Thursday, February 20, 2020

Libur Pergantian Tahun 2019 (9): Harus Kembali Juga pada Lampung Tercinta


Kami sudah memesan tiket Kediri - Bandung memakai Kereta Api Malabar pada 2 Januari 2020. Dari Bandung kami akan naik bis Kramat Jati sore hari pada 3 Januari 2020. Lalu dari pagi hingga sore ngapainnn???? Tidak tahu.

Sepanjang perjalanan di kereta aku memancing obrolan tentang hal itu tapi tak ada satupun dari antara para cowok itu yang berminat membahasnya. Mereka semua menjawab seragam:

"Pikir nanti saja deh bu."

Astaga. Aku mana bisa gitu. Jadi aku melihat beberapa kemungkinan:

1. Ke kost Albert (ditolak oleh Albert)

2. Ke Trans Studio (disetujui oleh Albert dan Bernard)

3. Tidur di Nice Hotel, dan langsung kontak pengelolanya (mereka semua bilang, ngapain.)

Jadi, akhirnya aku browsing saja penginapan murah di sekitar Stasiun Kiaracondong. Aku ndak mau hanya nongkrong tak jelas di stasiun atau di suatu tempat. Pengin tidur minimalnya meluruskan badan,

Sampai di Kiaracondong mereka masih tak jelas juga. Jadi kuajak mereka jalan ke D'Papaya Garden, penginapan murah sekitar 900 m dari stasiun. Jalan dikit tak apa, usai itu kan tidur. Hehehe... Di hotel ini kami menghabiskan bekal dari Kediri, rasa capek dari perjalanan sekian lama, ... dan bisa menikmati bis Bandung-Lampung dengan segar plus sekotak nasi Hokben yang panas saat bis mulai keluar dari halaman parkir.

Rasanya aku siap menghadapi apa pun selama tahun 2020 setelah liburan yang luar biasa ini. (Ada beberapa yang belum kutulis soal wisata kuliner dan perjumpaan dengan saudara-saudari. Itu kutulis nanti2 saja. Paling tidak aku punya catatan untuk mengingat segala hal luar biasa yang sudah kami lakukan di akhir tahun. Total seluruh pengeluaran kami mulai dari 22 Desember 2019 hingga 4 Januari 2020 adalah Rp. 6.350.000,-. Selama 13 hari liburan meliputi Lampung - Bandung - Jogja - Kediri - Pare - Dampit - Lumajang - Blitar - Kediri - Bandung - Lampung) Puji Tuhan.

Libur Pergantian Tahun 2019 (8): Kampoeng Anggrek diNgancar Kediri

Turun dari Gunung Kelud, masih menjelang pergantian tahun, lewat Google Map aku melihat banyak sekali ampiran di daerah situ. Pilihan kami akhirnya mengarah pada Kampoeng Anggrek. Lokasinya tidak terlalu jauh menyimpang dari jalan pulang dan gambar-gambar yang dipamerkan lewat berbagai media cukup menarik.

Lagi-lagi ada tiket masuk. Seperti beberapa lokasi wisata lain yang buanyak tersebar di Kediri. Kayaknya Kediri lagi membangun sarana wisata yang serius di banyak titik. Kulihat ada Kampoeng India, Korea, Jepang, juga macam-macam lagi di berbagai daerah. Masuk ke Kampoeng Anggrek ini ndak hanya berjumpa dengan anggrek mulai dari pembibitan di lab hingga mekar cantiknya anggrek, tapi juga ada bunga-bunga lain, juga kafe dan rumah coklat.

Target kami sih memang hanya bersantai, sembari foto-foto sedikit. Heran juga aku ndak terlalu suka foto di tempat seperti ini. Kayak terlalu rekayasa gitu. Jadi ya foto sesukanya saja, sambil menikmati yang bisa dinikmati. Empat cowok dalam rombongan menjadi bodyguard yang kukuh bagiku. Hehehe... serasa dikawal oleh para penjaga yang keren.

Macem2 pula tingkah keturunan Pak Soeliham itu. Ini contohnya, Albert dengan bunga cantik putih.


Nah, lihat. Bener kan. Seperti dikawal bodyguard keren ke mana-mana si inces nih.

Kru capek memenuhi bangku tanpa menyisakan untuk Inces cantik. Dari ujung: Denmas Hendro, sopir dan tukang poto. Albert, tukang pukul. Erlo, tukang makan dan negosiator ulung. Bernard, si penghibur nan lembut hati. Heheheh...

"Ibuuuu, itu tidak dijual. Jangan dipilih."
"Waduh, tannnn... jangan itu yang diminta."
Padahal aku cuma nunjuk-nunjuk doang. Huh.

Tukang poto ingin juga sekali-kali berpose dipoto.

Libur Pergantian Tahun 2019 (7): Gunung Kelud yang Selalu Berubah

Banyak kali kami pergi ke Gunung Kelud, dan setiap kali ke sana selalu tak pernah sama. Dulu ada terowongan, ada permandian air panas, lalu meletus, beberapa kali hingga banyak perubahan terjadi. Kali ini pun menjelang akhir tahun (31 Desember 2019), kembali kami mengunjungi Kelud.

Kelud tampak teduh hari itu, gagah, tapi malu-malu berselimut kabut dan mendung. Semakin kami mendekatinya semakin turun mendung tebal hingga menjadi hujan deras. Antrean panjang kendaraan di post terakhir sebelum kawahnya.

"Kita parkir sini saja yukkk." Usulku ragu-ragu. Aku sendiri sangat ingin sampai ke kawahnya, tapi hujan deras membuatku kuatir. Lebih baik berhenti dan menikmatinya di situ.

Maka Mas Hen memutar mobil dengan bantuan petugas parkir, lalu memarkirnya di depan warung. Hujan deras dan dingin. Anak-anak langsung pesan makanan hangat beberapa saat setelah pantat kami menempel di tikar pandan di warung itu. Ada bakso tusuk, ada mi instan dan kopi. Juga gorengan. Albert dan Erlo memesan mi doble plus telur. Beberapa saat kemudian satu pesanan datang. "Kok dikit amat, kami minta doble kok." Denmas Hendro senyam senyum menerima mangkok mi. Rupanya sebelum semuanya pesan, dia udah duluan menemui tukang warung minta mi dan kopi. Ealahhhh...

