Friday, March 15, 2019

Kumpulan Cerita Rakyat Lampung (Folktales from Lampung), Agatha Nila Sukma

Folktales from Lampung
(Kumpulan Cerita Rakyat Lampung)

Penulis: Agatha Nila Sukma
Editor: Nining Suryaningsih
Ilustrator: Wahyuningsih
Penata letak: Tim Senyum
Desain sampul: Kholid Senyum
Penerbit: Pustaka Media Guru, Surabaya
Cetakan pertama: Oktober 2018
Isi: viii, 138 hlm, 14,8 X 21 cm
ISBN: 978-602-482-379-5

Pagi ini aku menerima buku ini dari penulisnya langsung. "A special gift for Mbak Yuli. Enjoy the book." Tulis Nila di bagian depan buku yang berjudul Foltales from Lampung. Aku sangat girang menerima buku ini karena aku tahu tak banyak buku semacam ini beredar di Lampung, dan tentu saja karena ada satu tulisanku yang disadur olehnya, yaitu cerita tentang Sultan Domas (Dari Buku Sultan Domas Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati, ditulis oleh Yuli Nugrahani, ilustrasi Budi Lilur, diterbitkan Kantor Bahasa Provinsi Lampung tahun 2017). Huraaiiiii....

Ada 6 kisah yang dimuat dalam buku ini. Masing-masing disadur dalam dua versi: bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
1. Sultan Domas
2. Crocodile the Pirate in Tulangbawang
3. The Legend of Ranau Lake
4. The Seven Sisters
5. Datuk Tuan Budian
6. The Origin of Small Anchovies in Tulangbawang

Setiap kisah disertai dengan pesan moral yang ingin ditonjolkan lewat cerita-cerita itu, misal untuk Sultan Domas dituliskan pesan moralnya:
- Hendaknya kita selalu menolong dan berbuat baik kepada orang lain.
- Mengampuni kesalahan orang lain adalah hal yang mulia.
- Jangan berputus asa menghadapi setiap masalah dalam hidup kita.
- Bekerja keras dan terus belajar adalah kunci keberhasilan.
- Jadilah seperti Domas yang tidak sombong dan rendah hati.
- Jagalah dan lestarikan selalu alam kita.

Nah, keren kan? Kini aku punya buku yang bisa kubawa kepada anak-anak/ orang yang ingin belajar tentang Lampung sekaligus tentang bahasa Inggris. Selain itu buku ini bisa kutunjukkan pada para sahabatku di luar sana yang tak tahu bahasa Indonesia seperti biasanya buku-bukuku kutulis.

Nila, terimakasih banyak ya. Terus semangat. Ndak usah berkecil hati kalau ada 'orang-orang besar' yang menolak. Mereka tak paham artinya perjuangan dan pendidikan. Biarin saja. Pokoke, maju terus pantang mundur. Aku menunggu kisah-kisah lain dalam buku-buku yang lain. Proficiat!

Tuesday, March 12, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (4): Apakah yang paling dibutuhkan oleh perempuan?

Yang paling dibutuhkan oleh perempuan adalah kepercayaan. Dipercaya. Aku tak bisa menjelaskannya seperti seorang ilmuwan disertai teori dan hasil penelitian, tapi aku akan merujuk diriku sendiri. Tentu saja (walau ini tak perlu) aku mesti mengingatkan bahwa aku adalah seorang perempuan, seorang manusia yang perempuan.

Aku masih tetap bekerja untuk justice and peace di Keuskupan Tanjungkarang, apa pun namanya. Sudah 19 tahun aku di bagian ini, tapi sebenarnya aku sudah memulainya jauh lebih lama, saat aku masih mahasiswa bersama dengan para pastur dan frater CM khususnya, juga lewat pertemananku dengan orang-orang seperti Ju, Ipul, bapak ibunya, PSK di bawah Kayutangan dan sebagainya. Dalam perjalanan misiku itu aku mempelajari banyak hal yang berguna bagi hidupku sekarang ini. Sebagian berguna untuk kerjaanku di Keuskupan, sebagian lain berguna untuk kehidupanku di rumah bersama suami dan anakku, dan juga sebagian besar lagi berguna bagi perkembangan diriku sendiri sebagai Yuli.

Jika aku mendapatkan sebuah kepercayaan, aku bisa menjawab "Ya." dengan mudah kalau itu terkait dengan hal-hal yang memang aku tahu atau bisa. Saat aku mulai melakukan komitmenku itu, hal-hal yang kutahu dan kubisa pun terasah dengan lebih baik, menjadi pengalaman-pengalaman lanjutan yang berharga.

Atau, jika aku mendapatkan sebuah kepercayaan sedang saat itu aku tak terlalu yakin dengan diriku sendiri, untuk banyak hal aku akan menjawab "Tidak.". Jawaban tidak akan menutup beberapa pintu yang semestinya bisa membuka bagiku. Namun tidak seluruh pintu. Jawaban tidak yang kulontarkan biasanya menyisakan banyak pekerjaan rumah yang memicu diriku sendiri untuk mengejarnya. Jadi, sebenarnya jawaban tidak untuk ketidakyakinanku itu sepadan dengan jawaban Ya yang kuberikan walau aku ragu-ragu dengan kemampuanku. Jawaban ya untuk kepercayaan yang dilimpahkan padaku akan membuatku mengejar aku yang mampu, aku yang bisa. Dan proses jatuh bangun membuat mampu ini adalah pengalaman pembelajaran yang luar biasa. Banyak pengalamanku tentang hal ini justru inilah yang menarik: Ya justru karena sulit. Hmmm, mungkin semacam tantangan bagi diriku sendiri, tapi banyak peristiwa justru membuktikan bahwa manusia termasuk perempuan diberi kemampuan yang jauh lebih besar/tinggi dibandingkan dengan yang dia ketahui.

Nah, apakah sifat seperti ini juga dimiliki oleh perempuan kebanyakan? Aku yakin. Aku sangat yakin. Perempuan perlu dipercaya memiliki keberanian, kemampuan, dan sebagainya untuk mengerjakan segala hal, seturut anugerah yang sudah dilimpahkan kepadanya. Itulah yang akan mampu dia bangun untuk hidupnya yang pada lanjutannya akan berdampak bagi hidup orang-orang di sekitarnya.

Ah, sebenarnya ini soal biasa kan? Laki-laki juga mendapatkan kepercayaan itu sejak lahirnya sehingga mereka bisa. Maka aku yakin jika perempuan mendapatkan kepercayaan yang sama seperti itu maka ia pun akan bisa dan mampu mendapatkan hal yang sama dengan laki-laki. Sewajarnya saja, memang begitu cara kita memperlakukan manusia untuk mendorong mereka, entah laki-laki atau perempuan.

Monday, March 11, 2019

Antologi Puisi Andi Suandi, PEZIARAH


PEZIARAH
Pejalan cahaya yang akan menembus ruang dan waktu karena kehendakNya

Penulis: Andi Suandi
Pengantar: Eka Budianta
Desain sampul: Andi Suandi
Lay out: Muali Midi
ISBN: 979-99394-1-0
Penerbit: Yayasan Seni Visual Indonesia
Cetakan pertama: Oktober 2013
Ukuran : 20X21 cm

Aku tak terlalu ingat tahun kapan aku mendapatkan buku puisi ini. Yang kuingat waktu itu aku selesai rapat di Cikini, seperti biasa mampir ke Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan harapan bisa melihat pertunjukan teater, atau pameran, atau ada buku bagus murah di kedai Bang Jose, atau nonton film entah apa gitu, atau sekadar nongkrong makan di warung-warung di halaman TIM.

Nah, waktu itu, ada pameran lukisan beberapa pelukis. Setelah berputar keliling menikmati lukisan-lukisan, aku dicegat di pintu masuk, yang juga pintu keluar untuk menulis buku tamu. Saat itu dua orang yang ada di situ bertanya dari manakah aku, tahu dari mana tentang pameran itu dan sebagainya. Saat aku menjawab aku dari Lampung, salah satu dari antara mereka menyebut nama Oyos, seorang wartawan. Ya, tentu saja aku kenal.

Jadilah kami ngobrol bertiga di meja di situ, toh aku juga tak sedang berburu-buru. Aku memberikan salah satu buku yang sedang kubawa dan sebagai gantinya aku mendapatkan buku kumpulan puisi dari salah satu pelukis itu, Andi Suandi.

Buku itu tersuruk begitu saja di rak bukuku, masih terbungkus plastik sampai tadi sore saat aku mencari-cari buku untuk kubaca, aku meraih buku tersebut dan membuka plastik pembungkusnya. 

