Monday, February 04, 2008

Persimpangan

Ada sebuah persimpangan yang selalu aku datangi
menjadi ritual pada malam yang terpejam matanya
biasanya aku berangkat dari rumah dengan rambut basah
bunga tujuh rupa dalam pincuk daun pisang
dupa tujuh wangi yang sudah dibakar
kaki tak berkasut dan berkain parang barong

Aku akan berdiri di tengah persimpangan
hangat oleh pusaran alur berbagai cabang
angin menjadi asmaradana masuk ke cerung telinga
harum bunga dan dupa akan memutar aku menjadi gasing
hingga terangkat dari tanah penuh gairah

Seketika itu tangan-tangan jalan menarikku
ke lorongnya masing-masing berbeda rupa
memberikan tawaran madu dan cerutu
memeluk merayu memaksa memerkosa
membetot seluruh urat otot nadiku

Kekuatan adalah saat aku menyodorkan nampan
menampung semua
dan ketika malam membuka mata
matahari akan menjerang
jadi kristal-kristal bening kering berserat

(Suatu ketika,
saat dingin mengejan dan malam tak juga hendak tidur
aku dapat merebus air dengan beberapa butir kristal
meminumnya, untuk obat sakit
bagi perut yang biasanya mulas
jika rindu dendam
pada persimpangan)

Wednesday, January 30, 2008

Ajaib

Banyak hal yang tidak mungkin, tapi telah dan bisa terjadi.
Satu keajaiban ketika suatu hari aku menemukan kembali kotak hartaku yang telah tercecer tanpa aku tahu. Kutemukan kembali juga tanpa aku tahu. Didalamnya ada satu gulungan, dengan tinta hitam.

........

KAMU

setiap ingat wajahmu
tergoda aku mengajakmu
selewengkan jalan yang
telah kautekuni selalu
pilihanmu sulit dipahami
oleh orang-orang
cemburu macam aku
sedang cinta bagimu
bukan sekedar asap
pria dan wanita
ibu dan anak
kakak dan adik
cinta bagimu adalah
puisi dan prosa
cinta bagimu adalah
saat hujan gerimis
ketika mentari bersinar

(1995)

..................

Gulungan itu aku tulis saat melihat sesuatu yang tidak mungkin tapi telah dan bisa terjadi. Menjadi ajaib ketika aku merengkuhnya, menganggapnya sebagai kekayaanku.
Ajaib!!

Yen Mangkel Wis Dadi Udun

Nek ana mangkel, terus dadi udun, apa ae sing diomongke jadi njendol. Ra kena dipenggak, ra kena dicekel. Yen dicekel malah njebrot, lara! Disawang ae uga tambah risih, tambah gedhe!
Kon tau ngrasakke? Dina iki aku sing udunen, loro. Neng utek karo neng ati. Dadi ra iso ngapa-ngapa. Luwih apik meneng ae. Soale apa ae sing metu saka cangkemku bakal salah. Kon ngerti akibate? Geger, jes! Luwih apik meneng ae. Lungguh manis, ambegan ben tetep urip, lan ndonga! Nunggu, mene, dina sing seje!

Monday, January 28, 2008

Soeharto, Presiden RI

Ada masa dimana senyum melingkupi seluruh negeri. Suara Jawa yang ditahan oleh simpul di lekuk bibir, mengungkap maksud dengan hati-hati pelan-pelan seolah penuh pertimbangan. Saat suara itu terdengar, yang ada adalah senyap. Listrik mati mendadak karena tidak ada seorangpun yang mau mendengar radio atau menonton TV. Seluruh saluran menggemakan suaranya. Nada yang sama dari satu masa ke masa.
Yang ada adalah kasak-kusuk di bawah tanah. Bergerombol-gerombol mencangkok akar hingga menggelembung. Yang berani menumbuhkan tunaskan ke atas tanah adalah sia-sia. Bom segala ukuran mengacungkan moncong segala arah.
Tapi Mei 96 semua berbalik arah. Jadi semburat warna. Sayang tidak menjadi lengkung pelangi. Hanya jadi petir dan guntur hingga kini.
Lalu kemarin ada jazad terkapar.
'Doakan jiwanya dan teruskan proses hukum yang diperlukan!"

