sebuah panah melesat tepat di jantungku
separohnya mencapai rahim
dan berkembang menjadi janin
ada tujuh rupa yang kemudian aku lahirkan
pertama
adalah waktu
yang menjadi sahabatku
membaca ruang dan perjalanan
kedua
adalah senyuman
yang menjadi bros di dada
membuatku merasa cantik senantiasa
ketiga
adalah sayap
merapat di punggungku
sehingga aku melayang di atas awan
keempat
adalah air mata
membasuh wajahku
mengingatkanku pada rasa rindu
kelima
adalah cemara
meliuk bergoyang
menandai bentuk keliaran
keenam
adalah sepasang sepatu
tempat aku menapak entah dimana
membawa kesadaran pada perlindungan
ketujuh
adalah ketiadaan
penyelamat segala perkembangan
yang membebaskanku dalam pengembaraan kekal
(mereka bertujuh
ingin selalu aku rengkuh)
Tuesday, September 16, 2008
Friday, September 12, 2008
Melayang
hari ini ada sepasang sayap di punggungku
menancap kuat di dalam tulang belakangku
sepasang sayap putih yang lebar
sepasang yang terus bergetar dengan kekuatannya sendiri
bahkan aku bisa melihat dua kakiku menggantung lurus
tidak menginjak tanah atau benda apapun
dua tanganku bergerak bebas di udara ini
dua mataku memandang tanpa batas ke empat penjuru
(tentu saja aku tidak tahu sayap ini milik siapa
dan tidak tahu sampai kapan akan melekat di sini
seperti aku tidak tahu kapan dan mengapa bisa ada di ruas punggungku)
menancap kuat di dalam tulang belakangku
sepasang sayap putih yang lebar
sepasang yang terus bergetar dengan kekuatannya sendiri
bahkan aku bisa melihat dua kakiku menggantung lurus
tidak menginjak tanah atau benda apapun
dua tanganku bergerak bebas di udara ini
dua mataku memandang tanpa batas ke empat penjuru
(tentu saja aku tidak tahu sayap ini milik siapa
dan tidak tahu sampai kapan akan melekat di sini
seperti aku tidak tahu kapan dan mengapa bisa ada di ruas punggungku)
Friday, September 05, 2008
Ooo, Albert.
Usai mengantar Bernard, aku memutar lewat pinggir lapangan SD. Rupanya anak-anak SD kelas II sedang senam kebugaran sebelum masuk kelas. Sekilas pandang saja aku sudah dapat menangkap sosok Albert. Dia di barisan agak ke belakang. Tempat favoritnya. "Iya, ibu. Aku tidak bisa ada di depan karena aku tinggi." Gitu alasannya kalau aku protes tentang tempatnya yang selalu di belakang kalau sedang baris. Ah, nggak. Dia sama tinggi dengan Billy atau Vio atau Ano, tapi mereka ada di depan.
Tidak jadi keluar gerbang untuk ke kantor, aku duduk di bawah puring, melihat senam itu. Jauh berbeda dengan senam kesegaran jasmani yang dulu dipakai saat aku SD. Lagunya lebih semarak, ceria, lepas. Gerakannya juga. Seperti menari bu Eti di depan sana memberi contoh pada para murid. Barisan depan sungguh rapi jali. Seperti laron-laron kecil yang berbaris rapi mengerubuti induknya.
Tapi astaga...lihat Albert. Matanya menatap lurus bu Eti. Dia mencontoh gerakan-gerakannya. Tidak jadi menari jika yang bergerak Albert. Saat tangan harus terentang, dia akan merentangkan tangannya selebar-lebarnya hingga dapat menggapai pundak teman kanan kirinya. Lalu bu Eti meloncat-loncat kecil ritmis. Albert melombat setinggi langit. Entah apa yang didengarnya, apakah ada musik dan lagu, tapi dia melombat tinggi-tinggi berkali-kali sampai dia sadar bahwa gerakan teman-temannya tidak lagi melompat, dan dia menghentikan gerakannya. Sekali tempo gerakan tangan ke kanan dan ke kiri. Gerakan ini membuat Albert melihat bahwa bayangan matahari melalui tangannya dapat membuat bentuk kupu-kupu, kelelawar, kelinci dan sebagainya di lantai lapangan. Maka hilang lenyaplah guru dan teman-temannya, berganti dengan para binatang di paving.
Aku menahan nafas ketika salah seorang guru yang berjejer di barisan belakang berjalan menuju Albert. Hups, satu tangan menarik tubuh Albert yang terbungkuk-bungkuk mengikuti kupu-kupunya dan mengembalikannya pada barisan senam. Gerakan terakhir ambil nafas buang nafas, ooo Albert, dia menengadah laammmaaa...sekali, kemudian dua tangannya mendekap pipinya. Pasti hangat pipinya karena terkena matahari pagi. Dia ulang lagi gerakan itu.
Satu gerakan menoleh, dia melihat mataku di ujung lapangan di belakangnya, spontan dia langsung melambai dan tersenyum padaku. Tentu saja aku tersenyum juga padanya dan melambai kencang-kencang padanya.
"Lihat di mata ibu, Bert. Ada kamu di situ." Aku membisik. Pasti dia tidak dengar. Tapi dia tahu itu.
Tidak jadi keluar gerbang untuk ke kantor, aku duduk di bawah puring, melihat senam itu. Jauh berbeda dengan senam kesegaran jasmani yang dulu dipakai saat aku SD. Lagunya lebih semarak, ceria, lepas. Gerakannya juga. Seperti menari bu Eti di depan sana memberi contoh pada para murid. Barisan depan sungguh rapi jali. Seperti laron-laron kecil yang berbaris rapi mengerubuti induknya.
Tapi astaga...lihat Albert. Matanya menatap lurus bu Eti. Dia mencontoh gerakan-gerakannya. Tidak jadi menari jika yang bergerak Albert. Saat tangan harus terentang, dia akan merentangkan tangannya selebar-lebarnya hingga dapat menggapai pundak teman kanan kirinya. Lalu bu Eti meloncat-loncat kecil ritmis. Albert melombat setinggi langit. Entah apa yang didengarnya, apakah ada musik dan lagu, tapi dia melombat tinggi-tinggi berkali-kali sampai dia sadar bahwa gerakan teman-temannya tidak lagi melompat, dan dia menghentikan gerakannya. Sekali tempo gerakan tangan ke kanan dan ke kiri. Gerakan ini membuat Albert melihat bahwa bayangan matahari melalui tangannya dapat membuat bentuk kupu-kupu, kelelawar, kelinci dan sebagainya di lantai lapangan. Maka hilang lenyaplah guru dan teman-temannya, berganti dengan para binatang di paving.
