Tuesday, November 12, 2019

MASA KECIL DAN MAINAN-MAINAN

Beberapa hari ini Bernard terus mengeluh: "Bosan, boring. Ngapain dongg..." Ini gegara HPnya error. Masalah pada baterainya. Walau mulutnya terus ngeluh, tapi dia tampak santai saja. Saban siang pulang sekolah dia akan ambil beberapa buku Naruto atau apa yang di rak, lalu dibawanya ke kamar atau ke kursi belakang, dan mulai asyik membaca. Sesekali dia akan ambil HPku karena dia memasang Line di HPku untuk keperluan komunikasi dengan teman-temannya. "Kemarin aku ndak bawa jas lab karena ndak tahu. Jadi pinjam ke lain kelas." Katanya sambil mecucu.

 Kemarin pulang sekolah pun dia ambil 3 buku Naruto dan berbaring membaca di sebelahku. Lalu aku tunjukkan tulisan lama di blogku yang bercerita tentang Si Boy, anak ayam hitam yang dulu pernah dipelihara burung dara peliharaan kami. Boy mati kejebur kolam. Klik sini untuk membaca kisah Boy. Juga bisa di sini. Nah, rupanya Bernard tertarik membaca juga tulisan sebelum dan sesudah apa lagi tulisan-tulisan di blog waktu itu tentang masa kecil dia dan kakaknya.

Jadinya dia ingat boneka-boneka binatang yang kami miliki, mulai mengingat nama-namanya dan seterusnya. Juga tentang mainan-mainan yang pernah dibeli seperti mobil tamiya, mobil remote, bola segala jenis, kelereng sampai berapa toples, tembak-tembakan (kata Bernard aku ndak pernah membelikan pistol mainan tapi tiap tahun mereka pasti beli dari uang hasil lebaran) dan mainan-mainan lain. Juga tentang mainan-mainan yang pernah dibikinin sendiri oleh bapaknya dan juga olehku.

"Mainan yang ibu bikinin itu tidak asyik. Kalau bapak yang bikin pasti keren." Katanya. Huuuu... kami pun mengingat tembakan pletokan dari bambu, atau mobil-mobilan dari kayu, juga yang kecil-kecil seperti baling-baling dari kertas lipat, tembakan dari pelepah pisang dan sebagainya.

Sayang sekali tidak semua jenis mainan itu kami punya fotonya. Beberapa yang terpasang di blog tapi tidak semata-mata untuk memotret mainan kreasi denmas Hendro, hanya tak sengaja saja. Misalnya saat aku nulis tentang bola-bola yang kutemukan di sekitar rumah, tak sengaja mobil kayu buatan denmas Hendro kefoto karena bolanya terletak dekat mobil. Lihat sini untuk melihatnya.

Selain ngobrolin mainan-mainan jaman dahulu, Bernard juga mengingat permen-permen tertentu yang tak pernah boleh diminta. "Itu, permen yang bentuknya seperti lipstik itu, warna-warni, sampai sekarang aku belum pernah makan. Kalau yang tipis-tipis itu mas Albert pernah beli walau ibu ndak mbolehin."

Lalu Bernard menceritakan satu rahasia tentang mobil remotenya. "Aku pernah mainin di luar lalu masuk siring, eh atau genangan lumpur, lupa. Pokoknya mobil itu jadi kotor. Aku diam-diam meletakkan di gubuk biar ndak kelihatan ibu."

"Memang ibu pernah marah karena mainan kotor?"

"Ndak sih. Tapi waktu itu takut aja, jadi ndak bilang-bilang."

Tadi pagi saat aku berangkat kerja, kuceritakan hal ini pada denmas Hendro. Sebagian dia ingat mainan-mainan itu tapi sebagian yang lain juga lupa. Jadi sebenarnya, inilah guna blog ini dibuat toooo.... Yukkkk nulis yang rajin. Hehehehe....

Friday, November 08, 2019

Nomor Dua Setelah Empek-empek adalah Pindang Bandara Palembang

Kalau pergi ke Palembang yang wajib dimakan adalah empek-empek. Iyalah, kota ini kan kampung halamannya empek-empek. Dalam kunjungan 1 - 4 Nopember lalu pun aku memasukkan empek-empek sebagai urutan pertama dalam daftar yang harus dikunyah. Masalahnya aku ini kan pemalu (huhuhu) sehingga antara iya dan tidak gitu saat hunting empek-empek. Pikirku: Walau tanpa upaya, asal pergi ke Palembang, pasti dapat tuh empek-empek. Hehehe.... sangat beriman kan.

Nah, untungnya salah satu timku dalam event Palembang ini adalah Cecilia Vonny, maniak empek-empek nomor wahid. "Pokoknya jangan lihat aku kalau sedang makan empek-empek." Gitu kata-katanya yang kemudian kupahami benar saat bersamanya makan empek-empek.

Hari pertama kalimat itu sudah langsung bisa terbukti. Malam, 22.00 kukira, atau lewat karena setelah sesi malam kami masih menemani panitia untuk evaluasi hari itu dan rencana hari esok. Udah sikat gigi, ganti baju, Mbak Vonny nyeletuk: Kebayang empek-empek. Aku sih langsung nyium aroma mi instan. Hihihi... jadi laperrrr.... Jadinya jari jemari Mbak Vonny yang bekerja. Dan malam itu kami makan empek-empek murahhhh... hanya Rp. 1.300 - 1.500 per bijinya. "Enakkk..." Kami berdua sepakat. Memang enak, lembut. Sembari kami mikir kok murah ya.

Hari kedua, saat makan siang, Mbak Vonny teriak dari meja lain. "Nanti malam kita diantar Pak Willy cari empek-empek." Ikuttt... Hehehe.... Hasilnya malam usai evaluasi kami keluar diantar Pak Willy, Pak Leo dan Mbak Nunuk. Dan empek-empek di pinggir jalan (seingatku tak jauh dari Ampera), uenakkk buangetttt.... Berpiring-piring pokoke.

Nah, urusan empek-empek sementara terpuaskan dengan jalan-jalan malam minggu ini hingga tengah malam walau dalam sitaasi hujan. Panitia masih membagikan oleh-oleh empek-empek untuk kami bawa pulang Lampung.Wis puas.

Nah, yang berikutnya adalah makan siang di hari minggu sambil ngantar Mbak Vonny ke bandara. Di pojok belokan bandara itulah rumah makan pindang itu berada. Aku sih awalnya biasa saja. Toh aku sering makan pindang di Lampung dengan segala rasa mulai yang tak enak, biasa-biasa atau yang enak atau enak banget.

Nah (aku suka sekali pakai kata nah, ndak usah diprotes), di pindang bandara ini ada beberapa pilihan pindang: gabus, patin, baung. (mungkin ada yang lain, tapi ndak ingat) Aku milih pindang patin, bagian badan. Sejujure sih penginnya yang kepala tapi agak tengsin kalau tangan n mulut belepotan. Kalau bagian bagian badan kan bisa makan rapi. Hehehe...

