Thursday, July 09, 2020

STOP KEKERASAN SEKSUAL DAN PERDAGANGAN MANUSIA

Tindak pemerkosaan terhadap gadis berusia 14 tahun, yang diduga dilakukan oleh oknum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lampung Timur  bukan hanya menunjukkan ketimpangan relasi gender di  Provinsi Lampung, namun juga memperlihatkan rendahnya kesiapan aparat pemerintahan dalam perlindungan terhadap korban kekerasan, dalam pembentukan lembaga perlindungan, maupun dalam pengawasan operasionalnya.  

Kasus dugaan pemerkosaan dan perdagangan manusia yang sekarang sudah beredar luas lewat media itu menggugah kemarahan banyak orang. P2TP2A yang mestinya menjadi tempat perlindungan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban malah menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap korban. Tugas utama mereka adalah sebagai tempat pengaduan, menindaklanjuti laporan tindak kekerasan, rehabitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pelayanan bantuan hukum, pemulangan bahkan upaya reintegrasi sosial saat korban sudah kembali ke masyarakat.

Tugas-tugas itu tidak dijalankan dengan benar, malah menambah penderitaan korban.

1.       1. Usut tuntas kasus ini dengan memberikan perlindungan dan keamanan bagi korban dan keluarganya, termasuk keamanan emosional dan sosial.

2.     2.  Mengevaluasi kerja P2TP2A di Kabupaten Lampung Timur dan juga daerah lain, dan memastikan prosedur pembentukan dan rekruitmen karyawan/pekerja yang memenuhi kapasitas yang dibutuhkan dalam pendampingan terhadap perempuan dan anak.

3.    3. Tidak menoleransi tindakan apa pun untuk membenarkan peristiwa kekerasan dan perdagangan manusia.

Dalam glossary perlindungan perempuan pada website Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak disebutkan bahwa:

“Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, yang selanjutnya disebut P2TP2A adalah pusat pelayanan yang terintegrasi dalam upaya pemberdayaan perempuan di berbagai bidang pembangunan, serta perlindungan perempuan dan anak dari berbagai jenis diskriminasi dan tindak kekerasan, termasuk perdagangan orang, yang dibentuk oleh pemerintah atau berbasis masyarakat, dan dapat berupa: pusat rujukan, pusat konsultasi usaha, pusat konsultasi kesehatan reproduksi, pusat konsultasi hukum, pusat krisis terpadu (PKT), pusat pelayanan terpadu (PPT), pusat pemulihan trauma (trauma center), pusat penanganan krisis perempuan (women crisis center), pusat pelatihan, pusat informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (PIPTEK), rumah aman (shelter), rumah singgah, atau bentuk lainnya.”

Keterbatasan sarana prasarana serta sumberdaya manusia tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk menoleransi tindakan kekerasan khususnya terhadap kelompok rentan termasuk perempuan dan anak. Pemberdayaan kepada perempuan dan anak harus dilakukan supaya tidak ada seorang pun dari perempuan dan anak Lampung ketakutan oleh ancaman dan iming-iming orang lain dan membuat mereka menjadi korban kekerasan dan perdagangan manusia. Masyarakat harus terus menerus berjuang untuk mewujudkan relasi yang adil dan setara gender, tidak takut menolak kekerasan dan ketidakadilan karena memandang ada kuasa atau uang.

Dalam proses hukum, jangan sampai prinsip kehati-hatian dan kerahasiaan disalahgunakan untuk menghindarkan pelaku kekerasan dari hukuman yang setimpal dan menyebabkan peristiwa serupa dapat terulang atau terjadi lagi.

 

Ch. Dwi Yuli Nugrahani

Ketua

Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau

(KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang


Tuesday, July 07, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (4): Panen untuk Keluarga

Dari Gerakan Pangan dari Pekarangan, aku terhubung ke banyak mitra jaringan. Beberapa minggu ini kabar yang masuk adalah kabar-kabar menggembirakan. Benih-benih itu sudah berubah menjadi makanan. Kangkung dapat dipanen setelah 4 - 5 minggu. Cepat banget. Dari antara semua benih, kayaknya kangkung inilah yang paling bandel dan cepat. Tanpa disemai pun kangkung bisa tumbuh bagus, asal tanahnya cukup lembab dan terkena sinar matahari yang cukup.

Sawi dan bayam juga begitu. Bayam pun tidak perlu disemai dulu. Langsung cabut saat panen. Sedang sawi, ya kalau malas langsung sebar juga pasti tumbuh. Tapi daunnya tak sebagus kalau disemai dulu dan ditanam dengan jarak yang tepat. Tiga sayur ini cukup bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan akan daun hijau sehari-hari. Sebelum wabah pun kami sudah melakukan hal itu dan menyenangkan karena bisa panen sesuai kebutuhan saja. Rumah kami tak memiliki kulkas, jadi tanahlah yang menjadi penyimpan alami untuk keluarga kami. Sehat dan segar.

Tanaman lain yang bandel adalah cabai. Dari dulu kusebut cabai itu tanaman anti miskin. Asal ada cabai (dan nasi) sudah amanlah periuk dapur. Kasarnya begitulah. Dan cabai bisa panen berkali-kali. Tanaman cabai yang ada di depan dan belakang rumah kami sudah berumur 4 - 5 bulan, dan cabainya masih bisa kuambil kalau membutuhkan. Tapi kata suamiku, itu cabai setan yang sudah bertobat. "Ndak pedas lagi." Entah level lidah kami yang sudah meningkat atau karena memang cabainya tidak lagi pedas, setiap memasak dadar telur yang dulu cukup dengan 2 atau 3 cabai saja, sekarang butuh 10 cabai. Hehehe....

Buncis menjadi kesukaanku juga. Memanennya butuh waktu yang agak lama sekitar 6 - 8 minggu sejak ditanam. Dan karena tanah di rumah kami tidak terlalu bagus, buahnya tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk membuat tumis atau campuran sop atau campuran sayur apa pun. Dengan demikian, aku tidak lagi pernah membuang kelebihan buncis yang lupa dimasak karena hanya ambil di pohon sesuai kebutuhan.

Yang sekarang ini jadi favoritku (tapi bukan anak-anak dan suami) adalah telang. Bunganya menjadi sumber minuman sehat tiap pagi, dan daunnya bisa kulalap setiap ingin. Cowok-cowokku hanya geleng-geleng saja kalau ditawari.

Tanaman lain yang juga bergantian panennya adalah daun kelor. Karena hanya ada 2 batang di depan rumah, maka beberapa minggu sekali baru bisa mengambilnya untuk campuran sayur bening labu siam. Yang sedang menunggu panen adalah terong, rampai dan pare. Hehehe... memang berapa hektar tanahku? Ndaakkkk, hanya seucrit itulah. Hasilnya juga tidak optimal karena nafsu menanam apa pun di situ. 