Thursday, January 24, 2008

Rambu Lalulintas

Tadi ada anak sekolah yang tertabrak entah apa di depan Taman Makam Pahlawan. Aku terjebak dalam kemacetan luar biasa. Yang paling macet adalah otakku. Tercekat!!
Aku tersadar berada di sebuah kota hiruk pikuk yang tidak lagi mengenal rambu-rambu lalu lintas.
Huruf S dicoret dipenuhi kendaraan antre berhenti.
Huruf P dicoret berjam-jam ditongkrongi mobil tanpa pengemudinya.
Lampu kuning tidak laku.
Lampu merah, lihat-lihat. Jika tidak ada polisi berarti tidak apa-apa melintas.
Garis di persimpangan-persimpangan jalan tidak ada artinya.
Garis lurus atau putus-putus tidak terlihat apa-apa.
Pembatas jalan, maksimal berat kendaraan, dilarang lewat, dilarang berputar dll., freketekkk!!!
Beberapa tahun mendatang, rambu-rambu itu akan jadi benda langka tanpa arti. Dicabuti dan diangkut ke gudang markas polisi.
Ah, ya ini rupanya. Polisi-polisi memberikan SIM bukan dengan ujian mengemudi. Maka generasi ini tidak lagi paham bahwa rambu-rambu itu dibuat ada maksudnya. Maka terserah mau nyetir seperti apa asal bisa nunjukin SIM. Terserah mau nabrak nubruk asal bawa SIM. Jika tidak, mari buat perhitungan. Sepuluh ribu, duapuluh ribu, empatpuluh ribu, atau delapanpuluh ribu.

Tuesday, January 22, 2008

Pindang Patin

Tahu tidak makanan di Lampung yang paling enak tapi juga paling mudah dibuat? Namanya pindang patin. Ambil seekor ikan patin, ukuran apapun, yang masih segar. Yang masih bisa menggerakkan ekornya kalau ditaruh di ember air, artinya masih hidup.
Potong-potong, belah kepalanya. Jangan dibuang! Kepala merupakan bagian yang paling lezat jika sudah matang nanti. Bersihkan dan beri kucuran air jeruk nipis. Jika tidak ada, kucurin cuka. Sementara itu, beli bumbu dapur lengkap seribu, ambil segenggam terserah bawang putih dan merah, segenggam cabe merah, segenggam tomat rampai, sejimpit garam.
Masukkan ikan ke panci, atau wajan atau apa saja (pokoke bisa untuk ngerebus, lihat aja di dapur, jangan tanya aku!). Iris segala bumbu yang sudah ada, semuanya iris tipis-tipis. Jangan tanya lagi, pokoke semua bumbu di luar ikan. Carupkan irisan itu dan garam ke ikan, siram segelas air. Rebus sampai mendidih dan ikan matang. Kadang-kadang aku akan ambil ikannya, di taruh di mangkuk yang bagus (yang tidak bagus juga boleh). Saring air kuahnya. Buang segala ampas, dan siram kembali airnya yang sudah jernih ke ikan tadi. Sudah, siap disantap. Pakai nasi pulen yang hangat, makannya pas gerimis, di teras belakang. Jangan makan sendiri, ajak suami atau istri atau orang lain yang ada di rumah, biar tidak ditimpuk sandal.
Cobalah!
Ini salah satu makanan yang enak di Lampung. (Yang bisa aku masak.)
Ada yang bisa mbikinin resep seruit untuk aku?

