Lama aku tidak lagi diam
terlalu banyak bahasa keluar dari kerongkongan
walau ternyata hanya lengkingan tak makna
bahkan tak bisa kumaknai
pagi ini aku bersama candaMu
yang luar biasa bagi udara hambar
aku merengut awalnya
"Kemarin Kau sodorkan awan-awan mendung
sampai habis udara aku meniupnya!"
aku merajuk.
dan Kau tersenyum di ujung pelangiMu
mengangkat kaki dengan gaya kuasa
menggelitik pipiku
"Dan sekarang Kau tantang aku
untuk membawa awan-awan hitam selaksa, sejuta, terserah
dalam sekejab akan Kau tiup?"
aku terpana.
tertawaMu ngakak hingga aku melemparkan bantal
mengenai perutMu yang semakin meruapkan tawa
membahana di seputar pagi
"Ya, ya, aku akan diam
kini bersuaralah. Dan tiuplah awan-awanku."
aku terpeluk.
Monday, January 12, 2009
Berkeputusan
Seseorang memvonisku : "Kamu tidak berkeputusan!"
Ya, memang benar. Apa yang bisa aku putuskan saat ini? Mungkin aku akan ambil keputusan suatu saat nanti, setelah sepuluh perputaran jumpa dengan purnama. Atau nanti setelah sepuluh pergantian musim. Atau nanti setelah...setelah aku merasa mampu melecutkan sendiri cambuk pada punggungku yang bongkok.
(Aku yang sedang terlalu kompromis.)
Ya, memang benar. Apa yang bisa aku putuskan saat ini? Mungkin aku akan ambil keputusan suatu saat nanti, setelah sepuluh perputaran jumpa dengan purnama. Atau nanti setelah sepuluh pergantian musim. Atau nanti setelah...setelah aku merasa mampu melecutkan sendiri cambuk pada punggungku yang bongkok.
(Aku yang sedang terlalu kompromis.)
Saturday, January 10, 2009
Tubuh
keindahan ciptaan muncul dari tubuh-tubuh manusia
sempurna!
mata berlentik jadi jarum ragawi pengintai segala fisik
tangan berjari-jari tiada tandingan menggeluti seluruh gerak
bibir dengan dimensi suara dari seluruh kelengkapan rongganya
telinga dengan relung-relung penimba seluruh nada
kulit berbulu rasa menyelimuti seluruh daging dan kefanaan
malam penuh gelombang, suatu masa
aku manfaatkan waktu untuk menyusuri tubuhku
salah satu ciptaan puluhan tahun melingkupi genap jiwaku
hidup, hingga ke bagian paling tak tersentuh cahaya
dalam keramaian rasa, sebuah bayangan datang
menawarkan diri untuk menyusup di antara tubuhku
ingin berbagi kehangatan dari denyut-denyut darah
antara gelembung-gelembung hasrat yang rajin berkata
tangan berjariku merangkulnya, lebih tepat ingin merangkulnya
ejekannya pedas "Kamu tak sepenuhnya menghendaki itu!"
aku mengabaikan suaranya, melepaskan jubah malamnya yang gelap
lalu meraupkan raga cairnya ke seluruh tubuhku
tanpa bentuk dia membasuhku dari jari-jari hingga ke jantungku
bibirku berteriak dalam ekstasi penuh puji
dalam hatiku bisikan lirih
"Adakah ini saatku memanggul salib ke Kalvari?"
(manusiaku menolak perjalanan ilahi
masih ingin mereguk cawan duniawi)
sempurna!
mata berlentik jadi jarum ragawi pengintai segala fisik
tangan berjari-jari tiada tandingan menggeluti seluruh gerak
bibir dengan dimensi suara dari seluruh kelengkapan rongganya
telinga dengan relung-relung penimba seluruh nada
kulit berbulu rasa menyelimuti seluruh daging dan kefanaan
malam penuh gelombang, suatu masa
aku manfaatkan waktu untuk menyusuri tubuhku
salah satu ciptaan puluhan tahun melingkupi genap jiwaku
hidup, hingga ke bagian paling tak tersentuh cahaya
dalam keramaian rasa, sebuah bayangan datang
menawarkan diri untuk menyusup di antara tubuhku
ingin berbagi kehangatan dari denyut-denyut darah
antara gelembung-gelembung hasrat yang rajin berkata
tangan berjariku merangkulnya, lebih tepat ingin merangkulnya
ejekannya pedas "Kamu tak sepenuhnya menghendaki itu!"
aku mengabaikan suaranya, melepaskan jubah malamnya yang gelap
lalu meraupkan raga cairnya ke seluruh tubuhku
tanpa bentuk dia membasuhku dari jari-jari hingga ke jantungku
bibirku berteriak dalam ekstasi penuh puji
dalam hatiku bisikan lirih
"Adakah ini saatku memanggul salib ke Kalvari?"
(manusiaku menolak perjalanan ilahi
masih ingin mereguk cawan duniawi)
Thursday, January 08, 2009
Rahasia Embun Malam
Aku tahu rahasia embun malam
ternyata dia hanya main-main
ketika mengerling seolah mencinta
ternyata dia hanya bercanda
ketika menyapa seolah mendamba
Karena dia punya musim dan anginnya sendiri
suatu saat dia pasti akan pergi
ketika musim menghapusnya
dan angin membawanya
Segala mudah bagi embun malam
dengan musim dan anginnya
dan permainannya
Aku pun ingin jadi embun malam
dengan musim dan anginku sendiri
menikmati perjumpaan sebagai saat manis
mensyukuri jarak sebagai pagar memurnikan
Saat musim dan angin membawa kami nanti
ke arah yang berbeda,
aku ingin tetap bisa mengenangnya
sebagai rahmat.
(Kesimpulan ini membantuku mencicip rasa sakit yang hanya ada dalam patah hati. Mungkin suatu saat nanti akan membantuku menikmati jika memang yang ada hanyalah sakit.)
Wisata Alam
Ni di kebunnya Bapak Suliham. Bergaya jadi bocah petualang.Di puncak Gunung Gajah Mungkur, persis di antara kabut. Berdua saja.

Ini pemandangan perjalanan
dari Lumajang ke Malang lewat Ranu Pane. Ngiler kan?
Dengan latar belakang Anak Gunung Kelud yang sedang bertumbuh.
Piket Nol. Antara Lumajang dan Malang lewat Pronojiwo.
Wisata Kuliner Jawa Timur
Bagi orang yang lahir di Sembak, Grogol, Kediri, Jatim, nasi sambel tumpang wajib dimakan saat pulang kampung. Nasi ini dulu jaman aku masih kecil menjadi sarapan pagi setiap hari. Sederhana dan murah. Saat mudik kemarin harganya hanya 2000 rupiah perporsi. Yaitu nasi putih, sayuran hijau dan di atasnya disiram sambel dari tempe bosok bumbu santan. Biasanya dengan pelengkap peyek, kerupuk, tempe atau tahu goreng.
Nasi Pecel
Nasi pecel seperti nasi sambel tumpang, tapi siramannya memakai sambel pecel yaitu kacang tanah yang ditumbuk dengan segala bumbu, lalu diencerkan dengan air asem. Di Jawa Timur ada dua tempat yang terkenal pecelnya yaitu Madiun dan Blitar. Tapi untuk lidahku, pecel Kediri sangat top. Ada satu warung yang menyediakan pecel tanpa nasi, yaitu pecel Yu Mah. Wah, ini special banget. Sayuran diguyur bumbu pecel, pakai krupuk kali (krupuk yang digoreng pasir) dan krupuk kriyak (krupuk dari singkong). Minumnya dawet. Wahh...
Rawon
Ke Jatim tanpa makan rawon sama juga bohong. Bumbu berkuah hitam dengan rasa kluwak yang legit dengan potongan-potongan daging sapi, aduh...nikmat sekali. Apalagi ditambah kecambah, sambel trasi dan kerupuk udang. Minumnya teh anget aja, biar lemak-lemaknya luntur. Yang enak di Warung Bromo, simpang Klojen, Lumajang.
Rujak Cingur
Ini khas banget. Potongan sayur, buah, plus tahu tempe goreng dan tidak lupa cingur (ini bagian dari rongga mulut sapi, kenyal, gurih). Bumbunya kacang plus petis udang yang amis tapi lezat. Ditambah remukan kerupuk. Aku selalu kangen rasanya, walau orang dari luar jatim tentu akan bergidik melihatnya. Warnanya hitam, seperti...hehehe... Saat aku hamil selalu makanan ini yang kebayang paling nikmat segar.
Soto ayam
Satu tempat, di terminal Kediri. Ini tempat nongkrong asyik murah meriah. Dulu tahun 89-an waktu aku SMA harganya cuma 350 perak semangkuk. Kemarin sudah 3500 rupiah. Tapi rasanya masih enak. Kental dengan rasa manis setiap kunyahannya. Minumnya dari dulu teh botol deh...
