Tuesday, December 17, 2013

Imajiner

Persamaan dari senja adalah kepastian yang
diturunkan dari rumus kompleks matematika.
Tak ada yang bisa mengembangkannya
tanpa mengacu sumbu gelombang pasang.
Lucunya saat dia berdiri seorang saja
antara jaman purba dan kekinian yang nisbi
kakinya membengkok dalam angka imajiner
hanya bisa dihitung oleh akar pangkat negatif
tanpa hasil yang memuaskan hati, terlebih
saat matahari tanpa senyum masuk dalam
selimut dingin, mengabaikan tangan melambai.

Kalah


Bagaimana kembali pada kemenangan
sedang aku tersuruk dalam tudingan
yang mengikat hatiku di kursi sudut
bahkan tak bisa menggerakkan sehelai rambut
secara merdeka?

Aku meletakkan bibir di dalam kenangan
yang masih akan kuulang andai
kesempatan menjadi lantai landai
bagi tubuh berselancar tanpa penghalang.

Saturday, December 07, 2013

LEKAT

Ini terlalu mudah, sayang.
(Aku mengatakan untuk menghiburmu,
juga untuk menghiburku.)
Tak perlu dicatat,
tak perlu dikerat.

"Aku mau semangkuk kaldu." Suaramu mirip rayu.
(Kau telah memintaku menggeser pintu,
menyodorkan mangkuk porselen Tiongkok berhias biru kobalt,
mangkuk kuat, dalam denting renyah yang separoh berisi kuah.)

Tunggu sebentar, sayang.
(Terpaksa kukatakan ketika tanganmu terlalu cekatan,
menarik grendel hingga menguakkan udara pejal
serba tergesa.)

Tunggu, pakai kasutmu!
Tak usah diikat,
tak usah dibebat.

"Aku mau tanpa cendawan." Kali ini suaramu tanpa tawa.
(Tanganmu di atas tanganku mencabut benih-benih jamur tiram putih,
serupa batang liat, dengan akar kenyal bertumpu petang,
yang selalu rawan.)

Air telah mendidihkan belulang, sayang.
Pilihannya adalah mendekat,
melangkah tanpa syarat.

"Aku mau..." Hanya bisikan yang nyaris tak terdengar.
(Tapi tak seorangpun akan menolaknya sebagai puisi atau prosa
sesaat, untuk tanpa ragu di sepanjang hayat.)

Sunday, December 01, 2013

Kasus

Pulang sekolah sore, dua cowokku berderap hingar bingar hingga depan pintu rumah, lalu tak ada suaranya. Aku diam juga sedang mengaduk ayam pada bumbu, sembari menunggu wajan panas. Aku tahu mereka mengendap-ngendap di belakangku.
"Bu, Bernard kena kasus di sekolah." Albert berbisik dekat kuping.
Weih. Aku taruh mangkok ayam. Bernardnya sendiri santai-santai saja membuka kulkas tanpa melihat padaku. "Kenapa, dik?"
"Hush, pelan, bu. Ini rahasia. Di kamar saja. Biar bapak gak dengar." Albert lagi yang bicara. Bernard asyik mencongkel freezer.
Wah, serius nih.
"Tapi ibu masukin ayam dulu ya. Sambil nggoreng."
"Iya, aku juga masih ngambil es." Bernard yang bersuara.
"Iya, aku juga mau pipis dulu." Albert ikut menambah.
Okey, lalu kami masuk kamar setelah aku mengedip pada bapaknya yang mau protes.
Lalu pintu ditutup. Albert rupanya sudah diangkat jadi juru bicara sehingga Bernard hanya mondar-mandir mencecap es balon, sedangkan Albert duduk di depanku, bicara.
"Tadi sore, habis aku les, aku ke kantin. Makan nasi goreng sisa, dikasih sama mbak kantin. Mereka kan selalu bagi-bagi nasi goreng yang gak kejual." Huft, sabar-sabar. Aku melihat tanpa komentar. Sabar.
"Lalu adik datang. Aku tawari nasi goreng gak mau. Padahal nasi gorengnya enak, pedes." Astaga, Albert, jadi kasusnya apa? Kok malah tentang nasi goreng lho.
"Dia cerita habis mecahin pot." Oh, itu. Aku melihat Bernard.
"Iya, Nard? Pot yang mana? Di lantai atas? Kena orang? Dimarah bu Yohana?"
"Ndak. Tenang saja sih, bu." Bernard menjawab masih dengan esnya.
Albert lagi yang menjelaskan,"Bu Yohana sudah tahu. Tapi Bernard gak dimarahin. Tapi waktu aku dulu jadi saksi saat temanku mecahin layar monitor, ibu dipanggil kan sama guru? Disuruh ngganti juga kan? Nah, dik, bisa jadi besok ibu dipanggil bu guru."
Oalah. Aku mulai tahu duduk soalnya. "Jadi pot mana, Nard?"
"Pot depan kantor. Bukan di lantai atas. Gak kena orang juga kok. Aku lari-lari pas istirahat, gak sengaja. Tapi bu Yohana melihat kok. Ndak marah."
"Okey, lihat besok ya. Kalau memang bu Yohana mau ketemu orang tua, kasih tahu ibu. Kalau memang harus diganti, ya diganti." Saat aku keluar kamar, mereka memastikan aku janji tidak mengatakannya pada bapak. "Ini rahasia, kasus rahasia." Okeylah. Hehehe...

