Saturday, January 31, 2009

Kesalahan Tanggal

Tolongg!!!
Aku baru sadar ada yang salah pada tanggal di blogku. Waktunya sedikit menyeleweng entah berapa jam sehingga seperti tulisanku terakhir itu bisa terpasang tanggal 30 Januari. Adakah yang bisa membantu? Aku sungguh katrok dalam hal ini. Dimana kesalahan yang sudah aku buat? Sebagai standar saja saat aku kirim postingan ini : Sabtu, 31 Januari 2009 pukul 13.15.

Janda

tiga jam baru lewat setelah suaminya berpulang
air mata tiada henti menjadi cuci bagi muka berduka
saat kudekap tubuh perempuan janda itu, tiada jiwa dalam raganya
air matanya berpindah ke pipiku
mengalir asin di ujung bibirku,"Aku ikut berduka."
hanya bisik tanpa arti bagi perempuan janda berduka
dia berjalan lengang mengiring jenasah
tiga jam baru lewat setelah suaminya berpulang

(Selamat jalan, Alkad. Aku mengenangmu yang sangat muda bersemangat. Sejak lahir di Bengkulu Selatan 1 September 1976 dulu, hingga mati 31 Januari 2009 pukul 10.00 tadi, jiwamu adalah jiwa tenang pelayanan. Aku ingat betapa sedihmu ketika nasib teman-teman berada di luar kendalimu yang sudah berjuang sekuat asa. Betapa senangmu ketika kesempatan hadir untuk melatih dan mendidikmu. Bagimu itulah ibadahmu. Selamat jalan.)

Thursday, January 29, 2009

El Crimen Del Padre Amaro

"Apa pendapatmu tentang cinta?"
"Cintalah yang menggerakkan dunia."
"Aku tidak tanya tentang itu. Tapi tentang kita."
"Hemh...aku, ehm... bagaimana ..., aku..."
"Tentang kita...?"
"Itu adalah rahmat, bagi kita berdua."
Tersenyum. Maka keduanya mencari tempat tersembunyi di balik kerudung mereka masing-masing. Untuk saling mencinta dan bercinta.

"Aku hamil."
"Tidak mungkin. Aku tidak mungkin... Kita tidak mungkin..."
"Aku hamil!"
"Aku akan mengantarmu ke tempat itu, tunggu hingga lahir dan kemudian ada yang mengadopsinya."
"Kamu menginginkan begitu?"
"Aku tidak yakin."
Menangis. Maka keduanya pergi ke tempat tersembunyi di balik kerudungnya masing-masing. Berdarah-darah...hingga mati dan penuh air mata.

(Ini kisah drama manusia. Mungkin juga ada di hadapanmu atau di sampingmu. Bahkan mungkin di belakangmu. Manusia... )

Tuesday, January 27, 2009

Mengejar Satu Nada

begitu susahnya menangkap satu nada
dengan telinga yang dipenuhi
cemburu

...

(Aku kira inilah untungnya atau ruginya, bahwa aku tidak bisa menuntut apa-apa dan aku juga tidak bisa dituntut apa-apa. Kapan-kapan aku akan mengejarnya lagi, dan aku berjanji akan dapat kutangkap satu nada, untukku pribadi.)

Mendayung Kenangan

(Tangan-tangan angin Bandung mengkristal dalam kenangan)

tidak ada yang penting selain cawan perjumpaan
aku dan kamu, selesai, tanpa menggunakan titik
seperti para pujangga pun koma adalah sebuah nada
yang membuat ragu dan takut hanyalah lubang tertinggal
tidak mengapa!

kini ada dua selendang di bahuku, yang satu pelangi
satunya lagi adalah matahari
keduanya kurenda dengan tangan-tangan angin
mengkristal dalam cangkir-cangkir kopi
mari bersulang!

Wednesday, January 21, 2009

Rindu

Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Saat itu aku datang dengan geliat rasa, meloncat begitu saja masuk dalam ruang itu. Ruang yang memelukku dalam kabut tebal.
Mataku tak melihat apapun kecuali hasrat. Sebuah sentuhan menyuruhku berbaring saja, menikmati ciuman-ciuman halimun yang semakin lama semakin menggugah rasa. Mendorongku untuk menggerakkan jari-jari menelusuri keinginan. Hanya menikmati saja.

Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Aku ingin merasakan lagi, buncahan rasa yang kemudian tertebar dalam seluruh inspirasi, dan meruap dalam seluruh bahasa.
Aku ingin mengulang lagi, cengkerama bersama pagi berkabut di ruang itu. Bersetubuh dengannya hingga bunting dan melahirkan deretan anak-anak kata. Yang bisa aku atur berjajar, bergerombol. Mungkin juga yang tak bisa aku atur, terserah saja.

Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Bolehkah?

Tuesday, January 20, 2009

Tukang Sayur

Semenjak Pasar Pasirgintung direnovasi, aku sangat jarang ke pasar. Kalau tidak perlu sekali atau lagi stress, aku tidak ke pasar. Dalam tahun ini sama sekali tidak pernah. Ah, ya, memang dulu-dulu juga kalau ke pasar tujuan utamaku bukan belanja. Soalnya, aku tidak pintar menawar. Seringkali kalau aku beli sesuatu di pasar harganya jauh lebih mahal daripada orang lain. Aku sering jadi olok-olokan tetangga gara-gara ini.
"Itu harganya cuma 5000, Tante. Kok gak ditawar sih..."
Perasaan sih aku sudah menawar. Nah, kalau harga suatu barang ditawarkan 20.000, lalu aku menawar 15.000 langsung diberikan, bagiku kan sudah sangat murah. Ternyata, trik kalau belanja di pasar sini ini, tawar harga 30 %nya. Waduh, mana tega. Maka, biasanya aku ke pasar jika ingin melihat-lihat, jalan-jalan, atau keperluan lain yang tidak terlalu penting. Untuk belanja harian lebih baik ke tukang sayur.
Terkait tukang sayur langganan, yang tiap jam 7 pagi berhenti di depan rumah, banyak hal yang unik asyik. Jika datang, orang pasti sudah tahu dari bunyi motornya yang berisik dan teriakannya,"Ibu-ibu, sahur-sahur, eh sayur...!!!"
Para ibu pun menggerombol dan dia akan kegeeran karena dikerubuti para ibu muda yang seksi bahenol berdaster, n sebagian pasti belum mandi. Dia dengan santai menyapa para ibu ini dengan panggilan khas,"Tidak boleh, yang. Dari pasar harganya sudah sebelas, lha kalo aku kasih sepuluh nanti yang di rumah makan apa. Ikan itu aja, sayang, lebih murah." Kebiasaannya memanggil para ibu dengan sebutan,"Sayang." , ini diteruskan juga olehnya walau sudah berapa kali kena masalah karenanya. Khususnya orang-orang baru, masalah dengan tukang sayur ini bisa muncul gara-gara panggilan sapaan ini. Pasalnya banyak suami-suami yang cemburu. Lah...gitu.
Enaknya belanja di tukang sayur ini adalah karena dia murah hati. Kalau ada timun tinggal sebiji ya sudah, dengan iklas diberikan. Beli lombok bisa dapat setumpuk dengannya. Bonus-bonus kecil gitu kan disukai para ibu, walaupun kadang dikibuli juga sama dia karena para ibu kuper gak tahu harga pasar. Enaknya lagi, dia bawa HP standby terus. Jadi kita bisa pesan bahan-bahan tertentu jika ragu-ragu saat tiba di depan rumah sudah habis. Jika mau ada resep khusus pun gak perlu repot. Tinggal SMS saja malam harinya. Dia pasti mau membelikan bahan-bahan yang di luar kebiasaan. Bahkan kalau jumlahnya banyak dia akan secara khusus mengantarnya karena gak muat di gerobaknya.
Pokoknya tiada hari ceria tanpa tukang sayur ini. La wong dia mau saja jadi tempat curhat para ibu. Biasa terjadi saat rame orang belanja, tiba-tiba ada panggilan lewat HPnya. Bermenit-menit dia ngobrol dengan seseorang. Dan mamang, eh, abang, eh, om, atau apa saja namanya (aku tidak tahu namanya. ya ampun. besok aku tanya deh siapa dia punya nama.) ini dengan santai akan meneruskan obrolannya padahal diledeki oleh para ibu sekompleks. "Biasa, fans..." Gitu kalau ditanya siapa.
Ah, perhatiannya bukan sebatas itu. Jika ada satu warga yang sakit, meninggal, dsb., dia pasti menyempatkan untuk menengok pada sore harinya, di luar jam kerja dan tentu saja dengan penampilan rapi jali harum wangi. Jika diledek dia pintar menjawab. "Iya, ini mau syuting, mampir dulu. Denger-denger kena demam berdarah, besok nitip jambu biji nggak?"
Nah, begitulah tukang sayur sabahat para ibu Perumahan Polri ini yang selalu dinanti, tiap pagi. Jika mau pesan belanjaan, kirim email saja ke aku, nanti aku SMS dia. Kalau aku pasang no HPnya di sini, bisa besar kepala dia karena mengira fansnya sudah melebar hingga seluruh dunia. Nah, gitu...

