Judul itu klise banget. Biasanya juga kurasakan biasa saja kalau ada ngomong begitu: "Aku kuat karena cinta." Huhuhu...
Tapi kemarin, Minggu, 20 Januari 2019 aku merasakan betul-betul bahwa kalimat itu bukan hanya sekadar kalimat klise. Cinta, memang sungguh-sungguh membuat kuat.
Sepulang dari Jakarta, kondisi capek dan kaki bengkak karena seharian tidak berbaring, aku langsung makan banyak dengan sisa sate yang ada di rumah, lalu berbaring diam-diam dekat Bernard. Badannya panas, tidak mau ngomong apa-apa, dan sesekali dia ke kamar mandi karena diare. Huft. Jarang sekali Bernard selemes itu, jadi aku hanya ingin diam di sampingnya. Tapi karena aku sendiri sangat capek, hanya beberapa menit aku sudah terlelap.
Hari minggu aku berharap Bernard sudah segar lagi. Aku sendiri merasa badan pegal-pegal, agak demam dan malas banget untuk beranjak dari kasur. Jam 8-an aku baru bangun dengan lemes untuk ngecek Bernard. "Makan ya Nard?" Tanyaku.
"Makan apa? Aku mau yang berkuah." Hmmm, baru sadar kalau aku belum masak dan tak punya bangan apa pun. Jadi segera masak nasi, cuci muka, ganti baju, mengeluarkan motor ke tukang sayur. Udah tuh, rasa capek dan demam langsung hilang. Tak terasa lagi. Masak dengan cepat sayur bayam, tempe, tahu, telur dadar dan manasin ikan lele sisa kemarin yang dimasakin Wawak.
Lalu merayu-rayu Bernard untuk makan agak banyak. Menyuapinya, sambil menawarin mau apa lagi, apakah mau jajanan, roti, susu dan seterusnya dan seterusnya.
Sampai sekarang saat aku menulis ini, aku udah lupa rasa capek dan demamku. Aku sehat karena memang harus sehat. Love you, Bernard.
Monday, January 21, 2019
Monday, January 07, 2019
Liburan Bersama Katherine Paterson
Katherine Paterson adalah kawan baik untuk liburan tenang pergantian tahun lalu, selain Pram, James, Dewi, Toto-chan, dan lain-lain. Ketemu dengan Katherine tidak sengaja. Pagi-pagi, aku membungkuk di rak novel. Dua buku ini bersandingan: Rebels of the Heavenly Kingdom dan Jacob Have I loved.
Aku ambil buku yang pertama sambi bertanya-tanya kenapa buku cerita ini ada di rak novel, karena nama Katherine Paterson kayaknya (ahhh...ndak yakin juga), adalah pengarang cerita anak. Huhuhu). Aku tak inget jalan ceritanya juga tokohnya. Pasti aku pernah membacanya dulu dan intuisiku menggolongkan buku itu di bagian novel, tapi aku tak ingat sama sekali.
Aku membacanya dalam waktu sehari, diselingi masak, makan, berkebun sedikit-sedikit dan chating sedikit-sedikit. Kisah yang mendebarkan, perjalanan seorang anak laki-laki bernama Wang Lee, perjumpaannya dengan Mei Lin, perjuangan bersama prajurit Kerajaan Surgawi yang aneh (bagiku), hingga kemudian pada akhirnya hidup di rumah masa kecilnya kembali. Hmmm..., ini kayak cerita untuk menegakkan kembali 'keyakinan' pada hakikatnya. Tidak untuk kekuasaan, untuk merebut negara, untuk menang dan merasa paling benar, menggunakan nama 'keyakinan' sebagai pembenar untuk segala hal itu. Wang Lee merasa perjuangan seperti itu tidak benar. Dan dia kembali. Menjadi manusia baru yang memulai lagi dari awal, dari cinta. Hehehe... aku mengomentari buku ini seolah-olah buku ini mudah diartikan demikian. Tapi memang menyenangkan membaca perjalanan manusiawi macam seperti ini ditulis oleh Katherine.
Juga buku kedua, judulnya seperti kalimat Ishak yang mengatakan: Aku mengasihi Yakub. Yakub ini salah satu dari anak kembarnya, Esau dan Yakub. Esau yang pertama lahir lalu Yakub. Dan Yakublah yang berlimpah perhatian dan kasih sayangnya.
Buku ini pun tentang dua anak kembar. Sarah Louis dan Caroline. Louis cemburu setengah mati karena seluruh perhatian sepertinya tertuju pada Caroline. Juga seluruh kasih sayang. Tapi dalam perjalanannya, pada bagian akhir buku, dia mulai melihat: apa yang dipikirkannya salah. Semua harus diawali dengan kehendaknya, bukan berharap dari orang lain. Ketika kehendak kuat, maka yang lain menjadi supporter, pendukung, pemerhati, penolong. Kesadaran itu yang mempengaruhi sikapnya sebagai Louis dewasa, seorang perawat di sebuah lembah.
Bayi kedua dari kelahiran kembar, ketika yang seorang begitu kuat dan yang seorang sangat lemah, membuat perhatian tertuju pada si lemah. Si kuat yang tidak dikuatirkan menjadi kesepian dan menganggap tak ada cinta baginya. Semua orang ingin dikuatirkan, ok, tapi jika suatu saat kau menemukan si kuat dan si lemah, rawatlah si lemah dengan baik dan jangan pernah lupa untuk memeluk si kuat.
Katherine berhasil mengharu biru hatiku dengan dua buku ini, terlebih saat itu aku sedang pada halaman-halaman pertawa pengulangan buku James. Sepertinya memang liburan ini aku mesti lebih mawas diri sekaligus bersantai dengan cara-cara sederhana seperti yang ditunjukkan oleh Katherine lewat dua bukunya ini. Hmmm, aku lupa apakah ada buku Katherine yang lain yang aku miliki. Ini macam perasaaan 'menyepelekan', padahal banyak hal luar biasa yang sudah aku dapatkan dari dua novel yang seringkali dikategorikan sebagai novel anak-anak ini. Thank you, Katherine. Liburan berikutnya moga menemukan bukumu yang lain di rakku.
Aku ambil buku yang pertama sambi bertanya-tanya kenapa buku cerita ini ada di rak novel, karena nama Katherine Paterson kayaknya (ahhh...ndak yakin juga), adalah pengarang cerita anak. Huhuhu). Aku tak inget jalan ceritanya juga tokohnya. Pasti aku pernah membacanya dulu dan intuisiku menggolongkan buku itu di bagian novel, tapi aku tak ingat sama sekali.
Aku membacanya dalam waktu sehari, diselingi masak, makan, berkebun sedikit-sedikit dan chating sedikit-sedikit. Kisah yang mendebarkan, perjalanan seorang anak laki-laki bernama Wang Lee, perjumpaannya dengan Mei Lin, perjuangan bersama prajurit Kerajaan Surgawi yang aneh (bagiku), hingga kemudian pada akhirnya hidup di rumah masa kecilnya kembali. Hmmm..., ini kayak cerita untuk menegakkan kembali 'keyakinan' pada hakikatnya. Tidak untuk kekuasaan, untuk merebut negara, untuk menang dan merasa paling benar, menggunakan nama 'keyakinan' sebagai pembenar untuk segala hal itu. Wang Lee merasa perjuangan seperti itu tidak benar. Dan dia kembali. Menjadi manusia baru yang memulai lagi dari awal, dari cinta. Hehehe... aku mengomentari buku ini seolah-olah buku ini mudah diartikan demikian. Tapi memang menyenangkan membaca perjalanan manusiawi macam seperti ini ditulis oleh Katherine.
Juga buku kedua, judulnya seperti kalimat Ishak yang mengatakan: Aku mengasihi Yakub. Yakub ini salah satu dari anak kembarnya, Esau dan Yakub. Esau yang pertama lahir lalu Yakub. Dan Yakublah yang berlimpah perhatian dan kasih sayangnya.
Buku ini pun tentang dua anak kembar. Sarah Louis dan Caroline. Louis cemburu setengah mati karena seluruh perhatian sepertinya tertuju pada Caroline. Juga seluruh kasih sayang. Tapi dalam perjalanannya, pada bagian akhir buku, dia mulai melihat: apa yang dipikirkannya salah. Semua harus diawali dengan kehendaknya, bukan berharap dari orang lain. Ketika kehendak kuat, maka yang lain menjadi supporter, pendukung, pemerhati, penolong. Kesadaran itu yang mempengaruhi sikapnya sebagai Louis dewasa, seorang perawat di sebuah lembah.
Bayi kedua dari kelahiran kembar, ketika yang seorang begitu kuat dan yang seorang sangat lemah, membuat perhatian tertuju pada si lemah. Si kuat yang tidak dikuatirkan menjadi kesepian dan menganggap tak ada cinta baginya. Semua orang ingin dikuatirkan, ok, tapi jika suatu saat kau menemukan si kuat dan si lemah, rawatlah si lemah dengan baik dan jangan pernah lupa untuk memeluk si kuat.
Katherine berhasil mengharu biru hatiku dengan dua buku ini, terlebih saat itu aku sedang pada halaman-halaman pertawa pengulangan buku James. Sepertinya memang liburan ini aku mesti lebih mawas diri sekaligus bersantai dengan cara-cara sederhana seperti yang ditunjukkan oleh Katherine lewat dua bukunya ini. Hmmm, aku lupa apakah ada buku Katherine yang lain yang aku miliki. Ini macam perasaaan 'menyepelekan', padahal banyak hal luar biasa yang sudah aku dapatkan dari dua novel yang seringkali dikategorikan sebagai novel anak-anak ini. Thank you, Katherine. Liburan berikutnya moga menemukan bukumu yang lain di rakku.
Saturday, December 29, 2018
Aksi untuk Korban Tsunami Selat Sunda
Tsunami yang terjadi di sekitar Selat Sunda mengagetkan banyak orang, 23 Desember 2018, sekitar 21.30. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tiba-tiba terjadi. Awalnya banyak orang menyepelekan, ternyata ratusan korban meninggal dan ribuan orang harus mengungsi.
Spontan aksi tanggap darurat dilakukan. Keuskupan Tanjungkarang melalui Caritas Tanjungkarang langsung terjun memberikan bantuan darurat dan assesment untuk mengetahui kondisi konkret, terus berjalan sampai sekarang dibantu oleh Caritas Indonesia dan seluruh umat.
Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) mengambil porsi dalam Lampung Ikhlas bersama Walhi Lampung, YKWS dan lain-lain pun bergerak.
Kemarin, 28 Desember 2018, anak-anak muda dari dusun V Perumahan Polri Hajimena juga melakukan aksi serupa. Mereka mengumpulkan bantuan dari seluruh perumahan dan menyerahkan ke Kunjir Kalianda.
Melalui beberapa grup WA aku juga tahu banyak lembaga dan perorangan bergerak membantu korban, pengungsi dan juga yang masih berada di rumah-rumah pesisir. Pun, aku masih berseling dengan rasa kuatir karena Anak Krakatau masih terus bergolak. Kontak dengan teman-teman KSDA Lampung juga selalu mantengin info dari BMKG tidak menyurutkan rasa kuatir itu.
Jika alam bergerak, manusia harus lebih rendah hati melayaninya. Semua ini adalah alat bagi Sang Pencipta untuk menunjukkan kuasa dan kasihNya.
Hal kecil seperti yang dilakukan oleh Albert dan kawan-kawannya itu pun masuk dalam apresiasi hatiku. Aku mengucapkan terimakasih padanya dan kawan-kawannya yang rela melakukan hal semacam itu, sekecil apa pun.
Mungkin nanti atau besok atau entah, juga ada lagi peristiwa tak terduga yang bisa terjadi pada siapa pun, lewat gerak alam.
Kunfaya kun.
Spontan aksi tanggap darurat dilakukan. Keuskupan Tanjungkarang melalui Caritas Tanjungkarang langsung terjun memberikan bantuan darurat dan assesment untuk mengetahui kondisi konkret, terus berjalan sampai sekarang dibantu oleh Caritas Indonesia dan seluruh umat.
Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) mengambil porsi dalam Lampung Ikhlas bersama Walhi Lampung, YKWS dan lain-lain pun bergerak.
Kemarin, 28 Desember 2018, anak-anak muda dari dusun V Perumahan Polri Hajimena juga melakukan aksi serupa. Mereka mengumpulkan bantuan dari seluruh perumahan dan menyerahkan ke Kunjir Kalianda.
Melalui beberapa grup WA aku juga tahu banyak lembaga dan perorangan bergerak membantu korban, pengungsi dan juga yang masih berada di rumah-rumah pesisir. Pun, aku masih berseling dengan rasa kuatir karena Anak Krakatau masih terus bergolak. Kontak dengan teman-teman KSDA Lampung juga selalu mantengin info dari BMKG tidak menyurutkan rasa kuatir itu.
![]() |
| Lokasi yang didatangi Albert dkk. |
Hal kecil seperti yang dilakukan oleh Albert dan kawan-kawannya itu pun masuk dalam apresiasi hatiku. Aku mengucapkan terimakasih padanya dan kawan-kawannya yang rela melakukan hal semacam itu, sekecil apa pun.
