Tuesday, April 28, 2015

TERCIPTA DARI TANAH YANG SAMA


Titik Temu bersama Dewi Nova

 (Dimuat dalam Swara Gender edisi 69/TahunXX/Januari-Maret 2015

Akhir tahun lalu saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, 10 Desember 2014, dengan menjadi editor bagi sebuah buku antologi puisi bertema HAM dengan judul Titik Temu. Buku ini diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami tepat pada hari HAM dengan melibatkan 60 penulis dari seluruh Indonesia dan dari beragam kalangan. Buku ini telah diluncurkan dan dibahas di Radio Republik Indonesia (RRI) Sumenep Jawa Timur oleh Komunitas Kampoeng Jerami pada bulan Januari 2015. Selain itu juga dibedah dalam kegiatan rutin Komunitas Sastra Reboan, Bulungan, Jakarta pada Pebruari lalu. Menyusul kegiatan-kegiatan itu, dalam tahun ini beberapa agenda komunitas lain akan menyertakan Titik Temu sebagai bahan perbincangan seperti di Tangerang, Bandung dan Bengkulu.

Karena kebetulan saya terlibat di dalamnya, saya hendak memakai buku ini sebagai sumber inspirasi bagaimana martabat perempuan dimuliakan melalui tulisan-tulisan. Memang, puisi-puisi yang ada di sana tidak semata berbicara tentang perempuan, tapi hampir separuh dari seluruh penulisnya adalah perempuan. Sebut saja Ariany Isnamurti, (direktur PDS HB. Jassin, Jakarta), Siti Noor Laila (anggota komisioner Komnas HAM), Bunda Umy, Umirah Ramata, Chamelia dan beberapa teman pekerja perempuan di Taiwan (buruh migran dari Indonesia), juga ada beberapa aktifis sosial perempuan seperti Dewi Nova, Mariana Amirudin, Masita Riany dan sebagainya. Selain itu ada penyair-penyair perempuan lain yang terlibat meramaikan buku ini.

Tema-tema tentang perempuan mau tak mau menjadi warna dalam puisi-puisi HAM sebagai sarana penghormatan terhadap perempuan. Beberapa jelas terlihat dari judul puisinya seperti Hak Sepatu dan Riuh (Cici Mulia Sary, penulis dan dosen di Bengkulu), Mei-Mei : Umurnya 16 (Dewi Nova, penulis dan aktifis perempuan Tangerang Selatan), Iyem juga Manusia (Dita Ipul, penyair dan ibu rumah tangga dari Cilacap), Sajak Nyai Rossina dan Perempuan di Cakrawala (Edy Samudra Kertagama, penyair senior dari Lampung), Perempuan di Ladang Jagung (Fendi Kachonk, pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami dan penyair Madura), Gadis Kecil (Lilis Amd, penyair dan guru di Bandung), dan sebagainya.

Bagaimana perempuan bisa mengembang dan berkembang dalam tulisan-tulisan? Kita bisa mengambil satu contoh puisi menarik dari buku ini. Saya memilih satu puisi yang bersubjudul Pahala, ditulis oleh Dewi Nova, hal. 44 buku Titik Temu. Walau subjudulnya Pahala, tapi isi puisi ini bisa dipinjam untuk memberi makna kesadaran tentang perempuan.

Puisi tersebut secara lengkap adalah :

Saat kau memandangnya
ia bersinar merasakan kasihmu

Saat kau mendengarkannya
ia sempurna sebagai ciptaan

Saat kau berbuat
ia tergerak untuk saling menghidupkan

Saat perjumpaan
kita merasa tercipta dari tanah yang sama

(Cirendeu, 19 Juli 2011)

            Mudah sekali mengaitkan puisi ini dengan perempuan apalagi mengingat penulisnya juga seorang aktifis perempuan yang giat memberdayakan perempuan dan menyebarkan semangat untuk kemajuan perempuan. Kita dapat memakai imajinasi untuk melihatnya ketika mulai masuk dalam bait-baitnya yang jernih memberikan pemahaman.

Dewi menulis di bait pertama : Saat kau memandangnya, ia bersinar merasakan kasihmu. Jika saya ganti ‘nya’ dengan perempuan, maka yang muncul adalah saat kau memandang perempuan, ia bersinar merasakan kasihmu.

Bagaimana seharusnya kita memandang perempuan? Itu dijelaskan dalam bait-bait yang berikutnya. Saat kau mendengarkannya, ia sempurna sebagai ciptaan. Perempuan harus didengarkan, dan dia sempurna sebagai ciptaan. Ini tidak mudah, karena sering kali perempuan dianggap sebagai ‘ciptaan level kedua’ yang diabaikan keberadaannya. Sering tak dipandang, atau jika dipandang akan dipandang sebelah mata saja.

Lalu di bait ketiga, muncul gerakan yang saling melengkapi, antara pria dan perempuan. Saat kau berbuat, ia tergerak untuk saling menghidupkan. Ini bukan sebuah simbol yang pasif, tapi gerakan itu akan menjadi saling menghidupkan. Bukan hanya salah satu pihak saja, tapi saling dalam perjumpaan yang sejajar. Dan di bagian akhir itulah yang menjadi ajakan kita untuk sampai pada pemahaman bahwa memang harusnya seperti itulah, karena semua manusia entah pria atau perempuan diciptakan dari tanah yang sama.

Bisa jadi apa yang dimaksudkan oleh Dewi Nova saat menuliskan puisi Pahala ini berbeda dengan cara saya memandang dan menafsirnya. Tapi puisi ini memberikan inspirasi yang penuh akan penghormatan terhadap martabat manusia tanpa melihat jenis kelaminnya. Walau, tentu saja, dengan keterpihakan pada perempuan.

Dalam keseluruhan buku Titik Temu, tulisan Dewi Nova hanyalah puisi yang pendek, namun maknanya bisa tertangkap begitu dalam dan luas untuk merangkai 164 puisi yang ada dalam buku ini. Kita tercipta dari tanah yang sama. Begitu dikatakan Dewi. Dan saya ingin melanjutkan dalam pemaknaannya, bahwa kita akan kembali ke tanah yang sama pula.

Jika dikaitkan dengan situasi masa kini, kemajuan perempuan seharusnya diikat dalam penumbuhan kesadaran-kesadaran. Bukan hanya kesadaran para perempuan yang setahap-tahap maju dalam berbagai aspek, namun juga kesadaran pihak-pihak lain. Saya menyebutnya pihak-pihak lain, bukan hanya satu pihak pria, melainkan juga kelompok-kelompok masyarakat yang memberi pengaruh pada pandangan terhadap perempuan. Di dalamnya ada kelompok pemerintah, agamawan, organisasi masyarakat, partai politik dan sebagainya.

Kesadaran yang paling dasar bisa diambil dari kalimat Dewi, kita tercipta dari tanah yang sama, sebagai dasar dari penghormatan terhadap manusia tanpa terkecuali. Kesadaran itu yang akan diikuti oleh kesadaran-kesadaran lain seiring perkembangan kehidupan. Mungkin akan berbeda pada setiap orang tergantung pengalaman hidupnya masing-masing. Secara umum, kesadaran akan kesamaan martabat manusia yang memang diciptakan dari dan oleh bahan yang sama, bisa menghilangkan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak serta merta, tapi saya yakin akan terus berjalan jika gerakan-gerakan selanjutnya dilakukan dan diwujudkan dengan sadar oleh perempuan-perempuan dan juga bersama pihak-pihak lain.