Buku ini berisi 160 puisi, dengan judul sama: Peziarah Pejalan Cahaya. Dari 1 – 160 puisi yang ada, dalam daftar isi dijadikan 7 bagian. Yaitu: 1 – 61. 62 – 83 (pertemuan dengan peziarah Sai Baba, 84 – 102, 103 – 106 (pertemuan dengan peziarah Bawa Muhaiyaddeen), 107 – 116, 117 – 119 (pertemuan dengan peziarah Raden Ngabehi Ranggawarsito), dan 120 – 160.  Kebanyakan puisi disertai sketsa hitam putih, Sketsa Hitam Putih Peziarah, dengan penanda angka yang sama dengan puisi yang dimaksud.

Aku sedang tidak sabar untuk membaca seluruh puisi-puisi Andi ini, tapi ada satu puisi yang langsung melekat, menjadi sandungan, dan kubaca beberapa kali. Maka puisi-puisi yang lain kuabaikan, dan kusalin di sini secara lengkap:

peziarah pejalan cahaya #6

Bagaimana engkau bisa bebas dari Madu-Nya,
wahai engkau yang puas dengan tanda?
Apa yang lahir dari sifat dan nama?
Khayalan,
Namun khayalan yang menunjukkan jalan menuju Kebenaran.
Tahukah engkau arti nama,
jika tanpa hakikat?
Pernahkah engkau memetik sirih
Dari sederetan S, I, R, I, H?
Engkau telah menyebutkan nama itu
Pergi!
Carilah sesuatu yang diberi nama.
Bulan itu di langit
bukan di air. Itu hanya bayangannya.
Sudilah engkau berangkat
ke balik nama dan huruf,
sucikanlah dirimu sepenuhnya.

Dan saksikanlah,

Dari lubuk hatimu sendiri,
Seluruh pengetahuan para Nabi.
Tanpa buku
tanpa belajar,
tanpa pengajar.


Mungkin nanti saat aku membacanya lebih teliti, atau saat memindainya lagi, aku bisa menemukan puisi lain yang bisa menyandungku. Untuk sementara, ya puisi inilah yang bisa menemui hatiku.


Dan jika aku bertemu dengan Andi lagi pada kesempatan yang lain, aku akan senang bertanya-tanya padanya tentang puisi ini. Atau, kalau tidak bertanya-tanya, aku bisa menyatakan yang sudah kuungkapkan di sini, bahwa aku tersandung pada puisi ke 6 dalam buku ini. Mengapa? Karena puisi ini tampak paling sederhana dalam pemilihan kata dan kalimatnya dibanding puisi-puisi lain. Karena puisi ini tampak benar-benar menjadi puisi dalam perasaanku saat membacanya pada kesempatan pertama. Karena aku memang suka dengan puisi yang ini dibandingkan dengan puisi-puisi lain dalam buku ini.

Nah, tak usah protes. Jika kau menemukan puisi lain dari Andi yang ingin kau nyatakan, silakan tulis di komentar. Aku akan senang hati menggunakannya sebagai rekomendasi untuk kubaca ulang.

BISAKAH AKU MENJADI SAMUDRA PENAMPUNG SEGALA?

Bisa,
tapi aku adalah samudra dengan gelombang-gelombang
menerima aliran dari sungai-sungai
dan merangkul muara sepenuh daya.

Bisa,
tapi aku adalah samudra yang mengekor angin dan badai
mengikuti geraknya bahkan menjangkaunya
setinggi awan-awan sekuat banjir bandang.

Bisa,
tapi aku adalah samudra pada permukaan bumi bulat
mengalun ke seluruh penjuru mata angin
dan menikmati berdiam di palung yang dingin.

Friday, March 08, 2019

Makanan dan Senyuman

Masa puasa sudah dimulai kemarin, Rabu 6 Maret 2019. Akan berakhir pada Sabtu, saat Paskah nanti, 40 hari lagi. Tanda abu di dahi yang kami terima sekeluarga pagi-pagi pada Rabu kemarin mengingatkan bahwa selama 40 bulan ini tak ada daging ayam, sapi atau apa pun. Juga ikan-ikan kesukaan yang berdaging tebal. Boleh makan ikan yang kecil, macam teri, ikan asin jenis yang kecil, ikan laut yang kecil (krisi kecil, kembung kecil, pokoke yang kecil masih boleh sesekali). Biasanya ya tahu, tempe, jamur, jagung, kentang dll sejenis itu plus sayur mayur yang kumasak beraneka jenis. Mulai dari bayi, Albert dan Bernard tahu tradisi yang kami bangun bersama dan sejauh ini mereka menikmatinya.

"Gimana kalau ada yang ngasih ayam goreng?"

"Makan saja, jangan ditolak. Kalau ada yang ngasih ya dimakan saja."

Gitu. Tapi jangan meminta. Makan yang ada, dan jangan membuang atau menolak makanan.

"Nah, ikut bapak sembayangan atau kondangan. Boleh makan apa pun yang di sajikan."

Anak-anak lebih sering menolak tawaran semacam itu. Malulah. Hehehe... Makan sederhana selama 40 hari membuat kami lebih menghargai makanan, binatang dan orang lain. Percaya deh.

Pagi ini aku masak sayur labu dan telur goreng, plus kerupuk. Masih ada pisang dan kacang rebus. Aku bawa pisang dan kacang rebus itu dalam tasku sebagai bekal, dan perjumpaan dengan dua orang 'gelandangan' di jalan membuatku menulis judul di atas, makanan dan senyuman.

Usai melewati Rumah Sakit Abdul Muluk aku melihat seorang bapak yang sering kulihat tiap pagi berjalan mondar-mandir sekitar Jalan Teuku Umar. Dia sedang mengorek-ngorek sampah dan mengambil beberapa sisa makanan. Dia memakannya! Hati dan otakku terlalu lambat untuk mengingat pisang dan kacang rebus di tasku, makanan yang bisa sangat berguna baginya. Aku menyesali kelambanan hatiku sehingga tidak memutar balik juga untuk berbagi dengannya hingga kemudian di Jalan Raden Intan ada seorang ibu, dengan kantong plastik berisi beberapa jenis makanan yang tercampur baur. Terlihat jelas itu bukan makanan yang dipacking rapi oleh penjual atau olehnya. Hanya dijejalkan begitu saja. Bajunya berantakan, dengan kerudung yang asal saja diletakkan di kepalanya. Perempuan itu menatapku dan tersenyum. Huft.

Dua kata itu nancap di hatiku hingga sekarang. Makanan dan senyuman.

Thursday, March 07, 2019

Tutuplah Pintu dan Berdoalah PadaKu

Marilah, kekasih, datanglah.
Pintu sudah dibuka sejak pagi buta.

Sebuah cawan berisi abu basah oleh embun.
Melayang mesra di dahimu sebagai tanda.

Kini tutuplah pintu dan berdoalah padaKu.
Aku mengampunimu sebesar cinta maha.

(Rabu abu, 6 Maret 2019)

Monday, February 25, 2019

RAT Mekar Sai: Suksesi, Menjaga Kelanggengan Koperasi Berbasis Komunitas dan Teknologi Finansial

Rapat anggota tahunan (RAT) KSP Kopdit Mekar Sai tahun ini terasa lebih istimewa bagiku. Sejak beberapa tahun lalu saat aku pernah beberapa kali terlibat dalam kepanitiaan RAT atau juga menjadi Panitia Nominasi (Panom) atau tim buku, dan sebagainya dalam RAT, kali ini aku duduk manis dalam jajaran kandidat calon pengawas sesuai daftar nomine tetap yang dihasilkan oleh Panom.

RAT yang diadakan di Ballroom Swissbell Hotel Lampung, Minggu 24 Februari 2019 ini memang dilanjutkan dengan Rapat Anggota Khusus (RAK) untuk memilih pengurus dan pengawas KSP Kopdit Mekar Sai periode 2019 - 2022. Ya, tentu saja aku berdebar-debar. Beberapa dukungan menguatkanku, tapi yang paling menyejukkan hatiku adalah suamiku: "Ndak usah nargetin apa-apa. Yang terbaiklah nanti yang terjadi."

Karena itulah aku bangun pagi itu dengan antusias, gembira dan mengikuti seluruh prosesnya. Bertemu dengan teman-teman yang sejalur dalam gerakan ekonomi itu selalu menyenangkan, jadi aku gembira selama rangkaian acara, mulai dari sidang 1, sidang 2 dan RAK.

Cukup deg-degan saat penghitungan suara, ya wajar saja. Beruntung aku sengaja meninggalkan kacamataku di rumah sehingga aku tak bisa melihat angka-angka hasil pemilihan. Jadi saat semua sudah selesai, salaman pertama dari Mbak Indah, aku tersenyum saja. Lalu beberapa salaman menyusul kemudian membuatku yakin bahwa aku memang masuk dalam jajaran dewan pengawas terpilih.

