Friday, February 24, 2012

Yogyakarta, I love you.

Aku punya kota kesukaan untuk dikunjungi. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Yogyakarta!!! Dipikir-pikir sih kunjungan pertama ke kota ini sejak aku masih SD, bersama rombongan besar beberapa bis anak sekolah. Lalu SMP ke sana, SMA ke sana lagi dan saat kuliah ke sana lagi. Seingatku, aku tidak bisa anteng ikut rombongan kalau pergi ke sana walau perginya dengan rombongan besar atau kecil. Aku ingat saat semester awal kuliah aku melarikan diri dari rombongan sehingga pembimbingnya, Rm. Sad Budi, CM., marah, melarang, tegas. Maaf, mo. Saat itu aku tetep ngotot dan pergi. Mana mungkin ke Yogyakarta tidak menggelandang? (Saat itu aku keluyuran, lalu ketemu seorang teman, menginap satu malam dan pulang Malang sendiri, dengan puas.)
Pergi dengan rombongan kecil, satu atau dua sahabat pun berkali-kali aku lakukan. Berganti orang, berganti tempat yang dikunjungi. Dengan keluarga pun pernah kulakukan. Terakhir dengan suami dan anak-anak pas pergantian tahun terakhir itu. Waktu itu aku ingin mengenalkan Borobudur, Malioboro dan Yogyakarta ke anak-anak. Perjalanan terakhir ke sana baru saja, beberapa hari lalu. Perjalanan mampir satu hari satu malam dengan banyak rencana, lalu yang terjadi juga banyak agenda.
Yogyakarta menawarkan keramahan, kenyamanan, kesukaan,... sepanjang jam dalam sehari. Dinikmati dengan cara apapun, kota ini menyenangkan. Para sababat di dalam kota banyak, para kerabat di agak pinggiran kota, penginapan murah, makanan meriah, dan jalanan yang ramah. Memang sih, akhir-akhir ini (tahun lalu aku 3 kali mampir Yogya, tahun ini baru 1 kali hingga bulan ini) aku agak takut kalau menyeberang jalanan di Yogya, terlalu ramai dengan sepeda motor. Tapi sejauh ini masih asyik, moga Pemda setempat mulai memikirkan keriuahan yang akan bertambah jika motor tak terbendung masuk Yogya. Masih asyik karena ada Malioboro (foto atas kiri), kraton, alun-alun dan sekitarnya. Ohya, ada juga House of Raminten (foto yang bawah kanan). Ini salah satu yang kusuka juga jika sempat ke Yogya. Dengan siapapun, Yogyakarta selalu menawarkan romantisme. Yogyakarta, I love you.

Wednesday, February 22, 2012

Just Dust

Lagi pula apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku hanya debu, yang digenggam pun susah, menempel pun tak kelihatan. Apalagi jika sudah tertabur.
Namun, aku adalah debu yang diiringi angin senantiasa. Maka aku masih akan punya daya. Untuk pergi, untuk datang, untuk membutakan mata orang.
Aku hanya debu, di kaki Ilahi. Tidak dikibaskan, namun diberi pengiring selaksa sejuta kuasa angin.
Kini aku tinggal mematri niat, tetap bersahabat dengan angin, rahmat yang sudah tercurah bagiku.

Tuesday, February 21, 2012

Destruction of Imaginations

Khayalan punya kekuatan. Penuh rekayasa yang didorong oleh keinginan tak terkendali oleh pikiran dan hati. Terlebih jika tubuh sudah mengingat suatu kenangan yang ingin diulang. Rekayasa bisa menjadi sangat kuat. Mendorong manusia melakukan perjalanan jauh, kemana saja dengan keberanian yang degil. Melambungkan angan jauh melebihi takdir. Mendorong indera untuk menerimanya sebagai sesuatu yang berharga walau sebenarnya hanya pura-pura.

Namun ternyata ada lagi kekuatan manusia yang bisa mengalahkan hal itu. Kekuatan doa. Doa yang hanya setengah hati pun lebih kuat dari seluruh rekayasa hati. Hingga tidak ada lagi yang harus disesali walau air mata mengalir, sedih kecewa membuncah. Seluruh keinginan dan rekayasa dihancurkan. Marah, sedih, kecewa, tapi tak ada penyesalan. Yang ada adalah syukur karena Sang Ilahi menitahkan keselamatan. Lewat doa yang hanya setengah hati diucapkan.

Monday, February 13, 2012

Deceiver

Di Indonesia, di dunia, hidup jutaan penipu. Yang benar-benar jahat hari ini melakukannya padaku. Dia, mengatasnamakan diri : TU Sekolah. No HPnya : 085255443453. Dia telepon ke no telepon rumah. Ada Wawak di rumah.
Mengatakan : "Albert jatuh di sekolah, pendarahan, dibawa ke rumah sakit."
Nah, kontan Wawak panik. Minta tetangga sebelah, Mama Dita untuk terima telepon itu. Ya, tentu saja Mama Dita ikut panik. Mencatat no itu lalu telepon aku.
"Tante, Albert jatuh di sekolah. Dibawa ke rumah sakit!"
Ha, langsung gemeteran n lemes badanku. Mencatat no HP itu dengan panik. Untung otakku masih waras. Sehingga bukan nomor itu yang aku pencet, tapi no telepon guru kelasnya. Logikanya, Bu Yoga kan tahu nomor teleponku. Ada hal kecil kenakalan Albert ini itu, beliau langsung kontak aku kok. Kalau ini sesuatu yang gawat, apalagi. Juga Sr. Emma kepala sekolahnya dengan mudah mengakses aku. Juga banyak orang di sekolah itu yang kenal aku, tahu dimana aku pada jam-jam seperti ini.
Dan benar saja.
"Albert? Albert Ardyatma? Ini, lagi di kelas. Sedang belajar. Tidak ada apa-apa."
Oalah, penipu. Teganya. Pasti sekarang dia hunting korban lain. Mungkin dengan nomor yang lain pula.

Saturday, February 11, 2012

36 Episcopal Uskup Andreas Henrisoesanta

Proficiat, Mgr. Henri!
Menjalani 36 tahun episcopal di Keuskupan Tanjungkarang, Lampung, dari 11 Pebruari 1976, tentu bukan urusan yang mudah. Pasti ada suka duka, jatuh bangun, pujian celaan, dll.
Pagi ini aku menyapamu, dengan doa tulus. Apapun yang sudah kau lakukan, kau alami, semoga menjadi rahmat yang bisa diterima dengan penuh sukacita oleh dirimu, oleh semua orang, khususnya yang punya kaitan denganmu.
Mungkin tidak selalu terpahami, tapi aku yakin, bahkan yang paling sulit diterima oleh akal pun bisa menjadi rahmat.

Salam dan doa.

Friday, February 10, 2012

Angelina Sondakh

Perempuan, ibu, janda, politisi, selebrity,...
Lengkap sudah titelnya.
Melihat senyumnya masih mengembang aku salut.
Melihat tindaknya masih berjuang aku salut.
Melihat bicaranya masih disebar aku salut.

Jika melewati semua ini dengan buram
dengan niatan yang suram
dengan mengingat hanya pada kepentingan
dengan kesadaran hanya menyelamatkan diri.

Dia akan kalah.

Jika melewati semua ini dengan terang
dengan niatan yang benderang
dengan mengingat Indonesia yang sudah banyak korban
dengan langkah yang mantap pada Pencipta.

Dia akan menang.

(Aku berdoa untukmu, Angie. Supaya memilih jadi pejuang bagi kehidupan Indonesia. Bukan hanya untuk diri, atau hanya untuk Demokrat, atau hanya untuk semua kesenangan. Aku sungguh-sungguh mendoakanmu.)

Thursday, February 09, 2012

My Mother

Ibuku hari ini ulang tahun. 60 tahun. Umur yang sudah cukup untuk menikmati hidup. Segala suka duka. Selamat ulang tahun, ibu. Terimakasih sudah menjadi ibuku. Merawatku, mencintaiku, hingga kini. Terimakasih. Ampuni juga segala salahku, dari bayi hingga setua ini, aku masih menyusu, pada kasih sayangmu.

Wednesday, February 08, 2012

No Talk Again

Rasanya sudah berabad tahun aku bicara. Bicara terus tentang segala hal. Perasaan, pikiran, tubuh,... Apapun! Dengan keras, lembut, biasa,... Bagaimanapun! Juga dengan alasan ini, itu, ...

Kali ini, cukup sudah! Tak perlu lagi bicara. Aku akan mogok bicara.

Hanya merasa, memikir, melaku. Tanpa bicara lagi.

Monday, February 06, 2012

Waiting the moment

Aku sedang menunggu saat
bisa memegang pelangi liat
merentangnya dari tangan ke tangan
mengeriutkan hingga bulat di kepalan

Melamunkan rasa sedapnya
dalam kuluman mulut
sesuap, sesuap lagi

Aku ingin memegang pelangi
dan memakannya

dalam segala rupa

Friday, February 03, 2012

Rain in the Morning

Tidak ada embun pagi ini. Yang ada adalah hujan deras basah dingin gelap. Aktifitas tetap berjalan seperti biasa, tapi disertai mood yang sangat-sangat rendah. Bangun, minum air putih, membuka seluruh pintu dan jendela, ke kamar mandi dengan ogah (seminim mungkin menyentuh air), masak nasi, menggoreng tahu tempe, membuat sambel pecel, merebus bayam, merebus air lalu mandi. Menyiapkan sarapan, makan dengan setengah lari, peluk cium pipi kanan kiri semua orang di rumah kecuali Albert, lalu naik motor. Menunggu Albert beberapa saat sembari doa singkat untuk semua orang yang kusayangi dan melaju pelan dengan Mioku. Hampir sama tiap pagi seperti itu. Kali ini mendapat bonus rinai hujan. Juga angin dingin.
Aku mencintai hujan, tapi sesekali seperti pagi ini, aku rindu embun. Embunku.