Wednesday, November 20, 2013

Takut Tai Ayam

Yo, aku, di umur 3 tahunan.
Salah satu yang kuingat dari masa kecilku adalah aku takut pada tai ayam. Jika aku sedang berjalan, aku kira di usia 1 - 4 tahun, lalu tiba-tiba di depanku ada telek lencung, tai ayam, aku akan mendadak terpaku. Diam, lalu berteriak sekuat-kuatnya,"Ana teyek!!!" (Ada tai!!!) Lalu ibu, atau bulik atau mbah, atau mak, akan datang, membersihkannya, baru aku bisa bergerak. Biasanya siapa saja yang membersihkan tai ayam itu sambil ngoceh. "Mbok diloncati, opo lewat kono, belok sitik. Yo, yo,..." (Kan bisa diloncati, atau lewat sana, belok dikit kan bisa. Yo, Yo..." Yo adalah panggilan sayang untukku di masa aku masih kecil. (Sekarang hanya beberapa yang memanggilku demikian.) Kalau diinget-inget kok ya aneh lucu to, masak takut sama tai ayam. Hmmm, kenapa ya?

Tuesday, November 12, 2013

Lampost, 10 Nopember 2013

Kisah yang Rapi dari Pencerita yang Baik

Data buku
Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi
Kuntowijoyo
Kompas, Jakarta
I, September 2013
xviii + 150 hlm.


CERITA pendek ang termaktub dalam kumpulan cerpen ini merupakan cara komunikasi Kuntowijoyo yang mudah sekali menggelitik perasaan para pembacanya. Bahasa yang digunakan sangat lugas, mengalir dengan terus terang apa adanya. Sebelum sampai pada kedalamannya, orang yang membaca dengan mudah dapat terkecoh menyangka tulisan ini semacam kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, terlebih di beberapa tulisan, Kuntowijoyo, sang penulis, mengungkapkan jati dirinya.

Dalam cerpen Pistol Perdamaian, Kuntowijoyo memakai gaya bertutur dari sudut pandang orang pertama: saya. Di salah satu paragraf bagian terakhirnya tokoh saya ini diungkap sebagai seorang ahli sejarah, seperti si Kuntowijoyo sendiri yang memang seorang ahli sejarah, pengajar sejarah dan menelurkan banyak buku ilmu sejarah.

“Dalam rapat kelurahan, setelah soal KTP dan PBB selesai dibicarakan, Pak Lurah membuka kertas koran dan berkata tanpa interupsi. ‘Sebaiknya barang ini saya serahkan pada teman kita yang ahli sejarah.’ Dia memberikan bungkusan itu pada saya, sebuah pistol, masya Allah. Jadi, pistol yang saya buang ke kelurahan juga jatuhnya.” (hlm. 24)

Hal yang sama juga muncul di cerpen-cerpen lain seperti di cerpen paling akhir dalam buku ini, RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana. Di paragraf kedua halaman 140, ditulis identitas Kuntowijoyo sendiri, walau hanya sedikit. “Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya ketua RT berijazah S-3 dari universitas papan atas di Amerika.”

Tentu saja ungkapan-ungkapan itu tidak bisa dianggap sebagai fakta karena memang ke-15 tulisan itu dibuat sebagai cerpen, fiksi. Jadi semuanya memang karangan semata dan bukan kisah nyata, walau sang penulis memang merupakan ahli sejarah, doktor sejarah lulusan universitas terkenal di Amerika Serikat dan mengajar di universitas terkemuka di Indonesia.

