Friday, May 12, 2017

Eropa, Aku Datang 9 : Menyentuh Salju Alpen di Grindelwald-First

(Sebelumnya.)

Hari kedua di Swiss, tuan rumahku yang baik sangat paham bahwa tamunya ini berasal dari negeri Katulistiwa nan hangat sepanjang tahun. Salju pasti luar biasa kalau dapat dijangkau. Maka, mereka mengajakku ke arah Alpen untuk menyentuh salju. Aihdah kidah. Mereka bilang tak pernah ke tempat ini, sebuah desa di kaki Alpen karena memang tempat turis. Mereka ini para pejalan namun bukan sebagai turis. Aku pun sebenarnya lebih cocok begitu. Aku tak suka jadi turis, aku lebih suka disebut sebagai pejalan.

But, bagiku ya tetap saja luar biasa. Perjalanan ke Grindelwald First yang tersohor ini, sangat-sangat istimewa. Naik cable car selama belasan menit, mendaki bukit salju, dan segala hal yang kutemui di sana, apa coba yang bisa kukatakan. Para sahabatku ini menyiapkan aku dengan baik. Meminjamiku baju hangat sebagai rangkapan di dalam jaketku, sepatu jalan yang tepat untuk salju, juga keperluan-keperluan lain yang mungkin kubutuhkan.

Dan, really, aku sangat menikmati tempat ini. Lihatlah.






Perjalanan ke arah sana saja sudah luar biasa bagiku. Kalian bisa lihat dari foto-fotoku itu. Yang tak bisa kuceritakan banyak adalah perbincanganku dengan para sahabat ini. Mereka, sahabat-sahabat yang dengan wajar menerimaku, memberikan pelajaran-pelajaran tidak langsung selama perjalanan asyik ini. Jika aku punya kesempatan berikutnya, aku pasti akan melanjutkan pelajaran-pelajaran itu. Sungguh. (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 8 : Zurich yang Rapi dan Bersih

(Sebelumnya.)

Sampai di stasiun Zurich Hb, sekitar pukul 15.00, Nadet sudah menjemputku di platform. Huh. Kalau tidak dijemput olehnya, pasti aku akan hilang dari peredaran dunia ini secara tidak wajar. Hehehe. Lebay. Tapi memang betul itu. Bahasa Jerman digunakan di sana sini di seluruh negeri kecil ini. Semua-muanya tampak asing. Tapi senyum Nadet tentu saja sangat kukenal bahkan dari kejauhan. Lega banget melihat dia.

Sore itu kami berjalan di sekitar kampus ETH Zurich, ngopi di kantinnya, melihat danau Zurich sambil nunggu Silke. Menikmati Zurich sangat berbeda rasanya dengan Italy. Jauh lebih bersih, lebih rapi, lebih aman. Tak kulihat pengemis atau gelandangan. Tak kulihat sampah dan kericuhan. Pokoke jauh lebih beradab.







Itu beberapa sudut yang kutemui saat berjalan di Zurich pada hari pertama di Swiss. Aku merasa betaahhhh... iyalah. Bahkan aku sampai tak tahu kalau Euro tidak laku di sini karena kebaikan hati SuN menerimaku di rumah mereka yang indah.

"Kau adalah tamu kami. Semua kebutuhanmu kami yang tanggung." Waduh. Aku bercucuran air mata, mau apa coba. Ini bagian dukungan Semesta itu. Kau tahu, Langit. Kadang cara bercandamu itu keterlaluan. Huh. (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 7 : Roma Termini - Zurich Hb

Kayak orang hilang
(Sebelumnya.)

Hari ke sekian, pada 7 April aku sudah di stasiun Roma Termini. Udara cukup dingin dan pagi-pagi mesti check out dari Hotel Joli. Keretaku jam 08.00 dari Roma Termini menuju Milano Centrale dengan menggunakan kereta Frecciarossa 9610. Kereta ini terlalu bagus buatku. Hehehe. Nadet dan Silke telah mengupayakan segala yang terbaik untuk perjalanan Roma - Swiss pulang pergi dan selama di sana. Aku ndak tahu lagi mesti ngomong apa ke mereka : Terimakasih, terimakasih, terimakasih.

Kereta ini berhenti di Milano Centrale tempat aku sambung ke Zurich Hb, dengan kereta Eurocity 16 pukul 11.25. Kedua kereta kelas 2 ini super bersih, tepat waktu. Dan aku nyaris tidak bicara apa pun selama di kereta. Tak ada yang bisa kuajak ngobrol. Aku membuka Manuskrip Celistine sesekali. Tidur terputus-putus. Selebihnya adalah mengagumi pemandangan di luar jendela kereta yang terus bergerak ajek, plus pikiran-pikiran yang bergerak antara tubuh, luar tubuh, ... Huaaa... Bahkan saat kualami pun peristiwa itu seperti mimpi. Apalagi dari Milano ke Zurich itu kereta melintasi lembah, bukit maupun terowongan yang menembus Alpen. Hmmm... mau ngomong apa pun tak bisa menampung semua yang ingin kukatakan.

Nah, karena sulit bercerita tentang pengalaman ini dan aku kok ndak menemukan foto apa-apa di kameraku tentang perjalanan ini (padahal seingatku aku mengambil foto-foto juga sepanjang perjalanan. Entah hilang kemana), aku cerita saja yang kualami saat di kereta :

1. Rasanya aku tak pernah memimpikan suasana di atas kereta seperti dFrecciarossa 9610. Aku duduk di gerbong 4 no kursi 5A. Sampingku seorang bapak yang satu rombongan dengan orang yang duduk di depanku. Masih serombongan dengan beberapa orang lain di gerbong yang sama. Sepertinya mereka adalah segerombol orang yang melakukan perjalanan karena pekerjaan. Ini terlihat dari gaya mereka berpakaian (jas rapi sepatu pantofel), bawaan mereka (tas jinjing, laptop, kertas-kertas), juga sesekali antar mereka serius berbincang lalu melakukan kontak memakai HP. Mereka saling komunikasi memakai bahasa Italia. Aku hanya sempat bicara dengan teman dudukku ini saat akan turun, menanyakan apakah betul stasiun itu Milano Centrale. Dia memastikan bahwa itu betul, dan mempersilakan aku keluar kursi.