Aku menahan nafas ketika salah seorang guru yang berjejer di barisan belakang berjalan menuju Albert. Hups, satu tangan menarik tubuh Albert yang terbungkuk-bungkuk mengikuti kupu-kupunya dan mengembalikannya pada barisan senam. Gerakan terakhir ambil nafas buang nafas, ooo Albert, dia menengadah laammmaaa...sekali, kemudian dua tangannya mendekap pipinya. Pasti hangat pipinya karena terkena matahari pagi. Dia ulang lagi gerakan itu.
Satu gerakan menoleh, dia melihat mataku di ujung lapangan di belakangnya, spontan dia langsung melambai dan tersenyum padaku. Tentu saja aku tersenyum juga padanya dan melambai kencang-kencang padanya.
"Lihat di mata ibu, Bert. Ada kamu di situ." Aku membisik. Pasti dia tidak dengar. Tapi dia tahu itu.
Saturday, August 23, 2008
Pernikahan Masa Kini
Pernikahan Reni dan Kasdi, 22 Agustus 2008 adalah pernikahan masa kini di salah satu sudut Baradatu, Kabupaten Way Kanan, Propinsi Lampung. Dua orang ini adalah keturunan Jawa yang lahir dari generasi kedua orang Jawa. Orang tua mereka asli Jawa, dan pindah ke Lampung karena transmigrasi. Mereka berdua lahir di Lampung tapi dua-duanya mengaku sebagai orang Jawa. Pernikahan mereka tidak bisa disebut lagi khas Jawa. Tidak ada pantangan-pantangan seperti yang dilakukan oleh orang Jawa yang menikah. Tradisi pengantin Jawa mereka dipingit beberapa hari sebelum pernikahan. Pengantin perempuan dan laki-laki tidak boleh bertemu. Mereka tinggal di rumah masing-masing atau jika pengantin laki-laki tinggal terlalu jauh, mereka harus 'mondok' di salah satu rumah yang dekat dengan rumah pengantin perempuan. Pengantin perempuan lebih banyak aturan. Mereka tidak boleh masuk dapur, tidak boleh mengerjakan hal-hal tertentu. Dan pada malam menjelang pernikahan mereka menjadi 'widodari', menikmati keperawanan terakhir kali dengan berdandan secantik mungkin, tanpa boleh dilihat oleh calon pengantin laki-laki. Malam widodaren ini menjadi malam terakhir bersama orang tua.
Reni dan Kasdi mempersiapkan pernikahan tanpa aturan-aturan Jawa seperti itu. Ada janur melengkung tapi tidak ada lagi tradisi-tradisi budaya yang dianut. Mereka mengerjakan sendiri banyak hal. Menjadi orang paling repot, masih keluar masuk dapur membuat ini itu, bahkan pada malam widodaren Reni menyeterika baju sendiri. Dan mereka berdua bersama sepanjang hari.
Pada hari H, aku melihat menjadi hari yang paling melelahkan bagi mereka. Aku yakin mereka tidak tidur pulas beberapa hari terakhir. Gimana bisa tidur wong sepanjang malam orang-orang 'tirakatan' semalam suntuk. Tirakatan masa dulu adalah hening, menghela keluar setiap halangan yang mungkin muncul. Mendoakan calon pengantin supaya 'kalis ing sambikala'. Lepas dari segala marabahaya. Tapi tirakatan yang dilakukan masa kini, adalah kartu, makanan kecil, guyonan dengan tape yang disetel sangat kenceng mengudarakan kisah wayang. Tidak ada keheningan sama sekali.
Hari H, Reni dan Kasdi berada di Gereja dengan kemantapan niat untuk bersatu. Khusyuk dalam doa, gemetar saat mengucap kaul dan menangis di pangkuan saat sungkem orang tua. Aku terpana melihat mereka berdua. Salut! Resepsi pernikahan juga tidak lagi menyisakan adat Jawa dengan temu manten, suap-suapan, kembar mayang, kacar-kucur dan sebagainya. Hanya pelaminan dan panggung orgen tunggal yang berisik sepanjang acara. Seperti pernikahan-pernikahan lain di Lampung. Budaya yang sudah bergeser.
Selamat menjalani babak selanjutnya dari cinta kalian, Reni dan Kasdi. Aku ikut dalam doa dan sukacita kalian.
(Hari Kamis aku, Sisil dan Putri berangkat dari Rajabasa. Sebelumnya makan mie goreng instan dulu di terminal karena sangat lapar. Tidak sempat makan di rumah. Buru-buru. Karena dua gadis ini belum tiba di tempat janjian, aku pesan mie plus telur. Eh, Sisil datang bilang belum makan juga. Belum selesai mie dibuat, Putri datang. "Aku kenyang." Maka berdua makan dulu, lalu cepat-cepat mencari bis menuju Baradatu. Sudah menjelang jam 2. Katanya bis kesana terakhir jam 2. Peron menagih 500-an per orang. Dan, syukurlah bis Darmaduta masih akan berangkat 10 menit lagi. Tiket 33 ribu per orang. Cukup nyaman. Tapi setelah berjalan, ketahuan kalau AC nya sama sekali tidak dingin. Menjelang Kotabumi, hujan deras mengguyur. Tidak berhenti pula sampai tiba di Baradatu sekitar pukul 6 sore. Sudah mulai gelap. Naik ojek ke "Pak Warindi, Solo I." Tiga ojek 15.000 semuanya. Rupanya keluarga pengantin laki-laki juga datang sore itu. Kami makan malam lezat khas Jawa : sambel goreng kentang, mie goreng, ayam bumbu entah apa, kerupuk, ehmmm...lezat! Setelahnya ada ibadat. Tidak pake mandi ikut bergabung bersama umat dalam doa. Kok ketemu seorang tokoh umat. Wawancara dong untuk Nuntius. Jangan dilewatkan kesempatan emas ini. Rencananya malam mau tidur yang enak karena hari sebelumnya aku hanya tidur sebentar setelah acara peluncuran Buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung di Graha Wangsa. Tapi tidak bisa. Lakon wayang disetel luar biasa memekakkan. Tidak mungkin tidur. Maka bertiga ngobrol segala hal. Terpejam beberapa menit, sudah tidak bisa tidur lagi. Merem tapi tidak tidur. Jam 5.30 pagi meloncat dari tempat tidur, mandi, berbaring lagi, sarapan, siap-siap ke Gereja, tugas motret manten, dan pulang nebeng rombongan Tanjungkarang pukul 12-an. Tiba di rumah lebih dari jam 3 sore terkapar hingga malam. Menemani Albert belajar setengah terpejam dan kembali tidur. Sampai tidak tahu kalau mas Hendro tidak ada di rumah, latihan koor. Kok tidak terasa ya kalau suami tidak ada. Pagi-pagi tadi bangun dengan malas dan kembali beraktifitas biasa.)
