Friday, January 21, 2011

Wartawan Undangan

Sedang berpikir soal harga beras yang mahal, cabe yang tidak pedes, ukuran tempe yang semakin mengecil, dll urusan negara merdeka, seseorang menohok.
"Dimana harga diri kita? Masak kita tidak diundang?"
"Apaan sih?"
"Ini acara penting. Kok mereka gak menganggap media kita sih?"
"Apa pentingnya buat kita?"
"Ini acara besar. Tapi kita tidak diundang."
"Diundang pun aku tak kan menuliskannya. Datang makan ok. Tapi tak kan kumuat di majalah."
Hehehe...protes dia. Aku pun tertawa keras bertepuk tangan. Hahahaha...karena akhirnya dia mengeluarkan seluruh argumentasi panjang lebar dengan logika otak wartawan yang dimilikinya.
Aku masih tertawa ketika aku mesti bicara dengan lembut penuh kasih padanya.
"Wartawan apaan tuh yang datang meliput atau menulis hanya karena diundang. Kalau tidak diundang tidak menulis apa-apa."
"Wartawan pemprop, mbak..." Hahaha...nyerah dia karena dia belum mandi dan gak tahan baunya sendiri. Hahaha... Malah menuduh sembarangan kalau wartawan pemprop hanya mengandalkan amplop, eh salah...ngandalin undangan? Ampun deh.
"Sudah mandi sana!!" Dia pun ngacir dengan sukses supaya aku bisa menuliskannya di blog ini.

Thursday, January 20, 2011

Gayus Tambunan : Candaan Gaya Indonesia!

Gayus divonis tujuh tahun penjara dan denda 300 juta rupiah. Komentar beragam pun muncul. Di penjual sayur tadi pagi pun soal ini ramai dibahas para ibu yang bercampur baur masih pakai daster. Seorang ibu bilang,"Enak ya. Mau juga kayak gitu." Lho kok? "Lha iyalah. Gak kerasa seperti hukuman lah bagi si Gayus. Pasti enak."
Ibu yang lain, ini seorang dosen bilang dengan kalem sambil milih cabe. "Yang penting kasus ini tuntas. Si Gayus kepalang basah itu sudahlah, sudah begitu harusnya nyemplung sekalian. Bongkar tuh jaringannya. Dan harus diproses. Eh, yu, ini cabe kok banyak masih mentah. Mana pedes?" Si ibu penjual sayur sibuk menghitung susuk pura-pura tidak dengar.
Ibu muda yang sedang hamil bilang sambil ngelus-elus perut."Aku jijay kalau dengar si Gayus, Aburisal Bakri. Amit-amit." Na, apa hubungannya Gayus dengan Ical?
"Tanya si Gayus, jangan aku. Tanya orangnya sana! Aku kan gak ada hubungannya? Gimana sih." Si ibu terus ngomel, gak kedengeran jelas. Kayaknya sih nyebut beberapa nama lain, seperti Esbeye, Denny, Tifatul, ...dsb, entah siapa saja. Tante sebelah bilang,"Dia lagi cari nama buat bayinya. Hehehe..."
Sampai aku pergi menenteng tempe dan bayem, para ibu itu masih sedang membicarakan wig dan kacamata Gayus. "Aku gak mau lagi ke Bali, jeung. Ke Mutun saja." Udahlah, gak nyambung blas blas obrolan ngalor ngidul di Indonesia ini. Tumplek blek. Dan aku selanjutnya...ya masak. Untuk suami dan anakku. Sayur bening bayam tempe goreng tanpa sambel.

Wednesday, January 19, 2011

Kebohongan

Suatu ketika seorang guru mengatakan pada semua orang.
"Sang raja telah melakukan kebohongan." Dia tidak membawa bukti-bukti tapi ditunjuknya sungai yang tidak mengalir, sawah yang tidak menghijau, ternak mati, dan anak-anak kurus beringus.