2. Di seberang kursiku adalah sebuah keluarga Italia. Bapak dan ibu muda, dengan 3 anak. Perempuan, laki-laki dan laki-laki. Anak pertama perempuan dan anak kedua laki-laki sibuk dengan buku-buku yang mereka bawa. Bapak mengajari beberapa hal kepada dua anak itu jika mereka mengalami kesulitan dengan bukunya. Ibu memangku anak terkecil sambil bermain HP. Sesekali bapak dan ibu saling bercakap. Nah, seperti itu sepanjang 3,5 jam di kereta. Ketika si ibu butuh ke toilet, anak kecil dipangku bapak tapi sambil nangis mencari-cari si ibu. Hmmm... Potret yang mirip dengan keluarga-keluarga lain, kukira.

3. Saat aku berada dalam kereta Eurocity 16 dari Milano ke Zurich, penumpang lebih sepi, lebih sering berganti di stasiun yang dilewati. Kursi sampingku kosong, di depanku duduk seorang pemuda asyik dengan buku dan earphone yang tertancap di HP, tanpa suara. Di gerbong 4 no kursi 32. Aku melihat banyak orang semacam turis di kereta menuju Zurich ini. Banyak juga wajah non Eropa. Aku lebih nyaman, dan bisa menikmati bekal nasgor plus telur ceplok, masakan Rm. Indro yang disediakan bagiku, sambil melihat pemandangan luar biasa di luar.

4. Perjalanan ini, atau mirip seperti ini, menurut intuisiku akan sering kualami di masa mendatang. Hmmm... (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 6 : Seputaran Roma


Di pintu belakang KBRI Vatican di Roma.
(Sebelumnya.)

Usai konferensi dua hari di Vatican, acaraku adalah : keliling Roma. Aku tak mau menganggap jalan-jalan seputar Roma ini sebagai sampingan, ini adalah bagian utama juga. Hehehe... Beberapa janji sudah kubuat. Hari pertama usai konferensi adalah hari Rabu. Aku, Rm. Indro dan Br. Yuwono sudah janjian untuk mengikuti audiensi umum Paus yang memang diadakan tiap hari Rabu. Br. Yuwono sudah mendapatkan tiketnya.
Salah satu sudut

Basilika St. Paulus
Usai itu sudah janji untuk bertemu Pak Agus Sriyono, duta besar Indonesia untuk Vatican di kantornya. Ini ngobrol santai tanpa target apa-apa. Menyerahkan beberapa buku. Dan tentu saja, untuk menikmati kehangatannya.

Nah, bagian yang penting juga adalah berjalan di tempat-tempat terkenal di Roma. Aku lupa apa aja saja yang kukunjungi (mungkin Rm. Indro bisa bantu aku.). Kucatat dulu yang kuingat : Colosseum, Pantheon, Fontana di Trevi, Piazza di Spagna, Via de Corso, basilika entah apa saja, (aihdah) dst. dst. (Aku susah mengingat nama-namanya. Duhhh.)

Jadi kupasang saja foto-foto yang bisa kutemukan ya. Lihat, siapa tahu kalian bisa mengingatkan aku kemana saja aku selama dua hari di Roma itu. Ohya, selama keluyuran ini aku menginap di Joli Hotel, dekat dengan Ottaviano Station. Hotel tua yang unik, tapi nyaman. Walau air panasnya sering ngadat, lift kecilnya agak menyeramkan, tapi hotel ini cukup strategis posisinya dan cukup ramah para pengelolanya. Ada sarapan juga yang disediakan, jadi ok banget deh.


Pantheon.







Fontana di Trevi.


Halaman Basilika St. Petrus.




Musium Leonardo da Vinci




Jalanan Roma

Collosseo.

Pelukis jalanan.

Ngikuti hasrat duduk di bawah bunga sakura.


Keterangan dan foto lain-lain kutambahkan nanti yaaa..... (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 5 : Konferensi

(Sebelumnya.)

Senin - Selasa, tanggal 3 - 4 April 2017adalah alasan mengapa aku datang ke Vatican. Aku dibiayai dan difasilitasi oleh Discastery for Promoting Integral Human Development, Vatican, untuk keperluan ini yaitu sebuah konferensi dalam rangka peresmian discastery baru ini (gabungan dari beberapa bidang), dan merayakan 50 tahun Popularum Progressio. Tempat pertemuan di New Hall Vatican, dalam lingkungan Basilica St. Petrus. Ruang besar yang biasa untuk audiensi para uskup dengan Paus.

Diapit Rm. Bonnie dan Rm. Nandana, hari pertama.
Nah, okelah. Acaranya ya begitu itu. Mau bilang apa. Aku tak bisa menangkap 100 persen seluruh perbincangan yang memakai bahasa Inggris, Italia, Perancis dan Jerman. Jadi susahlah menulis hal serius macam tuh, hanya kutangkap sekian-sekian-sekian persen saja. Aku cerita garis besarnya saja deh. Intinya gini : ada 300 or 400 an manusia dari seluruh dunia. Diundang dari seluruh benua yang ada. Sekian di antaranya para suci kardinal, uskup, pastur. Sebagian kecil di antaranya orang-orang awam. Nah yang katrok lebih dikit lagi, dan golongan inilah aku. Ihiks. Aku menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia yang beruntung berada di hall ini bersama mereka.