Aku mendapatkan banyak pesan dari beberapa orang:

Pak Jalmo: "Siapa pun presiden Indonesia, akan membuat Indonesia menjadi hancur kalau tidak menjaga kepemimpinan dan seluruh aspek Indonesia dengan moral (tulisan moral dilingkari oleh Pak Jalmo). Jadi aku nitip ke njenengan." Waktu itu aku menjawan: "Kulo badhe nyekel ingkang sanget dicekel, pak. Maturnuwun."

NN (seorang bapak): "Ndak usah buru-buru ngegas ya mbak. Pelan-pelan, dan mulai dengan lembut." Aku berterimakasih banget pada bapak yang tak tahu namanya ini.

Bu Rini: "Ini amanah, mbak. Dijaga ya."

Mbak Rina: "Buat yang terbaik untuk Mekar Sai ya Mbak." (Ya)

Dll. Dll.

Nah, terimakasih atas kepercayaan ini, teman-teman. Aku sudah sepakat untuk meminjamkan mata bagi anggota untuk 'mengawasi' Mekar Sai. Tiga tahun ini akan kulakukan dengan optimal.

sumber: AltumNews.com

Dewan Pengawas KSP Kopdit Mekar Sai Lampung, Masa Bakti 2019-2021 :
Ketua        : Caecilia Sartini 
Sekretaris : Andreas Sudiyono
Anggota    : Ch. Dwi Yuli Nugrahani

Sumber: AltumNews.com

Dewan Pengurus KSP Kopdit Mekar Sai Lampung, Masa Bakti 2019-2021 : 
Ketua            : A. Suharyono Daud
Wakil Ketua : Dwi Septyo Prajarto
Sekretaris 1  : L. Slamet
Sekretaris 2  : Y. Kristiyono
Bendahara    : Antonius Widi Asmoro.

Friday, February 22, 2019

Forum PUSPA Lampung Tahun 2019

Setelah akhir tahun yang sibuk lalu diikuti libur beberapa minggu, Forum PUSPA Lampung kembali bertemu difasilitasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Propinsi Lampung di kantor mereka, Selasa 19 Februari 2019.

Hadir Ibu Ketua Ari Darmastuti dan pendamping dari Dinas PPPA Bapak Herman beserta jajarannya masing-masing. Tak terlalu banyak yang datang hanya belasan saja dari pengurus lama yang sebenarnya masa kerjanya sudah selesai pada Januari 2019.

Nah, kesempatan baik itu diawali dengan pengantar dari Pak Herman dan Bu Ari, lalu semua melihat kembali secara sekilas perjalanan Puspa. Yah, hanya evaluasi sekilas tentang hal-hal umum. Belum yang lebih detail. Setelah evaluasi barulah dilanjutkan dengan restrukturisasi organisasi dipandu oleh Bu Ari yang sudah mendapatkan mandat dari Kadis PPPA Propinsi Lampung untuk tetap menjadi ketua Puspa Lampung tahun 2019-2021.

Puspa Lampung tetap mengusung isu 3 ends: akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan perempuan dan anak, serta akhiri kesenjangan ekonomi perempuan. Tahun lalu lokus program adalah Kelurahan Enggal. Ini masih akan tetap digulirkan sesuai dengan hasil monev tahun lalu. Tapi di tahun kedua ini pasti harus dikembangkan dalam program yang lebih okey untuk Propinsi Lampung.

Proficiat Bu Ari dan kawan-kawan!

Thursday, February 21, 2019

Harta Karun Uang Logam Recehan

Sumber: Google
Pernah ndak mengalami krisis benar-benar tak ada uang atau tak terbayang beberapa hari mendatang mesti gimana karena kantong kering, dompet kosong? Aku pernah ngalami. Beberapa kali malah, sejak masa mudaku bahkan juga sekarang-sekarang ini saat sudah punya anak-anak yang besar.

Huuuu, rasanya galau jauh lebih galau ketika hal itu terjadi saat sudah punya anak-anak. Kadang aku berpikir sangat wajar ada orang-orang nekat nyolong ayam demi anak-anak mereka dapat makan. Tapi, aku tak akan pernah mentolerir diriku sendiri melakukan hal itu. Sekrisis apa pun kondisinya aku tak boleh melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.

Bagaimana aku bisa tertolong dalam kondisi seperti itu? Syukurlah, aku sangat yakin bahwa diriku selalu ditolong saat mengalami kesulitan macam itu.

1. Koperasi. Aku menjadi anggota Kopdit Mekar Sai sejak tahun 2000an. Jika situasi terdesak, aku akan kesana dan pinjam. Jika tidak memungkinkan, aku akan mengambil simpanan. Ini koperasi simpan pinjam, jadi aku melakukan semua yang diharuskan: menyimpan dan meminjam. Untuk situasi darurat, inilah penolong utama.

2. Pegadaian. Selain koperasi, yang sering aku tubruk adalah pegadaian. Semua benda perhiasan emasku pernah 'sekolah' di pegadaian. Dengan urusan yang mudah, aku termasuk pelanggan utama. Tentu aku harus melakukannya dengan perhitungan matang: 1, aku mesti mampu memperkirakan bahwa 4 bulan setelah menggadaikan sesuatu aku harus bisa menebusnya; 2, aku imbangi dengan simpanan yaitu dengan sesekali membeli logam mulia ukuran kecil semampuku sebagai bentuk tabungan.

3. Bank. Ya, ini lembaga keuangan yang kulibati karena memang kartu ATM masih mudah digunakan sebagai setoran gaji dari suamiku atau jika ada bantuan-bantuan transfer dari sahabat atau kerabatku. Hehehe... Tapi untuk simpanan dan tabungan aku tak lagi menggunakan bank secara serius.

4. Celengan. Nah, ini yang barusan menolongku dalam krisis bulan Februari. Celengan ini bentuknya ada beberapa. Di kantorku ada gelas yang sering kulempari recehan kembalian kalau usai belanja. Entah 1000an, 500an, 200an bahkan 100an rupiah, kumasukkan ke gelas ini. Gelas serupa kuletakkan juga di dapur. Biasanya digunakan juga untuk Wawak jika butuh belanja barang-barang kecil seperti sabun, pengharum baju, blawu, dan lain-lain. Ada lagi celengan kuning yang sudah ada sejak anak-anakku lahir. Celengan kuning ini tak pernah kubuka karena memang untuk simpanan harta karun. Kali-kali suatu jaman nanti uang logam di situ harganya sudah semilyar sekepingnya. Hehehe... Lalu ada 4 kotak dengan nama Hendro, Yuli, Albert dan Bernard. Ini dulunya kotak keinginan yang dibuka setahun sekali untuk tambah uang saku piknik. Tapi kayak kemarin, kotak ini jadi harta karun berharga yang membuatku tak terlalu pusing ketika Bernard minta lauk ayam geprek. Hehehe... Saat dibuka isinya uang logam recehan, tapi saat dihitung ada hampir 100 ribu lho. Beli ayam 1 yang kecil hanya 27 ribu, nah, masih cukup untuk bertahan sehari ini.

5. Uang yang terlupa. Hehehe... ini sih seperti rejeki nomplok ketika nemuin selembar dua lembar warna merah atau biru terselip di antara buku. Mungkin dulunya hanya untuk naruh sementara sebagai pembatas buku lalu terlupakan. Saat ditemukan, uang-uang ini seperti jatuh dari langit. Sudah benar-benar lupa bagaimana ada di sana. Dan benar-benar sangat berguna.

Nah, pengin juga punya harta karun? Yukkk... mulailah buat harta karunmu sendiri.

Sunday, February 17, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (3): Mengapa tak mau memilih Prabowo sebagai presiden?

Hmmm... ya, rasanya agak sulit untuk memilih Prabowo sebagai presiden lebih-lebih setelah mengikuti debat calon barusan, Minggu 17 Februari 2019.

1. Prabowo tidak mau menjelaskan secara rinci apa yang akan dia lakukan terkait dengan 'impiannya' tentang Indonesia. Bagaimana dia akan membawa Indonesia sampai pada swadaya pangan, energi dsb. Bagaimana dia akan bertindak tegas terhadap beberapa kasus. Bagaimana dia akan membuat regulasi-regulasi turuan dari UUD dsb. Kalau dia tidak berterus terang soal itu, bagaimana aku dapat melihat alternatif selain yang sudah dilakukan oleh Jokowi selama ini?

2. Ada beberapa pernyataannya yang mengerikan yang muncul dalam beberapa kesempatan, seperti: "...mungkin korupsinya juga tak seberapa..." (ketika ngomong tentang korupsi) Bisa lihat youtube ini.. "...daripada jatuh ke orang asing lebih baik saya yang kelola karena saya nasionalis dan patriot..." (ketika ngomong tentang ribuan hektar lahan yang dikuasai pengelolaannya). Bisa lihat youtube ini. Aduhhh... itu sama sekali tak masuk akal.