Bayang-bayang Hitam

Beberapa hari ini aku dikejar bayang-bayang. Hitam, tidak tampak wajahnya. Hanya siluet tubuhnya yang terlihat bergoyang kesana kemari yang bergerak mengikutiku. Saat aku lari, bayang-bayang itu melesat mendekatiku. Aku pelan-pelan, diapun merangkak dekat di punggungku.
Kemarin pundakku kena goloknya! Bengkak, sakit, tak bisa menoleh ke kiri. Galurnya membuat sakit di kepala. Aku terengah di tempat tidurku, tak bisa bernafas. Tidur malah menghadirkan bayang-bayang itu lebih nyata. Dengan seringai taring dan parang panjang berdesing.
Pagi ini aku bangun dengan tertatih. Bekas kerokan di punggung mengakhiri sakit kepalaku. Tapi leherku harus dimanja. Aku sudah bertekat untuk bicara dengan bayang-bayang itu. Supaya dia tidak lagi menggangguku.
Maka aku duduk. Dia duduk di depanku, menunggu.
Aku jelaskan soal gangguannya pada hidupku.
Aku tunjukkan bekas luka-luka di sekujur tubuhku.
Dia mengangguk-angguk tapi goloknya disodokkan di wajahku.
Aku meringis ketika darah masuk ke mulutku asin.
"Apa maumu? Apa urusanmu?" Aku tuding wajahnya yang tanpa indera.
Dia mengangguk-angguk kembali. Membuat memelas dan memaksaku untuk merangkulnya.
Saat aku rangkul bayang-bayang hitam itu, melonjak hatiku karena kesejukan yang disalurkannya. Hilang seluruh lukaku. Maka aku tersenyum dan mendekapnya lebih erat. aku cium wajahnya dan hilang runtuh seluruh duka.
Saat ini aku belajar, untuk berdamai dengan seluruh bayang-bayang yang setiap saat selama aku hidup, mengikuti aku. Aku berdamai dan tidak mau ada luka lagi.

Wednesday, January 16, 2008

Bunting

Beberapa hari ini aku merangkak ke pantai
mengorek pasirnya dan menyusupkan seluruh tubuhku ke sana
perut besarku membunting besar
menekan seluruh sendi dan nadi
terasa kerinyut seluruh saraf menahannya
sakit!!!
lalu satu telur keluar
dua, sepuluh, lima puluh, seratus tigapuluh
tergunduk telur segala rupa segala rasa

pipih badanku melepas lara
lalu kering dan lelah

kembali aku menyeret tubuh ke pantai
ingin merasakan ombak laut ibuku
untuk yang terakhir
sebelum tidur...

Monday, January 07, 2008

Panggilan rindu

ada panggilan rindu kemarin malam
merasuk ke telingaku, yang sudah tertutup menempel bantal
bukan membuatnya tuli tapi malah bantal mengemakannya
beberapa kali
rindu yang menguat setiap kali menyentuh bantal
jadi dimana aku harus tidur?

Wednesday, January 02, 2008

Tahun Baru

Selamat Tahun Baru, teman-teman.
Aku ingat pada 1 Januari 2007, aku menetapkan satu tujuan konyol untuk tahun 2007. Hingga 31 Desember 2007 aku ingin mengisinya dengan 'cantik'. Intinya aku ingin cantik sepanjang tahun. Nah, apa yang terjadi?
Sepanjang tahun ini hampir tiap bulan aku pergi ke salon. Tidak sampai 10 kali creambath. 4 kali potong rambut. Belasan kali cuci rambut. Aku membeli baju 'centil', yang 'cewek banget' menurut ukuranku 3 kali. Dan memakai kaos mepet setiap kesempatan yang memungkinkan. Aku memakai sarung tangan supaya tidak hitam, dan membeli sepatu yang tertutup supaya kakiku mulus. Aku beli pengharum badan yang persis habis di akhir tahun. Lipstik tidak, aku tidak pernah biasa memakainya. Bahkan jika memakainya aku tidak cantik. Lebih baik tidak memakainya.
Aku sangat suka nonton film-film romantis segala umur, mulai film remaja hingga dewasa. Melihat film-film drama macam begitu membuatku punya imajinasi. Aku tidak mau marah-marah yang kelewatan karena marah membuatku tidak cantik. Yach, aku harus menekan emosi jika ada 'kenakalan' yang tidak aku suka.
Aku cantik jika aku tersenyum. Maka aku sering tersenyum, bahkan ketika sendiri, ketika di jalan, di mana saja. Aku tersenyum saat debat diskusi, saat di depan mahasiswa, saat ndengerin bos, saat apa saja.
Persis di pergantian tahun, aku sakit. Aku sudah janjian dengan beberapa keluarga tetangga untuk makan ayam bakar, dan niup terompet bersama anak-anak. Terlewati tanpa ternikmati. Kaki kiriku seperti salah urat, leher dan kepala terasa berat, hidung dan tenggorokan terasa panas, dan perut sangat tidak enak. Setiap ada hentakan ada kejang yang menyodok ulu hati. Aku sakit persis di pergantian tahun.
Tapi aku bisa terbaring melihat diriku sendiri. Aku berusaha cantik dalam tahun ini tapi hingga akhir tahun aku tetap berusaha cantik. Tidak cantik. Yach, aku terima ini.
Kini, awal tahun 2008. Aku ingin menetapkan satu tujuan untuk setahun. Tidak ada pikiran lain selain : aku ingin jadi cerpenis. Aku ingin menulis semua 'senyum' yang sudah aku buat sepanjang tahun 2007. Aku ingin menyebarkannya di semua media. Aku akan jadi cerpenis pada tahun 2008. Haiya...ini pasti gara-gara ikut workshop bersama Yanusa Nugroho dan Zen Hae menjelang Natal kemarin.