Murid-muridnya terpecah. Percaya pada guru. Tidak percaya. Bingung. Diam.

Sang raja menaburkan senyumnya pada semua orang.

"Silakan percaya pada guru atau pada raja." Demikian para pengawal raja bersuara di setiap kesempatan. Rakyat terpecah. Percaya. Tidak. Bingung. Diam.

Di sebuah warung kopi orang-orang bicara.
"Raja ini pilihan kita semua."
"Guru siapa yang memilih?"
"Raja ini punya kuasa dunia."
"Guru dapat kuasa dari mana?"
"Raja ini dapat backing dari orang-orang kaya."
"Guru? Siapa backingnya?"


Tuesday, January 18, 2011

Suka?

"Ibu suka tidak kalau pergi-pergi seperti itu?"
Bernard berbaring di sebelahku. Tidak melihat tapi tangannya memegang pipiku. Kalau dia sudah serius kayak gitu aku harus mikir sebentar sebelum menjawab.
"Ehmm...pergi kemana?"
"Ya, seperti kemarin itu. Ke Jakarta, ke Bandung, Ambon..."
"Ehmm...ada sukanya, ada tidak sukanya."
Dia melotot ke aku menunggu penjelasan.
"Iyalah Nard. Suka karena bisa lihat tempat baru, kadang ada makanan baru, orang baru. Tidak sukanya karena capek. Jadi kangen sama Bernard juga."
Ehm...dia mengangguk-angguk, kemudian segera keluar dari kamar. Menutupnya. Aku sendirian di kamar sambil mikir,"Apa yang dia pikir sih?"

Monday, January 17, 2011

Angin

Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Sekali tadi pagi ketika aku berangkat ngantar si Bernard, terasa betul angin bisa membuat Mioku agak oleng. Selain juga membuat mata pedih karena debu dan sampah, yang terus menerus muncul walau hujan atau tidak hujan. Bahkan ketika di depan Pasar Koga aku harus melambatkan motor dengan agak mendadak karena tukang sapu jalan kesiangan (biasanya jam 7.30 mereka sudah tidak kelihatan, kok ini masih nyapu) harus meloncat ke tengah jalan karena sampah yang dia giring terbang ke tengah jalan. Nah.
Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Sekali siang ini ketika aku sedang duduk di depan komputer, terasa betul angin bisa membuat hatiku agak oleng. Selain juga membuat mata pedih karena genangan air di sudut-sudutnya, terus menerus muncul walau musim berubah. Bahkan ketika aku sedang membuka inboxku, aku terpaksa meloncat mendadak karena tiba-tiba jantungku berdenyut lebih kencang membersihkan sumbatan di sana. Banyak sampah di ruas pembuluhku. Sepertinya begitu. Nah.
Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Mungkin juga nanti malam... Nah.

Saturday, January 15, 2011

Nasi Bambu

Saat ke Bandung, beberapa hari lalu, aku melewatkan beberapa waktu untuk makan. Iyalah, ke Bandung mah harus makan. (Sedang ke kota lain pun harus makan, bahkan gak kemana-mana juga harus makan. Ini ke Bandung, teman. Harus makan! Hehehe.)
Kebayang-bayang sambel lalap sudah sejak naik Argo Parahiyangan jam 9.15 dari Gambir. Bau sedap dari gerbong restorasi yang menawarkan nasi goreng, bistik dan rames tidak menyurutkan hasrat. Sarapan cukup dengan roti isi keju coklat.
Yang pertama didapat rupanya makanan yang aku belum pernah makan di Bandung. Yaitu : Nasi Bambu. Nasi ini dihidangkan dalam buluh bambu dilapisi daun pisang. Nasinya sendiri dimasak dengan beberapa bahan sehingga gurih. Namun rasanya ringan, tidak seperti uduk yang berat santannya. Kecampur bau daun dan bambu, wuih, sedapnya. Di bagian atas nasi ditaburi daun singkong tumbuk yang dimasak agak pedas. Samar-samar ada rasa ikan di sayur ini tapi aku gak yakin. Tambahan lauknya : tahu goreng, ayam goreng dan sambel trasi. Plus lalap dung. Tambah minum jus tomat. Mantap. Karena aku masih mau nongkrong di bilangan Kebon Kawung ini, aku menambah minum kopi pekat panas supaya bisa nyruput pelan-pelan sembari mencela-cela Bandung yang semakin ramai padat kacau jalan-jalannya.