Monday, January 19, 2009

Promosi

Salah satu makanan kesukaan anak-anakku adalah sate ayam. Dan tempat favoritnya adalah sate Madura di dekat Bundaran Raden Intan. Sekali waktu, saya mengajak untuk makan di Way Halim, sate Madura juga, tapi mereka berdua tidak mau makan di situ.
"Kenapa sih Bert, Nard. Rasanya enak di sini. Ibu pernah makan di sini. Lebih enak dibanding yang dekat rumah."
"Nggak, aku maunya di sana saja."
"Aku juga." Yang kecil pun ikutan ngambek.
Okey, balik kucing, akhirnya kembali ke Bundaran. Sebenarnya tempatnya memang lebih dekat dengan rumah, ketimbang yang di Way Halim. Mereka berdua senyum-senyum saja setelah tiba di warung sate. Sambil menunggu sate dibakar, penjualnya ngobrol dengan Mas Hendro, pake bahasa Madura. (Gak aku mengerti sama sekali kecuali : "Tojuk dinak." (Duduk di sini.) Hehehe...) Istri penjualnya lalu menghampiri Albert dan Bernard. Mengulurkan dua tusuk sate. "Ini, dimakan, sambil nunggu." Mereka berdua duduk dan mengucapkan terimakasih lirih dengan manis, dan menikmati dua tusuk mereka. Ooo, ini rupanya.
"Jadi kalian suka disini karena dapat bonus ya?"
"Di tempat lain, kalau nunggu ya nunggu aja. Tidak ada yang ngasih sate. Disini selalu dikasih, ibu."
Aha, cara promosi yang tepat.
"Tapi ibu tidak dapat juga. Padahal ibu yang bayar." Aku pura-pura merengut di depan mereka.
"Ibu kan udah gedhe." Kali ini yang kecil yang menjawab sambil menjilat kecap di bibirnya.
"Apa hubungannya, Nard?" Mereka berdua terlalu asyik dengan dua tusuk sate, tidak mau pikir lebih panjang pertanyaanku. Dan dalam hati aku memuji penjual sate ini. Promosi yang bagus dan konkret mengena.

