![]() |
| Yo, aku, di umur 3 tahunan. |
Wednesday, November 20, 2013
Takut Tai Ayam
Tuesday, November 12, 2013
Lampost, 10 Nopember 2013
Kisah yang Rapi dari Pencerita yang Baik
Data buku
Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi
Kuntowijoyo
Kompas, Jakarta
I, September 2013
xviii + 150 hlm.
CERITA pendek ang termaktub dalam kumpulan cerpen ini merupakan cara
komunikasi Kuntowijoyo yang mudah sekali menggelitik perasaan para
pembacanya. Bahasa yang digunakan sangat lugas, mengalir dengan terus
terang apa adanya. Sebelum sampai pada kedalamannya, orang yang membaca
dengan mudah dapat terkecoh menyangka tulisan ini semacam kisah nyata
yang dialami sendiri oleh penulis, terlebih di beberapa tulisan,
Kuntowijoyo, sang penulis, mengungkapkan jati dirinya.
Dalam
cerpen Pistol Perdamaian, Kuntowijoyo memakai gaya bertutur dari sudut
pandang orang pertama: saya. Di salah satu paragraf bagian terakhirnya
tokoh saya ini diungkap sebagai seorang ahli sejarah, seperti si
Kuntowijoyo sendiri yang memang seorang ahli sejarah, pengajar sejarah
dan menelurkan banyak buku ilmu sejarah.
“Dalam rapat
kelurahan, setelah soal KTP dan PBB selesai dibicarakan, Pak Lurah
membuka kertas koran dan berkata tanpa interupsi. ‘Sebaiknya barang ini
saya serahkan pada teman kita yang ahli sejarah.’ Dia memberikan
bungkusan itu pada saya, sebuah pistol, masya Allah. Jadi, pistol yang
saya buang ke kelurahan juga jatuhnya.” (hlm. 24)
Hal yang sama
juga muncul di cerpen-cerpen lain seperti di cerpen paling akhir dalam
buku ini, RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana. Di paragraf
kedua halaman 140, ditulis identitas Kuntowijoyo sendiri, walau hanya
sedikit. “Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya ketua
RT berijazah S-3 dari universitas papan atas di Amerika.”
Tentu
saja ungkapan-ungkapan itu tidak bisa dianggap sebagai fakta karena
memang ke-15 tulisan itu dibuat sebagai cerpen, fiksi. Jadi semuanya
memang karangan semata dan bukan kisah nyata, walau sang penulis memang
merupakan ahli sejarah, doktor sejarah lulusan universitas terkenal di
Amerika Serikat dan mengajar di universitas terkemuka di Indonesia.
Namun, ketika kita mulai mengulik sedikit kehidupannya melalui
sumber-sumber di berbagai tempat mau tidak mau pembaca akan mengaitkan
Kuntowijoyo dengan peran lain yang dimilikinya di dalam kampus,
masyarakat khususnya Islam, dan negara. Pembaca tidak bisa lagi
mendirikannya hanya semata cerpenis atau novelis. Di pengantar buku ini,
Bakdi Soemanto menulis soal apakah Profesor Doktor Kuntowijoyo ini
seorang sejarawan yang menulis fiksi, atau dia adalah penulis fiksi yang
suka sejarah.
Dia memang seorang akademisi, pakar sejarah,
sangat lazim Kuntowijoyo berpikir dan bertutur secara ilmiah. Dia telah
membuktikan itu dengan menulis banyak sekali dan tulisan sejarah,
misalnya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985) atau Pengantar
Ilmu Sejarah (1995).
Buku ini berisi 15 judul cerpen yang
pernah muncul di Kompas pada 1990—2000-an. Pelajaran Pertama bagi Calon
Politisi yang menjadi judul buku ini merupakan judul cerpen yang ke-14
dalam buku terpasang di halaman 125. Namun, bisa dikatakan judul ini
membingkai seluruh tema cerpen yang ada dalam dalam buku ini. Dan baik
juga jika judul ini menjadi ajakan atau anjuran bagi para calon
politisi. Sederhananya, baca dulu buku ini sebelum menjadi calon
politisi untuk kemudian menjadi politisi.
Bagaimana pembaca
dapat menangkap pesan yang disampaikan Kuntowijoyo lewat
cerpen-cerpennya? Inilah keunikan yang berikutnya. Judul pertama yang
dipasang dalam buku ini, Laki-laki yang Kawin dengan Peri, menyodorkan
paragraf pertama dengan sebuah pertanyaan setengah meledek, ”Mau jadi
anggota DPR? Boleh, asal dengarkan cerita ini.” Paragraf pendek, dengan
dua kalimat pendek.
Setelah itu, Kuntowijoyo sama sekali tidak
menyinggung tokoh tentang anggota DPR atau calon anggota DPR, tetapi
kisah tentang Kromo, seorang laki-laki berbau busuk, yang tinggal di
sebuah desa, yang terusir dari kampungnya karena bau busuknya itu, lalu
konon menikah dengan peri, dan saat mati berbau harum. Baru kemudian di
bagian akhir kisah ini, Kuntowijoyo kembali menarik pembaca supaya
merenung untuk menangkap pesannya dalam satu paragraf pendek, lagi.
“Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia
akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun.”
Kuntowijoyo
menawarkan kaca pembesar untuk melihat detail kemanusiaan dalam sekup
yang sangat kecil, kadang dianggap remeh. Mudah disetujui bahwa seorang
pemimpin harus menyiapkan syarat itu sebelum menjadi pemimpin. Mereka
dituntut untuk jeli, peka terhadap situasi orang-orang biasa, sederhana,
yang dianggap lemah dan seluruh dinamika yang melingkupinya. Mata dan
hati Kuntowijoyo mampu menangkap hal-hal remeh temeh yang terjadi di
keseharian, khususnya di lingkungannya sendiri, entah di Jawa atau saat
dia tinggal di Amerika Serikat, untuk kemudian mengolahnya menjadi
cerpen.
Kuntowijoyo memang salah satu penulis terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara.
Yuli Nugrahani, cerpenis.
Friday, November 08, 2013
Keinginan yang Tidak Merugikan Dunia
Hari ini aku menjemput Albert pulang sekolah. Dia sudah menunggu satu jam lebih karena seharusnya dia pulang jam 11.00 sedang aku jam 12.00 dari kantor di hari Jumat ini. Begitu bertemu di gerbang sekolah dia cerita kalau pisang goreng yang dia jual masih sisa separo. Hari ini dia memang jualan pisang goreng, seharga Rp. 500,- yang aku buatkan pagi-pagi, sesuai ajakan guru IPSnya, bu Atun. (Konon, Albert bercerita, pada pelajaran IPS, guru tercintanya ini mengajak murid-murid untuk membawa bekal makanan yang lebih, yang bisa dijual untuk teman-temannya. Hasil penjualan bisa untuk menambah tabungan. Aku sangat mendukung ide ini. Dan untuk jualan pertama, Albert membawa 14 biji pisang goreng. Kalau laku separo, berarti dapat Rp. 3.500,-. Hehehe...)