Mungkin nanti atau besok atau entah, juga ada lagi peristiwa tak terduga yang bisa terjadi pada siapa pun, lewat gerak alam.
Kunfaya kun.
Advent 2018 (5): Kekuatan Pikiran
Bagian kelima, atau terakhir, bisa kutulis pada masa Natal. Tepatlah ini kulakukan sebagai bagian dari pergantian tahun juga dan kukerjakan dalam masa yang sangat tenang liburan pergantian tahun di rumah.
Beberapa bacaan mempengaruhi tulisan ini seturut dengan bacaanku selama liburan. Novel Pram, cerpen-cerpen beberapa penulis, dan tulisa James Redfield. Yang terakhir ini seperti bungkus bagi semuanya yang membuatku ingat untuk menulis seperti judul di atas: Kekuatan Pikiran.
Pengalaman membuatku yakin bahwa pikiran memiliki kekuatan yang bisa mengubah segala hal. Kalau Natal dengan kelahiran bayi Yesus mengubah dunia menjadi seperti sekarang ini sekaligus dengan pro dan kontranya, pikiran dari mulai yang kecil mampu mengubah orang, peristiwa dan juga dunia. Ini seperti memulai dari batu pertama yang kemudian diperkuat dengan batu-batu selanjutnya hingga kemudian menjadi sebuah rumah. Batu pertama itu adalah pikiran pertama yang membuat rumah itu mungkin terjadi. Dalam prosesnya bisa saja ada dinamika, kadang terhenti kadang terkendala. Menumpuk batu-batu berikutnya adalah bagian dari memperkuat pikiran.
Dalam tahun ini, aku tahu ada kata yang spesial yang mesti kuingat, yaitu: Kesaksian. Sebelum libur, aku sudah menuliskan sesuatu dalam carik kertas di kantor yang berisi tentang hal itu. Sepanjang tahun ini aku telah dipersiapkan secara apapun untuk sampai pada kesaksian.
Maka kata ini juga yang akan aku gunakan sepanjang tahun 2019. Beberapa hal terbayang di depan mata dengan visi yang semakin jelas dan pikiran yang selalu terkuatkan untuk sampai ke sana, bahkan sampai detail sedetail-detailnya. Untuk itu, aku akan melewati pergantian tahun dengan gembira. Aku tahu, kata Kesaksian ini memiliki konsekwensi yang besar dengan segala resikonya. Aku bisa memperkirakan, dan aku akan melaluinya.
Beberapa bacaan mempengaruhi tulisan ini seturut dengan bacaanku selama liburan. Novel Pram, cerpen-cerpen beberapa penulis, dan tulisa James Redfield. Yang terakhir ini seperti bungkus bagi semuanya yang membuatku ingat untuk menulis seperti judul di atas: Kekuatan Pikiran.
Pengalaman membuatku yakin bahwa pikiran memiliki kekuatan yang bisa mengubah segala hal. Kalau Natal dengan kelahiran bayi Yesus mengubah dunia menjadi seperti sekarang ini sekaligus dengan pro dan kontranya, pikiran dari mulai yang kecil mampu mengubah orang, peristiwa dan juga dunia. Ini seperti memulai dari batu pertama yang kemudian diperkuat dengan batu-batu selanjutnya hingga kemudian menjadi sebuah rumah. Batu pertama itu adalah pikiran pertama yang membuat rumah itu mungkin terjadi. Dalam prosesnya bisa saja ada dinamika, kadang terhenti kadang terkendala. Menumpuk batu-batu berikutnya adalah bagian dari memperkuat pikiran.
Dalam tahun ini, aku tahu ada kata yang spesial yang mesti kuingat, yaitu: Kesaksian. Sebelum libur, aku sudah menuliskan sesuatu dalam carik kertas di kantor yang berisi tentang hal itu. Sepanjang tahun ini aku telah dipersiapkan secara apapun untuk sampai pada kesaksian.
Maka kata ini juga yang akan aku gunakan sepanjang tahun 2019. Beberapa hal terbayang di depan mata dengan visi yang semakin jelas dan pikiran yang selalu terkuatkan untuk sampai ke sana, bahkan sampai detail sedetail-detailnya. Untuk itu, aku akan melewati pergantian tahun dengan gembira. Aku tahu, kata Kesaksian ini memiliki konsekwensi yang besar dengan segala resikonya. Aku bisa memperkirakan, dan aku akan melaluinya.
MELINDUNGI KRAKATAU (2)
Ini tulisan yang kedua:
KEPULAUAN
KRAKATAU BELUM LAYAK MENJADI TUJUAN WISATA ALAM
Yuli
Nugrahani*
Ekskursi Gunung Anak Krakatau dilakukan
pada Sabtu, 25 Agustus 2018 dalam rangkaian Seminar Internasional Vulkanologi
Krakatau dan Pemanfaatannya di Masa Depan, pada 24 – 25 Agustus 2018 di Randu
Palace Hotel Bukit Randu Bandarlampung. Kegiatan ini melibatkan narasumber
Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, peneliti dari LIPI yang sering disebut sebagai
King of Krakatoa, Ir. Igan S. Sutawidjaja, M.Sc. dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi, dan Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T. Institut
Teknologi Bandung, dengan moderator Dr. Ir. Bambang Priadi, DEA dari Itera.
Kunjungan ke Kepulauan Krakatau dimulai dari Pulau Sebesi membuat saya
mengambil kesimpulan yang saya gunakan sebagai judul tulisan ini.
Kepulauan Krakatau belum (tigak) layak
menjadi tujuan wisata alam atau geowisata atau apa pun dengan istilah wisata.
Dari mana kesimpulan ini bisa ditarik? Saya mengacu pada apa yang saya lihat
dan amati di kawasan itu saat ikut dalam ekskursi tersebut. (Perlu diketahui,
perjalanan ke Krakatau itu berubah jadwalnya, yang semula direncanakan hanya
memutari Gunung Anak Krakatau melakukan pengamatan dari atas kapal, ternyata
memberikan kesempatan kapal untuk mendarat dan peserta bisa menginjakkan kaki
di Pulau Anak Krakatau yang gunungnya sedang sangat aktif dengan erupsi terus
menerus dalam beberapa bulan terakhir ini.)
Kepulauan Krakatau yang terletak di
Selat Sunda sekarang ini berstatus cagar alam dan cagar alam laut masuk dalam
wilayah administrasi Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Kawasan ini
berada di bawah mengelolaan BKSDA Bengkulu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage Site. Kawasan ini mempunyai
luas 13.735 Ha terdiri dari Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang dan
lautan yang di sekitarnya. Sebagai cagar alam, hanya kegiatan tertentu saja
yang diperbolehkan yaitu: penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,
pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam, penyerapan dan
penyimpanan karbon dan pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang
budidaya dengan menggunakan tumbuhan atau satwa liar.
Untuk masuk kawasan ini, setiap calon pengunjung harus mendapatkan Surat
Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang diterbitkan oleh BKSDA Bengkulu
atau Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem di Jakarta.
Di dalamnya termuat kewajiban pemohon dengan tandatangan di atas meterai. Dan
harus diingat, seluruh kegiatan apa pun yang dilakukan oleh pemohon harus
mendapatkan pendampingan dari petugas.
Dengan demikian tidak sembarang orang
bisa masuk ke dalam kawasan, terlebih orang-orang yang tidak paham peran cagar
alam atau cagar alam laut bagi dunia dan tidak mendapatkan surat ijin. Selama
masih dalam status Cagar Alam, orang-orang harus taat pada standar yang
diterapkan oleh lembaga terkait, tidak bisa begitu saja masuk ke dalamnya
secara illegal atau sembunyi-sembunyi, yang memungkinkan cagar alam menjadi
rusak dan menghilangkan beberapa fungsinya.
Trip ke Gunung Anak Krakatau yang
dilakukan pada hari kedua seminar dalam rangkaian Festival Krakatau menjadi
salah satu cara untuk mendapatkan dukungan terhadap Krakatau sebagai destinasi
wisata. Propinsi Lampung sudah mengusulkan untuk mengubah sebagian kawasan
cagar ala mini menjadi taman wisata alam sejak beberapa tahun lalu. Hadir
kelompok-kelompok yang dekat dengan kepariwisataan Lampung dalam seminar ini.
Sayangnya, pengantar dari petugas BKSDA di lokasi maupun materi-materi dari
seminar sehari sebelumnya tidak memberi banyak arti dalam perilaku pengunjung
saat ekskursi berlangsung.
Pertama, sampah plastik berceceran di
sepanjang pantai. Saya tidak ikut masuk ke kawasan hutan karena saya merasa
tidak ada kepentingan ke sana. Semoga plastik-plastik itu tidak terserak juga di
hutan, yang menjadi sumber ilmu berbagai cabang. Tapi di pantai berpasir hitam
yang indah itu, terserak plastik-plastik atau benda-benda tidak ramah alam
entah baru atau lama yang jelas akan merusak keindahan dan keberlangsungan
hidup Krakatau.
Kedua, tidak semua pengunjung punya
tujuan yang diperbolehkan di kawasan ini. Mereka masuk bahkan tanpa tujuan,
melihat-lihat, selfi, dan kemudian
memamerkan di medsos tanpa keterangan yang cukup tentang keberadaan mereka di
Krakatau. Tidak ada peran pendidikan atau peningkatan kesadartahuan konservasi
alam yang signifikan ingin dilakukan oleh mayoritas pengunjung. Pengantar dari
petugas BKSDA dan narasumber tidak memberi pengaruh yang cukup untuk sampai
pada kesadaran tersebut.
Ketiga, tidak ada fasilitas pengaman yang
cukup untuk melindungi keselamatan pengunjung, khususnya para peserta ekskursi
yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Propinsi Lampung ini. Saya tidak yakin
semua peserta punya asuransi perjalanan, tidak ada jaminan keselamatan kapal
walau semua diharapkan memakai pelampung (satu kapal sempat tertinggal karena
ada mesinnya mogok. Bayangkan jika kapal ini mogok saat sandar di Pulau Anak
Krakatau), tidak ada perlindungan apapun yang ditawarkan saat mendarat di Pulau
Anak Krakatau padahal gunung ini sedang sangat aktif. Erupsi terjadi tidak
teratur dalam rentang sekian menit yang acak. Bahkan kemudian peserta diajak
berjalan melintasi hutan sekitar 200 meter tanpa syarat apa pun tentang siapa
yang boleh ikut atau tidak. Misalnya syarat alas kaki yang boleh digunakan,
pakaian, kesehatan, ketersediaan tempat berlindung andai ada letusan besar,
perubahan arah angin dan sebagainya.
Keempat, tak ada fasilitas publik yang
memadai misalnya tempat membuang sampah, toilet, penyedia kebutuhan penting dan
sebagainya. Pengunjung yang paham pasti sudah bisa melakukan antisipasi
tindakan bijaksana, tapi tanpa syarat pengunjung, hal ini membuat resiko
pengunjung bertambah.
Kawasan kepulauan Krakatau adalah tempat
yang indah. Semua orang punya hak untuk menikmatinya, bukan hanya generasi
sekarang ini, tapi juga generasi nanti dan dari berbagai kalangan tanpa kecuali
karena inilah kekayaan alam kita. Namun, tanpa persiapan untuk tetap melindungi
Krakatau maupun pengunjungnya, penerapan Krakatau sebagai tujuan wisata jelas
tak bisa dilakukan. Mengubah status cagar alam sebagai cara untuk menambah
jumlah pengunjung juga bukan cara yang bijak dan aman. Memperkuat dukungan
terhadap kerja BKSDA adalah salah satu cara, supaya mereka bisa konsisten
menerapkan standar kunjungan umum ke kawasan ini. Dengan sumber daya manusia
dan uang yang minim mereka sudah berusaha menjadi pagar bagi kawasan ini. Namun
patroli 24 jam pun belum bisa mereka lakukan apalagi menjaga keseluruhan asset
yang ada dalam keindahan Krakatau sehingga pasti ada saja pengunjung illegal
yang datang.
Dengan seluruh situasi seperti itu,
masihkan akan dipaksakan perubahan beberapa daerah dalam Kawasan Krakatau
sebagai taman wisata alam? Tidakkah lebih baik mempersiapkan Pulau Sebesi
sebagai daerah wisata untuk menikmati Krakatau sekaligus mengembangkan
masyarakat di sana? Tidakkah masih perlu kajian lebih lanjut dari seminar
internasional (yang perlu dikoreksi karena seminar rupanya tidak melibatkan
Negara lain untuk memenuhi syarat sebagai seminar internasional) yang sudah
diadakan ini? Mestinya dibuat cara kreatif yang aman bagi kepariwisataan di
Lampung ini khususnya tentang Kepulauan Krakatau sehingga sebagai kekayaan
dunia Krakatau tetap terjaga, pun demikian dengan para pengunjung yang ingin
menikmatinya. ****
*Yuli Nugrahani adalah
cerpenis Lampung, dari Jaringan Perempuan Padmarini yang fokus pada bidang
gender dan lingkungan hidup.