(Makanan lain yang sempat kusantap dua hari di Bandung : nasi timbel, jerohan goreng, mi kuah, gorengan pinggir jalan, molen pisang.
Yang tidak sempat kumakan padahal pingin banget : ayam gantung di dekat Boromea, bubur ayam depan Cicaheum, dawet Elisabet, bebek goreng kremes, siomay kukus, roti bakar segala isi, sate kelinci, ... Kapan lagi ke Bandung lagi untuk semua yang belum itu.)

Friday, January 07, 2011

Near

Aku dekat di sini. Mengaku dekat denganMu. Tapi tak bisa kupandang wajahMu. Dimanakah? (Aku sedang memohon karunia kesembuhan pada dua biji mataku supaya aku dapat melihatMu. Doakan.)

Tuesday, January 04, 2011

New Year

Tahun baru.

Aku mencatat beberapa lubang di tahun lalu.

Tahun ini :
Aku ingin menutup lubang-lubang itu.

Ini misiku tahun ini.

Friday, October 08, 2010

Long Jurney (6) Mataloko


Ini adalah perjalanan yang sudah dirancang dari tahun lalu. Tapi harusnya masih pertengahan Oktober nanti. Ada banyak alasan sehingga acara pendidikan promotor aktif tanpa kekerasan untuk Keuskupan Agung Ende ini dimajukan. Ya, apa dayaku? Aku juga tak punya alasan untuk tidak bisa karena aku punya banyak alasan untuk tetap pergi ke NTT ini. Tak mungkin kulewatkan. Jadi biar kata keringat airmata dan darah kan kulakukan untuk perjalanan ini. (hehehe...lebay nian.)

Lampung menuju Jakarta lalu Kupang. Di sini baru ketemu Rm. Dany, partner untuk menfasilitasi pelatihan. Semalam di Kupang untuk menunggu pesawat lanjutan ke Bajawa paginya menjadi kesempatan untuk membicarakan segala hal secara jasmani rohani dsb.

Pagi jam 6 sudah berangkat dari Hotel Bahtera Indah Kupang ke Bandara El Tari. Katanya sih penerbangan jam 8. Tapi delay lumayan lama dan tak bisa berkutik. Tak bisa berkutik lagi ketika lihat pesawat 'baling-baling bambu' yang sudah menunggu. Fokker 50 inilah yang akan membawa kami ke Bajawa. Syarat mutlak : penumpang lebih dari 10 orang, cuaca baik dan tidak ada pejabat daerah yang tiba-tiba harus naik pesawat hari ini. Jika syarat ini tidak terpenuhi, alamat penerbangan akan batal!

Tentu saja doa tak putus-putus dalam guncangan pesawat kecil ini. Hingga akhirnya tiba dengan selamat di Bajawa. Dari sana masih lanjut ke Mataloko, tempat acara. Mampir bentar untuk makan di Restoran Camelia. Sate babinya enak banget. Juga sup asparagus. Juga juice tomat wortel. Juga cah sawi. Juga ayam goreng. Hehehe...nikmat buanget. (n mahal banget!)

Mataloko yang dingin adalah hari-hari yang romantis. Eh, nggak ding. Kerja keras 5 hari memfasilitasi pelatihan. Bergantian dengan Rm. Dany tentu saja. Kalo tidak sudah semaput pasti.