Yang tak kusangka adalah ketika tersaji, pindang ini porsi jumbo. Ikan yang besar dengan daging yang tebal. Dan segar banget ikan yang dipilih. Tak kecium aroma atau rasa amis. Kuahnya pas banget asam gurih manis pedesnya. Dengan campuran irisan nanas dan kemangi pada kuah. Pelengkapnya sambel mangga yang maknyus pas di lidah, dan lalapan segar seperti timun, kacang panjang, jengkol, pucuk mente, kemangi dan rebusan labu siam. Pak Willy menambahkan pepes gabus tempoyak. Waduhhh... ini benar-benar mantap. Enak banget. Dengan nasi sedikit saja dan minum jeruk anget tanpa gula. Makanan yang bisa diulang kalau datang lagi ke Palembang. Maknyusss....

Thursday, November 07, 2019

Bersama Relawan JPR SCJ Indonesia: Menulis Kreatif untuk Media Sosial




Salah satu kesempatan menarik bagiku dalam perjalanan ke Palembang kemarin adalah kunjungan-kunjungan informal ke beberapa sahabat. Salah satunya adalah komunitas relawan JPR SCJ Indonesia, di Jalan Karya Baru Palembang pada Minggu 3 Nopember 2019. JPR itu sebuah lembaga / komisi milik para romo SCJ yang bergerak dalam bidang-bidang migran perantau, narapidana, rehabilitasi narkoba, tanggap darurat bencana dan ekologi. Justice, Peace and Reconcilliation, itu kepanjangannya. Personnya sekarang ini adalah RD. Laurentius Purwanto SCJ dibantu oleh tenaga-tenaga muda relawan.

Tentu saja aku senang mendapatkan kesempatan ini apalagi dalam pertemuan beberapa waktu yang lalu di rakernas FPBN, kami sempat berdiskusi tentang pentingnya menggunakan berbagai media dalam menyebarkan nilai-nilai keadilan dan perdamaian. Salah satu alat yang sekarang ini bisa diakses oleh siapa pun adalah media sosial.

Jadilah, beberapa orang muda anak-anak Rm. Pur berkumpul di sekretariat JPR SCJ Indonesia, dalam antusias untuk belajar bersama: Menulis. Hohohohoooo, aku selalu gembira kalau urusannya tulis menulis. Aku bawakan beberapa buku yang kuharap menjadi penyemangat bagi teman-teman muda ini, sebagian besar buku-buku yang kutulis atau kususun.

"Kita mesti membedakan mana yang fakta dan mana yang asumsi. Dan untuk penulisan untuk media demi kepentingan lembaga kita, fakta mesti kita perkuat dengan narasumber yang kompeten, referensi dan yang utama, kita mesti memperkuat diri kita untuk mengoptimalkan pancaindera menangkap apa yang kita lihat, kita dengar, kita cium, kita raba dan dia rasa," kataku saat pengantar.

Usai makan malam meriah bersama mereka aku melanjutkan point singkat tentang penulisan jurnalistik. Kunci 5W 1H harus mereka pegang. Lain-lain nyusul deh, pokoke untuk awal inilah yang penting.

Tentu saja tak mungkin kota seindah Palembang dibiarkan saja. Pembelajaran konkrit kami lakukan dengan 'nggoteki' Rm. Pur supaya kami outing. Menikmati Palembang waktu malam sembari mencari bahan untuk ditulis. Palembang tuh banyak obyek menarik untuk ditulis. Maka kami berdesak-desakan dalam mobil menikmati kota Palembang, dan melanjutkan diskusi sambil nongkrong di angkringan, mbandrek dan ngemi instan. Hehehe...

Apakah ini sudah selesai? Belummm.... Harus dilanjutkan belajar mandiri, juga dalam komunitas. Yang mesti dipelajari lagi adalah bagaimana menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan kepedulian sosial, seperti yang sehari-hari dikerjakan oleh Rm. Pur dan para relawannya. Aku berharap ada perjumlaan selanjutnya bersama Elias, Frans, Marcel, Boni, Angga, Dominggus, Marta dan Vivi untuk belajar lebih jauh lebih dalam. Terimakasih, Rm. Pur.

Tuesday, November 05, 2019

TOT Perjuangan Keadilan dan Kesetaraan Gender

Kegiatan ini digagas sudah beberapa waktu lamanya. Beberapa perubahan dalam pelaksanaan terjadi antara lain karena Sr. Natalia OP, sekretaris Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI yang harusnya hadir mendadak harus memperhatikan kakinya secara lebih karena habis operasi tendon di lututnya. Aku membantu dengan sedang hati apalagi jauh dari jadwal ini aku sudah ingin sekali berkunjung ke Palembang setelah kunjunganku yang terakhir beberapa tahun yang lalu.

TOT Perjuangan Keadilan dan Kesetaraan Gender ini diselenggarakan oleh SGPP Keuskupan Agung Palembang diikuti oleh 40an peserta dari berbagai kelompok dalam wilayah keuskupan. Peserta sangat beragam mulai dari para guru, utusan dari paroki-paroki Dekenat 1, 2 dan 2, wakil dari organisasi atau kelompok juga dihadiri oleh para muda.

Kegiatan dilakukan di RR Giri Nugraha Palembang pada Jumat - Minggu, 1 - 3 Nopember 2019. Aku dan mbak Vonny dari Bogor menjadi narsum utama, dibantu Vivi untuk memfasilitasi beberapa sesi.




Thursday, October 31, 2019

Patah Hati Karena Jokowi

Beberapa hari ini aku sungguh patah hati. Parah. Huh. Bayangkanlah kalau dirimu sendiri yang mengalami patah hati. Rasa dada 'keronto-ronto' nelangsa, hingga sesak nafas. Mau nangis malu dengan kemarau yang kerontang ini jadi sebisa mungkin ditahan ditelan sendiri. Sekali gerimis sedikit segera cari kesempatan untuk membaurinya supaya bisa mengeluarkan air mata tanpa malu. Huh.

Tapi yang dominan memang bukannya pengin nangis sih. Patah hati kali ini karena sungguh merasa dikianati, kecewa, marah. Iya, sedih juga tapi tidak cukup untuk membuat ingin nangis. Kecewa dan marah sampai tak tahu mesti ngomong apa. Kukira waktu itu aku akan cepet move on tapi rupanya sampai hari ini rasanya kok masih kecewa bangettt...

Ini curhatku, ok? Setelah ini aku akan berjuang untuk move on sehingga tak ada sakit hati yang tersisa. Selamat berjuang, pak! (Eh, selamat berjuang, Yul!)

