Wednesday, November 23, 2011

Dangerously Way


Ternyata lalulintas di Indonesia memang sangat mengerikan. Kesadaran-kesadaran memunculkan kenyataan ini. Awalnya aku tidak terlalu serius memikirkannya. Ya, ada kecelakaan ini. Kecelakaan itu. Satu meninggal, beberapa meninggal. Semua luka, parah dan ringan. Ada angka-angka. Juga aku masih belum serius memikirkan walau sering merasa marah dan sedih ketika di jalanan. Tidak serius juga ketika Nadet bilang gak berani naik motor lagi ketika pulang di Indonesia. Sekali-sekalinya naik motor malah membuahkan luka di kakinya. Belum serius juga ketika aku nyungsep bareng Bernard dengan luka panjang di kaki kiri dan tangan kiriku sampai berjalan terpincang-pincang. Masih biasa juga ketika Bang Tigor bicara tentang lalulintas Jakarta. Namun tiga hari terakhir ini aku memikirkan serius hal ini dan memutuskan dengan segala pertimbangan bahwa jalanan/lalulintas di Indonesia adalah cara yang membahayakan bagi semua makluk yang ada di jalur-jalurnya untuk melakukan perjalanan.
Tidak banyak lagi yang ingat apa makna rambu-rambu lalu lintas, bahkan yang paling sederhana seperti lampu merah, kuning, hijau. Apalagi rambu-rambu lain seperti S dicoret, tanda panah dicoret, dll.
Tidak banyak yang tahu cara berkendara yang benar seperti kapan mestinya mengerem, kapan gas, kapan lampu dinyalakan, lampu tanda belok dinyalakan dan sebagainya. Apalagi soal knalpot, asap, suara, warna lampu dll.
Tidak banyak yang ingat bahwa nyawa hanya satu, sehingga berani mati (konyol) menerjang jalan, belok semaunya, merokok sambil menyetir, kirim/buka sms dan teleponan sambil nyetir. Ampun.
Tidak banyak yang tahu bahwa ada fasilitas yang sudah tersedia untuk kenyamanan seperti trotoar untuk pejalan kaki, jembatan penyeberang untuk menyeberang jalan, dll.
Tidak banyak yang santun tahu bahwa jalan bukan hanya punyanya sendiri. Tapi ada pejalan kaki, pengendara sepeda ontel, becak, gerobak, ambulance, dll.
Parahnya, bahkan kebanyakan polisi lalulintas pun tidak merasa punya tanggungjawab untuk mengingatkan pelanggaran-pelanggaran seperti itu karena mereka pun melakukan. Para pemakai seragam lain juga sama saja, kebanyakan tidak mengerti point-point di atas. Malah seringkali itu ditambah dengan hal-hal menjijikkan lain seperti menganggap jalanan sebagai tempat sampah sehingga tisu, plastik, kertas bisa diterbangkan saja di situ. Atau meludah sambil mengendara. Atau...lain-lain. Coba saja lihat di jalan-jalan kota dan pinggiran kota di seluruh Indonesia! Lihatlah juga caramu sendiri berkendara.

Tuesday, November 22, 2011

Look the soccer!

Di menit ke 5, Indonesia menyarangkan satu gol manis lewat Gunawan. Usai itu Lampung hujan, dan aku yang sudah merasa menang, tidur bergelung dengan dengan Bernard. Lebih sejam kemudian, aku terbangun. Masih hujan, dan kehebohan terjadi antara Indonesia dan Malaysia dengan adu pinalti. Wah, pasti kalah nih! Aku membatin begitu walau skor masih sama 3 - 3. Melihat tendangan terakhir yang tidak masuk, wah, Malaysia sudah menang 3,5 tuh. Dan melihat power yang dimiliki si kapten, tamat sudah harapan untuk periode ini mendapatkan emas dari sepak bola.
Lihat itu. Indonesia punya potensi yang besar, lebih dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Namun bukan hanya soal potensi maka kemenangan bisa diraih. Ada hal-hal lain yang harus digali :
1. Harga diri, kepercayaan diri (tidak sekedar narsis, naif, tidak tahu malu, PD walau berbuat salah)
2. Manajemen kepemimpinan (tidak sekedar ada presiden, protokoler, plus kepentingan mempertahankan citra) Berbagi peran, bukan hanya rebutan lahan.
3. Perhatian yang lebih pada kelompok paling ujung, paling bawah, paling tidak punya kekuatan.

