Sunday, October 04, 2026

UPAYA KECIL MERAWAT BUMI DENGAN ECO ENZYME


    Sekelompok orang dari berbagai macam komunitas belajar membuat eco enzyme dari kulit buah dan sayuran sisa konsumsi di Asilo Hermelink, pada Jumat 25 September 2026. Kegiatan ini dipandu oleh C. Tresnaningsih Carlos dan Vinsensia Eni Romawi, penggiat eco enzyme yang aktif memproduksi maupun melakukan edukasi untuk kelestarian bumi di Lampung, diikuti oleh berbagai komunitas dan masyarakat umum.

Secara ringkas, Tres dan Eni memberikan petunjuk tentang cara membuat eco enzyme dan kegunaannya bagi kehidupan sehari-hari khususnya untuk keluarga. “Pembuatan eco enzyme ini memanfaatkan kulit buah dan sayur yang selama ini sering dianggap sebagai sampah dan dibuang begitu saja,” ujar Tres.

Dalam kegiatan kali ini, eco enzyme yang dibuat menggunakan minimal lima jenis kulit buah dengan harapan enzyme yang diproduksi menjadi lebih optimal. Beberapa tips diberikan oleh dua ibu ini, seperti menggunakan banyak kulit jeruk supaya eco enzyme yang dibuat menjadi lebih wangi segar. Kulit buah yang digunakan juga harus dicuci bersih untuk menghindari resiko kegagalan seperti bau busuk dan munculnya belatung.

“Kulit buah dicampur air bersih dan gula, bisa gula merah atau molasi, diletakkan pada wadah yang tertutup rapat, dihindarkan dari sinar matahari. Campuran ini akan difermentasi selama minimal tiga bulan,” jelas mereka.

Hasil panen eco enzyme ini nantinya dapat digunakan untuk berbagai kepentingan seperti untuk sabun mandi, cuci piring, obat luka, kumur, pembersih lantai, dan sebagainya. Ampasnya juga bisa digunakan untuk pembersih atau dikeringkan menjadi pewangi ruangan. Tentu saja semuanya ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia buatan.

Kegiatan ini digagas awal oleh Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) bersama Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Siti Andriani dari JPP dalam pembukaan acara menyatakan bahwa kegiatan ini awalnya didasari oleh keingintahuan untuk mengetahui proses pembuatan eco enzyme secara langsung.

“Di berbagai chanel youtube memang bisa mudah kita temukan cara pembuatan eco enzyme, tapi tentu akan berbeda jika kita mengalami langsung melihat dan membuat eco enzyme. Semoga ini menjadi pengalaman baik buat kita semua untuk ditularkan ke berbagai komunitas yang kita gulati maupun yang kita dampingi,” ujarnya. 

Yuli Nugrahani, ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang dan juga Ketua Forum PUSPA Provinsi Lampung menyatakan di bagian akhir kegiatan bahwa kegiatan serupa akan terus digelar di Asilo Hermelink sebagai sarana pembelajaran berbagai upaya merawat bumi. Saat pemanenan eco enzyme yang sudah dibuat nanti direncanakan akan mengundang seluruh peserta kembali dan juga kelompok lain untuk melanjutkan produksi turunan dari eco enzyme seperti yang dijelaskan oleh penggiat Komunitas Eco Enzyme Nusantara di Lampung. Di Asilo Hermelink juga sedang dirintis budidaya magot, penanaman sayur mayur secara sederhana, juga mengundang berbagai komunitas untuk menggunakan lahan di Gedungmeneng ini untuk kegiatan-kegiatan edukasi peduli sosial, lingkungan, dan pengembangan karakter.***


 


Saturday, October 03, 2026

MUNCAK SEMINUNG LAGI (2)

 Sejak beberapa hari sebelum berangkat ke Lumbok, tempat basecamp pendakian ke Gunung Seminung, aku sudah memvisikan bahwa dua hari pendakian kami itu tak akan ada hujan. Mungkin berjalan dalam sore tapi aku berharap tidak terlalu malam sudah sampai di puncak.

Sabtu, 26 Oktober, kami berangkat dari dapur Hajimena seuai adzan subuh berkumandang, usai cangkir kopi Mo Bagas lesap ke tenggorokannya. Masih sangat pagi, kami berempat segar, sukacita, dan niat menggali semangat bersama-sama dalam perjalanan. Doa masing-masing kami lakukan di dalam mobil begitu Mo Bagas menginjak pedal gas. Dia akan digantikan oleh Mang Ateng di Kotabumi. 

Mang Ateng yang kubayangkan tidak seperti yang real. Mang Ateng ini pensiunan driver di salah satu keluarga Maria. Mereka sudah kenal dekat dari dulu sejak Maria masih bayi. Umur Mang Ateng menurut pengakuannya sudah 74 tahun! Ini yang membuatku kaget. Untuk perjalanan ke Liwa dengan jalan berkelok, ndak bahaya tah. But, ndak perlu kuatir. Mang Ateng sudah biasa melalap lajur Kotabumi, Bukit Kemuning, Sekincau, Liwa, PP sejak jaman dulu. Memang dia sudah lama ndak melewati jalan ini, dan lama tidak menggunakan mobil matic, tapi perjalanan pagi ini sungguh lancar, sampai di perhentian pertama: Sekincau. Kami mampir cukup lama untuk kopi asli kebun suster-suster HK yang baik.

Karena itulah, kedatangan kami di Lumbok agak lewat dari yang kami rencanakan, walau tidak terlalu lama apalagi kami masih mampir ke RM. Sabah Brak, dekat jembatan Liwa.

Basecamp Lumbok sedang ramai. Kami sudah memperkirakan itu karena ini week end. Registrasi Rp 10 rb per orang, potensi sampah plastik dihitung, antri kamar mandi, dan packing ulang, kami start dari basecamp pada pukul 14.30.

Penghitungan potensi sampah plastik ini dulu tidak dilakukan di gunung Seminung. Sampah luar biasa di jalur maupun di puncak. Dengan penghitungan potensi sampah ini, Seminung menjadi lebih 'bermartabat'. Setiap sampah yang terlupa dan selip dalam hitungan saat pulang nanti, akan ada denda Rp 20 rb per buah. Lumayan kan.