Beruntung aku ketemu Rm. Bonnie Mendes dari Pakistan (yang merekomendasikan aku hingga namaku masuk daftar Vatican untuk diseleksi hadir), lalu ada Rm. Nandana dari Srilanka yang beberapa kali sudah berjumpa. Dan paling spesial, ada Rm. Niphot dari Thailand. Aku selalu bilang : "Ini salah satu guruku yang kerennnn." Jadi bersama merekalah aku sepanjang pertemuan. Duduk di deretan yang sama. Dan merasa nyaman jika tidak terlalu jauh dari mereka. (Hmmm... sungguh katrok kan.) Dan lagi, peserta dari Asia Tenggara juga sangat minim, hanya dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Philipina.

Nah hari kedua konferensi menjadi lebih spesial karena ada audiensi dengan Paus Fransiskus. Walau tak bisa menyentuh tubuhnya, tapi aku tersentuh suaranya. Ini peristiwa luar biasa. Berada dalam satu ruang dengan paus kebanggaanku.

Bersama Rm. Niphot, hari kedua.
Ada beberapa hal yang menjadi catatanku dari konferensi ini :

1. Seleksi peserta dilakukan dengan sangat personal, tidak terbuka. Jadi yang ikut pastilah ada link sebelumnya dengan para rekomendator dari setiap benua. (Aku beruntung tapi ini tak terlalu fair kurasakan. Hmmm.)

2. Bicara tentang justice and peace, kesehatan, human trafficking juga perkembangan manusia-manusia pasti akan sampai pada masalah kemiskinan. Contoh banyak diambil dari negara-negara Asia, juga disebut data-data dari Indonesia, tapi Asia tak banyak diberi ruang untuk bicara. Huh.

3. Acara besar seperti ini mestinya diperkuat efeknya. How? Bagaimana aku bisa?

Aku menganggap kesempatanku jadi peserta konferensi ini adalah keajaiban. Yang tak terduga. Yang tiba-tiba. Dan seluruhku, prosesku, persiapan hingga seluruh perjalanan, aku hanya mungkin ada kalau aku dibantu Semesta.

Salah satu dari Semesta yang berperan menyemangatiku adalah Mgr. Bernhard, sekretaris Pontifical Justice and Peace, yang terus menyapaku, menyakinkan diriku mendapat yang terbaik selama di negeri asing ini. Laki-laki Kongo ini tak mungkin kulewatkan begitu saja perannya. Thank you so much, Mgr. Undangan ini membuat aku mendapat lagi pengalaman dicintai oleh Semesta secara luar biasa. (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 4 : Hari Pertama yang Hangat

(Sebelumnya.)

Aku datang di Italy pada cuaca yang tepat. Musim semi. Primavera. Sempurna. Bunga-bunga rumput pun kelihatan eksotis. Bunga rumput mekar di mana-mana memamerkan alat kelaminnya eh... sarana reproduksinya. Jadi, kegembiraanku berlipat-lipat. Rm. Indro menjemputku lengkap dengan tiket bis untuk sampai ke Termini, lalu sambung kereta bawah tanah, lalu bis lagi sampai di Via di Torre Rossa. Nah, untungnya, kebetulan sekali Hotel Church Village yang disediakan untukku oleh panitia, hanya sepelemparan batu dari asrama Rm. Indro! Sama-sama di Via di Torre Rossa, jalan kaki tak sampai 5 menit.

Hujan turun saat kami naik bis. Jadi kami mampir ke asramanya dulu untuk ambil payung, mengantarku ke hotel lalu mulailah perjalanan di hari pertama,"Waktu mbak Yuli sempit. Jadi kita nyicil jalan-jalan." Kalau ngikuti tubuh sebenarnya aku sangat capek, pengin berbaring. Tapi mengingat perbedaan waktu 5 jam lebih lambat di Italy, kalau aku ngikuti tubuhku, alamat besok aku bakal terkantuk-kantuk di tempat pertemuan karena jetlag. Jadi jam tangan kusetel mengikuti jam setempat, dan aku siap mengikuti hari sesuai dengan waktu yang berlaku. (Ini berarti aku akan tidur pada jam 10 malam alias sudah jam 3 menjelang subuh di Indonesia.)

Br. Dalijan, Rm. Sugino, me and Br. Yuwono, generalat house of SCJ
Yang pertama disowani, Vatican! Basilika St. Petrus, lalu Basilika St. Paulus. Kesasar saat akan ke Collosseo (aku ledek habis Rm. Indro, si guide tourku ini. Huh. Collosseo pun ditunda.) Kami lanjut ke Rumah Generalat SCJ untuk ngopi dan pinjam kapel. Ini hari minggu, dan si pastur ndak enak hati kalau tidak mengajakku misa. Hehehe...

Di rumah SCJ aku dapat kejutan, selain bertemu Br. Dalijan, Rm. Sugino, ternyata Br. Yuwono ada di sana. Ahhh... jadilah reuni kecil di ruang makan SCJ dengan secangkir capucinno, bolu coklat dan semangkuk asinan strawberry. Hihihi... Hari pertema di Italy, yang kujumpai adalah orang-orang Indonesia, saudara-saudara sendiri. Hebat.

Misa berdua dengan Rm. Indro di kapela SCJyang lengang sangat menyenangkan. Kukira ini suntikan energi yang luar biasa di hari pertama untuk menjagaku sepanjang perjalananku di negeri Barat ini. Thanks, Rm. Indro ytk. Ini sangat tepat.