Nah, jalan-jalan benerannya adalah hari terakhir setelah acara selesai. Tidur di Ndora, sempat ketemu Melky, teman lama. Lalu ke Bena, kampung tradisional. Foto-foto tentang Bena sudah aku post duluan (lihat di tulisan sebelumny). Lalu tidur semalam di Bajawa tempat keluarga Niko - Atik yang menyuguhkan tempe goreng! Makan pavorit ini muncul juga akhirnya. Jika tidak malu sudah kulahap semua-semuanya yang di piring. Tidak seenak tempe Malang atau bahkan Lampung, tapi tempe gitu loh...

Dan esoknya balik lewat Bandara Soa, tepat waktu. Penumpang penuh, cuaca cerah, dan aku barengan dengan pejabat daerah yang mengawal. Jadi pasti berangkat. Di El Tari Kupang sekitar 2 jam, ingin makan tapi males. Malah dapat kaos dan cemilan. Di Garuda baru makan sajian mereka. Mampir Denpasar dapat cemilan lagi. Di Jakarta, kena macet dan lanjut Lampung setelah semalam tidur di Jakarta.

Nah, utang cerita sudah kelar. Tunggu perjalanan berikutnya ya... (selesai. untuk kali ini.)

Long Jurney (5) Nuntius


Sembilan hari di Lampung setelah segala perjalanan itu ternyata masih dalam perjalanan juga. Perjalanan yang ngebut super cepat untuk mengerjakan Majalah Nuntius edisi Oktober. Ini tidak boleh selip sedikitpun karena tanggal 24 September jadwal perjalanan ke KA Ende sudah menanti. Aku harus sangat cermat mengatur segala hal dalam 9 hari saja. Satu haru sudah kepotong untuk tidur saja di rumah bersama anak-anak dan suami. Meluruskan yang bengkok. Membengkokkan yang lurus. Lalu urusan laporan-laporan. Ini tak mungkin tertunda karena akibatnya bisa buruk bagi kesehatan jiwa dan ragaku. Lalu edit Nuntius. Yang ternyata...olala, banyak sekali kurangnya. Jumlah tulisan kurang memadai. Kontak sana-sini dapat juga tulisan-tulisan. Empat hari di depan komputer, full! Bayangpun. Masing diganggu ini itu karena persiapan perjalanan ke NTT itu. Soal tiket, materi, dll.

Ini perjalanan yang hanya 15 km pp dari rumah - kantor. Tapi sungguh, capek!!!!!!!!!!! Seperti menghadapi tumpukan berserak batu-batu yang harus aku susun satu persatu jadi bangunan yang siap tersaji. Dengan dua tanganku dan pantatku. (Iya, soalnya bokong sampai panas duduk depan komputer. Hehehe...)

Long Jurney (4) Siem Reap - Phnom Penh - Kuala Lumpur - Jakarta - Surabaya - Jombang - Kediri - Salatiga - Bandung - Bandarlampung

Pulang dari Siem Reap adalah perjalanan yang sangat-sangat panjang. Pertama pada 11 September, pagi berangkat dari Siem Reap naik taksi ke Phnom Penh bersama Rm. Ronnie, Sanjay, dan Lek. Sekitar 6 jam perjalanan. Sambil menunggu penerbangan kami masing-masing ke asal mula kami (hehehe) kami ngopi di bandara internasional Phnom Penh. Sanjay yang traktir kami. Sedang makanan aku tidak beli karena tadi bawa roti perancis yang panjang itu, keju dan apel. Roti dan keju langsung amblas.

Lalu perjalanan ke Kuala Lumpur yang tenang. Untung cuaca lumayan bagus tidak seperti saat kami datang yang hujang mendung. Rasa lapar di pesawat terobati dengan pop mie. Hehehe...ini menu yang paling murah di Air Asia. Cukup asyik juga makan mie seduh di pesawat. Untuk pertama kalinya.