Tuesday, December 11, 2007

Romantis

Semalam aku melewatkan malam romantis di dermaga 1 Pelabuhan Bakauheni. Tidak, aku tidak sedang dalam perjalanan kemana-mana. Hanya di dermaga 1 saja tujuanku. Berderet lampu di kejauhan, mengingatkan Panderman dengan lampu natal keabadian. Laut sedang tenang membayangkan banyak pantai di langit tanpa purnama. Berderet lelaki memancing, dan berderet perempuan berdandan. Para lelaki mendapat ikan, dan para perempuan mendapat uang.
Aku duduk di salah satu tikar. Memesan kopi untuk Ucok di sebelahku. Tapi aku tidak minum setegukpun. Aku menikmati wangi perempuan tua cantik berdandan di sampingku. Bahasa kacau yang keluar dari mulutnya membuatku tidak bisa mengerem senyum. Dan berhamburan segala cerita karena senyum itu. Anaknya, rumahnya, pekerjaannya, jemarinya, malam-malamnya, siang-siangnya, jemarinya...
Ucok tak bicara sepatahpun. Heran ada kehidupan yang seperti itu.
Aku hanya tersenyum. Membawanya pada romantismeku. Pada maklumku.
Hingga larut malam. Tengah malam.

Friday, November 30, 2007

Kehilangan

Pagi ini aku kelimpungan terbengong di Pasar Pasir Gintung. Aku tahu lapak-lapak sekitar jalan pasar ini 'dibereskan' oleh dinas terkait. Digusur, diusir,...lalu ditendang, dirampok! Waktu itu aku ikut marah melihat kesemenaan pemerintah yang 'gagah' mengendalikan kota dengan cara 'mengusir'.
Hari ini aku merasakan akibat langsung. Jika kemarin-kemarin rasa marah itu menjadi diskusi sosial panjang lebar dengan siapa saja kelompok apa saja, sekarang rasa marah itu menyentil ruang hati yang mengendap paling bawah. Ruang yang menyimpan seluruh memori masa kecil.
Pasalnya, penjual nasi pecel dari Madiun, yang menjadi langgananku saat kangen rumah Gringging, yang menyediakan nasi pecel di pincuk dengan peyek kacang kedelai dan irisan tipis tempe, dengan bumbu pecel khas Jawa Timur, dengan sayuran hijau ditambah cambah mentah dan daun kemangi, hilang!!! Lapaknya rata tidak ada lagi. Yang ada hamparan tikar dan plastik penjual lombok, tempe dan bumbu dapur di lokasi itu. Aku berputar-putar sepanjang pasar dan tidak kutemukan ibu itu.
Laparku hilang keluar lewat keringat dan baju yang basah kuyup di pagi belum ada jam 7. Aku kebingungan di tengah pasar. Sedih dan marah.
Ya ampun. Aku keluar pasar dengan rasa kehilangan. Kehilangan sarana penghubung. Dimana aku bisa mencari nasi pecel yang bisa membawa aku ke ruang waktu di Gringging, Sembak, waktu aku masih kanak-kanak tanpa mikir masalah apapun? Entahlah, aku rupanya tetap akan butuh memory kanak-kanakku seperti itu.