Tapi senenggg.... lebih lagi menerima kabar dari teman-teman, bukan hanya foto, kadang juga hasil panen yang konkret. Bayam merah, sawi dan sebagainya... Senenggg.... 

Sejuta Masker untuk Lampung (5): Kain-kain dari Berbagai Tempat

Sejak berjalan pada bulan Maret 2020, Gerakan Sejuta Masker untuk Lampung mendapatkan kiriman bahan-bahan dari banyak tempat. Agak susah menyebutnya satu per satu karena memang banyak nian. Misalnya bu Emmy yang satu lingkungan denganku mengirimkan 6 meter kain yang sedianya untuk baju seragam keluarganya. Tidak jadi baju, kain itu terpotong kecil-kecil dan menjelma menjadi masker-masker indah.

Pak Enggar lewat Rm. Greg memberikan berkarung-karung kain sisa atau perca beberapa kali. Kain-kain segala jenis itu sudah disortir di awal dan semuanya terpakai.

Bu Susan dan grupnya mengirimkan kain berkotak berkarung beberapa kali dari Jakarta. Beberapa diantaranya kain gulungan entah berapa meter pada tiap gulungnya itu.

Mbak Lusi juga mengirimkan kain cantik banyak meter. Bu Yudanto merelakan kain-kain sisa sprei sekaligus memotongnya. Pak Luke langsung sigap begitu aku mengeluh stok kain menipis. Mbak Rina, Bu Sartini, Suster2 CB, FSGM dan HK. Bu Eni yang baik hati. Beberapa nama yang tak mau disebut juga memberikan kain-kain. Banyak lagi yang ndak keinget saking banyaknya. 

Kain-kain cantik berbagai jenis itu tak boleh menumpuk di rumahku. Kalau pun tumpukan mulai banyak dan tidak ada permintaan dari relawan jahit, aku akan menawarkan ke komunitas-komunitas jahit itu. Juga jika ada stok karet atau benang. Hehehe, semuanya mengalirrr, terus mengalir. Tapi ya jangan membayangkan selalu ada stok berkarung-karung. Pernah terjadi sama sekali kain itu habis, tinggal beberapa kain yang tak bisa dijadikan masker karena kelewat tipis atau kelewat tebal. Pernah juga sih terpaksa kain tebal itu dijahit hanya satu lapis atau yang kelewat tipis dijahit juga tapi hanya untuk lapisan pemanis. Seringnya aku hunting di rak bajuku untuk melihat mana lagi yang bisa kugunting-gunting. Hehehe

Selain kain-kain perca atau sisa, ada juga kain-kain bekas. Biasanya kiriman baju yang koyak, yang tidak lagi bisa digunakan oleh pemiliknya tapi sebagian besar kainnya masih kuat dan warnanya tidak luntur akan aku ambili kancing dan resletingnya. Juga kupotong-potong dengan membuang bagian yang sudah aus, bagian ketiak dan krah baju, juga yang jahitannya bertumpuk-tumpuk. Kain-kain yang sudah bebas dari 'pengganggu' itu siap digunakan sebagai bahan masker. Dan ketika sudah jadi masker semuanya jadi cantik. 

Karena itulah para relawan cuci di tiga posko itu sangat berjasa. Dengan sabun cuci yang dikirim oleh Caritas Tanjungkarang sejak awal, masker-masker kain yang kami bagikan itu sudah siap pakai. Bersih, steril. Sudah melalui proses perendaman, pengucekan, pembilasan, penjemuran dan penyeterikaan yang disertai cinta yang besar. Hehehe...

Saturday, July 04, 2020

Puisi Sabtu 19 : RESESI Karya Yuli Nugrahani

R E S E S I

 

Kita

akhirnya sama seperti orang-orang lain
memelihara belati-belati pada carang terserak
melesatkannya secara acak
sebagai penanda
mengoyak lembar-lembar daun waru, kelopak-kelopak alamanda
dan
batang-batang petai cina tersebar memecah :

Lupa pada kegembiraan janda dari Nain

yang bersorak dipenuhi airmata melihat anaknya

sembuh dari kematian.

 

Sebelumnya, kalian telah melihat perempuan itu tak henti berjalan
mengitari rumahnya meratap membungkus angin di dada :

Oh, bagaimana hidup nanti bisa disiasati

tanpa anakku?

 

Aku membayangkan serupa :

 

Gadis-gadis yang beriktiyar dengan tangan mencengkeram
merontokkan daun ketapang merah
dalam mulut garang cupang-cupang kecil penuh girah.

 

Dan anak-anak yang setia duduk dekat tungku dapur
dengan mata setengah terpejam

menanti lipatan senyum ibunya dalam semangkuk bubur.

Lalu harapan sebentuk lembaran kitab

menyembuhkan bisu tuli, menggandakan roti :

Anakku hidup lagi!

(Janda Nain bergembira!)

 

Tapi  kini

Saat cerobong asap di timur dan barat semakin menderu

berbaur bau mulut memaki.

Semua lupa perihal sederhana itu.

 

2015-2017

 ---------

Yuli Nugrahani, cerpenis dan penyair, Lampung. 


Friday, July 03, 2020

Resep Roti ala Yuli Nugrahani

Roti ubi jalar.
Separuh tepung terigu diganti dengan ubi kukus yang dihaluskan.
Mbayangin bikin roti itu ribet banget. Yang paling serem itu soal bahan dan nguleni. Bahan yang lengkap dan ndak selalu ada stoknya di rumah. Nguleni itu butuh waktu dan tenaga ekstra kuat supaya kalis dan elastis. Masa WFH kemarin lumayan baik bagiku untuk eksperimen membuat roti (sampai cowok-cowokku ampun-ampun karena kebagian kudu ngincip dan ngabisin. hihihi.)

Nah, sekarang aku sudah merasa enteng. Bikin roti itu semudah membuat jenis sarapan lain. Bisa kubuat pagi-pagi sehingga sarapan dengan roti segar hangat fresh from oven bisa kulakukan. Beberapa trik yang ingin kubagikan adalah sebagai berikut:

1. Kenali bahannya, termasuk karakteristik dan fungsinya. Termasuk juga sifat masing-masing bahan. Ini menentukan banget keberhasilan roti yang kita buat. Misal:
a. Tepung itu ada beberapa jenis, bisa digantikan dengan apapun bahan yang mengandung 'tepung' seperti kentang, ubi dan sebagainya. 
b. Ragi dengan gula itu berkawan. Ragi dengan garam bermusuhan. Ini nantinya berguna untuk menentukan saat memasukkannya dalam adonan. Biasanya aku akan membagi ke 3 jenis bahan: bahan kering yang berkawan dengan ragi bisa dijadikan satu, bahan cair yang berkawan dengan ragi bisa dijadikan satu, dan bahan lain yang bermusuhan dengan ragi dimasukkan terakhir. Yang masuk dalam jenis terakhit ini adalah garam dan mentega. 
c. Komposisi itu penting tapi ternyata aku bisa mengenali setelah beberapa kali membuat roti. Air tidak harus sesuai takaran ketika kita ganti tepung terigu dengan ubi kukus. Telur tidak harus memakai 2 butir walau di resep ditulis begitu. Kalau mau lebih lembut kuning telur ditambahi. Susu bisa digantikan dengan santan atau air.
d. Penggunaan cairan bisa dirasakan saat nguleni. Suhunya pun sesuka hati. Aku pernah menggunakan cairan suhu ruang, air es atau air hangat. Ketiganya bisa digunakan.

