Wednesday, June 17, 2026

Gunung Betung: Berjuang Menerima Pacet dan Hujan sebagai Teman

 Sabtu, 13 Juni 2026 menjadi kesempatan bagus untuk naik gunung. Langit cerah, teman-teman muda yang ceria, semangat berkobar. Tapi siapa yang bisa menebak cuaca dan peristiwa-peristiwa yang dimunculkan oleh gunung? Kali ini Gunung Betung menjadi ruang paling memungkinkan untuk didaki, aku menikmati pendakian bersama dengan denmas Hendro, Albert, Dira dan Aldi. Jumlah 5 bukan jumlah yang tetap seperti cuaca cerah bukan jaminan berlangsung sepanjang hari.

Pintu rimba Gunung Betung


 Di basecamp, persiapan-persiapan seperti biasa membutuhkan waktu beberapa lama. Membayar tiket, parkir, memastikan barang-barang bawaan dicek, dihitung potensi sampah yang dibawa, juga meninggalkan barang-barang yang tidak perlu seperti baju ganti kering. Mulai dengan foto hingar bingar di start jalur pendakian, kami berjalan dengan semangat, sekitar pukul 09.00.

Dari antara kami berlima, Dira yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Kami ledekin bahwa perjalanan ini bertujuan mengawal dia. Untuk pendakian ini dia sudah menyiapkan diri dengan jalan sekitar rumah, tapi rupanya tanjakan awal dari basecamp ke camp ground membuatnya shock berat. Setiap kali dia berhenti, baru beberapa langkah dia bilang capek.  Bahkan sempat bilang,"Bu, aku ntar sampai camp ground aja ya." Aku tidak menggeleng dan tidak mengangguk. Hehehe... Lihat saja nanti. Toh akhirnya kami sampai di camp ground, aman, senyum-senyum, dan istirahat cukup lama.

Aku bilang sedikit mendesak ke Dira,"Kita naik, nanti setiap pos kita lihat akan terus naik atau kita berhenti." Dan Dira setuju usul itu. Aku pribadi sih ndak mau dia putus asa di pendakian pertama ini. Harus sampai puncak. 

Itulah yang kami lakukan, terus berjalan, pelan, timik-timik, yang sebenarnya sesuai dengan ritme jalanku juga. Aku tak bisa jalan lebih cepat saat nanjak, juga tak bisa jalan cepat kalau terlalu curam. Hehehe... Setelah pos satu, tak ada keluhan apa pun dari Dira. Malah dia melaju ke paling depan, mendului aku yang udah ngap. Setelah pos dua jalur lebih parah lagi, dan hujannnn.... Huaaa... Tantangan pun bertambah. Syukurnya, Dira kayaknya suka air ya, jadi dia terus kita taruh paling depan, dan aku jauh lebih lambat ada di belakang ditemani pak Hendro. Dia sempat kram tapi setelah itu aman sampai puncak.

Setelah pos dua, rombongan kami beriringan dengan tiga gadis yang mempunyai ritme timik-timik juga. Dua diantara tiga gadis ini juga merupakan pendakian pertama mereka. Akhirnya sampai turun pun rombongan kami terus beriringan.

Selain hujan yang menyebabkan jalur licin, hujan juga membuat pacet-pacet berpesta pora. Terlebih mereka merasakan panas darah para pejalan di jalur-jalur rumah mereka. Huaaa... teriakan-teriakan kecil karena melihat makluk ini menempel di kaki, tangan, leher pun terdengar. Semprotan handsanitizer sangat membantu. Tahan geli sedikit, jangan ditarik, lalu pacet-pacet itu akan lepas sendiri.

Pacet melimpah di puncak Betung. Pas pula perut sudah lapar sekitar jam 12.45, kami sampai puncak Betung. Makan siang sambil mata waspada melihat sekitar jangan sampai pacet-pacet menempel, walau itu tidak mungkin. Mereka punya cara lebih cerdik untuk sampai ke kulit manusia dan menghisap darah. Hampir satu jam kami puas menikmati puncak, dengan makan dan foto-foto, kami pun turun. 

Sekitar pukul 13.45, kami turun dengan mesti sangat super hati-hati karena jalanan licin, masih juga sesekali hujan gerimis. Tubuh basah kuyup, kotor karena lumpur, beberapa kali terpeleset jadi hal biasa. Dengan kondisi hujan jalan naik maupun turun sama saja beratnya bagiku. Sesekali kudu ngesot, jalan ndak lagi hanya pakai kaki, tapi pakai pantat, juga tangan. Uhui banget pokoknya.

Begitu sampai camp ground, rasanya legaaa banget. Kami nunggu rombongan yang tertinggal dengan nyemil setelah memeras kaos kaki, mengurangi basah sedikit. Sampai kembali di basecamp sudah pukul 05.00 sore. Ndak sabar berganti baju kering, melepas sepatu ganti sandal jepit, dan menikmati minuman hangat.

Apa komentar Dira? "Seruuu..."

Jadi ke gunung mana lagi minggu depan? Senyum ja dianyaaa.... 


 










Thursday, June 11, 2026

Pameran Lukisan PER-EMPU-AN, Ekspresi dan Kekayaan Perempuan

Perempuan mempunyai banyak kekayaan yang melekat dalam dirinya. Hal itulah yang tampak dalam Pameran Lukisan yang digelar oleh UKMBS Komunitas Biroe Darmajaya di Taman Budaya Lampung, 4 - 8 Juni 2026. 