Jadi, lihat bagaimana pertama Tim U-23 telah unggul karena memang potensi yang luar biasa di dalamnya. Salut, juga untuk Pak Rahmad! Tim yang asyik. Walau 3 - 4, tidak mendapat medali, aku menganggap tim ini sudah menang. Coba bisa dilihat juga oleh tim-tim penting lain yang ada di Indonesia. Tidak takut jatuh untuk meraih bola, biarpun pasti sakit, belepotan lumpur, benturan keras! Sportif! Luar biasa.

Monday, November 21, 2011

The Woman in the Sand

Kantorku sedang beku di suatu siang.

Seorang perempuan datang
dengan senyum mengembang

berlawanan dengan matanya yang sembab
kebanyakan minum? menangis?

jelas ada duka
jelas kesakitan
di dalam tubuhnya

aku hanya menatapnya
mencoba menangkap cerita
yang meluncur dari hatinya

"Kemarin tes darah di kantor
aku pasti diPHK,
karena darahku
sudah tercemar HIV.
Pacarku, dulu
kurang ajar menularkan padaku.
Bagaimana aku sekarang?"

Mulutnya terkunci dalam senyum mengembang
namun hati dan tubuhnya remuk dalam sakit.

Aku tidak bisa bersuara untuknya.
Seorang laki-laki sahabatnya
aku desak.
"Temani dia, dengarkan dia, dengan baik."

Anggukan kepalanya melegakanku,
tanpa melepaskan tanggungjawabku,
karena sudah tahu kisah yang menimpa,
perempuan muda itu.

Bantulah aku menjadi lebih lega lagi.
Teman-teman, please, tunjukkan ruang yang nyaman,
yang bisa kutawarkan pada perempuan muda itu.

Wednesday, November 16, 2011

What's next?

Setiap bulan, aku mengalami siklus ini. Siklus bulanan, katakanlah begitu. Atau tepatnya salah satu siklus bulanan, karena aku rupanya punya siklus-siklus lain yang terus berputar. Siklus yang ini aku dapatkan sejak 2005, sudah cukup matang untuk dinikmati hingga kini. Di salah satu fasenya, ada rasa lega luar biasa kalau mampu kulewati.
Hehehe, gak jelas ya? Begini, ini tentang pekerjaanku di majalah. Sebagai pemimpin redaksi (yang sekaligus kuli angkut, pencari data, penulis, editor, distributor, manajer dsb) aku harus melakukan editing semua naskah sebelum masuk ke bagian lay out. Pada tanggal 15 tiap bulannya, pekerjaannya ini harus kelar. Harus! Walau hujan badai atau apapun yang terjadi, harus selesai! Kadang, saat garis mati (deadline) ini muncul, naskah pun belum terkumpul. Aku harus bekerja sangat-sangat-sangat keras untuk mewujudkan minimal 25 naskah panjang pendek menjadi tulisan siap saji, siap ditata jadi majalah. Dan ini terjadi tiap bulan.
Fase lega itu adalah hari dinama semua naskah itu sudah selesai edit, selesai susun, selesai rapi, dalam folder, plus foto-foto yang menyertai. Kelegaan yang tak terbayangkan oleh orang yang di luar pekerjaan ini. Seperti apa ya rasanya? Dulu aku pernah mengandaikannya seperti selesainya satu bundel benang kusut yang dirapikan. Sulit dikatakan dengan kalimat. Nanti aku cari padanan lain deh.
Tapi ya itu tadi, karena ini adalah siklus, maka fase berikutnya sudah menunggu. Saat lega ini hanya berlangsung beberapa menit, paling lama beberapa jam. Kalau pun dipaksakan tidak akan lebih dari berhari-hari.