Sunday, January 18, 2009

Sariawan

Bangun pagi (sebetulnya tidak terlalu pagi, sudah jam 7 lewat) karena Bernad menyuruk diantara aku dan bapaknya. Tangannya dingin basah memegang pipi dan tanganku. Pasti dia sudah kena air.
"Dari mana?" Bisikku setengah malas membuka mata.
"Dari pipis. Aku juara satu bangun." Suaranya agak aneh, dengan bibir yang tidak terbuka saat bicara. Albert masih tidur. Hari minggu yang sungguh malas.
"Memang kenapa mulut Enad?" Aku pegang pipinya.
"Nanti belikan obat ya, bu. Sariawan." Oh, pantes. Lalu aku minta dia membuka mulut bau liur belum mandi itu. Ada bintik putih di dekat gusinya. "Sakit."
Aku tidak terlalu kuatir. Obat bagi sariawan adalah 'perut yang enak'. Maka aku meloncat bangun untuk masak nasi, goreng ikan tongkol, bikin sayur asem, sambel terong (ini untuk yang dewasa). Setengah jam kemudian menyuapi Bernard. Nah, dia bisa membuka mulut lebar-lebar. Sepiring penuh habis. Ini beruntungnya punya anak-anak seperti Albert dan Bernard. Walau sakit, selera makan mereka masih ok, sehingga jarang sakit dalam waktu lama. Pokoke masih mau makan, urusan penyakit masih tidak terlalu mengkuatirkan.
Usai minum, mandi, Bernard sudah lari main dengan Roby dan Afif. Dia sudah lupa pada sariawannya... Tapi aku janji abis kerja lembur di hari Minggu ini akan membawakannya 'obat sariawan'. Yang bisa membuat perutnya enak, tentu saja...

Saturday, January 17, 2009

Rayuan

Semalam aku tidak mau menggaruk punggung Albert. (Ini kebiasaan anak-anakku sebelum tidur, yaitu digaruk atau digosok punggungnya sampai mereka terlelap.) Dia protes berat awalnya, tapi aku menjelaskan dengan penekanan soal hak dan kewajiban.
"Kalau Mas Albert tidak mau menjalankan kewajiban, maka tidak akan mendapatkan hak." Matanya melotot padaku tidak terima. Tapi dia menghentikan protesnya karena memang dia tidak mau membereskan mainannya sejam yang lalu, malah berantem dengan adiknya soal siapa yang seharusnya membereskan mainan-mainan itu. Dan dia sudah terlanjur janji dengan pongah tidak akan minta apapun pada aku, ibunya, yang sudah membereskan mainannya (sambil mengoceh).
Beberapa menit kemudian dia merapat padaku yang sedang berbaring, berSMS dengan seorang teman. Tubuhnya dilengketkan padaku.
"Ibu tidak mau dekat-dekat dengan Mas Albert. Sana tidur saja."
Dia pura-pura tidak mendengar, tapi malah melingkarkan tangannya pada pinggangku.
"Kalau ibu bergeser, Albert akan tetep lengket."
Dan itu memang dibuktikannya. Dia ikut kemanapun aku pergi. Memegang bagian manapun dari tubuhku yang bisa dipegangnya. Aku berdiri dia pun berdiri, kalau aku duduk dia duduk. Aku berbaring dia ikut merapat di punggungku.
"Sudahlah, Bert. Tidurlah. Ibu tidak mau menggaruk punggungmu."
"Mas Albert tidak mau tidur kok. Cuma mau dekat-dekat ibu."
Matanya yang memerah tentu lebih jujur. Dan adiknya sudah lelap dari awal ke alam mimpi.
Kemudian dia bercerita tentang mimpinya semalam. Lalu tentang rumah temannya si Yogi. Dia bercerita juga tentang kalender, tentang Uti, tentang surat dari sekolahnya...
"Tahu gak ibu kalau..."
"Kenapa sih bu..."
"Siapa bu..."
Celotehnya tidak berhenti mencoba mengambil hati. Aku pura-pura jual mahal.
"Ibu lagi pengin sendiri, Bert. Jangan ganggu."
Dia pun cerita lebih semangat. Dia bertanya tentang segala macam, bahkan yang aneh-aneh. Mau tidak mau aku melunak. Aku berbaring dekat bantalnya. Dia mengikuti dan kemudian dengan wajah manis tanpa dosa, berdoa, entah apa. (Dulu aku pernah tanya dia berdoa apa kalau malam sebelum tidur. Dia bilang,"Itu rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.")
Begitu dia berbaring, aku menyusupkan jariku ke dalam bajunya, menggerakkan tanganku ke punggungnya, dan tidak sampai pada garukan ke 10, tidak ada lagi suara dari mulutnya. Yang ada adalah desisan pulas, dan puas, karena dia sudah mendapat apa yang dia maui.
Aku mencium pipinya yang bau buah pepaya. (Pasti dia tidak cuci muka tadi setelah makan pepaya hasil kebun.) Menutup pintu kamar pelan, lalu ngelesot depan TV, nonton Godbless di MetroTV.
Ah, selamat malam anak-anakku. Mimpilah kalian dalam lelap. Malam-malam ibu masih panjang.