Thursday, February 02, 2012

Rm. Sugondo, SJ

Beberapa hari atau minggu yang lalu kabar duka datang lewat sms dan email. "Rm. Gondo meninggal, Mbak Yuli." Aku tidak terlalu kaget. Aku tahu Rm. Gondo memang sakit dalam beberapa bulan atau tahun belakangan. Tidak terlalu merasa kehilangan karena aku memang biasa saja mengenal romo ini. Malah dalam beberapa kali kesempatan bertemu aku selalu secara sadar menghindari perbincangan dengan romo. Hanya menyapa, nglirik dikit dan bercakap ala kadarnya. Aku menganggap chemistry antara kami tidak ada. Dari pada malah berantem lebih baik aku tidak terlibat jauh dalam perbincangan dengannya. Itu pendapatku. Ketika rapat di FPBN pas dia hadir, di pojokan lalu tertidur, aduh, aku sengit banget. Kalau pas dia gak hadir, ya wis, dirasani lebih enak dari pada dirindukan. Kayaknya gak ada yang serius bisa kuingat dari romo ini.
Pagi ini ketika membaca tulisan berdasar kotbah Rm. Sindhu saat pemakamannya yang dimuat di Sesawi, aku menitikkan air mata. Aku sama sekali tidak mengenal Rm. Gondo tapi sudah memvonisnya. Menutup segala peluang terhadap persahabatan dengannya, padahal kami berdua pada satu masa, sama-sama mengatakan 'pendamping buruh'. Aku menitikkan air mata bukan karena menyesali aku sudah mengabaikan seluruh perjumpaan dan perkataannya, tapi aku merasakan rahmat tercurah dari pemahaman baru ini. Rm. Gondo telah memberiku pengajaran ketika dia sudah beberapa hari meninggal. Lewat cara yang aneh telah ada pemahaman baru dalam hidupku, melalui Rm. Gondo. Terimakasih, Romo. Selamat jalan.

Thursday, January 26, 2012

Finding Windows


udara lembut tak bergerak
penguasa suasana itu tak hendak beranjak
tak sadar sekitarnya
bahwa daun batang terpaku menunggu
matahari merapat dengan enggan
dan suara-suara memadat dalam hening

aku tahu itu sedang terjadi
tapi tak ada jendela
dimana bisa melihatnya
dengan mata
kaki
sendiri

rumah
membekukan
bising

Tuesday, January 24, 2012

Resensi Buku : Tantri, Perempuan yang Bercerita


Jika Perempuan Bercerita

Judul : Tantri Perempuan yang Bercerita
Penulis : Cok Sawitri
Penerbit : Kompas Media Nusantara, Jakarta
Cetakan : I, Mei2011
Tebal : vi + 362 halaman; 14 cm X 21 cm
ISBN : 978-979-709-574

Eswaryadala, adalah seorang raja muda, tampan, tahu seni sastra dan berkuda, hidup satu masa dengan banyak pertanyaan.

Apa bedanya raja dengan rakyat
rumahnya disebut istana
perintahnya adalah kuasa
tak beda dengan saudagar kaya
rumahnya bagai istana
perintahnya juga kuasa
pasar tunduk padanya
Apa bedanya...
Sayang, ketika pertanyaan-pertanyaan membuatnya gundah, para pegawal dan pembesar kerajaan terbagi dalam dua kepentingan. Ada yang murni memang untuk mengabdi negara, namun justru yang dekat dengan sang raja, mempunyai kepentingan lain. Mereka menjilat dan memberi pengaruh yang justru menambah kegelisahan raja sehingga langkah salah yang diambil. Raja jatuh dalam pesta pora dan ratusan perempuan.
Ni Diah Tantri, adalah tokoh yang disodorkan penulis untuk memberi perubahan. Tantri datang sebagai wanita persembahan ayahnya yang juga Mahapatih di negara itu, namun memakai situasi itu sebagai peluang bijaksana, walau perasaannya terus-menerus harus dikendalikan supaya tetap tertuju pada niatnya.
Tantri menceritakan dongeng-dongeng, kisah-kisah berlapis-lapis tentang negeri dimana binatang bisa berbicara. Dia bercerita tanpa kenal lelah, siang dan malam, berhari-hari, dan teguh bertahan pada cerita itu apapun yang terjadi dan apapun yang dirasakannya.
Sang raja menanggapi kisah itu dengan santai, penuh jenaka, pada awalnya. Seperti mendengarkan dendang merayu seorang gadis kesukaannya. Namun cerita Tantri bukan cerita biasa. Dia memberikan sindiran tanpa menyindir. Dia memberikan pengajaran tanpa mengajar. Dia memberikan hiburan tanpa menghibur. Dan pasti, dia memberi pemikiran baru pada sang raja sehingga mampu melihat situasi yang sebenarnya dan di posisi mana seorang raja harusnya berada. Dia sama dengan semua rakyat, tapi dia juga berbeda dengan semua rakyat. Dia bisa melakukan perubahan dengan kekuatan kebijaksanaannya itu.
Penulis novel ini memakai ingatannya akan cerita klasik Bali, yang dia rangkai menjadi runtut, berlapis, menawan. Seringkali pembaca harus mengulang kembali kisah sebelumnya karena kisah-kisah berlapis yang menyertainya. Tokoh-tokoh binatang yang ditampilkannya, membuatnya menjadi fabel yang penuh dengan pesan moral tentang perilaku manusia. Bagaimana cara berelasi, bagaimana menempatkan diri secara tepat dimana dan kapan. Serta cara berkomunikasi dengan siapa saja.
”Lanjutkan ceritamu, biarlah tak ada kantuk di mata, biarlah tak ada lagi siang dan malam dalam hidupku,” bisik Sang Raja pada pencerita ulung itu.*** (dyn/Dimuat pada Majalah Nuntius, Pebruari 2012)

Very Hot Beach

Pantai Klara, kependekan dari Kelapa Rapet, terletak di Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. Pantai yang dikelola oleh TNI-AL ini memanjang di pinggir jalan. Tidak usah repot mencari karena dari jalan sudah terlihat. Hanya sekitar 1 jam dari Bandarlampung, ke arah Lempasing, lewat Mutun, Hanura, terus saja. Jalan akan berkelok-kelok seksi, tapi cukup bagus beraspal. Bis dan mobil besar pun bisa menembusnya.
Nah, menjelang Imlek lalu kami ke sana, serombongan, sekeluarga. Indah. Dan ternikmati dari pagi sampai sore dengan 'nganyut'. Berenang atau diseret sampai ke batas aman yang ditandai dengan bola-bola pelampung. Lalu diam-diam saja ngambang menghanyut ngikuti ombak, hingga ke arah Barat agak ke tepi. Kalau sudah lumayan dekat bibir pantai, berusaha ke tengah lagi, lalu menghanyutkan diri lagi. Begitu berulang-ulang. Airnya begitu hangat dan enak. Matahari panas karena memang tengah hari, tidak terlalu terasa kalau berendam. Tapi begitu keluar, aduh, seperti dipanggang.
Diselingi makan siang yang rakus bekal dari rumah di bawah pohon kelapa yang memang rapat tumbuh di sepanjang pantai, minum air vitamin dan kembali ke tengah dan menghanyutkan diri lagi. Berulang-ulang, hingga sore memanggil pulang. Hingga gosong seluruh badan. Saat membilas diri sudah terasa perih di bagian-bagian muka, pundak, lengan dan kaki bawah. Anak-anak perih di bagian punggung karena mereka tidak pakai kaos. Kini sudah dua hari gosong masih terlihat dengan pekat dan rupanya masih perih juga. Tapi aku kira walau tidak enak terasa, menghanyut di pantai tidak akan berhenti. Tidak kapok. Pasti akan diulang lagi. Apalagi di Lampung masih buanyak pantai yang harus didatangi. Yang sudah dikunjungi baru Pasir Putih, Mutun, Kalianda Resort, Blebuk, Hanura, Ringgung, Klara, ...

Wednesday, January 18, 2012

All Dreams

Aku rutin mimpi dalam beberapa malam belakangan ini. Mimpi yang hampir mirip. Mimpi yang bikin capek. Mimpi yang menggambarkan aku dalam perjalanan. Aku kira pasti ada artinya. Tapi aku baru menduga-duganya. Sebagian mimpi sudah hilang, lupa. Tapi mimpi yang semalam jelas sekali tergambar. Wajah-wajah yang muncul, percakapan, kegelisahan,... semua teringat hingga percakapan detail, kota, dan semua.

Friday, January 13, 2012

Unidentified Message

Dari dua bulan lalu, hingga kini aku kerepotan dengan pesan-pesan tanpa identitas yang masuk ke HPku. Banyak jenis pesan/SMS macam begitu.

1. Pesan yang memang harus-harus-harus dicuekin begitu saja karena pesan itu sama sekali memang berniat jahat. Macam minta pulsa, minta uang dikirim ke rekening tertentu, bilang dalam posisi darurat, dikatakan aku memenangkan uang atau rumah atau mobil jutaan rupiah, pesan berantai (kadang ini dari orang yang dikenal juga) dll. Pesan-pesan macam gini otomatis kuhapus. Tidak masuk ke otak.

2. Pesan yang salah alamat. Pesan begitu serius, urusan bisnis, keluarga, dll, beberapa kali, dan karena tidak kutanggapi biasanya mereka akhirnya nelpon, karena memang untuk urusan serius, dan berakhirnya ternyata,"Maaf, salah sambung, bu." Jika tidak cukup sopan, seringnya ya langsung ditutup saja lalu sudah, tidak pernah ada SMS lagi.

