Wednesday, March 07, 2012

Super Woman

Aku perempuan kuat, pura-pura
membentangkan sayap, pura-pura
meninju seluruh permukaan, pura-pura
menusuk segala kedalaman, pura-pura

Sejatinya
aku hanya menari
melayang
entah di antara
permukaan
dan kedalaman

Friday, March 02, 2012

Asymmetric

asimetrisnya pergulatan


aku menuding,
"Jahat!"

setiap ingat
aku menuding
"Jahat!"

tidak pantas
dipuja didamba

orang jahat
yang tak perlu diingat

semakin diingat
semakin jahat

semakin jahat
semakin diingat

teringat
bahkan
terus teringat

Thursday, March 01, 2012

Learning from a Baby

Hai, sayang...
apa kabar?
Dua hari di dunia
apa yang sudah kautemui?

Gerak bibirmu tak bisa kuterjemahkan
aku terlalu tua di dunia
sehingga lupa bahasamu
bahasa asli yang kubawa waktu datang
dulu, puluhan tahun lalu,
sepertimu.

Hai, sayang...
antusiaskah kau
bertemu aku?
Aku tak bisa mengecupmu
sebagai mainan kesayangan
aku sedang kotor setelah bermain debu
Aku tak bisa membawamu
sebagai lembar buku pelajaran
aku sedang mengisi lembar tak juga seru

Hai, sayang...
aku bawa gambarmu
sebagai cermin hidupku

(Si kecil cantik, belum bernama, lahir di Jl. P. Batam tempat Bidan Enni, tanggal 28 Pebruari 2012, pukul 06.10. Tak bisa kubawa pulang. Ihiks...)

Wednesday, February 29, 2012

Choice

memilih menjadi perempuan
dalam perjalanan
tak pernah jadi pakar
selalu setengah-setengah
tapi semua kudapat

aku juga perempuan
dalam mimpi
tanpa mengabdi
hanya untuk diri

kali ini
aku akan bergegas
berjalan mencapai mimpi

sebelum mati

Tuesday, February 28, 2012

New Student at Drawing Class

Bernard penuh semangat. Awalnya aku kuatir dia akan malas atau tidak antusias. Tapi ternyata dia menikmati hari pertama ikut ekskul melukis. Keputusan yang sangat-sangat telat baginya, dan membutuhkanku merayu 1,5 tahun dari kelas satu. Berhasil juga bukan karena rayuanku, tapi karena ada catatan dari Bu Warti, wali kelasnya.
"Untuk orang tua Bernard Sandyatma, mohon didorong untuk ikut salah satu ekstra kurikuler karena hingga semester dua sudah berjalan dia belum ikut satupun."
Dia memang tidak ikut apapun selama ini. Hanya komputer saja yang dia tekuni. Nah, tiap hari aku ngrepoti dia dengan pertanyaan.
"Nard, sudah ambil keputusan?"
Hingga minggu malam dia baru bilang.
"Besok pagi aku berangkat sekolah bareng Mas Albert."
"Kenapa?"
"Mau ikut melukis."
"O. Ok. Buku sudah ibu belikan tuh. Di kamar ibu."
Dia surprise melihat buku gambar besar yang sudah aku belikan beberapa hari lalu. Pasti pikirnya, ibu bisa saja deh. Hehehe...
Kemarin malam, ketika dia menyiapkan buku-buku aku tanya bagaimana melukisnya.
"Aku jadi murid baru. Tapi Pak Guru tidak tahu aku ada di situ. Tidak ada absen. Tidak ditanyain. Malah aku diajarin bikin piring."
Dia menunjukkan padaku gambar yang sudah dibuatnya. Teko, dengan gelas-gelas di sekitarnya, piring dengan setumpuk kue di atasnya.
"Bagus."
"Iya, tapi akhirnya piring ini Pak Guru yang buat. Mungkin karena dilihat aku terus menghapus, mengulang, menghapus lagi,... Lihat, bu, penghapusku jadi kecil kan? Besok beli lagi ya."
"Ok. Banyak teman yang ikut?"
"Banyak. Sekelasku ada ...."
Dia menyebut nama-nama. Tidak ingat, siapa saja.
Tapi dia gembira. Aku menjadi semakin gembira. Malam itu dia ikut aku dan bapaknya jalan malam, kebiasaan yang sudah beberapa minggu ini kami lakukan. Jalan puter kompleks, sambil ngobrol tentang apa saja.
Sembari berjalan, aku mengajaknya berbincang sembari belajar bahasa Inggris. Pelajaran yang menurutnya paling tidak dia suka.
"Today is Monday. Tomorrow is... Yesterday is... What's your favourite day?" Dan seterusnya. Dan dia, murid baru di kelas melukis itu menjawabnya dengan semangat.