"Pameran menjadi ruang perjumpaan antara ingatan personal dan kesadaran kolektif. Dengan demikian, per-empu-an diposisikan sebagai ruang dialog yang terbuka dan berkelanjutan. Ia mengundang pembacaan yang mendalam terhadap peran perempuan dalam membentuk kebudayaan, tidak sebagai posisi yang terpisah, tetapi sebagai bagian yang menyatu dalam kehidupan bersama. Per-empu-an menegaskan keberadaan perempuan sebagai proses kultural yang terus tumbuh, bergerak, dan memperkaya makna hidup", demikian dituliskan dalam kuratorial yang ditulis oleh David sebagai pengantar dalam e-katalog Per-empu-an.

 Lukisan Bunga Ilalang langsung mencuat begitu masuk ruang pameran. Lukisan itu terletak di sayap kiri, ukuran besar, dan tanpa melihat keterangan di bawah lukisan yang menjelaskan siapa penulis, ukuran, judul lukisan dan sebagainya, aku udah yakin, ini lukisan Bunga Ilalang. Cara Bunga melekatkan akrilik pada kanvas sangat khas dan detil. Lukisan berjudul Mata Hari ini pun mengingatkanku pada wajah cantik sendu pelukisnya. Walau dijelaskan kalau inspirasi lukisan ini seorang penari yang juga spionase internasional pada jaman dahulu kala, entah mengapa aku melihat ciri-ciri garis wajah Bunga Ilalang dalam lukisan ini.

 Tentu saja aku tak bisa hanya berhenti pada lukisan ini, aku berjalan random dari satu lukisan ke lukisan lain. Aku akan berhenti lama pada lukisan yang membuatku 'bergetar' dan berhenti sebentar saja pada kebanyakan lukisan. Memutarinya sekali lagi seperti kebiasaanku kalau melihat pameran lukisan, membuatku mendapatkan insight lebih pada lebih banyak lukisan.

Lukisan berikut kubilang ke anakku yang menemaniku ,"Ini aku banget nih, Bert." Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan sedang membuat kain tapis, dengan dua fokus lain yang menyertai yaitu kepompong dan kupu-kupu. Rangkaian obyek yang sangat khas perempuan, berjudul "Metamorfosis Benang" dilukis oleh Alia Larasati.

"Proses lahirnya kupu kupu dari kepompong disandingkan dengan lahirnya sehelai tapis dari benang-benang halus di tangan seorang penenun. Keduanya adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran,
ketekunan, dan waktu sebuah transformasi yang sunyi namun penuh makna. Seperti sayap kupu kupu yang perlahan mengembang, setiap tarikan benang adalah wujud pertumbuhan dan kelahiran baru." Demikian dituliskan dalam katalog.

 

Lukisan lain yang membuatku berhenti lama dibuat oleh Evit Wong Setiawan, berjudul Ingsun. Lukisan ini mengingatkanku pada suatu masa di kamar kostku di Malang saat aku awal bekerja di VCI, aku membuat rumusan visi pribadi yang dilatarbelakangi pikiran mendalam saat itu tentang "awal" dan "akhir", "sumber" dan "tujuan", serta sedang terpana dengan "sangkan paraning dumadi"

Beberapa lukisan lain sangat variatif. Ada yang menampakkan kedalaman konsep dan eksekusi yang  apik keren. Tapi toh ada juga lukisan yang menurutku masih sangat permukaan dan tidak matang dasarnya. 

Perasaan yang dominan saat aku melihat lukisan ini adalah antusias, berkobar-kobar. Secara umum, seluruh lukisan yang dipamerkan belum menampakkan keseluruhan  'jenis' perempuan yang pernah kujumpai dalam 52 tahun aku hidup. Bahkan belum menampakkan semua dinamika perempuan dalam contoh hidupku sendiri sebagai perempuan. 

Tapi, sungguh, selaras dikatakan kurator, lukisan-lukisan itu menyodorkan 'ingatan' dan 'kesadaran' yang memang ada dalam perempuan. Sebagian, belum keseluruhan, pun tetap saja asyik. Perempuan toh selalu punya misteri yang tersembunyi to? Dengan demikian masih banyak yang bisa digali. Mungkin untuk karya selanjutnya, pameran selanjutnya. 

  


Friday, June 05, 2026

BELAJAR MENJADI LANSIA

 

 Mungkin tidak seheboh pikiranku, tapi aku membayangkan menjadi manusia lanjut usia atawa lansia, itu bukan perkara mudah. Kata orang, lansia itu kembali menjadi seperti bayi. Rambut tipis atau malah tak punya rambut. Gigi dah rontok. Jalan susah harus dibantu. Makanan mesti dipilih. Gerakan tak lagi gesit. Pendengaran udah berantakan. Ngomong pun tak lagi bisa runtut. Bahkan kemudian kesadaran menurun, kadang jadi pikun.

Padahal semua orang tanpa kecuali, yang berharap berumur panjang, mereka pasti akan menjadi lansia. Ada banyak standar kapan seseorang dikatakan sebagai lansia.  Menurut WHO, lanjut usia dibagi sebagai berikut: usia pertengahan (middle age) 45 - 59 tahun, lanjut usia (elderly) 60 - 74 tahun, lanjut usia tua 75 - 89 tahun dan sangat tua (very old) 90 tahun ke atas.  Indonesia kayaknya mengadopsi ini juga, umur 60 tahun ke atas masuk dalam kriteria lansia.

Sejak mengikuti Lampung Hash beberapa tahun yang lalu, ukuranku jauh bergeser. Dulu ketika melihat orang berumur 50 - 60 tahun, aku menganggap mereka sebagai orang-orang tua yang sudah harus dibantu, hanya butuh didengarkan, jarang dilibatkan untuk garapan besar, kecuali satu dua orang saja yang memang luar biasa karena jabatannya, pengaruhnya atau duitnya.