3. Pesan yang salah paham. Pesan ini mulai muncul pada akhir Nopember, gara-gara no HPku dipasang di Nuntius untuk kepentingan iklan, dan dikira banyak orang aku adalah penyampai pesan. Sehingga muncul SMS : "Salam dari Keluarga Sugito di Metro untuk kerabat di Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Bandarlampung. Spesial untuk Aak, jangan lupa dibagi kue tahun barunya ya." Ini cukup merepotkan karena banyak sekali, dan awalnya aku gak mudeng apa maksudnya. Setelah ada satu dua ada yang telpon, baru aku ngeh dan membuka kembali kalimat yang ada di Nuntius. Jadi dikiranya aku menyediakan jasa untuk menyampaikan pesan. Hehehe. Asem.

4. Pesan yang ingin mengganggu secara SARA. Aku mencurigai pesan-pesan ini muncul karena no HPku yang disebar secara umum di halaman belakang Nuntius. Gangguan itu muncul dengan menyertakan ayat-ayat KS, menggugat keyakinan, mempertanyakan ajaran agama, bahkan memintaku bertobat dengan cara si pemberi pesan dengan ditekankan ayat-ayat KS tertentu. Dan mereka ini ngotot, mengirim SMS saban hari. Bahkan sehari bisa berkali-kali.

5. Pesan bodoh. Ini aku katakan karena pengirimnya adalah orang bodoh. Sudah tidak pasang identitas, tidak bisa paham kata-kata balasanku lagi. Biasanya jika ternyata si pengirim pesan tahu namaku aku agak kelimpungan untuk membalas, dengan sedikit ragu terlebih kalau mereka sudah mengatakan nama tapi tetap tak kuingat siapa dia ini. Nah kasus terakhir, beberapa hari lalu, pesan macam itu aku balas,"Maaf, ini siapa? Tks."
Eh, dia ini telepon. Aku angkat, belum apa-apa sudah mendamprat,"Apa maksudnya sms seperti? Beraninya ngatain aku tikus. Bangs**, anj*** kowe!!!" Aku sampai gemeteran mendengarnya.
"Maaf, ini siapa?"
"Widodo."
"Mau bicara dengan siapa?"
"Mbak Yuli, siapa lagi?!!"
"Maaf, Pak Widodo, kapan saya ngatain tikus?"
"Itu, sms bilang tks. Tikus!"
Gedubrak!!! Hampir semaput aku. Aku jelasin dengan emosi yang ditekan,"Tks itu thanks, artinya terimakasih." Dia masih pakai ngancam akan ke rumah. Ya monggo. Tapi ternyata tidak datang.
Hingga sekarang aku tetap tidak ingat itu Widodo yang mana dan sejak itu dia juga tidak sms lagi. Syukur! Karena smsnya sangat-sangat ngawur, gak mencerminkan mengenal diriku.

6. Pesan yang sok misterius. Ini pasti dari orang-orang yang kenal aku tapi sok misterius menyembunyikan identitas. Lalu berlagak memberi perhatian. "Sudah sembuh jeng Yuli?"
Haik, sampai berkali-kali pun ya sulit ramah dengan orang tanpa identitas walau dia kasih perhatian, sok kasih perhatian. Hehehe, tapi asal masih ramah ya aku masih rela nanggapi, dengan standar biasa asal santun saja. Ya, karena tak tahu siapa. Aku ini kan ular berkepala 1000, bertindak tergantung alasan yang melekat pada siapa aku harus bertindak. Hehehe... Ngoten.

Wednesday, January 11, 2012

Start to Grow


Mulai segar kembali setelah beberapa hari lemas, mriyang, tidak bisa menjadi normal. Aku lawan dengan tetap beraktifitas. Tetap makan. Tetap bergerak. Tetap berpikir. Tetap berolahraga. Minum vitamin C berbotol-botol. Air oksigen berliter-liter. Tidur berjam-jam. Hehehe. (Jagoan lebay!) Aku lawan rasa sakit dengan sekuat tenaga.
Hari ini sudah mulai segar. Ada sedikit ingus di hidung. Ada sedikit dahak di tenggorokan. Ada sedikit berat di kepala. Ada kelebihan suhu dikit di ketiak, tengkuk, dan mulut.
Tapi semuanya okey. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Siap untuk tumbuh di tahun ini, lebih baik, lebih menyenangkan. Lebih tulus. Siap menerima kunjungan siapapun yang merasa spesial di hatiku. Kau!

Saturday, January 07, 2012

My Sons

Bicara tentang anak-anak tidak pernah membosankan. Mereka memiliki dinamika luar biasa yang tidak habis-habisnya mengalirkan emosi. Lihat foto ini. Mereka sudah besar, semakin menjadi remaja dan terus dewasa. Sedang aku semakin uzur, tua, dan renta.

Thursday, January 05, 2012

New Year

Aku melintasi tahun dengan perjalanan panjang mulai 21 Desember. Beberapa post perhentian adalah Borobudur, Muntilan, Jogjakarta, Malioboro, Surabaya, Lumajang, Kediri, Pohsarang, Sedudo, Nganjuk, Kulonprogo, Bandung dan Lampung terakhir, di sinilah aku akhirnya.
Sebuah refleksi panjang sudah kubuat, tapi tak akan aku taruh di blog ini. Karena panjang dan belum selesai. Susah untuk diselesaikan.
Tahun 2011 aku menetapkan untuk jadi SERIUS. Aku berusaha keras untuk serius. Jadinya, ya sungguh-sungguh serius, tapi sekaligus jadi terlalu cerewet menggali dalam terlalu dalam.
Nah, untuk tahun 2012 aku sudah tentukan, tapi sedikit ragu. Sedang kumantapkan sambil menulis blog ini. Yang jadi kata kunci untuk aku pakai sebagai misi di tahun 2012 ini agak susah diputuskan. Sejujurnya terus terngiang-ngiang kata : KUDUS. KUDUS. KUDUS.
Karena kubayangkan itu sangat susah kucapai dan kulakukan jadi aku tidak dulu mengupayakan ini. Kutunda dulu. Sekarang aku mulai dengan TULUS. Tulus. Menjadi tulus. Mulai dari sekarang. Ini pertama-tama untuk mengurangi cerewetku pada hal-hal yang gak perlu dan yang utama untuk memurnikan motivasiku. Begitu. Detail aku tulis di laptopku, untuk kuingat sepanjang tahun.

Tuesday, December 20, 2011

End of Year

Menjelang akhir tahun, aku menutup edisi tahun 2011 dengan beberapa ingatan dan kenangan. Tahun 2011 ini menawarkan buanyak hal luar biasa bagiku. Aku akan membawanya pada perjalanan akhir tahunku ini, sembari mempersiapkan tahun 2012 yang akan segera datang. Evaluasi untuk diriku harus lebih kencang kulakukan. Jika mengingat awal tahun 2011 aku punya misi di tahun ini untuk SERIUS, aku harus benar-benar serius melakukan evaluasi akhir tahun ini.
Teman, silakan kirimi aku hasil penilaianmu tentang aku selama perjumpaan tahun 2011 ini. Juga kalau ada usulan, masukan, kritikan, uneg-uneg. Apa saja komentar silakan beri padaku. Itu akan bermanfaat bagiku. Aku menunggunya sebagai bagian dari bumbu yang akan kumasukkan pada racikanku awal tahun nanti. Aku membungkukkan badan padamu dengan ucapan tulus hati : Terimakasih!

Monday, December 19, 2011

Almost

Melayang di antara awan. Kadang tidak jelas, ada di mana berada. Aku menirukan bahasa Albert yang mengatakan,"Aku ingin terbang. Tanpa mengepakkan sayap. Sambil tiduran. Entah di mana, tidak usah dipikir."
Albert, anakku, kau bisa melakukannya? Hingga terwujud mimpimu itu? Ajari ibumu ini. Ibu yang semakin hari tidak semakin peka pada tanda-tanda yang kau suarakan.
Kemarin aku mengatakan padanya.
"Orang hidup itu ada maksudnya. Kalau masih hidup, berarti maksudnya masih ada. Seperti Abah yang masih hidup hingga kini, pasti ada maksud."
"Seperti untuk mengajar ngaji anak-anak. Begitu kan, bu?" Selanya.
"Iya. Untuk mengajar ngaji mereka. Juga untuk mengajar kita. Mengaji itu kan untuk dekat dengan Tuhan. Juga mengajar kita untuk dekat pada Tuhan."
"Hmmm...." Dia diam di sebelahku.
"Ingat siapa itu yang Sun Go Kong, yang tangannya besar, bisa menggapai saja. Kalau mau tinggal dipindah saja orang dari satu tempat ke tempat lain."
"Budharulai."
"Ah, masak? Yang tangannya besar itu. Raja Langit atau Kaisar Langit itu, lo."
"Iya."
"Tuhan hampir seperti itu. Tapi Dia tidak memakai tangan-tangan besar seperti itu, tapi bisa mengunakan Abah atau kita sebagai tanganNya untuk memindahkan apa saja. Untuk maksudNya."
"Ya. Hampir seperti itu. Makanya Abah masih hidup ya."
"Itu juga mengapa kita masih hidup. Tuhan butuh tangan, sesekali kita adalah tanganNya. Bagus kalau kita sering menjadi tanganNya."
Albert diam-diam saja. Sedang aku mengunyah-ngunyah sendiri kata-kata itu. Kata-kata itu untuk aku, bukan untuk dia. Aku belum memahaminya juga.