Friday, January 16, 2009

Apa embun bisa membasahimu?

"Apa embun bisa membasahimu?"

Duduk sebentar, teman. Mari duduklah jika bertanya hal itu padaku. Lihatlah padaku sekarang ini dengan mata dan seluruh pancainderamu. Engkau lihat permukaan tubuhku, yang luas seluas seluas angkasa. Engkau lihat kedalaman tubuhku, yang dalam sedalam cakrawala.

Duduklah dulu, teman. Mari lihatlah pada embun di ujung daun penciumanku. Cair seluruhnya tubuh telanjangnya itu. Cemerlang berkilauan karena pantulan cahaya sekitarnya. Setitik beratnya menggayut kesejukan.

"Apa embun bisa membasahimu?"

Sabarlah, teman. Tetaplah duduk. Lihatlah! Aku dengan seluruh tubuhku punya hujan-hujan beraneka ragam yang membuatku basah hingga kuyup. Bisa setiap saat. Hujan-hujanku punya telinga yang peka pada panggilanku.

Sabar sebentar, teman. Lihatlah! Embun hanya membasahi satu satu titik dalam tubuhku, persis di tubuh rawanku. Dia datang tanpa aku panggil. Dan akan pergi tanpa aku suruh. Aku tak melihat apakah dia punya telinga atau tidak untuk menangkap panggilanku.

"Apa embun bisa membasahimu?"

Baiklah. Aku sudah basah karena hujan-hujanku. Menurutmu, apakah aku bisa lebih basah lagi oleh setetes embun? Bisakah aku membandingkan hujan dan embun? Maukah engkau merasakan apa bedanya hujan dan embun?

Baiklah. Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku menawarkan padamu untuk datang melihat sendiri embun di tamanku, musim apapun. Bahkan bunga belum mekar pun akan lebih indah karena setetes embun. Percayalah!

Thursday, January 15, 2009

Bukan Superwoman

Seorang bapak datang. "Sungguh, ini diperlukan kerja keras. Tidak mungkin saya bisa melakukannya sendirian. Harus banyak orang dan diperlukan perempuan-perempuan yang sangat kuat untuk peran-peran tertentu. Dik Yuli bisa melakukannya."

Seorang ibu datang dengan anak bayinya. Bangga memeluknya. "Aku hampir saja kehilangan dia. Bu Hendro yang mati-matian minta supaya aku pertahankan. Untung aku bisa sadar. Lihat, dia cantik kan?"

Sepasang muda datang. Bergandengan tangan tapi dengan muka yang rusuh pekat. "Kami tidak direstui, Mbak. Bagaimana kami harus menghadapi keluarga kami?"

Albert merajuk. Dia duduk di meja belajarnya tapi tidak mengerjakan apa-apa. "Aku tidak mau belajar jika tidak ditemani ibu!"

Seorang suster mengirim pesan lewat HP. "Datang sebelum jam 12 ya. Ada sesuatu yang mesti kita bicarakan dulu sebelum acara."

Seorang aktifis menuntut. Dengan wajah tidak terima dia berkata dengan keras. "Harusnya Mbak Yuli datang lebih awal. Tidak ada keputusan apa-apa tadi dalam rapat."

Bernard teriak. Seperti pagi-pagi kalau dia bangun tidur. "Aku mau dibikinin nasi goreng. Pokoknya ibu, tidak mau yang dibikinin Wawak!"

Seorang pastor tandas dalam persiapan suatu kegiatan. "Sudah, Yuli saja. Itu sudah cukup."

Seorang remaja menulis dalam kertas. "Komunikator idolaku : Mbak Yuli."

