Monday, October 14, 2019

Perjalanan Belitung Asam Manis Pahit (1): Wisata Kuliner Halal Non Halal

Kesempatan perjalanan kali ini membuatku entahlah mau komentar.  Dari berangkat hari Selasa 8 Oktober 2019 sampai balik Lampung Jumat 11 Oktober 2019, buanyak peristiwa terjadi. Ada yang menyenangkan, mengecewakan, bikin marah, bikin sedih.

Rasanya benar-benar campur aduk ndak keruwan. Hal yang paling penting sudah kuposting sebelum ini, yaitu hasil dari pertemuan KKPPMP Regio Sumatera. Klik sini untuk membacanya. Tentang prosesnya ndak usahlah yaaa... ya seperti pertemuan-pertemuan biasa itu. Satu sesi aku ikut presentasi juga, tapi ya seperti itulah. Hehehe...

Nah, kutulis berikut ini hal-hal yang menjadi tujuan utamaku pergi ke Belitung saja ya. Hihihi, tentu saja ini ngikuti hasratku, yaitu, pantai, makan, tempat wisata Belitung Timur dan ssttt... satu hal lagi .... penerbangan kacau balau saat balik Lampung. Rasa nano-nano itu kutulis secara tidak urut kronologis yak. Kumulai dari yang pertama ini, tentang makanan-makanan yang sempat kunikmati di sana.

1. Makanan Hotel yang Sedap

Hotel Golden Tulip Tanjungpandan, tempat kami menginap sangat siippp soal makanan. Makan pagi beraneka jenis, dan senengnya selalu ada bubur. Itu menu yang paling kusuka untuk sarapan selain buah-buahan segar.

Sebagian yang kufoto, ini nih:
Menu makan siang yang pertama. Aku pilih keringan, mi goreng, kusiram acar, ikan bakar, telur kecap, sambel dan krupuk.
Mak nyusss.

Ini pastel isi sayuran yang gurih sedikit manis.


2. Mi Gantung (baca: Mi Gantong, kayak Belitung yang dibaca Belitong) dengan minum Es Jeruk Hamoi.

Ini menu yang pas di lidah dan halal. Bisa dinikmati siapa saja. Mi Gantung ini mi kuning rebus, disiram kuah kaldu udang yang kental denagn toping udang, irisan tahu, kentang rebus, taoge, bakso ikan dan emping. Rasanya mantap gurih. Suka banget memakannya dengan sambel cabe. Kebetulan sekali yang nraktir makan di sini Ci Aling, si pemilik warungnya sendiri, yaitu warung Mie Gantung Laskar Pelangi, Gantung, Belitung Timur. Hihihi... tak perlu bayar sekali ini. Minuman yang paling cocok es jeruk hamoi, yaitu perasan jeruk kunci ditambah buah hamoi kering, tambah gula dan es. Cuccoookkkk....

Mi Gantung

3. Song sui dengan minum jeruk anget.

Song sui
Ini makanan non halal. Rasanya... hmmm kurang masuk di lidahku. Isinya kuah merah yang disajikan panas dengan isi daging dan jerohan babi, juga ada kulit babi goreng, irisan tahu putih dan sawi. Aku tak bisa nelan, terus terang. Aromanya terlalu amis. Yang bisa membuatku memakannya, aku tambah dengan irisan cabe rawit sehingga pedes panas. Walau hanya bisa kumakan sebagian saja tapi si cabe inilah penolongnya.

Usai itu untuk menyamarkan amisnya, usai makan aku gelontor dengan jeruk anget. Huuuu...Lidah jawaku belum bisa menerima. Aku lihat pengunjung lain kok bisa lahap sekali makannya yaaa.... huuuu...

4. Makanan dari laut

Nah, ini andalan yang harus dikejar kalau pergi ke Belitung. Makanan dari laut seperti rajungan, ikan, udang, cumi dan sebagainya patut dicoba sebagai bagian dari wisata kuliner maupun untuk oleh-oleh. Yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh adalah segala jenis krupuk, getas, abon, terasi dan sebagainya yang berbahan dasar ikan atau udang atau cumi.

GEREJA SEBAGAI RUMAH BAGI MEREKA YANG TERASING




Catatan Pertemuan KKPPMP Keuskupan dan JPIC Kongregasi Regio Sumatera
Belitung,11 Oktober 2019