Reni dan Kasdi mempersiapkan pernikahan tanpa aturan-aturan Jawa seperti itu. Ada janur melengkung tapi tidak ada lagi tradisi-tradisi budaya yang dianut. Mereka mengerjakan sendiri banyak hal. Menjadi orang paling repot, masih keluar masuk dapur membuat ini itu, bahkan pada malam widodaren Reni menyeterika baju sendiri. Dan mereka berdua bersama sepanjang hari.
Pada hari H, aku melihat menjadi hari yang paling melelahkan bagi mereka. Aku yakin mereka tidak tidur pulas beberapa hari terakhir. Gimana bisa tidur wong sepanjang malam orang-orang 'tirakatan' semalam suntuk. Tirakatan masa dulu adalah hening, menghela keluar setiap halangan yang mungkin muncul. Mendoakan calon pengantin supaya 'kalis ing sambikala'. Lepas dari segala marabahaya. Tapi tirakatan yang dilakukan masa kini, adalah kartu, makanan kecil, guyonan dengan tape yang disetel sangat kenceng mengudarakan kisah wayang. Tidak ada keheningan sama sekali.
Hari H, Reni dan Kasdi berada di Gereja dengan kemantapan niat untuk bersatu. Khusyuk dalam doa, gemetar saat mengucap kaul dan menangis di pangkuan saat sungkem orang tua. Aku terpana melihat mereka berdua. Salut! Resepsi pernikahan juga tidak lagi menyisakan adat Jawa dengan temu manten, suap-suapan, kembar mayang, kacar-kucur dan sebagainya. Hanya pelaminan dan panggung orgen tunggal yang berisik sepanjang acara. Seperti pernikahan-pernikahan lain di Lampung. Budaya yang sudah bergeser.
Selamat menjalani babak selanjutnya dari cinta kalian, Reni dan Kasdi. Aku ikut dalam doa dan sukacita kalian.
(Hari Kamis aku, Sisil dan Putri berangkat dari Rajabasa. Sebelumnya makan mie goreng instan dulu di terminal karena sangat lapar. Tidak sempat makan di rumah. Buru-buru. Karena dua gadis ini belum tiba di tempat janjian, aku pesan mie plus telur. Eh, Sisil datang bilang belum makan juga. Belum selesai mie dibuat, Putri datang. "Aku kenyang." Maka berdua makan dulu, lalu cepat-cepat mencari bis menuju Baradatu. Sudah menjelang jam 2. Katanya bis kesana terakhir jam 2. Peron menagih 500-an per orang. Dan, syukurlah bis Darmaduta masih akan berangkat 10 menit lagi. Tiket 33 ribu per orang. Cukup nyaman. Tapi setelah berjalan, ketahuan kalau AC nya sama sekali tidak dingin. Menjelang Kotabumi, hujan deras mengguyur. Tidak berhenti pula sampai tiba di Baradatu sekitar pukul 6 sore. Sudah mulai gelap. Naik ojek ke "Pak Warindi, Solo I." Tiga ojek 15.000 semuanya. Rupanya keluarga pengantin laki-laki juga datang sore itu. Kami makan malam lezat khas Jawa : sambel goreng kentang, mie goreng, ayam bumbu entah apa, kerupuk, ehmmm...lezat! Setelahnya ada ibadat. Tidak pake mandi ikut bergabung bersama umat dalam doa. Kok ketemu seorang tokoh umat. Wawancara dong untuk Nuntius. Jangan dilewatkan kesempatan emas ini. Rencananya malam mau tidur yang enak karena hari sebelumnya aku hanya tidur sebentar setelah acara peluncuran Buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung di Graha Wangsa. Tapi tidak bisa. Lakon wayang disetel luar biasa memekakkan. Tidak mungkin tidur. Maka bertiga ngobrol segala hal. Terpejam beberapa menit, sudah tidak bisa tidur lagi. Merem tapi tidak tidur. Jam 5.30 pagi meloncat dari tempat tidur, mandi, berbaring lagi, sarapan, siap-siap ke Gereja, tugas motret manten, dan pulang nebeng rombongan Tanjungkarang pukul 12-an. Tiba di rumah lebih dari jam 3 sore terkapar hingga malam. Menemani Albert belajar setengah terpejam dan kembali tidur. Sampai tidak tahu kalau mas Hendro tidak ada di rumah, latihan koor. Kok tidak terasa ya kalau suami tidak ada. Pagi-pagi tadi bangun dengan malas dan kembali beraktifitas biasa.)
Thursday, August 21, 2008
Jika Yang Tertinggal Adalah Tanggungjawab
Semangatku nyaris lenyap jika berhadapan muka dengan Nuntius. Lamat-lamat tertutup kabut. Banyak hal yang membuatku muak. Tiga tahun lebih aku terbenam dalam Nuntius. Tidak hanya luar, tapi seluruh hati dan pikiran dan hidupku. Prioritas di luar rumahku adalah untuk Nuntius. Apa yang dilakukan Nuntius padaku? Menampar hatiku senantiasa dengan sakit hati. Tidak ada senyuman penyejuk yang bisa mengembalikan luka itu. Hanya luka yang ditanamkannya. Manusia tetap begitulah aku. Bukan robot kebal segala duka. Terlebih ini manusia ringkih yang tidak akan selamanya ada. Tidak bisakah pelukan, senyuman bahkan pandangan mata sedikit saja?
Semangatku nyaris lenyap. Yang tertinggal adalah tanggungjawab. Membuatku masih bisa hidup merangkul Nuntius senantiasa. Tapi senda gurauku bukan padanya. Yang tertinggal adalah tanggungjawab. Sedang hatiku pada lembaran-lembaran calon cerita-cerita yang sekarang sudah mulai membunting dalam pikiranku, minta dilahirkan. Di sanalah senda gurauku. Saat kelahiran-kelahiran terjadi...