Oohhh, jangan percaya itu semua. Itu bohong.
Aku bukan perempuan kuat seperti yang dibayangkan bisa mengatasi masalah-masalah. Aku tidak punya kekuatan seperti itu. Sama sekali tidak! Lihatlah aku ini jiwa dan raga!
Begitu ringkihnya aku, bahkan sungguh takluk tak berdaya pada setetes embun. Bayangkan! Setetes embun yang cair tak berbentuk pun bisa mengalahkan aku. Bisa membuatku berjam-jam beku dalam keheningannya. Bisa membuatku berteriak lewat segala bahasa dalam ocehan bersamanya. Bisa membuatku hanya mencumbunya, dalam segala-gala waktu segala-gala raga segala-gala rasa.
Jadi, jangan lagi percaya jika ada yang mengatakan aku perempuan kuat hebat. Aku sudah terkalahkan, oleh setetes embun yang cair tak berbentuk.

Wednesday, January 14, 2009

Mencacah Bilangan Ganjil

Aku dan embunku, duduk berdua di meja yang sama. Kami berdua mencoba mencacah bilangan-bilangan ganjil yang ada di hadapan kami. Menariknya dengan jari jemari kami yang terkait dan memaksanya dalam susunan-susunan bilangan genap. Teori-teori logaritma, aljabar, geometri ...berkeringat. Hasilnya adalah acakan bilangan-bilangan, bahkan kemudian terpecah dalam desimal-desimal tak beraturan. Tak pernah menjadi genap.

Tuesday, January 13, 2009

Membatu

"Biar untuk orang lain saja senyummu itu."

Aku pura-pura tidak mendengar dan memintanya untuk mengulang. "Iya???"

Namun tidak ada suara apapun. Sedang aku terperangkap pada senyumku sendiri yang sudah mengembang lebar untuknya. Terlalu lebar untuk kutelan kembali, sehingga senyum itu mengambang di udara dengan sayap-sayapnya yang bertahan, mengitari tubuhku yang membatu.
"Benarkah kau tidak akan menerima senyumku?" Aku mempertanyakan ini dan menjadi jengkel sendiri karena biasanya aku tidak pernah perduli akan pergi kemana senyumku dengan kaki-kaki belalangnya. Mau meloncat kemana saja, terbang ke segala arah, ... aku tak pernah tentukan.
Aku berharap dia tidak serius dengan perkataan itu. Lebih lagi aku berharap dia mau bergerak dan mulai mengambil kembali kantongnya. Memunguti senyumku bahkan yang perca, menyimpannya, dan memeliharanya dalam pelukan mimpi-igauan. Minimal untuk sekarang ini, saat musim dan angin masih menjadi sahabat lamunan.

(Tubuhku membatu, menunggu gerak bibir atau tubuhnya. Sebagai isyarat bagiku.)

Memasak VS Makan

Orang yang tidak mengenalku dalam rumah, biasanya akan memvonis aku sebagai orang yang tidak bisa masak. Tapi aku sudah biasa memasak dari kelas III SD, dan hingga kini walau aku tidak wajib memasak, aku suka memasak dan memang akan memasak tiap hari. Mungkin ini karena sebenarnya aku suka makan.
Aku suka bereksperimen pada makanan. Perpaduan rasa dan warna pada makanan membuatku bersemangat. Tapi memang aku tidak terlalu suka memasak terlalu lama. Jadi jadwal memasakku, setiap pagi paling lama hanya 1 jam. Ini waktu yang sangat pas untuk berbagai masakan. Kemarin aku cuma setengah jam di dapur, dan makanan yang dibutuhkan oleh sekeluarga kecilku terpenuhi. Tumis tahu buncis, dengan cabe rawit utuh. Ayam goreng. Tempe goreng. Sambel kecap dan tidak boleh lupa, kerupuk. Malam, ketika ayam dan tempe sudah habis, tinggal ceplok telur. Itu hanya butuh waktu setengah jam. Jam 6 hingga setengah 7.
Hari ini aku masak rawon. Nah, daging sedang mahal, jadi beli seperempat daging tetelan seharga 10 ribu, campur dengan tahu yang diiris kecil dan digoreng kering. Jadilah 'daging' juga, gurih sedikit alot. Hehehe...
Nah biasanya jika sedang iseng aku akan memasak lauk tambahan pada sore hari. Aku suka peyek, maka aku bisa membuatnya pada sore hari. Kalau yang ini memang perlu waktu berjam-jam. Setengah kilo tepung akan membutuhkan satu jam lebih saat penggorengan peyek, dan hasilnya...ah beberapa menit juga ludes oleh empat mulut yang ada di rumah. Semua suka. Atau jika mau membuat kue-kue, aku punya resep asal yang pasti jadi. Biasanya aku bisa melibatkan anak-anak untuk ikut membantu. Dan mereka pasti akan menghabiskan. Ludes.