MELINDUNGI KRAKATAU (1)
Tulisan ini kubuat seusai ikut trip ke Krakatau bulan Agustus lalu. Karena bencana tsunami Desember ini, dua tulisan ini aku posting supaya dibaca orang lain. Silakan menggunakannya sesuai kebutuhan:
KRAKATAU,
PARIWISATA ATAU CAGAR ALAM?
Yuli
Nugrahani*
Trip ke Kepulauan Krakatau membawa
keberuntungan bagi saya, yang sedang menyusun buku tentang Krakatau. Andai
melakukan perjalanan sendiri, tentu tak cukup satu juta rupiah untuk seluruh
perjalanan itu. Mengikuti ekskursi Gunung Anak Krakatau dalam rangkaian Seminar
Internasional Vulkanologi Krakatau dan Pemanfaatannya di Masa Depan, saya bisa
mengikuti kegiatan ini secara gratis.
Seminar internasional (tanpa Negara lain
yang terlibat dalam seminar bisakah ini disebut sebagai seminar internasional?)
diadakan pada 24 – 25 Agustus 2018 di Randu Palace Hotel Bukit Randu
Bandarlampung dengan undangan yang ditandatangani sendiri oleh Gubernur Lampung
M. Ridho Ficardo, M.SI. Hari pertama diisi dengan tiga sesi oleh Prof. Dr.
Tukirin Partomihardjo dari LIPI, Ir. Igan S. Sutawidjaja, M.Sc. dari Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman,
S.T., M.T. dari ITB, dengan moderator Dr. Ir. Bambang Priadi, DEA dari ITERA.
Di penghujung seminar, diumumkan bahwa
trip ke Gunung Anak Krakatau akan diadakan pada hari kedua dengan tujuan Pulau
Sebesi dan kemudian memutari Gunung Anak Krakatau. Tidak bisa mendarat di pulau
itu karena ijin dari KSDA Lampung (BKSDA Bengkulu) tidak keluar sampai sore itu
dan Gunung Anak Krakatau memang sedang dalam kondisi batuk terus terusan, aktif
erupsi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi.
Lalu mengapa keesokan harinya kami semua
bisa mendarat di cagar alam Gunung Anak Krakatau, bahkan berjalan sejauh kurang
lebih 200 meter melintasi hutan? Saya bilang, saya beruntung karenanya namun
juga merasa sedih, kecewa dan marah.
Saya beruntung bisa mendarat di tempat
itu. Bahkan ketika perahu yang kami naiki mulai mendekat ke kepulauan aktif
itu, saya sudah berdebar-debar senang. Ini seperti bertemu dengan seseorang
yang padanya saya sudah menambatkan cinta. Saya sedang menulis buku tentang
Krakatau dan baru kali inilah saya mendapatkan kesempatan melihat secara
langsung bagaimana gunung ini. Semakin mendekat, semakin saya dapat merasakan
cinta itu. Gunung Anak Krakatau tampak kokoh dijaga oleh tiga pulau di
sekitarnya: Sertung, Panjang dan Rakata. Tenang berdiri di tengah lautan yang
kebetulan sangat teduh dan tidak tinggi ombaknya. Sesekali dalam rentang yang
tak dapat diprediksi Gunung Anak Krakatau erupsi, mengeluarkan awan hitam panas
yang memutih di bagian atasnya karena persentuhan dengan atmosfir yang dingin
di atas. Ini adalah gunung yang sangat indah.
Saya beruntung bisa merasai pasir hitamnya
yang hangat. Saya bilang: Pulau ini, gunung ini menyimpan energi yang luar
biasa. Saya menjadi berkobar-kobar karenanya. Bukan hanya karena kokohnya,
menjulang dan semakin tinggi, tapi ini adalah tempat yang cantik. Beberapa
jenis tumbuhan, binatang terus bertumbuh menjadi ‘kalung’ di kaki dan
lerengnya, menjadi penghias bagi tubuhnya yang terus berdentum, batuk.
Saya beruntung karena tidak semua orang
mendapatkan kesempatan seperti ini. Bahkan tanpa rencana bisa menapaki pulau
dimana terletak kekayaan alam dunia, yang pernah meletus hebat beberapa kali
bertahun silam memberi dampak bagi seluruh dunia.
Rasa beruntung itu saya optimalkan
dengan bertahan di sekitar pasir pantai di kaki Gunung Anak Krakatau
menggunakan pancaindera. Saya awas pada bunyi dentuman yang muncul setiap
beberapa menit. Saya akan segera melihat melintasi ranting-ranting tanaman dan
melihat kepulan di puncak sana. Saya merasai air pantai yang beradu dengan
pasir hitam yang hangat. Saya mengamati tumbuh-tumbuhan juga serangga yang ada
di sekitarnya. Dan mau tak mau muncullah air mata itu ketika pengamatan seksama
itu saya lakukan.
Di sepanjang pantai terserak botol
plastik, sampah-sampah yang tak mungkin berasal dari dalam perut bumi. Aihdah kidah. Bagaimana mungkin cagar
alam yang didatangi orang secara terbatas pun mengalami seperti itu? Saya sedih
melihatnya. Prof. Tukirin, yang sejak menginjakkan kaki di pulau ini bersama
kami terlihat seperti tertekan. Entahlah, mungkin itu hanya asumsi saya. Saya
melihatnya memungut beberapa sampah plastik, namun seperti dilakukan tanpa
fokus, juga tidak diikuti oleh seluruh peserta. Malah sebagian besar tampak tak
peduli dengan hal itu. Seluruh suasana dan situasi itu membuat saya sedih.
Tentu saja saya beruntung bisa datang di
tempat itu, tapi saya juga kecewa. Bahkan sampai beberapa detik sebelum kapal
menambatkan jangkar, saya masih percaya bahwa rombongan yang dikoordinir oleh
Dinas Pariwisata Propinsi Lampung ini hanya akan memutari Gunung Anak Krakatau
dan kami akan mengamati gunung itu dari atas kapal. Sehari sebelumnya, beberapa
orang yang ikut dalam rombongan mengatakan kecewa karena diumumkan bahwa BKSDA
tak memberi ijin untuk masuk pulau. Saya bilang: Saya senang karena ijin tidak
keluar dan setuju dengan BKSDA. Jangan sampai ijin itu keluar. Kita tak punya
kepentingan apapun untuk masuk ke pulau.
Toh akhirnya peserta bisa mendarat di
Pulau Anak Krakatau. Walau kemudian dibungkus dengan pengantar bahwa kunjungan
ini melanjutkan study yang sudah dimulai dalam seminar sebelumnya, tak semua
peserta mempunyai pemahaman atau tujuan yang sama.
Saya marah karena perkara yang serius
seperti ini bisa dimainkan entah oleh apa. Sore jelas masih diumumkan dan
dikatakan bahwa tak ada ijin untuk masuk kawasan. BKSDA jelas mengawal proses
seminar dan perjalanan ini. Dalam seminar dikatakan bahwa tak ada ijin untuk
masuk pulau, namun kemudian paginya semua orang bisa masuk tanpa kecuali, tanpa
penjelasan tentang tujuan dari tiap person yang ikut, bahkan dipandu oleh para
narasumber yang hmmm… dengan wajah tidak terlalu gembira (atau tertekan?
Entahlah.) Tak ada syarat bagi pengunjung yang boleh masuk mengikuti para
ilmuwan itu. Dan tak ada persiapan keamanan apa pun.
Seminar dan ekskursi ini belum bisa
menyimpulkan bahwa taman wisata alam adalah yang terbaik bagi pemanfaatan
Krakatau di masa depan. Bagi saya, pariwisata harus dikemas tanpa merugikan
semua pihak, khususnya tak boleh merugikan kekayaan Lampung dan dunia seperti
Krakatau. Karena banyak alasan, Krakatau itu adalah sumber ilmu biologi,
geologi, fisika dan sebagainya. Karena banyak alasan, Krakatau itu memberikan
resiko yang besar bagi pengunjung tanpa persiapan. Karena banyak alasan,
Krakatau itu harus dilestarikan untuk tetap memberikan fungsi selama-lamanya
bagi dunia.
Jika memang pariwisata Lampung harus
mengetengahkan Krakatau, pemikiran serius harus dilakukan dengan
mempertimbangkan banyak aspek itu. Membebaskan semua orang datang ke Krakatau
bukan cara yang bijaksana karena menginjak satu biji pinus pun akan berpengaruh
bagi suksesi alam, apalagi dengan meninggalkan segala macam sampah di sana.
Terlebih dengan resiko tinggi yang mungkin muncul karena pengunjung tak cukup
paham tentang Krakatau dan karakteristiknya.***
*Yuli Nugrahani adalah
cerpenis Lampung, dari Jaringan Perempuan Padmarini yang fokus pada bidang
gender dan lingkungan hidup.
Friday, December 21, 2018
Advent 2018 (4): Masih tentang Pekerjaan-pekerjaan
Aku menyebut pekerjaan pertamaku adalah koordinator perburuhan di Vincentian Center Indonesia (VCI). Walau pun sebelumnya aku memberikan les tambahan untuk siswa siswi SMP, tapi lembaga yang resmi mencatatku sebagai pekerja ya di VCI ini. Ada kontrak kerja, ada gaji tetap dan ada pekerjaan rutin non rutin yang kukerjakan.
Pekerjaan ini tidak serta merta begitu saja kudapat. Ini kukira karena kedekatanku dengan para frater dan romo CM yang memang sudah terjalin sejak aku kuliah di Malang. Aku sering ikut kegiatan mereka. Pernah bersama-sama dalam jaringan Kelompok Setia Kawan (KSK). Ini kelompok dari berbagai macam ragam orang, mahasiswa, juga orang-orang yang peduli pada masyarakat miskin kota. Kegiatan utama adalah kunjungan ke komunitas pemulung, pengemis, gelandangan dan sebagainya di sekitar Kayutangan. Beberapa kali kerjasama dengan Gereja Kayutangan dengan membuat bazar murah, dengan barang-barang yang dikumpulkan dari banyak pihak yang peduli, entah bahan pangan atau pakaian. Bahkan aku pernah menjadi ketuanya.
Aku juga pernah ikut program Kalbar, yaitu sebulan di Kalimantan Barat dengan difasilitasi CM. Persiapan kurang lebih satu tahun untuk seleksi dan menyiapkan kami dengan pelatihan ansos, pendataan, live in dan sebagainya. Persiapan yang matang dan asyik, apalagi semuanya gratis. Hehehe...
Ketika aku lulus kuliah, belum wisuda, aku ditawarin masuk ke VCI untuk perburuhan. Nol pengalaman tentang buruh tapi aku mau. Dan itulah saatnya aku belajar tentang dunia buruh di sekitaran Bandulan dan Pandanlandung. Pekerjaan yang tak mudah dipahami bahkan harus kulalui dengan tinggal di kostan buruh, mencoba menjadi buruh dan sebagainya. Dari sanalah aku mendapatkan jaringan-jaringan perburuhan di Malang.
Karena aku mendapatkan tugas tambahan untuk mengelola buletin Terlibat (namanya aku yang paksain dipakai. Terlibat. Kalau mau membantu orang miskin harus terlibat, itulah semangatnya.), aku tak sengaja melihat pengumuman di Malang Post untuk ikut pelatihan jurnalistik. Pelatihan itu berbayar, tapi aku tak pernah membayar sepeser pun untuk pelatihan ini dan malah aku ditawarin untuk menjadi wartawan di Malang Post. Jadilah aku masuk ke lembaga kedua dimana aku menjadi pekerja resmi. Sampai beberapa lama aku masih merangkap dua pekerjaan di VCI dan Malang Post, hingga kemudian aku memilih: aku bekerja untuk Malang Post, sampai aku menikah dan pindah ke Lampung.
Lampung adalah tempat yang baru. Tak ada sahabat, tak ada sejarah. Beruntung pada suatu minggu usai misa aku bertemu Mgr. Henri. "Datanglah ke rumah nanti jam 7 malam," ujar Mgr. Henri setelah beberapa detik berjabat tangan. Mgr. Henri menuliskan alamat rumah dan menyodorkan padaku.
Malamnya aku diantar Mas Hen benar-benar datang. Hanya untuk bicara ngalor ngidul termasuk tentang Keuskupan Tanjungkarang. Lalu Mgr. Henri mengundangku ke kantor keuskupan hari Rabu setelah hari minggu itu. Aku menyanggupi untuk datang. Tak hanya ngobrol, aku diajak berkeliling kantor keuskupan, dikenalkan dengan beberapa orang karyawannya. Salah satunya Sr. Mathea yang pernah kukenal dalam sebuah pertemuan perburuhan.
Usai itu, Mgr. Henri menawariku,"Bekerjalah di sini. Rintis bagian justice and peace."