Monday, February 27, 2012

Need Your Smell

Sekali waktu,
aku tidur di atas aromamu,
kekasih.

Tenggelam
menjumput sisa dirimu
di udara

Berandai
merangkulmu
dalam percakapan
tanpa sungkan.

Saturday, February 25, 2012

Mandalawangi - Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu.

Aku datang kembali ke ribaanmu, dalam sepimu, dan dalam dinginmu.


Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna.

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan.

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku.


Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi.

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.

Hutanmu adalah misteri segala cintamu.

Dan cintaku adalah kebisuan semesta.


Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi.

Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua.


“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa

kita bisa menawar.

Terimalah dan hadapilah.”


Dan antara ransel-ransel yang kosong dan api unggun yang membara, aku terima semua itu.

Melampaui batas-batas hutanmu.

Melampaui batas-batas jurangmu.


Aku cinta padamu Pangrango.

Karena aku cinta pada keberanian hidup.



Soe Hok-gie

Jakarta, 19 Juli 1966

Friday, February 24, 2012

Yogyakarta, I love you.

Aku punya kota kesukaan untuk dikunjungi. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Yogyakarta!!! Dipikir-pikir sih kunjungan pertama ke kota ini sejak aku masih SD, bersama rombongan besar beberapa bis anak sekolah. Lalu SMP ke sana, SMA ke sana lagi dan saat kuliah ke sana lagi. Seingatku, aku tidak bisa anteng ikut rombongan kalau pergi ke sana walau perginya dengan rombongan besar atau kecil. Aku ingat saat semester awal kuliah aku melarikan diri dari rombongan sehingga pembimbingnya, Rm. Sad Budi, CM., marah, melarang, tegas. Maaf, mo. Saat itu aku tetep ngotot dan pergi. Mana mungkin ke Yogyakarta tidak menggelandang? (Saat itu aku keluyuran, lalu ketemu seorang teman, menginap satu malam dan pulang Malang sendiri, dengan puas.)
Pergi dengan rombongan kecil, satu atau dua sahabat pun berkali-kali aku lakukan. Berganti orang, berganti tempat yang dikunjungi. Dengan keluarga pun pernah kulakukan. Terakhir dengan suami dan anak-anak pas pergantian tahun terakhir itu. Waktu itu aku ingin mengenalkan Borobudur, Malioboro dan Yogyakarta ke anak-anak. Perjalanan terakhir ke sana baru saja, beberapa hari lalu. Perjalanan mampir satu hari satu malam dengan banyak rencana, lalu yang terjadi juga banyak agenda.
Yogyakarta menawarkan keramahan, kenyamanan, kesukaan,... sepanjang jam dalam sehari. Dinikmati dengan cara apapun, kota ini menyenangkan. Para sababat di dalam kota banyak, para kerabat di agak pinggiran kota, penginapan murah, makanan meriah, dan jalanan yang ramah. Memang sih, akhir-akhir ini (tahun lalu aku 3 kali mampir Yogya, tahun ini baru 1 kali hingga bulan ini) aku agak takut kalau menyeberang jalanan di Yogya, terlalu ramai dengan sepeda motor. Tapi sejauh ini masih asyik, moga Pemda setempat mulai memikirkan keriuahan yang akan bertambah jika motor tak terbendung masuk Yogya. Masih asyik karena ada Malioboro (foto atas kiri), kraton, alun-alun dan sekitarnya. Ohya, ada juga House of Raminten (foto yang bawah kanan). Ini salah satu yang kusuka juga jika sempat ke Yogya. Dengan siapapun, Yogyakarta selalu menawarkan romantisme. Yogyakarta, I love you.