Bernard bersantai dengan bakso tusuknya sambil nongkrong dengan bayi salah satu pengunjung yang juga berteduh di warung itu. Aku bergembira mencicip dari satu mangkok ke mangkok lain, juga sebuah besar buah naga merah yang segarrr.... Kelud merangkumkan lengan-lengannya yang dingin, membuat kami hanya bergembira menikmati. Aku tahu Mas Hen masih penasaran pengin mendekati kawah Kelud, tapi kekuatan batinku (hihihi) menolaknya. Pikirku terlalu bahaya dalam kondisi cuaca seperti itu. Dan rasanya duduk begini di warung pun sudah sangat nikmat.

Usai dari sana kami mencari nanas yang murah meriah disodorkan oleh pedagang-pedagang di sepanjang jalan. Bahkan dijual sangat murah. Tapi sebelum mendapat nanas kami malah mendapatkan duren. Huaaaa... nikmat banget nongkrong di pinggir jalan menikmati duren yang legit (walau harganya mihilll).

Sampai kami jauh dari kawah Kelud, semuanya serba kelabu dengan mendung tebal dan basahhh....

Wednesday, February 19, 2020

Libur Pergantian Tahun 2019 (6): Gua Tetes yang Membuat Basah Kuyup

Usai dari Candi Penataran, 26 Desember 2019, kami melaju ke arah Malang Selatan untuk lanjut ke Lumajang lewat Dampit, Pronojiwo dan seterusnya. Hujan menyertai kami. Kupikir-pikir kenapa kami ndak menginap di suatu tempat lalu melanjutkan perjalanan besok pagi? Tapi kemana? Tetiba kepikiran Pakde Pahar. Pakde Pahar ini kakaknya bapak Soeliham yang tinggal di Sumbertangkil, Dampit.

"Jauh ndak dari jalan besar?"Tanyaku ke Pak Sopir Hendro.

"Ndak, aku dulu pernah jalan kaki dari rumah Pakde untuk nyegat bis."

Okey, jadilah aku kontak Farah lewat maminya yang di Taiwan. Hihihi, komunikasi yang mantul deh pokoknya. Pesanku ke Farah: kami mau makan enak setiba di rumah. Tapi yang ada hanya nasi, tan. Hehehe... oke. "Kami bawa lauknya. Kau siapin nasi." Jadilah begitu.

Maka begitu sampai Dampit, udah hampir jam 8 malam, kami mampir beli sate, ingat kalau ada telur hangat di kotak dari Mbah Mun. Cukuplah itu.

Farah kuminta untuk share lokasi ke rumah Pakde Pahar. Dan ternyata saudara-saudara, yang dikatakan oleh Pak Sopir Hendro sebagai dekat itu adalah 18 km. Huaaaa.... kami melewati jalan berliku, terjal dan gelap. Dan jam 9 lewat kami baru sampai di rumah Pakde, makan puas, mandi bablas (yang kemudian kusesali karena rupanya kutahu kemudian kalau daerah itu sedang kekurangan air) dan tidur pulas.

Eh, sebentar tentang Gua Tetesnya ya. Gua Tetes itu kami datangi setelah sehari di Senduro, setelah dari Pakde Pahar. Pas pulang dari Lumajang itulah kami mampir Gua Tetes yang kukenal sejak dahulu kala itu. Sayangnya aku ndak dapat info cukup sebelumnya gegara males sehingga jadilah kami datang ke Gua Tetes itu dengan kering kerontang, namun saat pulang jadi basah kuyup. Karena yang disebut Gua Tetes itu bukannya gua dengan tetesan air tapi dengan grojogan air berundak-undak. Kalau hanya diem di bawah saja melihatnya ya rugi banget, jadi kami naik meliwati tangga air, berbasah-basah memakai celana jeans dan baju rapi. Denmas Hendro itulah yang paling bertanggungjawab atas hal ini, tapi dia santai saja. Huhuuuuuu..

Dan sungguh, tidak rugi datang berbasah-basah di sini. Ini tempat yang indah banget terletak di perbatasan Lumajang dan Malang Selatan. Indahhhh....





Libur Pergantian Tahun 2019 (5): Candi Penataran yang Romantis





Tanggal 25 Desember 2019 adalah Natal yang hingar bingar di rumah Sembak. Pertama, tentu saja karena banyak tamu yang datang dari sekitar rumah dari segala umur seperti biasa. Kedua, aku punya kesempatan untuk sowan para sepuh dan menikmati jajanan-jajanan. Hehehe. Dan ketiga, ini yang penuh syukur bisa kami lewati adalah Sembak dan sekitarnya keterjang angin puting beliung. Kehebohan puting beliung di sore hari ini memang menghentikan aliran tamu karena semua orang fokus pada pembenahan rumah. Kebanyakan yang rusak adalah genteng rumah. Rumah ibu hanya 2 buah genteng yang jatuh, tidak parah. Tapi air sempat masuk ke rumah juga jadi sore itu para cowok khususnya Albert, Bernard dan bapake kerja bakti mengepel ruang tamu, teras dan dapur. Tiga bagian itu yang basah kuyup plus kotor banget karena puting beliung.

Nah, tanggal 26 Desember rumah pun masih sepi. Kukira semua orang fokus pada rumahnya masing-masing sehingga tidak banyak yang bertandang untuk Natalan. Aku dan mas Hen membuat rencana kilat setelah segala kemungkinan untuk mengumpulkan keluarga Soeliham tidak mendapatkan titik temu. Jadilah kami membuat rencana perjalanan singkat ke Lumajang, pinjam mobil bapak, diawali dengan kunjungan singkat ke Mbah Mun di Pare. Jadilah kami berangkat beriringan dengan Bulik Sri sekeluarga yang akan balik Malang.

Usai dari Mbah Mun, mendapatkan sekotak telur asin dan telur ayam kampung yang masih hangat (hehehe, mantap pokoknya), kami berpisah rombongan dengan Bulik Sri, lanjut ke Lumajang lewat Blitar. Nah, perjalanan ke Blitar ini rupanya sangat asyik. Banyak banget yang ternikmati, salah satunya adalah Candi Penataran. Wowowwww....

