Thursday, February 28, 2013

Nasi Kucing

Nasi kucing bukanlah nasi dengan lauk kucing atau nasi yang diperuntukkan bagi para kucing. Nama ini merunut pada porsinya yang sangat kecil, sedikit, yang tidak lazim untuk manusia yang tidak diet. Hanya segede porsi untuk kucing. Nasi sesendok ditambah lauk kering teri atau kering tempe atau bihun atau jenis tumisan yang lain, dibungkus dengan kertas nasi atau daun pisang.
Kebanyakan orang menganggap nasi kucing adalah jajanan tambahan. Porsinya yang kecil membuat siapapun yang makan tidak akan merasa kenyang hanya dengan satu bungkus saja. Ya, bisa dua atau tiga bungkus sekali makan. Namun bagi yang sedang program diet mengurangi nasi, ini makanan yang cocok untuk malam hari.Juga bagi yang sedang bokek, ini sangat pas. Hehehe...
Angkringan Mbah Jo
Nasi kucing adalah panganan yang khas di daerah Solo atau Jogja, biasanya dijual pada malam hari untuk melengkapi 'wedang'. Bisa wedang jahe, kopi, teh dan sebagainya. Sekarang nasi kucing sudah tersebar di banyak kota dan sangat diminati sebagai teman nongkrong.
Harganya sangat murah. Misal di Angkringan Mbah Jo yang buka tiap hari pada 18.00 - 22.00 di Gang Ratu Bandarlampung, seporsi nasi kucing dengan isian teri atau tempe bisa didapat dengan harga Rp. 2.000. Pun pembeli mendapat bonus sambel yang boleh ditambahkan sesuka hati. Untuk melengkapinya, pembeli bisa memilih aneka sate dan bacem yang tersaji. Sate hati/ampela/usus/telur puyuh atau bacem tempe/tahu/ceker.

Tuesday, February 26, 2013

VJ. Soeliham : "Yuli itu kodho!"

VJ. Soeliham
Tidak banyak orang yang bisa mengatakan,"Yuli itu kodho!" (Kodho (bahasa Jawa)= ngawur, tidak mikir, gebleg, dsb) Salah satu orang yang bisa mengatakan itu berkali-kali, langsung maupun tidak langsung padaku adalah Bapak VJ. Soeliham! Beliau ini adalah bapaknya Den Hendro, alias bapak mertuaku.
Salah satu alasan mengapa aku pantas disebut kodho menurut Pak Soeliham, misalnya saat aku mengirim sesuatu dengan perantaraan orang yang harusnya aku hormati. Nah, kesimpulannya aku tidak boleh menitip sesuatu kepada orang yang harusnya dihormati, kalau itu aku lakukan maka aku adalah Yuli si kodho, ngawur ndak mikir.
Aku pikir Pak Soeliham bukannya tidak menyukai ke-kodho-anku. Menurut banyak orang, dan keyakinanku, aku sudah disayangi oleh beliau ini jauh sebelum aku menjadi menantunya. Hehehe, ini jenis pikiran kodho lain tentunya. Tapi aku punya bukti kuat soal ini. Misal dulu waktu aku masih di Malang, kalau Pak Soeliham sempat mampir ke kostan, pasti aku bakal dapat tambahan uang saku. "Kanggo tambah naik angkot ya." Hehehe... Padahal waktu itu kan belum tentu aku jadi menantunya. Aku selalu diterima di rumah beliau entah saat masih di rumah dinas di Bagor maupun di rumah sendiri sekarang di Lumajang.
Ah, tentu saja aku sayang juga sama beliau. Aku telah menganggapnya sebagai bapak sendiri. Rasa sayang itu sekarang bercampur salut ketika mengetahui jalan hidupnya. Ssst, si bapak ini ternyata sangat pandai menulis. Kisah hidupnya telah dituang ke dalam tulisan puluhan halaman, dan akulah orang pertama yang boleh membacanya. Hebat tidak? Dan tulisannya, percayalah, bukan tulisan asal jadi. Itu tulisan berisi, bermutu, maka aku rela hati menyalinnya dalam ketikan.
Nah, aku sangat tidak keberatan jika dibilang,"Yuli itu kodho!" Pertama-tama karena diucapkan oleh Pak Soeliham. Kedua, karena aku menganggapnya sebagai ungkapan sayang bahwa aku telah dianggap sebagai anaknya sendiri, bukan hanya anak menantu. Ketiga, baiklah aku mengakui saja bahwa aku ini memang kodho.