Dari rumah SCJ kami jalan kaki ke asrama Rm. Indro. Dia mesti ke toilet segera (ih) dan jam makan malam belum mulai. Jadi menunggu jam makan malam dengan jalan kaki ke asrama, lalu jalan lagi untuk belanja buah dan air minum sebelum makan malam di restoran china yang terdekat. Mi kering, nasi putih, telur dadar... enak banget. Padahal makan siang tadi aku pun sudah makan nasi di restoran Philipina di Vatican, tetap aja makan nasi adalah makanan terenak.

Malam itu, sampai di hotel sudah lewat jam 9 malam, aku mandi, berdaster dan ... ahhhh.... malam pertama tidur di Italy kulalui dengan tidur pulas. Siap untuk konferensi esok harinya.... (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 3 : Berangkat!

(Sebelumnya.

Pagi-pagi tanggal 1 April, hari Sabtu, aku bangun sedikit limbung. Koper sudah rapi, tas ransel penuh dengan satu jaket hangat, alat mandi dan satu stel baju tipis. Tas cangklong lengkap dengan dompet, paspor, tiket, kamera, HP, dan beberapa pernak-pernik. Semua sudah siap, tapi aku grogi, kututupi dengan memberi intruksi ini itu ke Albert, Bernard dan bapak mereka. Siang Mas Hen mengantar aku ke bandara Raden Intan Lampung, usai itu aku akan sendiri dalam perjalanan ini.

Garuda terbang dalam cuaca cerah, tanpa turbulence (aku ingat penerbangan Jakarta - Manila sebulan lalu yang full turbulensi membuat aku agak kapok membayangkan terbang), syukurlah. Di Soekarno Hatta aku mesti pindah ke terminal 2, untuk penerbangan selanjutnya dengan Qatar Airways. Aku punya waktu yang cukup longgar sehingga bisa santai menunggu koper, mencari shuttle bus. Bahkan aku masih punya waktu untuk merapikan diri di kamar mandi dengan santai, dan mencari makan dengan tenang. Penerbangan ke Doha pada pukul 18.30, waktu yang terlalu lama untuk menunggu. Huaaa...

Urusan check in, imigrasi, semua okey. Lancar. Suasana asing sudah menyergapku sejak aku check in. Di sekelilingku penuh orang-orang dengan berbagai bahasa. Dan rasa asing itu menguat saat aku masuk ke badan pesawat Boeing 777-300, dengan formasi tempat duduk 3 - 3 - 3. Aku kebagian kursi dekat lorong, mudah kalau mau ke toilet atau sekedar berdiri meluruskan badan. Pelayanan yang ramah membuatku cukup nyaman. Sesekali pramugari bertanya apakah aku ok, membutuhkan sesuatu dan sebagainya. Makanan, yachhh, aku tak pernah suka makanan pesawat apa pun, tapi okey banget. Penerbangan sekitar 8 jam Jakarta - Doha, dengan dua kali makan dan boleh minta minum kapan pun.
Transit di Doha. The big airport. 

Di sebelah tempat dudukku ada seorang lelaki muda, katanya anak pesantren yang akan sekolah di Yaman. Hmmm... Hebat. "Itu tempat sekolahnya guru para guru, bu. Doakan aku." Hmmm. Okey. Good luck, nak.

Di seberangku ada perempuan Italy yang kemudian kuketahui bernama Mikela, seseorang dari Kedutaan Besar Italy untuk Indonesia. Perempuan ini menjadi teman perjalananku selama transit di Doha, dan kami terpisah setelah masuk pesawat berikutnya dari Doha ke Rome. Perempuan ramah yang baik hati. Berharap suatu saat nanti bertemu dia lagi.

Aku bisa tidur dengan enak di penerbangan lanjutan menuju Roma, kurang lebih 6,5 jam terbang. Tidak minat makan dan minum. Tidak juga kepingin ke toilet atau berdiri.

Sampai di Roma pada 2 April pagi, mulanya menemui udara yang cukup dingin saat keluar dari pesawat, tapi karena antrean di imigrasi begitu panjang dan padat, rasanya jadi sangat sangat sangat panas. Wellcome to Rome, in spring, primavera! Sempurna.

Rm. Indro sudah berjanji akan menjemputku di bandara. Tapi aku tidak bisa mendapatkan akses WA dan telpon sehingga tak bisa menghubunginya. Aku percaya saja bahwa dia akan menjemputku. Aku bisa buka FB dan menghubungi Mas Hen untuk ngabari aku baik dan sudah sampai. Usai menemukan koper, aku keluar bandara sambil celingak-celinguk. Where are you, Indro Pandego? Huh. Aku masih nunggu sekitar 10 menit di meeting point kedatangan terminal 3 bandara Fiumicino Rome sampai senyum yang kukenali itu datang. "Maaffff, aku telat bangun." Beberapa tahun tidak bertemu laki-laki ini dia tampak sehat dan segar. Nah. Tentu saja dimaafkan. (Kisah selanjutnya.)

Wednesday, May 03, 2017

Terpesona Pangkalpinang

Perjalanan berdua dengan Den Mas Hendro sangat jarang kudapatkan akhir-akhir ini. Begitu kesempatan itu datang, wow, aku kencangin jadwalnya, langsung kuurus segala yang dibutuhkan. Mulanya adalah undangan tidak serius dari Paschalis Esong untuk peluncuran buku Gurindam Jiwa 29 Pasal yang ditulisnya sebagai bentuk kenangan atas Mgr. Hila.

Aku senang hati merencanakan kehadiran ke tempat ini, dan asyiknya, segala hal diberikan pada kami berdua. Tempat-tempat indah di pulau Bangka bisa kami kunjungi. Aku buat list dulu ya :
1. Rumah makan pinggir laut, Aroma Laut, yang maknyus tenan tenggiri bakarnya.Huaa...
2. Kota Pangkalpinang yang panas dengan makanan-makanan khasnya.
3. Pantai Pasir Padi, Tanjungpesona, dll.
4. Tempat-tempat rohani segala agama, Gua Maria, klenteng dekat Pantai Tikus, dll.
5. Hmmm... (Entar kuteruskan kalau aku sudah nemuin foto-foto yang pas untuk kuposting.) Hehehe...