Saat ketemu dengan member Lampung Hash, aku sering kecelik. Kukira mereka masih seumuran aku (aihdah), mereka kuat jalan jauh, lari, nanjak. Omongannya masih kencang dari ujung ke ujung. Ternyata sebagian besar dari member hash yang lincah-lincah itu kebanyakan sudah berusia di atas 60 tahun, bahkan banyak yang di atas 80 tahun. Mereka kuat secara fisik, masih punya keinginan impian, nyetir sendiri dalam jarak jauh, dan seterusnya.

Mencermati lanjut, ternyata mereka punya gaya hidup sehat (walau tidak 100%), minimalnya mereka suka olah raga dan berkomunitas dengan kegiatan-kegiatan yang terus bergulir. Setelah ikut walk Lampung Hash, ada yang lanjut nge gym, lalu kegiatan sosial di beberapa komunitas, donor darah dan seterusnya. Soal makanan, aku melihat beberapa gelintir merupakan vegetarian, namun aku juga lihat beberapa gelintir lain merupakan perokok aktif.

Tubuh mereka mayoritas cukup seimbang, ya karena suka jalan dan lari dan renang. Kalau pun ada yang berbadan besar, rata-rata masih cukup seimbang proporsional.

 Dalam usia midle age kayak aku ini, aku berpikir rasanya tak terlalu siap menjadi tua. Orang ngomong wajar kalau saat sudah lansia tubuh dan pikiran mengalami kemerosotan. Tapi saat mengalaminya sendiri kok rasanya mengerikan ya. Biasanya jalan jauh dan cepat dengan mudah kulakukan tanpa hambatan. Ini masih bisa jalan jauh dan cepat, tapi di beberapa rute kalau tak hati-hati, jari-jari kaki kanan jadi lebih sering kram.

Atau, biasanya aku mudah saja bicara ini itu tema yang memang biasa kugulati. Tapi nanti pada waktu-waktu tertentu, jika tak dibantu tulisan, pikiran bisa blank, kosong, lupa. Bahkan soal lupa ini juga menyangkut nama-nama, nomor, tempat, waktu dan seterusnya. Dulu aku bahkan ingat nomor induk mahasiswa anak-anakku. Sekarang aku tak mampu mengingatnya.

Pendengaran juga mulai jadi masalah. Perbincangan dengan suami sering tersendat karena aku merasa mendengar satu hal tapi ternyata menurut suami, dia menyampaikan hal yang lain. Atau aku tanya sesuatu, dia bisa tanpa ekspresi. Rupanya suaraku tak nyampai di telinganya. Nah gawat kan. Ini bisa berpotensi perang kalau dua belah pihak calon lansia ini tak menyadarinya.

Soal uban aku tak ada masalah. Malah aku bangga dengan rambutku yang kelabu memutih. Ini keren banget. Tak pernah berminat mengecatnya sekarang ini. Entah nanti. 

Maka, saudari saudara, menjadi lansia itu pun butuh persiapan, butuh belajar juga pelan-pelan.  

Wednesday, June 03, 2026

CHANEL YOUTUBE YANG SERING DITONTON: Dari Lagu-lagu, Cerita Horor, Pendakian, Kuliner dan Drakor

 Ada beberapa chanel Youtube yang menjadi teman enak saat kerja maupun santai. Kita mulai dari yang pertama ya:

1. Lagu-lagu segala jenis

Ini biasanya diklik sesuai dengan yang muncul saat pertama Youtube dibuka. Bisa klik lagu-lagu lawas, Didi Kempot, Letto, lagu rohani, lagu-lagu cafe dan seterusnya. Jika sudah buka chanel musik, itu artinya aku akan kerja serius di depan laptop. Musik menjadi teman di latar belakang yang menyegarkan. Ndak akan ditoleh layar Youtubenya.

2. Kisah horor

Kisah-kisah horor bukan favorit tapi entah mengapa sejak beberapa tahun lalu, kalau sedang buka laptop, chanel milik Nadia Omara, Hirotada Radifan atau Mohammad Prasodjo jadi teman setia. Jika membuat rencana-rencana, menyusun proposal dan seterusnya, kisah-kisah horor ini sering menjadi teman dan memunculkan ide-ide. Ntar saat editingnya sih kembali ke laagu-lagu. Tapi saat ngetiknya sembari lirik-lirik ke sinilah.

3. Kuliner

Ini biasanya akan otomatis klik saat Hari Jisun memunculkan video baru. Dari antara chanel yang dikelola orang Korea, seneng aja lihat Hari Jisun berkisah tentang perjalanannya ke Indonesia saat sendiri atau mengajak keluarga dan temannya. Bukan semata kuliner tapi juga tempat-tempat terkenal maupun tidak terkenal di Indonesia.

4. Pendakian

Ini mah mesti ke chanel Fiersa Besari. Walau juga lihat chanel pendakian atau petualangan lain, Fiersa selalu menarik hati. Ini mesti ditonton ya, jadi kalau udah buka chanel ini, ya hanya untuk rekreasi, tidak sambil bekerja.

5. Drakor

Kalau di Youtube lihat drakor atau dracin sebenarnya hanya untuk lihat cuplikannya. Tidak akan punya kesabaran cukup untuk menonton kisah-kisah panjang drama.

6. Wayang Kulit

Iya dung, ini lumayan sering saat pandemi karena kemunculan Ki Seno Nugroho di youtube. Sekarang-sekarang mulai lagi karena Ki Gadhing Pawukir. Kayaknya akan tetap setia dengan chanel Dalang Seno walau tidak bisa menonton sekali habis untuk satu lakon. Bisa butuh beberapa hari, tapi tetap ternikmati. 