Menjelang sore kami sampai di Penataran, agak kebablas dikit, tapi sampai juga di pelataran candi. Gerimis, dan sudah redup sore, membuat kami menikmati ngebolang romantis hingga di puncak candi. Fokusnya hanya foto-foto, dan buanyak foto kami buat. Ini kupasang sedikit saja deh. Pokoknya asyik.

Tak ada tiket masuk candi. Petugas hanya meminta kami mengisi buku tamu dan dana perawatan seiklasnya. Padahal ini kekayaan budaya lho. Bagaimana mereka bisa merawat kelanggengan candi ya? Maka aku sangat iklas memberikan dana itu.

Tentang Candi Penataran lihat Wikipedia saja ya. Pokoknya kalau ada di sekitaran Kediri - Blitar, tengoklah warisan leluhur untuk masa depan ini. Ini tempat yang indah.

Libur Pergantian Tahun 2019 (4): Bukit Dhoho Indah alias BDI

Kebetulan sekali tanggal 23 Desember itu Atik dan keluarganya datang dari Sidoarjo, jadi kami manfaatkan kesempatan menyenangkan itu untuk berkunjung ke BDI atau kepanjang dari Bukit Dhoho Indah. Tempat wisata ini terletak di Tiron, kecamatan Banyakan, kabupaten Kediri. Lokasinya sangat dekat dengan rumah. Beberapa tahun lalu aku pernah juga datang ke sini saat wahana-wahananya belum terlalu banyak dan memang belum selesai pembangunannya.

Saat ini pun tempat ini belum selesai. Masih tampak kalau BDI sedang dikembangkan menjadi pusat wisata yang besar. Waktu itu satu lokasi berisi wahana seperti taman hammock, motor ATV, permainan-permainan untuk anak-anak, juga ada wisata kuliner di dalamnya. Kali ini kami mengunjungi kebun agrowisata yang sedang dikembangkan dengan beberapa tanaman buah. Saat kami datang ada jambu biji dan alpokat yang bisa dipanen. Kami bisa ambil sepuasnya di kebun, lalu ditimbang dibeli untuk dibawa pulang. Namun selain jambu dan alpokat ada buah lain yang juga dijual di penimbangan walau kami tidak petik sendiri yaitu buah naga dan durian. Jadilah kami santap juga buah-buahan itu di pondok depan.

Hmmm.... mungkin suatu ketika nanti ini bakal jadi tempat wisata yang ok. Tapi untuk saat ini ya masih terasa panas n kurang nyaman. Tiket masuk 5000 per orang plus untuk parkir mobil rasanya terlalu mahal, apalagi kami memang tidak berniat mengunjungi wahana-wahana lain. Mungkin nanti kalau sudah jadi, benar-benar jadi bisalah dicoba lagi untuk datang ke mari.

Yang paling menggangguku sebenarnya bukan perkara mahal atau tidak nyamannya tempat ini. Tapi aku datang dengan agak sedih. Lahan berhektar-hektar ini dulunya adalah milik penduduk setempat. Dulu ketika aku masih kanak-kanak beberapa kali bersepeda ke arah sini karena teman-teman SMP ku banyak yang berasal dari Tiron. Namun sekrang tanah ini bukan lagi milik rakyat kebanyakan. Mereka sudah menjualnya pada pemilik modal BDI, yaitu anak perusahaan Gudang Garam. Lahan beratus-ratus hektar entah berapa tepatnya ini akan nyambung juga dengan bandara yang akan dibangun di situ. Gudang Garam sudah berhasil mengambil tanah subur sekian hektar itu dari rakyat Kediri. Ckckck... Kesedihanku ini berbalut dengan berbagai kisah yang kudengar seputaran peralihan kepemilikan ini. Kisah lucu, gembira, sedih, tragis, semuanya ada. Bagiku sendiri: sedihlah yang dominan. Aku pribadi lebih suka lahan itu dimiliki oleh ratusan rakyat daripada dimiliki oleh segelintir orang.

Mestinya ada beberapa foto yang kami buat saat berkunjung di BDI, tapi nanti saja deh.

Libur Pergantian Tahun 2019 (3): Bertemu Bunda Maria di Pohsarang

Hanya ini foto yang sempat dibuat. Di halaman dekat parkir.
Gua Maria Pohsarang merupakan salah satu tempat di Kediri yang paling sering kami kunjungi. Setiap pulang kampung, rasanya selalu ingin pergi ke tempat ini. Seringnya, inilah yang kami lakukan: datang dengan gembira, jalan pelan-pelan mulai dari tempat parkir, komentar ini itu pada para penjual yang banyak di sana (tidak beli apa pun, hehehe), mengelus saja kepala anak-anak penjual lilin, lalu berdoa singkat di  depan Bunda Maria yang berkain berkonde di samping gereja. Usai itu lanjut jalan pelan ke arah Gua Maria yang besar, mencuci kaki tangan dan muka serta minum sedikit airnya, lalu duduk-duduk ngadu di depan Bunda Maria yang besar di atas. Letak Bunda Maria di gua yang besar ini tidak tepat menurutku, membuatku mendongak, terasa jauhhhhh.... Jadi aku tetap suka di dekat Bunda Maria yang kecil sederhana dan bisa disentuh. Selebihnya, biasanya kami duduk-duduk saja depan gua, diem-diem beberapa saat di situ, tidak melakukan apa-apa.

Begitu pun hari itu, setelah mengunjungi Selomangleng, lalu duduk di Gua Maria membuatku merasa tenangggg.... Seperti inilah 'rumah', entah di mana pun itu. Hanya duduk, mendengarkan suara beririk dari para pengunjung namun tak cukup konsentrasi untuk menangkap mereka bicara apa. Sesekali ada burung tertentu yang melintas dengan suaranya. Daun-daun yang tak punya mulut pun bisa menguarkan suaranya yang syahdu, kadang bergemuruh.