Nah, di jalan yang mendung, dia mengatakan ingin melihat hujan salju sekarang ini.
"Pasti asyik kalau ada hujan salju di Indonesia. Bukan hanya sesekali tapi sering. Seperti memang musimnya gitu, tidak hanya musim penghujan dan kemarau."
Aku mengingatkan kalau Indonesia itu ada di garis katulistiwa. Tidak ada salju, kecuali di tempat yang sangat tinggi.
"Namanya kan keinginan, bu. Jadi kan asyik bisa lihat salju."
"Tapi tanaman di Indonesia tidak akan tahan pada salju, Bet. Bisa mati semua. Juga hewan dan orang-orangnya."
"Hmmm, masak sih."
"Dan lagi kalau di Indonesia yang tropis ada hujan salju, gimana nanti yang negara-negara subtropis atau di dekat-dekat kutub sana. Tambah dingin dong."
"Tapi kan ini keinginan, bu. Boleh saja kan."
"Boleh sih, tapi itu akan mengubah dunia. Mungkin malah merusak dunia. Ganti keinginan saja deh, Bet."
"Yaaa, penginnya lihat salju kok."
"Diubah kan bisa. Pengin lihat salju di Jepang, atau mana gitu. Kan mungkin saja Mas Albert sekolah atau kerja di sana suatu ketika."
"Iya deh."
"Dan itu tidak merugikan siapa-siapa. Tidak merusak dunia dan semesta."
"Iya, deh, bu. Iya."
Hehehe, nadanya sudah agak jengkel. Hmmm, jangan merasa aku membatasi mimpimu. Aku hanya ingin kau melihat orang lain jika punya keinginan. Dan jangan merugikan mereka semua. Ya?
Nah, di jalan yang mendung, dia mengatakan ingin melihat hujan salju sekarang ini.
"Pasti asyik kalau ada hujan salju di Indonesia. Bukan hanya sesekali tapi sering. Seperti memang musimnya gitu, tidak hanya musim penghujan dan kemarau."
Aku mengingatkan kalau Indonesia itu ada di garis katulistiwa. Tidak ada salju, kecuali di tempat yang sangat tinggi.
"Namanya kan keinginan, bu. Jadi kan asyik bisa lihat salju."
"Tapi tanaman di Indonesia tidak akan tahan pada salju, Bet. Bisa mati semua. Juga hewan dan orang-orangnya."
"Hmmm, masak sih."
"Dan lagi kalau di Indonesia yang tropis ada hujan salju, gimana nanti yang negara-negara subtropis atau di dekat-dekat kutub sana. Tambah dingin dong."
"Tapi kan ini keinginan, bu. Boleh saja kan."
"Boleh sih, tapi itu akan mengubah dunia. Mungkin malah merusak dunia. Ganti keinginan saja deh, Bet."
"Yaaa, penginnya lihat salju kok."
"Diubah kan bisa. Pengin lihat salju di Jepang, atau mana gitu. Kan mungkin saja Mas Albert sekolah atau kerja di sana suatu ketika."
"Iya deh."
"Dan itu tidak merugikan siapa-siapa. Tidak merusak dunia dan semesta."
"Iya, deh, bu. Iya."
Hehehe, nadanya sudah agak jengkel. Hmmm, jangan merasa aku membatasi mimpimu. Aku hanya ingin kau melihat orang lain jika punya keinginan. Dan jangan merugikan mereka semua. Ya?
Sebentar Sempurna
Duduk santai, di tengah kehijauan, segar, indah, merasa gembira, itulah sempurna, sebentar sempurna.
Tapi aku juga tak bisa menghilangkan pagi ini. Saat pagi sibuk dengan gerakan, teriakan, bergegas, penuh marah, tidak sabar dan hasrat. Ini juga sebentar sempurna, ketidak sempurnaan sebentar yang sempurna.
Tapi aku juga tak bisa melupakan, kekacauan sekitarku di lalulintas berantakan, yang berhasil kulalui dengan sumpah serapah, pada asap, ketidaktaatan, penipuan, basa basi resmi, mobil polisi, dan inilah sempurna.
Sebentar yang sering, kekacauan yang sempurna,
di negeri ini.
Tapi aku juga tak bisa menghilangkan pagi ini. Saat pagi sibuk dengan gerakan, teriakan, bergegas, penuh marah, tidak sabar dan hasrat. Ini juga sebentar sempurna, ketidak sempurnaan sebentar yang sempurna.
Tapi aku juga tak bisa melupakan, kekacauan sekitarku di lalulintas berantakan, yang berhasil kulalui dengan sumpah serapah, pada asap, ketidaktaatan, penipuan, basa basi resmi, mobil polisi, dan inilah sempurna.
Sebentar yang sering, kekacauan yang sempurna,
di negeri ini.
Sunday, November 03, 2013
Benang Laba-laba
Rajutan yang kau buat begitu remeh menjuntai
hanya benang tipis terlempar dari mulut seri.
Mudah terayun angin atau gerakan ranting
bahkan bisa dikoyak tanpa perkosa.
Kaki yang kurang ajar menjadikannya mainan,
tak disangka kekuatannya berjuta lipat ketika berbeban,
menempel semakin erat di setiap gerak badan.
Getaran mungkin sudah kau sangka,
lama kau intai dari balik daun palma,
matamu telah memilin dari kejauhan,
bibirmu telah meremas dalam semburan,
jika bergerak, benang laba-labamu semakin menjerat
jika bergerak, kau melangkah semakin dekat,
jika bergerak, ludahmu membuncah siap melumat.
Pemimpi ingin masuk ke mulut pemangsanya,
merasakan bukan gigitan tapi enzimnya yang pelan,
akan menghancurkan daging dan tulang,
hingga hanya ada kenangan.
Pemimpi memilih bergerak,
mengundang pemangsa berderak,
mendekat,
lekat.
hanya benang tipis terlempar dari mulut seri.
Mudah terayun angin atau gerakan ranting
bahkan bisa dikoyak tanpa perkosa.
Kaki yang kurang ajar menjadikannya mainan,
tak disangka kekuatannya berjuta lipat ketika berbeban,
menempel semakin erat di setiap gerak badan.
Getaran mungkin sudah kau sangka,
lama kau intai dari balik daun palma,
matamu telah memilin dari kejauhan,
bibirmu telah meremas dalam semburan,
jika bergerak, benang laba-labamu semakin menjerat
jika bergerak, kau melangkah semakin dekat,
jika bergerak, ludahmu membuncah siap melumat.