2. Sebisa mungkin siapkan bahan dasar yang memang harus ada setiap membuat roti. (Tepung, ragi dan air. Tiga bahan ini yang paling mutlak.)

3. Alat-alat yang ada di rumah tidak harus lengkap. Tak ada oven kita bisa pakai baking pan, atau panci biasa atau magic com, dll. Aku menggunakan mixer yang tangkainya khusus untuk roti saat nguleni, tapi sangat mungkin hanya menggunakan tangan saja. Baskom yang agak lebar bisa menggantikan meja masak saat nguleni adonan.

4. Masukkan air dalam wadah tahan panas saat memanggangnya. Ini akan membuat roti menjadi lembut tidak kering keras. Dan memasukkan adonan saat oven sudah panas.

5. Proofing adonan bisa dilakukan beberapa kali. Tapi itu ribet. Jadi aku melakukannya 1 kali saja. Bisa disambi kerjaan lain selama 1 jam.

Nah, ini resep yang paling praktis :
Kurangi gula untuk roti tawar sebagai sarapan.

Bahan:
A
250 gram tepung terigu protein tinggi atau sedang atau campuran keduanya
50 gram gula pasir atau sesuai selera
2 sendok teh ragi instan
1 sendok teh bread improver (abaikan kalau tidak ada)
B
125 gram cairan (santan, susu atau air biasa) sedikit hangat. kalau malas ya suhu ruang saja.
1 kuning telur
C
15 gram mentega (atau minyak goreng atau butter)
0,5 sendrok teh

Cara membuat:
Aduk bahan A sampai rata. Pakai mixer yang tangkainya untuk roti ya.
Masukkan B sedikit demi sedikit sampai kalis. Matikan mixer.
Masukkan bahan C. Sebagian mentega taruh di pinggiran wadah, gunakan kalau tangan lengket.
Uleni sampai kalis dan elastis. Tandanya, kalau ditarik tidak gampang putus.
Kalau sedikit lengket tak usah panik. Gunakan saja sedikit tepung untuk pelapis tangan saat megang adonan. Jangan nambahin tepung ke adonan ya. 
Bentuk adonan sesuai selera, beri toping atau isian yang disukai. Letakkan di loyang yang sudah diolesi mentega dan tepung atau dilapisi kertas roti.
Diamkan adonan dalam tempat tertutup sekitar 1 jam. (Bisa ditungguin sambil nyuci alat-alat yang tadi digunakan atau mandi dulu biar seger pas ngincip roti matang)
Panggang dengan api sedang/besar kurang lebih 30 menit. Begitu keluar dari oven, olesi permukaan roti dengan mentega.
Siap disantap.

Wednesday, July 01, 2020

Merumuskan Keinginan

Kemarin saat berangkat ke kantor, dekat tikungan Kotaraja, aku berada persis di belakang angkot hmmm... entah Teluk atau Sukarame atau Pahoman, lupa, dengan tulisan besar di kaca belakang: Keinginan adalah Sumber Penderitaan. Wihhh... 

Beberapa pengalaman membuatku mengamini kalimat itu. Kapan keinginan membuatku menderita? Pertama, ketika keinginan itu tidak kesampaian. Bahkan kemudian disadari sampai mati pun keinginan itu tidak akan tercapai. Derita tiada akhir mesti dialami.

Kedua, ketika keinginan itu ternyata berakibat keburukan. Apalagi kemudian peristiwa tragislah yang terjadi sebagai buahnya.

Tapi kemudian aku juga serta merta protes dengan kalimat itu. Banyak pengalaman hidupku memunculkan peristiwa-peristiwa baik yang diawali dengan keinginan. Aku menggunakan istilah : visi. Ini bentuk lain dari keinginan-keinginan yang kukuatkan dengan detail imajinasi yang mestinya terjadi pada suatu masa. Ketika visi ini menguat, pelan-pelan dia akan menjadi kenyataan.

Lalu bagaimana keinginan tidak menjadi sumber penderitaan? Aku berpikir tentang rumusan yang mesti digunakan saat mempunyai keinginan. Ini salah satu caranya. Merumuskan keinginan tidak sebagai kata benda, tapi sebagai kata kerja, kata yang mendorong kita bekerja, atau melakukan sesuatu.

Misal, aku tidak akan mengatakan: "Aku ingin masker yang cukup bagi sejuta orang Lampung." Tapi akan mengatakan: "Aku ingin menjahit masker yang cukup untuk sejuta orang Lampung." Maka keinginan itu sudah terpenuhi saat aku mulai mengambil kain, jarum, benang dan gunting. Iyaaa.... belum cukup untuk sejuta orang Lampung yang membutuhkan karena memang baru satu masker itu pun diri sendiri, tapi itu langkah pertama untuk memenuhinya. Kalau yang berikutnya lagi mulai dibuat, satu persatu dibuat, seluruh sejuta itu akan terpenuhi. Dan aku tak perlu menderita karena keinginan itu tak pernuhi. Sudah kok, sudah terpenuhi.

Contoh lain? Banyakkkk... Wis. Itu trik yang pertama ya, supaya keinginan tidak menjadi sumber penderitaan. Mari terus berbahagia dengan keinginan-keinginan.

Sejuta Masker untuk Lampung (4): Laporan Terkini 30 Juni 2020

Gerakan Sejuta Masker untuk Lampung terus berjalan sampai sekarang. Per 30 Juni 2020 total masker yang disebarkan adalah 62.085 masker dengan aneka bentuk dan jenis kain. Dari sejumlah itu sebagian besar tersebar di Kota Bandarlampung, yaitu 37,49%, atau setara ... masker. Sisanya tersebar di semua kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Lampung.

Kalau dalam diagram ditulis penyebaran ke mitra jaringan atau paroki dalam jumlah yang besar, sasaran utamanya tetap orang-orang yang tak mampu akses masker dan rentan. Mitra jaringan dan paroki ini sangat membantu penyebaran masker yang lebih luas dalam tingkat resiko yang rendah. Yang saya maksud resiko adalah penyebaran secara ngawur ke sasaran yang tidak tepat, tidak dikenali dan sebagainya. Sangat mungkin dua bagian ini sebenarnya juga menyasar kelompok-kelompok lain seperti dalam irisan diagram tapi saya tak mampu mendeteksi karena memang tidak meminta laporan detail. Foto-foto saja yang saya minta sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Saya sebenarnya ingin juga mendata jumlah para relawan jahit, tapi ini agak sulit. Catatanku tentang nama-nama relawan jahit sama sekali tidak valid. Juga bentuk-bentuk donasi yang memberi support untuk gerakan ini seperti kain, benang, karet dan mesin jahit. Sangat banyak yang terlibat.