Thursday, April 20, 2017

Eropa, Aku Datang 2 : Urusan Visa Schengen

(Sebelumnya.)

Aku mendapatkan surat resmi undangan untuk menghadiri 50 tahun Popularum Progressio bertepatan dengan Rabu Abu, 1 Maret. Menerima surat itu, baru yakin kalau aku memang diundang untuk acara itu. Tapiiii.... satu bulan persiapan untuk Eropa! Hah. Yang benar saja. Huft.

Undangan itu kudiamkan satu hari, dan kemudian membuat otakku berputar. Hari itu hari Kamis. Aku segera membalas surat undangan itu dengan :
1. Terimakasih karena telah diundang.
2. Aku membutuhkan visa untuk hadir.
3. Visa bisa didapatkan dengan tiket PP, dokumen ini itu bla bla bla. Termasuk undangan yang menjamin hidupku di negeri itu.

Surat balasanku dibalas dengan cepat dari peserta, intinya mereka akan segera mengirim surat resmi untuk kepentingan visa, juga memintaku menghubungi Vatican Tour Agency untuk mendapatkan tiket pesawat Indonesia - Italy PP dengan beberapa detail yang dibutuhkan.

Ok. Hmmm... aku setiap kali mesti menarik nafas panjang untuk membuat santai diri sendiri. Bagiku ini peristiwa gembira, jadi prosesnya harus kulalui dengan gembira. Seluruhnya harus jadi kegembiraan.

Jadi kemudian, aku buka ini untuk cek syarat pengurusan visa Italy. Lalu aku mengirimkan detail paspor dan lain-lain yang dibutuhkan untuk memesan tiket. Kulakukan itu sambil kontak Rm. Indro dan Nadet. Dua orang ini muncul dalam pikiranku sejak awal aku dapat undangan. Maka, merekalah penolong utamaku untuk perjalanan ini. Rm. Indro menyediakan diri jadi guide selama di Roma (di luar jam kuliahnya) dan Nadet n pasangannya mengundangku ke Swiss untuk mengunjunginya. Usai tanggal-tanggal menjadi lebih fix, aku mengirimkan ke Vatican Agency Tour, yang akan membantuku mengurus perjalanan. Ini surat ke mereka : "Aku akan berangkat dan pulang dari dan ke Tanjungkarang pada 1 April dan kembali sampai Lampung 13 April." Kusertakan copy paspor dan keterangan ini itu yang diperlukan.

Besoknya tiket PP : Tanjungkarang - Jakarta - Doha - Roma, sudah ada di tanganku, memakai Garuda dan Qatar. Nah, ini berarti ndak bisa main-main lagi. Aku bergegas melengkapi dokumen-dokumen dan membuat janji ke kedutaan Italy via online. Cek di web itu ya. Semua sudah lengkap informasinya. Aku dimudahkan karena mendapat undangan resmi dari Vatican dengan jaminan tanggungan transportasi, akomodasi dan lain-lain. Pun begitu aku lengkapi dengan asuransi perjalanan, karena aku memang membutuhkannya.

Agak konyol ketika aku hanya berpikir tentang kantor kedutaan Italy di Jakarta dan datang ke sana pada harinya, padahal pengurusan visa itu tidak langsung ke kedutaan tapi lewat VFS Global, di Kuningan City Mall! Dalam surat appoinment sudah tertera jelas, tapi aku ndak memperhatikannya. Oalah. Untung aku berangkat pagi sehingga kekacauan ini bisa diatasi. Dan hebatnya, visa bisa jadi dalam 5 hari! Hal yang tak kusangka. Bisa secepat itu. Paspor dengan visa kuterima sekitar 4 hari kemudian lewat kurir langsung ke rumah.

Saat visa kuterima, Rm. Indro dan Nadet segera membantuku untuk transport lokal dan hotel di luar tanggungan panitia. Dan untuk segala macam urusan itu, cuma ada waktu tak lebih dari 10 hari. Sepanjang itu pula waktuku untuk menyiapkan diri dan segala sesuatuku! Padahal ada banyak pekerjaan lainnnn... Tolongggg... Hufttt... (Kisah selanjutnya.)

Tuesday, April 18, 2017

Eropa, Aku Datang 1 : Hmmm...

Sampai beberapa judul ke depan, aku akan menyematkan segala pengalaman yang berkaitan dengan kepergianku ke 4 negara di belahan dunia sana yang kusebut sebagai Eropa : Italy, Vatican, Swiss dan Jerman. Perjalananku itu kulakukan tanggal 1 - 13 April 2017, pada saat Pra Paskah, hingga pas Kamis Putih. Mungkin tidak bisa kuselesaikan dengan cepat, karena aku masih riweh dengan segala hal internalku sendiri. Tubuh yang masih harus dipanasi, beberapa pekerjaan yang mesti dikejar, rencana-rencana perjalanan berikutnya dan juga endapan-endapan dalam hati dan otak yang perlu diurai dengan pelan-pelan.

Aku akan menuliskannya per tahap nantinya. Sebisa mungkin dengan detail-detailnya. Yang perlu kucatat di bagian awal ini dimulai pada 2 Pebruari 2017saat aku menerima surat dari Kardinal Turkson, yang awalnya kucurigai sebagai olokan dari siapa gitu. Susah dipercaya. Surat itu memintaku untuk menyimpan tanggal 3 dan 4 April karena mereka mengundangku untuk peringatan 50 tahun Popularum Progressio di Vatican.