Wajah Bunda Maria menatap jauh. Bagusnya, Bunda Maria besar ini memiliki paras yang sangat keibuan, berahang bulat kukuh seperti menggambarkan ketabahan, mirip dengan wajah-wajah para ibu di Pedesaan Pohsarang yang sejak awal sudah biasa bekerja keras di antara bebatuan. Dan seperti itulah memang seorang ibu. Bekerja dengan kaki tangan hati dan pikirannya, dengan suara yang kadang lembut kadang keras kadang tak muncul. Badan otomatis tidak langsing kurus seperti para model, tapi berisi, berotot, tentu saja dengan lemak di bagian-bagian tertentu menandakan kesuburan.

Nah, mengunjungi Pohsarang dengan cara itu membuatku tenang. Tak usah buru-buru, pun tidak memaksakan diri untuk berdoa sepanjang Jalan Salib atau hal-hal lain yang direkayasa. Tenangggg...

Bunda Maria, doakanlah kami anak-anakmu yang masih berziarah di dunia ini dalam suka dan duka.

Tuesday, January 28, 2020

Libur Pergantian Tahun 2019 (2): Gua Selomangleng di Kaki Gunung Klotok Kediri

Hari kedua di rumah Kediri, ibu mengeluhkan selang air kamar mandi untuk air panas. Ibu dan bapak tak tahan mandi dengan air terlalu dingin dan juga susah mengangkat sepanci air panas dari dapur ke kamar mandi. Nah, pemanas air yang ada itu selangnya bocor sehingga tak bisa lagi digunakan oleh mereka dalam waktu beberapa hari. Jadi mumpung mas Hen sedang ada di rumah kugangguin untuk memperbaikinya juga memperbaiki kran air cuci piring yang sudah rusak.

Jadi selepas makan siang, kami pergi ke kota bersama anak-anak dengan niat mencari selang dan keran air. Mencari di beberapa toko, barang yang dimaksud tidak ditemukan. Keran air akhirnya dapat di Mojoroto. Mau pulang kok masih terang benderang.

"Bablas ke Selomangleng yuk."

Sepakat dan kami pun pergi. Gua Selomangleng ini merupakan salah satu obyek wisata di Kediri yang cukup populer sejak jaman dahulu kala. Tapi, herannya, kok aku ndak inget pernah masuk di lokasi ini ya. Payah. Jadi kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Memang sih karena sudah sore kami jadinya tidak bisa mengeksplor Museum Airlangga yang ada di dalam kompleks wisata ini. Tapi minimal kami bisa naik ke gua, bahkan cowok-cowokku bisa naik di atas gua-gua yang ada di situ, lalu nongkrong beberapa saat menikmati angin Kediri yang sedang kuat.



Untuk masuk ke kompleks ini ada tiket yang harus dibayar, plus parkir kendaraan. Aku cari-cari sobekan tiket itu entah nyelip di mana. Tapi aku ingat harganya sangat murah walau lupa persisnya.

Setelah parkir, kami ngikuti saja jalan utama, ada patung Dewi Kilisuci ukuran besar di bagian depan. Di persimpangan ada museum. Ambil jalan ke kiri untuk menuju gua. Banyak penjual jajanan di jalan situ dan rupanya itu yang pertama-tama menarik perhatian Albert dan Bernard. Dasar, jauh2 sampai Selomangleng malah beli bakso tusuk. Jadinya malah nenteng plastik bakso sambil jalan ke gua.

Di kompleks itu ada kolam renangnya juga, persis di samping jalan masuk gua. Niatnya sih foto-foto jadi kolam renang tidak menarik perhatian. Ada juga tempat peribadatan umat Hindu. Taman kebun juga asyik untuk ditongkrongin.

Tapi tentu saja seperti judulnya, bagiku yang paling menarik ya ngunjungi guanya. Yang tampak olehku gua yang ada adalah gua buatan dengan beberapa lorong yang tak berani kumasukin. Hanya sampai pelatarannya saja. Ada patung dan dengan dupa yang masih menyala. Mungkin ada orang yang baru 'semedi' di situ. Lembabnya gua tetap saja terasa apalagi kalau meraba bebatuan kukuhnya.

Dinas Pariwisata Kediri setahuku sering mengadakan event di lokasi gua di kaki Gunung Klotok ini sejak dulu. Pentas seni digelar di depan gua. Lokasinya memang tinggi kayak panggung sedang penonton pun ada di sekitarnya bisa duduk nyaman karena luas dan teduh oleh pepohonan. Saat kami ke sana sih tak ada pementasan apa-apa, tapi bisa cek lewat internet soal pentas-pentas itu.

Friday, January 10, 2020

Libur Pergantian Tahun 2019 (1): Rencana Perjalanan yang Tanpa Target

Dalam seluruh situasi finansialku dan keluarga kecilku, yang sedang fokus pada kuliah Albert, aku tak membayangkan akan merencanakan pulang kampung atau rekreasi sepanjang libur pergantian tahun 2019/2020. Tapi ketika Mas Hen lihat jadwal kereta ekonomi dari Bandung ke Kediri di pertengahan Nopember, aku tergoda. Maka aku pun mendesak untuk memesan tiket kereta api Kahuripan seharga Rp. 83 ribu per orang, berangkat 21 Desember 2019 dan pulang tanggal 2 Januari 2020.

Ketika tiket untuk 4 orang itu sudah terpegang, aku jadi sangat fokus dan semangat untuk liburan santai di rumah ortuku di Kediri. Kubilang ke Mas Hen dan anak-anak :"Kita hanya di rumah uti akung. Tak ada agenda jalan-jalan bahkan tidak ke Lumajang. Mas Hen kontak Ninik dan Atik supaya mereka merapat di Kediri. Kasih aja jadwal kepulangan kita."

Aku memasukkan uang-uang tertentu dalam tabungan liburan, tapi minimalis, pokoke hanya untuk menemani bapak ibu di Kediri saat natal dan tahun baru. Selebihnya mengalir mengikuti situasi.

Sampai kami berangkat tanggal 21 Desember pagi, dengan naik bis dari terminal Rajabasa, lalu oper kapal eksekutif menyeberang selat Sunda, dan juga ketika naik bis menuju Bandung, bahkan saat kami sudah lengkap di kereta Kahuripan (Albert nyusul naik di Lempuyangan Jogja), aku masih berpikir seperti itu, tanpa menutup kemungkinan lain-lain untuk kami nikmati selama liburan.