Nasi Campur Mbok Haji
Nasi dengan lauk campur-campur. Ada separo telur rebus dengan sambel di atasnya, potongan ayam dibumbu kare, irisan daging sapi dibumbu merah, ringan. Juga ada sambel goreng kentang, sayur krecek, mi goreng dan kerupuk tak ketinggalan. Nasi campur yang lengkap ini hanya 7000 rupiah. Di warung Mbok Haji, dalam kota Lumajang.
Tuesday, January 06, 2009
Raport
Kemarin aku mengambil raport anak-anak. Mestinya diambil tanggal 19 Desember lalu, tapi karena dalam perjalanan ya, gak masalah telat. Malah bisa salaman selamat tahun baru sama suster dan guru-guru.
Bernard
Raportnya bagus. Eh, ini secara harafiah memang bagus. Berupa lembaran-lembaran penilaian dengan simbol-simbol dan warna-warni. Di belakangnya diberikan uraian tentang suatu point yang dinilai oleh gurunya. Dua simbol yang muncul di raport Bernard, yaitu gambar muka tersenyum warna biru muda dan gambar hati warna merah. Lembaran kertas-kertas itu dimasukkan dalam map album yang bagus, dilampiri dua bendel karya Bernard selama satu semester ini. Wah, melihat gambar dan karya Bernard aku terharu berat. Gak nyangka dia bisa buat seperti itu, tanpa aku ajari (iya, toh. wong diajari sama gurunya, Bu Dewi tercinta terbaik dimata Bernard. tiada tandingnya wis.) Gambarnya rapi, bersih, dan kreatif. Tulisannya juga bagus. Tentu untuk ukuran kelas TK kecil.
Albert
Raportnya bagus. Eh, ini juga secara harafiah. Dibanding dua semesternya waktu kelas 1, ada kemajuan. Pertama, jumlah seluruh angka dengan bidang pelajaran yang sama jelas meningkat. Kelas 1 semester 1 jumlah 821, semester 2 jumlah 829. Sedang kelas 2 ini dia dapat 856. Lalu tidak ada satupun nilai yang dibawah nilai KKM. (Apa ya singkatannya? Kok malah lupa aku.) Yang paling menarik nilai agama. Kelas 1 nilai agamanya tidak pernah lebih dari 60. Malah pernah dapat 30. Gawat kan? Nah sekarang dia dapat 74. Sangat bagus menurutku. (Teman-temannya sih ada yang 80 atau 90 terserah.) Nilai pelajaran lain berkisar di angka 80an. Bu Eti, guru kelasnya tentu sudah bekerja sangat keras untuknya. Apalagi jika melihat tulisan tegak bersambungnya, pasti itu berkat Bu Eti, bukan karena aku.
Bernard
Raportnya bagus. Eh, ini secara harafiah memang bagus. Berupa lembaran-lembaran penilaian dengan simbol-simbol dan warna-warni. Di belakangnya diberikan uraian tentang suatu point yang dinilai oleh gurunya. Dua simbol yang muncul di raport Bernard, yaitu gambar muka tersenyum warna biru muda dan gambar hati warna merah. Lembaran kertas-kertas itu dimasukkan dalam map album yang bagus, dilampiri dua bendel karya Bernard selama satu semester ini. Wah, melihat gambar dan karya Bernard aku terharu berat. Gak nyangka dia bisa buat seperti itu, tanpa aku ajari (iya, toh. wong diajari sama gurunya, Bu Dewi tercinta terbaik dimata Bernard. tiada tandingnya wis.) Gambarnya rapi, bersih, dan kreatif. Tulisannya juga bagus. Tentu untuk ukuran kelas TK kecil.
Albert
Raportnya bagus. Eh, ini juga secara harafiah. Dibanding dua semesternya waktu kelas 1, ada kemajuan. Pertama, jumlah seluruh angka dengan bidang pelajaran yang sama jelas meningkat. Kelas 1 semester 1 jumlah 821, semester 2 jumlah 829. Sedang kelas 2 ini dia dapat 856. Lalu tidak ada satupun nilai yang dibawah nilai KKM. (Apa ya singkatannya? Kok malah lupa aku.) Yang paling menarik nilai agama. Kelas 1 nilai agamanya tidak pernah lebih dari 60. Malah pernah dapat 30. Gawat kan? Nah sekarang dia dapat 74. Sangat bagus menurutku. (Teman-temannya sih ada yang 80 atau 90 terserah.) Nilai pelajaran lain berkisar di angka 80an. Bu Eti, guru kelasnya tentu sudah bekerja sangat keras untuknya. Apalagi jika melihat tulisan tegak bersambungnya, pasti itu berkat Bu Eti, bukan karena aku.
Yin Ling dan Ben
Sebuah buku "Following the wrong God Home", ditulis oleh Khaterine Lim. Berkisah tentang kedatangan Ben, seorang asing dari Barat dalam kehidupan Yin Ling, seseorang yang sudah terikat pertunangan dan keputusan pernikahan. Pertemuan yang tiba-tiba dalam ketertarikan satu sama lain yang tak berjarak. Barat dan Timur. Hati dan pikiran. Mimpi dan nyata. Dua hal yang berjauhan namun bergulat dalam keeratan. Tidak pernah berhenti walau kemudian Yin Ling sudah menikah dan punya anak. Perjalanan membawa mereka berdua akhirnya bisa mengambil keputusan berani yang melawan tradisi dan logika. Berdua. Menikmati cinta yang membara. Happy ending? Tunggu dulu. Yin Ling mati dalam sebuah kecelakaan pesawat. Derita yang luar biasa. Tamat? Tunggu dulu. Perjalanan cinta tidak akan mati, bahkan oleh kematian badani. Kematian justru memberikan banyak kemungkinan-kemungkinan.
(Aku kira sebuah pertobatan akan lebih mudah jika dekat pada kematian. Tapi bertobat atas apa? Apakah Yin Ling berdosa karena mencintai Ben? Apakah Yin Ling tetap dalam dosa jika tidak menyesali cintanya yang salah tempat itu? Secara pribadi aku mendukung Yin Ling. Tapi jangan mengikuti aku. Jangan tanya padaku. Tanyakanlah pada pastur, kyai, pendeta, dll...jika mau menjadi Yin Ling. Dan siaplah untuk mati sewaktu-waktu, mungkin tanpa pertobatan. )
(Aku kira sebuah pertobatan akan lebih mudah jika dekat pada kematian. Tapi bertobat atas apa? Apakah Yin Ling berdosa karena mencintai Ben? Apakah Yin Ling tetap dalam dosa jika tidak menyesali cintanya yang salah tempat itu? Secara pribadi aku mendukung Yin Ling. Tapi jangan mengikuti aku. Jangan tanya padaku. Tanyakanlah pada pastur, kyai, pendeta, dll...jika mau menjadi Yin Ling. Dan siaplah untuk mati sewaktu-waktu, mungkin tanpa pertobatan. )
Monday, January 05, 2009
Proses Keselarasan
Teman tanpa apa tanpa dimana tanpa kapan tanpa siapa tanpa mengapa tanpa bagaimana, aku berterus terang padamu.
Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak mau kesakitan karena mesti tergantung sangat lekat padamu. Aku sangat menikmati segala rasa karena inspirasi yang kau kobarkan dari sosokmu sangat kuat. Bahkan dengan sengaja aku memeliharanya dalam rangkulan tubuhku yang terbatas ini. Dalam pelukan seperti ini aku merasa sangat kuat sekaligus indah. Tiada yang dapat menandingi rasa yang seperti ini dalam perjalanan hidupku yang sepertiga abad lebih ini.
Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku ingin menghentikan derita karena kecanduan padamu. Tidak, aku tidak akan menghentikan rasaku padamu tapi aku tidak ingin kecanduan padamu. Itu membuatku ketagihan dan kemudian merana karena memang aku tidak akan mungkin mendapatkanmu sesuai dengan yang kuinginkan. Tubuhku sudah mulai menuntut hingga aku seperti kanak-kanak yang merajuk gara-gara tidak mendapatkan permen kesukaannya. Atau aku sudah mulai seperti remaja baru puber yang patah hati karena tidak dapat mencubit idolanya. Bagaimana engkau bisa membantuku?
Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak sekuat yang kubayangkan pada awalnya. Aku kira aku tidak akan terpengaruh pada rasa apa pun yang keluar dari hatiku atau tubuhku. Aku merasa aku akan rela hati tidak menuntut apapun darimu. Awalnya aku kira bisa tidak peduli akan kau beri atau tidak sebagai ganti rasaku. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai ingin menuntut darimu. Aku berusaha menahan sekuat tenagaku. Tapi ini akan sangat terbatas. Gejalanya sudah mulai tampak. Sakit kepalaku tidak henti, aku harus memicingkan mata untuk fokus pada sesuatu, aku mulai lagi menyukai kesendirian, aku mulai membenci suka hingar bingar dan kebersamaan, ...dan ah, banyak tanda yang lain.