Monday, December 12, 2011

Favourite Place


Aku punya banyak tempat kesukaan. Jadi sebenarnya menceritakan satu tempat ini juga tidak terlalu istimewa. Tapi, berhubung kemarin sore baru kudatangi, aku ingin menceritakannya. Tempat itu adalah lapangan SPMA. Lapangan ini letaknya di luar atau samping perumahan tempat aku tinggal. Jadi aku harus keluar perumahan untuk menjangkaunya. Biasanya aku datangi bersama anak-anak plus bapaknya. Lapangan cukup luas, dengan dua gawang untuk bermain bola. Di sekelilingnya adalah tanah kosong. Sisi barat ada lahan singkong punya warga. Sisi barat adalah tanah kosong punya SPMA. Sebelah timur adalah gedung punya SPMA yang sekarang menjadi balai latihan milik Propinsi Lampung. Sebelah selatan adalah tanah kosong punya SPMA. Biasanya tiap sore tempat ini dipakai oleh anak-anak, dan remaja untuk beberapa kepentingan. Main bola di lapangan. Latihan motor atau mobil di jalanan sekitarnya. Ini jalan-jalan untuk kepentingan balai latihan. Cukup bagus, halus, aspal. Cukup sepi jadi aman untuk berlatih. Nah, jika ke sini aku selalu sempatin untuk berlari seputar dua putar. Lalu jalan kaki kesana kemari. Atau sekedar kejar-kejaran dengan anak-anak dengan bawa bola.
Satu hal yang cukup asyik namun cuma satu kali kulakukan adalah lempar buah palem. Di sekitar situ tumbuh pohon-pohon palem cukup banyak. Jika sedang berbuah, aduh, warnanya kayaknya segar sekali. Tapi karena tak bisa dimakan, cuma dipandangi. Eh, ternyata ketika buah itu warnanya sudah merah, mereka gampang sekali rontok. Lempar dengan satu buah yang satu jatuh, berhamburanlah buah-buah itu. Asyik banget apalagi buahnya memang sangat banyak. Nuansanya seperti main petasan. Lempar lalu, brukkksss, belasan buah rontok. Begitu lihat bisa seperti itu, semangatlah jiwa anak-anak. Ambil, raup yang banyak, lempar! Sampai gundul semua jatuh yang warna merah. Yang tidak kusadar, ternyata getah buah-buah ini membuat kulitku gatal. Semuanya, di tangan, kaki, leher, kepala, perut, punggung. Aduh. Menyebar ke seluruh tubuh. Ini terasa setelah sekitar 1 jam bermain lempar buah ini. Aku cari kran air, cuci, wouuuwww, malah gatalnya tambah nylekit sakit. Ampun! Setelah itu, tak kusentuh lagi buah ini. Cukup sudah.
Langsung pulang,mandi, gosok dengan minyak tawon, dan bertobat. Moga tidak lupa, karena setiap kali lihat buah palem, selalu ingin meraupnya kembali. Harus menahan diri. Hehehe...

Friday, December 09, 2011

Joseph Adi Wardoyo, SJ


Tanggal 8 Desember 2011, hari Kamis, pukul 17.30, ada bendera kuning tertancap di hatiku. Kabar meninggalnya simbah Adi mengiris hatiku. Kemarin, aku baru saja gegap gempita menceritakan gerakan aktif tanpa kekerasan di Lampung. Itu energi yang aku dapat darimu, Simbah. Masih tidak tetap hatiku, tapi aku terbantu dengan ingatan semangat yang kau tularkan mulai dari 1996 dulu itu. Kau harus pergi, memang harus pergi. Tapi sekaligus berpikir rumit, bagaimana kami? Bisakah kami mengambil energi dari kematianmu? Cukup dewasakah kami menyebarkan nilai aktif tanpa kekerasan padahal hati kami pun masih keras?
Aku masih akan menancapkan bendera kuning ini, dan menyebarkannya di lorong-lorong hatiku. Namun jangan kuatir, Mbah, pasti akan aku cabuti semua jika semua sudah lewat. Doakan dan berkati kami dari surga.

Thursday, December 08, 2011

Conspiracy (9)

 (Kisah sebelumnya)
Aku memandang Heart dan Brain bergantian. Mereka masih bersitegang dengan anggapan bahwa masing-masing paling benar. Aku tidak bisa menentukan mana yang paling benar, karena harusnya keduanya memang benar. Jika salah satu dari mereka aku anggap benar, aku pun tidak bisa menyalahkan yang lain.
"Kalian akan terus bertengkar?"
Aku bertanya lirih.
Jelas suara mereka lebih keras dari suaraku. Tapi mereka kemudian diam. Memandangku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku seperti sedang mengibaskan rasa sakit.
"Aku akan mengerjakan kembali hal ini dengan rapi, Putri. Dengan syarat..."
Brain, yang berani dan kuat mengeluarkan suara.
"Apa?"
"Heart tidak ikut campur. Dia harus diam, tidak nyinyir bersuara maupun tidak bergerak, sedikitpun."
Heart langsung berang dengan mata melotot.
"Kamu! Lihat, Putri! Dengan enak dia bisa mengatakan hal itu seolah aku tidak punya posisi apa-apa di sini. Seolah dia yang paling penting dan bisa mengatasi ini."
"Terserah pada Putri. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan bentuk tak jelas seperti yang dilakukan Heart."
"Kali ini kau meremehkanku? Huh, tidak ingat saat-saat kau sandarkan kepala di dadaku!"
Aku lebih menggelengkan lagi kepalaku. Kupejamkan mata.
"Kalian akan menyiksaku dengan pertengkaran kalian?" *
(Bersambung)

Wednesday, December 07, 2011

Active non Violence

Bagaimana memaknai aktif tanpa kekerasan? Menolak kekerasan, sudah pasti. Tidak sebagai korban, pelaku maupun saksi mata kekerasan. Tapi aktif, tidak pasif. Bagaimana? Aku sudah memulainya sejak tahun 1996, tapi hingga sekarang aku masih sering menjadi pelaku. Menjadi korban. Paling sering menjadi saksi mata kekerasan, yang pasif.
Maafkan aku.

Tuesday, December 06, 2011

Scare

Semalam aku merasakan ketakutan. Tidak banyak hal yang bisa membuatku takut, tapi bisa banyak hal juga membuatku ketakutan.
1. Ketakutan pertama adalah pada kemampuanku mendidik anak-anak. Mungkin bukan takut, tapi kuatir. Tapi dua hal ini menjadi hal yang mirip ketika terjadi. Rupanya memang besar sekali konsekwensi ketika anak-anak sudah hadir dan menjadi tanggung jawab.
2. Ketakutan pada perpisahan. Ini tidak mungkin dihindari untuk banyak situasi, dengan banyak orang, makluk, benda. Membayangkannya saja bisa menurunkan air mata apalagi jika benar-benar terjadi. Aku sudah mengalami banyak perpisahan, tapi tak pernah menjadi biasa karena itu.
3. Ketakutan tidak bisa mengendalikan diri. Aku berusaha keras melakukannya, namun sering sekali kemudian terjadi lepas kendali. Aku takut ini terjadi setiap kali karena aku sudah mengalami akibat dari hal ini, setiap kali. Huh.
4. Ketakutan remeh temeh. Aku hitung-hitung dulu ya.
Aku sering bilang aku takut gelap. Tapi ada saat-saat benar-benar gelap tak ada lampu juga menjadi nyaman.
Aku bilang aku takut ulat. Tapi berapa kali pernah juga aku bisa melewati gerombolan ulat bulu di hutan Semeru, atau tempat lain.
Aku bilang aku takut sendiri. Tapi ternyata, beberapa kali aku memilih sendirian, menyepi. Tidak mendengarkan apa-apa, tidak bersuara apa-apa.
Aku bilang aku takut berada di lalu lintas. Tapi setiap hari aku menyetir Mioku dengan nikmat. Juga membonceng nyaman siapa saja.
Aku bilang aku ketakutan. Tapi mungkin tidak ketakutan.

(Aku ingin mengolah ini. Aku ingin tidak gelisah atau panik. Aku ingin bijaksana pada semua situasi.)

Monday, December 05, 2011

Conspiracy (8)

(Kisah sebelumnya.)
"Jadi, apa yang kalian bisa kerjakan?"
Aku menantang masing-masing dari mereka. Heart gelisah di sudut mataku. Brain mendekat, mencoba memasang tubuhnya dengan angkuh. Dia mendehem sekali sebelum memulai kata-katanya.
"Kami sudah bekerja keras. Sudah beberapa putaran purnama kami mencoba melakukan beberapa strategi untuk menemukan kemauan Putri. Kami melakukannya dengan hati-hati supaya ini terjadi tanpa menyakiti Putri."
Aku menatap wajahnya yang serius.
"Jadi, apa hasil yang kalian dapat?"
Kembali Brain berdehem.
"Kami sudah menemukan titik terang. Bahkan kemudian kami sudah melangkah lebih jauh lagi untuk mendapatkan hasil yang optimal, seperti yang dimaui Putri. Putri tahu kalau kami sangat menyayangi Putri. Tidak ingin Putri terpuruk, celaka, dan mendapatkan malu. Kami tidak ingin Putri runtuh hancur oleh apapun juga."
"Lalu?"
Brain tidak mendehem tapi melirik ke arah Heart. Beberapa detik kemudian dia baru melanjutkan.
"Dia, tidak sabar. Melakukan tindakan gegabah yang merugikan semua. Kami sudah coba mengingatkan dia, tapi..."
"Tidak! Itu tidak betul!"
Heart berdiri dengan marah. Ingin membela diri dengan wajahnya yang merah padam.
"Diam, Heart! Memang kau mengacaukan rencana kita!"
"Tidak! Mereka yang berkianat dan mengacaukan semua, Lady. Mereka tidak mendengarkan kata-katamu, malah memberikan tafsiran sendiri terhadap keinginanmu."
"Kamu! Tidak ada pembicaraan yang pasti. Kita sudah sepakat, tapi kau! Apa yang kau kerjakan?!!"
"Aku hanya ingin menyelamatkan Putri dari pikiran logismu yang bodoh itu!"
"Kamu harus lebih mengendalikan diri, kalau tidak ingin Putri terjerumus dalam gerakmu yang ngawur melankolis itu!"
"Tapi kalian membuat tafsiran yang terlalu jauh dari kemauan Putri!"
"Kita tidak hanya mengikuti kemauan Putri! Heart, kau harus ikut terlibat juga untuk memberi keselamatan pada Putri. Keselamatannya lebih penting!"
Brain membelalak membentak terus bersuara.
Heart dengan wajah tak mau kalah tetap bersuara.