Tuesday, November 15, 2011

Free for Hugs

Seseorang yang membaca postingku yang terakhir bertanya :
"Mbak, sampeyan sungguh bisa menawarkan pelukan kepada semua orang?"
"Apa maksudnya?"
"Tuh, di kiriman itu, dikatakan ingin menawarkan pelukan."
"O. Bisa. Kenapa? Bukan hanya menawarkan, tapi sungguh-sungguh memeluk."
"Ah, yang benar? Kalau orang itu tidak dikenal juga mau?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Tidak pas."
"Tidak pas dengan apa, siapa?"
"Entahlah."
Aku kira dia ini memang mau memprotes. Tapi aku tidak mempunyai masalah apa-apa tentang hal ini. Pelukanku gratis untuk siapa saja.

Saturday, November 12, 2011

Mama...

Tadi pagi, baru saja, dalam perjalanan dari sekolah Albert ke kantor, aku jalan pelan santai dengan Mio-ku, setengah melamun. Tak sadar aku mengikuti bebek biru yang berjalan pelan hanya beberapa centi di depanku. Isengku yang kambuh membuatku hanya mengikuti saja, dia ini belok kemana kuikuti. Aku kaget ketika lewat kaca spion motor itu, wajah yang luar biasa sedih tergambar. Apa yang dia alami? Sejurus kemudian wajah itu memerah, menahan sesuatu yang kemudian keluar dengan derai air matanya. Aduh, menangis sambil naik motor. Semakin pelan jalannya, aku masih mengikuti. Jelas kelihatan guncangan badannya bukan karena motor tapi karena tangisan. Bibirnya membuka menutup dengan satu kata yang aku yakini diucapkan oleh perempuan itu.
"Mamaa..."
Usapan tangan kirinya menutup sekilas. Tapi kemudian satu kata itu terulang-ulang diungkap oleh bibirnya dalam isak yang ritmis, khas orang yang menangis.
"Mama, mama, mama..."
Aku tidak berani menyetopnya, untuk menanyakan apa yang terjadi atau apakah bisa menawarkan sebuah pelukan. Atau sekedar mengingatkan bahaya menangis sambil berkendara.
Beberapa pikiran terlintas, mungkin ibunya sedang sakit, atau baru saja meninggal, atau dia diusir oleh ibunya karena suatu hal, atau, ...apa ya?

Friday, November 11, 2011

Growing


Di hujan pertama di Lampung, aku menaburkan benih sawi di beberapa tempat di samping dan belakang rumah. Aku bariskan berlarik-larik. Albert dan Bernard hanya mengikuti di belakangku dengan heran. Tidak membantu, tidak bertanya. Mas Hendro hanya senyum-senyum. Dia pasti menyangka,"Ah, istriku akhirnya bertobat juga. Menyadari bahwa alam harus dilestarikan dengan tangan-tangannya. Bukan hanya dengan mulutnya yang hanya rajin berkomentar berteori. Serta menyantap menikmati saja." Hehehehe...aku hanya menduga-duga...
Hari ini benih-benih itu sudah menumbuhkan 2-4 lembar daun mini hijau segar. Batangnya yang ringkih sebagian ambruk, terkena hujan semalam, tapi aku yakin mereka hidup. Beberapa minggu lagi pasti mereka siap untuk diambil, menambah mi rebus yang kubuat malam-malam penghangat perut. Nanti sore pulang kerja aku akan mengisi lagi beberapa pot yang sudah disiapkan tanahnya. Aku kira kalau siang ini hujan lagi, pasti moodku juga akan berhamburan jatuh di badan. Hehehe...aku hanya menduga-duga...

"RINDU"

