Monday, August 03, 2020

Refleksi atas Dokumen Abu Dhabi : Menjadi Sahabat bagi Perempuan dan Laki-laki tanpa Kecuali

Tulisan ini sebenarnya kubuat atas permintan sebuah panitia untuk penerbitan bunga rampai terkait Dokumen Abu Dhabi. Entah mengapa tidak ada kelanjutan lagi tentang naskah itu, jadi kupasang saja di blog ini supaya tetap tersebar. 


MENJADI SAHABAT BAGI PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI TANPA KECUALI

Refleksi atas Dokumen Abu Dhabi

 

Oleh: Yuli Nugrahani, STP

Badan Pengurus SGPP KWI 2018-2021

 

 

Salah satu point dalam Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani oleh Sheikh Ahmad al-Tayeb, Grand Syekh Al Azhar, Kairo, Mesir dan Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik se-dunia di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019 memperhatikan secara khusus tentang pemenuhan hak kaum perempuan. Yaitu, bahwa hak kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan berpolitik harus diakui. Segala bentuk eksploitasi seksual dengan alasan apapun harus dihentikan.

Hal ini menajamkan banyak point lain yang berbicara tentang penghormatan terhadap martabat manusia tanpa terkecuali, entah laki-laki atau perempuan. Point ini mengingatkan semua orang bahwa yang disebut sebagai manusia adalah laki-laki dan perempuan, yang diciptakan dengan martabat yang sama. (Lih. Kej. 1:26-28)

 

Kondisi dan Situasi Perempuan Indonesia Masa kini

Point tentang hak kaum perempuan dalam Dokumen Abu Dhabi itu sangat relevan dengan kondisi dan situasi di Indonesia masa kini. Dari data-data dari Badan Pusat Statistik (BPS) berikut kita masih melihat bahwa perempuan tidak selalu mendapatkan hak-hak yang sama dan setara sebagai warganegara.

Dalam bidang pendidikan, rata-rata lama perempuan bersekolah lebih rendah daripada  laki-laki.

Rata-rata Lama Sekolah di Indonesia menurut jenis kelamin.

Tahun

2014

2015

2016

2017

2018

Perempuan

7,23

7,35

7,50

7,65

7,72

Laki-laki

8,24

8,35

8,41

8,62

8,65

 

Dalam pemilihan pekerjaan, bisa dilihat distribusi job manajer berikut ini. Perempuan yang berada dalam posisi manajer hanya 28,97 % sedangkan laki-laki 71,03%. Ini bisa diartikan perempuan bekerja lebih banyak bukan pada posisi pengambil kebijakan atau keputusan.

 

2016

2017

2018

Perempuan

24,17

26,63

28,97

Laki-laki

75,83

73,37

71,03

 

Ketimpangan itu masih bisa dilihat dari upah rata-rata per jam pada tahun 2018. Pekerja  laki-laki rata-rata mendapatkan upah Rp. 15.892 per jam, sedang perempuan hanya mendapatkan Rp. 14.142 per jam.

Dalam ranah politik,  keterlibatan perempuan di parlemen juga sangatlah kecil. Sejak tahun 2014 sampai dengan 2018 hanya 17,32% perempuan yang terlibat dalam parlemen. Angka ini malah turun jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 18,04%.

Hal itu ditambah dengan fakta bahwa perempuan masih menjadi korban terbesar dalam kekerasan segala bentuk. Paling tidak menurut yang dilaporkan. Tahun 2017 ada 348.466 kasus pengaduan Hak Asasi Manusia (HAM) perempuan terutama kekerasan terhadap perempuan.

 

Perempuan Berbela Kasih

Padahal, perempuan mempunyai kekuatan yang patut diangkat sebagai kontribusi bagi perbaikan dunia. Satu contoh mudah dan populer dari perempuan yang kuat dalam kasih adalah Bunda Theresa. Bunda Theresa adalah perempuan, seorang biarawati Katolik keturunan Albania berkewarganegaraan India yang mendirikan Kongregasi Misionaris Cinta Kasih di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 47 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat. Bunda Theresa menyebarkan semangat kasih yang konkret ke seluruh India dan selanjutnya ke seluruh dunia.