Iya, teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku mulai ingin menuntut darimu. Ingin kau sapa setiap kali, ingin kau sentuh setiap saat,... Dan aku cemburu membayangkan aku bukan apa-apa bagimu dibanding segala yang lain. Aku merajuk ketika sapaanku tidak mendapatkan balasan seperti yang aku bayangkan. Aku marah ketika engkau memalingkan wajahmu dari padaku. Aku menangis ketika tidak ada tanganmu di atasku.
Iya, teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak ingin menyiksa diriku atau dirimu lebih lama lagi. Aku ingin menghentikan yang tidak nyaman ini. Aku hanya mau indah. Aku hanya ingin tersenyum. Adakah bantuan yang bisa kuharapkan darimu?
Iya, teman, aku berterus terang padamu...temanku tersayang tanpa apa tanpa dimana tanpa kapan tanpa siapa tanpa mengapa tanpa bagaimana.
Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak mau kesakitan karena mesti tergantung sangat lekat padamu. Aku sangat menikmati segala rasa karena inspirasi yang kau kobarkan dari sosokmu sangat kuat. Bahkan dengan sengaja aku memeliharanya dalam rangkulan tubuhku yang terbatas ini. Dalam pelukan seperti ini aku merasa sangat kuat sekaligus indah. Tiada yang dapat menandingi rasa yang seperti ini dalam perjalanan hidupku yang sepertiga abad lebih ini.
Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku ingin menghentikan derita karena kecanduan padamu. Tidak, aku tidak akan menghentikan rasaku padamu tapi aku tidak ingin kecanduan padamu. Itu membuatku ketagihan dan kemudian merana karena memang aku tidak akan mungkin mendapatkanmu sesuai dengan yang kuinginkan. Tubuhku sudah mulai menuntut hingga aku seperti kanak-kanak yang merajuk gara-gara tidak mendapatkan permen kesukaannya. Atau aku sudah mulai seperti remaja baru puber yang patah hati karena tidak dapat mencubit idolanya. Bagaimana engkau bisa membantuku?
Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak sekuat yang kubayangkan pada awalnya. Aku kira aku tidak akan terpengaruh pada rasa apa pun yang keluar dari hatiku atau tubuhku. Aku merasa aku akan rela hati tidak menuntut apapun darimu. Awalnya aku kira bisa tidak peduli akan kau beri atau tidak sebagai ganti rasaku. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai ingin menuntut darimu. Aku berusaha menahan sekuat tenagaku. Tapi ini akan sangat terbatas. Gejalanya sudah mulai tampak. Sakit kepalaku tidak henti, aku harus memicingkan mata untuk fokus pada sesuatu, aku mulai lagi menyukai kesendirian, aku mulai membenci suka hingar bingar dan kebersamaan, ...dan ah, banyak tanda yang lain.
Iya, teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku mulai ingin menuntut darimu. Ingin kau sapa setiap kali, ingin kau sentuh setiap saat,... Dan aku cemburu membayangkan aku bukan apa-apa bagimu dibanding segala yang lain. Aku merajuk ketika sapaanku tidak mendapatkan balasan seperti yang aku bayangkan. Aku marah ketika engkau memalingkan wajahmu dari padaku. Aku menangis ketika tidak ada tanganmu di atasku.
Iya, teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak ingin menyiksa diriku atau dirimu lebih lama lagi. Aku ingin menghentikan yang tidak nyaman ini. Aku hanya mau indah. Aku hanya ingin tersenyum. Adakah bantuan yang bisa kuharapkan darimu?
Iya, teman, aku berterus terang padamu...temanku tersayang tanpa apa tanpa dimana tanpa kapan tanpa siapa tanpa mengapa tanpa bagaimana.
Komunikasi dan Pelayanan
Bangun sangat telat, pas 06.30 pada Minggu 4 Januari 2009, membuatku bertubrukan kesana kemari. Aku janjian dengan Indri pada jam yang sama untuk berangkat ke Pringsewu tempat acara anak-anak muda SSV, di La Verna, sekitar 1 jam perjalanan dengan Mio. Pasti dia sudah menunggu. Anak-anak belum bangun hanya aku cium dengan jari-jariku, dan langsung ngampiri Indri . Ternyata setali tiga uang, dia juga kesiangan. Jadinya pukul 07.00 kami baru berangkat, boncengan.
Perjalanan cukup asyik ke arah Pringsewu membuatku sangat segar, meruntuhkan sedikit demi sedikit sisa sengsara semalaman akibat kecanduan (something someone somewhere tidak jelas). Berbagai ilham muncul berhamburan dalam pacuan Mio yang hanya 50 - 60 km/jam. Ngebut sedikit lagi pasti aku tiba duluan di surga atau neraka. Lha gak konsen. Tepat pukul 08.00 tiba di lokasi, sarapan nasi bungkus bersama anak-anak SSV. Untun dapat sarapan, karena perutku sudah menuntut kebutuhannya. Dan pukul 09.00 aku berdiri tegak di hadapan mereka.
Dari obrolan ketahuan mereka hanya tidur beberapa jam karena semalam acara berakhir sekitar pukul 03.00 dan 07.00 mereka sudah mulai kegiatan pagi. Maka 80-an anak muda itu aku ajak untuk tidur bersama. Hehehe...aku juga ikut. Berbaring 5 menit, badan relaks, mata tertutup, tanpa suara...istirahat. Hah, jangan ketiduran. Maka aku minta mereka bangkit setelah sebelumnya molet dulu sepuasnya.
Aku awali sesi dengan membagi dalam kelompok-kelompok. Jumlah yang sangat besar seperti ini dan usia yang beragam mulai dari SMP, SMA hingga pekerja, sangat menyulitkan. Sepuluh kelompok, masing-masing harus mendiskusikan : mencari satu bunyi yang disebabkan oleh sesuatu benda yang bergerak. Misalnya bunyi motor ngebut nabrak seng yang menjadi rumah kucing. Bunyinya kira-kira : brruuuummmm....brummmm....krosak prang...ngeongg..
Nah, macam-macam suara terbentuk. Setelah itu aku jadi mayoretnya yang menabuh mereka satu persatu sehingga ada paduan suara.
Okey, usai itu, duduklah mereka semua. Aku lontarkan pertanyaan :
- Apa yang mereka rasa n dapatkan? Jawaban segala macem...
- Apakah ada komunikasi tadi dalam kelompok?
- Apa kendala dalam penentuan kesepakatan?
- Faktor apa yang membantu?
Nah, dari jawaban-jawaban mereka, aku rangkai dalam teori komunikasi. Ada dua pihak, ada pesan, ada penyampaian pesan, ada tanggapan,...bla-bla-bla. Syaratnya mendengarkan, terbuka, kompromi,... bla-bla-bla.
Lalu karena mereka kelompok yang semua beragama Katolik aku ambil contoh komunikator ulung, Yesus. (Jika kelompok Islam aku pasti ambil Muhammad, jika Budha bisa ambil Sidharta Gautama, jika Hindu ada Krishna, dll). Yesus melakukan komunikasi dengan banyak gaya. Berbicara langsung dengan banyak pihak dengan banyak cara, dan sangat tepat pada situasi masing-masing. Tidak hanya menghimbau, kadang bercerita, kadang memakai perumpamaan, kadang memberikan kritikan pedas, memberikan perintah, nasehat dan sebagainya. Selain itu juga dengan bahasa tubuh, tindakan-tindakan, ekpresi emosi, dan sebagainya. Yang pasti komunikasi dilakukan Yesus ke segala arah, penuh belas kasih.
Begitulah, hingga pukul 11.00 'kotbah' aku sudahi.
Mereka memberiku sebuah tanda mata yang menarik, sebuah buku berjudul Left to Tell. Kisah nyata dari Immaculee Ilibagiza, seseorang yang tertinggal dari suku Tutsi dalam pembasmian suku di Rwanda. Aku sedang mulai membacanya. Thanks, teman-teman SSV. Aku yang dapat banyak dari kalian. Maaf jika hanya memberi sangat sedikit.
Perjalanan cukup asyik ke arah Pringsewu membuatku sangat segar, meruntuhkan sedikit demi sedikit sisa sengsara semalaman akibat kecanduan (something someone somewhere tidak jelas). Berbagai ilham muncul berhamburan dalam pacuan Mio yang hanya 50 - 60 km/jam. Ngebut sedikit lagi pasti aku tiba duluan di surga atau neraka. Lha gak konsen. Tepat pukul 08.00 tiba di lokasi, sarapan nasi bungkus bersama anak-anak SSV. Untun dapat sarapan, karena perutku sudah menuntut kebutuhannya. Dan pukul 09.00 aku berdiri tegak di hadapan mereka.
Dari obrolan ketahuan mereka hanya tidur beberapa jam karena semalam acara berakhir sekitar pukul 03.00 dan 07.00 mereka sudah mulai kegiatan pagi. Maka 80-an anak muda itu aku ajak untuk tidur bersama. Hehehe...aku juga ikut. Berbaring 5 menit, badan relaks, mata tertutup, tanpa suara...istirahat. Hah, jangan ketiduran. Maka aku minta mereka bangkit setelah sebelumnya molet dulu sepuasnya.