Tuesday, June 02, 2026

BELAJAR RENDAH HATI

 Ini PR banget deh. Semakin berumur, belajar rendah hati ini menjadi lebih susah. Indikator utama bahwa kita sudah rendah hati adalah kita tidak sakit hati diperlakukan seperti apa pun. Bagaimana itu bisa dilakukan diterapkan?

Aku merasa sudah begini senior, jadi ketua ini itu, tapi begitu hadir di suatu tempat tak ada satu pun yang menyambut, mempersilakan, bahkan tak ada yang kenal.

Aku merasa begitu istimewa, punya suara bagus dengan alur rapi saat bicara, tapi tak ada satu pun kesempatan bicara, bahkan ketika ngacung pengin bicara, moderator mengalihkan pada orang lain.

Aku merasa ahli bisa ini itu tapi saat ada acara yang sesuai bidang itu tak ada seorang pun yang ingat bahwa aku punya keahlian.

Aku merasa sudah tersenyum pada semua orang tanpa kecuali, sudah merasa begitu baik, tapi ternyata semua orang mengabaikan tak ada yang membalas senyum tak ada yang menyapa.

Aku sudah percaya diri akan duduk di tempat terbaik, ternyata tempat itu sudah diberikan pada orang lain yang kukenal masih muda, atau bahkan tak kukenal.

Dan seterusnya, dan seterusnya....

Menjadi rendah hati adalah keutamaan yang harus dilatih bahkan sejak masih muda. Menerima diri dan menerima perlakuan orang lain secara merdeka. Sekali saja kita merasa lebih, lebih unggul, lebih istimewa, lebih baik, lebih... lebih... lebih... kita menjadi sombong ngawur. Dan sekali saja kita menjadi sombong ngawur semacam ini, asudahlah, sudah pasti, kita akan mati, berhenti pada titik tertentu tak ada kemajuan kemana-mana. Merasa bisa, merasa tinggi, menganggap orang lain lebih rendah, menganggap orang lain tak pantas dan seterusnya. Inilah langkah awal untuk menjadi jahat, kalau tak dianggap aneh. Hehehe...

 

Monday, June 01, 2026

MAKAN PAGI DAN MALAM DI PESAWAT GARUDA

 Dulu aku pernah menulis beberapa tentang makanan yang disajikan di pesawat saat terbang. Salah satunya klik sini gimana aku pernah mengatakan aku tidak terlalu suka makanan yang disajikan di dalam penerbangan. Tapi aku memang selalu penasaran dengan menu yang disajikan.

Dalam penerbangan beberapa hari lalu dari Jakarta ke Batam PP, menu yang hendak disajikan dalam pesawat aku tunggu dengan sungguh-sungguh karena memang penerbangan yang kupilih pas dengan jam makan. 

Waktu berangkat, aku menggunakan Garuda kelas ekonomi terbang pukul 06.15. Makanan disajikan sekitar 30 menit setelah pesawat di udara.


 Menu yang disajikan potongan kentang rebus, telur omlet dengan sayuran yang dikukus, sosis dan kacang merah. Penyandingnya ada kacang campur dan coklat almon yang tipis. Aku memilih setengah cangkir kopi pahit. Menu ini hampir hambar rasanya, tapi menurut lidahku, menu ini cocok untuk sarapan yang cukup nutrisinya. 

Waktu balik ke Jakarta aku menggunakan Garuda ekonomi pukul 17.50. Makanan disajikan agak telat, hampir 1 jam setelah terbang. Cuaca tidak terlalu bagus sehingga kami selalu diminta untuk memakai sabuk pengaman.


 Jam penyajian setelah jam 5 sore, dan aku sudah lapar sejak menjelang pukul 5 sore seperti biasa. Maka aku menerima menu ini dengan antusias. Nasi putih, buncis dan wortel tumis serta ayam kecap. Penyandingnya sama, kacang campur dan coklat almon. Untuk minum aku minta teh panas tawar dan bonus susu. Cukup kenyang dan rasa yang familier sekali. 

Saturday, May 23, 2026

SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA

Aku tahu ada garapan Baim Wong karena di beranda FB maupun IG sering muncul short video bagamana Baim mengarahkan Alim untuk berperan. Aku ndak tahu bentuknya drama televisi atau film layar lebar, tapi jelas Baim menikmati relasi yang asyik dengan Alim. Alim ini anak istimewa, yang pasti butuh trik khusus untuk menjelaskan padanya tentang apa yang perlu dikerjakan dalam garapan bersama banyak orang.

Baru ngeh kemudian ketika lihat poster foto ini saat browsing iseng dengan Wo Elly dan Atu Alia tentang bagaimana kami akan melewatkan malam bersama usai lokakarya di Horison. Malam tak ada agenda apa pun, dan kami bertiga sudah memutuskan untuk menginap. Dari antara film yang sedang tayang, yang pertama diusulkan untuk ditonton adalah Ghost in the Cell. Aku sudah menontonnya tapi aku tak keberatan nonton lagi jika memang disepakati begitu. Tapi kemudian kami memutuskan untuk memilih fil saat kami sudah sampai bioskop, yang paling dekat di Mall Kartini. Beruntungnya, yang persis pas akan main adalah film Semua akan Baik-baik Saja.

Film ini bercerita tentang kehidupan keluarga ibu Wida yang sudah ditinggalkan oleh suaminya. Bu Wida membesarkan anak-anaknya sendiri dibantu oleh anak sulungnya Tari. Dikisahkan di bagian awal Tari meninggal, meninggalkan tiga anak, salah satunya adalah Alim, anak istimewa berkebutuhan khusus. Di sinilah dinamika itu berawal. Fokusnya bukan pada salah satu anak, tapi seluruh konflik dan relasi dalam keluarga inilah yang menarik.