Hujan dan Banjir

Hujan sedikit saja, sebentar saja, genangan air ada di mana-mana. Pulang kantor aku pasti melewati beberapa titik genangan itu. Pertama di Jalan Kartini. Ini jalan utama di Tanjungkarang, pusat pertokoan. Beberapa kali ada perbaikan jalan dan gorong-gorong, tapi tetap banjir. Lalu di daerah Pasirgintung. Depan pasar pas perempatan, biasanya memang ada sedikit air entah hujan atau tidak, rembesan dari pasar dan PAM bocor aku kira. Tapi sekarang, baru sedikit gerimis, air meluap memenuhi seluruh badan jalan. Depan RSU Abdul Muluk, memang ada sungai di situ. Sangat dalam, tapi air tidak semua bisa masuk ke situ. Tidak ada aliran sehingga jalan jadi sungai yang baru. Lalu dekat simpang Way Halim, ini sangat parah. Jalan turun. Gedungmeneng ada beberapa titik genangan yang segera meninggi begitu hujan deras. Dan yang sepanjang masa selalu menggenang ada di depan kantor kehutanan, dekat bunderan Raden Intan. Jika naik Mio aku akan mengangkat kakiku tinggi-tinggi, tapi akan selalu basah. Aku tidak heran ketika Desember lalu banjir sangat hebat terjadi, dan pasti akan terjadi lagi nanti, tepat di pusat kota Bandarlampung. Kalau pemerintah dan masyarakat tidak segera ambil tindakan, peduli pada kota ini.

Monday, January 12, 2009

Anggur dan Anggrek

Sepulang dari mudik, tanggal 2 Januari pagi. Aku bangun pertama dan membuka pintu belakang rumah langsung diloncati kekagetan kekaguman. Lihat, dua tanaman yang persis lurus pintu dapur, anggur dan anggrek dipenuhi puluhan bunga.
Anggur kuning (atau anggur hijau?) itu didapat dua tahun yang lalu dari Dinas Pertanian Kediri. Beberapa bulan yang lalu sudah berbuah untuk yang pertama kalinya, hanya ada dua dompol. Dan sekarang, ada puluhan. Ada gelembung-gelembung hijau kecil yang setiap hari semakin membesar, bening, segar. Puluhan dompol, luar biasa. Beberapa bulan lagi pasti panen hebat. Aku ingat ketika anggur yang di depan rumah berbuah tahun lalu, serupa dengan ini. Tapi sepertinya pohon yang ini lebih banyak lagi buahnya.
Anggrek didapat Juli tiga tahun lalu saat aku ultah dan ngeluyur di rumah Urip, nongkrong n makan siang di tempatnya. (Dia tidak tahu kalau aku lagi ultah, tapi simboknya menjamuku makan yang sangat lezat.) Seharian, dan pulangnya aku bawa potongan-potongan batang anggrek kuning belang-belang, seperti kalajengking itu. Biasa bunganya memang selalu ada sejak setahun yang lalu. Tapi tidak pernah lebih dari 10 tangkai. Dan sekarang aku hitung ada 42 batang, belum termasuk yang masih kuncup kecil, dan yang tak terlihat. Mekar puluhan anggrek. Astaga indahnya.