3. Prabowo mengungkapkan beberapa hal yang kontradiksi, inkonsisten.... Hmmm.... (kulanjutkan nanti. Kalian mau memberikan tambahan atau sanggahan? Silakan kirim komentar.)

Wednesday, February 13, 2019

Berduka untuk M. Zamiel el-Muttaqin

Kabar mengagetkan kuterima kemarin sore, Selasa 12 Februari 2019. "Kyai Miming meninggal."

Apa? Kenapa? Bagaimana? Kata tanya itu terputus tanpa kalimat, hanya serupa teriakan. Orang-orang di sekitarku (aku sedang dalam pertemuan dengan beberapa orang) melihatku ikut kaget. Aku segera berdiri, menajamkan pendengaran menangkap berita duka itu.

Kyai Miming, atau M. Zamiel el-Muttaqin adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, di Sumenep sana. Aku berjumpa pertama kali dalam diskusi buku Daun-daun Hitam di Sumenep, bersama sekelompok anak muda Madura. Kyai Miming, aku memanggilnya begitu, menjadi pembahas cerpen-cerpenku dalam diskusi itu, Jumat 5 September 2014. Walau sebenarnya dalam diskusi itu dia tak membahas, tapi menanyakan beberapa hal, mengungkapkan sedikit apresiasi dan selebihnya mempertanyanya. Masih muda, dan melihat wajahnya saja orang bisa merasa ayem berada di sekitarnya.

Catatan singkat tentang pertemuan tersebut tak mewakili seluruh suasana saat pertemuan pertama itu. Aku bahkan tak sempat ngobrol banyak dengannya, kecuali sapaan-sapaan lumrah disertai permintaanku untuk suatu ketika nanti datang ke Guluk-guluk.

Perjumpaan kedua di sebuah kampus di Sumenep pada 25 Oktober 2015 saat aku diundang Fendi Kachonk untuk diskusi bukunya. Pada kesempatan ini aku sempat berbincang sebentar sebelum acara dengan Kyai Miming di teras kampus. Disertai undangan untuk datang ke Guluk-guluk. Aku ingat menjawabnya dengan yakin:"Suatu ketika, kyai. Aku ingin menginap di Guluk-guluk dan merasakan mondok di sana."

Kesempatan terakhir aku ke Sumenep tahun lalu, sayang sungguh di sayang tubuhku sedang tidak terlalu ok sehingga aku tidak berkunjung ke para sahabat di di sana bahkan aku sama sekali tak menyapa sekadar SMS atau telpon ke Kyai Miming.

Kyai muda itu kini telah berpulang. Kami pernah dalam satu buku puisi Titik Temu, pernah bertukar senyuman dan aku masih menyimpan keinginan untuk mondok di Annuqayah.

"Kyai, selamat jalan. Terimakasih banyak atas beberapa kali pengalaman perjumpaan dan sapaan. Dari Lampung aku ikut dalam doa bersama orang-orang yang mengasihimu."

Tuesday, February 12, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (2) : Apa yang kau pikirkan tentang angka 9?

Pertama, aku harus bilang bahwa angka 9 itu angka yang istimewa. Aku  dikandung selama 9 bulan dan lahir pada tanggal 9 dari seorang ibu yang juga lahir pada tanggal 9. Nah, tahun 2019, akhiran 9, tahun ini usiaku 45 tahun, kalau dijumlahkan 4 + 5 maka hasilnya adalah 9.

Kedua, aku pernah menjadi penanggung jawab Majalah Bulanan Nuntius, majalah untuk umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang selama 9 tahun yaitu dari tahun 2005 sampai 2013. Waktu yang sangat luar biasa bagiku. Aku pernah menulis dulu mengerjakan Nuntius sebagai redaktur pelaksana itu seperti ngurus bayi. Hehehe... bayi tua. Yang dulunya terbit tak tentu menjadi terbit sebulan sekali, dan sampai sekarang kalau melihatnya senantiasa terbit sebulan sekali, hatiku juga masih mekar berseri. Sebaliknya kalau mendengar ada masalah di sana, rasanya perih di hati.

Ketiga, aku menjadi badan pengurus Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) KWI selama 9 tahun, dari tahun 2009 - 2018. Yang paling menonjol dalam masa kerjaku di komisi ini adalah kesempatan untukku pergi ke luar Indonesia. Setiap tahun minimal satu kali undangan ke luar Indonesia yang kudapatkan, mulai dengan tahun 2010 ke Kamboja bersama dengan Rm. Ronnie dan kemudian undangan-undangan lain menyusul entah melalui komisi atau undangan secara langsung ke namaku.

Keempat, pasti akan kudapatkan hal-hal lain terkait dengan angka 9 dalam perjalanan hidupku. Hmmm... tentu saja selain dari keistimewaannya secara matematis yang memang melekat pada angka 9.

Nah, aku mau masuk dalam point jawabanku. Angka 9 itu adalah realitas tentang optimalitas. Hihihi... istilah apa jal. Ini kukatakan karena 10 itu tak mungkin. Contoh sederhananya adalah angka yang bisa didapatkan saat ulangan di bangku sekolah dulu. Betul semua akan mendapatkan angka 10. Itu sangat berat walau aku bisa mendapatkannya sesekali untuk pelajaran matematika, Fisika dan Kimia. Itu pun pada bab-bab bahasan tertentu yang memang pas. Pun itu karena keberuntungan tingkat tinggi yang menyertai.

Selain itu sangat tidak mungkin aku mendapat nilai 10. Tapi mendapat angka 9 adalah niscaya, sangat mungkin, dengan pendekatan ke atas atau ke bawah yang sangat dinamis. Angka 9 pun bisa kukatakan sebagai pencapaian optimal.

Maka seperti itu juga aku melihatnya dalam hidup ini. Angka 10 akan sangat mustahil ku dapatkan. Bayangkan saja tak membuat kesalahan sedikit pun. Itu tak mungkin. Kesalahan-kesalahan akan tetap ada dan aku sangat bisa menolelirnya. Namun cita-cita angka 9 tetap akan kusematkan. Aku harus hidup secara optimal sesuai kesadaran yang aku miliki, dan itulah yang memang akan terjadi.

Nah, angka 9 tidak hanya soal peristiwa-peristiwa yang melibatkan angka itu, tapi ini adalah tentang pencapaian paling realistis dalam hidup secara optimal. Aku akan mencapai angka 9. Cukup.

Monday, February 11, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (1) : Siapa Calon Presiden 2019 Pilihanmu?

Dalam beberapa waktu belakangan ini aku berpikir betapa aku ini seorang pecundang. Tak berani bersikap tentang banyak hal, dan membiarkan segalanya berjalan begitu saja asal aman. Nah, aku akan memulai rubrik baru dalam blog ini untuk berlatih menumbuhkan keberanian menunjukkan sikap-sikap atau pandangan-pandangan yang kupunya. Karena memang ini butuh latihan yang kuat, aku akan memakai pertanyaan-pertanyaan yang kemudian kujawab sepanjang atau selebar yang kupikirkan. Rubrik ini memakai judul : Jawaban Yuli Nugrahani.

Apa saja yang akan aku jawab? Apa pun pertanyaannya. Aku akan memulai dengan hal paling panas dalam tahun ini, yaitu calon presiden. Cekidot.


Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk periode selanjutnya sudah ditetapkan tahun lalu yaitu nomor urut 1 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, nomor urut 2 Prabowo Subiyanto dan Sandiaga Uno. Dari dua pasangan yang ada ini aku cenderung memilih nomor 1. Hampir bisa kupastikan dalam pemilihan nanti aku akan memilih Jokowi dan Ma'ruf.

Hmmm sebenere untuk pertanyaan seserius ini aku ingin juga menjawab dengan serius disertai analisa macam para pengamat politik, tapi apa daya, sulit sekali bagiku melakukan hal seperti itu tapi aku akan coba mengemukakan secara sederhana seturut keterbatasan pikiranku tentang alasan-alasan mengapa ini menjadi kecenderunganku:

1. Aku selalu berpikir tentang keunggulan-keunggulan dari masing-masing calon. Kalau aku mengamati dari kinerja mereka, tentu hal itu tidak sebanding. Jokowi sudah melakukan hampir 5 tahun jadi presiden RI dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Sedangkan Prabowo belum ada pengalaman itu. Maka lebih baik aku melihat keunggulan dari calon-calon ini tidak berdasarkan kinerja mereka. Seturut pengalaman toh ya nantinya akan sama saja soal kinerja ini. Lihat saja bagaimana Sukarno, Suharto, Habibi, Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi ketika ada di posisi itu, ya begitulah mereka akan berlaku. Tetep punya sisi baik dan sisi buruk yang memberikan ruang untuk diapresiasi ataupun dikritisi. Maka aku berpikir soal keunggulan itu dari yang pernah kulihat di media yaitu tentang penampilan, keluarga, cara berbicara, cara bertingkah laku, cara menanggapi masalah dan cara mengambil keputusan-keputusan. Jokowi unggul dalam hal ini secara mutlak. Aku bisa begitu saja suka melihat penampilannya (saat mengenakan sarung, menonton konser musik, mengendarai motor dst). Istri dan anak-anaknya bisa tampil secara apa adanya walau aku tahu mereka mengalami perlakuan istimewa dikelilingi ajudan-ajudan yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Untuk Prabowo susah kutemui hal-hal macam itu. Aku masih selalu bertanya-tanya: Apa sebenarnya keunggulan Prabowo?