Monday, February 25, 2013

Uban

Albert dan Bernard suka banget menggodaku dengan pura-pura akan mencabut uban-uban yang mulai berdatangan di kepalaku. Mereka tahu persis aku tidak suka uban-ubanku itu dicabut.
"Biarin saja, Bert, Nard. Kalau sudah putih semua, akan ibu cat rambut ibu warna biru. Keren kan?"
Ah tentu saja mereka protes, dan masih saja seringkali mereka ndusel sambil memaksa,"Rambut putihnya aku cabut ya bu?"
Bagiku, para uban ini adalah pengingat, supaya aku lebih tahu diri. "Mulai masuk ke dunia putih, dan meninggalkan dunia hitam!" Begitu kataku jika ada yang mulai komentar soal tumbuhnya uban-uban di kepalaku.
Dan aku bisa memakainya sebagai cara untuk memarahi anak-anak jika mereka terus saja ngeyel.
"Kalian itu ya, kalau tidak mau rambut ibu terus memutih, cepat mandi sana!" Hehehe apa hubungannya? Maka mereka sama sekali tidak menggubris. Lalu aku mengubah strategi, agak tenang merayu.
"Albert, Bernard, setiap menyuruh kalian, rambut putih ibu tumbuh satu. Jadi jangan nunggu disuruh dong. Cepat mandi sana!"
Dan, jelas anak-anakku yang membawa DNA dariku juga, tetep ngeyel cari-cari alasan menghindari jam mandi. Huh, uban-ubanku sama sekali tidak punya kasiat untuk hal-hal semacam itu.

Thursday, February 21, 2013

Angkringan Mbah Jo

Akhirnya, tiba juga saatnya. Mulai hari ini, Kamis Legi, 21 Pebruari 2013, pukul 18.00, Angkringan Mbah Jo siap dikunjungi. Mari teman, datanglah. Ini bukan warung, hanya satu ruang terbuka di mana siapapun boleh bertandang. Ya, tentu saja ada sego kucing, aneka bacem dan aneka wedang. Disediakan dengan penggantian murah (nasi kucing hanya Rp. 2.500, per porsi. jumlah banyak pasti diskon.), aneka bacem dengan harga Rp. 500,- - Rp. 2000,-, dan aneka wedang dari Rp. 2000 - Rp. 5000. Bisa juga nitip dibikinin mi rebus atau mi goreng. Monggo. Lokasinya di Gang Ratu, masuk saja sekitar 200 m. Boleh nongkrong lama-lama sampai tutup pada 22.00 sembari nemani yang njaga angkringan. Silakan bawa teman diskusi, buku, laptop atau apa saja.

Wednesday, February 20, 2013

Pantat Besi

Seseorang bersungut-sungut di bawah pohon, jauh dari ruang kelas sastra. Temannya yang kebetulan melintas bertanya apa yang menjadi masalahnya.
"Aku tidak percaya pada guru sastra di kelas itu."
"Mengapa begitu?"
"Dia orang yang plin-plan!"
"Menurutku dia orang yang baik."
"Aku sebutkan beberapa contoh.
Pertama, suatu ketika ketika aku bilang tidak punya keberanian menulis, dia mengatakan : Tulis saja, apapun. Tidak usah berpikir panjang. Tulis saja.
Lalu aku pun menulis. Hasilnya? Dia berkata : Hah, mana mungkin menulis tanpa kerangka gagasan. Mana detail tokoh, plot, dan settingnya?
Kedua, di kali lain dia berkata tulisanku terlalu banyak dialog, padahal menurutnya ada banyak dialog yang bisa dinarasikan. Kemudian ketika aku membuat tulisanku berupa narasi panjang lebar, dia berkata : Tambah dialognya.
 Ketiga, aku masih sabar, dia mengatakan tulisanku terasa lurus dan standar. Dia memintaku mengubahnya dengan metafora-metafora. Tapi kemudian, sesudah melihat tulisanku, dia berkata : Hilangkan kalimat-kalimat yang tidak perlu!
Keempat, aku sudah tidak sabar, dia pernah mengatakan bahwa penulis adalah pembaca. Baca apa saja untuk belajar. Baru saja dia berkata : Baca Pamuk, jangan Andrea!
Nah, menurutmu, apakah otakku yang tolol?"
Temannya tertawa terjengking-jengking.
"Jangan tunjukkan otakmu. Tidak ada masalah dengannya. Coba lihat pantatmu. Harusnya kau memakai pantat besi. Belajar sastra itu seperti duduk di atas kaktus!"
Temannya masih tertawa juga sambil melangkah pergi.