Tentu saja aku kaget. Aku menawar dengan dalih memikirkannya dan masih akan pergi ke Bandung dan Surabaya dalam waktu dekat. Mgr. Henri memberiku waktu dua minggu. Dan saat waktu dua minggu itu lewat, aku datang lagi ke rumah Mgr. Henri. "Saya bersedia, Mgr."
Keesokan harinya aku sudah bekerja untuk keuskupan Tanjungkarang di bagian justice and peace, mendapat satu ruang di lantai atas dan dibekali beberapa map dan buku oleh Mgr. Henri untuk merintis bagian justice and peace. Itu adalah bulan Nopember tahun 2000. Pada akhir bulan itu aku mendapatkan honor pertamaku Rp. 250 ribu. (Aku menganggapnya sebagai uang saku, tidak cukup untuk ongkos naik angkot. Aku harus naik angkot 3 kali setiap kali akan ke kantor, PP aku butuh belasan ribu sedangkan hari kerja 6 hari per minggu waktu itu. Aku bilang ke mas Hen,"Pokoke aku kudu disubsidi supaya bisa ke kantor tiap hari." Hehehe.)
Saat ini sudah 18 tahun lewat aku bekerja di kantor ini, dan menempati ruang bawah dengan nama bukan lagi bagian tapi Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau disingkat KKPPMP dengan bidang garapan gerakan aktif tanpa kekerasan, perburuhan dan anti human trafficking, ekologi, advokasi dan paralegal termasuk pendampingan para narapidana di lembaga pemasyarakatan, serta gerakan kesetaraan gender. Aku tidak bekerja sendiri di sini, tapi dibantu oleh Rm. Greg dan para relawan.
Sampai kapan aku di sini? Hehehe... aku tidak tahu. Bahkan ketika aku diminta mengerjakan Majalah Nuntius menjadi majalah bulanan dari tahun 2005 - 2014, aku pun tetap mensyaratkan kerja di bidang ini sebagai kerja utamaku.
Pekerjaan ini tidak serta merta begitu saja kudapat. Ini kukira karena kedekatanku dengan para frater dan romo CM yang memang sudah terjalin sejak aku kuliah di Malang. Aku sering ikut kegiatan mereka. Pernah bersama-sama dalam jaringan Kelompok Setia Kawan (KSK). Ini kelompok dari berbagai macam ragam orang, mahasiswa, juga orang-orang yang peduli pada masyarakat miskin kota. Kegiatan utama adalah kunjungan ke komunitas pemulung, pengemis, gelandangan dan sebagainya di sekitar Kayutangan. Beberapa kali kerjasama dengan Gereja Kayutangan dengan membuat bazar murah, dengan barang-barang yang dikumpulkan dari banyak pihak yang peduli, entah bahan pangan atau pakaian. Bahkan aku pernah menjadi ketuanya.
Aku juga pernah ikut program Kalbar, yaitu sebulan di Kalimantan Barat dengan difasilitasi CM. Persiapan kurang lebih satu tahun untuk seleksi dan menyiapkan kami dengan pelatihan ansos, pendataan, live in dan sebagainya. Persiapan yang matang dan asyik, apalagi semuanya gratis. Hehehe...
Ketika aku lulus kuliah, belum wisuda, aku ditawarin masuk ke VCI untuk perburuhan. Nol pengalaman tentang buruh tapi aku mau. Dan itulah saatnya aku belajar tentang dunia buruh di sekitaran Bandulan dan Pandanlandung. Pekerjaan yang tak mudah dipahami bahkan harus kulalui dengan tinggal di kostan buruh, mencoba menjadi buruh dan sebagainya. Dari sanalah aku mendapatkan jaringan-jaringan perburuhan di Malang.
Karena aku mendapatkan tugas tambahan untuk mengelola buletin Terlibat (namanya aku yang paksain dipakai. Terlibat. Kalau mau membantu orang miskin harus terlibat, itulah semangatnya.), aku tak sengaja melihat pengumuman di Malang Post untuk ikut pelatihan jurnalistik. Pelatihan itu berbayar, tapi aku tak pernah membayar sepeser pun untuk pelatihan ini dan malah aku ditawarin untuk menjadi wartawan di Malang Post. Jadilah aku masuk ke lembaga kedua dimana aku menjadi pekerja resmi. Sampai beberapa lama aku masih merangkap dua pekerjaan di VCI dan Malang Post, hingga kemudian aku memilih: aku bekerja untuk Malang Post, sampai aku menikah dan pindah ke Lampung.
Lampung adalah tempat yang baru. Tak ada sahabat, tak ada sejarah. Beruntung pada suatu minggu usai misa aku bertemu Mgr. Henri. "Datanglah ke rumah nanti jam 7 malam," ujar Mgr. Henri setelah beberapa detik berjabat tangan. Mgr. Henri menuliskan alamat rumah dan menyodorkan padaku.
Malamnya aku diantar Mas Hen benar-benar datang. Hanya untuk bicara ngalor ngidul termasuk tentang Keuskupan Tanjungkarang. Lalu Mgr. Henri mengundangku ke kantor keuskupan hari Rabu setelah hari minggu itu. Aku menyanggupi untuk datang. Tak hanya ngobrol, aku diajak berkeliling kantor keuskupan, dikenalkan dengan beberapa orang karyawannya. Salah satunya Sr. Mathea yang pernah kukenal dalam sebuah pertemuan perburuhan.
Usai itu, Mgr. Henri menawariku,"Bekerjalah di sini. Rintis bagian justice and peace."
Tentu saja aku kaget. Aku menawar dengan dalih memikirkannya dan masih akan pergi ke Bandung dan Surabaya dalam waktu dekat. Mgr. Henri memberiku waktu dua minggu. Dan saat waktu dua minggu itu lewat, aku datang lagi ke rumah Mgr. Henri. "Saya bersedia, Mgr."
Keesokan harinya aku sudah bekerja untuk keuskupan Tanjungkarang di bagian justice and peace, mendapat satu ruang di lantai atas dan dibekali beberapa map dan buku oleh Mgr. Henri untuk merintis bagian justice and peace. Itu adalah bulan Nopember tahun 2000. Pada akhir bulan itu aku mendapatkan honor pertamaku Rp. 250 ribu. (Aku menganggapnya sebagai uang saku, tidak cukup untuk ongkos naik angkot. Aku harus naik angkot 3 kali setiap kali akan ke kantor, PP aku butuh belasan ribu sedangkan hari kerja 6 hari per minggu waktu itu. Aku bilang ke mas Hen,"Pokoke aku kudu disubsidi supaya bisa ke kantor tiap hari." Hehehe.)
Saat ini sudah 18 tahun lewat aku bekerja di kantor ini, dan menempati ruang bawah dengan nama bukan lagi bagian tapi Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau disingkat KKPPMP dengan bidang garapan gerakan aktif tanpa kekerasan, perburuhan dan anti human trafficking, ekologi, advokasi dan paralegal termasuk pendampingan para narapidana di lembaga pemasyarakatan, serta gerakan kesetaraan gender. Aku tidak bekerja sendiri di sini, tapi dibantu oleh Rm. Greg dan para relawan.
Sampai kapan aku di sini? Hehehe... aku tidak tahu. Bahkan ketika aku diminta mengerjakan Majalah Nuntius menjadi majalah bulanan dari tahun 2005 - 2014, aku pun tetap mensyaratkan kerja di bidang ini sebagai kerja utamaku.
Monday, December 10, 2018
Menjelang Hari HAM di FSTV: Meruwat HAM lewat Seni Perlawanan
Hari Hak Asasi Manusia (HAM) tahun ini diperingati oleh Jaringan Perempuan Padmarini (JPP), Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ) dan Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang dengan mengadakan talkshow di Fajar Surya Televisi Lampung pada Minggu, 9 Desember 2018. Kegiatan ini mengambil tema Meruwat HAM lewat Seni Perlawanan.
Hadir dalam bincang santai ini Rinda Gusvita ketua JPP, Fendi Kachonk pendiri dan pengasuh KKJ dan Yuli Nugrahani penanggungjawab KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Kegiatan dipandu oleh Rismayanti Borthon, bertempat di Studio Kopi, Bandarlampung.
Bincang-bincang diawali dengan pembacaan puisi oleh Fendi Kachonk diambil dari puisinya sendiri yang ada dalam buku Titik Temu. Buku kumpulan puisi bertema HAM ini memang dijadikan pemantik diskusi sebagai salah satu bentuk mengingat HAM. Buku Titik Temu yang diterbitkan oleh KKJ pada tahun 2014 ini berisi puisi-puisi bertema HAM yang ditulis oleh 60 penyair/penulis dari berbagai kota di Indonesia maupun luar Indonesia.
Tak hanya mewujud buku, puisi-puisi bertema HAM itu juga dirayakan dan didiskusikan di berbagai komunitas di berbagai kota. Setelah lewat empat tahun, buku ini pun masih bisa digaungkan ke berbagai daerah.
"Buku ini tidak hanya tentang puisi dan buku. Tapi menjadi sarana untuk mengingat kasus-kasus HAM yang terus saja ada di Indonesia. Selain itu juga lebih dalam lagi, buku ini menjadi pengingat tentang kesadaran HAM. Inilah refleksi para penulisnya," demikian kataku tentang buku ini.
Selain Fendi, aku dan Retha mendapat kesempatan juga membaca puisi yang ada dalam buku. Tentu saja aku gembira melihat semangat ini. Apalagi mendengar apresiasi dari Rinda yang pernah menulis tentang buku ini empat tahun lalu, cuping hidungku sebagai editor buku ini jadi kembang kempis.
Seni selalu relevan digunakan dalam perjuangan HAM, dan itu terbukti dengan buku ini, diskusi tentang HAM bisa dilakukan lintas batas agama, suku, usia dan sebagainya. Bahkan ketika waktu sudah bergulir sekian tahun, puisi-puisi itu pun masih bisa dibacakan sebagai pemicu perbindangan tentang HAM.
Hadir dalam bincang santai ini Rinda Gusvita ketua JPP, Fendi Kachonk pendiri dan pengasuh KKJ dan Yuli Nugrahani penanggungjawab KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Kegiatan dipandu oleh Rismayanti Borthon, bertempat di Studio Kopi, Bandarlampung.
Bincang-bincang diawali dengan pembacaan puisi oleh Fendi Kachonk diambil dari puisinya sendiri yang ada dalam buku Titik Temu. Buku kumpulan puisi bertema HAM ini memang dijadikan pemantik diskusi sebagai salah satu bentuk mengingat HAM. Buku Titik Temu yang diterbitkan oleh KKJ pada tahun 2014 ini berisi puisi-puisi bertema HAM yang ditulis oleh 60 penyair/penulis dari berbagai kota di Indonesia maupun luar Indonesia.Tak hanya mewujud buku, puisi-puisi bertema HAM itu juga dirayakan dan didiskusikan di berbagai komunitas di berbagai kota. Setelah lewat empat tahun, buku ini pun masih bisa digaungkan ke berbagai daerah.
"Buku ini tidak hanya tentang puisi dan buku. Tapi menjadi sarana untuk mengingat kasus-kasus HAM yang terus saja ada di Indonesia. Selain itu juga lebih dalam lagi, buku ini menjadi pengingat tentang kesadaran HAM. Inilah refleksi para penulisnya," demikian kataku tentang buku ini.
Selain Fendi, aku dan Retha mendapat kesempatan juga membaca puisi yang ada dalam buku. Tentu saja aku gembira melihat semangat ini. Apalagi mendengar apresiasi dari Rinda yang pernah menulis tentang buku ini empat tahun lalu, cuping hidungku sebagai editor buku ini jadi kembang kempis.
Seni selalu relevan digunakan dalam perjuangan HAM, dan itu terbukti dengan buku ini, diskusi tentang HAM bisa dilakukan lintas batas agama, suku, usia dan sebagainya. Bahkan ketika waktu sudah bergulir sekian tahun, puisi-puisi itu pun masih bisa dibacakan sebagai pemicu perbindangan tentang HAM.
Friday, November 30, 2018
Advent 2018 (3): Pekerjaan-Pekerjaan
Saat ini aku bekerja untuk Keuskupan Tanjungkarang sebagai penanggung jawab Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP). Aku memulainya sejak Nopember 2000. Pekerjaan yang tak sengaja kudapatkan setelah aku berkenalan dengan Mgr. Henri (am) pada suatu saat usai misa di Katedral. Beberapa hari kemudian setelah perkenalan itu aku ditawari untuk merintis bagian justice and peace yang kemudian mulai tahun 2017 menjadi KKPPMP.
Itu adalah pekerjaan rutinku, yang utama, yang memberikan aku penghasilan tambahan bagi keluarga secara rutin setiap bulan. Pada akhir tahun ini sudah 18 tahun aku menggulatinya, melalui banyak peristiwa, yang intinya adalah berkah luar biasa bagiku.
Pekerjaan aku anggap sebagai bagian penting untuk mempertanggungjawabkan 'talenta' yang sudah kumiliki. Walau bukanlah keharusan bagiku untuk mempunyai pekerjaan dengan gaji, toh aku tetep membutuhkan gaji itu untuk menopang hidupku dalam keluarga. Sekecil atau sebesar apa pun aku mensyukurinya. Seperti dulu saat aku bekerja sebagai wartawan Malang Pos atau sebagai koordinator pastoral perburuhan Vincentian Center Indonesia, pekerjaanku selalu aku syukuri.