Bunda Theresa terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya. Dia menjalankan misi-misi cinta kasih di berbagai negara termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Banyak orang terinspirasi dari karyanya, dan memberi perubahan bagi banyak kelompok.

Walau mendapatkan tantangan dan menghadapi banyak kritik, Bunda Theresa tetap bergerak dalam keteguhan, kesederhanaan dan cinta. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1979. Bunda Theresa menggunakan kekuatan perasaannya yang penuh kasih, yang kemudian menyalurkan kekuatan fisik yang nyata bagi banyak orang di berbagai tempat tanpa kecuali.

 

Mengkonkretkan Persaudaraan Manusia

Teladan seorang perempuan seperti Bunda Theresa, yang konkret berbuat bagi semua orang yang membutuhkan tanpa kecuali, selaras dengan seruan Dokumen Abu Dhabi. Apa yang sering disebut sebagai kelemahan perempuan, dalam pribadi Bunda Theresa menjadi kekuatan untuk membangun persahabatan yang konkret.

Bagi manusia masa kini yang berhadapan dengan banyak masalah, persahabatan konkret semacam itulah yang harus digaungkan. Karya yang menyentuh masalah sosial dan kebutuhan-kebutuhan konkret manusia masa kini menjadi jawaban atas Dokumen Abu Dhabi.

Bentuk yang sederhana, misalnya:

1.      Tokoh umat agama apa pun, termasuk biarawan-biarawati, pastur dan calon pastur, juga umat tanpa kecuali harus menjalin relasi persahabatan dengan orang-orang yang ada dalam lingkarannya seperti tetangga rumah pasturan/biara, orang-orang dalam bidang karya yang sama, lembaga yang sama dan sebagainya. Relasi tersebut harus sampai ke tataran bersahabat. Menjadi sahabat. Contoh dalam bacaan Injil bisa diambil dari kisah orang Samaria. Contoh realnya seperti yang sudah dibuat oleh para perempuan yang bertetangga. Saling kunjung ketika ada yang sakit, meninggal dan berduka. Saat ada yang mengadakan pesta, para perempuan ikut membantu masak, dalam bahasa Jawa disebut rewang. Pun kedekatan seorang sahabat tidak segan untuk berteriak lewat jendela ketika ada yang lewat dan sebagainya.

2.      Menghayati dan mendalami bidang-bidang yang ada dalam passion masing-masing sebagai sarana untuk masuk dan terlibat dalam suka duka masyarakat. Misal Rm. Mangun menggunakan isu lingkungan untuk bersama dengan masyarakat pinggir Kali Code. Atau  menggunakan seni budaya dalam persahabatan lintas agama dan sebagainya. Dengan demikian relasi lintas iman atau lintas apa pun tidak jatuh pada ceremonial belaka namun nyata konkret dalam masalah-masalah sosial, bersama masyarakat dan terlibat dalam masyarakat.

3.      Bidang pendidikan merupakan salah satu fokus Gereja Katolik yang bisa menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi, berpihak pada orang miskin, dan seterusnya. Mengurangi gemerlap ‘wah’ sekolah Katolik harus dilakukan lewat semua program pendidikannya. Tidak hanya pamer konser tapi kampanye peduli lingkungan sekitar, aksi bekerja sama dengan sekolah lain, bersama masyarakat dan sebagainya.

4.      Bidang kesehatan selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Gereja punya hati untuk melakukan hal ini sebagai penyaluran cinta belas kasih kepada semua orang tanpa kecuali sejak dulu. Resiko yang sangat besar mesti ditempuh seperti biaya, penggunaan BPJS, pengkaderan tenaga medis dan paramedis yang mumpuni sekaligus manusiawi. Namun karya ini bisa menjadi sarana yang nyata untuk menyentuh semua orang, termasuk membangun dan menyebarkan semangat kasih. Keramahan dan kelembutan mesti terus dibangun sebagai karya kasih.