Kepalaku berdenyut-denyut mendengarkan debat kusir antara mereka. *
(Bersambung)

Friday, December 02, 2011

Conspiracy (7)

(Kisah sebelumnya. )
"Jadi, apa mau kalian?"
Hening. Mereka memandangku. Heart beringsut mendekat. Namun, Eyes dengan tamengnya menahannya sehingga jaraknya tidak lebih dekat padaku. Brain salah tingkah dengan wajah kekanakan, yang jarang sekali muncul dalam usia dewasaku ini.
Ketika aku berganti memandang mereka satu-persatu, mereka mengerjap-ngerjap, dalam hening.

Princes of Eyes. Badannya ramping indah. Sesekali dia bisa membulat untuk menggoda, namun seringkali dia adalah yang paling tanggap cepat ketika sesuatu terjadi. Dia mudah tertawa, semudah dia menangis. Dia sangat bebas leluasa bergerak kemanapun yang dia inginkan, terlebih jika melihat sesuatu yang indah, yang bening, yang bercahaya. Kemanapun dia pergi, dia membawa kantong-kantong air mata yang dia taburkan kemanapun dia suka. Maka, dimanapun dia berada, tanah-tanahnya akan basah, subur dan indah. Yang paling menyebalkan jika dia sudah merasa capek, hanya merasa, tidak betulan capek. Dia akan mengunci diri di kamarnya. Sekian lama.

Princes of Noses. Dia ini mudah sekali mengikuti Heart. Dia paling dekat dengan Heart. Dia punya tas paling besar di antara seluruh panglimaku. Dia menyimpan segala kenangan lewat radar yang mampu mencium, apapun yang dikatakan oleh Heart. Walau sesekali dia menolak, tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetap menaati Heart. Bahkan jika dia harus membongkar seluruh penyimpanannya hingga berhamburan. Lalu dengan teliti dia simpan lagi rapi, sehingga saat sesuatu muncul lagi, dia akan berjingkat mengenali. Ini bau yang pernah tercium! Itulah dia. Aku sangat terbantu olehnya, namun juga paling sering repot karenanya.

Princes of Mouths. Aku sering mengabaikan panglimaku yang ini. Maka dia paling sering tidak terkendali dari semuanya. Dia bisa mengeluarkan kata-kata paling manis yang tidak terbayangkan oleh siapa saja. Namun dia juga bisa mengeluarkan suara paling mengerikan yang pernah ada. Dia mengenakan mahkota indah yang ranum, yang cukup aku banggakan. Dan dia mempunyai titik-titik rasa yang sangat sensitif di sekitar mahkotanya itu. Aku lihat akhir-akhir ini dia cukup menahan diri, namun itu tidak bisa dilakukannya kalau dia bertemu hanya berdua dengan orang-orang yang sangat disukainya, atau justru yang sangat tidak disukainya. Yang aku suka, dia mampu menampilkan dirinya sesuai citra yang aku inginkan, maka dialah yang paling sering aku utus untuk pergi mewakili istanaku, kemana saja.

Princes of Ears. Dialah yang paling tenang diantara semua. Agak kasihan, akhir-akhir ini dia tidak terlalu sehat. Mungkin sudah semakin usur, sehingga seringkali dia hanya ingin berbaring saja, tidak melakukan apa-apa. Atau mungkin dia sudah semakin malas, karena yang didengarnya ya seperti itu-itu saja. Namun dia akan bangkit semangat kalau ada suara-suara tembang cinta. Cinta pada siapa saja. Dia akan cepat-cepat merangkul Eyes, dan juga Heart, untuk bersama-sama mendengarkan. Kemudian, ketika lagu itu berlalu, dia kembali tidak peduli, mendengarkan namun tidak mendengarkan.

Princes of Skins. Ini yang paling berbahaya dari semuanya. Pasukannya paling banyak dibanding semua. Bahkan berkali lipat. Tidak banyak gerakan yang dilakukannya, namun sekali dia bergerak, seluruh panglima lain akan terpengaruh olehnya. Kadang-kadang aku takut juga pada matanya yang galak dan keras itu. Apalagi jika dia sudah memekarkan seluruh bulu-bulunya. Aku tidak bisa tidak, mengkerut membayangkannya. Namun aku juga menyukainya, karena dari semuanya, hanya dia yang tahan terhadap luka.

Brain. Ah, Brain. Apa yang bisa kukatakan tentang dia. Dialah tumpuanku selama ini. Badannya yang tegap siap merangkulku, memelukku sehingga merasa tenang. Namun, dia ini juga yang paling berani mengacak-acak naluri maupun nuraniku. Membuatku tidak bisa tidur bermalam-malam. Tapi, untunglah ada dia.

Heart. Ah, Heart. Aku hidup karena ada dia. Maka aku paling sering mengundangnya datang untuk berbincang, sambil makan apapun camilan, dan juga menikmati cangkir-cangkir hangat maupun sejuk. Maka dibandingkan yang lain, tubuhnya paling tambun subur. Aku sering memintanya untuk menjauh, namun aku juga yang paling sering melanggarnya, kembali mengundangnya untuk datang, makan bersama, tidur bersama. *
(Bersambung)

Thursday, December 01, 2011

Conspiracy (6)

(Kisah sebelumnya.)
Istana menjadi dingin, beku dengan perkelahian antara Princes of Heart dengan para panglimaku yang lain. Brain yang aku harap bisa menjadi penengah, kali ini pura-pura sabar, ikut beku. Tidak ada tindakan apapun pada moment seperti ini. Seolah-olah dia membiarkan semua menjadi beku, membiarkan berlalu, berlaku begitu.
Hari ini memanggil mereka semua menghadap, tanpa pasukan. Masing-masing dirinya datang. Sikap kaku resmi menggelanyuti mereka semua. Kelihatan bahwa Heart berusaha menjauh. Matanya tertunduk pada kakinya sendiri, namun lihatlah kekerasan maksudnya. Aku tersenyum melihatnya. Sedikit geli karena kejanggalan posisi tubuhnya. Prince of Eyes, Noses, Mouths, Ears, dan Skins membawa tamengnya masing-masing. Mata mereka galak seolah ingin mengadili My Heart.
Brain mendehem berkali-kali. Aku melihatnya.
"Jadi, bagaimana perkembangannya?"
"Kami belum menemukan tanda-tanda, Putri."
"Tentu saja!"
Aku memberang dengan bentakan. Semua, kecuali Brain berjingkat kaget.
"Karena kalian sibuk dengan perkelahian kalian sendiri. Bahkan kalian bawa-bawa pasukan-pasukan kalian untuk ikut dalam persekongkolan ini!"
"Ampuni kami, Putri."
"Aku tarik mandatku!"
Mereka beringsut mendekatiku dengan sekali jingkatan kaget yang berikutnya.
"Aku yang akan melakukan sendiri pencarian ini. Aku yang akan mencari Dew. Sendiri!"
"Jangan!!!"
Mereka serempak dalam satu kata.
Brain mendekatiku dengan wajah, yang jelas dibuat kelihatan sabar.
"Putri, jangan lakukan itu."
"Kalian! Hanya! Mengawalku!! Aku! Akan mencarinya! Sendiri!"
Aku memberi tekanan pada tiap kataku.
"Jangan!!!"
Kembali mereka serempak menahanku. Kali ini dengan seluruh tubuh mereka, mencekal aku.* (Bersambung)

Wednesday, November 30, 2011

The Snake

Aku adalah ular
dengan kepala seribu
mengatakan ini dan itu
kepada ini dan itu

Bahkan ini dan itu
yang berlawanan
yang berkubu

Aku adalah ular
dengan kepala seribu

Aku

Tuesday, November 29, 2011

Jacket

Aku biasa pakai jaket kemanapun pergi, apalagi kalau bersama Mio-ku. Aku punya beberapa jaket, ehmm, mungkin ada 7 jaket. Mestinya lebih, tapi sebagian sudah tidak muat. (Hehehe...badanku agak melar akhir-akhir ini.) Satu jaket hilang saat aku tinggal di tempat parkir (padahal itu termasuk jaket kesayangan dan jaket termahalku). Sebagian lagi sudah dilempar ke pemilik baru. Jaket menjadi pelindung hangat ketika jalan kemanapun.
Nah, kemarin, aku mengalami sesuatu peristiwa gara-gara jaket. Gara-gara jaket aku menyarangkan dua pukulan ke dua pria. Hehehe...dua pukulan tak sengaja. Ceritanya, usai parkir di depan Kantor Pegadaian Kedaton, aku mengunci gembok roda depan motor, lalu berdiri di depannya. Tangan kananku aku rentangkan spontan untuk melepas jaket.
"Plak!"
"Aduh!"
Wah. Aku langsung menoleh ke belakang. Seorang pria memegang ulu hatinya terkena sabetan tangan kananku.
"Aduh, maaf. Tidak sengaja. Sungguh, maaf."
"Tidak apa-apa." Sambil meringis dia berlalu.
Maka aku jadi hati-hati. Aku melepas jaket tidak lagi merentangkan tangan. Aku tekuk siku.
"Dug!"
"Uff!"
Aaa... Aku toleh ke belakang, seorang pria terbungkuk memegang perutnya. Persis terkena sikutku, agak keras, karena dia berjalan agak cepat.
"Ya, ampun. Maaf!" Spontan aku teriak. Pria yang pertama tertawa ngakak, dan aku salah tingkah habis.
"Aduh, maaf, maaf, maaf..." Sampai aku gak ngerti lagi harus ngomong apa.
Dua pria berseragam sama itu meyakinkan aku bahwa semua okey, dan mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama sembari senyum-senyum nyengir. Mungkin tidak sakit, tapi mereka pasti membicarakan peristiwa itu dan, apa ya yang dikatakan oleh mereka tentang aku? Wah.