1. Prabowo. Kok orang ini yang jadi menteri? Ini bagaimana toh? Apa coba keunggulan dari orang ini? Sebutkan! Aku tak melihat kompetensi apa pun yang bisa dipertimbangkan darinya sebagai menteri pertahanan. Kenapa? Kenapa? Apakah diangkatnya dia sebagai menteri akan memberi andil bagi persatuan kesatuan dan perdamaian negeri ini? Mungkinnn. Tapi bagiku tetep tak masuk akal. Apalagi saat Jokowi memperkenalkannya sebagai bagian dari kabinet, hoiii, kok bahasa presiden kayak gitu tuh piyee toooo.... Huh aku jengkel banget. (Sendakep neng pojokan sik.)

2. Orang-orang yang mampu bekerja keras dalam 5 tahun terakhir malah disingkirkan dari posisi yang bisa memberi pengaruh pada kemajuan Indonesia. Bu Susi.Pak Jonan. Huh. Lha mereka jelas bisa membuat perubahan signifikan lewat kementerian, dan PR untuk kementerian2 itu masih sangat-sangat banyak. Kok distop, diganti orang baru yang entah. Huh. (Ndodok karo nyaprut)

3. Terus, mau apa sekarang? Ya aku sih tetep melanjutkan hidupku dengan pekerjaan ini itu yang seperti biasa-biasanya juga. Tapi, tolong ya, sikap dan pilihan Jokowi ini akan punya konsekwensi di masa depan. Karena alasan pemilihan kabinet baunya sangat politis pasti nanti akibatnya juga muncul secara politis. Dunia pertipuan yang semakin kuat. Pak Jokowi, selesaikan PRmu: korupsi, kerusakan lingkungan, kekerasan. (Kusebut 3 hal ini sebagai yang utama.) Aku kerjakan bagianku sebagai masyarakat warga, kau selesaikan bagianmu sebagai presiden yang sudah terima amanah rakyat. Jangan sebagai kuli partai atau pemain dunian politik pertipuan.(Malangkerik ro mendelik.)

Wisss... gitu curhatku kali ini. Saiki wayahe ngopi. Mumpung ada stop kopi arabika bisa kutambah dikit porsiku. Srutttt.....

Tuesday, October 29, 2019

Lingkar Diskusi Gender KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang: Menerima dan Menanggapi Korban Kekerasan

 Diskusi yang berikutnya untuk belajar gender mengambil tema Memberikan Kasih dalam Menerima dan Menanggapi Korban Kekerasan, diselenggarakan di Wisma Albertus Pahoman bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2019. Hadir dalam diskusi ini 30 orang dari berbagai kelompok termasuk para muda dari PMII UIN Raden Intan Lampung.

Pemantik diskusi kali ini adalah Meda Fatmayanti, SH dari Lembaga Advokasi Damar dan Yurni, M.Psi dari RSUD Abdul Muluk. Meda mengingatkan bahwa kekerasan di Lampung masih banyak terjadi di Lampung. Saat ini tercatat Bandarlampung yang angkanya paling tinggi, itu karena akses informasi yang mudah dibandingkan dengan kota atau kabupaten lain.

"Korban kekerasan yang datang pada kita harus didengarkan, diterima dengan hati yang terbuka. Dan mesti diberi kepercayaan bahwa cerita mereka aman." Ujar Meda.

Yurni mengingatkan ada beberapa prinsip umum yang harus dipegang dalam pelayanan antara lain: responsif gender, non diskriminasi, hubungan yang setara dan menghormati, menjaga privasi dan kerahasiaan, memberi rasa aman dan nyaman, menghargai perbedaan individu, tidak menghakimi, menghormati pilihan dan keputusan korban, peka terhadap latar belakang, kondisi dan bahasa korban, sederhana, dan empati.

Kedua narasumber menekankan perlunya bekerja dalam jejaring supaya bisa membantu korban dengan tepat.

Para peserta yang hadir menanggapi tema ini dengan antusias, ingin mempertajam dan mendetailkan sampai hal-hal yang teknis dan praktis sesuai pengalaman masing-masing.

Pada bagian akhir aku sebagai penanggung jawab KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang mengingatkan peserta bahwa kegiatan diskusi sebagai wadah belajar dan jejaring ini akan berlanjut untuk mendalami isu-isu gender. Aku mengajak siapapun untuk terlibat dan memberikan kontribusi sesuai dengan yang dimiliki, entah menjadi tuan rumah, moderator, notulis atau hal-hal lain yang dibutuhkan dalam diskusi.

Aku menggunakan kesempatan di akhir acara ini untuk membagikan buku Daun-daun Hitam. Iyalahhh... buku yang pernah hits ini (huhuhu) harus terus diangkat donggg... kumpulan cerpen yang keren nihhh... (hehehe).

Thursday, October 24, 2019

Perjalanan Belitung Asam Pahit Manis (4): Penerbangan Pulang yang Menjengkelkan

Dari Lampung, aku pergi bertiga dengan Sr. Valent dan Sr. Adel. Perjalanan ini sudah kami siapkan sejak beberapa minggu yang lalu dan memilih jadwal penerbangan yang tepat sesuai dengan jadwal acara kami di Tanjungpandan. Berangkatnya memilih Lion karena memang itulah yang bisa membawa kami dari Lampung ke Tanjungpandan paling pagi, dengan waktu transit di Soetta yang tak terlalu lama. Pulangnya kami memakai NAM siang hari dengan pertimbangan masih bisa mengikuti penutupan pada pagi, 11 Oktober 2019.


Nah, nah, penerbangan berangkatnya sangat okey, tepat waktu, cuaca yang bagus sehingga semua mulus sampai dijemput oleh panitia di Bandara HAS Hanandjoeddin Tanjungpandan. Yang mengecewakan itu saat pulangnya.

Sore hari pertama kami di Tanjungpandan, SMS masuk memberitahukan kalau penerbangan kami ke Lampung tiga kemudian diundur menjadi sore hari pukul 17.40. Hmmm.... okey. Tak terlalu masalah. Berarti masih ada waktu juga setelah penutupan acara untuk jalan-jalan.

Masalah muncul ketika sehari sebelum jadwal itu, Aling Tour yang membantu kami mencoba kontak NAM/Sriwijaya. Mereka mengatakan kalau kami mengikuti penerbangan sore itu dari Tanjungpandan, kami hanya akan sampai Jakarta. Sedangkan ke Lampungnya tak ada penerbangan connectingnya. Lha, lha, terus piye?

"Harus direfund lalu beli tiket baru." Itu penjelasannya.

Lha bagaimana? Kan kami beli tiket itu connect ke Lampung. Pilihannya hanya refund atau ikut penerbangan keesokan harinya. Jadi kami harus nginep di Jakarta. Lhaaaa.... itu ndak mungkin. Tanggal 12 Okt aku sudah ada janji kerja di Lampung. Maka gupeklah kami dibantu Aling.

Tawarannya cuma satu: "Memakai penerbangan pagi. Berangkat dari Hotel jam 06.00. Tidak bisa ikut penutupan acara." Itulah yang kami pilih dengan tidak rela. Tapi ya gimana lagi...