Yang kami perhatikan dengan teliti sebelum start, selain barang-barang yang berpotensi sampah:

1. Logistik, yaitu air minum dan makanan kami pastikan mendekati tepat untuk perjalanan naik, muncak dan turun. Masing-masing orang membawa minimal 2 liter air minum. Aku membawa 4 botol air minum @650ml, plus 1 botol pocari sweat. Makan malam kami sudah membungkus dari RM. Sabah Brak, nasi, ikan goreng dan sambel. Masing-masing membawa roti, beberapa cemilan tambahan. Juga tas kecil Pak Hen dijejali buah-buahan (pisang, anggur, jeruk) untuk dimakan saat naik. Dalam ranselku masih ada mi instan 4 bungkus, telur mentah 4 bungkus, kopi teh gula dan sereal.

2. Benda-benda kebutuhan kami masing-masing aman dalam bungkus plastik anti basah. Tiap orang membawa jaket, ganti baju lengkap, jas hujan, sleeping bag, headlamp, matras dan topi. Dalam ransel Mo Bagas ada tenda u 4 orang, sedang di ransel Pak Hen ada flysheet, alat masak, dan... drone. Semuanya mesti dipacking aman jaga-jaga kalau hujan.

3. Obat-obatan cukup lengkap ada di dompet kecil pak Hen. Tapi setiap orang dari kami membawa obat-obatan pribadi. Aku agak kuatir karena saat turun dari mobil dan jalan ke basecamp aku ngerasain aku mulai mens. Duhhh. Memang gunung Seminung tak ada pantangan bagi perempuan mens untuk naik. Tapi ini artinya butuh perhatian ekstra ke tubuh. Aku harus lebih hati-hati, lebih jaga, pokoke ndak boleh drop. Dan yang pasti, aku pasti akan lebih lambat dalam gerak. Duh. 

Friday, October 02, 2026

Didoakan Panjang Lebar: "Amin, Lis. Amin."

Usai berdoa dekat peti jenazah Rm. Wolf sebelum pemakamannya, aku melanjutkan doa singkat dekat pintu. Aroma kuat dalam ruang di Katedral itu membuat mataku pedih. Jadi aku menyingkir keluar pelan-pelan, dan karena di luar banyak sekali orang-orang yang sedang melayat, mau tak mau aku mesti berjumpa dengan mereka semua. Di antaranya menahanku dengan cerita-cerita, sapaan, dan seterusnya.

Usai mendapatkan tempat longgar persis di seberang pintu, suara sengau Lis Kim Siong meneriakkan namaku. Andai aku melihatnya lebih dulu aku pasti akan menghindarinya. Aku sedang merasa bersalah padanya karena tidak mengangkat telpon dan video call berulang kali. Pasti dia nanti akan ngomelin aku sambil marah-marah.

Tapi ternyata yang terjadi kemudian adalah teriakan riang yang ditambah dengan ucapan terimakasih bertubi-tubi, bertanya tentang aku, tentang ibuku dan sebagainya. Oalah, Lis. Maafkan aku ya. Di tengah hiruk pikuk suaranya timbul tenggelam, apalagi dengan sengau bindeng seperti itu aku hanya bisa manggut-manggut kusambi dengan menyapa orang-orang lain yang menghampiriku.

Beberapa orang menarikku untuk bicara, dan aku lupa kemana si Lis pergi, sampai kemudian saat aku duduk di antara banyak orang di sisi lain, Lis kembali menghampiri, menarikku ke tempat yang sepi di ruang ganti yang agak gelap.

"Ngopo lho Lis."

"Aku mau mendoakanmu. Juga mendoakan ibumu."

Oh. Oke. Aku manut duduk di sampingnya. Dia memegang tanganku dengan erat seolah ndak mau aku melarikan diri (hehehe). Dia tanpa basa-basi membuka dengan tanda salib (aku tak bisa membuat serupa karena tanganku dipegang kuat). Lalu dia berdoa panjang lebar untukku, untuk ibuku, untuk anak-anakku, untuk suamiku. Demi kesehatanku, kebahagiaan, rejeki, dan lain-lain yang tak bisa kudengar dengan jelas. Aku hanya mengamininya sambil menimpali dalam hati:"Tuhan, kabulkanlah doa-doanya. Aku memang membutuhkan itu."

Lis masih menyebut nama-nama lain, yang sebagian tak kudengar dengan baik. Dia mengucapkan syukur, terimakasih, salah satunya karena sudah dapat banyak dari Tuhan lewat aku (eh, padahal aku selalu melarikan diri darinya). Doa panjang lebar itu dia tutup dengan tanda salib, masih dia ucapkan terimakasih karena selalu memberinya uang dan lain-lain.

Ya ampun, Lis. Yang kuberi itu tak sepadan dengan yang kuterima. Terimakasih yaaa... Aku mengucapkan terimakasih tulus benar-benar tulus dari hatiku. Terimakasih. Aku memeluknya ringan berharap dia selalu sehat dan gembira. 

Thursday, October 01, 2026

SELAMAT JALAN, ROMO WOLFRAM

Romo Wolfram Safari, lahir 20 Maret 1974 dan meninggal kemarin 29 September 2026 pada umur 52 tahun. Cara meninggal yang sangat tenang.

Selasa, 29 September 2026, malam usai rapat di Mekar Sai, aku mampir ke tempat Oom Wawan atas pesan Pak Hen untuk ikut pembahasan jadwal Selasih bagi kring kami. Di tengah perbincangan, sekitar jam 19 lewat, Rm. Piet telpon. Menyampaikan berita duka sedikit ragu. Aku pun tak terlalu yakin, tapi kemudian konfirmasi dari beberapa orang membuatku yakin, romo yang kukenal sedikit sisinya ini sungguh sudah pergi.

Aku menyebutnya kenal sedikit dari sisi hidupnya karena memang aku tidak akrab sampai tahu seluruh sejarah hidupnya, tapi, aku pernah mengalami beberapa peristiwa bersama Rm. Wolf.

1. Saat masih diakon atau romo muda, kami pernah tergabung niat banget ngobrol serius belajar dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja (ASG) bersama Rm. Baron, Rm. Jo, Sr. Mathea, dan teman-teman lain. Sok-sokan idealis, kami menggunakan wadah Seghom Suluh, semut merah, yang ingin peduli pada situasi-situasi sosial. Kami memulainya dengan belajar ASG, dengan sedikit orang yang berminat.

 2. Selang waktu kemudian, Rm. Wolfram diminta menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan. Aku terlibat dalam Komkep ini sejak dulu bareng Rm. Koto, juga romo setelahnya. Maka aku rela hati menyambungkan Rm. Wolfram pada orang-orang muda potensial yang bisa menjadi timnya, termasuk persiapan-persiapan ke Indonesia Youth Day, International Youth Day, juga kegiatan-kegiatan lain.