Monday, February 18, 2013

Diare

Dulu, tahun 1996-an, saat aku mengerjakan skripsi S1 di Tekonologi Pertanian Universitas Brawijaya, aku punya penyakit langganan : diare. Uniknya, diare ini aku idap saat pagi hari dimana aku harus kembali dari rumah Kediri untuk menuju Malang, tempat kostku. Kapanpun perjalanan itu akan kulakukan, pagi hari aku sudah diare. Berkali-kali aku harus ke WC. Bukan mustahil saat aku sudah dalam bis, mulas di perut masih berlanjut. Kalau sekarang aku lewat jalan-jalan antara Kediri - Malang, dengan naik Puspa Indah atau Harapan Kita, aku masih bisa mengenali beberapa WC umum atau rumah penduduk yang pernah aku singgahi untuk menuntaskan hajat. Begitu mulas, aku teriak ke sopir bis untuk berhenti, dan tergesa meminjam tempat di rumah-rumah, entah rumah siapapun. Ini benar-benar penyakit kronis dan berlangsung sekitar 1,5 tahun selama aku mengerjakan skripsi. Uniknya lagi, diare itu sama sekali hilang kalau aku sudah ada di kostan, atau sudah ada di rumah dan belum memikirkan untuk kembali ke Malang.
Umumnya diare terjadi karena gangguan dalam tubuh yang tidak bisa memproduksi enzim secara cukup untuk membasmi kuman atau bakteri dalam sistem pencernaan. Bisa karena suhu yang tidak sesuai, makanan yang mengandung racun, tubuh yang sedang melemah, dan sebagainya. Lalu, apa hubungannya skripsi dengan produksi enzim dalam tubuhku? Ini yang aku belum bisa menelaah lebih jauh.
Kemudian aku mengenali gejala-gejala baru dalam tubuhku. Penyebab tubuhku terganggu produksi enzimnya bukan hanya soal skripsi, tapi juga hal-hal lain yang berhubungan dengan 'skrip'. Ah, ini agak aneh. Khususnya akan muncul jika aku tidak bisa menuangkan dengan tepat isi otakku (yang terus terang sering sekali berantakan susunan memorynya) ke dalam rumusan kata-kata yang bisa dipahami oleh orang lain. Jadi ini kaitannya dengan tulisan yang dibaca oleh orang lain. Saat mengerjakan skripsi, kalimat tertulisku tidak dipahami dosen pembimbing, maka aku diare. Nah, kemudian saat mengerjakan tulisan lain, saat kalimat tertulisku tidak dipahami pembaca, maka aku diare. Ini tidak berlaku kalau bahasa lisanku tidak dipahami orang lain. Juga tidak terjadi pada bahasa tulisku yang tidak kuketahui komentar pembacanya.
Kenapa begitu ya? Hehehe... Aku berharap ini hanya salah satu bagian dari ke - lebay - anku. Aku tidak mau menganggap ini sebagai yang memang seharusnya terjadi pada tubuhku. Ahhh....ampun. Aku sedang diare akhir-akhir ini, lebih sering! Lebih serius!

Sunday, February 17, 2013

Mulai Pada Lipatan

hujan akan menjahit luka
katamu, jarum-jarum air
menisik secepat detik

catatanku sudah berbeda di bagian awal
tahun kala kau goreskan pisau potong
bertahun lipatan dibentuk hatinya
pun koyakan mengikut setiap lolong

kau sudah berdiri di cucuran salah
dibutuhkan bukan sekedar gerimis atau curahan
untuk lubang yang tercipta pada lipatan

hujan akan menjahit luka
kataku, jarum-jarum air
jadi penyembuh hanya saat langit
mulai menengok selokan
berhenti menganakemaskan samudera

sangat-sangat lama
karena nyata bagimu dia hanya lapar
sedang aku memandangmu

pembunuh


Friday, February 15, 2013

Aku Menuduh

Aku menuduhmu tidak akan pernah paham situasi ini. Tahun telah berganti dan kau masih memikirkan kulitku. Bagaimana kau melihat bagian dalam dari tubuhku ini? Marah dan sedihku sama sekali tidak masuk dalam perhitunganmu. Bahkan mungkin jika aku berangsur sakit dan gila, kau tidak akan pernah memahaminya.
Aku memilih untuk merenggut kemerdekaanmu. Kau paham atau tidak, aku akan tetap berjalan dalam merdekaku. Tentu saja aku berharap kau akan memperoleh pemahaman, karna jika tidak kau akan tertinggal jauh di belakangku.
Ini caraku bertahan. Aku menikmati kemerdekaanku, aku berjalan dalam panggilan yang sudah disuarakan padaku sebelum aku dilahirkan. Dirimu hanyalah alat bagi panggilan itu.
Tanpa harapan akan perubahanmu, hanya aku akan terus ingin maju.
Berkat dan doa aku tinggal untukmu.

Wednesday, February 13, 2013

Tuesday, February 12, 2013

Yogyakarta (3) : Menggunting pada Lipatan

Timur menarikku lebih jauh dari Yogyakarta. Menenggelamkan diri padanya, dalam renungan persis di gawang pintu rumah. Keluarga ini biasa melipat hatinya. Setiap kali tidak diurai tapi dilipat kembali. Ketika pisau potong mengalirkan goresan, betapa banyak guntingan dalam lipatan. Aku terpana ketika melihat dan merasa betapa banyaknya luka.
Tiket yang pernah diberikan tidaklah ada harganya, boleh dibuang kapan saja. Selebihnya hanya rangkulan, dan permohonan. Jalan boleh dipilih bebas oleh manusia dewasa, pun ketika keputusan itu memberikan banyak luka pada hati yang biasa dilipat.