Namun, ketika kita mulai mengulik sedikit kehidupannya melalui sumber-sumber di berbagai tempat mau tidak mau pembaca akan mengaitkan Kuntowijoyo dengan peran lain yang dimilikinya di dalam kampus, masyarakat khususnya Islam, dan negara. Pembaca tidak bisa lagi mendirikannya hanya semata cerpenis atau novelis. Di pengantar buku ini, Bakdi Soemanto menulis soal apakah Profesor Doktor Kuntowijoyo ini seorang sejarawan yang menulis fiksi, atau dia adalah penulis fiksi yang suka sejarah.

Dia memang seorang akademisi, pakar sejarah, sangat lazim Kuntowijoyo berpikir dan bertutur secara ilmiah. Dia telah membuktikan itu dengan menulis banyak sekali dan tulisan sejarah, misalnya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985) atau Pengantar Ilmu Sejarah (1995).

Buku ini berisi 15 judul cerpen yang pernah muncul di Kompas pada 1990—2000-an. Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi yang menjadi judul buku ini merupakan judul cerpen yang ke-14 dalam buku terpasang di halaman 125. Namun, bisa dikatakan judul ini membingkai seluruh tema cerpen yang ada dalam dalam buku ini. Dan baik juga jika judul ini menjadi ajakan atau anjuran bagi para calon politisi. Sederhananya, baca dulu buku ini sebelum menjadi calon politisi untuk kemudian menjadi politisi.

Bagaimana pembaca dapat menangkap pesan yang disampaikan Kuntowijoyo lewat cerpen-cerpennya? Inilah keunikan yang berikutnya. Judul pertama yang dipasang dalam buku ini, Laki-laki yang Kawin dengan Peri, menyodorkan paragraf pertama dengan sebuah pertanyaan setengah meledek, ”Mau jadi anggota DPR? Boleh, asal dengarkan cerita ini.” Paragraf pendek, dengan dua kalimat pendek.

Setelah itu, Kuntowijoyo sama sekali tidak menyinggung tokoh tentang anggota DPR atau calon anggota DPR, tetapi kisah tentang Kromo, seorang laki-laki berbau busuk, yang tinggal di sebuah desa, yang terusir dari kampungnya karena bau busuknya itu, lalu konon menikah dengan peri, dan saat mati berbau harum. Baru kemudian di bagian akhir kisah ini, Kuntowijoyo kembali menarik pembaca supaya merenung untuk menangkap pesannya dalam satu paragraf pendek, lagi. “Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun.”

Kuntowijoyo menawarkan kaca pembesar untuk melihat detail kemanusiaan dalam sekup yang sangat kecil, kadang dianggap remeh. Mudah disetujui bahwa seorang pemimpin harus menyiapkan syarat itu sebelum menjadi pemimpin. Mereka dituntut untuk jeli, peka terhadap situasi orang-orang biasa, sederhana, yang dianggap lemah dan seluruh dinamika yang melingkupinya. Mata dan hati Kuntowijoyo mampu menangkap hal-hal remeh temeh yang terjadi di keseharian, khususnya di lingkungannya sendiri, entah di Jawa atau saat dia tinggal di Amerika Serikat, untuk kemudian mengolahnya menjadi cerpen.

Kuntowijoyo memang salah satu penulis terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara.

Yuli Nugrahani, cerpenis.