Monday, November 28, 2011

Growth in Community

Sabtu - Minggu lalu aku menemani belasan mahasiswa STIE Gentiaras dalam pelatihan dasar jurnalistik. Dari awal aku udah bilang, ini adalah pelatihan. Intinya bukan aku yang bicara tapi mereka yang berlatih menulis. Maka urusannya menulis, menulis, menulis, dan menulis. Tulisan pertama, yeach, amburadul. Tapi aku bilang itu modal awal yang luar biasa. Dalam waktu 10 menit bisa menghasilkan sebuah tulisan. Hebat itu. Lalu tulisan yang kedua, lumayan, bisa dibaca. Tulisan ketiga, cukup okey. Rangkuman kesalahan seperti ejaan, tanda baca, huruf kapital, penulisan singkatan, nama, pemisahan paragraf dll, aku ingatkan lagi-lagi-lagi.
Tulisan terakhir mereka semua adalah sebuah feature tentang apapun, yang harus mereka cari di sekitar kampus. Hasilnya menarik. Ada yang bercerita tentang kehidupan seorang satpam, kostan sebagai rumah kedua, jualan sekitar kampus, dll. Penekananku di bagian akhir adalah bagaimana mereka semua bisa berkembang dalam komunitas yang mereka sudah bentuk itu. Menulis, membagikan tulisan dalam pertemuan periodik untuk saling koreksi dan edit, sebar lewat media yang mereka punya. Wah, itu dapat menjadi ajang luar biasa untuk banyak hal. Secara personal maupun kelompok.

Thursday, November 24, 2011

Lazy Morning

Pagi ini begitu muram, buram. Juga dingin dan malas. Bahkan matahari saja enggan bangun, apalagi aku. Lagu-lagu sendu mengalun di otakku. "Kusanggup walau ku tak mau..." Ritual pagi kulakukan semua, tak ada yang terlewat. Tapi sulit mengembangkan semangat yang penuh. Masak sayur bening bayam (tidak cocok untuk hari yang dingin dan basah, tapi cuma bayam yang tersisa hijau di kulkas), lalu bikin sambel ikan kembung, menggoreng tempe dan tahu. Bernard minta bonus telur dadar untuk sarapan. Okey, semua kulakukan. Tapi, entah, ... rasanya tidak pengin kulakukan.
Saat mulai keluar pagar rumah, dengan Albert di boncengan, dia menyenandungkan lagu yang tak kedengaran syairnya. Aku tahu itu lagunya Sule. Dan biasana jika Albert yang nyanyi seperti itu pasti tangan dan badannya goyang ngikuti gerakan Sule juga. Tapi karena di motor, entah dia goyangin apa. Lalu tiba-tiba dia nyeletuk :
"Wow! Ww..wow..."
"Apa, Bert? Dingin?"
"Aku lagi membayangkan sesuatu yang enak, bu!"
Astaga! Dia ini kadang-kadang memang persis ibunya, kalau lagi lebay, ya minta ampun, lebay semuanya. Dan khayalannya, lebay juga. Jadi aku pengin mendengarkan juga.
"Ya?"
"Pagi kayak gini enaknya tiduran di dalam tenda, di halaman atau di mana gitu. Sambil makan apa gitu...enaknya."
Aaaa, aku setuju, Albert. Andai dia tidak harus ke sekolah dan aku harus ke kantor, pasti kami pergi ke tempat seperti itu...wow.

Wednesday, November 23, 2011

Dangerously Way


Ternyata lalulintas di Indonesia memang sangat mengerikan. Kesadaran-kesadaran memunculkan kenyataan ini. Awalnya aku tidak terlalu serius memikirkannya. Ya, ada kecelakaan ini. Kecelakaan itu. Satu meninggal, beberapa meninggal. Semua luka, parah dan ringan. Ada angka-angka. Juga aku masih belum serius memikirkan walau sering merasa marah dan sedih ketika di jalanan. Tidak serius juga ketika Nadet bilang gak berani naik motor lagi ketika pulang di Indonesia. Sekali-sekalinya naik motor malah membuahkan luka di kakinya. Belum serius juga ketika aku nyungsep bareng Bernard dengan luka panjang di kaki kiri dan tangan kiriku sampai berjalan terpincang-pincang. Masih biasa juga ketika Bang Tigor bicara tentang lalulintas Jakarta. Namun tiga hari terakhir ini aku memikirkan serius hal ini dan memutuskan dengan segala pertimbangan bahwa jalanan/lalulintas di Indonesia adalah cara yang membahayakan bagi semua makluk yang ada di jalur-jalurnya untuk melakukan perjalanan.
Tidak banyak lagi yang ingat apa makna rambu-rambu lalu lintas, bahkan yang paling sederhana seperti lampu merah, kuning, hijau. Apalagi rambu-rambu lain seperti S dicoret, tanda panah dicoret, dll.
Tidak banyak yang tahu cara berkendara yang benar seperti kapan mestinya mengerem, kapan gas, kapan lampu dinyalakan, lampu tanda belok dinyalakan dan sebagainya. Apalagi soal knalpot, asap, suara, warna lampu dll.
Tidak banyak yang ingat bahwa nyawa hanya satu, sehingga berani mati (konyol) menerjang jalan, belok semaunya, merokok sambil menyetir, kirim/buka sms dan teleponan sambil nyetir. Ampun.
Tidak banyak yang tahu bahwa ada fasilitas yang sudah tersedia untuk kenyamanan seperti trotoar untuk pejalan kaki, jembatan penyeberang untuk menyeberang jalan, dll.
Tidak banyak yang santun tahu bahwa jalan bukan hanya punyanya sendiri. Tapi ada pejalan kaki, pengendara sepeda ontel, becak, gerobak, ambulance, dll.
Parahnya, bahkan kebanyakan polisi lalulintas pun tidak merasa punya tanggungjawab untuk mengingatkan pelanggaran-pelanggaran seperti itu karena mereka pun melakukan. Para pemakai seragam lain juga sama saja, kebanyakan tidak mengerti point-point di atas. Malah seringkali itu ditambah dengan hal-hal menjijikkan lain seperti menganggap jalanan sebagai tempat sampah sehingga tisu, plastik, kertas bisa diterbangkan saja di situ. Atau meludah sambil mengendara. Atau...lain-lain. Coba saja lihat di jalan-jalan kota dan pinggiran kota di seluruh Indonesia! Lihatlah juga caramu sendiri berkendara.

Tuesday, November 22, 2011

Look the soccer!

Di menit ke 5, Indonesia menyarangkan satu gol manis lewat Gunawan. Usai itu Lampung hujan, dan aku yang sudah merasa menang, tidur bergelung dengan dengan Bernard. Lebih sejam kemudian, aku terbangun. Masih hujan, dan kehebohan terjadi antara Indonesia dan Malaysia dengan adu pinalti. Wah, pasti kalah nih! Aku membatin begitu walau skor masih sama 3 - 3. Melihat tendangan terakhir yang tidak masuk, wah, Malaysia sudah menang 3,5 tuh. Dan melihat power yang dimiliki si kapten, tamat sudah harapan untuk periode ini mendapatkan emas dari sepak bola.
Lihat itu. Indonesia punya potensi yang besar, lebih dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Namun bukan hanya soal potensi maka kemenangan bisa diraih. Ada hal-hal lain yang harus digali :
1. Harga diri, kepercayaan diri (tidak sekedar narsis, naif, tidak tahu malu, PD walau berbuat salah)
2. Manajemen kepemimpinan (tidak sekedar ada presiden, protokoler, plus kepentingan mempertahankan citra) Berbagi peran, bukan hanya rebutan lahan.
3. Perhatian yang lebih pada kelompok paling ujung, paling bawah, paling tidak punya kekuatan.

Jadi, lihat bagaimana pertama Tim U-23 telah unggul karena memang potensi yang luar biasa di dalamnya. Salut, juga untuk Pak Rahmad! Tim yang asyik. Walau 3 - 4, tidak mendapat medali, aku menganggap tim ini sudah menang. Coba bisa dilihat juga oleh tim-tim penting lain yang ada di Indonesia. Tidak takut jatuh untuk meraih bola, biarpun pasti sakit, belepotan lumpur, benturan keras! Sportif! Luar biasa.

Monday, November 21, 2011

The Woman in the Sand

Kantorku sedang beku di suatu siang.

Seorang perempuan datang
dengan senyum mengembang

berlawanan dengan matanya yang sembab
kebanyakan minum? menangis?

jelas ada duka
jelas kesakitan
di dalam tubuhnya

aku hanya menatapnya
mencoba menangkap cerita
yang meluncur dari hatinya

"Kemarin tes darah di kantor
aku pasti diPHK,
karena darahku
sudah tercemar HIV.
Pacarku, dulu
kurang ajar menularkan padaku.
Bagaimana aku sekarang?"

Mulutnya terkunci dalam senyum mengembang
namun hati dan tubuhnya remuk dalam sakit.

Aku tidak bisa bersuara untuknya.
Seorang laki-laki sahabatnya
aku desak.
"Temani dia, dengarkan dia, dengan baik."

Anggukan kepalanya melegakanku,
tanpa melepaskan tanggungjawabku,
karena sudah tahu kisah yang menimpa,
perempuan muda itu.