Aku awali sesi dengan membagi dalam kelompok-kelompok. Jumlah yang sangat besar seperti ini dan usia yang beragam mulai dari SMP, SMA hingga pekerja, sangat menyulitkan. Sepuluh kelompok, masing-masing harus mendiskusikan : mencari satu bunyi yang disebabkan oleh sesuatu benda yang bergerak. Misalnya bunyi motor ngebut nabrak seng yang menjadi rumah kucing. Bunyinya kira-kira : brruuuummmm....brummmm....krosak prang...ngeongg..
Nah, macam-macam suara terbentuk. Setelah itu aku jadi mayoretnya yang menabuh mereka satu persatu sehingga ada paduan suara.
Okey, usai itu, duduklah mereka semua. Aku lontarkan pertanyaan :
- Apa yang mereka rasa n dapatkan? Jawaban segala macem...
- Apakah ada komunikasi tadi dalam kelompok?
- Apa kendala dalam penentuan kesepakatan?
- Faktor apa yang membantu?
Nah, dari jawaban-jawaban mereka, aku rangkai dalam teori komunikasi. Ada dua pihak, ada pesan, ada penyampaian pesan, ada tanggapan,...bla-bla-bla. Syaratnya mendengarkan, terbuka, kompromi,... bla-bla-bla.
Lalu karena mereka kelompok yang semua beragama Katolik aku ambil contoh komunikator ulung, Yesus. (Jika kelompok Islam aku pasti ambil Muhammad, jika Budha bisa ambil Sidharta Gautama, jika Hindu ada Krishna, dll). Yesus melakukan komunikasi dengan banyak gaya. Berbicara langsung dengan banyak pihak dengan banyak cara, dan sangat tepat pada situasi masing-masing. Tidak hanya menghimbau, kadang bercerita, kadang memakai perumpamaan, kadang memberikan kritikan pedas, memberikan perintah, nasehat dan sebagainya. Selain itu juga dengan bahasa tubuh, tindakan-tindakan, ekpresi emosi, dan sebagainya. Yang pasti komunikasi dilakukan Yesus ke segala arah, penuh belas kasih.
Begitulah, hingga pukul 11.00 'kotbah' aku sudahi.
Mereka memberiku sebuah tanda mata yang menarik, sebuah buku berjudul Left to Tell. Kisah nyata dari Immaculee Ilibagiza, seseorang yang tertinggal dari suku Tutsi dalam pembasmian suku di Rwanda. Aku sedang mulai membacanya. Thanks, teman-teman SSV. Aku yang dapat banyak dari kalian. Maaf jika hanya memberi sangat sedikit.
Setengah Malam Kehilangan Otak
Hari Sabtu, 3 Januari, sudah aku bayangkan sebagai hari yang lelah. Karena ada beberapa kegiatan di beberapa tempat. Dan aku masih punya PR, menggarap materi untuk anak-anak muda SSV pada tanggal 4 Januari. Belum ada ide.
Saat malam, sepi. Suami ke Kalianda, anak-anak tidur kecapekan, aku bawa beberapa buku di depan tv, alat tulis, HP. Siap membuat konsep tentang Komunikasi dan Pelayanan.
Sedetik, semenit, sejam... Otakku hilang! Astaga! Aku panik kelimpungan menggapai-gapai candu yang bisa membantuku. Semakin tak kutemukan, semakin sakauw, semakin sengsara. Bukan hanya gemetar tapi bergetar seluruh tubuhku menahannya. Rasa ketagihan yang tidak bisa diceritakan bagaimana rasanya. Aku nyalakan dupa dekat kakiku, tapi bau asap malah membuatku tercabik-cabik. Aku matikan lampu tapi kegelapan menyergapku dalam kegetiran.
Aku menderita dalam sakauw jika candu itu tidak kutemukan. Menangis melolong mencoba menyegarkan mataku dari air mata. Aku berlari kesana kemari sekedar untuk menghentakkan kaki dan merontokkan kepedihan. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan, tanpa candu.
Hingga menjelang subuh, hanya beberapa coretan kata di kertas konsepku. Setelahnya aku tertidur dalam mimpi buruk.
(Bagaimana sesuatu bisa sangat mempengaruhiku sebesar candu bagiku seperti itu? Bahkan tamparan tak membuatku sadar juga.)
Saat malam, sepi. Suami ke Kalianda, anak-anak tidur kecapekan, aku bawa beberapa buku di depan tv, alat tulis, HP. Siap membuat konsep tentang Komunikasi dan Pelayanan.
Sedetik, semenit, sejam... Otakku hilang! Astaga! Aku panik kelimpungan menggapai-gapai candu yang bisa membantuku. Semakin tak kutemukan, semakin sakauw, semakin sengsara. Bukan hanya gemetar tapi bergetar seluruh tubuhku menahannya. Rasa ketagihan yang tidak bisa diceritakan bagaimana rasanya. Aku nyalakan dupa dekat kakiku, tapi bau asap malah membuatku tercabik-cabik. Aku matikan lampu tapi kegelapan menyergapku dalam kegetiran.
Aku menderita dalam sakauw jika candu itu tidak kutemukan. Menangis melolong mencoba menyegarkan mataku dari air mata. Aku berlari kesana kemari sekedar untuk menghentakkan kaki dan merontokkan kepedihan. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan, tanpa candu.
Hingga menjelang subuh, hanya beberapa coretan kata di kertas konsepku. Setelahnya aku tertidur dalam mimpi buruk.
(Bagaimana sesuatu bisa sangat mempengaruhiku sebesar candu bagiku seperti itu? Bahkan tamparan tak membuatku sadar juga.)
Friday, January 02, 2009
Tentu Saja Aku Selingkuh
Seseorang bertanya dengan matanya yang lugu : "Kamu selingkuh? Yang benar saja."
Aku menjawabnya dengan senyuman. Tentu saja. Kenapa tidak. Aku punya seorang suami yang secara rutin dan aktif mengajakku dalam hidup yang mapan dalam rumah tangga yang nyaman dan menyenangkan.
Tapi aku juga seorang perempuan dengan pikiran dan hati yang berkaki seribu, menjelajahi dunia privatnya yang berbunga selaksa mawar. Aku bercumbu setiap saat dengan inspirasi. Dalam perselingkuhan yang dalam, sesekali sesat. Aku bercinta senantiasa dengan kata-kata. Dalam keliaran yang indah. Aku menerimanya sebagai bagian dari hidupku yang penuh warna. Kenapa tidak?
Aku menjawabnya dengan senyuman. Tentu saja. Kenapa tidak. Aku punya seorang suami yang secara rutin dan aktif mengajakku dalam hidup yang mapan dalam rumah tangga yang nyaman dan menyenangkan.
Tapi aku juga seorang perempuan dengan pikiran dan hati yang berkaki seribu, menjelajahi dunia privatnya yang berbunga selaksa mawar. Aku bercumbu setiap saat dengan inspirasi. Dalam perselingkuhan yang dalam, sesekali sesat. Aku bercinta senantiasa dengan kata-kata. Dalam keliaran yang indah. Aku menerimanya sebagai bagian dari hidupku yang penuh warna. Kenapa tidak?
Hari Kedua : Penentuan Misi
Hari kedua dalam tahun 2009 aku kembali di depan komputer, kerja! Otak dan tubuh lamban aku maklumi sepenuhnya.
Okey, dari semua masukan, usulan, dari dalam dan luar diriku, aku memutuskan untuk membuat misi dalam kalimat yang sederhana pada tahun ini.
Aku akan menjadi orang bebas.
Beberapa indikator :
1. Bebas tidak sama dengan liar. Ini harus diperhatikan. Bagaimana membedakannya aku kira aku akan tahu saat perjalanan nanti.
2. Bebas berarti saat aku berbuat sesuatu, yang muncul adalah kerelaan dan sukacita, juga pada saat menanggung resikonya.
3. Bebas berarti lepas dari segala candu, yang membuatku tergantung pada sesuatu atau seseorang.
4. Sopir utama dalam praktik hidup adalah diriku sendiri. Bukan orang lain, situasi atau barang dll.
Indikator lain aku akan cari kemudian.
(Keterangan foto : Aku di tangga naik Gunung Gajah Mungkur. Latar adalah Gunung Sumbing. Di belakang badanku adalah Gunung Kelud yang sedang bertumbuh dengan belerang dan materialnya yang kaya. Di sekitar tangga itu tumbuh ribuan Edelweis. Aku bisa dan boleh mengagumi menyentuh dan menciumnya, tanpa memilikinya.)
Perjalanan Akhir Tahun
Aku akan cerita sekilas dulu kemana saja aku selama dua minggu terakhir ini. Detail plus foto-foto menyusul.
17 Desember 2008 Aku bekerja seperti kesetanan. Hingga pukul 21.00 tet, beres! SMS boss begini begitu, langsung keluar kantor. Hujan deras. Aku pakai mantel mampir di Kemuning untuk pamit dan minta sangu (maksudnya!), tapi satu jam yang capek dan bau asem belum mandi dan basah kuyup. Pukul 22.00 menerabas hujan, pulang. (Rupanya kamera n jaket malah ketinggalan di Kemuning. Payah.)