            Keprihatinan dan seruan Paus Fransiskus yang terangkum dalam Buku Arah Pastoral Perdagangan Manusia menjadi inspirasi bagi para penggiat Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan dan Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Kongregasi Regio Sumatera dalam pertemuan di Belitung, 8 – 11 Oktober 2019. Pertemuan ini mencuatkan kesadaran bahwa Gereja harus mengembalikan martabat manusia yang hilang atau rusak akibat perdagangan manusia.
Paus Fransiskus menandaskan bahwa “perdagangan manusia adalah luka yang menganga di tubuh masyarakat masa kini, menjadi bencana bagi tubuh Kristus”. Tokoh orang Samaria dari Lukas 10: 25 – 37 mengingatkan Gereja untuk menghadirkan wajah Kristus pada korban, terlibat bersamaNya menghentikan setiap tahap perdagangan manusia.
Pertemuan KKPPMP Keuskupan dan JPIC Kongregasi se Regio Sumatera berkomitmen bekerja bersama dalam jaringan dengan rekomendasi sebagai berikut :   
1.      Keputusan orang termasuk umat Katolik untuk mencari pekerjaan merupakan motif dominan di balik alasan orang untuk berpindah atau melakukan migrasi. Untuk itu Gereja Katolik perlu memberikan perhatian bagi umat yang rentan terhadap kemungkinan eksploitasi. Pemetaan kelompok rentan harus dan penting dilakukan.
2.      Pendampingan khusus kepada para remaja harus dilakukan sebagai upaya pencegahan melalui kampanye anti perdagangan orang melalui berbagai institusi pendidikan secara berjenjang.
3.      Perhatian khusus perlu diberikan kepada keluarga-keluarga Katolik yang melakukan migrasi ke berbagai daerah di Indonesia maupun luar Indonesia untuk mencegah dampak lanjut terhadap keluarga rentan yang melakukan migrasi. Perhatian yang sama juga harus diperhatikan pada keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarga yang bermigrasi.
4.      Mengingat sulitnya menangani kasus perdagangan orang di fase hilir, khususnya di daerah tujuan maupun transit, maka upaya untuk pencegahan perlu dilakukan sejak dini di berbagai daerah atau keuskupan asal. Untuk itu peran para pastor paroki sangat diharapkan untuk turut mendidik dan memberikan wawasan kepada umatnya yang rentan.
5.      Pastor paroki juga diharapkan untuk melakukan pendataan umat secara berkala melalui sistem administrasi gereja yang sudah ada, sehingga fenomena migrasi bisa dibaca secara jelas pada level paroki. Dokumen administrasi Gereja merupakan instrument pendukung di peradilan, khususnya untuk melengkapi kelemahan sistem administrasi kependudukan pemerintah.
6.      Fenomena migrasi para pencari kerja yang rentan untuk dieksploitasi membutuhkan kajian-kajian serius. Untuk itu masing-masing keuskupan di Indonesia harus memberikan perhatian terhadap fenomena ini, menyiapkan tenaga pastoral dalam bidang migrasi yang kompeten dan mempelajari kajian migrasi secara serius, agar fenomena ini bisa dibaca dan disosialisasikan dengan baik, sesuai konteks lokal secara utuh dan diantisipasi dampak negatifnya.
7.      Mengingat tingginya angka pencari kerja, dan kebutuhan pasar kerja yang berubah dengan cepat maka Gereja Katolik diharapkan terlibat merevitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) baik yang sudah ada, maupun BLK yang baru akan terbentuk agar sesuai dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi mereka. BLK dapat dibentuk di daerah transit maupun di daerah asal.
Hari-hari mendatang dunia akan mengalami kemungkinan resesi global. Krisis di berbagai tempat memicu orang untuk melakukan migrasi karena berbagai sebab. Gereja Katolik perlu mempersiapkan diri untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, dengan tetap membawa kabar gembira bagi mereka yang kehilangan harapan dan tersesat ketika melakukan migrasi. Solidaritas perlu dibangun bersama-sama, dan Gereja  menjadi rumah bagi semua yang terasing.


Belitung, 11 Oktober 2019

RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus
Koordinator KKPPMP Regio Sumatera

NB.
Catatan pertemuan ini merupakan hasil dari pertemuan KKPPMP Regio Sumatera yang dihadiri oleh utusan dari keuskupan-keuskupan dan kongregasi yang ada di Sumatera. Kegiatan difasilitatori oleh RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus, Koordinator KKPPMP Regio Sumatera dengan narasumber RP. Eka Aldilanta OCarm (Jakarta), Ch. Dwi Yuli Nugrahani (Lampung) dan Dominggus Elcid Li (Kupang).

EKM Sibakjamano: Aku dan Kamu Setara di Mata Allah

Kesempatan yang begini nih selalu menyenangkan hatiku, yaitu bertemu dengan orang muda. Kali ini orang muda Katolik yang berada dalam wilayah Sibakjamano (Sdidomulyo, Bakauheni, Jatibaru, Margoagung dan Sribawono). Mereka berkumpul di Rawa Selapan, Lampung Selatan pada Sabtu - Minggu, 28 - 29 September 2019.

Kehadiranku pertama-tama karena ajakan dari Komisi Kepemudaan, RD. Gregorius Suripto dengan alasan tema yang diangkat dalam kegiatan ini yaitu: Aku dan Kamu Setara di Mata Allah. Ditambah dengan beberapa keterangan dari panitia penyelenggara beberapa minggu sebelumnya, aku pun memastikan hadir dengan mengajak Mas Hen. Tak perlu rayuan, karena dia pasti senang hati untuk ikut pergi.

Hadir sekitar 200an peserta dari berbagai daerah. Dan tentu saja seperti biasa mereka sangatlah beragam, pun dengan kehebohan yang tak bisa distop dari awal hingga akhir.

Dalam sesi aku menyampaian beberapa konsep sadar adil gender yang paling dasar untuk menandaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki martabat yang sama sebagai ciptaan Tuhan. Peran-peran pun bisa dijalankan secara adil oleh kedua pihak sebagai mitra sejajar dalam berbagai ranah kehidupan.

Aku dan Mas Hen menyediakan diri untuk sharing dari pengalaman kami berdua membangun komunikasi mulai dari pacaran hingga berada dalam rumah tangga. Beberapa data kutampilkan untuk menguatkan hal itu. Tentu saja dengan memberi catatan penting misalnya tentang kekerasan dalam berpacaran.

Thursday, September 26, 2019

Kurdas Angkatan XXIV Kopdit Mekar Sai Tahun 2019

Pendidikan adalah salah satu pilar utama koperasi kredit. Kopdit Mekar Sai melakukannya dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah Kursus Dasar (Kurdas). Kali ini digelar angkatan XXIV, diikuti 47 peserta dari berbagai unit yang ada di Mekar Sai, plus 5 orang dari Kopdit Mardi Siwi. Diselenggarakan di ruang meeting Kopdit Mekar Sai Jln Juanda Pahoman Bandarlampung, Jumat sore - Minggu siang, 20 - 22 September 2019.