Friday, February 08, 2013

Yogyakarta (2) Hanya Anak

Hanya bermain.
Beruntung Yogyakarta sangat sabar menemaniku untuk untuk memahami posisi. Yach, percakapan dalam ruang-ruang rapat KKPPMP-KWI sangatlah penting. Juga yang di luar ruangan pun menjadi penting. Ganjuran yang menyediakan pangkuan untuk mengisak, Merapi yang selalu bangga mengasapi kedukaan, Pelem Golek yang menyiapkan seluruh kegembiraan perut, juga seluruh perjalanan. Beberapa simpul aku buat untuk mengikat kepentingan-kepentingan itu.
Baiklah, pertama aku akan akui bahwa aku ini hanya anak. Anak selalu boleh menganggap bahwa apa saja yang disodorkan kepadanya sebagai mainan. Dia boleh memperlakukan dengan seluruh optimalitas tubuhnya, otaknya, hatinya. Saat anak masih bayi, dia punya tangan dan kaki serta mulut yang menarik semua mainan. Semakin anak berumur tangan sudah berkuku, kaki sudah bersepatu, dan mulut ternyata punya lidah dan ludah. Aku tinggal mengoptimalkan memainkan yang sudah disodorkan padaku.
Puncak Merapi dari Kaliadem.
Kedua, karena yang disodorkan hanyalah mainan, maka kesejatian ada pada sukacita. Pun ketika kantong-kantong air mata dikuras, itu hanyalah sisi-sisi sukacita. Tiada lain. Bagaimana menggali sukacita pada sebuah mainan adalah bakat dasar anak, karena dia yakin punya gantungan tempat merengek mengadu.
Ketiga, selalu ada kemerdekaan yang dimiliki anak. Taruhlah mainan, menyusu sebentar lalu terlelap. Atau sebelumnya boleh menangis sekuatnya semampunya, tapi ayunan tidur sudah terpasang. Usai mimpi-mimpi membuai, mainan lama atau baru sudah siap di depan mata.
(Specially thans for Mbakyu Amanda)

Tuesday, February 05, 2013

Yogyakarta (1)

Kali ini perjalanan ke Yogyakarta yang minim konsentrasi. Aku terpaku pada Kediri, nun beberapa ratus kilometer lagi ke arah Timur. Tapi Yogyakarta tidak pernah putus asa, merangkulku dalam guncangan bahkan ketika masih di atas awan-awan lapangan Adi Sucipto. Juga memandikanku dengan guyuran air.
Apapun, Yogyakarta harus dinikmati, sepanas apapun. Usai Ayam Panggang 3 Berku, yang sedap berlimpah di Kusumanegara, aku menyisakan energiku untuk Ronodigdayan. Yogyakarta memang selalu mampu memberi rangkulan hangat, dan hiburan. (bersambung)

Monday, February 04, 2013

Katrok

Bolehlah bilang aku katrok. Karena memang itulah yang sering terjadi. Banyak banget contohnya. Salah satunya kemarin, Minggu 3 Pebruari 2013, usai ngemsi di salah satu pertemuan aku mampir ke TB. Fajar Agung. Aku sudah janji sama Oky untuk mampir waktu launching buku Merajut Jurnalisme Damai di Lampung. Karena sudah sangat telat aku ambil posisi paling nyaman di belakang. Untung ada Isbedy Setiawan di salah salah satu sudut sehingga aku sempatin menyapa dan ngobrol sejenak.
Lalu ketika kaki sudah pegel (Saat ngemsi juga banyakan berdiri karena usai makan baju atasanku jadi sempit dan gak nyaman lagi dipakai duduk. Dan lagi sesuai suasana yang ingin dibangun, paling enak aku berdiri. Untung aku memakai selendang untuk menutupi perut. Hehehe...), aku cari kursi kosong di bagian belakang. Tidak banyak yang kukenal tapi sempat senyum sana senyum sini menyapa wajah-wajah familier di tempat itu.
Pulang mesti lebih awal karena aku janji makan malam dengan anak-anak dan bapaknya. Jadi aku ngacir duluan setelah pamit sama Oky, salah satu pengundangku. Nah, di sinilah katrokku berawal. (hehehe lebay dikit ya ceritanya.) Oky menitipkan salah satu temannya, yang mengenalkan diri sebagai Sidney. Okey, ayolah aku bonceng, tak ada ruginya.
Di jalan aku tanya Sidney dari mana, ada apa ke Lampung dan sebagainya. Dia bilang orang Amerika yang sudah sekian lama tinggal di Jakarta, dan ke Lampung untuk sebuah riset ke Mesuji. Nah, aku juga ngenalkan diri bla, bla, bla... Turun di depan hotel, perempuan kerempeng itu meminta nomor kontak, siapa tahu suatu ketika bisa ngobrol. Lalu dia memberikan kartu nama yang langsung aku surukkan ke saku tas. Aku tawarkan untuk kontak kapan saja jika berada di Lampung, siapa tahu bisa ngobrol, ngopi atau makan bareng suatu waktu. Dan dia mengucapkan terimakasih dengan janji akan kontak suatu ketika. Dia perempuan yang menyenangkan, pasti bisa menjadi teman yang menyenangkan pula.
Puncak katroknya setelah sampai rumah, aku tunjukkan kartu nama itu ke Den Hendro saat dia protes kok aku lambat sekali sampai di rumah. Dia bilang sangat kenal perempuan yang sudah aku boncengin itu. Are you sure?
"Dia itu sering muncul di media, say. Orang top dia itu."
Ah masa sih. Aku amati kartu nama itu. Sidney Jones, International Crisis Group. Ah, ya. Sedikit familier. Tapi, hehehe...aku sudah melewatkan saat untuk ngobrol dengannya. Karena satu alasan, katrok.

