Thursday, June 11, 2026

Pameran Lukisan PER-EMPU-AN, Ekspresi dan Kekayaan Perempuan

Perempuan mempunyai banyak kekayaan yang melekat dalam dirinya. Hal itulah yang tampak dalam Pameran Lukisan yang digelar oleh UKMBS Komunitas Biroe Darmajaya di Taman Budaya Lampung, 4 - 8 Juni 2026. 

"Pameran menjadi ruang perjumpaan antara ingatan personal dan kesadaran kolektif. Dengan demikian, per-empu-an diposisikan sebagai ruang dialog yang terbuka dan berkelanjutan. Ia mengundang pembacaan yang mendalam terhadap peran perempuan dalam membentuk kebudayaan, tidak sebagai posisi yang terpisah, tetapi sebagai bagian yang menyatu dalam kehidupan bersama. Per-empu-an menegaskan keberadaan perempuan sebagai proses kultural yang terus tumbuh, bergerak, dan memperkaya makna hidup", demikian dituliskan dalam kuratorial yang ditulis oleh David sebagai pengantar dalam e-katalog Per-empu-an.

 Lukisan Bunga Ilalang langsung mencuat begitu masuk ruang pameran. Lukisan itu terletak di sayap kiri, ukuran besar, dan tanpa melihat keterangan di bawah lukisan yang menjelaskan siapa penulis, ukuran, judul lukisan dan sebagainya, aku udah yakin, ini lukisan Bunga Ilalang. Cara Bunga melekatkan akrilik pada kanvas sangat khas dan detil. Lukisan berjudul Mata Hari ini pun mengingatkanku pada wajah cantik sendu pelukisnya. Walau dijelaskan kalau inspirasi lukisan ini seorang penari yang juga spionase internasional pada jaman dahulu kala, entah mengapa aku melihat ciri-ciri garis wajah Bunga Ilalang dalam lukisan ini.

 Tentu saja aku tak bisa hanya berhenti pada lukisan ini, aku berjalan random dari satu lukisan ke lukisan lain. Aku akan berhenti lama pada lukisan yang membuatku 'bergetar' dan berhenti sebentar saja pada kebanyakan lukisan. Memutarinya sekali lagi seperti kebiasaanku kalau melihat pameran lukisan, membuatku mendapatkan insight lebih pada lebih banyak lukisan.

Lukisan berikut kubilang ke anakku yang menemaniku ,"Ini aku banget nih, Bert." Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan sedang membuat kain tapis, dengan dua fokus lain yang menyertai yaitu kepompong dan kupu-kupu. Rangkaian obyek yang sangat khas perempuan, berjudul "Metamorfosis Benang" dilukis oleh Alia Larasati.

"Proses lahirnya kupu kupu dari kepompong disandingkan dengan lahirnya sehelai tapis dari benang-benang halus di tangan seorang penenun. Keduanya adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran,
ketekunan, dan waktu sebuah transformasi yang sunyi namun penuh makna. Seperti sayap kupu kupu yang perlahan mengembang, setiap tarikan benang adalah wujud pertumbuhan dan kelahiran baru." Demikian dituliskan dalam katalog.

 

Lukisan lain yang membuatku berhenti lama dibuat oleh Evit Wong Setiawan, berjudul Ingsun. Lukisan ini mengingatkanku pada suatu masa di kamar kostku di Malang saat aku awal bekerja di VCI, aku membuat rumusan visi pribadi yang dilatarbelakangi pikiran mendalam saat itu tentang "awal" dan "akhir", "sumber" dan "tujuan", serta sedang terpana dengan "sangkan paraning dumadi"

Beberapa lukisan lain sangat variatif. Ada yang menampakkan kedalaman konsep dan eksekusi yang  apik keren. Tapi toh ada juga lukisan yang menurutku masih sangat permukaan dan tidak matang dasarnya. 

Perasaan yang dominan saat aku melihat lukisan ini adalah antusias, berkobar-kobar. Secara umum, seluruh lukisan yang dipamerkan belum menampakkan keseluruhan  'jenis' perempuan yang pernah kujumpai dalam 52 tahun aku hidup. Bahkan belum menampakkan semua dinamika perempuan dalam contoh hidupku sendiri sebagai perempuan. 

Tapi, sungguh, selaras dikatakan kurator, lukisan-lukisan itu menyodorkan 'ingatan' dan 'kesadaran' yang memang ada dalam perempuan. Sebagian, belum keseluruhan, pun tetap saja asyik. Perempuan toh selalu punya misteri yang tersembunyi to? Dengan demikian masih banyak yang bisa digali. Mungkin untuk karya selanjutnya, pameran selanjutnya. 

  


No comments:

Post a Comment