarta, I love you.

Aku punya kota kesukaan untuk dikunjungi. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Yogyakarta!!! Dipikir-pikir sih kunjungan pertama ke kota ini sejak aku masih SD, bersama rombongan besar beberapa bis anak sekolah. Lalu SMP ke sana, SMA ke sana lagi dan saat kuliah ke sana lagi. Seingatku, aku tidak bisa anteng ikut rombongan kalau pergi ke sana walau perginya dengan rombongan besar atau kecil. Aku ingat saat semester awal kuliah aku melarikan diri dari rombongan sehingga pembimbingnya, Rm. Sad Budi, CM., marah, melarang, tegas. Maaf, mo. Saat itu aku tetep ngotot dan pergi. Mana mungkin ke Yogyakarta tidak menggelandang? (Saat itu aku keluyuran, lalu ketemu seorang teman, menginap satu malam dan pulang Malang sendiri, dengan puas.)
Pergi dengan rombongan kecil, satu atau dua sahabat pun berkali-kali aku lakukan. Berganti orang, berganti tempat yang dikunjungi. Dengan keluarga pun pernah kulakukan. Terakhir dengan suami dan anak-anak pas pergantian tahun terakhir itu. Waktu itu aku ingin mengenalkan Borobudur, Malioboro dan Yogyakarta ke anak-anak. Perjalanan terakhir ke sana baru saja, beberapa hari lalu. Perjalanan mampir satu hari satu malam dengan banyak rencana, lalu yang terjadi juga banyak agenda.
Yogyakarta menawarkan keramahan, kenyamanan, kesukaan,... sepanjang jam dalam sehari. Dinikmati dengan cara apapun, kota ini menyenangkan. Para sababat di dalam kota banyak, para kerabat di agak pinggiran kota, penginapan murah, makanan meriah, dan jalanan yang ramah. Memang sih, akhir-akhir ini (tahun lalu aku 3 kali mampir Yogya, tahun ini baru 1 kali hingga bulan ini) aku agak takut kalau menyeberang jalanan di Yogya, terlalu ramai dengan sepeda motor. Tapi sejauh ini masih asyik, moga Pemda setempat mulai memikirkan keriuahan yang akan bertambah jika motor tak terbendung masuk Yogya. Masih asyik karena ada Malioboro (foto atas kiri), kraton, alun-alun dan sekitarnya. Ohya, ada juga House of Raminten (foto yang bawah kanan). Ini salah satu yang kusuka juga jika sempat ke Yogya. Dengan siapapun, Yogyakarta selalu menawarkan romantisme. Yogyakarta, I love you.

Wednesday, February 22, 2012

Just Dust

Lagi pula apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku hanya debu, yang digenggam pun susah, menempel pun tak kelihatan. Apalagi jika sudah tertabur.
Namun, aku adalah debu yang diiringi angin senantiasa. Maka aku masih akan punya daya. Untuk pergi, untuk datang, untuk membutakan mata orang.
Aku hanya debu, di kaki Ilahi. Tidak dikibaskan, namun diberi pengiring selaksa sejuta kuasa angin.
Kini aku tinggal mematri niat, tetap bersahabat dengan angin, rahmat yang sudah tercurah bagiku.

Tuesday, February 21, 2012

Destruction of Imaginations

Khayalan punya kekuatan. Penuh rekayasa yang didorong oleh keinginan tak terkendali oleh pikiran dan hati. Terlebih jika tubuh sudah mengingat suatu kenangan yang ingin diulang. Rekayasa bisa menjadi sangat kuat. Mendorong manusia melakukan perjalanan jauh, kemana saja dengan keberanian yang degil. Melambungkan angan jauh melebihi takdir. Mendorong indera untuk menerimanya sebagai sesuatu yang berharga walau sebenarnya hanya pura-pura.

Namun ternyata ada lagi kekuatan manusia yang bisa mengalahkan hal itu. Kekuatan doa. Doa yang hanya setengah hati pun lebih kuat dari seluruh rekayasa hati. Hingga tidak ada lagi yang harus disesali walau air mata mengalir, sedih kecewa membuncah. Seluruh keinginan dan rekayasa dihancurkan. Marah, sedih, kecewa, tapi tak ada penyesalan. Yang ada adalah syukur karena Sang Ilahi menitahkan keselamatan. Lewat doa yang hanya setengah hati diucapkan.

Monday, February 13, 2012

Deceiver

Di Indonesia, di dunia, hidup jutaan penipu. Yang benar-benar jahat hari ini melakukannya padaku. Dia, mengatasnamakan diri : TU Sekolah. No HPnya : 085255443453. Dia telepon ke no telepon rumah. Ada Wawak di rumah.
Mengatakan : "Albert jatuh di sekolah, pendarahan, dibawa ke rumah sakit."
Nah, kontan Wawak panik. Minta tetangga sebelah, Mama Dita untuk terima telepon itu. Ya, tentu saja Mama Dita ikut panik. Mencatat no itu lalu telepon aku.
"Tante, Albert jatuh di sekolah. Dibawa ke rumah sakit!"
Ha, langsung gemeteran n lemes badanku. Mencatat no HP itu dengan panik. Untung otakku masih waras. Sehingga bukan nomor itu yang aku pencet, tapi no telepon guru kelasnya. Logikanya, Bu Yoga kan tahu nomor teleponku. Ada hal kecil kenakalan Albert ini itu, beliau langsung kontak aku kok. Kalau ini sesuatu yang gawat, apalagi. Juga Sr. Emma kepala sekolahnya dengan mudah mengakses aku. Juga banyak orang di sekolah itu yang kenal aku, tahu dimana aku pada jam-jam seperti ini.
Dan benar saja.
"Albert? Albert Ardyatma? Ini, lagi di kelas. Sedang belajar. Tidak ada apa-apa."
Oalah, penipu. Teganya. Pasti sekarang dia hunting korban lain. Mungkin dengan nomor yang lain pula.