 Materi-materi yang disampaikan merupakan pendasaran bagi aktifis koperasi dan diharapkan mereka lebih dalam lagi memahami nilai-nilai koperasi dan mendalaminya dalam gerak hidup mereka sehari-hari. Di Kopdit Mekar Sai ada materi-materi pokok untuk kurdas yang terbagi dalam 11 sesi, yaitu: Dasar-dasar berkoperasi, peran pendidikan dalam koperasi kredit, peran dan tanggungjawab pengurus pengawas, peran dan tanggungjawab manajer, struktur organisasi kopdit, AD/ART SOM/SOP Mekar Sai, tatakelola koperasi kredit, peran perempuan dalam koperasi kredit, financial literasi dan anggaran belanja keluarga, sistem akuntansi kopdit, dan produk simpan pinjam.

Sekian banyak materi itu harus tuntas diikuti oleh semua peserta selama tiga hari itu. Bagiku ini merupakan pengalaman pertama hadir dalam kurdas karena posisiku sebagai pengawas kopdit sekaligus menjadi anggota panitia pendidikan Mekar Sai. Dan aku senang banget terlibat didalamnya untuk materi peran perempuan dalam koperasi kredit. Aku mengubah judul sesi menjadi: Perempuan dan Laki-laki sebagai Mitra Sejajar dalam Kopdit. Judul ini bagiku lebih tepat.

Bagian lain yang membuatku senang saat memberikan materi ini adalah karena keseimbangan jumlah peserta perempuan dan laki-laki, Memang sih para bapak lebih banyak tapi tak berbeda jauh. Ini bisa menjadi pendasaran sikap personal mereka dalam keluarga maupun dalam organisasi atau masyarakat.

Aku dari awal sudah meniatkan untuk ikut semua sesi supaya aku bisa mengulang belajar semua materi yang pernah kupelajari dulu. Tapi apa daya, ada juga beberapa sesi yang tak bisa kuiikuti penuh karena mesti ngacir ke tempat lain. Paling tidak dua materi lain bisa full kuiikuti karena aku menjadi moderator. Dan juga sesi sebelum aku jadi moderator atau mengisi sesi kuusahakan aku bisa menghadirinya sehingga menjadi sambungan saat aku maju.

 Di bagian penutup, peserta memberikan evaluasi terhadap seluruh proses. Banyak yang menuliskan di lembar evaluasi soal waktu yang kurang lama bahkan beberapa sesi tidak memungkinkan ada dialog atau tanya jawab. Nah, semoga mereka tetap semangat mengikuti info dari Mekar Sai dan antusias hadir jika ada pelatihan yang selanjutnya.

Wednesday, September 25, 2019

Komentar Puisi: MENANGKAP PESAN DALAM PUISI SRI WAHYUNI

Awalnya aku menerima puisi ini dalam kolom komentar FB, ditulis oleh Sri Wahyuni. Aku sudah kadung berjanji untuk komentar seperti yang diminta penulis, jadi kulakukan dalam bentuk seperti ini supaya menjadi sarana belajar bagiku maupun bagi orang lain yang mau.  
Puisi ini tidak hanya dipasang dalam kolom komentar statusku di FB tapi juga disiarkan lewat beranda FB penulis (mungkin juga dipublikasikan di tempat lain). Secara lengkap, inilah puisi itu. Aku ambil dari status FB penulis, 19 September 2019, yang sudah lengkap dengan judul, tanpa kuubah apa pun kecuali membuat besar seluruh huruf judul dan meletakkan nama penulis di bawah judul.

MENYIANGI MALAM
Puisi Sri Wahyuni


Renungan kecil burung kenari 
Menari-nari menghiasi lembar ini 
Satu persatu peristiwa kembali


Selamat pagi kau mentari
wajahmu berseri
Kau membuka hari
Alunan syair lagu menemani


Mentari semakin meninggi
Kenari kecil bersiap mengejar mimpi
Mimpi membangun ibu pertiwi


Saatnya terbang mengikuti angin
Sayap kecil melawan dingin
Menjemput impian yang ia ingin


Terkadang sayapnya patah
Kenari kecil tak pernah menyerah
Ia tetap berjuang meski berdarah


Saat senja mulai tiba
Mentari mulai kembali keperaduannya
Kenari pun kembali ke sarangnya


Saat gelap menyelimuti senja 
Ia pun berpasrah pada Pencipta
Ia bertanya
"Sudah aku menjadi berkat
bagi sesama?"

Aku termasuk orang yang malas mengomentari puisi karena butuh waktu yang lamaaa untuk ngungkapinnya. Tapi karena aku sudah berjanji untuk komentar, seperti biasa aku memulai dengan pertanyaan,”Apakah puisi ini memang sebuah puisi?” Untuk menjawab itu tentu saja aku spontan menyandingkannya dengan syarat-syarat sebuah puisi yang biasa kupakai untuk mengukur diriku sendiri saat aku membuat puisi. Tapi aku tidak mau mengomentari seluruh unsur yang harusnya ada dalam puisi, entar malah jadi seminar tentang puisi pula yang isinya ceramah Yuli Nugrahani. Huhuhu. Aku menuliskan yang ingin kutulis saja. Kapan-kapan kita rumpiin yang lebih lengkapnya ya Bu Sri Wahyuni. Akur? Hehehe.