3. Saat jadi ketua komkep inilah, Rm. Wolfram juga ngurus Asilo sebagai Youth Center. Saat itu juga ada peristiwa yang kemudian membuat keluarga yang biasa merawat Asilo harus pergi dari sana. Aku marah muntap menganggap Rm. Wolfram tidak bijaksana. Ketika kuangkat ke Kuria dalam perbincangan dengan Rm. Hari, Vikjen waktu itu, aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aku sedih dan marah, menganggap keuskupan tak punya hati bagi keluarga tak berdaya. Untungnya aku sempat obrolin ini dengan Rm. Marino yang memintaku untuk melihatnya dengan lebih seimbang. Aku tetap dengan kekecewaanku tapi aku tidak lagi marah. Aku menyindir-nyindir Rm. Wolfram beberapa kali bahwa dia itu pengkianat ASG, dia menanggapinya dengan pasrah. 

4. Peristiwa Wiyata Garden membuatku yakin aku begitu sayang pada romo-romo projo Keuskupan Tanjungkarang. Aku minta ke Rm. Wolf untuk mempertimbangkan lagi banyak hal. Saat itu dia menjadi ekonom keuskupan. Posisinya menurutku sangat strategis untuk memberikan dampak. Aku menarik diri supaya  tidak terlalu 'open' (open boso Jowo yo), aku menulikan telinga, menutup bibir, dan berusaha: semua akan ada waktunya secara tepat, Yuli. Jadi walau aku menganggap ada banyak hal tidak pas, tidak tepat, tapi aku tidak ambil peduli yang kuat yang bisa membuatku marah kecewa sedih. Pokoknya, ayolah mengalir. 

5. Dalam beberapa tahun terakhir, aku berteman dengan baik, berelasi dalam sukacita, ngguya ngguyu yen ketemu, seringkali lupa kalau tidak ketemu. Aku paham ada banyak aliran yang tak mesti berjalan seideal yang seharusnya.

Kini Rm. Wolfram sudah dalam damai. Menjenguknya semalam dalam peti di katedral, wajahnya ayem tentrem seperti orang tidur dengan sedikit senyum di bibirnya, itu posisi meninggal yang menyenangkan. Tidak sakit, tidak merepotkan. Aku sudah selesai dengannya, dan yang utama dia sudah menyelesaikan perjuangannya yang sebagian besar tak kupahami. Aku hanya tahu bagian yang sangat sedikit darinya. 

Selamat jalan, Rm. Wolfram.  

Monday, September 28, 2026

MUNCAK GUNUNG SEMINUNG LAGI (1)

Sabtu-Minggu, 26 - 27 September 2026 lalu aku, Pak Hen, Mo Bagas dan Maria muncak ke Gunung Seminung Lampung Barat. Bagi aku dan Pak Hen, ini kali ke tiga. Mo Bagas ini jadi kali ke dua. Sedang Maria, baru pertama kali nanjak Seminung. Kisah-kisahnya nyusul. Berikut ini aku pasang dulu itinery awal rencana perjalanan untuk dua hari trip.

 GOES TO SEMINUNG

Sabtu, 26 September 2026
03.30 – 04.30    OTW dari Antasari - Pahoman - Hajimena    
04.30 – 07.30    Perjalanan tol Natar – Kotabumi
07.30 – 12.00    Kotabumi – Lumbok: Mampir sarapan RM. Cheche (Pondok Pinus) Sumberjaya, kalau sudah buka. Kalau belum buka lanjut mampir Sekincau atau Liwa untuk makan dan nasi bungkus    
12.00 – 13.00    Registrasi, persiapan, packing ulang    
13.00 – 17.00    Tracking: pos 1 – pos 2 – pos 3 – pos 4 - Puncak.    Cemilan di tiap pos
17.00 - …    Menikmati sunset di puncak, pasang tenda, makan, fun.    Makan malam nasbung 
        
Minggu, 27 September 2026
05.00 – 08.00    Sarapan, foto-foto-foto, bongkar tenda, packing Sarapan: nasi porang, telur goreng, abon, timun, plus energen
08.00 – 11.00    Mbrosotttt, Cemilan di tiap pos
11.00 – 12.00    Santuy di basecamp    
12.00 – 13.00    Paling telat jam 13.00 sudah otw dari basecamp    
13.00 – 15.00    Eksplore Danau Ranau sambil cari makanan enak    
15.00 …    Cuzzz… Bandarlampung, mampir ngopi di Sumberjaya samping masjid jamik Moga jam 22.00 semua sudah sampai rumah masing-masing (Hajimena – Pahoman – Antasari)

Beberapa rencana bergeser ngikuti situasi. Tapi seluruh situasi itu sungguh ternikmati. Detil kisahnya menyusul yaaa...

Lapah Jiarah 6: Asilo - Margoagung Belajar Menjadi Setia

 Sabtu 29 Agustus 2026, start seperti biasa dari Asilo pukul 05.00. Menempuh jarak hampir 12 km. 








Wednesday, September 09, 2026

Me Time: Makan dan Santuy

 Keseimbangan bisa didapat sesekali menjauh dari keramaian. Untuk orang model aku, terlalu lama berada dalam keramaian bisa membuat pusing. Rasanya bising dan berisik. Sebagian dari banyak cara yang bisa dipilih untuk 'me time' adalah makan dan nglamun, santuy, ndak usah usah ngapa-ngapain.

 Duduk santai, sambil mikir macam-macam tanpa nargetin dapat solusi atas masalah-masalah. Atau jalan tak tentu arah juga bisa sih menjadi salah satu cara.

Cara lain yang paling manjur bagiku adalah makan. Mengunyah makanan bisa menjadi sarana untuk rilex, santuy. Bukan hanya santai secara tubuh tapi juga secara pikiran dan hati. Konon gerakan rahang berulang dapat membuat lebih fokus dan pikiran menjadi tenang. Gerakan mengunyah juga bisa menurunkan hormon stress. Kononnn...

Siang ini menu yang paling pas untuk gerakan mengunyah adalah pepes ikan patin, dadar jagung campur tahu dan lalapan. Pepes tak perlu repot. Dapoer Cantik depan rumah dengan senyum Henny yang cantik siap sedia sejak pagi. Nasi sudah ada. Dadar jagung tinggal membuat dalam waktu singkat. Nanti kupasang resepnya di bawah. Lalapan ambil dari sekitar rumah, ada pucuk daun kates yang sudah tidak produktif, rebus dengan sedikit garam dan minyak goreng. Lalapan lain daun sirih cina. Ini dah seger banget. 