(Terimakasih Sang Pencipta! Ingatlah! Ini berkat kerja keras Hendroku yang rajin merawat tanaman-tanaman dan juga Abah Supardi yang rajin merapikan dan membersihkan halaman. Aku hanya penikmat saja dari dulu dan nanti. Sesekali 'icak-icak' mencabut satu dua batang rumput tapi tak pernah lebih dari itu. Kecuali duduk di bangku, memandang melamun di antara tanaman berbunga di halaman belakang 'gubuk' kami. Juga memetik pepaya tak kenal musim, mangga, buah nona atau jambu biji sekitar rumah. Ssst...jangan bayangkan kami punya halaman luas sehingga banyak pohon buah dan bunga. Hanya sekapling tanah, 175 m2 tapi sungguh bisa bermanfaat kalau dimanfaatkan. Bahkan aku tidak perlu beli jika hanya perlu daun kangkung atau daun singkong atau daun pepaya untuk sayur. Juga beberapa bumbu dapur, silahkan ambil dari kebun kami jika perlu. Sereh, laos, jahe, daun jeruk purut, daun salam, binahong, kunyit, dll. Mari, ambillah...)

Diam, Menikmati Canda Tuhan

Lama aku tidak lagi diam
terlalu banyak bahasa keluar dari kerongkongan
walau ternyata hanya lengkingan tak makna
bahkan tak bisa kumaknai

pagi ini aku bersama candaMu
yang luar biasa bagi udara hambar
aku merengut awalnya
"Kemarin Kau sodorkan awan-awan mendung
sampai habis udara aku meniupnya!"
aku merajuk.

dan Kau tersenyum di ujung pelangiMu
mengangkat kaki dengan gaya kuasa
menggelitik pipiku
"Dan sekarang Kau tantang aku
untuk membawa awan-awan hitam selaksa, sejuta, terserah
dalam sekejab akan Kau tiup?"
aku terpana.

tertawaMu ngakak hingga aku melemparkan bantal
mengenai perutMu yang semakin meruapkan tawa
membahana di seputar pagi
"Ya, ya, aku akan diam
kini bersuaralah. Dan tiuplah awan-awanku."
aku terpeluk.

Berkeputusan

Seseorang memvonisku : "Kamu tidak berkeputusan!"
Ya, memang benar. Apa yang bisa aku putuskan saat ini? Mungkin aku akan ambil keputusan suatu saat nanti, setelah sepuluh perputaran jumpa dengan purnama. Atau nanti setelah sepuluh pergantian musim. Atau nanti setelah...setelah aku merasa mampu melecutkan sendiri cambuk pada punggungku yang bongkok.

(Aku yang sedang terlalu kompromis.)

Saturday, January 10, 2009

Tubuh

keindahan ciptaan muncul dari tubuh-tubuh manusia
sempurna!

mata berlentik jadi jarum ragawi pengintai segala fisik
tangan berjari-jari tiada tandingan menggeluti seluruh gerak
bibir dengan dimensi suara dari seluruh kelengkapan rongganya
telinga dengan relung-relung penimba seluruh nada
kulit berbulu rasa menyelimuti seluruh daging dan kefanaan

malam penuh gelombang, suatu masa
aku manfaatkan waktu untuk menyusuri tubuhku
salah satu ciptaan puluhan tahun melingkupi genap jiwaku
hidup, hingga ke bagian paling tak tersentuh cahaya

dalam keramaian rasa, sebuah bayangan datang
menawarkan diri untuk menyusup di antara tubuhku
ingin berbagi kehangatan dari denyut-denyut darah
antara gelembung-gelembung hasrat yang rajin berkata
tangan berjariku merangkulnya, lebih tepat ingin merangkulnya
ejekannya pedas "Kamu tak sepenuhnya menghendaki itu!"

aku mengabaikan suaranya, melepaskan jubah malamnya yang gelap
lalu meraupkan raga cairnya ke seluruh tubuhku
tanpa bentuk dia membasuhku dari jari-jari hingga ke jantungku
bibirku berteriak dalam ekstasi penuh puji
dalam hatiku bisikan lirih
"Adakah ini saatku memanggul salib ke Kalvari?"

(manusiaku menolak perjalanan ilahi
masih ingin mereguk cawan duniawi)