Saturday, February 02, 2013

Miss You, Tante.

Kunjungan Tante Nadet rupanya masih juga jadi buah bibir di rumah kecil kami. (Miss you, tante.) Tadi sore, tiba-tiba Bernard nyeletuk.
"Enak ya kalau Tante Nadet masih di sini. Coba kalau masih di sini."
"Weh, kenapa?"
"Dia lebih menghargai Monkey dari pada ibu, juga bapak."
Lah. Ini tuduhan serius nih. Memang kenapa?
"Iya begitu."
"Dari mana bisa lihat kalau Tante Nadet lebih menghargai Monkey?"
"Banyak."
"Ok. Sebutkan dua alasan!"
"Pertama,Tante Nadet mengajak bicara Monkey."
"Nah, ibu dan bapak juga ngajak bicara Monkey."
"Itu alasan kedua, Tante Nadet ngajak bicaranya sering. Gak nakal."
Ih. Gemes banget. Monkey, boneka monyet punya Albert itu memang kesayangan Bernard. Berkat Bernard, Monkey dapat hidup bergerak dan berbicara. Suatu waktu Bernard bilang bahwa dialah remotenya Monkey. Dan berkat Monkey, Bernad mendapat teman untuk bercakap-cakap. Sering aku dengar dia mengatakan ke Monkey,"You are my everything." Sebel gak. Kami, ibu bapaknya bersaing dengan Monkey untuk merebut perhatiannya. Gemes.

Wednesday, January 30, 2013

Lapar

Lagi pula itu memang rumah tua. Beberapa kusen jendela dan pintunya berbunyi,"Bong, bong, bong,..." jika kita mengetukkan siku jari di bagian-bagian tertentu. Menandakan bahwa kayu-kayu yang tampak mengkilat karena lapisan cat dan pernis itu sudah berongga. Tanda lain adalah pada tumpukan kotoran nener di beberapa sudut persis di bawah-bawah kayu.
Benar apa katamu, bahwa tidak berarti rumah itu harus dijual dengan murah. Seorang ahli Feng Shui mengatakan rumah dengan angin-angin besar di bagian timur dengan pintu saling silang dan dapur sebagai bagian terbesar dari masing-masing ruangan yang ada di dalam rumah mempunyai keberuntungan yang tinggi untuk menarik dan mempertahankan rejeki.
Bagiku, teori itu sama sekali menggelikan. Kalau memang demikian tentu aku sudah menjadi kaya raya karena sejak aku belum lahir, rohku sudah menempati rumah ini, karena ibuku sudah menempati rumah ini, juga nenekku, buyutku, dan para leluhurnya, karena aku belum pernah tinggal di manapun kecuali di rumah ini. Banyak benda di rumah ini menandakan bahwa penghuninya pernah kaya. Namun kaya dan pernah kaya tentu saja hal yang berbeda.
Aku sendiri tidak pernah kaya. Terbukti aku tadi menangis di hadapanmu hanya karena aku lapar. Aku telah merendahkan diri dengan ratapanku seperti pengemis. Rasa lapar yang menghimpit perutku dari semalam butuh suaranya. Dengarkah bunyi perutku yang tertahan oleh kembung? Terciumkan bau kentutku yang sering tak tertahan karena tekanan angin di lambungku sudah pada batasnya? Aku tidak bisa lagi konsentrasi pada tangis maupun perkataanku karena rasa lapar ini sudah menekan dadaku.
Dan aku ikut tertawa ketika kamu menertawakan ratapanku. Aku tergiring percaya padamu. Jika aku memang sedang lapar, tentu aku tidak akan tertawa. Begitu kan? Jadi aku tidak lapar. Buktinya aku tertawa. Ya, dan keyakinan itu yang kemudian memporakporandakan seluruh rencanaku selama ini. Kini aku ada di luar rumah tua, yang beberapa detik lalu menjadi rumahku dan sekarang bukan lagi rumahku karena aku sudah menukarnya dengan 100 piring nasi yang sudah berkurang 1 piring karena sudah kumakan tandas baru saja.
Ah, sudahlah. Ini hanya rumah tua. 99 piring yang tersisa akan menemani perjalanan ke rumah berikutnya tempat rohku bisa diistirahatkan. Kamu tidak harus menyesali katidakbisaanmu mengunjungiku sementara waktu. Dan kamu tidak harus mengikutiku karena aku tidak tahu kapan rumah rencanaku siap untuk kaukunjungi.