Monday, November 07, 2011

Important News

Semalam, pulang dari rapat (rapat begituan ajah, tidak penting, seperti biasanya rapat-rapat itulah), aku sibuk dengan hal tetek bengek rumah. Manasin sayur, ngoprak-oprak Albert supaya bangkit lagi dari kasur karena rupanya dia belum makan, n membereskan apa yang perlu dibereskan. Sampai lupa untuk menyapa kekasihku yang penting di rumah. Bernard! Hehehe, dia sudah beres dengan buku-bukunya, sudah makan, sudah santai...gak banyak bergerak. Jadi gak kelihatan. Hehehe. (Dia ini pasti marah-marah kalau membaca tulisan ini beberapa tahun lagi. Keep smile, Bernard!)
Dia mengendap-ngendap di belakangku, menarik-narik badanku supaya kupingku terjangkau.
"Ayo ikut aku, bu. Ada hal penting yang harus kukatakan."
Wow, hal penting! Menahan wajahku tetap pada posisi serius aku ikuti tarikan tangannya ke pojok kamar. Dia tutupi kupingku kanan kiri dengan tangannya. Bibirnya yang basah menempel di kupingku, agak geli, tapi tentu saja kutahan. Ini kan berita penting jadi aku harus serius.
"Ya, ada apa?"
"Ssst, aku sudah bisa berjalan menapak lagi."
"Oooo...?"
"Sudah bisa jalan biasa lagi."
"Sudah tidak sakit?"
"Masih dikit. Tapi jalanku tidak pincang lagi."
"Oke. Besok pagi pasti sudah tidak sakit lagi."
"Iya harus. Kalau tidak kan tidak bisa pakai sepatu ke sekolah." Masih sambil bisik-bisik.
"Satu sepatu satu sandal."
"Wah, masak satu pakai sepatu satu pakai sandal?" Dia melihat kakinya, lalu meninggalkan aku di pojok kamar pengin senyum. Muka bapake heran melihat apa yang terjadi, cepet-cepet kutempeli bibirku di telinganya.
"Ssst...ada berita penting... Bernard sudah bisa berjalan tidak pincang. Hehehe..."

Mulanya adalah hari Sabtu, bapake dan Albert mengganti keramik kamar mandi berdua. Mereka hebat bisa jadi satu tim untuk membongkar dan memasang keramik-keramik itu. Namun ada satu hal yang tidak bisa mereka lakukan, yaitu memotong keramik. Segala cara dibuat, tapi hasilnya keramik jadi puing-puing. Nah, salah satu pecahan keramik itulah yang mengenai kaki Bernard sehingga dia terpincang-pincang. Anak berani dia, jadi hanya nangis sebentar itupun setelah aku datang dengan wajah kuatir (soalnya darahnya berceceran buanyak sekali). Saat aku biasa saja, dia tenang. Pun saat aku kasih obat, dia hanya bilang geli, karena luka kecil itu di telapak kaki, bagian sensitif dan geli jika dipegang. Begitulah.

Friday, November 04, 2011

Overwhelmed

Aku sungguh kewalahan. Ini masa yang sungguh-sungguh repot. Aku tak boleh mengeluh, bukan? Maka aku ambil salah satu topengku untuk menutupi wajah asliku yang sedang lusuh, pucat, lelah.
Bedak tebal, alis menghitam, lipstik merah, rambut sasak ditarik, perhiasan dan kostum kupakai lengkap. Ah, aku bisa tersenyum di baliknya. Dan tetap berjalan, berlari dari satu jam ke jam berikutnya.
Topeng dan kostum lengkap yang tidak cantik. Akan cepat kulepas. Tentu saja.

Wednesday, November 02, 2011

Leakage


Sudah kutahan, berusaha kutahan. Ini usaha yang sangat besar dengan melibatkan seluruh tubuh dan pertahanan yang kupunya. Berharap tidak ada kebocoran yang muncul di mana pun, kapanpun. Minimal tidak terlihat bocor oleh siapapun, apapun, bagaimanapun.
Aduh, masalahnya aku adalah perempuan dengan perasaan sebagai raja diraja penguasa. Seberapa kuat kata dibentakkan supaya aku tidak memelihara perasaan, aku kesulitan serentak sepihak. Karena raja harus kuhormati, begitulah perasaan bagi jiwa dan tubuh ringkihku. Aku kesulitan mengatasi hal ini.
Namun aku akan terus berusaha. Jangan kuatir. Aku pun tak ingin ada kebocoran dari lubang-lubang (luka-luka?) hatiku. Kau bisa lihat kepalaku dari jendela, tapi bukan wajahku.