Karena ini adalah tentang mempertanggungjawabkan talenta, aku menggunakan berbagai cara untuk mengenali talenta-talentaku. Salah satu cara yang rutin kugunakan adalah analisa SWOT pribadi. Aku melakukannya secara periodik untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada dalam diriku dan di sekitar diriku. Karena itu juga saat ini aku menggunakan kekuatanku dalam bidang penulisan dengan sebaik mungkin. Jaringan dalam kepenulisan aku bangun sebanding dengan skill menulis yang terus menerus kuasah. Selain analisa SWOT aku juga menggunakan ilmu-ilmu tua yang menyangkut pengenalan diri seperti Enneagram, Shio, hari lahir (Jawa maupun China) dan sebagainya. Semuanya kugunakan secara optimal untuk mengenali diriku dan kecenderungannya.
Pekerjaan lain yang utama adalah sebagai ibu dan istri. Ini tanggungjawab besar yang kudesakkan dalam diriku sendiri untuk mengalahkan kepentingan-kepentingan lain. Sengantuk apapun, secapek apapun, pagi hari aku harus masak sarapan dan bekal. Se bad mood apa pun, kalau cowok-cowokku membutuhkan aku membagikan diri, aku akan berusaha keras di depan mereka. Ini pekerjaan yang paling menghabiskan energi sekaligus paling besar memberikan energi timbal balik. Berada di sekitar dapur, di kamar anak-anak, kamarku sendiri, atau di sekitar rumah, adalah saat yang paling baik dalam waktu-waktuku. Dibandingkan dengan hal-hal lain bahkan hal yang paling dianggap bergengsi oleh orang lain seperti bekergian ke negeri-negeri lain, kota lain atau mana pun.
Yang paling inti dari pekerjaanku, atau hal-hal yang kukerjaankan, adalah terus berjuang menikmati kehidupan sebagai manusia perempuan. Hmmm... ini kehidupan yang hebat.
Aku ingat ketika aku masih kuliah di Malang, aku sudah mencoba bekerja untuk menambah uang saku. Sangu dari ibu sejumlah 40 ribu rupiah per bulan sangat minim untuk keperluanku sehari-hari. Aku nyaris tak pernah beli buku. Semua fotokopian, sebagian ya benar-benar tak ada bahan. Makan dua kali sehari sangat mewah bagiku. Aku cukup paham tempat makan yang murah untuk irit. Maka pekerjaan aku minta ke bulik Sri, yaitu memberikan les tambahan untuk muridnya yang membutuhkan. Aku memberi les tambahan untuk matematika dan fisika untuk beberapa murid. Seringkali mereka membawakan makanan dari mamanya sehingga aku bisa berpesta saat mereka datang les.
Itulah makna pekerjaan yang berikutnya selain mengembangkan talenta. Mencukupi kebutuhan-kebutuhan.
Itu pula yang kukerjakan sampai sekarang. Mengembangkan talenta dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan. Ini dinamis banget, naik turun. Kadang berat kadang ringan. Tapi dari dulu aku belajar meyakini bahwa apa yang keluar dari hati membuat segala hal menjadi lebih mudah. Bahkan pekerjaan yang dianggap sulit bagi orang lain, aku bisa sangat menikmatinya. Karena hatiku ada di situ. Pun sebaliknya ada pekerjaan yang mudah yang aku tak mau lakukan karena hatiku tak di situ.
Nah.
Itu adalah pekerjaan rutinku, yang utama, yang memberikan aku penghasilan tambahan bagi keluarga secara rutin setiap bulan. Pada akhir tahun ini sudah 18 tahun aku menggulatinya, melalui banyak peristiwa, yang intinya adalah berkah luar biasa bagiku.
Pekerjaan aku anggap sebagai bagian penting untuk mempertanggungjawabkan 'talenta' yang sudah kumiliki. Walau bukanlah keharusan bagiku untuk mempunyai pekerjaan dengan gaji, toh aku tetep membutuhkan gaji itu untuk menopang hidupku dalam keluarga. Sekecil atau sebesar apa pun aku mensyukurinya. Seperti dulu saat aku bekerja sebagai wartawan Malang Pos atau sebagai koordinator pastoral perburuhan Vincentian Center Indonesia, pekerjaanku selalu aku syukuri.
Karena ini adalah tentang mempertanggungjawabkan talenta, aku menggunakan berbagai cara untuk mengenali talenta-talentaku. Salah satu cara yang rutin kugunakan adalah analisa SWOT pribadi. Aku melakukannya secara periodik untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada dalam diriku dan di sekitar diriku. Karena itu juga saat ini aku menggunakan kekuatanku dalam bidang penulisan dengan sebaik mungkin. Jaringan dalam kepenulisan aku bangun sebanding dengan skill menulis yang terus menerus kuasah. Selain analisa SWOT aku juga menggunakan ilmu-ilmu tua yang menyangkut pengenalan diri seperti Enneagram, Shio, hari lahir (Jawa maupun China) dan sebagainya. Semuanya kugunakan secara optimal untuk mengenali diriku dan kecenderungannya.
Pekerjaan lain yang utama adalah sebagai ibu dan istri. Ini tanggungjawab besar yang kudesakkan dalam diriku sendiri untuk mengalahkan kepentingan-kepentingan lain. Sengantuk apapun, secapek apapun, pagi hari aku harus masak sarapan dan bekal. Se bad mood apa pun, kalau cowok-cowokku membutuhkan aku membagikan diri, aku akan berusaha keras di depan mereka. Ini pekerjaan yang paling menghabiskan energi sekaligus paling besar memberikan energi timbal balik. Berada di sekitar dapur, di kamar anak-anak, kamarku sendiri, atau di sekitar rumah, adalah saat yang paling baik dalam waktu-waktuku. Dibandingkan dengan hal-hal lain bahkan hal yang paling dianggap bergengsi oleh orang lain seperti bekergian ke negeri-negeri lain, kota lain atau mana pun.
Yang paling inti dari pekerjaanku, atau hal-hal yang kukerjaankan, adalah terus berjuang menikmati kehidupan sebagai manusia perempuan. Hmmm... ini kehidupan yang hebat.
Aku ingat ketika aku masih kuliah di Malang, aku sudah mencoba bekerja untuk menambah uang saku. Sangu dari ibu sejumlah 40 ribu rupiah per bulan sangat minim untuk keperluanku sehari-hari. Aku nyaris tak pernah beli buku. Semua fotokopian, sebagian ya benar-benar tak ada bahan. Makan dua kali sehari sangat mewah bagiku. Aku cukup paham tempat makan yang murah untuk irit. Maka pekerjaan aku minta ke bulik Sri, yaitu memberikan les tambahan untuk muridnya yang membutuhkan. Aku memberi les tambahan untuk matematika dan fisika untuk beberapa murid. Seringkali mereka membawakan makanan dari mamanya sehingga aku bisa berpesta saat mereka datang les.
Itulah makna pekerjaan yang berikutnya selain mengembangkan talenta. Mencukupi kebutuhan-kebutuhan.
Itu pula yang kukerjakan sampai sekarang. Mengembangkan talenta dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan. Ini dinamis banget, naik turun. Kadang berat kadang ringan. Tapi dari dulu aku belajar meyakini bahwa apa yang keluar dari hati membuat segala hal menjadi lebih mudah. Bahkan pekerjaan yang dianggap sulit bagi orang lain, aku bisa sangat menikmatinya. Karena hatiku ada di situ. Pun sebaliknya ada pekerjaan yang mudah yang aku tak mau lakukan karena hatiku tak di situ.
Nah.
Wednesday, November 28, 2018
Advent 2018 (2): Tubuh adalah Modal
Tubuh adalah bagian penting bagi manusia hidup. Sangat-sangat penting. Karena tubuhlah 'jiwa spiritual' mampu mewujud secara nyata sebagai manusia. Tubuh dibutuhkan oleh manusia selama dia hidup. Hal-hal semacam ini dulu tak kusadari, sehingga aku sering semena-mena terhadap tubuhku sendiri. Hmmm...iya sih, sekarang pun aku sering abai juga terhadap tubuhku, tapi kalau ingatan dan kesadaranku muncul, aku akan segera menarik perhatianku sepenuh-penuhnya untuk tubuh. Makanan, tidur, bergerak, bercinta, sentuhan, lotion, dan sebagainya.
Tahun ini berat badanku berkisar antara 60 - 62 kg (tinggi 160 cm, kelebihan lemak), dengan kecenderungan terus naik. Hihihi... Tekanan darah juga cenderung naik, dengan gangguan vertigo secara acak. Bagian yang terakhir ini yang paling terasa mengganggu, sehingga aku mengupayakan beberapa hal untuk menahan supaya vertigo tidak dekat-dekat pada tubuhku.
Aku harus akui kalau aku ini pemalas. Lumuh kata ortuku. Saat aku kecil aku sangat enggan untuk bergerak. Aku lebih suka tidur, berbaring, kalau toh bergerak ya hanya di sekitar rumah, di dalam rumah, tidak jauh-jauh dari rumah. Aku akan sangat payah kalau disuruh olah raga. Gerakan canggung, tidak gesit. Lari tak bisa cepat. Loncat tak bisa tinggi dan jauh. Ikut permainan juga selalu kalah. Keseimbanganku juga parah. Belajar naik sepeda butuh waktu lama baru bisa, itu pun tak ahli sampai sekarang. Menari aku suka, tapi ya untuk kunikmati sendiri. Kalau kulihat rekamannya pasti aku pun geli ngeliatnya. Kaku banget, kayak robot.
Postur tubuhku kuanggap seksi kalau aku tak melihat dalam cermin. Hihihi. Tapi kalau aku telanjang depan cermin, ya anggapan itu memudar. Dadaku nyaris rata, pinggulku kanan kiri nyaris lurus dengan pinggang. Nah kalau dari samping yang tampak: pantat gede, perut buncit, punggung bungkuk. Huhuhu. Tapi aku tetap suka bercermin. Mengamati tubuhku sendiri. Itu membantuku mengenali tubuhku sendiri, bentuknya, warnanya, dan sebagainya.
Aku suka wajahku, bukan wajah cantik tapi aku suka. Sekarang wajahku dihiasi bintik-bintik hitam, semacam tahi lalat, dan kayaknya semakin banyak. Ya, semua orang bisa melihatnya. Alis tipis, dengan mata belok. Bibirku miring, dan akan tampak bener pada beberapa ekspresi. Aku yakin gerak bibirku sangat mewarnai ekspresi wajah. Sedikit gerak aku bisa lihat kesinisan, kegembiraan, kesedihan, kemalasan dan sebagainya. Untuk waktu-waktu tertentu yang jarang, aku akan menggunakan kosmetik untuk menutup kekurangan-kekurangannya seperti warna alis yang tidak tajam, bibir yang pucat, kulit yang mengkilat dan sebagainya. Sementara ini yang tak pernah kututupi adalah uban. Separuh rambutku adalah uban. Dan bagiku, ini keren... Hehehe... Rayuan untuk menyemir rambut belum menarik hatiku, jadi biar saja. Aku penasaran seperti apa wajahku nanti kalau seluruh rambutku sudah putih.
Tubuhku sensitif pada rasa sakit. Sakit dikit saja aku sudah meneteskan air mata, tak tahan, manja... huhuhu.
Dengan tubuh yang seperti inilah aku terus berkembang sebagai manusia. Semakin lama aku semakin mengenali tubuhku, kecenderungannya, dan memunculkan beberapa kesadaran untuk merawatnya. Nah, aku ingat, harusnya aku lebih rutin olah raga. Olah raga ringan saja selama 30 menit bisa membuatku merasa bugar, juga lebih gembira. Tapi ya itu tadi, ...daku ini masih juga pemalas sampai kini.
Aku memahami tubuhku dengan cara:
1. Merasai tubuh dan alarm-alarm yang muncul. Misal kalau disentuh seseorang aku bisa sangat mual, tapi orang lain aku bisa gembira. Saat aku menarik tubuhku ke bawah, aku tak bisa menyentuh ujung jempol kaki. Kalau mulai makan tidur tidak betul, alarm kepala bagian belakang mulai teriak-teriak. Dan sebagainya.
2. Melihat dalam cermin. Seperti kukatakan di depan. Aku bisa menandai senyumku yang seperti apa yang paling tepat untuk mewakili ekspresi yang kuinginkan. Gimana menutupi bibir yang miring, punggung yang bungkuk dan sebagainya.
3. Komentar orang lain juga bisa menjadi cara untuk memahami tubuhku. Dulu ibuku sering ribut kalau aku keluar tanpa bedak karena kulitku akan mengkilap, bibir juga tampak pucat kering dan sebaganya.
4. Relasi dengan orang lain juga membantuku, termasuk yang paling intim yang bisa kulakukan, yaitu bercinta. Ini membuatku semakin mengenali tubuh dan caranya bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi.