5.      Gereja Indonesia mempunyai peran besar dalam gerakan credit union, koperasi kredit. Bidang sosial ekonomi semacam itu menjadi sarana konkret untuk terlibat bersama masyarakat dalam persaudaraan kemanusiaan, seperti yang diserukan oleh Gaudium Et Spes, “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” Pembangunan ekonomi keluarga yang sehat menjadi gerakan yang konkret untuk memajukan masyarakat, dengan kerja sama suami dan istri secara harmoni.

6.      Tentu saja Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK) adalah jalan pilihan tak tertawarkan. Tak boleh sedikitpun Gereja menunjukkan kekerasan dalam sikap, kata, kebijakan dan sebagainya. Pun Gereja tak boleh memprovokasi munculnya kekerasan, sekecil apa pun. Tapi Gereja juga punya suara yang harus digemakan dengan lantang, dalam pilihan berpihak pada orang yang lemah, korban ketidak adilan dan sebagainya. Yesus bilang berikan pipi kirimu saat ditampar pipi kananmu (Lih. Matius 5:39 - 44). Tapi saat Dia ditampar di sidang (Lih. Yoh. 18:23), Yesus memberikan sikap yang tegas. Dia protes dan mempertanyakan mengapa ditampar. Tujuan Yesus adalah mengubah ketidakadilan menjadi keadilan, menjadi kebenaran, menjadi kasih. Hal itu dilakukan dengan tidak hanya pasrah menyerah sebagai korban. Maka Gereja juga tak boleh membiarkan seorang pun entah laki-laki atau perempuan, entah orang dewasa atau anak-anak menjadi korban, oleh tindakan apa pun dan siapa pun.

 

Gerak Alami

            Bersahabat itu harusnya bukan gerak rekayasa, melainkan gerak alami. Sifat manusia sebagai makluk sosial selalu membutuhkan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Jika sendirian, manusia tidak akan berkembang. Dia akan berhenti dalam diri sendiri yang terbatas.

Kita bisa mengingat catatan Aristoteles yang mengatakan bahwa keutamaan di antara sahabat adalah cinta. Dalam cinta, manusia akan menemukan persahabatan yang sejati. Dalam persahabatan, manusia akan membuka diri terhadap orang lain, dan dengan begini, manusia bisa mengembangkan dirinya. Manusia berani untuk melepaskan diri demi sahabat, rela mati demi untuk dia, dan di dalam kerelaannya melepaskan diri itu pulalah yang membuat manusia semakin menemukan diri, semakin berkembang.

Kita mestinya berani menambah jumlah sahabat dan meningkatkan kualitas persahabatan, menjadikan semua manusia sebagai saudara. Seperti yang ditandaskan pada bagian pengantar Dokumen Abu Dhabi (terjemahan Indonesia), bahwa iman menuntun orang beriman untuk memandang dalam diri sesamanya seorang saudara lelaki atau perempuan untuk didukung dan dikasihi. Melalui iman pada Allah, yang telah menciptakan alam semesta, ciptaan, dan seluruh umat manusia (setara karena rahmatNya), umat beriman dipanggil untuk menyatakan persaudaraan manusia ini dengan melindungi ciptaan dan seluruh alam semesta serta mendukung semua orang, terutama mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan.

****


Saturday, August 01, 2020

Puisi Sabtu 23: BATU YANG TAK PERNAH ADA karya Yuli Nugrahani

BATU YANG TAK PERNAH ADA

 

Aku menduga:

sungai mengirimkan pesan lewat air

gemericik riang membelai jemari kaki

merelakan diri ditumpang kelopak bunga tanjung

pasrah kehilangan dengung dan .

 

Aku bergembira:

duduk di tepian meniup

gelembung getah daun jarak

sesekali melambai pada para petani

di pematang mantap berdendang

pantun serupa mantra penenang.