Friday, October 28, 2011

Bernard

Tanggal 26 Oktober lalu Bernard ulang tahun ke 8. Tapi dasar Bernard, selalu saja ada ide aneh dalam otaknya.
"Aku tidak mau ulang tahun hari ini. Ulang tahunku hari minggu nanti."
Jadi salam peluk ciumku ditolaknya. Juga dari bapak dan kakaknya. Tidak mau ada makanan khusus. Acara khusus. Nyanyian. Atau apapun.
"Ulang tahunku hari minggu."
Ya ampun, Bernard. (Aku ingat dua tahun lalu Albert tidak mau ulang tahun yang ke 8. Dia hanya mau ulang tahun ke 9. Padahal tahun itu dia 8 tahun!)
Tapi tetap aku membuatkan dia opor ayam dan mi panjang umur. Walau dia tidak mau memimpin doa bersama, dia tetap makan dengan lahap, sangat sangat banyak. Boleh, my son. Boleh saja, Minggu nanti ultahmu, hari untukmu, tapi aku mengingat khusus tanggal 26 Oktober, 8 tahun lalu, saat kau lahir dan diletakkan di dadaku dengan tangisan nyaring. I love u.

Monday, October 24, 2011

Short time at Bangkok

Kesempatan yang sangat mendadak tiba-tiba aku dapat. Aku harus pergi ke Bangkok, pertemuan untuk Asia Working Group untuk bidang buruh migran dan perantau. Hanya dalam waktu 7 hari menyiapkan segala hal. Untung Dining yang manis baik hati (thanks, Dining) menyiapkan hal-hal teknis menyangkut tiket dan lain-lain.
Tanggal 9 Okt aku berangkat dari Lampung, dengan Garuda jam 8.30, transit di Cengkareng. GA 686 berangkat dari situ jam 12.50. Tiba di Bangkok jam 16.00. Harusnya seseorang akan menjemputku di situ, tapi aku tak kutemukan sampai satu jam lebih. Aku sudah berpikir untuk naik taksi, atau angkutan lain setelah membongkar tasku untuk melihat alamat lokasi pertemuan. Tidak sengaja, aku melihat seseorang sedang sibuk melihat jadwal kedatangan pesawat di meeting point bandara. Aku lihat di map yang dia pegang ada tulisan kecil 'ICMC'. Jadi kutowel si bapak, yang ternyata Fr. Pairat setelah aku menyapanya dan memastikan dialah yang memang menjemputku. Aman. Dia masih harus menjemput dua orang lagi, jadi aku menemaninya beberapa saat.
Tempat pertemuan adalah Camillian Pastoral Care Center, berada di Latkrabang. Persis saat kami pertemuan, selama 3 hari, daerah itu tergenang air. Cukup nyengir, sekalinya ke Bangkok tidak bisa jalan-jalan karena banjir. Di banyak tempat lain di Thailand, banjir cukup parah.
Dua hari full untuk rapat. Pemetaan situasi perburuhan dan migrasi, lalu mencari beberapa alternatif yang bisa dilakukan dalam kerjasama antar negara. Sampai ada 7 point kesepakatan.
Hari terakhir aku memaksa untuk keluar. Panitia setempat agak kuatir tapi kemudian mereka memberiku peta, beberapa petunjuk untuk naik sky train, dan memastikan bahwa semua aman dan mudah bagiku. Mereka, peserta lain yang 14 orang itu, para bishop dan priest, sepertinya gak minat untuk kemana-mana. Satu orang dari India, Fr. Jose-lah yang kemudian berminat (aku kira setelah melihat kegigihanku untuk pergi sendirian, hehehe) untuk ikut jalan. Jadilah kami berdua pergi. Diantar oleh sopir penginapan ke stasiun Latkrabang. Niat awal ke Cathucak, tapi info yang salah, karena tuh tempat hanya buka Sabtu - Minggu. Jadi di stasiun Praya Thai, kami mengalihkan arah, ke Mahboonkrong. Ini seperti Mangga Duanya Jakarta, hehehe. Jadi apa yang bisa kami lihat? Yang pasti dapat gantungan kunci untuk oleh-oleh. Hehehe. Juga mengalami naik sky train, lihat Thailand dari alat transportasi ini, ...dan lumayan. Menyenangkan.
Tanggal 12 Okt sudah balik Jakarta. Dengan GA 687, terbang jam 14.10. Waktu Jakarta dan Bangkok tidak beda. Sampai di Cengkareng aku mesti buru-buru, kebut cari bus shuttle untuk menuju terminal 1b, tempat Lion untuk terbang ke Lampung.
Anggap saja ini adalah perjalanan survey. Aku ingin kesana lagi. Agak lama. Untuk menikmati tempat-tempat indah di sana.