Monday, November 26, 2007

Surat Cinta

Pagi ini aku dapat surat cinta dari kayu cemara. Setetes embunnya cemerlang mengenai ujung bulu mataku. Ada keindahan yang tiba-tiba membayang di bukitku yang ramai. Ya, pagiku selalu ramai dengan anak-anak sehingga kadang-kadang aku lupa bagaimana rasa hening di sudut bukit, di bawah pohon cemara, di ujung kerling matahari pagi.
Saat aku mengedip, embun itu jatuh di pipi. Berkas pagi yang selalu gatal mengganggu orang menyapa riang,"Hei, mengapa menangis?" Padahal dia tahu persis aku tidak sedang menangis. Toh embun itu juga sahabatnya.
Gerakan tanganku malah membasuhkan seluruh embun di wajahku. Basah seluruhnya oleh embun. Dan berkas pagi tertawa terbahak-bahak. Aku ikut tertawa. "Hening dalam tawa. Hahaha... ini lucu!" ujarku sambil menepuk pundak berkas pagi yang tak jemu bermuka riang. Saat berkas pagi harus pergi, hening dalam tawa di masukkan kantong di dekat jendela. "Bisa kau ambil sewaktu-waktu," katanya.
Aku lambaikan tanganku lewat jendela, memandangnya melintasi bukit dan ujung-ujung cemara. Aku mendesis di antara jemariku,"Terimakasih..."

Benang Kusut

Tiap bulan selalu ada saat dimana benang kusut yang besar ada di depan hidungku. Baunya bisa bermacam-macam. Yang jelas akan mengentak adrenalin dan mencipta mimpi-mimpi yang melelahkan. Dari pengalaman, selalu benang kusut itu akan dapat terurai. Dengan syarat mau mengurainya sedikit demi sedikit dengan telaten. Dan akan selalu ada benang kusut baru ketika benang yang lama sudah indah tergulung.
Akhir-akhir ini aku justru menikmati adanya benang kusut. Bahkan jika tidak kutemukan di ruang-ruang yang biasa aku tandangi, aku akan menyempatkan diri mengembara di ruang-ruang lain yang belum terjamah sehingga aku menemukan benang-benang aneka rupa yang bisa aku urai.
Kepuasan bukan hanya pada saat gulungan-gulungan tercipta. Kepuasan muncul saat tanganku menarik atau mengulur benang. Kadang-kadang ada simpul yang membutuhkan waktu lama untuk mengurainya. Biasanya akan ada seseorang yang ikut membantu dengan sukarela atau terpaksa, menyumbangkan tangan atau jarumnya. Kadang hanya sendirian aku bersimbahpeluh, karena bagi orang lain benang kusut yang sedang aku urai ini hanya buang-buang waktu.
Sesekali memang aku akan ambil jalan pintas. Memotong simpul dengan gunting yang ada di laci hatiku, lalu membuat simpul baru untuk menyambung benang. Harus dilakukan dengan hati-hati, supaya darah tidak menyembur dari benang maupun dari jariku. (Ini rahasia kita, kadang benang-benang punya darah di dalam selnya.) Memotong simpul lalu menyambung lagi selalu menimbulkan bekas, jadi ini langkah yang paling terpaksa.
Tentu saja akan sangat puas jika gulungan benang warna-warni bisa terbuat. Aku tersenyum lega di akhir tugas itu. Biasanya aku juga selalu tertarik memainkannya di tanganku, melempar dan mengelindingkannya ke mana aku ingin. Akan ada benang kusut lagi pada gulungan yang sama.
Ini biasa terjadi.

Monday, November 19, 2007

Bangun Kesiangan

Jaman hidup masih sendiri, di kamar kost, di kamar rumah Gringging atau dimana saja, bangun siang adalah kenikmatan. Molet panjang sambil tetap berbaring bermalasan. Jam 8, 9, 10 atau bahkan lebih tetaplah jam bangun pagi. Walau matahari sudah penuh panas di atas kepala. Selebihnya lapar dominan akan mengusik untuk jalan ke dapur, kamar mandi lalu bergegas ke warung, atau justru duduk ngelosor di ruang tamu membaca koran. Yang terakhir ini pasti terjadi jika rupanya isi dompet tidak memungkinkan. Baca koran kan bisa kenyang perut (atau mual hingga gak nafsu makan), khususe halaman 3 dan seterusnya (yang isi kriminal!)
Nah ketika sekarang ini bangun kesiangan, amboi! Mesti cepat meloncat, mandi (jika suami tersayang sudah masak nasi. Jika belum ya masak nasi secepat kilat, baru mandi), teriak sana-sini supaya Abet bangun. (Bapake yang mandiin dan nyiapin baju) Cepat membuat susu untuk anak-anak, sesegera mungkin menyiapkan semua untuk berangkat. Lalu ngebut nganter Abet ke sekolah. Pasti macet. Usai cium pipi kanan kiri, salaman, dan Abet lari ke halaman dalam sekolah, aku langsung memutar motor. Terlambat dikit, satpam akan menutup gerbang depan sehingga motor harus lewat jalan di samping gerbang, yang susah bagiku karena naik, berbelok dan sempit. Akan kena macet lagi, tapi begitu sampe di kantor, jam 7, semua akan luruh. Akan lapar tapi akan sangat tenang. Dan di depan komputer aku bisa sarapan. Sarapan sungguhan sambil makan lontong sayur, uduk atau apa saja yang bisa dimakan. Bisa juga sarapan tidak sungguhan melalap segala surat email dan berita di mirifica, detik, kompas atau mana saja. Sambil nunggu jam minum 10.00 untuk nebeng nyomot snack di sekretariat keuskupan.