Di hari H kepulangan, sesuatu yang tak menyenangkan terjadi di Bandara. Antrian panjang, yang ternyata karena semua pelayanan maskapai Sriwijaya dan NAM harus dilakukan secara manual. Semua dokumen penerbangan ditulis tangan, dan itu butuh waktu laammmmaaaaa....

Boarding pass. Tulisan tangan di sesobek kertas.

Bukti bagasi. 
Gitu pun untungnya huh sialnya penerbangan masih delay. Bahkan peserta lain yang ikut penutupan yang datang belakangan malah terbang duluan menuju Padang. Kami masih nunggu di situ dengan sabarrrr...

Setiba di Jakarta, urusan manual itu masih berlangsung. Alasan mereka: "Sistem error." Dan itu membuat error semua hal. Boarding pass pun ditulis tangan. Aku sempetin memastikan bagasi kami karena firasatku udah ndak enak soal bagasi ini sejak di Tanjungpandan. Mereka mencoba kontak kru yang urusan bagasi di Soetta, aku menunggu sabar di depan loket cek in. Lamaaaa kemudian mereka bilang tak bisa mengontak kru yang bersangkutan jadi mereka mencatat nomor bagasi kami dan memastikan bagasi kami akan sampai Lampung.

Kekacauan terjadi di dalam pesawat (setelah delay lebih dari 2 jam). Banyak penumpang punya nomor ganda sehingga celetukan2 muncul. "Berdiri juga boleh." atau "Pangkuan aja apa ya." Huuuu... Akhirnya terbang dengan aman.

Di Bandara Branti aku lega ketika ranselku sampai dengan selamat, juga dua dus milik suster dan satu koper lagi. Yang kurang satu koper milik sr. Valent. Sampai semua sepi tuh koper ndak nongol juga. Jadilah kami ke tempat komplain bagasi, yang sudah ribut dengan satu ibu yang kehilangan bagasi juga. Oalahhhh...

Hasil penelusuran mereka, koper tertinggal di Jakarta, sedang bagasi si ibu itu nyasar ke Pangkalpinang. Oalahhhh aseemmm, pahiiitttt.....

Perjalanan Belitung Asam Pahit Manis (3): Destinasi Selain Pantai

Selain pantai, ada beberapa tempat yang sempat kuampiri bersama rombongan. Yang sangat membantu adalah Aling Tour. Merekalah yang antar jemput kami semua dari bandara, hotel hingga seluruh kebutuhan acara dan juga perjalanan bonus ke berbagai tempat di Belitung.

1. Kampung Ahok eh Fifi

Ini adalah rumah kediaman Ahok dan keluarganya suatu masa dulu, lalu dikelola menjadi tujuan wisata. Di depan dan di samping rumah induk ada galery yang menjual macam-macam benda khas Belitung yang bisa untuk oleh-oleh. Ya, bagiku sendiri sih tempat ini biasa saja, tapi banyak juga yang datang ke sana. Rombongan-rombongan seperti diarahkan untuk mengunjunginya. Padahal ya seperti itu, biasa saja.

Di galeri samping rumah aku membeli satu benda bertulis Pulau Lengkuas. "Sebagai tanda bahwa itulah tempat yang belum kukunjungi dalam kesempatan ini. Suatu ketika harus kudatangi lagi." Gitu penjelasanku. Cukup mahal sih benda sekecil itu. Bentuknya pembuka botol dengan gambar dan tulisan Pulau Lengkuas, harganya 40 ribu rupiah. Huhuhu...

Di galeri yang depan, bertulis Kampung Fifi (dulu katanya tulisannya Kampung Ahok) sebenarnya tertarik pada sebuah gelang. "Itu gelang Bu Fifi, tidak dipakai maka dijual di sini." Hmmm, tapi mahal. 200 ribu, jadi aku tak minat untuk membelinya.

2. Lokasi Syuting Laskar Pelangi

Kompleks lokasi syuting Laskar Pelangi, berupa replika sekolah dan mushola. Di sekolah itu kami menyanyikan lagu Laskar Pelangi.
"Mimpi adalah kunci, untuk kita... dst."

Aku sih berasa biasa-biasa saja mengunjungi tempat-tempat itu. Untung saja ada rombongan 4 anak yang sedang bermain di sekitar situ. Aku mendatanginya, yang rupanya diikuti oleh Rm. Pascal yang kemudian memotret kami. Ujungnya sih dia juga minta difotoin. Huhuhu... Akhirnya juga banyak yang ngikuti kami berfoto dengan anak-anak itu. Untungnya lagi di situ ada penjual oleh-oleh dan makanan-makanan. Ada mangga iris yang mengobati segala sakit dan ketidakminatanku pada banyak hal.

3. Rumah Keong

Letaknya di depan tempat syuting Laskar Pelangi. Bangunan dari rotan dekat dermaga berbentuk seperti keong-keong. Ini tempat yang bagus untuk foto-foto. Walau kami datang pas panas tengah hari, malah pas.Cahaya yang tepat bagus untuk foto. Pas. Yang lebih asyik ketika di dermaganya, jadi fotoku banyak yang di situ itu. Tuhhh salah satunya.

4. Tugu Batu Satam

Ini tempatnya di tengah kota.

5.  Tugu Arwana

Tempatnya di Gantung, Belitung Timur.

Tuesday, October 15, 2019

Perjalanan Belitung Asam Manis Pahit (2): Pantai donggg....

Yang menyenangkan, kesempatan ke Belitung ini masih bisa merencanakan pergi ke pantai. Iyalah ya. Belitung itu dikenal memiliki pantai-pantai indah, rugi banget kalau tidak bisa pergi ke pantai. Namun ya tetap menyedihkan karena kesempatan dimana hari bisa pergi ke pantai itu bertepatan dengan hari ritual selamat laut dimana tak boleh ada pelayaran yang melintas air laut. Padahal rencana awal mestinya pergi ke Pulau Lengkuas, tempat wisata rekomended di Belitung.

Nah, udah kecewa tohhh. Ini pahit asemnya perjalanan ini. Udah di Belitung tapi tak mampu pergi ke tempat-tempat paling bagus di sana. Mau ngoceh pun ndak ngefek wong aku juga tak mungkin nambah hari untuk perjalanan ini demi hal-hal indah macam gitu. Jadi ya sudah pasrah, mengais-ngais kesempatan yang ada saja. Toh ada manisnya juga, kami bisa pergi ke Pantai Tanjung Tinggi. Minimalnya tetap bisa meraup keindahan pantai Belitung sangat luar biasa.






Perjalanan ke sana dilakukan pada hari Kamis, 10 Oktober 2019 seusai makan siang. Di tengah jalan sempat hopeless gara-gara mendung pekat yang kemudian menjadi hujan yang lama kelamaan semakin deras. Apa asyiknya jal ke pantai saat hujan gelap gulita begitu? Huuuu....

Asyiknya, begitu sampai pantai, hujan sudah surut, dan pelan-pelan langit terang benderang sehingga bisa foto-fotoan dengan asyik. Dan itulah yang dilakukan kami serombongan selama beberapa saat. Sampai puas. Dengan latar batu, air, langit dan seterusnya. Usai itu, ya harus nyebur dong. Masak sudah sejauh ini tidak nyebur laut.