Hasil dari Membaca
Aku memilih untuk mencermati diriku sendiri saat membaca puisi ini yaitu apa yang aku rasakan saat membacanya, dan apa yang aku pikirkan kemudian. Aku menancap pada judulnya: Menyiangi Malam.
Kata menyiangi (kata kerja) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti:
(1) mencabuti rumput, semak, dan sebagainya; menebangi dahan kayu di kebun dan sebagainya supaya bersih: menyiangi sawah; menyiangi semak-semak;
(2)  membersihkan (ikan dan sebagainya) sebelum dimasak;
(3)  mencabuti. menyingkirkan, menghilangkan gulma
Kata dasarnya adalah siang, yang berarti terang, atau bersih.
Sri Wahyuni menggunakan frasa ‘menyiangi malam’ sebagai judul. Aku mengartikan ini sebagai ‘melakukan sesuatu sehingga malam menjadi terang atau bersih’. Seperti membandingkan malam sebagai hamparan sawah dan si subyek ‘menyiangi’nya. Walau begitu, Sri tidak menunjukkan banyak bagaimana si subyek menyiangi malam, malah si subyek mewujud dalam seekor kenari kecil yang memulai hari dengan menyapa pagi, bersiap, mengikuti angin dan berjuang, hingga dia masuk ke peraduan saat senja datang. Saat malam (dalam puisi ini dikatakan: Saat gelap menyelimuti senja):
Ia pun berpasrah pada Pencipta
Ia bertanya
"Sudah aku menjadi berkat
bagi sesama?"
Di bagian inilah judul itu muncul. Hmmm…rasanya sangat kurang bagiku yang kadung kepo dengan judulnya yang indah.
Judul adalah senyuman dari sebuah puisi. Bagiku sendiri saat menulis bentuk apa pun, membuat judul menjadi bagian yang sulit (lihat saja judul bukuku yang uhuk-uhuk: Pembatas Buku, Daun-daun Hitam, Salah Satu Cabang Cemara dan Sampai Aku lupa. Keempatnya pernah diprotes banyak orang sebagai judul, padahal aku meletakkan filosofi yang mendalam dalam setiap kata yang kupilih. Hehehe.) Kalau senyuman itu tidak terbentuk, sangat susah orang mau datang pada puisi tersebut. Atau kalau senyumnya kelewat lebar tidak sesuai dengan puisinya pasti akan membuat orang menjadi kecewa. Nah begitulah. Harusnya menyiangi malam itu bisa ‘babar’ ke banyak bait.  Salah satu tips yang biasa kupakai untuk membuat ‘babar’ (Iki bahasa opo ya? Hihihi) adalah dengan mengenali setiap subyek dan obyek yang kita gunakan dalam puisi. Cari referensi sebanyak-banyaknya sehingga tahu perilaku dari tiap subyek dan obyek. Tentu saja ini mesti sebanding dengan pemahaman tentang tema yang kita ambil.

Melihat Pesan
Aku melihat satu unsur dalam puisi yang tampak dalam puisi Sri Wahyuni ini: pesan (Unsur dalam ada beberapa, seperti: tema, pokok pikiran, rasa, nada dan pesan. Sedang unsur luar antara lain diksi, imaji, majas, ritme dan sebagainya). Pesan kuat yang kutangkap dalam puisi ini: setelah bekerja sepanjang hari, saat malam menjadi waktu yang tepat untuk melihat apakah aku sudah menjadi berkat bagi sesama. Atau, bisa jadi ini tentang perjalanan hidup manusia dari lahir hingga menjelang kematian.
Karena puisi kuanggap bentuk komunikasi maka puisi harus memuat pesan dan dibaca oleh seseorang atau banyak orang. Si penulislah yang menjadi pembawa pesan, sedang pembacanya adalah penerima pesan. Saat puisi ini dibaca kembali oleh penulisnya suatu ketika nanti, manfaat besar pasti akan didapatkan oleh si penulis karena dia sudah ‘merefleksikan’harinya lewat burung kenari yang kecil, untuk mengingat masa saat dia menulisnya. Bagiku, si pembaca, pesan sederhana ini sudah pernah kuterima lewat berbagai cara entah sejak kapan, berulang-ulang, jauh sebelum aku membaca puisi ini. Namun ketika aku membaca puisi ini, aku diberi kesempatan lagi untuk meneliti diri sendiri, mengikuti ajakannya di bait terakhir.
Selain itu aku diulik untuk mengembangkan imajinasi tentang burung kenari. Aku ingat aku beberapa kali menggunakan burung kenari dalam puisiku misalnya puisi Gerbang Sunya:
Sepenuh daya aku menahan suara
menyembunyikannya di paruh kenari
menguncinya di putik bunga kasturi.
Kenari adalah burung yang indah lincah dengan suara yang menawan. Dia cocok sekali untuk menggambarkan segala kesibukan seorang ‘perempuan yang ibu dan pekerja, macam aku. Mungkin seperti itu jugalah penulis puisi. Pun itu disertai dengan kesadaran bahwa bisa saja ‘sayapnya patah’, dalam dinamika hidup yang naik turun.
Jadi sangat tepatlah jika ‘Saat gelap menyelimuti senja’ bisa dimanfaatkan dengan baik untuk refleksi dan mawas diri. Melihat apakah ‘sudah aku menjadi berkat bagi sesama’.