Friday, November 08, 2013

Keinginan yang Tidak Merugikan Dunia

Hari ini aku menjemput Albert pulang sekolah. Dia sudah menunggu satu jam lebih karena seharusnya dia pulang jam 11.00 sedang aku jam 12.00 dari kantor di hari Jumat ini. Begitu bertemu di gerbang sekolah dia cerita kalau pisang goreng yang dia jual masih sisa separo. Hari ini dia memang jualan pisang goreng, seharga Rp. 500,- yang aku buatkan pagi-pagi, sesuai ajakan guru IPSnya, bu Atun. (Konon, Albert bercerita, pada pelajaran IPS, guru tercintanya ini mengajak murid-murid untuk membawa bekal makanan yang lebih, yang bisa dijual untuk teman-temannya. Hasil penjualan bisa untuk menambah tabungan. Aku sangat mendukung ide ini. Dan untuk jualan pertama, Albert membawa 14 biji pisang goreng. Kalau laku separo, berarti dapat Rp. 3.500,-. Hehehe...)
Nah, di jalan yang mendung, dia mengatakan ingin melihat hujan salju sekarang ini.
"Pasti asyik kalau ada hujan salju di Indonesia. Bukan hanya sesekali tapi sering. Seperti memang musimnya gitu, tidak hanya musim penghujan dan kemarau."
Aku mengingatkan kalau Indonesia itu ada di garis katulistiwa. Tidak ada salju, kecuali di tempat yang sangat tinggi.
"Namanya kan keinginan, bu. Jadi kan asyik bisa lihat salju."
"Tapi tanaman di Indonesia tidak akan tahan pada salju, Bet. Bisa mati semua. Juga hewan dan orang-orangnya."
"Hmmm, masak sih."
"Dan lagi kalau di Indonesia yang tropis ada hujan salju, gimana nanti yang negara-negara subtropis atau di dekat-dekat kutub sana. Tambah dingin dong."
"Tapi kan ini keinginan, bu. Boleh saja kan."
"Boleh sih, tapi itu akan mengubah dunia. Mungkin malah merusak dunia. Ganti keinginan saja deh, Bet."
"Yaaa, penginnya lihat salju kok."
"Diubah kan bisa. Pengin lihat salju di Jepang, atau mana gitu. Kan mungkin saja Mas Albert sekolah atau kerja di sana suatu ketika."
"Iya deh."
"Dan itu tidak merugikan siapa-siapa. Tidak merusak dunia dan semesta."
"Iya, deh, bu. Iya."
Hehehe, nadanya sudah agak jengkel. Hmmm, jangan merasa aku membatasi mimpimu. Aku hanya ingin kau melihat orang lain jika punya keinginan. Dan jangan merugikan mereka semua. Ya?

Sebentar Sempurna

Duduk santai, di tengah kehijauan, segar, indah, merasa gembira, itulah sempurna, sebentar sempurna.
Tapi aku juga tak bisa menghilangkan pagi ini. Saat pagi sibuk dengan gerakan, teriakan, bergegas, penuh marah, tidak sabar dan hasrat. Ini juga sebentar sempurna, ketidak sempurnaan sebentar yang sempurna.
Tapi aku juga tak bisa melupakan, kekacauan sekitarku di lalulintas berantakan, yang berhasil kulalui dengan sumpah serapah, pada asap, ketidaktaatan, penipuan, basa basi resmi, mobil polisi, dan inilah sempurna.
Sebentar yang sering, kekacauan yang sempurna,
di negeri ini.

Sunday, November 03, 2013

Benang Laba-laba

Rajutan yang kau buat begitu remeh menjuntai
hanya benang tipis terlempar dari mulut seri.
Mudah terayun angin atau gerakan ranting 
bahkan bisa dikoyak tanpa perkosa.

Kaki yang kurang ajar menjadikannya mainan,
tak disangka kekuatannya berjuta lipat ketika berbeban,
menempel semakin erat di setiap gerak badan.

Getaran mungkin sudah kau sangka,
lama kau intai dari balik daun palma,
matamu telah memilin dari kejauhan,
bibirmu telah meremas dalam semburan,

jika bergerak, benang laba-labamu semakin menjerat
jika bergerak, kau melangkah semakin dekat,
jika bergerak, ludahmu membuncah siap melumat.

Pemimpi ingin masuk ke mulut pemangsanya,
merasakan bukan gigitan tapi enzimnya yang pelan,
akan menghancurkan daging dan tulang,
hingga hanya ada kenangan.

Pemimpi memilih bergerak,
mengundang pemangsa berderak,
mendekat,
lekat.

Thursday, October 31, 2013

Melihat aku, lagi.


Klik sini untuk melihat tulisan di bulan Agustus lalu tentang aku sebagai embun. Semalam aku mendapat cahaya baru tentangnya. Okey, rumusan singkatnya seperti ini :

Bukan masalah, kalau embun memang harus terjun mengikuti kepastian gaya gravitasi. Dia tidak harus ketakutan. Itu bukan urusannya lagi, entah dia akan langsung diserap tanah, atau masih mampir di daun-daun kemuning, atau kelopak-kelopaknya. Yang jelas, dia punya waktu! Menggayut di ujung daun adalah sesaat yang berarti, karena embun bisa menangkap cahaya, membiaskan, memantulkan, atau sekedar menikmati suhu yang mengubahnya menjadi beku, atau uap. Itulah waktu yang menggembirakannya, sebelum dia lenyap melalui misteri.