Masuk bulan Juni ini, gerak agak lambat. Pertama karena stok bahan menipis. Baju-baju tua yang dikirimkan kepada kami menjadi sangat berguna. Saya mengambil kancing-kancing dan selerekan yang masih bisa digunakan. Juga membuang bagian-bagian baju yang sudah koyak atau rapuh, maka traddaaaa.... kain pun siap untuk dijahit menjadi masker. Beberapa kiriman bahan layak pakai juga tak bisa dijadikan masker karena terlalu tebal atau tipis. Sedangkan sprei, selimut dan handuk yang juga dikirimkan ke kami, tak mungkin kami ubah menjadi masker. Barang-barang itu sangat berguna untuk korban banjir di Bandarlampung. Kota ini sekarang menjadi langgaran banjir walau hanya hujan sebentar saja. Dan yang terjadi banjir parah.

Kedua, karena para relawan jahit sudah berkurang. Beberapa di antaranya mungkin sudah bosan atau capai, dan yang lain harus mulai akrobat dengan dampak ekonomi yang sudah terasa berat. Harus mulai kerja juga karena masuk era new normal.

Dari awal saya selalu berharap virus ini segera bisa dikendalikan. Tidak mungkin hilang 100% tapi kalau dipahami, diterima dan diakui, kita semua bisa bersama-sama mengendalikannya dan juga dampaknya. Ayolah, jangan abai. 

Tuesday, June 30, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (3): Usaha yukkk... usaha apa pun.

Banyak keluhan tentang PHK, gaji yang dipotong dan sebagainya. Ini masa pageblug, serba susah. Tapi lebih baik terus bergerak daripada hanya berkeluh kesah saja. Namanya situasi susah, maka seluruh upaya harus dibuat biar tidak mati konyol. 

Salah satu yang kami bikin adalah pelatihan membuat produksi rumahan yang bisa dijual. Pelatihan membuat abon ikan kami lakukan pada 16 Juni 2020 bersama karyawan susteran CB Tanjungsenang, Lampung. Sebenarnya sudah beberapa saat rencana tentang ini akan dibuat dibuat oleh KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, tapi baru bisa diselenggarakan, diikuti oleh para karyawan dan beberapa orang yang berminat.

Ikan patin dipilih karena harganya lumayan murah, Rp. 20 ribu per kilo. Untuk resep cek di sini. Kami membuat rasa pedas dan rasa orisinil. Lalu sebagian dari hasilnya kami isikan dalam roti. Jadi ada dua produk yang bisa jadi dalam pelatihan ini, abon dan roti isi abon.

Namun bukan hanya itu. Mereka juga sudah membuat kripik tempe dan telur asin model rendam dengan rempah-rempah. Masih juga membuat teh telang romantis yang melihat warnanya saja sudah bikin seger. Hmmm...

Bagian terakhir bikin hitung-hitungan sedikit tentang penjualan dan harganya. Lalu mesti latihan lagi supaya lebih ahli donggg... Yang mau lihat hebohnya bisa buka chanel Komsos Tanjungkarang. Klik sini. 



Hasil pelatihan sehari. Abon ikan, roti, telur asin dan teh bunga telang.


Harapan tentang usaha-usaha penopang masyarakat mandiri pangan ini mesti terus ditambah dengan alternatif-alternatif apapun berangkat dari apa yang ada, apa yang dimiliki oleh masyarakat. Kritikan dan usulan untuk menggunakan pangan lokal merupakan hal yang sangat penting. Dalam banyak kesempatan saya juga bilang untuk mengurangi tepung terigu terkait dengan ketahanan pangan dan juga kesehatan. Semangat mengurangi sampah khususnya sampah plastik juga harus dikuatkan. Pokoknya semua usaha baik harus terus dilakukan.

Kemaring ketika beberapa ibu bertanya tentang alat press abon yang saya gunakan, selain saya sebutkan bisa membeli di mana, saya juga sarankan untuk menggunakan alat-alat yang ada di dapur saja. Dengan demikian, usaha-usaha mandiri ini bisa diduplikasi oleh siapa pun. 

Mulai dari yang ada dan kreatif dalam usaha. Tidak morat-marit karena covid, dan terus iris karena covid.


Friday, June 19, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (2) : Pangan dari Pekarangan


“Gerakan Masyarakat Mandiri Pangan”

 

Oleh: Ch. Dwi Yuli Nugrahani, STP.

Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP)

Keuskupan Tanjungkarang

 

Disampaikan dalam Diskusi bersama Gerakan Perempuan Lampung “Kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung dalam Menjamin Ketersediaan Pangan untuk Masyarakat Miskin terdampak Covid 19”, Rabu, 10 Juni 2020 melalui Google Meet oleh Lembaga Advokasi Damar. Narasumber lain: Ir. Ida Rachmawati MSI, Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung dan Siti Noor Laila, Komisioner Komnas HAM Periode 2012 - 2017

 

#solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19

#sejutamaskeruntuklampung

#pangandaripekarangan

 

Masyarakat harus mulai menerima, memahami, menyadari bahwa Covid ini telah menjadi bagian dari ekosistem dunia, dan akan terus ada. Wabahnya akan berhenti, tapi virus ini tak mungkin hilang. Dampaknya masih akan terus berjalan.

Bukan hanya soal kesehatan, wabah Virus covid 19 memberikan dampak pada semua bidang, dan dampak secara ekonomi yang tidak sedikit. Banyak pekerja terpaksa dirumahkan, diPHK, dipotong gajinya, terpaksa menutup tempat usaha, tidak bisa menjalankan usaha dengan normal, kerugian terus terjadi dan sebagainya. Susah mencari data akurat, misal sumber KADIN bidang UMKM, sampai April lalu ada 15 juta lebih korban PHK (cnnindonesia.com, 01/05). Posko Satgas Gugus Tugas Covid 19 Prov Lampung mencatat 3.475 orang menjadi pengangguran terdampak Covid (lampost.co, 05/05). Data yang sebenarnya pasti lebih banyak apalagi jika bicara tentang pekerja informal, pedagang kecil, industri rumah tangga dan sebagainya. Dalam situasi seperti itu, keluarga-keluarga harus bertahan hidup dengan pemenuhan kebutuhan pokok/primer yang tak mungkin ditunda.

Menyiapkan diri supaya ekonomi tidak morat-marit akibat covid harus dilakukan secepat mungkin, sedini mungkin, paling tidak untuk pemenuhan pangan sehari-hari, yang cukup, bergizi dan memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga tanpa kecuali sesuai kondisi masing-masing untuk jangka waktu yang tak bisa diprediksi. Perempuan hamil, menyusui, anak-anak, lansia harus selalu mendapatkan perhatian khusus. Setiap keluarga mesti mandiri dalam pangan.