 Dadar jagung:

Sisir satu jagung. Ulek 2 bawang putih, 3 bawang merah, garam dan lada secukupnya. Jagung yang sudah disisir ulek sekalian. Masukkan sedikit tahu untuk campuran, irisan cabe sesuai selera, bisa diskip juga. Tambah dengan satu sendok tepung maizena, dan satu telur. Kocok jadi satu, goreng sesendok-sesendok sampai matang. 

Dah, mari makan. 

Tuesday, September 08, 2026

Pengukuhan Forum Puspa Kabupaten Tanggamus: SINERGI UNTUK STOP KEKERASAN

Pemerintah Kabupaten Tanggamus mengukuhkan forum partisipasi publik untuk kesejahteraan perempuan dan anak (PUSPA) Kabupaten Tanggamus periode 2026-2028, sekaligus sosialisasi penguatan kelembagaan Forum PUSPA oleh Dinas PPPA dan Forum PUSPA Provinsi Lampung. Bertempat di Aula Gedung Serumpun Padi Gisting. Selasa, 01/09/2026.

Pengukuhan berlangsung di Aula Gedung Serumpun Padi, Kecamatan Gisting, Selasa (1/9/2026), berdasarkan Keputusan Bupati Tanggamus Nomor B.327/33/08/2026. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto.

Sejumlah pejabat dan tokoh organisasi turut hadir, di antaranya Ketua Forum PUSPA Lampung Yuli Nugrahani, Kepala Bidang Data dan Partisipasi Masyarakat PPPA, PP dan KB Provinsi Lampung Desmaliya Suhaely, Ketua Forum PUSPA Tanggamus Yeni Verawati, Asisten III Jon Novri, Kepala Badan Kesbangpol Beni Irawan, serta Kepala Dinas PPPA, PP dan KB Kabupaten Tanggamus Luberto Fabiola.

Dalam sosialisasi untuk menguatkan kapasitas Forum Puspa Kab. Tanggamus, Yuli Nugrahani Ketua Puspa Provinsi Lampung memaparkan tiga hal keprihatinan yang menjadi latar belakang berdirinya Forum Puspa di tingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

"Latar belakang berdirinya Puspa sebagai mitra utama Dinas PPPA adalah tingginya angka kekerasan, tindak pidana perdagangan orang dan juga kesenjangan ekonomi. Ketiganya saling berkait dan memunculkan korban paling banyak pada kalangan perempuan dan anak," tegas Yuli.

Sinergi pemerintah dan masyarakat harus dibangun untuk menghentikan tiga isu utama itu. Turunan masalahnya pasti sangatlah banyak dan dapat dilihat sesuai kondisi wilayah masing-masing. 




Thursday, September 03, 2026

Cemilan Murah (Ndak Sehat Kalo Sering-sering): ONCOM GORENG

Ada cemilan yang ndak terlalu kusuka tapi kalo sudah pengin aku bisa makan habis banyak. Dalam setahun mungkin hanya beberapa kali tak lebih dari jumlah jari tangan kiri saja. Yaitu: Oncom goreng. 

Hari ini saat belanja aku lihat 'springbed' tergantung di satu sisi mang sayur. Springbed sebesar itu kutanya harganya: "Berapa harganya ini mang?"

"Hanya tiga ribu bu." Mang sayur udah langsung saja menyodorkan oncom oranye itu ke tanganku. 

Spontan yang terbayang adalah oncom goreng. Tak usah pake bumbu, potong oncom tidak terlalu besar dan tidak terlalu tebal. Beri geretan dikit biar lebih renyah. Bumbuin saja dengan air garam, tak usah pake bumbu-bumbu lain, juga tak usah pake tepung.

Goreng dengan minyak agak banyak, sampai matang. Tiriskan dengan baik. Iris cabe setan tipis-tipis, tabur di atas oncom yang sudah ditiriskan. Biar lebih sehat dikit, dan menjadi lebih segar, aku tambahin dengan satu genggam daun sirih cina.

Dahhh.... nyampleng tenan. (Tapi jangan sering-sering. Aku lihat kandungan gizi oncom goreng pada 100 gram beratnya, kalori 365 kkal, lemak bisa sampai 10 gram terrgantung minyak penggorengnya, karbohidratnya sekitar 12 gram, protein bisa sampai 5 gram. Sedangkan sirih cina mengandung kalori sangat rendah dengan banyak nutrisi baik mulai dari mineral (kalsium, kalium, magnesium, fosfor dan zat besi), vitamin (vitamin C, E dan beta karoten), antioksidan (senyawa polifenol, tanin dan flavonoid) dan fito kimia lain (alkaloid, saponin, minyak atsiri dan kalsium oksalat)). 

Wednesday, September 02, 2026

LHHH: Gubak Hills, Kebun Jati dan Keindahannya

 Lampung Hash sudah berkali-kali mengambil rute di daerah sekitar Gubak Hills, Bandarlampung. Kali ini juga, Minggu, 30 Agustus 2026. Karena sudah beberapa kali mengambil rute ini aku ndak ikut long track, dan kali ini cuaca bagus tidak hujan yang artinya tidak akan licin, maka aku mengikuti rute long secara penuh.

Rute long kali ini tidak long banget juga. Dalam hitungan Strava di HPku hanya sekitar 6 km. Memang sih ada tanjakan curam dan turunan yang cukup lumayan, tapi masih bisa dinikmati sambil tolah toleh melihat pemandangan serba indah di lokasi ini. Pasti bisa melihat laut karena lokasi Way Gubak ini tak jauh dari Panjang. Kita bakal melihat keindahan teluk Lampung dari ketinggian. Kita juga akan disodori kebun jati yang indah. Kali ini karena musim kemarau kering, setiap jalan pasti ada suara kemerisik renyah karena daun-daun kering yang terinjak. 

Keindahan lain muncul juga dari pemukiman warga yang sesekali kita jumpai dalam perjalanan. Gubuk kayu atau rumah sederhana khas warga bisa menjadi spot foto yang menarik.

Dan tentu saja keindahan itu dapat kita temukan lewat teman-teman seperjalanan. Kadang dalam hash ada orang-orang baru yang tak terduga, menjadi kisah menarik ketika mengambil perhatian lebih. 