Itulah yang paling asyik. Langsung lepas sarung dan masuk air. Walau aku ndak bisa berenang, tapi aku selalu suka berada di air laut apalagi di pantai yang begitu indah, bersih, dengan ombak yang begitu tenang dan pasir-pasirnya yang lembut. Aku selalu membandingkan hal-hal indah seperti ini sebagai meditasi.

Caraku menikmati pantai adalah dengan berendam di air, dengan posisi seperti berenang. Tangan harus bisa memegang sesuatu, entah batu atau pasir. Badan mengambang dengan hidung di atas permukaan air. Kalau memakai alat snorkling pasti bisa lebih nikmat karena aku bisa memasukkan kepala ke dalam air. Tapi karena tidak ada kacamata dan alat pernafasan ya posisi seperti itu tapi tetep berusaha hidung di atas permukaan air. Ini posisi yang nikmatttt... banget. Dalam tenang seperti itu aku bisa merasai ombak, udara, panasnya matahari juga suara-suara alam yang bercampur suara manusia sesekali. Dalam seluruh keindahan seperti aku tahan berada di situ sampai berjam-jam.

Tuhannnn, terimakasih.

Monday, October 14, 2019

Perjalanan Belitung Asam Manis Pahit (1): Wisata Kuliner Halal Non Halal

Kesempatan perjalanan kali ini membuatku entahlah mau komentar.  Dari berangkat hari Selasa 8 Oktober 2019 sampai balik Lampung Jumat 11 Oktober 2019, buanyak peristiwa terjadi. Ada yang menyenangkan, mengecewakan, bikin marah, bikin sedih.

Rasanya benar-benar campur aduk ndak keruwan. Hal yang paling penting sudah kuposting sebelum ini, yaitu hasil dari pertemuan KKPPMP Regio Sumatera. Klik sini untuk membacanya. Tentang prosesnya ndak usahlah yaaa... ya seperti pertemuan-pertemuan biasa itu. Satu sesi aku ikut presentasi juga, tapi ya seperti itulah. Hehehe...

Nah, kutulis berikut ini hal-hal yang menjadi tujuan utamaku pergi ke Belitung saja ya. Hihihi, tentu saja ini ngikuti hasratku, yaitu, pantai, makan, tempat wisata Belitung Timur dan ssttt... satu hal lagi .... penerbangan kacau balau saat balik Lampung. Rasa nano-nano itu kutulis secara tidak urut kronologis yak. Kumulai dari yang pertama ini, tentang makanan-makanan yang sempat kunikmati di sana.

1. Makanan Hotel yang Sedap

Hotel Golden Tulip Tanjungpandan, tempat kami menginap sangat siippp soal makanan. Makan pagi beraneka jenis, dan senengnya selalu ada bubur. Itu menu yang paling kusuka untuk sarapan selain buah-buahan segar.

Sebagian yang kufoto, ini nih:
Menu makan siang yang pertama. Aku pilih keringan, mi goreng, kusiram acar, ikan bakar, telur kecap, sambel dan krupuk.
Mak nyusss.

Ini pastel isi sayuran yang gurih sedikit manis.


2. Mi Gantung (baca: Mi Gantong, kayak Belitung yang dibaca Belitong) dengan minum Es Jeruk Hamoi.

Ini menu yang pas di lidah dan halal. Bisa dinikmati siapa saja. Mi Gantung ini mi kuning rebus, disiram kuah kaldu udang yang kental denagn toping udang, irisan tahu, kentang rebus, taoge, bakso ikan dan emping. Rasanya mantap gurih. Suka banget memakannya dengan sambel cabe. Kebetulan sekali yang nraktir makan di sini Ci Aling, si pemilik warungnya sendiri, yaitu warung Mie Gantung Laskar Pelangi, Gantung, Belitung Timur. Hihihi... tak perlu bayar sekali ini. Minuman yang paling cocok es jeruk hamoi, yaitu perasan jeruk kunci ditambah buah hamoi kering, tambah gula dan es. Cuccoookkkk....

Mi Gantung

3. Song sui dengan minum jeruk anget.

Song sui
Ini makanan non halal. Rasanya... hmmm kurang masuk di lidahku. Isinya kuah merah yang disajikan panas dengan isi daging dan jerohan babi, juga ada kulit babi goreng, irisan tahu putih dan sawi. Aku tak bisa nelan, terus terang. Aromanya terlalu amis. Yang bisa membuatku memakannya, aku tambah dengan irisan cabe rawit sehingga pedes panas. Walau hanya bisa kumakan sebagian saja tapi si cabe inilah penolongnya.

Usai itu untuk menyamarkan amisnya, usai makan aku gelontor dengan jeruk anget. Huuuu...Lidah jawaku belum bisa menerima. Aku lihat pengunjung lain kok bisa lahap sekali makannya yaaa.... huuuu...

4. Makanan dari laut

Nah, ini andalan yang harus dikejar kalau pergi ke Belitung. Makanan dari laut seperti rajungan, ikan, udang, cumi dan sebagainya patut dicoba sebagai bagian dari wisata kuliner maupun untuk oleh-oleh. Yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh adalah segala jenis krupuk, getas, abon, terasi dan sebagainya yang berbahan dasar ikan atau udang atau cumi.

GEREJA SEBAGAI RUMAH BAGI MEREKA YANG TERASING




Catatan Pertemuan KKPPMP Keuskupan dan JPIC Kongregasi Regio Sumatera
Belitung,11 Oktober 2019