Pemimpi ingin masuk ke mulut pemangsanya,
merasakan bukan gigitan tapi enzimnya yang pelan,
akan menghancurkan daging dan tulang,
hingga hanya ada kenangan.
Pemimpi memilih bergerak,
mengundang pemangsa berderak,
mendekat,
lekat.
Thursday, October 31, 2013
Melihat aku, lagi.
Klik sini untuk melihat tulisan di bulan Agustus lalu tentang aku sebagai embun. Semalam aku mendapat cahaya baru tentangnya. Okey, rumusan singkatnya seperti ini :
Bukan masalah, kalau embun memang harus terjun mengikuti kepastian gaya gravitasi. Dia tidak harus ketakutan. Itu bukan urusannya lagi, entah dia akan langsung diserap tanah, atau masih mampir di daun-daun kemuning, atau kelopak-kelopaknya. Yang jelas, dia punya waktu! Menggayut di ujung daun adalah sesaat yang berarti, karena embun bisa menangkap cahaya, membiaskan, memantulkan, atau sekedar menikmati suhu yang mengubahnya menjadi beku, atau uap. Itulah waktu yang menggembirakannya, sebelum dia lenyap melalui misteri.
Saturday, October 26, 2013
Selamat ulang tahun, Bernard.
Sepuluh tahun lalu, kekuatanmu yang merobek rahimku.
Aku masih selalu heran dan kagum pada keperkasaan bayi,
dirimu, Bernard.
Hingga sepuluh tahun berlalu, keherananku terus bertambah,
kekagumanku semakin meruah.
Bukan hanya tubuhmu yang merobek rahimku,
tapi seluruh jiwa-raga, yang kau lontarkan
dalam gerak, dalam kata, dalam rupa.
"Ini aku, ibu. Seseorang yang mau numpang,
numpang makan, numpang tidur, numpang hidup."
Itu persis katamu saat mengetuk pintu rumah,
rumah kita, sore hari saat kau pulang sekolah.
Aku saling pandang dengan bapakmu, hanya, terpana,
ingat?
Mana mungkin kutolak orang yang akan numpang,
apalagi itu adalah Bernard yang pernah ada dalam tubuhku,
masih terus akan ada dalam hatiku, jiwaku?
"Tentu saja boleh. Tapi tidak bisa selamanya. Mungkin,
kami akan sediakan tumpangan hanya sampai umurmu
yang ke 21. Atau lebih beberapa tahun. Tapi tidak
seumur hidupmu. Masuklah!"
Dia masuk rumah dengan baju seragam merah putih, sepatu hitam,
tas sekolahnya yang super berat, dan senyum nyengirnya,
yang memang nakal.
Apa adamu, Bernard, kau boleh menumpang,
boleh merepotkanku,
boleh menuntutku.
Aku mencintaimu, Bernard.
Selamat ulang tahun.
Aku masih selalu heran dan kagum pada keperkasaan bayi,
dirimu, Bernard.
Hingga sepuluh tahun berlalu, keherananku terus bertambah,
kekagumanku semakin meruah.
Bukan hanya tubuhmu yang merobek rahimku,
tapi seluruh jiwa-raga, yang kau lontarkan
dalam gerak, dalam kata, dalam rupa.
"Ini aku, ibu. Seseorang yang mau numpang,
numpang makan, numpang tidur, numpang hidup."
Itu persis katamu saat mengetuk pintu rumah,
rumah kita, sore hari saat kau pulang sekolah.
Aku saling pandang dengan bapakmu, hanya, terpana,
ingat?
Mana mungkin kutolak orang yang akan numpang,
apalagi itu adalah Bernard yang pernah ada dalam tubuhku,
masih terus akan ada dalam hatiku, jiwaku?
"Tentu saja boleh. Tapi tidak bisa selamanya. Mungkin,
kami akan sediakan tumpangan hanya sampai umurmu
yang ke 21. Atau lebih beberapa tahun. Tapi tidak
seumur hidupmu. Masuklah!"
Dia masuk rumah dengan baju seragam merah putih, sepatu hitam,
tas sekolahnya yang super berat, dan senyum nyengirnya,
yang memang nakal.
Apa adamu, Bernard, kau boleh menumpang,
boleh merepotkanku,
boleh menuntutku.
Aku mencintaimu, Bernard.
Selamat ulang tahun.
Thursday, October 24, 2013
Nego
Langkahku semata penari,
dalam rancak musik calung,
bahkan hujan panas kuabai,
terserap dalam tepuk riung.
Itulah rayu yang ditolak katup mimpi,
terbelit geliat bangun tidur,
merupa jari telanjang tanpa taji,
seketika membebaskan aku dari lumur.
Kalau pagi seberuntung ini,
selongsong peluru akan kosong,
tidak ada ledakan lagi nanti,
di tengah siang merongrong.
Jadi, kupastikan artimu bisa kutawar,
rendah atau tinggi menjulang,
tergantung matahari mana bersinar,
dan hujan siapa mengalang.
Bukan pada tubuhmu,
yang menyusup dadaku,
tapi tunas di kepalaku,
akan menahanmu.
Wednesday, October 23, 2013
Empty
Pagi yang kosong
mendorongku ke ruang tamu
menandai sebagai orang asing,
hanya sebagai orang asing
duduk dengan malu
tanpa baju.
Siang tak perlu penyambutan.
Bisakah tinggalkan aku sejenak,
rindu? Biar kuselesaikan waktu.
mendorongku ke ruang tamu
menandai sebagai orang asing,
hanya sebagai orang asing
duduk dengan malu
tanpa baju.
Siang tak perlu penyambutan.
Bisakah tinggalkan aku sejenak,
rindu? Biar kuselesaikan waktu.
Tuesday, October 22, 2013
Crying
Malam, biasanya menjadi teman
kini menggumpal dalam selongsong
peluru Charlos Hathcock di ladang perburuan.
Aku yang mengincarnya dengan teropong
senjataku, namun aku yang dibunuhnya.
Malam telah berkhianat.
kini menggumpal dalam selongsong
peluru Charlos Hathcock di ladang perburuan.
Aku yang mengincarnya dengan teropong
senjataku, namun aku yang dibunuhnya.
Malam telah berkhianat.
Carlos Hathcock
Sumber: http://www.unikgaul.com/2012/04/10-penembak-jitu-paling-terbaik-di.html
Konten ini memiliki hak cipta
Sumber: http://www.unikgaul.com/2012/04/10-penembak-jitu-paling-terbaik-di.html
Konten ini memiliki hak cipta
Sunday, October 20, 2013
Be a Mom
Dalam berbagai kesempatan, aku sering bertemu perempuan-perempuan 'ibu' yang luar biasa. Ya, kesempatan ini sangat sering karena aku sendiri juga seorang ibu. Mengantar anak dalam satu kegiatan akan ketemu ibu-ibu, ke pesta kondangan ketemu dengan ibu-ibu, ke sekolah ya ketemu ibu-ibu, keluar rumah di halaman rumah, di pasar dan sebagainya.