 

AKSI MANDIRI

A.    Perencanaan keuangan.

Pertama-tama, mesti mulai dari yang ada. Merencanakan pengeluaran dan pemasukan keuangan keluarga sesuai prioritas. Irit, yang tidak perlu tidak usah dibeli. Dan menyisihkan sebagian untuk tabungan. Orang yang tak punya tabungan itu orang yang tak punya masa depan.

Berlatih merencanakan keuangan, bisa mengambil cara kuno. Saat masak ambil secangkir kecil beras, sesendok gula, sedikit minyak, sisihkan di wadah lain. Saat wadah penuh, tukar dengan bahan baru, dan yang disisihkan itu yang dipakai sedangkan yang baru disimpan.

B.     Pangan dari pekarangan.

Menanami sekitar rumah dengan tanaman konsumsi menggunakan media tanah, pasir, pot, hidroponik dan sebagainya sebagai sumber pangan.

  • 1.      Sumber vitamin dan mineral. Benih-benih sayuran yang cepat panen: kangkung, bayam, sawi, cabai, terong, tomat, kacang panjang, buncis dan sebagainya.
  • 2.      Sumber karbohidrat yang cepat panen: ubi jalar, singkong dsb (ini untuk yang punya lahan lebih luas)
  • 3.      Sumber protein bisa diambil dari ikan atau ayam atau ternak yang bisa dipelihara di sekitar rumah.

KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang memulai dengan mengumpulkan dan membagikan biji benih sayuran sejak April 2020. Sampai sekarang ini (10 Juni 2020) menerima 22 jenis tanaman sayur dari berbagai pihak yang sudah dibagikan ke 28 komunitas atau kelompok, sekitar 800an KK di 7 kabupaten/kota, kebanyakan di daerah Bandarlampung dan sekitarnya. Selain itu juga menerima dan membagikan box untuk kolam ikan dan polibag berbagai ukuran.

C.     Usaha kreatif.

Memulai atau meneruskan usaha-usaha kreatif, dengan berbagai model sesuai kebutuhan masyarakat sekarang. Beberapa teman mulai menggunakan dapur sebagai sarana produksi, bikin kue kering atau basah, lauk matang dan sebagainya lalu ditawarkan ke grup-grup atau medsos yang diikuti.

Misal para guru Growing Hope membuat aneka kue, ayam frozen, minuman sehat dan sebagainya di sela jam mengajar online untuk siswa berkebutuhan khusus. Beberapa penjahit kami libatkan ketika ada jaringan yang ingin berdonasi dan terlibat dalam gerakan sejuta masker untuk Lampung tapi ndak bisa menjahit sendiri. Mereka mengirimkan dana ke penjahit-penjahit itu sesuai harga yang disepakati dan masker yang jadi dikirim ke KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Komunitas Berkat Yakin oleh Gebe, mengambil kopi dan gula aren semut dari Ulubelu ditawarkan secara online di medsos. Seno seniman muda Metro menerima pesanan lukis wajah dengan berbagai harga variatif, termasuk pemesanan bingkainya. Iin Komunitas Dakocan menawarkan beras dan telur herbal dari pertanian diantar sendiri ke konsumen yang pesan tanpa tambahan ongkir. Komeng Liwa berkeliling door to door menawarkan kerajinan dari batok kelapa. Dan banyak contoh lain. Mungkin mereka sudah melakukannya sebelum wabah tapi mereka terus melakukannya dengan gigih di masa sekarang ini dengan berbagai cara kreatif.

D.    Komunal

Aksi mandiri tidak dilakukan tidak sendirian, tapi dalam komunitas, secara komunal. Mesti dalam semangat sosial, solidaritas, “saling…” Karena, tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan itu sendirian. Memilih membeli di warung tetangga daripada di mall itu juga menjadi aksi. Yang tidak bisa dipenuhi oleh warung sebelah baru ke toko besar.

Membangun solidaritas. Baksos sembako sangat baik, tapi kenapa tak diselipi kepedulian terhadap petani dan pelaku UKM sehingga bukan mi instan yang dibagi, tapi paket sayuran. Bukan membagikan tepung terigu tapi memasukkan pengganti beras dari lokal (ubi, singkong dsb), paket bumbu, makanan olahan rumah tangga dsb. Repot iya, tapi itulah kekuatan gerakan.

E.     Merawat Sumber Hidup

Masa pandemi ini adalah masa untuk latihan mawas diri. Kita berada dalam aliran deras kapitalisme juga konsumerisme yang semakin menjauhkan kita dari ‘sumber’. Misalnya sumber air, orang ndak tahu lagi sumur sebagai sumber air minum, cara merawatnya dan sebagainya karena selama ini langsung terima gallon. Gallon tak ada teriak-teriak. Ndak tahu sumber protein ikan, asal buang sampah saja di sungai dan laut sehingga sampah itu tak diketahui masuk perut sendiri. Atau tak ngerti banyaknya obat yang masuk tambak atau tanah, yang seharusnya tak perlu. Wabah ini mesti jadi latihan kita untuk mawas diri, mulai sadar mendekat mengenali sumber-sumber hidup, dan merawatnya demi kita sendiri.

F.     Menyebarkan semangat itu ke semua orang.

Jangan menyimpan semangat sendiri untuk diri sendiri. KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang membuka diri bekerjasama dengan banyak lembaga media untuk menyebarkan semangat ini, seperti bincang santai di chanel Komsos Keuskupan Tanjungkarang, menyebarkan informasi kepada para jurnalis berbagai media, menggunakan medsos dan sebagainya.

Sebuah keyakinan menjadi dasar atas aksi-aksi ini. Bahwa pandemi kali ini memberi kesempatan kepada kita untuk mengelola alam lingkungan dengan baik. Bukan hanya terlibat menjaga kelangsungan hidup setiap manusia, tapi juga mewujudkan tanggung jawab manusia untuk mengelola alam semesta supaya bisa dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia tanpa kecuali (bdk. Laudato Si art. 93). Cakupan tanggung jawab bukan hanya kepada sesama yang hidup sekarang ini, bahkan meliputi generasi manusia yang akan datang. Tanggung jawab ini mengandaikan terbangunnya solidaritas dari mereka yang telah tercukupi hidupnya untuk mau berkorban atau repot sedikit/banyak bagi kelayakan hidup orang-orang lain yang kekurangan, yang membutuhkan bantuan.

Suara yang baik harus diperdengarkan supaya suara yang jelek atau jahat tidak mendominasi. “Bila yang baik, tak mau bicara, yang buruk tertawa…” (Holaspica, lagu Naik ke Laut).