            Keprihatinan dan seruan Paus Fransiskus yang terangkum dalam Buku Arah Pastoral Perdagangan Manusia menjadi inspirasi bagi para penggiat Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan dan Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Kongregasi Regio Sumatera dalam pertemuan di Belitung, 8 – 11 Oktober 2019. Pertemuan ini mencuatkan kesadaran bahwa Gereja harus mengembalikan martabat manusia yang hilang atau rusak akibat perdagangan manusia.
Paus Fransiskus menandaskan bahwa “perdagangan manusia adalah luka yang menganga di tubuh masyarakat masa kini, menjadi bencana bagi tubuh Kristus”. Tokoh orang Samaria dari Lukas 10: 25 – 37 mengingatkan Gereja untuk menghadirkan wajah Kristus pada korban, terlibat bersamaNya menghentikan setiap tahap perdagangan manusia.
Pertemuan KKPPMP Keuskupan dan JPIC Kongregasi se Regio Sumatera berkomitmen bekerja bersama dalam jaringan dengan rekomendasi sebagai berikut :   
1.      Keputusan orang termasuk umat Katolik untuk mencari pekerjaan merupakan motif dominan di balik alasan orang untuk berpindah atau melakukan migrasi. Untuk itu Gereja Katolik perlu memberikan perhatian bagi umat yang rentan terhadap kemungkinan eksploitasi. Pemetaan kelompok rentan harus dan penting dilakukan.
2.      Pendampingan khusus kepada para remaja harus dilakukan sebagai upaya pencegahan melalui kampanye anti perdagangan orang melalui berbagai institusi pendidikan secara berjenjang.
3.      Perhatian khusus perlu diberikan kepada keluarga-keluarga Katolik yang melakukan migrasi ke berbagai daerah di Indonesia maupun luar Indonesia untuk mencegah dampak lanjut terhadap keluarga rentan yang melakukan migrasi. Perhatian yang sama juga harus diperhatikan pada keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarga yang bermigrasi.
4.      Mengingat sulitnya menangani kasus perdagangan orang di fase hilir, khususnya di daerah tujuan maupun transit, maka upaya untuk pencegahan perlu dilakukan sejak dini di berbagai daerah atau keuskupan asal. Untuk itu peran para pastor paroki sangat diharapkan untuk turut mendidik dan memberikan wawasan kepada umatnya yang rentan.
5.      Pastor paroki juga diharapkan untuk melakukan pendataan umat secara berkala melalui sistem administrasi gereja yang sudah ada, sehingga fenomena migrasi bisa dibaca secara jelas pada level paroki. Dokumen administrasi Gereja merupakan instrument pendukung di peradilan, khususnya untuk melengkapi kelemahan sistem administrasi kependudukan pemerintah.
6.      Fenomena migrasi para pencari kerja yang rentan untuk dieksploitasi membutuhkan kajian-kajian serius. Untuk itu masing-masing keuskupan di Indonesia harus memberikan perhatian terhadap fenomena ini, menyiapkan tenaga pastoral dalam bidang migrasi yang kompeten dan mempelajari kajian migrasi secara serius, agar fenomena ini bisa dibaca dan disosialisasikan dengan baik, sesuai konteks lokal secara utuh dan diantisipasi dampak negatifnya.
7.      Mengingat tingginya angka pencari kerja, dan kebutuhan pasar kerja yang berubah dengan cepat maka Gereja Katolik diharapkan terlibat merevitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) baik yang sudah ada, maupun BLK yang baru akan terbentuk agar sesuai dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi mereka. BLK dapat dibentuk di daerah transit maupun di daerah asal.
Hari-hari mendatang dunia akan mengalami kemungkinan resesi global. Krisis di berbagai tempat memicu orang untuk melakukan migrasi karena berbagai sebab. Gereja Katolik perlu mempersiapkan diri untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, dengan tetap membawa kabar gembira bagi mereka yang kehilangan harapan dan tersesat ketika melakukan migrasi. Solidaritas perlu dibangun bersama-sama, dan Gereja  menjadi rumah bagi semua yang terasing.


Belitung, 11 Oktober 2019

RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus
Koordinator KKPPMP Regio Sumatera

NB.
Catatan pertemuan ini merupakan hasil dari pertemuan KKPPMP Regio Sumatera yang dihadiri oleh utusan dari keuskupan-keuskupan dan kongregasi yang ada di Sumatera. Kegiatan difasilitatori oleh RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus, Koordinator KKPPMP Regio Sumatera dengan narasumber RP. Eka Aldilanta OCarm (Jakarta), Ch. Dwi Yuli Nugrahani (Lampung) dan Dominggus Elcid Li (Kupang).

EKM Sibakjamano: Aku dan Kamu Setara di Mata Allah

Kesempatan yang begini nih selalu menyenangkan hatiku, yaitu bertemu dengan orang muda. Kali ini orang muda Katolik yang berada dalam wilayah Sibakjamano (Sdidomulyo, Bakauheni, Jatibaru, Margoagung dan Sribawono). Mereka berkumpul di Rawa Selapan, Lampung Selatan pada Sabtu - Minggu, 28 - 29 September 2019.

Kehadiranku pertama-tama karena ajakan dari Komisi Kepemudaan, RD. Gregorius Suripto dengan alasan tema yang diangkat dalam kegiatan ini yaitu: Aku dan Kamu Setara di Mata Allah. Ditambah dengan beberapa keterangan dari panitia penyelenggara beberapa minggu sebelumnya, aku pun memastikan hadir dengan mengajak Mas Hen. Tak perlu rayuan, karena dia pasti senang hati untuk ikut pergi.

Hadir sekitar 200an peserta dari berbagai daerah. Dan tentu saja seperti biasa mereka sangatlah beragam, pun dengan kehebohan yang tak bisa distop dari awal hingga akhir.

Dalam sesi aku menyampaian beberapa konsep sadar adil gender yang paling dasar untuk menandaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki martabat yang sama sebagai ciptaan Tuhan. Peran-peran pun bisa dijalankan secara adil oleh kedua pihak sebagai mitra sejajar dalam berbagai ranah kehidupan.

Aku dan Mas Hen menyediakan diri untuk sharing dari pengalaman kami berdua membangun komunikasi mulai dari pacaran hingga berada dalam rumah tangga. Beberapa data kutampilkan untuk menguatkan hal itu. Tentu saja dengan memberi catatan penting misalnya tentang kekerasan dalam berpacaran.

Thursday, September 26, 2019

Kurdas Angkatan XXIV Kopdit Mekar Sai Tahun 2019

Pendidikan adalah salah satu pilar utama koperasi kredit. Kopdit Mekar Sai melakukannya dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah Kursus Dasar (Kurdas). Kali ini digelar angkatan XXIV, diikuti 47 peserta dari berbagai unit yang ada di Mekar Sai, plus 5 orang dari Kopdit Mardi Siwi. Diselenggarakan di ruang meeting Kopdit Mekar Sai Jln Juanda Pahoman Bandarlampung, Jumat sore - Minggu siang, 20 - 22 September 2019.

 Materi-materi yang disampaikan merupakan pendasaran bagi aktifis koperasi dan diharapkan mereka lebih dalam lagi memahami nilai-nilai koperasi dan mendalaminya dalam gerak hidup mereka sehari-hari. Di Kopdit Mekar Sai ada materi-materi pokok untuk kurdas yang terbagi dalam 11 sesi, yaitu: Dasar-dasar berkoperasi, peran pendidikan dalam koperasi kredit, peran dan tanggungjawab pengurus pengawas, peran dan tanggungjawab manajer, struktur organisasi kopdit, AD/ART SOM/SOP Mekar Sai, tatakelola koperasi kredit, peran perempuan dalam koperasi kredit, financial literasi dan anggaran belanja keluarga, sistem akuntansi kopdit, dan produk simpan pinjam.

Sekian banyak materi itu harus tuntas diikuti oleh semua peserta selama tiga hari itu. Bagiku ini merupakan pengalaman pertama hadir dalam kurdas karena posisiku sebagai pengawas kopdit sekaligus menjadi anggota panitia pendidikan Mekar Sai. Dan aku senang banget terlibat didalamnya untuk materi peran perempuan dalam koperasi kredit. Aku mengubah judul sesi menjadi: Perempuan dan Laki-laki sebagai Mitra Sejajar dalam Kopdit. Judul ini bagiku lebih tepat.