Di Kuala Lumpur nunggu beberapa saat sebelum lanjut ke Jakarta. N tiba di Jakarta sudah tengah malam, jam 12-an. Pesawatku ke Surabaya karena aku mau nyusul anak-anak dan bapake yang sedang liburan lebaran di Jawa Timur. Dan itu baru pada pagi-pagi nanti. Terpaksa nglemprak di emper bandara Sukarno Hatta. Beberapa menit sempat tertidur. Tentu saja tidak seperti tidur beneran.

Jam 6.00 Batavia Air siap menuju Surabaya. Full penumpang. Kebanyakan orang-orang berseragam baru pulang umroh. Ohya, jangan lupa, tanggal ini masih hari raya Idul Fitri. Bapak Samiran sudah menunggu di Juanda, menjemput spesial anaknya ini. Rasanya lega sekali berada di pelukannya. Bisa manja-manja,"Lapar, cari makan, bapak." Sepiring nasi rawon plus ayam goreng. Hehehe...rakus pokoke. Lalu nyamil lagi alun-alun Jombang saat nunggu Mas Hendro dan Albert Bernard yang sedang dalam perjalanan dari Lumajang.

Di Kediri sudah siap ibu dengan sambel tumpangnya. Pokoke urusan pulang kampung adalah makan. (iya ta? gak juga. lihat fotoku dengan ibu. mirip ya?) Hanya semalam sehari di kota ini. Itu pun full dengan urusan tetek bengek tradisi lebaran. Ke makam, ke pak puh Nganjuk, ke sanak family, dan besoknya sudah jalan ke Salatiga. Dimana kami akan start kembali ke Lampung dengan Guntur.

Sempat nginep semalam di Hotel Kopo Bandung untuk melepaskan boyok yang peyok. N sempat jalan cari dawet Elizabeth di Otista sebelum lanjut lagi ke Lampung.

Nah, bayangkan ketika tiba di rumah kembali. Seperti mimpi.... (bersambung)

Long Jurney (3) Angkor Wat


Ke Kamboja gak ke Angkor Wat? Yang benar saja. Harus ke sana boo... Nih tempat sangat bersejarah bagi seluruh manusia di dunia. Hari sebelumnya, Sr. Denise, koordinator teknis kegiatan lokal Kamboja memberikan tawaran itu. Siapa yang mau ke Angkor Wat dan mau pergi jam berapa? Tentu dengan gegap semangat aku langsung angkat tangan tinggi-tinggi.
“I want go and sunrise!” ujarku tak banyak pikir. Aku mau lihat sunrise di Angkor Wat! Tidak bisa tidak!
Sangat pagi kami berangkat dari Mindol Metta Karuna. Tuk-tuk, kendaraan tradisional khas Kamboja sudah disediakan oleh Sr. Denise. Ini adalah kendaraan mirip kereta kuda tapi ditarik oleh sepeda motor. Kebanyakan memakai sepeda motor tua sehingga bunyinya meraung keras kadang meletup-letup,”Tuk, tuk, tuk…” Di telinga saya mirip itulah bunyinya.
Satu tuk-tuk hanya bisa diisi oleh 3 atau 4 orang saja. Saya bersama dengan David, peserta dan fasilitator dari New Zealand dan Linda, koordinator ACPP asal Philipina namun tinggal dan berkantor di Hongkong. Bertiga kami berada di satu tuk-tuk. Masih gelap, masih mengantuk namun penuh semangat dan gembira. Aku dengar senandung David, seperti lagu Row, Row, Row Your Boat tapi dia ganti syairnya jadi seperti Talk, talk, talk with your tuk-tuk-tuk... entahlah. Seperti itulah.
Tepat saat tiba di halaman Angkor Wat yang megah, matahari sedang proses naik ke angkasa yang cerah. Terbit dengan warnanya yang cemerlang keemasan. Aku menunjukkan tiket masuk candi dengan tak sabar pada petugas yang ada. Tiket yang dilengkapi dengan foto diri itu bisa dipakai sepanjang hari itu di seluruh lokasi percandian yang ada di Angkor. Iya, tiketnya bagus. Mbayarnya sih lumayan mahal, 20 USD. Setiap pengunjung berdiri di depan loket, difoto, lalu sebentar kemudian hasil print tiket siap.