2. Sejarah. Hmmm... orang model aku ngomong soal sejarah tuh tak mudah karena aku bukan pencatat sejarah yang baik. Hanya saja aku selalu melihat pengalaman Jokowi yang berjalan langkah demi langkah untuk memimpin warga sipil mulai dari Solo, Jakarta lalu Indonesia. Dia cukup populer sehingga hal itu bisa ditelusuri. Prabowo punya pengalaman memimpin warga militer dengan akhir karier yang tak simpatik. Dia cukup populer tentang itu sehingga mudah juga ditelusuri dan tak bisa kulupakan. Secara hati aku lebih bisa menerima Jokowi daripada Prabowo.

3. Berpihakkah dua calon ini pada orang miskin? Pedulikah mereka pada orang miskin dan lemah? Pada bagian mana hal itu dilakukan oleh keduanya? Hmmm... hmmm.... aku mulai kesulitan menulis lanjutan dari artikel penting ini. Ukuran-ukuran sangat banyak dan semuanya bisa dikenakan pada keduanya. Aku tak bisa menemukan bukti yang senyatanya karena aku belum pernah ketemu langsung dengan keduanya. Bagiku pertanyaan ini sangat penting untuk terjawab dalam rangka memilih yang mana yang paling tepat dari keduanya. Kalau aku hanya memakai ukuran gestur tubuh mereka yang paling pas di hatiku ya Jokowi. Tentu saja ini sangat subyektif, tapi ya apa boleh buat. Ingat, aku pun sudah ambil pilihan di bagian atas tulisan ini.

4. Pemilihan calon wakil presiden. Huhuhu... aku kecewa berat saat Jokowi memilih Ma'ruf. Orang yang pernah menyakiti hatiku. Huh. Malah dijadikan pasangan kerja. Tentang Sandiaga, ooohhh, orang muda ini terlalu sempit wawasannya, seperti orang yang biasa manja sedari lahir. Ndak bisa menarik simpatiku entah apa pun yang dikatakannya.

5. Apa sebenarnya yang menjadi motivasi mereka dengan pencalonannya? Jokowi melindungi siapa? Prabowo melindungi siapa? Siapa yang mereka bela? Hmmmm.... rasanya aku tak bisa menulis lebih lanjut. Kalau kutulis lagi malah jadinya cetek banget entar. Tapi aku mau menyuarakan ini: Siapapun kalian yang punya hak pilih, jangan golput saat pemilu nanti. Eh, ya terserah ding. Pokoke gunakan kesempatan tahun ini untuk mendapatkan pengalaman menentukan pilihan. Soal siapa yang menang jadi presiden entah Jokowi atau Prabowo ya itulah yang akan kita junjung sebagai pemimpin negara kita. Semoga semuanya semakin ke depan nanti.

Nah, segitu ya. So far, inilah pilihanku.

9 Tahun sebagai Badan Pengurus KKPPMP KWI

Bulan ini, tepatnya tanggal 6 Februari 2019, saya diundang rapat Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Cikini, Jakarta Pusat. Kali ini bukan hanya untuk ikut rapat tapi untuk acara pisah sambut anggota badan pengurus komisi tersebut. Periode kepengurusan untuk tahun 2015-2018 sudah berakhir berdasarkan surat tertanggal 28 Januari 2019. Dengan demikian, aku sudah menyelesaikan 3 periode sebagai bagian dari kepengurusan KKPPMP KWI sejak aku diminta masuk dalam komisi ini tahun 2019 akhir, saat Mgr. Mandagi sebagai ketua komisi dan Rm. Dany sebagai sekretaris eksekutifnya. Lamaaa, 9 tahun yang sangat berharga dengan pergantian ketua dan sekretaris eksekutif sebanyak 3 kali. Setelah Mgr. Mandagi, yang menjadi ketua berikutnya adalah Mgr. Agus dengan sekretaris Rm. Koko, dan kemudian sekarang yang yang menjadi ketua Mgr. Domi dengan sekretaris Rm. Eko.

Apa saja yang aku dapatkan selama 9 tahun ini? Hmmm, agak susah menyebut segala hal karena sangat banyak yang kudapatkan. Beberapa point akan kucatat sebagai berikut:
1. Jaringan kerja untuk KKPPMP se Indonesia. Ini sangat berguna karena aku bekerja dalam bidang tersebut di Keuskupan Tanjungkarang yang sehari-hari kugeluti yang menjadi pekerjaan utamaku.
2. Kapasitas diri yang terasah oleh tugas-tugas yang kukerjakan khususnya untuk human trafficking dan kekerasan. Tiga SK yang kuterima untuk tiga periode kepengurusan ini awalnya menempatkan aku di bidang human trafficking dan pada dua SK berikutnya untuk GATK, Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan.
3. Kesempatan untuk belajar dan bekerja melintas batas. Batas yang sudah kutarik lebih luas sangat banyak. Itu rahmat luar biasa yang kuperoleh.
4. Jalan-jalan donggg... Ini bonus yang kudapat ketika menerima tugas-tugas dari KWI. Bahkan aku bisa jalan-jalan ke beberapa tempat, luar negara, dengan biaya yang sangat minim karena seringnya panitialah yang menanggung perjalananku.

Apa saja yang seharusnya kulakukan di komisi itu tapi belum kulakukan sampai akhir periode? Hmmmm, ya banyak juga. Aku masih sering kali menahan diri tidak bicara tentang beberapa hal yang menurutku merupakan prinsip dalam kerja justice and peace. Aku masih memegang kesantunan, tahu diri, paham diri, siapalah aku ini sehingga tak semua secara bebas bisa kukatakan. Ketidakadilan di Indonesia itu sangat banyak, harusnya KWI bisa punya peran yang lebih kalau aku cukup kuat mampu menanggung resiko-resiko.

Nah, setelah 9 tahun berada di dalamnya, aku sangat berterimakasih pada kesempatan yang diberikan oleh Keuskupan Tanjungkarang sehingga aku dapat terlibat di KWI. Dulu bahasanya Mgr. Henri: Kau diminta untuk membantu KWI. Lalu bahasanya Mgr. Darso: Kau itu sumbangan keuskupan untuk KWI. Aku berharap Keuskupan Tanjungkarang mengambil manfaat karena keterlibatanku di KWI ini. Terimakasih juga untuk semua yang pernah menjadi rekan kerja, juga menjadi teman-teman jaringan untuk kerja KKPPMP. Aku masih di bidang ini untuk Keuskupan Tanjungkarang. Jadi berakhirnya kepengurusan di KWI tidak akan menghentikan apa pun.

Saat ini aku masih menjadi Badan Pengurus untuk Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI sampai dua tahun lagi. KWI masih menjadi ladang karya dan sekolah bagiku. Belum benar-benar lulus. Hehehe....

Monday, January 21, 2019

Cinta Membuat Kuat

Judul itu klise banget. Biasanya juga kurasakan biasa saja kalau ada ngomong begitu: "Aku kuat karena cinta." Huhuhu...

Tapi kemarin, Minggu, 20 Januari 2019 aku merasakan betul-betul bahwa kalimat itu bukan hanya sekadar kalimat klise. Cinta, memang sungguh-sungguh membuat kuat.

Sepulang dari Jakarta, kondisi capek dan kaki bengkak karena seharian tidak berbaring, aku langsung makan banyak dengan sisa sate yang ada di rumah, lalu berbaring diam-diam dekat Bernard. Badannya panas, tidak mau ngomong apa-apa, dan sesekali dia ke kamar mandi karena diare. Huft. Jarang sekali Bernard selemes itu, jadi aku hanya ingin diam di sampingnya. Tapi karena aku sendiri sangat capek, hanya beberapa menit aku sudah terlelap.

Hari minggu aku berharap Bernard sudah segar lagi. Aku sendiri merasa badan pegal-pegal, agak demam dan malas banget untuk beranjak dari kasur. Jam 8-an aku baru bangun dengan lemes untuk ngecek Bernard. "Makan ya Nard?" Tanyaku.