Bagian lain yang membuatku senang saat memberikan materi ini adalah karena keseimbangan jumlah peserta perempuan dan laki-laki, Memang sih para bapak lebih banyak tapi tak berbeda jauh. Ini bisa menjadi pendasaran sikap personal mereka dalam keluarga maupun dalam organisasi atau masyarakat.

Aku dari awal sudah meniatkan untuk ikut semua sesi supaya aku bisa mengulang belajar semua materi yang pernah kupelajari dulu. Tapi apa daya, ada juga beberapa sesi yang tak bisa kuiikuti penuh karena mesti ngacir ke tempat lain. Paling tidak dua materi lain bisa full kuiikuti karena aku menjadi moderator. Dan juga sesi sebelum aku jadi moderator atau mengisi sesi kuusahakan aku bisa menghadirinya sehingga menjadi sambungan saat aku maju.

 Di bagian penutup, peserta memberikan evaluasi terhadap seluruh proses. Banyak yang menuliskan di lembar evaluasi soal waktu yang kurang lama bahkan beberapa sesi tidak memungkinkan ada dialog atau tanya jawab. Nah, semoga mereka tetap semangat mengikuti info dari Mekar Sai dan antusias hadir jika ada pelatihan yang selanjutnya.

Wednesday, September 25, 2019

Komentar Puisi: MENANGKAP PESAN DALAM PUISI SRI WAHYUNI

Awalnya aku menerima puisi ini dalam kolom komentar FB, ditulis oleh Sri Wahyuni. Aku sudah kadung berjanji untuk komentar seperti yang diminta penulis, jadi kulakukan dalam bentuk seperti ini supaya menjadi sarana belajar bagiku maupun bagi orang lain yang mau.  
Puisi ini tidak hanya dipasang dalam kolom komentar statusku di FB tapi juga disiarkan lewat beranda FB penulis (mungkin juga dipublikasikan di tempat lain). Secara lengkap, inilah puisi itu. Aku ambil dari status FB penulis, 19 September 2019, yang sudah lengkap dengan judul, tanpa kuubah apa pun kecuali membuat besar seluruh huruf judul dan meletakkan nama penulis di bawah judul.

MENYIANGI MALAM
Puisi Sri Wahyuni


Renungan kecil burung kenari 
Menari-nari menghiasi lembar ini 
Satu persatu peristiwa kembali


Selamat pagi kau mentari
wajahmu berseri
Kau membuka hari
Alunan syair lagu menemani


Mentari semakin meninggi
Kenari kecil bersiap mengejar mimpi
Mimpi membangun ibu pertiwi


Saatnya terbang mengikuti angin
Sayap kecil melawan dingin
Menjemput impian yang ia ingin


Terkadang sayapnya patah
Kenari kecil tak pernah menyerah
Ia tetap berjuang meski berdarah


Saat senja mulai tiba
Mentari mulai kembali keperaduannya
Kenari pun kembali ke sarangnya


Saat gelap menyelimuti senja 
Ia pun berpasrah pada Pencipta
Ia bertanya
"Sudah aku menjadi berkat
bagi sesama?"

Aku termasuk orang yang malas mengomentari puisi karena butuh waktu yang lamaaa untuk ngungkapinnya. Tapi karena aku sudah berjanji untuk komentar, seperti biasa aku memulai dengan pertanyaan,”Apakah puisi ini memang sebuah puisi?” Untuk menjawab itu tentu saja aku spontan menyandingkannya dengan syarat-syarat sebuah puisi yang biasa kupakai untuk mengukur diriku sendiri saat aku membuat puisi. Tapi aku tidak mau mengomentari seluruh unsur yang harusnya ada dalam puisi, entar malah jadi seminar tentang puisi pula yang isinya ceramah Yuli Nugrahani. Huhuhu. Aku menuliskan yang ingin kutulis saja. Kapan-kapan kita rumpiin yang lebih lengkapnya ya Bu Sri Wahyuni. Akur? Hehehe.

Hasil dari Membaca
Aku memilih untuk mencermati diriku sendiri saat membaca puisi ini yaitu apa yang aku rasakan saat membacanya, dan apa yang aku pikirkan kemudian. Aku menancap pada judulnya: Menyiangi Malam.
Kata menyiangi (kata kerja) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti:
(1) mencabuti rumput, semak, dan sebagainya; menebangi dahan kayu di kebun dan sebagainya supaya bersih: menyiangi sawah; menyiangi semak-semak;
(2)  membersihkan (ikan dan sebagainya) sebelum dimasak;
(3)  mencabuti. menyingkirkan, menghilangkan gulma
Kata dasarnya adalah siang, yang berarti terang, atau bersih.
Sri Wahyuni menggunakan frasa ‘menyiangi malam’ sebagai judul. Aku mengartikan ini sebagai ‘melakukan sesuatu sehingga malam menjadi terang atau bersih’. Seperti membandingkan malam sebagai hamparan sawah dan si subyek ‘menyiangi’nya. Walau begitu, Sri tidak menunjukkan banyak bagaimana si subyek menyiangi malam, malah si subyek mewujud dalam seekor kenari kecil yang memulai hari dengan menyapa pagi, bersiap, mengikuti angin dan berjuang, hingga dia masuk ke peraduan saat senja datang. Saat malam (dalam puisi ini dikatakan: Saat gelap menyelimuti senja):
Ia pun berpasrah pada Pencipta
Ia bertanya
"Sudah aku menjadi berkat
bagi sesama?"
Di bagian inilah judul itu muncul. Hmmm…rasanya sangat kurang bagiku yang kadung kepo dengan judulnya yang indah.
Judul adalah senyuman dari sebuah puisi. Bagiku sendiri saat menulis bentuk apa pun, membuat judul menjadi bagian yang sulit (lihat saja judul bukuku yang uhuk-uhuk: Pembatas Buku, Daun-daun Hitam, Salah Satu Cabang Cemara dan Sampai Aku lupa. Keempatnya pernah diprotes banyak orang sebagai judul, padahal aku meletakkan filosofi yang mendalam dalam setiap kata yang kupilih. Hehehe.) Kalau senyuman itu tidak terbentuk, sangat susah orang mau datang pada puisi tersebut. Atau kalau senyumnya kelewat lebar tidak sesuai dengan puisinya pasti akan membuat orang menjadi kecewa. Nah begitulah. Harusnya menyiangi malam itu bisa ‘babar’ ke banyak bait.  Salah satu tips yang biasa kupakai untuk membuat ‘babar’ (Iki bahasa opo ya? Hihihi) adalah dengan mengenali setiap subyek dan obyek yang kita gunakan dalam puisi. Cari referensi sebanyak-banyaknya sehingga tahu perilaku dari tiap subyek dan obyek. Tentu saja ini mesti sebanding dengan pemahaman tentang tema yang kita ambil.