 

PENUTUP

Negara tidak punya sistem yang memadai untuk mengatasi Covid 19 maupun menangani semua dampaknya dalam bidang apapun. Saya memilih tidak mati konyol karena tidaksiapan sistem Negara kita, demikian juga jangan sampai ada orang yang terpuruk menjadi korban karena Covid19, ketidaksiapan semua pihak, tak adanya kebijakan yang mengakomodir semua maupun seluruh kelalaian yang muncul karena ketidaktahuan. Masyarakat mesti mandiri, tidak mungkin mengandalkan diri pada bantuan sosial dari manapun. Mengumpulkan benih dan membagikannya hanyalah contoh kecil tidak menggantungkan diri pada nasi kotak atau paket sembako atau bantuan dana tunai.

Jadi, mari melakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri, bersama dengan keluarga, komunitas, dan terus menyebarkan lingkar pengaruh ini hingga ke masyarakat luas. Negara harus mendukung usaha-usaha baik semacam ini walau kita tak berteriak di parlemen maupun jalanan, karena aksi-aksi ini berdampak konkret bagi kita, bagi masyarakat. Salah satu bentuk perlindungan Negara adalah membuat kebijakan yang menjamin keamanan seluruh rakyat termasuk keamanan pangan.

*

 

Ch. Dwi Yuli Nugrahani, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang

Badan Pengurus Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI

Pembina Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) Lampung

Pembina Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL)

Wakil Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Provinsi Lampung

Koordinator Gerakan Sejuta Masker untuk Lampung

 



Thursday, June 18, 2020

Masyarakat Mandiri Pangan (1): Mengumpulkan dan Membagikan benih

Masuk bulan April 2020, keluhan dampak pandemi Covid19 semakin banyak. Bukan hanya tentang minimnya sarana perlindungan diri tapi dalam bidang-bidang yang lain. Virus covid 19 memberikan dampak ekonomi yang tidak sedikit. Banyak pekerja terpaksa dirumahkan, diPHK, dipotong gajinya, terpaksa menutup tempat usaha, tidak bisa menjalankan usaha dengan normal, kerugian terus terjadi dan sebagainya. Dalam situasi seperti itu, keluarga-keluarga harus bertahan hidup dengan pemenuhan kebutuhan pokok primer yang tak mungkin ditunda.

Alternatif
yang bisa dilakukan:

-        1. Menanami sekitar rumah dengan tanaman konsumsi menggunakan media tanah, pot, hidroponik dan sebagainya.

-         2. Memulai usaha kreatif, online, dengan berbagai model.

Tahap pertama, sembari di rumah saja, pilihan yang pertama bisa dibuat. Mulai mengumpulkan wadah-wadah yang bisa dipakai untuk media tanam, mencari tanah yang subur dan pupuk organik, mencari benih-benih yang bisa panen dengan cepat.

Untuk ini mesti saling bantu, saling berbagi kebutuhan-kebutuhan:

1.       1. Polibag atau wadah-wadah bekas

2.       2. Pupuk kandang atau pupuk jenis apa pun

3.       3. Benih-benih sayuran yang cepat panen: kangkung, bayam, sawi, cabai, terong, tomat, kacang panjang, buncis dan sebagainya.

4.       4. Bibit untuk karbohidrat yang cepat panen: ubi jalar, singkong dsb (ini untuk yang punya lahan lebih luas)

5.       5. Benih ikan atau anakan ayam.

Dan menyebarkan semangat ini ke banyak orang. Ini yang kemudian kami lakukan. Mengumpulkan benih-benih dan membagikannya ke orang-orang yang membutuhkannya. 


Saturday, May 30, 2020

Sejuta Masker untuk Lampung (3): Masker ini untuk yang tak mampu akses masker.

Penyebaran masker kain per hari ini.


Sampai hari ini, Sabtu 30 Mei 2020, masker-masker yang sudah tersebar sejumlah 60.432 masker dengan penyebaran seperti dalam diagram. Jumlah itu masih belum termasuk yang masih berada di posko cuci, di tiga susteran yang rela hati menerima masker-masker hasil jahitan para relawan jahit, mencuci dan menyeterikanya dengan penuh cinta hingga siap untuk dipakai para penerima.

Memang sih, usai lebaran ini stok yang ada di posko cuci sangat menipis. Selama lebaran kemarin para relawan kehabisan kain. Pas menjelang lebaran sebenarnya aku sudah menerima beberapa karung donasi kain perca atau kain bekas, tapi pertama, aku belum sempat mendistribusikannya; kedua, aku meminta para relawan fokus pada hari raya saja; ketiga, kain-kain itu belum disortir karena sebagian di antaranya tak mungkin dipakai karena bahan terlalu tipis atau terlalu teba.

Selain itu, pas lebaran itu stok karet juga hampir habis. Nah, baru di hari ketiga lebaran aku mendapatkan kembali karet-karet, mulai mendistribusikan karet itu bersamaan dengan kain-kain, dan semoga proses penjahitan masker bisa dimulai lagi.

Penyebaran masker terakhir sebelum hari ini adalah pada hari lansia, 29 Mei lalu. Lembaga Lansia Indonesia provinsi Lampung membutuhkan untuk dibagikan ke beberapa titik di Kabupaten Pesawaran jadi aku mengirimkan 800 masker ke sana, plus beberapa ratus kantung biji benih untuk dibagikan ke keluarga yang memang berniat untuk menanam tambahan sumber pangan dari pekarangan. Tentang benih-benih ini aku akan menceritakan terpisah.

Aku selalu memberikan catatan dalam penyebaran masker ini:

1. Masker ini dibagikan gratis, tidak dijual, pada orang-orang yang paling tidak mampu mengakses masker, karena tidak mampu membeli atau karena tidak ada stok barang.

2. Masker ini dibuat dari kain-kain perca hasil donasi banyak orang baik, dan dikerjakan oleh beragam relawan jahit dari berbagai tempat. Maka jenis kainnya sangat beragam, bentuknya beragam, kualitas jahitnya juga bergama pun corak dan warna sangat beragam.

3. Karena dijahit oleh para relawan, maka kebutuhan-kebutuhan dari berbagai daerah tidak serta merta langsung bisa dipenuhi. Tapi kalau anda semua melihat ada kebutuhan di sebuah komunitas atau daerah, silakan kontak. Kami akan berusaha memenuhi walau mungkin secara bertahap dengan melihat stok yang ada.

4. Masker-masker yang kami bagikan kebanyakan sudah dicuci. Ini mengingat kain yang kami jahit adalah kain perca atau sisaan. Tapi karena tidak dibungkus sendiri-sendiri, ya mungkin saja sudah dipegang oleh beberapa orang sebelum sampai pada pengguna. Maka baik juga dicuci ulang sebelum digunakan. Pun kami punya SOP kok saat membagikannya supaya pencemarannya minimal.