Saturday, November 17, 2007

kumuh

Aku melewati pasar Bambu Kuning setiap kali. Beberapa hari terakhir ini sedang dibangun pagar pembatas jalan. Aku tahu maksudnya, biar tertib, rapi. Pembangunan ini menyertai penggusuran pedagang di sekitar ruas jalan dan tempat parkir.
Tapi, jalan ini adalah jalan pasar tradisional. Bapak-bapak, ibu-ibu, dapatkah anda sekalian membayangkan bagaimana becak, gerobak sayur, (pejalan kaki bisa lewat jembatan penyeberang), gerobak pedagang dan para penjual angkring ketika akan menyeberang jalan ini? Bisa dibayangkan akan lebih semrawut kota ini karena para 'pengais rejeki' itu akan mengambil jalan yang terdekat terserah mau searah atau berlawanan arah dengan arus lalu lintas.
Kenapa hal ini tidak dipikirkan? Tata kota tanpa memikirkan para 'bawah' ini sama juga menciptakan neraka. Pasti akan lebih kumuh. Coba kebutuhan-kebutuhan mereka yang pertama dirancang. Yakin, kota Tanjungkarang ini akan rapi tertib. Dan manusiawi.

Monday, November 12, 2007

Gundul

Mataku mengalir melihat tungkal pohon
tersisa di batas median jalan
gundul tanpa batang dan daun
antara rumah sakit hingga tengah kota

dadaku sesak membayangkan
gersang dan panas kekurangan O2 saat aku berjalan melintasi
jalan-jalan di kota tanjungkarang

aku akan rindu kesejukannya
aku akan rindu harum bunga kuning oranye
yang jika berguguran daunnya pun
menghamparkan permadani jalan ini khusus untukku
menyambutku semata

mataku mengalir
kesedihan
di saat yang sama kekecewaan
karena membayangkan orang-orang seperti apa
yang menjadi pengambil keputusan di kota ini
orang-orang yang tidak peduli pada kehidupan
adalah orang-orang penebar kematian
mengubah pepohonan menjadi ketertiban
mengubah kesejukan menjadi keramaian
dan semuanya menjadi keserakahan