Melihat Pesan
Aku melihat satu unsur dalam puisi yang tampak dalam puisi Sri Wahyuni ini: pesan (Unsur dalam ada beberapa, seperti: tema, pokok pikiran, rasa, nada dan pesan. Sedang unsur luar antara lain diksi, imaji, majas, ritme dan sebagainya). Pesan kuat yang kutangkap dalam puisi ini: setelah bekerja sepanjang hari, saat malam menjadi waktu yang tepat untuk melihat apakah aku sudah menjadi berkat bagi sesama. Atau, bisa jadi ini tentang perjalanan hidup manusia dari lahir hingga menjelang kematian.
Karena puisi kuanggap bentuk komunikasi maka puisi harus memuat pesan dan dibaca oleh seseorang atau banyak orang. Si penulislah yang menjadi pembawa pesan, sedang pembacanya adalah penerima pesan. Saat puisi ini dibaca kembali oleh penulisnya suatu ketika nanti, manfaat besar pasti akan didapatkan oleh si penulis karena dia sudah ‘merefleksikan’harinya lewat burung kenari yang kecil, untuk mengingat masa saat dia menulisnya. Bagiku, si pembaca, pesan sederhana ini sudah pernah kuterima lewat berbagai cara entah sejak kapan, berulang-ulang, jauh sebelum aku membaca puisi ini. Namun ketika aku membaca puisi ini, aku diberi kesempatan lagi untuk meneliti diri sendiri, mengikuti ajakannya di bait terakhir.
Selain itu aku diulik untuk mengembangkan imajinasi tentang burung kenari. Aku ingat aku beberapa kali menggunakan burung kenari dalam puisiku misalnya puisi Gerbang Sunya:
Sepenuh daya aku menahan suara
menyembunyikannya di paruh kenari
menguncinya di putik bunga kasturi.
Kenari adalah burung yang indah lincah dengan suara yang menawan. Dia cocok sekali untuk menggambarkan segala kesibukan seorang ‘perempuan yang ibu dan pekerja, macam aku. Mungkin seperti itu jugalah penulis puisi. Pun itu disertai dengan kesadaran bahwa bisa saja ‘sayapnya patah’, dalam dinamika hidup yang naik turun.
Jadi sangat tepatlah jika ‘Saat gelap menyelimuti senja’ bisa dimanfaatkan dengan baik untuk refleksi dan mawas diri. Melihat apakah ‘sudah aku menjadi berkat bagi sesama’.

Mengedit Puisi
Aku ingat salah seorang guru puisiku (aku punya banyak guru puisi) mengatakan : “Jangan menulis puisi pada saat marah.” Aku melawannya dengan tetap menulis puisi saat marah, saat sedih. Tapi aku akan mengedit puisiku dalam situasi yang gembira, saat sehat, saat jernih dan saat hening.
Nah, ini yang ingin aku bocorkan pada anda sekalian tentang beberapa hal yang aku perhatikan saat mengedit puisi-puisiku (Note: seringnya belum berhasil. Butuh kerja super-super keras. Yuli Nugrahani ini masih penyair kagol dan mogol.)
1.   Menyesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia yang benar. Puisi tidak terikat pada ejaan. Tapi penyair harus tahu ejaan yang benar dari bahasa yang digunakan. Kalau menulis memakai Bahasa Indonesia, maka dia harus paham ejaan Bahasa Indonesia yang benar, dan memastikan tahu alasan penggunaannya andai memang harus melanggarnya. Ini soal remeh temeh yang penting tentang huruf besar atau kecil, tanda baca, spasi dan sebagainya.
2.  Aku punya kamus Bahasa Indonesia dari jaman jebat tapi seringkali menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia daring untuk memastikan makna kata yang kugunakan. Selain itu thesaurus juga sangat bermanfaat untuk melihat lebih lanjut  pilihan kata yang bisa digunakan. Ini termasuk juga memastikan penggunaan majas yang tepat, tidak lebay, tidak berulang secara sia-sia.
3.  Aku mencermati secara khusus subyek dari tiap baris puisi walau kadang subyek itu tidak tertulis. Selain itu juga tentang penggunaan kata-kata sambung seperti dan, yang, dan sebagainya. Puisi harusnya menampilkan kalimat secara padat, jelas dan penuh makna karena ruangnya yang sempit. Maka tiap kata yang muncul di situ harus benar-benar punya makna. Kalau tidak ada maknanya atau tidak menambah makna yo buang aja.
4.   Melihat logika kalimat, keterkaitan antar kalimat, dan sebagainya juga penting. Dan ini bisa sangat sulit bagi penulis romantis macam aku. Puisi bisa saja tidak logis dalam pandangan umum, tapi penyair harus tahu logikanya. Gitu deh kuncinya. Juga aku pernah diingatkan oleh guruku yang lain soal redanden (pengulangan makna kata yang tak perlu) biar ndak lebay.
5.  Nah, yang paling sulit bagiku dan aku sedang belajar saat ini adalah tentang irama puisi. Bagaimana irama bisa hadir secara tepat, mengalir dan tidak dipaksakan. Ini kaitannya dengan kehadiran konsonan dan vokal dalam kata-kata yang saling mengait dalam satu larik dengan larik lainnya. Di sini nih fungsi membuka dan membaca thesaurus. Membacanya secara lisan bisa membantu kita menemukan irama yang tepat.
6. Tipografi puisi terkait perwajahan puisi. Ini bisa sangat penting-ting-ting untuk membantu keindahan puisi. Juga membantu para pembaca untuk memahami puisi. Pastikan alasan yang tepat untuk membuat tipografi bentuk-bentuk tertentu.
7. Baca puisi itu berkali-kali. Keras-keras. Kalau perlu di depan cermin. Untuk melihat keseluruhan puisi itu. Berulang kali.
8. Edit kembali puisi sampai benar-benar tak ada yang bisa diedit dari puisi itu. Saat editing, berlakulah sebagai pembaca, bukan penulis puisi yang sering jatuh pada rasa ‘sayang’. Bantailah puisi itu seolah-olah puisi itu ditulis oleh orang lain. Potong, tambah, buang, ubah, hingga tak ada lagi yang bisa diedit dari puisi tersebut. Aku kadang butuh waktu berminggu-minggu untuk satu puisi, bisa lebih. Kadang-kadang jadinya malah bubrah. Huhuhuuuu… pokoke edit, edit, edit, edit…
Nah, sudah panjang nian kutuliskan. Semoga ini bisa memenuhi sedikit harapan Sri Wahyuni ketika meminta komentar saya tentang puisinya. Jika kelebihan yo dihapus saja, bu. Kalau kurang yukkk… kita ngerumpi puisi bersama-sama sambil ngebakso, ngopi atau apalah-apalah gitu. Jangan berhenti menulis puisi, karena puisi membuat kita menjadi semakin manusiawi. Yuhuiiii…. *** (Yuli Nugrahani, Bandarlampung, 25 September 2019)