 







Monday, August 31, 2026

LHHH: Lembah Sora, Melintasi Sungai Mengatasi Ego

 Lampung Hash pada Minggu 23 Agustus 2026 mengambil rute yang cukup ekstrem di daerah sekitar Lembah Sora Sukadanaham, Bandarlampung. Puluhan peserta hash disodori jalanan yang indah tapi sudah menguarkan keluhan bahkan ketika baru beberapa menit berjalan. Pasalnya, di awal rute saja, jalanan menurun tajam di sertai masuk dan keluar sungai mendesak para peserta tidak boleh abai dengan keselamatan diri.

"Saya beberapa kali mesti berpegangan pada teman, padahal belum kenal, supaya  bisa melewati sungai," ujar seorang member yang ikut dalam hash.

Masuk keluar sungai dilalui sekitar 8 kali. Memang sih sungai yang dilalui ini sangat indah dan airnya jernih, tapi jika rute melalui sungai, maka kita yang ikut hash harus bersiap-siap jalan dengan sepatu dan celana basah sepanjang perjalanan. Membuka dan memasang sepatu sama sekali tidak efektif dilakukan. Akan membuang waktu lama. Itu pernah kulakukan dulu di awal ikut hash saat track ke Way Lima. Membuat kami berdua menjadi orang terakhir yang sampai di garis finish. Maka tetap menggunakan sepatu, dengan syarat sepatu yang cukup nyaman, menjadi pilihan utama.  

Usai masuk keluar sungai, rute yang disodorkan mau tidak mau harus nanjak parah tanpa putus. Iyalah, kalau hiking di awal sudah turun terus maka bisa dipastikan setelahnya akan mendapat tanjakan parah, karena dalam hash, titik start dan finish merupakan tempat yang sama. Nah di sinilah tantangan utamanya semakin menguat. Nanjak terus tanpa putus dapat membuat tubuh-tubuh yang baru pertama ikut hash akan syok. Ritme jalan harus sungguh disesuaikan dengan kondisi tubuh. Ini berbeda kondisi pada setiap orang. 

Tantangan berikutnya adalah mengatasi ego. Perjalanan seperti ini akan menjadi berkurang resikonya jika satu sama lain menjadi teman seperjalanan yang saling peduli. Membantu memegang tangan, membantu memberikan info jalan yang aman, membuka diri untuk dibantu, dan seterusnya menjadi latihan luar biasa untuk kehidupan asyik dalam komunitas. Teman seperjalanan tidak melulu sejalan, tapi semuanya harus saling menjadi pengaman.  


 

Hari Seni dan Budaya Keuskupan Tanjungkarang: Menghidupkan Nilai Kemanusiaan Lewat Seni dan Budaya

Tema itulah yang diangkat dalam podcast satu jam di Asilo Hermelink pada Selasa 25 Agustus 2026 sebagai perayaan pertama Hari Seni dan Budaya Keuskupan Tanjungkarang. Podcast ngobrol santai menjadi satu  rangkaian perayaan setengah hari diantara pentas seni yang dimulai pukul 13.00. Selain dinikmati oleh orang-orang yang datang ke Asilo, perayaan ini juga disiarkan secara live di youtube Komsos Tanjungkarang.

Hadir sebagai narasumber dalam obrolan ini dua orang muda dan berjiwa muda, seniman Lampung, yang pertama Rikky Ramli, seorang pemusik, ketua komunitas Pelangi Anak Indonesia dan juga sekretaris Komite Seni Musik Dewan Kesenian Lampung. Yang kedua Iin Zakaria, founder Komunitas Dongeng Dakocan, penggiat film dan juga penyair Lampung yang aktif dalam berbagai kegiatan sastra di Lampung maupun Indonesia.

Aku sebagai host menggunakan kesempatan singkat ini untuk mengambil inspirasi kreatif dari mereka. 

"Saya mengajar anak-anak dan remaja di berbagai sekolah untuk belajar alat musik tradisi. Selain itu juga mengembangkan nilai-nilai tradisi Lampung lewat komunitas Pelangi Anak Indonesia," ujar Rikky.

Dari berbagai latihan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja, Rikky memastikan bahwa panggung pementasan menjadi bagian yang penting bagi anak-anak untuk berekpresi di depan publik. Latihan akan menjadi berharga dengan adanya pentas yang bisa diapresiasi oleh semua orang yang melihatnya. 

Iin juga menandaskan pentingnya mengembangkan sastra lewat ekspresi, dalam hal ini yang digelutinya adalah dongeng.

"Bukan hanya orang tua dan guru yang berlatih mendongeng, tapi anak-anak juga kami latih untuk mendongeng sehingga mereka bisa menyebarkan nilai-nilai hidup baik pertama bagi dirinya sendiri dan juga bagi teman-temannya. Ruang yang ramah untuk perkembangan seni dan budaya bagi anak-anak ini perlu dibangun dalam masyarakat kita," paparnya.

Beberapa kritikan juga disampaikan mereka sebagai masukan bagi perkembangan seni dan budaya di Lampung. Tanggapan dari hadirin di Asilo menambah semarak perbincangan santai ini.

Usai podcast, hari seni dan budaya ini masih dilanjutkan dengan pentas seni lain, juga dilanjutkan malam hari dengan kenduri nusantara yang disajikan dalam nuansa Jawa. Usai kenduri, kegiatan dilanjutkan secara meriah dengan campursari oleh Baswara Intertainment.  


 


Friday, August 28, 2026

KIKIL PEDAS ala Yuli Nugrahani


 Sedang ndak selera makan parah. Maka untuk memancing nafsu makan, rasa pedas harus dibuat. Pas lihat bahan-bahan di Mang Sayur, tampak kikil yang bagus tebal. Ambil satu bungkus kecil cuma Rp 3.000 atau Rp 5.000 jika ambil dua bungkus. Karena yang doyan kikil alias cecek alias kulit sapi ini hanya aku, maka aku beli hanya satu bungkus.

Bahan:

Kikil bersih 1 bungkus ukuran kecil, direbus bersama garam sampai empuk, potong kecil-kecil.

Bawang putih 2 butir, bawang merah 3 butir, cabe kriting 4, cabe rawit merah sekitar 10. Rebus semua bahan bumbu ini sebentar, lalu ulek dengan sedikit garam, sedikit penyedap, sedikit gula merah, dan sedikit gula pasir. 