Dikisahkan dengan alur yang datar eh bukan datar, sebenarnya ya ini kayak melihat tetangga sebelah gitulah. Sesuatu yang biasa kita lihat dalam keseharian kita. Kayak potret aja dari realita, ndak ngarang-ngarang. Ada memang keluarga yang kayak gini, mungkin cuplikan-cuplikannya. Itulah yang membuat kami serasa dekat dengan kisah ini, tak perlu mikir-mikir berat, nikmati saja termasuk menikmatinya sampai mata sembab. Hehehe...

Aku tak pernah nonton film yang disutradarai Baim sebelumnya. Malah aku ndak nyangka kalau dia ni sutradara. Strategi memasang nama-nama besar di dunia perfilman tentu saja sangat pengaruh. Kalau bukan Reza, Christien Hakim, dll, kayaknya film seperti ini ndak akan berhasil deh. 

Reza Rahadian sebagai Langit

Christine Hakim sebagai Ibu Wida

Raihaanun sebagai Bintang

Ari Irham sebagai Banyu

Happy Salma sebagai Mentari (Tari)

Masih ditambah  pemeran pendukung lainnya antara lain Teuku Rifnu Wikana (sebagai Ilhan), Aquene Djorghi, Malikha Shaquena, Alim Marwan, Vanessa dan seterusnya.

























Thursday, May 21, 2026

Mi Instan: Bolehlah ya....

 

Sesekali makan mi instan ya boleh saja. Ini mi rebus dijadikan mi nyemek, air dikit saja, bumbu dikurangi, ditambah telur setengah mateng (memasukkan telur tidak dari awal) dan irisan daun dan batang selederi. Rasa yang paling kusuka adalah rasa yang ringan, seperti rasa kaldu ayam atau rasa ayam bawang.

Kapan mi instan boleh dimakan? Pokoke ndak sering-sering. Sebulan dua atau tiga kali makan mi instan masih tak masalah bagi tubuhku. Itu pun aku atur, sebelum dan sesudah makan mi ini, aku sudah mengurangi nasi atau sama sekali tidak makan nasi. Jadi perut tidak begah terlalu penuh.

Aku termasuk yang meyakini mi instan termasuk makanan enak, tidak berbahaya, boleh-boleh saja. Tapi memang tak ada gizi kalau tidak diberi tambahan bahan lain. Paling mudah dan lebih enak ya ditambah telor langsung, atau telur rebus. Juga menjadi lebih sehat kalau ditambah sayuran. Maka menanam kangkung, selederi dan sawi di sekitar rumah menjadi bagian yang bisa dipilih untuk mendapatkan mi instan sebagai makanan yang agak sehat mengandung nutrisi berguna. Enak lagi kalau ada suwiran ayam atau bakso.

Usai makan mi instan, yang paling cocok adalah minum teh tawar panas. Lalu aktifitas dulu sebentar, mungkin jalan kaki sekitar rumah 10 - 15 menit, atau karaokean sambil joget-joget. Jangan terlalu mepet dengan jam tidur.  

 Kapan mi instan terakhir yang kumakan? Barusan. Hehehe... mumpung gerimis dan cuaca sedikit sejuk di Hajimena.

Saturday, May 16, 2026

PESTA BABI DI DAPUR HAJIMENA


 Akhir-akhir judul film Pesta Babi sering banget muncul di beranda medsosku. Pas libur Kamis lalu, kebetulan banget aku dapat link film ini dan bersama sekumpulan teman usai makan siang kami menontonnya sambil lalu. Nonton tidak terlalu fokus, tapi cukup serius dan beberapa komentar muncul spontan sepanjang pemutaran film.

1. Realita masyarakat Papua terpotret dalam film ini. Bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka berelasi dalam sosial, ekonomi dan budaya dapat kita lihat.

2. Film ini menampakkan ancaman bagi hidup masyarakat yang berasal dari luar Papua. Mereka tidak dipahami dengan baik sehingga kekuatiran mereka terus berkembang, mungkin juga akan menjadi ketakutan atau kemarahan.

3. Masalah yang ada sangat kompleks. Aku tak tahu bagaimana masalah-masalah kompleks di Papua dapat diurai. Banyak pertanyaan muncul dalam pikiranku misalnya apakah mereka siap untuk mandiri dengan seluruh situasi kerusakan saat ini? Apakah mungkin pemerintah Indonesia mampu mengenali pintu masuk paling bijak untuk membangun Papua tanpa menjadikan mereka sebagai korban? Apakah Gereja bisa menjadi sahabat bagi masyarakat Papua alih-alih hanya bersuara idealis tanpa tindakan nyata yang berdampak signifikan?

4.  Film ini digarap dengan menampakkan keindahan manusia dan alam Papua yang cantik indah. Harusnya mereka menjadi abadi dengan seluruh kecantikannya.

5. Film ini menjadi ajakan buat kita semua untuk peduli pada Papua ah... sebenarnya ajakan untuk mulai kembali pada kepedulian pada sesama, siapa pun tanpa kecuali, dengan penghormatan yang semestinya pada martabat manusia tanpa melepaskannya dengan apa yang melekat pada dirinya secara personal, komunal maupun sosial. Papua dan juga semua manusia, harus dianggap ada seperti adanya yang tentu juga punya kekayaan yang harus didukung untuk berkembang bagi mereka sendiri. Ini adalah ajakan untuk bergerak, tidak hanya peduli secara basa-basi karena punya kepentingan tapi bergerak bersama Papua untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua manusia tanpa diskriminasi.