 

Di ujung ranting sehelai daun menyapa

bicara tentang uban-uban yang datang

juga kekuatiran-kekuatiran yang tersepuh usia.

 

Kukatakan bahwa ada saatnya

kesadaran membunyikan genderang

memaksa bangkit dari tepi sungai

membuka lipatan topi memasang kancing baju

dengan penopang kayu kokka di genggaman.

 

Tak usah kecewa oleh peristiwa silam

sebab aku pun pernah bersandar

pada batu yang tak pernah ada.

 

: Teruslah berjalan.


2019

Sejuta Masker untuk Lampung (6): Laporan Akhir Juli

 


Aksi ini masih terus berjalan walau sangat berkurang. Ya, tentu saja harus dimaklumi karena:

1. Kukira hampir semua orang sudah punya masker, sehingga permintaan sudah jauh berkurang walau tetap saja ada kelompok-kelompok tertentu yang mengajukan kebutuhan.

2. Jumlah relawan jahit sudah menyusut jauhhhh... Ini harus dipahami karena mereka sudah kembali beraktifitas normal.

3. Stok bahan memang naik turun, pernah habis sama sekali. 

Bukan hanya relawan jahit yang menyusut, relawan-relawan lain juga mulai 'diam' eh, bukan ding. Kukira mereka memang harus kembali pada hidup normal mereka.

Sampai 31 Juli 2020, total 64.145 masker kain non medis yang sudah disebar di seluruh Lampung. Dari antaranya 38,52% masker kain tersebut tersebar di daerah Kota Bandarlampung. 

Selain masker-masker kain, dalam bulan Juli ini juga disebar face shield dalam jumlah sangat sedikit. 

Friday, July 31, 2020

Selamat Hari Raya Idul Adha

Berkah saat Hari Raya Idul Adha itu konkret. Pas hari ini Jumat 31 Juli 2020, korban dipersembahkan dalam memperingati hari istimewa ini, dan aku sekeluarga pasti juga mendapatkan cipratan berkah Idul Adha ini. Mesjid dekat rumah dalam kompleks Blok C menjadi pusat peringatan dengan tiga ekor sapi yang dipotong.

Biasanya kupon-kupon untuk seluruh warga tanpa kecuali sudah dibagikan sehari sebelumnya. Tradisi ini sudah berjalan sejak bertahun-tahun yang lalu. Selain untuk warga satu blok, daging-daging korban juga dikirimkan untuk fakir miskin. 

Yang berbeda sejak tiga tahun lalu saat perayaan Idul Adha. Dulu sejak Albert masih kecil, setiap hari Idul Adha atau beberapa hari setelahnya pasti mereka ngumpul di rumah bikin sate bebakaran di belakang rumah. Masing-masing membawa segenggam daging dari rumah masing-masing lalu dibumbui dan dibakar beramai-ramai. Biasanya aku akan menyediakan bumbu-bumbu dan nasi dalam jumlah banyak untuk mereka.

Nah, sejak tiga tahun lalu rumahku tidak lagi memakai kulkas untuk penyimpan makanan. Semua yang kami makan adalah masakan segar hari tersebut atau kalau pun sisa hari kemarin pasti karena diperpanjang umurnya dengan dikukus atau rebus atau goreng. Karena itulah aku berusaha masak dalam jumlah yang secukupnya untuk makan sehari.

Efeknya ke sate dari daging segenggam dari masing-masing rumah untuk Albert dan teman-temannya ya di situ itu. Karena tak ada kulkas maka seluruh daging dan yang menyertainya (biasanya juga ada tulang dan jerohan dalam paket daging kurban yang dibagikan) akan langsung aku rebus. Tak peduli nanti mau dimasak apa pokoknya aku rebus saja dulu. Nanti gampang membumbuinya sesuai selera.