Saturday, October 26, 2013

Selamat ulang tahun, Bernard.

Sepuluh tahun lalu, kekuatanmu yang merobek rahimku.
Aku masih selalu heran dan kagum pada keperkasaan bayi,
dirimu, Bernard.
Hingga sepuluh tahun berlalu, keherananku terus bertambah,
kekagumanku semakin meruah.
Bukan hanya tubuhmu yang merobek rahimku,
tapi seluruh jiwa-raga, yang kau lontarkan
dalam gerak, dalam kata, dalam rupa.

"Ini aku, ibu. Seseorang yang mau numpang,
numpang makan, numpang tidur, numpang hidup."
Itu persis katamu saat mengetuk pintu rumah,
rumah kita, sore hari saat kau pulang sekolah.
Aku saling pandang dengan bapakmu, hanya, terpana,
ingat?
Mana mungkin kutolak orang yang akan numpang,
apalagi itu adalah Bernard yang pernah ada dalam tubuhku,
masih terus akan ada dalam hatiku, jiwaku?
"Tentu saja boleh. Tapi tidak bisa selamanya. Mungkin,
kami akan sediakan tumpangan hanya sampai umurmu
yang ke 21. Atau lebih beberapa tahun. Tapi tidak
seumur hidupmu. Masuklah!"

Dia masuk rumah dengan baju seragam merah putih, sepatu hitam,
tas sekolahnya yang super berat, dan senyum nyengirnya,
yang memang nakal.
Apa adamu, Bernard, kau boleh menumpang,
boleh merepotkanku,
boleh menuntutku.

Aku mencintaimu, Bernard.
Selamat ulang tahun.


Thursday, October 24, 2013

Nego

Langkahku semata penari,
dalam rancak musik calung,
bahkan hujan panas kuabai,
terserap dalam tepuk riung.

Itulah rayu yang ditolak katup mimpi,
terbelit geliat bangun tidur,
merupa jari telanjang tanpa taji,
seketika membebaskan aku dari lumur.

Kalau pagi seberuntung ini,
selongsong peluru akan kosong,
tidak ada ledakan lagi nanti,
di tengah siang merongrong.

Jadi, kupastikan artimu bisa kutawar,
rendah atau tinggi menjulang,
tergantung matahari mana bersinar,
dan hujan siapa mengalang.

Bukan pada tubuhmu,
yang menyusup dadaku,
tapi tunas di kepalaku,
akan menahanmu.

Wednesday, October 23, 2013

Empty

Pagi yang kosong
mendorongku ke ruang tamu
menandai sebagai orang asing,

hanya sebagai orang asing
duduk dengan malu
tanpa baju.

Siang tak perlu penyambutan.
Bisakah tinggalkan aku sejenak,
rindu? Biar kuselesaikan waktu.

Tuesday, October 22, 2013

Crying

Malam, biasanya menjadi teman
kini menggumpal dalam selongsong
peluru Charlos Hathcock di ladang perburuan.

Aku yang mengincarnya dengan teropong
senjataku, namun aku yang dibunuhnya.

Malam telah berkhianat.
Carlos Hathcock

Sumber: http://www.unikgaul.com/2012/04/10-penembak-jitu-paling-terbaik-di.html
Konten ini memiliki hak cipta