Sebagian dari ibu-ibu bisa menjadi teman ngobrol yang sungguh asyik. Sebagian dari mereka itu yang terlihat di foto. Mereka itu biasa aku sapa dengan Mbak Neni (tengah) dan Bu Pur (kanan). Aku tidak terlalu sering bertemu dengan mereka, tapi kalau ada kesempatan bertemu pasti menjadi perjumpaan yang asyik. Dan yang penting, nyambung (Soal nyambung ini memang agak susah ditemukan dengan sembarang ibu-ibu. Aku selalu merasa punya dunia yang berbeda sehingga ada banyak minatku yang tidak bisa mereka pahami, sedang minat mereka tidak aku pahami.)
Dua ini termasuk yang bisa kupahami, karena mungkin aku punya kesabaran mendengarkan mereka dan kami saling menaruh respek satu sama lain. Keduanya punya kesamaan. Mereka perempuan-perempuan yang mandiri. Punya keinginan dan mereka usahakan hal itu. Tapi mereka juga orang-orang yang larut dalam perannya yang kuat bersama anak-anak mereka. Bagian yang inilah yang sering aku gali dari mereka. Kebetulan bu Pur punya 4 anak yang usianya sudah di atas usia anak-anakku. Aku belajar darinya tentang masalah-masalah yang muncul dalam perkembangan anak-anak. Tentang mbak Neni aku belajar tentang komitmennya dan kerja kerasnya.
Hmmm, menjadi ibu bukan perkara sulit, tapi juga bukan perkara yang mudah. Hingga Albert usia 12 tahun dan Bernard 9 tahun, aku masih harus sering belajar untuk menjadi ibu, khususnya menjadi ibu yang baik. Dekat dengan ibu-ibu hebat macam mereka membuatku belajar lebih cepat. Matur nuwun nggih...
Sebagian dari ibu-ibu bisa menjadi teman ngobrol yang sungguh asyik. Sebagian dari mereka itu yang terlihat di foto. Mereka itu biasa aku sapa dengan Mbak Neni (tengah) dan Bu Pur (kanan). Aku tidak terlalu sering bertemu dengan mereka, tapi kalau ada kesempatan bertemu pasti menjadi perjumpaan yang asyik. Dan yang penting, nyambung (Soal nyambung ini memang agak susah ditemukan dengan sembarang ibu-ibu. Aku selalu merasa punya dunia yang berbeda sehingga ada banyak minatku yang tidak bisa mereka pahami, sedang minat mereka tidak aku pahami.)
Dua ini termasuk yang bisa kupahami, karena mungkin aku punya kesabaran mendengarkan mereka dan kami saling menaruh respek satu sama lain. Keduanya punya kesamaan. Mereka perempuan-perempuan yang mandiri. Punya keinginan dan mereka usahakan hal itu. Tapi mereka juga orang-orang yang larut dalam perannya yang kuat bersama anak-anak mereka. Bagian yang inilah yang sering aku gali dari mereka. Kebetulan bu Pur punya 4 anak yang usianya sudah di atas usia anak-anakku. Aku belajar darinya tentang masalah-masalah yang muncul dalam perkembangan anak-anak. Tentang mbak Neni aku belajar tentang komitmennya dan kerja kerasnya.
Hmmm, menjadi ibu bukan perkara sulit, tapi juga bukan perkara yang mudah. Hingga Albert usia 12 tahun dan Bernard 9 tahun, aku masih harus sering belajar untuk menjadi ibu, khususnya menjadi ibu yang baik. Dekat dengan ibu-ibu hebat macam mereka membuatku belajar lebih cepat. Matur nuwun nggih...
Friday, October 18, 2013
Sunday, October 13, 2013
Teman Tengah Malam
Malam tak pernah bisa berlari
kaki-kakinya adalah udara basah
yang menghablur di ujung daun.
Darinya aku mengambil kunci
dari kantung-kantung rahasia
yang tergantung di hening langut.
Aku tak bisa merasakan sepi
apalagi setelah menyentuh sisi nampan
yang disodorkan oleh beda waktu.
Ini hanya sisi lain letak matahari
kita berada di waktu yang sama
sedikit beda karena kau di siangmu
dan aku di malamku.
kaki-kakinya adalah udara basah
yang menghablur di ujung daun.
Darinya aku mengambil kunci
dari kantung-kantung rahasia
yang tergantung di hening langut.
Aku tak bisa merasakan sepi
apalagi setelah menyentuh sisi nampan
yang disodorkan oleh beda waktu.
Ini hanya sisi lain letak matahari
kita berada di waktu yang sama
sedikit beda karena kau di siangmu
dan aku di malamku.
Saturday, October 12, 2013
Non Est Personarum Acceptor Deus
Mgr.
Yohanes Harun Yuwono, Uskup baru untuk Keuskupan Tanjungkarang sudah dipilih dan
diangkat oleh Paus Fransiskus. Pengumuman disampaikan secara resmi oleh Tahta
Suci Kepausan Vatikan pada Jumat, 19 Juli 2013 pukul 17.00 WIB (12.00 waktu
Roma). Uskup baru ini menggantikan Mgr. Andreas Henrisoesanta yang sudah
disetujui pengunduran dirinya oleh Vatikan pada 7 Juli 2012.
Uskup
Keuskupan Tanjungkarang ditahbiskan oleh Mgr. Aloysius Sudarso, Uskup Keuskupan Agung Palembang di Kompleks Sekolah Xaverius dan Fransiskus,
Pahoman, Bandarlampung pada Kamis, 10 Oktober 2013, dimulai pada pukul 09.00
sampai selesai. Ekaristi
pentahbisan ini dihadiri Duta Besar Vatikan Antonio Guido Filipazzi, para uskup
dari 36 keuskupan di Indonesia, para pejabat pemerintahan Lampung, para
undangan serta sekitar 7000 umat dari 21 paroki yang ada di Keuskupan
Tanjungkarang. Dalam pentahbisan ini, para uskup yang hadir menumpangkan tangan
pada uskup terpilih Keuskupan Tanjungkarang dan menerimanya sebagai rekan.
Motto
uskup adalah “Non Est Personarum Acceptor Deus (Allah tidak membedakan
orang.) Kis, 10 : 34. Motto ini menjadi ajakan bagi umat Keuskupan
Tanjungkarang untuk menyadari kehadirannya di “Sai Bumi Ruwa Jurai”
Lampung sebagai orang beriman Katolik dan sekaligus sebagai bagian dari seluruh
masyarakat. “Siapa pun mereka dan dari mana pun asalnya dibimbing, dituntun dan
diajak untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian. Inilah persaudaraan sejati
dalam perziarahan menuju keselamatan berdasarkan iman akan Allah yang
menghendaki semua orang selamat.”