Tadi siang pun setelah Bernard menukarkan kupon, langsung kupisahin daging dan tulang dengan jerohannya. Daging dan tulang-tulang aku rebus dalam satu panci, sedang jerohan (untuk tak banyak tadi, hanya sedikit babat dan jantung) aku rebus di panci terpisah. Selembar kulit aku buang karena tak tahu bagaimana mengolahnya.Sudah kucoba mengerok bulu-bulunya tapi tak berhasil. Coba kukupas dengan pisau juga tak berhasil karena pisau yang kupunya tak terlalu tajam.

Inilah berkah konkret Hari Raya Idul Adha, saat makan malam ada tiga jenis masakan yang tersaji : rawon tetelan dengan tulang belulang, soto babat dan jerohan kutambah dengan tulang-tulang tersisa dan terakhir daging yang masih utuh kupotong-potong jadi rendang. Wihhh, mantap to. Bisa pilih mana yang menarik selera. Daging yang dibagikan itu pas dengan porsi yang secukupnya untuk kami sekeluarga. Bukan hanya untuk malam ini, tapi bisa sampai besok aku tak perlu masak lagi. Bahkan kalau ada yang bertamu, aku yakin makanan-makanan ini masih cukup untuk beberapa orang lagi.

Selamat Hari Raya Idul Adha. Kasih yang konkret ini semoga terus hidup di dunia dan dinikmati oleh semua orang. Darah yang tertumpah dari hewan ternak itu tak akan sia-sia. 

Thursday, July 30, 2020

Selamat Jalan, Ajib Rosidi

Berita meninggalnya senior penyair dari Jawa Barat ini aku terima kemarin malam. Hari ini (Kamis 30 Juli 2020) aku tergopoh-gopoh bersiap melayat. Ah, tidak dalam artian seperti biasa yang datang secara fisik. Melayat untuk masa kini dan untuk orang-orang yang tak ada persentuhan apa pun denganku, adalah pertama, berdoa secara khusus dengan menyebut namanya supaya jiwanya berada dalam lindungan Penciptanya. Dan kedua, karena ini tentang Ajib maka melayat adalah mengingat puisi-puisinya.

Untung banget ada teman melayat. Maka aku dan Fendi Kachonk melayat bersama dengan membaca masing-masing puisi ciptaan Ajib Rosidi dan kemudian Fendi menyiarkannya lewat youtube chanelnya.

Dua puisi yang kami baca adalah:

Aku

Tinju menghantam. Belati menikam.
Seluruh dunia bareng menyerang, menerkam.
Aku bertahan. Karena diriku
Dalam badai, gunung membatu,

Lengang sebatang pinang
Di padang pusaran topan.

Segala arah menyerang. Dari luar, dalam.
Tikaman tiada henti. Siang, malam.
Aku bertahan. Karena hidup
Muatan duka nestapa
Yang kuterima ganda ketawa.

1963


Hanya Dalam Puisi

Dalam kereta api
Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky
Namun kata-katamu kudengar
Mengatasi derak-derik deresi.
Kulempar pandang ke luar:
Sawah-sawah dan gunung-gunung
Lalu sajak-sajak tumbuh
Dari setiap bulir peluh
Para petani yang terbungkus sejak pagi
Melalui hari-hari keras dan sunyi

Kutahu kau pun tahu
Hidup terumabang-ambing antara langit dan bumi
Adam terlempar dari surga
Lalu kian kemari mencari Hawa.

Tidakkah telah menjadi takdir penyair
Mengetuk pintu demi pintu
Dan tak juga ditemuinya; Ragi hati
Yang tak mau
Menyerah pada situasi?

Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar.
Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar.

Dalam kereta api
Kubaca puisi: turihan-turihan hati
Yang dengan jari-jari besi Sang Waktu
Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur
ke ruang mimpi yang kuatur
sia-sia.

Aku tahu.
Kau pun tahu. Dalam puisi
semuanya jelas dan pasti.