(Usai percakapan dengan Vikjen baru lalu. Jika aku terisak, dengarkah kau bunyi raungan yang harusnya terdengar karena ketiadaan harapan?)

Tuesday, January 29, 2013

Pembatas Buku


Uskup Myriel menjamuku di atas kandang sapi
tempat tidur musim dingin.
"Aku tidak tahu kamu akan datang."
Menutup malu tangannya berulang menyapu meja kayu,
lalu meletakkan roti gandum
dan segelas susu.
"Makanlah."
Hampir pasti aku mendengar keruyuk perutnya
di sela lenguh sapi,
tapi dia menatapku menyilakan.
Setiap gerak mulut aku mengunyah,
sepotong emosi terlumat.
Ludah yang bercampur glukosa tergelontor ke kerongkongan
menarik seluruh sesak ke arah penafasan,
terbuang melalui hidung.
Aliran susu gurih membujukku terpejam.
"Berbaringlah. Pagi ini aku punya beberapa janji. Setelah kau cukup istirahat,
kita akan berbincang. Tidurlah."
Uskup Myriel bangkit, membawa loyang dan gelas kosong,
melangkah, menutup pintu pelahan.
Aku sendiri di kamarnya yang hangat.


(Pembatas yang aku taruh pagi ini di halaman 32 Novel Les Miserables)

Monday, January 28, 2013

Novel Jane Austen : Pride and Prejudice

Judul Buku : Pride and Prejudice
Penulis : Jane Austin
Halaman : 588
Penerbit : Qanita
Cetakan IV : Juni 2011


Ketika memulai membaca buku ini, spontan aku ingat bahwa aku pernah membacanya, meski lupa kapan dimana pinjam siapa. Dan aku sudah langsung bisa tahu jalan cerita dan akhirnya seperti apa. Yeach, masalahnya aku membaca buku ini bukan soal untuk tahu ceritanya. Tapi untuk melihat apa yang membuat Jane dan Pride and Prejudice-nya ini bisa ngetop mulai dari jamannya, tahun 1800an dan bahkan diakui sebagai buku populer classic hingga kini.
Baiklah, jadi aku bertekun dan membutuhkan waktu sekitar 3 hari untuk menuntaskannya. Kisah yang biasa saja, seperti banyak yang terjadi pada tahun saat ditulis. Bagaimana kehidupan masyarakat Eropa dalam kelas-kelas sosial. Urusan penting seorang ibu untuk mendapat menantu yang dapat meningkatkan status sosial. Urusan warisan, pesta dansa, trik dan intrik kejam namun sopan dan lain-lain. Alurnya yang panjang bisa membuat bosan, dan lagi kalau dipikir-pikir, ceritanya daatttaaaarrrrr...sesuai kesantunan masa itu.
Yang membuat salut, Jane mampu menampilkan sosok Elizabeth Bennet, anak kedua dari 5 bersaudari, dengan sedikit perbedaan sikap. Periang, pemberani, dan tidak seperti biasanya gadis masa itu. Mungkin sikap yang ditampilkan dalam Elizabeth ini mewakili pandangan Jane. Dan itulah yang membuat Jane terasa jenius tidak biasa.
Jane menaruh 'obsesi' pada Elizabeth dengan segala karakter gadis yang nyleneh di jamannya. Berani mengungkapkan pendapat, mau jalan kaki sekian jauh untuk menjangkau kakaknya yang sakit, berani menolak lamaran seorang yang bisa menjadi sandaran aman warisan keluarga, dan sebagainya. Dan Jane memberikan yang terbaik pada akhir hidup Elizabeth kesayangannya itu. Dipertemukan dengan Darcy lewat pengenalan karakter terburuk dan terbaik, dalam emosi ketertarikan yang romantis, dan dari sana mengalir jaminan kehidupan secara sosial, materi dan cinta. Hufft, Jane terlalu menganakemaskan sosok ini.
Pasti proses penulisan Jane ini butuh energi yang luar biasa besar. Mulai ditulis 1796 dan berakhir dengan penerbitan pada 1813 adalah waktu yang sangat-sangat panjang. Dan perjuangan itu mencatatkan nama Jane sebagai seorang perempuan novelis yang terkenal dan mengilhami banyak penulis / pengkarya lain berdasar apa yang sudah dikisahkannya itu.
Jane Austen lahir 16 Desember 1775 dan meninggal 18 Juli 1817. Dia adalah novelis Inggris dengan gaya realisme. Berasal dari keluga bangsawan yang mendukung perkembangannya sebagai penulis profesional. Novelnya yang pernah terbit adalah Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park dan Emma. Ia menulis dua novel lainnya yang diterbitkan setelah kematiannya, yaitu Northanger Abbey dan Persuasion. Novel yang belum selesai ditulis saat kematiannya adalah Sanditon. 