Yang terjadi kemudian sungguh luar biasa. Ternyata kami berempat bisa menikmati liburan 2 minggu dengan puas, mampir sowan ke beberapa sesepuh dari keluargaku maupun keluarga mas Hen, bahkan bisa tidur semalam di Senduro. Juga mengunjungi beberapa tempat rekreasi seperti Gua Selomangleng, Gua Maria Pohsarang, Bukit Doho Indah, Candi Penataran, Gua Tretes, Gunung Kelud, Kampung Anggrek dan malah menikmati wisata kuliner asyik dari Soto Bok Ijo, sego pecel Mbak Siti, rawon Pring Kuning, rujak cingur Bandar dan sebagainya.

Tidak semua ada fotonya, tapi aku punya ceritanya. Entar kutulis pelan-pelan di awal tahun ini. Tapi supaya aku tetap menjalankan kebiasaanku di awal tahun, aku mesti menuliskan satu misi untuk tahun 2020. Tahun lalu aku menulis kesaksian sebagai misiku sepanjang tahun. Hasil evaluasi personalku, aku belum optimal menjalankannya walau rasanya tubuhku sudah hancur lebur melakukan banyak hal. Huh. Maka, tahun ini aku masih akan melanjutkan kesaksian itu dengan revisi cara-cara yang kugunakan. Aku mau tubuhku menjadi merdeka, jiwaku sehat dan hatiku gembira. Itu yang akan kulakukan sepanjang tahun. Mari kita lihat apa yang bisa kuperbuat di tahun Tikus ini. Macan siap mengaummm....

Friday, December 13, 2019

Abon Ikan / Ayam ala Yuli Nugrahani

Abon dikemas rapi setelah diolah dengan penuh cinta.
Beberapa saat sebelum pergi ke Agats, aku melakukan eksperimen membuat abon dari macam-macam bahan. Ikan tuna, patin, dan lele itu menjadi obyek yang awal-awal. Membeli dalam jumlah sedikit hanya setengah kg atau beberapa ons saja. Lalu aku juga membuat abon ayam dari dada 1 ekor ayam. Kemudian melakukan eksperimen juga dengan menyematkan macam-macam rasa, dari yang orisinil, pedas dan bawang.

Eksperimen ini mesti kulakukan karena di Agats aku akan latihan bersama para ibu di sana untuk membuat berbagai macam pangan lokal. Aku yakin di Agats pasti ada macam-macam hasil air laut atau sungai yang bisa diolah menjadi makanan. Selain membuat abon aku juga menyiapkan kue sagu, kue telur gabus, pastel abon dan sebagainya. Soal yang mana nantinya akan dipraktekkan di Agats tidak jadi soal.

Hasil dari eksperimen itu aku kemas dalam kantung-kantung yang memungkinkan untuk digunakan beberapa kali, tanpa perlu dipindah ke toples dan tidak repot untuk menutupnya kembali sehingga tidak melempem. Kulengkapi dengan hitungan bisnisnya andai kata abon-abon itu akan dijual.

Pertanyaan yang sering muncul adalah sebagai berikut:

Ikan patin, lele dan ayam. Siap packing.
1. Bukannya bikin abon itu ribet?
jawab: Ndak, sama sekali tidak ribet. Memang butuh waktu lama dan kudu telaten. Bahkan untuk proses penggorengannya bisa dipakai untuk wiridan sampai beberapa kali putaran. Jadi sambil ngudek bisa sambil mendaraskan doa-doa.

2. Bukannya alat-alatnya harus khusus?
jawab: Tidak. Aku menggunakan alat-alat yang ada di rumah. Kompor, panci, wajan, sutil, sendok, baskom, cobek, solet, blender, alat pres (bisa menggunakan serbet atau kain bersih kalau tak ada). Nah, ada semua di dapur kan alat-alat itu? Kalau pun tak ada tetep bisa diakalin, pakai yang ada saja.

3. Bukannya bahannya susah?
jawab: Tidak. Kita bisa pakai bahan apa saja yang ada. Ikan laut, sungai, ayam atau daging apa saja. Malah aku sedang berpikir untuk membuat dari jamur atau gori/sukun/kluwih.

4. Bukannya hasilnya nyusut menjadi sangat sedikit?
jawab: Betul. Dari 3 kg ikan patin yang kubeli nanti hasil abonnya paling hanya 6 - 8 ons. Kan harus diilangin duri, kulit, kepala, dan ekornya. Habis itu digoreng kering dan dipres pula biar minyaknya hilang.

5. Harganya jadi mahal dong...
jawab: Betul. Harga abon memang mahal. Karena prosesnya lama dan penyusutannya banyak. Memang begitu.

Nah, karena mahal daripada beli di tempatku (bisa pesan di 08127925222), lebih baik buatlah sendiri saja. Ini kubagikan resepnya:



ABON LELE/PATIN/TUNA/AYAM ALA YULI NUGRAHANI


BAHAN:
-          1 kg ikan, buang kepalanya (kepala bisa dibuat pindang)
Abon siap meluncur ke pemesan.
-          1 ltr Minyak goreng
-          3 batang sereh (kalau ada)
-          3 lembar daun jeruk (kalau ada)
-          6 lembar daun salam (kalau ada)

BUMBU HALUS:
-          6 siung bawang putih
-          12 siung bawang merah
-          10 butir kemiri
-          1 sendok makan ketumbar
-          Cabai (kalau mau rasa pedas)
-          1 sendok teh garam (cek rasa)
-          2 sendok makan gula pasir (atau bisa ditambah gula merah, ada ditambah jumlah kalau mau rasa manis)
-          1 ruas jari jahe (kalau ada)
-          1 rusa jari laos muda (kalau ada)
-          1 ruas jari kunyit (kalau ada)

CARA MENGOLAH:
-          Rebus ikan hingga matang, beri sedikit garam pada air, tiriskan.
-          Bersihkan ikan dari kulit dan duri (kulit bisa dibuat keripik kulit ikan), suwir-suwir.
-          Haluskan bumbu. Rebus dengan sedikit air hingga aromanya tercium, matang. Masukkan potongan ikan, bumbu lain-lain, aduk rata, api kecil hingga air mengering.
-          Uleg/tumbuk ikan yang sudah berbumbu.
-          Goreng dengan api kecil sambil terus dibolak-balik (30 – 45 menit)
-          Tiriskan dan press dengan alat press hingga minyaknya keluar.
-          Keluarkan dari alat press dengan dikerok menggunakan garpu.
-          Jika tidak ada alat press bisa menggunakan kain dan diperas sampai minyak keluar.
-          Biarkan dingin dan siap dikemas.