Proses:

Tumis bumbu yang yang sudah diulek dengan minyak goreng sedikit sebentar saja, masukkan irisan kikil, tambah dengan sedikit kecap. Dah, aduk-aduk, cicip rasanya. Menu kikil pedes siap disajikan, bersama nasi putih, lalap timun dan krupuk uyel. Ini lauk yang bakal membuat kita menghabiskan nasi buanyakkkk... Satu bungkus kecil ini bisa untuk 2 porsi makan.

Monday, August 24, 2026

MEMBUAT TUMPENG HARI KEMERDEKAAN RI

 Tumpeng merupakan salah satu jenis paket makanan yang sering digunakan untuk merayakan syukur sukacita. Maka, saat hari Kemerdekaan RI, sejak dahulu kala, bagiku selalu identik dengan tumpeng. Berikut ini merupakan tumpeng yang kami buat yaitu tim tumpeng Blok C Perum Polri Hajimena sebagai peserta lomba dalam peringatan 17 Agustus.

Tema yang diangkat untuk tumpeng ini sama dengan tema besar hari kemerdekaan RI ke 81 tahun 2026, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur. Konsepnya secara umum mau menampilkan kekayaan Indonesia yang berpotensi untuk mewujudkan kedaulatan, keadilan dan kemakmuran. Maka simbol-simbol dimunculkan seperti:

1. Nasi kuning untuk tumpeng, dengan 5 tingkat undakan ditambah sedikit hiasan warna merah. Ini melambangkan potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia seperti 'gunungan emas', berkilau warna kuning, dengan pucuk warna hijau daun pisang yang akan menjadi arah bagi pembangunan Indonesia.

2. Ingkung ayam kampung utuh, yang disertai beberapa telur utuh dibentuk anak ayam di sekitarnya. Ingkung berasal dari kata 'manekung dan jinakung', yang diartikan doa sungguh-sungguh mohon perlindungan Tuhan. Ayam utuh sebagai kebulatan niat untuk menjadi suci. Ayam dimasak tertekuk, tidak berdiri, sebagai cara sujud pada Yang Maha Pencipta. 

3. Urapan segala jenis sayur aneka rupa dengan bumbu kelapa parut, merupakan aneka ragam kehidupan yang ada di Indonesia diramu menjadi satu ikatan hidup yang membuat 'rasa' sukacita penuh syukur, juga harapan untuk hidup berkelimpahan sehat, selamat, berlimpah rejeki.

4. Telur ayam rebus yang diolah merupakan simbol keutuhan hidup manusia secara utuh dan personal, terdiri putih dan kuning, menjadi awal mula kehidupan yang kemudian diproses, dikupas, digoreng lagi, dibumbui lagi, menjadi hidup yang semakin kuat, tidak encer seperti saat masih mentah.

5. Tempe bacem dan kering tempe. Olahan tempe dibuat dua rupa merupakan simbol kesederhanaan hidup manusia Indonesia. Tempe pun merupakan hasil dari proses yang panjang sejak awal dari kedelai. Bahan murah ini mudah dikreasi menjadi aneka rupa jenis pangan sehat. Mengambil dua jenis olahan tempe untuk tumpeng kali ini  menunjukkan kematangan pikir para ibu Indonesia yang kreatif.

6. Mie goreng dibuat untuk menyimbolkan harapan dan doa akan kesehatan, panjang umur, limpah rejeki dan impian yang tak pernah putus. Kami meletakkannya secara memanjang di dekat gunungan tumpeng untuk menandai alur kehidupan yang panjang dalam proses doa tanpa putus.

7. Ikan asin bumbu balado. Ikan asin yang dipilih adalah ikan asin dari laut yang bentuknya kecil tipis dan renyah dan dibumbu balado rasa pedas manis asin. Ini menyimbolkan kebersamaan masyarakat dalam sebuah 'gerombolan' atau komunitas, yang dibangun dengan keramahan yang dinikmati oleh semua pihak dan dalam memunculkan berbagai macam rasa.

8. Kerupuk merah putih dan peyek merupakan menu pelengkap. Kerupuk merah putih menjadi representatif bendera kita tentang keberanian dan kesucian. Sedangkan peyek rebon dan peyek kacang menjadi simbol persatuan dalam sebuah ikatan persaudaraan yang kuat.

9. Sambal tomat ditambahkan sebagai api semangat membara yang tak pernah padam. Karena itulah Tim Blok C tak kehilangan kegembiraan dan rasa syukur walau tak mendapatkan juara satu. Kami puas dengan proses yang kami lakukan, puas dengan hasil yang sudah terwujud, puas dengan banyak bonus rahmat yang kami terima.

Yang unik dari tumpeng ini kami menyertakan hiasan-hiasan yang melengkapi:

a. Garnish pohon kelapa dari wortel, kulit semangka dan buah kelapa dari anggur muda. Pohon kelapa merupakan pohon penuh guna mulai dari akar sampai buah, daun bahkan lidi dan pelepahnya. Bisa ditanam di segala lokasi dari pantai sampai pegunungan.

b. Miniatur rumah panggung dari kayu, selain melambangkan harapan kemakmuran akan papan, juga menunjukkan kekhasan lokalitas Lampung yang ramah lingkungan. Masih dilengkapi dengan lampu di dalam rumah sebagai penerangan

c. Manusia-manusia gembira dihadirkan untuk menunjukkan kesejahteraan yang ingin diwujudkan.

d. Pernak-pernik lain seperti bendera merah putih, gapura perayaan, umbul-umbul dan tulisan-tulisan untuk menggambarkan kekhasan perayaan kemerdekaan.
 





Wednesday, August 19, 2026

PANTAI CEPER: The Hidden Gem Beach 'Arah Mutun Belok Kanan"

 Lagi untuk kesekian kalinya kami pergi ke pantai ini. Tempat yang tersembunyi, butuh effort sedikit untuk menggapainya lewat hutan mangrove yang indah, membuatnya jadi salah satu pantai favorit bagiku. Maka ketika Rm. Paul meminta kami menemani ponakannya dari Perancis, Thom sekeluarga, kami spontan mengingat Pantai Ceper sebagai salah satu alternatif yang bisa dipilih. Bisa jalan sebentar, tak perlu nanjak, dan ketemu pemandangan indah di ujung perjalanan.