5. Kami masih selalu butuh bahan-bahan masker juga relawan-relawan jahit. Jadi yang mau terlibat mari segera bergerak.

Monday, May 04, 2020

Sejuta masker untuk Lampung (2): Banyak yang Terlibat


Pada hari pertama jadwal pengumpulan masker 30 Maret 2020, dua tempat menerima ratusan masker sore hari yang terkumpul 273 masker (Puji Tuhan.), satu tempat cuci masih kosong sampai beberapa hari kemudian. Apakah ini akan berhasil? Aku ketar-ketir. Ya, tetap saja harus disyukuri. Sejuta masker atau sejuta apa pun toh harus mulai dari angka 1.
Banyak kelompok yang mulai melaporkan kiriman-kiriman mereka di posko cuci. Mereka boleh pilih lokasi cuci yang paling dekat dengan mereka. 

Para ibu dalam Wanita Katolik RI DPD Lampung termasuk yang bergerak pertama. Mereka memotong kain-kain di suatu tempat, lalu membaginya ke para relawan yang menjahit di beberapa tempat dalam kota. Semangat ini kemudian disebarkan ke berbagai cabang yang ada di Provinsi Lampung. Lalu para bapak dan ibu dalam Paguyupan Devosan Kerahiman Ilahi (PDKI) Lampung. Mereka mempunyai beberapa relawan jahit, juga menjahitkan masker-masker ke penjahit professional atau konveksi sehingga mempunyai kecepatan jahit luar biasa. Kelompok lain juga bergerak, dari 4 paroki yang ada di wilayah Bandarlampung, termasuk Margoagung. Kemudian komunitas-komunitas awam, suster, dan sebagainya. Jumlah-jumlah masker yang beragam masuk dan kucatat. Angka besar dan kecil berdatangan di 3 posko cuci yang sudah bersedia. Saat penyebaran masker ke pasar-pasar di Bandarlampung, Sabtu 4 April 2020, tersedia 1.050 masker yang siap dibagi, bahkan sebelumnya sudah diambil oleh beberapa kelompok beberapa ratus masker.

Sembari menunggu masker-masker itu terkumpul dan dicuci seterika, aku mulai menulis apa yang sudah dirancang sebelum masker-masker ini dibuat, yaitu daerah-daerah yang paling membutuhkan masker. Tertulis awal 19 pasar yang ada di Bandarlampung (dalam perjalanan kemudian bertambah terus bahkan sampai luar Bandarlampung). Sasarannya para pedagang kecil dan orang-orang yang beraktifitas di sekitar pasar. Lalu terminal-terminal yang ada di Bandarlampung (juga kemudian menyebar ke terminal di luar Bandarlampung). Daerah padat penduduk, khususnya yang ada PDP terdeteksi di situ. Kelompok-kelompok rentan yang tak mungkin di rumah saja dan tak mampu mengakses masker. Juga aku menuliskan para warga binaan di LP-LP khususnya yang sudah dilayani oleh Pemerhati LP KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, panti asuhan, panti jompo dan sekitarnya. Daftar awalku itu dibutuhkan 15an ribu masker kain, belum termasuk yang darurat minta. Aku udah meniatkan, tak boleh menolak permintaan berapapun masker yang dibutuhkan. Tapi memang itu tidak mungkin serta merta dipenuhi, menunggu stok dari para relawan jahit.

Para relawan lain yang melakukan distribusi dan edukasi yang terdiri dari orang-orang muda dari Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang, OMK, PMKRI, PK, beberapa penggiat sosial dari paroki, dan sebagainya menyebar pada sabtu dan minggu.
Sembari terus menerima masker-masker kain dari para relawan, aku juga melipatgandakan pola masker yang kubuat. Kukirim ke Bakauheni, Kalianda, Pringsewu dan tempat-tempat lain yang membutuhkan. Jika ada yang bisa dititipin, pola masker itu kusertai dengan contoh masker yang kubuat. Contoh yang ndak bisa dicontoh sebenarnya karena tahu sendiri jahitan tanganku kayak apa. Walau kemudian ada kiriman dari orang baik sebuah mesin jahit mini, mesin itu sangat terbatas. Jenis kain tertentu saja yang bisa, juga tak bisa menjahit yang tebal. Jadi tetap saja aku menggunakan jarum tangan untuk beberapa bagian.

Penjahitan masker terus berjalan hingga ribuan. Para napi belum mendapatkan bagian juga sampai beberapa minggu kemudian ada kiriman 2.000 masker yang didrop di posko caritas. Rm. Ucok kontak untuk mengambil masker-masker itu, pak Rudi dari Tanjungkarang membantu membaginya ke 3 posko cuci dan dalam minggu itu para napi di LP Narkoba, LP perempuan dan rutan way hui mendapatkan bagian. Total 2.210 masker bisa diantarkan ke sana. Dan rupanya belum ada kelompok manapun yang memberikan masker ke sana sehingga mereka memang sangat membutuhkan. Sayang sekali hanya bisa memberikan 1 masker untuk 1 orang, padahal minimal 2 masker sebenarnya supaya bisa dicuci gentian.

Kiriman-kiriman masker terus ada dalam jumlah yang belum memadai. Pembagian ke pasar-pasar, terminal dan daerah-daerah mengikuti stok yang ada. Hingga sampai 30 April, sudah ada 28.483 masker yang sudah tersebar, dan ada kiriman 9.000 lebih masker atau malah 10 ribu sedang dalam pencucian. Rancangan berikutnya bisa dijalankan yaitu untuk warga binaan di LP rajabasa, kalianda, metro, anak dan sbagainya. Kira-kira dibutuhkan 5.500 masker untuk total semua, dan 1 napi mendapatkan 2 masker. 3 LP way hui harus dikirim lagi, berarti sekitar 2.210 lagi untuk mereka. Kelompok lain adalah teman-teman para buruh. Untuk mereka kusediakan khusus dan sudah mulai disebarkan khususnya yang masih harus bekerja di luar rumah atau mau tak mau ketemu banyak orang. Di masa puasa ini pun aku nowelin beberapa daerah di Lampung yang terpaksa tetap dalam aktifitas bersama banyak orang, termasuk rt di mana aku tinggal lewat pak rt.

Aku bisa menyebutnya gini, ada para relawan jahit, relawan cuci, relawan distribusi dan edukasi, donatur bahan-bahan dan para pendoa. Itulah kami, tak bisa dideteksi semuanya. Untuk relawan jahit aku menulis lebih dari 30 orang yang terlibat mau dicatat, relawan cuci 3 tempat tapi masing-masing melibatkan banyak orang para suster dan karyawan setempat,relawan distribusi lebih dari 20 orang, donatur bahan-bahan tak terdeteksi. Aku tidak punya catatan khusus berapa karung kain perca yang sudah kami terima, berapa gulung kain, berapa gulung karet, berapa meter tali, dan sebagainya. Para pendoa, ya tentu sangat banyak lebih-lebih lagi. Aku percaya itu karena itungan-itunganku udah ndak masuk akal semua tapi terjadi. Banyak, sangat banyak yang terlibat dalam aksi sejuta masker untuk Lampung ini. (Bersambung)