Mengedit Puisi
Aku ingat salah seorang guru puisiku (aku punya banyak guru puisi) mengatakan : “Jangan menulis puisi pada saat marah.” Aku melawannya dengan tetap menulis puisi saat marah, saat sedih. Tapi aku akan mengedit puisiku dalam situasi yang gembira, saat sehat, saat jernih dan saat hening.
Nah, ini yang ingin aku bocorkan pada anda sekalian tentang beberapa hal yang aku perhatikan saat mengedit puisi-puisiku (Note: seringnya belum berhasil. Butuh kerja super-super keras. Yuli Nugrahani ini masih penyair kagol dan mogol.)
1.   Menyesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia yang benar. Puisi tidak terikat pada ejaan. Tapi penyair harus tahu ejaan yang benar dari bahasa yang digunakan. Kalau menulis memakai Bahasa Indonesia, maka dia harus paham ejaan Bahasa Indonesia yang benar, dan memastikan tahu alasan penggunaannya andai memang harus melanggarnya. Ini soal remeh temeh yang penting tentang huruf besar atau kecil, tanda baca, spasi dan sebagainya.
2.  Aku punya kamus Bahasa Indonesia dari jaman jebat tapi seringkali menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia daring untuk memastikan makna kata yang kugunakan. Selain itu thesaurus juga sangat bermanfaat untuk melihat lebih lanjut  pilihan kata yang bisa digunakan. Ini termasuk juga memastikan penggunaan majas yang tepat, tidak lebay, tidak berulang secara sia-sia.
3.  Aku mencermati secara khusus subyek dari tiap baris puisi walau kadang subyek itu tidak tertulis. Selain itu juga tentang penggunaan kata-kata sambung seperti dan, yang, dan sebagainya. Puisi harusnya menampilkan kalimat secara padat, jelas dan penuh makna karena ruangnya yang sempit. Maka tiap kata yang muncul di situ harus benar-benar punya makna. Kalau tidak ada maknanya atau tidak menambah makna yo buang aja.
4.   Melihat logika kalimat, keterkaitan antar kalimat, dan sebagainya juga penting. Dan ini bisa sangat sulit bagi penulis romantis macam aku. Puisi bisa saja tidak logis dalam pandangan umum, tapi penyair harus tahu logikanya. Gitu deh kuncinya. Juga aku pernah diingatkan oleh guruku yang lain soal redanden (pengulangan makna kata yang tak perlu) biar ndak lebay.
5.  Nah, yang paling sulit bagiku dan aku sedang belajar saat ini adalah tentang irama puisi. Bagaimana irama bisa hadir secara tepat, mengalir dan tidak dipaksakan. Ini kaitannya dengan kehadiran konsonan dan vokal dalam kata-kata yang saling mengait dalam satu larik dengan larik lainnya. Di sini nih fungsi membuka dan membaca thesaurus. Membacanya secara lisan bisa membantu kita menemukan irama yang tepat.
6. Tipografi puisi terkait perwajahan puisi. Ini bisa sangat penting-ting-ting untuk membantu keindahan puisi. Juga membantu para pembaca untuk memahami puisi. Pastikan alasan yang tepat untuk membuat tipografi bentuk-bentuk tertentu.
7. Baca puisi itu berkali-kali. Keras-keras. Kalau perlu di depan cermin. Untuk melihat keseluruhan puisi itu. Berulang kali.
8. Edit kembali puisi sampai benar-benar tak ada yang bisa diedit dari puisi itu. Saat editing, berlakulah sebagai pembaca, bukan penulis puisi yang sering jatuh pada rasa ‘sayang’. Bantailah puisi itu seolah-olah puisi itu ditulis oleh orang lain. Potong, tambah, buang, ubah, hingga tak ada lagi yang bisa diedit dari puisi tersebut. Aku kadang butuh waktu berminggu-minggu untuk satu puisi, bisa lebih. Kadang-kadang jadinya malah bubrah. Huhuhuuuu… pokoke edit, edit, edit, edit…
Nah, sudah panjang nian kutuliskan. Semoga ini bisa memenuhi sedikit harapan Sri Wahyuni ketika meminta komentar saya tentang puisinya. Jika kelebihan yo dihapus saja, bu. Kalau kurang yukkk… kita ngerumpi puisi bersama-sama sambil ngebakso, ngopi atau apalah-apalah gitu. Jangan berhenti menulis puisi, karena puisi membuat kita menjadi semakin manusiawi. Yuhuiiii…. *** (Yuli Nugrahani, Bandarlampung, 25 September 2019)

Tuesday, September 24, 2019

Lingkar Diskusi Gender KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang: Stop KDRT

Lingkar diskusi gender kembali digelar oleh Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Kali ini KKPPMP bekerja sama dengan Komisi Keluarga Keuskupan Tanjungkarang dan LDA YPSK/Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Tanjungkarang, bertempat di Wisma Albertus Pahoman pada Selasa 17 September 2019 dihadiri oleh 36 orang dari berbagai kelompok kategorial yang ada di Keuskupan Tanjungkarang.

Pemantik diskusi kali ini adalah Rm. Ign. Supriyatno MSF, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Tanjungkarang mengambil tema Kekerasan dalam Rumah Tangga. Rm. Supri mengacu pada RUU anti kekerasan seksual, yang merinci beberapa jenis kekerasan seperti pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, pemerkosaan, pemaksaan erkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual dan penyiksaan seksual.

Untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga Rm.Supri mengajak peserta melihat kembali makna keluarga,"Definisi Perkawinan berdasarkan pada Deklarasi Hak Asasi Manusia adalah ikatan lahir-batin antara laki-laki dan erepuan dengan tujuan membentuk keluarga yang utuh dan bahagia. Tujuannya adalah agar tercipta rasa aman dan bebas sesuai dengan haknya masing-masing."