5. Bacaan-bacaan, gambar dan video juga sangat membantuku. Ini nantinya juga terkait dengan bagaimana aku harus memperlakukan tubuhku secara tepat, sesuai dengan kebutuhanku, umurku dan sebagainya.
Beberapa hal yang aku kenali selanjutnya antara lain, tubuh ini membutuhkan energi untuk terus hidup dan berkembang. Energi yang paling awal sumbernya adalah makanan dan minuman, yang secara manual dikunyah lalu masuk dalam pencernaan. Energi lain berasal dari hasil tangkapan pancaindera. Saat melihat dan merasai pantai, aku selalu berkobar-kobar. Rasa lapar bisa tertunda beberapa jam. Juga ketika bertemu orang tertentu, aku akan merasa full energi, atau sebaliknya kehilangan energi. Semacam itulah.
Inti dari semua ini adalah tubuh itu modal utama manusia hidup. Selama masih hidup, masih memerlukan tubuh, kita harus menjaga tubuh kita, sebaik yang dibutuhkannya dan dikembangkan untuk terus maju sesuai tujuan kelahiran kita.
Tahun ini berat badanku berkisar antara 60 - 62 kg (tinggi 160 cm, kelebihan lemak), dengan kecenderungan terus naik. Hihihi... Tekanan darah juga cenderung naik, dengan gangguan vertigo secara acak. Bagian yang terakhir ini yang paling terasa mengganggu, sehingga aku mengupayakan beberapa hal untuk menahan supaya vertigo tidak dekat-dekat pada tubuhku.
Aku harus akui kalau aku ini pemalas. Lumuh kata ortuku. Saat aku kecil aku sangat enggan untuk bergerak. Aku lebih suka tidur, berbaring, kalau toh bergerak ya hanya di sekitar rumah, di dalam rumah, tidak jauh-jauh dari rumah. Aku akan sangat payah kalau disuruh olah raga. Gerakan canggung, tidak gesit. Lari tak bisa cepat. Loncat tak bisa tinggi dan jauh. Ikut permainan juga selalu kalah. Keseimbanganku juga parah. Belajar naik sepeda butuh waktu lama baru bisa, itu pun tak ahli sampai sekarang. Menari aku suka, tapi ya untuk kunikmati sendiri. Kalau kulihat rekamannya pasti aku pun geli ngeliatnya. Kaku banget, kayak robot.
Postur tubuhku kuanggap seksi kalau aku tak melihat dalam cermin. Hihihi. Tapi kalau aku telanjang depan cermin, ya anggapan itu memudar. Dadaku nyaris rata, pinggulku kanan kiri nyaris lurus dengan pinggang. Nah kalau dari samping yang tampak: pantat gede, perut buncit, punggung bungkuk. Huhuhu. Tapi aku tetap suka bercermin. Mengamati tubuhku sendiri. Itu membantuku mengenali tubuhku sendiri, bentuknya, warnanya, dan sebagainya.
Aku suka wajahku, bukan wajah cantik tapi aku suka. Sekarang wajahku dihiasi bintik-bintik hitam, semacam tahi lalat, dan kayaknya semakin banyak. Ya, semua orang bisa melihatnya. Alis tipis, dengan mata belok. Bibirku miring, dan akan tampak bener pada beberapa ekspresi. Aku yakin gerak bibirku sangat mewarnai ekspresi wajah. Sedikit gerak aku bisa lihat kesinisan, kegembiraan, kesedihan, kemalasan dan sebagainya. Untuk waktu-waktu tertentu yang jarang, aku akan menggunakan kosmetik untuk menutup kekurangan-kekurangannya seperti warna alis yang tidak tajam, bibir yang pucat, kulit yang mengkilat dan sebagainya. Sementara ini yang tak pernah kututupi adalah uban. Separuh rambutku adalah uban. Dan bagiku, ini keren... Hehehe... Rayuan untuk menyemir rambut belum menarik hatiku, jadi biar saja. Aku penasaran seperti apa wajahku nanti kalau seluruh rambutku sudah putih.
Tubuhku sensitif pada rasa sakit. Sakit dikit saja aku sudah meneteskan air mata, tak tahan, manja... huhuhu.
Dengan tubuh yang seperti inilah aku terus berkembang sebagai manusia. Semakin lama aku semakin mengenali tubuhku, kecenderungannya, dan memunculkan beberapa kesadaran untuk merawatnya. Nah, aku ingat, harusnya aku lebih rutin olah raga. Olah raga ringan saja selama 30 menit bisa membuatku merasa bugar, juga lebih gembira. Tapi ya itu tadi, ...daku ini masih juga pemalas sampai kini.
Aku memahami tubuhku dengan cara:
1. Merasai tubuh dan alarm-alarm yang muncul. Misal kalau disentuh seseorang aku bisa sangat mual, tapi orang lain aku bisa gembira. Saat aku menarik tubuhku ke bawah, aku tak bisa menyentuh ujung jempol kaki. Kalau mulai makan tidur tidak betul, alarm kepala bagian belakang mulai teriak-teriak. Dan sebagainya.
2. Melihat dalam cermin. Seperti kukatakan di depan. Aku bisa menandai senyumku yang seperti apa yang paling tepat untuk mewakili ekspresi yang kuinginkan. Gimana menutupi bibir yang miring, punggung yang bungkuk dan sebagainya.
3. Komentar orang lain juga bisa menjadi cara untuk memahami tubuhku. Dulu ibuku sering ribut kalau aku keluar tanpa bedak karena kulitku akan mengkilap, bibir juga tampak pucat kering dan sebaganya.
4. Relasi dengan orang lain juga membantuku, termasuk yang paling intim yang bisa kulakukan, yaitu bercinta. Ini membuatku semakin mengenali tubuh dan caranya bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi.
5. Bacaan-bacaan, gambar dan video juga sangat membantuku. Ini nantinya juga terkait dengan bagaimana aku harus memperlakukan tubuhku secara tepat, sesuai dengan kebutuhanku, umurku dan sebagainya.
Beberapa hal yang aku kenali selanjutnya antara lain, tubuh ini membutuhkan energi untuk terus hidup dan berkembang. Energi yang paling awal sumbernya adalah makanan dan minuman, yang secara manual dikunyah lalu masuk dalam pencernaan. Energi lain berasal dari hasil tangkapan pancaindera. Saat melihat dan merasai pantai, aku selalu berkobar-kobar. Rasa lapar bisa tertunda beberapa jam. Juga ketika bertemu orang tertentu, aku akan merasa full energi, atau sebaliknya kehilangan energi. Semacam itulah.
Inti dari semua ini adalah tubuh itu modal utama manusia hidup. Selama masih hidup, masih memerlukan tubuh, kita harus menjaga tubuh kita, sebaik yang dibutuhkannya dan dikembangkan untuk terus maju sesuai tujuan kelahiran kita.
Negeri yang Terapung dan Negeri Para Penyair
Dua buku yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL) kuterima kemarin, 27 Nopember 2018 dari Udo Z. Karzi. Buku-buku ini memuat tulisanku, cerpen dan puisi. Berkaitan dengan buku selalu membuatku antusias dan gembira, maka menerima buku ini membuatku sangat gembira. Nanti akan kubuat catatannya untuk tiap buku, sekarang aku mulai baca saja dulu.
Hmmm... ternyata Lampung memang kaya raya soal penulis. Ada 17 cerpenis terangkul dalam Negeri yang Terapung, Antologi Cerpen Mutakhir Lampung, masing-masing menyumbangkan satu judul cerpen. Dalam kata pengantar editornya, 17 judul ini merupakan hasil kurasi dari puluhan cerpen yang dikirimkan oleh 41 penulis. Sedangkan buku Negeri Para Penyair, Antologi Puisi Mutakhir Lampung, memuat 47 penyair (hasil kurasi dari puisi-puisi yang dikirimkan oleh 71 penyair). Kalau tanpa proses kurasi, tentulah buku yang kuterima ini bisa lebih tebal 2 atau 3 kali lipat dari yang sekarang kuterima.
Tapiii... tentu ini bukan soal tebal tipisnya buku. Para kurator: Iswadi Pratama, Ahmad Yulden Erwin dan Ari Pahala Hutabarat tentu tak main-main dalam menentukan naskah yang layak maupun tidak dalam buku ini. Wong prosesnya juga laammmaaaa.... setahun lebih kukira sejak pengumuman tentang buku ini hingga buku ini kuterima. Dan tiga orang itu lhooo, kuyakin banget bukan orang-orang yang bisa disuap untuk mengatakan sebuah naskah termasuk layak atau tidak (Huh, inget naskahku yang tak seperti bertepuk sebelah tangan setelah kuserahkan pada mereka. Tak kusebutin deh detilnya. Bikin malu ati.) Btw, ....yehaaa.... terimakasih dah buat semua sehingga buku ini bisa terwujud di depan hidungku.
Agak sulit untuk tidak pamer, jadi ini salah satu puisiku dalam buku Negeri Para Penyair, halaman 147. Ada tiga puisiku dalam buku Antologi Puisi ini, tapi kupasang satu aja yach. Cekidot:
MELEKAT PADA UDARA
Kadang sehelai daun kelengkeng ikut campur urusan senja padahal dia tak tahu apa-apa.
Bahkan dengan pongah dia bertengger di atas kepala meneriaki uban-uban supaya bergegas.
Telunjuknya menuding langit seolah sudah khatam Alkitab dan sanggup meremukkan kepala ular dengan tumitnya.
Sebelum tubuhnya memuai dan melekat pada udara, dia mengingatkan cita-cita tua:
Sampailah pada Kitab Wahyu pasal ke dua puluh dua.
Okt 2017
Hmmm, sebelum orang lain suka puisi ini, aku sudah duluan menyukainya. Hehehe.... Iyalah. Ada banyak cerita mendalam dalam puisi ini. Entar kalau ada waktu aku akan ceritakan.
Hmmm... ternyata Lampung memang kaya raya soal penulis. Ada 17 cerpenis terangkul dalam Negeri yang Terapung, Antologi Cerpen Mutakhir Lampung, masing-masing menyumbangkan satu judul cerpen. Dalam kata pengantar editornya, 17 judul ini merupakan hasil kurasi dari puluhan cerpen yang dikirimkan oleh 41 penulis. Sedangkan buku Negeri Para Penyair, Antologi Puisi Mutakhir Lampung, memuat 47 penyair (hasil kurasi dari puisi-puisi yang dikirimkan oleh 71 penyair). Kalau tanpa proses kurasi, tentulah buku yang kuterima ini bisa lebih tebal 2 atau 3 kali lipat dari yang sekarang kuterima.
Tapiii... tentu ini bukan soal tebal tipisnya buku. Para kurator: Iswadi Pratama, Ahmad Yulden Erwin dan Ari Pahala Hutabarat tentu tak main-main dalam menentukan naskah yang layak maupun tidak dalam buku ini. Wong prosesnya juga laammmaaaa.... setahun lebih kukira sejak pengumuman tentang buku ini hingga buku ini kuterima. Dan tiga orang itu lhooo, kuyakin banget bukan orang-orang yang bisa disuap untuk mengatakan sebuah naskah termasuk layak atau tidak (Huh, inget naskahku yang tak seperti bertepuk sebelah tangan setelah kuserahkan pada mereka. Tak kusebutin deh detilnya. Bikin malu ati.) Btw, ....yehaaa.... terimakasih dah buat semua sehingga buku ini bisa terwujud di depan hidungku.
Agak sulit untuk tidak pamer, jadi ini salah satu puisiku dalam buku Negeri Para Penyair, halaman 147. Ada tiga puisiku dalam buku Antologi Puisi ini, tapi kupasang satu aja yach. Cekidot:
MELEKAT PADA UDARA
Kadang sehelai daun kelengkeng ikut campur urusan senja padahal dia tak tahu apa-apa.
Bahkan dengan pongah dia bertengger di atas kepala meneriaki uban-uban supaya bergegas.
Telunjuknya menuding langit seolah sudah khatam Alkitab dan sanggup meremukkan kepala ular dengan tumitnya.
Sebelum tubuhnya memuai dan melekat pada udara, dia mengingatkan cita-cita tua:
Sampailah pada Kitab Wahyu pasal ke dua puluh dua.
Okt 2017
Hmmm, sebelum orang lain suka puisi ini, aku sudah duluan menyukainya. Hehehe.... Iyalah. Ada banyak cerita mendalam dalam puisi ini. Entar kalau ada waktu aku akan ceritakan.