Surga! Ini adalah surga. Ini adalah lokasi percandian yang luar biasa. Saya langsung teringat Candi Borobudur yang megah di Jawa Tengah sana. Namun ada banyak detail yang membedakannya.
Angkor Wat adalah sebuah candi yang terletak di kota Angkor dan dianggap sebagai salah satu dari keajaiban dunia. Candi yang sangat luas ini dibangun oleh Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke 12 dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya Angkor Wat dibangun dalam budaya Hindu namun kemudian dialihfungsikan menjadi kuil Budha dan dipelihara serta digunakan secara terus menerus ketika agama Budha menggantikan agama Hindu di Angkor pada abad ke-13.
Nama modern Angkor Wat, berarti "Kuil Kota". Sebelumnya nama asli candi ini adalah Preah Pisnulok atau Vishnuloka (tempat dewa Wishnu bersemayam), berdasarkan nama anumerta raja pembangunnya. Namun hingga kini nama Angkor Wat lebih dikenal di berbagai belahan dunia. Ada ribuan wisatawan datang ke tempat ini tiap harinya entah domestik maupun asing. Bahkan penulis sempat bertemu dengan serombongan turis dari Indonesia! Puluhan orang Indonesia dalam satu tour berkunjung ke Angkor Wat. Luar biasa!
Berjalan di surga macam ini tak habis-habisnya. Aku ingin datang lagi ke sana. Mungkin bersama para kekasihku. Aku ingin mengajaknya duduk di pinggir kolam teratai dan melihat matahari hidup di angkasa sana. Hmmm... (bersambung)

Long Jurney (2) JPW Meeting for Asia Pasific


Meeting for Justice and Peace Workers. Itulah judulnya untuk mengumpulkan para pekerja keadilan dan perdamaian yang ada di negara-negara se Asia Pasific. Aku sangat beruntung bisa mewakili Indonesia, padahal belum benar-benar seperti pekerja keadilan perdamaian. ACPP yang ngadain. Asean Center for Progress of People yang ngantor di Hongkong.

Tahun ini pertemuan diadakan pada 5 – 11 Sepember 2010 di Kamboja diikuti lembaga-lembaga Katolik yang bergerak di bidang keadilan dan perdamaian dari 16 negara yaitu New Zealand, Australia, Cambodia, Bangladesh, Burma, Hongkong, India, Indonesia, Philipines, Malaysia, Pakistan, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Srilangka dan Tailand. Plus utusan dari Pontifical Council for Justice and Peace Vatikan.

Acaranya menarik. Hari pertama dan kedua kami keluyuran di seputar Phnom Penh. Lihat Killing Field, ngerasain Penjara S-21 yang kini jadi Musium Tuol Sleng. Lalu ke Bantey Priep dan akhirnya berayun di atas Sungai Mekhong.