Semangatku nyaris lenyap. Yang tertinggal adalah tanggungjawab. Membuatku masih bisa hidup merangkul Nuntius senantiasa. Tapi senda gurauku bukan padanya. Yang tertinggal adalah tanggungjawab. Sedang hatiku pada lembaran-lembaran calon cerita-cerita yang sekarang sudah mulai membunting dalam pikiranku, minta dilahirkan. Di sanalah senda gurauku. Saat kelahiran-kelahiran terjadi...
Tuesday, August 19, 2008
Selimut Beku
Suhu -16 derajat celcius menerkamku di bawah sini. Tidak, aku tidak ada di Eropa atau negara lain yang mengalami suhu-suhu itu pada musim-musim tertentu. Aku ada di Lampung. Tapi beku. Kedinginan yang menyelimutiku ini mengejarku terus dengan taringnya yang tajam. Membekaskan ujung-ujungnya di wajah dan telapak tanganku. Kakiku merapat bersilang dalam duduk yang mantap. Tapi hatiku berpaling ke segala arah. Ingin membuang kemana selimut ini bisa aku lempar.
Sunday, August 17, 2008
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Aku berjarak jutaan kilometer dari teriakan ini.
Berdarah dan berairmata.
Bersama jutaan orang Indonesia lain.
Dalam penjara.
Aku berjarak jutaan kilometer dari teriakan ini.
Berdarah dan berairmata.
Bersama jutaan orang Indonesia lain.
Dalam penjara.
Friday, August 15, 2008
Tidak Rela
Waktu Bernard pertama kali masuk sekolah TK kecil di TK Fransiskus I Pasirgintung, tidak sekalipun tubuhnya lepas dariku. Tangannya menggenggam kuat tanganku. Ketika duduk, digeretnya aku dekat kursinya. Bahkan kemudian minta dipangku sepanjang hari itu. Tidak ada suara satupun yang diperdengarkan untuk menjawab Bu Dewi, gurunya. Satu-satunya keasyikan dia di hari pertama itu adalah kesempatan untuk bermain 'susun-susunan' yang sangat banyak berwarna-warni yang disediakan oleh Bu Dewi di setiap meja para muridnya. Berbagai bentuk yang membuat Bernard ngiler 'andai boleh dibawa pulang'. Kemudian dia lepas dari genggaman tanganku ketika berbaris pulang menuju gerbang.
Hari kedua dia sudah mau maju ke depan kelas dan menyebut lirih,"Nama saya Bernard." Dan kemudian Bu Dewi minta seluruh teman satu kelas yang berjumlah 22 anak bersama-sama koor menyapa,"Hallo, Bernard!!!" Dan dia duduk kembali dengan malu-malu. Hari ketiga dia pulang dengan gembira. Hari keempat dia ngompol saat mau pulang, dan hari kelima dia mogok tidak mau berangkat ke sekolah. Hari keenam dia mengatakan asyik karena besok mau libur. Hari ketujuh dan seterusnya selalu ada komentar bahwa enak sekolah karena ada hal-hal baru yang dia dapatkan. Sekarang dia sudah hampir hafal nama seluruh teman satu kelasnya, dapat lagu baru lebih dari lima buah, tahu tepuk gajah, tepuk unyil hingga tepuk si komo. Dan aku tidak boleh mengantarkannya masuk gerbang sekolah. Astaga...sebentar lagi bahkan aku menjadi 'bukan apa-apa' dan 'tidak harus ada' untuk hal-hal tertentu. Anakku keduaku sudah mulai besar dan seperti kakaknya, dia akan punya dunia-dunia sendiri yang asyik, dunia dimana aku tidak akan pernah bisa masuk.
Hari kedua dia sudah mau maju ke depan kelas dan menyebut lirih,"Nama saya Bernard." Dan kemudian Bu Dewi minta seluruh teman satu kelas yang berjumlah 22 anak bersama-sama koor menyapa,"Hallo, Bernard!!!" Dan dia duduk kembali dengan malu-malu. Hari ketiga dia pulang dengan gembira. Hari keempat dia ngompol saat mau pulang, dan hari kelima dia mogok tidak mau berangkat ke sekolah. Hari keenam dia mengatakan asyik karena besok mau libur. Hari ketujuh dan seterusnya selalu ada komentar bahwa enak sekolah karena ada hal-hal baru yang dia dapatkan. Sekarang dia sudah hampir hafal nama seluruh teman satu kelasnya, dapat lagu baru lebih dari lima buah, tahu tepuk gajah, tepuk unyil hingga tepuk si komo. Dan aku tidak boleh mengantarkannya masuk gerbang sekolah. Astaga...sebentar lagi bahkan aku menjadi 'bukan apa-apa' dan 'tidak harus ada' untuk hal-hal tertentu. Anakku keduaku sudah mulai besar dan seperti kakaknya, dia akan punya dunia-dunia sendiri yang asyik, dunia dimana aku tidak akan pernah bisa masuk.
Wednesday, August 13, 2008
Mulyadi Prabangkara
Aku baru tahu kalau rupanya cerpenku Tidak Pernah Selesai sudah dimuat oleh Sinar Harapan, Juni lalu. Ceritanya, saat aku nulis cerpen itu, akudidominasi rasa rindu pada Mulyadi Prabangkara, seorang pelukis yang terakhir aku tahu dia tinggal di sekitar Pasar Minggu. Alamat lengkap sudah lupa walau aku pernah beberapa hari tinggal di sana. Tentu saja Prabangkara yang aku tulis untuk cerpenku tidak mewakili sama sekali Mulyadi Prabangkara. Seluruh kisahnya juga bukan nyata. Semata khayalan saja. Tapi memang sosok yang aku angkat di sana ada kemiripan.