"Makan apa? Aku mau yang berkuah." Hmmm, baru sadar kalau aku belum masak dan tak punya bangan apa pun. Jadi segera masak nasi, cuci muka, ganti baju, mengeluarkan motor ke tukang sayur. Udah tuh, rasa capek dan demam langsung hilang. Tak terasa lagi. Masak dengan cepat sayur bayam, tempe, tahu, telur dadar dan manasin ikan lele sisa kemarin yang dimasakin Wawak.

Lalu merayu-rayu Bernard untuk makan agak banyak. Menyuapinya, sambil menawarin mau apa lagi, apakah mau jajanan, roti, susu dan seterusnya dan seterusnya.

Sampai sekarang saat aku menulis ini, aku udah lupa rasa capek dan demamku. Aku sehat karena memang harus sehat. Love you, Bernard.

Monday, January 07, 2019

Liburan Bersama Katherine Paterson

Katherine Paterson adalah kawan baik untuk liburan tenang pergantian tahun lalu, selain Pram, James, Dewi, Toto-chan, dan lain-lain. Ketemu dengan Katherine tidak sengaja. Pagi-pagi, aku membungkuk di rak novel. Dua buku ini bersandingan: Rebels of the Heavenly Kingdom dan Jacob Have I loved.

Aku ambil buku yang pertama sambi bertanya-tanya kenapa buku cerita ini ada di rak novel, karena nama Katherine Paterson kayaknya (ahhh...ndak yakin juga), adalah pengarang cerita anak. Huhuhu). Aku tak inget jalan ceritanya juga tokohnya. Pasti aku pernah membacanya dulu dan intuisiku menggolongkan buku itu di bagian novel, tapi aku tak ingat sama sekali.

Aku membacanya dalam waktu sehari, diselingi masak, makan, berkebun sedikit-sedikit dan chating sedikit-sedikit. Kisah yang mendebarkan, perjalanan seorang anak laki-laki bernama Wang Lee, perjumpaannya dengan Mei Lin, perjuangan bersama prajurit Kerajaan Surgawi yang aneh (bagiku), hingga kemudian pada akhirnya hidup di rumah masa kecilnya kembali. Hmmm..., ini kayak cerita untuk menegakkan kembali 'keyakinan' pada hakikatnya. Tidak untuk kekuasaan, untuk merebut negara, untuk menang dan merasa paling benar, menggunakan nama 'keyakinan' sebagai pembenar untuk segala hal itu. Wang Lee merasa perjuangan seperti itu tidak benar. Dan dia kembali. Menjadi manusia baru yang memulai lagi dari awal, dari cinta. Hehehe... aku mengomentari buku ini seolah-olah buku ini mudah diartikan demikian. Tapi memang menyenangkan membaca perjalanan manusiawi macam seperti ini ditulis oleh Katherine.

Juga buku kedua, judulnya seperti kalimat Ishak yang mengatakan: Aku mengasihi Yakub. Yakub ini salah satu dari anak kembarnya, Esau dan Yakub. Esau yang pertama lahir lalu Yakub. Dan Yakublah yang berlimpah perhatian dan kasih sayangnya.

Buku ini pun tentang dua anak kembar. Sarah Louis dan Caroline. Louis cemburu setengah mati karena seluruh perhatian sepertinya tertuju pada Caroline. Juga seluruh kasih sayang. Tapi dalam perjalanannya, pada bagian akhir buku, dia mulai melihat: apa yang dipikirkannya salah. Semua harus diawali dengan kehendaknya, bukan berharap dari orang lain. Ketika kehendak kuat, maka yang lain menjadi supporter, pendukung, pemerhati, penolong. Kesadaran itu yang mempengaruhi sikapnya sebagai Louis dewasa, seorang perawat di sebuah lembah.

Bayi kedua dari kelahiran kembar, ketika yang seorang begitu kuat dan yang seorang sangat lemah, membuat perhatian tertuju pada si lemah. Si kuat yang tidak dikuatirkan menjadi kesepian dan menganggap tak ada cinta baginya. Semua orang ingin dikuatirkan, ok, tapi jika suatu saat kau menemukan si kuat dan si lemah, rawatlah si lemah dengan baik dan jangan pernah lupa untuk memeluk si kuat.

Katherine berhasil mengharu biru hatiku dengan dua buku ini, terlebih saat itu aku sedang pada halaman-halaman pertawa pengulangan buku James. Sepertinya memang liburan ini aku mesti lebih mawas diri sekaligus bersantai dengan cara-cara sederhana seperti yang ditunjukkan oleh Katherine lewat dua bukunya ini. Hmmm, aku lupa apakah ada buku Katherine yang lain yang aku miliki. Ini macam perasaaan 'menyepelekan', padahal banyak hal luar biasa yang sudah aku dapatkan dari dua novel yang seringkali dikategorikan sebagai novel anak-anak ini. Thank you, Katherine. Liburan berikutnya moga menemukan bukumu yang lain di rakku.

Saturday, December 29, 2018

Aksi untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Tsunami yang terjadi di sekitar Selat Sunda mengagetkan banyak orang, 23 Desember 2018, sekitar 21.30. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tiba-tiba terjadi. Awalnya banyak orang menyepelekan, ternyata ratusan korban meninggal dan ribuan orang harus mengungsi.

Spontan aksi tanggap darurat dilakukan. Keuskupan Tanjungkarang melalui Caritas Tanjungkarang langsung terjun memberikan bantuan darurat dan assesment untuk mengetahui kondisi konkret, terus berjalan sampai sekarang dibantu oleh Caritas Indonesia dan seluruh umat.

Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) mengambil porsi dalam Lampung Ikhlas bersama Walhi Lampung, YKWS dan lain-lain pun bergerak.

Kemarin, 28 Desember 2018, anak-anak muda dari dusun V Perumahan Polri Hajimena juga melakukan aksi serupa. Mereka mengumpulkan bantuan dari seluruh perumahan dan menyerahkan ke Kunjir Kalianda.

Melalui beberapa grup WA aku juga tahu banyak lembaga dan perorangan bergerak membantu korban, pengungsi dan juga yang masih berada di rumah-rumah pesisir. Pun, aku masih berseling dengan rasa kuatir karena Anak Krakatau masih terus bergolak. Kontak dengan teman-teman KSDA Lampung juga selalu mantengin info dari BMKG tidak menyurutkan rasa kuatir itu.

Lokasi yang didatangi Albert dkk.
Jika alam bergerak, manusia harus lebih rendah hati melayaninya. Semua ini adalah alat bagi Sang Pencipta untuk menunjukkan kuasa dan kasihNya.

Hal kecil seperti yang dilakukan oleh Albert dan kawan-kawannya itu pun masuk dalam apresiasi hatiku. Aku mengucapkan terimakasih padanya dan kawan-kawannya yang rela melakukan hal semacam itu, sekecil apa pun.

Mungkin nanti atau besok atau entah, juga ada lagi peristiwa tak terduga yang bisa terjadi pada siapa pun, lewat gerak alam.

Kunfaya kun.

Advent 2018 (5): Kekuatan Pikiran

Bagian kelima, atau terakhir, bisa kutulis pada masa Natal. Tepatlah ini kulakukan sebagai bagian dari pergantian tahun juga dan kukerjakan dalam masa yang sangat tenang liburan pergantian tahun di rumah.

Beberapa bacaan mempengaruhi tulisan ini seturut dengan bacaanku selama liburan. Novel Pram, cerpen-cerpen beberapa penulis, dan tulisa James Redfield. Yang terakhir ini seperti bungkus bagi semuanya yang membuatku ingat untuk menulis seperti judul di atas: Kekuatan Pikiran.

Pengalaman membuatku yakin bahwa pikiran memiliki kekuatan yang bisa mengubah segala hal. Kalau Natal dengan kelahiran bayi Yesus mengubah dunia menjadi seperti sekarang ini sekaligus dengan pro dan kontranya, pikiran dari mulai yang kecil mampu mengubah orang, peristiwa dan juga dunia. Ini seperti memulai dari batu pertama yang kemudian diperkuat dengan batu-batu selanjutnya hingga kemudian menjadi sebuah rumah. Batu pertama itu adalah pikiran pertama yang membuat rumah itu mungkin terjadi. Dalam prosesnya bisa saja ada dinamika, kadang terhenti kadang terkendala. Menumpuk batu-batu berikutnya adalah bagian dari memperkuat pikiran.

Dalam tahun ini, aku tahu ada kata yang spesial yang mesti kuingat, yaitu: Kesaksian. Sebelum libur, aku sudah menuliskan sesuatu dalam carik kertas di kantor yang berisi tentang hal itu. Sepanjang tahun ini aku telah dipersiapkan secara apapun untuk sampai pada kesaksian.