Thursday, October 20, 2011

Daster

Daster adalah baju paling mengerikan namun paling nyaman bagi perempuan. Saat memakai daster, perempuan bisa lupa diri.
1. Karena bentuknya yang longgar, maka perempuan tidak merasakan gangguan saat makan sebanyak-banyaknya. Tidak akan merasa sesak bahkan ketika perut dan pinggul semakin melar.
2. Karena memberikan ruang persentuhan dengan udara yang semakin banyak, sehingga sensasi kulit terasa segar, bergairah. Udara membawa banyak hasrat. (Hehehe... Yuli, bahasamu! Pasti ada yang mbatin gitu dalam hati. Hehehe...) Tapi memang iya begitu.
3. Karena dapat dipadankan dengan apapun seenak hati. Bahkan tidak perlu mandi dulu, tidak perlu menata rambut, berdandan, pake wewangian dll. Pokoke gak harus pake aturan. Seperti kalau pake kebaya maka roknya harus gini-gitu, rambut harus diapain, dll.

Ada yang suka pake daster? Sekarang ini aku punya satu dikasih Yeni, yang punya buanyak gara-gara habis lahiran. Setiap habis cuci aku pake, cuci, pake lagi, cuci lagi, pake lagi.... Mengerikan!


Tuesday, October 18, 2011

Pemulihan Alam untuk Hari Pangan Sedunia

Hari pangan sedunia pada 16 Oktober tiap tahunnya. Tahun ini aku memperingatinya pada tanggal 17 Oktober dengan menemui sekelompok petani organik dari Metro, namanya kelompok Hadi Makmur. Mereka sudah 6 musim panen menanam padi secara alami tanpa bahan kimia buatan maupun beli. Pupuk dari fermentasi sampah dan jerami sisa panen. Air yang lebih irit 40 % dari sawah non organik, dan hasilnya : sawah sehat. Bagi tanah, bagi udara, dan bagi konsumen macam aku.
Selain kelompok ini sudah ada kelompok lain yang aku kunjungi sebulan lalu, yaitu kelompok Alam Lestari, di Bangunrejo. Semangat yang sama kutemui dari dua kelompok ini, yaitu ingin memulihkan alam seperti pada hakekatnya. Aku salut pada perjuangan mereka. Dan terimakasih, karena aku bisa mengkonsumsi beras organik yang terjangkau. Baru ini peranku dalam usaha mereka. Makan beras yang mereka olah dengan sentuhan jari-jari pada setiap butir benih hingga tiap butir beras tertampi. Terimakasih, petani organik!

Monday, October 10, 2011

Stop it!

Aku memerintahkan ini berkali-kali.
"Hentikan! Sekarang juga."
Kau mengatakan :
"Iya. Aku akan menghentikan lajunya. Tak akan ada lagi. Aku berjanji!"
Tapi setiap kali kemudian engkau usil mengulanginya. Lagi. Lagi. Tidak terasakah sakit itu sehingga kau tak pernah kapok?
"Hentikan! Sekarang juga."
Kau mengatakan :
"Iya. Aku hentikan."
Kali ini, bisakah tidak ada lain kali? Biar tidak ada remuk redam menghias piguramu yang sungguh cantik. Berjanjilah My Excellencies Princes of Heart. Hentikan!