Friday, May 15, 2026

KI GADHING PAWUKIR SENO SAPUTRO, Dalang Muda Tempat Aku Melabuhkan Hati

 Ki Gadhing Pawukir merupakan anak laki-laki Ki Seno Nugroho, dalang legendaris pujaan hatiku yang sudah meninggal tahun 2020 lalu. Aku ingat saat mendengar kabar kematiannya, aku tak bisa menahan air mataku sepanjang malam. Gendhing Ladrang Gajah Seno yang mengiringi keberangkatan Ki Dalang waktu itu menjadi salah satu gendhing sakral di hatiku. Untuk beberapa waktu setelah kematian Ki Seno, aku ndak bisa menonton wayang. Padahal sebelumnya hampir setiap malam aku nonton wayang lewat youtube chanel Ki Seno Nugroho atau chanel lain yang memutarnya.

Beberapa bulan terakhir ini, aku kembali ke wayang dan mulai menikmati pementasan yang dilakukan oleh Ki Gadhing Pawukir, putra Ki Seno. Mulai melihat kembali di awal-awal pementasannya, dan mulai melihat ini anak asyik banget. Untuk orang muda semacam dia, kutambahkan apresiasi, salut sebesar yang ada di dalam hatiku. Jika dulu aku jatuh cinta pada bapaknya, kini pun pada Ki Gadhing aku melabuhkan hatiku.

 Gadhing masih sangat muda mungkin sekitar 20an tahun, entah menjelang atau lebih sedikit. Pokoknya masih sangat muda. Nanti kukoreksi kalau sudah menemukan datanya.

Penampilannya sudah semakin percaya diri. Dan yang membuatku anteng diam menontonnya, ada karakter suaranya yang sangat mirip dengan bapaknya. Gayanya sudah semakin santai. 

Misal yang terakhir kutonton di chanel Dalang Seno dua hari lalu dengan judul Sekar Pudak Tunjung Biru, streaming sampai aku menuliskan ini ditonton oleh 104 ribu viewers. Gadhing tampak menikmati pementasannya, terlihat dalam obrolan yang muncul di limbukan dan goro-goro. Gadhing juga menampakkan kegalauannya, kerendahan hatinya dengan menceritakan bagaimana proses kreatifnya bersama para senior yang dulu juga menemani bapaknya, bahkan sebagian sudah ikut terlibat bersama kakeknya Ki Suparman.

Beberapa hal yang kusukai dalam pementasan ini, adalah sebagai berikut:

1. Ki Gadhing sudah menampilkan karakter suara yang bahkan tak kutemukan pada beberapa dalang yang pernah kutonton. Ukurannya saat aku merem, aku bisa menandai bahwa tokoh yang sedang bersuara adalah tokoh yang berbeda. Gadhing mampu melakukannya.

2. Ki Gadhing menggunakan bahasa sederhana yang dulu juga digunakan oleh Ki Seno sehingga penonton atau pendengar mudah mengenali kisah-kisah yang ditampilkan.

3. Ki Gadhing mulai menggunakan rubrik atau babak untuk menampilkan guyonan. Ini perlu sekali untuk penonton masa kini yang tak punya kesabaran berjam-jam untuk menikmati wayang. Bisa monoton kalau tak diselingi guyonan.

4. Ki Gadhing masih melibatkan para senior, orang-orang bapaknya dengan penuh hormat. Dia akan menjadi dalang ampuh, dan sedang berproses untuk mencapainya. Love.

Wednesday, May 13, 2026

MLAMPAH ZIARAH LAMPUNG, Berjalan dan Ibadah

 Ide ini muncul di Lampung saat bertemu dengan Dokter Pieri dan Dokter Dono di Asilo saat joging pada suatu ketika di akhir bulan Februari 2026. Bu Pieri cerita kalau beliau baru saja mengikuti mlampah ziarah di Jawa, dan berpikir untuk membuat serupa di Lampung.

"Kita buat ya mbak."

Gasss... Pak Hendro yang juga di tempat sama, menanggapinya dengan antusias, langsung ngobrol dengan Pak Ambar yang juga pernah ikut kegiatan serupa di Jawa. Mereka berdua bersama dengan Pak Parman langsung merancang melakukan survey untuk melihat alternatif jalan. 


 Mlampah ziarah Lampung pertama mengambil rute Asilo - Gua Maria Gereja Way Kandis, diikuti oleh 22 orang. Jarak tempuh sekitar 8 km, semula dirancang untuk melewati jalan alternatif, pesawahan dan jalan kampung. Namun rencana itu batal, tak jadi lewat jalan yang sudah disurvey karena sehari sebelum hari H, hujan deras melanda Bandarlampung dan menyisakan banjir di beberapa lokasi termasuk lokasi yang akan dilewati. 

 

Mlampah ziarah Lampung kedua mengambil rute Asilo - atas bukit Panti Wreda Giri Nugraha, Sukadana Ham. Jarak tak sampai 8 km, tapi diwarnai tanjakan, turunan serta hawa segar perbukitan. Pemandangan bagus menjadi bonus pada mlampah ziarah 11 April 2026 ini. Diikuti 18 orang, semuanya menikmati dalam sukacita.


 Mlampah ziarah Lampung ketiga mengambil rute Asilo - Kapel Rumah Sakit Santa Anna pada 9 Mei 2026, sekitar 10 km. Diikuti 38 orang, perjalanan melewati jalan utama Bandarlampung. Sampai akhir peziarahan disambut para dokter dan suster rumah sakit.

Mlampah ziarah Lampung dilakukan setiap bulan sekali pada hari Sabtu yang dipilih. Peserta sudah mendaftar terlebih dahulu lewat kontak person, akan berkumpul pada jam 04.45. Kegiatan dimulai dengan pengantar singkat terkait rute yang akan dilalui dan beberapa catatan sesuai hasil survey. Pemanasan dilakukan sekitar 5 menit supaya tubuh siap untuk jalan. Pukul 05.00 diharapkan mlampah ziarah sudah start. Jika peserta sedikit, semua peserta berjalan dalam satu rombongan dengan leader di depan dan sweeper di belakang. Jika peserta banyak, akan dibagi dalam kelompok-kelompok untuk memastikan tidak ada peserta yang tercecer. 