Maka kata ini juga yang akan aku gunakan sepanjang tahun 2019. Beberapa hal terbayang di depan mata dengan visi yang semakin jelas dan pikiran yang selalu terkuatkan untuk sampai ke sana, bahkan sampai detail sedetail-detailnya. Untuk itu, aku akan melewati pergantian tahun dengan gembira. Aku tahu, kata Kesaksian ini memiliki konsekwensi yang besar dengan segala resikonya. Aku bisa memperkirakan, dan aku akan melaluinya.

MELINDUNGI KRAKATAU (2)


Ini tulisan yang kedua:

KEPULAUAN KRAKATAU BELUM LAYAK MENJADI TUJUAN WISATA ALAM
Yuli Nugrahani*


Ekskursi Gunung Anak Krakatau dilakukan pada Sabtu, 25 Agustus 2018 dalam rangkaian Seminar Internasional Vulkanologi Krakatau dan Pemanfaatannya di Masa Depan, pada 24 – 25 Agustus 2018 di Randu Palace Hotel Bukit Randu Bandarlampung. Kegiatan ini melibatkan narasumber Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, peneliti dari LIPI yang sering disebut sebagai King of Krakatoa, Ir. Igan S. Sutawidjaja, M.Sc. dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T. Institut Teknologi Bandung, dengan moderator Dr. Ir. Bambang Priadi, DEA dari Itera. Kunjungan ke Kepulauan Krakatau dimulai dari Pulau Sebesi membuat saya mengambil kesimpulan yang saya gunakan sebagai judul tulisan ini.
Kepulauan Krakatau belum (tigak) layak menjadi tujuan wisata alam atau geowisata atau apa pun dengan istilah wisata. Dari mana kesimpulan ini bisa ditarik? Saya mengacu pada apa yang saya lihat dan amati di kawasan itu saat ikut dalam ekskursi tersebut. (Perlu diketahui, perjalanan ke Krakatau itu berubah jadwalnya, yang semula direncanakan hanya memutari Gunung Anak Krakatau melakukan pengamatan dari atas kapal, ternyata memberikan kesempatan kapal untuk mendarat dan peserta bisa menginjakkan kaki di Pulau Anak Krakatau yang gunungnya sedang sangat aktif dengan erupsi terus menerus dalam beberapa bulan terakhir ini.)
Kepulauan Krakatau yang terletak di Selat Sunda sekarang ini berstatus cagar alam dan cagar alam laut masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Kawasan ini berada di bawah mengelolaan BKSDA Bengkulu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage Site. Kawasan ini mempunyai luas 13.735 Ha terdiri dari Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang dan lautan yang di sekitarnya. Sebagai cagar alam, hanya kegiatan tertentu saja yang diperbolehkan yaitu: penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam, penyerapan dan penyimpanan karbon dan pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya dengan menggunakan tumbuhan atau satwa liar.
Untuk masuk kawasan ini,  setiap calon pengunjung harus mendapatkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang diterbitkan oleh BKSDA Bengkulu atau Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem di Jakarta. Di dalamnya termuat kewajiban pemohon dengan tandatangan di atas meterai. Dan harus diingat, seluruh kegiatan apa pun yang dilakukan oleh pemohon harus mendapatkan pendampingan dari petugas.
Dengan demikian tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kawasan, terlebih orang-orang yang tidak paham peran cagar alam atau cagar alam laut bagi dunia dan tidak mendapatkan surat ijin. Selama masih dalam status Cagar Alam, orang-orang harus taat pada standar yang diterapkan oleh lembaga terkait, tidak bisa begitu saja masuk ke dalamnya secara illegal atau sembunyi-sembunyi, yang memungkinkan cagar alam menjadi rusak dan menghilangkan beberapa fungsinya.
Trip ke Gunung Anak Krakatau yang dilakukan pada hari kedua seminar dalam rangkaian Festival Krakatau menjadi salah satu cara untuk mendapatkan dukungan terhadap Krakatau sebagai destinasi wisata. Propinsi Lampung sudah mengusulkan untuk mengubah sebagian kawasan cagar ala mini menjadi taman wisata alam sejak beberapa tahun lalu. Hadir kelompok-kelompok yang dekat dengan kepariwisataan Lampung dalam seminar ini. Sayangnya, pengantar dari petugas BKSDA di lokasi maupun materi-materi dari seminar sehari sebelumnya tidak memberi banyak arti dalam perilaku pengunjung saat ekskursi berlangsung.
Pertama, sampah plastik berceceran di sepanjang pantai. Saya tidak ikut masuk ke kawasan hutan karena saya merasa tidak ada kepentingan ke sana. Semoga plastik-plastik itu tidak terserak juga di hutan, yang menjadi sumber ilmu berbagai cabang. Tapi di pantai berpasir hitam yang indah itu, terserak plastik-plastik atau benda-benda tidak ramah alam entah baru atau lama yang jelas akan merusak keindahan dan keberlangsungan hidup Krakatau.
Kedua, tidak semua pengunjung punya tujuan yang diperbolehkan di kawasan ini. Mereka masuk bahkan tanpa tujuan, melihat-lihat, selfi, dan kemudian memamerkan di medsos tanpa keterangan yang cukup tentang keberadaan mereka di Krakatau. Tidak ada peran pendidikan atau peningkatan kesadartahuan konservasi alam yang signifikan ingin dilakukan oleh mayoritas pengunjung. Pengantar dari petugas BKSDA dan narasumber tidak memberi pengaruh yang cukup untuk sampai pada kesadaran tersebut.
Ketiga, tidak ada fasilitas pengaman yang cukup untuk melindungi keselamatan pengunjung, khususnya para peserta ekskursi yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Propinsi Lampung ini. Saya tidak yakin semua peserta punya asuransi perjalanan, tidak ada jaminan keselamatan kapal walau semua diharapkan memakai pelampung (satu kapal sempat tertinggal karena ada mesinnya mogok. Bayangkan jika kapal ini mogok saat sandar di Pulau Anak Krakatau), tidak ada perlindungan apapun yang ditawarkan saat mendarat di Pulau Anak Krakatau padahal gunung ini sedang sangat aktif. Erupsi terjadi tidak teratur dalam rentang sekian menit yang acak. Bahkan kemudian peserta diajak berjalan melintasi hutan sekitar 200 meter tanpa syarat apa pun tentang siapa yang boleh ikut atau tidak. Misalnya syarat alas kaki yang boleh digunakan, pakaian, kesehatan, ketersediaan tempat berlindung andai ada letusan besar, perubahan arah angin dan sebagainya.
Keempat, tak ada fasilitas publik yang memadai misalnya tempat membuang sampah, toilet, penyedia kebutuhan penting dan sebagainya. Pengunjung yang paham pasti sudah bisa melakukan antisipasi tindakan bijaksana, tapi tanpa syarat pengunjung, hal ini membuat resiko pengunjung bertambah.
Kawasan kepulauan Krakatau adalah tempat yang indah. Semua orang punya hak untuk menikmatinya, bukan hanya generasi sekarang ini, tapi juga generasi nanti dan dari berbagai kalangan tanpa kecuali karena inilah kekayaan alam kita. Namun, tanpa persiapan untuk tetap melindungi Krakatau maupun pengunjungnya, penerapan Krakatau sebagai tujuan wisata jelas tak bisa dilakukan. Mengubah status cagar alam sebagai cara untuk menambah jumlah pengunjung juga bukan cara yang bijak dan aman. Memperkuat dukungan terhadap kerja BKSDA adalah salah satu cara, supaya mereka bisa konsisten menerapkan standar kunjungan umum ke kawasan ini. Dengan sumber daya manusia dan uang yang minim mereka sudah berusaha menjadi pagar bagi kawasan ini. Namun patroli 24 jam pun belum bisa mereka lakukan apalagi menjaga keseluruhan asset yang ada dalam keindahan Krakatau sehingga pasti ada saja pengunjung illegal yang datang.
Dengan seluruh situasi seperti itu, masihkan akan dipaksakan perubahan beberapa daerah dalam Kawasan Krakatau sebagai taman wisata alam? Tidakkah lebih baik mempersiapkan Pulau Sebesi sebagai daerah wisata untuk menikmati Krakatau sekaligus mengembangkan masyarakat di sana? Tidakkah masih perlu kajian lebih lanjut dari seminar internasional (yang perlu dikoreksi karena seminar rupanya tidak melibatkan Negara lain untuk memenuhi syarat sebagai seminar internasional) yang sudah diadakan ini? Mestinya dibuat cara kreatif yang aman bagi kepariwisataan di Lampung ini khususnya tentang Kepulauan Krakatau sehingga sebagai kekayaan dunia Krakatau tetap terjaga, pun demikian dengan para pengunjung yang ingin menikmatinya. ****

*Yuli Nugrahani adalah cerpenis Lampung, dari Jaringan Perempuan Padmarini yang fokus pada bidang gender dan lingkungan hidup.