18 Desember 2008 Mencari tiket pulang mudik hari itu juga, dapat bis ekonomi Puspa Jaya. Beli 4 kursi. Aku membayangkan capek tapi rupanya perjalanan cukup ternikmati. Panjang, 30 jam kemudian baru tiba di Kediri. Hanya 150.000 rp per orang.
19 Desember 2008 Pukul 23.oo tiba di Pasar Gringging dijemput Pak Sam, bapakku. Ah...rumah...mencairkan segala kangen dengan peluk bapak ibu, mbak Lis dan ...rumah...
20 Desember 2008 Di rumah saja. Ngobrol, masak (ya tetap kebagian ini. Ibu mengantar para cucu, dan seluruh anggota keluarga lain tetap pada aktifitas masing-masing.)
21 Desember 2008 Ke Gereja bersama-sama. Anak-anak dan bapaknya plus keluarga mbak Lis ke bendungan Mbadug. Pulang mereka bawa belut matang dan hidup.Ibu sama bulik2 belanja Natal ke Kediri. Bapak plus orang-orang kring mbuat gua di gereja.
Aku membongkar 'harta'ku di kamar depan. Puisi, buku harian, foto, cerpen, surat dll. Aku hanyut dalam kenangan. Tertawa, nangis, sepi, jadi satu. (Aku ditemani oleh romantisme. Berdua bersamanya aku menggelinjang dalam rindu yang dalam. Lalu minum kopi panas dari gelas yang sama, dalam pelukan mesra. Menguapkan rasa.)
22 Desember 2008 Hari ibu. Aku menemani anak-anak ke pameran di Simpang Lima (Paris van Kediri) naik kereta wisata (kereta-keretaann) lewat sawah, sungai, Gudang Garam, dll. Satu jam kena panas dan angin. Pulangnya makan di alun-alun Kediri. (Ni tempat nongkrongku malam-malam belasan tahun lalu kalau pulang dari Malang larut malam, nunggu jemputan Bapak atau Mas Yok)
23 Desember 2008 Ke Gunung Kelud berdua dengan Mas Hen. Wah, tempat yang indah. Dan sepanjang 600 anak tangga aku menemui ribuan Edelweis kuncup. Tak puas-puasnya. Turun gunung nongkrong di warung menyeruput kopi susu dan semangkok mi rebus sambil melihat hijau. Luar biasa. Pulangnya ngantar seluruh anak yang ada di rumah (Albert, Bernard, Yos dan Joan) ke salon, pangkas rambut. Aku sendiri krembat deh. Enak dipijit begitu.
24 Desember 2008 Hanya untuk mempersiapkan Natal. Tidur. Tidak kemana-mana. Bulik Sri dan keluarganya datang. Jadi lebih rame lagi. Misa pukul 18.00 berombongan.
Puluhan pesan datang. Sebuah pesan tak bisa kubalas :
Natal datang setiap tanggal 25 Desember, tapi esensi Natal adalah Tuhan hadir. Bukan hanya setiap tanggal 25 Desember dapi setiap hari. Semoga kamu sekeluarga selalu diberkati dan mengalami kegembiraan Natal.
(Aku membaca pesan ini dalam bayang-bayang cemara. Aih...)
25 Desember 2008 Adalah hari yang sibuk dengan ratusan tamu besar kecil. Makanan, minuman. Juga bingkisan-bingkisan untuk tamu-tamu kecil.
26 Desember 2008 Pernikahan Sulis di gereja. Usai itu jalan ke Gua Maria Pohsarang berempat (bapak ibu n keluarga Mbak Lis ikut ke resepsi pernikahan). Lalu berputar-putar kesasar mencari Gua Selomangleng tidak ketemu. Tapi dapat pemandangan super asyik dan cantik.
Pukul 22.30, serombongan besar berangkat ke Lumajang, disopiri Mas Yud. Penuh sesak di dalam Kijang buyut Inova. Tua namun masih tangkas, kebanggaan bapak Samiran.
27 Desember 2008 Disergap dingin Senduro di lereng gunung Semeru. Hujan abu pula. Puri Wisma Rengganis kediaman Bapake Mas Hen, Pak Suliham, rame full kamar-kamarnya oleh semua keluarga. Keluarga Mas Pris dan Atik juga datang. Untung ada belasan kamar di sini dan tidak sedang ada tamu-tamu yang menginap. (Biasanya ada tamu-tamu dari luar daerah yang datang berkunjung di Pura Mandara Giri Agung, menginap di Purinya bapak. Cukup rame pada hari-hari tertentu.)
28 Desember 2008 Pagi wajib ke Pura. Untuk berdoa. Bukan sebagai Hindu tapi sebagai manusia yang mengakui kebesaran Hyang Widhi. Usai itu Bapak dan ibu Samiran balik ke Kediri. Sedang keluarga Suliham berkunjung ke makam ibu. Ibu yang belum sempat aku kenal tapi aku akrabi nisannnya. Teresia Budi Suparmi. Aku memimpin doa untuknya dengan wewangian bunga dari kebun sendiri. Usai itu berbondong ke kebun Pak Suliham yang berpondok hebat penuh dikelilingi kopi, cengkeh, kepala, pisang dll. Albert Bernard puas minum air kelapa dan membakar apa saja termasuk singkong dan pisang. Bisa membayangkan?
29 Desember 2008 Makan di warung Mbok Haji, Lumajang. 12 orang hanya menghabiskan 102.000 rupiah super lezat. Rawon, soto, nasi campur, dawet, es sirup...dll. Lalu anak-anak main di alun-alun sedang aku, Ninik dan Atik berburu batik dan petis Madura. Juga makan jajanan di Orion sampai puas.
30 Desember 2008 Rencananya hanya mau tiduran. Tapi malah main sama Gebi, si centil. Sedang Albert dan Bernard hujan-hujanan sampai biru seluruh muka dan badannya hingga sore. Malam berkunjung ke bulik dan bude untuk pamit beberapa menit sembari pengin merem, mengantuk.
31 Desember 2008 Dari pagi membereskan rumah super besar itu plus persiapan ke Malang. Perjalanan pagi yang asyik lewat Selatan, mampir di Pronojiwo menyantap salaknya yang super besar dan manis lalu lanjut di Malang. Tiba di rumah Atik pas hujan dan ada penjual bakso lewat. Wah, kemaruk bener makan baksp Malang yang terkenal mak nyus.
Aku menyempatkan diri keramas di salon karena rambut sudah tebal kena abu Semeru sedangkan untuk mandi saja tidak tahan dinginnya. Makan malam, lalu tidur hingga tahun berganti. Tanpa terasa.
1 Januari 2009 Pukul 2.00 sudah berada di mobil menuju Juanda. Jam 6.00 terbang dengan Sriwijaya ke Jakarta. Harga promo 350 ribu rupiah per orang. Selanjutnya? Naik angkot mobil koperasi bandara 4.000 rupiah per orang ke Kali Bokor. Oper Kopaja ke Kalideres 2.500 rp. Naik Bis ke Merak 14.000 rp. Kapal Feri 10.500 rp. Lalu travel 40 ribu rupiah sampai di depan rumah. Murah ya?
Tiba di rumah, mandi, makan pakai telur (Makasih Wak, sudah dimasakin nasi dan air.) Lalu tidur...penuh mimpi...
(Sapaan embun malam membuatku berkacak pinggang dan berkaca-kaca, antara marah sedih gembira :
Hatiku tak seputih salju, tutur kataku tak semanis madu, tapi seuntai doa dan ucapanku kan menghiasi hari indah ini. Selamat tahun baru.
Dia tidak tahu kalau aku sangat merasa kehilangan saat-saat bisa merabanya berhari-hari terakhir ini. Padahal setiap saat aku telanjang di hadapannya menanti sebuah kesempatan untuk bercinta. Dimana kau, embun malam?
Bagus jika hatimu coreng moreng dan bahasamu berantakan. Dengan begitu ada proses ilahi yang bisa membentukmu menjadi seperti apa nantinya. Terserah.
Aku menjadi sebuah gumpalan keras tanpa tahu kapan bisa meleleh, menguap atau menyublim. Dimana kau, embun malam?)
17 Desember 2008 Aku bekerja seperti kesetanan. Hingga pukul 21.00 tet, beres! SMS boss begini begitu, langsung keluar kantor. Hujan deras. Aku pakai mantel mampir di Kemuning untuk pamit dan minta sangu (maksudnya!), tapi satu jam yang capek dan bau asem belum mandi dan basah kuyup. Pukul 22.00 menerabas hujan, pulang. (Rupanya kamera n jaket malah ketinggalan di Kemuning. Payah.)
18 Desember 2008 Mencari tiket pulang mudik hari itu juga, dapat bis ekonomi Puspa Jaya. Beli 4 kursi. Aku membayangkan capek tapi rupanya perjalanan cukup ternikmati. Panjang, 30 jam kemudian baru tiba di Kediri. Hanya 150.000 rp per orang.