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2019

Sebenarnya aku lebih suka bicara tentang gender daripada bicara tentang perempuan. Kalau bicara tentang gender, aku bicara tentang manusia. Dan manusia itu adalah perempuan dan laki-laki, keduanya. Sama martabatnya sebagai ciptaan, sama derajatnya dalam seluruh kehidupan, dan harusnya diperlukan adil dan setara dalam setiap peran yang dijalankannya.

Tapiii, di Indonesia, kalau bicara tentang gender mau ndak mau bicara tentang perempuan, karena:

1. Korban kekerasan yang sekarang ini terjadi dalam hidup sehari-hari kita paling banyak adalah perempuan (juga anak-anak).

2. Perempuan masih mendapatkan label negatif dalam banyak peran yang dijalankannya.

3. Masih banyak perempuan yang menanggung beban ganda karena pilihan-pilihan sikapnya.

4. Perempuan masih terpinggirkan dalam peluang, akses dan perkembangan ekonomi. Masih ada gap dalam kesejahteraan.

5. Masyarakat masih sering menomorduakan perempuan untuk berbagai macam peran, posisi, dan tanggungjawab sehingga tidak mendapatkan akses dalam pengambilan keputusan maupuan kebijakan publik.

Karena itulah, bicara gender di Indonesia masih terus melekat pada perempuan dan upaya-upaya untuk pemberdayaan perempuan.

Dalam 16 hari kemarin, dari 25 Nopember hingga 10 Desember, menjadi kesempatan untuk melakukan usaha lebih dalam menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Ada banyak moment yang bisa digunakan sepanjang 16 hari itu dengan puncaknya pada 10 Desember sebagai hari Hak Asasi Manusia.

Satu kesempatan kulakukan di Radio Suara Wajar pada Rabu 4 Desember 2019 mengambil slot ruang talkshow ASG yaitu pada pukul 20.00 - 21.30, dengan mensosialisasikan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan, juga mengangkat keprihatinan kuatnya industri sekarang ini menjadikan perempuan sebagai korban melalui diskriminasi-diskriminasi langsung maupun tidak langsung. Misal standar kecantikan: kulit putih, rambut lurus, pipi tirus dan sebagainya. Perempuan yang sebaliknya seperti kulit hitam, rambut keriting dan pipi cubby menjadi obyek bullyan, dianggap tidak cantik, dan 'dipaksa' dengan segala macam 'permak' untuk mengubah kondisi fisiknya.

Wednesday, December 11, 2019

Perjalanan ke Agats (5): Masa Depan Anak-anak Papua

Bersama pelajar Agats di Aula Bupati Agats

Bersama Goan dan buku-bukuku.

Anak-anak cantik di depan Museum Asmat.

Gadis-gadis cantik yang suaranya luar biasa


Anak-anak asrama



Dalam perjalanan ke Agats kali ini (19 - 26 Nopember 2019), aku mendapatkan beberapa kesempatan bertemu dengan anak-anak dan remaja Papua. Kesempatan pertama (di bagian awal dan akhir perjalanan) aku bertemu dengan anak-anak di asrama yang dikelola oleh suster-suster di Timika. Mereka adalah anak-anak asli Papua yang mendapatkan didikan 'keras' pada usianya yang sangat dini, usia SD, masih sangat 'bayi' kalau aku ingat Albert dan Bernard, anak-anakku.

Saat berkunjung ke asrama ini spontan aku ingat tulisan Rm. Mangun tentang Asrama Mendut di samping Sungai Elo yang dibangun untuk mendidik gadis-gadis Jawa. Para suster Belanda dikisahkan sangat 'prihatin' dengan para gadis kecil yang bodoh ingusan tak tahu apa-apa, maka mereka dididik sangat keras dengan disiplin Eropa untuk membuat mereka menjadi perempuan-perempuan mandiri dan handal menghadapi hidup. Termasuk juga tulisan itu dengan para bujangnya di asrama Van Lit yang tak jauh dari situ.

Para muda Papua itu pun juga mendapatkan gemblengan dari para suster yang kebanyakan dari luar Papua. Mereka dipaksa untuk tertib mengikuti seluruh aturan dari para suster yang jelas sekali sebagiannya galak dan bersiap untuk menghardik kalau ada kesalahan-kesalahan.

"Pun begitu mereka tetap saja menggunakan waktu tidur siang para suster untuk keluyuran mencari buah-buahan yang tumbuh di halaman tetangga asrama," kata Rm. Gun, seorang pastur yang bertugas di SCJ, tak jauh dari asrama.

Aku tertawa saja sepanjang kunjungan singkat di asrama itu, melihat bagaimana mereka hidup secara 'mandiri' jauh dari orang tua mereka di kampung-kampung jauh. Katanya drama hebohnya ya terjadi saat mereka mulai masuk asrama (jan mirip dengan kisah Mendut), bahkan ada yang melarikan diri berusaha pulang ke kampungnya dengan segala cara.

Perjumpaan kedua dengan anak-anak Papua terjadi di Aula Kantor Bupati saat seminar. Aku bersama dengan Sr. Natalia OP memberikan dasar-dasar gender, bagaimana pergaulan sehat dan sebagainya untuk anak-anak pelajar dari berbagai sekolah di Agats. Anak-anak dari berbagai sekolah SMP dan SMA itu rupanya dipilih dari para aktifis sekolah, yang sudah biasa berorganisasi dan biasa untuk aktif. Mereka bisa menyampaikan buah pikiran mereka dengan baik, berani dan tidak malu-malu. Malah dengan mudah mereka membantu menghidupkan suasana pertemuan saat kami minta untuk bernyanyi dan bergerak.

Lalu perjumpaan-perjumpaan selanjutnya ada beberapa kali seperti di Kopi Bakau, para muda yang berkreasi dengan kopi dan menyediakan tempat untuk nongkrong. Lalu sebuah percakapan agak mendalam dengan Goan, guru muda asli Wamena yang tinggal dan besar di Agats. Dia lulusan pendidikan guru di Sanata Darma, dan masih punya banyak impian untuk masa depannya.