Tentu saja aku rindu pada Mulyadi Prabangkara. Dia guru lukisku ketika aku SMP di SMPK Don Bosco, Gringging Kediri Jawa Timur sekitar tahun 1986 - 1989. Pak Mul, aku menyebutnya demikian, mendampingiku dalam berbagai lomba yang saat itu selalu aku ikuti khususnya Porseni dan 17-an. Hingga tingkat propinsi, aku ditemani hingga Surabaya. Beberapa kali juara, biasanya Pak Mul akan tersenyum memberi dorongan padaku. Pernah juga kecewa berat pada juri ketika aku hanya memenangkan juara II, tingkat kabupaten. Pak Mul protes kepada para juri minta ditunjukkan hasil karya para juara untuk dibandingkan. Menurutnya gambarku lebih bagus. Terlebih saat itu Pak Mul sudah mempelajari hasil ketika ikut lomba hingga tingkat propinsi bahwa ruang yang lebar dalam sudut pandang lukisan sangat dipertimbangkan sebagai lukisan yang sempurna. Dulunya, aku selalu melukis hanya sudut-sudut kecil, yang dirasa unik. Hanya sudut-sudut tertentu. Nah, untuk pertamakalinya dalam lomba itulah aku bekerja sangat keras membuat landscape yang lebar untuk dituangkan dalam kertas. Kerja yang sangat berat rupanya hanya dapat juara II. Dan juga dipenuhi orang-orang yang bergerak di dalam lukisan itu. Dan hanya dapat juara II!!! Duhai, Pak Mul-ku sayang sangat kecewa. Lebih kecewa daripada aku, aku kira. Walau sepanjang jalan aku diboncengnya dengan motor pelan-pelan dengan hiburan yang lembut manis. Bahwa aku harus semangat. Maju terus. Sepertinya hiburan itu juga diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
Berbagai teknik melukis memakai cat air aku pelajari darinya. Dan sedikit teknik melukis cat minyak di atas kanvas. Padahal Pak Mul ini spesialis cat minyak dengan obyek wajah orang. Hanya sekilas aku pelajari tentang ini. Aku berharap bisa nyambung lagi untuk belajar lanjutan. Tapi setelah tahun 1996-an aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Hingga kini tidak lagi bertemu. Beberapa kali nitip pesan lewat saudara-saudara, juga tidak ada yang tahu informasi yang jelas tentang Pak Mul. Dimana dia?
Saat ini aku tidak pernah melukis lagi. Tapi aku berharap suatu ketika aku akan dapat kesempatan untuk melukis lagi. Lebih baik jika bersama dengan Mulyadi Prabangkara. Guru lukis satu-satunya selain ibu dan bapakku. Dimana dia?
Tentu saja aku rindu pada Mulyadi Prabangkara. Dia guru lukisku ketika aku SMP di SMPK Don Bosco, Gringging Kediri Jawa Timur sekitar tahun 1986 - 1989. Pak Mul, aku menyebutnya demikian, mendampingiku dalam berbagai lomba yang saat itu selalu aku ikuti khususnya Porseni dan 17-an. Hingga tingkat propinsi, aku ditemani hingga Surabaya. Beberapa kali juara, biasanya Pak Mul akan tersenyum memberi dorongan padaku. Pernah juga kecewa berat pada juri ketika aku hanya memenangkan juara II, tingkat kabupaten. Pak Mul protes kepada para juri minta ditunjukkan hasil karya para juara untuk dibandingkan. Menurutnya gambarku lebih bagus. Terlebih saat itu Pak Mul sudah mempelajari hasil ketika ikut lomba hingga tingkat propinsi bahwa ruang yang lebar dalam sudut pandang lukisan sangat dipertimbangkan sebagai lukisan yang sempurna. Dulunya, aku selalu melukis hanya sudut-sudut kecil, yang dirasa unik. Hanya sudut-sudut tertentu. Nah, untuk pertamakalinya dalam lomba itulah aku bekerja sangat keras membuat landscape yang lebar untuk dituangkan dalam kertas. Kerja yang sangat berat rupanya hanya dapat juara II. Dan juga dipenuhi orang-orang yang bergerak di dalam lukisan itu. Dan hanya dapat juara II!!! Duhai, Pak Mul-ku sayang sangat kecewa. Lebih kecewa daripada aku, aku kira. Walau sepanjang jalan aku diboncengnya dengan motor pelan-pelan dengan hiburan yang lembut manis. Bahwa aku harus semangat. Maju terus. Sepertinya hiburan itu juga diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
Berbagai teknik melukis memakai cat air aku pelajari darinya. Dan sedikit teknik melukis cat minyak di atas kanvas. Padahal Pak Mul ini spesialis cat minyak dengan obyek wajah orang. Hanya sekilas aku pelajari tentang ini. Aku berharap bisa nyambung lagi untuk belajar lanjutan. Tapi setelah tahun 1996-an aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Hingga kini tidak lagi bertemu. Beberapa kali nitip pesan lewat saudara-saudara, juga tidak ada yang tahu informasi yang jelas tentang Pak Mul. Dimana dia?
Saat ini aku tidak pernah melukis lagi. Tapi aku berharap suatu ketika aku akan dapat kesempatan untuk melukis lagi. Lebih baik jika bersama dengan Mulyadi Prabangkara. Guru lukis satu-satunya selain ibu dan bapakku. Dimana dia?
Anyaman yang Terburai
Anyaman yang Terburai. Adalah judul cerpen mini yang aku kirim untuk lomba cerpen mini Dewan Kesenian Lampung (DKL) tahun ini. Hari ini diumumkan lewat media kalau cerpen ini masuk salah satu dalam nominasi 16 besar. Pas sesuai target, sedikit kecewa. Selebihnya tidak merasakan apa-apa kecuali ingin memulai lagi sebuah cerpen untuk lomba-lomba lain atau media-media lain.
Anyaman yang Terburai. Menceritakan seorang pengangkut gerobak sekitar pasa Pasirgintung Bandarlampung. Miskin, susah, masih ditambah susah ketika pemerintah kota Bandarlampung memasang pagar pembatas/pemisah jalan di sekitar pusat perkotaan itu. Gimana mau membawa gerobak melewati jembatan penyeberang? Dan melintas jauh rutenya dengan bahan bakar nasi plus lauk bakwan. Penuh utang. Usus pun terburai-burai...begitulah.
Anyaman yang Terburai. Andai tata kota memperhatikan orang yang paling lemah, tentu Bandarlampung tak akan sekumuh sekarang ini. Andai...
Dua cerpen lain yang aku kirim tidak ada kabarnya. Aku akan merevisinya untuk kepentingan lain. Salut tak terhingga pada Yessy yang ketiga cerpennya masuk. Hebat!!
Anyaman yang Terburai. Menceritakan seorang pengangkut gerobak sekitar pasa Pasirgintung Bandarlampung. Miskin, susah, masih ditambah susah ketika pemerintah kota Bandarlampung memasang pagar pembatas/pemisah jalan di sekitar pusat perkotaan itu. Gimana mau membawa gerobak melewati jembatan penyeberang? Dan melintas jauh rutenya dengan bahan bakar nasi plus lauk bakwan. Penuh utang. Usus pun terburai-burai...begitulah.