19 Desember 2008 Pukul 23.oo tiba di Pasar Gringging dijemput Pak Sam, bapakku. Ah...rumah...mencairkan segala kangen dengan peluk bapak ibu, mbak Lis dan ...rumah...
20 Desember 2008 Di rumah saja. Ngobrol, masak (ya tetap kebagian ini. Ibu mengantar para cucu, dan seluruh anggota keluarga lain tetap pada aktifitas masing-masing.)
21 Desember 2008 Ke Gereja bersama-sama. Anak-anak dan bapaknya plus keluarga mbak Lis ke bendungan Mbadug. Pulang mereka bawa belut matang dan hidup.Ibu sama bulik2 belanja Natal ke Kediri. Bapak plus orang-orang kring mbuat gua di gereja.
Aku membongkar 'harta'ku di kamar depan. Puisi, buku harian, foto, cerpen, surat dll. Aku hanyut dalam kenangan. Tertawa, nangis, sepi, jadi satu. (Aku ditemani oleh romantisme. Berdua bersamanya aku menggelinjang dalam rindu yang dalam. Lalu minum kopi panas dari gelas yang sama, dalam pelukan mesra. Menguapkan rasa.)
22 Desember 2008 Hari ibu. Aku menemani anak-anak ke pameran di Simpang Lima (Paris van Kediri) naik kereta wisata (kereta-keretaann) lewat sawah, sungai, Gudang Garam, dll. Satu jam kena panas dan angin. Pulangnya makan di alun-alun Kediri. (Ni tempat nongkrongku malam-malam belasan tahun lalu kalau pulang dari Malang larut malam, nunggu jemputan Bapak atau Mas Yok)
23 Desember 2008 Ke Gunung Kelud berdua dengan Mas Hen. Wah, tempat yang indah. Dan sepanjang 600 anak tangga aku menemui ribuan Edelweis kuncup. Tak puas-puasnya. Turun gunung nongkrong di warung menyeruput kopi susu dan semangkok mi rebus sambil melihat hijau. Luar biasa. Pulangnya ngantar seluruh anak yang ada di rumah (Albert, Bernard, Yos dan Joan) ke salon, pangkas rambut. Aku sendiri krembat deh. Enak dipijit begitu.
24 Desember 2008 Hanya untuk mempersiapkan Natal. Tidur. Tidak kemana-mana. Bulik Sri dan keluarganya datang. Jadi lebih rame lagi. Misa pukul 18.00 berombongan.
Puluhan pesan datang. Sebuah pesan tak bisa kubalas :
Natal datang setiap tanggal 25 Desember, tapi esensi Natal adalah Tuhan hadir. Bukan hanya setiap tanggal 25 Desember dapi setiap hari. Semoga kamu sekeluarga selalu diberkati dan mengalami kegembiraan Natal.
(Aku membaca pesan ini dalam bayang-bayang cemara. Aih...)
25 Desember 2008 Adalah hari yang sibuk dengan ratusan tamu besar kecil. Makanan, minuman. Juga bingkisan-bingkisan untuk tamu-tamu kecil.
26 Desember 2008 Pernikahan Sulis di gereja. Usai itu jalan ke Gua Maria Pohsarang berempat (bapak ibu n keluarga Mbak Lis ikut ke resepsi pernikahan). Lalu berputar-putar kesasar mencari Gua Selomangleng tidak ketemu. Tapi dapat pemandangan super asyik dan cantik.
Pukul 22.30, serombongan besar berangkat ke Lumajang, disopiri Mas Yud. Penuh sesak di dalam Kijang buyut Inova. Tua namun masih tangkas, kebanggaan bapak Samiran.
27 Desember 2008 Disergap dingin Senduro di lereng gunung Semeru. Hujan abu pula. Puri Wisma Rengganis kediaman Bapake Mas Hen, Pak Suliham, rame full kamar-kamarnya oleh semua keluarga. Keluarga Mas Pris dan Atik juga datang. Untung ada belasan kamar di sini dan tidak sedang ada tamu-tamu yang menginap. (Biasanya ada tamu-tamu dari luar daerah yang datang berkunjung di Pura Mandara Giri Agung, menginap di Purinya bapak. Cukup rame pada hari-hari tertentu.)
28 Desember 2008 Pagi wajib ke Pura. Untuk berdoa. Bukan sebagai Hindu tapi sebagai manusia yang mengakui kebesaran Hyang Widhi. Usai itu Bapak dan ibu Samiran balik ke Kediri. Sedang keluarga Suliham berkunjung ke makam ibu. Ibu yang belum sempat aku kenal tapi aku akrabi nisannnya. Teresia Budi Suparmi. Aku memimpin doa untuknya dengan wewangian bunga dari kebun sendiri. Usai itu berbondong ke kebun Pak Suliham yang berpondok hebat penuh dikelilingi kopi, cengkeh, kepala, pisang dll. Albert Bernard puas minum air kelapa dan membakar apa saja termasuk singkong dan pisang. Bisa membayangkan?
29 Desember 2008 Makan di warung Mbok Haji, Lumajang. 12 orang hanya menghabiskan 102.000 rupiah super lezat. Rawon, soto, nasi campur, dawet, es sirup...dll. Lalu anak-anak main di alun-alun sedang aku, Ninik dan Atik berburu batik dan petis Madura. Juga makan jajanan di Orion sampai puas.
30 Desember 2008 Rencananya hanya mau tiduran. Tapi malah main sama Gebi, si centil. Sedang Albert dan Bernard hujan-hujanan sampai biru seluruh muka dan badannya hingga sore. Malam berkunjung ke bulik dan bude untuk pamit beberapa menit sembari pengin merem, mengantuk.
31 Desember 2008 Dari pagi membereskan rumah super besar itu plus persiapan ke Malang. Perjalanan pagi yang asyik lewat Selatan, mampir di Pronojiwo menyantap salaknya yang super besar dan manis lalu lanjut di Malang. Tiba di rumah Atik pas hujan dan ada penjual bakso lewat. Wah, kemaruk bener makan baksp Malang yang terkenal mak nyus.
Aku menyempatkan diri keramas di salon karena rambut sudah tebal kena abu Semeru sedangkan untuk mandi saja tidak tahan dinginnya. Makan malam, lalu tidur hingga tahun berganti. Tanpa terasa.
1 Januari 2009 Pukul 2.00 sudah berada di mobil menuju Juanda. Jam 6.00 terbang dengan Sriwijaya ke Jakarta. Harga promo 350 ribu rupiah per orang. Selanjutnya? Naik angkot mobil koperasi bandara 4.000 rupiah per orang ke Kali Bokor. Oper Kopaja ke Kalideres 2.500 rp. Naik Bis ke Merak 14.000 rp. Kapal Feri 10.500 rp. Lalu travel 40 ribu rupiah sampai di depan rumah. Murah ya?
Tiba di rumah, mandi, makan pakai telur (Makasih Wak, sudah dimasakin nasi dan air.) Lalu tidur...penuh mimpi...
(Sapaan embun malam membuatku berkacak pinggang dan berkaca-kaca, antara marah sedih gembira :
Hatiku tak seputih salju, tutur kataku tak semanis madu, tapi seuntai doa dan ucapanku kan menghiasi hari indah ini. Selamat tahun baru.
Dia tidak tahu kalau aku sangat merasa kehilangan saat-saat bisa merabanya berhari-hari terakhir ini. Padahal setiap saat aku telanjang di hadapannya menanti sebuah kesempatan untuk bercinta. Dimana kau, embun malam?
Bagus jika hatimu coreng moreng dan bahasamu berantakan. Dengan begitu ada proses ilahi yang bisa membentukmu menjadi seperti apa nantinya. Terserah.
Aku menjadi sebuah gumpalan keras tanpa tahu kapan bisa meleleh, menguap atau menyublim. Dimana kau, embun malam?)
Wednesday, December 17, 2008
Menutup Tahun
Hari ini menjadi hari terakhirku pada tahun ini di depan komputer. Besok hingga tahun baru nanti tidak akan ada komputer apapun di depan mataku dan jariku. (Jadi teman, jangan berharap ada tulisan apapun yang baru dalam blogku, hingga tanggal 2 Januari nanti. Tanggal 1 Januari pasti aku tidak akan sempat menulis apa-apa selain meniup terompet). Hari ini jadi kesempatan emas bagiku untuk melihat kembali perjalanan satu tahun sepanjang 2008.