Begitu pun, buku Titik Temu ini adalah salah satu bagian kecil dalam proses penyebaran kesadaran itu. Seperti dikatakan oleh Siti Noor Laila, Komnas HAM dalam kata sambutannya dalam buku ini,”Berbagai peraturan tidaklah cukup, diperlukan pendekatan melalui budaya, nilai-nilai anti kekerasan dan dialog hati untuk membangun bangsa yang bermartabat.”

Atau seperti yang diungkap Fendi Kachonk, pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami di bagian awal kata pengantarnya untuk buku ini,”Bahwa setiap orang memiliki keunikan dan perbedaan yang patut dijunjung sebagai warna beragam seperti keindahan pelangi.” Kesadaran itulah yang sedang dipupuk sekarang ini. Keunikan dan perbedaan yang dimiliki oleh manusia pria dan perempuan akan menjadi kesempurnaan yang indah dan saling melengkapi. *** (Penulis, Yuli Nugrahani adalah pelaksana harian Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang, Editor Buku Titik Temu yang diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami, komunitas yang fokus pada penulisan dan pelatihan penulisan di Indonesia.)

Tuesday, April 21, 2015

Titik Temu dalam Belungguk Sastra di Bengkulu

Kali ini giliran Bengkulu menyediakan ruang bagi Titik Temu. Kegiatan menarik telah dikemas oleh Kedai Sastra bekerja sama dengan Komunitas Kampoeng Jerami dan banyak pihak. Aku merasa beruntung bisa menghadirinya dan bertemu dengan banyak komunitas seni di Bengkulu bahkan juga dengan Vebri Al Lintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang yang hadir sebagai salah satu penulis Titik Temu.

"Tak ada puisi yang jelek dalam buku ini," Ujarku, sang editor Titik Temu dengan ngeyel. "Kalau editor yang jelek, mungkin saja ya. Karena seluruh tulisan itu sekarang telah dirangkai dalam sebuah buku, dan editor mempunyai tanggung jawab di situ. Tapi itu pun harus diperbincangkan karena editor selalu mempunyai alasan mengapa puisi tertentu dimasukkan atau ditolak. Editor juga mempunyai proses bersama para penulis dalam buku itu sehingga alasan itu menjadi lebih kuat lagi." Kali ini aku mengatakannya sambil tersenyum. Iyalah, mana aku tahan untuk tidak tersenyum apalagi di hadapan mereka semua yang memberikan apresianya untuk Titik Temu. Ya, mau apa lagi. Memang ngeyel adalah nama keduaku. Jadi, aku akan tetap ngeyel. Hehehe...

Lalu beberapa peserta diskusi ikut membaca puisi-puisi dalam Titik Temu. Aku (yang sebenarnya selalu merasa grogi kalau membaca puisi) mengambil Perempuan di Ladang Jagung, salah satu dari puisi Fendi Kachonk yang selalu 'mengandung musik' untuk kubacakan. Ssstt... ini adalah kesempatan ketigaku membaca puisi dalam dua tahun terakhir ini. Terus terang aku lebih suka membaca cerpen daripada puisi, sehingga aku memilih membaca cerpen jika ada pilihan. Tapi kali ini aku sangat beruntung, khususnya karena puisi Fendi ini secara spontan telah membantuku, sehingga aku tak merasa harus susah payah saat membacanya. Dia mengalir begitu saja sesuai musik yang memang sudah dipunyainya.

Ya, peluncuran buku di Bengkulu ini terasa menarik. Selain untuk pertama kalinya aku datang ke kota ini, Kedai Proses telah mengemas kegiatan ini dalam belungguk (hmmm... dalam bahasa Bengkulu artinya kumpul-kumpul.) sastra yang dihadiri oleh komunitas-komunitas di Bengkulu entah yunior maupun senior. Kedai Proses merangkainya dalam kegiatan rutin tahunan mereka Tribute Chairil Anwar yang dijejer dengan lomba baca puisi, seminar nasional untuk penciptaan karya, dan penganugrahan penghargaan sastra.

Dalam seminar yang diadakan keesokan harinya, aku bersama Dr. Elyusra, M. Pd, dari FKIP Univ. Muhammadiyah Bengkulu mendorong peserta untuk mulai menulis puisi. Menulis saja, tapi kemudian melanjutkannya dengan belajar teori-teori untuk membuatnya semakin bermutu. Aku membuktikan bahwa mereka semua mampu menulis puisi dalam workshop di bagian akhir seminar. Mereka semua bisa menulis puisi tentang perempuan dalam waktu yang sangat singkat.

Malamnya, di hari Sabtu itu semacam pesta bagiku. Walau tak ada makanan dan minum, kegembiraan melihat geliat sastra di Bengkulu adalan kegembiraan yang luar biasa. Para muda dengan karya-karya luar biasa mendapatkan penghargaan sastra. Selamat dan sukses selalu. Semangat itu kubawa kembali untuk perkembanganku, juga perkembangan Komunitas Kampoeng Jerami melalui Titik Temu. Aku mesti sebut nama-nama khusus, Edy Ahmad, Fendi Kachonk, Dedi Suryadi, Cici Mulia Sary, dan juga teman-teman Bengkulu, terimakasih.

Thursday, April 16, 2015

Pendidikan adalah ...

Menjadi salah satu dosen untuk mata kuliah Character Building selalu menarik. Bahkan untuk segala tema. Ini dia contohnya ketika aku masuk untuk sesi character building di kelas gabungan Akuntansi dan Manajemen semester 4 STIE Gentiaras, Kamis lalu, 16 April 2015. Tema yang diangkat sesuai buku panduan adalah Lanjutkan Pendidikanmu. Aku mengajak para mahasiswa untuk diskusi dalam kelompok yang mereka pilih sendiri. Salah satu tema yang harus diperbincangkan dalam diskusi itu adalah menyepakati sebuah gambar yang dapat mewakili pandangan mereka semua tentang pendidikan.

Lima kelompok terbentuk dan inilah hasil kerja mereka.

1. Saringan

Kelompok satu menganggap bahwa pendidikan itu seperti saringan. Ketika orang mendapatkan pendidikan, dia akan mempunyai alat saring yang dapat digunakan untuk menentukan mana yang baik mana yang buruk. Mana yang bisa dikembangkan, disimpan atau dibuang.





2. Uang

Kelompok dua menganggap bahwa pendidikan adalah uang. Membutuhkan uang atau pengorbanan yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Di sisi lain, juga pendidikan suatu saat juga akan berguna untuk mencari uang. Orang yang berpendidikan akan mempunyai pilihan untuk mendapatkan uang.



3. Gunung

Kelompok tiga menganggap pendidikan sebagai gunung. Yang harus didaki dengan segala cara. Dan juga digali. Di dalamnya orang akan menemukan banyak hal. Bebatuan, mineral, dan kekayaan yang terpendam.





4. Sumur

Kelompok empat menganggap bahwa pendidikan adalah sumur air. Di dalamnya ada sumber air yang terus-terus memancar. Orang harus menimba dari dalamnya dengan kerekan yang sudah tersedia, dan air itu tak akan pernah habis. Apalagi ada juga tambahan-tambahan air dari resapan tanah di sekitarnya.