Tuesday, November 27, 2018
Advent 2018 (1): Memulai Perjalanan Ke Dalam
Tahun 2018 memberiku banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan ke berbagai kota, berjumpa dengan banyak orang yang sama atau berbeda, juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan. Dalam empat minggu ke depan ini, aku akan melakukan perjalanan tidak ke berbagai kota, walau mungkin juga secara fisik hal itu juga kulakukan. Tapi yang utama, empat minggu dalam masa advent ini aku akan mencatat perjalanan-perjalanan jiwaku, hatiku dan pikiranku. Bisa jadi yang muncul adalah kesimpulan-kesimpulan, harapan, kesedihan, penemuan-penemuan, tapi mungkin juga aku mencatat lintasan-lintasan pikiran yang sudah kumiliki dalam umur hampir 45 tahun ini. Semoga aku bisa menuliskannya secara serius sehingga bisa diikuti oleh banyak orang. Untuk semenara, aku tidak akan membatasi berapa bagian yang bisa kusodorkan, tapi inilah bagian pertama untuk advent 2018.
Awal tahun 2018 aku lalui di Jawa Timur. Libur panjang untuk Natal dan Tahun Baru sangat menguntungkan, sehingga aku sekeluarga bisa memperingati 40 hari Bapak Soeliham dalam rangkaian libur panjang itu. Perencanaan kerja kulakukan pada bulan pertama ini dengan semangat, yang telat. Harusnya kulakukan pada akhir tahun 2017 tapi mundur beberapa minggu. Aku ingat pada awal tahun ini bahwa aku memiliki beberapa intuisi yang membuatku yakin bahwa tahun 2018 adalah tahun yang hebat.
Mungkin ini berkaitan dengan kepercayaanku pada tahun Anjing tanah. Shioku akan bersinar secara misterius dalam tahun anjing, aku yakin banget karena aku dekat dengan 'anjing'. Keramahan dan kesetiaan 'anjing' padaku membuatku nyaman. Aku tahu bahwa aku akan menghadapi banyak tantangan besar di tahun ini, tapi semerta aku juga merasa nyaman, aman, tidak merasakan kekuatiran yang berlebihan. Beberapa tanda yang tak terlalu baik adalah keuangan. Soal ini tak perlulah melihat pada ramalan-ramalan, tapi aku melihat tanda-tandanya dalam diriku sendiri.
Awal baik penuh optimis seperti itulah yang menjadi modalku awal tahun 2018. Aku percaya diri, siap menghadapi segala hal tantangan maupun kegembiraan. Yang menjadi tantangan utama di awal tahun 2018 adalah kesehatan. Aku kena vertigo yang cukup awet dari akhir tahun 2017, dan baru berangsur-angsur hilang pada April 2018. Vertigo ini cukup menggangguku.
Aku adalah jiwa spiritual yang beruntung mengalami kehidupan sebagai manusia. Kalimat ini menggaung kuat dalam diriku. Aku belum mampu memahaminya sepenuh yang seharusnya, dan dalam perjalanan fisikku yang cukup dinamis di tahun 2018, satu kata berulang-ulang muncul menjadi tantangan dan kekuatan: Kesaksian. Aku mesti bersaksi tentang 'sesuatu', tapi aku tak harus merumuskan apa pun. Aku hanya harus bergerak, bekerja dan bersuara.
Dari mana jiwaku ini? Aku menggunakan istilah yang tidak biasa. 'Bapak Ibu' sumber jiwaku adalah Langit. Dia memercikkan cahaya dalam rencana yang luarbiasa sehingga jiwaku merdeka, menggunakan sebuah tubuh yang 'kami' pilih. Aku tak yakin 'kami' ini bagaimana dibahasakan. Kalau merunut sejak aku lahir sebagai manusia, aku tidak termasuk dalam 'kami'. Tapi saat aku masih dalam rencana langit, tentu saja aku termasuk dalam bagian 'kami' sehingga aku juga ikut dalam proses memilih tubuh yang tepat untuk aku gunakan. Setelah lahir, aku terlepas dari 'kami' sehingga aku hanya bisa menerima tubuh yang sudah diberikan itu secara apa adanya. Aku menjadi Yuli, dalam keluarga Samiran. Ini adalah rahmat yang kuterima sejak aku bertumbuh dalam rahim dan kemudian dilahirkan.
Menggulati tubuh ini bukan soal yang mudah. Ini akan kutulis dalam bagian kedua nanti ya.
Awal tahun 2018 aku lalui di Jawa Timur. Libur panjang untuk Natal dan Tahun Baru sangat menguntungkan, sehingga aku sekeluarga bisa memperingati 40 hari Bapak Soeliham dalam rangkaian libur panjang itu. Perencanaan kerja kulakukan pada bulan pertama ini dengan semangat, yang telat. Harusnya kulakukan pada akhir tahun 2017 tapi mundur beberapa minggu. Aku ingat pada awal tahun ini bahwa aku memiliki beberapa intuisi yang membuatku yakin bahwa tahun 2018 adalah tahun yang hebat.
Mungkin ini berkaitan dengan kepercayaanku pada tahun Anjing tanah. Shioku akan bersinar secara misterius dalam tahun anjing, aku yakin banget karena aku dekat dengan 'anjing'. Keramahan dan kesetiaan 'anjing' padaku membuatku nyaman. Aku tahu bahwa aku akan menghadapi banyak tantangan besar di tahun ini, tapi semerta aku juga merasa nyaman, aman, tidak merasakan kekuatiran yang berlebihan. Beberapa tanda yang tak terlalu baik adalah keuangan. Soal ini tak perlulah melihat pada ramalan-ramalan, tapi aku melihat tanda-tandanya dalam diriku sendiri.
Awal baik penuh optimis seperti itulah yang menjadi modalku awal tahun 2018. Aku percaya diri, siap menghadapi segala hal tantangan maupun kegembiraan. Yang menjadi tantangan utama di awal tahun 2018 adalah kesehatan. Aku kena vertigo yang cukup awet dari akhir tahun 2017, dan baru berangsur-angsur hilang pada April 2018. Vertigo ini cukup menggangguku.
Aku adalah jiwa spiritual yang beruntung mengalami kehidupan sebagai manusia. Kalimat ini menggaung kuat dalam diriku. Aku belum mampu memahaminya sepenuh yang seharusnya, dan dalam perjalanan fisikku yang cukup dinamis di tahun 2018, satu kata berulang-ulang muncul menjadi tantangan dan kekuatan: Kesaksian. Aku mesti bersaksi tentang 'sesuatu', tapi aku tak harus merumuskan apa pun. Aku hanya harus bergerak, bekerja dan bersuara.
Dari mana jiwaku ini? Aku menggunakan istilah yang tidak biasa. 'Bapak Ibu' sumber jiwaku adalah Langit. Dia memercikkan cahaya dalam rencana yang luarbiasa sehingga jiwaku merdeka, menggunakan sebuah tubuh yang 'kami' pilih. Aku tak yakin 'kami' ini bagaimana dibahasakan. Kalau merunut sejak aku lahir sebagai manusia, aku tidak termasuk dalam 'kami'. Tapi saat aku masih dalam rencana langit, tentu saja aku termasuk dalam bagian 'kami' sehingga aku juga ikut dalam proses memilih tubuh yang tepat untuk aku gunakan. Setelah lahir, aku terlepas dari 'kami' sehingga aku hanya bisa menerima tubuh yang sudah diberikan itu secara apa adanya. Aku menjadi Yuli, dalam keluarga Samiran. Ini adalah rahmat yang kuterima sejak aku bertumbuh dalam rahim dan kemudian dilahirkan.
Menggulati tubuh ini bukan soal yang mudah. Ini akan kutulis dalam bagian kedua nanti ya.
Monday, October 29, 2018
NENG KOALA, Berjuang Menjadi Manusia

Berikut ini adalah catatan point-point yang kusampaikan dalam acara bedah buku dan diskusi yang diselenggarakan oleh Jaringan Perempuan Padmarini (JPP), di Mister Geprek 3 (dekat Unila) Lampung, 28 Oktober 2018. Hari yang gembira karena bersamaan dengan ultah ke 3 JPP dan hari sumpah pemuda:
Ada beberapa point yang menarik dalam
ulang tahun Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) hari ini, Minggu, 28 Oktober
2018, bersamaan juga dengan Hari Sumpah Pemuda yaitu:
1.
Diskusi dan bedah buku
Neng Koala ini menjadi satu rangkaian dengan tanam pohon dan potong tumpeng di
Desa Talang Mulia, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. Kepedulian
terhadap lingkungan hidup terwakili oleh kegiatan selama dua hari (27-28
Oktober 2018 bersama dengan Walhi, YKWS dll), maka kegiatan ini menandai fokus lain
dari JPP, yaitu tentang gender.
2.
Neng Koala menampilkan
tulisan-tulisan dari pengalaman banyak perempuan yang berjuang mencapai
impiannya, di tengah pandangan mainstream terhadap perempuan yang masih sering
tidak adil gender. Dalam banyak kisah, mereka memaparkan pergulatan mereka
supaya tetap ‘harmoni’ sebagai anak, istri, ibu, juga mahasiswi.
3.
Kekuatan mereka adalah
pada ‘ngeyel’ sekaligus ‘tidak ngeyel’. Ngeyel,
kokoh, yakin bahwa mereka punya modal, rahmat tak terhingga dari Sang Pencipta (tubuh,
hati, akal budi) untuk mereka kembangkan dan hal itu sungguh-sungguh mereka
lakukan dalam seluruh dinamika situasinya. Mereka yakin bahwa mereka akan
‘utuh’ kalau mereka teguh dalam pilihan-pilihan mereka, sehingga tidak ada
penyesalan. Serta merta mereka tidak
ngeyel, menuntut atau memusuhi, tapi mereka lakukan dengan kompromi bersama
dengan situasi, pasangan hidup, anak dan sebagainya. Maka yang muncul adalah
gambaran seorang perempuan, yang menyusui anak di pangkuannya, juga memegang
buku dan laptop. Dan mereka bersama orang-orang yang di sekitarnya mengalami
pembelajaran sekaligus petualangan (Butet Manurung dalam pengantar).
4.
Adalah harapan. Inilah
yang menjadi penanda iman. Maka saya bisa menyebut perjuangan semacam ini,
harusnya dimiliki oleh semua manusia, entah perempuan atau laki-laki. Selama
tidak kehilangan harapan, maka segalanya mungkin terjadi. Saya percaya dengan
kekuatan pikiran, apa yang kau pikir itulah yang terjadi. Pikiran itu
menampakkan visi, penglihatan di suatu masa, semakin hari semakin diperkuat
plus upaya menyiapkan syarat-syaratnya. Misal, sejak tahun 2010 sampai sekarang
(8 tahun), aku sudah pergi ke 11 negara: Malaysia, Singapura, Thailand,
Kamboja, Filipina, Taiwan, Srilanka, Italia, Qatar, Swiss, dan Jerman. Dengan
dana yang minim. Lalu aku membayangkan akan pergi ke Malaysia dan Thailand bersama
dengan suami dan anak-anak, sebagai backpacker. Setiap saat aku memikirkan itu,
memikirkan syarat untuk pergi, dan memenuhinya satu per satu, maka terjadilah
itu. Sederhana sekali. Tak ada yang tak mungkin. Maka setiap saat (entah
peristiwa, perjumpaan, dll) menjadi kesempatan untuk mempersiapkan diri. Saat
peluang itu ada, kita tidak melewatkannya dan kemudian menyesal.
5.
Keunggulan yang utama
para perempuan ini adalah menuliskan pengalamannya beserta pikiran dan
perasaannya. Itulah keunggulan yang dimiliki Kartini. Semua orang, semua
perempuan banyak mengalami hal-hal hebat. Tapi mereka tercatat karena mereka
menuliskannya. Ini menjadi catatan yang berguna tidak lagi hanya untuk dirinya
sendiri tapi untuk banyak orang. Mereka dengan tulisannya ini membantu orang
lain, menginspirasi orang lain dan menandai bahwa hal-hal luar biasa telah
mereka lakukan.
*Yuli Nugrahani, penulis cerpen, puisi
dan penggiat justice and peace di Keuskupan Tanjungkarang, juga menjadi salah
satu dari Pembina Jaringan Perempuan Padmarini yang bergerak dalam bidang
gender dan lingkungan hidup. Beberapa bukunya antara lain Pembatas Buku
(kumpulan puisi), Daun-daun Hitam (kumpulan cerpen), Salah Satu Cabang Cemara
(kumpulan cerpen) dan Sampai Aku Lupa (kumpulan puisi)
Thursday, October 25, 2018
Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan Indonesia (GATKI), Menuju Budaya Hidup Damai
Judul buku: Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan Indonesia (GATKI): Menuju Budaya Hidup Damai
Penyusun: Eka Aldilanta dkk
Tata letak dan desain sampul: R. Yohanes Hermawan
Diterbitkan untuk kalangan terbatas.
Salah satu kegembiraan yang muncul dari Pertemuan Nasional Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan Indonesia (GATKI) di Klender, 16 - 19 Oktober 2018 lalu adalah diluncurkannya buku GATKI: Menuju Budaya Hidup Damai. Buku yang sudah disusun mulai tahun 2016 ini akhirnya rapi tercetak berkat banyak pihak yang terlibat.