Sementara waktu di masa perintisan, supporting sistem keselamatan dan keamanan dilakukan secara bersama dengan kesadaran seluruh peserta. Sebuah mobil disiapkan untuk menyertai jika dibutuhkan oleh peserta dalam kondisi darurat, tapi seluruh peserta harus bersiap sendiri untuk kebutuhan pribadi seperti minum, snack atau obat pribadi.

Di akhir peziarahan, seluruh rombongan akan berdoa rosario secara terpimpin sebelum pulang kembali ke Asilo atau rumah masing-masing dengan fasilitas sendiri. 


 

Sunday, May 10, 2026

Ghost in the Cell: Teror Hantu Kalimantan untuk Menghukum Koruptor!


Menonton film ini sungguh tak biasa. Aku memejamkan mata sekitar 30an% tayangannya! Ampunnn... Ini gabungan antara film action, horror, dan comedy tercampur secara bengis.

Okey, mulainya dari mengapa akhirnya aku menonton film yang tidak biasa ini. Mulanya adalah keisengan ibu dan anak. Niat awal mau belanja, tempat yang dipilih MBK, dan akhirnya nyelipnya:"Nonton sekalian yukk."

Dari antara beberapa film yang sedang tayang, film yang mencuat adalah Ghost in the Cell.  Awalnya aku ragu-ragu, tapi setelah 'rapat' dengan anak lanang akan membersamai nonton, film inilah yang bisa diterima. Keterangan film: comedy, horor. Tapiii... begitu nonton, ternyata... luar biasa.

Beberapa obrolan usai nonton, kami mengomentari beberapa hal:

1. Ini film serius banget. Serius horornya, serius comedynya, serius pula actionnya. Saat tayang bagian2 sadis, aku benar-benar ndak bisa menontonnya. Terlalu seram. Ngeri. Padahal ada beberapa pembunuhan yang tragis sadis ditampilkan dengan sangat ngeri dan sangat serius. Mayat-mayat ditampilkan dalam 'instalasi seni' menyeramkan. Bagian horornya sangat terasa, takut walau hantu yang diceritakan hanya wajah dari aktor yang akan mati dengan bentuk sederhana, eh tidak sederhana, tapi wajah dengan lubang-lubang. Lucunya juga lucu yang serius, setengah satir setengah sarkas, menjadi kritik sosial yang kuat.

2. Ternyata Aming itu aktor yang harus diperhitungkan. Itu komentar anak lanang. Dan senyatanya kami berdua belum pernah melihat dia bermain dalam suatu film atau drama atau lainnya. Aming juga aktor-aktor lain yang tampil, begitu berbeda. Aku sampai ragu setiap kali menandai itu siapa yang sedang main karena mereka benar-benar tampil bukan dirinya tapi semata tentang yang diperankan.

3. Aku suka apa yang dikisahkan dalam film ini dijadikan hukuman bagi terpidana korupsi. Biar mereka mendapatkan hukuman setimpal dari alam, dari arwah, dari entitas apa pun yang bisa memberikan hukuman sesuai perbuatan mereka dan menjadi contoh untuk tidak diulang orang lain yang berniat korupsi. Dikisahkan satu tokoh kunci dalam penjara ini menjadi sasaran 'arwah dari Kalimantan' karena dia sudah melakukan tindakan tidak adil, korupsi, merusak alam Kalimantan, bahkan saat dipenjara pun dia masih berkuasa dengan uang hasil korupsinya itu untuk enak-enakan di dalam sel. Padahal sel bagi napi lain begitu tidak manusiawinya. 

4. Kami ndak merasa rugi nonton film ini, walau sebagiannya aku tak mampu melihatnya. Keren.

 Film  Ghost in the Cell (2026) garapan sutradara Joko Anwar menampilkan aktor antara lain Abimana Aryasatya (Anggoro), Aming Sugandhi (Tokek), Tora Sudiro (Anton), Rio Dewanto, Lukman Sardi, Morgan Oey, Endy Arfian (Dimas), dan Kiki Narendra. Film ini juga dibintangi oleh Bront Palarae, Almanzo Konoralma, dan Marissa Anita.

Thursday, April 23, 2026

DIET GULA, MINYAK DAN KALIUM

 

Sayur bening oyong, pepes ikan, telur rebus. Ini menu sebelum diketahui kalium tinggi.

Menu sarapan. 


Susunan menu ini aku tuliskan untuk kepentingan ibuku yang baru saja dipasang ring di jantungnya. Ibu mempunyai komplikasi gula darah dan kalium yang tinggi. Ini ditulis berdasarkan rekomendasi ahli gizi RS SA Malang untuk digunakan oleh katering yang akan membantu ibu. Foto-foto di atas tidak mewakili tulisan ya. Itu menu yang pernah kumasak saat bisa menemani ibu.