Maka kami janjian bertemu di pertigaan arah Pantai Mutun, Pesawaran pada Jumat 14 Agustus 2026. Kami menyusuri jalan setapak melintasi hutan mangrove dengan riang gembira. Thom dan Ann beserta dua anaknya merupakan teman perjalanan yang asyik. Walau percakapan terbatas karena bahasa Inggris kami yang terbatas, tapi banyak cerita bisa kami saling bagikan. Yang daku ndak membayangkan adalah pantai ini sedang sangat kotornya... Huh. Padahal beberapa bulan lalu ketika kami ke tempat ini lumayan bersih.


 (Tulisan dan foto lanjut nanti)

Mengelola Uang Dengan Sederhana Cara Suratmi

Tumpukan uang Rupiah Indonesia Foto Stok 2708281645 | Shutterstock
Dari Google Search

 

 Tulisan ini saya buat sekitar 10 tahun lalu untuk Buletin Insan berdasarkan inspirasi dari Wawak, alias Ibu Suratmi. Meninggalnya Wawak pada 17 Agustus lalu membuatku ingat tulisan ini dan aku post ulang sebagai salah satu cara untuk mengingatnya.

RIP. Suratmi binti Ali Santono

Suratmi adalah seorang ibu berumur kurang lebih 60 tahun, tinggal di Hajimena Natar, Lampung Selatan. Dia mempunyai 8 orang anak yang semuanya sudah lulus SMA atau SMK, bahkan bungsunya sudah lulus dari Politeknik Lampung beberapa tahun lalu dan saat ini sudah bekerja mapan di sebuat perusahaan media massa.

Apakah dia patut dikisahkan? Apakah dia seorang sukses yang kaya dengan hidup berlimpah harta? Tidak. Mungkin malah bagi kebanyakan orang menilai dia hidup dalam kekurangan. Tapi, ini pun kurang tepat. Bahwa dia hidup cukup, dengan pemikiran-pemikiran pengelolaan keuangan yang baik walaupun sederhana, itu betul. Perlu ditambahkan lagi, bahwa dia adalah anggota Mekar Sai yang tertib sejak beberapa tahun lalu.

Hidup Suratmi tidak mudah. Dia lepas dari orang tuanya saat usianya masih sangat dini. Dia bertanggungjawab atas keputusannya itu dengan melakukan banyak upaya. Dia harus  menghidupi keluarga bersama suaminya, dengan membantu orang membuat kue, mencuci dan setrika baju, berjualan, atau bahkan juga membersihkan bawang di pasar. Sampai sekarang dia masih melakukan beberapa pekerjaan itu di usianya yang tidak muda lagi. Walau dia tidak lagi sekeras dahulu bekerja untuk orang lain, dia masih menggunakan tenaganya secara optimal.

“Aku ini kalau tidak bekerja malah sakit.” Katanya suatu kali. Maka dia masih bekerja pada dua keluarga untuk membantu pekerjaan rumah. Gaji dari dua keluarga inilah yang dia kelola untuk biaya rutin bulanan rumah tangga dan dimasukkan ke Mekar Sai, kecuali biaya makan dan keseharian.

Dari mana biaya makan dan kesehariannya mengingat suaminya yang lebih tua sudah tidak lagi bekerja sedangkan dia masih harus menanggung suami, sebagian dari anaknya yang belum mandiri dan juga cucu? Dia memakai modal dari pinjaman Mekar Sai beberapa tahun yang lalu untuk membuka warung nasi uduk di depan rumah yang dia buka setiap pagi sampai sekitar jam pukul 08.00.

Dia masih membantu membersihkan mesjid, membantu orang-orang yang membutuhkannya sesekali, namun akhir-akhir ini dia sering menolak pekerjaan-pekerjaan yang berat atau sering karena tenaganya sudah tidak kuat lagi.

“Aku numpang makan dari warung nasi uduk. Beras, minyak, bumbu bisa kuambil dari bahan warung. Laba penjualan aku pakai untuk membeli lauk, sayur dan juga untuk ditabung. Jadi saat bulan puasa datang, aku tidak kuatir walau tidak berjualan.” Jelasnya dengan mantap.

Apa yang dilakukan oleh Suratmi adalah contoh kecil dalam pengelolaan keuangan rumah tangga yang tertata walaupun nilainya kecil. Suratmi mempunyai tabungan di koperasi, jika membutuhkan uang dia akan pinjam, dia punya minimal dua sumber penghasilan yang rutin dari dua keluarga dan satu penghasilan lagi dari berjualan nasi uduk.

“Aku tidak perlu kuatir soal rejeki. Pasti ada jalannya. Dulu mimpi saya semua anak saya harus sekolah. Alhamdulillah anak-anak bisa lulus minimal SMA.” Demikian pernah dikatakannya.

Ya, semua orang bisa sepakat dengan pandangannya itu. Tapi bagi Suratmi, pandangan itu bukan sekedar iman tapi juga usaha-usaha yang tidak kunjung henti di sepanjang harinya. Kalau kita datang ke rumahnya, kita akan melihat pola pengelolaan yang begitu sederhana tapi rapi.

Ada tumpukan beras di pojok dapurnya. Ada sekotak minyak goreng. Ada beberapa kantung plastik yang berisi telur, cabai dan sebagainya. “Lebih murah kalau beli banyak. Jadi aku beli sekaligus banyak. Nah, yang penting setiap hari harus kusisihkan uang pembeliannya. Ini setelah jualan, aku akan memisahkan : ini uang beras, ini uang minyak, ini untuk gula, dan sebagainya. Sisa dari itulah yang akan dipakai untuk kebutuhan lain setelah aku ambil beberapa rupiah untuk aku masukin kotak tabungan.” Jelasnya.

Selain itu, dia akan menyisihkan sebagian dari konsumsi hariannya sebagai tabungan. Misal dia akan mengambil satu canting beras setiap hari, dua tiga sendok minyak goreng, dan sejumput gula untuk dipisahkan dalam wadah berbeda. Jika wadah itu sudah penuh, dia akan menukarnya dengan bahan yang baru untuk disimpan dengan jumlah yang sama. Tabungan bahan inilah yang akan digunakannya saat dia tak bisa berjualan.

Tidak semua orang bisa setertib Suratmi sering heran dengan caranya menata keuangan. Namun dengan cara itu dia tidak terusik oleh berbagai macam kebutuhan yang terus bertambah setiap waktunya.

“Bisa ‘ayem’, tidak kuatir kekurangan. Uang yang rutin dari gaji orang bisa langsung aku sisihkan untuk masuk Mekar Sai sebelum dipakai untuk keperluan lain jika memang diperlukan,” Katanya dengan percaya diri.