1968

Lawatan kami ke rumah puisi Ajib Rosidi bisa dinikmati 

Wednesday, July 29, 2020

Sumber Aneka Motor: Membuka Usaha di Masa Pandemi

Membuka usaha dalam situasi pandemi seperti ini? Mengapa tidak? Itulah yang kami kerjakan sekarang ini. Membuka bengkel motor dengan semua layanan standar untuk motor aneka jenis. Kami menamainya Bengkel Sumber Aneka Motor. Dikerjakan oleh 2 mekanik untuk:
1. Tambal ban
2. Ganti oli
3. Servise apa pun jenisnya
4. Modiv motor apa pun yang diinginkan
5. Dll.

Keraguan yang muncul justru dari banyak orang lain. "Semua usaha sedang lesu lho. Yakin?" Atau yang lain bilang,"Kok di situ tempatnya? Kan sepi itu di bawah fly over." Atau. "Lha gimana ngerjainnya?" Yang tahu kisah kami akan lebih kuatir. "Nanti jangan2 kayak waktu jualan bakso itu." Dan lain-lain lagi.

Hmmm, yakinlah, kalau ada banyak yang kuatir, kamilah yang paling kuatir karena kami yang akan menanggung segala resikonya. Namun ada banyak keyakinan jauh melampaui kekuatiran itu sehingga kami berjalan mantap.

1. Usaha baru memang harus dilakukan. Untuk keamanan finansial keluarga ada sebuah istilah: diversifikasi sumber penghasilan keluarga. Maka, harus mulai sekarang juga. Bukan nanti, tapi sekarang.

2. Pengalaman kegagalan bisa membuat trauma, tapi itu juga pembelajaran yang luar biasa bagi kami. Menjadi lebih hati-hati dengan membuat daftar pertanyaan2 yang segera dicari jawabnya. Misal tentang ketetapan hati mekanik yang akan bekerja. Kemampuan mereka. Dan sebagainya.

3. Beberapa perjumpaan dengan orang-orang penuh semangat menambah mantapnya niat kami itu. Di tengah kelesuan banyak orang, kita harus punya geliat usaha upaya yang lebih kuat. Dalam mawas diri dan gerak yang semangat. Kayak gitulah.

4. Kami mempunyai akses untuk mendapatkan modal. Bukaannn, bukan warisan atau tabungan yang besar. Tapi 'koperasi'. Kami anggota Koperasi Kredit Mekar Sai, yang membantu kami membentuk keyakinan supaya tidak mengkuatirkan tentang modal, asal kami punya tanggungjawab dan perilaku disiplin terhadap pilihan-pilihan.

5. Ada banyak peristiwa kebetulan yang menyertai persiapan kami. Misalnya ada teman yang punya tempat, ada orang yang menawari kompresor bekas, lokasi dekat dengan toko spare part, dan lain-lain. Kebetulan yang paling kami syukuri adalah dua orang yang datang dengan penuh harapan untuk bekerja bersama kami. Mereka mekanik yang handal, pernah menjuarai kontes mekanik nasional. Bahkan mereka bisa menjadi tutor kalau ada yang mau belajar tentang mesin motor atau mobil.

6. Meski diwarnai proses diskusi, debat bahkan berantem, kami pun sepakat berjalan untuk usaha bengkel motor ini. Namanya pun menjadi semangat bagi kami. SAM. Nama bapak tercintaku, Pak Samiran. SAM. Sumber Aneka Motor. Kami mulai membukanya minggu ini. Obyek pertama adalah motor Mioku yang sudah bertahun-tahun tak bisa jalan, sekarang menjadi sarana transportasi dua mekanik itu untuk belanja. Mengganti sparepartnya (habis 400an ribu) dan membongkarnya dengan teliti. Great.

Tribute to Sapardi Djoko Damono, Bersama Penyair Lampung

Spesial banget hari ini. Ada cara baru dalam menikmati puisi yang tidak seperti biasa. Aku terlibat dalam pagelaran puisi, Tribute to Sapardi Djoko Damono. Diadakan secara online melalui semua sarana media sosial hari ini, Rabu 29 Juli 2020.