Bantulah aku menjadi lebih lega lagi.
Teman-teman, please, tunjukkan ruang yang nyaman,
yang bisa kutawarkan pada perempuan muda itu.

Wednesday, November 16, 2011

What's next?

Setiap bulan, aku mengalami siklus ini. Siklus bulanan, katakanlah begitu. Atau tepatnya salah satu siklus bulanan, karena aku rupanya punya siklus-siklus lain yang terus berputar. Siklus yang ini aku dapatkan sejak 2005, sudah cukup matang untuk dinikmati hingga kini. Di salah satu fasenya, ada rasa lega luar biasa kalau mampu kulewati.
Hehehe, gak jelas ya? Begini, ini tentang pekerjaanku di majalah. Sebagai pemimpin redaksi (yang sekaligus kuli angkut, pencari data, penulis, editor, distributor, manajer dsb) aku harus melakukan editing semua naskah sebelum masuk ke bagian lay out. Pada tanggal 15 tiap bulannya, pekerjaannya ini harus kelar. Harus! Walau hujan badai atau apapun yang terjadi, harus selesai! Kadang, saat garis mati (deadline) ini muncul, naskah pun belum terkumpul. Aku harus bekerja sangat-sangat-sangat keras untuk mewujudkan minimal 25 naskah panjang pendek menjadi tulisan siap saji, siap ditata jadi majalah. Dan ini terjadi tiap bulan.
Fase lega itu adalah hari dinama semua naskah itu sudah selesai edit, selesai susun, selesai rapi, dalam folder, plus foto-foto yang menyertai. Kelegaan yang tak terbayangkan oleh orang yang di luar pekerjaan ini. Seperti apa ya rasanya? Dulu aku pernah mengandaikannya seperti selesainya satu bundel benang kusut yang dirapikan. Sulit dikatakan dengan kalimat. Nanti aku cari padanan lain deh.
Tapi ya itu tadi, karena ini adalah siklus, maka fase berikutnya sudah menunggu. Saat lega ini hanya berlangsung beberapa menit, paling lama beberapa jam. Kalau pun dipaksakan tidak akan lebih dari berhari-hari.

Tuesday, November 15, 2011

Free for Hugs

Seseorang yang membaca postingku yang terakhir bertanya :
"Mbak, sampeyan sungguh bisa menawarkan pelukan kepada semua orang?"
"Apa maksudnya?"
"Tuh, di kiriman itu, dikatakan ingin menawarkan pelukan."
"O. Bisa. Kenapa? Bukan hanya menawarkan, tapi sungguh-sungguh memeluk."
"Ah, yang benar? Kalau orang itu tidak dikenal juga mau?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Tidak pas."
"Tidak pas dengan apa, siapa?"
"Entahlah."
Aku kira dia ini memang mau memprotes. Tapi aku tidak mempunyai masalah apa-apa tentang hal ini. Pelukanku gratis untuk siapa saja.

Saturday, November 12, 2011

Mama...

Tadi pagi, baru saja, dalam perjalanan dari sekolah Albert ke kantor, aku jalan pelan santai dengan Mio-ku, setengah melamun. Tak sadar aku mengikuti bebek biru yang berjalan pelan hanya beberapa centi di depanku. Isengku yang kambuh membuatku hanya mengikuti saja, dia ini belok kemana kuikuti. Aku kaget ketika lewat kaca spion motor itu, wajah yang luar biasa sedih tergambar. Apa yang dia alami? Sejurus kemudian wajah itu memerah, menahan sesuatu yang kemudian keluar dengan derai air matanya. Aduh, menangis sambil naik motor. Semakin pelan jalannya, aku masih mengikuti. Jelas kelihatan guncangan badannya bukan karena motor tapi karena tangisan. Bibirnya membuka menutup dengan satu kata yang aku yakini diucapkan oleh perempuan itu.
"Mamaa..."
Usapan tangan kirinya menutup sekilas. Tapi kemudian satu kata itu terulang-ulang diungkap oleh bibirnya dalam isak yang ritmis, khas orang yang menangis.
"Mama, mama, mama..."
Aku tidak berani menyetopnya, untuk menanyakan apa yang terjadi atau apakah bisa menawarkan sebuah pelukan. Atau sekedar mengingatkan bahaya menangis sambil berkendara.
Beberapa pikiran terlintas, mungkin ibunya sedang sakit, atau baru saja meninggal, atau dia diusir oleh ibunya karena suatu hal, atau, ...apa ya?

Friday, November 11, 2011

Growing


Di hujan pertama di Lampung, aku menaburkan benih sawi di beberapa tempat di samping dan belakang rumah. Aku bariskan berlarik-larik. Albert dan Bernard hanya mengikuti di belakangku dengan heran. Tidak membantu, tidak bertanya. Mas Hendro hanya senyum-senyum. Dia pasti menyangka,"Ah, istriku akhirnya bertobat juga. Menyadari bahwa alam harus dilestarikan dengan tangan-tangannya. Bukan hanya dengan mulutnya yang hanya rajin berkomentar berteori. Serta menyantap menikmati saja." Hehehehe...aku hanya menduga-duga...
Hari ini benih-benih itu sudah menumbuhkan 2-4 lembar daun mini hijau segar. Batangnya yang ringkih sebagian ambruk, terkena hujan semalam, tapi aku yakin mereka hidup. Beberapa minggu lagi pasti mereka siap untuk diambil, menambah mi rebus yang kubuat malam-malam penghangat perut. Nanti sore pulang kerja aku akan mengisi lagi beberapa pot yang sudah disiapkan tanahnya. Aku kira kalau siang ini hujan lagi, pasti moodku juga akan berhamburan jatuh di badan. Hehehe...aku hanya menduga-duga...

"RINDU"

Monday, November 07, 2011

Important News

Semalam, pulang dari rapat (rapat begituan ajah, tidak penting, seperti biasanya rapat-rapat itulah), aku sibuk dengan hal tetek bengek rumah. Manasin sayur, ngoprak-oprak Albert supaya bangkit lagi dari kasur karena rupanya dia belum makan, n membereskan apa yang perlu dibereskan. Sampai lupa untuk menyapa kekasihku yang penting di rumah. Bernard! Hehehe, dia sudah beres dengan buku-bukunya, sudah makan, sudah santai...gak banyak bergerak. Jadi gak kelihatan. Hehehe. (Dia ini pasti marah-marah kalau membaca tulisan ini beberapa tahun lagi. Keep smile, Bernard!)
Dia mengendap-ngendap di belakangku, menarik-narik badanku supaya kupingku terjangkau.
"Ayo ikut aku, bu. Ada hal penting yang harus kukatakan."
Wow, hal penting! Menahan wajahku tetap pada posisi serius aku ikuti tarikan tangannya ke pojok kamar. Dia tutupi kupingku kanan kiri dengan tangannya. Bibirnya yang basah menempel di kupingku, agak geli, tapi tentu saja kutahan. Ini kan berita penting jadi aku harus serius.
"Ya, ada apa?"
"Ssst, aku sudah bisa berjalan menapak lagi."
"Oooo...?"
"Sudah bisa jalan biasa lagi."
"Sudah tidak sakit?"
"Masih dikit. Tapi jalanku tidak pincang lagi."
"Oke. Besok pagi pasti sudah tidak sakit lagi."
"Iya harus. Kalau tidak kan tidak bisa pakai sepatu ke sekolah." Masih sambil bisik-bisik.
"Satu sepatu satu sandal."
"Wah, masak satu pakai sepatu satu pakai sandal?" Dia melihat kakinya, lalu meninggalkan aku di pojok kamar pengin senyum. Muka bapake heran melihat apa yang terjadi, cepet-cepet kutempeli bibirku di telinganya.
"Ssst...ada berita penting... Bernard sudah bisa berjalan tidak pincang. Hehehe..."

Mulanya adalah hari Sabtu, bapake dan Albert mengganti keramik kamar mandi berdua. Mereka hebat bisa jadi satu tim untuk membongkar dan memasang keramik-keramik itu. Namun ada satu hal yang tidak bisa mereka lakukan, yaitu memotong keramik. Segala cara dibuat, tapi hasilnya keramik jadi puing-puing. Nah, salah satu pecahan keramik itulah yang mengenai kaki Bernard sehingga dia terpincang-pincang. Anak berani dia, jadi hanya nangis sebentar itupun setelah aku datang dengan wajah kuatir (soalnya darahnya berceceran buanyak sekali). Saat aku biasa saja, dia tenang. Pun saat aku kasih obat, dia hanya bilang geli, karena luka kecil itu di telapak kaki, bagian sensitif dan geli jika dipegang. Begitulah.

Friday, November 04, 2011

Overwhelmed

Aku sungguh kewalahan. Ini masa yang sungguh-sungguh repot. Aku tak boleh mengeluh, bukan? Maka aku ambil salah satu topengku untuk menutupi wajah asliku yang sedang lusuh, pucat, lelah.
Bedak tebal, alis menghitam, lipstik merah, rambut sasak ditarik, perhiasan dan kostum kupakai lengkap. Ah, aku bisa tersenyum di baliknya. Dan tetap berjalan, berlari dari satu jam ke jam berikutnya.
Topeng dan kostum lengkap yang tidak cantik. Akan cepat kulepas. Tentu saja.

Wednesday, November 02, 2011

Leakage


Sudah kutahan, berusaha kutahan. Ini usaha yang sangat besar dengan melibatkan seluruh tubuh dan pertahanan yang kupunya. Berharap tidak ada kebocoran yang muncul di mana pun, kapanpun. Minimal tidak terlihat bocor oleh siapapun, apapun, bagaimanapun.
Aduh, masalahnya aku adalah perempuan dengan perasaan sebagai raja diraja penguasa. Seberapa kuat kata dibentakkan supaya aku tidak memelihara perasaan, aku kesulitan serentak sepihak. Karena raja harus kuhormati, begitulah perasaan bagi jiwa dan tubuh ringkihku. Aku kesulitan mengatasi hal ini.
Namun aku akan terus berusaha. Jangan kuatir. Aku pun tak ingin ada kebocoran dari lubang-lubang (luka-luka?) hatiku. Kau bisa lihat kepalaku dari jendela, tapi bukan wajahku.