Hari-hari berikutnya pertemuan dilanjutkan di Siem Reap, di sebuah rumah reflection center : Mindol Metta Karuna. Tempat yang luar biasa indah. Penuh makna di sekujur lahannya. Tak ada kata yang bisa melukiskannya secara lengkap. Tuh salah satu sudutnya ada di foto itu. Gak bisa diceritain kan?
Pertemuan di tempat luar biasa ini pun dirancang luar biasa. Mengolah hati, saling berbagi, diskusi kelompok, pleno, mendengar Bob, Megan, Tun Channareth, Song Kosal, dll. Mereka ini orang-orang yang kaya. (cek aja di internet siapa mereka. Kapan-kapan aku ceritain satu persatu, pasti kalian gak akan nyangka aku ketemu orang-orang seperti itu.)
Tema besar yang diangkat dalam pertemuan ini adalah Network-Building to Overcome Violence. Maka seluruh Kamboja yang pernah penuh dengan ranjau darat dan masa kekelaman dengan Pol Pot Khmer Merah sangat cocok untuk melihat tema ini secara konkret.
Bagiku sendiri, aku mengalami emosi yang sangat dinamis sepanjang kegiatan. Kadang ngeri, marah, sedih, tenang, gembira, putus asa, takut, penuh harapan, dan sebagainya. Tapi semua orang dalam pertemuan ini adalah orang-orang yang membantuku untuk dapat mengikuti seluruh prosesnya secara menyenangkan. Ada David dan Mapet yang membantu banyak bahasaku. Mereka berdua gak bisa bahasa Indonesia tapi mereka berdua siap menterjemahkan bahasa Inggris menjadi hal yang sederhana mudah dipahami. Ada Kosal, Sony, Vanawi, Cita, dll serombongan Cambodian yang rela hati jadi guide untuk segala hal di Kamboja. Bahkan ikut menawar jika aku ingin beli sesuatu. Lalu ada Sr. Denise, Linda, Wanyu dll panitia dari Hongkong dan setempat yang super memberi perhatian pada semua peserta. Lalu ada seluruh peserta yang menawarkan persahabatan bahkan hingga kini saat semua udah balik ke negara masing-masing. Selalu ada saja surat dari salah satu mereka di email. Lalu juga ada pengendara tuk-tuk, pedagang-pedagang. Aihhh, aku jadi ingat semua yang aku temui di Siem Reap ini. Salam untuk kalian semua di situ. Terimakasih banyak. *** (Bersambung)





Thursday, October 07, 2010

Long Jurney (1) Kamboja/Cambodia/Kampuchea


Nah, akhirnya bisa duduk agak tenang setelah dua perjalanan panjang yang aku lalui dalam sebulan terakhir ini. Perjalanan pertama adalah ke Kamboja dan kedua ke NTT.
Kali ini aku cerita dulu tentang perjalanan ke Kamboja.


Nah, tentu saja ini peristiwa mengagumkan yang pernah aku dapat. Kesempatan berkunjung ke Kamboja tidak bisa ditemui oleh banyak orang. Apalagi gratis segalanya (hehehe...). Tiket lengkap sudah di tangan, di tambah beberapa ratus dolar rapi di dompet. Aku pergi dengan Air Asia menuju Kuala Lumpur pada pagi 5 September. Tidak terlalu lama menunggu di Sukarno Hatta karena bangun yang pas, cukup untuk perjalanan sepagi itu. Pesawat pukul 6.30. Setelah urusan tetek bengek bagasi, imigrasi, aku duduk manis di bandara bersama Rm. Ronnie.

Air Asia cukup nyaman untuk perjalanan ini. Tapi lapar. Aku tidak menemukan makanan apapun yang cocok di menu yang ditawarkan mereka. (Sudah perut mual, lihat harganya mahal.) Tapi karena makan malam sudah tidak tersisa di perut, aku ambil sanwich besar isi daging asap dan teh botol.

Di Kuala Lumpur ada banyak waktu. Sekitar 4 jam menunggu sebelum terbang kembali ke Phnom Penh. Jadi bisa makan lagi. Kali ini makan di restoran bandara. Haaa, nyaris Indonesia. Makan kari ayam dengan kuah yang kental, plus acar timun dan wortel, ditutup puding vanila pandan. Minumnya juice banana yang diberi kucuran coklat dan susu. Nikmat... (Tuh kelihatan di foto)

Saat antri di loket cek in, eh malah ketemu Intan. Seorang Jawa yang sedang boyongan ke Phnom untuk ikut suaminya. "Ocean, kasih salam pada tante." Intan menyorongkan anak cantik bule di sebelahnya. "Suamiku orang Perancis, mengajar di Kamboja." Ooooo.... Mereka berdua jadi teman menyenangkan di perjalanan itu.