5. Kuku

Kelompok lima menganggap pendidikan itu adalah kuku. Seolah kecil, mempunyai banyak fungsi dan terus menerus tumbuh. Walau dipotong ujungnya, pangkalnya akan selalu tumbuh kembali.









Nah, keren kan? Mereka bisa menemukan hal yang menarik dari pendidikan. Gambar-gambar yang mereka buat ini sengaja kuupload supaya mereka dan diriku tak pernah lupa akan pendidikan.

Saturday, April 11, 2015

Menari Bersama Anak-anak Kebutuhan Khusus di Lat Krabang

Tahun ini aku mendapat kesempatan untuk menghadiri pertemuan Consultation of Peace and Reconsiliation in Asia Today di Lat Krabang, Bangkok, 6 - 12 April 2015. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan negara-negara se Asia dan diselenggarakan oleh Office of Human Development (OHD) FABC. Pertemuan yang menarik, tapi kali ini aku ingin cerita hal yang paling menarik dari tempat penyelenggaraan acara. Cammilian Pastoral Care Center.

Aku sudah dua kali datang ke tempat ini. Ini tidaklah asing. Detail-detail dari tempat ini cepat sekali menarik perhatian. Misalnya rancangan bangunan yang begitu manusiawi khususnya untuk anak-anak diffable (diferent of able), anak-anak kebutuhan khusus. Seluruh bangunan dirancang untuk ramah pada mereka. Lift yang dilengkapi huruf braille, suara, sehingga mereka mudah menemukan lantai mana yang dituju. Ruangan-ruangan yang luas yang memudahkan mereka bergerak dalam kursi roda. Juga jalan-jalan yang landai bersanding di sebelah tangga. Setiap kamar mandi juga dilengkapi kursi plastik bagi mereka.

Pada hari terakhir pertemuan, mereka hadir bergabung dengan 40 peserta pertemuan. Mereka rupanya sudah berlatih keras untuk menampilkan pentas yang menarik. Tarian, lagu dan juga melukis dalam iringan musik. Aduh, anak-anak yang luar biasa. Tarian yang indah. Yang berbeda dengan gerak dan ekspresi biasa dari orang kebanyakan. Aku tahu mereka telah bekerja sangat keras untuk gerakan-gerakan itu. Gerakan-gerakan yang mengajak semua orang untuk ikut menari. Hatiku, otakku, dan tubuhku ikut menari bersama mereka.

Saturday, March 28, 2015

Perjalanan Titik Temu yang Berikutnya

Pada bulan ke 4 dari peluncuran Buku Antologi Puisi TITIK TEMU, sudah ada beberapa tapak yang dijejakkan. Mulai dari Sumenep (Januari 2015) lalu Jakarta (Pebruari 2015) dan kali ini giliran Bandung yang menjadi ruang Titik Temu. Bagiku ini kesempatan pertamaku  untuk mengikuti kegiatannya secara langsung. Digarap oleh Majelis Sastra Bandung (MSB) yang dipandegani Kang Matdon bersama kawan-kawan Bandung, bertempat di Studio Jeihan, Padasuka, Bandung, 22 Maret 2015.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 15.00 ini berlangsung hangat. Walau diwarnai dengan gerimis dan hawa yang dingin, suasana hangat terus terasa dalam acara di lantai satu studio yang dihiasi lukisan-lukisan Jeihan di sepanjang dindingnya. Ratna menjadi moderator untuk perbincangan buku Titik Temu. Pungkit Widjaja, Fendi Kachonk dan Dewi Nova menjadi pembahas utama untuk buku ini. Apalagi ada sejumlah peserta yang secara antusias membaca puisi secara bergantian.
Aku, Fendi dan Matdon, sebelum acara dimulai. Foto oleh Geusan.

Tanggapan menarik muncul dari para hadirin. Sangat berwarna. Persis seperti bayanganku ketika memulai bekerja untuk editing buku ini. Buku ini bukan hanya buku sastra walau berisi puisi-puisi dari 60 penyair yang terlibat. Tapi keragaman tema yang dirangkai dalam tema utama Hak Asasi Manusia, menjadikan buku ini tidak hanya dibicarakan dalam konteks kepenulisan tapi juga untuk mengulik situasi kemanusiaan yang ada di Indonesia atau secara khusus diwakili situasi-situasi tertentu yang menjadi warna dalam puisi-puisi itu.

"Kami mengerjakan buku ini dengan gembira. Maka kami berharap kegembiraan itu juga menyebar bagi para pembaca buku ini." Itu bagian akhir yang aku ungkapkan dalam satu kesempatan diundang bicara oleh moderator.

Bagiku, bisa hadir di tengah komunitas sastra di Bandung ini sangatlah menyenangkan. Beberapa jam dalam perbincangan santai tapi serius memberiku banyak harapan untuk langkah Titik Temu. Juga kesempatan untuk bicara di luar kegiatan itu dengan para sahabat yang sudah kenal entah di dunia nyata maupun facebook, maupun yang belum pernah kenal, adalah harapan untuk kemajuanku maupun kemajuan Komunitas Kampoeng Jerami.

Ohya, satu hal lagi yang menyenangkan adalah melihat lukisan-lukisan Jeihan. Manusia-manusia dalam lukisan Jeihan selalu menarikku pada kedalaman. Dan seharusnya Titik Temu juga mulai diarahkan semakin dalam, semakin mendalam, sebagai sastra sebagai tema.

Wednesday, March 18, 2015

Akik Anggur Motif Ranting Kaktus

Lampung dan banyak daerah di Indonesia sedang booming trend batu akik. Sejak awal booming itu, rumahku juga bertebaran batu-batu karena Albert mengumpulkan entah dari mana saja. Yang sudah digosok, yang sudah diemban, atau yang masih bongkahan. Bahkan dia perjual belikan juga.Aku, dan orang lain lain selain Albert menanggapi booming batu akik dengan biasa saja. Tapi toh setiap kali pembicaraan keseharian sampai juga pada batu akik.

Nah, booming ini memang luar biasa terasa. Bukan hanya bapak-bapak saja yang menaruh minat, tapi waktu arisan RT beberapa minggu lalu, beberapa ibu memamerkan batu-batu yang mereka pakai.
"Ini bungur muda dari Tanjungbintang. Bagus kan?" ujar seorang ibu. Ibu yang lain menunjukkan batu merah delima, warna merah dengan motif di dalamnya. Huah, aku ingat aku masih punya dua bongkah kecil batu bungur Kalimantan dan kecubung teh yang masih tercampur kotak Albert. Juga ada gelang batu berhias puluhan batu dari Medan. Atau kalung batu pemberian teman yang sungguh berat kalau dikenakan.