"Sa belum kepikir untuk menikah, kak. Belum menemukan orang yang cocok di Agats ini. Lagi pula sa masih ingin kuliah lagi S2 seusai kontrak dengan sekolah selesai."

Dia menceritakan aktifitasnya masa kuliah yang dia sukai, seperti naik gunung, juga menari. Kau bisa menari? Aku memandang tak percaya tubuhnya yang 'gagah', ya, dia gadis manis yang gagah.

"Bisa, kak. Sa bisa menari jaipong, tari bali, dan lain-lain."

"Tarian papua?"

"Tentu saja bisa." Jawabnya mantap dan percaya diri.

Dia menyampaikan beberapa pemikirannya sembari menemaniku keliling pasar Agats, bercerita tentang keprihatinannya akan harga-harga yang sangat mahal di Papua, minimnya fasilitas, susahnya mendapatkan akses pelatihan untuk mengembangkan diri dan sebagainya. Aku menangkap kerinduannya untuk terus maju dan belajar. Dia ingin tidak disekat oleh Agats yang terpencil tapi juga sertamerta dia ingin ikut mengembangkan Agats agar mampu bergerak maju seperti pikirannya.

Kegirangannya tampak jelas ketika aku memberikan dua bukuku padanya setelah aku tahu bahwa dia suka menulis. Goan mungkin tidak mewakili seluruh Papua, tapi dia adalah masa depan Papua, dan aku yakin banyak anak muda Papua yang seperti Goan, siap mengembangkan diri sekaligus mengembangkan Papua.

Wednesday, December 04, 2019

Perjalanan ke Agats (4): Seni Ukir dan Wisata Alam

Sebagian patung hasil kurasi panitia Festival Asmat.

Museum Asmat

Buaya leluhur

Sebagian sisi dari bagian dalam museum Asmat

Salah satu pojok foto di deretan Kopi Bakau

Patung Tangan di pusat kota Agats

Menghindari lalat babi dengan mepet ke api unggun

Yan Smith yang memprihatinkan

Sore di pelabuhan Agats

Perkampungan dekat pelabuhan

Salah satu kelompok yang hadir saat ekaristi 50 tahun Keuskupan Agats

Jembatan Jokowi, Agats.

Suku Asmat sudah familer di telingaku sejak dulu. Yang paling kukenali dari mereka adalah karya seni ukir yang mereka hasilkan. Kali ini aku bisa menikmati karya-karya mereka secara langsung termasuk bagaimana mereka melakukannya. Keberuntunganku adalah perjalananku kali ini bertepatan dengan Festival Asmat Pokman (pokman = karya tangan), dan saat itu ada ratusan seniman berkumpul di Agats dengan karya ukir, anyaman. Masih ditambah dengan para penari dan pendayung.

Sayangnya aku punya agenda lain bersamaan itu dengan SGPP KWI tapi tetap saja aku beruntung menikmati remah-remah yang masih boleh kupungut. Aku menggunakan jadwal festival yang dipasang di hotel, di kantin juga di tempat-tempat strategis di kota itu untuk memastikan mana yang bisa kuikuti dalam rangkaian festival.

Hari pertama aku dan beberapa tamu sudah diundang oleh Mgr. Aloys untuk mengunjungi Museum Asmat. Saat tiba di halamannya yang luas dan sedang disiapkan untuk pusat festival, mata dan hatiku sudah dimanja dengan ratusan ukiran berbagai ukuran yang sudah dikurasi oleh panitia. Hasil karya yang lolos kurasi itu akan dilelang dalam hari-hari festival Asmat.

Beberapa hasil karya ukir itu tampak mencuat di mataku dan menarikku untuk mencermati lebih lanjut. Ada cerita yang terungkap dari setiap ukiran. Beberapa di antaranya ada konten biblis yang diterjemahkan dalam warna Asmat. Misal ada kisah tentang Adam dan Hawa di Taman Eden. Ular/setan digambarkan dalam wajah manusia dengan gerak menggoda. Ada juga penggambaran dunia 'bawah', 'tengah' dan 'atas'. Selain penggambaran manusia juga ada bentuk yang sering muncul yaitu perahu, pepohonan, alat musik dan senjata.

Saat masuk ke museum, yang mencolok mataku pertama-tama adalah buaya besar di tengah ruangan. Tampak besar dan gagah. Konon itu adalah buaya yang sebenarnya, diawetkan dan dianggap sebagai leluhur. Mulutnya yang terbuka diberi persembahan-persembahan, yaitu uang dan rokok. Selain itu juga dikoleksi patung-patung segala bentuk segala ukuran, macam-macam senjata yang digunakan oleh suku Asmat, dan sebagainya. Di dinding dekat pintu masuk/keluar dipasang peta yang membuatku semakin ngeh lokasi Asmat ini juga kedekatannya dengan daerah-daerah lain.

Keluar dari Museum kami belok ke kanan ada deretan kopi bakau dengan pojok foto bagi siapa pun yang datang. Karena kopi bakau belum tersedia ya foto-foto itulah yang kami lakukan. Hehehe...

Saat pembukaan festival pas banget dengan seminar untuk para pelajar. Tapi kami break saat pawai dimulai sehingga aku bisa merekam pawai mereka dan menikmati gerak Asmat dan kostum yang mereka gunakan secara langsung.

Banyak agenda lain setelah pembukaan tapi aku malah nyempil di Aula Kantor Bupati. Huh. Tapi sekali ada kesempatan aku tak melewatkan tour bakau seperti yang ditawarkan oleh panitia. Kami diajak menyusuri sungai di Agats dan berhenti sebentar di sebuah pondok untuk menikmati suku Asmat dalam ritualnya. Tidak terlalu lama dan membuatku sedikit kecewa tapi cukuplah juga untuk membuktikan bahwa Agats, bahwa Asmat mempunyai daerah yang indah alamnya dengan beberapa ancaman yang nyata: pendatang yang ndak mudeng budaya setempat, air sungai yang keruh oleh pencemaran (oleh tambang?) dan masuknya budaya instan dalam segala lini kehidupan. Huh.