Friday, October 28, 2011

Bernard

Tanggal 26 Oktober lalu Bernard ulang tahun ke 8. Tapi dasar Bernard, selalu saja ada ide aneh dalam otaknya.
"Aku tidak mau ulang tahun hari ini. Ulang tahunku hari minggu nanti."
Jadi salam peluk ciumku ditolaknya. Juga dari bapak dan kakaknya. Tidak mau ada makanan khusus. Acara khusus. Nyanyian. Atau apapun.
"Ulang tahunku hari minggu."
Ya ampun, Bernard. (Aku ingat dua tahun lalu Albert tidak mau ulang tahun yang ke 8. Dia hanya mau ulang tahun ke 9. Padahal tahun itu dia 8 tahun!)
Tapi tetap aku membuatkan dia opor ayam dan mi panjang umur. Walau dia tidak mau memimpin doa bersama, dia tetap makan dengan lahap, sangat sangat banyak. Boleh, my son. Boleh saja, Minggu nanti ultahmu, hari untukmu, tapi aku mengingat khusus tanggal 26 Oktober, 8 tahun lalu, saat kau lahir dan diletakkan di dadaku dengan tangisan nyaring. I love u.

Monday, October 24, 2011

Short time at Bangkok

Kesempatan yang sangat mendadak tiba-tiba aku dapat. Aku harus pergi ke Bangkok, pertemuan untuk Asia Working Group untuk bidang buruh migran dan perantau. Hanya dalam waktu 7 hari menyiapkan segala hal. Untung Dining yang manis baik hati (thanks, Dining) menyiapkan hal-hal teknis menyangkut tiket dan lain-lain.
Tanggal 9 Okt aku berangkat dari Lampung, dengan Garuda jam 8.30, transit di Cengkareng. GA 686 berangkat dari situ jam 12.50. Tiba di Bangkok jam 16.00. Harusnya seseorang akan menjemputku di situ, tapi aku tak kutemukan sampai satu jam lebih. Aku sudah berpikir untuk naik taksi, atau angkutan lain setelah membongkar tasku untuk melihat alamat lokasi pertemuan. Tidak sengaja, aku melihat seseorang sedang sibuk melihat jadwal kedatangan pesawat di meeting point bandara. Aku lihat di map yang dia pegang ada tulisan kecil 'ICMC'. Jadi kutowel si bapak, yang ternyata Fr. Pairat setelah aku menyapanya dan memastikan dialah yang memang menjemputku. Aman. Dia masih harus menjemput dua orang lagi, jadi aku menemaninya beberapa saat.
Tempat pertemuan adalah Camillian Pastoral Care Center, berada di Latkrabang. Persis saat kami pertemuan, selama 3 hari, daerah itu tergenang air. Cukup nyengir, sekalinya ke Bangkok tidak bisa jalan-jalan karena banjir. Di banyak tempat lain di Thailand, banjir cukup parah.
Dua hari full untuk rapat. Pemetaan situasi perburuhan dan migrasi, lalu mencari beberapa alternatif yang bisa dilakukan dalam kerjasama antar negara. Sampai ada 7 point kesepakatan.
Hari terakhir aku memaksa untuk keluar. Panitia setempat agak kuatir tapi kemudian mereka memberiku peta, beberapa petunjuk untuk naik sky train, dan memastikan bahwa semua aman dan mudah bagiku. Mereka, peserta lain yang 14 orang itu, para bishop dan priest, sepertinya gak minat untuk kemana-mana. Satu orang dari India, Fr. Jose-lah yang kemudian berminat (aku kira setelah melihat kegigihanku untuk pergi sendirian, hehehe) untuk ikut jalan. Jadilah kami berdua pergi. Diantar oleh sopir penginapan ke stasiun Latkrabang. Niat awal ke Cathucak, tapi info yang salah, karena tuh tempat hanya buka Sabtu - Minggu. Jadi di stasiun Praya Thai, kami mengalihkan arah, ke Mahboonkrong. Ini seperti Mangga Duanya Jakarta, hehehe. Jadi apa yang bisa kami lihat? Yang pasti dapat gantungan kunci untuk oleh-oleh. Hehehe. Juga mengalami naik sky train, lihat Thailand dari alat transportasi ini, ...dan lumayan. Menyenangkan.
Tanggal 12 Okt sudah balik Jakarta. Dengan GA 687, terbang jam 14.10. Waktu Jakarta dan Bangkok tidak beda. Sampai di Cengkareng aku mesti buru-buru, kebut cari bus shuttle untuk menuju terminal 1b, tempat Lion untuk terbang ke Lampung.
Anggap saja ini adalah perjalanan survey. Aku ingin kesana lagi. Agak lama. Untuk menikmati tempat-tempat indah di sana.

Thursday, October 20, 2011

Daster

Daster adalah baju paling mengerikan namun paling nyaman bagi perempuan. Saat memakai daster, perempuan bisa lupa diri.
1. Karena bentuknya yang longgar, maka perempuan tidak merasakan gangguan saat makan sebanyak-banyaknya. Tidak akan merasa sesak bahkan ketika perut dan pinggul semakin melar.
2. Karena memberikan ruang persentuhan dengan udara yang semakin banyak, sehingga sensasi kulit terasa segar, bergairah. Udara membawa banyak hasrat. (Hehehe... Yuli, bahasamu! Pasti ada yang mbatin gitu dalam hati. Hehehe...) Tapi memang iya begitu.
3. Karena dapat dipadankan dengan apapun seenak hati. Bahkan tidak perlu mandi dulu, tidak perlu menata rambut, berdandan, pake wewangian dll. Pokoke gak harus pake aturan. Seperti kalau pake kebaya maka roknya harus gini-gitu, rambut harus diapain, dll.

Ada yang suka pake daster? Sekarang ini aku punya satu dikasih Yeni, yang punya buanyak gara-gara habis lahiran. Setiap habis cuci aku pake, cuci, pake lagi, cuci lagi, pake lagi.... Mengerikan!


Tuesday, October 18, 2011

Pemulihan Alam untuk Hari Pangan Sedunia

Hari pangan sedunia pada 16 Oktober tiap tahunnya. Tahun ini aku memperingatinya pada tanggal 17 Oktober dengan menemui sekelompok petani organik dari Metro, namanya kelompok Hadi Makmur. Mereka sudah 6 musim panen menanam padi secara alami tanpa bahan kimia buatan maupun beli. Pupuk dari fermentasi sampah dan jerami sisa panen. Air yang lebih irit 40 % dari sawah non organik, dan hasilnya : sawah sehat. Bagi tanah, bagi udara, dan bagi konsumen macam aku.
Selain kelompok ini sudah ada kelompok lain yang aku kunjungi sebulan lalu, yaitu kelompok Alam Lestari, di Bangunrejo. Semangat yang sama kutemui dari dua kelompok ini, yaitu ingin memulihkan alam seperti pada hakekatnya. Aku salut pada perjuangan mereka. Dan terimakasih, karena aku bisa mengkonsumsi beras organik yang terjangkau. Baru ini peranku dalam usaha mereka. Makan beras yang mereka olah dengan sentuhan jari-jari pada setiap butir benih hingga tiap butir beras tertampi. Terimakasih, petani organik!

Monday, October 10, 2011

Stop it!

Aku memerintahkan ini berkali-kali.
"Hentikan! Sekarang juga."
Kau mengatakan :
"Iya. Aku akan menghentikan lajunya. Tak akan ada lagi. Aku berjanji!"
Tapi setiap kali kemudian engkau usil mengulanginya. Lagi. Lagi. Tidak terasakah sakit itu sehingga kau tak pernah kapok?
"Hentikan! Sekarang juga."
Kau mengatakan :
"Iya. Aku hentikan."
Kali ini, bisakah tidak ada lain kali? Biar tidak ada remuk redam menghias piguramu yang sungguh cantik. Berjanjilah My Excellencies Princes of Heart. Hentikan!

Wednesday, October 05, 2011

Hot September

Septemberku memanas dengan banyaknya aktifitas yang kulalui. Segala macam perjumpaan di Lampung maupun luar Lampung. Sangat-sangat panas.
Yang prioritas dua perjalanan ke Lembang dan Muntilan, dua minggu berturut-turut, diselingi satu minggu di Lampung yang padat.
Lembang? Ya, selalu sejuk, walau capek karena rapat pleno Komisi Keadilan perdamaian dan Pastoral Migran Perantau cukup padat menguras energi yang sudah lungkrah karena hati tertambat di RS Harapan Kita, pada ibu.
Muntilan? Ya, Muntilan pembawa harapan. Disertai perjumpaan orang-orang di Realino, Scolastikat SCJ, Kulonprogo, house of Raminten dan always Malioboro. Semuanya jadi perjumpaan dan perjalanan menarik.
Septemberku yang panas, membuat tekanan darah tinggi dan vertigo.

Friday, September 23, 2011

Act Like The Children

Anak-anak mempunyai sifat yang tidak terduga. Mudah gembira, mudah tertarik pada apapun juga, tidak takut pada resiko, berani bergerak yang di luar biasa, berteman dengan siapa saja, tidak membawa dendam dalam pertemanan, dll. Segalanya enak. Bukannya tanpa masalah. Tapi tiada beban menanggung masalah. Orang dewasa pun hakekatnya tetap anak-anak. Menyenangkan kalau bisa tetap berbuat seperti anak-anak. Tertawa lepas, bergerak lepas...