Ketular juga memakai batu akik ketika seorang teman memberikan batu mungil warna putih.
"Ini batu akik anggur. Bagus ini."
Masa sih. Kayak biasa saja. Aku balik-balik batu itu. Warna putih keruh dengan motif garis-garis yang membentuk ranting kaktus.
"Ini bagus, Yuli. Cari embannya. Lihat, ini batu akik anggur motif burung."
Huah, burung dari mana? Aku lihat berulang-ulang tak kutemukan burung itu. Bentuk belalang kayaknya. Hehehe...
"Udah, cari saja ikatnya. Pasti bagus. Aku tak pernah nyimpen batu yang tidak bagus."
Hehehe...ok. Dikasih gratis juga. Jadi aku nelpon Om Paulus. Aku tahu beliaunya ini jual berbagai jenis emban akik. Beliau bilang ada beberapa emban dari titanium untuk cewek. Jadi aku mampir ke tempatnya, minta dipasang sekalian. Dan, wah, memang jadinya keren. Batu itu kelihatan bagus di tanganku. Betul juga. Ini bagus dan indah.

Saturday, March 14, 2015

Kedua Kalinya untuk RAT Kopdit Mekar Sai

Agak telat dikit tapi baik juga kalau aku tetap mencatatnya supaya aku ingat bahwa tahun ini untuk kedua kalinya aku terlibat dalam kepanitiaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Mekar Sai Lampung. Tahun lalu, aku juga ada di dalamnya sebagai wakil ketua panitia dan pemimpin sidang I. Untuk tahun ini dalam RAT yang diadakan di GSG Gentiaras kompleks sekolah Way Halim, aku kembali menjadi wakil ketua dan menjadi pemimpin sidang II.

Tahun lalu yang menjadi ketua adalah R. Sumarno, dan tahun ini yang menjadi ketua adalah A. Totok Haryadi. Walau dalam kegiatan yang sama tentu saja dinamikanya berbeda, sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam kopdit ini. Dan yang lebih menarik, tahun ini sebagai pemimpin sidang II aku merasakan pengalaman yang luar biasa yang pasti jarang didapat oleh orang lain.

Dalam RAT, sidang I berisi tentang pengesahan tata tertib, pelaporan dari pengurus dan pengawas. Sedang sidang II, di situlah inti dari seluruh RAT. Anggota kopdit melakukan hak dan kewajibannya secara aktif untuk mencermati laporan dan rencana kerja yang sudah dibuat oleh pengurus dan pengawas dengan tanggapan, pertanyaan, kritikan, usulan dan sebagainya.

Banyak hal tak terduga yang bisa muncul dari peserta RAT yang berjumlah 400-an orang dari ratusan unit yang ada di propinsi Lampung ini. Aku mesti menyediakan 4 termin untuk sesi tanggapan ini dan banyak diantaranya adalah tanggapan-tanggapan yang kritis yang menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus di masa mendatang. Menarik, bagiku sendiri lebih-lebih.

Bonus yang kudapat dari RAT tahun ini adalah dilantik menjadi Panitia Nominasi untuk pemilihan pengurus dan pengawas yang akan bekerja sepanjang tahun 2015 untuk pemilihan pengurus dan pengawas di tahun 2016, bersamaan dengan RAT tahun depan. Huah, bonus yang bakal melelahkan.

Thursday, March 12, 2015

Membaca Haiku Hikmat Gumelar



          Walau suka menulis haiku dan ikut dalam grup haiku, aku jarang sekali menemukan haiku yang kusuka. Selain itu, aku juga jarang (malas) mengomentari haiku entah yang kubuat sendiri atau dibuat oleh orang lain. Tapi haiku yang satu ini membuatku berdebar :

bayang reranting
membatik pantai senja
ombak mendekat

Ditulis oleh Hikmat Gumelar dipublikasikan lewat facebook pada 11 Maret 2015. Dalam postingannya, Hikmat memasang gambar bayangan ranting di atas pasir pantai, sedang ombak tengah berjalan mendekati bayangan itu. Jelas gambar itu diambil pada sore hari karena cahayanya redup, abu-abu, menandakan matahari sudah mulai terbenam.

Sebagai haiku, kita bisa mencermati apakah syarat-syaratnya terpenuhi. Terdiri dari tiga baris, baris pertama 5 suku kata, baris kedua 7  suku kata dan baris ketiga 5 suku kata. Haiku Hikmat ini sudah memenuhi syarat baris dan suku kata (Sebenarnya aku lebih suka menggunakan istilah pattern atau ketukan. Terdiri dari 3 baris, 5 – 7 – 5 ketuk.).

Syarat lain, haiku juga harus memiliki kigo atau penanda musim dan kireji atau pemotongan. Walau syarat ini sering diabaikan oleh para penulis haiku modern, aku secara pribadi lebih menyukai mempertahankan syarat-syarat haiku tradisional ini. Kigo atau penanda musim sangat mudah ditemukan di Jepang yang memiliki 4 musim. Tapi di negara tropis seperti Indonesia, penanda musim pun sangat banyak (walau untuk sekarang ini agak kacau karena pemanasan global). Misal bunga bungur mekar bisa menjadi kigo karena itulah tanda musim kemarau akan segera berakhir. Kodok bernyanyi dalam paduan adalah kigo karena itulah saat musim penghujan. Atau ketika capung mulai muncul bergerombol, laron keluar dari sarang dan sebagainya.

Kigo dalam haiku Hikmat ini tidak secara jelas terlihat. Tapi imajinasi pembaca bisa membantu untuk melihatnya. Imajinasi itu juga yang membantuku untuk mengamatinya lebih dalam. Kita lihat – membatik pantai senja – ombak mendekat. Aku membayangkan sebuah senja dengan air laut mulai pasang. Air pasang dan surut akan terjadi setiap hari. Tapi bulan purnama akan membuatnya lebih signifikan karena gaya gravitasi bulan. Dan itu tidak terjadi pada seluruh waktu dalam setahun pada negeri tropis. Walau kita tidak bisa menunjuk secara pasti musim apakah yang melatarbelakangi haiku Hikmat, tapi kita bisa membayangkan masa seperti apa haiku Hikmat ini ingin menggambarkan.  Aku membayangkan, itulah senja saat purnama bisa kita lihat pada malam harinya. Dan itulah kigo dalam haiku Hikmat.

Syarat berikutnya adalah adanya kireji, atau pemotongan. Ini agak susah dibayangkan. Di banyak contoh haiku, misalnya haiku Basho, dimanakah kirejinya? Pemotongan ini kalau kubayangkan dalam pantun seperti pemotongan antara sampiran dan isi. Sesuatu yang tak ada hubungannya tapi toh terkait juga.

Untuk haiku Hikmat ini aku kembali menggunakan imajinasi saat membacanya. Ah, tidak, lebih tepat aku membacanya sebagai susunan kalimat. Aku memotong saja haiku ini menjadi dua kalimat : bayang reranting membatik pantai senja - ombak mendekat. Ombak mendekat tak ada hubungannya dengan bayang reranting yang membatik pantai senja. Dan kalimat pendek itu – ombak mendekat – itulah debar dari haiku ini. Itulah inti gerak halus yang membuat pembaca sepertiku berdebar. Ini semacam penantian. Akan terjadi apa nanti? Apakah bayangan reranting yang sudah terbatik itu akan hilang? Atau bayangan itu akan tetap abadi walau ombak menyapunya? Wuah, membacanyapun ikut membuatku merasa keren. Membuatku terus berdebar.

Mengapa haiku begitu populer di Jepang dan kemudian menyebar ke berbagai negara? Karena haiku sangat sederhana sebagai puisi. Pendek, ringkas, padat. Dan haiku yang berhasil, dia pasti indah mencerminkan sebuah kejadian, atau sebuah tempat, dalam lukisan yang jernih dan mendebarkan.