Aku ingat misiku tahun ini adalah menjadi cerpenis. Hah, susah. Aku terjungkal-jungkal dalam misi ini. (Aku ingat tahun 2007 misiku adalah menjadi cantik. Dan pada akhir tahun aku hanya menghasilkan jutaan senyum. Belum juga cantik.) Setahunku terakhir aku merenda jutaan kata. Segala cerpen aku lempar kemana-mana. Tapi hingga kini, di penghujung tahun, aku belum jadi cerpenis. Yang menyenangkan, tahun ini memberiku sangat banyak pengalaman baru. Pertemanan baru. Dan tentu saja kerjaan baru. Tahun yang dinamis, katakanlah begitu. Karena tahun ini aku bisa berjalan cepat, berjalan lambat. Berteriak marah, bicara lantang, menangis keras, diam seribu bahasa, bergerak, terpaku, terbengong, terkejut, ...pokoknya segala ekspresi segala rasa. Yang paling penting adalah aku menemukan kesadaran-kesadaran baru yang mengatasi segala pagar yang selama ini melingkupiku. Semoga inilah caraku menjadi dewasa.
Aku belum menentukan misiku di tahun 2009. Sembari pamit sementara, aku meminta masukan anda sekalian, teman-teman. Apa misi yang cocok bagiku untuk tahun 2009? Ya, jangan kuatir. Seperti setiap tahun, misi yang ditetapkan akan jadi fokus dalam tahun itu tapi perjalanan misi itu akan berjalan sepanjang segala abad. Ini caraku menuju keabadian. Maka menjadi cantik, menjadi cerpenis, tetap dijalankan hingga tercapai suatu ketika nanti. Ah, ya teman, seperti layaknya pada setiap penutupan babak, aku membungkukkan badan pada kalian semua. Terimakasih dan maafkan! Jika sempat, bertepuk tanganlah untukku. Atau lemparkan botol bekas, tomat, telur, batu, apapun, kepadaku. Sehingga babak selanjutnya aku bisa tampil lebih baik. Salam!
Aku ingat misiku tahun ini adalah menjadi cerpenis. Hah, susah. Aku terjungkal-jungkal dalam misi ini. (Aku ingat tahun 2007 misiku adalah menjadi cantik. Dan pada akhir tahun aku hanya menghasilkan jutaan senyum. Belum juga cantik.) Setahunku terakhir aku merenda jutaan kata. Segala cerpen aku lempar kemana-mana. Tapi hingga kini, di penghujung tahun, aku belum jadi cerpenis. Yang menyenangkan, tahun ini memberiku sangat banyak pengalaman baru. Pertemanan baru. Dan tentu saja kerjaan baru. Tahun yang dinamis, katakanlah begitu. Karena tahun ini aku bisa berjalan cepat, berjalan lambat. Berteriak marah, bicara lantang, menangis keras, diam seribu bahasa, bergerak, terpaku, terbengong, terkejut, ...pokoknya segala ekspresi segala rasa. Yang paling penting adalah aku menemukan kesadaran-kesadaran baru yang mengatasi segala pagar yang selama ini melingkupiku. Semoga inilah caraku menjadi dewasa.
Aku belum menentukan misiku di tahun 2009. Sembari pamit sementara, aku meminta masukan anda sekalian, teman-teman. Apa misi yang cocok bagiku untuk tahun 2009? Ya, jangan kuatir. Seperti setiap tahun, misi yang ditetapkan akan jadi fokus dalam tahun itu tapi perjalanan misi itu akan berjalan sepanjang segala abad. Ini caraku menuju keabadian. Maka menjadi cantik, menjadi cerpenis, tetap dijalankan hingga tercapai suatu ketika nanti. Ah, ya teman, seperti layaknya pada setiap penutupan babak, aku membungkukkan badan pada kalian semua. Terimakasih dan maafkan! Jika sempat, bertepuk tanganlah untukku. Atau lemparkan botol bekas, tomat, telur, batu, apapun, kepadaku. Sehingga babak selanjutnya aku bisa tampil lebih baik. Salam!
Selingkuh
Aku mengabarkan kepada semua orang, dengan keras dan lantang. Ini pengakuanku : "Aku telah selingkuh!"
(Adakah keterangan lain yang memadai untuk menjelaskan pengakuanku ini? Tidak ada. Tidak ada yang ingin aku katakan.)
(Adakah keterangan lain yang memadai untuk menjelaskan pengakuanku ini? Tidak ada. Tidak ada yang ingin aku katakan.)
Tuesday, December 16, 2008
Ramalan
Kekuatan hasrat itu seperti ramalan. Kalau aku bilang 'mungkin akan ada nanti...', lalu aku menghasratinya, wah kejadian sungguh. Aku pernah bilang "Mungkin anak-anak liar sudah bersemayam dalam tubuhku." Kapok deh, benar-benar berendeng-rendeng anak-anak liar meluncur dari ruapan rambutku. Lalu berbaris minta disapa, ditegur. Setelahnya mereka akan beranak pinak dan reproduksi kilat. Dan kini ada jutaan menari-nari di seluruh inderaku.
"Lain kali hati-hati dengan pikiran ya, Yuli. Dan lebih hati-hati lagi dengan lidahmu. Keterlaluan jika menyangka diri sebagai pahlawan seolah dunia tak akan berputar tanpamu. Memang tangan dan kakimu ada berapa?"
Ah ya. Memang parah jadinya. Tak bisa lari juga. Apalagi dengan bekas-bekas pengembaraan yang abadi di seluruh ragaku. Serpihan ludah asing di bibirku, memar di pahaku, romansa di ingatanku, perih tarikan nafas rindu, tertawa di atas bantal empuk, kehangatan ... mana bisa menghilang begitu saja tanpa mengolahnya dulu menjadi indah.
"Lain kali hati-hati dengan pikiran ya, Yuli. Dan lebih hati-hati lagi dengan lidahmu. Keterlaluan jika menyangka diri sebagai pahlawan seolah dunia tak akan berputar tanpamu. Memang tangan dan kakimu ada berapa?"
Ah ya. Memang parah jadinya. Tak bisa lari juga. Apalagi dengan bekas-bekas pengembaraan yang abadi di seluruh ragaku. Serpihan ludah asing di bibirku, memar di pahaku, romansa di ingatanku, perih tarikan nafas rindu, tertawa di atas bantal empuk, kehangatan ... mana bisa menghilang begitu saja tanpa mengolahnya dulu menjadi indah.
Candu Manusia
Kita bisa kecanduan seseorang. Cara kerjanya ya seperti candu seperti biasa itu. Kalau tidak dapat mencicip maka tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tergantung pol. Bahkan kalau tidak cepat diberikan pula, bisa sakauw, kesakitan menderita. Beberapa bisa mati juga.
Gimana cara melepaskan diri dari kecanduan seseorang seperti ini? Aku kira seperti juga yang dilakukan pada pecandu obat atau narkoba. Melepaskan diri, melakukan rehabilitasi, mencari teman yang bersih dll.
Bagaimana kalau tidak mau menghentikannya? Ya, harus dicari terus. Nah ini mahal, teman. Bahkan orang bisa melakukan tindak kriminal karena kecanduan. Melakukan segala trik dan intrik untuk mendapatkannya. Ya lah, karena sakauw itu tidak enak. Sakit. Menderita.
Gimana cara melepaskan diri dari kecanduan seseorang seperti ini? Aku kira seperti juga yang dilakukan pada pecandu obat atau narkoba. Melepaskan diri, melakukan rehabilitasi, mencari teman yang bersih dll.
Bagaimana kalau tidak mau menghentikannya? Ya, harus dicari terus. Nah ini mahal, teman. Bahkan orang bisa melakukan tindak kriminal karena kecanduan. Melakukan segala trik dan intrik untuk mendapatkannya. Ya lah, karena sakauw itu tidak enak. Sakit. Menderita.
Gender dalam Media Massa
Siang tadi kurang lebih dua jam aku bersama mahasiswa Fisip Unila semester 3, bicara tentang peran media massa upaya adil gender. (Dikerjain si Indri, untuk menutup kuliahnya pada semester ini.) Aku siapin satu tulisan tidak ilmiah sama sekali. Ya, mohon maklum, memang bukan ilmuwan.
Aku mengawali dengan mengajak mereka membuat 'sinetron'. Dalam kelompok mereka bekerja membuat karakter dua orang suami istri, plus settingnya. Dan terutama adalah satu babak cerita, apa yang dilakukan dua orang itu pada hari Senin pukul 10.00 - 11.00.
Hasil kelompok persis seperti yang aku duga.
- Perempuan dengan karakter yang seperti di sinetron-sinetron itu. Cerewet, nangis, marah, menuntut dll.
- Yang laki-laki digambarkan dalam tokoh yang santai, marah karena dituntut, pengusaha kaya, selingkuh dll.
- Alur ceritanya ya begitulah. Salah satu kelompok mengatakan tokoh suami pada jam 10.00 minum kopi, istrinya menjemur pakaian, lalu anaknya datang minta duit, suami marah, istri jadi cerewet hingga kebentur pintu, lalu suami pergi gak tahan lihat istrinya.
Persis seperti itulah media mempengaruhi otak penikmatnya.
Lalu aku tanya : "Adakah penindasan pada perempuan dalam kisah-kisah itu? Seperti apa?"
Wow, satu bilang tidak ada, satu bilang ada penindasan tidak langsung, satu lagi ada dll.
Lalu aku tanya lagi :"Kalau perempuan maju, apakah laki-laki bisa lebih maju juga? Bagaimana?"