Anyaman yang Terburai. Andai tata kota memperhatikan orang yang paling lemah, tentu Bandarlampung tak akan sekumuh sekarang ini. Andai...
Dua cerpen lain yang aku kirim tidak ada kabarnya. Aku akan merevisinya untuk kepentingan lain. Salut tak terhingga pada Yessy yang ketiga cerpennya masuk. Hebat!!
Monday, August 11, 2008
Kisah Tak Lengkap
Nagagini adalah naga perempuan. Yang marah murka pada Anglingdarma karena panah sang raja Malawapati itu menebas kepala Ulo Tampar, kekasihnya. Tepat pada saat mereka sedang bersenggama. Sungguh kesedihan yang memuntahkan api, air mata dan darah pada hatinya. Luka dibawanya pada Nagaraja, suaminya. Mengaduh mengadu domba. Sehingga api menyembur dari hati sang begawan naga. Lihatlah, apakah Malawapati bisa terbakar karena emosi seperti ini? Yang ada adalah Aji Gineng yang beralih tempat. Jadi anugerah bagi hati suci Anglingdarma, cucu raja besar, Raja Jayabaya dari Pamenang. Aji Gineng menjadi rahmat bagi sang satriya.
Di kemudian hari pun anugrah besar ini disesali. Dari rahmat inilah petaka terkobarkan. Setyowati, sang permaisuri, mati dalam upacara bakar dan Anglingdarma dipenjara dalam pengembaraan panjang dalam segala rupa. Penjara merdeka yang jadi pembelajaran. Bagi semua.
Di kemudian hari pun anugrah besar ini disesali. Dari rahmat inilah petaka terkobarkan. Setyowati, sang permaisuri, mati dalam upacara bakar dan Anglingdarma dipenjara dalam pengembaraan panjang dalam segala rupa. Penjara merdeka yang jadi pembelajaran. Bagi semua.
Tuesday, July 29, 2008
Bandung
Setelah terakhir bersua dengan Bandung pada tahun 2000 (saat itu Bandung banjir air mata dan darah), kesempatan menemui Bandung lagi pada 23 - 24 kemarin menjadikan Bandung banjir kenangan.
Aku nyaris tidak mengenali sosoknya. Gemuk, berkeringat dan tidak bisa diam. Di beberapa tempat adalah daki kotoran yang menumpuk. Tidak aku temukan Bandung tenang, dingin dan mesra seperti dulu. Perkembangannya di luar dugaanku. Akar-akar 'komersialisme' tepat berada di jantungnya, lalu menyebar mencengkeram seluruh denyut pada sel-sel pertumbuhannya. Memberikan tawaran senyum palsu yang kecentilan.
Beberapa sudut menjadi penghiburan. Baros - Pasir Koja adalah setetes kesejukan dengan deret pinus yang menjulang ragu, tersamar polusi di sekitarnya. Dago dengan cengiran aneh lewat pintu-pintu rumah puan bangsawan membuatku terkapar sebal. Tidak ada keanggunan. Pun akasia atau entah apa namanya, merebut beberapa ruang sehingga berjalan di hiruk pikuk itu meremangkan sedikit gelenyar di kulitku yang sedang rawan. Braga nyaris tak tersisa. Tidak ada lagi tembang yang keluar dari sana, yang dulu pernah mengalun dalam desah lewat belakang telingaku.
Pamitan dengannya pada malam kedua, tidak bisa tidak membuatku pasrah dalam pelukan kaku yang diberikannya. Nyaris bukan pelukan, tapi cengkeraman aneh antara menahan atau mengusir. Aku pamit, tapi aku akan tetap mengingatnya.
Aku nyaris tidak mengenali sosoknya. Gemuk, berkeringat dan tidak bisa diam. Di beberapa tempat adalah daki kotoran yang menumpuk. Tidak aku temukan Bandung tenang, dingin dan mesra seperti dulu. Perkembangannya di luar dugaanku. Akar-akar 'komersialisme' tepat berada di jantungnya, lalu menyebar mencengkeram seluruh denyut pada sel-sel pertumbuhannya. Memberikan tawaran senyum palsu yang kecentilan.
Beberapa sudut menjadi penghiburan. Baros - Pasir Koja adalah setetes kesejukan dengan deret pinus yang menjulang ragu, tersamar polusi di sekitarnya. Dago dengan cengiran aneh lewat pintu-pintu rumah puan bangsawan membuatku terkapar sebal. Tidak ada keanggunan. Pun akasia atau entah apa namanya, merebut beberapa ruang sehingga berjalan di hiruk pikuk itu meremangkan sedikit gelenyar di kulitku yang sedang rawan. Braga nyaris tak tersisa. Tidak ada lagi tembang yang keluar dari sana, yang dulu pernah mengalun dalam desah lewat belakang telingaku.
Pamitan dengannya pada malam kedua, tidak bisa tidak membuatku pasrah dalam pelukan kaku yang diberikannya. Nyaris bukan pelukan, tapi cengkeraman aneh antara menahan atau mengusir. Aku pamit, tapi aku akan tetap mengingatnya.
Monday, July 28, 2008
Dua Jam
Waktu terhenti ketika aku duduk di samping agak depan darimu. Mendengarkan kisah mayapada dari celah bibirmu. Tentu aku tak berani menciummu. Bahkan tidak ingin. Suaramu saja sudah cukup menahan supaya aku tidak dekat dengan tubuhmu. Cukup di kursiku saja. Dan kau di kursimu. Tubuh mengayun condong dengan telinga yang lebar supaya kisah-kisah itu sampai pada otakku yang kian rapuh jika berdekatan denganmu. Pelan-pelan plot tersusun, karakter-karakter seperti bayangan mulai mewujud. Menguat jadi romansa, bahkan konflik. Lalu sosokmu berubah menjadi dalang yang memainkan semuanya. Semua berada di dalam kendali dua tanganmu. Seolah-olah!
Aku bergumam, mengingatkan ada hal lain. Di luar jangkauan dua tangan manusia. Tapi pasti telinga rentamu tidak mendengarkan selain suara-suaramu sendiri. Yang mengalun dengan nada-nada gregorian. Lalu sebuah senyum kemenangan menutup perbincangan. Tahu bahwa aku terkapar oleh semua kisah. Tahu bahwa aku sudah lemas oleh berondongan seluruh cerita.