Diskusi berlanjut untuk mendalami beberapa point yang muncul dari pernyampaian materi Rm. Supri. Beberapa peserta sharing pengalaman tentang pengalaman mereka dalam keluarga maupun menerima curhat dari keluarga-keluarga lain. Peserta juga diperkaya dengan paparan dari KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang maupun dari LDA YPSK yang memberikan pendampingan di berbagai daerah di Prov. Lampung. Yang paling menguat adalah keinginan untuk menjalin kerjasama lintas lembaga/kelompok dengan program yang jelas sehingga mempunyai dampak signifikan bagi masyarakat Lampung.

Lingkar diskusi ini diharapkan menjadi wadah saling belajar dan berkomunikasi khususnya dalam bidang gender. Bukan menjadi pekerjaan baru tapi diharapkan konsep keadilan dan kesetaraan gender terus digelindingkan dalam gerak organisasi masing-masing.

Di bagian akhir, peserta mengusulkan beberapa tema lanjutan dalam diskusi selanjutnya, seperti:

-   Program konseling sebagai roll model. 
- Belajar menjadi orang yang arsetif jika  mendapatkan curhat dan tahu bagaimana mencari pemecahan masalahnya. 
- Mengajak orang muda menjadi agen perubahan, harapannnya menyasar orang muda sebagai sasaran strategis untuk membangun pondasi yang kuat dalam persiapan orang muda berkeluarga 
-   Materi Gender (modul) dapat dikembangkan di sekolah-sekolah 
-  Melibatkan orang lain untuk  diskusi bersama 



Thursday, September 19, 2019

Rakernas Forum Pendamping Buruh Nasional 2019: Perjumpaan yang Menggerakkan

Tahun ini Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) sudah melewati pertemuan tahun yang ke 21 pada tahun ini. Bertempat di Jakarta, 30 Agustus - 1 September 2019. Tema yang diangkat sangat menarik: Perjumpaan yang Menggerakkan. Lebih menarik ketika masuk dalam sesi-sesinya, mulai dari pembukaan oleh Mgr. Ign. Suharyo, yang memberikan harapan terhadap keberlangsungan gerakan perburuhan ini.

Hari pertama dan kedua diisi dengan rekoleksi oleh Rm. Bimo Nugroho OFM yang mengingatkan kami semua tentang semangat cinta kasih dalam pelayanan. Ada banyak poin kucatat dalam sesi Rm. Bimo ini. Entar kutulis pelan-pelan, kalau ingat, hehehe....

Bagian akhirnya adalah re-organisasi dan re-skedul kegiatan FPBN. Aku berharap semangat ini terus berkembang.






Tuesday, September 03, 2019

PSE Regio Sumatera 2019: Revitalisasi dan Reorientasi Credit Union

 Kesempatan menarik aku dapatkan dalam Agustus tahun ini, secara tidak sengaja. Semingguan sebelum hari H, kebetulan aku ketemu Rm Ucok, Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) di dekat tangga kantor. "Kurang satu peserta, ikut ya mbak."

Begitu tahu temanya aku langsung ya saja, ndak pikir panjang. Mumpung aku memang sedang belajar tentang koperasi, apa pun kesempatan untuk belajar dengan siapapun, di manapun ya aku samber saja. Mau sajaaa...

Kegiatan berlangsung dari 19 - 23 Agustus 2019 bertempat di Matow Way Hurik, Tanjungseneng, dihadiri oleh utusan-utusan Komisi PSE dari keuskupan-keuskupan di Regio Sumatera. Lebih menarik lagi ketika tahu narasumber yang datang adalah orang-orang hebat yang kompeten di bidangnya.

Pak Siman, senior yang kuhormati, ketua Puskopdit Caraka Utama, Provinsi Lampung menjadi narasumber pertama di sesi awal. Pak Siman menceritakan perjalanan koperasi kredit di Provinsi Lampung.

"Mulai tahun 1974 dengan penggerak-penggerak awal seperti Sr. Leonardi FSGM, sehingga sekarang kita juga masih melihat jejaknya. Kopdit St. Clara adalah kopdit yang pertama-tama dirintis, lalu Bunga Tanjung dan seterusnya." Papar Pak Siman.

Dari beberapa kegiatan awal itulah kemudian kopdit-kopdit berkembang di Lampung. Menemui dinamikanya naik turun tapi hingga sekarang kopdit terus menjadi salah satu yang memberi dampak bagi perekonomian masyarakat.

Narsum yang berikutnya adalah Pak Haryono Daud, ketua Kopdit Mekar Sai. Pak Har mengingatkan hal-hal penting yang harus ada dalam kopdit. "Setiap koperasi harus menempatkan setiap anggota koperasi sebagai orang terhormat. Karena itulah pusat layanan koperasi atau kopdit adalah anggota."

Narsumber yang paling lama menemani peserta pertemuan adalah Rm. Fredy, yang menegaskan berbagai nilai baik dalam koperasi, dengan spiritualitas utama: pertobatan, solidaritas dan gerakan pemberdayaan.

"Koperasi yang kehilangan satu saja spiritualitas itu patut dipertanyakan." tandas Rm. Fredy.

Misi CU adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara fisik, moral dan spiritual melalui pemberdayaan dan layanan keuangan yang berkualitas.

CU mempunyai misi sosial untuk membantu keluarga miskin dan kurang beruntung. "Ukurannya adalah jumlah anggota yang telah meningkat kualitas hidupnya."