Tuesday, October 08, 2013
Kopi (Pagi) yang Terlalu (Tidak) Manis
Rencananya, pagi akan mengundang kita berdua
duduk berhadapan di meja bundar angkasanya
dengan secangkir kopi di masing-masing sisi
sebelum berbincang tentang angin salah musim,
kemarin.
Sayang, pagi salah menimbang gula beda takar
yang disadari saat lidahnya mengecap kelakar
iseng tanpa praduga tapi lalu rusak jadi marah
tak ada lagi yang sisa selain tangisan tumpah,
batal.
Jadi, jangan harap ada perjumpaan sekarang
sampai pagi mampu membenahi seluruh ruang
jangan tanya angin hujan atau kesalahan cuaca
karena kita tak akan berjumpa tanpa undangan,
pagi.
Atau, mari santai dulu menunggu seseorang lain
membakar kemenyan dan merangkai sesaji
dapat kita runut asapnya sampai di hulu bara
di situ pasti ada perjumpaan di arang terbakar,
mesra.
duduk berhadapan di meja bundar angkasanya
dengan secangkir kopi di masing-masing sisi
sebelum berbincang tentang angin salah musim,
kemarin.
Sayang, pagi salah menimbang gula beda takar
yang disadari saat lidahnya mengecap kelakar
iseng tanpa praduga tapi lalu rusak jadi marah
tak ada lagi yang sisa selain tangisan tumpah,
batal.
Jadi, jangan harap ada perjumpaan sekarang
sampai pagi mampu membenahi seluruh ruang
jangan tanya angin hujan atau kesalahan cuaca
karena kita tak akan berjumpa tanpa undangan,
pagi.
Atau, mari santai dulu menunggu seseorang lain
membakar kemenyan dan merangkai sesaji
dapat kita runut asapnya sampai di hulu bara
di situ pasti ada perjumpaan di arang terbakar,
mesra.
Saturday, October 05, 2013
Haruki Murakami : Norwegian Wood
Judul : Norwegian Wood (Noruwei no Mori)
Penulis : Haruki Murakami
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh : Jonjon Johana
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : 2013
Isi : i + 423
Ukuran : 13,5 cm X 20 cm
ISBN : 978-979-91-0563-9
Setelah beberapa lama hanya tersuruk di rak, aku bisa menyelesaikan buku ini hanya dalam 3 hari di sela-sela kegiatan-kegiatanku. Karena sebelum buku ini aku membaca Wally Lamb yang I Know This Much is True, spontan perbandingan muncul di otakku.
Okey, persamaannya dulu ya. Pertama, sama-sama memakai sudut pandang orang pertama. Aku-nya Wally adalah Dominick, sedang aku-nya Haruki adalah Wanatabe. Kedua, sama-sama menyodorkan tokoh utama, orang terdekat, yang menderita suatu 'gangguan kejiwaan'. Pasangan Dominick adalah Thomas, kembarannya, yang masuk Rumah Sakit Jiwa Hatch, sedang pasangan Watanabe adalah Naoko, yang masuk ke tempat rehabilitasi Asrama Ami. Ketiga, sama-sama menyajikan relasi manusia yang sangat jujur, kadang membuatku sebal karena kelewat vulgar. Ketiga, mereka sama-sama detail.
Perbedaannya jelas juga. Pertama, buku Wally sangat tebal, si Haruki hanya separonya. Waktu membacanya pun aku butuh waktu lebih dari dua kali lipat ketika aku membaca Haruki ini. Kedua, settingnya dan warnyanya jelas beda. Satu di Amerika, satunya di Jepang, walau Haruki sepertinya sangat terpengaruh Amerika juga. Ketiga, aku merasakan 'sesuatu' yang sangat kuat saat membaca Wally. Bahkan di bagian akhirnya, ketika dia mulai melembut untuk sebuah happy ending, aku menangis sampai terguguk pagi-pagi sendirian di kantor. Dengan Haruki, aku tidak merasakan perasaan yang kuat. Entah mengapa, rasanya terlalu biasa. Bahkan aku nyaris putus asa hingga 2 per tiga halaman aku belum mendapat sesuatu yang cukup kuat. Apa pengaruh terjemahannya ya? Entah. Keempat, endingnya Wally sangat jelas, sedang si Haruki membiarkannya menggantung, menawarkan beragam imajinasi.
Norwegian Wood ini kisah tentang seorang remaja beranjak dewasa di tahun 60-an. Ini semacam kilas balik di saat usianya 37 tahun, yang mengingat kembali seorang gadis masa lalunya karena lagu Norwegian Wood dari Beatles yang mengalun dari pesawat yang sedang mendarat. Naoko adalah seorang gadis mantan pacar temannya yang sangat dekat dengan si penutur, Watanabe, dalam relasi yang mendalam, tapi tak bisa berkembang dalam relasi yang normal karena gangguan kejiwaan yang diderita Naoko, yang juga kemudian membuat gadis itu bunuh diri. Novel ini begitu jelas mengungkap kehidupan seks bebas di Jepang pada tahun itu di kalangan remaja dan dewasa. Jika berharap ada warna tradisional atau Asia semacam film atau buku lain dari Jepang yang pernah kulihat atau kubaca, jangan harap hal itu muncul dalam novel ini. Kisah ini begitu modern dan ... hmmm, begitu Barat. ***
Penulis : Haruki Murakami
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh : Jonjon Johana
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : 2013
Isi : i + 423
Ukuran : 13,5 cm X 20 cm
ISBN : 978-979-91-0563-9
Setelah beberapa lama hanya tersuruk di rak, aku bisa menyelesaikan buku ini hanya dalam 3 hari di sela-sela kegiatan-kegiatanku. Karena sebelum buku ini aku membaca Wally Lamb yang I Know This Much is True, spontan perbandingan muncul di otakku.
Okey, persamaannya dulu ya. Pertama, sama-sama memakai sudut pandang orang pertama. Aku-nya Wally adalah Dominick, sedang aku-nya Haruki adalah Wanatabe. Kedua, sama-sama menyodorkan tokoh utama, orang terdekat, yang menderita suatu 'gangguan kejiwaan'. Pasangan Dominick adalah Thomas, kembarannya, yang masuk Rumah Sakit Jiwa Hatch, sedang pasangan Watanabe adalah Naoko, yang masuk ke tempat rehabilitasi Asrama Ami. Ketiga, sama-sama menyajikan relasi manusia yang sangat jujur, kadang membuatku sebal karena kelewat vulgar. Ketiga, mereka sama-sama detail.