Jadwal makan: 
1.    Makan pagi 6.30 (Nasi 7 sdm, protein 1 potong, sayur (min 2 jenis bahan 1 mangkok), minyak setengah sdm)
2.    Cemilan buah 9.30
3.    Makan siang 12.30 (nasi 10 sdm, protein 1 potong, sayur 1 mangkok, minyak 1 sdm)
4.    Cemilan buah 15.30
5.    Makan malam 18.30 (Makan pagi 6.30 (Nasi 7 sdm, protein 1 potong, sayur (min 2 jenis bahan 1 mangkok), minyak 1 sdm)
6.    Paling malam cemilan buah sebelum jam 21.30

Sama sekali tidak boleh:
1.    Segala jenis gula dan makanan yang ditambahi gula
2.    Makanan dan bumbu instan
3.    Pembatasan tepung/karbo, minyak, garam, rasa pedas, dst
4.    Sayur: kol, bayam, Nangka muda, bit, buncis, daun singkong, daun papaya
5.    Protein: kepiting, jeroan, kerrang, babi, kulit, dst
6.    Buah: sirsak, nanas, anggur, Nangka, pisang ambon/kepok, tomat merah

Usulan menu: buah beli sendiri, nasi masak sendiri

1.    Rabu, 8 April 2026
Makan pagi: tumis bihun oyong wortel, ayam suwir, telur ayam kampung rebus
Makan siang: bobor labu tauge (tanpa santan), pepes ikan (laut atau sungai segar), tumis tempe
Makan malam: sop sayur dan bakso daging, perkedel tahu dan jamur

2.    Kamis, 9 April 2026
Makan pagi: semur tahu dan daging sapi, tumis kangkong tauge
Makan siang: bening katuk dan wortel, ayam dan tahu bumbu kuning
Makan malam: ikan bakar (mas/nila), lalapan (selada, timun, sambel, rebusan sesuatu dst)

3.    Jumat, 10 April 2026
Makan pagi: tumis tahu, tauge dan kucai, ayam ungkep, telur rebus
Makan siang (di kantin rumah sakit) – cari ayam/ikan bakar, pepes/botok sesuatu (tanpa santan/kelapa), gado2 tanpa bumbu, dst. Bawa bekal labu kukus 
Makan malam: rawon labu dan daging sapi, tauge, tempe goreng (Teflon minim minyak)

4.    Sabtu, 11 April 2026
Makan pagi: sayur rebung dan kecipir, ayam bumbu merah
Makan siang: ikan gurami steam, sayur asem (labu, wortel, kacang kapri, kangkung, tauge kedele dst)


Thursday, March 26, 2026

GUNUNG PESAWARAN: NANJAAKKKK....

 Masih libur lebaran, sudah puas dengan ketupat opor rendang dan nastar, waktunya cari lokasi untuk olah raga olah jiwa. Gunung Pesawaran menjadi pilihan. Puncak Gunung Pesawaran ini merupakan salah satu puncak Gunung Betung, bisa diakses melalui Desa Sinar Harapan, Kedondong, Pesawaran.

Minggu, 22 Maret 2026, hari kedua lebaran, usai sarapan coto Makasar di rumah keluarga Om Kemal, kami mulai packing dan prepare untuk pendakian. Selain aku dan kangmas Hendro, ikut joint juga Arya, seorang muda yang sudah pernah ngobrol tentang mendaki bareng. 

Siang begitu sampai basecamp kami urusan dengan ijin, pembayaran dan menghitung logistik. Artinya menghitung sampah. Wah, ini pengalaman pertama naik gunung di Lampung ada urusan menghitung-hitung plastik bakal sampah yang kami bawa. Hitungan akhir dicatat, dan mereka mengingatkan: "Kami akan hitung lagi saat turun. Jika ada yang hilang, per item akan didenda Rp 10.000." Wuih, sesuatu yang penuh pengharapan. Setiap kali kami naik gunung, kami selalu dikecewakan dengan sampah yang terserak sepanjang rute maupun di puncak.

Harapan gunung yang bersih pun tercapai. Dibandingkan dengan semua gunung yang pernah kami daki, Puncak Pesawaran sangat bersih. Kami jadi lebih hati-hati memastikan sampah plastik tersimpan dengan aman di dalam ransel.

Yang di luar ekspektasi, aku mengira gunung setinggi 1662 mdpl ini akan menawarkan perjalanan yang santai. Ternyataaa... terjal saudara-saudari. Sejak pos 1 kami sudah ditawarkan dengan nanjak parah dibantu tali-tali untuk naik. Maka, 4 jam perjalanan sangat wajar walau kami sudah dibantu dengan ojek dari basecamp sampai pos bayangan sebelum camping ground.

Pilihan untuk tidak bakal nenda di camping ground sangatlah tepat. Tempatnya terlalu terbuka, sangat panas. Ransel berat pun setia ada di punggung demi nenda di puncak. Pilihan tepat, selalu tepat. Setelah tidur pules, bangun tidur di puncak akan memberikan bonus pemandangan keren entah saat cerah maupun saat berkabut.


Puncak Gunung Pesawaran 1662 mpdl

 
Salah satu sisi di puncak untuk ngecamp.

  
 
Camping ground yang super panas

Ambil nafas di camping ground

Semalam di puncak

Spot foto favorit di puncak

 

Umek dulu sebelum pose
Salah satu tempat rehat

Ngopi di pos 2



Tuesday, February 10, 2026

Puisi Yuli Nugrahani:

 FAJAR

Keheningan menemani setetes embun yang bergelanyut di ujung daun pepaya.
Penantian singkat menjelang fajar usai hujan semalaman.
Setelah itu, dia akan jatuh terserap ke tanah, atau menguap lesap oleh cuaca.
Tapi dari sedikit yang sempat melihat, pastilah tahu, 
setetes embun adalah kerjap cahaya, adalah lintas sunya.
Tanpa suara, pun adalah nada. 

 

SENJA 

Senja beradu sepasang mata tupai
mengerjap di simpang jalan.
Sunyiku jadi sunya
Hadirku menjelma hampa.

Tembakan di sudut pendengaran
sebutir sukma mengeriput ketakutan.
Aku tak mau membencimu
merengkuhmu bagai duri di dada
Namamu  serupa sengal nafas
Tak bisa kulepas
Tak juga jadi hias