Sunday, October 20, 2013

Be a Mom

Dalam berbagai kesempatan, aku sering bertemu perempuan-perempuan 'ibu' yang luar biasa. Ya, kesempatan ini sangat sering karena aku sendiri juga seorang ibu. Mengantar anak dalam satu kegiatan akan ketemu ibu-ibu, ke pesta kondangan ketemu dengan ibu-ibu, ke sekolah ya ketemu ibu-ibu, keluar rumah di halaman rumah, di pasar dan sebagainya.
Sebagian dari ibu-ibu bisa menjadi teman ngobrol yang sungguh asyik. Sebagian dari mereka itu yang terlihat di foto. Mereka itu biasa aku sapa dengan Mbak Neni (tengah) dan Bu Pur (kanan). Aku tidak terlalu sering bertemu dengan mereka, tapi kalau ada kesempatan bertemu pasti menjadi perjumpaan yang asyik. Dan yang penting, nyambung (Soal nyambung ini memang agak susah ditemukan dengan sembarang ibu-ibu. Aku selalu merasa punya dunia yang berbeda sehingga ada banyak minatku yang tidak bisa mereka pahami, sedang minat mereka tidak aku pahami.)
Dua ini termasuk yang bisa kupahami, karena mungkin aku punya kesabaran mendengarkan mereka dan kami saling menaruh respek satu sama lain. Keduanya punya kesamaan. Mereka perempuan-perempuan yang mandiri. Punya keinginan dan mereka usahakan hal itu. Tapi mereka juga orang-orang yang larut dalam perannya yang kuat bersama anak-anak mereka. Bagian yang inilah yang sering aku gali dari mereka. Kebetulan bu Pur punya 4 anak yang usianya sudah di atas usia anak-anakku. Aku belajar darinya tentang masalah-masalah yang muncul dalam perkembangan anak-anak. Tentang mbak Neni aku belajar tentang komitmennya dan kerja kerasnya.
Hmmm, menjadi ibu bukan perkara sulit, tapi juga bukan perkara yang mudah. Hingga Albert usia 12 tahun dan Bernard 9 tahun, aku masih harus sering belajar untuk menjadi ibu, khususnya menjadi ibu yang baik. Dekat  dengan ibu-ibu hebat macam mereka membuatku belajar lebih cepat. Matur nuwun nggih...

Friday, October 18, 2013

Choice

Tapi, aku tidak bisa menghentikan,
ketika salah satu kakiku
menapak, dan yang lain
menggantung.

Sunday, October 13, 2013

Teman Tengah Malam

Malam tak pernah bisa berlari
kaki-kakinya adalah udara basah
yang menghablur di ujung daun.

Darinya aku mengambil kunci
dari kantung-kantung rahasia
yang tergantung di hening langut.

Aku tak bisa merasakan sepi
apalagi setelah menyentuh sisi nampan
yang disodorkan oleh beda waktu.

Ini hanya sisi lain letak matahari
kita berada di waktu yang sama
sedikit beda karena kau di siangmu

dan aku di malamku.


Saturday, October 12, 2013

Non Est Personarum Acceptor Deus



Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup baru untuk Keuskupan Tanjungkarang sudah dipilih dan diangkat oleh Paus Fransiskus. Pengumuman disampaikan secara resmi oleh Tahta Suci Kepausan Vatikan pada Jumat, 19 Juli 2013 pukul 17.00 WIB (12.00 waktu Roma). Uskup baru ini menggantikan Mgr. Andreas Henrisoesanta yang sudah disetujui pengunduran dirinya oleh Vatikan pada 7 Juli 2012.
Uskup Keuskupan Tanjungkarang ditahbiskan oleh Mgr. Aloysius Sudarso, Uskup Keuskupan Agung Palembang di Kompleks Sekolah Xaverius dan Fransiskus, Pahoman, Bandarlampung pada Kamis, 10 Oktober 2013, dimulai pada pukul 09.00 sampai selesai. Ekaristi pentahbisan ini dihadiri Duta Besar Vatikan Antonio Guido Filipazzi, para uskup dari 36 keuskupan di Indonesia, para pejabat pemerintahan Lampung, para undangan serta sekitar 7000 umat dari 21 paroki yang ada di Keuskupan Tanjungkarang. Dalam pentahbisan ini, para uskup yang hadir menumpangkan tangan pada uskup terpilih Keuskupan Tanjungkarang dan menerimanya sebagai rekan.
Motto uskup adalah “Non Est Personarum Acceptor Deus (Allah tidak membedakan orang.)  Kis, 10 : 34. Motto ini menjadi ajakan bagi umat Keuskupan Tanjungkarang untuk menyadari kehadirannya di “Sai Bumi Ruwa Jurai” Lampung sebagai orang beriman Katolik dan sekaligus sebagai bagian dari seluruh masyarakat. “Siapa pun mereka dan dari mana pun asalnya dibimbing, dituntun dan diajak untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian. Inilah persaudaraan sejati dalam perziarahan menuju keselamatan berdasarkan iman akan Allah yang menghendaki semua orang selamat.”