Perbedaannya jelas juga. Pertama, buku Wally sangat tebal, si Haruki hanya separonya. Waktu membacanya pun aku butuh waktu lebih dari dua kali lipat ketika aku membaca Haruki ini. Kedua, settingnya dan warnyanya jelas beda. Satu di Amerika, satunya di Jepang, walau Haruki sepertinya sangat terpengaruh Amerika juga. Ketiga, aku merasakan 'sesuatu' yang sangat kuat saat membaca Wally. Bahkan di bagian akhirnya, ketika dia mulai melembut untuk sebuah happy ending, aku menangis sampai terguguk pagi-pagi sendirian di kantor. Dengan Haruki, aku tidak merasakan perasaan yang kuat. Entah mengapa, rasanya terlalu biasa. Bahkan aku nyaris putus asa hingga 2 per tiga halaman aku belum mendapat sesuatu yang cukup kuat. Apa pengaruh terjemahannya ya? Entah. Keempat, endingnya Wally sangat jelas, sedang si Haruki membiarkannya menggantung, menawarkan beragam imajinasi.
Norwegian Wood ini kisah tentang seorang remaja beranjak dewasa di tahun 60-an. Ini semacam kilas balik di saat usianya 37 tahun, yang mengingat kembali seorang gadis masa lalunya karena lagu Norwegian Wood dari Beatles yang mengalun dari pesawat yang sedang mendarat. Naoko adalah seorang gadis mantan pacar temannya yang sangat dekat dengan si penutur, Watanabe, dalam relasi yang mendalam, tapi tak bisa berkembang dalam relasi yang normal karena gangguan kejiwaan yang diderita Naoko, yang juga kemudian membuat gadis itu bunuh diri. Novel ini begitu jelas mengungkap kehidupan seks bebas di Jepang pada tahun itu di kalangan remaja dan dewasa. Jika berharap ada warna tradisional atau Asia semacam film atau buku lain dari Jepang yang pernah kulihat atau kubaca, jangan harap hal itu muncul dalam novel ini. Kisah ini begitu modern dan ... hmmm, begitu Barat. ***
Monday, September 30, 2013
The Temptation
Monday, September 23, 2013
Wally Lamb : I Know This Much is True
Judul asli : I Know This Much is True
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul :Sang Penebus
Penulis : Wally Lamb
Alih Bahasa : Esti A. Budihabsari
Isi : 951 hlm.
Cetakan : I, November 2007
Penerbit : Qanita, Bandung
ISBN : 979-3269-66-5
Setelah bekerja keras untuk penyuntingan Majalah Nuntius edisi bulan ini, rasanya aku berhak mendapatkan hadiah. Hadiah itu dibeli sendiri di Toko Buku Bandung (hehehe...) minggu lalu dengan harga Rp. 78.000,- setelah diskon dan dapat bonus sampul plastik (Salah satu keuntungan beli buku di toko ini buku bisa langsung disampul. Kalau mengerjakan sendiri bisa-bisa nunggu setahun baru selesai sampulnya. Hehehe...)
Hingga sekarang, aku baru sampai pada halaman 184 dari 951 halaman yang ada. Buku ini sangat tebal, nyaris 5 cm tebalnya. Okey, jadi aku memang belum tahu alur ceritanya secara lengkap. Tapi sejauh ini, aku melihat betapa Wally bercerita dengan sangat kompleks dan sangat 'tega' pada tokoh-tokohnya.
Lihat saja. Tokoh sentral adalah Thomas dan Dominick, pasangan kembar identik yang lahir tepat pergantian tahun. Yang pertama lahir di tahun yang lama, dan yang lain lahir di tahun yang baru. Ibunya seorang sumping, hingga pada halaman ini belum ketahuan siapa ayah kandung mereka tapi mereka punya bapak angkat bernama Ray, yang sangat keras dan ringan tangan.
Thomas harus dimasukkan dalam rumah sakit jiwa karena tindakannya yang tidak biasa. Dia kecanduan Yesus dengan cara yang membahayakan. Matius 5 : 29 - 30 "Dan jika matamu yang kanan menyesatkanmu, cungkillah dan buanglah itu... Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu daru anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu secara utuh dicampakkan dalam neraka."
Maka Thomas mengiris tangan kanannya hingga putus dan dilemparkannya di lantai perpustakaan, dan karenanya dia mendapat penanganan khusus di rumah sakit hingga akhirnya harus masuk dalam rehabilitasi sakit jiwa.
Dominick malah cenderung tidak percaya Tuhan dan mengolok-olok keberadaan Yesus. Namun dia bertanggungjawab penuh atas kakak kembarnya terlebih sejak ibunya meninggal. Salah satu warisan ibunya adalah kisah kakeknya yang ditulis dalam bahasa Italia. Kakeknya selalu menjadi orang paling top bagi ibunya.
Aku belum tahu kelanjutannya, tapi aku kira kisah sang kakek ini akan menjadi pembuka banyak kisah lain dalam cerita Wally ini. Dengan berbagai kesibukanku akhir-akhir ini entah berapa lama hampir 1000 halaman ini bisa kuselesaikan. Tapi santai saja, aku pasti bisa mengambil waktu-waktu di sela-sela itu. Wally akan jadi temannu hingga beberapa hari mendatang, pasti menyenangkan. ***
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul :Sang Penebus
Penulis : Wally Lamb
Alih Bahasa : Esti A. Budihabsari
Isi : 951 hlm.
Cetakan : I, November 2007
Penerbit : Qanita, Bandung
ISBN : 979-3269-66-5
Setelah bekerja keras untuk penyuntingan Majalah Nuntius edisi bulan ini, rasanya aku berhak mendapatkan hadiah. Hadiah itu dibeli sendiri di Toko Buku Bandung (hehehe...) minggu lalu dengan harga Rp. 78.000,- setelah diskon dan dapat bonus sampul plastik (Salah satu keuntungan beli buku di toko ini buku bisa langsung disampul. Kalau mengerjakan sendiri bisa-bisa nunggu setahun baru selesai sampulnya. Hehehe...)
Hingga sekarang, aku baru sampai pada halaman 184 dari 951 halaman yang ada. Buku ini sangat tebal, nyaris 5 cm tebalnya. Okey, jadi aku memang belum tahu alur ceritanya secara lengkap. Tapi sejauh ini, aku melihat betapa Wally bercerita dengan sangat kompleks dan sangat 'tega' pada tokoh-tokohnya.
Lihat saja. Tokoh sentral adalah Thomas dan Dominick, pasangan kembar identik yang lahir tepat pergantian tahun. Yang pertama lahir di tahun yang lama, dan yang lain lahir di tahun yang baru. Ibunya seorang sumping, hingga pada halaman ini belum ketahuan siapa ayah kandung mereka tapi mereka punya bapak angkat bernama Ray, yang sangat keras dan ringan tangan.