Aku buru-buru tersenyum pula. Tak kuasa memberi satu tanggapan pun. Semua ceritaku untuk diriku sendiri. Aku tahan untuk lain hari. Menyebalkan.
Lalu buru-buru aku berdiri, pamit dan mencium cincin tebal di tangan kanannya.
Aku bergumam, mengingatkan ada hal lain. Di luar jangkauan dua tangan manusia. Tapi pasti telinga rentamu tidak mendengarkan selain suara-suaramu sendiri. Yang mengalun dengan nada-nada gregorian. Lalu sebuah senyum kemenangan menutup perbincangan. Tahu bahwa aku terkapar oleh semua kisah. Tahu bahwa aku sudah lemas oleh berondongan seluruh cerita.
Aku buru-buru tersenyum pula. Tak kuasa memberi satu tanggapan pun. Semua ceritaku untuk diriku sendiri. Aku tahan untuk lain hari. Menyebalkan.
Lalu buru-buru aku berdiri, pamit dan mencium cincin tebal di tangan kanannya.
Friday, July 11, 2008
Per-HATI-an
Perhatian, per - HATI - an, menjadi bermakna ketika HATI ada di antaranya. Betapa satu sentuhan HATI menjadi setetes embun. Bagaimana dengan banyak HATI? Yang bernyanyi, berjejer, dengan satu gitar, satu lilin, satu bolu coklat, satu bingkisan, satu jabat tangan, satu ucapan : Selamat Ulang Tahun, Mbak! ...
Berjuta embun mengalir sejuk di seluruh raga dan jiwa. Basah seluruhnya membalur, menguapkan kegersangan. Menjadi makan pagi, siang dan malam sekaligus.
Aku menangis mendekap semuanya dengan dua tanganku. Memaksanya tetap di sana dengan gembira. Walaupun mungkin nanti waktu akan bergulir, membuatku semakin tua. Tentu saja aku ingin jadi orang yang tua dengan banyak sahabat muda. Bersama mereka dalam satu tempat yang selalu sukacita.
Dengan begitu aku akan tetap diingatkan bahwa aku masih boleh bermimpi, aku masih boleh punya cita-cita, aku masih boleh liar, aku masih boleh tidak kelihatan tua, aku masih boleh belajar, aku masih boleh apa saja...
Terimakasih ...
Berjuta embun mengalir sejuk di seluruh raga dan jiwa. Basah seluruhnya membalur, menguapkan kegersangan. Menjadi makan pagi, siang dan malam sekaligus.
Aku menangis mendekap semuanya dengan dua tanganku. Memaksanya tetap di sana dengan gembira. Walaupun mungkin nanti waktu akan bergulir, membuatku semakin tua. Tentu saja aku ingin jadi orang yang tua dengan banyak sahabat muda. Bersama mereka dalam satu tempat yang selalu sukacita.
Dengan begitu aku akan tetap diingatkan bahwa aku masih boleh bermimpi, aku masih boleh punya cita-cita, aku masih boleh liar, aku masih boleh tidak kelihatan tua, aku masih boleh belajar, aku masih boleh apa saja...
Terimakasih ...
Wednesday, June 25, 2008
Menjilat Awan
Kemarin aku menjilat awan yang kebetulan lewat persis di depan hidungku. Kaki-kakinya pongah melayang tanpa sayap. Sengaja dia berjalan pelan-pelan supaya aku menggodanya. Kerlingannya tetap di sudut mata, bahkan ketika tubuhnya berputar. Tentu saja aku tergoda! Bagaimana tidak? Seluruh tubuhnya adalah tranparan selendang uap air yang gembung bergairah. Dia meliuk-liuk dengan tarian eksotis ke seluruh penjuru raga. Menciptakan bentuk-bentuk cantik dengan tarikan-tarikan gerak tanpa sudut. Sekali waktu dia akan lari menjauh, mengikut angin yang sudah menjadi kekasihnya dari awal mula. Sekali waktu dia mendekat dengan langkah-langkah centil. Kadang dia akan terbang sangat tinggi tidak terlihat ujung mata, tapi kemudian dia akan menghujam ke arahku. Tepat di ubun-ubun, sehingga pecah berantakan bentuknya. Lalu tawa terkekeh-kekeh renyah dari segala penjuru hingga kemudian dia mengumpul kembali dalam bentuk yang paling anggun. Dekat di depan dadaku, siap untuk dipeluk. Seribu tangannya akan menggelitik seluruh inderaku, dengan nafsu. Hingga mau tidak mau, lidahku terjulur. Menjilatnya...
Tuesday, June 17, 2008
Penting 1
Rupanya tidak cukup juga pinjaman seluruh indera dan organ-organ yang ada dalam raga ini. Bahkan pengolahan otak juga tidak cukup. Perlu lingkaran kesadaran antara awal dan akhir, antara alpha dan omega, antara asal dan tujuan. Demikian, supaya benar-benar menjadi 'manusia' yang hidup, manusia yang tidak 'sekedar'.
Monday, June 16, 2008
Penting
Apa sih yang penting sekarang ini? Coba lihat. Aku punya sepasang tangan dan kaki, kepala, tubuh. Lengkap dengan organ-organ di dalamnya yang membuatku bisa ke sana-kemari, bernafas, melihat, mendengar, mencium, merasa. Juga ada otak yang membantuku mengolah semuanya. Apa lagi yang penting?
Friday, May 30, 2008
Penjara
Sejak akhir tahun 2000 hingga tahun 2006, aku punya jadwal tetap tiap hari Rabu. Yaitu bertandang ke LP Rajabasa. Setelah itu hingga kini aku datang kalau ada sesuatu yang khusus atau sedang 'nganggur'. Di antara kedatanganku kesana yang sangat jarang, aku masih terhubung senantiasa ke dalam penjara karena beberapa napi di sana selalu menghubungi aku lewat SMS atau telepon (mereka bisa lo pake HP dengan 'persahabatan' dengan pegawai LP).
Isi SMS atau obrolan telpon mulai dari tanya kabar, cerita siapa yang baru masuk atau baru keluar, kejadian-kejadian di LP, minta dikunjungi, minta dikirimi pulsa, sabun habis, hingga mendoakan supaya aku dapat berkah senantiasa. Sebagian dari napi itu sudah keluar dan salah satu yang baru saja keluar adalah Rikardus. 7 tahun 6 bulan lewat beberapa hari. Selama itu dia ada di penjara dan keluar kemarin Selasa, 27 Mei 2008. Menjelang kepulangannya dia telpon berkali-kali untuk mengucapkan terimakasih, mengabarkan sukacitanya dan rencana-rencananya. Kemarin aku bertemu dengannya. Wajahnya ceria, sehat dan penuh harapan. Dia nagih ditraktir seperti yang sudah aku janjikan waktu dia masih dalam penjara (aku sudah lupa kapan aku berjanji mentraktir dia).