Wednesday, October 05, 2011

Hot September

Septemberku memanas dengan banyaknya aktifitas yang kulalui. Segala macam perjumpaan di Lampung maupun luar Lampung. Sangat-sangat panas.
Yang prioritas dua perjalanan ke Lembang dan Muntilan, dua minggu berturut-turut, diselingi satu minggu di Lampung yang padat.
Lembang? Ya, selalu sejuk, walau capek karena rapat pleno Komisi Keadilan perdamaian dan Pastoral Migran Perantau cukup padat menguras energi yang sudah lungkrah karena hati tertambat di RS Harapan Kita, pada ibu.
Muntilan? Ya, Muntilan pembawa harapan. Disertai perjumpaan orang-orang di Realino, Scolastikat SCJ, Kulonprogo, house of Raminten dan always Malioboro. Semuanya jadi perjumpaan dan perjalanan menarik.
Septemberku yang panas, membuat tekanan darah tinggi dan vertigo.

Friday, September 23, 2011

Act Like The Children

Anak-anak mempunyai sifat yang tidak terduga. Mudah gembira, mudah tertarik pada apapun juga, tidak takut pada resiko, berani bergerak yang di luar biasa, berteman dengan siapa saja, tidak membawa dendam dalam pertemanan, dll. Segalanya enak. Bukannya tanpa masalah. Tapi tiada beban menanggung masalah. Orang dewasa pun hakekatnya tetap anak-anak. Menyenangkan kalau bisa tetap berbuat seperti anak-anak. Tertawa lepas, bergerak lepas...

Tuesday, September 13, 2011

PRESS RELEASE MASYARAKAT PEKAT RAYA Gubuk-gubuk untuk hidup yang dihancurkan

Masyarakat Pekat Raya, adalah rakyat tak bertanah yang menggarap tanah di register 45 Sungai Buaya, Kabupaten Mesuji. Awalnya, mereka menggarap lahan di sana atas jaminan dari LSM Patriot dan LSM Megoupak pada tahun 1999, yang menjualbelikan lahan register itu kepada para penggarap. Nilainya berkisar antara Rp500 ribu-Rp2 juta. Dan sejak 2008 harganya menjadi 4 juta-7 juta per hektar. Dalam hal ini petani menjadi korban penipuan. Selain Maryarakat Pekat, Kelompok lain yang hidup di register itu adalah Labuhan Indah dan Moro-moro.

Dari 43.100 hektar luas wilayah hutan Register 45, yang diberikan izin HTI kepada PT Sylva Inhutani, oleh Menteri Kehutanan, sebanyak 4.500 ha diantaranya kini masih dikuasai masyarakat petani penggarap yang berjumlah sekitar 2.000 keluarga. PT Sylva Inhutani adalah perusahaan yang didirikan oleh PT Inhutani dengan PT Bumi Waras dan mendapatkan hak kelola hutan HTI tersebut sejak 1997. Tetapi tidak mampu dan tidak mengelola sejumlah besar lahan sesuatu peruntukan. Ada lahan-lahan yang diterlantarkan atau ditanami tidak sesuai seperti yang diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 93/Kpts-II/1997SK kepada PT Sylva Inhutani.

Masyarakat Pekat Raya yang menjadi korban penipuan, telah mengalami beberapa kali penggusuran dengan perobohan rumah-rumah tempat mereka tinggal. Hari senin (20 Februari 2006) sekitar pukul 10.00. WIB 74 membongkar paksa rumah dan pondok warga. Perobohan dilakukan oleh puluhan Satpam PT Silva Inhutani yang dikawal petugas Dalmas, Brimob, Koramil Mesuji, Polisi Pamong Praja (Pol. PP), dan Polisi Kehutanan (Polhut). Pengusiran lain juga dilakukan pada 6 November 2006 yang telah merenggut korban jiwa. Seorang perambah tewas dan satu lagi dirawat akibat luka tembak dalam bentrokan.

Pada Februari 2008, penggusuran dilakukan oleh sekitar 300 Satpam, Polisi (Polres) Brimob dan TNI. Pada saat itu ada 150 an rumah dirobohkan. Dan penggusuran selanjutnya dilakukan sekitar 1.000 personil Tim Terpadu pada Februari 2011. Waktu itu, terjadi bentrok yang tidak terhindarkan antar warga dan tim terpadu. Ada 11 petani yang dikriminalisasi dan ditangkap dan ditahan di Polres. Banyak pengungsi waktu itu yang depresi dan diserang penyakit karena bernaung ditempat seadanya. Akibat penggusuran itu, dari 1.200 keluarga, kini 400 an keluarga yang masih bertahan.