Thomas harus dimasukkan dalam rumah sakit jiwa karena tindakannya yang tidak biasa. Dia kecanduan Yesus dengan cara yang membahayakan. Matius 5 : 29 - 30 "Dan jika matamu yang kanan menyesatkanmu, cungkillah dan buanglah itu... Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu daru anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu secara utuh dicampakkan dalam neraka."
Maka Thomas mengiris tangan kanannya hingga putus dan dilemparkannya di lantai perpustakaan, dan karenanya dia mendapat penanganan khusus di rumah sakit hingga akhirnya harus masuk dalam rehabilitasi sakit jiwa.
Dominick malah cenderung tidak percaya Tuhan dan mengolok-olok keberadaan Yesus. Namun dia bertanggungjawab penuh atas kakak kembarnya terlebih sejak ibunya meninggal. Salah satu warisan ibunya adalah kisah kakeknya yang ditulis dalam bahasa Italia. Kakeknya selalu menjadi orang paling top bagi ibunya.
Aku belum tahu kelanjutannya, tapi aku kira kisah sang kakek ini akan menjadi pembuka banyak kisah lain dalam cerita Wally ini. Dengan berbagai kesibukanku akhir-akhir ini entah berapa lama hampir 1000 halaman ini bisa kuselesaikan. Tapi santai saja, aku pasti bisa mengambil waktu-waktu di sela-sela itu. Wally akan jadi temannu hingga beberapa hari mendatang, pasti menyenangkan. ***
Friday, September 20, 2013
A part of Sri Lanka 7 : Here Now
(Kisah sebelumnya)
Perjalanan 8 hari sudah selesai. Aku lelah dengan berbagai dinamika naik turunnya perasaanku selama di Sri Lanka. Di hari terakhir aku sungguh berharap ingin segera sampai rumah dan tidur nyenyak. Tidur nyenyak hanya bisa terjadi di rumah (Hmmm..., lain waktu mesti mbahas soal 'rumah'.). Tapi mana bisa? Enak saja pergi gratis semata grace dibayari orang lain kok kemudian mau enak-enak tidur nyenyak.
Lihat saja. Begitu tiba di Bandaranaike subuh buta (Malam sebelumnya tidur di salah satu hotel dekat bandara karena penerbangan balik Jakarta sangat pagi, jam 07.15. Jam 04.00 mobil hotel sudah menunggu di depan hotel untuk ngantar.) setelah urusan boarding pass dan imigrasi beres, duduk manis di ruang tunggu. Masih ada waktu sekitar 2 jam. Beberapa ribu rupee Sri Lanka aku habiskan di gerai Odel yang ada di bandara untuk tiga kaos hitam buat para kekasihku, beberapa batang pensil (hehehe) dan sebuah hiasan dinding. Rupee Sri Lanka gak akan laku di Indonesia, jadi lebih baik tidak dibawa pulang kecuali beberapa recehan untuk kenang-kenangan.
Segera aku dapat mengenali rombongan-rombongan dari Indonesia atau menuju Indonesia. Dan jika mereka berada dalam rombongan seperti itu, bisa dipastikan mereka adalah tenaga-tenaga kerja dari Indonesia yang sedang transit. Dalam pesawat ada lebih 20 perempuan dari Indonesia yang sedang pulang kampung dari berbagai negara di daerah Arab.
"Belum habis kontrak, bu. Tapi mau pulang saja," ujar seseorang yang mengaku dari Indramayu. Dia bekerja di Abu Dabi sekitar 6 bulan, dan ternyata gaji yang dia terima tidak cocok dengan yang dijanjikan. "Katanya digaji 800, ternyata hanya diberi 60 sama majikan. Tidak kerasan."
Seorang lain dari Kerawang, masih muda sekitar 20-an tahun sudah 2 tahun bekerja di Oman (Oman tuh mana ya? Entar aku cek di peta.) Dia kelihatan segar dan gembira. "Kangen rumah, bu. Ini baru habis kontrak dan pengin pulang dulu. Nanti mau pergi lagi, tapi penginnya ke Taiwan atau Hongkong saja. Katanya di sana gaji lebih besar dan enak."
Kebanyakan para tenaga kerja ini perempuan walau aku melihat ada beberapa bapak atau pemuda yang berada dalam rombongan. Beberapa di antara mereka kelihatan tegak percaya diri tapi sebagian dengan wajah kuyu capek. Kita bisa menduga cerita di belakangnya dari wajah-wajah mereka itu.
Begitu tiba di Indonesia, berita-berita baru mulai masuk telinga. Anak si Dani yang menabrak hingga menewaskan orang, Vickinisasi yang tengah heboh, Wilfrida yang sedang menunggu hukuman gantung di Malaysia, pilgub Lampung yang entah, dll dll, dll. Jadi, tak ada waktu untuk tidur nyenyak. Berjuang! Jaringan termasuk jaringan Asia - Pasifik akan mempunyai peran nanti entah seberapa besar.
Ohya, tentu saja aku punya lebih banyak oleh-oleh selain yang sudah aku tulis di blog ini. Sebagian akan aku sebar dalam puisi-puisi romantis melankolis sok dalam, sebagian akan muncul di cerpen-cerpen tertentu, sebagian lagi jadi bahan cerewet untuk orang-orang kasihan yang kebetulan ada di sekitarku, dan sebagainya. Jika ada yang ingin aku bagi lagi, tentu juga akan muncul di blog ini lagi suatu ketika nanti. Aku akan merindukan Sri Lanka bahkan juga dengan kari-karinya. Sungguh. *** (Selesai)
| Bandaranaike International Airport |
Lihat saja. Begitu tiba di Bandaranaike subuh buta (Malam sebelumnya tidur di salah satu hotel dekat bandara karena penerbangan balik Jakarta sangat pagi, jam 07.15. Jam 04.00 mobil hotel sudah menunggu di depan hotel untuk ngantar.) setelah urusan boarding pass dan imigrasi beres, duduk manis di ruang tunggu. Masih ada waktu sekitar 2 jam. Beberapa ribu rupee Sri Lanka aku habiskan di gerai Odel yang ada di bandara untuk tiga kaos hitam buat para kekasihku, beberapa batang pensil (hehehe) dan sebuah hiasan dinding. Rupee Sri Lanka gak akan laku di Indonesia, jadi lebih baik tidak dibawa pulang kecuali beberapa recehan untuk kenang-kenangan.
Segera aku dapat mengenali rombongan-rombongan dari Indonesia atau menuju Indonesia. Dan jika mereka berada dalam rombongan seperti itu, bisa dipastikan mereka adalah tenaga-tenaga kerja dari Indonesia yang sedang transit. Dalam pesawat ada lebih 20 perempuan dari Indonesia yang sedang pulang kampung dari berbagai negara di daerah Arab.