Judul yang digunakan cukup panjang: "Kita Mungkin Memang Diciptakan Agar Ada Yang Bisa Merasa Bahagia." Even ini digagas oleh Komunitas Tapis, Kopi, dan Buku, yang berisi beberapa orang perempuan Lampung, yang tinggal di berbagai negara atau kota. Semuanya penyuka puisi, maka event pertama ini pun digelar dengan membaca puisi secara serempak lewat media sosial masing-masing dan dishare pada hari ini mulai pukul 13.00.

Aku membaca puisi Batu, karya Sapardi Djoko Damono. Puisi yang sedang-sedang saja panjangnya, dan kurasa paling bisa kubacakan dalam suasana duka sepeninggal Sapardi. Klik sini untuk melihat bagaimana aku membacanya.

Batu

1
Aku pun akhirnya berubah
menjadi batu. Kau pahatkan,
“Di sini istirah dengan tenteram
sebongkah batu,
yang pernah berlayar ke negeri-
negeri jauh, berlabuh di bandar-
bandar besar, dan dikenal
di delapan penjuru angin;
akhirnya ia pilih
kutukan, ia pilih
ketenteraman itu.
Di sini.”

Tetapi kenapa kaupahat juga
dan tidak kaubiarkan saja
aku sendiri, sepenuhnya?

2
Jangan kaudorong aku
ke atas bukit itu
kalau hanya untuk berguling kembali
ke lembah ini.
Aku tak mau terlibat
dalam helaan nafas, keringat,
harapan, dan sia-siamu.

Jangan kau dorong aku
ke bukit itu; aku tak tahan
digerakkan dari diamku ini.
Aku batu, dikutuk
untuk tenteram.

3
Di lembah ini aku tinggal
menghadap jurang, mencoba menafsirkan
rasa haus yang kekal:
ketenteraman ini,
sekarat ini.


Beberapa penyair yang terlibat adalah: 
Iin Mutmainnah,  klik sini 
Yuli Nugrahani, klik sini 
Rosita Sihombing, klik sini 
Erika Novalia Sani, klik sini 
Rilda Taneko, klik sini
Dina Susamto, klik sini
Mintarsih
Jauza Imani
Apri Medianingsih
Novi Balga
Aidira Garis Mata
dll

Saturday, July 25, 2020

Puisi Sabtu 22: SELALU BEGINI karya Yuli Nugrahani

SELALU BEGINI

Kutemukan puisi pada aroma kemangi
pikiran-pikiran sederhana seperti hujan pagi
berhenti tepat pada sesuap terakhir bubur jali.

Lalu bibirku mengeja vokal dan konsonan
mengenali yang sudah sering kurasakan
menjadi detail kata kalimat bait.

Tak lagi penting yang terbaca kemudian
karena yang tercatat sudah terlewat.
Sedangkan wangi kemangi menghambur
dalam setiap kunyahan mengiringi
masa yang akan terjadi sebentar lagi.

Dan sekarang di tempat ini,
kenikmatan menjelma kesenyapan
musim yang tak pernah berganti.
...

2020

Yuli Nugrahani, Lampung, perempuan.

Saturday, July 18, 2020

Puisi Sabtu 21: AKU INGIN KUPU-KUPU Karya Yuli Nugrahani

AKU INGIN KUPU-KUPU

 

Aku ingin kupu-kupu keluar dari rambutku

mengangkat sedikit helai uban ke arah matahari

sehingga siapa pun yang sengaja menilik kilatnya

mulai berpikir tentang kemenangan Sang Pemilik.

 

Aku ingin kupu-kupu keluar dari dadaku

meninggalkan sisa benang kepompongnya

bukan kosong kucuri tapi serat-serat berharga

siap dipintal menjadi kegembiraan, atau keheningan.

 

Aku ingin kupu-kupu keluar dari mulutku

mengepakkan hasrat di ujung-ujung kalimat

meneriakkan mantra bersepuh kebijaksanaan

sebelum hinggap di lembar catatan-catatan.

 

Aku ingin kupu-kupu keluar dari telingaku

menarik debu dari mimpi-mimpi yang tertimbun

mengupas karat dari tafsir yang kadaluwarsa.