Aku telpon mas Hendro sambil menjerit-jerit, haaa... ini surat benar ndak sih? "Aku akan tunggu surat resminya sebelum aku menyiapkan ini itu." Putusku.

Saat itu aku sedang menyiapkan diri untuk pergi ke Filiphina acara JPW Meeting. Jadi surat itu aku abaikan dengan penuh harap. Tentu saja setelah mengirimkannya dengan hati-hati ke Rm. Indro yang sedang sekolah di Roma (dia akan membantu banyak) dan juga ke Nadet di Swiss (yang spontan kepikir untuk dikunjungi jika memang aku jadi pergi). Dua nama ini otomatis muncul saat aku terima surat itu, tapi setelah berandai-andai dengan mereka berdua, aku berusaha melupakannya. Aku menikmati beberapa pekerjaan, juga kepergian ke Manila dan Batangas, dan berusaha melupakan surat itu walau aku sangat berharap bisa pergi sesuai undangan itu.

Sampai sebulan kemudian tak juga ada kabar lanjutan dari surat itu. Hmmm.... (Klik sini untuk sambunganya.)

Thursday, April 06, 2017

BANGSAT

Kalau sebuah relasi hanya dinilai sebagai hubungan bangsat, maka semua sudah berakhir. Titik.

Saturday, March 25, 2017

Pra Pentas Akar Rumput dan Salah Satu Cabang Cemara untuk Tanah Air

Kebetulan sekali Kang Kamto baru membuka warung kopinya, Kindos, di Jalan Urip Sumoharjo, Kedaton, Bandarlampung. Saat aku kontak Hera dan Linda yang bakal punya gawe dengan Sun Love Community-nya, mereka langsung meluncur ikut ngopi.
"Ini tempat bisa dipakai kalau kalian perlu."
"Kami sedang berpikir soal pra pentas. Untuk mematangkan konsep."
Ayolah.
Maka hari Sabtu, 25 Maret 2017 beberapa orang pun berkumpul. Fokus untuk sampai pada pentas raya yang akan digelar April nanti. Aku senang dengan kencan kecil ini. Kopi yang enak (iyalah, master kopi yang punya tempat), beberapa komunitas yang bakal support pentas dan perbincangan yang asyik. Jadi, semangat yaaaa....

Tuesday, March 21, 2017

Workshop Peningkatan Kapasitas Pekerja Seni

Diselenggarakan oleh Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung. Tulisannya nanti aja. Ini foto-fotonya. Dari tanggal 19 - 21 April 2017, di UKMBS Unila dan di Markas Kober.




Sunday, February 19, 2017

Jurney to Manila 8 : Balik ke Indonesia

Hari terakhir di Manila pas hari Minggu. Aku gunakan waktu ke Gereja. Katanya dan memang benar, mayoritas Piliphina adalah Katolik. Tapi sungguh tak bisa kupercaya, gereja di hari minggu sangat sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang. Hmmm... Seorang pastur cerita dia akan melakukan misa di mall, di sana akan banyak pengikut misa di hari minggu. Yaelah.

Makan pagi terlambat sudah malas keluar. Makan di kantin dengan menu seadanya yang bisa masuk perutku. Roti. Telur goreng. Pisang. Air putih. Semuanya 55 peso. Aku tambah 2 pisang lagi untuk dibawa ke kamar, jaga-jaga kalau masih lapar. Tak ada rencana apapun hari ini. Jadi aku keramas, tidur, dan bersiap untuk balik ke Indonesia.

Naik taksi ke bandara, aku mengantar Lilik ke terminal 1 sebelum melaju ke terminal 3 Ninoy Airport dimana pesawatku, Cebu Pasific akan menerbangkanku ke Soetta. Bandara yang ramai super. Aku hitung peso di dompetku tinggal 50 peso dan beberapa receh. Jadi selepas imigrasi aku coba cari makan yang bisa kubeli dengan uang segitu. Dapatnya : cup noodles seharga 45 peso! Cukup deh... Hehehe...

Pesawatku terbang jam 20.50. Sampai di Indonesia tepat jam 00. Aku meneruskan tidur di kamar Yeni di Zest Hotel. Kebetulan banget Yeni juga pas pulang dari Myanmar di tanggal yang sama n mau berbagi kamar denganku. Perjumpaan sekejab untuk tidur, dan esoknya sarapan bareng, ke bandara bareng lalu Yeni ke Solo, aku ke Lampung. Nah... begitulah.

Saturday, February 18, 2017

Jurney to Manila 7 : Seru-seruan di Intramuros

Usai ikut aksi Walk for Life aku punya waktu sebentar untuk sarapan dan istirahat. Kucari Lilik untuk mengajaknya jalan ke Intramuros, kota tua Manila yang konon bau Eropa. Niatku cuma mau foto-fotoan seru-seruan. Lilik bilang kalau sudah ke sana, tapi aku yakin dia tak akan menolak ajakanku. Menunggu bentar karena dia rupanya ikut meeting SC.

Ini halaman Katedral Manila. Sangat okey untuk foto kan?
Berangkat naik taksi yang kami tuju adalah Katedral Manila. Ini wajib dikunjungi kalau ke Manila sebagaimana kita tahu negeri ini mayoritas Katolik. Jadilah menjadikan Katedral sebagai obyek foto yang pertama.

Di bagian luar atau dalam Katedral tak luput dari pemotretan narsis. Okey banget.

Usai ngublek Katedral, inginnya cari makan. Tapi hujan deras membuat ini tertunda walau kemudian terpaksa menembus hujan saking ndak tahan laper. Yang dituju KFC seberang Katedral. Hihihi.