Wednesday, February 22, 2012

Just Dust

Lagi pula apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku hanya debu, yang digenggam pun susah, menempel pun tak kelihatan. Apalagi jika sudah tertabur.
Namun, aku adalah debu yang diiringi angin senantiasa. Maka aku masih akan punya daya. Untuk pergi, untuk datang, untuk membutakan mata orang.
Aku hanya debu, di kaki Ilahi. Tidak dikibaskan, namun diberi pengiring selaksa sejuta kuasa angin.
Kini aku tinggal mematri niat, tetap bersahabat dengan angin, rahmat yang sudah tercurah bagiku.

Tuesday, February 21, 2012

Destruction of Imaginations

Khayalan punya kekuatan. Penuh rekayasa yang didorong oleh keinginan tak terkendali oleh pikiran dan hati. Terlebih jika tubuh sudah mengingat suatu kenangan yang ingin diulang. Rekayasa bisa menjadi sangat kuat. Mendorong manusia melakukan perjalanan jauh, kemana saja dengan keberanian yang degil. Melambungkan angan jauh melebihi takdir. Mendorong indera untuk menerimanya sebagai sesuatu yang berharga walau sebenarnya hanya pura-pura.

Namun ternyata ada lagi kekuatan manusia yang bisa mengalahkan hal itu. Kekuatan doa. Doa yang hanya setengah hati pun lebih kuat dari seluruh rekayasa hati. Hingga tidak ada lagi yang harus disesali walau air mata mengalir, sedih kecewa membuncah. Seluruh keinginan dan rekayasa dihancurkan. Marah, sedih, kecewa, tapi tak ada penyesalan. Yang ada adalah syukur karena Sang Ilahi menitahkan keselamatan. Lewat doa yang hanya setengah hati diucapkan.

Monday, February 13, 2012

Deceiver

Di Indonesia, di dunia, hidup jutaan penipu. Yang benar-benar jahat hari ini melakukannya padaku. Dia, mengatasnamakan diri : TU Sekolah. No HPnya : 085255443453. Dia telepon ke no telepon rumah. Ada Wawak di rumah.
Mengatakan : "Albert jatuh di sekolah, pendarahan, dibawa ke rumah sakit."
Nah, kontan Wawak panik. Minta tetangga sebelah, Mama Dita untuk terima telepon itu. Ya, tentu saja Mama Dita ikut panik. Mencatat no itu lalu telepon aku.
"Tante, Albert jatuh di sekolah. Dibawa ke rumah sakit!"
Ha, langsung gemeteran n lemes badanku. Mencatat no HP itu dengan panik. Untung otakku masih waras. Sehingga bukan nomor itu yang aku pencet, tapi no telepon guru kelasnya. Logikanya, Bu Yoga kan tahu nomor teleponku. Ada hal kecil kenakalan Albert ini itu, beliau langsung kontak aku kok. Kalau ini sesuatu yang gawat, apalagi. Juga Sr. Emma kepala sekolahnya dengan mudah mengakses aku. Juga banyak orang di sekolah itu yang kenal aku, tahu dimana aku pada jam-jam seperti ini.
Dan benar saja.
"Albert? Albert Ardyatma? Ini, lagi di kelas. Sedang belajar. Tidak ada apa-apa."
Oalah, penipu. Teganya. Pasti sekarang dia hunting korban lain. Mungkin dengan nomor yang lain pula.

Saturday, February 11, 2012

36 Episcopal Uskup Andreas Henrisoesanta

Proficiat, Mgr. Henri!
Menjalani 36 tahun episcopal di Keuskupan Tanjungkarang, Lampung, dari 11 Pebruari 1976, tentu bukan urusan yang mudah. Pasti ada suka duka, jatuh bangun, pujian celaan, dll.
Pagi ini aku menyapamu, dengan doa tulus. Apapun yang sudah kau lakukan, kau alami, semoga menjadi rahmat yang bisa diterima dengan penuh sukacita oleh dirimu, oleh semua orang, khususnya yang punya kaitan denganmu.
Mungkin tidak selalu terpahami, tapi aku yakin, bahkan yang paling sulit diterima oleh akal pun bisa menjadi rahmat.

Salam dan doa.

Friday, February 10, 2012

Angelina Sondakh

Perempuan, ibu, janda, politisi, selebrity,...
Lengkap sudah titelnya.
Melihat senyumnya masih mengembang aku salut.
Melihat tindaknya masih berjuang aku salut.
Melihat bicaranya masih disebar aku salut.

Jika melewati semua ini dengan buram
dengan niatan yang suram
dengan mengingat hanya pada kepentingan
dengan kesadaran hanya menyelamatkan diri.