Lalu apa makna haiku ini? Ah, ketika haiku sudah berhasil menampilkan lukisan, hanya dengan kata-kata singkat tapi sudah membentuk lukisan, makna itu akan spontan memercik pada pembacanya. Apakah aku sudah mendapatkan lukisan itu? Tentu saja. Sudah cukup bahwa aku bilang haiku ini membuatku berdebar. Atau mau masuk lebih dalam lagi? Haiku ini mengajak khayalanku masuk dalam permenungan tentang hidup manusia. Hidup manusia adalah bayangan reranting yang terbatik di pasir pantai saat sore hari. Bayangannya akan semakin redup karena cahaya akan hilang. Apakah ombak yang mendekat dan menyapu pasir pantai akan menghilangkan bayangan itu? Tidak. Bayangan akan tetap ada seperti Citra Sang Pencipta yang selalu dibawa oleh manusia, si ciptaan. Tapi bentun bayangan yang terbatik di pasir dan di air jelas berbeda. Seperti apa bentuknya yang baru? Kita sedang menantinya, dengan berdebar, karena hanya misteri saja yang kita ketahui.

Nah, nah, itu bagiku. Bagi pembaca lain, haiku ini tentu menorehkan hal yang berbeda pula. Dan itu sah. Apapun, ini adalah haiku yang indah. Trimakasih untuk Hikmat Gumelar yang sudah membawa keindahan itu dalam haiku. Takzim, Hikmat Gumelar. Salamku. *** (Yuli Nugrahani)

Wednesday, March 11, 2015

Totto-chan, Tamu Kecilku Sore Ini

Sedang celingukan mencari bahan ajar, aku malah menemukan kembali buku Totto-chan, gadis cilik di jendela. Huah, seperti kedatangan tamu yang ceria. Aku suka sekali buku yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi ini. Tokoh dirinya di waktu masih kanak-kanak memberikan banyak inspirasi soal kebahagiaan seorang anak.

Wah, masa kanak-kanakku jauh dari Totto-chan. Aku cenderung pas disebut sebagai anak pemurung daripada anak yang ceria. Dan aku sangat introvert, pemalu, penakut dan segala hal yang berlawanan 180 derajat dengan Totto-chan.

Karena itulah Totto-chan sangat menarik. Aku melihat dunia baru. Tidak terlambat. Dunia baru Totto-chan masih bisa kunikmati sekarang ini pun. Jadi tak masalah aku menemukan cerita ini saat aku bukan anak-anak. Toh kegembiraannya selalu berguna bagiku, juga bagi relasiku dengan anak-anakku.

Tuesday, March 10, 2015

Memperpanjang Paspor secara Online

Tahun ini pasporku habis masa berlakunya. Sebenarnya masih nanti bulan Agustus 2015, tapi kalau mau ke luar negeri, minimal paspor harus masih berlaku 6 bulan. Jadi kalau tiba-tiba aku dapat kesempatan pergi ke Singapura atau negara lain di bulan Mei atau Juni, jelas paspor itu tak bisa kugunakan. Maka, di awal bulan Maret ini aku mulai ngumpulin dokumen-dokumen persyararatan yang diperlukan. Bisa dicek di sini. Aku nyiapin KTP yang masih berlaku, kartu keluarga di mana namaku dimuat, satu dokumen dengan nama orang tua misal ijasah, dan paspor lama.

Aku scan mereka semua. Jadi pas waktunya nanti akan lebih enak. Aku tahu fotokopi di koperasi kantor Imigrasi Lampung sering kali berjubel dan harganya di atas rata-rata. Jadi aku print saja hasil scan itu dengan ukuran yang dipakai adalah kertas A4. Harus pakai ukuran A4. Juga untuk KTP bolak balik di lembar yang sama, jangan dipotong. Karena aku akan memperpanjang, aku print juga hasil scan paspor lama di halaman depan dan belakangnya.

Hasil browsing ternyata banyak yang menyarankan untuk daftar online. Lebih cepat dan mudah. Jadi aku masuk ke web http://www.imigrasi.go.id/. Ikuti saja pelayanan yang ada di sana, masukkan data dan tidak perlu upload dokumen-dokumen persyaratan. Dokumen itu disiapkan untuk saat datang ke kantor imigrasi saja.

Setelah pengisian formuler beres, kita akan mendapatkan konfirmasi lewat email sebagai pengantar pembayaran ke BNI. Hanya bisa di BNI, sejumlah Rp. 355.000,- plus biaya administrasi Rp. 5.000,-.Dari BNI kita akan mendapat 3 lembar bukti pembayaran, untuk dibawa ke kantor imigrasi.

Usai pembayaran kita masuk lagi ke web imigrasi lewat lembar konfirmasi email kita. Kita bisa memilih hari kedatangan ke kantor imigrasi dan pada hari Hnya, bawa semua dokumen persyaratan termasuk yang asli. Antrian untuk pengurusan online lebih cepat karena tidak banyak, ini pengalaman di kantor imigrasi Lampung. Ohya, siapkan juga badan dan baju yang rapi karena akan langsung foto dan wawancara. Baju berkerah, jangan warna putih.

Di kantor imigrasi kita masih diminta untuk mengisi formulir kepergian ke luar negeri dengan materai 6000. Memang tidak ada dalam persyaratan di web, tapi kita pasti akan diminta untuk itu. Dan hanya bisa didapatkan di koperasi imigrasi, di belakang kantor.

Sudah, urusan lain hanya nunggu-nunggu saja. Ikuti saja. Kalau sudah foto dan wawancara, paspor bisa diambil 3 atau 4 hari lagi. Jika tidak online, usai foto dan wawancara baru melakukan pembayaran di BNI dan paspor akan jadi setelah 3 atau 4 hari setelah pembayaran.

Sunday, March 08, 2015

MUSIM DUREN

Musim duren di Lampung selalu istimewa bagi kami sekeluarga. Pasalnya kami berempat sangat doyan pada buah dengan kulit berduri ini. Walau sangat doyan, bukan berarti kami bisa makan duren sepuasnya setiap kali musim duren berlangsung. Kami mesti hitung-hitungan ketat biar ndak bangkrut. Hehehe...

Beberapa minggu ini, duren seperti barang tak laku saja kalau lewat di jalan-jalan kota. Kebiasaan Mas Hendro setiap kali lewat tumpukan duren seperti itu pasti membunyikan klaksonnya. Kami yang lain nyengir saja. Belinya sih tak tentu.