Dia jarang mengeluh walau mesti mengeluarkan biaya sosial saat mengunjungi orang sakit, melayat orang meninggal, ada undangan pesta dan sebagainya. Dia sudah menyisihkan sebagian uang dari hasil jualan untuk keperluan ini. Dia bilang dia masih bisa terlibat secara pantas dalam pergaulan kemasyarakatan. Walau dia sering bilang hanya sebagai tukang cuci, tapi dia membuktikan bahwa martabatnya sangat luhur dan tinggi. Bahkan ketika anaknya masuk kuliah, dia membuktikan kepada banyak orang bahwa dia mampu melakukannya walau suaminya sudah tidak mampu lagi bekerja.

Dari Suratmi ini kita bisa melihat model yang sangat sederhana tentang pengelolaan keuangan maupun pentingnya melakukan diversifikasi sumber penghasilan. Soal pengelolaan keuangan, Suratmi ketat melakukannya. Bahkan menyisihkan uang di awal untuk ditabung. Dia bukan mengelola nilai uang juta atau milyar, tapi dia mengelola uang untuk hidup. Dia mengembangkan hidupnya secara sederhana dengan ketertibannya itu.

Tentang keanekaragaman/diversifikasi sumber penghasilan, Suratmi bisa menjadi contohnya. Keluarga-keluarga sebaiknya mulai berpikiran soal pekerjaan lain selain sumber penghasilan yang sekarang ini dipunyai. Misalnya seorang guru, bisa melakukan diversifikasi penghasilan dengan membuka warung kelontong di rumahnya. Seorang buruh bisa melakukan pekerjaan tambahan dengan berjualan online. Seseorang polisi yang hobi berkebun bisa mengerjakan kebunnya tanpa meninggalkan pekerjaan utamanya. Juga bisa ditambah beternak, menulis untuk media, membuat rajutan, dan sebagainya.

Banyak cara bisa dipilih untuk menambah keragaman sumber penghasilan keluarga, sehingga resiko-resiko dapat diminimalkan. Misalnya jika buruh diPHK dia masih tetap punya penghasilan. Guru yang pensiun masih punya hasil dari kebun, dan sebagainya.

Suratmi, anggota Mekar Sai sudah membuktikan dia mampu melakukannya dengan memanfaatkan sungguh-sungguh kehadirannya sebagai anggota Mekar Sai. Suratmi mungkin dikenal sebagai tukang cuci atau penjual nasi uduk, tapi dia mampu menyekolahkan semua anaknya, punya rumah tembok milik sendiri yang mapan bahkan masih menampung anaknya yang belum mandiri, dan juga merawat cucu. Walau dia tak berlebihan, tidak punya mobil, dan lain-lain benda mewah, dia nyaman dengan hidupnya, atau menurut istilahnya ‘ayem’.

Koperasi Mekar Sai dapat dioptimalkan untuk menjadi pendukung ide ini bagi kesejahteraan anggotanya. Anggota yang lain pun pasti mampu juga dalam level yang berbeda atau bahkan lebih tinggi, apalagi jika mendapatkan inspirasi dan pendampingan dari koperasi. Kesejahteraan bukan soal angka yang besar, tapi bagaimana anggota bisa memiliki rasa seperti Suratmi, yaitu ayem. ***(Yuli Nugrahani)

Monday, August 17, 2026

Bolu Jadoel Enak Pengingat Kenangan: BOLU KENONG

 Biasa disebut bolu kenong. Bolu model ini sudah ada sejak aku kecil. Dan dulu aku tidak suka memakannya karena bolu ini kering, seret di tenggorokan pas menelannya, dan bentuknya tidak menarik. Bolu ini bisa dijumpai di kebanyakan toko kue, atau toko kelontong. Orang-orang tua suka memakannya disandingkan dengan kopi atau teh panas. Karena mudah didapatkan dengan harga murah dan cukup awet, kue ini mudah sekali didapatkan di meja makan atau suguhan tamu keluarga-keluarga. Kukira dulu hanya ada di Jawa tempatku lahir, tapi rupanya dalam perjalanan ke banyak tempat, aku sering menemui juga kue ini.

Aku tidak ingat kapan aku pernah membelinya. Mungkin saja pernah membeli beberapa kali dalam hidupku. Ohya, aku ingat pernah membelinya sebagai oleh-oleh karena ada teman yang menyukai kue ini.

Beberapa variasi bolu kenong ada pada bentuknya. Ada yang lonjong, atau bulat, atau sedikit pipih atau sedikit tebal, dengan lekuk atau garis atau polos pada permukaannya. Variasi lain juga terletak pada toping yang mungkin ditambahkan. Kadang ada yang diberi irisan tipis kacang mente atau almon, atau potongan kismis. Rasanya walau mirip, dan tentu saja cenderung kering, sama semua bolu kenong ya seperti itu, tetapi ada juga variasi rasa seperti manis atau agak manis, atau ditambah dengan rasa tape. Warnanya juga sedikit variasi antara krem sampai coklat.

Kemarin saat acara Team Building Mekar Sai di Saung Suka 14 - 16 Agustus 2026, panitia membawa salah satu kudapan bolu kenong ini. Saat di sana aku tidak berminat untuk mengambilnya, karena seperti biasa dalam acara-acara yang teratur dengan jadwal makan, aku ndak akan sempat merasa lapar. Nah pas pulang, mbak Rina nawarin kalau aku mau membawa pulang. Maka hampir satu toples bolu kenong kubawa dengan dua variasi bentuk maupun rasa. Sebagian dari bawaan itu habis di jalan karena saat pulang kami belum makan siang, sedangkan untuk makan nasi kotak yang dibawa rasanya tanggung.

Sisa terakhir di toples aku nikmati dengan secangkir kopi pahit. Dan ternyata bolu jadoel ini nikmat banget guysss... Pengganjal perut banget. Tapi yang paling kuat kurasakan bukan manis atau seretnya bolu ini, tapi kurasakan kenangan-kenangan jaman masih kecil berkelebat. Uhui banget.

Ini aku tambahkan foto-foto yang kuambil dari google kalau foto yang kuambil di atas tidak terlalu tampak.

Resep kue bolu klemben kering rumahan enak dan mudah - Cookpad

 Harga bolu kering klemben Terbaru Agt 2026 | BigGo Indonesia 

BOLU KENONG ORIGINAL 900 gram 300gr HOMEMADE JADUL KUWUK KUE SUSU ROTI KERING BAHULU KLEMBEN CERMAI KIJING SENDOK