Friday, May 01, 2020

Sejuta masker untuk Lampung (1): Memulai dari diri sendiri



 Awalnya sebuah postingan selebaran dari Rannalla.id aku terima di Grup Retorika Sampah. Didi dan Zea yang punya gawe, mencari relawan-relawan jahit. Aku sendiri ndak kepikiran apa-apa, menyebarkan selebaran ini di beberapa grup yang kulibati. Sampai beberapa hari tak ada respon. Okeee… lalu aku sendiri yang kontak Didi minta kiriman bahan. Aku toh bisa menjahit pakai tangan. Sehari, dua hari, ini masker yang jadi tak sampai hitungan jari. Malah telunjukku jadi tremor. Huuu…

Dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Aku terus menjahit, menggunakan bahan kiriman Didi, juga mengambil dasterku yang sudah sobek tapi kainnya masih bagus, mengumpulkannya pada Didi dan Zea 15 masker dalam waktu seminggu. Membuatku nangis tak bisa tidur beberapa malam. Hanya 15 masker seminggu. Alangkah lamanya, lambatnya kerjaanku. Kegelisahan itu juga bercampur dengan segala berita yang masuk tanpa henti lewat jaringan sosial media maupun Wa-ku. 

Aku merasa sangat tidak berdaya. Tapi minimal, aku masih bisa menjahit, sedikit-sedikit setiap hari, tapi aku tetap menjahit. Aku terus berpikir bahwa banyak orang butuh masker. Penularan Covid 19 ini bisa dihalangi sedikit oleh masker. Sedangkan masker dari pabrik sudah langka pun harganya mahal. Aku paham kalau kebutuhan masker yang besar ini tak mungkin aku penuhi sendiri. Hanya berpikir sebuah ide: kebutuhan ini hanya bisa dipenuhi jika satu orang saja dalam sebuah keluarga mampu dan mau menjahit masker untuk diri sendiri dan keluarganya. Kalau sisa baru dibagikan ke tetangganya. Tapi kan itu ide yang ideal banget. Wong kebanyakan yang aku ajakin njahit kemudian bilang:


“Aku tak bisa njahit.” Kujawab: Pakai tangan bisa kok. (Tapi tetep, tak bisa njahit. Titik.)

“Aku tak punya bahannya.” Kujawab: Kucariin bahannya. Kain, karet dan benang tinggal bilang saja. (Walau aku juga belum tahu mesti mencari di mana tuh bahan.)

“Aku tak punya mesin jahit.” Kujawab: Entar ada yang mbeliin (Masak? Aku sendiri saja tidak percaya bakal ada orang yang mbeliin mesin jahit.)

“Ndak ada waktu mbak.” Kujawab: Ok, tak apa-apa. Nanti pas ada waktu saja.

“Kusumbang uang saja ya.” Kujawab: Ok, tak apa-apa. Entar kucariin tukang jahit. Langsung ke tukang jahitnya saja, dan kirim masker jadinya ke aku. 

Aku ndak mau menerima duit. (Walau kemudian ada juga seorang dari antara ibuku baik hati  (ingat kan kalau aku pernah cerita bahwa aku punya banyak ibu) yang tetap memberikan sejumlah rupiah untukku, katanya untuk beli kain, atau untuk bensin atau apa saja kebutuhan-kebutuhan kecil tentang masker. No rekening keuskupan dan caritaslah yang kusebar ke siapa pun yang ingin ikut penggalangan dana. Aku menggalang masker saja. Terimakasih, ibu. (Aku tak boleh menyebutkan namanya, jadi kusebut saja dengan cinta dalam hati)) (Bersamaan dengan ini aku juga menjahitkan skoret untuk rumah sakit dari bahan yang dikirimkan oleh beberapa orang. Seorang kekasihku, sekumpulan ibu bapak, dan juga dari  pribadiku, plus dibantu Caritas Tanjungkarang untuk sebagian ongkos jahitnya. Bisa membuat 80 skoret dari kain oxford, luar biasa. Aliran ini membuatku bisa mengatasi susah tidur di awal wabah Covid. Bayangkan, Yuli tak bisa tidur. Itu pasti sudah sangat keterlaluan, wong biasanya dimanapun kapanpun masalah apapun aku bisa tidur lho.)


Kembali tentang masker kain. Jadi, kemudian aku minta tolong ke Bernard untuk memotret aku pas lagi njahit. Kuposting foto itu di beberapa grup. Beberapa respon membuatku berkobar apalagi kemudian ada yang memberikan tawaran bahan-bahan, alat jahit dan sebagainya. Beberapa orang kunci kukontak secara pribadi. Sambil aku terus njahit. 

Pada selang beberapa hari setelah itu, aku percaya diri kontak 3 suster di Susteran CB Tanjungseneng, Susteran FSGM di Pasirgintung dan Susteran HK di Pahoman.

“Sr, saya membutuhkan tempat untuk mencuci masker-masker.”

Pertanyaan mereka tentang berapa masker yang sudah terkumpul tak bisa kujawab.

“Hanya melihat kemungkinan saja, sr.” 

Tentu saja. Saat itu aku tidak benar-benar tahu berapa masker yang akan terkumpul. Berapa orang yang beneran ikut menjahit. Dan aku membuat 3 posko cuci? Hehehe… lebay. Begitu pasti pikiran mereka sekalipun aku menggunakan nama Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Terlebih ketika aku sebut sejuta masker (walau dalam hati aku bertekad, tak perlu sampai sejuta masker kain dijahit virus ini harus sudah lenyap). Tapi mereka dengan semangat menyetujui untuk mencuci masker-masker kain yang akan terkumpul.

Pemerintah Indonesia tidak mempunyai sistem yang memadai untuk menangani dan mengatasi virus Covid. Di awal penyebarannya, virus ini dianggap hanya sebagai pengganggu ekonomi saja sehingga strategi yang dibuat adalah ketahanan ekonomi termasuk ngomong tentang pariwisata. Padahal yang pertama-tama adalah bagaimana virus ini tidak masuk dalam tubuh manusia dan saling menularkan. Pun begitu kasus-kasus yang menimpa tenaga medis kita. Sedih sekali melihatnya. Belum lagi program-program lanjut yang mestinya dilakukan, aku tidak melihat yang signifikan membantu masyarakat untuk bersiap terhadap virus ini.

Jadi, ayo perkuat pertahanan diri. Kita tak bisa mengandalkan pemerintah kita untuk keselamatan diri kita dari Covid, tapi kita bisa melakukan untuk diri kita sendiri dan keluarga kita, serta komunitas dalam lingkar pengaruh kita. Jaga jarak, rajin mencuci tangan, tidak memegang wajah usai memegang barang atau apalah-apalah, jaga kebersihan, jaga stamina tubuh, memakai masker kalau memang terpaksa harus bertemu dengan orang lain.

Kami melakukan aksi #sejutamaskeruntuklampung. Di tulisan selanjutnya akan aku tunjukkan siapa saja yang termasuk dalam 'kami' seperti yang kutulis ini. (Bersambung)