Puncak acara tak bisa kuikuti karena terlalu capek dan aku harus 'memaksa' Sr. Natalia untuk diam saja di hotel karena kakinya yang bengkak. Jadi hari Sabtu 23 Nopember aku menikmati sore dengan jalan ke pasar Agats bersama Goan lalu tidur, makan, tidur makan. Ohya, aku berkunjung juga ke pelabuhan dimana patung Yan Smith berdiri rusak di sana. Mengambil foto-foto sunset yang indah di pelabuhan lalu makan bakso di dekat Patung Tangan kota Agats.

Hari Minggu 24 Nop menjadi puncak peringatan 50 tahun Keuskupan Agats ditandai dengan ekaristi inkulturasi di halaman museum Asmat. Acara ini memuaskanku. Bahkan hingga hidangan yang mereka sajikan. Pun ketika disambung dengan acara makan malam di aula Keuskupan Agats pada malam harinya, aku menikmatinya sangat.

Wisata lain kusambung tanggal 25 nop dengan bermotor listrik bersama Sr. Natalia ke Jembatan Jokowi, untuk mendapatkan foto donggg....

Jadiiii, kalau ada kesempatan lagi pergi ke tempat ini, aku sudah punya deretan yang ingin kunikmati secara lebih:

1. Menelusuri sungai-sungai Asmat dengan tanaman-tanaman bakaunya yang beragam.

2. Menikmati seniman-seniman Asmat merenda di atas kayu-kayu, seperti tanpa konsep langsung ukir saja.

3. Mencoba tinggal di rumah-rumah asli mereka dan menggunakan cara mereka untuk bertahan hidup.

Nah, begitulah.

Tuesday, December 03, 2019

Perjalanan ke Agats (3): Sanitasi dan Air Bersih yang Susah


Jalan depan antara aula dan kantor bupati Agats

Lihat atap di sebelah kanan itu, ada selang/pipa untuk mengalirkan air hujan yang ditangkap oleh atap, masuk ke talang dan masuk ke penampungan air.

Sungai samping hotel saat pasang

Semuanya tanah rawa yang pasang surut.

Bagian lobi hotel Sang Surya.

Kebiasaanku kalau datang ke suatu tempat asing yang pertama-tama adalah tanya di manakah kamar mandi dan WCnya, apalagi kalau rencana akan tinggal dalam beberapa lama di tempat itu. Itu juga yang kutanyakan ketika sudah mendapatkan kunci kamar di Hotel Sang Surya Agats. Aku menempati kamar no. 6 yang terletak di lorong pertama setelah lobi. Kamar itu dekat dengan sungai samping hotel sehingga kalau aku membuka jendela kamar, aku bisa melihat hilir mudiknya speedboat atau perahu saat air sedang pasang.

Kamar itu berukuran sekitar 2,5 X 2,5 m2 dengan kasur untuk satu orang dengan satu bantal satu selimut dan satu handuk besar, satu meja yang di atasnya ada kipas angin, alat mandi dan sisir, satu kursi, satu lemari tanpa pintu dan satu cermin. Di lantai ada dua pasang sandal jepit warna putih dan hitam. Mengikuti hasrat aku pakai sandal putih untuk di dalam kamar sedang sandal hitam untuk ke luar kamar. Hehehe...

Kamar mandi terletak di luar kamar, setelah melewati kamar-kamar lain dan ruang cuci seterika. Kamar mandi dipisahkan antara laki-laki dan perempuan dan tiap pintu diberi tulisan peringatan untuk menghemat air karena air di situ didapatkan dari tampungan air hujan. Jika tidak hujan maka air akan menipis bahkan tidak ada lagi yang bisa digunakan.

Hotel ini cukup bersih dan air berkecukupan karena mempunyai bak-bak penampung air hujan yang sangat banyak. Pun begitu semua orang yang ada di situ harus berhemat dalam penggunaan air karena tidak bisa memprediksi kapan hujan atau tidak.  Jadi, walaupun berhemat air, selama aku tinggal di Hotel Sang Surya Agats aku tidak mengalami masalah besar soal air.

Ketika dua hari mengisi acara di Aula Ja Asamanam Apcamar, aula milik kantor Bupati Agats, aku berharap hal yang sama dengan di hotel. Tapi rupanya tidak. Ada dua kamar mandi/toilet di bagian belakang aula, dan tak ada sedikit pun air di sana. Jadi bagaimana urusan kencing atau berak? Huhuhuu... di sinilah air botol dan tisu jadi korban. Terpaksa aku menggunakan sebotol kecil air minum, tisu basah dan tisu kering untuk menyelesaikan urusan kamar mandi. Agak repot apalagi kami dua hari menggunakan aula itu dalam waktu yang cukup lama.

Saat aku masuk dapur kantin depan hotel berniat baik untuk membantu mencuci piring, Bude Anas yang mengelola kantin malah teriak-teriak: "Ndak usah bantu, mbak. Bisa malapetaka nanti. Bukannya membantu malah mborosin air. Kalau nyuci di sini mesti menggunakan cara yang berbeda dengan di tempat yang air berlimpah." Aku pun mundur teratur. Oke deh.

Di komunitas yang aku kunjungi seperti FSGM mereka memiliki tandon air yang besar dalam jumlah banyak. Pun begitu mereka tetap hati-hati dalam penggunaan air. Mereka beruntung bisa mempunyai fasilitas itu. Di rumah penduduk tampak bak-bak penampung air itu untuk mencukupi kebutuhan mereka. Tapi jelas tidak semua orang mempunyai akses yang sama untuk memiliki tandon air karena membutuhkan biaya besar dalam pemasangannya.

Mereka sangat tergantung pada air hujan untuk pengadaan air bersih sehari-hari. Air rawa tidak layak untuk digunakan kecuali dengan pengolahan sebelumnya. Konon ada juga sumur bor hingga 200-300 m penggalian. Itu pun tidak mesti mendapatkan air yang sehat.

(Sorry tidak banyak foto yang bisa mewakili ceritaku tentang sanitasi dan air besih. Semoga kali berikutnya ke Agats aku dapat mengingat untuk memotret segala hal yang perlu untuk cerita semacam ini.)