Hehehe...diskusi lagi mereka. Aku tinggal tarik beberapa benang merah. Makalahku tidak aku baca, biar mereka baca sendiri.
Beberapa penekanan aku ungkapkan :
- Perjuangan adil gender bagi perempuan tercapai ketika perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri secara bebas. Tidak hanya ditentukan oleh ortu ketika kanak-kanak, oleh suami ketika sudah menikah, dan oleh anak ketika sudah renta.
- Jadi ibu rumah tangga sangat mulia, tapi jika ini bukan paksaan maka akan membentuk ibu rumah tangga yang profesional. (Ceilaaa...) Begitu juga ketika pilihannya menjadi pekerja atau yang lainnya.
- Semua akan harmonis kalau pria dan perempuan saling melengkapi, dengan peran gender yang adil. Memasak tidak memakai alat kelamin, jadi bisa dilakukan oleh laki atau perempuan. Menyusui memang harus dilakukan oleh perempuan karena perempuan yang punya susu. (Mata mereka terlolong tak tertolong karena aku vulgar berat. Hehehehe...biarin.)
- Jadi, mari menuju keadilan gender. Anti diskriminasi. Media massa bisa menjadi salah satu alat penyebarannya.
Begitulah.
(Usai itu aku ditraktir mi sosis di kantin Unila. Hujan deras, jadi ngobrol ngalor ngidul sama Indri. Masih harus ke kantor lagi, karena kerjaan belum kelar. Kini ada di kantor malah ngeblog, sudah hampir jam 19.00. Aku akan kerja lembur nanti di rumah. Jadi aku akan siapin bahan-bahan di flashdisk untuk dibawa pulang.
Ah ya ada beberapa hal dari obrolan dengan Indri yang nyangkut di otak dan hatiku, bahwa setan bekerja dengan cara memanipulasi otak manusia. Seolah sesuatu bisa benar dan baik, lalu manusia pelan-pelan digiring ke neraka. Nah lo memang kami ngobrol tentang apa sampai nggosip tentang setan? Hehehe...ada deh. Ini aku tulis supaya aku tidak lupa pernah ngobrol begitu dengannya. Nanti kapan-kapan aku buat laporan lengkapnya.)
Aku mengawali dengan mengajak mereka membuat 'sinetron'. Dalam kelompok mereka bekerja membuat karakter dua orang suami istri, plus settingnya. Dan terutama adalah satu babak cerita, apa yang dilakukan dua orang itu pada hari Senin pukul 10.00 - 11.00.
Hasil kelompok persis seperti yang aku duga.
- Perempuan dengan karakter yang seperti di sinetron-sinetron itu. Cerewet, nangis, marah, menuntut dll.
- Yang laki-laki digambarkan dalam tokoh yang santai, marah karena dituntut, pengusaha kaya, selingkuh dll.
- Alur ceritanya ya begitulah. Salah satu kelompok mengatakan tokoh suami pada jam 10.00 minum kopi, istrinya menjemur pakaian, lalu anaknya datang minta duit, suami marah, istri jadi cerewet hingga kebentur pintu, lalu suami pergi gak tahan lihat istrinya.
Persis seperti itulah media mempengaruhi otak penikmatnya.
Lalu aku tanya : "Adakah penindasan pada perempuan dalam kisah-kisah itu? Seperti apa?"
Wow, satu bilang tidak ada, satu bilang ada penindasan tidak langsung, satu lagi ada dll.
Lalu aku tanya lagi :"Kalau perempuan maju, apakah laki-laki bisa lebih maju juga? Bagaimana?"
Hehehe...diskusi lagi mereka. Aku tinggal tarik beberapa benang merah. Makalahku tidak aku baca, biar mereka baca sendiri.
Beberapa penekanan aku ungkapkan :
- Perjuangan adil gender bagi perempuan tercapai ketika perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri secara bebas. Tidak hanya ditentukan oleh ortu ketika kanak-kanak, oleh suami ketika sudah menikah, dan oleh anak ketika sudah renta.
- Jadi ibu rumah tangga sangat mulia, tapi jika ini bukan paksaan maka akan membentuk ibu rumah tangga yang profesional. (Ceilaaa...) Begitu juga ketika pilihannya menjadi pekerja atau yang lainnya.
- Semua akan harmonis kalau pria dan perempuan saling melengkapi, dengan peran gender yang adil. Memasak tidak memakai alat kelamin, jadi bisa dilakukan oleh laki atau perempuan. Menyusui memang harus dilakukan oleh perempuan karena perempuan yang punya susu. (Mata mereka terlolong tak tertolong karena aku vulgar berat. Hehehehe...biarin.)
- Jadi, mari menuju keadilan gender. Anti diskriminasi. Media massa bisa menjadi salah satu alat penyebarannya.
Begitulah.
(Usai itu aku ditraktir mi sosis di kantin Unila. Hujan deras, jadi ngobrol ngalor ngidul sama Indri. Masih harus ke kantor lagi, karena kerjaan belum kelar. Kini ada di kantor malah ngeblog, sudah hampir jam 19.00. Aku akan kerja lembur nanti di rumah. Jadi aku akan siapin bahan-bahan di flashdisk untuk dibawa pulang.
Ah ya ada beberapa hal dari obrolan dengan Indri yang nyangkut di otak dan hatiku, bahwa setan bekerja dengan cara memanipulasi otak manusia. Seolah sesuatu bisa benar dan baik, lalu manusia pelan-pelan digiring ke neraka. Nah lo memang kami ngobrol tentang apa sampai nggosip tentang setan? Hehehe...ada deh. Ini aku tulis supaya aku tidak lupa pernah ngobrol begitu dengannya. Nanti kapan-kapan aku buat laporan lengkapnya.)
Monday, December 15, 2008
Mimpi Atau Nyata, Berbeda?
Pernahkah engkau mimpi sesuatu yang rupanya nyata? Aku pernah, teman. Mimpi yang menyambar tidak sampai dua jam. Cukup lama untuk meyakininya ada, tapi terlalu cepat untuk memastikannya. Benar terjadi. Wong kaki-kakiku sungguh mengambang, dan tangan-tanganku terentang. Seluruh poriku menghisap kehangatan, seluruh pori dalam tubuh. Hingga mekar, berdenyut.
Jangan tanya bagaimana rasanya. Kau pernah sangat lapar, lalu menemukan sepotong singkong di atas bara yang menyala, dan saat kau memakannya turun gerimis, teman? Itulah rasanya. Tentu saja sangat dingin seluruh badan karena percikan jarum-jarum hujan temaram. Tapi juga ada hangat di rongga mulutmu karena mengunyah singkong bakar. Dan kemudian perutmu pelan-pelan mencerna dan menyerap saripatinya. Itulah rasanya. Mungkin setelahnya perut jadi kembung, tapi kenyang. Ingin nambah, nambah dan nambah.
Mau yang lebih konkret? Begini. Seseorang dalam sebuah kamar, tiba-tiba menarikmu dalam pelukan kencang, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi tepat di bibirmu. Dan kau tidak bisa mengatakan apa-apa karena kau juga menikmati itu bahkan kemudian juga membalasnya. Setelah itu menginginkannya lagi, lagi dan lagi. Itu konkretnya.
(Yach, kalau belum jelas juga, apa boleh buat teman. Dari sana aku cuma mau beri kesimpulan ngawurologi : kadang mimpi dan nyata sulit dibedakan, karena kadang keduanya tidak berbeda. Tinggal bagaimana kita mau melihatnya. Dengan mata atau dengan bukan mata. Mau bangun atau tidak bangun. Terserah pilih yang mana.)
Jangan tanya bagaimana rasanya. Kau pernah sangat lapar, lalu menemukan sepotong singkong di atas bara yang menyala, dan saat kau memakannya turun gerimis, teman? Itulah rasanya. Tentu saja sangat dingin seluruh badan karena percikan jarum-jarum hujan temaram. Tapi juga ada hangat di rongga mulutmu karena mengunyah singkong bakar. Dan kemudian perutmu pelan-pelan mencerna dan menyerap saripatinya. Itulah rasanya. Mungkin setelahnya perut jadi kembung, tapi kenyang. Ingin nambah, nambah dan nambah.
Mau yang lebih konkret? Begini. Seseorang dalam sebuah kamar, tiba-tiba menarikmu dalam pelukan kencang, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi tepat di bibirmu. Dan kau tidak bisa mengatakan apa-apa karena kau juga menikmati itu bahkan kemudian juga membalasnya. Setelah itu menginginkannya lagi, lagi dan lagi. Itu konkretnya.
(Yach, kalau belum jelas juga, apa boleh buat teman. Dari sana aku cuma mau beri kesimpulan ngawurologi : kadang mimpi dan nyata sulit dibedakan, karena kadang keduanya tidak berbeda. Tinggal bagaimana kita mau melihatnya. Dengan mata atau dengan bukan mata. Mau bangun atau tidak bangun. Terserah pilih yang mana.)
Subscribe to:
Posts (Atom)