Dia akan kalah.

Jika melewati semua ini dengan terang
dengan niatan yang benderang
dengan mengingat Indonesia yang sudah banyak korban
dengan langkah yang mantap pada Pencipta.

Dia akan menang.

(Aku berdoa untukmu, Angie. Supaya memilih jadi pejuang bagi kehidupan Indonesia. Bukan hanya untuk diri, atau hanya untuk Demokrat, atau hanya untuk semua kesenangan. Aku sungguh-sungguh mendoakanmu.)

Thursday, February 09, 2012

My Mother

Ibuku hari ini ulang tahun. 60 tahun. Umur yang sudah cukup untuk menikmati hidup. Segala suka duka. Selamat ulang tahun, ibu. Terimakasih sudah menjadi ibuku. Merawatku, mencintaiku, hingga kini. Terimakasih. Ampuni juga segala salahku, dari bayi hingga setua ini, aku masih menyusu, pada kasih sayangmu.

Wednesday, February 08, 2012

No Talk Again

Rasanya sudah berabad tahun aku bicara. Bicara terus tentang segala hal. Perasaan, pikiran, tubuh,... Apapun! Dengan keras, lembut, biasa,... Bagaimanapun! Juga dengan alasan ini, itu, ...

Kali ini, cukup sudah! Tak perlu lagi bicara. Aku akan mogok bicara.

Hanya merasa, memikir, melaku. Tanpa bicara lagi.

Monday, February 06, 2012

Waiting the moment

Aku sedang menunggu saat
bisa memegang pelangi liat
merentangnya dari tangan ke tangan
mengeriutkan hingga bulat di kepalan

Melamunkan rasa sedapnya
dalam kuluman mulut
sesuap, sesuap lagi

Aku ingin memegang pelangi
dan memakannya

dalam segala rupa

Friday, February 03, 2012

Rain in the Morning

Tidak ada embun pagi ini. Yang ada adalah hujan deras basah dingin gelap. Aktifitas tetap berjalan seperti biasa, tapi disertai mood yang sangat-sangat rendah. Bangun, minum air putih, membuka seluruh pintu dan jendela, ke kamar mandi dengan ogah (seminim mungkin menyentuh air), masak nasi, menggoreng tahu tempe, membuat sambel pecel, merebus bayam, merebus air lalu mandi. Menyiapkan sarapan, makan dengan setengah lari, peluk cium pipi kanan kiri semua orang di rumah kecuali Albert, lalu naik motor. Menunggu Albert beberapa saat sembari doa singkat untuk semua orang yang kusayangi dan melaju pelan dengan Mioku. Hampir sama tiap pagi seperti itu. Kali ini mendapat bonus rinai hujan. Juga angin dingin.
Aku mencintai hujan, tapi sesekali seperti pagi ini, aku rindu embun. Embunku.

Thursday, February 02, 2012

Rm. Sugondo, SJ

Beberapa hari atau minggu yang lalu kabar duka datang lewat sms dan email. "Rm. Gondo meninggal, Mbak Yuli." Aku tidak terlalu kaget. Aku tahu Rm. Gondo memang sakit dalam beberapa bulan atau tahun belakangan. Tidak terlalu merasa kehilangan karena aku memang biasa saja mengenal romo ini. Malah dalam beberapa kali kesempatan bertemu aku selalu secara sadar menghindari perbincangan dengan romo. Hanya menyapa, nglirik dikit dan bercakap ala kadarnya. Aku menganggap chemistry antara kami tidak ada. Dari pada malah berantem lebih baik aku tidak terlibat jauh dalam perbincangan dengannya. Itu pendapatku. Ketika rapat di FPBN pas dia hadir, di pojokan lalu tertidur, aduh, aku sengit banget. Kalau pas dia gak hadir, ya wis, dirasani lebih enak dari pada dirindukan. Kayaknya gak ada yang serius bisa kuingat dari romo ini.
Pagi ini ketika membaca tulisan berdasar kotbah Rm. Sindhu saat pemakamannya yang dimuat di Sesawi, aku menitikkan air mata. Aku sama sekali tidak mengenal Rm. Gondo tapi sudah memvonisnya. Menutup segala peluang terhadap persahabatan dengannya, padahal kami berdua pada satu masa, sama-sama mengatakan 'pendamping buruh'. Aku menitikkan air mata bukan karena menyesali aku sudah mengabaikan seluruh perjumpaan dan perkataannya, tapi aku merasakan rahmat tercurah dari pemahaman baru ini. Rm. Gondo telah memberiku pengajaran ketika dia sudah beberapa hari meninggal. Lewat cara yang aneh telah ada pemahaman baru dalam hidupku, melalui Rm. Gondo. Terimakasih, Romo. Selamat jalan.