Phnom Penh, I'm coming!!! Aku malah disambutnya dengan hujan dan banjir. Ini bukan Jakarta to? Iya, mirip itulah saat hujan deras di hari pertama itu. Persis Jakarta atau Tanjungkarang. Macet dengan genangan air di mana-mana.

Malam itu tidur pulas di Golden Gate Hotel dengan harap-harap cemas akan esok hari. Untuk Justice and Peace Workers Meeting for Asia Pasific. Seperti apa ya? (Bersambung)

Wednesday, October 06, 2010

Traditional Village of Bena








Lihat bidadari-bidadarinya.

Lihat ibu dan tenunannya.

Kampung ini sudah tercemar.

Tapi menyisakan tradisinya.
Menyuguhkan indahnya.
Aku tenggelam di antara rumah dan batu-batunya.
(26 September - 3 Oktober 2010. Perjalanan panjang : Lampung, Jakarta, Surabaya, Kupang, Bajawa, Mataloko, Ndora, Bena, Bajawa, Kupang, Denpasar, Jakarta, Lampung)


Wednesday, September 22, 2010

Disappointed

Apa yang bisa dirasa ketika sesuatu yang biasa diandalkan harus pergi? Tidak ada yang salah dalam proses ini. Tidak ada masalah yang mengganjal aliran hidup ini. Kepergian adalah wajar. Ini adalah sarana untuk perkembangan banyak pihak. Bahkan mungkin demi perbaikan banyak dunia.

Tapi aku pun boleh menikmati kejujuran rasa. Aku kecewa. Sangat kecewa.

Saturday, September 18, 2010

From Paradise

Aku baru pulang dari surga. Luar biasa! Seluruhnya adalah surga! Tidak bisa tidak.
Kau bisa bayangkan?
Phnom Penh, Siem Reap, Angkor Wat, mata biru, sayap malaikat, ....
Itulah souvenir-souvenir yang kubawa.
Surga...bagi duniaku, sekarang ini.
Ini menjadi bukti, bahwa ada banyak surga. Pasti juga nanti.
Tenang, akan kubagi padamu seluruh surga yang sudah ku dapat.
Tenang...

Thursday, August 26, 2010

Stone from Hard Rock

Kepalaku ketimpa batu. Keras dan berat. Aduh, moga tengkorak-tengkorakku masih mampu menahan benturan itu. Benturan yang cukup menggoncangkan otak dan cairan di dalamnya. Mungkin sempat tercecer. Muncrat. Rasanya, aduh!!! Gegar otak!
Aku harap kepalaku masih bekerja dengan jaringan-jaringan penghubung di antaranya. Kalau pun ada yang putus bolehlah satu atau dua saja, jangan terlalu banyak. Belum boleh tidur sekarang. Jadi...doakan aku.

Wednesday, August 18, 2010

Mirror

Cermin di tikarku saat aku bangun ikut bangun. Gemetar aku memandang bayangan di dalamnya. Itu bukan aku tapi juga aku. Tidak terjadi padaku tapi juga aku alami.

Cermin di tikarku saat aku bangun ikut bangun. Panas suhu tubuhku menyentuh bayangan di dalamnya. Aku bisa rasa apa yang terjadi. Aku bisa cium bagaimana itu terjadi.

Bisakah kubantu bayangan lepas dari bebannya? Pun kemudian melepas bebanku juga? Menghancurkan cermin ini dan merengkuhnya? Akukah yang sedang bercermin? Atau akukah yang ada dalam cermin?

Aku yang nyata atau aku yang bayangan?
Sejauh ini, aku ingin berada dalam doa. Bersamamu, entah aku atau bukan, yang ada dalam cermin.

Tuesday, August 10, 2010

Dance on the green


Menari di kehijauan. Kami hanyalah noktah-noktah yang bergerak tak beraturan. Melintasi pematang-pematang. Kadang lurus kadang bercabang. Di antara hijau penuh harapan.