aku sedih

Monday, November 05, 2007

malam takbir

Ingat bagaimana aku menghabiskan malam takbiran. Malam takbir tahun ini dengan terpaksa aku ngadain rapat sama Tim Kerja Nuntius. Tidak ada waktu lain setelah itu untuk ngumpul bersama karena agenda lebaran dll masing-masing pribadi. Rapatnya sendiri tidak ada masalah, ok diadakan pada persis malam takbiran. Ruangan AC Nuntius membungkus diri. Selesai jam 21.00 tet.
Dengan Mio-ku aku keluar kantor dengan kelegaan. Tidak lama, rasa lega karena beresnya satu agenda kerja berganti dengan kaget melihat jalan Sudirman, penuh sesak dengan motor dan truk yang penuh orang, hingar bingar. Astaga, aku lupa sama sekali kalau setiap malam takbir orang-orang akan keluar rumah untuk meneriakkan gema kemenangan.
Rasa capek sudah menggeliat di badanku karena dari jam 7 pagi aku belum pulang bahkan belum istirahat, ngejar deadline Nuntius ditambah rapat yang berat karena banyak PR belum tergarap. Tanganku kaku di setir Mio. Tidak bisa jalan. Merayap, sangat padat, bahkan berhenti dan sangat bising. Truk-truk penuh orang membawa tambur, bedug dan pengeras suara. Paduan suara Allahuakbar dari ujung ke ujung. Beberapa truk nekat membawa tape rekorder dengan musik-musik islami di setel kenceng. Aku merasa seperti kesasar di tempat asing. Bukan di Indonesia, bukan di Lampung bahkan juga bukan di Jalan Sudirman.
Rasa jengkelku aku tekan sekuatnya. Rencana untuk cari jalan alternatif aku tekan. Biarlah aku nikmati suasana ini. Dan rupanya jalur pulangku persis merupakan jalur yang dipakai oleh 'para pemenang' itu untuk berparade. Polisi-polisi memasang tali pembatas di tiap persimpangan sehingga konvoi itu lurus melewati Sudirman, Kartini, Teuku Umar, Pagar Alam tidak bisa belok kemana-mana. Belokan tunggal di Ki Maja, jalan dua jalur yang longgar menuju GOR Way Halim.
Aku terjebak dalam arak-arakan ini lebih dari satu jam! Satu jam lebih terlempar di negeri antah berantah yang aneh. Lebih aneh ketika gema Allahuakbar lambat laun menghilang diganti teriakan dan suara lain yang entah apa. Bedug dan tambur hilang di ganti bunyi petasan dan kembang api. Jilbab dan surban diganti pasangan-pasangan 'mumpung boleh keluar malam' berangkulan di sepeda motor. Gema kemenangan diganti teriakan umpatan karena badan atau kendaraan saling menyenggol. Dan lampu mati (PLN nakal lagi main-main). Aku terbawa arus ini dengan dandanan paling lengkap. Berjaket helm sarung tangan sepatu. Tidak mengerti mengapa aku ada di situ.

Tuesday, October 30, 2007

Yang Terlewat

Awal bekerja kembali. Selama lebaran hingga hari ini tidak ada aktifitas 'ngantor'. Yang ada adalah 'ngrumah'. Artinya hanya di rumah, bersama anak-anak dan suami. Disertai kesibukan tidak henti antara kamar, kamar mandi, dapur, halaman depan belakang, tukang sayur. Bener-bener jadi orang rumahan selama 3 minggu. Hari-hari yang hebat. Walau ternyata ketika aku cermati lagi banyak yang terlewat. Satu contoh agenda yang ingin aku kerjakan dalam masa yang lama itu adalah target membuat dua cerpen. Tidak kesampean. Yang ada adalah draft cerpen tak selesai. Menulis satu untuk Pilar itu pun pesanan. Tentang Perempuan Pekerja di Indonesia. Selesai terengah-engah pada titik hari akhir cutiku.
Astaga! Aku bayangkan andaikata sepanjang tahun aku hanya di rumah mengurus dapur kasur sumur dan pupur, apakah aku akan sempat mengerjakan sesuatu? Apakah aku akan sempat membuat 'karya'? Bagaimana para ibu hebat itu bisa melakukan seumur hidup mereka? Apakah aku akan puas dengan hidupku? Aku salut dengan para perempuan yang mengabdi karya dalam keluarga. Merekalah pahlawan.
Aku terlalu liar jika hanya untuk rumah. Tidak akan bisa hidup dalam arti sebenarnya. Jendela hidupku sudah terlanjur menerbangkan mata dan rasa mencapai pelosok-pelosok merdeka. Kakiku selalu mengajak mengarungi padang-padang di seberang.
Ah ya. Aku tidak bisa bilang anak-anak dan suamiku adalah batasanku. Tidak mau. Karena saat aku kembali kerja di kantor hari ini, aku bersyukur gembira bahwa aku punya kesempatan hidup bersama mereka. Matahari-matahari kecil yang penuh warna.

Saturday, October 06, 2007

Mutun Beach

Entah mengapa Mutun yang indah jadi gersang di hatiku. Orang-orang di sekitarku pun kehilanganan pendar spontan indahnya. Tapi menikmati gelora ombak yang besar dengan perahu nelayan, di ujung depan aku duduk, dengan air asin sesekali menerpa wajah, membayangkan doa di benak orang-orang itu karena ketakutan, aku jadi merasa begitu kuat.