Untungnya, suatu siang aku bercakap dengan Bernard.
"Nard, milih ke pantai atau beli duren?"
"Terserah aja sih, bu."
"Pilih. Cepet."
"Hmm, kalau pantai sih sepanjang waktu tetep ada. Setiap waktu bisa dikunjungi. Kapanpun."
"Lalu?"
"Kalau duren kan hanya ada pas berbuah, pas musim berbuah."
"Jadi?"
"Beli duren dong."
Hehehe... kok seide sih, Nard. Sip. Lanjutannya aku nelpon Mas Hendro. Aku ceritakan percakapanku itu persis seperti saat ngobrol dengan Bernard.
"Jadi?"
"Beli durennn!!!!"
Hehehe, Mas Hendro pasti ngejungkel di meja kantornya sana. Tapi itu benar-benar dilakukannya. Pas pulang kerja, dibawanya 4 duren besar seharga 50 ribu. Lalu besoknya lagi 8 duren kecil dengan harga yang sama. Besoknya lagi 6 duren ukuran sedang. Pokoke tiada hari tanpa duren. Mumpung Lampung sedang berlimpah duren. (Walau katanya itu duren Baturaja, tak semuanya dari Lampung.) Hehehe... Jika nanti sudah merambat naik ke harga puluhan ribu per biji, stop. Tak boleh ada duren lagi, dan tertinggal klakson-klakson sambil nyengir saat lihat duren di jalan.

Saturday, March 07, 2015

KECOAK

Sudah beberapa kali kubilang ada satu bau yang paling tak bisa diterima oleh hidungku. Yaitu bau kecoak. Samar saja tercium, spontan perutku akan bereaksi. Mungkin hanya bekas dari kaki-kakinya di gagang sendok, tak mungkin lagi aku makan pakai sendok itu. Kecium baunya, perut tersodok ke atas dengan asam lambung yang langsung meningkat. Mau muntah. Dan bisa jadi muntah beneran.

Nah, pagi ini saat aku masuk kamar mandi anak-anak, bau kecoak tercium. Tidak menyengat, tapi cukup menusuk hidung pekaku. Aku bisa menghilangkannya dengan menutupi hidung dengan handuk. Namun, usai keluar dari kamar mandi, bau itu terus mengikuti. Ke mana pun aku pergi.

"Lihat dong. Mungkin ada kecoak yang menempel di bajuku." Mas Hen dengan sekilas melihat aku, dan meyakinkan tak ada kecoak apapun di baju maupun tubuhku. Aku menyisir rambut, mengibas-ngibaskan seluruh badan, memang tak ada kecoak.

Usai mandi, bau itu masih juga mengikuti. "Jangan-jangan ada di hidung ibu, nih. Huft." Aku menggosok hidungku kuat-kuat.

"Ibu mah ada-ada saja." Albert komentar sok cool sambil menghabiskan sarapannya.

Bernard yang sudah beres menunggu untuk berangkat ke sekolah menasehatiku dengan serius. "Makanya jangan mengingat-ingat terus. Ibu harus menghilangkan pikiran ibu dari kecoak. Dari tikus. Dari ulat. Jadi ndak kecium baunya. Ndak ketemu binatangnya. Kalau dipikir terus seperti itu jadinya. Malah kecium baunya. Malah ketemu makluknya." Eh. Wajahnya yang serius itu bikin aku pengin menjitaknya. Sok lu, dik. Ihiks, dalam hati aku pikir, hmmm... bisa jadi, bisa jadi.

Friday, March 06, 2015

Mata Kuliah Pengembangan Karakter

Ini sebetulnya bukan cerita baru. Jadi, saudara-saudari, mulai semester lalu, September 2014 karena suatu alasan yang mulia dan gembira aku didapuk menjadi dosen (hehehe. walau kw.) di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Gentiaras Lampung sebagai bagian dari tim pengampu mata kuliah Character Building. Hebat ya? Hehehe... Ndak juga. Biasa saja. Karena yang namanya Yuli Nugrahani kan memang seperti itu garis hidupnya.

Nah, nah, ini soal yang serius. Aku bahasakan saja ke Indonesia, pengembangan karakter. Untuk semester ganjil lalu aku pegang untuk kelas semester 3 dan 5, dua kelas setiap hari Kamis. Untuk semester mendatang ini aku akan masuk di semester 2 dan 4 untuk kelas pagi dan sore, jadi ada 4 kelas tiap hari Kamisnya. Bagi STIE Gentiaras, mata kuliah ini bukan mata kuliah pokok dengan penilaian yang masuk dalam KHS, tapi ini adalah mata kuliah wajib dari semester 1 sampai 6. Hasilnya adalah sertifikat yang wajib dimiliki oleh mahasiswa sebelum PKL.

STIE Gentiaras menjadikan mata kuliah ini bagian yang penting untuk pengolahan karakter alumnusnya sehingga siapapun yang pernah kuliah di kampus ini mempunyai keunggulan khusus yang bakal membantu alumni untuk masuk dalam dunia kerja dan dunia masyarakat. Aku tentu saja gembira mendapat kesempatan terlibat di dalamnya walau itu memberikan beberapa konsekwensi yang tidak sedikit dalam ritme hidupku.

Nah, aku ingin melihatnya secara personal. Apa yang telah kudapatkan sepanjang semester lalu berproses dengan mahasiswa-mahasiswa? Hmmm, ini adalah pengalaman baru bagiku. Walau aku dibesarkan oleh keluarga guru, menjadi guru tak pernah menempel sebagai cita-citaku. Jadi kalau sekarang aku merasakan sebagai dosen (walau kw. hehehe.), ini adalah hal luar biasa dalam hidupku. Aku jadi belajar banyak tentang pengembangan karakter, khususnya yang diperlukan oleh mahasiswa dan atau lulusan kampus perguruan tinggi. Yang paling asyik, adalah persentuhan dengan para muda di kampus. Umur belasan tahun yang penuh dengan vitalitas dan kegembiraan. Jadi, walau tiap hari Rabu malam aku selalu puyeng menyiapkan materi, aku menikmati kegembiraan 'ngerumpi' bersama dengan mereka. Dan untungnya, mata kuliah ini adalah pengembangan karakter, bukan matematika, akuntansi atau pelajaran lain. Hehehe.... Permulaan perkuliahan semester genap akan mulai Kamis minggu depan, 12 Maret, tapi aku sudah tak sabar bertemu dengan mereka semua. Wuah...


Thursday, March 05, 2015

SANDAL HELLO KITTY

Merasa selempang pagi-pagi, aku memutuskan berkeliaran saja di dalam rumah. Menyentuh beberapa buku yang masih terserak di kursi, di meja, di lantai, tanpa berniat membacanya. Sebagian masih terbungkus plastik.

Bosan di dalam rumah, aku menengok tanaman-tanaman sekitar rumah. Lama sekali tidak menyapa mereka. Tapi dengan perasaan rumpang seperti ini, susah sekali memberi kegembiraan pada mereka juga susah sekali mengambil kegembiraan dari mereka. Aku hanya menggeser-geser saja pot-pot itu.

Lalu kembali ke dalam rumah. Saat mau menyurukkan kaki ke sandal rumah, aku melihat senyum si Kitty, Hello Kitty sandalku. Tak jadi memakainya, aku menentengnya, mengepitnya di ketiakku, berjinjit ke depan tivi, membuka karpet dan meletakkan sepasang sandal itu di lantai, di ujung dekat karpet.

Nah, kini mereka berdua ada di sebelah laptop, menatapku dengan mata bulat dan senyum merah muda yang ceria. Warna kulitnya krem, dengan motif baju warna ungu dengan detail dan pita warna pink. Hidungnya dan tangannya warna putih. Hehehe... jadi tersenyum melihatnya. Aku tak pernah sadar sandal ini begitu cantik. Sejak kupakai sekitar setahun lalu, ya, mereka selalu setia di kaki kanan dan kiriku jika aku beraktifitas di dalam rumah.