Pasca penggusuran, melalui negosiasi Masyarakat Pekat dengan Menpdagri, DPD dan Pemerintah Provinsi, Petani PEKAT sepakat untuk di transmigrasikan ke Kalimantan Barat. Tetapi dalam rentang waktu dimana petani menunggu realisasi transmigrasi tersebut, pada 7 September 2011 sekitar 1.200 personil Tim Terpadu turun untuk merubuhkan rumah-rumah dengan menggunakan 5 eskavator, 2 grader dan 1 sopel dan water cannon.

Pada tengah hari 8 September 2011, semua rumah-rumah warga telah rata dengan tanah, mereka sekarang mengungsi di rumah-rumah ibadah dengan kegetiran yang dalam. Tetapi kemudian rumah-rumah ibadah (Mesjid) diduduki oleh Tim Terpadu dan semua warga dipaksa untuk keluar.

Tidak hanya itu, warga merasakan kepiluan mendalam karena pengeras suara mesjid, karpet, beduk diambil oleh Tim Terpadu. Demikian juga warga mengaku bahwa barang-barang mereka banyak yang telah dijarah oleh oknum-oknum Tim Terpadu.

Mereka harus keluar dan jika ada yang bermalam akan ditangkap atau dinaikkan paksa ke truk dan dilepas di luar area register. Mereka tidak tahu harus pergi kemana, dengan anak-anak mereka yang masih kecil. Akibat penggusuran ini kembali ratusan ibu-ibu mengalami depresi dan kegetiran yang mendalam setelah menyaksikan rumah-rumah mereka di robohkan oleh alat berat.

Menjelang malam, karena ketakutan mereka keluar dan sebagian besar mengungsi ke Moro-moro. Sedangkan 250 an orang mengungsi ke SP3, yakni desa terdekat dari Pekat. Tetapi sejak siang sampai jam 9 malam, tidak ada yang memberikan mereka makanan walau mereka sudah kelaparan.

Melalui press release ini, masyarakat Pekat Raya meminta agar DPR selaku penyampai aspirasi dan wakil rakyat:

1. Meminta Polda dan Gubernur untuk menghentikan relokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, karena akan menambah panjang derita petani di lokasi yang baru. Sebab ada pihak yang ingin merelokasi mereka ke Sungai Gajah.

2. Meminta DPR RI, dalam hal ini komisi III, untuk memberikan perlindungan hukum dengan menyatakan bahwa Masyarakat Pekat Raya adalah Pengungsi Internal yang nasibnya harus dijamin oleh Negara dan Lembaga-lembaga Kemanusiaan. Sebab ada 1.300 jiwa (anak-anak, manula, ibu-ibu, dan beberapa orang sakit) yang sedang terlantar tidak punya tempat tinggal.

3. Menghentikan kriminalisasi dan penangkapan atas orang-orang pekat yang dicap sebagai provokator.

4. Meminta Menteri Kehutanan untuk menghentikan penggusuran-penggusuran yang dilakukan oleh Perusahaan Sylva Inhutani sebab Negara harus lebih menghormati Hak Penggarap daripada Hak Pengelolaan Hutan Tanaman Industri. Sebab Hak Penggarap berkenaan dengan keberlanjutan penghidupan rakyat, tetapi HPHTI lebih berkenaan pada penumpukan modal Perusahaan.

***

Siaran pers ini dipersiapkan oleh:

YABIMA Indonesia dan AGRA Lampung

Tlp/Fax: 0725 42872

Monday, September 05, 2011

Flying on the sand

Aku bisa memakai sayap-sayap yang kupunya untuk terbang sesekali. Kali ini aku melayang di atas pasir-pasir hangat di pesisir Hanura. Sejenak lepas dari kebekuan kantor, Pahoman, Hajimena, jalan, Nuntius, JP, segala macam tim dan sebagainya. Kebekuan yang biasanya kunikmati dalam putaran-putaran baling-baling bambu tiada berhenti.
Kali ini, kembali aku memakai sayap-sayap yang kupunya untuk terbang. Melayang di atas pasir-pasir hangat pesisir Hanura. Sepuasnya.