Rm. Fredy menyandingkan ukuran finansial dan sosial sehingga koperasi bisa benar-benar menjalankan misi sosialnya itu. "Tanyalah ke anggota kebutuhan mereka, lalu lakukan dalam kelompok-kelompok. Selalu mulai dari apa yang ada, apa yang dimiliki," ujar Rm. Fredy.

Setelah belajar dari para narsum, peserta diajak untuk mengunjungi kopdit-kopdit yang ada di Lampung. Aku kebagian kunjungan ke Kopdit Artha Mandiri di Pringsewu. Dari sana aku bisa mendapatkan banyak hal real, bukan hanya masalah tapi juga alternatif-alternatif pengembangan yang bisa diduplikasi oleh kopdit lain.

Wednesday, August 28, 2019

Nonton Karnaval Kagol, Tapi daripada Kecewa yukk Tertawa

Sejak beberapa hari aku sudah menjadwalkan tanggal 25 Agustus mau nonton Tapis Carnival yang diadakan oleh Provinsi Lampung dalam rangkaian Festival Krakatau. Maka aku pun menyiapkan untuk pergi secara khusus, menyiapkan diri dengan baik. Sementara inilah sebagian kecil foto yang diambil dalam agenda ini.

Favoritku





Ini yang paling asli. Njogrok di bawah pedagang siomay sambil mencela-cela.
Aslinya memang aku kecewa. Karnawal ini tak memenuhi 20% ekspektasiku. Huh. Lampungku, Lampung tercinta, kapan kau mau belajar dari pengalaman? Huh. Huh. Huh.

Bersatu dalam Satu Tampah: NKRI, Merdeka!

Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 tahun ini di Blok C Perumahan Polri Hajimena Lampung Selatan terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ini pertama-tama gegara para bapak di gang rumahku berada, sejak masuk bulan Agustus mereka berkumpul tiap malam di rumah Pak Putu sebelah rumah untuk merancang segala sesuatu. Pertama, mereka mengusahakan ada bendera-bendera kecil untuk sepanjang gang, kedua mereka juga membuat penjor merah putih yang dipasang di tiap rumah, ketiga pun mereka mengusahakan bambu-bambu untuk memasang hiasan-hiasan itu, keempat masih pula mereka memasang lampu di mulut gang dan di pos ronda dan kelima, mereka mengeluarkan pot-pot diletakkan di atas selokan sehingga gang menjadi lebih asli.

Kegembiraan bapak-bapak yang kompak itu pun mudah sekali menular kepada orang-orang lain. Jadi kalau mereka berkumpul tiap malam, pasti ada kopi dari Bu Putu, terus ada cemilan-cemilan. Begitu terpasang memang tampak kalau merah putih membuat gang masuk ke blok C perumahan Polri Hajimena ini menjadi semarak.

Menjelang 17 Agustus kemeriahan semakin terasa olehku karena lewat grup WA para ibu dikabarkan beberapa lomba-lomba yang akan diadakan di Blok A. Bu RT kami yang keren pun mengkoordinir para ibu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu.

"Tak penting menang atau kalah, yang penting kita silahturahmi dan terlibat bersama warga," itu pesan Bu RT, atau yang biasa kami panggil: Mami.

Salah satu lomba yang akan diikuti ibu-ibu adalah lomba tumpeng. Maka rapat-rapat berantai pun dilakukan lewat grup WA, sehingga ada kesepakatan bahwa setiap orang membawa bahan sesuai dengan yang dimaui atau disanggupi lalu dikumpulkan di rumahku pada hari H untuk bersama-sama dihias sebagai tumpeng yang indah.

Aku menyanggupi menyediakan tampah dengan pernak-pernik yang dibutuhkan. Maka usai mengikuti jalan sehat pada tanggal 18 Agustus pagi, aku mulai menghias tampah dengan daun pisang, memberi pelapisnya di bagian tepi hingga siap untuk menjadi wadah tumpeng. Kubalut bagian pinggir tampah dengan kertas merah putih, lalu kusediakan beberapa bendera kecil merah putih dengan tiang dari tusuk sate, juga tulisan dirgahayu kemerdekaan RI pada kertas warna merah untuk menandai tumpeng.


Usai arisan ibu-ibu yang kebetulan diadakan pada hari yang sama, satu persatu ibu di blok C pun berkumpul, membawa bahan-bahan masing-masing juga kegembiraan untuk bekerja bersama. Bu Tir yang ahli membuat garnish sudah siap dengan bunga-bunga cantik dari bahan yang ada. Ibu-ibu lain membawa nasi kuning, kering tempe, kering kentang, tahu tempe bacem, telur rebus, ayam bumbu, mi goreng, urap, lalapan, kerupuk dan lain-lain.

Proses yang heboh menghasilkan tumpeng yang heboh, cantik. Asli. Membuat kami antusias. Walau Bu RT mengingatkan kita tidak akan terpengaruh menang atau kalah, semua ibu kayaknya sepakat dalam hati: Kita pasti menang. Hehehe...

Tumpeng yang semarak indah itu seperti kondisi Indonesia kita. Beraneka ragam rasa, warna, bentuk, semua bersatu dalam satu tampah, dan membentuk paduan yang indah bagus mengundang minat.

Saat malam hari diumumkan bahwa tumpeng blok C menang, rasanya kami sudah tidak heran lagi. Hehehe... Piala juara satu pun diboyong ke blok C dengan sukses. Tapi aku tetap setuju dengan nasehat Bu RT beberapa kali itu, bahwa yang penting dari semua proses itu adalah silahturahmi, untuk persatuan, untuk persaudaraan.

Tak sabar menunggu tahun depan untuk mengulang kegembiraan ini.