Upaya untuk merombak tanpa merusak saat menghadapi berbagai situasi kekerasan dan ketidak adilan di Indonesia, merupakan bagian dari mengapa buku ini penting diwujudkan. Ini semacam langkah kecil yang harus dilakukan diantara banyak tahun yang sudah berjalan sejak Rm. Adi Wardaya SJ mengenalkan gerakan ini pada kami. Dan langkah kecil ini harus dilanjutkan dengan langkah-langkah lain untuk menyatakannya di tengah dunia ini.
Ada empat bab yang ditampilkan dalam buku ini, yaitu:gambaran kekerasan di Indonesia masa kini, sejarah GATKI, filosofi dan prinsip dasar GATKI dan metode GATKI. Semua bahan ini dirangkum oleh tim perumus yang sering menyebut diri atau disebut sebagai Tim Penjaga Obor GATKI, bersumber dari banyak dokumen yang berhasil ditemukan.
Saya tidak ingin bercerita detail, tapi patutlah diketahui bahwa GATKI mempunyai visi Indonesia damai tanpa kekerasan. Visi itu ingin dituju dengan misi, pertama: mengembangkan nilai-nilai gerakan aktif tanpa kekerasan sebagai dimensi dalam hidup bermasyarakat: kedua: mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam proses transformasi bangsa dengan semangat, nilai-nilai, pendekatan, strategi aktif tanpa kekerasan.
Saya yakin ini masih akan terus berjalan, walau yeachhh.... tidak mudah.
Sunday, October 14, 2018
Mengakhiri Kekerasan dengan Menggunakan Media Sosial secara Sehat
Forum Komunikasi PUSPA (Partisipasi Publik untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Provinsi Lampung, di mana aku terlibat dalam setahun ini menyelenggarakan kegiatan pertama di Kelurahan Enggal. Kegiatan ini mengundang perwakilan dari 23 RT yang ada di Kelurahan Enggal, Bandaralampung untuk belajar tentang cara menggunakan media sosial secara sehat.
Tema ini memang harus diangkat karena sekarang ini media sosial bisa menjadi sumber kekerasan, alat kekerasan dan juga menyebarkan kekerasan. Tentu saja PUSPA tetap pada relnya yaitu keterlibatan dalam 3 end: akhiri kekerasan, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi (khususnya terkait perempuan dan anak).
Narasumbernya keren dunkkk, Juwendra Asdiansyah dari Duajurai, Wirdayati dari KPID Lampung, dan dibantu oleh teman-teman muda dari Komunitas Jendela dan TBM Kampung Merdeka. Aku bagian yang memfasilitasi eh yang jadi kuli eh yang ngupyek sana sinilah pokoknya sebagai wujud dari keterlibatan Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) dalam forum di bawah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung ini. Juga dibantu oleh Nagiyyah Syam dari Tapis Bloger Lampung. Moderator kerennya si Heni dan Rinda, dua ibu muda yang jempol.
Agak sulit menuliskan secara lengkap acara ini, tapi aku ingin mengangkat yang sudah disampaikan oleh Juwendra tentang cara mendeteksi HOAX, yaitu:
Tema ini memang harus diangkat karena sekarang ini media sosial bisa menjadi sumber kekerasan, alat kekerasan dan juga menyebarkan kekerasan. Tentu saja PUSPA tetap pada relnya yaitu keterlibatan dalam 3 end: akhiri kekerasan, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi (khususnya terkait perempuan dan anak).
Narasumbernya keren dunkkk, Juwendra Asdiansyah dari Duajurai, Wirdayati dari KPID Lampung, dan dibantu oleh teman-teman muda dari Komunitas Jendela dan TBM Kampung Merdeka. Aku bagian yang memfasilitasi eh yang jadi kuli eh yang ngupyek sana sinilah pokoknya sebagai wujud dari keterlibatan Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) dalam forum di bawah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung ini. Juga dibantu oleh Nagiyyah Syam dari Tapis Bloger Lampung. Moderator kerennya si Heni dan Rinda, dua ibu muda yang jempol.
Agak sulit menuliskan secara lengkap acara ini, tapi aku ingin mengangkat yang sudah disampaikan oleh Juwendra tentang cara mendeteksi HOAX, yaitu:
1. Lihat medianya
2.
Siapa sumber berita
3.
Lihat judulnya
4.
Lihat tulisannya
5.
Lihat logika
6.
Verifikasi, cek ricek
7.
Jangan terkecoh dgn kata "sebarkan"
8.
Masuk surga tidak cukup hanya "mengaminkan"
Nah, tuh.
Wednesday, October 03, 2018
Yang Ini Pernak-pernik Roma, Mulai dari Pedagang Asongan, Kemacetan Dll.
| Ada penjual asongan juga... |
![]() |
| Kotor di beberapa sudut kota. |
| Taman dalam rumah SCJ. |
![]() |
| Yehaaiiii... |
![]() |
| Alat bantu terjemahan. Untung ada si alat ini. |
![]() |
| Masih kebagian bunga-bunga seksi |
![]() |
| Agak tak suka dengan toiletnya. Tak ada air untuk cebok. |
![]() |
| Seabgian dari kebun sayur di Rumah SCJ yang dikelola Rm. Sugino. |
| Nih taksi yang mahal tuh. Huh. |
| Vatikan waktu malam. |
| Lalulintas Roma. Macet di beberapa tempat. |
Italia dalam 4 Hari (7): Balik ke Indonesia Kangen Nasi Padang
![]() |
| Ergife Palace Hotel, Rome |
Di lobby hotel ada beberapa orang yang duduk. Pegawai yang seorang ganteng itu menyapaku nyaris tanpa senyum. Mungkin dia belum tidur semalaman. Dia menunjukkan ada bis ke bandara jam 5 kalau aku mau. Nah, itu yang apik. Ndak perlu naksi lagi. Hehehe... Beruntung lagi hotel menyediakan sarapan dalam kantong-kantong untuk dibawa: roti, crackers, jus jeruk, air mineral, wafer dan olesan butter plus selai. Sip.
Yang bikin senewen adalah ternyata si bis itu tak datang juga hingga pukul 05.00. Lalu tak datang juga hingga 06.00. Aku sudah sekali menanyakan itu ke staf yang capai itu dia hanya menjawab kalau dia sudah mencoba menelpon sopir bis tapi tak ada jawaban: "Silakan menunggu saja, Madam." Huhuhu... pesawatku jam 08.20, sayangkuuu.
![]() |
| Menu makan hotel. Tuh, bikin kangen nasi padang kan... |
![]() |
| Penampakan pasta. Suka sih, tapi ya gitu deh... |
Baru saja aku hendak mengambil keputusan untuk minta taksi pada pukul 06.05 saat bis itu datang terseok-seok masuk ke halaman hotel. Kami berebut masuk. Dan tersisa hanya beberapa kursi di bagian belakang. Rupanya bis itu masih akan menjemput orang-orang lain lagi ke hotel lain. Ya elah. Penuh sesak si bis itu ketika benar-benar melaju ke Fiumicino. Sebagian berdiri, sebagian duduk di bawah. Keluhan dari penumpang tak ada efeknya. Ya iyalah. Mau apa lagi. Bagiku juga yang penting segera sampe bandara.
| Seenak-enaknya makanan di pesawat tetep saja tak enak. |
Doha - Soetta pun cukup longgar. Walau tidak bisa berbaring tapi bisa tidur pulas dan makan enak serta beberapa kali ke lavatory. Hidup yang enak itu ya itulah ukurannya: tidur, makan, tersalurkan kebutuhan biologis ke toilet. Hehehe...
Waktu yang cukup longgar di Soetta kunikmati dengan pergi ke Restoran Sate Senayan untuk seporsi sate ayam yang mahal itu dengan sepiring nasi dan segelas besar teh tawar anget. Begitu nikmat sampe ndak ngeh kalau di sampingku ada anak orang yang ngetop di tanah air. Sapa hayooo.... hehehe.... Nasi sate ayam ini perlu banget bagi perutku untuk menetralkan Italian Style selama 4 hari lalu yang penuh dengan pasta, roti, keju, dll yang... ya enak sih enak tapi tentu saja nasi lebih enak bagi perutku. Hehehe...
Masih nunggu beberapa saat sebelum Garuda membawaku kembali ke Lampung siang itu. Mas Hen sudah menanti di Bandara Raden Inten 2 siap mentraktirku nasi padang sepuasnya di Puti Minang. Kangennnnn banget sama nasi padang hoiiii....
Italia dalam 4 Hari (6): Salah satu Puncaknya adalah Bertemu Paus Fransiskus
Hari keempat di Italia, Kamis 20 September 2018, harus kucatat secara khusus. Konferensi hari ketiga kami semua peserta diundang ke Vatikan untuk audiensi dengan Paus Fransiskus. Aku selalu berdebar-debar dengan rencana audiensi, tapi aku tak seantusias tahun lalu begitu ingin menyentuh Paus Fransiskus. Sudahlah, pasrah saja. Tahun lalu pun bisa melihat dari kejauhan juga sudah menjadi berkat besar bagiku. Kali ini pun aku berjalan dengan berdebar-debar masuk Hall Sint Clement di bagian dalam tanpa harapan yang muluk. Melewati pemeriksaan pun biasa saja. Menanti dengan manis di kursi agak belakang. Orang besar ini selalu favoritku walau aku tak bisa menyentuhnya.
But, yang terjadi, Paus datang, memberikan sambutannya ke Kardinal Turkson tanpa dia baca, lalu kami maju. Satu per satu diberi kesempatan untuk salaman dengannya! Huaahhh... tiada kata yang mampu kukatakan dah. Aku menanti giliranku maju dengan tidak sabar.
Begitu di depannya, aku segera meraih tangannya yang langsung menggenggam erat. Matanya yang teduh memandangku. Hmmm... membuatku sangat malu. Dia sangat ramah mendengarku:
"Aku Yuli dari Indonesia. Kau tahu negaraku itu memiliki banyak masalah. Please, berdoalah untuk Indonesia." Dia mempererat genggamannya. Tak berkata apa-apa. Mungkin tak mendengar aku ngomong apa. Tapi aku tak peduli. Aku mengatupkan tanganku mengakhiri salaman itu dengan mengucapkan terimakasih terimakasih terimakasih banyak.
Usai itu aku menuju Kardinal Turkson untuk bilang sekali lagi terimakasih sudah memberiku kesempatan moment indah ini. Kardinal mah pengertian banget: "Sama-sama terimakasih. Terimakasih sudah datang memenuhi undangan. Foto kau bisa cetak nanti usai acara kalau mau mendapatkannya." Dia pasti lihat wajahku yang gembira banget sehingga menduga ini pasti urusannya dengan foto bersama Paus. Hehehe....
Sayang aku tak bisa mencetak foto spesial itu karena saat sore kembali ke Vatikan, studio foto sudah tutup. Petugas di sekitar situ bilang kalau sepanjang September studio foto tutup sebelum jam 16.00.
Ya, tak masalah. Suatu ketika pasti ada kesempatan untuk kembali ke Vatikan mencetak foto-foto itu.
Malam itu, begitu kembali ke hotel, lupa kalau Indonesia sudah masuk jam tengah malam atau dini hari aku menyiarkan anugerah yang kudapatkan itu pada ibu dan Mas Hendro. Mereka kok ya masih melek (atau terpaksa melek karena bunyi HP) menanggapi kabarku itu dengan riang gembira ikut antusias yang mengalir dariku.
But, yang terjadi, Paus datang, memberikan sambutannya ke Kardinal Turkson tanpa dia baca, lalu kami maju. Satu per satu diberi kesempatan untuk salaman dengannya! Huaahhh... tiada kata yang mampu kukatakan dah. Aku menanti giliranku maju dengan tidak sabar.
Begitu di depannya, aku segera meraih tangannya yang langsung menggenggam erat. Matanya yang teduh memandangku. Hmmm... membuatku sangat malu. Dia sangat ramah mendengarku:
"Aku Yuli dari Indonesia. Kau tahu negaraku itu memiliki banyak masalah. Please, berdoalah untuk Indonesia." Dia mempererat genggamannya. Tak berkata apa-apa. Mungkin tak mendengar aku ngomong apa. Tapi aku tak peduli. Aku mengatupkan tanganku mengakhiri salaman itu dengan mengucapkan terimakasih terimakasih terimakasih banyak.
![]() |
| Girang banget usai salaman dengan Paus Fransiskus. |
Sayang aku tak bisa mencetak foto spesial itu karena saat sore kembali ke Vatikan, studio foto sudah tutup. Petugas di sekitar situ bilang kalau sepanjang September studio foto tutup sebelum jam 16.00.
Ya, tak masalah. Suatu ketika pasti ada kesempatan untuk kembali ke Vatikan mencetak foto-foto itu.
Malam itu, begitu kembali ke hotel, lupa kalau Indonesia sudah masuk jam tengah malam atau dini hari aku menyiarkan anugerah yang kudapatkan itu pada ibu dan Mas Hendro. Mereka kok ya masih melek (atau terpaksa melek karena bunyi HP) menanggapi kabarku itu dengan riang gembira ikut antusias yang mengalir dariku.
Subscribe to:
Posts (Atom)



