Lalu merentangkan sayapnya yang berwarna

menangkap setiap titik cahaya sebagai petunjuk

untuk menuju pada kesempurnaan.

 

2017-2020

 

...

 


Friday, July 17, 2020

Rilis Forkomwil PUSPA Provinsi Lampung: TINDAK TEGAS PELAKU PENCABULAN ANAK


Kasus pencabulan anak di bawah umur di tanah air terjadi lagi. Mirisnya, pencabulan dilakukan oleh DA seorang pendamping dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Berdasarkan keterangan Polda Lampung, usia korban 14 tahun dan pencabulan sudah di lakukan lebih dari 20 kali dalam rentang waktu Januari-Juni 2020 dengan menggunakan modus ancaman, bahkan korban juga diperdagangkan secara seksual kepada  rekan-rekan DA. Saat ini, korban telah mendapatkan pemulihan trauma dan pendampingan dari P2TP2A dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung.

Kasus ini bermula sejak korban menjalani program pendampingan dari P2TP2A dalam rangka pemulihan baik secara psikis maupun mental. Karena itu sejak akhir tahun 2019, korban harus berkomunikasi secara intens dengan DA. Namun, bukannya mendapatkan perlindungan yang layak, korban  malah menjadi pelampiasan nafsu bejat DA dan menjualnya ke rekan DA. Atas kejadian tersebut, ayah korban melaporkan dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya itu ke Polda Lampung pada Jumat 03 Juli 2020, tertuang dalam Surat Tanda Terima Laporan Nomor: STTLP/VII/2020/LPG/SPKT. Saat ini pelaku resmi dinyatakan sebagai tersangka dan proses hukum sedang berjalan.

Apa yang telah dilakukan oleh pelaku telah mengarah pada Pasal 82 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi UU, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Pasal 81 ayat (3) sampai dengan Pasal 81 ayat (7) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang, menyatakan bahwa jika pelaku merupakan aparat yang menangani perlindungan anak maka ancaman pidananya diperberat 1/3 dari ancaman pidananya atau maksimal 20 tahun, bahkan sampai dengan dapat dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku, tindakan berupa kebiri kimia, dan pemasangan alat pendeteksi elektronik.

Sesuai dengan mandat yang diberikan dari pemerintah kepada Forum Komunikasi Wilayah (Forkomwil) Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Lampung dengan program unggulan THREE ENDS, yaitu "Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi terhadap kaum perempuan”. Menegaskan pentingnya penanganan masalah ini, maka Forkomwil PUSPA Provinsi Lampung menyampaikan :

1.      Perlu adanya kerja bersama semua pihak sebagai upaya pencegahan untuk menangani dan menyelesaikan permasalahan perempuan dan anak;

2.      Kasus kekerasan seksual ini tidak dapat dipisahkan dengan budaya patriarki yang masih ada dan hidup di masyarakat;

3.      Mengutuk keras kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di mana pun oleh siapa pun khususnya yang terjadi di Prov. Lampung;

4.      Mendesak pengusutan secara tuntas kasus-kasus tersebut dan menghukum pelaku dengan hukuman maksimal berefek jera dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi korban baik secak fisik, psikis maupun sosial;

5.      Mendesak Kementerian PPPA bersama Dinas PPPA Kabupaten/Kota dan Provinsi melakukan evaluasi dan pembenahan menyeluruh terhadap kerja P2TP2A mulai dari perekrutan pengurus/pendamping, kegiatan pendampingan korban, hingga monitoring dan evaluasi periodik;

6.      Mendesak Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung melaksanakan mandat Permen PPPA No.1 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, dan menjalankan wewenang untuk menguatkan kelembagaan P2TP2A di wilayah masing-masing.

7.      Mengajak seluruh komponen masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam upaya pencegahan serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

  

FORKOMWIL PUSPA PROVINSI LAMPUNG

Bandarlampung, 17 Juli 2020

 

Dr. Ari Darmastuti, MA

Ketua