Usai makan, jalanlah kami ke Fort Santiago. Mampir ke toko souvenir yang tidak asyik karena seperti melihat barang kerajinan di Jawa, Kalimantan atau Sumatera, tak ada yang khas banget, dan harganya super mahal.

Di Fort Santiago, dengan bayar 75 peso, kami puas membuat kaki teklok memutarinya. Melihat taman, benteng, penjara, musium Jose Rizal dll. Check it out :


Beberapa patung yang bisa diajak bercengkerama.

Pintu masuk benteng.

Konon tapak kaki Jose Rizal sebelum digantung.

Di salah satu sisi benteng melihat laut dan kota Manila.

Foto lain nyusul deh... Capek.



Jurney to Manila 6 : Kesempatan Ikut Aksi

Sehari setelah selesai meeting kebetulan sekali ada ajak untuk ikut aksi menolak kebijakan Duterte tentang penerapan hukuman mati tanpa peradilan untuk narkoba. Jadilah, 18 Pebruari pagi-pagi sekali pukul 4 waktu Piliphina alias jam 3 pagi waktu Indonesia bangun untuk Walk for Life.

Bagiku ini sangat menarik setelah diskusi tentang justice and peace sepanjang meeting. Menjadi semacam penutup, dihadapkan pada masalah nyata. Mungkin ini memang konteks Piliphina, tapi di Indonesia pun hal yang mirip sudah terjadi. Peradilan Indonesia yang masih belum bisa dipercaya nyaris seperti penerapan penembakan langsung untuk pelaku pengedar Narkoba, padahal tuduhan itu bisa salah, bisa fitnah.

Beberapa bagian dari aksi ini sudah kutulis untuk http://www.pojoksamber.com/walk-lifemelawan-kekerasan-tanpa-kekerasan/ soooo, silakan klik di sini untuk melihat sedikit dari aksi yang kuikuti ini.

Friday, February 17, 2017

Jurney to Manila 5 : Meeting!!!

Diskusi dalam kelompok.
Aku nulis singkat saja deh pertemuan untuk pekerja justice and peace ini. Berlangsung dari 15 sampai 17 Pebruari 2017, diikuti oleh berbagai negara seperti India, Bangladesh, Pakistan, Srilanka, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Piliphina sendiri. Eh, juga ada yang dari Hongkong ding. Eh, mana lagi yaaaa...

Pemaparan.






Pertemuan ini diisi dengan beberapa bahan dari narasumber seperti Fr. Edu dan Fr. Niphot, selebihnya adalah diskusi dan sharing dalam kelompok maupun pleno. Cukup oke memperkaya diriku tentang Popularum Progresio dan Laudato Si serta bagaimana dua dokumen itu bisa menjadi bagian dari gerak kembang kemanusiaan.

Tuesday, February 14, 2017

Jurney to Manila 4 : Mercusuar

Hari keempat aku bersama rombongan berkunjung ke pertanian di Jaybanga, sekitar 1 jam perjalanan dari Lagdlarin menggunakan jeepney, kendaraan andalan di Piliphina. Desa yang indah, tapi membuatku gundah. Perjalanan yang cukup berat membuatku berpikir bagaimana penduduk desa mengakses pendidikan, kesehatan atau kebutuhan lain. Lalu semakin sedih ketika tahu mereka sudah kehilangan tanah-tanah mereka berpindah ke pemilik uang. Duh.

Padahal ini tempat yang luar biasa indah. Lihatlah, bahkan aku menjelma bidadari dalam lingkungan surga seperti ini. Sangat cantik, segar. Apalagi dijamu oleh para ibu petani di sana dengan semangkuk bubur beras yang manis. Aku tidak sempat sarapan di rumah Ate Nimpa karena buru-buru dan harus packing n pamitan.

Membayangkan beberapa tahun lagi tanah-tanah ini berubah rupa membuatku sangat sedih.

Nah, perjalanan terakhir hari ini adalah ke mercusuar Malabrigo dan berbincang dengan komunitas petani dan nelayan di Balibago. Aku tidak terlalu menikmati bagian ini karena tidak seperti berkunjung ke komunitas tapi seperti rapat. Harusnya akan lebih menarik jika kami mengunjungi rumah mereka, berbincang di ruang tamu atau teras mereka, dan minum teh bersama mereka. Tapi ya sudahlah.

Hari ini adalah hari terakhir menikmati Lobo. Sore kami kembali ke Manila menembus jalan berliku dan kemacetan kota pada bagian akhirnya. Tidak kembali ke Hotel Syalom tapi kami akan menginap di Pope Pius XII Catholic Center, penginapan milik Gereja Katolik di pusat kota untuk melanjutkan pertemuan. Ohya, hari ini 14 Pebruari 2017 adalah hari valentine yang terlewatkan. I love you.

Monday, February 13, 2017

Jurney to Manila 3 : Ombak, Mindoro dan Seluruh Topik

Kalau perjalanan ini untuk rekreasi, aku pasti sudah tenggelam dalam keindahan alam Piliphina. Di hari 3 tanggal 13 Pebruari di negeri ini, PSET (People's Solidarity and Education Tours) yang memfasilitasi kegiatan eksposure ini mengajak untuk mengekplore laut dengan menggunakan perahu besar.

Ombak yang tinggi tak menyurutkan semangat, cuma mengocok perut sampai parah. Hihihi... beberapa peserta sudah pucat-pucat hijau tahi mengalami ombak lepas dari pulau Luzon menuju Mindoro. Aku sendiri merasa tidak terlalu nyaman dengan tingginya ombak walau aku cukup menikmati perjalanan ini.