Aku ingat Pius yang sudah keluar tahun 2005-an. Dia keluar dari LP dan datang ke tempatku dengan wajah penuh harapan dan rencana untuk kuliah lagi. Dia membantu beberapa kali sebagai notulis dalam acara pelatihan bagi buruh.
Setiyanto yang keluar tahun 2003 atau 2004 sekarang ini sudah di Malaysia bekerja di sana dan berkeluarga.
Juanto yang keluar masuk penjara beberapa kali karena nyopet di angkot, sekarang ini sudah damai di sisi Tuhan. Ia meninggal dalam perjalanan sebagai sales, bukan digebuki oleh massa seperti yang beberapa kali dia alami.
Beberapa nama lain tidak tahu lagi kabarnya begitu mereka keluar. Sebagian lain yang aku kenal masih ada dalam penjara. Sebagian besar tidak lagi aku kenal karena aku jarang mengunjungi tempat itu lagi.
Merekalah 'nabi-nabi' yang dengan cara unik mengajariku banyak hal.
Aku atau siapapun bahkan pastur, pendeta, ustad, tidak bisa mengendalikan hidup mereka. Mungkin saja mereka akan kembali ke dalam penjara lagi seperti yang dialami oleh beberapa orang. Jatuh pada kubangan yang sama. Tapi aku berharap mereka belajar banyak dari pengalaman mereka itu seperti aku yang banyak belajar dari pengalaman perjumpaan dengan mereka. Aku tidak bisa mengatakan mereka penjahat karena mereka ternyata sangat baik bagiku. Dan walaupun mereka tidak baik padaku atau orang lain aku pun tidak bisa bilang mereka penjahat. Apalagi ketika aku tahu latar belakang mereka, alasan mereka, kehidupan mereka, situasi mereka, ...mereka.
Isi SMS atau obrolan telpon mulai dari tanya kabar, cerita siapa yang baru masuk atau baru keluar, kejadian-kejadian di LP, minta dikunjungi, minta dikirimi pulsa, sabun habis, hingga mendoakan supaya aku dapat berkah senantiasa. Sebagian dari napi itu sudah keluar dan salah satu yang baru saja keluar adalah Rikardus. 7 tahun 6 bulan lewat beberapa hari. Selama itu dia ada di penjara dan keluar kemarin Selasa, 27 Mei 2008. Menjelang kepulangannya dia telpon berkali-kali untuk mengucapkan terimakasih, mengabarkan sukacitanya dan rencana-rencananya. Kemarin aku bertemu dengannya. Wajahnya ceria, sehat dan penuh harapan. Dia nagih ditraktir seperti yang sudah aku janjikan waktu dia masih dalam penjara (aku sudah lupa kapan aku berjanji mentraktir dia).
Aku ingat Pius yang sudah keluar tahun 2005-an. Dia keluar dari LP dan datang ke tempatku dengan wajah penuh harapan dan rencana untuk kuliah lagi. Dia membantu beberapa kali sebagai notulis dalam acara pelatihan bagi buruh.
Setiyanto yang keluar tahun 2003 atau 2004 sekarang ini sudah di Malaysia bekerja di sana dan berkeluarga.
Juanto yang keluar masuk penjara beberapa kali karena nyopet di angkot, sekarang ini sudah damai di sisi Tuhan. Ia meninggal dalam perjalanan sebagai sales, bukan digebuki oleh massa seperti yang beberapa kali dia alami.
Beberapa nama lain tidak tahu lagi kabarnya begitu mereka keluar. Sebagian lain yang aku kenal masih ada dalam penjara. Sebagian besar tidak lagi aku kenal karena aku jarang mengunjungi tempat itu lagi.
Merekalah 'nabi-nabi' yang dengan cara unik mengajariku banyak hal.
Aku atau siapapun bahkan pastur, pendeta, ustad, tidak bisa mengendalikan hidup mereka. Mungkin saja mereka akan kembali ke dalam penjara lagi seperti yang dialami oleh beberapa orang. Jatuh pada kubangan yang sama. Tapi aku berharap mereka belajar banyak dari pengalaman mereka itu seperti aku yang banyak belajar dari pengalaman perjumpaan dengan mereka. Aku tidak bisa mengatakan mereka penjahat karena mereka ternyata sangat baik bagiku. Dan walaupun mereka tidak baik padaku atau orang lain aku pun tidak bisa bilang mereka penjahat. Apalagi ketika aku tahu latar belakang mereka, alasan mereka, kehidupan mereka, situasi mereka, ...mereka.
Monday, May 26, 2008
Kena!!!
hanya duduk di sini pun aku kena cahayaMu
membersit kuat lewat celah daun yang saling bertaut
aku tidak bisa sembunyi dari biasMu
mau apa kini selain menatap tiang pancang
yang sudah terpasang untukku
jika memang ini jalan menuju Kalvari
sungguh terasa berat dan perih
sedang semuanya belum pasti
kecuali keraguan bimbang tanpa topangan
aku tempeleng pipi kiriku beberapa kali
ingat pada tempeleng yang sama dari tertahbis
tapi tidak ada Roh yang sama
aku mesti tetap berjalan
berharap ini peta yang benar
aku tetap berjalan
membersit kuat lewat celah daun yang saling bertaut
aku tidak bisa sembunyi dari biasMu
mau apa kini selain menatap tiang pancang
yang sudah terpasang untukku
jika memang ini jalan menuju Kalvari
sungguh terasa berat dan perih
sedang semuanya belum pasti
kecuali keraguan bimbang tanpa topangan
aku tempeleng pipi kiriku beberapa kali
ingat pada tempeleng yang sama dari tertahbis
tapi tidak ada Roh yang sama
aku mesti tetap berjalan
berharap ini peta yang benar
aku tetap berjalan
Cerpen
Satu cerpenku dimuat femina edisi minggu ini. Aku hanya ingin mengabarkan pada semua orang tapi aku juga tidak tahu harus mengatakan apa. Satu sisi ini menyenangkan, sisi lain tidak puas. Entahlah.
Subscribe to:
Posts (Atom)