Friday, August 16, 2019

Diskusi Gender KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang: Perempuan dan Laki-laki Diciptakan Setara Menurut Citra Allah

Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang menggelar diskusi tentang gender. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dalam tahun ini untuk belajar bersama tentang gender. Kali ini diskusi diadakan di teras Matow Way Hurik Tanjungseneng, Kamis 15 Agustus 2019 diikuti oleh 10 penggiat dari berbagai kelompok yang ada di Keuskupan Tanjungkarang.

Diskusi mengambil pemantik Surat Gembala KWI 2004 tentang Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah. Pembahas utama, RD Gregorius Suripto mengajak seluruh peserta untuk membaca surat gembala itu dan mencermatinya tiap bagian yang ada mulai dari keprihatinan, kesadaran dan perilaku baru yang harusnya dibangun oleh masyarakat.

"Pelanggaran terhadap martabat perempuan yang menganggap bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai benda, sebagai obyek perdagangan, melayani kepentingan egois dan kenikmatan semata. korban pertama atas hal itu adalah kaum perempuan, menghasilkan penghinaan, perbudakan, penindasan terhadap kaum yang lemah, pornografi, pelacuran, khususnya dalam bentuk terorganisasi," tandas RD. Greg.

Karena itulah kesadaran untuk menghormati martabat perempuan menjadi bagian penting untuk dilakukan. Bahwa manusia itu laki-laki dan perempuan, bukan salah satunya. Yang perlu diingat adalah perempuan dan laki-laki mempunyai peran biologis/seksual yang berbeda, yang tak bisa dipertukarkan, tapi bisa saling mendukung untuk menjalankan peran biologis itu. Sedang dalam peran gender, dua belah pihak harus menjadi mitra, saling melindungi supaya tidak ada satupun yang menjadi korban.

"Kita harus menghentikan paternalistik, tak boleh ada dominasi salah satu jenis kelamin. Perempuan bukan milik laki-laki, entah ayahnya atau suaminya," demikian salah satu point yang mencuat dalam diskusi ini. Seluruh diskusi dipandu oleh Maria Torra Pratiwi, dan rencana tindak lanjutnya akan diadakan diskusi lagi dengan tema pendalaman khususnya tentang kekerasan dalam rumah tangga, dalam masa sebelumnya, mungkin saja bekerjasama dengan Komisi Keluarga dan Komisi Kepemudaan. Dengan demikian ada sinergi dengan semua pihak untuk mengatasi masalah-masalah ketidakadilan gender.




Gerakan Go-Ban untuk Pelita Kasih

Aku dan Pak Willy di kantorku.

Hari Selasa, 13 Agustus 2019 lalu aku kedatangan beberapa tamu luar biasa. Salah satu yang mengunjungi kantorku adalah Pak Willy Darma. Orang tua ini dulu yang mengelola YPSK sekian puluh tahun. Hidupnya didedikasikan untuk masyarakat Lampung, sampai purbabakti beberapa tahun lalu. Salah satu cerita yang dibawa oleh beliau adalah gerakan Go-Ban, yaitu mengumpulkan 50 ribu rupiah tiap bulan sebagai aksi sosial. Kali ini dana yang terkumpul diserahkan unttuk Pelita Kasih.

Pak Willy cerita kalau dia sudah menulis untuk sebuah media tentang gerakan itu dan aku berjanji mau ikut mempublikasikannya kalau tulisan itu dikirim padaku. Baru saja aku mendapatkan email dari beliau dan inilah tulisan itu:

Mereka cacat fisik, tapi mental tidak terganggu dan semangat hebat. (Kalimat ini menyertai foto-foto orang-orang yang hebat dengan tanpa kaki atau tangan dan sebagainya)
Lain ceritanya pada  anak-anak yang berkebutuhan khusus karena  gangguan mental. Yayasan Pelita Kasih di Lampung, adalah salah satu sekolah luar biasa. Di bawah asuhan para suster ALMA, saat ini ada  40 murid yang  mentalnya terganggu. Muridnya ada yg autis, down syndrome, microsephalus, dll, Dilayani oleh 14 guru yang super sabar.

Selain ada Go-Jek, Go-Car, Go-Food, Go-Pay, Wulan Lampung bikin Go-Ban
Mencoba mengumpulkan donor yg bersedia nyumbang Rp 50.000,- /bulan untuk Pelta Kasih.
Kegiatan ini sukarela, tanpa ikatan, terbuka untuk siapa saja
Boleh sumbang lebih, tapi pakai  nama lain. Tujuannnya agar ada pemasukan yg agak rutin.
Agar tidak ada kesan terpaksa atau sungkan, diumumkan lewat group.
Sudah ada dua peserta non Wulan dari Jakarta yang ikut gabung.
Ada anggota yg bulan Mei lalu sedang berobat di Singapur. Begitu baca WA  ia langsung transfer. Ada juga yang setor/transfer bulanan. Ada non anggota yg langsung ikut gabung jadi donor.
Masing orang punya pengeluaran sendiri yg kita tidak tahu.
Jadi kalau ada anggota yang belum gabung, itu tentu mereka punya pertimbangan pribadi.
Mei, Juni, Juli, sudah  ditransfer di atas sejuta. Bulan Agustus, akan jadi 2 juta. Sebagai laporan, tiap bulan dikirim ke group via WA foto bukti transfer dana yg terkumpul, dan nama nama pendonor .

Kunjungan beberapa anggota Wulan ke SLB Pelita Kasih 10 Agustus 2019

(Kapan-kapan aku akan tanya apa dan bagaimana Wulan itu. Kemarin aku ndak tanya. Terimakasih ya, pak Willy.)