Dalam kondisi normal saja aku kesulitan menyerap informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggris, apalagi dalam perahu yang terombang ambing gitu. Yaelah. Dan begitu sampai di pesisir indah di Mindoro, aku kehilangan mood untuk nyemplung pantai indah mereka. Bening, terumbu karang, ikan, dan seluruh flora fauna laut. Aku menikmati dek kapal saja sambil mandi matahari menikmati alam segar dan indah. Tapi aku tak bisa melepaskan diri dari tema-tema yang dibahas sepanjang eksposure ini : nelayan, petani dan tambang.

Huft.

Sunday, February 12, 2017

Jurney to Manila 2 : Tinggal di Lagadlarin, Lobo, Batangas Province.

Hari kedua di Manila, aku mesti bangun pagi-pagi sekali. Jam 6 perjalanan ke Lobo, propinsi Batangas akan dimulai. Menggunakan bis besar, peserta eksposure sekitar 25-an orang akan menikmati daerah pantai yang menjadi bagian dari cara mengenal Piliphina lebih lanjut. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 3 jam, berhenti untuk kencing di toilet umum (jelas lebih ok toilet-toilet di stasiun-stasiun di Indonesia yang sekarang ini wangi), mengunjungi Fr. Jojo di paroki Michael Angelo lalu makan siang bersama umatnya di pinggir pantai sambil mendengarkan pengenalan tentang daerah yang akan kami kunjungi.

Seluruh peserta dibagi dalam 3 kelompok. Aku kebagian kelompok Lagadlarin, sebuah komunitas nelayan di daerah pesisir. Sebelum ke rumah tempat tinggal, kami berkunjung ke Lagadlarin Mangrove Forest untuk menanam bibit mangrove di daerah itu. Aku menanam dua bayi yang kutiup-tiup dengan doa supaya mereka tumbuh sehat. Hehehe.

Usai menanam mangrove, kami sekelompok menikmati pantai mereka yang bau ikan tapi super bersih. Huwaa... rasanya aku bakal kerasan banget di kampung ini. Sukaaa.... indah banget.

Rumah yang aku tempati adalah rumah keluarga Nimpa. Rumah yang untuk ukuran kampung ini sangat lumayan, dengan jamuan makan yang lezat, tak beda jauh dengan makanan orang Indonesia. Aku sungguh-sungguh tak bermasalah beradaptasi dengan mereka. Apalagi di antara orang-orang yang datang ke rumah itu, ada si Ariyana, gadis manis usia 14 tahun yang berani yang bercerita tentang mimpinya, tentang kesedihannya karena tambang, tentang keraguannya apakah nanti bisa menggapai cita-citanya jadi dokter karena dia tahu orang tuanya tak punya uang, dan sebagainya.

Saturday, February 11, 2017

Jurney to Manila 1 : Kesempatan untuk Tidur!

Introduction.
Perjalanan ke Manila sudah aku rancang dari tahun lalu saat ada undangan dari ACPP bekerjasama dengan NASA Manila untuk Justice and Peace Workers Meeting 2017 se Asia - Pasific. Aku menanggapi undangan dengan senang hati dan menyiapkannya. Meeting ini akan diawali dengan eksposure selama 3 hari, jika aku berminat. Wow, tentu saja.

Pilihan terbang menggunakan Cebu Pasific adalah pilihan yang tepat. Penerbangan langsung dari Soetta ke Ninoy akan ditempuh selama sekitar 4 jam. Dari Lampung aku berangkat pada 10 Pebruari sore, untuk penerbangan Cebu ke Manila pada pukul 00.30, lewat dikit dari tengah malam. Ini bukan jam yang tepat karena begitu lewat dari imigrasi pada pukul 22, aku sudah nyaris tak bisa membuka mata. Berjalan-jalan di sekitaran terminal 2 Soetta tak membantuku sama sekali sedang tubuh yang belum sempat istirahat beberapa hari pengin banget dibaringkan.

Harapanku, penerbangan 4 jam itu akan menjadi saat tidurku. Huft, sayang sekali. Harapan tinggallah harapan. Hampir selama penerbangan, cuaca begitu buruk sehingga penerbangan itu terguncang-guncang. Selama 4 jam lebih! Dengan jiwa yang menciut karena takut, mata pun bisa tetap bertahan terbuka. Puji Tuhan sampai dengan selamat di Ninoy Aquino Internasional Airport tepat waktu, saat fajar siap merekah, pukul 05.50.

Saat keluar dari bandara, seseorang yang menjemputku dengan tanda di tangannya sudah bersiap. Aku menghampirinya, mengenalkan diri dan langsung meluncur ke Hotel Syalom, tempat satu malam nginap sebelum besok melanjutkan perjalanan ke Batangas untuk eksposure.

Briefing sore hari pada 11 Pebruari cukup membuatku nyaman karena sebagian peserta sudah kukenal. Aku sempat tengsin karena telat masuk ruang untuk briefing gara-gara aku ndak set arlojiku. Piliphina memiliki waktu satu jam lebih cepat dari Lampung, dan aku lupa mengingatnya. Padahal begitu sampai di hotel aku menuntaskan kebutuhan biologis dengan tidur sepanjang waktu. Siang bangun sebentar untuk makan wafer sisa dari Sriwijaya dalam penerbangan Lampung - Jakarta, dan minum sebotol air yang kubeli di hotel. Lalu tertidur lagi sampai ditelpon oleh resepsionis hotel,"Mam, you are waited for meeting at third floor. Now they ready for meeting." Aku protes kalau meeting akan mulai satu jam lagi sesuai agenda yang kupunya, tapi kemudian segera sadar soal perbedaan waktu. Ealah, cepet-cepet aku cuci muka dan turun ke lantai 3. Kamar yang kudapat di lantai 5.

Apapun, hari pertama selalu menarik, apalagi saat makan malam aku merasakan bahwa aku sangat-sangat lapar...