Aku menjengkali panjangnya. Tiga kali telapakku jika kumiringkan. Eh, kalian mau mengatakan sesuatu?
"Tidak ada. Kami kan tidak bisa bicara."
Hehehe... Baiklah. Jadi apa yang akan kalian lakukan?
"Menunggumu menulis tentang kami. Lalu kami akan menikmati kaki-kakimu saat kau sudah tidak mau berbaring lagi."
Hohoho...baiklah. Kalian diam-diam saja dulu. Kalian mau kufoto?
"Tidak. Jangan. Kau sudah lama tidak pernah mencuci kami. Dekil."
Spontan aku mengangkat mereka dengan dua tanganku. Mengamat-amati. Hmmm... tidak dekil. Masih cerah warnanya. Tapi, ya, agak kotor di bagian bawah. Bau karet. Hehehe... Kalian masih cantik.

Hehehe... Dua-duanya tersenyum ceria. Hmmm... rupanya mereka sangat menikmati diperhatikan. Seperti aku. Aku masih merasa rumpang dan selempang, tapi kini aku merasa tidak sendiri. Aku menyematkan sandal-sandal itu di kaki kanan kiriku. Kali ini dengan hati-hati, dan aku mengajak mereka kembali mengitari rumah. Ke dapur mencari-cari yang bisa kumakan, karena tiba-tiba aku merasa lapar.

Wednesday, March 04, 2015

AHOK

Satu dari posenya. Kudapat lewat Google.
Susah membuka jaringan internet tanpa ketemu nama yang satu ini. Ahok. Sekarang dengan konflik dengan DPRD DKI Jakarta, namanya semakin wiri wara di dalam komunikasi banyak orang di dunia maya atau nyata, entah yang pernah ke Jakarta atau yang belum. Aku pun ingin menambah satu angka untuk lokasi browsingnya lewat blogku ini, maka namanya kutulis sebagai judul. Dengan huruf kapital.

Hmm... ya, aku kenal namanya sejak lama, saat masih menjadi Bupati Bangka Belitun. Pernah juga bersimpang jalan dengannya waktu dia mengunjungi Lampung untuk acara di Pringsewu. Iya, bersimpang jalan karena pas aku datang beliaunya sudah pergi dari lokasi yang sama.

Jadi apa yang bisa aku tulis darinya? Hmmm... agak susah. Tapi aku suka gayanya. Dia ini orang yang langka. Keberaniannya berpikir, berkata dan bertindak tidak dimiliki oleh banyak orang. Apakah dia selalu benar dengan pikiran, perkataan dan tindakannya? Pasti tidak. Tapi pilihan-pilihan hidupnya itu menjadi inspirasiku di beberapa titik.

Satu contoh, apa yang sekarang ini diributkan di media karena konfliknya dengan DPRD DKI Jakarta. Salah satu foto dimana dia mencoret lembaran draft APBN dengan tulisan,"Pemahaman nenek lu!" Aku yakin spontanitasnya itu muncul karena memang logika dalam draft itu tak cocok dengan logikanya. Apakah tulisannya itu salah? Itu jadi salah ketika dibaca oleh yang membuat draft. Pelecehan, penghinaan atau apalah sesuai tempurung otak yang bersangkutan. Apakah memang draft itu salah? Aku juga tak tahu. Tapi andai aku punya sedikit saja, aku akan membentuk diriku dalam keberanian seperti yang dimiliki Ahok. Bisa jadi dia belum menjadi orang yang kuidolakan macam Gandi, Rm. Mangun atau orang-orang lain, tapi salut sungguh pada orang ini. Salut untuk Ahok, dan aku dalam bagianku akan mengambilnya sebagai contohku.

Saturday, February 28, 2015

Sekeluarga di Chez Bon Bandung, wuih, wuah.

Sebagai pejalan, aku sudah mengalami tidur di banyak tempat yang beragam situasi dan fasilitasnya. Mulai tidur di tenda kehujanan dengan toilet alam (hehehe...) sampai hotel berbintang dengan fasilitas mobil antar jemput plus sopir santun pernah kualami. Atau juga dari yang gratis (karena nebeng. hehehe...) sampai yang mesti mendelik saat lihat daftar harganya.Tapi kali ini aku ingin bercerita tentang satu penginapan sederhana di Bandung yang awal tahun lalu kami pakai sekeluarga. Yaitu Chez Bon Hostel di Jalan Braga, Bandung.

Awalnya sama sekali tak ada rencana untuk menginap di Bandung. Ini hanya tujuan transit setelah perjalanan ke Jawa Timur di akhir tahun 2014. Karena mengejar tiket murah yang akan berakhir pada 31 Desember 2014 (Rp. 50.000,- per orang dari Kediri ke Bandung), maka kami ambil kereta api itu. Yang tidak kami perhatikan detail, kereta itu akan tiba di Bandung pada sekitar jam 02 dini hari, pada 1 Januari 2015! Tahun baru kami lewati di kereta Kahuripan tanpa terompet dengan tempat duduk yang terpisah-pisah (kami berempat mendapat kursi yang terpisah satu sama lain selama di kereta. huft. Bernard dan Albert yang protes berat tapi toh tak ada pilihan. Hehehe.)

Idenya memang dariku, si ibu bengal yang paling nekat. "Kita akan tahun baruan di Bandung." Mas Hen melihatku dengan wajah pasrah penuh cinta. Aku tahu dia suka juga jalan-jalan di Bandung. Aku tahu pertanyaan lanjutannya, jadi sebelum ditanya aku sudah jawab. "Aku akan carikan tempat menginap."

Aku tahu aku punya beberapa teman dan relasi yang pasti rela hati ditumpangi untuk satu atau dua malam. Tapi aku pikir lebih enak jika kami berempat lebih bebas menikmati Bandung tanpa mikir 'tak enak hati' karena nebeng. Jadi aku browsing di internet selama di kereta, dan telpon sana sini. Rencanaku akan menginap di salah satu hotel murah yang family room di dalam kota. Tapi karena tahun baru, harga-harga melonjak dan tinggal kamar-kamar tertentu yang kosong!

Okey. Jadi kemudian aku mulai cek guest house atau hostel. Dan ketemu Chez Bon, di Braga. Koment-koment yang muncul dari penginapan ini positif banget. Pas telpon, mereka bilang masih ada tempat tidur kosong. Rp. 120.000 per orang. Dan bisa masuk dini hari itu. Sipp.

Dari Stasiun Kiaracondong kami cari taksi sambil setengah merem. Muter-muter di sekitar Braga yang pendek itu sampai dua kali baru ketemu. Papan namanya kecil, jadi susah ditangkap mata yang rabun di waktu subuh. Resepsionis seorang bujang meminta kami menunggu sebentar, untuk menyiapkan 4 bed, lalu urusan administrasi dan kami masuk kamar, mendapat small room isi 2 bed, jadi kami menempati 2 kamar berdampingan. Ganti baju dan kami terlelap sampai sekitar jam 9 pagi. Sayang kalau sudah di Bandung hanya untuk molor. Jadi kami opyak-opyak anak-anak untuk segera beberes. Mandi, dan mulai cari makan.