Thursday, January 26, 2012

Finding Windows


udara lembut tak bergerak
penguasa suasana itu tak hendak beranjak
tak sadar sekitarnya
bahwa daun batang terpaku menunggu
matahari merapat dengan enggan
dan suara-suara memadat dalam hening

aku tahu itu sedang terjadi
tapi tak ada jendela
dimana bisa melihatnya
dengan mata
kaki
sendiri

rumah
membekukan
bising

Tuesday, January 24, 2012

Resensi Buku : Tantri, Perempuan yang Bercerita


Jika Perempuan Bercerita

Judul : Tantri Perempuan yang Bercerita
Penulis : Cok Sawitri
Penerbit : Kompas Media Nusantara, Jakarta
Cetakan : I, Mei2011
Tebal : vi + 362 halaman; 14 cm X 21 cm
ISBN : 978-979-709-574

Eswaryadala, adalah seorang raja muda, tampan, tahu seni sastra dan berkuda, hidup satu masa dengan banyak pertanyaan.

Apa bedanya raja dengan rakyat
rumahnya disebut istana
perintahnya adalah kuasa
tak beda dengan saudagar kaya
rumahnya bagai istana
perintahnya juga kuasa
pasar tunduk padanya
Apa bedanya...
Sayang, ketika pertanyaan-pertanyaan membuatnya gundah, para pegawal dan pembesar kerajaan terbagi dalam dua kepentingan. Ada yang murni memang untuk mengabdi negara, namun justru yang dekat dengan sang raja, mempunyai kepentingan lain. Mereka menjilat dan memberi pengaruh yang justru menambah kegelisahan raja sehingga langkah salah yang diambil. Raja jatuh dalam pesta pora dan ratusan perempuan.
Ni Diah Tantri, adalah tokoh yang disodorkan penulis untuk memberi perubahan. Tantri datang sebagai wanita persembahan ayahnya yang juga Mahapatih di negara itu, namun memakai situasi itu sebagai peluang bijaksana, walau perasaannya terus-menerus harus dikendalikan supaya tetap tertuju pada niatnya.
Tantri menceritakan dongeng-dongeng, kisah-kisah berlapis-lapis tentang negeri dimana binatang bisa berbicara. Dia bercerita tanpa kenal lelah, siang dan malam, berhari-hari, dan teguh bertahan pada cerita itu apapun yang terjadi dan apapun yang dirasakannya.
Sang raja menanggapi kisah itu dengan santai, penuh jenaka, pada awalnya. Seperti mendengarkan dendang merayu seorang gadis kesukaannya. Namun cerita Tantri bukan cerita biasa. Dia memberikan sindiran tanpa menyindir. Dia memberikan pengajaran tanpa mengajar. Dia memberikan hiburan tanpa menghibur. Dan pasti, dia memberi pemikiran baru pada sang raja sehingga mampu melihat situasi yang sebenarnya dan di posisi mana seorang raja harusnya berada. Dia sama dengan semua rakyat, tapi dia juga berbeda dengan semua rakyat. Dia bisa melakukan perubahan dengan kekuatan kebijaksanaannya itu.
Penulis novel ini memakai ingatannya akan cerita klasik Bali, yang dia rangkai menjadi runtut, berlapis, menawan. Seringkali pembaca harus mengulang kembali kisah sebelumnya karena kisah-kisah berlapis yang menyertainya. Tokoh-tokoh binatang yang ditampilkannya, membuatnya menjadi fabel yang penuh dengan pesan moral tentang perilaku manusia. Bagaimana cara berelasi, bagaimana menempatkan diri secara tepat dimana dan kapan. Serta cara berkomunikasi dengan siapa saja.
”Lanjutkan ceritamu, biarlah tak ada kantuk di mata, biarlah tak ada lagi siang dan malam dalam hidupku,” bisik Sang Raja pada pencerita ulung itu.*** (dyn/Dimuat pada Majalah Nuntius, Pebruari 2012)