MELINDUNGI KRAKATAU (1)


Tulisan ini kubuat seusai ikut trip ke Krakatau bulan Agustus lalu. Karena bencana tsunami Desember ini, dua tulisan ini aku posting supaya dibaca orang lain. Silakan menggunakannya sesuai kebutuhan:

KRAKATAU, PARIWISATA ATAU CAGAR ALAM?
Yuli Nugrahani*


Trip ke Kepulauan Krakatau membawa keberuntungan bagi saya, yang sedang menyusun buku tentang Krakatau. Andai melakukan perjalanan sendiri, tentu tak cukup satu juta rupiah untuk seluruh perjalanan itu. Mengikuti ekskursi Gunung Anak Krakatau dalam rangkaian Seminar Internasional Vulkanologi Krakatau dan Pemanfaatannya di Masa Depan, saya bisa mengikuti kegiatan ini secara gratis.
Seminar internasional (tanpa Negara lain yang terlibat dalam seminar bisakah ini disebut sebagai seminar internasional?) diadakan pada 24 – 25 Agustus 2018 di Randu Palace Hotel Bukit Randu Bandarlampung dengan undangan yang ditandatangani sendiri oleh Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, M.SI. Hari pertama diisi dengan tiga sesi oleh Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo dari LIPI, Ir. Igan S. Sutawidjaja, M.Sc. dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T. dari ITB, dengan moderator Dr. Ir. Bambang Priadi, DEA dari ITERA.
Di penghujung seminar, diumumkan bahwa trip ke Gunung Anak Krakatau akan diadakan pada hari kedua dengan tujuan Pulau Sebesi dan kemudian memutari Gunung Anak Krakatau. Tidak bisa mendarat di pulau itu karena ijin dari KSDA Lampung (BKSDA Bengkulu) tidak keluar sampai sore itu dan Gunung Anak Krakatau memang sedang dalam kondisi batuk terus terusan, aktif erupsi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi.
Lalu mengapa keesokan harinya kami semua bisa mendarat di cagar alam Gunung Anak Krakatau, bahkan berjalan sejauh kurang lebih 200 meter melintasi hutan? Saya bilang, saya beruntung karenanya namun juga merasa sedih, kecewa dan marah.
Saya beruntung bisa mendarat di tempat itu. Bahkan ketika perahu yang kami naiki mulai mendekat ke kepulauan aktif itu, saya sudah berdebar-debar senang. Ini seperti bertemu dengan seseorang yang padanya saya sudah menambatkan cinta. Saya sedang menulis buku tentang Krakatau dan baru kali inilah saya mendapatkan kesempatan melihat secara langsung bagaimana gunung ini. Semakin mendekat, semakin saya dapat merasakan cinta itu. Gunung Anak Krakatau tampak kokoh dijaga oleh tiga pulau di sekitarnya: Sertung, Panjang dan Rakata. Tenang berdiri di tengah lautan yang kebetulan sangat teduh dan tidak tinggi ombaknya. Sesekali dalam rentang yang tak dapat diprediksi Gunung Anak Krakatau erupsi, mengeluarkan awan hitam panas yang memutih di bagian atasnya karena persentuhan dengan atmosfir yang dingin di atas. Ini adalah gunung yang sangat indah.
Saya beruntung bisa merasai pasir hitamnya yang hangat. Saya bilang: Pulau ini, gunung ini menyimpan energi yang luar biasa. Saya menjadi berkobar-kobar karenanya. Bukan hanya karena kokohnya, menjulang dan semakin tinggi, tapi ini adalah tempat yang cantik. Beberapa jenis tumbuhan, binatang terus bertumbuh menjadi ‘kalung’ di kaki dan lerengnya, menjadi penghias bagi tubuhnya yang terus berdentum, batuk.
Saya beruntung karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti ini. Bahkan tanpa rencana bisa menapaki pulau dimana terletak kekayaan alam dunia, yang pernah meletus hebat beberapa kali bertahun silam memberi dampak bagi seluruh dunia.
Rasa beruntung itu saya optimalkan dengan bertahan di sekitar pasir pantai di kaki Gunung Anak Krakatau menggunakan pancaindera. Saya awas pada bunyi dentuman yang muncul setiap beberapa menit. Saya akan segera melihat melintasi ranting-ranting tanaman dan melihat kepulan di puncak sana. Saya merasai air pantai yang beradu dengan pasir hitam yang hangat. Saya mengamati tumbuh-tumbuhan juga serangga yang ada di sekitarnya. Dan mau tak mau muncullah air mata itu ketika pengamatan seksama itu saya lakukan.
Di sepanjang pantai terserak botol plastik, sampah-sampah yang tak mungkin berasal dari dalam perut bumi. Aihdah kidah. Bagaimana mungkin cagar alam yang didatangi orang secara terbatas pun mengalami seperti itu? Saya sedih melihatnya. Prof. Tukirin, yang sejak menginjakkan kaki di pulau ini bersama kami terlihat seperti tertekan. Entahlah, mungkin itu hanya asumsi saya. Saya melihatnya memungut beberapa sampah plastik, namun seperti dilakukan tanpa fokus, juga tidak diikuti oleh seluruh peserta. Malah sebagian besar tampak tak peduli dengan hal itu. Seluruh suasana dan situasi itu membuat saya sedih.
Tentu saja saya beruntung bisa datang di tempat itu, tapi saya juga kecewa. Bahkan sampai beberapa detik sebelum kapal menambatkan jangkar, saya masih percaya bahwa rombongan yang dikoordinir oleh Dinas Pariwisata Propinsi Lampung ini hanya akan memutari Gunung Anak Krakatau dan kami akan mengamati gunung itu dari atas kapal. Sehari sebelumnya, beberapa orang yang ikut dalam rombongan mengatakan kecewa karena diumumkan bahwa BKSDA tak memberi ijin untuk masuk pulau. Saya bilang: Saya senang karena ijin tidak keluar dan setuju dengan BKSDA. Jangan sampai ijin itu keluar. Kita tak punya kepentingan apapun untuk masuk ke pulau.
Toh akhirnya peserta bisa mendarat di Pulau Anak Krakatau. Walau kemudian dibungkus dengan pengantar bahwa kunjungan ini melanjutkan study yang sudah dimulai dalam seminar sebelumnya, tak semua peserta mempunyai pemahaman atau tujuan yang sama.
Saya marah karena perkara yang serius seperti ini bisa dimainkan entah oleh apa. Sore jelas masih diumumkan dan dikatakan bahwa tak ada ijin untuk masuk kawasan. BKSDA jelas mengawal proses seminar dan perjalanan ini. Dalam seminar dikatakan bahwa tak ada ijin untuk masuk pulau, namun kemudian paginya semua orang bisa masuk tanpa kecuali, tanpa penjelasan tentang tujuan dari tiap person yang ikut, bahkan dipandu oleh para narasumber yang hmmm… dengan wajah tidak terlalu gembira (atau tertekan? Entahlah.) Tak ada syarat bagi pengunjung yang boleh masuk mengikuti para ilmuwan itu. Dan tak ada persiapan keamanan apa pun.
Seminar dan ekskursi ini belum bisa menyimpulkan bahwa taman wisata alam adalah yang terbaik bagi pemanfaatan Krakatau di masa depan. Bagi saya, pariwisata harus dikemas tanpa merugikan semua pihak, khususnya tak boleh merugikan kekayaan Lampung dan dunia seperti Krakatau. Karena banyak alasan, Krakatau itu adalah sumber ilmu biologi, geologi, fisika dan sebagainya. Karena banyak alasan, Krakatau itu memberikan resiko yang besar bagi pengunjung tanpa persiapan. Karena banyak alasan, Krakatau itu harus dilestarikan untuk tetap memberikan fungsi selama-lamanya bagi dunia.
Jika memang pariwisata Lampung harus mengetengahkan Krakatau, pemikiran serius harus dilakukan dengan mempertimbangkan banyak aspek itu. Membebaskan semua orang datang ke Krakatau bukan cara yang bijaksana karena menginjak satu biji pinus pun akan berpengaruh bagi suksesi alam, apalagi dengan meninggalkan segala macam sampah di sana. Terlebih dengan resiko tinggi yang mungkin muncul karena pengunjung tak cukup paham tentang Krakatau dan karakteristiknya.***

*Yuli Nugrahani adalah cerpenis Lampung, dari Jaringan Perempuan Padmarini yang fokus pada bidang gender dan lingkungan hidup.