Hari itu kami punya rencana. Cari sarapan, ke kebun binatang Bandung, nonton angklung di Saung Udjo, makan malam dan kembali ke penginapan malam saat jam tidur. Dan itulah yang kami lakukan. (soal kebun binatang dan Saung Udjo nanti aku akan tuliskan lagi di tempat lain.)

Ini tempat penginapan yang nyaman. Bersih. Kami menukar alas kaki dengan sandal yang mereka sediakan di rak-rak sepatu. Kamar-kamar untuk berbagi dirancang dengan tepat guna. Di tiap bed, dekat bantal disediakan colokan dan lampu baca. Tempat mandi di luar kamar bersih harum dengan tisu yang selalu tersedia. Pegawainya cukup ramah, bahkan ketika ada barang yang ketinggalan di kamar mandi mereka menyimpannya untuk kita.

Karena sangat capek, malam itu kami pulas tidur. Lokasi di lantai 2 sangat tenang. Tidak terusik apapun. Orang-orang lain yang juga menginap di situ cukup banyak tapi tidak ada keributan. Rencana aku sama Mas Hen untuk jalan-jalan malam usai anak-anak tidur tak terjadi. Perjalanan siang hingga malam sudah menghabiskan energi.

Asyik berkreasi untuk sarapan masing-masing.
Pagi kami mendapatkan sarapan gratis yang kami siapkan sendiri. Roti gandum 2 lembar, satu telur mentah, teh atau kopi. Tersedia microwave, penggorengan, mentega, dan beberapa jenis selai. Albert dan Bernard tak terkecuali menyiapkan sarapan model masing-masing. "Bikin sendiri ya. Ibu hanya untuk sarapan ibu." Hehehe... Asyik juga mereka berkreasi dengan roti dan telur. Dan kenyang. Usai itu juga piring dan gelas yang kotor dicuci masing-masing. Asyik-asyik saja. Dapur dan tempat makan ini di balkon lantai atas. Jadi sarapan sambil menikmati angin. Di situ juga ada ruang cuci, seterika dan jemuran. Sederhana tapi memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Mantap.
Foto di pintu masuk Chez Bon.

Hari itu kami masih akan menikmati Bandung. Kemarin kami kehabisan tiket bis Damri ke Lampung, jadi malah menguntungkan karena bisa mulai perjalanan jam berapapun. Chez Bon membolehkan kami titip tas-tas dan ransel sampai malam. Jadi pagi itu kami check out tapi barang-barang diletakkan di ruangan dekat resepsionis dan bilang malam akan diambil.

Seharian kami menikmati kota Bandung. Makan apapun yang terlihat, ke musium-musium, naik Bandros (bis city tour) menikmati macet (hehehe), foto-foto di banyak tempat dan malamnya kembali ke penginapan untuk ambil barang-barang. Wuah. Terimakasih banget untuk tempat menyenangkan milik Bondan Winarno ini. Asyik.

Tuesday, February 10, 2015

Hantu Rumah Sebelah

Berayun di pohon jambu biji
ranting-rantingnya menjangkung
di antara pikir di antara kaki
di antara pagi yang masih di kandung
kegelapan mengenakan kepalanya
keras diadu dengan ketakutan.

Suara-suara akan menderit
minta didengar
tapi sungai mengering
tak punya telinga.

Saturday, January 31, 2015

Cemara Tepi Toba

Ada yang hangat menyeruak
Hati terpapar siang
Redup di balik urai cemara
Tertinggal hangat di ujung-ujungnya

Kukatakan ini bukan semata Toba
Tapi ini cinta

Tuesday, January 13, 2015

Ciuman Basah

Bulan memasang panggung di dalam rongganya
menarikku dengan dua tangannya yang kerontang
sedang akar-akar ditancapkan di gendang telinga.

Suaraku terjepit bibirnya
yang selalu basah
memberikan ciuman.

Sunday, January 04, 2015

TITIK TEMU, Memulai Tapak Pertama di Sumenep

Musikalisasi puisi oleh KJ.
Apa kegembiraan seorang penulis? Yaitu ketika tulisannya mulai tersebar, berjalan menemui para pembacanya. Kali ini aku bukan hanya sekedar penulis, salah satu penulis dari 60 penyair yang terkumpul dalam Titik Temu, Komunitas Kampoeng Jerami, tapi aku juga bagian yang erat melekat pada prosesnya. Sebagai editor, sebagai bagian dari relawannya, sebagai bagian yang tak mau dipisahkan darinya. Tentu saja inilah kegembiraan itu.

Yaitu saat Titik Temu mulai melangkah. Di mulai dari Timur sana, di gedung kesenian LPP RRI Sumenep, Komunitas Kampoeng Jerami melejitkan buku ini dalam peluncuran dan bedah buku, pada Minggu, 4 Januari 2015. Ini langkah pertama yang menyenangkan walau hmmm... aku sedih tak bisa terlibat langsung di dalamnya. Dari jauh aku mengintip, menguping,... ikut deg-degan dengan setiap perkembangan.

Wuah, orang-orang hebat terlibat dalam kegiatan ini. Aku iri? Ya, aku iri tak bisa bergabung, walau hatiku jelas ada di sana. Lihat. Much. Khoiri dari Surabaya jadi pembicara. Lalu Fendi Kachonk dari Sumenep yang juga pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami, juga Ferli, Sigit, Syaf Anton, M. Faizi,  hmmm... aduh, bahkan aku tak kenal siapa-siapa lagi yang lain dari 80-an orang yang telah hadir itu. Atau siapa saja yang telah membaca puisi. Atau siapa dari mana yang ikut berdiskusi. Atau apa yang dikumandangkan dari tempat itu, yang disuarakan, dibincangkan, dilagukan, ditarikan... Huft.

Tapi aku memandang takzim ke Timur sepanjang pagi hingga siang hari ini. Tentu saja memang tepat dimulai dari Timur sana, seperti matahari yang akan berjalan, terus berputar, ke Barat. Aku bangga menjadi bagian dari putarannya. Titik Temu akan membuat titik-titik pertemuan berikutnya. Aku yakin.

Saturday, January 03, 2015

Menari di Tahun 2015

Tahun 2014 aku mempunyai misi khusus. Jika berminat mengulik misiku tahun lalu, klik sini. Sekilas ingin kukatakan, suasana berbeda mewarnai pergantian tahun 2014 ke 2015 ini. Sangat berbeda dengan tahun lalu.

Hmmm... seharusnya aku mesti membuat evaluasi dulu atas misi tahun 2014 itu. Tapi, kukira tahun 2014 itu sangat istimewa, bagi usia 40 tahunku, dengan beberapa pencapaian. Mungkin bukan kesuksesan karena gerimis toh selalu ada. Jadi, aku akan memakai waktu lebih longgar nanti untuk melihatnya kembali, untuk mengevaluasinya dengan sungguh-sungguh.

Yach, novel tidak tercapai, tapi dua buku tunggal untuk puisi dan cerpen, juga beberapa buku antologi puisi bersama, kukira itu bisa mengganti novel, untuk sementara waktu sambil menunggu novelku rampung. Aku bukannya menghentikan novel, tapi akan ada waktunya nanti.

Jadi untuk 2015, aku tentukan saja misi ini sekarang saat kegembiraan meliputiku. Aku akan menari, menari saja di tahun 2015 ini. Menari, ayok menari.