Tuesday, October 08, 2013

Kopi (Pagi) yang Terlalu (Tidak) Manis

Rencananya, pagi akan mengundang kita berdua
duduk berhadapan di meja bundar angkasanya
dengan secangkir kopi di masing-masing sisi
sebelum berbincang tentang angin salah musim,
kemarin.

Sayang, pagi salah menimbang gula beda takar
yang disadari saat lidahnya mengecap kelakar
iseng tanpa praduga tapi lalu rusak jadi marah
tak ada lagi yang sisa selain tangisan tumpah,
batal.

Jadi, jangan harap ada perjumpaan sekarang
sampai pagi mampu membenahi seluruh ruang
jangan tanya angin hujan atau kesalahan cuaca
karena kita tak akan berjumpa tanpa undangan,
pagi.

Atau, mari santai dulu menunggu seseorang lain
membakar kemenyan dan merangkai sesaji
dapat kita runut asapnya sampai di hulu bara
di situ pasti ada perjumpaan di arang terbakar,
mesra.

Saturday, October 05, 2013

Haruki Murakami : Norwegian Wood

Judul : Norwegian Wood (Noruwei no Mori)
Penulis : Haruki Murakami
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh : Jonjon Johana
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : 2013
Isi : i + 423
Ukuran : 13,5 cm X 20 cm
ISBN : 978-979-91-0563-9


Setelah beberapa lama hanya tersuruk di rak, aku bisa menyelesaikan buku ini hanya dalam 3 hari di sela-sela kegiatan-kegiatanku. Karena sebelum buku ini aku membaca Wally Lamb yang I Know This Much is True, spontan perbandingan muncul di otakku.

Okey, persamaannya dulu ya. Pertama, sama-sama memakai sudut pandang orang pertama. Aku-nya Wally adalah Dominick, sedang aku-nya Haruki adalah Wanatabe. Kedua, sama-sama menyodorkan tokoh utama, orang terdekat, yang menderita suatu 'gangguan kejiwaan'. Pasangan Dominick adalah Thomas, kembarannya, yang masuk Rumah Sakit Jiwa Hatch, sedang pasangan Watanabe adalah Naoko, yang masuk ke tempat rehabilitasi Asrama Ami. Ketiga, sama-sama menyajikan relasi manusia yang sangat jujur, kadang membuatku sebal karena kelewat vulgar. Ketiga, mereka sama-sama detail.

Perbedaannya jelas juga. Pertama, buku Wally sangat tebal, si Haruki hanya separonya. Waktu membacanya pun aku butuh waktu lebih dari dua kali lipat ketika aku membaca Haruki ini. Kedua, settingnya dan warnyanya jelas beda. Satu di Amerika, satunya di Jepang, walau Haruki sepertinya sangat terpengaruh Amerika juga. Ketiga, aku merasakan 'sesuatu' yang sangat kuat saat membaca Wally. Bahkan di bagian akhirnya, ketika dia mulai melembut untuk sebuah happy ending, aku menangis sampai terguguk pagi-pagi sendirian di kantor. Dengan Haruki, aku tidak merasakan perasaan yang kuat. Entah mengapa, rasanya terlalu biasa. Bahkan aku nyaris putus asa hingga 2 per tiga halaman aku belum mendapat sesuatu yang cukup kuat. Apa pengaruh terjemahannya ya? Entah. Keempat, endingnya Wally sangat jelas, sedang si Haruki membiarkannya menggantung, menawarkan beragam imajinasi.

Norwegian Wood ini kisah tentang seorang remaja beranjak dewasa di tahun 60-an. Ini semacam kilas balik di saat usianya 37 tahun, yang mengingat kembali seorang gadis masa lalunya karena lagu Norwegian Wood dari Beatles yang mengalun dari pesawat yang sedang mendarat. Naoko adalah seorang gadis mantan pacar temannya yang sangat dekat dengan si penutur, Watanabe, dalam relasi yang mendalam, tapi tak bisa berkembang dalam relasi yang normal karena gangguan kejiwaan yang diderita Naoko, yang juga kemudian membuat gadis itu bunuh diri. Novel ini begitu jelas mengungkap kehidupan seks bebas di Jepang pada tahun itu di kalangan remaja dan dewasa. Jika berharap ada warna tradisional atau Asia semacam film atau buku lain dari Jepang yang pernah kulihat atau kubaca, jangan harap hal itu muncul dalam novel ini. Kisah ini begitu modern dan ... hmmm, begitu Barat. ***