Seperti diketahui khalayak, aku ni suka nonton atau ndengerin wayang kulit. Setelah idolaku Ki Seno Nugroho meninggal, aku sempat berhenti, tidak mau menonton wayang. Pelan-pelan aku menikmatinya lagi, sampai akhirnya jadi lebih rutin Ki Gadhing Pawukir anak Ki Seno mulai aktif mendalang. Ada kekhasan suara Gadhing yang menurun dari ayahandanya. Jadi pengobat kangen gitulah walau cara Gadhing belum sebaik ayahnya.
Nah, bagi yang tidak suka atau tidak pernah nonton wayang, pasti seperti angin lalu saja kisah-kisahnya. Apalagi kalau ndak biasa mendengar bahasa Jawa. Padahal ada bagian-bagian yang sudah standart dalam pagelaran wayang, atau kusebut alur cerita dalam pagelaran wayang kulit. Kayak pola per babak gitulah. Kali ini kutulis sesuai pengalaman yang kutonton bagaimana alur itu ada dalam pagelaran wayang kulit. Akan kukoreksi setiap kali mendapatkan referensi nantinya.
1. Jejer
Jejer ini menjadi adegan pembuka. Biasanya settingnya ada di sebuah 'pertemuan', ada ratu atau pemimpin, dihadap oleh sejumlah orang. Ini juga menjadi pengenalan atau pengantar untuk cerita yang akan dilakonkan. Jejer ini selain mengenalkan masing-masing karakter tokoh yang berkumpul, juga mengenalkan persoalan/masalah yang akan diangkat dalam kisah yang dilakonkan.
2. Limbukan
Limbukan ini babak suka-suka, yang diisi dua tokoh dayang Limbuk dan Cangik. Isinya dialog tidak serius, humor, bisa menampilkan bintang tamu, lagu-lagu. Menjadi semacam selingan dalam pagelaran. Masa kini penonton bisa nyawer minta lagu di bagian ini.
3. Budhalan
Budhalan ini menjadi saat bagi para ksatria keluar dari istana, berangkat untuk maju dalam 'konflik'. Jika dalam jejer sudah dikenalkan dengan masalah yang muncul, konflik itu diperkuat dalam babak ini. Siapa yang saling berhadapan akan 'berperang' secara langsung.
4. Goro-goro
Merupakan perbincangan ringan para punakawan terdiri dari Petruk, Gareng, Bagong, ditemani Ki Romo Semar. Mereka akan berdialog humor. Dalam pagelaran, saat goro-goro ini biasanya berada di jam usai tengah malam, saatnya super mengantuk bagi yang menonton semalam suntuk. Maka obrolan humor ini bisa menyemangati kembali para penonton.
5. Perang
Setelah goro-goro, konflik yang sudah dibangun dalam budhalan tadi menjadi 'geger', mengadu antara jahat dan baik, antara hitam dan putih. Setelah goro-goro, konflik ini mencapai puncak atau klimaks. Gending menjadi lebih tegang, kuat, dengan strategi yang dibangun 'kuat-kuatan' antar dua pihak yang beradu.
6. Tancep kayon
Bagian terakhir dari pagelaran akan menjadi saat antiklimaks. Musuh sudah gugur, masalah selesai, suasana kembali adem ayom tata tentrem. Gunungan akan ditancapkan menandakan selesainya kisah yang digelar. Biasanya Ki Dalang akan menyertakan doa-doa di bagian akhir ini. Saat tancep kayon ini kebanyakan dilakukan persis sebelum subuh menjelang.

No comments:
Post a Comment