Friday, January 25, 2013

Teluk Kiluan

Salah satu sudut Kiluan yang membuat jatuh hati.
Nama Teluk Kiluan sudah sangat menggelitik dari beberapa tahun lalu. Namun kesempatan untuk datang ke sana baru kesampaian sekarang. Ini pun berkat seorang katalisator dari jauh barat sana, Bernadetta Tarigan, yang berkunjung ke Lampung selama 3 hari kemarin. Dan aku masih menyimpan sisa beberapa lembar dollar dan ringgit di dompet sehingga ah... aman... Hehehe.
Secara umum sudah ngerti lokasi dan cara ke sana. Nah tinggal rencana praktisnya saja. Kontak Pak David (085357395993) untuk sewa mobil plus sopir untuk 2 hari (per hari Rp. 400.000,- plus sopir, belum termasuk bensin), lalu kontak Pak Solihin (081369997831) sewa ketinting (jukung/sampan) untuk lihat lumba-lumba pada Kamis, 24 Januari 2013 dan untuk sewa cottage yang dua kamar untuk Rabu malam. (Rp. 250.000,- / ketinting untuk 3 orang, sedang cottage bisa pilih ada harga Rp. 350.000,- - Rp. 650.000,-). Setelah dua bapak ini ok, sudah, tinggal menunggu hari H.
Gapura selamat datang.
Teluk Kiluan berada sekitar 90-an km dari rumah kami di Hajimena, tapi mesti ditempuh sekitar 3 jam karena sebagian kecil jalan rusak, pakai parah. Lebih baik memang memilih mobil yang tinggi jenis off road, tapi kalau tidak ada pun jenis mobil keluarga bisa masuk. Meski cukup lama, tidak perlu cemas. Jalan Hajimena - Tanjungkarang - Teluk Betung - Hanura - Padangcermin - Bawang - Teluk Kiluan menawarkan pemandangan yang super duper indah. Perpaduan hijau, ladang, sawah, gunung, perkampungan, pantai, laut, dan jalan yang bervariari antara standar hingga jelek. Hehehe... Maka kalau capek duduk di mobil, ayo turunlah, ambil doping dengan nongkrong beli duren (kalau pas musim), foto dengan beragam setting, atau sekedar duduk pura-pura galau sambil melihat pemandangan alam dan manusia. Asli, indah.
Nah, mendekati Teluk Kiluan (Kabupaten Tanggamus) kita akan melihat gapura selamat datang dan karena sudah janji dengan Pak Solihin, si bapak sudah mengirim anaknya untuk menjemput supaya tidak kesasar. Dengan cara itulah kami dapat sampai di cottage yang sudah dipesan. Cukup besar, bentuk rumah panggung kayu dengan atap daun kelapa, 2 kamar dan 1 kamar mandi. Cukup sederhana, tapi menghadap ke laut! Ini kemewahan bagi hidup keseharian yang jauh dari pantai.
Sore itu tidak ada agenda apa-apa selain mencicip pasir dan ombak. Makan malam bisa pesan ke anaknya Pak Solihin yang kebetulan sudah memasak untuk Muludan. Seporsi terserah mau ambil berapa banyak langsung dari dapurnya seharga Rp. 17.500,- Juga bisa pesan teh atau kopi atau mi instan. Pak Solihin memberi pelayanan ramah menyenangkan,"Jika butuh sesuatu, ibu datang saja." Demikian dikatakan di depan rumahnya, sekitar 50-an m dari cottage.
Rumahnya persis di pinggir pantai, dan menjadi tempat nongkrong yang lumayan enak karena menyediakan beberapa bangku di dekat dermaga. Selain itu, dekat jendela kamarnya itulah yang ada sinyal telepon. Di tempat lain kagak ada, juga di cottage atau sekitar pantai. Listrik juga masih benda langka. Lampu akan menyala menjelang malam dan mati saat pagi dari sumber genset.
Ketinting di tengah laut, minus lumba-lumba.
Janji pun dibuat untuk pagi harinya. 05.30 rencananya sudah mulai melaut tapi mundur beberapa menit. 2 ketinting membawa kami berenam plus pengemudi ketinting di ujung-ujung belakang perahu kecil pipih yang bisa membelah ombak tinggi itu. Ini yang paling mengasyikkan. 3 jam berkeliling samudera dengan ombak-ombak yang seperti hmmm, kadang-kadang mengerikan juga tapi aku lebih memilih untuk asyik menikmati. Sayang, entah mengapa bahkan sudah berputar-putar lebih dari 3 jam, tidak juga mau muncul para dolphin itu. Hanya melihat burung-burung di kejauhan. (Harga sewa ketinting dikurangi 50 ribu karena kekecewaan tidak ketemu lumba-lumba) Tapi bagiku sendiri hal itu tidak terlalu mengecewakan. Kiluan menawarkan pemandangan yang asyik indah. Di atas maupun di bawah air. Nadet dan Albert sempat beberapa menit menceburkan diri ke airnya yang jernih.
Soal lumba-lumba, nantilah suatu saat pasti ke sana lagi. Ini tempat yang bisa beberapa kali dikunjungi. Aku yakin para dolphin itu punya alasan alami mengapa tidak muncul di permukaan dekat perahu-perahu kami. Tapi mereka pasti masih aman hidup di Teluk Kiluan dengan perhatian dari banyak orang terhadap teluk indah ini. Ohya, di sekitar teluk juga ada teluk-teluk lain dan pulau-pulau yang disinggahi. Jadi masih banyak alasan untuk datang di sini di luar ketemu lumba-lumba.
(Foto-foto lain menyusul.)