"Belum habis kontrak, bu. Tapi mau pulang saja," ujar seseorang yang mengaku dari Indramayu. Dia bekerja di Abu Dabi sekitar 6 bulan, dan ternyata gaji yang dia terima tidak cocok dengan yang dijanjikan. "Katanya digaji 800, ternyata hanya diberi 60 sama majikan. Tidak kerasan."
Seorang lain dari Kerawang, masih muda sekitar 20-an tahun sudah 2 tahun bekerja di Oman (Oman tuh mana ya? Entar aku cek di peta.) Dia kelihatan segar dan gembira. "Kangen rumah, bu. Ini baru habis kontrak dan pengin pulang dulu. Nanti mau pergi lagi, tapi penginnya ke Taiwan atau Hongkong saja. Katanya di sana gaji lebih besar dan enak."
Kebanyakan para tenaga kerja ini perempuan walau aku melihat ada beberapa bapak atau pemuda yang berada dalam rombongan. Beberapa di antara mereka kelihatan tegak percaya diri tapi sebagian dengan wajah kuyu capek. Kita bisa menduga cerita di belakangnya dari wajah-wajah mereka itu.
Begitu tiba di Indonesia, berita-berita baru mulai masuk telinga. Anak si Dani yang menabrak hingga menewaskan orang, Vickinisasi yang tengah heboh, Wilfrida yang sedang menunggu hukuman gantung di Malaysia, pilgub Lampung yang entah, dll dll, dll. Jadi, tak ada waktu untuk tidur nyenyak. Berjuang! Jaringan termasuk jaringan Asia - Pasifik akan mempunyai peran nanti entah seberapa besar.
Ohya, tentu saja aku punya lebih banyak oleh-oleh selain yang sudah aku tulis di blog ini. Sebagian akan aku sebar dalam puisi-puisi romantis melankolis sok dalam, sebagian akan muncul di cerpen-cerpen tertentu, sebagian lagi jadi bahan cerewet untuk orang-orang kasihan yang kebetulan ada di sekitarku, dan sebagainya. Jika ada yang ingin aku bagi lagi, tentu juga akan muncul di blog ini lagi suatu ketika nanti. Aku akan merindukan Sri Lanka bahkan juga dengan kari-karinya. Sungguh. *** (Selesai)
A part of Sri Lanka 6 : Gaudium et Spes
(Kisah sebelumnya)
Bulan lalu dalam pertemuan Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) ke 15 di Semarang, dalam salah satu sesi ada study tentang Konsili Vatikan II. Dari sana yang nyantel di hatiku tentang Rerum Novarum. Dokumen tua milik Gereja Katolik ini tak sudah juga menjadi kekayaan yang konkret. Sebagian besar masih disimpan saja dalam peti emas pemikiran para pakar Gereja. Juga dokumen-dokumen turunannya, baru sedikit sekali diketahui, dipelajari apalagi dihayati, dihidupi, dikonkretkan.
Dalam JP Workers Asia Pasific Forum ke 9 kali ini di Sri Lanka, ada kesempatan setengah hari belajar tentang Konsili Vatikan II. Kali ini yang nyantol di hatiku adalah Gaudium et Spes, sesuai dengan tema yang diangkat dalam berbagai perbincangan. "KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga." (GS 1)
Fr. Reid Shelton Fernando membantuku melihat beberapa hal menarik yang sekaligus menusuk hati. Betapa mimpi dari Konsili Vatikan II sangat tepat dirumuskan dan diteruskan dalam banyak dokumen Gereja. Jika orang-orang yang ada di dalamnya punya waktu sedikit saja untuk mencermatinya, tidak melulu berada di dekat altar di dalam gereja yang indah itu, kita semua akan mendapatkan pencerahan bagi dunia yang lebih indah. Sehingga sugesti dari "di atas bumi seperti di dalam surga" bisa lebih cepat terpenuhi.
Sayang sekali tidak banyak yang percaya pada dokumen-dokumen ini selain sebagai kebanggaan akan kekayaan pemikiran. Tentu saja! Tuntutan dari Konsili Vatikan II ini berat, bro! Tuntutannya adalah terlibat bersama orang miskin dan tertindas. Emang enak bersahabat dengan mereka? Orang miskin itu repot dan merepotkan, kotor dan bau! Hooo, lebih enak bersahabat dengan orang punya duit punya mobil, ndak repot.
Tuntutan-tuntutan lain banyak. Jika mau mulai tahu, baca dulu dokumennya. Yang awal baik juga dengan membaca Gaudium et Spes ini. Ini salah satu link yang bisa diklik untuk bahasa Indonesia. Dan yang ini in English. *** (Bersambung)
Bulan lalu dalam pertemuan Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) ke 15 di Semarang, dalam salah satu sesi ada study tentang Konsili Vatikan II. Dari sana yang nyantel di hatiku tentang Rerum Novarum. Dokumen tua milik Gereja Katolik ini tak sudah juga menjadi kekayaan yang konkret. Sebagian besar masih disimpan saja dalam peti emas pemikiran para pakar Gereja. Juga dokumen-dokumen turunannya, baru sedikit sekali diketahui, dipelajari apalagi dihayati, dihidupi, dikonkretkan.
Dalam JP Workers Asia Pasific Forum ke 9 kali ini di Sri Lanka, ada kesempatan setengah hari belajar tentang Konsili Vatikan II. Kali ini yang nyantol di hatiku adalah Gaudium et Spes, sesuai dengan tema yang diangkat dalam berbagai perbincangan. "KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga." (GS 1)
| Salah satu slide yang ditampilkan Ruki. |
Fr. Reid Shelton Fernando membantuku melihat beberapa hal menarik yang sekaligus menusuk hati. Betapa mimpi dari Konsili Vatikan II sangat tepat dirumuskan dan diteruskan dalam banyak dokumen Gereja. Jika orang-orang yang ada di dalamnya punya waktu sedikit saja untuk mencermatinya, tidak melulu berada di dekat altar di dalam gereja yang indah itu, kita semua akan mendapatkan pencerahan bagi dunia yang lebih indah. Sehingga sugesti dari "di atas bumi seperti di dalam surga" bisa lebih cepat terpenuhi.
Sayang sekali tidak banyak yang percaya pada dokumen-dokumen ini selain sebagai kebanggaan akan kekayaan pemikiran. Tentu saja! Tuntutan dari Konsili Vatikan II ini berat, bro! Tuntutannya adalah terlibat bersama orang miskin dan tertindas. Emang enak bersahabat dengan mereka? Orang miskin itu repot dan merepotkan, kotor dan bau! Hooo, lebih enak bersahabat dengan orang punya duit punya mobil, ndak repot.
Tuntutan-tuntutan lain banyak. Jika mau mulai tahu, baca dulu dokumennya. Yang awal baik juga dengan membaca Gaudium et Spes ini. Ini salah satu link yang bisa diklik untuk bahasa Indonesia. Dan yang ini in English. *** (Bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)