Saturday, January 19, 2013

Bubur Ayam

Menu makan komplet. Sedap, mantap untuk Sabtu sibuk ini.
Salah satu makanan yang aku suka adalah bubur ayam. Di saat-saat tertentu sedang tidak berselera makan, aku akan melirik menu satu ini. Mungkin karena teksturnya yang lembut sehingga saat menyantapnya tidak perlu usaha khusus. Disendok, masukkan mulut, mereka akan tergelincir begitu saja masuk perut. Hehehe...
Biasanya aku akan minta tanpa kacang kedelei goreng yang biasanya ditaburkan karena ini akan memaksa gigi mengunyah ekstra. Juga menolak diberi telur rebus karena akan merusak rasa gurih buburnya. Yang lain-lain tidak apa-apa disertakan. Selain bubur nasi, ada taburan bawang goreng, suwir ayam, irisan cakwe, daun bawan dan selederi plus sambel. Foto di atas adalah gambar bubur ayam sebelah kolam renang stadion Pahoman, Bandarlampung. Lokasi paling dekat dengan kantor. Harganya Rp. 8.000 per porsi. Rasa bisa direkomendasikan. Sempurna untuk kesempatan lapar pagi atau siang hari. Si bapak penjualnya biasanya nongkrong di deretan pinggir jalan samping kolam renang bersama pejual lontong sayur, dan batagor mulai dari pagi hingga siang. Pas.
Aku belum pernah membuat bubur ayam tapi gambarannya seperti ini cara mengolahnya. Masak beras, daun salam, sedikit garam dan air secukupnya, sambil terus diaduk hingga matang dan mengental. Apinya jangan terlalu besar biar gak gosong dan matanyanya pun bisa merata. Rebus daging ayam bersama air, bumbu halus (Bawang merah, Bawang putih, kunyit, ketumbar, kemiri, merica, pala, gula pasir, Garam dan kecap) hingga matang. Angkat daging ayamnya dan saring air kaldunya. Goreng daging ayam hingga kecokelatan, tiriskan dan setelah dingin suwir-suwir dagingnya. Lengkapi taburannya. Kerupuk goreng, bawang goreng, cakwe diiris, daun selederi dan bawang diiris, dan kalau suka kacang kedelei goreng, ati ampela goreng dan telur rebus. Untuk sambel buat sambel rebus saja. Cabai rawit direbus lalu diuleg dengan sedikit garam, kalau sudah halus diberi sedikit kuah saat panas-panas.
Nah, udah deh. Jika semua sudah siap tinggal sajikan. Sendok bubur nasi ke mangkok, beri kuahnya lalu taburi dengan semua bahan tabur. Beri tambah kecap manis dan sambal, lalu sertakan kerupuknya. Hmmm, mantap. Mungkin aku akan memasaknya suatu ketika nanti. Tidak dalam waktu dekat. Den Hendro dan anak-anak tidak terlalu suka makan bubur ayam, jadi males membuatnya hanya untuk diri sendiri. Karena yang makan hanya aku ya lebih baik ke sebelah kolam renang pahoman dan ...nyam nyam nyam... sedap....


(Ini tulisan iseng di sela-sela mengejar deadline Nuntius. Terlalu banyak ingin menggoda diri demi menghindar dari tugas ini. Huftt... Semangat, Yuli!)

Thursday, January 17, 2013

Energi Positif

Salah satu dari penyebab kemerosotan energi adalah kekuatiran. Kuatir saja sudah menjadi sugesti negatif, apalagi kekuatiran yang berlebihan. Ini terjadi misalnya ketika aku menyetir motor. Kekuatiran melihat lalu lintas membuat bayangan-bayangan menakutkan bermunculan, dan yang ada kemudian keraguan. Rentetan selanjutnya, peristiwa negatif pun lebih mungkin terjadi.
Pilihannya adalah mengolah kekuatiran menjadi 'pertimbangan' dan 'berjaga-jaga'. Dengan begitu resiko sudah tertangkap dalam visi namun serta merta menyediakan amunisi dan penjaga untuk menangkalnya. Dengan demikian mantra yang terucap adalah mantra-mantra positif dan rentetan selanjutnya, peristiwa positif pun lebih mungkin terjadi.